Anda di halaman 1dari 27

Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

PROSES PERUMUSAN KEBIJAKAN ANGGARAN


PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
KABUPATEN SUMEDANG

Rudiana
Staf Pengajar Prodi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Padjadjaran
Email: Rudiana1974@gmail.com

ABSTRAK

Fenomena kebijakanAPBD disebagian besar daerah kurang mempertimbangkan


aspek kepentingan masyarakat. Hal ini berbeda dengan Pemerintah Kabupaten
Sumedang yang melibatkan masyarakat dalam proses perumusannya. Proses
perumusan kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten
Sumedang, menjadi judul dari penelitian ini.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan
pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi
pustaka dan studi lapangan, yang berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive. Penelitian ini
dilakukan di DPRD Kabupaten Sumedang, Pemerintah Kabupaten Sumedang, dan
Forum Delegasi Musrenbang (FDM).

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, dapat diketahui bahwa tahapan


dalam proses perumusan kebijakan adalah perumusan masalah kebijakan,
penyusunan agenda kebijakan, pemilihan alternatif kebijakan, dan pengesahan
kebijakan. Selain itu hal yang menarik didalam proses perumusan kebijakan APBD
Kabupaten Sumedang ini adalah katerlibatan lembaga lain selain pemerintah dan
DPRD yaitu FDM (Forum Delegasi Musrenbang). FDM akan mengawal keputusan
hasil musrenbang hingga masuk kedalam pembahasan APBD. Sehingga dilihat
dari prosesnya didalam kebijakan APBD Kabupaten Sumedang ini telah sesuai
dengan harapan dan kepentingan masyarakat.

Mengingat pentingnya perumusan kebijakan dalam menyelesaikan suatu


permasalahan dalam masyarakat, maka Pemerintah Kabupaten Sumedang harus
membuat suatu kebijakan APBD yang dapat menyelesaikan masalah publik.
Keterbukaan dan pola akomodatif yang luas terhadap partisipasi masyarakat dalam
perumusan kebijakan APBD harus tetap dipertahankan karena hal itu dapat

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 39


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

meminimalisir penyimpangan-penyimpangan yang biasa terjadi dalam perumusan


anggaran Daerah Kabupaten Sumedang. Hal ini merupakan awal yang positif
dalam upaya membangun good governance pada pemerintahan Kabupaten
Sumedang. FDM dan DPRD harus dapat membangun komunikasi yang intensif
agar tidak menimbulkan konflik diantara kedua lembaga lokal tersebut. Karena
baik DPRD dan FDM merupakan representasi masyarakat yang sama-sama
meperjuangkan kepentingan masyarakat dalam perumusan anggaran di Kabupaten
Sumedang.

Kata Kunci : Perumusan Kebijakan, APBD

ABTRACT

In most areas of the budget (APBD) policy Phenomenon is less to consider


aspects of the public interest. This is different from Sumedang District Government
involving the community in the process of its formulation. The process of policy
formulation APBD Sumedang regency, became the title of this study.

The method used in this research is descriptive method with qualitative


approach. Data collection techniques used are literature studies and field studies in
the form of observations, interviews, and documentation. Determination techniques
informants using purposive technique. This research was conducted in DPRD
Sumedang, Sumedang District Government, and Forum delegation Musrenbang (
FDM ).

Based on the results of research in the field, it can be seen that the stages in the
process of policy formulation is the formulation of a policy issue , policy agenda ,
election of policy alternatives, and approval policies. Besides the interesting things
in the process of policy formulation Sumedang district APBD is involvement other
institutions besides the government and parliament that FDM (Forum Delegation
Musrenbang). FDM will oversee the results musrenbang decision to enter into the
discussion of budget. So the views of the process in Sumedang district budget
(APBD) policy has been in line with expectations and interests of the community.

Given the importance of the formulation of policies in solving problems in


society, the Sumedang District Government should create a budget policy that can
resolve public problems. Openness and patterns of accommodating a broad
commitment to public participation in the formulation of budget policy should be
maintained because it can minimize the aberrations that are common in budget
formulation Sumedang regency . This is a positive start to building good governance
in Sumedang. FDM district government and the DPRD should be able to establish

40 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

an intensive communication in order to avoid conflict between the two local


agencies. Since both Parliament and FDM is a representation of society that are
equally fighting for the interests of society in the formulation of the budget in
Sumedang .

Keywords: Public Policy, APBD

PENDAHULUAN Pemerintahan Daerah dan Undang-


undang No.25 tahun 1999 tentang
Latar Belakang Perimbangan Keuangan Pusat dan
Daerah. Undang-undang tersebut
Kegagalan pola pemerintahan merupakan blue print pembangunan
sentralistik dan otokratik pada era untuk membenahi penyelengaraan
orde baru, telah memunculkan kesa­ peme­rin­tahan yang sebelumnya lebih
daran kolektif akan pentingnya pola menekankan peran pusat dalam setiap
pemerintahan yang desentralistik dan upaya pembangunan wilayah, pela­
demokratis. Kegagalan tersebut ditan­ yanan publik, dan pemberdayaan
dai dengan lahirnya reformasi dan masyarakat.
jatuhnya pemerintahan orde baru.
Salah satu alasan jatuhnya rezim orde Kedua Undang-undang ini mem­
baru dikarenakan dominasi pemerintah perkenalkan konsep otonomi daerah
pusat terhadap pemerintahan daerah. yang lebih mengedepankan demok­
Seperti dalam hal perumusan kebi­ ratisasi lokal, penguatan partisipasi
jakan anggaran, pemerintah daerah publik, pemerataan dan keadilan
tidak memiliki peranan yang berarti pembangunan yang berbasis pada
dalam proses perumusan kebijakan potensi dan perbedaan daerah, serta
anggaran, sebab proses kebijakan penguatan peran DPRD sebagai
anggaran didominasi pemerintah lembaga representasi masyarakat
pusat. Sehingga kebijakan anggaran daerah. Hal tersebut dilakukan dengan
pada pemerintah daerah tidak mencer­ memberikan hak otonomi kepada
minkan tuntutan dari kebutuhan pemerintah daerah, dimana pemerintah
daerah tapi berorientasi pada kepen­ daerah mempunyai hak untuk
tingan pemerintah pusat di daerah. mengurus dan mengelola daerahnya
sendiri. Dengan adanya konsep
Gerakan reformasi yang otonomi ini diharapkan didalam
menggulingkan kekuasaan Orde Baru proses perumusan kebijakan khusus­
turut berpengaruh didalam perkem­ nya yang menyangkut penganggaran,
bangan perundang-undangan pemerin­ bisa mempermudah daerah dalam
tahan daerah. Salah satu pengaruh mengakselerasikan pembangunan
tersebut adalah kelahiran Undang- daerah sesuai kemampuan daerahnya.
undang No. 22 tahun 1999 tentang

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 41


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

Partisipasi tersebut diwujudkan wujud dari keterbukaan ruang publik


dengan memberi ruang partisipasi didalam proses perumusan kebijakan
masyarakat dalam proses perumusan anggaran bottom up. Namun didalam
kebijakan terutama mengenai ang­ praktiknya ruang publik tersebut tidak
garan melalui Musyawarah Ren­cana berjalan seperti yang diharapkan
Pembangunan (Musrenbang). Melalui karena kultur aparat pemerintah yang
wadah inilah aspirasi masyarakat masih dipengaruhi oleh kultur top
dapat dijaring sehingga isi dari down aparat. Hal ini dikarenakan
kebijakan tersebut repsesentatif masih melekatnya kebiasaan-ke­
dengan kebutuhan masyarakat di biasaan di jaman pemerintahan Orde
tingkat daerah. Jaminan adanya ruang Baru yang kemudian terbawa ke
partisipasi publik dalam perencanaan jaman Reformasi.
dituangkan dalam Undang-undang
Untuk itu maka pemerintah
Sistem Perencanaan Pembangunan
menyempurnakan kembali sistem
Nasional No. 25 Tahun 2004 yang
peme­rintahan daerah yang diun­
didalamnya mengamanatkan adanya
dangkan dalam Undang-Undang No
suatu forum kosultasi publik dalam
23 Tahun 2014 sebagai pengganti
proses perencanaan pembangunan di
Undang-Undang No.32 tahun 2004
setiap unit pemerintahan. Forum
tentang Pemerintahan Daerah. Hal
tersebut yang dikenal dengan istilah
tersebut merupakan salah satu faktor
Musyawarah Rencana Pembangunan
penting dalam menunjang keberhasilan
(Musrenbang) yang ada pada tingkat
penyelenggaraan otonomi daerah
desa/kelurahan, kecamatan, kota/
yaitu proses formulasi kebijakan
kabupaten sampai tingkat nasional.
(fungsi mengatur).
Dalam sistem politik yang demokratis
sistem tersebut diharapkan menjadi Paradigma baru penyelenggaraan
arena komunikasi timbal balik antara otonomi daerah di Indonesia pada
lembaga perencana dengan pemangku dasarnya dilandasi oleh prinsip-prinsip
kepentingan (stakeholders) untuk me­ demokrasi lokal dan good governance.
ne­tapkan keputusan kolektif. Dengan landasan tersebut maka
pemerintah daerah dan DPRD sebagai
Secara teoritis gagasan-gagasan
institusi lokal yang mengemban
perubahan yang dianut oleh kedua
tanggung jawab penyelenggaraan
Undang-undang tersebut telah mem­
otonomi daerah yang merupakan per­
buka ruang publik yang positif bagi
wujudan dari representasi masyarakat
masyarakat lokal untuk dapat
local. Pergeseran kekuasaan dari pusat
mengembangkan sendiri daerahnya
ke daerah dan pemberdayaan DPRD,
masing-masing. Didalamnya diatur
setidak-tidaknya telah membentuk
suatu sistem proses perumusan
dinamika tersendiri dalam hubungan
kebijakan terutama anggaran yang
pemerintah daerah dan DPRD yang
harus melalui Musrenbang sebagai

