Anda di halaman 1dari 57

MAKALAH KEPERAWATAN HIV/AIDS

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN


PADA PASIEN DENGAN HIV/AIDS

OLEH :
KELOMPOK 3 B11-A

1. Made Surya Mahardika (18.322.29120)


2. Ni Nengah Juniarti (18.322.29121)
3. Ni Kadek Rai Widiastuti (18.322.2922)
4. Ni Kadek Sintha Yuliana Sari (18.322.2923)
5. Ni Kadek Yopi Anita (18.322.2924)
6. Ni Ketut Ari Pratiwi (18.322.2925)
7. Ni Ketut Nanik Astari (18.322.2926)
8. Ni Ketut Vera Parasyanti (18.322.2927)

PROGRAM ALIH JENJANG S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
2019

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga makalah ini bisa selesai tepat
pada waktunya.Adapun tujuan dari penyusunan makalah dengan judul “Laporan
Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan HIV/AIDS” untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah tentang Keperawatan HIV/AIDS
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dan mendukung dalam penyusunan makalah ini. Penulis sadar makalah
ini belum sempurna dan memerlukan berbagai perbaikan, oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat dibutuhkan. Akhir kata, semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak.

Denpasar, 25 April 2019

Penulis

DAFTAR ISI

ii
Kata Pengantar...........................................................................................................ii
Daftar Isi ...................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................. 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar HIV/AIDS........................................................................................
2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan HIV/AIDS..............................
BAB III KASUS ASUHAN KEPEAWATAN HIV/AIDS
3.1 Pengkajian...............................................................................................................
3.2 Analisa Data..............................................................................................................
3.3 Diagnosa..................................................................................................................
3.4 Intervensi Keperawatan...........................................................................................
3.5 Implementasi Keperawatan......................................................................................
3.6 Evaluasi Keperawatan..............................................................................................
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .............................................................................................................
4.2 Penutup.....................................................................................................................

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Orang yang terkena virus HIV/AIDS ini akan menjadi rentan terhadap infeksi
oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Penyakit AIDS ini telah menyebar ke berbagai
negara di dunia. Bahkan menurut UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah
membunuh lebih dari 25 juta jiwa sejak pertama kali diakui tahun 1981, dan ini membuat
AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan pada sejarah. Meskipun baru
saja, akses perawatan antiretrovirus bertambah baik di banyak region di dunia, epidemik
AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup pada tahun 2005
dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak. Secara global, antara 33,4
dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV.Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang
terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang dengan AIDS meninggal dunia, peningkatan
dari 2003 dan jumlah terbesar sejak tahun 1981.
Di Indonesia menurut laporan kasus kumulatif HIV/AIDS sampai dengan 31
Desember 2011 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI tanggal 29 Februari
2012 menunjukkan jumlah kasus AIDS sudah menembus angka 100.000. Jumlah kasus
yang sudah dilaporkan 106.758 yang terdiri atas 76.979 HIV dan 29.879 AIDS dengan
5.430 kamatian. Angka ini tidak mengherankan karena di awal tahun 2000-an kalangan
ahli epidemiologi sudah membuat estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia yaitu berkisar
antara 80.000 – 130.000. Dan sekarang Indonesia menjadi negara peringkat ketiga, setelah
Cina dan India, yang percepatan kasus HIV/AIDS-nya tertinggi di Asia.
TB ( Tubrkulosis ) merupakan salah satu infeksi oportunistik tersering menyerang
pada orang dengan HIV/AIDS di Indonesia. Infeksi HIV/AIDS memudahkan terjadinya
infeksi mycobacterium tuberculosis. Penderita HIV/AIDS mempunyai resiko lebih besar
menderita TB di bandingkan dengan non-HIV/AIDS. Resiko HIV/AIDS untuk menderita
TB adalah 10% per tahun, sedangkan yang non-HIV/AIDS resiko menderita TB hanya
10% seumur hidup. Di Amerika Serikat di laporkan angka kejadian TB dengan infeksi
menurun, 4,4 kasus baru per 100.000 populasi ( total 13,299 kasus ) pada tahun 2007. Di
RSU Dr.Soetomo dilaporkan sebanyak 25-83 %. Sementara Raviglione, dkk menyebutkan
bahwa TB merupakan penyebab kematian tersering pada orang penderita HIV/AIDS. Di
mana WHO memperkirakan TB sebagai penyebab kematian 13% dari penderita AIDS.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana konsep dasar penyakit HIV/AIDS?
1.2.2 Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS?
1.2.3 Bagaimana contoh kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui konsep dasar penyakit HIV/AIDS.
1.3.2 Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS
1.3.3 Untuk mengetahui contoh asuhan keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Manfaat teoritis dari penyusunan makalah ini agar mahasiswa memperoleh
pengetahuan tambahan dan dapat mengembangkan wawasan mengenai laporan
pendahuluan dan asuhan keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS
1.4.2 Manfaat praktis dari penyusunan makalah ini agar para pembaca mengetahui
bagaimana cara untuk menyusun sebuah laporan pendahuluan dan asuhan
keperawatan pada pasien dengan HIV/AIDS dan dapat menerapkannya dalam
melakukan tindakan keperawatan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Penyakit
2.1.1 Pengertian
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang melemahkan
sistem kekebalan tubuh atau perlindungan tubuh manusia. Virus inilah yang menyebabkan
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) (Brooks, 2004).
Acquired Immune Deficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala
penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Virus HIV
ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan sperma, cairan vagina dan air
susu ibu. Virus tersebut merusak kekebalan tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya
atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi. (Nursalam,
2007).
AIDS singkatan dari Acquired Immuno Defeciency Syndrome. Acquired berarti
diperoleh karena orang hanya menderita bila terinfeksi HIV dari orang lain yang sudah
terinfeksi. Immuno berarti sistem kekebalan tubuh, Defeciency berarti kekurangan yang
menyebabkan rusaknya sistem kekebalan tubuh dan Syndrome berarti kumpulan gejala
atau tanda yang sering muncul bersama tetapi mungkin disebabkan oleh satu penyakit atau
mungkin juga tidak yang sebelum penyebabnya infeksi HIV ditemukan. Jadi AIDS adalah
kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan system kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh virus yang disebut HIV (Gallant. J 2010).
Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit,
karena sistem kekebalan di dalam tubuhnya telah menurun. Sampai sekarang belum ada
obat yang dapat menyembuhkan AIDS, agar kita dapat terhindar dari HIV/AIDS maka kita
harus tahu bagaimana cara penularan dan pencegahannya (Ridha, 2014).
2.1.2 Etiologi
Penyebabnya adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency
virus (HIV).HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut
HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2.
HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1.Maka untuk
memudahkan keduanya disebut HIV.
AIDS disebabkan agent virus HIV yang masuk melalui darah dan semua cairan
tubuh (semen, ludah, sekret vagina, urine, ASI dan air mata). Virus ini masuk kedalam
pembuluh darah kemudian menyerang sel darah putih jenis Lymphosit tepatnya sel T
helper CD 4. penularan HIV / AIDS dapat terjadi melalui cara sebagai berikut :
1. Hubungan seksual (homoseksual, biseksual dan hetero-seksual) yang tidak aman
2. Partner seks dari penderita HIV/AIDS.
3. Penerima darah atau produk darah (transfusi) yang tercemar HIV.
4. Penggunaan jarum suntik, tindik, tattoo, pisau cukur, dll yang dapat menimbulkan
luka yang tidak disterilkan secara bersama-sama dipergunakan dan sebelumnya
telah dipakai orang yang terinfeksi HIV. Cara-cara tersebut dapat menularkan HIV
karena terjadi kontak darah.
5. Ibu positif HIV kepada bayi yang dikandungnya. Cara penularan ini dapat terjadi
saat:
a. Antenatal, yaitu melalui plasenta selama bayi dalam kandungan.
b. Intranatal, yaitu saat proses persalinan, dimana bayi terpapar oleh darah ibu atau
cairan vagina
c. Postnatal, yaitu melalui air susu ibu.
2.1.3 Patofisiologi
Virus masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui perantara darah, semen dan
secret Vagina. Sebagaian besar (75%) penularan terjadi melalui hubungan seksual.
HIV tergolong retrovirus yang mempunyai materi genetic RNA. Bilaman virus masuk
kedalam tubuh penderita (sel hospes), maka RNA virus diubah menjadi
oleh ensim reverse transcryptase yang dimiliki oleh HIV . DNA pro-virus tersebut
kemudian diintegrasikan kedalam sel hospes dan selanjutnya diprogramkan untuk
membentuk gen virus.
Setelah virus memasuki tubuh, virus akan menginfeksi sel yang mempunyai
molekul CD4. Kelompok terbesar yang mempunyai molekul CD4 adalah limfosit T4 yang
mengatur reaksi sistem kekebalan manusia. Sel-sel target lain adalah monosit, makrofag,
sel Langerhans pada kulit, sel dendrit folikuler pada kelenjar limfe, makrofag pada alveoli
paru, sel retina, sel serviks uteri dan sel-sel mikroglia otak Virus yang masuk kedalam
limfosit T4 selanjutnya mengadakan replikasi sehingga menjadi banyak dan akhirnya
menghancurkan sel limfosit itu sendiri.
Setelah mengikat molekul CD4 melalui transkripsi terbalik. Beberapa DNA yang
baru terbentuk saling bergabung dan masuk ke dalam sel target dan membentuk provirus.
Provirus dapat menghasilkan protein virus baru, yang bekerja menyerupai pabrik untuk
virus-virus baru. Sel target normal akan membelah dan memperbanyak diri seperti
biasanya dan dalam proses ini provirus juga ikut menyebarkan anak-anaknya. Secara
klinis, ini berarti orang tersebut terinfeksi untuk seumur hidupnya.
Siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sampai sel yang terinfeksi
diaktifkan. Aktifasi sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen, mitogen, sitokin
(TNF alfa atau interleukin 1) atau produk gen virus seperti sitomegalovirus (CMV), virus
Epstein-Barr, herpes simpleks dan hepatitis. Sebagai akibatnya, pada saat sel T4 yang
terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan
dihancurkan. HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas ke dalam plasma darah dan
menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya. Karena proses infeksi dan pengambil alihan sel T4
mengakibatkan kelainan dari kekebalan, maka ini memungkinkan berkembangnya
neoplasma dan infeksi opportunistik.
Sesudah infeksi inisial, kurang lebih 25% dari sel-sel kelenjar limfe akan terinfeksi
oleh HIV pula. Replikasi virus akan berlangsung terus sepanjang perjalanan infeksi HIV;
tempat primernya adalah jaringan limfoid. Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan
dengan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi tersebut. jika orang tersebut tidak
sedang menghadapi infeksi lain, reproduksi HIV berjalan dengan lambat. Namun,
reproduksi HIV tampaknya akan dipercepat kalau penderitanya sedang menghadapi infeksi
lain atau kalau sistem imunnya terstimulasi. Keadaan ini dapat menjelaskan periode laten
yang diperlihatkan oleh sebagian penderita sesudah terinfeksi HIV. Sebagian besar orang
yang terinfeksi HIV (65%) tetap menderita HIV/AIDS yang simptomatik dalam waktu 10
tahun sesudah orang tersebut terinfeksi.
Kejadian awal yang timbul setelah infeksi HIV disebut sindrom retroviral akut atau
Acute Roviral Syndrome. Sindrom ini diikuti oleh penurunan CD4 (Cluster Differential
Four) dan peningkatan kadar RNA Nu-HIV dalam plasma. CD4 secara perlahan akan
menurun dalam beberapa tahun dengan laju penurunan CD4 yang lebih cepat pada 1,5 –
2,5 tahun sebelum pasien jatuh dalam keadaan AIDS. Viral load ( jumlah virus HIV dalam
darah ) akan cepat meningkat pada awal infeksi dan kemudian turun pada suatu level titik
tertentu maka viral load secara perlahan meningkat. Pada fase akhir penyakit akan
ditemukan jumlah CD4 < 200/mm3 kemudian diikuti timbulnya infeksi oportunistik, berat
badan turun secara cepat dan muncul komplikasi neurulogis. Pada pasien tanpa pengobatan
ARV rata – rata kemampuan bertahan setelah CD4 turun < 200/mm3 adalah 3,7 tahun.
(DEPKES RI,2003)

