Anda di halaman 1dari 16

Tinjauan Pustaka

Penatalaksanaan Terkini Pada Kasus Miopia

Oleh

Stevhen Wijaya, S.Ked

NIM 1730912310127

Pembimbing

dr. Agus Fitrian Noor, Sp.M

BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT MATA

FK UNLAM – RSUD ULIN

BANJARMASIN

Juli, 2019
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 2

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 20

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

Mata adalah salah satu indera yang penting bagi manusia, melalui mata

manusia menyerap informasi visual yang digunakan untuk melaksanakan berbagai

kegiatan. Namun gangguan terhadap penglihatan banyak terjadi, mulai dari

gangguan ringan hingga gangguan yang berat yang dapat mengakibatkan

kebutaan. Upaya mencegah dan menanggulangi gangguan penglihatan dan

kebutaan perlu mendapatkan perhatian.1

Untuk menangani permasalahan kebutaan dan gangguan penglihatan,

WHO membuat program Vision 2020 yang direkomendasikan untuk diadaptasi

oleh negara-negara anggotanya. Vision 2020 adalah suatu inisiatif global untuk

penanganan kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Di Indonesia,

Vision 2020 telah dicanangkan pada tanggal 15 Februari 2000.1

Salah satu gangguan penglihatan adalah miopia. Miopia merupakan

penyebab utama kebutaan di dunia. Miopia dapat berkembang pada anak usia

sekolah akibat pertumbuhan sumbu bola mata yang cenderung meningkat seiring

pertambahan usia. Faktor genetik dan lingkungan merupakan dua faktor yang

berperan membentuk miopia pada seseorang. Kebiasaan bekerja/membaca jarak

dekat (near work) dengan akomodasi yang berlebihan akan mempengaruhi proses

emetropisasi. Miopia dapat bekembang secara progresif dan menjadi myopia yang

tinggi, sehingga untuk menegah tidak terjadinya komplikasi lanjutan seperti

1
ablation retina, glaucoma, katarak dan komplikasi lainnya dibutuhkan terapi guna

mengatasi masalah myopia ini.2

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Miopia

1. Definisi

Miopia atau rabun jauh adalah suatu kelainan refraksi pada mata dimana

bayangan difokuskan di depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi

berakomodasi. Ini juga dapat dijelaskan pada kondisi refraktif dimana cahaya

yang sejajar dari suatu objek yang masuk pada mata akan jatuh di depan retina.

2. Etiologi

Pada dasarnya miopia terjadi oleh karena pertambahan panjang aksis bola

mata tanpa di ikuti oleh perubahan pada komponen refraksi yang lain. Begitu juga

perubahan kekuatan refraksi kornea, lensa dan aquos humor akan menimbulkan

miopia bila tidak dikompensasi oleh perubahan panjang aksis bola mata. Beberapa

hal yang akan dikaitkan atau diperkirakan sebagi etiologi miopia.

1. Herediter

2. Penyakit sistemik.

3. Kelainan endokrin.

4. Malnutrisi, defisiensi vitamin dan mineral tertentu.

5. Penyakit mata.

6. Gangguan pertumbuhan.

7. Lingkungan ( iluminasi )

8. Kerja dekat yang berlebihan.

3
9. Pemakaian kaca mata yang tidak sesuai.

10. Sikap tubuh yang tidak sesuai.

3. Klasifikasi

Miopia dibagi berdasarkan beberapa karakteristik sebagai berikut :

Bentuk miopia menurut penyebabnya:

1. Miopia aksial

Panjang aksial bola mata lebih panjang dari normal, walaupun kornea dan

kurvatura lensa normal dan lensa dalam posisi anatominya normal. Miopia dalam

bentuk ini dijumpai pada proptosis sebagai hasil dari tidak normalnya besar

segmen anterior, peripapillary myopic crescent dan exaggerated cincin sceral, dan

staphyloma posterior.

