Anda di halaman 1dari 29

Mengacu kepada :

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 66 TAHUN 2016
&
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
432/MENKES/SK/IV/2007

Prodi D3 Radiologi STIKES PERTAMEDIKA

Yulianto, SKM, MARS


PELAYANAN KESEHATAN.
Merupakan Sektor Industry Yang Sangat Cepat Berkembang,
Hazard Yang Terlibat Dalam Aktifitas Ini Sangat Beragam,
Seperti Needlestick Injuries, Back Injuries, Latex Allergy, Violence,
Dan Stress.
Walaupun Hal Ini Sangat Mungkin Dicegah, Namun Kejadian
Injury Maupun Infeksi Tetap Saja Terjadi. Upaya Pelayanan
Kesehatan Seperti Pemeriksaan Kesehatan Selama Bekerja Belum
Banyak Dilakukan.

This Photo by Unknown Author is licensed under CC BY-NC


Menurut WHO, Dari 35 Juta Petugas Kesehatan,
Ternyata 3 Juta Diantaranya Terpajan Oleh
Bloodborne Pathogen.
Dengan 2 Juta diantaranya Tertular Virus Hepatitis
B,
Dan 170.000 Diantaranya Tertular Virus HIV/AIDS.

Menurut WHO, Untuk Kasus-kasus Yang Non-fatal


Baik Injury Maupun Penyakit Akibat Kerja, Kasus di
Sarana Kesehatan Sekarang Semakin Meningkat,
Berbanding Terbalik Dengan Sektor Konstruksi Dan
Agriculture Yang Dulu Paling Tinggi, Sekarang Sudah
Sangat Menurun. Selain Itu Infeksi Nosokomial Masih
Menjadi Isu Cukup Signifikan Dikalangan Pelayanan
Kesehatan,

This Photo by Unknown Author is licensed under CC BY-NC-ND


Sehingga Pengembangan Program Patient Safety Sangat Relevan
Dikembangkan. Karena Itu Pengembangan Program Keselamatan
Dan Kesehatan Kerja Di Sarana Kesehatan Seperti Rumah Sakit
Dan Sarana Kesehatan Lainnya Perlu Dikembangkan Dalam
Upaya Melindungi Baik Tenaga Kesehatan Sendiri Maupun Pasien.

This Photo by Unknown Author is licensed under CC BY-NC-ND


Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Adalah Suatu Program Yang Dibuat
Sebagai Upaya Mencegah Timbulnya Kecelakaan Dan Penyakit Akibat Kerja
Dengan Cara Mengenali Hal-hal Yang Berpotensi Menimbulkan Kecelakaan Dan
Penyakit Akibat Kerja Serta Tindakan Antisipatif Apabila Terjadi Kecelakaan
Dan Penyakit Akibat Kerja.
Upaya Penanganan Faktor Potensi Berbahaya Yang Ada Di Rumah Sakit Serta
Metode Pengembangan Program Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Perlu
Dilaksanakan, Seperti Perlindungan Baik Terhadap Penyakit Infeksi Maupun
Non-infeksi, Penanganan Limbah Medis, Penggunaan Alat Pelindung Diri Dan
Lain Sebagainya.
Selain Terhadap Pekerja Di Fasilitas Medis/Klinik Maupun Rumah Sakit,
Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Di Rumah Sakit Juga “Concern” pada
Keselamatan Dan Hak-hak Pasien, Yang Masuk Kedalam Program Patient
Safety.

This Photo by Unknown Author is licensed under CC BY-NC


Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang
Kesehatan, Pasal 23 Dinyatakan Bahwa Upaya Kesehatan Dan
Keselamatan Kerja (K3) Harus Diselenggarakan Di Semua Tempat
Kerja, Khususnya Tempat Kerja Yang Mempunyai Risiko Bahaya
Kesehatan, Mudah Terjangkit Penyakit.
Dan peraturan ini juga mengikat kepada Perusahaan yang
Mempunyai Karyawan Paling Sedikit 10 Orang,
(sesuai Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan).
Jika Memperhatikan Isi Dari Pasal Di Atas Maka Jelaslah Bahwa
Rumah Sakit (RS) Termasuk Ke Dalam Kriteria Tempat Kerja
Dengan Berbagai Ancaman Bahaya Yang Dapat Menimbulkan
Dampak Kesehatan.
Tidak Hanya Terhadap Para Pelaku Langsung Yang Bekerja Di RS,
Tapi Juga Terhadap Pasien Maupun Pengunjung RS.
Sehingga Sudah Seharusnya Pihak Pengelola RS Menerapkan
Upaya-upaya K3 Di RS
POTENSI BAHAYA DI RUMAH SAKIT.

