Anda di halaman 1dari 41

PRESENTASI KASUS

APENDISITIS AKUT

Pembimbing :
dr. Virginia Dwiyandari, Sp.A

Disusun Oleh :
Aldrich Chandra
030.15.011

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
25 MARET 2019 – 1 JUNI 2019
LEMBAR PENGESAHAN

Presentasi kasus yang berjudul:

“Apendisitis Akut”

Yang disusun oleh

Aldrich Chandra
030.15.011

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing:

dr. Virginia Dwiyandari, Sp.A

Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Anak RSUD Budhi Asih

Periode 25 Maret 2019 – 1 Juni 2019

Jakarta, Maret 2019

Pembimbing

dr. Virginia Dwiyandari, Sp.A

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkah
dan karunia yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
presentasi kasus yang berjudul “Apendisitis Akut.” Presentasi kasus ini disusun
sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik bagian anak di
RSUD Budhi Asih.
Presentasi kasus ini dapat diselesaikan juga berkat dukungan dan bantuan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada
yang terhormat dr. Virginia Dwiyandari, Sp.A atas keluangan waktu dan bimbingan
yang telah diberikan.
Penulis menyadari bahwa penulisan karya ilmiah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, segala kritik dan saran sangat penulis hargai demi
penyempurnaan presentasi kasus ini dan juga yang akan datang.
Demikian presentasi kasus ini disusun semoga dapat bermanfaat bagi pihak-
pihak yang membacanya, terima kasih.

Jakarta, Mei 2019

Aldrich Chandra
030.15.011

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................i
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN......................................................................................1
BAB II. LAPORAN KASUS..................................................................................2
BAB III. ANALISA KASUS.................................................................................28
BAB IV TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................30
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................41

iii
BAB I
PENDAHULUAN

Apendisitis akut adalah peradangan pada Appendix vermicularis, dan


merupakan penyakit yang memerlukan tindakan bedah yang paling umum terjadi pada
anak(1,3). Sekitar 100.000 anak dengan apendisitis akut dirawat di rumah sakit setiap
tahunnya. Apendisitis dapat terjadi pada semua kelompok umur, dan insidensi
apendisitis meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dimulai dari 1-2 kejadian per
10.000 anak baru lahir sampai usia 4 tahun, hingga 19-28 kejadian per 10.000 anak
dengan usia dibawah 14 tahun setiap tahunnya. Setiap anak memiliki risiko ≈7% untuk
terkena apendisitis akut selama masa hidupnya, dengan jenis kelamin cenderung lebih
berisiko lebih tinggi (8,6%) dibandingkan dengan perempuan (6,7%)(3), dan 1-8% anak
yang datang ke IGD dengan keluhan nyeri pada perut didiagnosa dengan apendisitis
akut. Tingkat mortalitas kasus apendisitis akut tergolong rendah (<1%), tetapi tingkat
morbiditasnya tinggi, seringkali disebabkan apendisitis dengan perforasi. Apendisitis
pada anak berisiko lebih tinggi (hingga 40%) mengalami perforasi bila dibandingkan
dengan orang dewasa.(1)
Walaupun hingga saat ini operasi apendektomi tetap merupakan tatalaksana
utama pada kasus apendisitis akut, tatalaksana apendisitis telah mengalami perubahan
signifikan dalam beberapa dekade terakhir berkat regimen antibiotik yang lebih baik,
teknik pencitraan yang lebih modern, prosedur drainase perkutan oleh radiologis
intervensi, dan juga dengan penggunaan laparoskopi. Apabila tidak ditatalaksana,
angka mortalitas apendisitis meningkat, terutama disebabkan oleh peritonitis dan
shock septik.(1)

1
BAB II
LAPORAN KASUS

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
RS PENDIDIKAN : RSUD BUDHI ASIH
STATUS PASIEN KASUS
Nama Mahasiswa: Aldrich C Pembimbing: dr. Virginia Dwiyandari, Sp.A

NIM : 030.15.011 Tanda tangan:

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. V
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 2 tahun 1 bulan
Tempat/ tanggal lahir : Jakarta, 15-02- 2017
Suku bangsa : Betawi
Agama : Islam
Pendidikan : Belum sekolah
Alamat : Cikokol barat, Tangerang

ORANG TUA
Ayah Ibu
Nama : Tn. Y Nama : Ny. E
Umur : 26 tahun Umur : 27 tahun
Pekerjaan : Karyawan swasta Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : SMK Pendidikan : SMK
Suku bangsa : Betawi Suku bangsa : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Alamat : Cikokol Barat, Tangerang Alamat : Cikokol Barat, Tangerang
Hubungan dengan orang tua : Pasien merupakan anak kandung.

2
I. ANAMNESIS

Dilakukan secara alloanamnesis dengan Ny. E dan autoanamnesis dengan


pasien di bangsal Emerald Barat pada hari Rabu tanggal 8 April 2019 pukul
20.00 WIB.
Keluhan utama : Sakit perut sejak 3 hari SMRS
Keluhan tambahan : Mual, muntah, demam, batuk, BAB jarang dan
encer
A. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien awalnya rewel dan kemudian mengalami sakit perut sejak 3 hari
SMRS (Kamis sore, 4 April 2019) sakit perut terutama pada bagian kanan
bawah dan terasa terus menerus. Pasien merasa mual dan muntah berisi cairan
dan makanan setiap kali diberi makan atau minum. Keluhan ini diikuti dengan
demam yang perlahan-lahan naik dan kemudian menetap. Demam turun
sesaat dengan obat penurun panas, tetapi kemudian naik kembali. Demam
disertai batuk-batuk tanpa ada dahak yang keluar, tidak ada rasa nyeri saat
menelan. Pasien tidak BAB sejak hari Selasa, dan tidak ada keluhan mengenai
BAK.

Ketika dirawat di UGD RSUD Budhi Asih, anak BAB sebanyak 2 kali,
konsistensi encer, terdapat ampas, warna coklat kekuningan, tidak ada lendir
dan darah.

B. Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita

Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur

Alergi (-) Difteria (-) Penyakit ginjal (-)

Cacingan (-) Diare (-) Penyakit jantung (-)

DBD (-) Kejang (-) Radang paru (-)

Otitis (-) Varicella (-) TBC (-)

Hipereaktif
Parotitis (-) Operasi (-) (-)
bronkus
Kesimpulan riwayat penyakit yang pernah diderita: Pasien memiliki riwayat
kesehatan yang baik.

3
C. Riwayat Kehamilan/ Persalinan

Morbiditas kehamilan Tidak ada morbiditas selama


masa kehamilan
KEHAMILAN
Perawatan antenatal Rutin kontrol puskesmas sesuai
anjuran.

Tempat persalinan Rumah Sakit

Penolong persalinan Dokter

Spontan
Cara persalinan
Penyulit: Retensio plasenta

Masa gestasi Cukup bulan

Berat lahir : 3100 gr

Panjang lahir : Ibu pasien lupa


KELAHIRAN

Lingkar kepala : Ibu pasien lupa

Langsung menangis (+)


Keadaan bayi Kemerahan (+)
Kuning (-)
Kebiruan (-)
Nilai APGAR : Ibu pasien tidak
tahu
Kelainan bawaan : Tidak ada

Kesimpulan riwayat kehamilan/ persalinan :. Pasien lahir dalam kondisi baik


dengan cara persalinan spontan dan dengan usia gestasi cukup bulan.

