Anda di halaman 1dari 8

EP JUDUL PROSEDUR

8211 SOP penilaian, 1. Petugas Farmasi memperkirakan atau menghitung pemakaian


pengendalian, obat rata – rata perbulan di Puskesmas Induk dan seluruh unit
penyediaan dan pelayanan, untuk menyusun rencana kebutuhan obat selama satu
penggunaan obat tahun kedepan.
2. Menentukan stok optimum yaitu jumlah stok obat yang
diserahkan kepada unit pelayanan agar tidak mengalami
kekurangan atau kekosongan obat.
3. Menentukan stok pengaman yaitu jumlah stok yang disediakan
untuk mencegah terjadinya sesuatu hal yang tidak terduga
4. Menentukan waktu tunggu yaitu waktu yang diperlukan dari mulai
pemesanan sampai obat diterima
5. Petugas Farmasi mengajukan usulan obat ke Gudang Farmasi
Kabupaten ( GFK ) sesuai ketersediaan obat di GFK.
6. Petugas Farmasi mengajukan usulan obat yang tidak tersedia di
luar Formularium untuk memenuhi kebutuhan.
7. Petugas Farmasi meminta persetujuan dari Kepala Puskesmas
tentang usulan obat yang tidak tersedia di Formularium.
8. Petugas Farmasi menginformasikan kepada petugas Paramedis,
mengenai obat yang stoknya berlebih, untuk menghindari obat
kadaluarsa.
9. Petugas Farmasi menginformasikan kepada petugas Paramedis,
mengenai obat yang stoknya kosong, untuk digantikan dengan
obat yang lain dengan fungsi yang sama.
10. Petugas Farmasi mengevaluasi penggunaan obat di Sub Unit
eksternal dan Internal dengan melihat LPLPO untuk menghindari
ketidaksesuaian pemakaian obat dan kelebihan obat.
11. Petugas Farmasi mengevaluasi stok obat di Gudang Farmasi
Puskesmas, jika terjadi kekurangan maka diusulkan permintaan
bon obat tambahan.
2 Penyediaan 1. Penyediaan obat di Puskesmas
Dan penggunaan obat a. Penyediaan obat di puskesmas dilakukan oleh petugas gudang dengan
mengajuan permintaan ke Gudang Farmasi Kabupaten (GFK), sesuai
dengan kebutuhan.
b. Permintaan obat menggunakan LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat) puskesmas
c. Tertib administrasi dalam penyediaan obat.
2. Penyediaan obat di unit pelayanan Puskesmas
a. Petugas unit pelayanan mengajukan permintaan ke gudang obat
puskesmas menggunakan LPLPO sesuai dengan kebutuhan.
b. Obat disediakan oleh petugas gudang obat, sesuai dengan
kebutuhan sub unit pelayanan setiap bulan, melalui LPLPO unit
pelayanan.
d. Penyediaan obat disesuaikan dengan ketersediaan obat di gudang obat
puskesmas.
e. Tertib administrasi dalam penyediaan obat.
c. Penggunaan
a. Penggunaan obat dilakukan sesuai pengeluaran obat atas resep serta
kebutuhan di unit pelayanan.
b. Tertib administrasi dalam penggunaan obat .
3
4 Penyediaan obat yang Penyediaan obat untuk menjamin ketersediaan obat dilakukan sebagai berikut:
menjamin ketersediaan 1 Mengajukan usulan obat tahunan ke Dinas Kesehatan Kabupaten
obat Malang bidang Farmasi Makanan Minuman dan Alat Kesehatan.
2 Permintaan rutin yang dilakukan setiap 2 (dua) bulan sesuai jadwal
yang telah ditetapkan.
3 Permintaan khusus apabila terjadi kebutuhan obat yang meningkat/
sebelumnya ada kekosongan obat/ ada kejadian luar biasa (KLB/
bencana).
4 Puskesmas dapat melakukan pengadaan obat sendiri dengan
menggunakan dana kapitasi JKN menurut syarat dan ketentuan yang
berlaku.
5 3. Penyediaan obat di Puskesmas
f. Penyediaan obat di puskesmas dilakukan oleh petugas gudang dengan
mengajuan permintaan ke Gudang Farmasi Kabupaten (GFK), sesuai
dengan kebutuhan.
g. Permintaan obat menggunakan LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar
Permintaan Obat) puskesmas
h. Tertib administrasi dalam penyediaan obat.
4. Penyediaan obat di unit pelayanan Puskesmas
d. Petugas unit pelayanan mengajukan permintaan ke gudang obat
Penyediaan puskesmas menggunakan LPLPO sesuai dengan kebutuhan.
Dan penggunaan obat e. Obat disediakan oleh petugas gudang obat, sesuai dengan
kebutuhan sub unit pelayanan setiap bulan, melalui LPLPO unit
pelayanan.
i. Penyediaan obat disesuaikan dengan ketersediaan obat di gudang obat
puskesmas.
j. Tertib administrasi dalam penyediaan obat.
f. Penggunaan
c. Penggunaan obat dilakukan sesuai pengeluaran obat atas resep serta
kebutuhan di unit pelayanan.
d. Tertib administrasi dalam penggunaan obat .
6
7 1. Petugas farmasi mengumpulkan data, mencatat dan menghitung total
jenis obat di Puskesmas yang tercantum di Formularium.
2. Petugas farmasi menghitung tingkat ketersediaan obat dengan cara,
Evaluasi ketersediaan membandingkan jumlah jenis obat Formularium yang tersedia di
obat terhadap puskesmas terhadap samua jumlah jenis obat yang masuk
formularium, Formularium x 100%.
Hasil evaluasi, dan tindak 3. Petugas farmasi menyampaikan hasil Evaluasi ketersediaan obat
lanjut
terhadap formularium, Hasil evaluasi, dan tindak lanjut kepada
kepala puskesmas.
4. Petugas farmasi melaksanakan tindak lanjut terhadap hasil evaluasi.

