Anda di halaman 1dari 4

TUGAS AKHIR MODUL 1

OPERASI TRANSPLANTASI KEPALA MANUSIA

NAMA : PUSPA MEDALIA MUNGGARANI


NUPTK : 0953767668210062
NOMOR PESERTA PPG : 19021109710347
PRODI PPG : (097) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)
SEKOLAH ASAL : SMP NEGERI 2 KERSAMANAH

Pernyataan Sikap Mengenai Operasi Transplantasi Kepala Manusia :


Transplantasi organ (cangkok) adalah pemindahan seluruh/sebagian organ dari satu
tubuh ke tubuh yang lain, atau dari suatu bagian ke bagian yang lain pada tubuh yang sama.
Tujuannya untuk menggantikan organ yang rusak/tidak berfungsi pada penerima dengan
organ lain yang masih berfungsi dari donor. Donor organ bisa diperoleh dari orang yang
masih hidup maupun telah meninggal. Biasanya organ yang paling sering dicangkok adalah
ginjal, pankreas, liver, jantung, paru-paru dan usus halus. Lalu, bagaimana dengan operasi
transplantasi kepala manusia?

Transplantasi Kepala Menerapkan Sel Punca


Sel punca adalah sel yang menjadi awal mula dari pertumbuhan sel lain yang
menyusun keseluruhan tubuh organisme, termasuk manusia. Karakteristik sel punca
diantaranya memiliki kemampuan untuk berdiferensiasi artinya sel ini mampu berkembang
menjadi berbagai sel yang matang misalnya pada sel saraf, sel otot jantung, sel otot rangka
dll. Selain itu, sel punca juga memiliki kemampuan untuk meregenerasi dirinya atau
memperbanyak dirinya melalui pembelahan sel yang sifatnya sama persis dengan dirinya atau
menjadi jenis sel lain.
Ketika kita terluka, sel kita juga akan terluka atau mati. Pada saat inilah sel punca
menjadi aktif. Sel punca bertugas untuk memperbaiki jaringan yang terluka atau
menggantikan sel lain pada saat mereka mengalami kematian. Dengan cara ini, sel punca
akan menjaga kita agar tetap sehat dan mencegah kita dari penuaan dini.
Pada proses transplantasi kepala manusia, sel punca berperan sebagai bahan
transplantasi. Transplantasi sel punca dijalankan dengan menanamkan sel-sel punca sebagai
sel sehat untuk menggantikan sel yang rusak atau bisa juga dikatakan sebagai penyambung
bagian kepala yang ditransplantasi dengan badan barunya. Sel punca yang digunakan untuk
transplantasi ini bisa didapat dari berbagai sumber yaitu:
1. Zygote yaitu pada tahap sesaat setelah sperma bertemu dengan sel telur
2. Sel punca embrio: berasal dari embrio berusia 3-5 hari yang saat itu umumnya baru
memiliki sekitar 150 sel. Sel ini lebih memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi
beragam sel tubuh dibanding sel punca dewasa.
3. Sel punca perinatal: didapatkan dari cairan ketuban atau pada tali pusar janin di dalam
kandungan ibu, yang bisa diambil pada saat persalinan.
4. Sel punca dewasa: didapat dari sebagian kecil jaringan tubuh, seperti lemak, sumsum
tulang.
5. Sel punca pluripotent hasil rekayasa genetika: sel punca yang diperoleh dari sel dewasa
yang diprogram ulang mirip sel embrio yang memiliki karakteristik sel punca.
Metode transplantasi sel punca yang digunakan, yaitu :
1. Transplantasi sel punca autolog, yaitu berasal dari tubuh pasien sendiri yang diambil
kemudian dibekukan dan disimpan sebelum pasien memulai terapi yang dapat
menyebabakan efek samping rusaknya sel punca alami pasien. Kelebihan dari tipe sel
punca ini adalah lebih sedikit resiko penolakan ketika tubuh menerima sel punca dan
lebih sedikit efek samping.
2. Transplantasi sel punca allogenik, yaitu berasal dari sel punca pendonor, biasanya dari
relawan atau kerabat. Transplantasi ini digunakan jika transplantasi autolog tidak
berhasil. Kelebihannya adalah bisa menciptakan sistem kekebalan tubuh baru yang terus
berkembang di dalam tubuh pasien. Kelemahannya adalah resiko efek samping lebih
besar dan pemulihan lebih lambat, karena tubuh dapat menolak sel punca donor.
3. Transplantasi syngeneic, yaitu sel punca yang berasal dari saudara kembar identik.
Menggunakan sel punca untuk bahan transplantasi bukan berarti tanpa resiko, adapun
resiko yang mungkin diterima pasien adalah:
1. Perkembangan sel punca embrionik dapat menjadi tidak teratur atau secara spontan
berkembang menjadi berbagai tipe sel.
2. Graft-versus-host disease, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh pasien menganggap sel
punca dari donor sebagai benda asing sehingga menolak sel tersebut. Mual, muntah,
diare, kram perut, sariawan, kehilangan nafsu makan, kerusakan organ, penyakit kuning
adalah beberapa tanda gejala utama graft-versus-host disease.
3. Infeksi.
4. Infertilitas.
5. Munculnya kanker baru.
6. Katarak.
7. Kegagalan transplantasi sel punca.
8. Kematian.
Berdasarkan penjelasan di atas menurut pendapat saya operasi transplantasi kepala
manusia dapat dilakukan dengan memanfaatkan sel punca sebagai bahan transplantasi. Tetapi
harus memperhatikan berbagai resiko yang akan ditimbulkan dari operasi tersebut. Selain itu,
operasi transplantasi kepala manusia menuai banyak kontroversi walaupun sel punca dapat
membantu dunia medis dan kemanusiaan. Terlebih, jika sel tersebut diambil dari jaringan
dewasa milik orang yang sudah meninggal, maka hal tersebut tidak diperbolehkan, karena
Islam telah memberikan derajat kesucian kepada orang yang telah mati. Diriwayatkan oleh
A’isyah ummul mukminin (ra.) bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Memecahkan tulang
mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan
Ibnu Hibban). Dengan ini telah jelas bahwa Islam telah melindungi orang mati sebagaimana
orang yang hidup. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi kita untuk melanggar hak-hak
orang mati.

