Anda di halaman 1dari 238

METODOLOGI ILMU

PEMERINTAHAN

DRJHON RETEI ALFRI SANDI,S.Sos,M.Si


FISIP UNPAR

1
Mata Kuliah Metodologi Ilmu
Pemerintahan
Mempelajari dan mengkaji masalah,
gejala dan peristiwa pemerintahan
berdasarkan metodologi penelitian
yang sesuai dengan ilmu
pemerintahan guna pengembangan
dan pengayaan konsep, teori dan
praktek di bidang Ilmu Pemerintahan
2
Tujuan Mata Kuliah
Tujuan instruksional umum :
Peserta dapat memahami beberapa pendekatan
metodologis dalam melaksanakan penelitian di
bidang ilmu pemerintahan, dengan metode dan
teknik operasionalnya.
Tujuan instruksional khusus :
Peserta dapat menjelaskan makna ilmu
pengetahuan, menjelaskan berbagai pendekatan
paradigma penelitian bidang ilmu pemerintahan
Menjelaskan prosedur dan teknik penelitian bidang
ilmu pemerintahan yang sesuai dengan
pendekatan paradigma penelitiannya.

3
LITERATUR
• Ndraha, Taliziduhu (1997). Metodologi Ilmu
Pemerintahan, Rineke Cipta, Jakarta.
• Wasistiono, Sadu. Bahan Kuliah Metodologi Ilmu
Pemerintahan. IPDN.
• Taliziduhu Ndraha (2011). Kybernologi (Ilmu
Pemerintahan Baru) Jelid 1. Rineke Cipta, Jakarta.
• Taliziduhu Ndraha (2011). Kybernologi (Ilmu
Pemerintahan Baru) Jelid 2. Rineke Cipta, Jakarta.
• Labolo, Muhadam (2008). Beberapa Pandangan Dasar
tentang Ilmu Pemerintahan. Bayumedia Publishing,
Malang.
• Ratnia Solihah & J.R.G. Djopari (2011). Pengantar Ilmu
Pemerintahan. Universitas Terbuka, Jakarta.
4
• Irawan, Prasetya, 2010. Metodologi Penelitian
Administrasi. UT, Jakarta.
• Bungin, Burhan. 2001. Metodedologi
PenelitianSosial, Airlangga University
Press,Surabaya.
• Sutrisno, Hadi. 1987. Metodologi Research.Jilid
I, II, III. Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi
UGM. Yogyakarta.
• Strauss, Anselm and Yuliet Corbin. 1990. Basics
of Qualitative Research, Sage
Publications,London.
• Yin, Robert K. 1987. Case Study Research
Design and Methods, Mass. USA.
5
METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN

Fokus, Ruang Lingkup


Konsepsi dan Prosedur
Penelitian Ilmiah
Persyaratan Bidang Il. Pemerintahan

Metode Ilmu
Penelitian Pemerintahan

1. Pengantar Ilmu Pemerintahan


2. Pemerintahan Nasional
1. Metode Penelitian Kualitatif
3. Pemerintahan Daerah
2. Metode Penelitian Kuantitatif
4. Birokrasi
3. Statistik Sosial
5. Organisasi dan Manajemen Pem
6. dll

6
METODOLOGI
(Ndraha,1997)

Berasal dari Kata = Method dan Logy

METHOD berasal dari kata :

META = Dunia dibalik yang nyata


HODOS = Bermacam-macam, masalah
yang hendak dipecahkan (kunci
pemecahan)
• LOGOS = Diskursus, Kajian, Ilmu
7
METODE
Sebagai jalan (cara,
pendekatan, alat) yang harus
ditempuh (dipakai) guna
memperoleh pengetahuan
tentang sesuatu hal (sasaran
kajian) baik yang lalu, kini dan
akan datang yang dapat terjadi
dan akan terjadi.
8
Penggunaan metode yang bermacam-
macam menjadi sasaran kajian ilmiah guna
menemukan metode apa yang paling cocok
buat masalah apa pada suatu waktu dan
keadaan.
Hasil pengkajian berbagai metode dijadikan
bahan pembentukan seperangkat
pengetahuan tentang metode yang disebut
METODOLOGI.
Metodologi dapat dipandang sebagai
bagian Filsapat Ilmu Logika atau
Epistimologi
9
PEMERINTAHAN

