Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

TREND DAN ISSUE KEPERAWATAN JIWA


Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa

Disusun Oleh :
Kelas IIB DII Keperawatan

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLTEKKES KEMENKES TASIKMALAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
2018/2019

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..............................................................................................................................................


1

BAB 1 PENDAHULUAN .........................................................................................................................


2

A. Latar Belakang ......................................................................................................................................


2

B. Rumusan Masalah..................................................................................................................................
2

C. Tujuan Penulisan....................................................................................................................................
3

D. Manfaat Penulisan..................................................................................................................................
3

BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................................................................


4

A.Kesehatan Jiwa ......................................................................................................................................


4

B. Ciri-ciri Kesehatan Jiwa ........................................................................................................................


5

C. Pandangan Perawat Terhadap Pasien Penyakit Jiwa ..............................................................................


6

D. Pengertian Keperawatan Jiwa................................................................................................................


7

E. Trend dan Issue Keperawatan Jiwa.........................................................................................................


8-13

F. Manfaat Proses Keperawatan JIwa.........................................................................................................


13-14

2
BAB 3 PENUTUP......................................................................................................................................
15

A. Kesimpulan ...........................................................................................................................................
15

B. Saran .....................................................................................................................................................
15

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................................


16

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada saat ini penyakit gangguan jiwa tidak hanya dialami oleh orang dewasa dan
lansia tetapi juga oleh anak-anak dan remaja. Seseorang yang terkena gangguan jiwa
akan melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan seperti menggunakan obat-
obatan terlarang dan melakukan bunuh diri. Saat ini masalah kesehatan jiwa menjadi
masalah yang paling mengancam di dunia. Setiap tahun korban akibat gangguan jiwa
selalu meningkat. Hal ini disebabkan oleh beban hidup yang semakin lama semakin
berat.

Kasus bunuh diri sudah menjadi masalah besar di beberapa Negara di dunia
seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea, Inggris dan lain-lainnya. Selain factor diatas
penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa juga disebabkan oleh perkembangan
otak ketika masih janin yang menyebabkan penyakit skizofrenia. Oleh karena itu saat
ini seluruh Negara di dunia berusaha meningkatkan kesehatan jiwa warga negaranya.
Begitu juga dengan Indonesia yang berusaha meningkatkan pelayanan pada
pasiennya dengan meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan jiwa.

B. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan permasalahan dan tema yang diangkat maka masalah dapat


dirumuskan sebagai berikut:

a. Apa yang dimaksud dengan Kesehatan Jiwa?


b. Bagaimanakah ciri-ciri jiwa yang sehat?
c. Bagaimanakah pandangan perawat tentang kesehatan jiwa?
d. Apa yang dimaksud dengan Keperawatan Jiwa?
e. Bagaimana tren dan isu dalam keperawatan jiwa?
f. Manfaat keperawatan jiwa bagi pasien dan perawat?

C. TUJUAN PENULISAN

4
Penulisan makalah ini bertujuan untuk pemahaman tentang keperawatan jiwa,
bagaimana peran perawat dalam melaksanakan keperawatan jiwa, apa manfaatnya
kepada pasien dan perawata, dan juga tentunya apa saja diagnose keperawatan jiwa
yang sesuai dengan standar aturan keperawatan yang berlaku serta memberikan
bimbingan kepada pasien yang mengalami gangguan jiwa.

D. MANFAAT PENULISAN

Bagi penulis, penyusunan makalah ini bermanfaat yaitu selain lebih


memahami perihal keperawatan jiwa, penulis juga bisa mengasah kemampuannya
dalam menulis untuk penulisan karya ilmiah. Sedangkan bagi pembaca makalah ini
tentunya bermanfaat untuk membantu agar lebih memahami tentang keperawatan
jiwa dan juga dapat menjadi referensi untuk meningkatkan pelayanan dan perawatan
pada pasien dengan gangguan kesehatan jiwa.

BAB II
PEMBAHASAN

5
A. KESEHATAN JIWA

Menurut UU kesehatan Jiwa no 13 tahun 1996 kesehatan jiwa adalah kondisi


yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional secara optimal dari
seseorang dan perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain.

Menurut WHO kesehatan jiwa adalah kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada
gangguan jiwa melainkan megandung berbagai karakteristik yang positif
menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan
kedewasaan kepribadiannya.