4
D. Riwayat Perkembangan

- Pertumbuhan gigi I : 10 bulan (Normal: 5-9 bulan)


- Gangguan perkembangan mental : Tidak ada
- Psikomotor
Tengkurap : 3 bulan (Normal: 3-4 bulan)
Duduk : 6 bulan (Normal: 6-9 bulan)
Berdiri : 9 bulan (Normal: 9-12 bulan)
Berjalan : 12 bulan (Normal: 12-18 bulan)
Bicara : 12 bulan (Normal: 9-12 bulan)
- Perkembangan pubertas :-
Rambut Pubis :-
Payudara :-
Menarche :-
Kesimpulan riwayat pertumbuhan dan perkembangan: Sesuai usia, pasien
belum mengalami perkembangan pubertas, tidak terdapat keterlambatan
perkembangan pada pasien.

5
E. Riwayat Makanan

Umur (bulan) ASI/PASI Buah/ Biskuit Bubur Susu Nasi Tim

0–1 ASI - - -

1–4 ASI - - -

4–6 ASI - - -

6–8 ASI + - +

8 – 10 ASI + - +

10-12 ASI + - +

Umur >1 Tahun

Jenis Makanan Frekuensi dan Jumlah

Nasi/ Pengganti Nasi 3x1 centong/hari

Sayur 4x/minggu, sekali makan sebanyak 1 sdm

Daging 3x/minggu, 5 butir bakso kecil sekali makan

Telur ±3x/minggu, 1 butir digoreng

Ikan 1x/minggu (1 ekor sedang)

Tahu jarang

Tempe jarang

Susu 2x/hari (SGM)

Kesimpulan Riwayat Makanan : Pasien memiliki nafsu makan dan riwayat


diet yang baik.

6
F. Riwayat Imunisasi

Umur (bulan)
Vaksin
Lahir 1 2 3 4 5 6 7 8 9
BCG 1
Polio 1
Hep B 1
Pentabio 1 2 3
PCV 1 2 3
Rotavirus 1 2 3
Campak 1
Kesimpulan riwayat imunisasi: Imunisasi dasar lengkap dan sesuai jadwal

G. Riwayat Keluarga

Usia Keteranga
Jenis Hidu Lahir Abortu Mati
No (tahun n
Kelamin p Mati s (sebab)
lahir) Kesehatan
5 tahun
1. Wanita + - - - Sehat
(2014)
2 tahun Sakit
2. Wanita + - + -
(2017) (Pasien)
Kesimpulan corak reproduksi : Pasien merupakan anak ke-2 dari 2 bersaudara

7
H. Riwayat Pernikahan

Ayah Ibu

Nama Tn.Y Ny.E

Perkawinan ke- 1 1

Umur saat menikah 21 tahun 22 tahun

Pendidikan terakhir SMK SMK

Suku Betawi Jawa

Agama Islam Islam

Keadaan kesehatan Sehat Sehat

Kosanguinitas - -

Riwayat Penyakit - -

Riwayat Keluarga: Riwayat keluarga baik, tidak ada anggota keluarga yang
memiliki keluhan yang serupa dengan pasien.

I. Riwayat Lingkungan
Pasien tinggal bersama dengan kedua orang tua di rumah sewaan bertingkat 1.
Dinding rumah terbuat dari tembok. Ventilasi dan pencahayaan kurang baik,
hanya ada 1 jendela dan udara dalam rumah terasa pengap. Sumber air dari PAM
dan sumber air minum dari galon isi ulang. Rumah pasien terletak di kawasan
padat penduduk dan berdempetan antara rumah satu dengan rumah lainnya.
Sampah keluarga setiap harinya dibuang di depan rumah dan dipungut setiap
harinya. Tidak ada tikus atau kecoak di dalam rumah.
Kesimpulan Riwayat lingkungan pasien: Saat ini pasien tinggal di lingkungan
yang padat dan kondisi rumah kurang baik karena ventilasi yang tidak adekuat.

8
II. PEMERIKSAAN FISIK
KEADAAN UMUM
Kesan Sakit : Tampak sakit sedang
Kesadaran : CM
Kesan Gizi : Gizi cukup

DATA ANTROPOMETRI

Berat Badan sekarang : 11 kg


Berat Badan sebelum sakit : Tidak diketahui
Tinggi Badan : 88 cm

STATUS GIZI
- BB/U = -2 - +2 SD (berat badan normal)
- TB/U = -2 - +3 SD (tinggi badan normal)
- BB/TB = -2 - +2 SD (gizi cukup)
Kesimpulan status gizi : Dari ketiga parameter yang digunakan diatas
didapatkan kesan gizi cukup

TANDA VITAL
- Nadi : 110x/ menit, kuat angkat, isi cukup, ekual
kanan dan kiri, regular
- Tekanan Darah :-
- Pernapasan : 25 x/ menit
- Suhu : 39,1o C
- SpO2 : 98%

9
STATUS GENERALIS

Kepala: Normosephali, vulnus (-), sikatrik (-)


Rambut: Rambut hitam, lurus, lebat, distribusi merata, dan tidak mudah
dicabut, alopecia (-)
Wajah: Wajah simetris, tidak ada pembengkakan, luka ataupun jaringan
parut
Mata
Sklera ikterik :- Konjungtiva anemis : -
Cekung :- Exophtalmus : -/-
Kornea jernih : +/+ Enophtalmus : -/-
Lensa jernih : +/+ Lagoftalmus : -/-
Palpebra oedem : -/- Ptosis : -/-
Pupil : 3 mm/3mm, bulat, isokor
Refleks cahaya : langsung +/+, tidak langsung +/+
Telinga
Bentuk : Normotia
Tuli : -/-
Nyeri tarik aurikula : -/-
Nyeri tekan tragus : -/-
Liang telinga : lapang
Membran timpani : Tidak diperiksa
Serumen : -/-
Refleks cahaya : Tidak diperiksa
Cairan : -/-
Ruam merah : -/-
Hidung
Bentuk : simetris Napas cuping hidung : -/-
Sekret : -/- Deviasi septum :-
Mukosa hiperemis : -/- Hipertrofi konka : -/-

10
Bibir: Sianosis (-), pucat (-), vulnus (-), stomatitis (-)
Mulut: Trismus (-), halitosis (-), mukosa gigi berwarna merah muda,
mukosa pipi berwarna merah muda, arcus palatum simetris dengan
mukosa palatum berwarna merah muda.
Lidah: Normoglosia, berwarna merah muda, hiperemis (-), atrofi papil (-),
tremor (-)
Tenggorok:Tonsil T1-T1, hiperemis (-/-), detritus (-/-), dinding posterior
faring hiperemis (-), arcus faring tidak hiperemis, uvula terletak
ditengah.
Leher: Bentuk tidak tampak kelainan, edema (-), massa (-), tidak teraba
pembesaran tiroid.
Thoraks
Jantung
Inspeksi: Ictus cordis tidak tampak, tidak ada kelainan bentuk.
Palpasi: Ictus cordis teraba pada ICS V linea midklavikularis sinistra.
Perkusi: Batas kanan jantung: ICS IV linea sternalis dextra.
Batas kiri jantung: ICS V linea midclavicularis sinistra.
Auskultasi: SI/SII regular, murmur (-), gallop (-)

Paru-paru
Inspeksi: Kelainan bentuk thoraks (-), simetris, gerak dinding dada simetris
kanan dan kiri, retraksi intercostal (-) retraksi subcostal (-) retraksi
suprasternal (-)
Palpasi: Nyeri tekan (-), gerak napas simetris kanan dan kiri
Perkusi: Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi: Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-

11
Abdomen
Inspeksi: Bentuk datar , ruam (-), , tidak ada benjolan atau kelainan bentuk.
Auskultasi: Bising usus (+) lemah, frekuensi 2x/menit
Perkusi: Timpani, nyeri perkusi (+)
Palpasi: Tegang, defans muskular (+), turgor kulit baik,
nyeri tekan
- + -
+ + -
+ + +
McBurney Sign (+)
Blumberg Sign (+)
Rovsing Sign (+)
Obturator Sign (+)
Psoas Sign (+)
Kulit: Warna sawo matang merata, tidak ikterik, tidak sianosis, tidak
lembab, tidak terdapat efloresensi yang bermakna, ptechie (-)
Genitalia: Kelainan bentuk (-), hiperemis (-), sekret (-)
KGB: Tidak ada pembesaran KGB
Ekstremitas:
Inspeksi: Simetris, tidak terdapat kelainan pada bentuk tulang, sianosis (-),
edema tungkai -/-, ptechie (-)
Palpasi: Akral hangat pada keempat ekstremitas, sianosis (-), capillary
refill time <2 detik.