8 1. Petugas Farmasi merekapitulasi pemakaian obat setiap bulan.


2. Petugas Farmasi mengumpulkan, mencatat, dan menghitung jumlah
jenis obat yang diresepkan yang masuk dalam Formularium
Evaluasi kesesuaian Puskesmas ( A )
peresepan 3. Petugas Farmasi mengumpulkan, mencatat, dan menghitung semua
Dengan formularium, jumlah jenis obat di Puskesmas yang tercantum di Formularium ( B ).
Hasil evaluasi, dan tindak 4. Petugas Farmasi menghitung prosentase, dengan rumus : A x 100 %
lanjut .
B
5. Petugas Farmasi melaporkan hasil evaluasi kesesuaian peresepan
dengan formularium kepada kepala Puskesmas.
6. Petugas farmasi melaksanakan tindak lanjut terhadap hasil evaluasi.

8221
2
3
4 1. Peresepan Obat
a. Obat diresepkan sesuai terapi atas diagnosis pasien
b. Pemberian resep dilakukan oleh petugas paramedis yang telah
diberi kewenangan.
c. Pelayanan obat dilakukan oleh petugas farmasi yang telah diberi
kewenangan.
2. Pemesanan Obat
a. Pemesanan obat untuk kebutuhan puskesmas dilakukan oleh
Peresepan, pemesanan, petugas farmasi atau gudang obat puskesmas dengan
Dan pengelolaan obat
menggunakan LPLPO Gudang Obat Puskesmas
b. Pemesanan obat untuk kebutuhan unit pelayanan dilakukan oleh
petugas unit pelayanan terkait, kepada petugas farmasi gudang
obat puskesmas dengan menggunakan LPLPO Sub Unit.
3. Pengelolaan Obat
Pengelolaan obat di gudang obat dilakukan oleh petugas farmasi
meliputi kegiatan perencanaan, permintaan, penerimaan, penyimpanan,
distribusi, administrasi, dan pelaporan.
5 1. Mencatat tanggal kadaluwarsa obat/ sediaan farmasi yang diterima
pada kartu stok.
2. Menyimpan sediaan farmasi yang diterima pada rak yang sesuai
berdasarkan bentuk sediaan, secara alphabetis atau penyimpanan
khusus.
3. Setiap penyimpanan sediaan farmasi harus mengikuti prinsip FIFO
Menjaga tidak terjadinya
(First In First Out = pertama masuk-pertama keluar) dan FEFO (First
pemberian obat
kadaluarsa, pelaksanaan Expired First Out = pertama kadaluwarsa-pertama keluar).
fifo dan fefo, kartu stok/ 4. Mengisi kartu stok setiap penerimaan dan pengeluaran .
kendali 5. Menjumlahkan setiap penerimaan dan pengeluaran sediaan pada
kartu stok/ kendali dan dibubuhi paraf petugas.
6. Memberi tanda khusus pada setiap obat yang mendekati masa
kadaluarsanya (kurang dari satu tahun).
7. Memeriksa secara berkala sediaan farmasi sekurang- kurangnya satu
kali setiap bulan.