SOSIAL
EKONOMI

MASALAH
DALAM
MASYARAKAT
BUDAYA POLITIK

BAHASA KEAMANAN

10
UNTUK KEGIATAN PENELITIAN
Metodologi Il. Pemerintahan

Metodologi Il. Ekonomi


METODOLOGI
PENELITIAN

PEMERINTAHAN

SOSIAL Teori
EKONOMI
Proposisi
Hipotesis
Konsep
MASALAH
DALAM ILMIAH Penelitian
MASYARA
KAT

BUDAYA POLITIK VALID & SAHIH

BAHASA
KEAMANAN METODOLOGI
ILMU

FOKUS DI BIDANG ILMU TERTENTU


Metodologi Il. Politik
11
Sumber : Taliziduhu Ndraha 2011
12
Metodologi Penelitian & Metodologi Ilmu

• Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan untuk program
dan kegiatan penelitian

• Metodologi Ilmu
Secara formal embedded terkait di dalam
defenisi ilmu yang bersangkutan dan
secara substantif ditujukan oleh aksioma,
anggapa dasar, pendekatan, model
analisis dan model konstruksi pengalaman
dan konsep
13
Metodologi Ilmu Pemerintahan
• Menunjukan bahan baku body of
knowledge yang disebut ilmu
pemerintahan dan bagaimana
konstruksinya sehingga ilmu tersebut
tetap bertahan dan dan berfungsi
internal dan eksternal dalam kondisi
apapun namun harus fleksibel atas
berbagai perubahan.
14
I
L SUBJECT MATTER NEGARA
M ILMU PEMERINTAHAN
U

P
E
M
OBYEK
E
ILMU
R
I
N RELASI
T HUBUNGAN
A FOKUS OF INTERES
H ILMU PEMERINTAHAN MEMERINTAH
A DAN
N DIPERINTAH

15
METODOLOGI ILMU
PEMERINTAHAN

NEGARA

DIPERINTAH
MEMERINTAH RELASI HUBUNGAN (MASYARAKAT)

PERISTIWA KEADAAN
GEJALA

16
• KEADAAN : Mencakup potensi, kondisi dan
aspirasi masyarakat sebagaimana adanya.
• GEJALA : Konsep filosofik, suatu gejala
dianggap sebagai appearance, amatan yang
terlihat di luar yang bersumber dari dalam yang
hakikat atau esensinya berada di dalam yang
disebabkan oleh atau hubungan dengan
sesuatu yang lain yang dianggap fenomenal
(luar biasa, istimewa).
• PERISTIWA : Terdiri dari kasus-kasus atau
kejadian-kejadian yang dapat diamati, direkam,
dikonstruksikan.
17
Gejala Pemerintahan
• Mempunyai sifat istimewa karena :
• Sifat dan tingkat formalitas yang tinggi.
• Sifat kebebasan pelaku pemerintahan untuk
bertindak yang bersumber dari otoritas,
kondisi lingkungan dan independensi yang
kuat.
• Lingkungan pemerintahan selalu diharapkan
pada perubahan yang cepat dan mendasar,
• Sifat – berulang ulang (ajeg), peristiwa
pemerintahan dapat terlihat secara kualitatif
atau kuantitatif, gejala berualang-tetap. 18
19
Pilihan Penelitian Il. Pemerintahan
• Jika penelitian dimaksudkan sebagai upaya
untuk memahami, mendalami, menghayati
suatu objek melalui Verstehen sehingga
ditemukan uniqueness dan empirical
causality, cocok digunakan “metodologi
kualitatif”.
• Jika dimaksudkan sebagai upaya untuk
menggeneralisasikan suatu temuan pada
sampel ke populasi, atau membuat ramalan
atau melakukan eksperimental, maka cocok
digunakan “metodologi kuantitaif”.
20
Material Pembangun Ilmu
Pemerintahan
• Fakta
• Data dan informasi
• Aksioma
• Postulat
• Anggapan Dasar
• Imajinasi
• Defenisi
• Konsep dan variable
• Teori
• Hipotesis
21
22
23
24
Ilmu Pengetahuan (Science)
• Bergerak ke dalam dan ke luar.
• Ke dalam = menguji, mengoreksi,
memperharuai, mengembangkan diri sendiri
sehingga dapat fungsional.
• Ke luar = merekam, mengidentifikasikan,
menggambarkan, menemukan dan
menerangkan hubungan, menguji
pengetahuan lain, meramalkan apa yang
dapat terjadi.
• Untuk dapat bergerak ke luar dan ke dalam
diperlukan instrumen yang disebut metode. 25
• Aksioma adalah :
Proposisi yang telah diterima sebagai
sebuah kebenaran.
• Anggapan Dasar :
Proposisi yang bersifat "self-evidence"
yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya.
• Model Analisis :
Penyederhanaan suatu kompleksitas
permasalahan yang digunakan untuk
memudahkan pembahasan.
26
• Konstruk
Konsep yang memiliki acuan empiris
• Proposisi
Pernyataan tentang hubungan yang
terdapat diantara dua term
• Teori
Sekumpulan proposisi yang saling
berkaitan secara logis dalam bentuk
penegasan empirik mengenai kaitan
sebab akibat diantara variabl-variable
27
28
29
30
31
32
33
Metode Penelitian