12
III. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil Hasil
Hematologi Satuan Nilai normal
07/04/19 08/04/19
Leukosit 18.9 18.4 ribu/uL 5 – 14,5
Eritrosit 4.3 4.6 juta/uL 3,7 – 5,7
Hb 9.9 11.3 g/dL 10,8 – 12,8
HCT 30 31 % 31 – 43
Trombosit 277 213 ribu/uL 217 – 497
LED 21 mm/jam 0 – 30
MCV 70.4 68.2 fL 72 – 88
MCH 23.1 24.8 pg 27 – 31
MCHC 32.8 36.3 g/dL 32 – 36
RDW 18.6 18.0 % <14
Hitung Jenis
Basofil 1 % 0–1
Eosinofil 0 % 1–5
Neutrofil Batang 1 % 3–6
Neutrofil Segmen 63 % 25 – 60
Limfosit 30 % 25 – 50
Monosit 5 % 1–6
Kimia Klinik
GDS 54 mg/dL 52 – 98
Elektrolit Serum
Na 139 mmol/L 135 – 155
K 4.0 mmol/L 3,6 – 5,5
Cl 101 mmol/L 98 – 109

13
08/04/2019
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Tubex TF 2 <2 : Negatif
(Tidak
menunjukkan
Tifoid aktif)

3 : Borderline
(Pengukuran tidak
dapat disimpulkan,
diulang beberapa
hari kemudian)

4 – 5 : Positif
(Menunjukkan
infeksi demam
tifoid aktif)

>6 : Positif
(Indikasi kuat
demam Tifoid
aktif)
CRP Kuantitatif 120 mg/L <5

FAECES RUTIN (08/04/19)


Makroskopik Hasil Normal
Warna Hijau Coklat
Konsistensi Lunak Lunak
Lendir Positif Negatif
Darah Negatif Negatif
Mikroskopik
Leukosit Positif Negatif
Eritrosit Negatif Negatif
Amoeba Coli Negatif Negatif
Amoeba Histolitika Negatif Negatif
Telur Cacing Negatif Negatif
Pencernaan
Lemak Negatif Negatif
Amilum Negatif Negatif
Serat Negatif Negatif
Sel Ragi Negatif Negatif

14
EKSPERTISE RADIOLOGI

07/04/2019 X-Ray Abdomen 3 Posisi (AP+Tegak+LLD)


Preperitoneal fat batasnya tegas
Tidak tampak udara bebas, tidak tampak tanda-tanda ileus
Tidak tampak batu opak
Dilatasi sebagian usus kecil dan besar
Kesan:
Meteorismus
07/04/2019 X-Ray Thorax AP/PA
Tulang-tulang dinding dada dan soft tissue normal
Mediastinum lebar ec thymus
Cor besar dan konfigurasi dalam batas-batas normal
Sinus dan diafragma normal, kedua hili tidak membesar
Tampak infiltrat di suprahiler kanan kiri dan pada cardia paru
Kesan:
Cor normal, bronchopneumonia
08/04/2019 USG Abdomen
Hepar: permukaan rata, besar normal
Echoparenchym homogen normal
Tak tampak lesi nodiler yang hypoechoic/hyperechoic
Saluran biliaris dan vaskuler normal
Kd. Empedu: dinding rata, batas tegas, tidak menebal, tak tampak batu/SOL,
common bile duct tidak dilatasi
Pankreas: bentuk besar normal dengan parenkim homogen
Spleen: besarnya normal dengan parenkim homogen pembuluh darah normal
Ginjal: bentuk besar normal dengan permukaan rata, cortex dan medulla normal,
tak tampak batu/SOL/tanda-tanda bendungan
Buli-buli: dindingnya rata, batas tegas tak tampak batu.
Tidak tampak gambaran target sign pada regio McBurney
Kesan:
Hepar, kd. Empedu, pankreas, spleen, ginjal, buli-buli, normal
Tidak tampak gambaran appendicitis

15
IV. RESUME

ANAMNESIS

Pasien datang ke UGD pada tanggal 07/04/2019 karena sakit perut 3


hari SMRS. Sebelum sakit perut anak tampak rewel. Sakit perut terutama
pada bagian sebelah kanan bawah dan terasa terus menerus. Pasien mual dan
muntah berisi cairan dan makanan setiap diberi makan atau minum. Selama
sakit pasien jarang BAB, dan tidak ada keluhan mengenai BAK.

PEMERIKSAAN FISIK

TANDA VITAL:

 Nadi : 110x/menit, kuat angkat, isi cukup, regular, ekual


kanan dan kiri
 Pernapasan : 25x/menit
 Suhu : 39,1ºC
 SpO2 : 98%

STATUS LOKALIS

Abdomen:

 Dinding abdomen datar


 Bising usus (+) lemah frekuensi 2x/menit
 Perkusi timpani dengan nyeri perkusi (+)
 Dinding abdomen tegang, defans muskular (+)
nyeri tekan

- + -
+ + -
+ + +
McBurney Sign (+), Blumberg Sign (+), Rovsing Sign (+), Obturator
Sign (+), Psoas Sign (+)

16
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tubex TF :2

CRP : 120

V. DIAGNOSIS BANDING
Apendisitis akut tanpa perforasi
Gastroenteritis akut
Intususepsi
Divertikulitis

VI. DIAGNOSIS KERJA


Apendisitis akut dengan perforasi

17
VII. TATALAKSANA
Non Medikamentosa
Konsultasi dokter spesialis bedah untuk apendektomi
Puasa
Pasang NGT, biarkan terbuka
Bilas lambung

Medikamentosa
IVFD Kaen 3B 5cc/kgBB/jam
Inj. Ceftriaxone 2x400 mg (IV)
Inj. Metronidazole 3x175 mg (IV)

VIII. PROGNOSIS
Ad Vitam : Ad bonam
Ad Functionam : Ad bonam
Ad Sanactionam : Ad bonam

18
IX. FOLLOW UP

08/04/2019
S Demam (-), sakit perut (+), mual (+), muntah (-), BAB encer 3x, warna kuning, lendir (-),
darah (-), BAK normal.