2.1.4 Tahap Perjalanan HIV


Perjalanan infeksi HIV, jumlah limfosit T-CD4, jumlah virus dan gejala klinis
melalui 3 fase.
1. Fase infeksi akut (Acute Retroviral Syndrome)
Setelah HIV menginfeksi sel target, terjadi proses replikasi yang menghasilkan
virus-virus baru (virion) jumlah berjuta-juta virion. Begitu banyaknya virion tersebut
memicu munculnya sindrom infeksi akut dengan gejala yang mirip sindrom
semacam flu. Diperkirakan bahwa sekitar 50 sampai 70% orang yang terinfeksi HIV
mengalami sindrom infeksi akut(ARS) selama 3 sampai 8 minggu setelah terinfeksi
virus dengan gejala umum yaitu demam, faringitis, limfadenopati, mialgia, malaise,
nyeri kepala diare dengan penurunan berat badan. HIV juga sering menimbulkan
kelainan pada sistem saraf. Pada fase akut terjadi penurunan limfosit T (CD4) yang
dramatis yang kemudian terjadi kenaikan limfosit T karena mulai terjadi respon
imun. Jumlah limfosit T-CD4 pada fase ini di atas 500 sel/mm3 dan kemudian akan
mengalami penurunan setelah 8 minggu terinfeksi HIV.
2. Fase infeksi laten
Pembentukan respon imun spesifik HIV dan terperangkapnya virus dalam Sel
Dendritik Folikuler (SDF) dipusat perminativum kelenjar limfe menyebabkan virion
dapat dikendalikan, gejala hilang dan mulai memasuki fase laten (tersembunyi). Pada
fase ini jarang ditemukan virion di plasma sehingga jumlah virion di plasma
menurun karena sebagian besar virus terakumulasi di kelenjar limfe dan terjadi
replikasi di kelenjar limfe sehingga penurunan limfosit T terus terjadi walaupun
virion di plasma jumlahnya sedikit. Pada fase ini jumlah limfosit T-CD4 menurun
hingga sekitar 500 sampai 200 sel/mm3. Meskipun telah terjadi sero positif individu
umumnya belum menunjukan gejala klinis (asintomatis) fase ini berlangsung sekitar
rata-rata 8-10 tahun (dapat juga 5-10 tahun).
3. Fase infeksi kronis
Selama berlangsungnya fase ini, didalam kelenjar limfe terus terjadi replikasi
virus yang diikuti kerusakan dan kematian SDF karena banyaknya virus. Fungsi
kelenjar limfe sebagai perangkap virus menurun atau bahkan hilang dan virus
dicurahkan kedalam darah. Pada fase ini terjadi peningkatan jumlah virion secara
berlebihan didalam sirkulasi sitemik respon imun tidak mampu meredam jumlah
virion yang berkebihan tersebut. Limfosit semakin tertekan karena intervensi HIV
yang semakin banyak. Terjadi penurunan limfosit T ini mengakibatkan sistem imun
menurun dan pasien semakin rentan terhadap berbagai macam penyakit infeksi
sekunder. Perjalanan penyakit semakin progesif yang mendorong ke arah AIDS,
infeksi sekunder yang sering menyertai adalah penomonia, TBC, sepsi, diare, infeksi
virus herpes, infeksi jamur kadang-kadang juga ditemukan beberapa jenis kanker
yaitu kanker kelenjar getah bening. (Nasruddin, 2007)
2.1.5 Pathway

Transmisi HIV ke dalam tubuh melalui


darah, cairan vagina/sperma ASI / cairan
tubuh ibu yg infeksius
Terbentuk virus - virus HIV yang baru
dalam tubuh
Pengikatan gp120 HIV dengan reseptor
Defisiensi Kurangnya membran T Helper + CD4
pengetahuan pajanan
informasi Replikasi perkembangan HIV dalam Reaksi antigen
Fusi / peleburancairan tubuhvirus dengan
membran antibodi
membran sel T Helper + CD4
Ggn proses
keluarga Perubahan status
kesehatan Imunosupresi Gangguan konsep diri Pelepasan
Enzim reverse transcriptase mediator kimiawi
RNA HIV  cDNA (pirogen)
Ansietas Cemas Organ target Hambatan interaksi sosial

Enzim integrase
cDNA masuk ke inti sel T Helper Hipotalamus
Gastrointestinal Dermatologi Neurologi Respiratori
Transkripsi mRNA dan translasi
menghasilkan protein struktural virus Peningkatan suhu
Ggn citra thermostat
Infeksi jamur Terdapat ruam, Menyerang Infeksi paru
tubuh vesikula, kulit SSP, perifer, (TBC,
kering dan Enzim
pecah- protease autonom pneumonia)
pecah RNA virus dengan
Merangkai Demam
Kerusakan Candida protein-protein yang baru dibentuk
membrane pada organ Neuropati Menghasilk
perifer an mukus Hipertermia
mukosa oral pencernaan
Kerusakan Kerusakan
Integritas barier tubuh
Kulit
Lesi pada Penurunan Diare terus Invasif Kelemahan, Penumpukan
mulut, intake cairan menerus Bakteri mati rasa sekret di jalan
esophagus pada napas
dan lambung ekstremitas,
hipotensi
Risiko Infeksi ortostatik Tidak dapat
mengeluarkan
Kekurangan sekret
Volume Cairan
Penurunan Mengenai Kehilangan
nafsu makan ujung saraf keseimbangan Obstruksi jalan
nyeri saat bangun napas

Penurunan Saraf aferen Kornu Otak Risiko Jatuh


intake nutrisi dorsalis
Penurunan O2 Ke
Paru-paru
Saraf eferen Peningkatan RR
Mudah lelah Ketidakefektifan
Penurunan Penurunan massa Bersihan Jalan Kompensasi tubuh
BB otot dan energi Napas Dispnea
Persepsi
Keletihan nyeri
Penurunan suplai O2 Ketidakefektifan
Ketidakseimbangan Nyeri Akut ke tubuh Pola Napas
Peningkatan
nutrisi: kurang dari ventilasi
kebutuhan tubuh
Kelemahan umum

Intoleransi
Aktivitas
2.1.6 Manifestasi Klinis
1. Stadium 1 : Periode Jendela
Sejak HIV masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan gejala yang sangat sulit dikenal
karena menyerupai gejala influenza saja, berupa demam, rasa letih, nyeri otot dan sendi,
nyeri telan. Rentang waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibody
terhadap HIV menjadi positif disebut periode jendela, lama periode jendela antara 3-8
minggu bahkan ada yang berlangsung sampai 6 bulan.
a. Asimtomatis
b. Limfadenopati Meluas Persistent
c. Skala Aktivitas I: asimtomatis, aktivitas normal
d. Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
e. Test HIV belum dapat mendeteksi keberadaan virus ini
2. Stadium 2 : HIV Positif (tanpa gejala)
Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak
menunjukan gejala – gejala. Penderita tampak sehat tetapi jika diperiksa darahnya akan
menunjukan sero positif kelompok ini sangat berbahaya karena dapat menularkan HIV
ke orang lain.
a. Berat badan menurun <10% dari BB semula
b. Kelainan kulit dan mukosa ringan seperti dermatitis seboroik, infeksi jamur kuku,
ulkus oral yang rekuren, Cheilitis angularis
c. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
d. Infeksi saluran napas bagian atas seperti sinusitis bakterial
e. Skala Aktivitas 2: simtomatis, aktivitas normal
f. Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk
antibodi terhadap HIV
g. Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya
(rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek).
3. Stadium 3 : HIV Positif (muncul gejala)
Pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata (Persistent Generalized
Lymphadenopathy) tidak hanya muncul pada satu tempat saja dan berlangsung lebih 1
bulan biasanya disertai demam, diare, berkeringat pada malam hari, lesu dan berat
badan menurun pada kelompok ini sering disertai infeksi jamur kandida sekitar mulut
dan herpes zoster.
a. Berat badan menurun >10% dari BB semula
b. Diare kronis yang berulang
c. Demam tanpa sebab yang jelas yang (intermiten atau konstan) > 1 bulan
d. Kandidiasis Oral (thrush)
e. Hairy leukoplakia oral
f. TB paru, dalam 1 tahun terakir
g. Infeksi bakteri berat (pnemonia, pyomiositis)
h. Sistem kekebalan tubuh semakin turun
i. Skala Aktivitas 3: selama 1 bulan terakir tinggal di tempat tidur <50%
4. Stadium 4 : AIDS
Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit antara penyakit saraf dan
penyakit infeksi sekunder. Gejala klinis pada satdium AIDS dibagi antara lain :
a. Gejala utama atau mayor
1) Diare kronis lebih dari 1 bulan berulang maupun terus menerus.
2) HIV wasting syndrome (BB turun 10% ditambah diare kronik > 1 bln atau demam
>1 bln yg tidak disebabkan penyakit lain)
3) Penurunan kesadaran dan gangguan neorologis.
4) Ensepalopati HIV.
b. Gejala tambahan atau minor
1) Batuk kronis selama lebih dari 1 bulan.
2) Infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur kandida albicans.
3) Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita.
4) Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap diseluruh tubuh.
5) Munculnya herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal diseluruh tubuh.
(Nursalam, 2007).
Manifestasi klinik AIDS berdasarkan sistem organ yang terinfeksi:
Manifestasi-manifestasi klinik AIDS
No Kemungkinan penyebab Kemungkinan efek
1. Manifestasi oral
Lesi-lesi karena: candida, herpes simpleks, Nyeri oral mengarah pada kesulitan
sarcoma kaposi’s; kutil papilomavirus oral, mengunyah dan menelan, penurunan
ginginitis peridontitis masukan cairan dan nutrisi,
HIV; leukoplakia oral dehidrasi, penurunan berat badan dan
keletihan, cacat.
2 Manifestasi neurologic
a. Kompleks dimensia AIDS karena:  Perubahan kepribadian, kerusakan
serangan langsung HIV pada sel-sel syaraf kognitif, konsentrasi dan penilaian
 Kerusakan kemampuan motorik
 Kelemahan; perlu bantuan dengan
ADL atau tidak mampu
melakukan ADL
 Tidak mampu untuk berbicara atau
mengerti
 Paresis/plegia
 Inkontinensia urin
 Ketidak mapuan untuk mematuhi
regimen medis
 Ketidakmampuan untuk bekerja
 Isolasi sosial
b. Enselofati akut karena  Sakit kepala
 Reaksi obat-obat terapeutik,  Malaise
 Takar lajak obat  Demam
 Hipoksia  Paralysis total atau parsial;
 Hipoglikemi karena pankreatitis kehilangan kemampuan kognisi,
akibat obat ingatan, penilaian, orientasi atau
 Ketidakseimbangan elektrolit afek yang sesuai, penyimpangan
 Meningitis atau ensefalitis yang sensorik; kejang, koma dan
diakibatkan oleh cryptococus, virus kematian
herpes simpleks, sitomegalovirus,
mycobacterium tuberculosis, sifilis,
candida, toxoplasma gondii
 Limfoma
 Infark serebral akibat vaskulitis,
sifilis meningovaskuler, hipotensi
sistemik, maranik endokarditis
c. Neuropati karena inflamasi demielinasi Kehilangan kontrol motorik; ataksia,
diakibatkan serangan HIV langsung, reaksi kebas bagian perifer, kesemutan, rasa
obat, lesi sarcoma kaposi’s terbakar, depresi refleks,
ketidakmampuan untuk bekerja,
isolasi sosial

