Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Beras adalah bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk

Indonesia yang dijadikan sebagai sumber utama untuk kebutuhan kalori. Didalam

pembangunan nasional, komoditi ini mempunyai peranan strategis, karena

mempunyai peran yang sangat besar dalam mewujudkan stabilitas nasional. Oleh

karena itu, beras akan selalu menjadi perhatian dalam ketersediaan. Untuk

meningkatkan produksi beras, faktor gudang sebagai tempat penyimpanan beras

penting sekali. Produksi beras yang melimpah akan menimbulkan problem cara

dan tempat penyimpanannya sehingga pemerintah membangun Bulog untuk

menyediakan stok beras dalam negeri (Amrullah, 2003; Bulog, 2000 dan Hanny,

2002).

Beras yang disimpan di dalam gudang sering mendapat gangguan dari

serangan hama. Gangguan tersebut dapat menyebabkan terjadinya kerusakan dan

kehilangan berat bahan. Gudang bisa menjadi tempat perkembangan hama jika

tidak ada program manajemen untuk pengendalian hama (Bonanto, 2008). Faktor

kelembaban juga berpengaruh terhadap potensi serangan hama gudang (Toekidjo,

1996). Pada umumnya hama pascapanen yang ada pada bahan simpan berasal dari

golongan Coleoptera, salah satunya yaitu Sitophilus oryzae L. (Anggara, 2007 dan

Pranata 1982).

1
Menurut Hussein dan Ibrahim (1986) kerusakan akibat Sitophilus oryzae

L. mencapai 10-20% pada saat penyimpanan beras di gudang, sehingga pada saat

dipasarkan menurunkan nilai jualnya. Di Indonesia Sitophilus oryzae L.

dilaporkan memiliki peranan penting dalam penurunan nilai ekonomis dalam

penyimpanan khususnya beras. Kerusakan beras dapat ditandai dengan adanya

lubang yang ada pada setiap butir beras. Kutu akan menggunakan rahangnya

untuk membuat lubang dan dijadikan sebagai tempat tinggal telur selama 18 hari.

Menurut Natawigena (1985) pengendalian hama Sitophilus oryzae L.

sampai sekarang ini masih menggunakan pestisida yang berbahan dasar kimia

dengan teknik fumigasi yaitu menggunakan gas, uap, bau dan asap. Bahan yang

digunakan dalam fumigasi di gudang-gudang Bulog saat ini antara lain Phosphine

dan Metyl bromide (Bulog, 1996). Penggunaan pestisida kimia dalam

pengendalian hama saat ini banyak menimbulkan dampak negatif, terutama

masalah pencemaran lingkungan. Selain itu penggunaan pestisida kimia di

Indonesia telah memusnahkan 55% jenis hama dan 72% agen pengendali hayati.

Oleh karena itu diperlukan pengganti pestisida yang ramah lingkungan,

salah satu alternatifnya adalah penggunaan pestisida alami atau biopestisida.

Pestisida alami atau biopestisida adalah salah satu pestisida yang bahan dasarnya

berasal dari tumbuhan (Anugeraheni dan Brotodjojo, 2002). Tumbuhan kaya akan

bahan aktif yang berfungsi sebagai alat pertahanan alami terhadap

pengganggunya. Bahan pestisida yang berasal dari tumbuhan dijamin aman bagi

lingkungan karena cepat terurai di tanah dan tidak berbahaya terhadap hewan,

manusia atau serangga non sasaran (Istianto, 2009).

2
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui pembahasan kutu beras dan cara pengendalian hama

kutu beras yang benar.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Kutu Beras (Sitophilus oryzae. L)

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Famili : Curculionidae
Genus : Sitophilus
Spesies : Sitophilus oryzae

2.2 Morfologi Kutu Beras (Sitophilus Oryzae. L)

Ordo Coleptora termasuk kedalam golongan animalia, filum arthropoda,

sub filum mandibulata, kelas insect, sub kelas pterigotadan. Ordo coleopteran

diambil dari kata coeleoe yang berarti seludang dan pteron yang berarti sayap,

maka dapat disimpulkan Coleptera adalah serangga yang memiliki seludang pada

sayapnya (Dessy Sonyaratri, 2006).