O KU : Tampak sakit sedang Hematologi 07/04/19 08/04/19


Kesadaran : CM Leukosit 18.9 Leukosit 18.4
HR: 120x/menit Eritrosit 4.3 Eritrosit 4.5
RR: 34x/menit Hb 9.9 Hb 11.3
T: 36,6ºC HCT 30 HCT 31
BB: 11 kg Trombosit 277 Trombosit 213
Status generalis MCV 70.4 LED 21
CA (-), SI (-), mata cekung (-) MCH 23.1 MCV 68.2
KGB dbn MCHC 32.8 MCH 24.8
Thx: SNV +/+, Rh -/-, Wh -/- RDW 18.6 MCHC 36.3
S1/S2 reg, m (-), g (-) Tubex TF 2 RDW 18.0
Abd: distensi, tegang, BU (+) lemah CRP 120 Hitung Jenis
2x/menit, Basofil 1
NT Kimia Klinik Eosinofil 0
- + - GDS 54 N. Batang 1
+ + - Elektrolit Serum N. Segmen 63
+ + + Na 139 Limfosit 30
McBurney Sign (+) K 4.0 Monosit 5
Rovsing Sign (+) Cl 101
Blumberg Sign (+)
Obturator Sign (+) 07/04/2019 X-Ray Abdomen 3 Posisi
Psoas Sign (+) (AP+Tegak+LLD)
Preperitoneal fat batasnya tegas
Ekstr: AH (+), CRT<2 dtk Tidak tampak udara bebas, tidak tampak tanda-
tanda ileus
Tidak tampak batu opak
Dilatasi sebagian usus kecil dan besar
Kesan:
Meteorismus
07/04/2019 X-Ray Thorax AP/PA
Tulang-tulang dinding dada dan soft tissue normal
Mediastinum lebar ec thymus
Cor besar dan konfigurasi dalam batas-batas
normal
Sinus dan diafragma normal, kedua hili tidak
membesar
Tampak infiltrat di suprahiler kanan kiri dan pada
cardia paru
Kesan:
Cor normal, bronchopneumonia

19
08/04/2019 USG Abdomen
Hepar: permukaan rata, besar normal
Echoparenchym homogen normal
Tak tampak lesi nodiler yang
hypoechoic/hyperechoic
Saluran biliaris dan vaskuler normal
Kd. Empedu: dinding rata, batas tegas, tidak
menebal, tak tampak batu/SOL, common bile duct
tidak dilatasi
Pankreas: bentuk besar normal dengan parenkim
homogen
Spleen: besarnya normal dengan parenkim
homogen pembuluh darah normal
Ginjal: bentuk besar normal dengan permukaan
rata, cortex dan medulla normal, tak tampak
batu/SOL/tanda-tanda bendungan
Buli-buli: dindingnya rata, batas tegas tak tampak
batu.
Tidak tampak gambaran target sign pada regio
McBurney
Kesan:
Hepar, kd. Empedu, pankreas, spleen, ginjal, buli-
buli, normal
Tidak tampak gambaran appendicitis
A Apendisitis akut dengan perforasi

P - IVFD Kaen 3B (5cc/kgBB/jam)


- Puasa
- NGT dibiarkan terbuka, bilas lambung dengan air putih
- Inj. Ceftriaxone 2x400 mg (IV)
- PCT 150 mg (PO) k/p
- USG Abdomen
- Besok apendiktomi

20
21
22
09/04/2019 10/04/2019
S Demam (-), sakit perut (+), nafsu makan menurun, Demam (-), sakit perut (+), belum BAB dari
BAB encer 2x, BAK normal. kemarin siang, BAK (+)

O KU : Tampak sakit Hasil KU: Tampak sakit


sedang 08/04/19 sedang Hasil
Kesadaran : CM Leukosit 18.4 Kesadaran CM 09/04/19
HR : 110x/menit Eritrosit 4.6 HR: 88x/menit Leukosit 21.3
RR : 30x/menit Hb 11.3 RR: 20x/menit Eritrosit 4.5
T : 36,7ºC HCT 31 T: 36,6ºC Hb 11.1
BB: 11 kg Trombosit 213 Status generalis HCT 32
Status generalis LED 21 CA (-), SI (-) Trombosit 342
CA (-), SI (-), mata MCV 68.2 KGB dbn LED 21
cekung (-) MCH 24.8 Thx: SNV +/+, Rh MCV 70.7
KGB dbn MCHC 36.3 -/-, Wh -/- MCH 24.7
Thx: SNV +/+, Rh RDW 18.0 S1/S2 reg, m (-), g MCHC 34.9
-/-, Wh -/- (-) RDW 17.9
S1/S2 reg, m (-), g FAECES RUTIN Abd: BU (+)
(-) (08/04/19) Ekstr: AH (+), Hemostasis
Abd: distensi, BU Makroskopik CRT<2 dtk Waktu Perdarahan 3
(+), Warna Hijau Waktu Pembekuan 13
NT Konsistensi Lunak Protrombin Time
- - - Lendir Positif Kontrol 14.00
+ - - Darah Negatif Pasien 14.5
+ - - Mikroskopik Masa Tromboplastin
Leukosit Positif Kontrol 33.1
Ekstr: AH (+), Eritrosit Negatif Pasien 23.1
CRT<2 dtk Amoeba Coli Negatif
Amoeba Histolitika
Negatif
Telur Cacing Negatif
Pencernaan
Lemak Negatif
Amilum Negatif
Serat Negatif
Sel Ragi Negatif

A  - Apendisitis perforasi post operasi H+0  - Apendisitis perforasi post operasi H+1

P - IVFD Aminofusin PAED 250 cc/24 jam - IVFD Kaen MG3 (3cc/kgBB/jam)
- Puasa Habis -> ganti Kaen 1B
- NGT dibuka - IVFD Aminofusin PAED 250 cc/24 jam
- Bilas lambung dengan air putih Habis -> stop
- Inj. Ceftriaxone 2x400 mg (IV) - Coba air putih 1 sdm/jam
- Inj. Metronidazole 3x175 mg (IV) - Sore: Susu LLM 6x100 cc
- Inj. PCT drip 3x300 mg (IV) maintenance - Inj. Ceftriaxone 2x400 mg (IV)
- Inj. Metronidazole 3x175 mg (IV)
- Inj. PCT drip 3x300 mg (IV) maintenance

23
11/04/2019 12/04/2019 13/04/2019
S Demam (-) Demam (-) Demam (-)
Pasien belum makan, sudah mau Sakit perut bila makan banyak. Sakit perut bila makan banyak.
minum susu. BAB mencret 1x, darah (-), lendir Terakhir BAB kemarin.
Flatus (+) (-) Batuk pilek (-)
Semalam mencret 1x, darah (-), Nafsu makan baik
lendir (-) Mual muntah (-)
O KU : Tampak sakit sedang KU : Tampak sakit sedang KU: Tampak sakit ringan
Kesadaran : CM Kesadaran : CM Kesadaran CM
HR: 110x/menit HR : 110x/menit HR: 88x/menit
RR: 24x/menit RR : 22x/menit RR: 20x/menit
T: 36,4ºC T : 36,5ºC T: 36,6ºC
Status generalis Status generalis Status generalis
CA (-), SI (-), mata cekung (-) CA (-), SI (-), mata cekung (-) CA (-), SI (-)
KGB dbn KGB dbn KGB dbn
Thx: SNV +/+, Rh -/-, Wh -/- Thx: SNV +/+, Rh -/-, Wh -/- Thx: SNV +/+, Rh -/-, Wh -/-
S1/S2 reg, m (-), g (-) S1/S2 reg, m (-), g (-) S1/S2 reg, m (-), g (-)
Abd: distensi, BU (+) Abd: supel, BU (+) Abd: BU (+), supel
Ekstr: AH (+), CRT<2 dtk Ekstr: AH (+), CRT<2 dtk Ekstr: AH (+), CRT<2 dtk

A - Apendisitis perforasi post  - Apendisitis perforasi post  - Apendisitis perforasi post


operasi H+2 operasi H+3 operasi H+4

P - IVFD Kaen 1B - IVFD Kaen 1B - Pasien dipulangkan


(3cc/kgBB/jam) (3cc/kgBB/jam)
- Diet BBS - Diet BBS Obat untuk pulang:
- Inj. Ceftriaxone 2x400 mg - Inj. Ceftriaxone 2x400 mg - Cefixime syr 2x 3/4 cth (PO)
(IV) (IV) - PCT syr 3x1 cth (PO)
- Inj. Metronidazole 3x175 - Inj. Metronidazole 3x175 mg - Ranitidin 2x25 mg (PO)
mg (IV) (IV)
- PCT drip 3x300 mg (IV) - PCT drip 3x300 mg (IV)
maintenance maintenance
- Inj. Ranitidin 2x20 mg (IV) - Inj. Ranitidin 2x20 mg (IV)

