Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1

INTERPROFESIONAL EDUCATION DAN INTERPROFESIONAL


COLLABORATION

DOSEN PEMBIMBING : Ns. Asmawati, M.Kep

DISUSUN OLEH KELOMPOK III :


1. RATIH INDAH PERMATA SARI ( 1710105062)
2. RAHMA TIANA PUTRI ( 1710105061)
3. MUHAMMAD FIQHY ( 1710105055)
4. RIZKA JOHAN SARI ( 1710105066)
5. MIFTAH FADHILLA ( 1710105054)
6. RIRI ARIKA PUTRI ( 1710105065)
7. DEDE ARJUNA ALI ( 1710105046)
8. PUTRI LARASSATI ( 1710105059)
9. GITA REVILIANI ( 1710105050)

KELAS : 1B

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH PADANG
2017-2018
KATA PENGANTAR

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat tuhan yang
Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayahnya kami dapat menyusun makalah
yang membahas tentang “ Interprofesional Education dan Interprofesional
Collaboration”. Dengan selesainya penyusunan makalah ini berkat bantuan dari
berbagai pihak oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sampaikan terimakasih
kepada yang terhormat Ibu Dosen Ns. Asmawati, M.Kep.
Secara khusus kami menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta
yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar
kepada kami, baik selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan
makalah ini.

Kami menyadari bahwa ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan
saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dan sebagai umpan balik
yang positif demi perbaikan dimana mendatang. Harapan kami, semoga makalah
ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang
keperawatan.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih dan kami berharap agar
makalah ini bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Padang, 13 Otober 2017


Penyusun

Kelompok III

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................... i


DAFTAR ISI .............................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG .......................................................................... 1
B. TUJUAN ................................................................................................ 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. Interprofessional Education ............................................................... 2
1. Defenisi Interprofessional Education ........................................ 2
2. Tujuan Interprofessional Education .......................................... 3
3. Manfaat Interprofessional Education ........................................ 3
4. Kompetensi Interprofessional Education .................................. 4
5. Pengaruh persepsi pada Interprofessional Education ............... 5

B. Interprofessional Collaboration ........................................................ 6


1. Defenisi Collaboration ................................................................. 6
2. Manfaat Collaboration ................................................................ 6
3. Elemen-elemen kolaborasi dalam praktik keperawatan .......... 7
4. Komponen Kompetensi Sebagai Dasar Kolaborasi .................. 8
5. Proses Kolaboratif ....................................................................... 11

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ......................................................................................... 13

B. Saran .................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 14

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Melalui Interprofesional education (IPE) dan Interprofesional


collaboration diharapkan berbagai profesi kesehatan dapat menumbuhkan
kemampuan antar profesi, dapat merancang hasil dalam pembelajaran yang
memberikan kemampuan berkolaborasi, meningkatkan praktik pada masing-
masing profesi dengan mengaktifkan setiap profesi untuk meningkatkan praktik
agar dapat saling melengkapi, membentuk suatu aksi secara bersama untuk
meningkatkan pelayanan dan memicu perubahan; menerapkan analisis kritis untuk
berlatih kolaboratif, meningkatkan hasil untuk individu, keluarga, dan
masyarakat; menanggapi sepenuhnya untuk kebutuhan mereka, mahasiswa dapat
berbagi pengalaman dan berkontribusi untuk kemajuan dan saling pengertian
dalam belajar antarprofesi dalam menanggapi pertanyaan, di konferensi dan
melalui literatur profesional dan antarprofesi.

Interprofesional education (IPE) memiliki banyak manfaat dalam sistem


dunia pendidikan kesehatan. Profesi-profesi kesehatan yang dilahirkan
melaluiInterprofesional education (IPE) diharapkan dapat menjunjung tinggi nilai
profesional masing-masing profesi kesehatan yang berbasis kolaborasi. Dilain sisi,
Interprofesional education (IPE) tidak akan berjalan lancar jika tidak didukung
oleh SDM pendidik, sistem kurikulum, fasilitas, dan antusias mahasiswa
didalamnya.

B. TUJUAN

Tujuan dari isi makalah ini yaitu untuk menjelaskan konsep


Interprofesional education (IPE) dan Interprofesional Collaboration (IC).