6
7 1. Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap oleh dokter/ dokter gigi,
atau petugas klinis yang diberi kewenangan
2. Pada lembar resep harus tertulis nama pemberi/ penulis resep.
3. Tidak boleh ada (iterasi) / ulangan.
4. Dituliskan untuk atas nama pasien, lengkap dengan umur dan alamat
Peresepan psikotropika
yang jelas, tidak boleh dengan u.p (usus propius) / untuk pemakaian
dan narkotika
sendiri.
5. Aturan pakai (signa) ditulis dengan jelas, tidak boleh ditulis s.u.c
(signa usus cognitus) / sudah tahu aturan pakai.
6. Pengambilan obat psikotropika/ narkotika ke depo obat.
7. Obat diserahkan kepada petugas/ pasien langsung.
8 Penggunaan obat yang 1. Pasien/ keluarga harus menginformasikan obat yang dibawa sendiri
dibawa sendiri oleh kepada dokter/ petugas medis perawatan.
pasien/ keluarga 2. Pasien/ keluarga pasien harus menyerahkan obat yang dibawa
Kepada petugas rawat inap untuk mendapatkan persetujuan
penggunaan.
3. Petugas rawat inap memberikan rekomendasi penggunaan obat yang
dibawa oleh pasien. Jika setuju, Petugas memberi persetujuan untuk
penggunaan obat tersebut. Jika tidak setuju, Petugas menyarankan
untuk penyimpanan obat tersebut selama pasien dirawat.
4. Bila pasien sudah diperbolehkan pulang, sisa obat tersebut
diserahkan kepada pasien.

9 1. Memantau kelengkapan resep psikotropika dan narkotika (nama


pemberi resep)
Pengawasan dan
2. Mencatat penggunaan obat psikotropika dan narkotika pada form
pengendalian
laporan.
penggunaan psikotropika
dan narkotika
3. Pemeriksaan kunci tempat penyimpanan obat psikotropika dan
narkotika.
4. Pemeriksaan jumlah obat psikotropika dan narkotika pada kartu stok.
8231 1. Mencatat jumlah dan tanggal kadaluwarsa sediaan farmasi yang diterima
di dalam kartu stok.
2. Menyimpan sediaan farmasi dan yang diterima pada rak yang sesuai
berdasarkan bentuk sediaan, secara alphabetis atau penyimpanan khusus.
3. Setiap penyimpanan sediaan farmasi harus mengikuti prinsip FIFO (First In
First Out = pertama masuk-pertama keluar) dan FEFO (First Expired First
Out = pertama kadaluwarsa-pertama keluar).
4. Memasukkan bahan baku obat ke dalam wadah yang sesuai, memberi
Penyimpanan obat
etiket yang memuat nama obat dan tanggal kadaluwarsa.
5. Menyimpan bahan obat pada kondisi yang sesuai, layak dan mampu
menjamin mutu dan stabilitasnya pada rak.
6. Mengisi kartu stok setiap penambahan dan pengambilan.
7. Menjumlahkan setiap penerimaan dan pengeluaran sediaan farmasi pada
kartu stok dan dibubuhi paraf petugas.
8. Menyediakan tempat khusus di luar ruang peracikan untuk menyimpan
obat & alat kesehatan yang rusak/ kadaluwarsa.
2
3 1. Pemberian obat pasien
a. Obat diberikan langsung oleh petugas farmasi (depo obat) kepada
pasien rawat jalan & UGD (rawat jalan) sesuai permintaan tertulis
dalam resep obat yang diterima petugas farmasi.
b. Untuk pasien rawat inap & UGD (observasi/ intermediate), obat
diberikan melalui petugas rawat inap/ UGD dengan mekanisme
permintaan obat ke depo farmasi untuk pasien rawat inap/UGD
dilengkapi dengan resep obat per pasien,
Pemberian obat kepada
pasien 2. Sediaan obat dalam bentuk serbuk dikemas dengan kertas perkamen,
Dan pelabelan kapsul atau kemasan plastic.
3. Sediaan obat jadi dikemas langsung dalam kemasan plastik sesuai
jenis obat dan kegunaan masing-masing obat sesuai kelas terapi.
4. Pelabelan
Sebelum obat diberikan pasien, pada kemasan obat diberi label/
etiket sesuai kegunaan & aturan pemakaian obat, dengan :
Menyiapkan etiket warna putih untuk obat dalam atau warna biru
untuk obat luar