42 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

seringkali diwarnai oleh konflik dan Gambaran di atas menunjukan


juga syarat dengan nuansa kong-kali- bahwa keterlibatan masyarakat dalam
kong. proses perencanaan dan penganggaran
hanya sebatas formalitas partisipatif.
Selain konflik yang terjadi dalam
Keterlibatan masyarakat dalam
tubuh sistem pemerintahan, konflik­
perumusan kebijakan anggaran hanya
pun terjadi dalam ranah sistem
sebagai syarat prosedural dalam
keuangan. Sistem keuangan daerah
penyusunan anggaran tanpa menyen­
sendiri diatur didalam Undang-
tuh substansinya.
Undang No. 33 tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Untuk meredam konflik kepen­
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan tingan yang terjadi antara Peremintah
Daerah. Undang-undang tersebut Daerah, DPRD dan rendahnya
kemudian dipertegas melalui per­ partisipasi masyarakat, maka peme­
mendagri 13 tahun 2006 tentang rintah Kabupaten Sumedang memiliki
pedoman pengelolaan keuangan teroboson dengan mem­ perkuat dan
daerah yang selanjutnya menjadi memperluas peran partisipasi civil
panduan didalam proses perumusan society di Kabupaten Sumedang.
kebijakan Anggaran Pendapatan dan Payung hukum yang dikeluarkan oleh
Belanja Daerah di seluruh Indonesia. Pemerintah Kabupaten Sumedang
adalah Perda No 1 Tahun 2007 tentang
Jenis konflik yang terjadi adalah
prosedur perencanaan dan pengang­
pada tahap pencarian kesepakatan
garan daerah Kabupaten Sumedang.
untuk ditetapkan menjadi APBD,
Perda ini memuat berbagai terobosan
yang terjadi adalah tarik menarik
inisiatif kebijakan penganggaran,
kepentingan diantara pemerintah
dimana pagu Indikatif sektoral dan
daerah dan DPRD. Dengan demikian
kecamatan mulai diperkenalkan dan
maka maka kepentingan pemerintah
dipergunakan sebagai rancangan awal
daerah dan DPRD yang akan mendapat
program prioritas dan patokan batas
prioritas utama karena kepentingannya
maksimal anggaran yang diberikan
bisa diperjuangkan pada tahapan
kepada SKPD Dinas pemerintahan
akhir. Sementara hasil Musrenbang
Kabupaten hingga SKPD kecamatan.
hanya dijadikan alternatif dari tarik-
menarik kepentingan diantara Selain itu dalam perda ini juga
pemerintah daerah dan DPRD. Hal ini melembagakan sebuah forum masya­
dikarenakan kepentingan masyarakat rakat yang dibentuk untuk mewadahi
yang diakomodasikan melalui Mus­ delegasi masyarakat wilayah keca­
renbang ini tidak ada yang menjamin matan sebagai representasi dari
untuk memperjuangkannya sampai delegasi masyarakat wilayah desa
pada tahapan penetapan kebijakan yang ada di Kabupaten Sumedang.
APBD. Forum masyarakat ini dibentuk

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 43


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

setelah penyelenggaraan musrenbang yang positif yang memerlukan kajian


kabupaten. Forum masyarakat ini ilmiah supaya memiliki nilai positif
dikenal dengan sebutan Forum atau nilai tambahan yang secara
Delegasi Musrenbang atau yang praktis dapat dijadikan acuan
disingkat dengan FDM. pemerintah daerah lain. Selain itu
secara akademis dapat dijadikan
Fungsi yang utama dari Forum
sebuah konsep baru dalam membangun
Delegasi Musrenbang (FDM) adalah
dan menata sistem pemerintahan
sebagai media pengawasan masyarakat
daerah dimasa kini dan masa yang
terhadap proses penyusunan APBD
akan datang.
sampai pada tahap Implementasi
APBD. Sehingga kepetingan masya­ Berdasarkan uraian diatas maka
rakat yang dijaring melalui fokus permasalahan yang akan dikaji
musrenbang dapat diawasi dari proses oleh penulis tuangkan dalam
perumusan di musrenbang, penetapan, pertanyaan penelitian sebagai berikut:
hingga implementasi mengenai peng­ Bagaimanakah proses perumusan
anggaran yang menyangkut kepen­ Anggaran Pendapatan dan Belanja
tingan masyarakat yang dijaring Daerah Kabupaten Sumedang?
melalui Musrenbang di Kabupaten
Sumedang. Dengan demikian keber­
TINJAUAN PUSTAKA
adaan Forum Delegasi Musrenbang
ini menunjukan adanya partisipatif Perumusan Kebijakan Publik
yang nyata dari masyarakat.

Untuk itu maka penulis merasa Definisi perumusan kebijakan


tertarik untuk dapat melakukan pene­ dengan pembuatan kebijakan itu
litian di bidang Proses perencanaan berbeda, oleh sebab itu Winarno
dan penganggaran daerah Kabupaten mengutip pendapat Anderson yang
Sumedang. Dimana suatu langkah membuat kategorisasi untuk berbagai
atau terobosan baru dari pemerintah konsep dalam kebijakan publik.
Kabupaten Sumedang ini merupakan Menurut Anderson25:
suatu keberhasilan dari sistem ”Perumusan kebijakan menyang­
perencanaan dan penganggaran yang kut upaya untuk menjawab
partisipatif. Hal itu menunjukan hal pertanyaan bagaimana berbagai

25 Budi Winanrno. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta : Media Pressindo. Depok,
hal 89-70

44 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

alternatif disepakati untuk Sebelum sampai pada penjelasan


masalah-masalah yang dikem­ masing-masing model, perlu dikemu­
bangkan dari siapa yang berpar­ kakan terlebih dahulu bahwa tidak
tisipasi. Ia merupakan proses satupun dari berbagai macam model
yang secara spesifik ditun­jukkan yang dibahas dianggap paling baik,
untuk menyelesaikan per­soalan- karena masing-masing model membe­
persoalan khusus. Sedangkan rikan fokus perhatiannya pada kehi­
pembentukan kebijakan lebih dupan politik yang berbeda, sehingga
merujuk pada aspek-aspek seperti dapat membantu kita dalam mempe­
misalnya, bagaimana masalah- lajari kebijakan publik dari berbagai
masalah publik menjadi diru­ sudut pandang.
muskan untuk masalah-masalah
khusus, dan bagaimana proposal Dari beragamnya model kebi­
tersebut dipilih diantara berbagai jakan secara singgat penelitian ini
alternatif yang saling berkom­ menggunkaan Model Mixed-scanning.
petisi”. Model ini yang merupakan “gabungan
antara unsur-unsur kebaikan yang ada
Dalam hal tersebut Winarno
pada model rasional-komprehensif
menambahkan bahwa: ”Pembuatan
dan model inkremental”27. Model ini
kebijakan merupakan keseluruhan
memanfaatkan dua macam pendekatan
tahap dalam kebijakan publik yang
yang telah ada sebelumnya secara
berupa rangkaian keputusan”26.
fleksibel. Dalam beberapa hal pende­
Perumusan kebijakan publik pada katan rasional-komprehensif akan
dasarnya akan mudah dipelajari apa­ diterapkan apabila diperlukan penjela­
bila menggunakan suatu pende­katan jahan dan pengamatan yang luas,
atau model tertentu. Para ahli politik sedangkan pada beberapa hal lain
telah mengembangkan berbagai pendekatan inkremental akan diterap­
macam model atau pendekatan yang kan apabila diperlukan pengamatan
dapat membantu kita dalam mema­ yang mendetail pada suatu objek atau
hami kehidupan politik, pemerintahan, sasaran.
proses perumusan kebijakan dan
Model-model pembuatan ke­
sebagainya.
bijak­an publik dapat digunakan untuk

26. Ibid., hal 70


27. Irfan Islamy. Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijakan Negara. 2004. Jakarta : Bina Aksara., hal
70