4
Morfologi dan biologi Sitophilus oryzae L. imago muda berwarna coklat

merah dan umur tua berwarna hitam. Pada kedua sayap depannya terdapat 4 bintik

kuning kemerah-merahan (masing-masing sayar terdapat 2 bintik). Kumbang ini

mempunyai moncong panjang, warna cokelat kehitaman dan kadang-kadang ada 4

bercak kemerahan pada elytranya, umur dapat mencapai 5 bulan. Jika akan

bertelur, kumbang betina membuat liang kecil dengan moncongnya sedalam

kurang lebih 1 mm. Kumbang betina menggerek buturan beras dengan

moncongnya dan meletakkan sebutir telur lalu lubang itu ditutup dengan sekresi

yang keras. Masa kovulasi relatif lebih lama dibandingkan dengan hama gudang

lainnya (Surtikanti, 2004).

Telur kutu beras berbentuk oval berwarna kuning lunak dan licin bentuk

ujung telur agak bulat dengan ukuran 0,7 mm x 0,3 mm. Kutu beras meletakkan

telur di dalam butiran beras dengan terlebih dahulu membuat lubang

menggunakan rostumnya, setelah telur diletakkan di dalam bekas gerekan

kemudian ditutup denga suatu zat warna putih (gelatin) yang merupakan salivanya

sehingga dari luar tidak kelihatan. Gelatin berfungsi melindungi telur dari

kerusakan dan dimangsa oleh predator lainnya. Stadium telur 3 hari dalam satu

hari dapat bertelur sebanyak 25 butir, perhari rata-rata kutu beras dapat bertelur

sebanyak 4 butir (Saenong, 2005).

Larva hidup dalam butiran tidak berkaki berwarna putih dengan kepala

kekunin-kuningan atau kecoklatan dan mengalami 4 instar. Pada instar terakhir

panjang larva lebih kurang 3 mm, setelah masa pembentukan instar selesai, larva

akan membentuk kokon dengan mengeluarkan ekskresi cairan ke dinding

5
endosperm agar dindingnya licin dan membentuk tekstur yang kuat. Larva dapat

mengkonsumsi 25% berat bagian dalam hujan (Parinduri, 2010). Pembentukan

pupa terjadi dalam biji dengan cara membentuk ruang pupa dengan

mengekskesikan cairan pada dinding liang gerak. Stadium pupa berkisar antara 5-

8 hari. Imago yang terbentuk tetap berada dalam biji selama sekitar 2-5 hari,

sebelum membuat lubang keluar yag relatif besar dengan moncongnya. Imago

dapat hidup cukup lama tanpa makanan selama 36 hari, imago dapat

menghasilkan telur sekitar 300-400 butir selama satu siklus hidupnya (Enda,

2017).

Siklus hidup hama kutu beras selama 30-45 hari pada kondisi optimum

yaitu pada suhu 29oC, kadar air biji 14% dan pada kelembapan 70%. Imago dapat

hidup cukup lama tanpa makan sekitar 36 hari (Sitepu dkk, 2004). Sitophilus

oryzae L. atau biasa disebut kutu beras dikenal sebagai kumbang bubuk beras,

hama ini bersifat kosmopolit atau tersebar luas diberbagai tempat di dunia.

Kerusakan yang ditimbulkan oleh kutu beras ini termasuk berat, bahkan sering

dianggap sebagai hama paling merugikan produk pepadian. Kutu beras bersifat

polifa bubuk beras selain merusak butiran beras, juga merusak simpanan jagung,

padi, kacang tanah, dan butiran lainnya.

Kerusakan yang diakibatkan oleh kutu beras dapat tinggi pada keadaan

tertentu sehingga kualitas beras menurun. Biji-biji hancur dan berdebu dalam

waktu yang cukup singkat, serangan hama dapat mengakibatkan perkembangan

jamur sehingga produk beras rusak, bau apek yang tidak enak dan tidak dapat

dikonsumsi. Akibat dari serangan kutu beras menyebabkan butir-butir beras

6
menjadi berlubang kecil-kecil. Sehingga mengakibatkan beras menjadi mudah

pecah dan remuk menjadi tepung (Sibuea, 2010).

