Anda di halaman 1dari 11

TUGAS AKHIR MODUL 4 PROFESIONAL

OLEH

Nama : OSWALDUS ROMANUS WALE LIKO, S.Pd


NUPTK : 2660761663120002
NO. Peserta PPG : 19241022010048
Bidang Studi Sertifikasi : 220 - PJOK
Sekolah Asal : SMPN SATAP 2 SOA, NGADA, NTT

Instructions
TINJAUAN OLAHRAGA PADA ASPEK SOSIOLOGI DAN PSIKOLOGI
1. Pendidikan Jasmani dapat meningkatkan stabilitas sosial-psikologis dan memainkan
peran dalam menggairahkan hidup sehari-hari, demikian juga jika Pendidikan Jasmani
dilakukan secara aktif dapat mengatasi kecemasan dan keteganggan mental dalam
menjalani kehidupan ditengah masyarakat modern saat ini yang serba kompetitif.
Bagaimana implementasi yang harus diwujudkan oleh guru PJOK dalam tantangan
tersebut dalam tugasnya sehari-hari?
Jawab :

a. Peran Guru PJOK Dalam Meningkatkan Stabilitas Sosial – Psikologis


Guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pendidik harus dituntut
untuk benar-benar memahami mengenai segala bentuk perilaku, baik itu perilakunya
sendiri ataupun perilaku orang-orang yang terlibat dalam tugasnya termasuk perilaku
peserta didik. Hal ini dimaksudkan agar guru mampu menerapkan kewajiban dan
perannya dengan efektif, efisien dan bermanfaat nyata dalam mencapai tujuan
pendidikan di sekolah sebagai tempat dia mengajar. Berikut adalah beberapa peran
guru pjok dalam psikologi perkembangan:
1. Membuat konsep yang tepat
Peran guru dalam psikologi perkembangan yang pertama adalah membuat
konsep yang tepat. Konsep yang dimaksud adalah konsep perkembangan dalam
mewujudkan tujuan pendidikan khususnya pengajaran PJOK. Dengan guru
memahami psikologi perkembangan, maka akan lebih mudah untuk memutuskan
bentuk perubahan perilaku guna mencapai tujuan pembelajaran.
2. Strategi yang tepat
Selain membuat konsep tujuan yang tepat, guru PJOK harus memahami psikologi
pendidikan atau psikologi perkembangan, tepat mengambil strategi atau cara
pengajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, segala bentuk metode
belajar dan gaya belajar yang sedang dihadapi siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau konseling
Selain mampu memberikan pengajaran yang baik bagi peserta didik, peran guru
PJOK dalam psikologi perkembangan yang lain adalah seorang guru mampu
memberikan saran psikokogis yang tepat dan benar yakni dengan menumbuhkan
hubungan inter personal dalam suasana keakraban antar individu satu dengan
individu lainnya.
4. Memberikan fasilitas dan mendorong motivasi belajar
Memfasilitasi merupakan usaha untuk meningkatkan segala bentuk potensi yang
dimiliki oleh siswa antara lain bakat, intelegensi dan minat. Dengan adanya
fasilitas dan motivasi belajar guru dapat memberikan pacuan semangat kepada
siswanya dalam mencapai prestasi dalam belajar.
5. Suasana belajar kondusif
Belajar akan lebih efektif jika terjadi di dalam suasana yang kondusif. Dengan
pengetahuan psikologi yang baik, guru akan lebih mudah dalam mencipatakan
suasanan yang kondusif di dalam suatu pembelajaran kelas sehingga tujuan
belajar menjadi lebih cepat tercapai sebab peserta didik mendapatkan pelajaran
dengan rasa senang.
6. Lebih cepat tanggap dan berinteraksi
Guru dengan memiliki pemahaman psikologi yang baik akan lebih bisa membaca
segala sesuatu yang terjadi pada peserta didik. Seperti misalkan ketika ada
seorang siswa yang akhir-akhir ini mengalami penurunan prestasi, guru yang
tanggap akan segera mencari informasi, berinteraksi dengan siswa yang
bersangkutan serta akan berusaha menjadi penasehat yang baik bagi siswanya
tersebut.
7. Menilai dengan adil
Psikologi yang baik juga akan mengarahkan guru PJOK dalam memberikan
penilaian secara adil baik itu dari segi teknis penilaian, bentuk-bentuk prinsip
penilaian guru terhadap siswa hingga pada penentuan hasil-hasil pendidikan.
8. Menguasai bahan materi
Dengan memiliki pemahaman psikologi yang baik, guru akan lebih bertanggung
jawab untuk mempersiapkan segala bentuk materi sehingga peserta didik dapat
lebih mudah untuk menerima dan memahami materi yang disampaikan.
9. Memiliki pengetahuan yang luas
Selain memiliki pengetahuan tentang bahan ajar yang diajarkan di dalam maupun
luar kelas, guru PJOK seyogyanya juga harus memiliki pengetahuan yang luas
dalam segala topik permasalahan terbaru atau terupdate pada saat itu. Sebab,
siswa yang memiliki pemikiran kritis tidak segan akan lebih banyak bertanya
apalagi yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan yang baru.
10. Sebagai mediator yang baik
Selain pengetahuan yang luas akan segala hal, guru yang memiliki pemaham
psikologi yang baik juga akan menguasai media pendidikan. Media pendidikan
adalah alat bantu komunikasi agar proses pembelajaran lebih efektif dan peserta
didik dapat menangkap dengan jelas maksud dari materi yang diajarkan.
Dengan demikian peran guru PJOK dalam psikologi perkembangan, bukan hanya
sekedar memberikan pelajaran atau materi namun guru PJOK dituntut untuk
mengembangkan dan meningkatkan faktor - faktor di dalam suasana pembelajaran
sehingga peserta didik dapat menangkap materi dengan lebih mudah.