Potensi Bahasa di Rumah Sakit tidak hanya Resiko Tertular Penyakit tetapi juga
Potensi Bahaya Kecelakaan akibat Kerja.

Contoh2 resiko Potensial :

 Faktor Biologi : Virus, Bakteri, jamur dan microorganisme lain.


 Faktor Kimia : Antiseptik, bahan anastesi, dan larutan kimia lain.
 Faktor Fisika : Sumber Radiasi, Suhu, Cahaya, tingkat kebisingan, Getaran, dll.
 Faktor Ergonomik : Cara dan perilaku kerja.
 Faktor Psikososial : hubungan kerja, model kerja, dan tekanan psikologis kerja lain.
 Mekanikal : Seperti terjepit pintu, terpotong alat dapur dsb.
 Electric : Tersengat listrik.
Identifikasi Sumber Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Faktor
Resiko.
Identifikasi Sumber Bahaya dilakukan dengan mempertimbangkan :

➢ Kondisi dan Kejadian yang dapat menimbulkan Potensi Bahaya.

➢ Jenis Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang mungkin


dapat terjadi.
Standar Pelayanan K3 di Rumah Sakit

1. Standar Pelayanan KESEHATAN Kerja di Rumah Sakit


Setiap Rumah Sakit wajib melaksanakan pelayanan kesehatan kerja
seperti tercantum pada pasal 23 UU kesehatan no.36 tahun 2009
dan peraturan Menteri tenaga kerja dan Transmigrasi RI
No.03/men/1982 tentang pelayanan kesehatan kerja.
Adapun bentuk pelayanan kesehatan kerja yang perlu dilakukan,
sebagai berikut :

a) Melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum kerja bagi pekerja.

b) Melakukan pendidikan dan penyuluhan/pelatihan tentang kesehatan


kerja dan memberikan bantuan kepada pekerja di rumah sakit dalam
penyesuaian diri baik fisik maupun mental terhadap pekerjanya.
c) Melakukan pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus sesuai
dengan pajanan di rumah sakit.

d) Meningkatkan kesehatan badan, kondisi mental (rohani) dan


kemampuan fisik pekerja.

e) Memberikan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi bagi


pekerja yang menderita sakit.

f) Melakukan pemeriksaan kesehatan khusus pada pekerja rumah sakit


yang akan pension atau pindah kerja.

g) Melakukan koordinasi dengan tim Panitia Pencegahan dan


Pengendalian Infeksi mengenai penularan infeksi terhadap pekerja
dan pasien.
h) Melaksanakan kegiatan surveilans kesehatan kerja.

i) Melaksanakan pemantauan lingkungan kerja dan ergonomi yang


berkaitan dengan kesehatan kerja (Pemantauan/pengukuran terhadap
faktor fisik, kimia, biologi, psikososial, dan ergonomi).

j) Membuat evaluasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan kesehatan


kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit dan Unit teknis
terkait di wilayah kerja Rumah Sakit.
2) Standar pelayanan KESELAMAT kerja di Rumah Sakit.

Pada prinsipnya pelayanan keselamatan kerja berkaitan erat dengan


sarana, prasarana, dan peralatan kerja. Bentuk pelayanan keselamatan
kerja yang dilakukan :

a) Pembinaan dan pengawasan keselamatan/keamanan sarana,


prasarana, dan peralatan kesehatan.
b) Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian peralatan kerja
terhadap pekerja.
c) Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.
d) Pembinaan dan pengawasan terhadap sanitasi air.
e) Pembinaan dan pengawasan perlengkapan keselamatan kerja.

f) Pelatihan/penyuluhan keselamatan kerja untuk semua pekerja.

g) Memberi rekomendasi/masukan mengenai perencanaan, pembuatan


tempat kerja dan pemilihan alat serta pengadaannya terkait
keselamatan/keamanan.

h) Membuat sistem pelaporan kejadian dan tindak lanjutnya.