Menurut Rosdahl, Texbook of Basic Nursing, 1999:58 kesehatan jiwa adalah A


mind that grows and adjust, is in control, and is free of serious stress. Kondisi jiwa
seseorang yang terus tumbuh berkembang dan mempertahankan keselarasan, dalam
pengendalian diri serta terbebas dari stress yang serius.

Pada jiwa yang sehat ada beberapa factor yang dapat memprngaruhinya. Factor
tersebut adalah sebagai berikut :

a. Inherited Characteristic (Warisan Karakteristik)

Beberapa teori percaya bahwa tidak ada satupun manusia normal dengan
sempurna dan kemampuan untuk mempertahankan sebuah mental yang sehat di
pandangan hidupnya. Di sisi lain orang yang mengalami kecacatan genetik
mempengaruhi seseorang untuk mempertahankan kesehatan jiwanya. Setiap orang
memiliki sifat yang berbeda, ada yang sensitive dan ada yang temperamental semua
itu dipengaruhi oleh lingkungannya.

b. Nurturing During Childhood (Pemeliharaan Sewaktu Kecil)

Hal ini mengacu pada interaksi dengan orang tua di masa kecil juga akan
mempengaruhi kesehatan jiwa. Pemeliharaan yang dimulai dengan positif ketika anak
dilahirkan akan menciptakan perasaan cinta, aman dan mau menerima. Pemeliharan

6
yang buruk ketika kecil juga akan mempengaruhi mental sang anak seperti
kekurangan kasih saying ibu, penolakan dari orang tua dan kegagalah komunikasi
awal.

c. Life Circumstance (Keadaan Hidup)

Keadaan hidup bisa mempengaruhi keadaan mental seseorang dimulai dari dia
lahir. Contoh keadaan yang positif adalah sukses di sekolah, keuangan yang
mencukupi, kesehatan fisik yang baik, pekerjaan yang menyenangkan dan
perkawinan yang sukses. Sedangkan keadaan hidup yang negative meliputi kesehatan
fisik yang buruk, pekerjaan dan perkawinan yang tidak sukses.

B. CIRI-CIRI JIWA YANG SEHAT

Setiap orang ingin memiliki jiwa yang sehat, tetapi tidak semua orang bisa
mengontrol emosi dan mengelola stresnya. Sehingga banyak orang yang memilih
jalan yang salah yaitu dengan mengakhiri hidupnya. Jiwa yang sehat memiliki ciri-
ciri sebagai berikut :

a. Menurut WHO :

b) Menyesuaikan diri secara konstruktif walaupun kenyataan sangat buruk


c) Memperoleh kepuasan dari hasil usaha
d) Merasa lebih puas memberi daripada menerima
e) Hubungan antar manusia saling menolong dan memuaskan
f) Menerima kekecewaan sebagai pelajaran
g) Rasa bermusuhan diselesaikan secara kreatif dan konstruktif
h) Mempunyai kasih saying

a. Menurut Abraham Maslow

a) a.memiliki persepsi realita yang efektif.


b) Menerima diri sendiri
c) Spontan
d) Sederhana dan wajar

7
b. Menurut Jahoda

a) Sikap positif terhadap diri sendiri


b) Tumbuh kembang dan aktualisasi diri
c) Integrasi: keseimbangan ekspresi dan represi,konflik internal suasana hati dan
emosi
d) Otonomi :keseimbangan tergantung dan mandiri, menerima konsekuensi atas
perilakunya,bertanggung jawab terhadap diri sendiri, keputusannya,
tindakannya dan perasaannya.
e) Persepsi realitas : kemampuan individu memiliki penerimaan tentang dunia
luar melalui pengalaman berfikir.
f) Menguasai lingkungan : individu merasa sukses dalam menjalankan perannya
dalam masyarakat atau kelompok menghadapi dunia luar secara efektif,
mendapatkan kepuasan hidup.

C. PANDANGAN PERAWAT TERHADAP PASIEN PENYAKIT JIWA

Bukan hanya kesehatan fisik saja yang penting, tetapi kesehatan jiwa juga harus
dijaga agar bisa menjalankan kehidupan dengan baik. Menjaga kesehatan jiwa sangat
sulit karena masalah yang dihadapi dalam kehidupan. Bagi seseorang yang tidak
mampu mengelola emosi dan stressnya akan menyebabkan gangguan pada jiwanya.
Walaupun begitu seorang perawat memiliki pandangan positif terhadap seseorang
yang mengalami gangguan jiwa, yakni gangguan jiwa tidak pernah merusak seluruh
kepribadian dan perilaku manusia, perilaku manusia selalu bisa diarahkan pada
respon yang baru, selain itu, perilaku manusia selalu dipengaruhi oleh factor
lingkungan yang dapat menguatkan dan melemahkan.

