Anda di halaman 1dari 37

PERENCANAAN PEMBELAJARAN

BERBASIS HOTS

DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2019
Daftar Isi
Bab I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Ruang Lingkup
C. Tujuan
Bab II. Persiapan Perencanaan Pembelajaran
A. Taksonomi Ranah Kompetensi
B. Pendekatan Pembelajaran saintifik dalam proses Pembelajaran
C. Model-model Pembelajaran

Bab III. Perencanaan pembelajaran berbasis HOTS


A. Identifikasi KD yang bersifat HOTS
B. Analisis model Pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik KD
C. Integrasi Model Pembelajaran kedalam pendekatan saintifik
D. Perangkat Pembelajaran

Bab IV. Penutup


A. Kesimpulan
B. Penutup

Lampiran
Bab I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Untuk melaksanakan amanat pendidikan tersebut, dikembangkan Standar
Proses Pembelajaran yang mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan dan
Standar Isi. Standar Proses Pembelajaran merupakan kriteria minimal
mengenai perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian
pembelajaran, dan pengawasan pembelajaran pada satuan Pendidikan
Menengah Kejuruan untuk mencapai kompetensi lulusan. Perencanaan
pembelajaran sebagai bagian dari proses pembelajaran disusun dalam
bentuk silabus, RPP, dan/atau perangkat pembelajaran lain yang
mengacu pada standar isi dan standar kompetensi lulusan.
Proses pembelajaran diselenggarakan berbasis aktivitas secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta
didik. Selain itu proses pembelajaran juga memberikan ruang untuk
berkembangnya keterampilan abad XXI yaitu kreatif, inovatif, berfikir kritis,
pemecahan masalah, kolaboratif dan komunikatif untuk menyongsong era
revolusi industri 4.0 maupun perubahan situasi dan kondisi industri yang
akan datang. Era revolusi industri 4.0 juga dikenal dengan fenomena
disruptive innovation yang menekankan antara lain pada pola ekonomi
digital, kecerdasan buatan, big data, dan robotik. Untuk menyiapkan
tamatan yang siap bekerja di situasi tersebut, diperlukan proses
pembelajaran yang berbentuk HOTS. Untuk mendukung tercapainya HOTS
tersebut, pendidik perlu mempersiapkan beberapa kegiatan sebelum
membuat perencanaan pembelajaran antara lain adalah:
 memahami taksonomi ranah kompetensi,
 memahami pendekatan pembelajaran saintifik,
 mengklasifikasikan kompetensi yang mengarahkan siswa untuk
memiliki keterampilan tingkat tinggi (HOTS) atau kompetensi yang
tidak memerlukan tercapainya HOTS,
 menganalisis model pembelajaran yang tepat sesuai karakteristik KD
yang ada, dan
 memadukan antara langkah-langkah dalam pendekatan
pembelajaran saintifik dengan sintak model pembelajaran.
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup perencanaan pembelajaran berbasis HOTS mencakup:
 Taksonomi Kompetensi
 Pendekatan pembelajaran saintifik
 Model-model pembelajaran
C. Tujuan
Tujuan perencanaan pembelajaran berbasis HOTS ini adalah
1. Meningkatkan mutu pelaksanaan Perencanaan Pembelajaran di SMK;
2. Mengembangkan silabus yang mengandung HOTS (Higher-order Thinking
Skills);
3. Mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
mengandung HOTS (Higher-order Thinking Skills);
Bab II. Persiapan Perencanaan Pembelajaran

A. Taksonomi Ranah Kompetensi


Taksonomi dimaknai sebagai klasifikasi berhirarki/bertingkat dari ranah
kemampuan peserta didik yang terbagi ke dalam ranah sikap, pengetahuan
dan keterampilan. Pengelompokan tersebut dilakukan untuk mengukur
perubahan perilaku peserta didik selama proses pembelajaran sampai pada
pencapaian hasil belajar. Oleh karena itu, pencapaian hasil belajar juga
dirumuskan kedalam tiga kelompok ranah taksonomi tersebut. Tingkat
ranah ini kemudian dijabarkan kedalam perilaku (behaviour) berupa
indikator pencapaian kompetensi.
Secara umum perumusan klasifikasi perilaku hasil belajar dalam
Kurikulum 2013 mengacu pada:
1. Ranah sikap menggunakan taksonomi Krathwohl, dimana pembentukan
sikap peserta didik ditata secara hirarkhis mulai dari menerima
(accepting), merespon/ menanggapi (responding), menghargai (valuing),
menghayati (organizing/ internalizing), dan mengamalkan
(characterizing/actualizing).
2. Ranah pengetahuan. Ranah Pengetahuan dapat ditinjau dari dimensi
proses kognitif maupun dari jenis/bentuk pengetahuan. Dimensi
proses kognitif menggunakan taksonomi Bloom olahan Anderson,
dimana perkembangan kemampuan mental intelektual peserta didik
dimulai dari C1 yakni: (1) mengingat (remember), peserta didik
mengingat kembali pengetahuan dari memorinya; (2) C2 yakni
memahami (understand), merupakan kemampuan mengonstruksi
makna dari pesan pembelajaran baik secara lisan, tulisan maupun
grafik; (3) C3 yakni menerapkan (apply); merupakan penggunaan
prosedur dalam situasi yang diberikan atau situasi baru; (4) C4 yakni
menganalisis (analyse); merupakan penguraian materi ke dalam
bagian-bagian dan bagaimana bagian-bagian tersebut saling
berhubungan satu sama lainnya dalam keseluruhan struktur; (5) C5
yakni mengevaluasi (evaluate); merupakan kemampuan membuat
keputusan berdasarkan kriteria dan standar; dan (6) C6 yakni
mengkreasi (create); merupakan kemampuan menempatkan elemen-
elemen secara bersamaan ke dalam bentuk modifikasi atau
mengorganisasikan elemen-elemen ke dalam pola baru (struktur baru).
Dimensi KI-3
(Pengetahuan)

Proses Kognitif Jenis/Bentuk


Pengetahuan

C-1 Mengingat Faktual

C-2 Memahami Konseptual

C-3 Menerapkan Prosedural

C-4 Menganalisis

C-5 Mengevaluasi Metakognitif

C-6 Mengkreasi

Sedangkan jenis/bentuk pengetahuan dapat dikelompokan menjadi:


 Pengetahuan faktual yakni pengetahuan terminologi atau
pengetahuan detail yang spesifik dan elemen. Contoh fakta bisa berupa
kejadian atau peristiwa yang dapat dilihat, didengar, dibaca, atau
diraba. Seperti mesin mobil hidup, lampu menyala, rem yang
pakem/blong. Contoh lain: Arsip dan dokumen.
 Pengetahuan konseptual merupakan pengetahuan yang lebih
kompleks berbentuk klasifikasi, kategori, prinsip dan generalisasi.
Contohnya fungsi kunci kontak pada Mesin mobil, prinsip kerja
starter, prinsip kerja lampu, prinsip kerja rem. Contoh lain: Pengertian
Arsip dan dokumen, Fungsi Arsip dan dokumen
 Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan bagaimana
melakukan sesuatu termasuk pengetahuan keterampilan, algoritma
(urutan langkah-langkah logis pada penyelesaian masalah yang
disusun secara sistematis), teknik, dan metoda seperti langkah-
langkah membongkar mesin, langkah-langkah mengganti lampu,
langkah-langkah mengganti sepatu rem. Contoh lain: Langkah-
langkah menyusun arsip sistem alphabet dan geografik.
 Pengetahuan metakognitif yaitu pengetahuan tentang kognisi
(mengetahui dan memahami) yang merupakan tindakan atas dasar
suatu pemahaman meliputi kesadaran dan pengendalian berpikir,
serta penetapan keputusan tentang sesuatu. Sebagai contoh
memperbaiki mesin yang rusak, membuat instalasi kelistrikan lampu,
mengapa terjadi rem blong. Contoh lain: Apa yang terjadi jika
penyimpanan arsip tidak tepat?

Hubungan Dimensi Proses Kognitif (cognitive process dimention) dan Dimensi


jenis/bentuk Pengetahuan (Knowledge Dimention)
Pengembangan berfikir peserta didik yang dikenal dengan dimensi
proses kognitif pada rumusan Kompetensi Dasar pengetahuan (KD-3)
memiliki hubungan dengan jenis/bentuk pengetahuan (knowledge
dimention). Sebagai contoh mengingat (C-1) bentuk pengetahuannya adalah
fakta, menjelaskan (C2) berkaitan dengan konsep; menerapkan (C3)
berkaitan dengan bentuk pengetahuan prosedural. Adapun perkembangan
berfikir menganalisis (C4) sampai dengan mengkreasi (C6) memiliki
hubungan dengan bentuk pengetahuan meta kognitif. Lebih jelasnya
hubungan tersebut di uraikan pada tabel 5.
Tabel.5 Hubungan Dimensi Proses Kognitif dan Dimensi Pengetahuan
Perkembangan Berfikir Bentuk
Taksonomi Bloom Rivised Pengetahuan
No Keterangan
Anderson (Cognitive (Knowledge
Process Dimension) Dimension)
Pengetahuan
1. Mengingat (C1)
Faktual
Lower Order
Menginterprestasi prinsip Pengetahuan
2. Thinking Skills
(Memahami/C2) Konseptual
(LOT’s)
Pengetahuan
3. Menerapkan (C3)
prosedural
Menganalisis (C4) Higher Order
Pengetahuan
4. Mengevaluasi (C5) dan Thinking Skills
Metakognitif
Mengkreasi(C6) (HOT’s)
3. Ranah keterampilan. Ranah keterampilan yang mengarah pada
pembentukan keterampilan abstrak menggunakan gradasi dari Dyers
yang ditata sebagai berikut: (1) mengamati (observing); (2) menanya
(questioning); (3) mencoba (experimenting); (4) menalar (associating); (5)
menyaji (communicating); dan (6) mencipta (creating). Sedangkan yang
mengarah pada pembentukan keterampilan kongkret menggunakan
gradasi olahan Simpson dengan tingkatan: persepsi, kesiapan,
meniru, membiasakan gerakan, mahir, menjadi gerakan alami, dan
menjadi gerakan orisinal atau dapat juga menggunakan gradasi olahan
Dave dengan tingkatan Imitasi, Manipulasi, Presisi, Artikulasi,
Naturalisasi

Dimensi KI-4
(Keterampilan)