Menerapkan Konsep Aseptik Dan Steril Dalam Kegiatan Operasi


Aseptik adalah keadaan bebas dari infeksi mikroorganisme penyebab penyakit.
Tehnik aseptik adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi oleh
mikroorganisme pada jaringan atau bahan-bahan dengan cara menghambat atau
menghancurkan tumbuhnya organisme dalam jaringan.
Pada saat melakukan transplantasi atau operasi tindakan aseptik perlu diperhatikan.
Tindakan ini bertujuan untuk mencegah penyebaran bakteri dalam kamar operasi, membunuh
kuman-kuman atau mikroorganisme, serta mencegah timbulnya infeksi luka operasi. Upaya
yang harus dilakukan untuk menerapkan teknik aseptik yaitu dengan memenuhi berbagai
ketentuan, diantaranya:
1. Daerah steril harus tegas batasnya
2. Daerah operasi harus dijaga sterilitasnya
3. Semua kasus pembedahan harus dijaga
4. Dicegah terjadinya kontaminasi
5. Lingkungan kamar operasi harus selalu dalam keadaan bersih
6. Tim bedah dan pasien yang ada di kamar operasi tidak menjadi sumber kontaminasi.
Sterilisasi adalah proses yang bertujuan untuk menghilangkan semua jenis organisme
(protozoa, fungi, bakteri, mycoplasma, virus) yang ada pada suatu benda. Tujuan sterilisasi
adalah :
1. Menjaga kebersihan, merawat alat operasi untuk siap pakai
2. Mencegah suatu peralatan cepat rusak (alat labolatorium)
3. Mencegah adanya infeksi terhadap bakteri berbahaya
4. Menjamin kebersihan suatu alat
5. Sebagai jaminan suatu produk sudah steril
Pada kasus operasi trasnplantasi kepala manusia, agar operasi transplantasi berhasil maka
prosedur aseptik dan sterilisasi perlu dilakukan mulai dari pra operasi, saat operasi, maupun
pasca operasi. Sehingga kepala yang telah ditransplantasi dapat bersatu dengan badan baru
tanpa ada efek samping dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit dan
membahayakan pasien.