Seorang perawat akan selalu berfikir positif tentang pasiennya, walaupun pasien
tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Selain itu perawat juga akan melakukan
evaluasi tentang kesehatan pada jiwa pasiennya, seperti :

a. Status fungsional : kemampuan melakukan tugas sehariandan memenuhi peran


yang menantang

8
b. Status psikologi : (alarm emosional dan intelektual) perasaan kesejahteraan,
status mental dan emosi, persepsi kualitas hidup, sumber daya memaksimalkan
potensi pribadi
c. Status klinis : dimensi kesehatan fisik.

D. PENGERTIAN KEPERAWATAN JIWA

Menurut Dorothy dan Cecelia keperawatan jiwa adalah proses dimana perawat
membantu individu atau kelompok dalam mengembangkan konsep diri yang positif,
meningkatkan pola hubungan antar pribadi yang lebih harmonis serta agar berperan
lebih produktif di masyarakat.

Menurut Kaplan Sadock keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang


berupayauntuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang akan mendukung
integrasi, pasien dapat berupa individu, keluarga, kelompok, organisasi dan
komunitas.

Menurut ANA (American Nurses Association) keperawatan jiwa adalah area


khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan ilmu tingkah laku manusia
sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri secara terapeutik dalam meningkatkan,
mempertahankan, memulihkan kesehatan mental klien dan kesehatan mental
masyarakat dimana klien berada.

E. TREN DAN ISU KEPERAWATAN JIWA

Tren dan isu dalam keperawatan jiwa adalah masalah-masalah yang sedang
hangat dibicarakan dan dianggap penting. Masalah-masalah tersebut dapat dianggap
ancaman atau tantangan yang akan berdampak besar pada keperawatan jiwa baik
dalam tatanan regional maupun global. Berikut ini beberapa contoh tren dan isu yang
terjadi dalam keperawatan jiwa :

9
a. Kesehatan Jiwa dimulai masa konsepsi

Di Indonesia banyak terjadi gangguan jiwa di mulai pada usia 19 tahun dan jarang
sekali melihat fenomena masalah sebelum anak lahir. Perkembangan pada saat ini
menunjukkan bahwa jika berbicara masalah kesehatan jiwa harus dimulai dari masa
konsepsi bahkan sebelum pranikah. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa
adanya keterkaitan kesehatan fisik dan mental seseorang ketika berada dalam
kandungan di masa yang akan datang. Penelitian-penelitian berikut membuktikan
bahwa kesehatan mental seseorang dimulai pada masa konsepsi. Berikut ini
merupakan hasil dari penelitian :

a) Marc Lehrer ( 300 bayi yg diteliti): stimulasi dini ( berupa suara, musik,
getaran, sentuhan ) setelah dewasa memiliki perkembangan fisik, mental dan
emosional yg lebih baik.
b) Mednick : ada hubungan skizofrenia dengan infeksi virus dalam kandungan.
Mednick membuktikan bahwa mereka yang pada saat epidemi sedang berada
pada trimester dua dalam kandungan mempunyai resiko yang lebih tinggi
untuk menderita skizofrenia di kemudian hari. Penemuan penting ini
menunjukkan bahwa lingkungan luar yang terjadi pada waktu yang tertentu
dalam kandungan dapat meningkatkan risiko menderita skizofrenia. Mednick
menghidupkan kembali teori perkembangan neurokognitif, yang menyebutkan
bahwa pada penderita skizofrenia terjadi kelainan perkembangan
neurokognitif sejak dalam kandungan. Beberapa kelainan neurokognitif
seperti berkurangnya kemampuan dalam mempertahankan perhatian,
membedakan suara rangsang yang berurutan, working memory, dan fungsi-
fungsi eksekusi sering dijumpai pada penderita skizofrenia. Dipercaya
kelainan neurokognitif di atas didapat sejak dalam kandungan dan dalam
kehidupan selanjutnya diperberat oleh lingkungan, misalnya, tekanan berat
dalam kehidupan, infeksi otak, trauma otak, atau terpengaruh zat-zat yang
mempengaruhi fungsi otak seperti narkoba. Kelainan neurokognitif yang telah
berkembang ini menjadi dasar dari gejala-gejala skizofrenia seperti halusinasi,