2. Miopia refraktif

Mata memiliki panjang aksial bola mata normal, tetapi kekuatan refraksi mata

lebih besar dari normal. Hal ini dapat terjadi pada:

• Miopia kurvatura

Mata memiliki panjang aksial bola mata normal, tetapi kelengkungan dari kornea

lebih curam dari rata – rata, misal : pembawaan sejak lahir atau keratokonus, atau

kelengkungan lensa bertambah seperti pada hyperglikemia sedang atau berat,

yang menyebabkan lensa membesar.

• Miopia karena peningkatan indeks refraksi dari pada lensa berhubungan dengan

permulaan dini atau moderate dari katarak nuklear sklerotik. Merupakan penyebab

umum terjadinya miopia pada usia tua. Perubahan kekerasan lensa meningkatkan

indeks refraksi, dengan demikian membuat mata menjadi miopik.

4
• Miopia karena pergerakan anterior dari lensa. Pergerakan lensa ke anterior

sering terlihat setelah operasi glaukoma dan akan meningkatkan miopik pada

mata.

Secara klinis beberapa bentuk miopia ditetapkan sebagai berikut:

1. Miopia Fisiologis

Sering di sebut dengan simpel miopia atau school myopia yang berhubungan

dengan proses pertumbuhan normal dari tiap – tiap komponen refraksi dari mata.

Akibat dari proses ini menimbulkan miopia ringan dan sedang.

2. Miopia Patologis

Di sebut juga Malignant, Progressive dan Degenerative myopia. Hal ini

disebabkan oleh pertumbuhan panjang aksial bola mata yang berlebihan,

sedangkan komponen lain dari mata pertumbuhannya normal.

Berdasarkan saat usia mulai terjadinya miopia dibagi dua yaitu:

1. Miopia yang timbul pada saat anak – anak

Miopia ini timbul pada usia antara 7 hingga 16 tahun, hal ini terutama

disebabkan oleh pertumbuhan dari panjang aksial bola mata. Semakin dini usia

timbulnya miopia maka semakin besar proses pertambahan miopianya.

2. Miopia yang timbul pada usia dewasa

Miopia ini timbul berkisar usia 20 tahunan. Terlalu banyak membaca dekat

merupakan faktor resiko untuk berkembangnya miopia pada usia ini.

Derajat miopia diukur oleh kekuatan korektif lensa sehingga bayangan dapat

jatuh di retina, yang dapat diklasifikan menjadi:

1. Miopia ringan : -0,25D s/d -3,00D

5
2. Miopia sedang : -3,25D s/d -6,00D

3. Miopia tinggi : > -6.00D

4. Manifestasi Klinis

Pada penderita miopia, keluhan-keluhan yang dialami meliputi pengelihatan

yang kabur ketika melihat objek yang jaraknya jauh, namun mata tetap berfungsi

baik untuk melihat objek-objek yang jaraknya dekat. Keluhan sakit kepala dan

mata merasa cepat lelah yang sering disertai dengan juling dan celah kelopak mata

sempit merupakan manifestasi-manifestasi klinis yang juga kita biasa temukan

pada seseorang yang menderita miopia. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan

mengernyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan

efek pinhole. Pasien miopia mempunyai pungtum remotum (titik terjauh yang

masih dapat dilihat dengan jelas) yang dekat sehingga mata selalu dalam keadaan

konvergensi. Hal ini yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila

kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling kedalam atau

esotropia. Pada penderita miopia yang memiliki derajat tinggi akan mengeluhkan

nyeri kepala lebih sering bila dibandingkan dengan penderita miopia dengan

derajat sedang. Keluhan ini terutama bila penderita miopia derajat tinggi tidak

dikoreksi secara tepat.

5. Diagnosis

Dalam menegakkan diagnosis miopia, harus dilakukan dengan anamnesa,

pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa, pasien mengeluh

penglihatan kabur saat melihat jauh, cepat lelah saat membaca atau melihat benda

dari jarak dekat. Pada pemeriksaan opthalmologis dilakukan pemeriksaan refraksi

6
yang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara subjektif dan objektif.

Cara subyektif dilakukan dengan menggunakan optotipe dari Snellen dan trial

lenses; dan cara objektif dengan opthalmoskopi direk dan pemeriksaan

retinoskopi.

