Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN PEMASANGAN

INFUS PADA NY. K DI IGD RSUD BATANG

Nama pasien : Ny. K


Diagnosa medis : vertigo dengan dehidrasi sedang
No. Reg : 145625
Tanggal : 28 Juni 2016

PEMASANGAN INFUS

1. Diagnosa keperawatan dan dasar pemikiran


a. Diagnosa keperawatan
DS : klien mengatakan mengalami vertigo sejak 3 hari yang lalu, tiap kali makan dan
minum langsung keluar, klien mengeluh mual dan muntah kurang lebih sudah 7 kali
sehari.
DO : Pasien terlihat lemah, pucat, turgor kulit kering, mukosa kering, RR = 24 kali/,
TD : 120/80 mmHg, Nadi 96 x/menit, Suhu 36,50 C, akral dingin, gelisah.
Diagnosa Keperawatan : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif.

2. Dasar Pemikiran (Secara Teori)


Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini
terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum).
Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat
elektrolit tubuh. Dehidrasi dapat mengakibatkan bahaya karena dapat menyebabkan
penurunan volume darah (hipovolemia) sampai kematian bila tidak ditangani dengan
tepat. Untuk mencegah terjadi dehidrasi yang berat maka dilakukan pemberian cairan
infus yaitu dengan dilakukan pemasangan infus. Melakukan pemasangan infus yaitu
pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh melalui sebuah jarum kedalam pembuluh vena
untuk menggantikan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh agar cairan tubuh pada
pasien terpenuhi. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung
elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat dipertahankan secara
adekuat melalui oral, memberikan keseimbangan asm basa, memperbaiki volume
komponen darah dan memberikan nutrisi saat system pencernaan diistirahatkan. Sebelum
diperiksakan, 3 hari yang lalu klien mengalami pusing akibat vertigo yang
menyebabkannya mual dan muntah, serta tidak nafsu makan.

3. Prinsip-prinsip tindakan
Prinsip pemasangan terapi intravena (infus) memperhatikan prinsip steril, hal ini yang
paling penting dilakukan tindakan untuk mencegah kontaminasi jarum intravena (infus).
Indikasi pemasangan infus:
a. Keadaan emergency (misal pada tindakan RJP), yang memungkinkan pemberian obat
langsung ke dalam Intra Vena
b. Pasien yang mendapat terapi obat dalam dosis besar secara terus-menerus melalui
intra vena
c. Pasien yang membutuhkan pencegahan gangguan cairan dan elektrolit
d. Pasien yang mendapatkan tranfusi darah
e. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi
besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika
terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)
f. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi
(kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps
(tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.
g. Untuk menurunkan ketidaknyamanan pasien dengan mengurangi kebutuhan dengan
injeksi intramuskuler.
4. Analisa Tindakan Keperawatan
a. Tahap Pre Interaksi

1. Persiapan pasien
a) Memberitahu dan menjelaskan kepada pasien mengenai tindakan yang akan
dilakukan
b) Posisi pasien tidur terlentang

c) Cek program terapi cairan pasien


2. Persiapan alat

a) Standar infus

b) Cairan steril sesuai instruksi

c) Set infus steril

d) Albocath dengan nomor yang sesuai

e) Bidai

f) Perlak

g) Tourniquit

h) Kapas alkohol

i) Plester

j) Gunting

k) Bengkok

l) Kassa

m) Sarung tangan

n) Salf antibiotic
b. Tahap Orientasi

1) Berikan salam, panggil nama pasien dengan namanya

2) Perkenalkan diri, jelaskan prosedur dan tujuan tindakan

3) Berikan kesempatan untuk bertanya

c. Tahap Kerja

1) Cuci tangan

2) Bebaskan lengan klien dari lengan baju

3) Letakkan tourniquit 5-15 cm diatas tempat tusukan

4) Letakkan perlak dibawah lengan pasien

5) Hubungkan cairan infuse dengan selang infuse sehingga tidak ada udara
didalamnya, kencangkan klem sampai infuse tidak menetes dan pertahankan
kesterilannya sampai pemasangan pada tangan disiapkan

6) Kencangkan tourniquit

7) Anjurkan klien untuk mengepalkan tangannya palpasi dan pastikan tekanan yang
akan ditusuk

8) Bersihkan kulit dengan cermat menggunakan kapas alkohol, arah melingkar dari
dalam keluar lokasi tusukan

9) Gunakan ibu jari untuk menekan jaringan dan vena 5 cm dibawah tusukan

10) Pegang jarum pada posisi 30 derajat pada vena yang akan ditusuk, setelah pasti
masuk lalu tusuk perlahan dengan pasti

11) Rendahkan posisi jarum sejajar dengan dan tarik jarum sedikit lalu teruskan
plastik i.v catether kedalam vena

12) Tekan dengan jari ujung plastic i.v catether

13) Tarik jarum infuse keluar

14) Buka klem infuse sampai sampai cairan mengalir lancar

15) Oleskan salf antibiotik siatas penusuakn kemudian ditutup dengan kassa steril

16) Fiksasi posisi plastic i.v catether dengan plester

17) Atur tetesan infuse sesuai ketentuan, pasang stiker yang sudah diberi tanggal
d. Tahap Terminasi

1) Evaluasi hasil kegiatan

2) Lakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya

3) Pasien nyaman

4) Akhiri kegiatan dan bereskan alat

5) Cuci tangan
5. Bahaya Yang Muncul

a. Hematoma

b. Infiltrasi

c. Tromboflebitis/bengkak (inflasi pada pembuluh vena)

d. Emboli udara
e. Perdarahan
f. Reaksi alergi

6. Hasil Yang Didapat dan Maknanya


Setelah dilakukan pemasangan infus diharapkan pemenuhan kebutuhan cairan tubuh
pasien dapat terpenuhi secara optimal. Infus RL 2o tpm sudah masuk dan tanda-tanda
dehidrasi sudah mulai berkurang, mukosa lembab.

7. Tindakan keperawatan lain


a. Monitor keadaan umum
b. Monitor tanda-tanda dehidrasi
c. Pemasangan oksigen
d. Kolaborasi pemberian obat
8. Evaluasi diri Tindakan pemasangan infus sudah dilakukan sesuai prosedur, tidak ada
kesalahan. Hanya saja terkadang pada vena yang kecil sulit untuk dilakukan pemasangan
infus. Untuk kedepannya harus lebih banyak mencoba karena semakin sering melakukan
pemasangan infus maka akan semakin mudah, lancar, dan mahir.