Keterampilan Keterampilan Kongkrit


Abstrak

K-1 Mengamati Imitasi Persepsi,


Kesiapan, Meniru
K-2 Menanya Manipulasi
Membiasakan

K-3 Mencoba Presisi


Mahir

Artikulasi
K-4 Menalar Alami

K-5 Menyaji Naturalisasi


Orisinal

K-6 Mencipta
Dave Simpson
B. Pendekatan pembelajaran saintifik dalam proses Pembelajaran
Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang meliputi
lima pengalaman belajar sebagai berikut.
1. Observing (mengamati). Yang dimaksud dengan observing adalah
mengamati dengan pancaindra, kegiatannya dapat berupa mendengar,
menyimak, mencium, mengecap, merasakan, membaca, melihat, dan
menonton baik dengan alat maupun tanpa alat. Kegiatan mengamati ini
diakhiri dengan pembuatan kesimpulan sementara dari proses observing
baik secara individu maupun secara kelompok.
2. Questioning (menanya). Yang dimaksud dengan questioning adalah
proses perenungan tentang informasi yang belum dipahami atau
informasi tambahan lain yang ingin diketahui lebih lanjut dalam batas
ruang lingkup materi, atau dapat juga digunakan sebagai
penegasan/klarifikasi materi yang tidak diyakini seluruhnya sudah
dikuasai. Hasil kegiatan questioning dibuat dalam bentuk kalimat
pertanyaan yang dapat dilakukan secara individu maupun dalam
kelompok kecil. Langkah kegiatan ini merupakan langkah yang sangat
‘krusial’ dalam proses pendidikan di Indonesia, karena siswa sangat
jarang dibiasakan untuk mengembangkan pertanyaan tentang “apa yang
tidak/belum mereka kuasai”. Pertanyaan selalu datang dari guru, siswa
disuruh untuk mencari jawabannya.
3. Experimenting (Mengumpulkan informasi/mencoba). Yang dimaksud
dengan Experimenting adalah segala usaha yang diperlukan untuk
mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang di kembangkan.
Kegiatannya dapat berupa mengeksplorasi, mencoba, berdiskusi,
mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan eksperimen,
membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data dari nara
sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/
menambahi/mengembangkan jumlah dan kualitas sumber yang
dikaji/digunakan,
4. Associating (Mengasosiasi). Yang dimaksud dengan Associating adalah
mengolah data yang sudah dikumpulkan dari kegiatan sebelumnya
untuk mensintesakan (membuat kesimpulan) dalam bentuk klasifikasi
data berdasarkan kategori, hubungan antara fenomena/informasi yang
terkait, pola keterkaitan antarberbagai jenis fakta/konsep/teori/
pendapat dll. Kemampuan mensintesakan beberapa data yang sudah
ditemukan dapat mengantarkan siswa untuk memiliki HOTS.
5. Communicating (Mengomunikasikan). Yang dimaksud dengan
Communicating adalah menyajikan laporan dalam bentuk tertulis dan
/atau lisan. Dalam bentuk tertulis dapat berupa bagan, diagram, grafik,
atau laporan tertulis melalui media elektronik, multi media dan lain-lain;
atau menyajikan laporan secara lisan meliputi proses, hasil, dan
kesimpulan dari mengamati sampai menalar.
Dalam pendekatan saintifik, walaupun KD yang di bahas di level LOTS namun
pada langkah mengasosiasi sudah melatih dan mengantarkan siswa untuk
memiliki HOTS.
C. Model-model Pembelajaran
Terdapat beberapa model Pembelajaran beserta sintaknya yang
dikembangkan oleh para ahli, secara umum model-model Pembelajaran ini
sudah mengarahkan pembekalan HOTS. Model Pembelajaran yang dibahas
dalam dokumen ini adalah sebagai berikut.
1. Pembelajaran Teaching Factory
Model pembelajaran Teaching Factory (Tefa} adalah model pembelajaran
yang bernuansa industri melalui sinergi SMK/MAK dengan dunia
usaha/industri untuk menghasilkan lulusan yang kompeten sesuai
dengan kebutuhan pasar. Model pembelajaran ini dirancang dan
dilaksanakan dengan mengaitkan Kompetensi Dasar dalam dokumen
kurikulum dengan jenis produksi yang dihasilkan baik berupa barang dan
ataupun jasa yang dibutuhkan oleh DUDI dan masyarakat pada
umumnya. Pembelajaran melibatkan siswa secara langsung dan
menyeluruh dalam proses produksi yang dilaksanakan di ruang
praktik/bengkel/lahan atau tempat lain yang telah dikondisikan
mendekati situasi dan suasana tempat kerja yang sesungguhnya,
menyangkut: waktu, prosedur, dan cara/aturan sesuai standar DUDI.
Perencanaan, pembuatan, dan pengembangan jenis produksi
diselenggarakan berdasarkan kemitraan antara SMK dan DUDI terutama
yang berada di sekitarnya atau wilayahnya, mulai dari menetapkan dan
atau inovasi produk (barang/jasa), menyiapkan perangkat pembelajaran,
mengondisikan ruang praktik/bengkel/lahan dan lingkungan, proses dan
evaluasi pembelajaran serta pemanfaatan produk dan lulusan.
a. Tujuan Tefa
1) Menciptakan sinergi dan integrasi perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran muatan Nasional, Kewilayahan, dan Kejuruan untuk
menunjang penguasaan kompetensi lulusan;
2) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengantaran soft skills dan
hard skills kepada peserta didik;
3) Meningkatkan kolaborasi dengan DUDI melalui penyelarasan
kurikulum, penyediaan instruktur, alih pengetahuan/teknologi,
internalisasi standar dan budaya kerja DUDI;
4) Meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan
melalui interaksi dengan DUDI;
5) Mendorong lahirnya perubahan paradigma pembelajaran dan
budaya kerja di SMK.
b. Sintak model pembelajaran Tefa
1) Merancang produk;
2) Membuat contoh produk (proto type);
3) Memvalidasi proto type;
4) Mengorganisasikan pekerjaan/pembelajaran;
5) Menjadwalkan pekerjaan/pembelajaran (Misal: sistem blok);
6) Melaksanakan produksi/pembelajaran;
7) Mengevaluasi hasil produksi;
8) Memasarkan hasil produksi.

2. Pembelajaran Berbasis Penyingkapan (Discovery Learning)


Model pembelajaran Discovery Based Learning mengarahkan peserta
didik untuk memahami konsep, arti, dan hubungan melalui proses intuitif
untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Penemuan konsep
tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi peserta didik didorong untuk
mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dan dilanjutkan dengan
mencari informasi sendiri kemudian mengorganisasi atau
mengkonstruksi apa yang mereka ketahui dan pahami dalam suatu
bentuk akhir. Hal tersebut terjadi bila peserta didik terlibat, terutama
dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa
konsep dan prinsip. Discovery Based Learning dilakukan melalui
percobaan, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferring.
Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri
adalah the mental process of assimilating conceps and principles in the
mind.
a. Tujuan
Tujuan mengaplikasikan model discovery learning adalah sebagai
berikut:
1) Meningkatkan Kesempatan peserta didik terlibat aktif dalam
pembelajaran
2) Peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi konkret
maupun abstrak
3) Peserta didik belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak
rancu dan memperoleh informasi yang bermanfaat dalam
menemukan
4) Membantu peserta didik membentuk cara kerja bersama yang
efektif, saling membagi informasi serta mendengarkan dan
menggunakan ide-ide orang lain
5) Meningkatkan Keterampilan konsep dan prinsip peserta didik yang
lebih bermakna
6) Dapat mentransfer keterampilan yang dibentuk dalam situasi
belajar penemuan ke dalam aktivitas situasi belajar yang baru
b. Sintak model Discovery Based Learning
Dalam mengintegrasikan metode Discovery Based Learning kedalam
pendekatan saintifik, beberapa pemahaman tentang setiap sintak
secara umum sebagai berikut:
1) Stimulation (stimulasi/ pemberian rangsangan)
Pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan keraguan, kemudian dilanjutkan untuk tidak
memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki
sendiri. Disamping itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran
dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan
aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan
penyelesaian masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk
menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan
dan membantu peserta didik untuk melakukan eksplorasi. Dalam
hal memberikan stimulasi dapat menggunakan teknik bertanya
yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat
menghadapkan peserta didik pada kondisi internal yang mendorong
eksplorasi.
2) Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah)
Setelah melakukan stimulasi, langkah selanjutnya yang dilakukan
guru adalah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan
bahan pelajaran, kemudian pilih salah satu masalah dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas
pertanyaan masalah). Memberikan kesempatan peserta didik untuk
mengidentifikasi dan menganalisa permasasalahan yang mereka
hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun
pemahaman peserta didik agar terbiasa untuk menemukan
masalah.
3) Data collection (pengumpulan data)
Tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau
membuktikan hipotesis, dengan memberi kesempatan peserta didik
mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca
literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber,
melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Pada tahap ini,
pesertadidik secara aktif berusaha menjawab permasalahan yang
dihadapi.
4) Data processing (pengolahan data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah, mengklasifikasi,
dan mentabulasi data/informasi yang telah diperoleh para peserta
didik. Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/
kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut peserta didik akan
mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/
penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5) Verification (pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik membuktikan hipotesis yang sudah
dikembangkan dengan temuan hasil data yang telah diolah. Proses
verifikasi dapat berjalan dengan baik jika guru pada kegiatan
sebelumnya memberikan peluang kepada peserta didik untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman.
6) Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi adalah proses menarik kesimpulan yang dapat
dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau
masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.