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Interprofessional education

A. Definisi interprofessional education


Centre for the Advancement of Interprofessional Education (CAIPE,
2002) menyebutkan, IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi kesehatan belajar
bersama, belajar dari profesi kesehatan lain, dan mempelajari peran masing-
masing profesi kesehatan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan
kualitas pelayanan kesehatan.
IPE adalah suatu pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau
lebih profesi yang berbeda untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan
dan pelakasanaanya dapat dilakukan dalam semua pembelajaran, baik itu tahap
sarjana maupun tahap pendidikan klinik untuk menciptakan tenaga kesehatan
yang profesional (Lee et al., 2009).
IPE adalah metode pembelajaran yang interaktif, berbasis kelompok, yang
dilakukan dengan menciptakan suasana belajar berkolaborasi untuk mewujudkan
praktik yang berkolaborasi, dan juga untuk menyampaikan pemahaman mengenai
interpersonal, kelompok, organisasi dan hubungan antar organisasi sebagai proses
profesionalisasi (Clifton et al., 2006). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Broers (2009) praktek kolaborasi antar profesi didefinisikan sebagai beragam
profesi yang bekerja bersama sebagai suatu tim yang memiliki tujuan untuk
meningkatkan kesehatan pasien/klien dengan saling mengerti batasan yang ada
pada masing-masing profesi kesehatan Interprofessional Collaboration (IPE)
adalah proses dalam mengembangkan dan mempertahankan hubungan kerja yang
efektif antara pelajar, praktisi, pasien/ klien/ keluarga serta masyarakat untuk
mengoptimalkan pelayanan kesehatan, batasan yang ada pada masing-masing
profesi kesehatan.

2
B. Tujuan interprofessional education
Tujuan IPE adalah praktik kolaborasi antar profesi, dimana melibatkan
berbagai profesi dalam pembelajaran tentang bagaimana bekerjasama dengan
memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk
berkolaborasi secara efektif (Sargeant, 2009). Implementasi IPE di bidang
kesehatan dilaksanakan kepada mahasiswa dengan tujuan untuk menanamkan
kompetensi-kompetensi IPE sejak dini dengan retensi bertahap, sehingga ketika
mahasiswa berada di lapangan diharapkan dapat mengutamakan keselamatan
pasien dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bersama profesi kesehatan
yang lain (Buring et al., 2009).

C. Manfaat interprofessional education


World Health Organization (2010) menyajikan hasil penelitian di 42
negara tentang dampak dari penerapan praktek kolaborasi dalam dunia kesehatan
menunjukkan hasil bahwa praktek kolaborasi dapat meningkatkan keterjangkauan
serta koordinasi layanan kesehatan, penggunaan sumber daya klinis spesifik yang
sesuai, outcome kesehatan bagi penyakit kronis, dan pelayanan serta keselamatan
pasien. WHO (2010) juga menjelaskan praktek kolaborasi dapat menurunkan
komplikasi yang dialami pasien, jangka waktu rawat inap, ketegangan dan konflik
di antara pemberi layanan (caregivers), biaya rumah sakit, rata-rata clinical error,
dan rata-rata jumlah kematian pasien.
Framework for Action on Interprofessional Education & Collaborative
Practice, WHO (2010) menjelaskan IPE berpotensi menghasilkan berbagai
manfaat dalam beberapa aspek yaitu kerjasama tim meliputi mampu untuk
menjadi pemimpin tim dan anggota tim, mengetahui hambatan untuk kerja sama
tim; peran dan tanggung jawab meliputi pemahaman peran sendiri, tanggung
jawab dan keahlian, dan orang-orang dari jenis petugas kesehatan lain;
komunikasi meliputi pengekspresikan pendapat seseorang kompeten untuk rekan,
mendengarkan anggota tim; belajar dan refleksi kritis meliputi cermin kritis pada
hubungan sendiri dalam tim, mentransfer IPE untuk pengaturan kerja; hubungan
dengan pasien, dan mengakui kebutuhan pasien meliputi bekerja sama dalam

3
kepentingan terbaik dari pasien, terlibat dengan pasien, keluarga mereka, penjaga
dan masyarakat sebagai mitra dalam manajemen perawatan; praktek etis meliputi
pemahaman pandangan stereotip dari petugas kesehatan lain yang dimiliki oleh
diri dan orang lain, mengakui bahwa setiap tenaga kesehatan memiliki pandangan
yang sama-sama sah dan penting.
Proses IPE membentuk proses komunikasi, tukar pikiran, proses belajar,
sampai kemudian menemukan sesuatu yang bermanfaat antar para pekerja profesi
kesehatan yang berbeda dalam rangka penyelesaian suatu masalah atau untuk
peningkatan kualitas kesehatan( Thistlethwaite dan Moran, 2010).