Pemeriksaan dengan optotipe Snellen dilakukan dengan jarak pemeriksa dan

pasien sebesar 6 meter sesuai dengan jarak tak terhingga, dan pemeriksaan harus

dilakukan dengan tenang, baik pemeriksa maupun pasien. Pada pemeriksaan

terlebih dahulu di tentukan tajam penglihatan atau visus (VOD/VOS) yang

dinyatakan dengan bentuk pecahan. Jarak antara pasien dengan optotipe Snellen:

Jarak yang seharusnya dilihat oleh pasien dengan visus normal. Visus yang

terbaik adalah 6/6, yaitu pada jarak pemeriksaan 6 meter dapat terlihat huruf yang

seharusnya terlihat pada jarak 6 meter. Bila huruf terbesar dari optotipe Snellen

tidak dapat terlihat, maka pemeriksaan dilakukan dengan cara meminta penderita

menghitung jari pada dasar putih, pada bermacam-macam jarak. Hitung jari pada

penglihatan normal terlihat pada jarak 60 meter, jika pasien hanya dapat melihat

pada jarak 2 meter, maka besar visusnya adalah 2/60. Apabila pada jarak terdekat

pun hitung jari tidak dapat terlihat, maka pemeriksaan dilakukan dengan cara

pemeriksa menggerakan tanganya pada berbagai arah dan meminta pasien

mengatakan arah gerakan tersebut pada berbagai jarak. Gerakan normal pada mata

normal dapat terlihat dari jarak 300 meter, jika pasien hanya dapat melihat pada

jarak 1 meter, maka visus pasien tersebut 1/300. Dan apabila gerakan tangan tidak

dapat terlihat pada jarak terdekat sekalipun, maka pemeriksaan dilanjutkan dengan

7
menggunakan sinar atau cahaya dari senter pemeriksa dan mengarahkan sinar

tersebut pada mata pasien dari segala arah dengan salah satu mata ditutup.

Pada pemeriksaan ini penderita harus dapat melihat arah sinar dengan benar,

apabila masih dapat melihat arah sinar dengan benar, maka fungsi retina bagian

perifer masih baik dan dikatakan visusnya 1/~ dengan proyeksi baik. Namun jika

penderita hanya dapat melihat sinar dan tidak dapat menentukan arah dengan

benar atau pada beberapa tempat tidak dapat terlihat maka berarti retina tidak

berfungsi dengan baik dan dikatakan sebagai proyeksi buruk. Bila cahaya senter

sama sekali tidak terlihat oleh penderita maka berarti terjadi kerusakan

dari retina secara keseluruhan dan dikatakan dengan visus 0 (nol) atau

buta total.

Ketajaman penglihatan yang kurang baik dapat dikoreksi dengan

menggunakan lensa sferis + (S+), sferis - (S-), dan silindris +/- (C+/-). Pada

kelainan refraksi miopia, ketajaman penglihatan dapat dikoreksi dengan

menggunakanlensa sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan

terbaik tanpa akomodasi.

Pemeriksaan oftalmoskopi, pada kasus yang disertai kelainan refraksi akan

memperlihatkan gambaran fundus yang tidak jelas terkecuali jika lensa koreksi

pada lubang penglihatan oftalmoskopi diputar. Sehingga dengan terlebih dahulu

memperlihatkan keadaan refraksi pemeriksa, maka pada pemeriksaan

oftalmoskopi besar lensa koreksi yang digunakan dapat menentukan macam dan

besar kelainan refraksi pada penderita secara kasar. Pada penderita miopia, pada

8
segmen anterior tampak bilik mata dalam dan pupil lebih lebar dan kadang

ditemukan bola mata yang agak menonjol.

6. Tatalaksana

Beberapa strategi seperti penggunaan alat-alat optik merupakan hal yang

sudah lama dilakukan untuk mengurangi perkembangan miopia. Pada dasarnya

pasien yang menderita miopia dan tidak melakukan koreksi apapun pada matanya

akan meningkakan progresi dari miopia yang dideritanya.