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 45


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

mengetahui dan menganalisa faktor- optimal dan dapat dirasakan oleh


faktor apa yang menjadi latar belakang seluruh lapisan masyarakat, maka
pertimbangan pembuat suatu keputus­ Budi Winarno dalam bukunya Teori
an, syarat-syarat yang harus dipenuhi dan Proses Kebijakan Publik,
untuk dapat membuat atau meru­ memaparkan beberapa tahap dalam
muskan suatu kebijakan serta pola- perumusan kebijakan, antara lain28:
pola apa saja yang digunakan oleh 1. Perumusan Masalah.
para aktor pembuat kebijakan dalam 2. Agenda Kebijakan.
pengambilan keputusan dari suatu
3. Pemilihan Alternatif Kebijakan
kebijakan.
Untuk Memecahkan Masalah.
Tahapan dalam Perumusan 4. Tahap Penentuan Kebijakan.
Kebijakan
Tahapan-tahapan perumusan
tersebut dapat lebih dijelaskan pada
Sebagai bentuk dari suatu usaha
tabel dibawah ini:
membentuk hasil kebijakan yang
Tabel 1.1 Tahap-Tahap Dalam Proses Perumusan Kebijakan

Tahap FASE KARAKTERISTIK


1 Perumusan Masalah Untuk dapat merumuskan kebijakan dengan baik,
maka masalah-masalah publik harus dikenali dan
didefinisikan dengan baik pula. Kebijakan publik
pada dasarnya dibuat untuk memecahkan masalah
yang ada dalam masyarakat.
2 Agenda Kebijakan Tidak semua masalah publik akan masuk kedalam
agenda kebijakan. Masalah-masalah tersebut
saling berkompetensi antara satu dengan yang
lain. Hanya masalah-masalah tertentu yang pada
akhirnya akan masuk ke dalam agenda kebijakan.
Suatu masalah agar masuk kedalam agenda
kebijakan harus mematuhi syarat tertentu, seperti
misalnya apakah masalah tersebut mempunyai
dampak yang sangat besar bagi masyarakat dan
membutuhkan penanganan yang harus segera
dilakukan. Masalah yang telah masuk kedalam
agenda kebijakan akan dibahas oleh para perumus
kebijakan, seperti kalangan legislatif (DPR),
kalangan eksekutif, agen-agen pemerintah dan
mungkin juga kalangan yudikatif. Masalah-
masalah tersebut dibahas berdasarkan tingkat
urgensinya untuk segera diselesaikan. Agenda

28. Budi Winanrno. Op.Cit, hal 82-84

46 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

kebijakan itu sendiri didefinisikan sebagai


tuntutan-tuntutan agar para pembuat kebijakan
memilih atau merasa terdorong untuk malakukan
tindakan tertentu. Berbicara penyusunan agenda
kebijakan dalam lembaga dewan/legislatif maka
secara langsung pada akhirnya berbicara juga
masalah politik, walaupun tidak semua pakar
kebijakan menyatakan bahwa agenda kebijakan
merupakan bagian dari tuntutan-tuntutan politik.
Ketika suatu masalah publik telah masuk kedalam
agenda para perumus kebijakan, maka masalah
tersebut akan diidentifikasikan menurut dua
macam agenda kebijakan, yakni agenda sistematik
dan agenda lembaga atau pemerintah.

3 Pemilihan Alternatif Setelah masalah-masalah publik didefinisikan


Kebijakan Untuk dengan baik dan para perumus kebijakan, maka
Memecahkan Masalah langkah selanjutnya adalah pemecahan masalah.
Disini para perumus kebijakan akan berhadapan
dengan alternatif-alternatif pilihan kebijakan
yang dapat diambil untuk memecahkan masalah
tersebut. Adanya pertarungan kepentingan ini
dalam suatu lembaga pemerintahan dan politik
adalah suatu hal yang wajar, sebab setiap
lembaga pemerintahan atau politik akan berusaha
menunjukkan eksistensi kekuasaannya dengan
selalu melahirkan atau mengusulkan kebijakan
yang tentunya berbeda dengan pihak lain.
Untuk mengantisipasi pertarungan kepentingan
yang tidak berkesudahan,dan perlunya suatu
koordinator. Penyampaian saran atau tujuan
rekomendasi kebijakan dilakukan dengan
bersahaja berdasarkan suatu kajian yang spesifik.
Artinya, suatu alternatif kebijakan yang dipilih
untuk disarankan telah dihitung nilai lebihnya
dibandingkan dengan berbagai alternatif lain yang
mungkin dapat dilakukan
4 Tahap Penentuan Setelah itu dari sekian alternatif kebijakan
Kebijakan diputuskan diambil sebagai cara untuk
memecahkan masalah kebijakan, maka tahap
paling akhir dalam pembuatan kebijakan adalah
menetapkan atau mengesahkan kebijakan yang
dipilih tersebut sehingga mempunyai kekuatan
hukum yang mengikat”.

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 47


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

Aktor-Aktor dalam Perumusan aparat administrasi atau birokrasi,


Kebijakan kelompok non gevernmental
(NGO) kelompok swasta, dan
Aktor-aktor atau pemeran serta kelompok thing thanks, dan
dalam proses pembuatan kebijakan kabinet bayangan”.
dapat dapat dibagi ke dalam dua Hal tersebut mempertegas
kelompok, yaitu29: penyataan Winarno dimana ada
“Para pemeran serta resmi dan menurutnya ada lembaga resmi dan
para pemeran serta tidak resmi. tidak resmi. Lembaga resmi ini
Yang termasuk ke dalam pemeran meliputi lembaga pemerintah yang
serta resmi adalah agen-agen berwenang didalam proses perumusan
pemerintah (birokrasi), presiden kebijakan yang diistilahkan dalam
(eksekutif), legislatif, dan yudi­ Solahhudin sebagai suprastruktur
katif. Sedangkan yang termasuk
politik. Sementara lembaga tidak
ke dalam kelompok pemeran
resmi yaitu lembaga non pemerintah
serta tidak resmi meliputi:
yang memiliki kekuatan dan bisa
kelompok-kelompok kepenting­
mempengaruhi didalam proses
an, partai politik, dan warga
perumusan kebijakan.
nega­ra individu”.

Menurut Anderson, Pirley, dan Perencanaan dan Penganggaran


Guy Peter dalam Sugiono yang dikutip Daerah
Solahuddin30:
“Didalam proses studi kebijakan Rumusan mengenai perencanaan
aktor-aktor berasal dari dari ditemukan pada berbagai literature.
berbagai macam lembaga yang Salah satu pengertian perencanaan
tercakup didalam supra struktur dirumuskan sebagai suatu kegiatan
politik dan infra struktur politik. pendahuluan yang harus dilakukan
Para ahli mengidentifikasi aktor- sebelum kegiatan pokok dilaksanakan.
aktor dengan berbagai macam Peren­canaan diperlukan karena ada­
sebutan yaitu: legislator, ekseku­ nya kelangkaan/keterbatasan sum­ber
tif, lembaga peradilan, kelompok daya dan sumber dana yang tersedia
penekan, partai politik, media sehingga tidak menyulitkan penentuan
massa, organisasi komu­nitas, suatu pilihan kegiatan.

29. Budi Winarno. Loc.cit, hal 84


30. Solahudin Kusumanegara. Model dan Aktor Dalam Proses Kebijakan Publik. Gava Media.
Yojyakarta. 2010, hal 53

48 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

Waterson mengatakan bahwa pakan dasar bagi pelaksanaan


pada hakikatnya, perencanaan adalah suatu kegiatan atau aktivitas.
usaha yang dilakukan secara sadar, 2. Adanya alternatif-alternatif atau
terorganisasi, dan terus menerus pilihan-pilihan sebagai dasar
memilih alternatif yang terbaik dari penentuan kegiatan yang akan
sejumlah alternatif untuk mencapai dilakukan. Ini berarti bahwa
tujuan tertentu. Sementara itu, dalam menyusun rencana perlu
Davidov dan Reiner mengemukakan memperhatikan berbagai alterna­
bahwa perencanaan adalah suatu tif pilihan sesuai kegiatan yang
proses untuk menetapkan tindakan akan dilaksanakan.
yang selayaknya. Dengan demikian, 3. Adanya tujuan yang ingin dica­
pilihan-pilihan yang tersedia akan pai. Dalam hal ini perencanaan
membentuk suatu proses perencanaan merupakan suatu alat/sarana
yang terdiri atas tiga macam peringkat. untuk mencapai tujuan melalui
Pertama, memilih tujuan dan syarat- pelak­sanaan kegiatan.
syarat. Kedua, mengenai seperangkat 4. Bersifat memprediksi sebagai
alternatif yang bersifat konsisten langkah untuk mengantisipasi
dengan ketentuan-ketentuan umum kemung­kinan-kemungkinan yang
tersebut serta memilih sesuatu alter­ dapat mempengaruhi pelaksanaan
natif yang dikehendaki. Ketiga, meng­ perencanaan.
a­rahkan tindakan-tindakan yang me­ 5. Adanya kebijaksanaan sebagai
ng­arah pada pencapaian tujuan-tujuan hasil keputusan yang harus
yang telah ditentukan tersebut31. dilaksanakan”.
Sedangkan unsur-unsur perencanaan Perencanaan yang baik harus
yang baik adalah sebagai berikut32 :
memuat prinsip yang terdapat dalam
1. Adanya asumsi-asumsi didasar­
dokumen perencanaan, yaitu33:
kan pada fakta-fakta. Ini berarti
bahwa perencanaan hendaknya “a. apa yang akan dilakukan, yang
disusun berdasarkan asumsi- merupakan jabaran dari misi dan
asumsi yang didukung dengan visi
fakta-fakta atau bukti-bukti yang b. bagaimana mencapai hal tersebut.
ada. Hal ini menjadi penting c. Siapa yang akan melakukan.
karena hasil perencanaan meru­ d. Lokasi aktivitas.