D. Kompetensi interprofessional education


Barr (1998) menjabarkan tentang kompetensi kolaborasi, yaitu sebagai
berikut :
1. Memahami peran, tanggung jawab dan kompetensi profesi lain dengan jelas,
2. Bekerja dengan profesi lain untuk memecahkan konflik dalam memutuskan
perawatan dan pengobatan pasien,
3. Bekerja dengan profesi lain untuk mengkaji, merencanakan, dan memantau
perawatan pasien,
4. Menoleransi perbedaan, kesalahpahaman dan kekurangan profesi lain,
5. Memfasilitasi pertemuan interprofessional,
6. Memasuki hubungan saling tergantung dengan profesi kesehatan lain.
American College of Clinical Pharmacy (ACCP) (2009) membagi
kompetensi untuk IPE terdiri atas empat bagian yaitu pengetahuan, keterampilan,
orientasi tim, dan kemampuan tim yang dijabarkan pada tabel 2.1.

4
Tabel 2.1 Kompetensi untuk IPE
No Kompetensi utama IPE Komponen kompetensi IPE

1. Kompetensi pengetahuan -Strategi koordinasi


-Model berbagi tugas/ pengkajian situasi
-Kebiaasaan karakter bekerja dalam tim
-Pengetahuan terhadap tujuan tim
-Tanggung jawab tugas spesifik

2. Kompetensi keterampilan -Pemantauan kinerja secara bersama sama


-Fleksibilitas/ penyesuaian
-Dukungan/ perilaku saling mendukung
-Kepemimpinan tim
-Pemecahan konflik
-Umpan balik
-Komunikasi/ pertukaran informasi

3. Kompetensi sikap -Kemajuan bersama


orientasi tim (moral) -Berbagi pandangan/ tujuan

4. Kompetensi kemampuan tim -Kepaduan tim


-Saling percaya
-Orientasi bersama
-Kepentingan bekerja tim

E. Pengaruh persepsi pada interprofessional education


Buku Acuan Umum CFHC-IPE (Tim CFHC-IPE, 2014) menyatakan
keefektifan komunikasi antar profesi dipengaruhi oleh persepsi, lingkungan, dan
pengetahuan. Persepsi yaitu suatu pandangan pribadi atas hal-hal yang telah
terjadi. Persepsi terbentuk melalui apa yang diharapkan dan pengalaman.
Perbedaan persepsi antar profesi yang berinteraksi akan menimbulkan kendala
dalam komunikasi.

5
2. Interprofessional Kolaborasi

A. Defenisi Kolaborasi
Kolaborasi adalah hubungan timbal balik dimana pemberi pelayanan
memegang tanggung jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka
kerja bidang respektif mereka. Praktik keperawatan kolaboratif menekankan
tanggung jawab bersama dalam manajemen perawatan pasien, dengan proses
pembuatan keputusan bilateral didasarkan pada masing-masing pendidikan dan
kemampuan praktisi (Siegler & Whitney, 2000).
Baily & Synder, (1995) menyatakan kolaborasi sebagai hubungan
kemitraan yang bergantung satu sama lain dan memerlukan perawat, dokter
dengan profesi lain untuk melengkapi satu sama lain ahli-ahli berperan secara
hirarki (Kemenkes RI, 2012).
Kolaborasi adalah suatu hubungan yang kolegial dengan pemberi
perawatan kesehatan lain dalam pemberian perawatan pasien. Praktik kolaboratif
membutuhkan atau dapat mencakup diskusi diagnosis pasien dan kerjasama dalam
penatalaksanaan dan pemberian perawatan (Blais, 2006).
Kolaborasi menurut Asosiasi Perawat Amerika (ANA, 1992), adalah
hubungan kerja diantara tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada
klien. Kegiatan yang dilakukan meliputi diskusi tentang diagnosa, kerjasama
dalam asuhan kesehatan saling berkonsultasi atau komunikasi serta masingmasing
bertanggung jawab pada kepercayaannya (Sumijatun, 2010).
Defenisi kolaborasi dapat disimpulkan yaitu hubungan kerja sama antara
perawat dan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada klien yang
didasarkan pada pendidikan dan kemampuan praktisi yang memiliki tanggung
jawab dalam pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan.

