Anda di halaman 1dari 2

Renada Anjas Prasetya

17312029
Pengauditan 1 / A

Kasus SNP Finance

SNP Finance merupakan bagian dari Columbia, toko yang menyediakan jaringan ritel yang
menawarkan pembelian barang rumah tangga secara kredit atau cicil. Dalam kegiatannya,
SNP lah yang menyokong pembelian barang yang dilakukan oleh Columbia dengan sumber
pendanaan dari perbankan atau surat utang. Di industri multifinance, SNP Finance bisa
dibilang pemain kelas menengah ke bawah. Dilihat dari, total pembiayaan yang
disalurkannya pun tidak lebih dari Rp5 triliun per tahun. karena barang yang dibiayainya
hanya kasur, lemari, sofa, dan perabot rumah tangga lainnya.

Namun seiring dengan turunnya bisnis toko Columbia, kredit perbankan SNP Finance
tersebut mengalami permasalahan dan menjadi NPL. SNP Finance diketahui menerima
fasilitas kredit modal kerja dari 14 bank. Salah satu dan yang paling besar berasal dari
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. SNP Finance sendiri telah 20 tahun menjadi nasabah Bank
Mandiri. Namun, pada 2016, perusahaan mengajukan restrukturisasi kredit. Saat itu, Bank
Mandiri memasukkan SNP Finance dalam kelompok kolektibilitas 2 (kol 2) atau dalam
perhatian khusus. Restrukturisasi kredit diperlukan bukan karena perusahaan menunggak
pembayaran, melainkan agar perusahaan bisa mendapat kucuran dana dari bank lain.

Alih-alih membaik, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan SNP
Finance malah menunjukkan itikad buruk. Dalam beberapa bulan terakhir, kreditnya mulai
macet dan manajemen perusahaan mengajukan pailit sukarela. Padahal, kredit macetnya
saat itu mencapai Rp1,2 triliun.

Sekretaris Perusahaan SNP Finance Ongko Purba Dasuha menyatakan bahwa nilai
pinjaman yang mereka ambil secara total tak lebih dari Rp4 triliun. Hal itu juga tertuang
dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). "Ada dalam pengakuan utang di
PKPU," katanya. PKPU itu terbit pada 4 Mei 2018, setelah dikabulkan majelis hakim
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam PKPU disebutkan total tagihan SNP Finance
mencapai Rp4,07 triliun dari 14 bank sebagai kreditur dengan jaminan Rp2,2 triliun, serta
336 pemegang MTN senilai Rp1,85 triliun.

Hal itu berimbas pada timbulnya pertanyaan bank-bank yang mengucurkan dana mereka ke
SNP Finance dan berbuntut pada seretnya aliran kredit dari bank-bank lain. Di sisi lain,
sistem manajemen penagihan di kantor-kantor cabang SNP Finance semakin lemah.

Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris
Besar Daniel Tahi Monang Silitong mengatakan pengungkapan kasus ini berawal dari
laporan Bank Panin pada awal Agustus 2018 lalu. Menurutnya, SNP Finance mengajukan
pinjaman fasilitas kredit modal kerja dan rekening koran kepada Bank Panin periode Mei
2016 sampai 2017 dengan plafon kepada debitur sebesar Rp425 miliar.

Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit macetnya
adalah menerbitkan surat utang berbentuk Medium Term Notes (MTN), yang diperingkat
oleh Pefindo, lembaga pemeringkat, berdasarkan laporan keuangan yang diaudit oleh KAP
DeLoitte. penerbitan MTN tidak melalui proses di OJK, mengingat MTN adalah perjanjian
yang bersifat private, namun memerlukan pemeringkatan karena dapat diperjual-belikan.

biro kredit independen (pefindo) mendapuk SNP Finance dengan peringkat idA- (single A
minus) sejak Desember 2015-November 2017. Lalu, peringkat itu dinaikkan menjadi idA
(single A) pada Maret 2018. Padahal, saat itu, keuangan SNP Finance mulai bermasalah.
Dua bulan setelahnya, yakni Mei 2018, OJK mengeluarkan sanksi Pembekuan Kegiatan
Usaha (PKU) terhadap SNP Finance melalui Surat Deputi Komisioner Pengawas IKNB II
Nomor S-247/NB.2/2018. Pefindo pun buru-buru menyematkan peringkat idCCC (triple C)
atau credit watch negative sebelum akhirnya menarik peringkat terhadap SNP Finance.
Dengan diberlakukannya PKU, maka SNP Finance dilarang melakukan kegiatan usaha
pembiayaan. Jika mangkir dari hal itu, maka OJK dapat langsung mengenakan sanksi
pencabutan izin usaha. Dengan kondisi itu, Anto menambahkan, OJK akan terus memonitor
perkembangan kasus SNP Finance, serta memantau tim audit internal bank yang
melakukan investigasi internal dan akan memberikan sanksi jika ada pegawai bank yang
terlibat.

Kasus 2 : Langgar Standar Audit

Kemenkeu menyebut dua akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan SNP Finance,
yakni Akuntan Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul melanggar standar audit profesional.

Mengutip data resmi Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), dalam mengaudit SNP
Finance tahun buku 2012 - 2016, mereka belum sepenuhnya menerapkan pengendalian
sistem informasi terkait data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan.

Akuntan publik tersebut juga belum menerapkan pemerolehan bukti audit yang cukup dan
tepat atas akun piutang pembiayaan konsumen dan melaksanakan prosedur memadai
terkait proses deteksi risiko kecurangan, serta respons atas risiko kecurangan.

Selain dua akuntan publik di atas, Kemenkeu juga menyoroti DeLoitte Indonesia. Mereka
diberi sanksi berupa rekomendasi untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam sistem
pengendalian mutu akuntan publik terkait ancaman kedekatan anggota tim perikatan senior.

Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto menuturkan bahwa sanksi diberikan untuk


memperbaiki mereka. "Sanksi administratif diberikan untuk membuat kebijakan dan
prosedur dalam sistem pengendalian mutu akuntan publik yang lebih baik," katanya.

Clients and Market Leader DeLoitte Indonesia Steve Aditya ketika dikonfirmasi masih belum
menjelaskan sanksi yang diterimanya tersebut. "Kami sedang menyiapkan tanggapan
terhadap pemberitaan Anda. Kami akan segera respons," ucapnya. (bir/asa)