31. dalam Ateng Syafrudin. DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Dari Masa ke Masa.1991.
Bandung : Mandar Maju, hal 5
32. Bratakusumah, Deddy Supriady & Riyadi. Perencanaan Pembangunan Daerah. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama. 2005, hal 3
33. Abe, Alexander. Perencanaan Daerah Partisipatif. 2005. Pembaruan, Yogyakarta, hal 31

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 49


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

e. Kapan akan dilakukan dan berapa Sementara itu, yang dimaksud


lama. Sumber daya yang dibu­ dengan anggaran menurut Suparmoko
tuhkan”. adalah suatu daftar atau pernyataan
terperinci tentang pendapatan dan
Berdasarkan definisi-definisi
belanja negara yang diharapkan dalam
yang telah dikemukakan tersebut
jangka waktu tertentu (biasanya satu
dapat dikatakan bahwa perencanaan
tahun)35. Anggaran mempunyai kedu­
diartikan sebagai kegiatan-kegiatan
dukan yang penting dalam penyeleng­
pengambilan keputusan dari sejumlah
garaan pemerintahan daerah. Mardias­
pilihan mengenai sasaran dan cara-
mo berpendapat bahwa arti penting
cara yang akan dilaksanakan dimasa
anggaran pemda (anggaran daerah)
depan guna mencapai tujuan yang
dapat dilihat dari dua aspek berikut36:
diinginkan serta pemantauan dan
penilaian atas perkembangan hasil 1. Anggaran merupakan alat bagi
pelak­sanaannya yang akan dilakukan pemda untuk mengarahkan dan
menjamin kesinambungan pem­
secara sistematis dan berkesinam­
bangun­an serta meningkatkan
bungan. Perencanaan merupakan se­
kualitas hidup masyarakat.
buah proses aktivitas manusia dan
organisasi mempunyai sebuah formu­ 2. Anggaran diperlukan karena ada­
lasi dalam mencapai tujuan. Dalam nya kebutuhan dan keinginan
masyarakat yang tak terbatas dan
memformulasikan ini memperhatikan
terus berkembang, sedangkan
sumber daya yang ada dengan mela­
sumber daya yang ada terbatas.
kukan inventarisasi, riset dan survei.
Anggaran diperlukan karena
Berbicara mengenai anggaran, keterbatasan sumber daya
Munandar mengatakan bahwa ang­ (scarify resouces), pilihan
garan adalah suatu rencana yang (choice), dan trade offs.
disusun sistematis, meliputi seluruh
Mengenai hubungan antar APBD
kegiatan perusahaan yang dinyatakan
dengan perencanaan pembangunan
unit moneter dan berlaku untuk jangka
oleh Tjokoamidjojo digambarkan
waktu tertentu34.
sebagai berikut37:

34. M. Munandar Solaeman. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial, 1986. Bandung: PT
Eresco, hal 1
35. M. Suparmoko. Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktek. 2000. BPFE Yogyakarta.
Yogyakarta, hal 47
36. Mardiasmo. Akuntansi Sektor Publik. 2004. Penerbit Andi. Yogyakarta, hal 182
37. Bintoro Tjokroamidjojo. Pengantar Administrasi Pembangunan. 1995. LP3S. Jakarta, hal 166

50 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

”Hubungan antara perencanaan kaian kegiatan dalam satu kesatuan.


dan anggaran belanja negara Penyusunan rencana perlu memper­
men­jadi timbal balik. Disatu hatikan kafasitas fiskal yang tersedia
pihak, pencerminan dalam ang­ hingga dalam penerapannya, konse­
garan belanja negara menjamin kuensi atas integrasi kegiatan peren­
kepastian pembiayaan, sedangkan canaan pembangunan dan pengang­
di lain pihak perencanaan akan garan perlu diperhatikan. Perencanaan
memberikan perhatian terhadap dan penganggaran merupakan proses
keterbatasan pembiayaan. Selain yang paling krusial dalam penyeleng­
itu, juga perencanaan proyek- garaan pemerintahan karena berkaitan
proyek menjadi lebih berperhatian dengan tujuan pemerintah itu sendiri.
terhadap masalah ongkos (cost
Perencanaan dan penganggaran meru­
conscious)”.
pakan proses yang terintegrasi sehing­
Dengan demikian, perencanaan ga output dari perencanaan adalah
dan penganggaran merupakan rang­ penganggaran. Berikut adalah
gambaran mengenai keterkaitan
antara perencanaan dan penganggaran.

Gambar 1.1 Bagan Perencanaan dan Penganggaran

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 51


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

Metode Penelitian Alasan tersebut diperkuat oleh


pen­dapat Arikunto, yakni peneliti
Penelitian ini menggunakan me­ seba­gai instrumen mengandung mak­
to­de kualitatif. Dalam pandangan na peneliti tersebut memiliki daya
Cresswell (1994) pendekatan kualita­ responsif yang tinggi yaitu mampu
tif adalah suatu proses penyelidikan merespon sambil memberikan inter­
untuk memahami masalah sosial dan pre­
tasi terus-menerus pada gejala
manusia secara holistik yang dibentuk yang dihadapi serta memiliki kemam­
dengan kata-kata secara terinci ter­ puan dalam memandang objek
hadap orang dan pelaku yang diamati. penelitianya secara holistik, mengait­
kan gejala dengan konteks saat itu,
Pendekatan kualitatif menurut mengaitkan dengan masa lalu dan
peneliti dianggap paling sesuai untuk dengan kondisi lain yang relevan,
meneliti bagaimana perumusan Ang­ ”sehingga peneliti dapat melakukan
garan dan Pendapatan Belanja Daerah analisis data sejak awal dengan mela­
(APBD) Kabupaten Sumedang. Sebab kukan interpretasi untuk memecahkan
dalam penelitian ini, peneliti lebih masalah yang dihadapi”38
menekankan pada penyelidikan untuk
memahami masalah sosial berdasarkan Sedangkan jenis metode pene­
pada pandangan informan yang litian yang digunakan dalam penelitian
terperinci tentang suatu masalah. ini adalah metode penelitian deskrip­
Alasan lain menggunakan pendekatan tif, hal ini dikarenakan kompleksnya
kualitatif adalah penelitian tentang permasalahan sosial yang ingin
perumusan APBD ini merupakan diteliti. Dengan meng­gunakan metode
suatu permasalahan yang harus dilihat deskriptif, penulis dapat menjelaskan
sebagai suatu hal yang holistik, karena situasi sosial secara menyeluruh, luas
setiap aspek di dalamnya merupakan dan mendalam, sehingga peneliti
satu kesatuan yang tidak dapat dapat menganalisis serta menginter­
dipisahkan dan juga penelitian tentang pretasi data-data yang ditemukan
perumusan APBD ini tidak hanya dilapangan. Hal ini sesuai dengan
melihat sesuatu yang tampak di atas yang diungkapkan oleh Moh. Nazir
permukaan saja, melainkan juga pada bahwa penelitian deskriptif adalah39:
hal-hal yang ada di balik sesuatu yang “Suatu metode dalam meneliti
tampak tersebut. suatu status kelompok manusia,

38. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. 2006. Jakarta : Rineka
Cipta. hal 18
39. M. Nazir. 2005. Metodologi penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia, hal 54