b. Peran Guru PJOK Dalam Mengatasi Kecemasan dan Keteganggan Mental


Berikut upaya-upaya yang bisa dilakukan oleh guru PJOK untuk mencegah dan
mengurangi kecemasan siswa di sekolah, diantaranya dapat dilakukan melalui :
1. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Pembelajaran dapat menyenangkan apabila bertolak dari potensi, minat dan
kebutuhan siswa. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang digunakan
hendaknya berpusat pada siswa, yang memungkinkan siswa untuk dapat
mengkspresikan diri dan dapat mengambil peran aktif dalam proses
pembelajarannya.
2. Mengembangkan “ Sense Of Humor ”
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung guru seyogyanya dapat
mengembangkan
“sense of humor” dirinya maupun para siswanya. Kendati demikian, lelucon atau
“ joke ” yang dilontarkan tetap harus berdasar pada etika dan tidak memojokkan
siswa.
3. Melakukan kegiatan selingan melalui berbagai atraksi “game” atau “ice break”
Terutama dilakukan pada saat suasana kelas sedang tidak kondusif. Dalam hal
ini, keterampilan guru dalam mengembangkan dinamika kelompok tampaknya
sangat diperlukan.
4. Kegiatan pembelajaran di luar kelas
Sewaktu-waktu ajaklah siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di luar
kelas, sehingga dalam proses pembelajaran tidak selamanya siswa harus
terkurung di dalam kelas.
5. Memberikan materi dan tugas - tugas akademik dengan tingkat kesulitan yang
moderat
Dalam arti, tidak terlalu mudah karena akan menyebabkan siswa menjadi cepat
bosan dan kurang tertantang, tetapi tidak juga terlalu sulit yang dapat
menyebabkan siswa frustrasi.
6. Menggunakan pendekatan humanistik dalam pengelolaan kelas
Dimana siswa dapat mengembangkan pola hubungan yang akrab, ramah,
toleran, penuh kecintaan dan penghargaan, baik dengan guru maupun dengan
sesama siswa. Sedapat mungkin guru menghindari penggunaan reinforcement
negatif (hukuman) jika terjadi tindakan indisipliner pada siswa.
7. Mengembangkan sistem penilaian yang menyenangkan
Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan penilaian diri
(self assessment) atas tugas dan pekerjaan yang telah dilakukannya. Pada saat
berlangsungnya pengujian, ciptakan situasi yang tidak mencekam, namun dengan
tetap menjaga ketertiban dan objektivitas. Berikanlah umpan balik yang positif
selama dan sesudah melaksanakan suatu asesmen atau pengujian.
8. Menanamkan kesan positif
Di hadapan siswa, guru akan dipersepsi sebagai sosok pemegang otoritas yang
dapat memberikan hukuman. Oleh karena itu, guru seyogyanya berupaya untuk
menanamkan kesan positif dalam diri siswa, dengan hadir sebagai sosok yang
menyenangkan, ramah, cerdas, penuh empati dan dapat diteladani, bukan
menjadi sumber ketakutan.
9. Menyediakan sarana dan prasarana
Pengembangan menajemen sekolah yang memungkinkan tersedianya sarana
dan prasarana pokok yang dibutuhkan untuk kepentingan pembelajaran siswa,