24
BAB III
ANALISA KASUS

Pasien datang dengan keluhan utama nyeri abdomen, nyeri terutama


pada kuadran kanan bawah dan terasa terus menerus. Gambaran keluhan
utama tersebut menjadi dasar kecurigaan adanya apendisitis pada pasien. Ibu
pasien mengatakan bahwa pasien menjadi rewel sebelum mengeluh sakit
perut, informasi ini dapat diasumsikan sebagai fase awal apendisitis, dimana
terjadi nyeri perut yang terasa tidak jelas (viseral), mual, dan anoreksia.
Keluhan sakit perut pasien diikuti, bukan didahului, oleh demam, dan juga
tidak terdapat keluhan BAB cair pada pasien, dari informasi tersebut
kemungkinan gastroenteritis pada pasien dapat disisihkan. Tidak terdapatnya
keluhan saat berkemih menyisihkan diagnosis infeksi saluran kemih. Dari
jumlah leukosit pasien yang tinggi (>16000) dan ditambah dengan fakta
bahwa pasien dibawa 3 hari setelah awitan sakit, patut dicurigai sudah
terjadinya perforasi pada saat pasien diperiksa.
Dari hasil pemeriksaan fisik, nampak perut pasien datar, pada
auskultasi bising usus terasa lemah, temuan ini semakin mengeksklusikan
gastroenteritis sebagai diagnosis pasien. Auskultasi pasien terasa lemah
mungkin disebabkan oleh penegangan otot dinding abdomen yang
mengurangi hantaran suara ke stetoskop. Pada saat dipalpasi, perut pasien
terasa tegang, dengan defans muskular (+), nyeri tekan terasa di berbagai
regio abdomen, tetapi pasien merasa paling sakit ketika dilakukan palpasi
pada titik McBurney (McBurney Sign +), ditemukan juga nyeri alih pada saat
dilakukan palpasi pada regio iliaka sinistra (Rovsing Sign +), terdapat nyeri
lepas (Blumberg Sign +), nyeri saat endorotasi tungkai kanan yang
difleksikan (Obturator Sign +), nyeri saat dilakukan ekstensi pasif sendi
panggul tungkai kanan (Psoas Sign +), melalui kumpulan data yang ada,
dikonklusikan pasien mengalami apendisitis akut dengan perforasi.
Walaupun hasil USG abdomen dan foto X-Ray abdomen dalam batas normal,
secara klinis diagnosis pasien sangat cenderung mengarah ke apendisitis,
maka dari itu pasien ditatalaksana lebih lanjut dengan diagnosis apendisitis.

25
BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA

4.1 DEFINISI
Apendisitis akut adalah peradangan pada appendix vermicularis, dan
merupakan penyakit yang memerlukan tindakan bedah yang paling umum
terjadi pada anak(1,2,4,6,7,9).

4.2 EPIDEMIOLOGI
Apendisitis dapat terjadi pada semua kelompok umur, tetapi lebih
sering terjadi pada anak yang lebih tua, dengan insidensi tertinggi antara usia
12 – 18 tahun. Anak berumur <5 tahun jarang mengalami apendisitis akut
(<5% kasus) dan bahkan lebih jarang lagi pada anak berumur <3 tahun (<1%
kasus). Apendisitis lebih banyak menyerang anak laki-laki (risiko 8,6%)
dibanding anak perempuan (risiko 6,7%).(1, 4)

4.3 ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Proses terjadinya apendisitis akut, disertai perforasi, pembentukan
abses, dan peritonitis merupakan kondisi yang disebabkan oleh berbagai
etiologi, tetapi terdapat satu proses yang merupakan kunci dari terjadinya
apendisitis, yaitu invasi dinding apendiks oleh bakteri.
Inflamasi pada kasus apendisitis diawali dengan terjadinya obstruksi
pada lumen apendiks, obstruksi ini bisa disebabkan oleh hiperplasia limfoid,
fecalith, sisa makanan yang tidak tercerna, benda asing, atau penyebab lain
seperti tumor dan parasit. Obstruksi yang terjadi menyebabkan meningkatnya
tekanan intraluminal melalui proses proliferasi bakteri yang berlebihan yang
disertai sekresi mukus yang terjadi terus menerus. Peningkatan tekanan
intraluminal menghambat aliran limfatik dan darah baik pada vena sehingga
terjadinya edema, dan juga pada arteri, sehingga perfusi jaringan memburuk
dan terjadilah iskemia, jaringan apendiks yang iskemik akan menjadi nekrotik
dan pada akhirnya dapat terjadi perforasi.(1,2,9,10) Pada anak-anak, omentum
yang relatif lebih pendek dan apendiks yang relatif lebih panjang dengan

26
dinding yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang cenderung masih
rendah, memudahkan terjadinya perforasi.(10)
Obstruksi lumen oleh fecalith lebih umum terjadi pada negara maju,
dimana masyarakatnya cenderung mengkonsumsi makanan olahan dan
makanan rendah serat. Walaupun begitu, hubungan kausatif antara diet
rendah serat dan apendisitis masih belum diketahui dengan jelas.
Dari hasil analisa kasus-kasus apendisitis akut melalui pemeriksaan
radiologis ataupun patologi anatomi, didapatkan <50% spesimen dengan
obstruksi luminal. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat etiologi selain
obstruksi yang berperan penting pada apendisitis akut. Infeksi usus (enteritis)
dicurigai memegang peran dalam proses ulserasi mukosa dan invasi bakteri
ke dinding apendiks. Apendisitis pada neonatus sangat langka terjadi, dan
apabila terjadi, perlu dicurigai terdapatnya cystic fibrosis atau penyakit
Hirschsprung.(1, 2)

4.5 MANIFESTASI KLINIS


Manifestasi klinis apendisitis akut pada anak memiliki spektrum yang
luas, dari tanda dan gejala yang klasik/khas hingga manifestasi klinis yang
atipikal. Anak pada masa-masa awal apendisitis akut dapat tampak sehat dan
menunjukkan tanda dan gejala yang minimal, bahkan hasil analisa
laboratorium yang normal. Pada kasus dengan perforasi dan peritonitis,
umumnya anak akan tampak sakit berat dengan obstruksi usus, gagal ginjal,
dan bahkan shock septic. Mayoritas dari kasus apendisitis akut memiliki
manifestasi klinis yang atipikal, hanya sebagian kecil (<50% kasus) yang
memiliki manifestasi klinis yang klasik.
Apendisitis akut biasanya diawali dengan malaise dan anoreksia dalam
periode yang singkat (selama beberapa jam), selama periode ini anak tidak
tampak sakit dan seringkali keluarga tidak mencari pertolongan medis untuk
sang anak. Perkembangan penyakit akan berlangsung cepat dengan gejala
nyeri perut progresif dan diikuti dengan muntah-muntah. Perforasi dapat
terjadi dalam 48 jam pertama, sehingga kesempatan untuk mendiagnosis
pasien sebelum terjadinya perforasi sangatlah singkat (~36–48 jam).