52 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

suatu objek, suatu set kondisi, dari keadaan empirik dalam penelitian
suatu sistem pemikiran ataupun ini maka penulis menggunakan
suatu kelas peristiwa pada masa beberapa teknik pengumpulan data.
sekarang. Tujuan dari penelitian Menurut Sugiyono, ada beberapa
deskriptif ini adalah untuk macam teknik pengumpulan data
membuat deskripsi atau gambar­ dalam penelitian, yaitu observasi, wa­
an atau lukisan secara sistematis, wan­cara, dan dokumentasi40. Dalam
faktual dan akurat mengenai penelitian kualitatif, pengum­pulan
fakta – fakta, sifat – sifat serta data dilakukan pada natural setting
hubungan antarfenomena yang (kondisi alamiah), sumber data primer
diselidiki.”
dan teknik pengumpulan data lebih
Sehingga dapat disimpulkan banyak pada observasi serta wa­
alasan penulis menggunakan metode wancara mendalam dan dokumen­tasi.
deskriptif adalah penulis dapat
Seorang peneliti harus memper­
menggambarkan objek penelitian juga
hatikan siapa yang menjadi infor­
menyorotinya secara lebih spesifik.
mannya. Informan merupakan sumber
Sehingga pengetahuan pada saat
yang oleh peneliti dianggap mampu
tertentu dapat dijelaskan secara lebih
memberi informasi dan data. Adapun
mendetail dan dicarikan solusi untuk
informan atau narasumber yang
memecahkan permasalahan yang tim­
membantu dalam memberikan infor­
bul. Selain itu juga dengan meng­
masi yang rinci atas permasalahan
gunakan metode deskriptif penulis
penelitian ini, yakni sebagai berikut:
dalam penelitian yang pene­laahannya
1. Tim Anggaran Pemerintah
pada suatu masalah secara intensif,
Daerah (TAPD) Kabupaten
men­ dalam, mendetail serta kompre­
Sume­dang, yakni Dinas Pen­
hensif sehingga upaya mencari solusi
dapatan Daerah (Dispenda),
untuk permasalahan dalam perumusan Badan Perencanaan dan Pem­
Anggaran Pen­ dapatan dan Belanja bangunan Daerah (Bappeda), dan
Daerah kabupaten Sumedang yang Badan Keuangan Daerah
timbul dapat terwujud. (Bakuda).
Guna memperoleh keterangan 2. Panitia Anggaran DPRD
dan fakta-fakta selengkap mungkin (Panggar DPRD) Kabupaten
Sumedang,

40. Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. 2007. Bandung: ALFABETA

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 53


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

3. Forum Delegasi Musrenbang transformasi setelah dikeluarkannya


(FDM). perda ini. Salah satu upayanya adalah
melalui dilembagakannya Forum
Untuk pengolahan dan analisa
Delegasi Musrembang (FDM) yang
data, penulis menggunakan tahapan
menjadi untuk mengawal
yang menurut Miles dan Huberman
amanat/aspirasi masayarakat dalam
terdiri dari tiga alur kegiatan yang
perumusan kebijakan. Selain itu perda
terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi
ini mem­ perjelas aliran dana yang
data, penyajian data, dan penarikan
diperun­tukan langsung kepada
kesimpulan/verifikasi. reduksi data,
masyarakat dengan diakomodasinya
penyajian data, dan penarikan
pagu indikatif kecamatan dan pagu
kesimpulan/verifikasi sebagai sesuatu
indikatif sektoraL dalam pagu
yang jalin menjalin merupakan proses
indikatif kewilayahan.
suatu siklus dan interaktif pada saat
sebelum, selama, dan sesudah Forum Delegasi Musrenbang
pengumpulan data dalam bentuk meru­pakan pelembagaan keterwakilan
sejajar untuk membangun wawasan masyarakat dalam proses pengang­
umum yang disebut “analisis”41. garan. FDM beranggotakan delegasi
sektoral maupun kewilayahan yang
berfungsi mengawasi proses pengang­
HASIL DAN PEMBAHASAN
garan pasca prose perencanaan.

Forum ini dibentuk dari per­


Proses Perumusan Kebijakan wakilan peserta musrenbang di tingkat
APBD Kabupaten Sumedang desa yang mewakili proses musrenbang
di tingkat kecamatan hingga tingkat
Perda No. 1 tahun 2007 tentang kabupaten. Pengawasan FDM dimulai
perencanaan dan penganggaran daerah pada saat dilakukan forum konsultasi
yang berlaku di Kabupaten Sumedang, publik untuk mengesahkan rancangan
merupakan produk kebijakan lokal KUA, PPAS, dan RAPBD.
yang telah membuka sejarah baru
Pelembagaan FDM sebagai
dalam proses perumusan kebijakan
sebuah Institusi yang harus ada sesuai
anggaran di Kabupaten Sumedang.
dengan amanat Perda No. 1 Tahun
Perumusan kebijakan mengalami

41. Ulbert Silalahi. Metode Penelitian Sosial. 2006. Bandung : UNPAR PRESS, hal 113

54 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

2007 merupakan sebuah proses untuk kepada SKPD dan dirinci berdasarkan
membuka ruang publik dalam proses program wilayah desa/kelurahan serta
perumusan Anggaran di Kabupaten wilayah kecamatan.
Sumedang. Sampai saat ini ada dua
Penetapan Pagu indikatif ini
cara untuk menjadi anggota FDM:
dilakukan sebelum proses Musren­
1. Sebagai delegasi kewilayahan
bang, yang didasarkan pada indikator
yang dipilih dari delegasi
pembangunan dengan mengacu pada
masyarakat tingkat kecamatan
perkiraan maju yang telah disetujui
yang sebelumnya dipilih dari
pada tahun sebelumnya, evaluasi
delegasi masyarakat tingkat desa.
pencapaian RPJMD sampai dengan
2. Sebagai delegasi sektoral yang
tahun berjalan, sumber daya yang
dipilih dari forum SKPD di tiap-
tersedia, dan kondisi aktual daerah.
tiap SKPD. Anggota FDM
terpilih kemudian harus Pagu indikatif terdiri dari pagu
dilibatkan dalam konsultasi indikatif sektoral dan pagu indikatif
publik tentang pembahasan Kecamatan. Pagu indikatif sektoral
rancangan KUA, PPAS, dan merupakan patok batas maksimal
APBD yang diselenggarakan oleh anggaran yang diberikan kepada
DPRD. SKPD dan penentuan alokasi
Sehingga dapat dikatakan belanjanya ditentukan oleh mekanisme
Anggota FDM tersebut berasal dari teknokratik SKPD dengan berdasarkan
semua perwakilan di kecamatan yang kepada kebutuhan dan prioritas
ada di Kabupaten Sumedang. Bebe­ program. Sedangkan pagu indikatif
rapa anggota berasal dari pegawai Kecamatan adalah sejumlah patokan
negri sipil non struktural namun pada atau batas maksimal anggaran yang
dasarnya mereka dipilih oleh masya­ diberikan kepda SKPD yang penen­
rakat untuk mewakili mereka pada tuan alokasi belanjanya ditentukan
Forum delegasi Musrenbang. oleh mekanisme partisipatif melalui
Musrenbang Kecamatan dengan ber­
Sedangkan pagu indikatif kewila­ dasarkan kepada kebutuhan dan
yah­an merupakan rancangan awal prioritas program.
program prioritas dan patokan batas
maksimal anggaran yang diberikan Pagu indikatif sektoral menjadi
kepada SKPD. Pagu indikatif tersebut salah satu pedoman pembatasan
dirinci berdasarkan plafon anggaran plafon anggaran SKPD untuk menen­
sektoral dan plafon anggaran keca­ tukan alokasi anggarannya, dan pagu
matan. Pagu indikatif kewilayahan ini indikatif kecamatan menjadi pedoman
memuat rancangan awal program pembatasan plafon anggaran masya­
pembangunan prioritas, dan patokan rakat dan SKPD kecamatan dalam
maksimal anggaran yang diberikan menyusun kebutuhan masyara­katnya
ditingkat desa hinggá kecamatan.

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 55


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

Forum Delegasi Musrenbang yang ada di Kabupaten Sumedang


(FDM) dan pagu indikatif merupakan adalah untuk mendorong partisipasi
dua hal penting yang menjadi inovasi masyarakat dalam merumuskan
dalam Perda no 1 tahun 2007 tentang masalah pembangunan dan mengambil
perencanaan dan penganggaran daerah keputusan bersama-sama pemerintah
di Kabupaten Sumedang. Keduanya dalam melaksanakan perencanaan
merupakan inisaitif kebijakan lokal pembangunan di tingkat desa/
dalam upaya mewujudkan proses kelurahan, kecamatan, dan kabupaten.
penganggaran yang bebasis pada Dengan adanya musrenbang dari
prinsip-prinsip demokrasi lokal dan tingka desa hingga tingkat kabupaten,
goods governance dengan 4 pilar pemerintah dan masyarakat dapat
utama yaitu partisipatoris, melakukan koordinasi, konfirmasi,
Transparansi, Accoutability, dan serta klarifikasi usulan dalam agenda
predictability. kebijakan pemerintah yang sudah
direncanakan oleh SKPD Kabupaten
Sehingga APBD merupakan pilot
Sumedang.
projec dari perda no 1 tahun 2007.
Karena dalam APBD Kabupaten Musrenbang tahunan di tingkat
Sumedang mulai menerapkan pagu desa/kelurahan untuk merumuskan
indikatif kewilayahan dan pagu kebijakan APBD di Kabupaten
sektoral untuk semua SKPD. Serta Sumedang dilakukan dengan
menjadi awal berfungsinya Forum menggunakan dokumen Renstra dan
Delegasi Musrenbang sebagai dokumen RKPD sebagai referensi
oraginasi masyarakat yang mengawal awal dalam menentukan kebutuhan-
semua aspirasi masyarakat yang telah kebutuhan masyarakat. Musrenbang
ditetapkan di musrenbang desa hingga di tingkat desa itu dihadiri oleh Ketua
kabupaten Bappeda, kepala desa, tokoh-tokoh
masyarakat, aktivis LSM, serta
Adapun proses perumusan
anggota masyarakat yang memiliki
kebijakan APBD berdasarkan perda
kepentingan untuk hadir dalam acara
No. 1 tahun 2007 di Kabupaten
tersebut. Beberapa anggota DPRD
Sumedang dapat dijelaskan mulai dari
juga hadir pada musrenbang tingkat
tahapan-tahapan sebagai berikut:
desa untuk mendengar aspirasi
1. Pelaksanaan Musrenbang Desa, kebutuhan masyarakat.
Kecamatan, dan Kabupaten
sebagai tahap pertama untuk Tahap ini merupakan tahap
merumus­kan masalah kebijak­ penghimpunan data dasar sebagai
an APBD tahun anggaran seca­ pengenalan kebutuhan, permasalahan,
ra berjenjang. dan sumber daya yang dimiliki. Proses
pengidentifikasian kondisi lokal
Musrenbang baik ditingkat desa/
tersebut dilakukan oleh setiap desa/
kelurahan, kecamatan dan kabupaten