seperti ketersediaan alat tulis, tempat duduk, ruangan kelas dan sebagainya. Di
samping itu, ciptakanlah sekolah sebagai lingkungan yang nyaman dan terbebas
dari berbagai gangguan, terapkan disiplin sekolah yang manusiawi serta hindari
bentuk tindakan kekerasan fisik maupun psikis di sekolah, baik yang dilakukan
oleh guru, teman maupun orang-orang yang berada di luar sekolah.
10. Mengoptimalkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Pelayanan bimbingan dan konseling dapat dijadikan sebagai kekuatan inti di
sekolah guna mencegah dan mengatasi kecemasan siswa. Dalam hal ini,
ketersediaan konselor profesional di sekolah tampaknya menjadi mutlak adanya.
Melalui upaya-upaya di atas diharapkan para siswa dapat terhindar dari berbagai
bentuk kecemasan dan keteganggan mental. Mereka dapat tumbuh dan
berkembang menjadi individu yang sehat secara fisik maupun psikis, yang pada
gilirannya dapat menunjukkan prestasi belajar yang unggul.
2. Olahraga yang terkelola secara baik atau paripurna mampu berperan bukan hanya
sebagai bagian dari budaya tetapi juga sebagai media pengembangan budaya luhur
masyarakat, meningkatkan kepercayaan diri, mengembangkan etika, menepis
diskriminasi gender, serta menekan kecemasan dan membangkitkan motivasi diri.
Berikan argumentasi secara singkat, jelas dan lugas kenapa hal tersebut dapat terjadi
dan bagaimana cara melakukannya?
Jawab:

a. Olahraga Sebagai Media Pengembangan Budaya Luhur Masyarakat


Pada dasarnya olahraga bukan hanya mengandung manfaat dalam
menyehatkan tubuh saja, tetapi juga menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur yang
sangat bermanfaat dalam kehidupan. Karena di dalamnya bukan hanya menyangkut
keterlibatan individu saja, tetapi juga keterlibatan masyarakat luas. Bidang ini telah
memiliki kaitan dengan kehidupan orang banyak, dan karena itu memiliki dimensi
sosial serta fungsional yang sangat luas. Secara fungsional olahraga berperan atau
berfungsi menyehatkan tubuh, sementara pada dimensi sosial, olahraga berperan
dalam menanamkan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang patut diamalkan
dalam kehidupan. Jika dikaji secara mendalam nilai-nilai tersebut sangat berguna
dalam kehidupan bersama.
Terlepas dari merosotnya prestasi olahraga kita dewasa ini, yang ditandai
dengan seringnya terjadi insiden dalam beberapa kompetisi sehingga mencoreng
reputasi olahraga kita, maka patut kiranya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
dihayati, ditanamkan dan diimplementasikan secara luas. Dalam konteks kehidupan
berbangsa dan bernegara dewasa ini nilai-nilai luhur semacam itu, justru sangat
dibutuhkan sebagai landasan dan inspirasi bersama. Ditengah ancaman erosi nilai-
nilai kebangsaan yang belakangan ini semakin nyata, maka perlu kiranya kita
menggali kembali melalui berbagai momen dan wahana kehidupan yang ada.