27
Nyeri perut merupakan keluhan utama dan seringkali merupakan
keluhan yang pertama dirasakan pasien(1,2,5-7,9,10), nyeri perut biasanya
muncul dalam beberapa jam setelah awitan penyakit. Seperti pada organ
viseral lainnya, dikarenakan tidak terdapatnya serabut saraf somatik, awal
dari inflamasi apendiks dirasakan sebagai nyeri yang tidak jelas, sulit
dilokalisir, tidak dipengaruhi aktifitas atau posisi, dan seringkali bersifat
seperti kolik. Inflamasi yang berlangsung dalam 12-24 jam kemudian
mengakibatkan adanya keterlibatan peritoneum pars parietal, sehingga
muncul nyeri somatik yang terlokalisir pada kuadran kanan bawah abdomen.
Nyeri yang dirasakan menjadi bersifat konstan (terus menerus), terasa lebih
parah, dan rasa nyerinya diperberat oleh gerakan. Anak dapat merasa sangat
tidak nyaman selama ditransportasikan ke rumah sakit karena guncangan
selama perjalanan, nyeri abdomen saat batuk (Dunphy sign), pasien menjadi
sangat hati-hati saat bergerak, dan mungkin kesulitan ketika akan naik ke
meja periksa.
Mual dan muntah terjadi pada lebih dari setengah kasus, dan biasanya
muncul beberapa jam setelah awitan nyeri perut. Anorexia merupakan gejala
yang klasik pada apendisitis akut, tetapi terkadang pasien dapat merasa lapar.
Dalam perkembangan penyakit yang lebih lanjut, apendisitis akut dapat
disertai dengan peristaltik usus yang menurun, menyebabkan terjadinya
konstipasi yang dapat memperancu diagnosis. Dikarenakan infeksi pada usus
dapat menyebabkan apendisitis, diare dapat muncul sebagai keluhan pertama
pasien, dan GEA dapat menjadi diagnosis kerja yang ditentukan. Berbeda
dengan GEA, nyeri perut pada apendisitis bersifat konstan (tidak kolik dan
tidak mereda dengan defekasi). Demam pada apendisitis akut umumnya
rendah, kecuali perforasi sudah terjadi. Mayoritas pasien mengalami
takikardia ringan.
Perkembangan gejala dari nyeri ringan dan tidak jelas, malaise, dan
anoreksia menjadi nyeri perut terlokalisir yang lebih berat, demam, dan
muntah-muntah umumnya terjadi dengan cepat, 24-48 jam pada mayoritas
kasus. Apabila penegakkan diagnosis terlambat dan melewati 36-48 jam,
kemungkinan terjadinya perforasi melebihi 65%. Pada periode setelah

28
perforasi terjadi, nyeri perut dan gejala-gejala lainnya dapat mereda,
kemungkinan karena hilangnya tekanan intraluminal. Apabila perforasi yang
terjadi menyebabkan peritonitis difus, pasien biasanya mengalami nyeri perut
difus yang progresif meningkat dan keadaan pasien menjadi “toksik“, yang
ditandai dengan dehidrasi dan tanda-tanda sepsis seperti hipotensi, oliguria,
asidosis, dan demam tinggi. Apabila perkembangan penyakit sudah melewati
beberapa hari, seringkali dapat ditemukan tanda dan gejala ileus obstruktif
pada pasien. Terkadang pasien dapat menunjukkan gejala gangguan traktus
urinarius, diakibatkan inflamasi pada ureter dan/atau vesika urinaria yang
terletak dekat dengan apendiks. Nyeri saat berkemih yang dikeluhkan karena
penekanan pada peritoneum yang sedang mengalami inflamasi.(1)

4.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan darah lengkap dan
urinalisis sering dilakukan pada kasus apendisitis. Jumlah leukosit pada
masa-masa awal apendisitis (24-48 jam pertama) dapat menunjukkan hasil
yang normal atau sedikit meningkat (11000 – 16000) dengan gambaran shift
to the left. Pada kasus apendisitis dengan perforasi, jumlah leukosit dapat
meningkat lebih tinggi, bahkan hingga >20000.
Dari hasil urinalisis seringkali didapatkan beberapa leukosit ataupun
eritrosit, yang disebabkan apendiks yang sedang mengalami infllamasi
terletak dekat dengan ureter ataupun kandung kemih, meski demikian pada
urin umumnya tidak ditemukan adanya bakteri. Urin pasien cenderung akan
lebih pekat dan mengandung keton akibat dari asupan oral yang berkurang
dan muntah-muntah.
Kadar elektrolit dan juga fungsi hati umumnya normal kecuali terdapat
keterlambatan diagnosis, sehingga terjadi dehidrasi berat dan/atau sepsis.
Kadar elektrolit sendiri dapat membantu mengevaluasi derajat keparahan
penyakit dan juga memberikan informasi mengenai tindakan resusitasi cairan
yang perlu diberikan, tetapi jarang sekali bermanfaat untuk kepentingan
diagnostik. Pemeriksaan kadar amilase dan enzim hati hanya berfungsi untuk

29
menyinggirkan diagnosis banding, seperti pankreatitis dan kolesistitis, dan
tidak perlu dilakukan apabila kecurigaan terdapatnya apendisitis akut sudah
kuat.
Kadar CRP (C-reactive protein) berbanding lurus dengan tingkat
keparahan inflamasi yang sedang terjadi pada apendiks, tetapi tidak spesifik
sehingga jarang dilakukan. Kadar protein amiloid A pada serum secara
konsisten meningkat pada pasien dengan apendisitis akut, dengan spesifisitas
86% dan sensitifitas 83%.

Pemeriksaan Radiografi/Pencitraan
Foto (X-Ray) Polos Abdomen
Pemeriksaan foto x-ray polos abdomen dapat bermanfaat pada beberapa
kasus nyeri abdomen/suspek apendisitis. Hasil yang didapat bisa berupa
gambaran usus yang terdistensi lokal (sentinel loop), gambaran ileus
terlokalisir, skoliosis akibat spasme otot psoas, air-fluid level pada kolon di
atas fossa illiaka dextra, massa jaringan lunak pada kuadran kanan bawah
abdomen, atau apendikolith yang terkalsifikasi. Hasil radiografi memiliki
sensitifitas yang rendah, dengan kesan yang normal dapat ditemukan pada
sekitar 50% pasien, maka dari itu pemeriksaan foto x-ray polos untuk
mendiagnosis apendisitis akut pada umumnya tidak dianjurkan, kecuali untuk
mengevaluasi apakah terdapat komplikasi seperti ileus obstruktif ataupun
perforasi pada pasien.

Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan USG biasanya dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis, karena memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi (>90%).
Selain itu keuntungan dari pemeriksaan USG adalah akses yang mudah,
cepat, biaya yang rendah, dan pasien tidak perlu dipersiapkan secara khusus
dan juga tidak terpapar radiasi berlebih. Hasil pemeriksaan yang indikatif
terdapatnya apendisitis adalah penebalan dinding apendiks ≥6 mm, distensi
luminal, kompresibilitas yang berkurang, massa pada kuadran kanan bawah
abdomen, atau terdapatnya apendikolith. Hasil yang mensugestikan

30
terdapatnya apendisitis dengan komplikasi adalah penebalan dinding yang
tidak simetris, terdapatnya abses, terdapat cairan bebas pada rongga
intraperitoneal, dan edema pada jaringan sekitar apendiks. Keterbatasan
pemeriksaan USG adalah pada sekitar 20% kasus, apendiks pasien tidak dapat
divisualisasikan. Terdapat beberapa situasi atau kondisi yang mengurangi
sensitifitas USG, antara lain obesitas, distensi usus, dan juga rasa nyeri (yang
mengganggu proses pemeriksaan). Pemeriksaan USG terutama sangat
berguna dalam pemeriksaan kelompok perempuan berusia remaja, yang tidak
jarang ditemukan apendiks yang normal pada saat operasi apendektomi.
Pemeriksaan USG dapat mendeteksi kondisi patologis pada ovarium tanpa
diperlukan paparan radiasi yang berbahaya. Penemuan USG yang positif
apendisitis ataupun normal, meniadakan keperluan untuk pemeriksaan CT-
scan dan perlu dipertimbangkan sebagai pemeriksaan pencitraan yang
pertama dilakukan dalam kasus dengan kecurigaan apendisitis.