3 Manifestasi gastrointestinal
a. Diare  Penurunan berat badan, anoreksia,
cryptosporidium, isopora belli,  Demam; dehidrasi, malabsorpsi
microsporidum, sitomegalovirus, virus (malaise, kelemahan dan
herpes simpleks, mycobacterium avium keletihan)
intacelulare, strongiloides stercoides,  Kehilangan kemampuan utuk
enterovirus, adenovirus, salmonella, melakukan funsi sosial karena
shigella, campylobacter, vibrio ketidakmampuan meninggalkan
parahaemiliticus, candida, histoplasma rumah
capsulatum, giardia, entamoba
histolytica, pertumbuhan cepat flora
normal, limfoma dan sarcoma kaposi’s
b. Hepatitis Anoreksia, mual, muntah, nyeri
mycobacterium avium intacelulare, abdomen, ikterik, demam, malaise,
cryptococus, sitomegalovirus, kemerahan, nyeri persendia,
histoplasma, coccidiomycosis, keletihan(hepatomegali, gagal
microsporidum, virus epsten-barr, virus- hepatic,kematian)
virus hepatitis(A, B, C, D) dan E,
limfoma, sarcoma kaposi’s, penggunaan
obat illegal, penggunaan alcohol,
penggunaan obat golongan sulfa
c. disfungsi biliari Nyeri abdomen, anoreksia, mual dan
kolangitis akibat sitimegalovirus dan muntah ikterik
cryptosporidium: limfoma dan sarcoma
kaposi’s
d. penyakit anorectal Eliminasi yang sulit dan sakit, nyeri
karena abses dan fistula, ulkus dan rectal, gatal-gatal, diare
inflamasi perianal yang diakibatkan dari
infeksi oleh chlamydia,
lymphogranulum venereum, gonore,
sifilis, shigella, campylobacter, M
tuberculosis, herpes simpleks, candida,
herpes simpleks, sitomegalovirus,
obstruksi candida albicans karena
limfoma sarcoma kaposi’s; kutil
papilomavirus
4 Manifestasi respiratori
Infeksi Napas pendek, batuk, nyeri (hipoksia,
Pneumocytis carinii, mycobacterium intoleransi aktifitas, keletihan; gagal
avium intacelulare, M tuberculosis, respiratori, kematian)
candida , Chlamydia, histoplasma
capsulatum, toxoplasma gondii,
coccidiodes immitis, Cryptococcus
neoforms, sitomegalovirus, virus-virus
influenza, pneumococcus,
strongyloides
Limfoma dan sarcoma kaposi’s Napas pendek, batuk, nyeri(hipoksia,
intoleransi aktifitas, keletihan; gagal
respiratori, kematian)
5 Manifestasi dermatologic
 Lesi-lesi kulit stafilokokus Nyeri, gatal-gatal, rasa terbakar, infeksi
(bullous impetigo, etkima, sekunder dan sepsis, cacat dan
folikulitis), perubahan citra diri
 Lesi-lesi virus herpes simpleks
(oral, fasial, anal dan
vulvovaginal)
 Herpes zoster
 Lesi-lesi miobakteri kronik
timbul diatas nodus-noduls limfe
atau sebagai ulserasi atau
macula hemoragik
 Lesi lain berhubungan dengan
infeksi pseudomonas
aeruginosa, molluscum
contangiosum, candida albicans,
cacing gelang, Cryptococcus,
sporoticosis(dermatitis yang
disebabkan oleh xerosis reaksi
obat trutama sulfa
 Lesi dari parasit seperti scabies
atau tuma ; sarcoma kaposi’s,
dekubitus, dan kerusakan
integritas kulit akibat lamanya
tekanan dan inkontinens
6 Manifestasi sensorik
a. Pandangan Kebutaan
Sarcoma kaposi’s pada konjugtiva atau
kelopak mata, retinis sitomegalovirus
b. Pendengaran Nyeri dan kehilangan pendengaran
Otitis eksternal akut dan otitis media;
kehilangan pendengaran yang
dberhubungan dengan mielopati,
meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-
reaksi obat

2.1.7 Pemeriksaan Diagnostik


1. Tes Serologis
a. Rapid test dengan menggunakan reagen SD HIV, Determent, dan Oncoprobe.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan pengamatan visual. Klien dinyatakan positif
HIV apabila hasil dari ketiga tes tersebut reaktif. Tes ini paling sering digunakan
karena paling efektif dan efisien waktu.
b. ELISA
The Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) mengidentifikasi antibodi yang
secara spesifik ditunjukkan kepada virus HIV.Tes ELISA tidak menegakkan
diagnosis penyakit AIDS tetapi lebih menunjukkan seseorang pernah terinfeksi oleh
HIV.Orang yang darahnya mengandung antibodi untuk HIV disebut dengan orang
yang seropositif.
c. Western blot
Digunakan untuk memastikan seropositivitas seperti yang teridentifikasi lewat
ELISA.
d. PCR (Polymerase Chain Reaction)
Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.
e. P24 ( Protein Pembungkus Human ImmunodeficiencyVirus (HIV )
Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi.
2. Selain ada pemeriksaan diagnostik yang dilakukan secara cepat untuk mengetahui
apakah klien tersebut mengidap HIV atau tidak, masih ada cara pemeriksaan lain untuk
menunjang diagnosa nantinya yaitu dengan tes gangguan system imun yang mana dapat
dilakukan dengan cara :
a. Limfosit
Penurunan limfosit plasma <1200.
b. Leukosit
Hasil yang didapatkan bisa normal atau menurun.
- CD4 menurun <200
- Rasio CD4/CD8
Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( CD8
ke CD4 ) mengindikasikan supresi imun.
- Albumin
- Serum mikroglobulin B2
- Hemoglobulin
2.1.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atau pengobatan untuk pasien dengan HIV AIDS tidak hanya
mencakup pada pemberian terapi obat, tetapi juga termasuk dalam pencegahan, terapi fisik,
dan psikologis.
1. Non Farmakologi
a. Fisik
Aspek fisik pada PHIV ( klien terinfeksi HIV ) adalah pemenuhan kebutuhan fisik
sebagai akibat dari tanda dan gejala yang terjadi. Aspek perawatan fisik meliputi :
1) Universal Precautions
Universal precautions adalah tindakan pengendalian infeksi sederhana yang
digunakan oleh seluruh petugas kesehatan, untuk semua klien setiap saat, pada
semua tempat pelayanan dalam rangka mengurangi risiko penyebaran infeksi.
Selama sakit, penerapan universal precautions oleh perawat, keluraga, dan
klien sendiri sangat penting. Hal ini di tunjukkan untuk mencegah terjadinya
penularan virus HIV. Prinsip-prinsip universal precautions meliputi:
a) Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh. Bila mengenai cairan tubuh
klien menggunakan alat pelindung, seperti sarung tangan, masker, kacamata
pelindung, penutup kepala, apron dan sepatu boot. Penggunaan alat pelindung
disesuakan dengan jenis tindakan yang akan dilakukan.
b) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan, termasuk setelah
melepas sarung tangan.
c) Dekontaminasi cairan tubuh klien.
d) Memakai alat medis sekali pakai atau mensterilisasi semua alat medis yang
dipakai (tercemar).
e) Memelihara kebersihan tempat pelayanan kesehatan.
f) Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara benar dan
aman.
2) Pemberian nutrisi
Pasien dengan HIV/ AIDS sangat membutuhkan vitamin dan mineral dalam
jumlah yang lebih banyak dari yang biasanya diperoleh dalam makanan sehari-
hari. Sebagian besar ODHA akan mengalami defisiensi vitamin sehingga
memerlukan makanan tambahan.
HIV menyebabkan hilangnya nafsu makan dan gangguan penyerapan
nutrient. Hal ini berhubungan dengan menurunnya atau habisnya cadangan
vitamin dan mineral dalam tubuh. Defisiensi vitamin dan mineral pada ODHA
dimulai sejak masih dalam stadium dini. Walaupun jumlah makanan ODHA
sudah cukup dan berimbang seperti orang sehat, tetapi akan tetap terjadi defisiensi
vitamin dan mineral.

3) Aktivitas dan istirahat


a) Manfaat olah raga terhadap imunitas tubuh
Hampir semua organ merespons stress olahraga. Pada keadaan akut, olah raga
akan berefek buruk pada kesehatan, olahraga yang dilakukan secara teratur
menimbulkan adaptasi organ tubuh yang berefek menyehatkan
b) Pengaruh latihan fisik terhadap tubuh
 Perubahan system tubuh
Olahraga meningkatkan cardiac output dari 5 i/menit menjadi 20 1/menit
pada orang dewasa sehat. Hal ini menyebabkan peningkatan darah ke otot
skelet dan jantung.
 Sistem pulmoner
Olahraga meningkatkan frekuensi nafas, meningkatkan pertukaran gas serta
pengangkutan oksigen, dan penggunaan oksigen oleh otot.
 Metabolisme
Untuk melakukan olah raga, otot memerlukan energi. Pada olah raga
intensitas rendah sampai sedang, terjadi pemecahan trigliserida dan jaringa
adiposa menjadi glikogen dan FFA (free fatty acid). Pada olahraga intensitas
tinggi kebutuhan energy meningkat, otot makin tergantung glikogen
sehingga metabolisme berubah dari metabolisme aerob menjadi anaerob
b. Psikologis (strategi koping)
Mekanisme koping terbentuk melalui proses dan mengingat. Belajar yang dimaksud
adalah kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi) pada pengaruh internal dan eksterna
c. Sosial
Dukungan sosial sangat diperlukan PHIV yang kondisinya sudah sangat parah.
Individu yang termasuk dalamdan memberikan dukungan social meliputi pasangan
(suami/istri), orang tua, anak, sanak keluarga, teman, tim kesehatan, atasan, dan
konselor.
2. Farmakologis
Sampai saat ini belum ada obat-obatan yang dapat menghilangkan HIV dari dalam
tubuh individu. Ada beberapa kasus yang menyatakan bahwa HIV/AIDS dapat
disembuhkan. Setelah diteliti lebih lanjut, pengobatannya tidak dilakukan dengan
standar medis, tetapi dengan pengobatan alternatif atau pengobatan lainnya. Obat-obat
yang digunakan adalah untuk menahan penyebaran HIV dalam tubuh tetapi tidak
menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
Untuk menahan lajunya tahap perkembangan virus beberapa obat yang ada adalah
antiretroviral dan infeksi oportunistik.
Waktu memulai terapi ARV harus dipertimbangkan dengan seksama karena obat
ARV akan diberikan dalam jangka panjang. Berikut ketentuannya:
a. ARV dimulai pada semua pasien yang telah menunjukkan gejala yang termasuk
dalam kriteria diagnosis AIDS, atau menunjukkan gejala yang sangat berat, tanpa
melihat jumlah limfosit CD4+.
b. ARV dimulai pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ kurang dari 350 sel /
mm3.
c. ARV dimuali pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+ 200 – 350 sel / mm3.
d. ARV dapat dimulai atau ditunda pada pasien asimptomatik dengan limfosit CD4+
lebih dari 350 sel / mm3 dan viral load lebih dari 100.000 kopi/ml.
e. ARV tidak dianjurkan dimulai pada pasien dengan limfosit CD4+ lebih dari 350
sel/mm3 dan viral load kurang dari 100.000 kopi/ml.
Kombinasi Obat ARV untuk Terapi Inisial (Djourban, 2007)
Kolom A Kolom B
Lamivudin + zidovudin
Lamivudin + didanosin Evafirenz *
Lamivudin + stavudin
Lamivudin + zidovudin
Lamivudin + stavudin Nevirapin
Lamivudin + didanosin
Lamivudin + zidovudin
Lamivudin + stavudin Nelvinafir
Lamivudin + didanosin
*tidak dianjurkan pada wanita hamil trimester pertama atau wanita yang
berpotensi tinggi untuk hamil.