10
kekacauan proses pikir, waham/delusi, perilaku yang aneh dan gangguan
emosi.

b. Tren peningkatan masalah kesehatan

Di globalisasi ini masalah kesehatan jiwa sudah meningkat, ini terbukti dalam dua
tahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh beban hidup yang semakin berat. Pada saat
sekarang ini pasien gangguan jiwa bukan hanya dari kalangan bawah tetapi juga dari
kalangan mahasiswa, pns, pegawai swasta pejabat dan masyarakat kalangan
menengah ke atas. Semua itu terjadi karena sebagian besar masyarakat menengah ke
atas tidak mampu mengelola stress dan juga bisa disebabkan oleh post powewr
syndrome atau mutasi jabatan. Pada saat sekarang ini penyakit gamgguan jiwa tidak
lagi mengenal strata social dan usia. Banyak orang kaya yang terkena gangguan jiwa
karena hartanya habis akibat bencana.

Selain itu kasus neurosis pada anak dan remaja, juga menunjukkan
kecenderungan meningkat. Neurosis adalah bentuk gangguan kejiwaan yang
mengakibatkan penderitanya mengalami stress, kecemasan yang berlebihan,
gangguan tidur, dan keluhan penyakit fisik yang tidak jelas penyebabnya. Tipe
gangguan jiwa yang lebih berat, disebut gangguan psikotik. Klien yang menunjukkan
gejala perilaku yang abnormal secara kasat mata. Inilah orang yang kerap mengoceh
tidak karuan, dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya dan orang lain,
seperti mengamuk.

c. Meningkatknya Post Traumatic Syndrome Disorder

Trauma yang katastropik, yaitu trauma di luar rentang pengalaman trauma yang
umum di alami manusia dalam kejadian sehari-hari. Mengakibatkan keadaan stress
berkepanjangan dan berusaha untuk tidak mengalami stress yang demikian. Mereka
menjadi manusia yang invalid dalam kondisi kejiwaan dengan akibat akhir menjadi
tidak produktif. Trauma bukan semata-mata gejala kejiwaan yang bersifat individual,

11
trauma muncul sebagai akibat saling keterkaitan antara ingatan sosial dan ingatan
pribadi tentang peristiwa yang mengguncang eksistensi kejiwaan.

d. Tren bunuh diri pada anak-anak dan remaja

Gagasan bunuh diri merupakan keluhan pertamayang sering dijumpai dalam


pelayanan psikiatrik darurat. Semua ancaman bunuh diri, sikap dan buah pikiran itu
harus ditanggapi dengan serius, sampa dapat dibuktikan sebaliknya. Pasien yang
berisiko bunuh diri perlu diamati secara cermat. Alasan seseorang bunuh diri adalah
putus asa dengan masalah dia hadapi dan tidak merasa tidak berdaya. Di dunia pun
bunuh diri merupakan masalah psikologis dunia yang sangat mengancam, angka
kejadian terus meningkat dan sangat mengancam Sejak tahun 1958, dari 100.000
penduduk Jepang 25 orang diantaranya meninggal akibat bunuh diri. Sedangkan
untuk negara Austria, Denmark, dan Inggris, rata-rata 25 orang. Urutan pertama
diduduki Jerman dengan angka 37 orang per 100.000 penduduk. Di Amerika tiap 24
menit seorang meninggal akibat bunuh diri. Jumlah usaha bunuh diri yang sebenarnya
10 kali lebih besar dari angka tersebut, tetapi cepat tertolong. Kini yang
mengkhawatirkan trend bunuh diri mulai tampak meningkat terjadi pada anak-anak
dan remaja. Di Benua Asia, Jepang dan Korea termasuk Negara yang sering
diberitakan bahwa warganya melakukan bunuh diri. Di Jepang, harakiri (menikam
atau merobek perut sendiri) sering dilakukan bawahan untuk melindungi nama baik
atasannya. Sebagai contoh, sekretaris pribadi mantan Perdana Menteri Takeshita
melakukan bunuh diri, ketika skandal suap perusahaan Recruits Cosmos terbongkar
pada tahun 1984.

Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003 mengungkapkan
bahwa satu juta orang bunuh diri dalam setiap tahunnya atau terjadi dalam seiap 40
detiknya. Bunuh diri juga termasuk satu dari tiga penyebab utama kematian pada usia
15-34 tahun, selain faktor kecelakaan. Metode bunuh diri yang paling disukai adalah
menggunakan pistol, menggantung diri dan minum racun.

e. Pola pengasuhan dalam Keperawatan Jiwa

12
Dengan banyaknya kasus bunuh diri dan depresi pada anak, maka pola asuh
keluarga kembali menjadi sorotan Pola asuh yang baik adalah pola asuh dimana
orang tua menerapkan kehangatan yang tinggi disertai dengan kontrol yang tinggi.
Kehangatan adalah Bagaimana orang tua menjadi teman curhat, teman bermain,
teman yang menyenangkan bagi anak terutama saat rekreasi, belajar dan
berkomunikasi. Berbagai upaya agar anak dekat dan berani bicara pada orang tuanya
saat punya masalah. Orang tua menjadi teman dalam ekspresi feeling anak sehingga
anak menjadi sehat jiwanya. Bagaimana anak dilatih mandiri dan mengenal disiplin
di rumahnya. Kemandirian menjadi hal yang sangat penting dalam kesehatan jiwa,
karena akan memiliki self confidence yang cukup. Orang tua juga melatih anak
bertanggung jawab mengerjakan tugas-tugas di rumah sepert: mencuci, menyiram
bunga dll

f. Trend Pelayanan Keperawatan Mental Psikiatri di Era Globalisasi

Sejalan dengan program deinstitusionalisasi yang didukung ditemukannya obat


psikotropika yang terbukti dapat mengontrol perilaku klien gangguan jiwa, peran
perawat tidak terbatas di Rumah Sakit, tetapi dituntut lebih sensitif terhadap
lingkungan sosialnya, serta berfokus pada pelayanan preventif dan promotif.
Perubahan hospital based care menjadi community based care merupakan trend yang
signifikan dalam pengobatan gangguan jiwa. Perawat mental psikiatri harus
mengintegrasikan diri dalam community mental health, dengan tiga kunci utama :
a) Pengalaman dan pendidikan perawat, peran dan fungsi perawat serta
hubungan perawat dengan profesi lain di komunitas.
b) Reformasi dalam yankes menuntut perawat meredefinisikan perannya
c) Intervensi keperawatan yang menekankan pada aspek pencegahan dan
promosi kesehatan, sudah saatnya mengembangkan community based care.
Pengembangan pendidikan keperawatan sangat penting, terutama keperawatan
mental psikiatri baik dalam jumlah maupun kualitas.

g. Isu Seputar Yankep Mental Psikiatri

13
a) Pelayanan keperawatan mental psikiatri, kurang dapat dipertanggungjawabkan
karena masih kurangnya hasil-hasil riset tentang keperawatan jiwa klinik.
b) Perawat psikiatri, kurang siap menghadapi pasar bebas karena pendidikannya
yang rendah dan belum adanya licence untuk praktek yang diakui secara
internasional.
c) Pembedaan perang perawat jiwa berdasarkan pendidikan dan pengalaman
sering kali tidak jelas “position description” job responsibility dan system
reward dalam pelayanan.
d) Menjadi perawat psikiatri bukanlah pilihan bagi peserta didik (mahasiswa
keperawatan.

h. Tren dan Isu Seputar Dimensi Spiritual Keperawatan Jiwa

Pada prakteknya ilmu pengetahuan dan agama tidak lagi bersifat dikotomis
melainkan antara keduanya sudah terintegrasi (saling menunjang). Seperti yang
dikatakan oleh Albert Einstein, ilmuwan penemu atom, ilmu pengetahuan tanpa
agama bagaikan orang buta. Tetapi agama tanpa ilmu pengetahuan bagaikan orang
lumpuh. Merujuk dari pentingnya pengetahuan dan agama tersebut untuk jiwa yang
sehat banyak penelitian dilakukan diantaranya sebuah penelitian yang mengatakan
kelompok yang tidak terganggu jiwanya adalah yang mempunyai agama yang bagus
dan sebaliknya. Karl Jung telah menyimpulkan dari analisanya bahwa mereka yang
menderita penyakit mental mengalami suatu kekosongan rohani. Terapinya terletak
pada siraman keimanan yang kuat.
Menurut Rando (1984) keyakinan agama dapat membantu menyokong pasien
dalam menghadapi krisi kehidupan termasu kematian. Dimensi spiritual merupakan
hal yang sangat penting diperhatikan dalam masyarakat Indonesia. Walaupun hal ini
sering kali terabaikan. Pengertian tentang pentingnya memahami kebutuhan spiritual
pasien yang dilandasi atas keyakinan beragama, nilai dan pengalaman kehidupan
pasien sering tidak menjadi focus tenaga kesehatan. Hal ini mungkin disebabkan oleh
sulitnya menjelaskan secara ilmu aspek spiritual. Tiga kebutuhan spiritual menurut
Randi (1984) adalah mencari arti kehidupan, meninggal secara wajar dan kebutuhan
untuk ditemani pada saat sakratul maut.