b. Olahraga Meningkatkan Kepercayaan Diri


Setiap orang pasti pernah mengalami hari-hari di mana rasa percaya diri
menurun. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah
dengan berolahraga, karena olahraga juga mampu meningkatkan rasa percaya diri.
Perubahan fisik yang terjadi karena olahraga akan membuat kita terlihat lebih baik.
Olahraga memang memberikan dampak besar tak hanya bagi fisik, tapi juga bagi
kesehatan mental. Inilah yang akhirnya meningkatkan rasa percaya diri seseorang.
Berikut manfaat olahraga untuk meningkatkan rasa percaya diri :
1. Rasa Pencapaian
Ketika berolahraga, rasa percaya diri akan meningkat karena kita telah mau
menyemangati diri sendiri untuk aktif bergerak. Aktif bergerak, tentu lebih sehat
ketimbang duduk santai tanpa melakukan apapun.
2. Meningkatkan Rasa Nyaman
Saat fisik aktif, tubuh melepaskan senyawa endorfin yang mampu mencegah
stres dan membuat kondisi psikologi seseorang terasa lebih nyaman. Hal inilah
yang membuat rasa percaya diri meningkat ketika sedang berolahraga.
3. Kesehatan Fisik
Olahraga secara rutin akan membuat sistem imun meningkat dan menangkal
berbagai virus serta penyakit yang berbahaya. Dengan fisik yang sehat, membuat
kita merasa lebih mencintai diri sendiri.
4. Penampilan Lebih Menarik
Olahraga membuat penampilan dan bentuk tubuh menjadi lebih baik. Penampilan
yang cantik dan menarik akan meningkatkan rasa percaya diri setiap orang.
5. Memperbaiki Mood
Jika perasaan sedang sedih ataupun buruk, olahraga dapat membuat kita merasa
lebih baik dan kembali percaya diri. Olahraga juga salah satu solusi yang baik
yang dapat membuat hidup lebih terkontrol, sehingga mood kita siap untuk
melakukan hal-hal dan tantangan baru.
6. Bersosialisasi dengan Orang Baru
Megikuti kelas di gym, jogging di sekitar rumah, ataupun mengikuti kelas yoga,
membuat kita dapat mengenal dan menjalin hubungan dengan orang-orang baru
di sekitar kita. Bersosialisasi, dapat meningkatkan rasa percaya diri.
7. Membangkitkan Semangat Kompetisi
Dengan berolahraga, kita menantang diri dalam suatu kompetisi, di mana kita
mencoba untuk melebihi limit ataupun batasan sendiri. Setelah tantangan itu
tercapai, otomatis kita akan lebih menghargai diri sendiri yang akhirnya
membentuk kepercayaan diri.
8. Meningkatkan Performa Seksual
Olahraga dapat meningkatkan stamina dan performa seksual serta meningkatkan
rasa percaya diri, yang akan membuat kehidupan seksual seseorang menjadi
lebih baik.
9. Perhatian dan Konsentrasi yang Lebih Baik
Olahraga dapat meningkatkan perhatian dan konsentrasi yang lebih baik. Hal ini
merupakan salah satu faktor yang baik dalam pekerjaan, karena kita dapat
menjadi lebih fokus dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan.