Saat ini regimen pengobatan ARV yang dianjurkan WHO adalah kombinasi dari 3
obat ARV.Terdapat beberapa regimen yang dapat dipergunakan, dengan keunggulan dan
kerugianya masing – masing.Kombinasi obat antiretroviral lini pertama yang umumnya
digunakan di Indonesia adalah kombinasi zidovudin (ZDV) / lamivudin (3TC), dengan
nevirapin (NVP).
Pada pasien ini diberikan antibiotik Cotrimoxazole 2x960 mg dan Ceftriaxone 2 x 1
gram iv untuk terapi infeksi oportunistik. Juga diberikan Nystatin drop 4x3cc untuk
mengatasi oral trush. Terapi simptomatis diberikan oksigen 2-4 liter per menit melalui
nasal canule karena pasien mengeluh sesak dan ambroxol 3 x 30 mg po untuk keluhan
batuknya.Terapi suportif diberikan dengan pemberian diet tinggi kalori dan tinggi
protein 2100 kkal/hari. ARV tidak langsung diberikan pada pasien ini, namun ARV
diberikan setelah 25 hari yaitu Stavudin 2 x 1 tablet, Lamivudin 2 x 1 tablet, dan
Efavirenx 2 x 1 tab, yang berupa kombinasi NRTI (Nucleoside Reverse Transcriptase
Inhibitor) dan NNRTI (Non Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor).
a. Obat antiretroviral adalah obat yang dipergunakan untuk retrovirus seperti HIV
guna menghambat perkembang-biakan virus. Obat-obat antiretrovirus yang diunakan
adalah:
1) Golongan obat anti-HIV pertama adalah nucleoside reverse transcriptase inhibitor
atau NRTI, juga disebut analog nukleosida. Obat golongan ini menghambat bahan
genetik HIV dipakai untuk membuat DNA dari RNA. Obat dalam golongan ini
yang disetujui di AS dan masih dibuat adalah:
a) 3TC (lamivudine) e) ddI (didanosine)
b) Abacavir (ABC) f) Emtricitabine (FTC)
c) AZT (ZDV, zidovudine) g) Tenofovir (TDF; analog
d) d4T (stavudine)
nukleotida)
2) Golongan obat lain menghambat langkah yang sama dalam siklus hidup HIV,
tetapi dengan cara lain. Obat ini disebut non-nucleoside reverse transcriptase
inhibitor atau NNRTI. Empat NNRTI disetujui di AS:
h) Delavirdine (DLV)
i) Efavirenz (EFV)
j) Etravirine (ETV)
k) Nevirapine (NVP)
3) Golongan ketiga ARV adalah protease inhibitor (PI). Obat golongan ini
menghambat langkah kesepuluh, yaitu virus baru dipotong menjadi
potongan khusus. Sembilan PI disetujui dan masih dibuat di AS:
a) Atazanavir (ATV)
b) Darunavir (DRV)
c) Fosamprenavir (FPV)
d) Indinavir (IDV)
e) Lopinavir (LPV)
f) Nelfinavir (NFV)
g) Ritonavir (RTV)
h) Saquinavir (SQV)
4) Golongan ARV keempat adalah entry inhibitor. Obat golongan ini
mencegah pemasukan HIV ke dalam sel dengan menghambat langkah
kedua dari siklus hidupnya. Dua obat golongan ini sudah disetujui di AS:
a) Enfuvirtide (T-20)
b) Maraviroc (MVC)
5) Golongan ARV terbaru adalah integrase inhibitor (INI). Obat golongan
ini mencegah pemaduan kode genetik HIV dengan kode genetik sel
dengan menghambat langkah kelima dari siklus hidupnya. Obat INI
pertama adalah:
a) Raltegravir (RGV)
6) Obat infeksi oportunistik adalah obat yang digunakan untuk penyakit
yang mungkin didapat karena sistem kekebalan tubuh sudah rusak atau
lemah. Sedangkan obat yang bersifat infeksi oportunistik adalah Aerosol
Pentamidine, Ganciclovir, Foscamet.

2.1.9 Komplikasi
1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia
oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat.
2. Neurologik
a. Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human
Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi sosial.
b. Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit
kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.
c. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan
maranik endokarditis.
d. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human
Immunodeficienci Virus (HIV).
3. Gastrointestinal
a. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma,
dan sarcoma kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia,
demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
b. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma kaposi, obat illegal,
alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam
atritis.
c. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal
yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri
rectal, gatal-gatal dan diare.
4. Respirasi
a. Pneumonia Pneumocystis (PCP)
Pada umumnya 85% infeksi opportunistik pada AIDS merupakan infeksi paru-
paru PCP dengan gejala sesak nafas, batuk kering, sakit bernafas dalam dan
demam.
b. Cytomegalo Virus (CMV)
Pada manusia virus ini 50% hidup sebagai komensial pada paru-paru tetapi
dapat menyebabkan pneumocystis. CMV merupakan penyebab kematian
pada 30% penderita AIDS.
c. Mycobacterium Avilum
Menimbulkan pneumoni difus, timbul pada stadium akhir dan sulit
disembuhkan.
d. Mycobacterium Tuberculosis
Biasanya timbul lebih dini, penyakit cepat menjadi miliar dan cepat
menyebar ke organ lain diluar paru.
5. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies, dan dekubitus dengan efek nyeri,gatal,rasa
terbakar,infeksi skunder dan sepsis.
6. Sensorik
a. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
b. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran
dengan efek nyeri.
2.1.10 Pencegahan
1. Upaya Promotif
Program pencegahan HIV/AIDS harus difokuskan pada pembentukan perilaku
individu untuk tidak terpapar pada rantai penularan HIV/AIDS, antara lain
melalui kontak seksual dan kontak jarum suntik. Bentuk kegiatannya akan
banyak berupa pendidikan pekerja (Workers Education) untuk meningkatkan
kesadaran akan risiko HIV/AIDS dan adopsi perilaku aman untuk mencegah
kontak dengan rantai penularan HIV/AIDS. Upaya promotif yang bisa
dilakukan antara lain:
a. Pelayanan promotif: meningkatkan komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
tentang HIV/AIDS.
b. Promosi perilaku seksual aman (Promoting Safer Sexual Behavior)
c. Promosi dan distribusi kondom (Promoting and Distributing Condom)
d. Norma sehat di tempat kerja: tidak merokok, tidak mengkonsumsi NAPZA
e. Penggunaan alat suntik yang aman (Promoting and Safer Drug Injection
Behavior)

2. Upaya Preventif
Upaya pencegahan penyakit ini merupakan cara yang terbaik untuk
menekan terus meningkatnya kejadian penyakit dan kematian akibat AIDS.
Untuk pencegahan HIV/AIDS, konseling merupakan satu-satunya cara untuk
mempromosikan berbagai perubahan perilaku masyarakat. Untuk jangka
panjang diharapkan masyarakat diharapkan akan mau mengadopsi perubahan
perilaku yang berisiko.
Konseling sangat mutlak diperlukan pada saat seseorang mulai diketahui
mengidap HIV. Penderita akan merasa kehilangan harapan hidup dan tidak
mampu mengambil keputusan yang bertanggungjawab tentang hidupnya. Bagi
individu atau kelompok yang berperilaku risiko tinggi, mereka tidak mampu
mengambil keputusan apakah akan melakukan test HIV atau tidak. Isu penting
lainnya dalam penanggulangan HIV/AIDS adalah tentang menjaga rahasia
penderita baik untuk keluarga atau partner seksnya.Dengan kondisi seperti itu,
konseling sangat membantu penderita untuk lebih berani menerima kenyataan
hidupnya setelah HIV masuk ke dalam tubuhnya.Mereka dibantu agar mampu
berbuat sesuatu secara berimbang. Upaya preventif dapat dilakukan dengan
beberapa cara berikut:
a. Peningkatan gaya hidup sehat
b. Memahami penyakit HIV/AIDS, bahaya dan pencegahannya
c. Memahami penyakit IMS, bahaya dan cara pencegahannya
d. Diadakannya konseling tentang HIV/AIDS pada pekerja secara sukarela dan
tidak dipaksa
Secara mudah, pencegahan HIV dapat dilakukan dengan rumusan ABCDE
yaitu:
A : Abstinence, tidak melakukan hubungan seksual atau tidak melakukan
hubungan seksual sebelum menikah
B : Being faithful, setia pada satu pasangan, atau menghindari berganti-
ganti pasangan seksual
C : Condom, bagi yang beresiko dianjurkan selalu menggunakan kondom
secara benar selama berhubungan seksual
D : Drugs injection, jangan menggunakan obat (Narkoba) suntik dengan
jarum tidak steril atau digunakan secara bergantian
E : Education, pendidikan dan penyuluhan kesehatan tentang hal-hal yang
berkaitan dengan HIV/AIDS
3. Upaya Kuratif
Upaya kuratif bertujuan untuk merawat dan mengobati ODHA (orang
dengan HIV/AIDS).Pada saat ini terapi AIDS/HIV yang dilakukan adalah
secara kimia (Chemotherapy) yang menggunakan obat Anti Retroviral Virus
(ARV) yang berfungsi menekan perkembangbiakan virus HIV. Dalam terapi
dengan menggunakan ARV ini umumnya dilakukan dengan cara kombinasi
dengan beberapa jenis obat yang lain. Upaya kuratif dapat dilakukan dengan
cara sebagai berikut:

a. Pencegahan dan pengobatan IMS (Infeksi Menular Seksual)


b. Penyediaan dan transfusi darah yang aman
c. Mencegah komplikasi dan penularan terhadap keluarga dan teman
sekerjanya
d. Dukungan sosial ekonomi ODH

4. Upaya Rehabilitatif
Upaya pemulihan/rehabilisasi terhadap ODHA sangatlah penting demi
kelangsungan hidup penderita tersebut. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh
Yayasan Spiritia pada tahun 2002 menunjukkan bahwa masih banyak terjadi
stigma (cap/pandangan buruk) dan diskriminasi di sector perawatan kesehatan
termasuk di dalamnya konseling dan test HIV. Sebanyak 30% responden yang
diwawancarai pernah mengalami penolakan oleh petugas pelayanan kesehatan
dan bahkan 15% diantaranya mengalami penundaan pelayanan karena HIV.
Dengan demikian ke depan kasus-kasus diskriminasi seperti ini tidak terjadi
kembali. Adapun usaha yang perlu dilakukan adalah:
a. Latihan dan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakan kemampuan
yang masih ada secara maksimal
b. Penempatan pekerja sesuai kemampuannya
c. Penyuluhan kepada pekerja dan pengusaha untuk menerima penderita
ODHA untuk bekerja seperti pekerja lain.
d. Menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap pekerja ODHA oleh rekan
kerja dan pengusaha.
(Ridha, 2014)

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan HIV/AIDS


2.2.1 Pengkajian
Data-data dalam pengkajian ini meliputi :
a) Identitas
1) Identitas klien
Identitas klien meliputi nama klien, umur klien biasanya pada usia
produktif atau pada lansia, jenis kelamin mayoritas pria, agama,
pendidikan, pekerjaan klien biasanya berhubungan dengan sarana
transportasi, status marital, suku bangsa, tanggal masuk rumah
sakit, tanggal pengkajian, golongan darah, no.rekam medis,
diagnosa medis dan alamat.
2) Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab meliputi nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
b) Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama :
Keluhan utama yang dirasakan oleh klien saat masuk rumah
sakit .
2) Riwayat Penyakit Saat Ini :
Faktor riwayat penyakit sangat penting untuk diketahui agar
pemeriksa dapat dengan jelas menetukan penyebab dari
HIV/AIDS.
3) Riwayat Penyakit Terdahulu :
Pengkajian riwayat ini dapat mendukung pengkajian dari
riwayat penyakit sekarang merupakan data dasar untuk mengkaji
lebih lanjut serta untuk memberikan tindakan selanjutnya.