3. Pembelajaran Berbasis Problem (Problem Based Learning/PBL)


Problem Based Learning (PBL) adalah metode pengajaran dengan
konteks permasalahan nyata sebagai sarana untuk mengembangkan
kemampuan berfikir kritis, keterampilan memecahkan masalah, dan
memperoleh pengetahuan.
Sintak model Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
a. Orientasi peserta didik terhadap masalah
Pada tahap ini, guru menjelaskan tujuan pembelajaran, kegiatan
yang akan dilakukan, dan permasalahan yang akan dibahas serta
bentuk penilaian yang akan dilakukan. Tahapan ini memerlukan
usaha keras dari guru memotivasi peserta didik untuk aktif dalam
pemecahan masalah yang dipilih.
b. Mengorganisasikan peserta didik
Pada tahap ini, guru membantu peserta didik mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah
yang telah diorientasi, misalnya membantu peserta didik membentuk
kelompok kecil, membantu peserta didik membaca masalah yang
ditemukan pada tahap sebelumnya, kemudian mencoba untuk
membuat hipotesis atas masalah yang ditemukan tersebut..
c. Membimbing penyelidikan individu dan kelompok
Pada tahap ini, guru mendorong peserta didik untuk
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, melaksanakan
eksperimen, menciptakan dan membagikan ide mereka sendiri untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada tahap ini guru membantu peserta didik dalam menganalisis
data yang telah terkumpul pada tahap sebelumnya, kemudian
mengelompokkan berdasarkan kategori. Peserta didik memberi
argumen terhadap jawaban pemecahan masalah. Penyajian hasil
karya bisa dibuat dalam bentuk laporan, video, atau model.
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Pada tahap ini, guru meminta peserta didik untuk merekonstruksi
pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan
belajarnya. Guru dan peserta didik menganalisis dan mengevaluasi
terhadap pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok.

4. Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)


Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode pembelajaran yang
berfokus pada siswa dalam kegiatan pemecahan masalah terkait dengan
Proyek dan tugas-tugas bermakna lainnya. Pelaksanaan Pembelajaran
Berbasis Proyek dapat memberi peluang pada siswa untuk bekerja,
mengkonstruk tugas yang diberikan guru yang pada puncaknya dapat
menghasilkan produk karya siswa.
a. Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebagai berikut.
1) Memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru dalam
pembelajaran;
2) Meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah
proyek;
3) Membuat siswa lebih aktif dalam memecahkan masalah proyek
yang kompleks dengan hasil produk nyata berupa barang atau
jasa;
4) Mengembangkan dan meningkatkan keterampilan ssiwa dalam
mengelola sumber/bahan/alat untuk menyelesaikan
tugas/proyek; dan
5) Meningkatkan kolaborasi siswa khususnya pada Pembelajaran Ber
basis Proyek yang bersifat kelompok.
b. Sintak Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning)
Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based
Learning) sebagai berikut.
1) Penentuan pertanyaan mendasar (Start With the Essential
Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu
pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam
melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan
realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi
mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan
untuk para peserta didik.
2) Mendesain perencanaan proyek (Design a Plan for the Project.
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan
peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan
merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi
tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung
dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara
mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin,
serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk
membantu penyelesaian proyek.
3) Menyusun jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal
aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini
antara lain: (a) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek,
(b) membuat deadline penyelesaian proyek, (c) membawa peserta
didik agar merencanakan cara yang baru, (d) membimbing
peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak
berhubungan dengan proyek, dan (e) meminta peserta didik
untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu
cara.
4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the
Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap
aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring
dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap
roses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi
aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring,
dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas
yang penting.
5) Menguji hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur
ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan
masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang
tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu
pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
6) Mengevaluasi pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik
melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang
sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu
maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk
mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama
menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik
mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja
selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan
suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan
yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Tabel . Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Projek


Sintak Deskripsi
Langkah -1 Guru bersama dengan peserta didik menentukan
Penentuan projek tema/topik projek
Langkah -2 Guru memfasilitasi Peserta didik untuk merancang
Perancangan langkah-langkah kegiatan penyelesaian projek
langkah-langkah beserta pengelolaannya
penyelesaian projek
Langkah -3 Guru memberikan pendampingan kepada peserta
Penyusunan jadwal didik melakukan penjadwalan semua kegiatan yang
pelaksanaan projek telah dirancangnya
Langkah -4 Guru memfasilitasi dan memonitor peserta didik
Penyelesaian projek dalam melaksanakan rancangan projek yang telah
dengan fasilitasi dan dibuat
monitoring guru
Langkah -5 Guru memfasilitasi Peserta didik untuk mempre-
Penyusunan laporan sentasikan dan mempublikasikan hasil karya
dan
presentasi/publikasi
hasil projek
Langkah -6 Guru dan peserta didik pada akhir proses pembe-
Evaluasi proses dan lajaran melakukan refleksi terhadap aktivitas dan
hasil projek hasil tugas projek
Bab III. Perencanaan pembelajaran berbasis HOTS