Mengingat terdapat aneka ragam sasaran


kajian dan masalah penelitian. Metode
(method) sebagai jalan, cara, alat dan
pendekatannyapun bermacam-macam,
sehingga perlu dipelajari melalui bahan
ajaran yang sedikit banyaknya bersifat
teknis-operasional yang disebut sebagai
"metode penelitian" (Ndrahan,1997:24)
34
Pola Metodologis Penelitian

diolah
Data Info
(D) (I)

direkam
diuji ditafsirkan

Pengalaman Opini
(F) diterapkan (O)

35
Mekanisme Pola Metodologis Penelitian

infromasi hasil pengolahan data harus


hasil rekaman terus menerus diuji dengan fakta agar
diolah tetap up to date, faktual, valid, reliable
dilihat dari body of knowledge Data Info teruji oleh fakta menjadi
merupakan satuan pengetahuan,
dlm aktivitas intelektual berfungsi
(D) (I) pengetahuan
sbg program mental

direkam
oleh otak yang disebut diuji ditafsirkan
"konsep", berfungsi sbg
kamera (bahan baku
pembangun teori) Tafsir informasi disebut
opini
Pengalaman Opini
(F) diterapkan (O)
Termasuk fakta, keadaan, peristiwa
atau kejadian baik gejala, kondisi,
pengalaman dll

36
Pola Metodologi Ilmu
Disiplin Ilmu

Teori

Teori Teori

Pengalaman Pengalaman Pengalaman Pengalaman


Fakta Fakta Fakta Fakta

37
Metodologi Metodologi
Ilmu Penelitian

Ibarat dua sisi mata uang


38
Setiap manusia pasti memiliki rasa ingin
tahu (curiosity), jika rasa ingin tahu sudah
terpenuhi maka disebut
"berpengetahuan".
Sedangkan sesuatu yang diketahui
disebut "pengetahuan" (knowledge).