4) Riwayat Penyakit Keluarga


Kaji mengenai adanya penyakit keturunan, penyakit menular,
kebiasaan buruk dalam keluarga seperti merokok atau
penggunaan obat-obatan telarang.
c) Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
1) Pola persepsi kesehatan
Mengambarkan persepsi, pemeliharaan dan penangan
kesehatan.Persepsi terhadap arti kesehatan dan pengetahuan
tentang praktek kesehatan
Komponen :
a) Gambaran kesehatan secara umum dan saat ini
b) Gambaran terhadap sakit dan penyebabnya dan penangan yang
di lakukan
2) Nutrisi – Metabolik
Mengambarkan intake makanan, keseimbangan cairan dan
makanan , nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan,
mual/muntah
3) Eliminasi
Mengambarkan pola fungsi ekskresi, kandung kemih dan kulit
Komponen :
a) Karakteristik urine
b) Fambaran BAB dan karakteristinya
4) Aktivitas dan latihan
Mengambarkan pola aktivitas dan latihan, fungsi pernafasan, dan
sirkulasi
Komponen :
a) Gambaran level aktifitas
b) Gambaran dalam pemenuhan ADL
5) Pola istirahat tidur
Mengambarkan pola istirahat tidur dan persepsi pada energy
Komponen :
a) Berapa lama tidur di malam hari
b) Jam berapa tidur dan bangun
c) Kualitas tidur
6) Pola kognitif dan perceptual
Mengambarkan pola pendengaran, pengelihatan, pengecapan,
penciuman, persepsi nyeri, bahasa, memori, dan pengambilan
keputusan
Komponen :
a) Kemampuan menulis dan membaca
b) Ada tidaknya kesulitan mendengar
c) Ada atau tidaknya insensitivitas terhadap dingin, panas, dan
nyeri
d) Apakah merasa nyeri ( skala dan karakteristiknya )
7) Pola persepsi-konsep diri
Mengambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap
kemampuan, harga diri, gambaran diri, dan perasaan terhadap diri
sendiri.
Komponen :
a) Bagaimana menggambarkan diri sendiri
b) Apakah ada kejadian yang akhirnya mengubah gambaran
terhadap diri klien
c) Apa hal yang paling menjadi pikiran
d) Apakah sering merasa cemas, depresi, takut.
8) Pola peran dan hubungan
Mengambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga
dan masyarakat di lingkungan
Komponen :
a) Apakah da perbedaan peran dalam keluarga , apakah ada
saling keterkait
b) Bagaimana keadaan ekonomi
c) Apakah mempunyai kegiatan sosial
9) Pola seksualitas dan reproduksi
Mengambarkan kepuasan/ masalah seksualitas reproduksi
Komponen :
a) Apakah klien sudah menikah
b) Berapakah klien mempunyai anak
c) Bagaiman pola menstruasi
d) Apakah klien sudah mengalami menopause
10) Pola mekanisme koping stress
Mengambarkan kemampuan untuk menangani setres dan
mekanisme penangan setres
Komponen :
a) Dalam menghadapi masalah apa yang di lakukan
b) Adakah penggunaan/ zat tertentu
c) Apakah klien memilik teman untuk berbagi masalah

11) Pola nilai dan kepercayaan


Mengambarkan spiritualitas, nilai, system, kepercayaan, dan
tujuan dalam hidup
Komponen :
a) Apakah agama hal yang sangta penting bagi klien
b) Adakah nilai atau kepercayaan pribadi yang ikut
berpengaruh
d) Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan
mengkaji palpasi, perkusi, auskultasi, dan inspeksi.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


a) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kelemahan otot untuk menelan.
b) Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi
jalan nafas (mucus dalam jumlah berlebih).
c) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare terus menerus.
d) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan terdapat ruam, vesikula
dan gangguan turgor kulit.
e) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi
f) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen
g) Keletihan berhubungan dengan malnutrisi
h) Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis (infeksi, iskemia,
neoplasma).
i) Resiko infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.
j) Hipertemia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme.
k) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
l) Resiko jatuh berhubungan dengan gangguan keseimbangan.

2.2.3 Intervensi Keperawatan

NO Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi (NIC)


Keperawatan (NOC)
1. Ketidakseimbangan NOC NIC
nutrisi kurang dari  Kaji adanya alergi makanan
a. Nutritional status:
kebutuhan tubuh Adequacy ofnutrient  Kolaborasi dengan ahli gizi
b. Nutritional Status : untuk menentukan jumlah kalori
berhubungan dengan foodand FluidIntake
dan nutrisi yang dibutuhkan
kelemahan otot untuk c. WeightControl
pasien
menelan. Setelah dilakukan  Yakinkan diet yang dimakan
tindakan keperawatan mengandung tinggi serat untuk
selama….x 24 jam, mencegah konstipasi
diharapkan nutrisi  Ajarkan pasien bagaimana
kurang teratasi dengan membuat catatan makanan harian.
kriteria hasil :  Monitor adanya penurunan BB
a) Adanya peningkatan dan guladarah
berat badan sesuai  Monitor lingkungan selama
dengan tujuan. makan
b) Berat badan ideal sesuai  Jadwalkan pengobatan dan
dengan tinggi badan. tindakan tidak selama jam
c) Mampu mengidentifikasi makan
kebutuhan nutrisi.  Monitor turgor kulit
d) Tidak ada tanda-tanda
 Monitor kekeringan, rambut
malnutrisi.
kusam, total protein, Hb dan
e) Menunjukkan
kadarHt
peningkatan fungsi
 Monitor mual danmuntah
pengecapan dari
menelan.  Monitor pucat, kemerahan, dan
f) Tidak terjadi penurunan kekeringan jaringan konjungtiva
berart badan yang berarti.  Monitor intakenuntrisi
 Informasikan pada klien dan
keluarga tentang manfaat nutrisi
 Kolaborasi dengan dokter
tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT/ TPN
sehingga intake cairan yang
adekuat dapatdipertahankan.
 Atur posisi semi fowler atau
fowler tinggi selamamakan
 Kelola pemberan anti emetik
 Anjurkan banyakminum
Pertahankan terapi IVline
 Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik apa bila lidah dan
cavitas oval