B. Manfaat Kolaborasi
Kolaborasi dilakukan dengan beberapa alasan sebagai manfaat dari
kolaborasi yaitu antara lain:

6
1. Sebagai pendekatan dalam pemberian asuhan keperawatan klien, dengan
tujuan memberikan kualitas pelayanan yang terbaik bagi klien.
2. Sebagai penyelesaian konflik untuk menemukan penyelesaian masalah atau
isu.
3. Memberikan model yang baik riset kesehatan.

Penelitian yang dilakukan pada kolaborasi interprofessional pada perawat


di Yunani, menunjukkan hasil bahwa pentingnya dilakukan kolaborasi. Fenomena
yang dipaparkan pada penelitian ini dimana perawat mengalami ketegangan antara
dokter dan perawat yang merupakan faktor yang signifikan stress perawat
ditempat kerja. Lingkungan yang tegang dan perilaku yang kasar secara verbal
menjadikan status kerja dan kondisi kerja yang buruk ditempat kerja. Selain itu,
tujuan dari kolaborasi pada pelayanan kesehatan ini, untuk perawatan pasien yang
lebih baik akan berisiko tinggi untuk kesalahan dalam penyediaan pelayanan.
Fenomena tersebut menarik minat peneliti sehingga penelitian ini dilakukan yang
menunjukkan hasil bahwa kolaborasi di rumah sakit di Yunani sebagai tempat
penelitian sangat tidak efektif dimana dokter melihat kolaborasi sebagai kegiatan
yang melibatkan antar profesi bukan interprofesional.

C. Elemen-elemen kolaborasi dalam praktik keperawatan


Praktik kolaborasi memerlukan waktu dan energi. Profesi kesehatan tidak
selalu bergerak cepat dalam satu tim yang baik. Untuk mengerti praktik
kolaborasi, berikut elemen kolaborasi:
1. Multiple provider : kerja sama yang meliputi satu atau lebih pemberi
pelayanan kesehatan dan dapat lebih dari satu jenis grup profesi.
2. Service Koordinasi: pendekatan umum yang digunakan untuk menjamin
asuhan dan pelayanan dalam disiplin ilmu yang sama dan beberapa disiplin
ilmu dalam bidang kesehatan.
3. Communication: berkomitmen untuk saling memberikan informasi pada grup
pemberi pelayanan kesehatan.

7
Kolaborasi keperawatan merupakan bekerja sama dalam tim kesehatan
dalam upaya perawat mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang dibutuhkan
termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam menentukan bentuk
pelayanankeperawatan yang memimiliki prinsip-prinsip kolaborasi yaitu:
1. Menguasai/memahami masalah pasien,
2. Mampu melakukan komunikasi efektif,
3. Memiliki penegtahuan yang berkaitan dengan masalah pasien,
4. Mampu berpikir kristis, dan
5. Mampu mengambil keputusan.

D. Komponen Kompetensi Sebagai Dasar Kolaborasi


Gambaran penting untuk kolaborasi mencakup, keterampilan komunikasi
yang efektif, saling menghargai, rasa percaya, memberi dan menerima umpan
balik, pengambilan keputusan, dan manajemen konflik (Blais, 2006).
1. Keterampilan Komunikasi Yang Efektif
Komunikasi sangat penting dalam meningkatkan kolaborasi karena
memfasilitasi berbagai pengertian individu (Kemenkes, 2012). Chittiy, 2001
dalam Marquis (2010) mendefenisikan komunikasi adalah sebagai pertukaran
kompleks antara pikiran, gagasan, atau informasi, pada dua level verbal dan
nonverbal.
Komunikasi yang efektif adalah kemampuan dalam menyampaikan pesan
dan informasi dengan baik, menjadi pendengar yang baik dan keterampilan
menggunakan berbagai media. Thomas Leech, menyatakan bahwa untuk
membangun komunikasi yang efektif, harus menguasai empat keterampilan dasar
dalam komunikasi, yaitu: membaca, menulis, mendengar dan berbicara
(Nurhasanah, 2010).
Komunikasi yang efektif dalam kolaborasi penting untuk memecahkan
masalah komlpeks. Komuniksai efektif dapat terjadi hanya apabila kelompok
yang terlibat berkomitmen untuk saling memahami peran professionalnya dan
saling menghargai sebagai individu. Selain itu, mereka harus sensitif terhadap
perbedaan antara gaya komunikasi.