Pengetahuan baik dalam bentuk


konsep, prinsip atau teori adalah rasa
ingin tahu yang telah terpenuhi.
(Irawan, 2009 UT)
39
2 Cara Pemenuhan Rasa Ingin Tahu

• Melalui Metode Ilmiah (scientific


method)
• Melalui Cara Lain-lain : Wangsit,
Tenung, Dukun dll

Seluruh karya ilmiah, buku-buku, jurnal dan


lain-lain adalah hasil dari cara berpikir
dengan metode ilmiah
40
Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Rasa Ingin Tahu

Cara Pemuasan
Rasa Ingin Tahu

Metode Ilmiah Cara Lain-Lain

Ilmu Pengetahuan Pengetahuan


(Science) (Knowledge)

(Irawan, 2009 UT)

41
Memenuhi Rasa Ingin Tahu dengan
Metode Ilmiah Dilaksanakan

METODOLOGI
ILMU PENGETAHUN

Penelitian Ilmu Pengetahuan

METODE
PENELITIAN

42
PENELITIAN
• Penelitian dalam Bahasa Inggris :
research.
• Research secara etimologis berasal dari
kata : re yang berarti : kembali dan to
search yang berarti : mencari.
• Dengan demikian research berarti :
mencari kembali data di obyek penelitian
untuk menjawab rumusan masalah
penelitian.
• Dalam bahasa sehari-hari kita sering
menyebut sebagai riset. 43
ILMU = PENGETAHUAN

PENGETAHUAN # ILMU

44
ILMU
• Seperangkat aturan dan bentuk guna
penelitian yang diciptakan oleh orang-orang
yang menghendaki jawaban yang handal
(Hoover 1998 : dalam Sadu Wasistiono)
• Diskripsi data pengalaman secara lengkap
dan dapat dipertanggungjawabkan dalam
rumusan-rumusan yang sederhana
(Poedjawijatna, 1975 : 12)

45
ILMU adalah pengetahuan yang
mempunyai ciri-ciri :

• mempunyai obyek tertentu


• bersifat empiris
• memiliki motode tertentu
• sistematis
• dapat ditransformasikan
• universal dan bersifat bebas nilai

46
OBYEK ILMU
• Obyek Material (locus) :
Obyek yang disoroti

• Obyek Formal (focus) :


Sudut penyorotan

47
Bersifat Empiris

• dapat ditangkap oleh pancaindra


• terukur
• teramati
• dapat diverifikasi

48
Memiliki Metode Tertentu

• metode bersifat umum


• metode yang bersifat khusus
yang berkaitan dengan obyek
• forma ilmu yang bersangkutan

49
Sistematis
• ilmu tersusun seperti sebuah limas,
terdiri dari konsep-konsep, proposisi-
proposisi, teori-teori, dalil-dalil.
• hubungan antar unsur dalam suatu
ilmu bersifat fungsional sehingga
terbentuk sebuah kesatuan yang
sistematis

50
Dapat Ditranspormasikan
• sebagai sebuah pengetahuan
yang sistematis dan metodis ilmu
harus dapat ditrasformasikan dari
satu orang ke orang lain.
• melalui transformasi tersebut ilmu
dapat berkembang secara
meluas.
51
Bersifat Universal dan Bebas Nilai

• bebas ruang
• bebas waktu
• bebas nilai (positivistik)

52
Fungsi Ilmu
1. mendiskripsikan (describe)
2. menjelaskan (explanation)
3. memverifikasi (verification)
4. memprediksi (prediction)
5. membentuk teori (theory
formulation)
53
• Fungsi ilmu yang pertama sampai keempat
berkaitan dengan "gejala alam dan gejala
sosial".
Sedangkan fungsi kelima berkaitan dengan
"ilmu itu sendiri dalam rangka
pengembangan upaya mempertahankan
diri".
• Semakin mampu menjalankan ke lima
fungsi secara simultan, sebuah ilmu akan
semakin menjadi fungsional, akan semakin
banyak pendukungnya dan semakin banyak
lahir teori-teori baru.
54
Pengetahuan yang dicari melalui
ilmu adalah :
Pengetahuan yang Benar

Kriteria Kebenaran Ilmiah :


1. Koherensi
2. Korespondensi
3. Pragmatis
55
Ilmu Pengetahuan Harus Memenuhi
Aspek-Aspek :
• Ontologi
Berbicara mengenai hakikat apa yang
dikaji
• Epistemologi
Membahas mengenai bagaimana caranya
memperoleh pengetahuan yang benar
• Aksiologi
Membahas mengenai mengapa ilmu itu
ada serta nilai kegunaannya bagi
kehidupan manusia 56
PENELITIAN ILMIAH