A. Identifikasi KD yang bersifat HOTS


High Order Thingking Skill dimaknai sebagai Proses berpikir yang
menekankan pada:
 mentransfer satu konteks ke konteks lainnya
 memproses dan menerapkan informasi
 melihat keterkaitan antara informasi yang berbeda-beda
 menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah
 mengkaji/menelaah ide atau gagasan dan informasi secara kritis dan
 memberikan solusi kreatif dalam penyelesaian masalah dengan
memberikan ide-ide baru.
HOTS juga dimaknai sebagai proses berpikir kompleks dalam menguraikan
materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan
membangun hubungan dengan melibatkan aktivitas mental yang paling
dasar.
Kompetensi Dasar (KD) adalah kemampuan yang menjadi syarat untuk
menguasai Kompetensi Inti yang harus dicapai peserta didik melalui proses
pembelajaran. Kompetensi Dasar merupakan tingkat kemampuan dalam
konteks muatan pembelajaran serta perkembangan belajar yang mengacu
pada Kompetensi Inti dan dikembangkan berdasarkan taksonomi hasil
belajar.
Berdasarkan KD dari KI-3 dan KI-4, pendidik dapat mengidentifikasi KD
yang bersifat HOTS dan KD yang diarahkan tidak perlu mencapai HOTS.
Kegiatannya dapat dilakukan melalui langkah sebagai berikut.
a. Melakukan linearisasi antara KI-3 dengan KD pengetahuan, dengan
mempertimbangkan:
1) Tingkat dimensi kognitif pada KD dan KI, dan
2) Melihat hubungan antara level kognitif dan dimensi pengetahuan.
b. Melakukan linierisasi KD dari KI-3 dan KD dari KI-4;
c. Mengidentifikasi keterampilan yang perlu dikembangkan sesuai rumusan
KD dari KI-4; apakah termasuk keterampilan abstrak atau konkrit.

Contoh Identifikasi KD yang bersifat HOTS untuk Mapel Simulasi Digital


Analisis KD Kesimpulan
Tingkat Jenis Dimensi Kesesuaian Ketercapaian
Dimensi Pengetahuan Dimensi Dimensi
Kompetensi Anali Kognitif Kognitif Kognitif dan
Kompetensi Inti (KI)
Dasar (KD) sis KI dengan bentuk
bentuk Pengetahuan
Pengetahua KD Mata
n Pelajaran
1 2 3 4 5 6 7
3.Memahami, 3.2 Sesua Prosedural Sesuai LOT’s
menerapkan dan Menerapk i Menerap
menganalisis an denga kan (C3)
pengetahuan pengelola n KI
faktual, konseptual, an kelas
dan prosedural informasi X
berdasarkan rasa digital
ingin tahunya melalui
tentang ilmu pemanfaa
pengetahuan, tan
teknologi, seni, komunik
budaya, dan asi daring
humaniora dalam (online).
wawasan
kemanusiaan,
kebangsaan,
kenegaraan, dan
peradaban terkait
penyebab fenomena
dan kejadian dalam
bidang kerja yang
spesifik untuk
memecahkan
masalah.
3.10. Sesua Konseptual sesuai HOTs
Menganal i Mengana
isis jenis denga lisis (C4)
komunik n KI
asi kelas
asinkron X
dalam
jaringan
Keterangan pengisian kolom sbb:
1. Kompetensi Inti (KI-3) sesuai tingkat/kelas
2. Kompetensi Dasar (KD dari KI-3) sesuai mata pelajaran
3. KI pengetahuan atau KI keterampilan; kelas X, XI atau XII
4. Memahami (C2), menerapkan (C3), menganalisis (C4), atau mengevaluasi
(C5).
5. Faktual, konseptual, prosedural atau metakognitif
6. Tuliskan rekomendasi tingkat taksonomi (kata kerja operasional) dan
pengetahuan (materi) yang sesuai tingkatannya untuk KD yang
bersangkutan.
7. Tuliskan sesuai rekomendasi KD dari KI-3 dari mata pelajaran yang tingkat
taksonomi (KKO) pada tingkat lower atau higher other thinking

B. Analisis model Pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik KD


Tidak semua model pembelajaran sesuai untuk semua KD, oleh karena itu
untuk menetapkan model yang paling cocok harus dilakukan analisis terhadap
rumusan pernyataan setiap KD; apakah cenderung pada pembelajaran
penemuan/penyingkapan (Discovery dan Inquiry Learning) atau pada
pembelajaran hasil karya (Problem/Project/ Production-based Learning dan
Teaching Factory). Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
a. Rambu-rambu penentuan model penyingkapan/penemuan (Discovery dan
Inquiry Learning):
1) Pernyataan pasangan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 mengarah ke
pencarian atau penemuan;
2) Pernyataan KD dari KI-3 lebih menitikberatkan pada pemahaman
pengetahuan faktual, konseptual, dan atau operasional;
3) Pernyataan KD dari KI-4 pada taksonomi mengolah dan menalar, serta
4) Keberadaan pasangan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 sebagai awal dari
penguasaan suatu kompetensi.
b. Rambu-rambu penentuan model hasil karya (Problem/Project/ Production-
based Learning atau Teaching Factory):
1) Pernyataan pasangan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 mengarah pada
hasil karya atau produk baik jasa maupun barang;
2) Pernyataan KD dari KI-3 pada pengetahuan metakognitif;
3) Pernyataan KD dari KI-4 pada taksonomi menyaji dan mencipta, serta
4) Pernyataan pasangan KD dari KI-3 dan KD dari KI-4 yang memerlukan
persyaratan penguasaan pengetahuan konseptual dan prosedural.
Model-model pembelajaran berifat fleksibel dan kontekstual sehingga mudah
diadopsi, diadaptasi, dan memberikan ruang seluas-luasnya kepada guru untuk
mengakomodasi berbagai keunggulan dan kearifan lokal, serta pengembangan
budaya belajar. Agar pembelajaran menjadi efektif, model pembelajaran yang
digunakan diharapkan dapat mengarahkan guru untuk merancang proses
pembelajaran yang efektif dengan mempertimbangkan kapasitas dan
kemampuan awal siswa.