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Hama Kutu Beras (Sitophilus oryzae. L)

Kumbang beras (atau dikenal awam sebagai kutu beras) adalah nama

umum bagi sekelompok serangga kecil anggota marga Tenebrio dan Tribolium

(ordo coleoptera) yang dikenal gemar menghuni biji-bijian/serealia yang

disimpan. Kumbang beras adalah hama gudang yang sangat merugikan dan sulit

dikendalikan bila telah menyerang dan tidak hanya menyerang gabah/beras tetapi

juga bulir jagung, berbagai jenis gandum, jewawut, sorgum, serta biji kacang-

kacangan. Larvanya bersarang di dalam bulir/biji, sedangkan imagonya memakan

tepung yang ada.

Tenebrio molitor lebih dikenal sebagai ulat hongkong, yang larvanya biasa

dijadikan pakan burung peliharaan. T. obscurus juga kerabat T. molitor yang

menjadi hama gudang. Tribolium castaneum adalah serangga model yang biasa

dipakai untuk penelitian-penelitian genetika sekaligus hama. Kerabatnya yang

lebih gelap, Tribolium confusum, lebih umum dikenal dan luas tersebar. Tribolium

destructor berwarna hitam kelam dan hanya dijumpai di Eropa, Amerika, dan

Afrika.

3.2 Pengendalian Kutu Beras

Secara umum morfologi hama serangga ini terdiri atas caput, toraks, dan

abdomen. Pada caput terdapat sepasang antena, alat mulut dan juga terdapat mata

8
mejemuk. Bagian toraks terlihat tiga pasang tungkai yaitu tungkai belakang,

tangah dan tungkai depan. Gejala serangan Kumbang Beras (Sitophilus

oryzae) terlihat bahwa butir-butir beras yang diserang terdapat lubang lubang-

lubang kecil. Beras yang terserang mudah hancur, yang mengakibatkan kualitas

beras menjadi buruk. Warna tubuh Kumbang Beras (Sitophilus oryzae) berwarnah

merah agak kecoklatan. (Naynienay, 2008).

Musuh alami hama ini antara lain Anisopteromalus calandrae (parasit

larva), semut merah dan semut hitam yang berperan sebagai predator dari larva

dan telur hama. Penagendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara melakukan

penjemuran produk simpanan pada terik matahari, diharapkan dengan adanya

penjemuran ini hama Sitophilus oryzae dapat terbunuh, dengan pengaturan tempat

penyimpanan, dan dengan melakukan fumigasi terhadap produk yang disimpan

(Naynienay.2008).

Selain itu pemanfaatan jeruk nipis dan tanaman serai juga dapat mencegah

hama kutu beras karena menurut hasil penelitian Andrianto (2006) rasa pahit rada

jeruk dan mempunyai efek larvasida paling berpotensial adalah Limonoida.

Limonoid yang menyebar ke jaringan saraf akan mempengaruhi fungsi saraf yang

lain dan mengakibatkan terjadinya aktifitas mendadak pada saraf. Selain itu dapat

masuk kedalam tubuh melalui kulit atau dinding tubuh dengan cara osmosis,

kemudian limonoid aka masuk ke sel-sel epidermis yang selalu mengalami

pembelahan, sehingga sel-sel epidermis mengalami kelumpuhan dan akhirnya

mati.

9
Tanaman serai (Andropogon nardus L) yang dapat dimanfaatkan sebagai

pengusir serangga karena mengandung zat-zat seperti geraniol, metil heptenon,

terpen-terpen, terpen-alkohol, asam-asam organik dan terutama sitronela

(Sastrohamidjojo, 2004) oleh karena itu perlu dilakukan suatu penelitian yang

bertujuan untuk mengkaji daya ekstrak daun jeruk dan batang serai tersebut

terhadap perkembangan serangga kutu beras Sitophilus oryzae. Menurut hasil

penelitian makal dan turang (2011), prosentase kematian meningkat seiring

dengan meningkatnya konsetrasi ekstrak batang serai, hal ini berkaitan dengan

sifat senyawa-senyawa seperti sitral, sitronelal, geraniol, sitroneol, nerol, dan

farsenol yang terdapat didalam jaringan serai yan bila konsentrasi tinggi dapat

membunuh serangga.