4 Pemberian informasi 1. Memberikan informasi kepada pasien berdasarkan resep atau kartu
Penggunaan obat
pengobatan pasien.
2. Melakukan penelusuran literatur bila diperlukan,.
3. Menjawab pertanyaan pasien dengan jelas dan mudah dimengerti.
4. Informasi yang perlu disampaikan kepada pasien :
a. Jumlah, jenis dan kegunaan obat.
b. Bagaimana cara pemakaian obat.
c. Bagaimana cara menggunakan peralatan kesehatan.
d. Peringatan atau efek samping obat.
e. Bagaimana mengatasi jika terjadi masalah efek samping obat.
f. Tata cara penyimpanan obat.
g. Pentingnya kepatuhan penggunaan obat.
5. Mendokumentasikan setiap kegiatan pelayanan informasi obat
5 6. Memberikan informasi kepada pasien terhadap efek samping yang
mungkin akan terjadi.
7. Melakukan penelusuran literatur bila diperlukan, secara sistematis
untuk memberikan informasi.
Pemberian informasi
8. Menjawab pertanyaan pasien dengan jelas dan mudah dimengerti.
tentang efek samping
9. Informasi yang perlu disampaikan kepada pasien :
obat/ efek yang tidak
h. Efek samping obat yang mungkin akan terjadi.
diharapkan
i. Bagaimana mengatasi jika terjadi masalah efek samping obat
j. Menyarankan agar tidak panik jika terjadi efek samping obat.
10. Mendokumentasikan setiap kegiatan menejemen efek samping
obat.
6 1. Sediakan wadah penyimpanan obat dan pilah- pilah obat menurut jenisnya,
untuk memudahkan ketika kita mencarinya.
2. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat.
3. Simpan obat pada suhu kamar dan terhindar dari sinar matahari langsung
atau sesuai petunjuk pada kemasan.
Petunjuk penyimpanan 4. Simpan obat ditempat yang tidak panas atau tidak lembab karena dapat
obat menimbulkan kerusakan.
Di rumah 5. Jangan menyimpan obat bentuk cair dalam lemari pendingin agar tidak
beku, kecuali jika tertulis pada etiket obat.
6. Periksa kondisi obat secara rutin, jangan menyimpan obat yang telah
kadaluarsa atau rusak.
7. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.