i) Pembinaan dan pengawasan Manajemen Sistem Penanggulangan


Kebakaran (MSPK).

j) Membuat evaluasi, pencatatan, dan pelaporan kegiatan pelayanan


keselamatan kerja yang disampaikan kepada Direktur Rumah Sakit
dan Unit teknis terkait di wilayah kerja kerja rumah sakit.
3) Standar K3 Sarana, Prasarana, dan Peralatan di Rumah
Sakit

Sarana didefinisikan sebagai segala sesuatu benda fisik yang


dapat tervisualisasi oleh mata maupun teraba panca indera
dan dengan mudah dapat dikenali oleh pasien dan umumnya
merupakan bagian dari suatu bangunan gedung (pintu, lantai,
dinding, tiang, kolong gedung, jendela) ataupun bangunan itu
sendiri.

Sedangkan prasarana adalah seluruh jaringan/instansi yang


membuat suatu sarana bisa berfungsi sesuai dengan tujuan
yang diharapkan, antara lain : instalasi air bersih dan air
kotor, instalasi listrik, gas medis, komunikasi, dan
pengkondisian udara, dan lain-lain.
4) Pengelolaan Jasa dan Barang Berbahaya

Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)


adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya
dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak
langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak
lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan
lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia
serta makhluk hidup lainnya.
Kategori B3.

 Memancarkan radiasi,
 Mudah meledak,
 Mudah menyala atau terbakar,
 Oksidator,
 Racun, Korosif (berkarat),
 Karsinogenik (penyebab kanker),
 Iritasi (memerah, gatal),
 Teratogenik (menyebabkan kelainan kehamilan),
 Mutagenic (menyebabkan perubahan gen), dan
 Arus listrik.
Prinsip dasar pencegahan dan pengendalian B3.

(1) Identifikasi semua B3 dan instalasi yang akan ditangani


untuk mengenal ciri-ciri dan karakteristiknya.

(2) Evaluasi, untuk menentukan langkah-langkah atau


tindakan yang diperlukan sesuai sifat dan karakteristik dari
bahan atau instalasi yang ditangani sekaligus memprediksi
risiko yang mungkin terjadi apabila kecelakaan terjadi.

(3) Pengendalian sebagai alternatif berdasarkan identifikasi dan


evaluasi yang dilakukan meliputi pengendalian operasional,
pengendalian organisasi administrasi, inspeksi dan
pemeliharaan sarana prosedur dan proses kerja yang
aman,
pembatasan keberadaan B3 di tempat kerja sesuai jumlah
ambang.
(4) Untuk mengurangi resiko karena penanganan bahan
berbahaya.
Standar SDM K3 di Rumah Sakit
Kriteria tenaga K3.
Rumah Sakit Kelas A
(1) S3/S2 K3 minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS.
(2) S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
(3) Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi (SpOk) dan S2 Kedokteran Okupasi
minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai
K3 RS.
(4) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 2 orang yang mendapat
pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.
(5) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal 1 orang
dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS.
(6) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal) yang
mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.
(7) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 2 orang.
(8) Tenaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat pelatihan
khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang.
(9) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal
2 orang.
Rumah Sakit Kelas B

(1) S2 kesehatan minimal 1 orang yang mendapat pelatihan khusus


terakreditasi mengenai K3 RS.
(2) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang
mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.
(3) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal
1 orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
(4) Tenaga paramedis dengan sertifikasi dalam bidang K3 (informal)
yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai
K3 RS minimal 1 orang.
(5) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang.
(6) Tanaga teknis lainnya dengan sertifikasi K3 (informal) mendapat
pelatihan khusus terakreditasi mengenai K3 RS minimal 1 orang
(7) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi mengenai
K3 RS minimal 1 orang.
Rumah Sakit kelas C.

(1) Tenaga Kesehatan Masyarakat K3 DIII dan S1 minimal 1 orang yang


mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi mengenai K3 RS.
(2) Dokter/dokter gigi spesialis dan dokter umum/dokter gigi minimal
1 orang dengan sertifikasi K3 dan mendapat pelatihan khusus yang
terakreditasi mengenai K3 RS.
(3) Tenaga paramedis yang mendapat pelatihan khusus yang terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang.
(4) Tenaga teknis lainnya mendapat pelatihan khusus terakreditasi
mengenai K3 RS minimal 1 orang.