56 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

kelurahan yang ada di kabupaten kesepakatan. Nota kesepakatan itu


Sumedang. Musrenbang desa ini disosialisasikan kepada masyarakat
menghasilkan keluaran berupa daftar wilayah kecamatan sebagai bahan
usulan kegiatan masyarakat yang untuk menyelenggarakan musrenbang
dibagi kedalam 2 kategori, yaitu kecamatan dan kepada masyarakat
program pembangunan skala desa sektoral serta SKPD sebagai bahan
yang didanai oleh dana alokasi untuk menyusun rancangan awal Renja
desa (DADU) dan program SKPD.
pembangunan yang menjadi tanggung
Adapun anggaran yang
jawab SKPD.
bersentuhan dengan kepentingan
Program ini dibawa oleh tiga publik terlihat dari pagu Indikatif
orang delegasi musrenbang desa yang Kewilayahan yang merupakan ruang
dipilih di antara peserta musrenbang untuk menjaring partisipasi publik
desa yang kemudian dibahas pada didalam kebijakan anggaran yang
musrenbang ditingkat kecamatan. berkaitan dengan kepentingan publik
Setelah Dokumen itu disahkan oleh di suatu wilayah. Sehingga besar dana
Kepala Desa/Lurah dan disetujui oleh yang terakumulasi didalam pagu
Ketua BPD dan Ketua Delegasi Desa/ Indikatif menunjukan besarnya
kelurahan, dokumen tersebut menjadi anggaran yang diperuntukan bagi
bahan utama Musrenbang Tahunan kepentingan publik.
Wilayah Kecamatan. Peserta
Selanjutnya pada saat
Musrenbang Tahunan di tingkat desa/
musrenbang kecamatan disesuaikan
kelurahan memilih tiga orang
dengan kebutuhan masyarakat yang
Delegasi Masyarakat Desa/Kelurahan
berhasil dijaring pada saat saat
untuk mengikuti Musrenbang
dilaksanakan musrenbang desa. Hasil
Kecamatan. Yang diantaranya harus
kesepakatan ini menjadi bahan yang
menempatkan proporsional 40%
kemudian dibahas dalam musrenbang
untuk delegasi perempuan. Jadi dalam
Kabupaten Sumedang.
tiga delegasi ini terdapat paling tidak
satu orang delegasi perempuan. Secara umum musrenbang di
tingkat desa/kelurahan hingga
Sebelum musrenbang di tingkat
kecamatan berlangsung dengan baik,
kecamatan dimulai, Bappeda
aspirasi masyarakat dapat diserap
merumuskan pagu indikatif baik
dengan baik dan representatif . Hal ini
sektoral maupun kecamatan. Setelah
dapat dilihat dari komposisi peserta
pagu indikatif selesai dirumuskan,
dan pihak-pihak yang terlibat dalam
Bupati menyampaikan pagu indikatif
proses tersebut yang mencakup
tersebut kepada DPRD untuk
berbagai elememen yang dapat
kemudian dibahas bersama dan
dikatakan dapat mewakili semua
selanjutnya dituangkan dalam nota
komponen penting dalam masyarakat

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 57


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

setempat. Jumlah pesertanya juga Musrenbang saat itu merupakan mus­


memadai dan kedudukan masing- ren­bang yang terbuka, transparan dan
masing peserta musyawarah itu aspiratif.
relative sejajar satu sama lainnya dan
Hasil Musrenbang Kecamatan
terlibat secara aktif sejak awal pem­
tersebut menjadi bahan dalam
bahasannya. Kedudukan dan peranan
musrenbang Kabupaten. Musrenbang
desa/kelurahan hanya sebagai fasili­
kabupaten ini dihadiri oleh perwakilan
tator yang sejajar dengan peserta
dari gubernur, unsur Muspika,
lainnya. Waktu penyelenggaraanya
pemerintah kecamatan, perwakilan
juga relative cukup memadai. Dengan
musrenbang desa, dan anggota DPRD.
kondisi demikian dapat diasumsikan
Pada musrenbang ini semua peserta
proses Musrenbang ditingkat desa
tidak terlalu lama membahas hasil
hingga kabupaten berjalan secara
musrenbang kecamatan, peserta lebih
komunikatif, membumi dan ega­
sibuk membicarakan tentang program-
litarian.
program yang akan di bawa pada saat
Musrenbang Kecamatan dihadiri musrenbang provinsi dan musrenbang
oleh unsur Muspika, pemerintah nasional. Sehingga hasil musrenbang
kecamatan, perwakilan musrenbang Kecamatan tidak berbeda dengan
desa, dan anggota DPRD masing- hasil musrenbang Kabupaten.
masing Dapil (Daerah Pemilihan).
Jika dilihat dari proses
Disamping itu terdapat narasumber
pelaksanaanya, musrenbang ditingkat
yang terdiri dari tim panitia anggaran
kecamatan dan kabupaten/kota,
pemerintah daerah Kabupaten Sume­
berbeda dengan musrenbang di tingkat
dang yang diwakili oleh Bappeda,
desa/kelurahan. Jika dilihat dari
perwakilan SKPD Kabupaten Sume­
perspektif keterlibatan atau partisipasi
dang, Camat dan perwakilan dari
masyarakat, pada tingkat ini biasanya
lembaga swadaya masyarakat yang
masyarakat tidak lagi terlibat secara
ada di Kabupaten Sumedang.
aktif, tetapi hanya diwakilkan oleh
Pada acara tersebut, dilakukan orang-orang yang dianggap mewakili
pembahasan mengenai usulan-usulan aspirasi mereka.
program pembangunan yang diusulkan
Mekanisme pemilihan perwakilan
oleh setiap desa serta penetapan pagu
itu di Kabupaten Sumedang biasanya
anggaran untuk setiap program yang
tidak terlalu rumit. Perwakilan itu
telah disepakati. Proses musrenbang
mendapatkan legitimasi kepercayaan
kecamatan ini berlangsung dengan
masyarakat secara formal maupun
tertib dan aman. Para peserta menilai
informal. Orang-orang yang menjadi
musrenbang kecamataan pada saat itu
wakil masyarakat pada saat
sebagai musrenbang yang berbeda
musrenbang adalah tokoh-tokoh
dengan musrenbang yang sebelumnya.
masyarakat yang memiki kedekatan