8
Teori Norton mengenai gaya komunikator mendefinisikan gaya sebagai
cara seseorang berkomuniksai dan mencakup cara seseorang berinteraksi. Tiga
dari gaya komunikator ini (dominan, suka berdebat, dan penuh perhatian) telah
digunakan dalam studi keperawatan mengenai gaya kolaborasi kerena gaya
komunikator berhubungan dengan tingkat kolaborasi dan peningkatan kualitas
keperawatan. Menggunakan gaya komunikasi penuh perhatian dan menghindari
gaya suka berdebat dan gaya dominan membuat perbedaan yang signifikan dalam
kolaborasi perawat-dokter, hasil akhir pasien positif dan kepuasan perawat (Blais,
2006).

2. Saling Menghargai dan Rasa Percaya


Saling menghargai terjadi saat dua orang atau lebih menunjukkan atau
merasa terhormat atau berharga terhadap satu sama lain. Dan rasa percaya terjadi
saat seseorang percaya terhadap tindakan orang lain. Saling menghargai maupun
rasa percaya menyiratkan suatu proses dan hasil yang dilakukan bersama. Sistem
perawatan kesehatan itu sendiri tidak selalu menciptakan lingkungan yang
meningkatkan rasa hormat atau rasa percaya dari pemberi perawatan kesehatan
yang bervariasi (Blais, 2006).
Tanpa adanya saling menghargai maka kerja sama tidak akan terjadi. Yang
dimaksud dengan pentingnya menghargai satu sama lain yaitu:
1. Dapat mengurangi perbedaan status professional.
2. Meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja.
3. Meningkatkan pembagian informasi diantara profesi.
4. Menerima konstribusi profesi lain.
5. Sebagai advokasi evaluasi kritis kritis penampilan kerja diantara
anggota tim.
6. Mempermudah pengambilan keputusan bersama.
7. Meningkatkan tanggung jawab dan tanggung gugat dalam bekerja

9
3. Memberi dan Menerima Umpan Balik
Salah satu yang dihadapi para professional adalah memberi dan menerima
umpan balik pada saat yang tepat, relevan, dan membantu untuk dan dari satu
sama lain, dan klien mereka. Umpan balik dapat dipengaruhi oleh persepsi, ruang
personal, peran, hubungan, harga diri, percaya diri, keyakinan, emosi, lingkungan,
dan waktu dari masing-masing orang.
Umpan balik yang positif dicirikan dengan gaya komunikasi yang hangat,
perhatian, dan penuh penghargaan. Tinjauan mengenai keterampilan komunikasi
dasar, dan kesempatan untuk praktik mendengarkan serta memberi dan menerima
umpan balik dapat meningkatkan kemampuan professional, agar dapat melakukan
komunikasi dengan efektif. Memberi dan menerima umpan balik, membantu
individu mendapatkan kesadaran sendiri, membantu tim kolaboratif
untukmembangun pemahaman dan hubungan kerja yang efektif.

4. Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan ditingkat tim mencakup pembagian
tanggung jawab untuk hasil. Jelasnya, untuk menciptakan suatu solusi, tim
tersebut harus mengikuti tiap langkah proses pengambilan keputusan yang
dimulai dengan defenisi masalah yang jelas.
Aspek penting dalam pengambilan keputusan adalah tim, antardisiplin
yang berfokus pada kebutuhan prioritas klien yang mengorganisasi intervensi
berdasarkan kebutuhan tersebut. Disiplin yang paling baik memenuhi kebutuhan
klien diberikan prioritas dalam perencanaan dan bertanggung jawab memberikan
intervensinya pada waktu yang tepat.