Penggunaan cabai kering juga ampuh membasmi hama kutu beras karena

dengan aroma pedas dan panasnya cabai mampu mengusir hama kutu beras.

Bawang putih juga mampu mengusir hama kutu beras bawang putih memiliki

aroma khas yang tidak disukai kutu dan mikroorganisme lainnya.

10
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Hama gudang merupakan organisme penganggu yang menyerang pada

tanaman yang telah selesai panen atau penyerangan hama gudang terjadi

pada saat penyimpanan produk, sehingga dapat merusak hasil produksi dan

menurunkan kualitas serta kuantitas produk tanaman yang masi dalam

proses penyimpanan.
2. Kumbang beras (atau dikenal awam sebagai kutu beras) adalah nama

umum bagi sekelompok serangga kecil anggota marga Tenebrio dan

Tribolium (ordo coleoptera) yang dikenal gemar menghuni biji-

bijian/serealia yang disimpan.


3. Kerusakan yang diakibatkan oleh kutu beras dapat tinggi pada keadaan

tertentu sehingga kualitas beras menurun. Biji-biji hancur dan berdebu

dalam waktu yang cukup singkat, serangan hama dapat mengakibatkan

perkembangan jamur sehingga produk beras rusak, bau apek yang tidak

enak dan tidak dapat dikonsumsi.


4. Akibat dari serangan kutu beras menyebabkan butir-butir beras menjadi

berlubang kecil-kecil. Sehingga mengakibatkan beras menjadi mudah

pecah dan remuk menjadi tepung.

11
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Kaleng. http://www.google.co.id Diakses Pada tanggal 30

Desember 2015.
Anonimous, 2010. Panjang Gelombang Warna.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|

id&u=http://eosw

eb.larc.nasa.gov/EDDOCS/Wavelengths_for_Colors.htmlDiakses tanggal

10 Januari 2017
Harahap I. 2006. Ekologi serangga hama gudang. Di dalam Prijono D,

Dharmaputra OS, Widayanti S, editor. Pengelolaan Hama Gudang

Terpadu. Bogor: KLH, UNIDO, SEAMEO BIOTROP. hlm 53-55.


Ilato. dkk. 2012. Jenis Dan Populasi Serangga Hama Pada Beras Di Gudang

Tradisional Dan Modern Di Provinsi Gorontalo. Eugenia. Gorontalo


Marbun, C.U dan Yuswani P., 1991, Ketahanan Beberapa Jenis Beras Simpan

Terhadap Hama Bubuk Beras, Sitophylus orizae (Coleoptera,

Curculionidae) di Gudang, Fakultas Pertanian USU, Medan.


Pracaya. 2008. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Secara Organik.

Kanisius.Yogyakarta
Pracaya., 1991, Hama dan Penyakit Tanaman, Penebar Swadaya, Jakarta.
Sjam. 2014. Hama pasca panen dan strategi pengendaliannya. IPB Pres. Bogor
Sunjaya dan Widayanti. 2006. Pengenalan serangga hama gudang. Di

dalam Prijono D, Dharmaputra OS, Widayanti S, editor. Pengelolaan

Hama Gudang Terpadu. Bogor: KLH, UNIDO, SEAMEO BIOTROP.


Sumalong, A. 2010. Pasca Panen.

http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/ diakses pada tanggal

19 Desember 2015

12
Soemartono. 1980. Padi (Oryza sativa, L).

http://distan.majalengkakab.go.id/index.php?option=com_content&view=a

rticle&id=82:padi-oryza-sativa-l&catid=18:tanaman-pangan&Itemid=30

Diakses tanggal 04 Januari 2016.


Syarief, R. dan A. Irawati. 1988. Pengetahuan Bahan untuk Industri

Pertanian. Media Sarana Perkasa, Jakarta.


Tandiabang, J., Tenrirawe, A., dan Surtikanti., 2009. Pengelolaan Hama

Pasca Panen Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia,

http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/leaflet/opt.pdf.. Diakses pada tanggal

13 Desember 2015.
Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta, hal 7.

13

Anda mungkin juga menyukai