c. Olahraga Mengembangkan Etika


Guru PJOK harus dapat mengajarkan etika dan nilai dalam proses belajar
mengajar, yang mengarah pada kesempatan untuk membentuk karakter anak.
Karakter anak didik yang dimaksud tentunya tidak lepas dari karakter bangsa
Indonesia serta kepribadian utuh anak, selain harus dilakukan oleh setiap orangtua
dalam keluarga, juga dapat diupayakan melainkan pendidikan nilai di sekolah.
Cara melakukannya yaitu Pendidik jasmani dalam proses pendidikan sebaiknya
mengembangkan karakter yang menampilkan: compassion (rasa belas kasih),
fairness (keadilan), sportsmanship (ketangkasan) dan integritas. Dengan adanya rasa
belas kasih, murid dapat diberi semangat untuk melihat lawan sebagai kawan dalam
permainan, sama-sama bernilai, sama sama patut menerima penghargaan. Keadilan
melibatkan tidak keberpihakan, sama-sama tanggung jawab. Ketangkasan dalam
olahraga melibatkan berusaha secara intens menuju sukses. Integritas
memungkinkan seseorang untuk membuat kesalahan pada yang lain, sebagai contoh
meskipun tindakannya negatif penerimannya oleh wasit, rekan satu tim maupun juga
fans

d. Olahraga menepis diskriminasi gender


Secara fisiologis wanita dan pria memang merupakan sosok yang berbeda ,
namun dalam proses aktifitas fisik terutama pendidikan jasmani tidak ada hal yang
mengatur tentang perbedaan perlakuan pada wanita dan pria, tuntutan agar wanita
harus mengikuti gerakan pria dan pendidikan jasmani masih sering diperdebatkan,
tidak terkecuali oleh guru pendidikan jamani itu sendiri, masih ada guru pendidikan
jasmani yang memberikan perlakuan berbeda terhadap wanita dan pria, bahkan ada
juga yang menempatkan wanita sebagai penonton saja apabila pendidikan jasmani
sedang berlangsung.
Jika ditinjau lebih jauh bahwa pendidikan jasmani merupakan sebuah proses
belajar tentang manusia bergerak, dimana gerak manusia adalah suatu rangkaian
yang muncul dari kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidup . Gerakan
muncul dikarenakan adanya tiga faktor , yaitu faktor individu, faktor tugas, dan faktor
lingkungan, gerakan dipengaruhi oleh dua hal yaitu spesifikasi tugas dan dibatasi
oleh lingkungan. Individu mengasilkan gerakan karena adanya sebuah kebutuhan
didalam tugasnya dan adanya lingkungan yang mengharuskan individu bergerak,
kapasitas Individu untuk berinteraksi dengan tugas, lingkungan, yang kemudian akan
mencerminkan kapasitas fungsional seseorang.
Ditinjau dari teori tersebut menggambarkan bahwa wanita akan dapat mengikuti
gerakan pria apabila terdapat tuntutan gerak terutama dalam lingkungan yang
memang megharuskan wanita melakukan gerakan tersebut, bisa dilihat dalam
kehidupan masyarakat berbagai peran pria yang di lakukan oleh wanita baik itu
menjadi budaya setempat maupun karena tuntutan ekonomi. Sebenarnya jika melihat
lebih jauh pada aktivitas fisik yang tinggi sekalipun , seperti prestasi olahraga, banyak
wanita yang mampu tampil sempurna dalam kegiatan olahraga, meskipun dari segi
fisik sangat berbeda dari pria namun dari keterampilan banyak wanita yang
mempunyai gerakan gerakan dengan koordinasi yang baik seperti halnya wanita.
Cara yang bisa dilakukan untuk penyetaraan gender dalam bidang olahraga yaitu
melalui kurikulum. Muatan kurikulum yang berisi berbagai aktifitas jasmani sama
sekali tidak memberikan gambaran perbedaan perlakuan pada pria dan wanita
karena aspek yang ditekankan adalah suatu proses pendidikan melalui aktivitas
jasmani, aktivitas yang dilakkukan dalam pendidikan jasmani bukanlah hal yang tidak
dapat dilakukan oleh wanita, terutama pada pendidikan jasmani nilai afektif individu
sangat diutamakan, sikap disiplin, bekerja sama, kerja keras dan pantang menyerah
adalah karakter yang harus ditanamkan pada diri seorang wanita yang kelak
mendidik generasi penerus bangsa mulai dari tingkat keluarga