C. Integrasi Model Pembelajaran kedalam pendekatan saintifik


Agar kompetensi yang telah ditata dalam kurikulum dapat
diimplementasikan dan dicapai dengan baik, guru perlu mengintegrasikan
sintak dalam model pembelajaran (sebagai bahan referensi dalam
merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran) kedalam langkah
pendekatan pembelajaran saintifik. Dalam penyusunan silabus dan RPP,
langkah-langkah dalam proses pembelajaran tetap mengikuti langkah
pendekatan saintifik. Melalui strategi perencanaan pembelajaran seperti ini,
diharapkan sintak model pembelajaran yang sudah dipersiapkan guru dapat
membantu dan memperjelas langkah-langkah proses pembelajaran yang
dikerjakan siswa sehingga materi pelajaran dan kompetensi yang ada dalam
kurikulum menjadi mudah diajarkan oleh guru, mudah dipelajari siswa, dan
terukur pencapaian serta perkembangannya untuk mencapai kompetensi yang
diinginkan oleh Standar Kompetensi Lulusan.
D. Perangkat Pembelajaran
Perangkat Pembelajaran terdiri atas silabus dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP). Yang dimaksudkan dengan silabus dan RPP adalah:
1. Silabus
a. Pengertian Silabus
Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran
untuk setiap mata pelajaran yang juga memuat kerangka konseptual
program keahlian dan kompetensi keahlian. Silabus merupakan
penjabaran Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar ke dalam
indikator pencapaian kompetensi, materi pokok, kegiatan
pembelajaran, dan penilaian
b. Prinsip-prinsip Pengembangan Silabus
1) Ilmiah
Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam
silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara
keilmuan.
2) Relevan
Cakupan, kedalaman, tingkat kesulitan dan urutan penyajian
materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik,
intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3) Sistematis
Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara
fungsional dalam pencapaian kompetensi peserta didik, baik hard
skills maupun soft skills.
4) Konsisten
Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara
kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, lingkup
materi pembelajaran, alokasi waktu, kegiatan pembelajaran,
penilaian, serta media dan sumber belajar.
5) Memadai
Cakupan indikator pencapaian kompetensi, lingkup materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian, alokasi waktu,
serta media dan sumber belajar cukup (sufficient) untuk
menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6) Aktual dan kontekstual
Cakupan indikator pencapaian kompetensi, lingkup materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian serta media dan
sumber belajar memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi,
dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, peristiwa yang terjadi
serta tuntutan kualitas sumber daya manusia yang kompeten dan
sekaligus berkarakter positif, khususnya terkait dengan dunia
kerja yang relevan.
7) Fleksibel
Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi
peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di
sekolah dan tuntutan masyarakat, khususnya tuntutan dunia
kerja terhadap kualitas sumber daya manusia baik dari sisi hard
skills maupun soft skills.
8) Menyeluruh
Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi
(kognitif, afektif, dan psikomotor).
9) Mengintegrasikan Nilai-nilai Karakter
Mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang harus menjadi
kepribadian (personality) lulusan SMK, baik sebagai makhluk
Tuhan YME, sebagai warga negara Indonesia, sebagai anggota
masyarakat dunia, bahkan sebagai bagian dari komunitas pekerja
di dunia kerja tertentu.
c. Komponen Silabus
Silabus mata pelajaran pada SMK mengandung komponen-
komponen sebagai berikut.
1) Identitas silabus
Setiap silabus mata pelajaran harus memuat identitas tersendiri,
minimal meliputi: nama satuan pendidikan (sekolah), nama bidang
keahlian, nama program keahlian, nama kompetensi keahlian, dan
nama mata pelajaran.
2) Kompetensi Inti
Kompetensi Inti (KI) merupakan tingkat kemampuan untuk
mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang harus dikuasai
oleh peserta didik pada setiap mata pelajaran dan menjadi dasar
pengembangan Kompetensi Dasar (KD). KI mencakup: sikap
spiritual (KI-1), sikap sosial (KI-2), pengetahuan (KI-3), dan
keterampilan (KI-4) yang berfungsi mengintegrasikan muatan
pembelajaran mata pelajaran dalam mencapai SKL.
Pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PA-BP)
dan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
(PPKn) ditulis lengkap KI-1, KI-2, KI-3, dan KI-4, tapi pada mata
pelajaran yang lainnya cukup dituliskan KI-3 dan KI-4.
3) Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar adalah kemampuan yang menjadi syarat untuk
menguasai KI, diperoleh melalui proses pembelajaran. KD
merupakan tingkat kemampuan dalam konteks muatan
pembelajaran serta perkembangan belajar yang mengacu pada KI
dan dikembangkan berdasarkan taksonomi hasil belajar.
a. KD dari KI-3 merupakan dasar untuk mengembangkan materi
pembelajaran pengetahuan.
b. KD dari KI-4 merupakan dasar untuk mengembangkan
keterampilan dan pengalaman belajar yang perlu dilakukan
peserta didik.
c. Khusus untuk Mapel PA-BP dan PPKn ditambah KD dari KI-1
(Sikap Spiritual) dan KD dari KI-2 (Sikap Sosial).
4) Indikator Pencapaian Kompetensi
Menurut William E. Blank (1982) indikator pencapaian kompetensi
atau kriteria unjuk kerja (Performance Criteria), merupakan indikasi
seseorang telah menguasai Kompetensi Dasar. Artinya Indikator
Pencapaian Kompetensi (IPK) merupakan penanda pencapaian
kompetensi dasar yang diwujudkan dalam bentuk perubahan
perilaku peserta didik yang dapat diukur dan diamati, mencakup:
sikap, pengetahuan, dan keterampilan. IPK dapat juga diartikan
sebagai tingkat kinerja yang harus didemonstrasikan oleh peserta
didik untuk dapat dinyatakan telah menguasai suatu KD.
IPK dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, mata
pelajaran, satuan pendidikan, potensi daerah, dan tuntutan
lapangan kerja level lulusan SMK (level 2 atau level 3). Perumusan
IPK harus jelas dalam bentuk kata kerja operasional yang terukur
dan/atau dapat diobservasi, digunakan sebagai dasar untuk
menyusun teknik dan instrumen penilaian.
5) Materi Pokok
Materi Pokok pembelajaran dikembangkan sesuai dengan tuntutan
KD dari KI-3 (Pengetahuan) dan KD dari KI-4 (Keterampilan).
Pengembangan materi pembelajaran mempertimbangkan hal-hal
berikut.
a. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan
spiritual peserta didik;
b. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan
pekerjaan;
c. Skema sertifikasi dan prasyarat (underpinning knowledge) uji
kompetensi
d. Kebermanfaatan bagi peserta didik, baik untuk mendukung
pengembangan hard skills maupun soft skills;
e. Struktur keilmuan;
f. Penguatan nilai-nilai utama pendidikan karakter yaitu
religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan
integritas;
g. Keterampilan Abad 21 khususnya 4C (Creative, Critical Thinking,
Communicative, dan Collaborative), literasi digital, life skills; dan
6) Kegiatan Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi antarpeserta didik, antara
peserta didik dan pendidik, dan antara peserta dan sumber belajar
lainnya pada suatu lingkungan belajar yang berlangsung secara
edukatif, agar peserta didik dapat membangun sikap, pengetahuan,
dan keterampilan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
dalam rangka menghasilkan SDM yang kompeten dan berkarakter.
Proses pembelajaran mengikuti pendekatan saintifik yang sudah
terintegrasi dengan sintak model Pembelajaran.
7) Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar
peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna
dalam pengambilan keputusan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian.
a. Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
b. Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa
yang dapat dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses
pembelajaran, dengan memperhatikan keutuhan aspek sikap,
pengetahuan serta keterampilan, bukan untuk menentukan
posisi seseorang terhadap kelompoknya.
c. Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang
berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator
menjadi tagihan (termasuk rekaman perkembangan nilai-nilai
karakter), kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan
kompetensi dasar yang telah dikuasai dan yang belum, serta
untuk mengetahui kesulitan belajar peserta didik.
d. Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut.
Tindak lanjut untuk proses pembelajaran berikutnya;
pembelajaran remedi bagi peserta didik yang pencapaian
kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan, dan pembelajaran
pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria
ketuntasan;
e. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan kegiatan
pembelajaran yang ditempuh dalam proses pembelajaran.
Misalnya, jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas
observasi lapangan, maka evaluasi harus diberikan baik pada
proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara,
maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan berupa
informasi yang dikumpulkan.
Lingkup dan sasaran penilaian hasil belajar mencakup ranah
sikap (sikap spiritual, sikap sosial, dan perkembangan nilai-nilai
karakter), pengetahuan, dan keterampilan.
f. Sasaran penilaian hasil belajar pada ranah sikap spiritual dan
sikap sosial meliputi tingkatan sikap: menerima, menanggapi,
menghargai, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai spiritual
(taat menjalankan ajaran agama, cinta lingkungan, toleran,
bersih) dan nilai-nilai sosial (gotong royong, tanggung-jawab,
peduli, santun dan lain-lain).
Teknik dan Instrumen Penilaian Sikap:
Teknik Penilaian Bentuk Instrumen
Daftar cek
Observasi
Skala penilaian sikap
Daftar cek
Penilaian diri
Skala penilaian sikap
Penilaian antarpeserta Daftar cek
didik Skala penilaian sikap
Catatan pendidik tentang sikap dan perilaku
Jurnal positif atau negatif, selama dan di luar proses
pembelajaran mata pelajaran.