CT-Scan (Computed Tomography Scan)


Pemeriksaan CT-scan merupakan gold standard pemeriksaan
pencitraan pada kasus apendisitis, tetapi memiliki sisi negatif yaitu paparan
radiasi dan juga biaya yang lebih tinggi. Pemeriksaan CT-scan untuk kasus
apendisitis memiliki sensitifitas dan spesifisitas >95%. Hasil pemeriksaan
dapat berupa apendiks yang terdistensi (dilatas >7 mm) dengan dinding yang
tebal, bercak garis inflamasi pada lemak mesenterium sekitar, phlegmon atau
abses pericecal, dan apendikolith juga dapat ditemukan. Pemeriksaan CT-
scan dapat membantu mengarahkan proses drainase cairan perkutan.

MRI (Magnetic Ressonance Imaging)


Pemeriksaan MRI memiliki tingkat akurasi yang sebanding dengan CT-
scan dalam penegakkan diagnosis apendisitis dan juga tidak terdapat paparan
radiasi yang terjadi. Pemeriksaan apendisitis menggunakan MRI tidak umum
karena akses yang terbatas, biaya lebih tinggi, seringkali membutuhkan
sedasi, dan tidak begitu berperan untuk membantu proses drainase cairan.(1)

31
4.7 DIAGNOSIS
Walaupun penegakkan diagnosis apendisitis akut tetap bergantung pada
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap, tanda dan gejala klasik
apendisitis akut tidak selalu muncul pada semua pasien. Riwayat perjalanan
penyakit perlu menjadi pusat perhatian saat menegakkan diagnosis. Pada
kebanyakan kasus, diagnosis apendisitis dapat langsung ditegakkan
berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik saja, sehingga pasien
dapat mendapatkan terapi lebih dini, menghemat biaya, dan juga tidak perlu
terpapar radiasi karena pemeriksaan pencitraan.
Pemeriksaan fisik diawali dengan inspeksi keadaan umum pasien. Anak
yang datang dalam <12 jam setelah awitan umumnya tidak menunjukkan
tanda-tanda yang jelas. Anak yang datang dalam 18-36 jam setelah awitan
umumnya tampak sakit sedang dan terlihat bergerak dengan hati-hati, tubuh
meringkuk ke depan, dan seringkali tampak sedikit pincang. Ketika
berbaring, sang anak cenderung akan berbaring ke sebelah kanan dengan lutut
ditekuk ke atas untuk merelaksasikan otot abdomen, dan ketika diminta untuk
berbaring telentang atau duduk, pasien akan bergerak dengan perlahan-lahan
dan mungkin menggunakan tangannya untuk memegangi kuadran kanan
bawah abdomennya.
Pemeriksaan fisik perlu diinterpretasikan relatif dengan riwayat
perjalanan penyakit pasien. Nyeri tekan abdomen dapat tidak terasa jelas atau
bahkan tidak ditemukan pada masa-masa awal apendisitis, sedangkan pada
apendisitis yang sudah mengalami ruptur/perforasi akan ditemukan nyeri
tekan abdomen yang difus. Pada masa-masa awal apendisitis, dinding
abdomen biasanya tampak datar, abdomen yang tampak distensi
menunjukkan adanya perkembangan penyakit yang lebih kompleks, dapat
berupa perforasi ataupun ileus obstruktif. Pemeriksaan auskultasi abdomen
dapat menemukan bising usus yang normal atau meningkat pada masa awal
apendisitis, yang kemudian bising usus menjadi cenderung menurun ketika
perkembangan penyakit mengarah ke perforasi. Pada palpasi abdomen,
adanya nyeri tekan yang terlokalisir merupakan tanda dengan nilai diagnostik
tertinggi. McBurney sign merupakan tanda klasik yang umum ditemukan,

32
dimana nyeri tekan paling terasa pada 1/3 lateral antara SIAS (spina illiaka
anterior superior) dengan umbilikus, tetapi bisa juga terjadi lokalisasi nyeri
abdomen pada area lain selain pada titik McBurney. Nyeri tekan terlokalisir
lebih jarang ditemukan pada apendiks dengan letak retrocecal (>50% kasus).
Pada kasus dengan apendiks yang terletak dalam rongga pelvis, nyeri tekan
abdomen dapat terasa minimal dan nyeri tekan dapat lebih jelas ditemukan
pada pemeriksaan colok dubur. Tanda jelas apendisits akut lainnya adalah
defense muscular/guarding dimana tanda ini dapat terjadi karena kemauan
pasien (volunter) saat perutnya akan disentuh, atau dapat juga secara
involunter yang disebabkan oleh peritonitis. Nyeri lepas (Blumberg sign) dan
nyeri menjalar (Rovsing sign) juga sering ditemukan pada apendisitis akut,
tetapi tidak selalu ada. Pemeriksaan nyeri lepas (Blumberg sign) memerlukan
palpasi yang dalam dan diikuti dengan pelepasan penekanan secara tiba-tiba.
Pemeriksaan ini seringkali sangat menyakitkan pasien dan memiliki korelasi
yang rendah dengan peritonitis, sehingga sebaiknya pemeriksaan ini
dihindari. Perkusi dinding abdomen merupakan pemeriksaan yang lebih baik
untuk mengetahui keberadaan iritasi peritoneum. Selain itu, pemeriksaan
colok dubur juga membuat pasien merasa tidak nyaman dan jarang berperan
dalam penegakkan diagnosis apendisitis. Psoas sign dan obturator sign
merupakan rasa nyeri yang diakibatkan pergerakan dan peregangan pasif otot
psoas dan obturator internus. Psoas sign didapatkan dengan fleksi aktif sendi
panggul ataupun ekstensi pasif sendi panggul, psoas sign biasanya positif
pada kasus dengan apendiks letak retrocecal. Obturator sign diperiksa dengan
melakukan fleksi pasif pada sendi panggul, kemudian dilakukan rotasi
internal dan diikuti dengan aduksi, obturator sign positif biasanya
menggambarkan apendiks dengan letak di dalam rongga pelvis.
Sistem skoring bernama Pediatric Appendicitis Score (Tabel 1) menilai
hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan data laboratorium untuk membantu
penegakkan diagnosis apendisitis akut. Skor ≤2 menunjukkan kecilnya
kemungkinan adanya apendisitis pada pasien. Skor ≥8 mensugestikan
terdapat apendisitis pada pasien. Sedangkan skor 3 – 7 menunjukkan
diperlukannya evaluasi yang lebih lanjut.(1)

33
Tabel 1. Pediatric Appendicitis Scores(1)

Manifestasi Klinis Skor

Demam >38°C 1

Anoreksia 1

Mual/muntah 1
Nyeri abdomen saat batuk/perkusi/hentak 2
tumit
Nyeri tekan kuadran kanan bawah abdomen 2

Nyeri yang berpindah tempat 1

Leukositosis >10000/µL 1

Neutrofilia >75% 1

Total 10

4.8 DIAGNOSIS BANDING


Diagnosis banding apendisitis terdiri dari gastroenteritis, kolesistitis,
pankreatitis, infeksi saluran kemih, dan pada perempuan, torsi ovarium,
kehamilan ektopik, ruptur kista ovarium, pelvic inflammatory disease. Pada
pasien dengan dengan pielonefritis, demam dan jumlah leukosit biasanya
lebih tinggi, terdapat gejala disuria, dan nyeri tekan dapat terasa pada bagian
sisi perut atau sudut kostovertebral. Apendisitis dapat terjadi lagi pada sisa
apendektomi sebelumnya, tapi kejadian ini langka terjadi.
Seringkali apendisitis termisdiagnosis sebagai gastroenteritis. Riwayat
awitan penyakit dan perkembangannya merupakan komponen kunci dalam
anamnesis. Pada kasus apendisitis dengan manifestasi klinis yang klasik,
pasien umumnya mengatakan bahwa nyeri perut adalah keluhan utamanya.
Keberadaan gejala sistemik seperti nyeri kepala, menggigil, dan nyeri otot
umumnya menandakan bahwa pasien tersebut tidak menderita apendisitis.
Apendisitis biasanya diawali dengan gejala tidak jelas berupa malaise dan
anoreksia, yang kemudian diikuti dengan nyeri perut yang muncul tiba-tiba
dan menjadi semakin parah dalam 24-48 jam pertama. Dalam 24-48 jam
pertama ini biasanya pasien dapat muntah 1-3 kali. Frekuensi muntah yang
banyak tidak umum terjadi pada masa awal apendisitis. Sebaliknya, pada