57
Penelitian atau Research

• Suatu kegiatan ilmiah untuk


menemukan,
mengembangkan, dan
menguji kebenaran suatu
pengetahuan atau masalah
guna mencari pemecahan
terhadap suatu masalah.
58
• Hill Way : Penelitian adalah suatu metode studi
yang bersifat hati-hati dan mendalam dari
segala bentuk fakta yang dapat dipercaya atas
masalah tertentu guna membuat pemecahan
masalah tersebut.
• Winarno Surachmad : Penelitian adalah
kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan
baru dari sumber-sumber primer, dengan
tekanan tujuan pada penemuan prinsip-prinsip
umum, serta mengadakan ramalan generalisasi
di luar sampel yang diselidiki.
• Soetrisno Hadi : Penelitian adalah usaha untuk
menemukan, mengembangkan, dan menguji
kebenaran suatu pengetahuan, usaha mana
dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.59
Setiap penelitian saharusnya
mempunyai tujuan, namun secara
filosofis semua penelitian hanya
mempunyai satu tujuan yaitu :
menemukan jawaban terhadap suatu
pertanyaan yang diajukan oleh
seorang peneliti. Sehingga semua
penelitan dipicu oleh suatu hal yang
sama yaitu "rasa ingin tahu"
(Irawan, 2009 UT)
60
Tujuan Penelitian :
• Secara umum tujuan penelitian ada tiga
macam yaitu : bersifat penemuan,
pembuktian, dan pengembangan.

Penemuan : Data yang diperoleh dari penelitian itu


adalah data yang betul-betul baru yang sebelumnya
belum pernah diketahui.
Pembuktian : Data yang diperoleh itu digunakan untuk
membuktikan adanya keragu-raguan terhadap informasi
atau pengetahuan tertentu.
Pengembangan : Untuk memperdalam dan
memperluas pengetahuan yang telah ada (Sugiyono
2008 :2).
61
Data Hasil Penelitian
• Secara umum data yang telah diperoleh
dari penelitian dapat digunakan untuk
memahami, memecahkan, dan
mengantisipasi masalah.
Memahami berarti memperjelas suatu
masalah atau informasi yang tidak
diketahui dan selanjutnya menjadi tahu,
Memecahkan berarti meminimalkan atau
menghilangkan masalah
Mengantisipasi berarti mengupayakan
agar masalah tidak terjadi (Sugiyono 2008 :3).
62
Metode ilmiah yang digunakan
untuk penelitian, dinamakan
METODE PENELITIAN.

63
METODE PENELITIAN
• Cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan
dan kegunaan tertentu.
Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan
pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan
sistematis.
Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan
dengan cara-cara yang masuk akal sehingga terjangkau
oleh penalaran manusia.
Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat
diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat
mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunakan.
Sistematis artinya, proses yang digunakan dalam
penelitian itu menggunakan langkah-langkah yang
tertentu yang bersifat logis (Sugiyono 2008 :1).
64
KATEGORI SIFAT PENELITIAN
• Sifat Penelitian Akademik yakni :
Penelitian yang dilakukan para mahasiswa
pdalam membuat skripsi, tesis, disertasi sebagai
sarana edukatif yang mementingkan validitas
internal (caranya yang betul)
• Sifat Penelitian Profesional yakni :
Dilakukan oleh orang yang berprofesi sebagai
peneliti (dosen, peneliti LIPI dll)
• Sifat Penelitian Institusional yakni :
Penelitian bertujuan untuk mendapatkan
informasi yang dapat digunakan untuk
pengembangan kelembagaan
65
Dikutip dari Sugiono, 2008 : 5

66
Dasar Penggolongan Jenis-jenis Penelitian
Penelitian laboratorium
Tempat penelitian Penelitian kepustakaan
Penelitian lapangan

Penelitian murni (pure research)


Pemakaian Penelitian terpakai (applied research)

