Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kesehatan adalah hak dasar manusia yang merupakan karunia Tuhan

yang sangat tinggi nilainya. Karena dengan sehat kita dapat melakukan

aktivitas setiap hari. Hidup sehat merupakan hal yang seharusnya diterapkan

oleh setiap orang, mengingat manfaat yang ditimbulkan akan sangat banyak,

mulai dari konsentrasi kerja, kesehatan dan kecerdasan anak sampai dengan

keharmonisan keluarga. (Depkes, 2010).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat merupakan esensi dan hak asasi

manusia untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidupnya. Hal ini selaras

dengan yang tercakup dalam konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia tahun

1948 disepakati bahwa diperolehnya derajat kesehatan yang setingi-tingginya

adalah hak yang fundamental bagi setiap orang tanpa membedakan ras,

agama, politik yang dianut dan tingkat sosial ekonominya (Maryunani, 2013).

Kebijakan Indonesia Sehat menetapkan tiga pilar utama yaitu

lingkungan sehat, perilaku sehat dan pelayanan kesehatan bermutu adil dan

merata. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya

peningkatan perilaku sehat ditetapkan dalam Visi Nasional Promosi Kesehatan

sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI.No. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu

“Perilaku Hidup Bersih dan Sehat” (PHBS). PHBS dipengaruhi oleh perilaku

seseorang, dan perilaku itu sendiri terdiri menjadi tiga aspek, yakni:

1
pengetahuan, sikap dan praktik. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010

secara nasional, penduduk yang telah memenuhi kriteria PHBS baik sebesar

38,7%. (Depkes RI, 2011).

Menurut hasil Riskesdas tahun 2013, di Indonesia memang telah terjadi

penurunan angka period prevalence diare dari 9,0% tahun 2007 menjadi 3,4%

pada tahun 2014. Kelompok umur balita merupakan kelompok yang paling

tinggi menderita diare. Karakteristik diare balita tertinggi terjadi pada

kelompok umur 12-23 bulan (7,4%), laki-laki (5,4%), tinggal di daerah

pedesaan (5,8%), dan kelompok kuintil indeks kepemilikan akses terhadap air

bersih dan jamban sehat terbawah (6,4%). Selanjutnya insiden malaria

penduduk Indonesia tahun 2007 sebesar 3,1% dan tahun 2014 menjadi 1,8%.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah program pemerintah

yang diluncurkan pada tahun 2006 yang bertujuan untuk mengubah perilaku

masyarakat tidak sehat menjadi sehat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

(PHBS) dapat dilaksanakan di masyarakat, rumah tangga, dan sekolah. PHBS

di sekolah adalah sekumpulan perilaku sehat yang dipraktikkan oleh peserta

didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai

hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu meningkatkan kesehatan,

berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat dan mampu

mencegah penyakit. Sekolah sebagai salah satu sasaran PHBS di tatanan

institusi pendidikan. Hal ini disebabkan karena banyaknya data yang

menyebutkan bahwa munculnya sebagian penyakit yang sering menyerang

2
anak usia sekolah ( 6-10 th ) misalnya diare, kecacingan dan demam berdarah

umumnya berasal dari sekolah (Maryunani, A. 2013).

Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan bahwa proporsi nasional

rumah tangga di Indonesia dengan PHBS baik adalah hanya 32,3 persen,

dengan proporsi tertinggi pada DKI Jakarta (56,8%) dan terendah pada Papua

(16,4%). Terdapat 20 dari 33 provinsi yang masih memiliki rumah tangga

PHBS baik di bawah proporsi nasional, ini lebih rendah dibandingkan dengan

proporsi nasional rumah tangga PHBS pada tahun 2007 adalah sebesar 38,7%.

Selanjutnya hasil pendataan untuk PHBS tatanan rumah tangga di

Banten menurut Riskesadas (2013) hanya dibawah 40%, dari 10 indikator

PHBS Kota Serang hanya 8 indikator yang mencapai target. Indikator yang

belum memenuhi syarat yaitu cakupan bebas asap rokok, air bersih, sampah,

saluran pembuangan air limbah, pemberantasan sarang nyamuk, dana sehat

dan tanaman obat keluarga.

Menciptakan hidup sehat sangatlah mudah serta murah, mengingat

biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan apabila mengalami gangguan

kesehatan cukup mahal. Pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari rumah

tangga atau keluarga karena rumah tangga yang sehat merupakan asset atau

modal pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan

dilindungi kesehatannya. Beberapa anggota rumah tangga mempunyai masa

rawan terkena penyakit menular dan penyakit tidak menular, oleh karena itu

untuk mencegah penyakit tersebut, anggota rumah tangga perlu diberdayakan

untuk melaksanakan PHBS (Depkes, 2010).