34
pasien dengan gastroenteritis, keluhan utama pasien adalah diare dan muntah.
Riwayat muntah sebelum munculnya sakit perut, diare dan muntah dalam
jumlah yang besar, dan demam yang tinggi biasanya mengarah ke diagnosis
gastroenteritis. Pada apendisitis bising usus biasanya normal atau bahkan
menurun, sedangkan pada gastroenteritis bising ususnya meningkat. Selain
itu perkembangan penyakit pada apendisitis cenderung semakin memburuk,
sedangkan pada gastroenteritis pasien masih dapat merasa membaik.(1)

4.9 PENATALAKSANAAN
Prinsip utama tatalaksana apendisitis akut adalah mencegah terjadinya
sepsis dan komplikasi infeksius lainnya yang seringkali meningkatkan
morbiditas pasien, terutama pada kasus perforasi.(1) Segera setelah
didiagnosis apendisitis akut, pasien dipuasakan, diberikan cairan intravena,
diberikan analgetik dan antiemetik (bila diperlukan), dan diberi antibiotik.(3,8)
Pasien kemudian segera dirujuk kepada dokter bedah. Apendektomi harus
dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah perforasi dan komplikasi
lainnya seperti abses atau bahkan sepsis.(1-10)
Pemberian antibiotik preoperatif efektif untuk menurunkan komplikasi
infeksi pasca operasi. Diberikan antibiotika broad spectrum supaya
mencakup bakteri gram positif dan juga negatif, pada kasus apendisitis tanpa
komplikasi dapat diberikan satu jenis antibiotik broad spectrum saja,
misalnya ceftriaxone dan sebagainya, bila terdapat tanda-tanda komplikasi
umumnya diberikan antibiotik dalam bentuk kombinasi, seperti Cefotaxime
dan Clindamycin, Ceftriaxone dan Metronidazole. Kombinasi ini dipilih
karena diketahui ampuh melawan bakteri yang sering terlibat, yaitu
Eschericia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus, Streptococcus
viridans, Klebsiealla, dan Bacteroides. Terdapat regimen yang dahulu pernah
direkomendasikan berupa kombinasi tiga antibiotik (ampicillin, gentamicin,
dan clindamycin/metronidazole), regimen ini masih efektif tetapi menambah
biaya dan terdapat risiko ototoksisitas. Pemberian antibiotik dilanjutkan
hingga 3-5 hari pasca operasi. Antibiotik oral memiliki efektifitas yang sama
dengan antibiotik IV, sehingga pemberian obat per oral dapat langsung

35
dilakukan apabila sudah terdapat bising usus.(1,3,5,9) Pada pasien dengan bising
usus yang positif, dapat perlahan-lahan diberikan cairan oral mulai dari 15
ml/jam hingga 30 ml/jam selama 4-6 jam, apabila sistem pencernaan pasien
dapat mentoleransi asupan oral tersebut (tidak muntah, kembung, sakit perut,
dsb) dapat dipertimbangkan pemberian makanan cair seperti bubur saring,
yang kemudian dilanjutkan dengan makanan lunak atau nasi tim, tergantung
keadaan umum dan toleransi pasien.
Pasien dapat pulang dalam 24 – 40 jam pasca operasi, apabila tidak
terdapat komplikasi pasca operasi seperti demam atau leukositosis.
Terdapatnya demam atau leukositosis hingga 5 hari pasca operasi
memerlukan evaluasi lanjut untuk mengetahui apakah terdapat abses
intraabdomen pada pasien.(2)

4.10 KOMPLIKASI DAN PROGNOSIS


Tingkat morbiditas/komplikasi bergantung pada tingkat keparahan
apendisitis. Pada kasus tanpa perforasi, tingkat komplikasi diperkirakan 3-
7%. Sedangkan dengan perforasi, kemungkinan komplikasi meningkat
hingga 15-30%. Pada anak berusia <5 tahun, kemungkinan perforasi berkisar
>80%.
Komplikasi yang umum terjadi adalah infeksi pada luka dan juga abses
intraabdomen, kedua komplikasi ini umum terjadi setelah perforasi. Perforasi
dan abses dapat menyebabkan pembentukan fistula pada organ sekitar. Selain
itu, apendisitis dengan perforasi juga dapat menyebabkan sepsis dan gagal
organ multipel, tetapi keadaan ini umumnya dapat dicegah dengan pemberian
antibiotik dan terapi suportif yang adekuat pada masa pre operasi. Komplikasi
lain yang dapat terjadi adalah ileus pasca operasi, peritonitis difusa,
pylephlebitis vena porta (langka), dan ileus obstruktif adhesiva.
Tingkat mortalitas pada apendisitis sangat rendah (<0,5%) dan biasanya
terjadi pada neonatus dan pasien immunocompromised.(1)

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Aiken JJ, Oldham KT. Acute Appendicitis. Dalam: Kliegman RM. Nelson
Textbook of Pediatrics. Philadelphia: Elsevier. 2016. Hal 1887-94
2. Jacobs DO. Acute Appendicitis and Peritonitis. Dalam: Kasper DL, Hauser SL,
Jameson JL, et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine. New York:
McGraw-Hill. 2015. Hal 1985-9
3. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit: Pedoman Bagi Rumah
Sakit Rujukan Tingkat Pertama Di Kabupaten/Kota. WHO. 2009. Hal 251-74
4. Atikasari H, Susetyowati, Makhmudi A. Hubungan Kebiasaan Makan dan Status
Gizi Terhadap Kejadian Apendisitis pada Anak di Yogyakarta. Sari Pediatri.
2015;17(2):95-100
5. Craig S, Brenner BE. Appendicitis [Internet]. Medscape. 2018. Diunduh dari:
https://emedicine.medscape.com/article/773895-overview. Diakses tanggal 2 Mei
2019.
6. Baird D, Simillis C, Kontovounisios C, Rasheed S, Tekkis P. Acute Appendicitis.
BMJ. 2017;357:1-6
7. Windy CS, Sabir M. Perbandingan Antara Suhu Tubuh, Kadar Leukosit, Dan
Platelet Distribution Width (PDW) Pada Apendisitis Akut Dan Apendisitis
Perforasi Di Rumah Sakit Umum Anutapura Palu Tahun 2014. Jurnal Kesehatan
Tadulako. 2016;2(2):1-72
8. Apendisitis [Internet]. Hospital Care For Children. 2016. Diunduh dari:
http://www.ichrc.org/942-apendisitis. Diakses tanggal 3 Mei 2019
9. Zulfikar F, Prihwanto BS, Wiratmo. Studi Penggunaan Antibiotik pada Kasus
Bedah Apendiks di Instalasi Rawat Inap RSD dr. Soebandi Jember Tahun 2013.
e-Jurnal Pustaka Kesehatan. 2015;3(1):44-9
10. Sander MA. Apendisitis Akut: Bagaimana Seharusnya Dokter Umum Dan
Perawat Dapat Mengenali Tanda Dan Gejala Lebih Dini Penyakit Ini?. e-Jurnal
Keperawatan. 2011;2(1):15-20

37