Penelitian eksploratif
Tujuan umum Penelitian developmental
Penelitian verifikasi

Penelitian deskriptif
Taraf Penelitian inferensial

Proses berlangsungnya Penelitian historis documenter


prosedur penelitian Penelitian eksperimental

Deduktif – kuantitatif
Perspektif pendekatan penelitian Induktif - kualitatif
67
Penelitian Survey
(Kerlinger 1973 dalam Sugiono, 2008 :6)
• Penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun
kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel
yang diambi dari populasi tersebut, sehingga ditemukan
kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan hubungan-
hubungan antar variabel sosiologis maupun psikologis.
• Penelitian survey pada umumnya dilakukan untuk
mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak
mendalam. Walaupun metode survey ini tidak memerlukan
kelompok kontrol seperti halnya pada metode eksperimen,
namun generalisasi yang dilakukan bisa lebih akurat bila
digunakan sampel yang representatif (David Kline : 1980).
• Contoh misalnya : penelitian untuk mengungkapkan
kecenderungan masyarakat dalam memilih pemimpin
nasional, dan daerah; kualitas SDM masyarakat Indonesia;
sikap masyarakat terhadap amandemen undang-undang
dasar;
68
Penelitian Ex Post Facto
• Suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti
peristiwa yang telah terjadi dan kemudian merunut
ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang
dapat yang menyebabkan timbulnya kejadian
tersebut.
Penelitian ini menggunakan logika dasar yang sama
dengan penelitian eksperimen yaitu jika x maka y, hanya
saja dalam penelitian ini tidak ada manipulasi langsung
terhadap variabel independen.
Contoh misalnya : penelitian untuk mengungkapkan
sebab-sebab terjadinya kebakaran gedung di suatu
lembaga pemerintah; penelitian untuk mengungkapkan
sebab-sebab terjadinya kerusuhan di suatu daerah,
penelitian untuk mengungkapkan sebab-sebab si A atau
B terpilih menjadi Gubernur, Bupati dll. 69
Penelitian Eksperimen
• Suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh
variabel tertentu terhadap variabel yang lain dalam
kondisi yang terkontrol secara ketat.
• Terdapat empat bentuk metode eksperimen yaitu:
1. pre experimental,
2. true experimental,
3. factorial, dan
4. quasi experimental (Tuckman 1982: 128 - 156).
• Penelitian eksperimen ini pada umumnya dilakukan pada
laboratorium.
Contoh misalnya: penelitian penerapan metode kerja
baru terhadap produktivitas kerja, penelitian pengaruh
mobil berpenumpang tiga terhadap kemacetan lalu lintas,
pengaruh gaya kepemimpinan tertentu terhadap disiplin
kerja pegawai, dan lain-lain. 70
Penelitian Naturalistik
• Metode penelitian ini sering disebut dengan metode
kualitatif.
• Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek alamiah
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti
adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data
dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data
bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan makna dari pada generalisasi.
Contoh: penelitian untuk mengungkapkan makna upacara
ritual dari kelompok masyarakat tertentu, penelitian untuk
mengungkapkan makna sebenarnya dari kegiatan
demontrasi berbagai kelompok masyarakat, penelitian
untuk menemukan faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), penelitian
untuk menentukan metode mengajar yang paling efektif
untuk anak yang berasal dari daerah terpencil.
71
• Newman dalam bukunya “Social Research Methods”
(1994:319) menyebut adanya 6 karakteristik utama
penelitian kualitatif dengan paradigma naturalisme yaitu
:

(1) Mengutamakan konteks sosial : Makna suatu tindakan sosial


sangat tergantung sekali pada konteks di mana tindakan sosial itu
terjadi. Bila suatu peristiwa atau tindakan sosial itu dipisahkan dari
konteks sosialnya atau konteks sosialnya diabaikan maka makna
dan arti sosialnya menjadi rusak, hilang atau berbeda.