2. Ketidakefektifan NOC NIC


bersihan jalan nafas  Respiratory status : Airway suction
berhubungan dengan ventilator  Pastikan kebutuhan oral/tracheal
 Respiratory status : airway suctioning.
obstruksi jalan nafas
patency  Auskultasi suara nafas sebelum
(mucus dalam jumlah  Aspiration control dan sesudah suctioning.
berlebih). Setelah dilakukan tindakan  Informasikan pada pasien dan
keperawatan selama…x keluarga tentanng suctioning.
24 jam, pasien mampu  Minta pasien nafas dalam
menunjukkan sebelum suction ing dilakukan.
ketidakefektifan jalan  Berikan O2 dengan
nafas dengan menggunakan nasal untuk
Kriteria Hasil : memfasilitasi suksion
a) Mendemontrasikan nasotrakeal.
batuk efektif dan suara  Gunakan alat yang steril setiap
nafas yang bersih, tidak melakukan tindakan.
ada sianosis dan dyspnea  Anjurkan pasien untuk istirahat
(mampu mengelurkan dan nafas dalam setelah kateter
sputum, bernafas dengan dikeluarkan dari nasotrakeal.
mudah, tidak ada pursed  Monitoring status oksigen
lips) pasien.
b) Menunjukan jalan nafas  Ajarkan keluarga bagaimana
yang paten (klien tidak cara melakukan suksion.
 Hentikan suksion dan berikan
merasa tercekik, irama
oksigenasi apabila pasien
nafas, frekuensi
menunjukkan bradikardi,
pernafasan dalam
peningkatan saturasi O2.
rentang normal, tidak
Airway management
ada suara nafas  Buka jalan nafas, gunakan
abnormal). teknik chin lift atau jaw thrust
c) Mampu
bila perlu.
mengidentifikasikan dan  Posisikan pasien untuk
mencegah faktor yang memaksimalkan ventilasi.
penyebab.  Identifikasi pasien perlunya
pemsangan alat jalan nafas
buatan.
 Pasang mayo bila perlu.
 Lakukan fisioterapi dada jika
perlu.
 Keluarkan secret dengan batuk
atau suction.
 Auskultasi suara nafas, catat
adanya suara tambahan
 Lakukan suction pada mayo.
 Berikan bronkodilator bila perlu.
 Berikan pelembab udara kassa
basah NaCl lembab.
 Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2
3. Kekurangan volume NOC NIC
cairan berhubungan 1. Fluid balance Fluid Management
2. Hydration - Pertahankan catatan intake dan
dengan diare terus
3. Nutritional Status : Food output yang akurat
menerus. and Fluid - Monitor status dehidrasi
4. Intake ( kelembaban membrane
Kriteri Hasil : mukosa, nadi adekuat, tekanan
1. Mempertahankan urine darah ortostatik), jika
output sesuai dengan usia diperlukan
dan BB, BJ urine normal, - Monitor vital sign
HT normal. - Monitor masukan makanan /
2. Tekanan darah, nadi, suhu cairan dan hitung intake kalori
tubuh dalam batas normal harian
3. Tidak ada tanda-tanda - Kolaborasikan pemberian
dehidrasi cairan IV
4. Elastisitas turgor kulit - Monitor status nutrisi
baik, membrane mukosa - Berikan cairan IV pada suhu
lembab, tidak ada rasa ruangan
haus yang berlebihan. - Dorong masukan oral
- Berikan penggantian nesogatrik
sesuai output
- Dorong keluarga untuk
membantu pasien makan
- Tawarkan snack ( jus buah,
buah segar)
- Kolaborasi dengan dokter
- Atur kemungkinan transfuse
- Persiapan untuk transfuse
Hypovolemia Management
- Monitor status cairan termasuk
intake dan output cairan
- Pelihara IV line
- Monitor tingkat Hb dan
hematocrit
- Monitor tanda vital
- Monitor respon pasien terhadap
penambahan cairan
- Monitor berat badan
- Dorong pasien untuk
menambah intake oral
- Pemberian cairan IV monitor
adanya tanda dan gejala
kelebihan volume cairan
- Monitor adanya tanda gagal
ginjal.
4. Kerusakan integritas NOC NIC
kulit berhubungan a) Tissue Integrity : Skin Pressure Management
dengan terdapat ruam, and Mucous  Anjurkan pasien untuk
Membranes. menggunakan pakaian yang
vesikula dan
b) Hemodyalis akses longgar.
gangguan turgor kulit  Hindari kerutan pada tempat
Kriteria Hasil :
1. Integritas kulit yang tidur.
baik bisa dipertahankan  Jaga kebersihan kulit agar tetap
(sensasi, elastisitas, bersih dan kering.
temperatur, hidrasi,  Mobilisasi pasien (ubah posisi
pigmentasi). pasien) setiap dua jam sekali.
2. Tidak ada luka/lesi pada  Monitor kulit akan adanya
kulit. kemerahan.
3. Perfusi jaringan baik.  Oleskan lotion atau
4. Menunjukkan minyak/baby oil pada daerah
pemahaman dalam yang tertekan.
proses perbaikan kulit  Monitor aktivitas dan
dan mencegah mobilisasi pasien
terjadinya cedera  Monitor status nutrisi pasien
berulang  Memandikan pasien dengan
5. Mampu melindungi sabun dan air hangat
kulit dan Insision site care
mempertahankan  Membersihkan, memantau dan
kelembaban kulit dan meningkatkan proses
perawatan alami penyembuhan pada luka yang
ditutup dengan jahitan, klip
atau strapless
 Monitor proses kesembuhan
area insisi
 Monitor tanda dan gejala
infeksi pada area insisi
 Bersihkan area sekitar jahitan
atau staples, menggunakan lidi
kapas steril
 Gunakan preparat antiseptic,
sesuai program
· Ganti balutan pada interval
waktu yang sesuai atau biarkan
luka tetap terbuka (tidak
dibalut) sesuai program.
5. Ketidakefektifan pola NOC NIC
 Respiratory status Airway Management
nafas berhubungan
:Ventilator - Buka jalan nafas, gunakan
dengan hiperventilasi teknik chin lift atau jaw thrust
 Respiratory status : bila perlu.
Airway patency
- Posisikan pasien untuk
 Vital sign status memaksimalkan ventilasi.
Kriterial Hasil : - Identifikasi pasien perlunya
1. Mendemonstrasikan batuk pemasangan alat jalan nafas
efektif dan suara nafas buatan.
yang bersih, tidak ada
sianosis dan dispneu - Pasang mayo bila perlu.
(mampu mengeluarkan
sputum, mampu bernafas - Lakukan fisioterapi dada jika
dengan mudah, tidak ada perlu.
pursed lips) - Keluarkan secret dengan batuk
2. Menunjukkan jalan nafas atau suction.
yang paten (klien tidak - Auskultasi suara nafas, catat
merasa tercekik, irama adanya suara tambahan.
nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang - Lakukan suction pada mayo.
normal, tidak ada suara - Mengoptimalkan keseimbangan.
nafas abnormal).
- Monitor respirasi dan status O2.
3. Tanda-tanda vital dalam
rentang normal (tekanan Oxygen Therapy
darah, nadi, pernafasan). - Bersihkan mulut, hidung dan
secret trakea.
- Pertahankan jalan nafas yang
paten.
- Atur peralatan oksigenasi.
- Monitor aliran oksigenasi.
- Pertahankan posisi pasien.
- Monitor adanya kecemasan
pasien terhadap oksigenasi.
Vital Sign Monitoring
- Monitor TD, nadi, suhu, nadi.
- Monitor pola pernafasan
abnormal.
- Monitor frekuensi dan irama
pernafasan.
6. Intoleransi aktivitas NOC NIC
berhubungan dengan a) Konservasi Energi Activity Therapy
b) Perawatan Diri: ADL  Kolaborasi dengan tenaga
ketidakseimbangan rehabilitasi medic dalam
Setelah dilakukan
antara suplai dan merencanakan program terapi
tindakan keperawatan
kebutuhan oksigen yang tepat.
selama…x 24 jam,  Bantu klien untuk
diharapkan intoleransi mengidentifikasi aktivitas yang
aktivitas teratasi dengan mampu dilakukan
kriteria hasil:  Bantu untuk memilih aktivitas
a) Berpartisipasi konsisten yang sesuai dengan
dalam aktivitas kemampuan fisik, psikologi
fisik tanpa disertai dan sosial.
peningkatan  Bantu klien mengidentifikasi
tekanan darah, dan mendapatkan sumber yang
nadi, RR diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan.
b) Mampu melakukan  Bantu untuk mendapatkan alat
aktivitas sehari-hari bantuan aktivitas seperti kursi
ADL secara roda, krek.
mandiri  Bantu untuk mengindentifikasi
aktivitas yang disukai.
c) Tanda-tanda vital
 Bantu klien untuk membuat
normal
jadwal latihan diwaktu luang
d) Mampu berpindah  Bantu klien atau keluarga
dengan atau tanpa untuk mengidentifikasi
bantuan alat kekurangan dalam beraktivitas.
 Bantu pasien untuk
e) Status mengembangkan motivasi diri
kardiopulmunari dan penguatan.
adekuat  Monitor respon fisik, emosi,
f) Sirkulasi status sosial dan spiritual.
baik
g) Status respirasi :
pertukaran gas dan
ventilasi adekuat

7. Keletihan NOC NIC


berhubungan dengan  Endurance Energy management
malnutrisi  Contrentation  observasi adanya pembatasan
 Energy contervation klien dalam melakukan
 Nutrional sttus : energi
aktivitas
Kriteria hasil :
 dorong anak untuk
a) Memverbalisasikan mengungkapkan perasaan
peningkata energi dan terhadap keterbatasan
merasa lebih baik  kaji adanya faktor yang
b) Menjelaskan penggunaan menyebabkan kelelahan
energi untuk mengatasi  monitor nutrisi dan sumber
kelelahan. energi yang adekuat
c) Kecemasan menurun  monitor pasien akan adanya
d) Glukosa darah adekuat kelelahan fisik dan emosi secara
e) Kwalitas hidup meningkat berlebihan.
f) Istrahat cukup  monitor respon kardiovaskuler
g) Mempertahanka terhadap aktivitas.
kemampuan untuk  monitor pola tidur dan lamanya
konsentrasi tidur/istirahat pasien
 dukung pasien dan keluarga
untuk mengungkapkan
perasaan,berhubungan dengan
perubahan hidup yang sebabkan
keletihan
 bantu aktivitas sehari hari sesuai
dengan kebutuhan
 tingkatkan tirah baring dan
pembatasan aktivitas(tingkatkan
periode istirahat).
 konsultasi dengan ahli gizi
untuk meningkatkan asupan
makanan yang berenergi tinggi

8. Nyeri akut NOC NIC


berhubungan dengan  Pain level Pain management
 Pain control - Lakukan pengkajian nyeri
agens cedera biologis  Comfort level secara komprehensif
(infeksi, iskemia, termasuk lokasi ,
Kriteria hasil :
neoplasma). karakteristik , durasi,
 Mampu mengontrol
frekuensi kualitas dan factor
nyeri ( tahu penyebab
presipitasi.
nyeri, mampu - Observasi reaksi non verbal
menggunakan teknik dari ketidaknyaman.
nonfarmakologi untuk - Gunakan teknik komunikasi
mengurangi nyeri , terapeutik untuk mengetahui
mencari bantuan ) pengalaman nyeri pasien.
 Melaporkan bahwa - Kaji kultur yang
nyeri berkurang mempengaruhi respon nyeri.
dengan mengunakan - Evaluasi pengalaman nyeri
menajemen nyeri. masa lampau
 Mampu mengenali - Evaluasi bersama pasien
nyeri ( skala, dan tim kesehatan lain
instensitas, frekuensi, tentang ketidakefektifan
dan tanda nyeri) control nyeri masa lampau
 Menyatakan rasa - Bantu pasien dan keluarga
nyaman setelah nyeri untuk mencari dan
berkurang menemukan dukungan.
- Control lingkungan yang
dapat mempengarui nyeri
seperti suhu, pencahayaan
dan kebisingan.
- Kurangi factor presipitasi
nyeri
- Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
( farmakologi , non
farmakologi dan
interpersonal )
- Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
- Ajarkan ternik non
farmakologi
- Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
- Evaluasi ketidakefektifan
control nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak berhasil
- Monitor penerimaan pasien
tentang menagemen nyeri.
Analgesic administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat
- Cek instruksi dokter tentang
jenis obat, dosis dan
frekuensi
- Cek riwayat energy
- Pilih analgesic yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesic ketika
pemberian lebih dari satu
- Tentukan pilihan analgesic
tergantung tipe dan beratnya
nyeri
9. Resiko infeksi NOC NIC
berhubungan dengan Imuno status knowledge : Infection control ( kontrol
gangguan integritas infection control risk infeksi)
control. - Bersihkam lingkungan setelah
kulit.
Kriteria hasil : dipakai pasien lain.
1. Klien bebas dari tanda dan - Pertahankan teknik isolasi
gejala infeksi . - Batasi pengunjung bila perlu
- Instruksikan pada pengunjung
2. Mendeskripsikan proses mencuci tangan saat
penularan penyakit faktor berkunjung, setelah berkunjung
yang mempengaruhi serta meninggalkan pasien.
Penatalaksanaannya. - Xgunakan sabun anti mikrobia
3. Menunjukan kemampuan untuk cuci tangan
untuk mencegah - Cuci tangan setiap sebelum,
timbulnya infeksi. sesudah tindakan keperawatan
- Gunakan baju sarung tangan
4. Jumlah leukosit dalam sebagai alat pelindung
batas normal. - Pertahankan lingkungan
5. Menunjukan prilaku hidup aseptik selama pemasangan alat
sehat - Ganti letak IV perifer dan line
central dan dressing sesuai
dengan petunjuk umum
- Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing.
- Tingkatkan intake nutrisi
- Berikan terapi antibiotik bila
perlu infection protection
( proteksi terhadap infeksi )
- Monitoring tanda dan gejala
infeksi sistemik dan local
- Monitoring hitung granulosit ,
WBC
- Monitoring kerentanan
terhadap infeksi
- Batasi pengunjung
- Sering pengunjung terhadap
penyakit menular
- Partahankan teknik aspesis
pada yang berisiko
- Pertahankan teknik isolasi k/p
- Berikan perawatan kuliat pada
epidema
- Infeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan ,
panas, drainase
- Infeksi kondisi luka /insisi
bedah
- Dorong masukan utrisi yang
cukup
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Instruksikan pasien utuk
minum antibiotik sesuai resep
- Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
- Ajarkan cara mengindari
infeksi
- Laporkan kecurigaan infeksi
- Laporkan kultur positif

10. Hipertemia NOC NIC


Thermoregulasi Fever Treatment
berhubungan dengan
Kriteria Hasil :  Monitor suhu sesering
peningkatan laju  Suhu tubuh dalam rentang mungkin.
metabolisme. normal.  Monitor IWL.
 Nadi dan RR dalam  Monitor warna dan suhu kulit.
rentang normal.  Monitor tekanan darah, nadi
 Tidak ada perubahan dan RR.
warna kulit dan tidak ada  Monitor penurunan tingkat
pusing. kesadaran .
 Monitor intake dan output.
 Berikan anti piretik.
 Berikan pengobatan untuk
mengatasi penyebab demam.
 Selimuti pasien.
 Kolaborasi pemberian cairan
intaravena.
 Monitor suhu minimal tiap 2
jam.
 Rencanakan monitoring suhu
secara kontinyu.
 Monitor TD, Nadi dan RR.
 Monitor tanda-tanda
hipertermi dan hipotermi.
 Tingkatkan intake cairan dan
nutrisi.
 Selimuti pasien untuk
mencegah hilangnya
kehangatan tubuh.
 Monitor frekuensi dan irama
pernafasan.
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign.