14
F. MANFAAT PROSES KEPERAWATAN JIWA
Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan
tantangan yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat
langsung seperti pada masalah kesehatan fisik, memperlihatkan gejala yang berbeda
dan muncul oleh berbagai penyebab. Proses keperawatan merupakan sarana/wahana
kerjasama perawat dengan klien, yang umumnya pada tahap awal peran perawat lebih
besar dari pada peran klien, namun pada proses akhirnya diharapkan peran klien lebih
besar daripada peran perawat, sehingga kemandirian klien dapat dicapai (Keliat,
1998). Manfaat dari proses kepeawatan jiwa dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Bagi perawat :
a) Peningkatan otonomi, percaya diri dalam memberikan asuhan keperawatan.
b) Tersedia pola pikir/ kerja yang logis, ilmiah, sistematis, dan terorganisasi.
c) Pendokumentasian dalam proses keperawatan memperlihatkan bahwa perawat
bertanggung jawab dan bertanggung gugat.
d) Peningkatan kepuasan kerja.
e) Sarana/wahana desimasi IPTEK keperawatan.
f) Pengembangan karier, melalui pola pikir penelitian.
b. Bagi pasien :
a. Asuhan yang diterima bermutu dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
b. Terhindar dari malpraktik.

15
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kesehatan jiwa seseorang bisa terganggu karena masalah-masalah yang didapat


selama hidup. Dalam menjalankan kehidupan setiap orang akan mendapatkan
masalah. Sebagian besar manusia tidak mampu mengontrol emosi dan mengelola
stresnya, sehingga akan melakukan yang hal-hal yang tidak baik bagi dirinya.
Walaupun begitu ada sebagian orang yang bisa melaluinya dengan baik. Kesehatan
jiwa menjadi masalah besar di dunia dan dianggap sangat mengancam. Seseorag yang
mengalami gangguan jiwa akan melakukan beberapa hal, seperti melakukan bunuh
diri dll. Pada saat sekarang ini tren dan isu tentang keperawatan jiwa sangat
berkembang. Gangguan jiwa bukan hanya terjadi pada orang dewasa dan lansia saja

16
tetapi juga terjadi pada anak-anak dan remaja. Dan tidak hanya dialami oleh
masyarakat kalangan bawah saja tetapi kalangan menengah keatas juga bisa
mengalaminya.

B. SARAN

Banyaknya persoalan yang dihadapi selama hidup ini seperti ekonomi dan
kemiskinan dapat menyebabkan terganggunya kesehatan mental. Untuk itu sebagai
seorang perawat kita harus bisa merawat pasien dengan gangguan jiwa dengan baik
agar tidak melakukan hal-hal yang tidak baik. Penigkatan pelayanan terhadap pasien
juga harus diperhatikan. Untuk mengurangi pasien penyakit jiwa bisa dilakukan
dengan dimensi spiritual, sehingga pasien harus lebih diperkenalkan dengan
agamanya dan memperkuat imannya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Kesehatan Jiwa. Diakses pada tanggal 28 September 2012 dari


http://faperta.ugm.ac.id/articles/kesehatan_jiwa.pdf

Kaplan, A.I, Sadock B.J. (1998). Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat (I); Jakarta. Widya
Medika.

Shives, L.R. (1998). Basic Consept of Psychiatric-Mental Health Nursing (4); East
Washington Square. Lippincott.

Prihartini, Y. Hotnida, E. Peran Perawat dalam Program Terapi dan Pemberdayaan


Pasien dengan Dual Diagnosis. Bulletin Ilmiah Populer.35-42.

Novita, M.(2012). Peran Perawat Dalam Meningkatkan Kemampuan Bersosialisasi


Pada Penderita Skizofrenia Di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara

17
Tahun 2011. Diakses pada tanggal 27 September 2012 dari
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31490

Prasetyo, H. Nugroho, P. (2009). Tingkat Pengetahuan Mahasiswa dalam Merawat


Pasien Jiwa pada Praktek Klinik Keperawatan Jiwa. Soedirman. 4 (1), 15-19.

18