Secara umum penatalaksaan miopia dapat dibagi menjadi dua, yaitu

penggunaan alat-alat optik seperti kacamata dan kontak lensa serta cara

pembedahan. Pada pemakaian kacamata atau terapi optikal, miopia dikoreksi

dengan kacamata sferis negatif atau lensa kontak sehingga cahaya yang

sebelumnya di fokuskan didepan retina dapat jatuh tepat di retina.

Pada suatu penelitian meta-analisis dari 11 percobaan klinis yang di

randomisasi menunjukkan bahwa penggunaan alat-alat optik tidak efektif dalam

penggunaannya sebagai kontrol bagi mata yang mengalami miopia. Sedangkan

untuk penggunaan kontak lensa, soft multifocal contact lenses memberikan

keuntungan yang lebih baik dibandingan dengan jenis yang lain dikarenakan

kontak lensa jenis ini bergerak mengikuti gerakan bola mata sehingga koreksi

optikal tetap terfokus pada semua posisi pandangan. Penggunaan soft multifocal

contact lens membuktikan terjadi penurunan progresi dari miopi sekitar 30-50%

dan sekitar 30% dalam penurunan panjang aksial bola mata tergantung dari design

contact lens tersebut.

9
Selanjutnya adalah dengan pembedahan dimana teknik pembedahan yang

paling sering digunakan adalah Laser assisted in situ interlamelar keratomilielusis

(LASIK). Lasik merupakan cara yang paling efektif untuk menyembuhkan rabun

jauh, rabun dekat, dan silindris yang pada dasarnya membentuk sebuah lapisan

kornea yang sangat tipis, yang kemudian dengan menggunakan laser ’excimer’

khusus untuk membentuk ulang bentuk kornea di bawah lapisan tersebut. Sebuah

masalah yang umum dijumpai oleh banyak pasien lasik setelah operasi adalah

mata kering. Walau hanya sementara dan dalam beberapa bulan mata akan

kembali normal, dapat mengakibatkan pandangan kabur dan iritasi pada mata.

B. Penatalaksanaan terkini pada miopia tinggi

Miopia adalah cacat atau kesalahan refraksi dalam pemfokusan visual.

Gambar difokuskan di depan retina dan bukan di atasnya, membuat penglihatan

jarak jauh sulit. Ketika kesalahan visual melebihi delapan dioptres, itu disebut

miopia tinggi. Miopia tinggi mempengaruhi sekitar 2% populasi dan

menghasilkan kecenderungan lebih besar untuk menderita kelainan mata tertentu.

Gangguan ini termasuk ablasio retina, degenerasi retina sentral yang disebabkan

oleh bercak atrofi, pertumbuhan pembuluh darah di bawah retina di daerah

makula, Pemisahan lapisan retina makula (schisis). Kondisi ini dapat

menyebabkan kecacatan visual yang signifikan dan secara langsung

mempengaruhi kualitas hidup pasien, terutama ketika mereka berada pada usia

kerja. Penggunaan lensa mata untuk mengoreksi myopia tinggi tidak terlalu

disarankan selain karena digunakan lensa yang tebal juga tidak terlalu efisien jika

10
dilihat dari pemakaiannya. Selain itu tingkat progesivitasnya tidak menunjukan

adanya perbaikan.

Penggunaan metode LASIK tidak terlalu disarankan karena orang dengan

miopia parah beresiko lebih tinggi untuk kondisi seperti glaukoma dan ablasi

retina, banyak ahli bedah tidak akan melakukan LASIK pada pasien ini. Operasi

LASIK aman untuk orang yang berisiko rendah untuk kondisi mata lainnya, tetapi

tidak untuk mereka yang sudah berisiko. Ketika pasien memiliki miopia parah,

dan terutama miopia yang terus memburuk dari waktu ke waktu, bola mata

menjadi semakin "berbentuk telur" dan kurang bulat. Ini berarti bahwa retina

sekarang sedang dimasukkan ke dalam ruang yang lebih kecil di mata, terletak di

seberang kornea dan pupil. Hal ini membuat pasien rabun jauh lebih mungkin

mengalami ablasi retina, yang dapat menyebabkan kebutaan.