11. Ansietas berhubungan NOC NIC


dengan perubahan  anxiety self-control Anxiety reduction( penurunan
status kesehatan  anxiety level kecemasan )
 coping - gunakan pendekatan yang
kriteria Hasil : menenangkan
1. klien mampu - nyatakan dengan jelas
mengidentifikasi dan harapan terhadap pelaku
mengungkapkan pasien
gejala cemas. - jelaskan semua prosedur
2. mengidentifikasi dan apa yang dirasakan
/mengungkapkan dan selama prosedur
menunjukkan teknik - pahami perspektif pasien
untuk mengontrol terhadap situasi stress
cemas. - temani pasien untuk
3. vital sign dalam batas memberikan keamanan dan
normal. mengurangi takut
4. postur tubuh , - dorong keluarga untuk
ekspresi wajah , menemani anak
bahasa tubuh dan - lakukan back / neck rub
tingkat aktivitas - dengarkan dengan penuh
menunjukkan perhatian
- identifikasi tingkt
berkurangnya
kecemasan
kecemasan
- bantu pasien untuk
mengungkapkan perasaan ,
ketakutan , perspsi
- instruksikan pasien
menggunakan teknik
relaksasi
- berikan obat untuk
mengurangi kecemasan

2.2.4 Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah


direncanakan,mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Rencana tindakan
tersebut diterapkan dalam situasi yang nyata untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan dan hasil yang di harapakan.Tindakan keperawatan harus
mendetail.Agar semua tenaga keperwatan dapat menjalankan tugasnya dengan
baik dalam jangka waktu yang telah ditetapkan dan di lakukan sesuai dengan
kondisi pasien.

2.2.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses


keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose keperawatan, rencana
tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai kemungkinan terjadi
pada tahap evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi berfokus pada
ketepatan perawatan yang diberikan dan kemajuan pasien atau kemunduran
pasien terhadap hasil yang diharapkan. Evaluasi merupakan proses yang
interaktif dan kontinu karena setiap tindakan keperawatan dilakukan, respon
klien dicatat dan dievaluasi dalam hubungannya dengan hasil yang yang
diharapkan. Kemudian berdasarkan respon klien, direvisi intervensi
keperawatan atau hasil yang diperlukan. Ada 2 komponen untuk
mengevaluasi kualitas tindakan computer keperawatan, yaitu :
a) Proses (sumatif)
Fokus tipe ini adalah aktivitas dari proses keperawatan dan hasil
kualitas pelayanan tindakan keperawatan. Evaluasi proses harus
dilaksanakan sesudah perencanaan keperawatan, dilaksanakan
untuk membantu keefektifan terhadap tindakan.
b) Hasil (formatif)
Fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status
kesehatan klien pada akhir tindakan keperawatan klien.
BAB III
KASUS
Kasus
Ny.S berusia 21 tahun dirawat dengan keluhan batuk lama dan berdahak,
demam, berat badan turun secara drastis, diare kronis, nyeri saat menelan, terdapat
luka pada mulut dan labia mayora, konjungtiva anemis (+). Pasien tampak lemah
dan seluruh aktivitas dibantu.Pasien mengatakan nafsu makan menurun dan
mengeluh mual-mual. TD: 90/70 mmHg, nadi: 70x/menit, RR: 28x/menit, suhu:
38,50C, ronchi (+). Pasien mengatakan ada perasaan malu dengan kondisinya
sekarang.Radiologi thorak didapatkan infiltrat pada kedua paru.Ny.S sebelumnya
telah dirawat sebagai penderita HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TB) paru (drop out).
Hasil laboratorium didapatkan HB: 8 g/dL CD4 : 3%, hasil sputum didapatkan
bakteri tahan asam (BTA), ulkus pada oral dan pada labia mayora. Ny.S dirawat di
ruang isolasi, diberikan O2 : 3-4 liter/menit, infus RL/D5/Aminofusin, dipasang
nasogastric tube. Paracetamol 3x500 mg, tranfusi packet red cell (PRC),
Cotrimosazole 1x960 mg, Nystatin oral drops 4x2 cc, Fluconazole oral 1x100 mg,
Fusidic cream pada labia mayora, Rifamfisin 450 mg, INH 300 mg, Ethambutol
1000 mg, dengan diagnosa kerja HIV/AIDS dan TB paru serta infeksi
oportunistik.
3.1 Pengkajian
1. Identitas
Identitas Pasien
Nama : Ny.S
Umur : 21 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pelajar
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Alamat : Jalan Masjid Al Akyar 40102, Gandul Limo
Diagnosa Medis : HIV/AIDS dan TB paru serta infeksi oportunistik.
Identitas Penanggung Jawab

Nama : Tn.M
Umur : 42 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Hubungan dengan klien : Ayah pasien
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jalan Masjid Al Akyar 40102, Gandul Limo
2. Keluhan utama
Batuk lama dan berdahak
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Rumah Sakit dengan keluhan batuk lama dan berdahak, demam,
berat badan turun secara drastis, diare kronis, nyeri saat menelan, terdapat luka
pada mulut dan labia mayora, konjungtiva anemis (+).Pasien tampak lemah dan
seluruh aktivitas dibantu. Pasien mengatakan nafsu makan menurun dan mengeluh
mual-mual. TD: 90/70 mmHg, nadi: 70x/menit, RR: 28x/menit, suhu: 38,5 0C,
ronchi (+). Pasien mengatakan ada perasaan malu dengan kondisinya sekarang.
b. Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengatakan sebelumnya pernah dirawat dirawat sebagai penderita
HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TB) paru (drop out).
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki penyakit keturunan
seperti hipertensi, asma, jantung, Diabetes Melitus, dan penyakit menular seperti
TBC, AIDS, Hepatitis.Sebelumnya keluarga juga tidak pernah menderita penyakit
yang serupamulai dari kakek nenek dari anak.Pasien mengatakan tidak ada anggota
keluarga yang pernah mengalami kecelakaan dan Pasien juga mengatakan bahwa
didalam keluarganya tidak ada yang mempunyai alergi baik obat-obatan maupun
makanan.

4. Genogram

 

 


Keterangan :
: Laki-laki  : Laki-laki meninggal
 : Perempuan  : Perempuan
meninggal

 : Pasien : Tinggal dalam satu


rumah

5. Pola Gordon
a. Pola persepsi dan Manajemen Kesehatan
Pasien tahu sedikit mengenai penyakit yang diderita, pasien mengatakan keadaanya
ingin segera membaik dan tidak bertambah parah.
b. Pola Nutrisi-Metabolik
 Sebelum Sakit :
Pasienmengatakan sebeblum sakit nafsu makan baik, makan 3x dalam sehari
namun habis 1 porsi makanan habis dengan menu bervariasi. Minum air putih ±
7-8 gelas dalam sehari (1,5-2 liter).
 Saat Sakit :
Pasien mengatakan nafsu makan menurun dan mengeluh mual-mual, nyeri saat
menelan,pasien makan 2x sehari, makanan habis ½ porsi makanan dari rumah
sakit. Minum air putih ± 5-6 gelas dalam sehari (0.8-1 liter)
c. Pola Eliminasi
 Sebelum sakit :
Pasien mengatakan sebelum msakit tidak mengalami masalah pada saat BAB,
frekuensi 1 kali sehari, konsistensi lembek, bau khas feses, feses berwarna
kuning dan jumlah tidak menentu. Pasien juga tidak mengalami masalah pada
saat kencing, biasa kencing 7-8x sehari, warna kekuningan.
 Saat Sakit :
Pasien mengatakan diare dengan konsistensi cair, bau khas feses, warna kuning
kecoklatan, pasien mengatakan bab 4-5 kali sehari dan BAK 6-7 kali sehari.
Input : pasien dalam sehari dapat menghabiskan 800-1000 ml air, air dalam
makanan ± 100 ml, infus 500 ml, transfusi darah 1 kolf (125 ml)
Output : urin 1200 ml, feses 1000 ml, IWL 570 ml.
d. Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas 0 1 2 3 4
Makan/Minum √
Mandi √
Berpakaian/berdandan √
Toileting √
Mobilisasi di tempat √
tidur
Berpindah √
Ambulasi ROM √
Keterangan :
0 = mandiri 1 = dibantu sebagian
2 = perlu bantuan orang lain 3 = perlu bantuan orang lain dan alat
4 = tergantung orang lain tidak mandiri
e. Pola tidur dan Istirahat
 Sebelum Sakit :
Pasien mengatakan tidak memiliki masalah dalam pola tidur dan istirahat,
biasanya pasien tidur 7-8 jam sehari dan tidak ada gangguan selama tidur.
 Saat Sakit :
Pasien mengatakan tidur hanya ± 3-4 jam saat malam hari, saat rasa sesak dan
batuk datang, pasien terjaga.
f. Pola Kognitif dan Perceptual
Pasien dalam keadaan sadar namun tampak lemah dan seluruh aktivitas dibantu,
kesadaran composmentis. Klien dapat berbicara dengan baik, bahasa sehari-hari
yang digunakan yaitu bahasa 24embrane24. Fungsi pendengaran dan pengelihatan
pasien normal.
g. Pola Konsep Diri
Pasien mengatakan ada perasaan malu dengan kondisinya sekarang.Pasien terlihat
kooperatif selama perawat atau petugas kesehatan melakukan pengkajian, dan
merespon pertanyaan-pertyanyaan perawat. Terkadang klien juga bertanya tentang
penyakit yang diderita.
h. Pola Seksual dan Reproduksi
Pasien berjenis kelamin perempuan dan berusia 21tahun, pasien mengatakan tidak
ada masalah selama menstruasi
i. Pola peran-hubungan
Pasien mengatakan belum menikah. Hubungan pasien dengan keluarga baik,
selama di rumah sakit pasien dijaga oleh orang tuanya, terkadang di kunjungi oleh
saudaranya yang lain.
j. Pola Koping
Pasien mengatakan ada perasaan malu dengan kondisinya sekarang.
k. Pola Nilai-Kepercayaan
Pasien mengatakan beragama Islam dan belum bisa melakukan ibadah saat ini.
Penyakit yang diderita sekarang merupakan cobaan dari Tuhan. Keluarga
mengatakan selalu berdoa dan melakukan persembahyangan untuk proses
kesembuhan Ny.S. Keluarga juga mengatakan selalu mengimbangi proses
perawatan medis di Rumah Sakit dengan berdoa untuk proses penyembuhan.
6. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Lemah
Kesadaran : Composmenti E4M6V5 (GCS = 15)
Tekanan Darah : 90/70 mmHg
Nadi : 70x/menit
Suhu : 38,5oC
RR : 28x/menit
Berat badan : SMRS : 55 Kg ± 6 bulan lalu
MRS : 38 Kg Tinggi badan : 156 cm
IMT :𝐵𝐵 : (𝑇𝐵)2= 38 : (1,56)2= 15,61
Keterangan : Nilai normal 18,5 – 24,5 𝐾�
b. Keadaan fisik
1) Kepala dan leher
Inspeksi : Penyebaran rambut bersih merata, warna rambut tampak hitam
tidak ada ketombe, bentuk kepala normochepali, tidak adanya luka,
edema pada wajah (-)
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
2) Kulit
Inspeksi : Kulit tampak bersih, warna kulit sawo matang, kulit
tampak kering, tidak adanya luka.
Palpasi : Turgor kulit tidak elastis, tidak ada nyeri tekan.
3) Mata
Inspeksi : Bentuk mata secara simetris antara kanan dan kiri,
25embra putih, bola mata simetris, konjungtiva anemis
(+), ada reaksi terhadap cahaya (miosis) tidak mengguakan
alat bantu penglihatan, fungsi penglihatan normal.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.