7 1. Obat rusak dan kadaluwarsa yang telah di diinventaris dan dipisahkan dari
tempat penyimpanan obat (disimpan selama satu tahun).
2. Menyediakan tempat khusus untuk menyimpan sediaan farmasi dan alat
kesehatan yang rusak atau telah kadaluwarsa
3. Tempat khusus penyimpanan sediaan farmasi rusak/ kadaluwarsa harus
terpisah dari ruang peracikan
4. Memberi label OBAT KADALUWARSA/ RUSAK DILARANG UNTUK
DIGUNAKAN.
Penanganan obat 5. Sebelum memasukkan sediaan farmasi yang telah kadaluwarsa dan atau
kadaluarsa / rusak rusak pada tempat khusus, terlebih dahulu dicatat dalam buku bantu untuk
obat rusak/ kadaluarsa.
6. Melakukan pemusnahan obat kadaluwarsa/ rusak sesuai tata cara yang
berlaku .
a. Menyiapkan administrasi berupa laporan dan berita acara
pemusnahan.
b. Mengkoordinasikan jadwal, metode dan tempat pemusnahan
kepada pihak terkait dalam hal ini :
- Kepala Puskesmas Pakisaji Kabupaten Malang
- Dinas Kesehatan Kabupaten Malang.
c. Menyiapkan tempat pemusnahan
d. Melakukan pemusnahan disesuaikan dengan jenis dan bentuk
sediaan
8
8241 1. Petugas menerima keluhan dari pasien tentang ESO
2. Petugas menanyakan riwayat alergi sebelumnya
3. Petugas meminta obat yg diminum dan mencocokan dengan catatan
terapi dalam RM dan dicocokkan dengan riwayat alergi yang
tercantum dalam status pasien
4. Petugas memastikan keluhan yang dilaporkan terjadi karena Efek
Pelaporan efek samping
Samping Obat
obat
5. Petugas menentukan kemungkinan jenis obat.
6. Petugas memberitahukan agar pasien menghentikan meminum obat
yg menyebabkan efek samping.
7. Petugas memberikan resep obat pengganti
8. Petugas member catatan pada rekam medis tentang efek samping
obat yang telah terjadi
2
3 1. Petugas menerima keluhan dari pasien tentang ESO
2. Petugas menanyakan riwayat alergi sebelumnya
3. Petugas meminta obat yg diminum dan mencocokan dengan catatan
terapi dalam RM dan dicocokkan dengan riwayat alergi yang
tercantum dalam status pasien
4. Petugas memastikan keluhan yg dilaporkan terjadi karena Efek
Samping Obat
Pencatatan,
5. Petugas menentukan kemungkinan jenis obat.
pemantauan, dan
6. Petugas memberitahukan agar pasien menghentikan obat yg
pelaporan efek samping
menyebabkan alergi/pengaruh ES
obat, ktd
7. Petugas memberikan resep obat pengganti
8. Mencatat identitas pasien dan efek yang terjadi pada formulir ESO
9. Petugas membuat laporan insiden menggunakan formulir maksimal
dalam waktu 2 x 24 jam, setelah terjadinya laporan insiden .
10. Laporan Insiden yang telah terisi secara lengkap dilaporkan oleh staf
kepada atasan langsung unit pelayanan insiden, tempat insiden
tersebut terjadi.
4 1. Petugas membuat laporan insiden menggunakan formulir maksimal
dalam waktu 2 x 24 jam, setelah terjadinya laporan insiden .
2. Laporan Insiden yang telah terisi secara lengkap dilaporkan oleh
petugas kepada atasan langsung unit pelayanan insiden tempat
insiden tersebut terjadi kemudian diserahkan ke Tim Komite Mutu
dan Keselamatan Pasien.
Tindak lanjut efek
3. Tim Komite Mutu dan Keselamatan Pasien melakukan analisa
samping obat dan ktd
terhadap laporan yang terjadi.
4. Tim Komite Mutu dan Keselamatan Pasien membuat laporan dan
rekomendasi perbaikan untuk mencegah terulangnya kejadian yang
sama pada unit terkait.
5. Tim Komite Mutu dan Keselamatan Pasien melaporkan rekomendasi
kepada Kepala Puskesmas.
8251 Identifikasi dan 1. Petugas Farmasi menemukan kesalahan dalam pemberian obat dan KNC
pelaporan kesalahan 2. Petugas Farmasi segera melakukan penelusuran identitas dan penyakit
pemberian obat dan knc dalam RM, mencari alamat pasien melalui bagian pendaftaran
3. Petugas Farmasi menyampaikan hal tersebut kepada dokter/ dokter gigi/
paramedis penulisan resep
4. Petugas Farmasi menanyakan kepada dokter/ dokter gigi paramedis
penulis resep, tindakan yang harus dilakukan apabila obat sudah diminum
pasien sebelum obat pengganti yang sesuai resep diberikan
5. Petugas Farmasi menyiapkan pengganti obat yang sesuai dengan resep