g. Sasaran penilaian hasil belajar pada ranah pengetahuan adalah


kemampuan berfikir mulai dari mengingat, memahami,
menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta serta
dimensi pengetahuan faktual, konseptual, operasional dan
metakognitif.

Teknik dan Instrumen Penilaian Pengetahuan:

Teknik Penilaian Bentuk Instrumen


 Memilih jawaban (pilihan ganda, dua pilihan
benar-salah, ya - tidak), menjodohkan, sebab-
Tes tulis akibat.
 Menyuplai jawaban (isian atau melengkapi,
jawaban singkat atau pendek, uraian).
 Daftar cek observasi guru terhadap diskusi,
Observasi
tanyajawab, dan percakapan.
 Instrumen penugasan berupa pekerjaan
rumah dan/atau proyek yang dikerjakan
Penugasan
secara individu atau kelompok sesuai dengan
karakteristik tugas.

h. Sasaran penilaian hasil belajar pada ranah keterampilan abstrak yaitu


kemampuan mengamati, menanya, mengumpulkan
informasi/mencoba, menalar dan mengomunikasikan.
Sedangkan pada ranah keterampilan konkret adalah persepsi,
kesiapan, meniru, membiasakan gerakan, mahir, menjadi gerakan
alami, menjadi tindakan orisinal.
Teknik dan Instrumen Penilaian Keterampilan:

Teknik Penilaian Bentuk Instrumen


 Daftar cek
Peserta didik mendapat nilai bila kriteria penguasaan
kompetensi tertentu dapat diamati oleh penilai.
Unjuk kerja/  Skala penilaian (rating scale)
kinerja/ praktik Penggunaan skala penilaian memungkinkan penilai
memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi
tertentu, karena pemberian nilai secara kontinum pada
kategori nilai lebih dari dua.
 Penilaian proyek dilakukan mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, sampai pelaporan.
Proyek
 Untuk menilai setiap tahap perlu disiapkan kriteria
penilaian atau rubrik.
Produk  Daftar cek atau skala penilaian (rubrik).
Portofolio  Daftar cek atau skala penilaian (rubrik).
Tulis  Tes tulis, daftar cek atau skala penilaian (rubrik).

8) Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap pasang KD didasarkan atas
jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu
sesuai yang tersedia di Struktur Kurikulum dengan
mempertimbangkan jumlah KD serta keluasan, kedalaman, tingkat
kesulitan, dan tingkat kepentingan masing-masing KD. Alokasi
waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan waktu
rerata untuk menguasai pasang KD yang dibutuhkan peserta didik
yang memiliki kemampuan beragam.
SILABUS MATA PELAJARAN
(Khusus Mapel PABP dan PPKn)
Nama Sekolah : ……………………………………………………………………
Bidang Keahlian : ……………………………………………………………………
Kompetensi Keahlian : …………………………………………………………….
Mata Pelajaran : ……………………………………………………………………
Durasi (Waktu) : ……………………………………………………………………
KI-1 (Sikap Spiritual) : .........................................................................
KI-2 (Sikap Sosial) :
................................................................................................................
KI-3 (Pengetahuan) :
................................................................................................................
KI-4 (Keterampilan) :
……………………………………………………………………………………………..
Indikator Alokasi
Kompetensi Materi Kegiatan Sumber
Pencapaian Waktu Penilaian
Dasar Pokok Pembelajaran Belajar
Kompetensi (JP)
1 2 3 4 5 6 7
1.1
2.1
3.1
4.1

1.2
2.2
3.2
4.2

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Rpp)


RPP yang selanjutnya disingkat RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran
untuk satu pertemuan atau lebih yang dilaksanakan secara terintegrasi antara
teori dan praktik di SMK/MAK bersama dunia usaha/industri. RPP
dikembangkan dari silabus dan bertujuan untuk mengarahkan kegiatan
pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi.
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan
pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih,
dikembangkan berdasarkan silabus untuk mengarahkan kegiatan
pembelajaran dan penilaian peserta didik dalam mencapai Kompetensi
Dasar (KD). Setiap guru di setiap satuan pendidikan wajib menyusun RPP
untuk kelas di mana guru tersebut mengajar. Penyusunan RPP dilakukan
sebelum awal semester atau awal tahun pelajaran dimulai dan perlu
diperbarui sesuai perkembangan dan kebutuhan peserta didik.
2. Penyusunan RPP harus menerapkan prinsip-prinsip pedagogis secara
tertulis untuk direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga
peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang efektif dalam
mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. RPP disusun agar proses
pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta
psikologis peserta didik.
3. Pengembangan RPP dapat dilakukan oleh masing-masing guru atau
kelompok guru mata pelajaran tertentu yang difasilitasi dan disupervisi
oleh kepala sekolah atau guru senior yang ditunjuk oleh kepala sekolah,
atau melalui MGMP antar sekolah atau antar wilayah yang
dikoordinasikan dan disupervisi oleh pengawas atau dinas pendidikan.
Dalam mengembangkan RPP, guru harus memperhatikan silabus, buku
teks peserta didik, dan buku guru.
Format RPP
Sekolah : …...........................................................................
Mata Pelajaran : …...........................................................................
Kelas/Semester : ……........................................................................
Alokasi Waktu : …...........................................................................
A. Kompetensi Inti
1. Pengetahuan
2. Keterampilan
B. Kompetensi Dasar
1. KD pada KI pengetahuan
2. KD pada KI keterampilan
C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Indikator KD pada KI pengetahuan
2. Indikator KD pada KI keterampilan
D. Tujuan Pembelajaran
E. Materi Pembelajaran
(Rincian dari Materi Pokok Pembelajaran)
F. Pendekatan, Model dan Metode
G. Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan Kesatu:*)
a. Pendahuluan/Kegiatan Awal (… menit)
b. Kegiatan Inti (... menit)
c. Penutup (… menit)
2. Pertemuan Kedua:*)
a. Pendahuluan/Kegiatan Awal (… menit)
b. Kegiatan Inti (... menit)
c. Penutup (… menit),
dan pertemuan seterusnya.
H. Penilaian Pembelajaran, Remedial dan Pengayaan
1. Teknik Penilaian
2. Instrumen Penilaian
a. Pertemuan pertama
b. Pertemuan kedua
c. Pertemuan seterusnya
3. Pembelajaran Remedial dan Pengayaan
I. Media, Alat/Bahan, dan Sumber Belajar
1. Media
2. Alat
3. Bahan
4. Sumber Belajar

Mengetahuai __________, ___________


Kepala………………………….. Guru Mata
Pelajaran…………

_____________________ ________________________
NIP……………………… NIP ………………………
Bab IV. Penutup

Keberhasilan implementasi kurikulum dapat dilihat dari kesesuaian antara


kurikulum yang dimaksudkan/direncanakan (Intended curriculum) dengan
hasil pencapaian kurikulum (attainmend curriculum). Untuk terjadinya
kesesuaian antara kurikulum yang dicapai dengan kurikulum yang diinginkan,
guru perlu memperhatkan antara lain adalah level tuntutan KD dan
model/pendekatan pembelajaran yang digunakan. Didalam kurikulum terdapat
kompetensi yang menginginkan dicapai di level HOTS dan ada pula yang dapat
diarahkan hanya di level LOTS, oleh karena itu guru perlu memahami
perbedaan kompetensi tersebut. Selain itu, untuk mengantarkan siswa
mencapai KD, perlu dipahami bahwa sintak di beberapa model pembelajaran
adalah langkah persiapan guru sebelum melakukan kegiatan pembelajaran
sedangkan pendekatan Saintifik adalah langkah kegiatan siswa yang dapat
mengantarkan materi kedalam memori jangka panjangnya. Oleh karena itu,
dalam rangka meningkatkan efektivitas Pembelajaran, perlu ditingkatkan
perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan
sintak yang ada di model sebagai alat bantu untuk merencanakan langkah
kegiatan siswa dalam pendekatan saintifik.

Bahan ajar ini diharapkan dapat membantu para guru dalam membuat
perencanaan pembelajaran berbasis HOTS, baik secara konsep, pengembangan
dan penerapannya sesuai mata pelajarannya.
Semoga, para guru diberi kemudahan dalam memahami dokumen ini dan
menerapkannya untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran dan penilaian.
Pada akhirnya, peserta didik dapat memahami materi pelajaran secara
bermakna, luas dan mendalam serta dapat menerapkannya pada berbagai
konteks kehidupan sesuai dengan semangat kurikulum. Dengan demikian,
upaya peningkatan mutu pendidikan yang berkeadilan dapat tercapai.