e. Olahraga dapat menekan kecemasan


Kondisi psikologis yang mengganggu penampilan seorang atlet atau siswa
diantaranya kecemasan. Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan.
Kecemasan (stress) adalah tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri
seseorang. Perasaan tertekan ini timbul karena banyak faktor yang berasal dari
dalam diri sendiri atau dari luar.
Teknik untuk mengatasi atau mengurangi rasa kecemasan adalah sebagai
berikut; Pemusatan perhatian (Centering). Penggunaan cara ini pertama-tama
singkirkan aneka ragam pikiran yang mengganggu atlet. Pusatkan seluruh perhatian
dan pikiran pada tugas yang sedang dihadapi. Keadaan mental atlet beragam, ada
yang mampu dengan cepat menghalau berbagai pikiran yang mengganggu
konsentrasi disaat pertandingan akan dihadapi, tapi ada pula atlet yang begitu lama
terhasut oleh gangguan-gangguan pikiran yang demikian.
Pengaturan pernapasan. Orang yang mengalami kecemasan, tonus otot,denyut
jantung serta respirasi akan meninggi. Keadaan seperti ini dapat diatasi dengan
pernapasan yang dalam dan pelan, sehingga irama pernapasan yang semula cepat
atau meninggi secara berangsur-angsur lambat atau menurun. Mengatur pernapasan
juga merupakan usaha penenagan diri.
Relaksasi otot secara progresif, caranya dengan melakukan kontraksi otot secara
penuh kemudian dikendurkan. Latihan ini dilakukan berulang-ulang selama kurang
lebih 60 menit. Keadaan ini dapat merelakskan otot-otot, bila otot-otot telah mencapai
keadaan rileks yang sungguh-sungguh maka keadaan ini dapat mengurangi
ketegangan emosional, menurunkan tekanan darah serta denyut nadi. Orang yang
merasakan saat-saat kecemasan sedapat mungkin memusatkan perhatiannya pada
relaksasi otot dengan cara seperti ini.
Pencarian sumber kecemasan. Peran guru atau pelatih untuk mencari sumber
kecemasan besar sekali. Jalinan hubungan emosional yang baik antara pelatih dan
atlet akan memungkinkan dan memudahkan pelatih untuk menelusuri apa yang
sebenarnya sedang dialami oleh atlet, begitu juga halnya atlet akan sangat terbuka
menceritakan banyak hal apa yang sebenarnya dialaminya.
Pembiasaan, cara ini dimaksudkan untuk melatih atlet menghadapi situasi-situasi
yang bisa timbul dalam pertandingan. Latihan untuk pembiasaan ini dilakukan dalam
bentuk simulasi- simulasi. Simulasi terhadap beragam situasi latihan sengaja dibuat
untuk menimbulkan kecemasan dalam batas-batas tertentu, sehingga atlet tidak lagi
peka terhadap pengaruh lingkungan yang berlaku.
Teknik penanganan individu. Penanganan individu adalah teknik khusus
mengatasi kecemasan yang penekanannya pada pendekatan individu, misalnya
melalui musik yang menjadi kegemaran atlet, menanamkan keyakinan kepada atlet
bahwa persiapan yang mereka lakukan sudah mantap, baik dan menyeluruh,
menjauhkan atlet dari official atau orang- orang yang didekatnya sebagai orang
pencemas atau pencetus rasa cemas, atau sekalian saja jelaskan pada atlet bahwa
rasa cemas itu muncul wajar dan memang diperlukan