6. Petugas Farmasi mendatangi rumah pasien yang salah menerima obat
dengan membawa penggantinya
7. Petugas Farmasi meminta maaf dan menjelaskan kepada keluarga pasien/
pasien tentang kesalahan obat
8. Petugas Farmasi menyerahkan obat pengganti (yang sesuai resep) dengan
kata-kata asertif kepada pasien/ keluarganya
9. Jika terdapat efek samping obat, pasien bersangkutan disarankan untuk
diobservasi di puskesmas.
10. Petugas Farmasi mencatat Kejadian tersebut ditulis pada buku yang
tersedia
11. Petugas Farmasi membuat laporan kesalahan obat dan KNC (Kejadian
Nyaris Cidera)
2
3 1. Petugas Farmasi menemukan kesalahan dalam pemberian obat
dan KNC
2. Petugas Farmasi segera melakukan penelusuran identitas dan penyakit
dalam RM, mencari alamat pasien melalui bagian pendaftaran
3. Petugas Farmasi menyampaikan hal tersebut kepada dokter/ dokter
gigi/ paramedis penulisan resep
4. Petugas Farmasi menanyakan kepada dokter/ dokter gigi paramedis
penulis resep, tindakan yang harus dilakukan apabila obat sudah
diminum pasien sebelum obat pengganti yang sesuai resep diberikan
5. Petugas Farmasi menyiapkan pengganti obat yang sesuai dengan resep
Identifikasi dan
6. Petugas Farmasi mendatangi rumah pasien yang salah menerima obat
pelaporan kesalahan
dengan membawa penggantinya
pemberian obat dan knc
7. Petugas Farmasi meminta maaf dan menjelaskan kepada keluarga
pasien/ pasien tentang kesalahan obat
8. Petugas Farmasi menyerahkan obat pengganti (yang sesuai resep)
dengan kata-kata asertif kepada pasien/ keluarganya
9. Jika terdapat efek samping obat, pasien bersangkutan disarankan
untuk diobservasi di puskesmas.
10. Petugas Farmasi mencatat Kejadian tersebut ditulis pada buku yang
tersedia
11. Petugas Farmasi membuat laporan kesalahan obat dan KNC (Kejadian
Nyaris Cidera)
4
8261 1. Penyediaan
a. Petugas unit emergensi melakukan permintaan ke gudang obat
Puskesmas sesuai kebutuhan.
b. Penyediaan obat dilakukan oleh petugas gudang obat.
Penyediaan c. Obat disediakan di unit emergensi.
Obat- obat emergensi di d. Petugas unit emergensi membuat Laporan Penerimaan dan
unit kerja Lembar Permintaan (LPLPO) setiap akhir bulan
2. Penggunaan
a. Penggunaan obat dilakukan sesuai pengeluaran obat atas resep
serta kebutuhan di unit pelayanan.
b. Tertib administrasi dalam penggunaan obat
2 Penyimpanan obat 1. Mencatat jumlah dan tanggal kadaluwarsa sediaan obat yang
emergensi diterima di dalam kartu stok.
Di unit pelayanan 2. Menyimpan sediaan obat yang diterima pada rak yang sesuai
berdasarkan aspek farmakologi, bentuk sediaan, secara alphabetis
atau, penyimpanan khusus.
3. Setiap penyimpanan sediaan farmasi dan alat kesehatan harus
mengikuti prinsip FIFO (First In First Out = pertama masuk-pertama
keluar) dan FEFO (First Expired First Out = pertama kadaluwarsa-
pertama keluar).
4. Memasukkan bahan baku obat ke dalam wadah yang sesuai,
memberi etiket yang memuat nama obat dan tanggal kadaluwarsa.
5. Menyimpan bahan obat pada kondisi yang sesuai, layak dan mampu
menjamin mutu dan stabilitasnya.
6. Mengisi kartu stok setiap penambahan dan pengambilan.
7. Menghindari menyimpan sediaan farmasi dengan kekuatan yang
berbeda dalam satu wadah.
8. Menyediakan tempat khusus untuk menyimpan obat yang rusak,
kadaluwarsa.

3 1. Petugas farmasi memeriksa persediaan obat di unit pelayanan


emergensi.
2. Petugas farmasi memeriksa kartu stok obat di unit pelayanan
emergensi.
3. Petugas farmasi mengevaluasi kesesuaian stok obat dengan
Monitoring penyediaan
kartu stok
obat emergensi di unit
4. Bila tidak sesuai,petugas farmasi menanyakan kepada petugas
kerja, hasil monitoring
di unit pelayanan emergensi.
dan tindak lanjut
5. Bila sesuai,petugas farmasi member paraf pada kartu stok.
6. Petugas Farmasi membuat laporan monitoring penyediaan
obat emergensi disertai catatan rekomendasi tindak lanjut.
7. Petugas farmasi menyerahkan laporan monitoring penyediaan
obat emergensi kepada Kepala Puskesmas.