5. Manajemen Konflik
Konflik peran dapat terjadi, dalam situasi apapun di tempat individu
bekerjasama. Konflik peran muncul saat seseorang diharapkan melaksanakan
peran yang bertentangan atau tidak sesuai dengan harapan. Dalam konflik
interpersonal, orang yang berbeda memiliki harapan yang berbeda terhadap
perantertentu. Konflik antarperan muncul saat harapan seseorang atau kelompok

10
Berbeda dari harapan orang atau kelompok lain. Tipe manapun dari konflik ini
dapat mempengaruhi kolaborasi antardisiplin.
Untuk mengurangi konflik peran, anggota tim dapat juga melaksanakan
konferensi antardisiplin, mengambil bagian dalam pendidikan antardisiplin pada
program dasar, dan yang paling penting menerima tanggung jawab personal untuk
kerja tim. Kegagalan professional untuk berkolaborasi bukanlah disengaja, tetapi
lebih pada kurangnya keterampilan yang diperlukan.
Penelitian yang dilakukan Zuraidah, (2005) menunjukkan hasil penelitian
didapatkan faktor-faktor yang sangat berhubungan dengan kolaborasi
perawatdokter.
Adapun faktor-faktor tersebut antara lain persepsi tentang kolaborasi
(B=0,351), komunikasi (B=0,247), saling pengertian antar profesi (B=0,236) dan
pendekatan professional (B=0,121). Hasil penelitian ini, disarankan agar perawat
diberi kesempatan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam
melakukan komunikasi, melaksanakan hubungan saling pengertian antar profesi
serta mengembangkan pemahaman persepsi kolaborasi.

E. Proses Kolaboratif
Proses kolaboratif dengan sifat interaksi antara perawat dengan dokter
menentukan kualitas praktik kolaborasi. ANA, 1998 dalam Siegler & Whitney
(2000) menjabarkan kolaborasi sebagai hubungan rekan yang sejati, dimana
masing-masing pihak menghargai kekuasaan pihak lain dengan mengenal dan
menerima lingkup kegiatan dan tanggung jawab masing-masing dan adanya
tujuan bersama. Sifat kolaborasi tersebut terdapat beberapa indikator yaitu kontrol
kekuasaan, lingkup praktik, kepentingan bersama dan tujuan bersama.
1. Kontrol Kekuasaan
Kontrol kekuasaan dapat terbina apabila dokter dan perawat mendapat
kesempatan yang sama mendiskusikan pasien tertentu. Kemitraan terbentuk
apabila interaksi yang diawali sama banyaknya dengan yang diterima dimana
terdapat beberapa kategori antara lain: menanyakan informasi, memberikan
informasi, menanyakan dan memberi pendapat, memberi pengarahan atau

11
perintah, pengambilan keputusan, memberi pendidikan, memberi
dukungan/persetujuan, menyatakan tidak setuju, orientasi dan humor.

2. Lingkungan Praktik
Menunjukkan kegiatan dan tanggung jawab masing-masing pihak. Perawat
dan dokter memiliki bidang praktik yang berbeda dengan peraturan masingmasing
tetapi tugas-tugas tertentu dibina yang sama.

3. Kepentingan Bersama
Kepentingan bersama merupakan tingkat ketegasan masing-masing (usaha
untuk memuaskan kepentingan sendiri) dan faktor kerjasama (usaha untuk
memuaskan pihak lain).

4. Tujuan Bersama
Tujuan bersama pada proses ini bersifat lebih terorientasi pada pasien dan
dapat membantu menentukan bidang tanggung jawab yang berkaitan dengan
prognosis pasien.

12
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Interprofessional Collaboration (IPE) adalah proses dalam
mengembangkan dan mempertahankan hubungan kerja yang efektif antara pelajar,
praktisi, pasien/ klien/ keluarga serta masyarakat untuk mengoptimalkan
pelayanan kesehatan, batasan yang ada pada masing-masing profesi kesehatan.
Kolaborasi dapat disimpulkan yaitu hubungan kerja sama antara perawat
dan dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada klien yang didasarkan
pada pendidikan dan kemampuan praktisi yang memiliki tanggung jawab dalam
pelayanan kesehatan khususnya pelayanan keperawatan.

B. SARAN
Dari hasil pembahasan makalah diatas, mahasiswa diharapkan dapat
berbagi pengalaman dan berkontribusi untuk kemajuan dan saling pengertian
dalam belajar antar profesi dalam menanggapi pertanyaan, di konferensi dan
melalui literatur profesional dan antar profesi.

13
DAFTAR PUSTAKA

http://digilib.unimus.ac.id/doenload.php?=97132

http://digilib.unimus.ac.id/doenload.php?=9713

http://abstrak.ta.uns.ac.id/wisuda/upload/G0012106_bab2.pdf

14