58 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

yang intens dengan masyarakat dan Saat forum ini diselenggarakan,


memiliki latar belakang yang beragam. semua jajaran muspika hadir, serta
beberapa tokoh masyarakat dan
2. Penyusunan Renja SKPD,
kalangan aktivis lembaga swadaya
RKPD, dan RKA SKPD sebagai
masyarakat yang memiliki konsentrasi
tahap penyusunan agenda
terhadap kebijakan anggaran di
kebijakan APBD
Kabupaten Sumedang. Forum ini
Proses penetapan agenda mensosialisasikan program-program
kebijakan APBD di Kabupaten dari masing-masing SKPD dan pagu
Sumedang, dapat diamati pada saat sektoral yang sudah ditetapkan untuk
penyusunan Rencana Kerja SKPD masing-masing SKPD.
yang kemudian ditetapkan menjadi
Renja SKPD tersebut kemudian
Rencana Kerja Pemerintah Daerah.
menjadi bahan utama didalam Mus­
Pemerintah daerah yang diwakili oleh
ren­bang Kabupaten Sumedang. Mus­
Bappeda memfasilitasi forum SKPD
renbang Kabupaten diikuti oleh unsur-
untuk memproses hasil musrenbang
unsur pemerintah Daerah, Delegasi
Kecamatan untuk menjadi Renja
Musrenbang Wilayah Kecamatan,
SKPD. Proses itu dilakukan setelah
Bappeda Provinsi, dan Kementrian/
nota pagu indikatif kecamatan dan
Lembaga yang terkait. Setelah
pagu Indikatif SKPD disepakati.
musrenbang Kabupaten selesai maka
Dokumen hasil musrenbang Ke­ didapatlah Rencana Kerja Pemerintah
ca­­
matan tersebut disahkan oleh Daerah (RKPD yang kemudian
camat dan disetujui oleh Ketua dele­ diajukan kepada Bupati untuk ditetap­
gasi masyarakat Wilayah Kecamatan, kan oleh peraturan Kepala Daerah.
dan diketahui oleh anggota DPRD
Pada acara tersebut pembahasan
dari wilayah pemilihan Kecamatan
mengenai rencana kerja SKPD tidak
yang bersangkutan, dokumen tersebut
terlalu alot, peserta musrenbang lebih
menjadi bahan utama dalam forum
banyak membahas tentang agenda-
SKPD.
agenda kegiatan yang akan dibawa
Forum SKPD menjadi pertemuan pada tingkat musrenbang provinsi dan
untuk menyortir hasil kompilasi nasional. Sehingga rencana SKPD
usulan kecamatan yang masuk ke tidak mengalami pembahasan yuang
sektor yang menjadi bidang SKPD. cukup lama. Peserta terlihat hanya
Hasilnya yaitu Renja SKPD yang mempertanyakan tentang aspirasi-
disiapkan untuk dibahas didalam aspirasi yang masuk menjadi renja
Musrenbang tingkat kabupaten. SKPD dan RKPD.
Kepala SKPD menggunakan Dokumen
Tahap ini dimulai setelah Bupati
hasil forum SKPD sebagai bahan
menyusun rancangan kebijakan umum
penyempurnaan Rancangan Awal
anggaran untuk berdasarkan pagu
Renja SKPD menjadi Renja SKPD.

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 59


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

indikatif, RKPD dan RKA SKPD. khususnya Forum Delegasi Mus­


Adapun Rancangan KUA tersebut renbang (FDM) dan unsur stakeholders
memuat poin-poin sebagai berikut : lainnya. Biasanya pada tahapan ini
a. uraian kondisi atau prestasi yang terjadi pertarungan kepentingan
telah dicapai pada tahun sebe­ antara aktor-aktor yang terlibat dalam
lumnya dan perkiraan pencapaian perumusan kebijakan. Pertarungan itu
pada tahun anggaran yang akan muncul karena banyaknya aspirasi
datang, masyarakat yang menghilang pada
b. identifikasi masalah dan tan­ saat pembuatan rancangan KUA,
tangan utama yang akan dihadapi serta banyaknya agenda-agenda yang
pada tahun yang akan datang, tidak pernah ada dalam musrenbang
c. identifikasi prioritas-prioritas sengaja dimasukan di dalam rancangan
upaya/cara yang direncanakan KUA untuk kepentingan politis.
untuk menyelesaikan masalah
Namun pada saat konsultasi
atau menjawab tantangan yang
publik yang dilakukan DPRD untuk
mendesak dan berdampak luas
membahas rancangan KUA. relatif
bagi kesejahteraan masyarakat
tidak terjadi perdebatan yang alot
serta mendukung upaya mencip­
antara aktor-aktor pembuat kebijakan
takan kondisi pada RPJMD,
yang hadir pada saat itu, baik DPRD,
d. target/kondisi yang diharapkan
FDM, maupun pemerintah daerah
akan diperoleh/dicapai yang
tidak terlalu berdebat mengenai
dihasilkan dari pelaksanaan
subtasi KUA. Forum Delegasi
program /kegiatan pada tahun
Musrenbang (FDM) melihat adanya
yang akan datang,
kondisi yang positif, menurut mereka
e. kondisi yang telah terjadi dan
pihak DPRD dan Pemerintah Derah
asumsi yang diperkirakan akan
Kabupaten Sumedang memiliki itikad
terjadi untuk mendanai seluruh
baik dengan tidak menghilangkan
pengeluaran.
hasil-hasil kesepakatan musrenbang
Kepala Daerah menyampaikan desa hingga kabupaten. Mereka
rancangan KUA kepada DPRD pada menganggap kebiasan-kebiasaan
pertengahan tahun anggaran berjalan. buruk legislatif dan eksekutif pada
Kemudian Rancangan KUA yang saat menghilangkan hasil-hasil mus­
telah disampaikan Kepala Daerah renbang untuk kepentingan pribadi
dibahas bersama antara DPRD dengan dan golongan tertentu sudah berakhir.
Pemerintah Daerah.
Setelah perdebatan berakhir,
Pada saat pembahasan rancangan rancangan KUA yang telah dibahas
KUA tersebut DPRD menyeleng­ bersama DPRD dan telah dikonsul­
garakan konsultasi publik untuk tasikan kepada publik selanjutnya
mendapat masukan dari masyarakat dibahas oleh fraksi sebelum disepakati

60 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

sebagai Kebijakan Umum Anggaran konsultasi publik ini tidak terdapat


(KUA) perdebatan yang cukup alot, rancangan
PPAS yang telah dibahas dan
3. Penetapan Kebijakan Umum
disepakati DPRD selanjutnya dise­
APBD (KUA) dan Prioritas
pakati menjadi PPA.
dan Plafon Anggaran
Sementara (PPAS) sebagai Prioritas dan Plafon Anggaran
tahap pemilihan alternatif (PPA) ditetapkan oleh Bupati ber­
kebijakan untuk memecahkan dasar­kan PPAS yang telah disepakati
masalah bersama-sama dengan DPRD sebagai
Tahap ini dilakukan sebagai dasar penyusunan rencana kerja dan
upaya memilih alternatif kebijakan anggaran satuan kerja perangkat
yang solutif untuk memecahkan daerah (RKA-SKPD).
berbagai masalah setelah masalah- Kepala SKPD menyusun RKA-
masalah publik didefinisikan dengan SKPD berdasarkan pedoman penyu­
baik serta solusi-solusi permasalahan sun­an RKA SKPD. RKA-SKPD
disepakati didalam agenda kebijakan. disusun dengan menggunakan pende­
Berdasarkan kebijakan umum katan kerangka pengeluaran jangka
yang telah disepakati, Pemerintah menengah daerah, penganggaran
Daerah melakukan Pembahasan terpadu dan penganggaran berdasarkan
prioritas dan plafon penyusunan prestasi kerja. Penyusunan RKA-
Rancangan PPAS untuk. Rancangan SKPD dengan pendekatan kerangka
PPAS tersebut memuat antara lain: pengeluaran jangka menengah dilak­
sanakan dengan menyusun prakiraan
a. skala prioritas untuk urusan wajib
maju yang berisi perkiraan kebutuhan
dan urusan pilihan,
anggaran untuk program dan kegiatan
b. urutan program untuk masing-
yang direncanakan dalam tahun
masing urusan,
anggaran berikutnya dari tahun
c. plafon anggaran sementara untuk anggaran yang direncanakan dan
masing-masing program. merupakan implikasi kebutuhan dana
PPAS tersebut disampaikan untuk pelaksanaan program dan
Bupati kepada DPRD untuk dibahas. kegiatan tersebut.
Pembahasan tersebut dilakukan oleh RKA-SKPD memuat rencana
TAPD bersama Panitia Anggaran pendapatan, belanja untuk masing-
DPRD. Dalam pembahasan rancangan masing program dan kegiatan menurut
PPAS, DPRD menyelenggarakan fungsi untuk tahun yang direncanakan
konsultasi publik untuk mendapat dirinci sampai dengan rincian objek
masukan dari masyarakat khususnya pendapatan, belanja dan pembiayaan
Forum Delegasi Musrenbang dan serta prakiraan maju untuk tahun
unsur stakeholders lainnya. Pada berikutnya. RKA-SKPD yang telah