(2) Pendekatan studi kasus : Peneliti mengumpulkan sejumlah besar


informasi hanya pada satu atau beberapa (sejumlah kecil) kasus,
tetapi masuk ke dalam dan mendetail agar dapat menemukan dan
menggambarkan pola-pola dalam kehidupan, tindakan, sikap,
perasaan, kata-kata dari orang-orang di dalam konteks sosialnya
secara utuh dan menyeluruh.
72
(3) Mengutamakan integritas peneliti : Hubungan yang
dekat antara peneliti dengan subyek penelitiannya
mengharuskan peneliti kualitatif menjaga integritas
dirinya agar hasil penelitiannya tetap obyektif dan tidak
bias.
(4) Membangun teori dari data : Penelitian kualitatif tidak
berangkat dari teori atau hipotesis, tetapi dari masalah
penelitian (research questions). Peneliti ini tidak bersifat
deduktif melainkan induktif, artinya teori dibangun dari
data atau mendasar (grounded) di dalam data.
(5) Mencermati proses dan sikuen : Peneliti kualitatif
dengan cermat selalu mengamati proses dan urutan
peristiwa dari kasus yang dipelajarinya setiap saat agar
dapat melihat perkembangan yang terjadi pada kasus
tersebut terus-menerus. Hal ini membutuhkan waktu yang
relatif cukup lama.
73
(6) Interpretasinya kaya dan mendalam : Interpretasi data dalam
penelitian kualitatif dilakukan mulai dari :

a) the first order interpretation -- yaitu menginterpretasikan data


dengan cara menemukan bagaimanakah orang-orang yang sedang
ditelitinya itu melihat dan memberi makna atas dunia (world view)
mereka sendiri;

b) the second order interpretation – peneliti kemudian


merekonstruksikan makna tadi dalam kaitannya dengan makna-
makna yang lain sesuai dengan perkembangan konteksnya. Jadi,
menempatkan tindakan orang-orang yang ditelitinya dalam “stream
of behavior” ; dan

c) the third order interpretation -- peneliti bergerak lebih jauh yaitu


menghubungkan interpretasi tahap kedua dengan teori umum
(general theory).

74
Policy Research (Penelitian Kebijaksanaan)
• Policy research (metoda penelitian kebijaksanaan) dimulai
karena adanya masalah, dan masalah ini pada umumnya
dimiliki oleh para administrator/manajer atau para pengambil
keputusan pada suatu organisasi.
• Majchrzak (1984) mendefinisikan policy research adalah
suatu proses penelitian yang dilakukan pada, atau analisis
terhadap masalah-masalah sosial yang mendasar, sehingga
temuannya dapat direkomendasikan kepada pembuat
keputusan untuk bertindak secara praktis dalam
menyelesaikan masalah.
• Policy research ini sangat relevan bagi perencana dan
perencanaan.
Contoh : penelitian untuk membuat undang-undang atau
• peraturan tertentu, penelitian untuk mendapatkan informasi
guna 75
Penelitian Kebijakan.
• Sebagai proses penyelenggaraan penelitian untuk
mendukung kebijakan atau analisis terhadap
masalah-masalah sosial yang bersifat fundamental
secara teratur, untuk membantu pengambil
kebijakan memecahkan masalah, dengan jalan
menyediakan rekomendasi yang berorientasi pada
tindakan pragmatik.

• Diawali dengan pemahaman yang menyeluruh


terhadap masalah yang diteliti (Ann Machzak,1984).

• Merupakan focus yang khas : “action oriented”.


76
Karakteristik :
• Fokus penelitian bersifat multidimensional
• Orientasi penelitian bersifat empiris –
induktif
• Menggabungkan dimensi masa depan
dan masa kini
• merespon kebutuhan pemakai hasil studi
• menonjolkan dimensi kerjasama secara
eksplisit.