3
Secara umum, Program perilaku hidup bersih dan sehat bertujuan

memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi

perorangan, kelompok, keluarga, dengan membuka jalur komunikasi,

informasi, dan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku

sehingga masyarakat sadar, mau, dan mampu mempraktikkan perilaku hidup

bersih dan sehat melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana

(social support), dan pemberdayaan masyarakat (empowerment). Dengan

demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri

terutama pada tatanannya masing-masing (Depkes RI, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian Sekar P. (2015) di puskesmas Poned

bahwa hubungan yang signifikan antara usia dengan tingkat perilaku PHBS

rumah tangga (p =0,003), serta tingkat pengetahuan dengan tingkat perilaku

PHBS rumah tangga (p =0,000), dan tidak didapatkan hubungan yang

signifikan antara pendidikan dengan tingkat perilaku PHBS rumah tangga (p =

0,206), hal ini didukung oleh penelitian Putra (2013) di Kelurahan Sei Putih

Tengah Medan menunjukkan bahwa pengetahuan orangtua tentang

memberantas jentik nyamuk di rumah lebih banyak berpengetahuan sedang,

ini dikarenakan masyarakat lingkungan IV lebih banyak tingkat pendidikan

SLTA, dan Orangtua memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap anggota

keluarga lainnya karena banyaknya orangtua yang merokok didalam rumah,

sehingga anggota keluarga terpapar oleh asap rokok yang dapat

membahayakan kesehatan. Akibat dari pengaruh orangtua yang merokok dan

tingkat pendidikan yang mayoritas SLTA sehingga ada hubungan yang kuat

4
antara pengetahuan tidak merokok di dalam rumah dengan PHBS.

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan di desa

Trumbu kecamatan Kasemen dengan jumlah responden 10 Ibu hamil di

dapatkan hasil terdapat 5 ibu hamil yang sudah membuang sampah pada

tempatnya, tidak merokok di didalam rumah, dan mengikuti olahraga rutin,

sedangkan 5 Ibu hamil yang lain, jarang mencuci tangan dengan air mengalir

dan sabun sebelum makan, kurang makan sayur dan buah, serta

pemberantasan jentik nyamuk di rumah secara rutin kurang karena masih

banyak yang membiarkan adanya genangan air di tempat-tempat terbuka

seperti sumur, dan ember yang menampung air hujan yang dibiarkan begitu

saja.

Mengingat pentingnya peran dan tanggung jawab bidan dalam

memberikan asuhan pelayanan kebidanan yang aman dan efektif, serta faktor

utama dalam perilaku hidup bersih dan sehat, maka peneliti merasa tertarik

untuk melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Pengetahuan dan

Sikap Ibu hamil dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Desa

Terumbu Kecamatan Kasemen Kota Serang, Tahun 2019”.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat merupakan esensi dan hak asasi

manusia untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kebijakan

Indonesia Sehat menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat, perilaku

sehat dan pelayanan kesehatan bermutu adil dan merata. PHBS dipengaruhi

5
oleh perilaku seseorang, dan perilaku itu sendiri terdiri menjadi tiga aspek,

yakni: pengetahuan, sikap dan praktik. PHBS tatanan rumah tangga di Banten

menurut Riskesadas (2013) hanya dibawah 40%, dari 10 indikator PHBS Kota

Serang hanya 8 indikator yang mencapai target. Indikator yang belum

memenuhi syarat yaitu cakupan bebas asap rokok, air bersih, sampah, saluran

pembuangan air limbah, pemberantasan sarang nyamuk, dana sehat dan

tanaman obat keluarga.

1.3 TUJUAN

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan

perilaku hidup bersih dan sehat di desa Terumbu Kecamatan Kasemen

Kota Serang, Tahun 2019.

1.3.2 Tujuan Khusus

1.3.2.1 Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan dan sikap ibu hamil

terhadap perilaku hidup bersih dan sehat di Desa Terumbu

Kecamatan Kasemen Kota Serang, Tahun 2019.

1.3.2.2 Mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil dengan perilaku

hidup bersih dan sehat di desa Terumbu Kecamatan Kasemen

Kota Serang, Tahun 2019

1.3.2.3 Mengetahui hubungan sikap ibu hamil dengan perilaku hidup

bersih dan sehat di desa Terumbu Kecamatan Kasemen Kota

Serang, Tahun 2019

6
1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Bagi Institusi Penyelenggara

Terkait dengan peningkatan keilmuan dan mendapatkan masukan

yang bermanfaat guna meningkatkan mutu pelayanan pada

masyarakat khususnya mengenai perilaku hidup bersih dan sehat pada

Ibu hamil

1.4.2 Bagi peneliti

Dapat membantu memahami tujuan kesehatan reproduksi reproduksi

melalui perilaku hidup bersih dan sehat pada Ibu hamil

1.4.3 Bagi Puskesmas

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi

puskesmas dalam meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi pada

ibu hamil dan bersalin serta digunakan sebagai bahan untuk

meningkatkan standar pelayanan dan suatu masukan bagi pihak

Puskesmas untuk memberikan penyuluhan pentingnya perilaku hidup

bersih dan sehat pada Ibu hamil

1.4.4 Bagi Responden

Diharapkan menambah pengetahuan, khususnya ibu hamil dalam

perilaku hidup bersih dan sehat pada Ibu hamil yang aman dan

berkualitas.