Menerapkan Konsep Bioetika Dalam Kehidupan


Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang berarti norma-
norma atau nilai-nilai moral. Bioetika berarti ilmu pengetahuan untuk mempertahankan hidup
dan terpusat pada penggunaan ilmu-ilmu biologis untuk memperbaiki mutu hidup. Dalam arti
yang lebih luas, bioetika adalah penerapan etika dalam ilmu-ilmu biologis, obat,
pemeliharaan kesehatan dan bidang-bidang terkait.
Terdapat beberapa kaidah bioetika yang harus dipenuhi seorang dokter, yaitu:
1. Menghormati autonomi pasien
2. Berbuat baik
3. Tidak merugikan orang lain
4. Keadilan
Bioetika tidak untuk mecegah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi
menyadarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai batas-batas dan tanggung
jawab terhadap manusia dan kemanusiaan.
Dalam menyikapi dilema etik dan isu-isu moral dan etika, peran bioetik menjadi
sangat penting utamanya dalam teknologi rekayasa manusia yang berhubungan dengan
tansplantasi kepala manusia. Bioetik akan berperan dalam membatasi hal-hal apa saja yang
boleh dilakukan dalam hal ini kaitannya dengan menjaga hak asasi individu tersebut sebagai
seorang manusia. Agar sesuatu hal tetap pada koridornya tentu saja diperlukan suatu regulasi
dari bioetika. Karena bioetik menyangkut masalah penerapan etika dalam ilmu biologis atau
medis, yang mana diketahui bahwa tiap wilayah memiliki kultur yang berbeda sehingga etika
ditiap tempat menjadi berbeda pula, oleh karena itu penerapan rekayasa manusia contohnya
transplantasi kepala manusia yang dilakukan di Tiongkok namun belum tentu diterima dan
diperbolehkan di beberapa negara lainnya.
Transplantasi kepala manusia ini bisa menjadi kontroversi karena dapat mengubah
tatanan moral dan sosial yang ada di masyarakat, menyalahi kodrat manusia sebagai makhluk
ciptaan Tuhan bukan pencipta makhluk, tidak mensyukuri anugrah yang diberikan oleh Sang
Maha Pencipta dengan mengubah struktur tubuh yang sudah sempurna sejak lahir dari ujung
kepala sampai ujung kaki.
Untuk kedepannya operasi transplantasi kepala manusia ini masih harus melalui
pengkajian mendalam dan pembahasan mengenai isu-isu moral dan etika yang muncul
sehingga masih perlu waktu yang sangat lama hingga teknologi ini benar-benar dapat
diterima dimasyarakat. Sebagai makhluk beragama tentu saja kita mengetahui bahwa segala
sesuatunya diciptakan dengan sempurna oleh sang Pencipta karena itu kemajuan teknologi
juga harus diregulasi dengan benar agar tidak melanggar batas-batas yang dapat kita lakukan
sebagai manusia.

Membuat Keputusan Mengenai Fenomena Sains di Kehidupan


Menurut kamus, sains adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui asal dan
sifat suatu benda melalui pengamatan, percobaan, dan pengukuran. Produk sains meliputi
fakta, konsep, prinsip, teori dan hukum. Sedangkan proses sains meliputi cara-cara
memperoleh, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara
berfikir, cara memecahkan masalah, dan cara bersikap.
Sains pada dasarnya bertujuan untuk mengumpulkan berbagai pengetahuan tentang
dunia sekitar, tetapi pada kenyataannya sains tidak dapat dan tidak bisa berada dalam lingkup
sosial yang kosong. Karenanya sains tidak dapat dipisahkan dari upaya-upaya umat manusia,
sains tidak dapat dibahas tanpa mengacu baik secara sekilas maupun langsung pada sejumlah
persoalan sosial, politik, agama dan filsafat.
Ilmuwan dikatakan mereka harus bertanggung jawab terhadap dampak sains pada
masyarakat luas baik positif maupun negatif pada bidang teknologi. Bioteknologi misalnya,
pada saat ini mampu memanipulasi proses dan mengubah suatu proses alami secara dramatis.
Kelahiran Dolly yang diumumkan pada tahun 1996, domba hasil cloning mengubah persepsi
bahwa sel reproduksi saja yang bisa menjadi mahluk hidup, sekaligus aplikasi pada pada
mahluk hidup lainnya.
Dalam kasus transplantasi organ, tujuan dari transplantasi adalah “sebagai pengobatan
dari penyakit karena islam sendiri memerintahkan manusia agar setiap penyakit diobati,
membiarkan penyakit bersarang dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian, sedangkan
membiarkan diri terjerumus dalam kematian (tanpa ikhtiyar) adalah perbuatan terlarang”.
Maka dalam hal ini, transplantasi merupakan salah satu bentuk pengobatan.
Transplantasi merupakan hal yang sangat rumit dalam pengambilan tindakan yang
tepat, karena banyak pendapat yang menentang dan mendukung tentang pelaksanaan
transplantasi dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Hukum pelaksanaan transplantasi
organ itu bergantung pada alasan mengapa harus melakukan hal tersebut. jika alasannya tidak
mendukung maka kegiatan transplantasi tesebut sangat dilarang dan hukumnya haram serta
ilegal. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan operasi transplantasi kepala manusia harus
dipertimbangkan dari berbagai aspek misalnya bioetika, akibat yang ditimbulkan baik positif
maupun negatif, pertimbangan moral serta bagaimana hukumnya dalam agama.