4) Hidung
Inspeksi : Bentuk hidung simetris, tidak terdapat perdarahan
ataupun peradangan dan secret atau pus yang keluar dari
hidung, tampak terpasang oksigen 4 liter/menit dan
tampak terpasang nasogastric tube
Palpasi : Tidak terdapat benjolan dan nyeri tekan pada hidung.
5) Telinga
Inspeksi : Bentuk telinga simetris antara kanan dan kiri, tampak
terlihat adanya serumen, tidak ada lesi, tidak ada kelainan
dikedua telinga.
Palpasi : Tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan.
6) Mulut dan gigi
Inspeksi : Bentuk mulut secara umum simetris, keadaan umum
mukosa bibir kering, terdapat ulkus pada oral, gigi tampak
kuning.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
7) Leher
Inspeksi : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
8) Thorax
Inspeksi : Bentuk dada simetris, tidak ada lesi, respirasi 28x/menit,
terdapat retraksi dinding dada.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
Auskultasi : Bunyi napas ronkhi (+)
9) Abdomen
Inspeksi : Tidak ada lesi, bentuk simetris
Auskultasi : Bising usus 8 kali per menit.
Palpasi : Turgor kulit tidak 26embran, tidak ada nyeri tekan, tidak
ada asites
Perkusi : Timpani.
10) Genetalia
Terdapat luka pada labia mayora
11) Ekstermitas
Inspeksi : Tampak terpasang 26embra RL/D5/Aminofusin pada
tangan kiri

Kekuatan otot :
Kanan 555 555 Kiri

555 555

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pada hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan HB: 8 g/dL CD4 : 3%, hasil
sputum didapatkan bakteri tahan asam (BTA)
b. Pemeriksaan Radiologi
Radiologi thorak didapatkan 27embrane27e pada kedua paru.
8. Terapi
a. O2 : 3-4 liter/menit
b. Infus RL/D5/Aminofusin
c. Dipasang nasogastric tube (NGT)
d. Paracetamol 3x500 mg
e. Tranfusi packet red cell (PRC)
f. Cotrimosazole 1x960 mg
g. Nystatin oral drops 4x2 cc
h. Fluconazole oral 1x100 mg
i. Fusidic cream pada labia mayora
j. Rifamfisin 450 mg
k. INH 300 mg
l. Ethambutol 1000 mg

9. Analisa Data
No Data fokus Etiologi Masalah
1 DS : Transmisi HIV ke Ketidakefekifan
dalam tubuh bersihan jalan
Pasien mengeluh batuk
lama dan berdahak Pengikatan gp120 HIV napas
dengan reseptor
DO : membrane T helper +
- Terdapat suara napas CD4
tambahan (ronkhi)
Peleburan membran
- Tampak terpasang
virus dengan
oksigen 4 liter/menit membrane sel T helper
- Terdapat retraksi dinding
dada + CD4
- Resprasi 28 kali/menit
Enzim integrase
RNA HIV cDNA

Transkripsi mRNA
dan translasi
menghasilkan protein
structural virus

Enzim protease

Terbentuk virus HIV


baru dalam tubuh

Replikasi
perkembangan HIV
dalam cairan tubuh
Imunosupresi
Organ target
(repiratori)
Infeksi paru
Menghasilkan mucus

Penumpukan secret di
jalan napas
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas

2 DS : Transmisi HIV ke Ketidakseimbangan


dalam tubuh nutrisi kurang dari
Pasien mengatakan nafsu Pengikatan gp120 HIV
makan menurun mengeluh dengan reseptor kebutuhan tubuh
membrane T helper +
mual-mual
CD4
DO : Peleburan membrane
virus dengan
- Pasien makan 2x sehari,
membrane sel T helper
makanan habis ½ porsi + CD4
makanan dari rumah Enzim integrase
RNA HIV cDNA
sakit.
- Berat badan pasien turun Transkripsi mRNA
secara drastis yaitu dan translasi
sebanyak 17 kg
menghasilkan protein
- Tampak terpasang NGT structural virus

Enzim protease
Terbentuk virus HIV
baru dalam tubuh

Replikasi
perkembangan HIV
dalam cairan tubuh
Imunosupresi
Organ target
(gastrointestinal)
Infeksi jamur
Kerusakan membrane
mukosa oral (lesi pada
mulut)
Penurunan nafsu
makan dan intake
nutrisi
Penurunan BB
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

3. DS : Transmisi HIV ke Kekurangan


dalam tubuh volume cairan
Pasien mengatakan diare Pengikatan gp120 HIV
dengan konsistensi cair, dengan reseptor
membrane T helper +
bau khas feses, warna
CD4
kuning kecoklatan, pasien Peleburan membrane
virus dengan
mengatakan bab 4-5 kali
membrane sel T helper
sehari dan BAK 6-7 kali + CD4
Enzim integrase
sehari.
RNA HIV cDNA
DO :
Transkripsi mRNA
- Input : pasien dalam dan translasi
sehari dapat menghasilkan protein
menghabiskan 800- structural virus

1000 ml air, air dalam Enzim protease


makanan ± 100 ml,
Terbentuk virus HIV
infus 500 ml, transfusi
baru dalam tubuh
darah 1 kolf (125 ml)
- Output : urin 1200 ml, Replikasi
feses 1000 ml, IWL perkembangan HIV
dalam cairan tubuh
570 ml
- Mukosa bibir kering Imunosupresi
- Turgor kulit tidak Organ target
elastis (gastrointestinal)

Infeksi jamur

Candida pada organ


pencernaan

Diare terus menerus

Kekurangan volume
cairan

3.2 Diagnosa
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas
(mucus dalam jumlah berlebih) ditandai dengan Pasien mengeluh batuk lama dan
berdahak, terdapat suara napas tambahan (ronkhi), tampak terpasang oksigen 4
liter/menit, terdapat retraksi dinding dada, resprasi 28 kali/menit.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kelemahan otot untuk menelan ditandai dengan pasien mengatakan nafsu makan
menurun mengeluh mual-mual, pasien makan 2x sehari, makanan habis ½ porsi
makanan dari rumah sakit, berat badan pasien turun secara drastis yaitu sebanyak
17 kg, tampak terpasang NGT.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare terus menerus ditandai
dengan Pasien mengatakan diare dengan konsistensi cair, bau khas feses, warna
kuning kecoklatan, pasien mengatakan bab 4-5 kali sehari dan BAK 6-7 kali
sehari. Input : pasien dalam sehari dapat menghabiskan 800-1000 ml air, air
dalam makanan ± 100 ml, infus 500 ml, transfusi darah 1 kolf (125 ml). Output :
urin 1200 ml, feses 1000 ml, IWL 570 ml, mukosa bibir kering, turgor kulit tidak
elastic

3.3 Intervensi
No Diagnosa Tujuan Intervensi

1. Ketidakefektifan bersihan Setelah diberikan asuhan 1. Monitoring status


jalan nafas berhubungan keperawatan selama 3x24 jam, oksigen pasien.
dengan obstruksi jalan nafas diharapkan bersihan jalan 2. Auskultasi suara nafas,
(mucus dalam jumlah berlebih) napas pasien kembali efektif catat adanya suara
ditandai dengan Pasien dengan kriteria hasil : tambahan
1. Pasien tidak mengeluh 3. Posisikan pasien untuk
mengeluh batuk lama dan
batuk berdahak memaksimalkan
berdahak, terdapat suara napas
2. Tidak terdapat suara
tambahan (ronkhi), tampak ventilasi.
napas tambahan
4. Ajarkan pasien teknik
terpasang oksigen 4 3. Tidak terpasang oksigen
4. Tidak terdapat retraksi batuk efektif
liter/menit, terdapat retraksi
5. Ajarkan pasien teknik
dinding dada
dinding dada, resprasi 28
5. Respirasi dalam batas napas dalam
kali/menit 6. Kolaborasi dalam
normal (16-20 kali/menit)
pemberian terapi

2. Ketidakseimbangan nutrisi Setelah diberikan asuhan 1. Kaji adanya alergi


kurang dari kebutuhan tubuh keperawatan selama 3x24 jam, makanan
berhubungan dengan diharapkan kebutuhan nutrisi 2. Monitor adanya
kelemahan otot untuk menelan pasien seimbang dengan penurunan BB
ditandai dengan pasien kriteria hasil :
3. Monitor turgor kulit
1. Nafsu makan pasien 4. Monitor mual dan
mengatakan nafsu makan
meningkat muntah
menurun mengeluh mual- 5. Monitor intake nuntrisi
2. Pasien tidak mengeluh
mual, pasien makan 2x sehari, 6. Atur posisi semi fowler
mual
makanan habis ½ porsi 3. Pasien mampu atau fowler tinggi
makanan dari rumah sakit, menghabiskan seluruh selama makan
berat badan pasien turun porsi makanan yang telah 7. Anjurkan banyak
secara drastis yaitu sebanyak disediakan minum
17 kg, tampak terpasang NGT.
4. Tidak ada penurnan berat 8. Informasikan pada
badan yang berarti klien dan keluarga
5. Tidak terpasang NGT
tentang manfaat nutrisi
9. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang dibutuhkan
pasien
3. Kekurangan volume cairan Setelah diberikan asuhan 1. Monitor status
berhubungan dengan diare keperawatan selama 3x24 jam, dehidrasi (kelembaban
terus menerus ditandai dengan diharapkan volume cairan membrane mukosa,
pasien mengatakan diare pasien seimbang dengan nadi adekuat, tekanan
dengan konsistensi cair, bau kriteria hasil :
darah ortostatik), jika
1. Pasien mengatakan
khas feses, warna kuning
frekuensi BAB berkurang diperlukan
kecoklatan, pasien mengatakan
dengan konsistensi feses 2. Monitor masukan
bab 4-5 kali sehari dan BAK
lembek makanan / cairan dan
6-7 kali sehari. Input : pasien
2. Mukosa bibir lembab
dalam sehari dapat 3. Turgor kulit elastis
hitung intake kalori

menghabiskan 800-1000 ml harian


air, air dalam makanan ± 100 3. Monitor tanda vital
ml, infus 500 ml, transfusi 4. Pertahankan catatan
darah 1 kolf (125 ml). Output : intake dan output yang
urin 1200 ml, feses 1000 ml, akurat
IWL 570 ml, mukosa bibir 5. Dorong pasien untuk
kering, turgor kulit tidak
menambah intake oral
elastic
6. Kolaborasikan
pemberian cairan IV

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Brooks G.F. Butel J.S., Morse S.A. 2004. Jawetz, Melnick, & Adelberg.
Mikrobiologi Kedokteran. 23rd ed. New York: McGraw-Hill Companies
Inc.
Nursalam, Kurniawati Ninuk D. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien
Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Gallant, J. 2010. 100 Tanya Jawab Mengenai HIV dan AIDS. Jakarta: Indeks
Ridha N. 2014. Buku Ajar Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Pustaka Pelajar
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia Tahun
2013. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia 93 Direktorat
Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.