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 61


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

disusun oleh kepala SKPD di­ 4. Penetapan Rancangan Ang­


sampaikan kepada PPKD untuk garan Pendapatan dan Belanja
dibahas oleh tim anggaran pemerintah Daerah (APBD) menjadi APBD
daerah. Pembahasan itu dilakukan sebagai tahap penetapan
untuk menelaah kesesuaian antara kebijakan anggaran
RKA SKPD dengan KUA, PPAS, Untuk melakukan pembahasan
prakiraan maju yang telah disetujui rancangan peraturan daerah tentang
pada tahun sebelumnya, dan dokumen APBD DPRD menyelenggarakan
perencanaan lainnya, serta capaian konsultasi publik agar mendapat
kinerja, indikator kinerja, analisis masukan dari masyarakat khususnya
standar belanja, standar satuan harga, Forum Delegasi Musrenbang (FDM)
dan standar pelayanan minimal. dan unsur stakeholder lainnya.
PPKD menyusun rancangan Konsultasi tersebut dilakukan untuk
peraturan daerah tentang APBD meminta saran dari berbagai kalangan
berikut dokumen pendukung berda­ terhadap rancanagan APBD.
sarkan RKA SPKD yang telah ditelaah Berdasarkan hasil konsultasi
oleh tim anggaran pemerintah daerah. publik tersebut, Rancangan APBD
Dokumen pendukung Itu terdiri atas Kabupaten Sumedang sudah sesuai
nota keuangan dan rancangan APBD. dengan aspirasi masyarakat, karena
Rancangan peraturan daerah menurut FDM rancangan APBD
tentang APBD yang telah disusun tersebut telah mengakomodir semua
oleh PPKD disampaikan kepada aspirasi masyarakat yang sudah
Bupati DPRD yang sebelumnya didapatkan dari tingkat desa hingga
disosialisasikan kepada masyarakat. tingkat kabupaten. FDM dan berbagai
Penyebarluasan rancangan peraturan stakeholder lainnya hanya meng­
daerah tentang APBD dilaksanakan ingatkan kembali pemerintah untuk
oleh sekretaris daerah selaku koor­ lebih konsisten dalam menjalankan
dinator pengelolaan keuangan daerah. rancangan tersebut bila sudah ditetap­
Setelah itu Bupati menyampaikan kan menjadi APBD. Jangan sampai
rancangan peraturan daerah tentang terjadi berbagai perkeliruan pada saat
APBD kepada DPRD disertai implementasi kebijakan tersebut,
penjelasan dokumen pendukungnya sehingga semua aspirasi masyarakat
untuk dibahas dalam rangka mem­ dapat terwujud dan masyarakat tidak
peroleh persetujuan bersama. lagi drugikan oleh ulah pejabat yang
korup.

Setelah konsultasi publik selesai


dilakukan, tim anggaran pemerintah
daerah Kabupaten Sumedang
melaporkan kemajuan yang terjadi

62 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

selama pembahasan Raperda APBD di 2007. Dimulai dengan musrenbang


hadapan seluruh anggota DPRD desa, kecamatan dan kabupaten
Kabupaten Sumedang, Gubernur, dan sebagai bagian dari proses perumusan
tim asistensi eksekutif. Dalam laporan masalah kebijakan anggaran secara
singkatnya ketua tim anggran berjenjang; penetapan renja SKPD
pemerin­tah daerah melaporkan kema­ sebelum musrenbang kabupaten dan
juan-kemajuan yang terjadi ketika penetapan RKPD dan KUA sebagai
pembahasan Raperda APBD, mulai bagian dari penetapan agenda kebi­
dari saat Raperda ini masuk ke DPRD jakan anggaran; Penetapan PPAS dan
kemudian kembali dirumuskan oleh pembuatan rancangan APBD; serta
tim. Adapun kemajuan-kemajuan penetapannya menjadi kebijakan
yang disampaikan oleh ketua tim ang­ APBD. Perda ini telah membuat
garan pemerintah daerah adalah mulai terobosan baru dalam proses peru­
adanya kejelasan untuk pengalokasiaan musan kebijakan APBD dengan
anggaran setelah adanya pagu indi­ dilembagakannya Forum Delegasi
katif kecamatan maupun SKPD Musrenbang (FDM) dan diterapkannya
sehingga pembahasan Raperda APBD pagu indikatif kewilayahan dan pagu
tidak terlalu menghabiskan waktu indikatif sektoral. Luasnya partisipasi
yang terlalu lama, karena tidak ada masyarakat dan keterbukaan proses
bagian Raperda APBD tahun anggaran perumusan kebijakan anggaran meru­
yang harus dirubah. pakan awal yang positif untuk mem­
bentuk good governance pada peme­
Laporan singkat tersebut
rintah Daerah Kabupaten Sumedang.
ditanggapi melalui penyampaian
pandangan akhir fraksi. Pandangan Sebelum musrenbang kecamatan
akhir itu berisikan pandangan akhir berakhir, Pagu indikatif Kecamatan
fraksi tentang Raperda APBD. Semua ditetapkan di dalam musrenbang
fraksi memutuskan untuk menerima kecamatan, sedangkan pagu indikatif
sepenuhnya raperda APBD dan sektoral ditetapkan sebelumnya
memutuskan agar Raperda APBD melalui perhitungan yang sudah
segera di sahkan sebagai APBD. ditentukan. Dampak yang terasa dari
adanya pagu indikatif kecamatan dan
sektoral adalah transpormasi pola
SIMPULAN DAN SARAN
musrenbang dari penyaluran aspirasi
Simpulan keinginan menjadi kebutuhan, adanya
kejelasan anggaran untuk masyarakat,
memudahkan pengawasan terhadap
Proses Perumusan Kebijakan
implementasi program pemerintah
Anggran Pendapatan dan Belanja
sehingga angaran mengalir langsung
Daerah di Kabupaten Sumedang
pada masyarakat.
diatur berdasarkan Perda No 1 tahun

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 63


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

Saran Hoessein, Bhenjamin, dkk. 2005.


Naskah Akademik Tata
Keterbukaan dan pola akomodatif Hubungan Kewenangan Peme­
yang luas terhadap partisipasi rin­tah Pusat dan Daerah. Jakarta:
masyarakat dalam perumusan Pusat Kajian Pembangunan
kebijakan harus tetap dipertahankan Administrasi Daerah dan Kota,
FISIP UI.
karena hal itu dapat meminimalisir
penyimpangan-penyimpangan yang Islamy, Irfan. 2004. Prinsip-Prinsip
biasa terjadi dalam perumusan Perumusan Kebijakan Negara.
anggaran daerah Kabupaten Jakarta : Bina Aksara.
Sumedang. Hal ini merupakan awal Kaho, Josep Riwu. 1997. Prospek
yang positif dalam upaya membangun Otonomi Daerah di Republik
good governance pada pemerintahan Indonesia. JAKARTA: Raja
Kabupaten Sumedang. Grafindo.
Koentjaraningrat,1982. Metode-
Metode Penelitian Masyarakat,
DAFTAR PUSTAKA Jakarta. Gramedia.
Kusumanegara, Solahudin. 2010.
Alexander, Abe. 2005. Perencanaan Model dan Aktor dalam Proses
Daerah Partisipatif. Pembaruan. Kebijakan Publik. Yogyakarta:
Yogyakarta. Gava Media
Arikunto, Suharsimi. Prosedur M. Nazir. 2005. Metodologi penelitian.
Penelitian Suatu Pendekatan Bogor: Ghalia Indonesia.
Praktik. 2006. Jakarta: Rineka Maschab, Mashuri. 1993. Kekuasaan
Cipta. Legislatif di Indinesia. Jakarta :
Bidiarjo, Miriam. 1989. Dasar-dasar Bina Aksara.
Ilmu Politik. Jakarta : Raja Sanit, Arbi. 1985. Perwakilan Politik
Grafindo. di Indonesia. Jakarta: PT.
Bratakusumah, Deddy Supriady & Rajawali.
Riyadi. 2005. Perencanaan Pem­ Sarundajang. 2000. Arus Balik
bangunan Daerah. Jakarta: PT. Kekuasaan Pusat ke Daerah.
Gramedia Pustaka Utama. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Dunn, William N. 2003 Pengantar Silalahi, Ulbert. 2006. Metode
Analisis Kebijakan Publik. Penelitian Sosial. Bandung :
Yogyakarta: Gajah Mada UNPAR PRESS
University Press.
Soejito, Irawan. 1989. Teknik Membuat
Furchan, Arif. 1992. Pengantar Peraturan Daerah. Jakarta : Bina
Metode Penelitian Kualitatif. Aksara.
Surabaya : PT. Usaha Nasional.

64 | CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016


Jurnal Ilmu Pemerintahan | ISSN 2442-5958

Soekanto, Soerjono,2002. Sosiologi: Syafrudin, Ateng. 1991. DPRD


Suatu Pengantar, Jakarta. PT. (Dewan Perwakilan Rakyat
Raja Grafindo Persada. Daerah)Dari Masa ke Masa.
Solaeman, M. Munandar, 1986. Ilmu Bandung : Mandar Maju.
Sosial Dasar Teori dan Konsep Syafrudin, Ateng. 1991. Hubungan
Ilmu Sosial, Bandung: PT Eresco Kepala Daerah Dengan DPRD.
Subarsono, AG. 2006. Analisis Bandung : Tarsito.
Kebijakan Publik Konsep Teori Wasistiono, Sadu. 2001. Etika
dan Aplikasi. Yogyakarta : Hubungan Eksekutif-Legislatif
Pustaka Pelajar. dalam Rangka Otonomi Daerah.
Sugiyono. 2007. Memahami Penelitian Bandung : Pusat Kajian STPDN.
Kualitatif. Bandung: ALFABETA Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses
Suparmoko, M. 2000. Keuangan Kebijakan Publik. Yogyakarta :
Negara Dalam Teori dan Praktek. Media Pressindo.
BPFE Yogyakarta. Yogyakarta.
Surakhmad, Winarno. 1991.
Pengantar Penulisan Ilmiah
Dasar, Metode dan Teknik.
Bandung : Tarsito.

CosmoGov, Vol. 2 No. 1, April 2016 | 65