Operasi LASIK juga dapat menyebabkan pasien yang sangat rabun

mengembangkan ectasia kornea (atau, keratoconus). Kondisi ini menyebabkan

kornea membengkak menjadi bentuk seperti kerucut. Ini dapat menyebabkan

masalah penglihatan yang parah dan sulit untuk diobati dan dikelola. Pasien yang

sangat rabun jauh lebih mungkin mengalami lingkaran cahaya, starburst, dan

gangguan visual lainnya di sekitar cahaya setelah operasi

1. Implantasi lensa intraocular phakic

Pasien dengan miopia tinggi memerlukan pemeriksaan mata rutin untuk

memeriksa kerusakan retina karena, dalam banyak kasus, gejalanya tidak jelas.

Tidak seperti penderita yang memiliki miopia ringan, pasien dengan miopia tinggi

biasanya tidak dianjurkan untuk menjalani operasi laser pada permukaan atau

11
lapisan internal kornea. Pilihan terbaik untuk penderita miopia tinggi adalah

implantasi lensa intraokular phakic. Untuk kasus-kasus di mana miopia tinggi

dikaitkan dengan patologi makula, koreksi dapat dicapai melalui injeksi

intravitreal atau bedah mata okular.

Lensa phakic ditanamkan di antara kornea dan lensa, tanpa melepaskannya

dengan demikian, prosedur ini cenderung diindikasikan untuk pasien muda di

bawah 40 atau 45 tahun. Lensa ini memiliki permukaan anterior yang stabil dan

dirancang untuk melengkung ke anterior lensa di sulkus siliaris. Salah satu

kelebihannya adalah teknik ini bersifat reversible. Prosedur ini dapat memperbaiki

sekitar 20-21 dioptri dalam miopia. Lensa ini dapat ditempatkan di depan iris

(lensa pendukung iris) atau antara iris dan lensa.

Pembedahan refraktif dengan IOL phakic diindikasikan untuk pasien dengan

tingkat hyperopia yang tinggi untuk memperbaiki astigmatisme tinggi dan, ketika

miopia tinggi atau ada kontraindikasi untuk aplikasi laser pada permukaan atau

lapisan dalam kornea (Lasik). Biasanya, lensa intraokular pseudophakic, yang

digunakan dalam operasi katarak, ditanamkan pada beberapa pasien dengan

presbiopia atau kesalahan bias lainnya.

Pasien sebelum menjalani prosedur ini diharuskan tiga hari istirahat seara

relatif sebelum operasi (hanya menghindari aktivitas berat). Pembedahan

dilakukan dengan anestesi topikal dan berlangsung selama 15 hingga 20 menit.

Tidak ada risiko lain yang berbeda dari operasi apa pun. Setelah operasi, pasien

harus melakukan pemeriksaan rutin setiap 18 bulan atau 2 tahun untuk

12
memastikan bahwa jumlah endotel (jumlah sel yang ada di endotel kornea) tidak

berubah.

BAB V

PENUTUP

Telah dilaporkan sebuah kasus seorang bayi laki laki berusia 1 bulan dengan

diagnosis ODS katarak kongenital yang datang ke poli Mata RSUD Ulin

Banjarmasin pada 4 April 2019. Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan

anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pasien direncanakan

tindakan operasi fakoemulsifikasi + IOL pada oculi dextra dan sinistra dengan

general anesthesia. Katarak kongenital biasanya sering ditemukan pada bayi yang

dilahirkan oleh ibu yang menderita diabetes melitus, rubela, toxoplasmosis.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Riordan P, Augsburger JJ . Vaughan & Asbury General Ophtalmology Edisi


19. McGraw Hill Education. 2018.

2. Sidarta, Ilyas. Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI, 2018.

3. Mutiara S, Handayani F. Katarak Juvenile. Inspirasi Jurnal. 2011; 1(15): 37-


49.

4. Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013. Kementrian


Kesehatan RI. 2013.

5. Sitorus RS. Katarak Pediatrik dalam Buku Ajar Oftalmologi. Jakarta: BP


FKUI. 2017.

6. Kanski JJ Bowling B. Congenital Cataract in Clinical Ophthalmology A


Systematic Approach Eighth Edition. UK : Elsevier. 2016.

14