f. Olahraga memotivasi diri


Prestasi olahraga tidak dapat dipisah dengan sistem pembinaan terhadap aspek-
aspek kepribadian seperti motivasi, kemampuan konsentrasi, rasa cemas,
kepercayaan diri dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Studi ilmiah dan pengalaman
menunjukkan bahwa motivasi merupakan energi psikologis yang sangat penting
dalam kegiatan olahraga.
Teknik untuk meningkatkan motivasi beberapa dikenal sebagai berikut, (1). teknik
verbal, (2). tingkah laku, (3). insentif, (4). supertisi, (5). citra mental
a. Teknik Verbal Dapat Dilakukan Dengan Cara :
 Pembicaraan pembangkit semangat juang
 Pendekatan individu
 Diskusi
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam melakukan teknik verbal adalah :
1. Berikan pujian terhadap apa yang telah dilakukan oleh atlet dan jelaskan apa
yang dibuatnya. Pujian ini diberikan untuk mendorong atlet percaya diri dan
mampu menampilkan kemampuannya dengan baik. Contoh, pelatih
mengatakan “saya yakin engkau bisa, karena saya lihat engkau sudah
sungguh - sungguh latihan”.
2. Berikan koreksi dan sugesti. Koreksi hendaknya tidak mengecewakan atlet,
malainkan evaluasi yang obyektif akan kelemahan dan kekurangan dengan
menunjukkan cara yang seharusnya baik dilakukan. Saran hendaknya
diberikan tetapi tidak memaksa. Contoh pelatih mengatakan “ Saya kira teknik
yang engkau lakukan cocok untuk kamu pertahankan, saya menyarankan
pertahan teknik tersebut kalau engkau masih bisa”.
3. Berikan semacam petunjuk yang dapat meyakinkan atlet bahwa dengan
latihan yang baik ia dapat mengatasi semua kelemahan, atau dengan latihan-
latihan selama persiapan, ia dapat memenangkan pertandingan.
b. Teknik Tingkahlaku (Behavioral)
Keberhasilan atlet dalam latihan atau pertandingan menuntut sikap tertentu,
seperti jujur, sportif, tekun, kreatif, dinamis, dan dedikasi yang tinggi terhadap
tugas-tugas dan latihan. Sikap-sikap tersebut agar terwujud menjadi tingkahlaku
laku atlet, mengharuskan pelatih bersikap demikian dalam kehidupan sehari-
harinya. Sikap-sikap itu akan diamati dan dirasakan oleh atlet, kemudian menjadi
sikap mereka dan akhirnya menjadi tingkahlaku dalam hidup mereka.
Teknik ini menekankan relasi antara pelatih dan atlet. Pelatih hendaknya
berlaku sebagai orangtua terhadap anak-anaknya, dan pada saat-saat tertentu
berlaku sebagai pemimpin terhadap anggota, dan sebagai guru terhadap
siswanya. Relasi pelatih-atlet yang baik akan menjadi pelatih model panutan bagi
atletnya. Tingkahlaku positif yang dipertunjukkan pelatih diharapkan dapat
memberi motivasi kepada atlet dalam melaksanakan latihan-latihan. Ini
merupakan motivasi yang diperoleh atlet dari contoh nyata pelatihnya.
c. Teknik Intensif
Teknik ini adalah dengan pemberian hadiah berupa materi atau lainnya.
Tujuan teknik ini adalah menambah semangat berlatih atau bertanding,
meningkatkan gairah untuk berprestasi, meningkatkan konsentrasi dan
memenangkan pertandingan. Intensif hendaknya diberikan pada waktu yang
tepat, dan diusahakan agar tidak menjadi kebiasaan, yang dapat menurunkan
semangat atlet bila sewaktu -waktu insentif itu ditiadakan.
d. Supertisi
Supertisi adalah kepercayaan akan sesuatu yang secara logis atau ilmiah
kurang diterima, namun dianggap membawa keberuntungan dalamberkompetisi,
misalkan ketika hendak memasuki lapangan seorang atlet secara kesadaran
penuh dan keyakinannya harus memasuki lapangan dimaksud dengan mengawali
kaki kanan dahulu baru kemudian kaki kiri.
Supertisi ini dimaksud penambah semangat, atau dianggap pembawa
keberuntungan, jika kebiasaan ini dilarang, maka atlet merasa ada yang kurang,
menjadi kurang semangat, dan tidak mungkin menang. Supertisi ini tidak perlu
dilarang, asalkan tidak merugikan secara fisik, psikologis maupun materi.
e. Citra Mental
Citra mental dimaksudkan melatih atlet membuat gerakan - gerakan yang
benar melalui imajinasi. Gerakan-gerakan dimatangkan dalam imajinasi kemudian
benar-benar dilaksanakan untuk dievaluasi. Terima kasih

Anda mungkin juga menyukai