77
PENELITIAN KEBIJAKAN

Penguasaan
Subject
Matter

Peneliti Rekomendasi yang


Peneliti yang efektif Implementatif
yang
mumpuni
Penguasaan
Metodologi

78
Action Research (penelitian tindakan)
• Penelitian tindakan merupakan penelitian yang bertujuan untuk
mengembangkan metode kerja yang paling efisien, sehingga biaya
produksi dapat ditekan dan produktivitas lembaga dapat meningkat.
• Penelitian melibatkan peneliti dan karyawan untuk mengkaji bersama-
sama teniang kelemahan dan kebaikan prosedur kerja, metode kerja,
dan alat-alat kerja yang digunakan selama ini dan selanjutnya
mendapatkan metode kerja baru yang dipandang paling efisien
Metode keija baru tersebut selanjutnya dicobakan, dievaluasi secara
terus-menerus dalam pelaksanaannya, sehingga sampai ditemukan
metode yang paling efisien untuk dilaksanakan
• Contoh : penciltian untuk memperbaiki prosedur Jan metode kerja
dalam pelayanan masyarakat, penelitian mencari metode mengajar
yang paling baik, dll.
• Penelitian tindakan adalah suatu proses yang dilalui oleh perorangan
atau kelompok yang menghendaki perubahan dalam situasi tertentu
untuk menguji prosedur yang diperkirakan akan menghasilkan
perubahan tersebut dan kemudian, setelah sampai pada tahap
kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan, melaksanakan
prosedur ini.
• Tujuan utama penelitian ini adalah mengubah (1) situasi, (2) perilaku,
(3) organisasi termasuk struktur mekanisme kerja. iklim kerja dan
pranata, 79
Penelitian Tindakan (Action Research).
Tujuan :
Penelitian tindakan bertujuan
mengembanmgkan keterampilan-
keterampilan baru atau cara pendekatan
baru dan untuk memecahkan masalah
dengan penerapan langsung di dunia kerja
atau dunia aktual yang lain.

80
CIRI-CIRI ACTION RESEARCH:
1 ) Praktis dan langsung relevan untuk
situasi aktual dalam dunia kerja.
2 ) Menyediakan langkah-langkah yang
teratur untuk pemecahan masalah dan
perkembangan-perkembangan baru yang
lebih dari pada cara pendekatan
impresionistik dan fragmentalis.
3 ) Fleksibel dan adaptif, membolehkan
perubahan-perubah selama masalah
penelitiannya dan mengorbankan kontrol
untuk kepentingan on-the spot
exsperimentation dan inovasi. 81
4 ) Walaupun berusaha secara
sistematis, namun penelitian tindakan
kurang tertib ilmiah, oleh karena
validitas internal dan eksternalnya
lemah. Tujuannya situasional
sampelnya terbatas dan tidak
representatif, dan kontrolnya terhadap
variabel bebas sangat kecil. Karena
itu hasil-hasilnya walaupun berguna
untuk dimensi praktis, namun tidak
secara langsung memberi sumbangan
kepada ilmunya. 82
Penelitian Evaluasi
• Dalam hal yang khusus, penelitian evaluasi dapat
dinyatakan sebagai evaluasi, tetapi dalam hal lain juga
dapat dinyatakan sebagai penelitian.
• Sebagai evaluasi berarti hal ini merupakan bagian dari
proses pembuatan keputusan, yaitu untuk membandingkan
suatu kejadian, kegiatan dan produk dengan standar dan
program yang telah ditetapkan.
• Evaluasi sebagai penelitian berarti akan berfungsi untuk
menjelaskan fenomena.
• Terdapat dua jenis dalam penelitian evaluasi yaitu:
penelitian evaluasi fomatif yang menekankan pada proses
dan evaluasi sumatif yang menekankan pada produk
(Kidder 1981 : 84).
83
• Evaluasi formatif digunakan untuk mendapatkan
feedback dari suatu akiivitas dalam bentuk proses,
sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan
kualitas program atau produk yang berupa barang
atau jasa.
• Evaluasi sumatif menekankan pada efektivitas
pencapaian program yang berupa produk tertentu.
Contoh: penelitian evaluasi formatif : penelitian
untuk mengevaluasi proses pelaksanaan pelayanan
ljin Mendirikan Bangunan (1MB), proses pelaksanaan
suatu peraturan atau kebijakan, proses belajar
mengajar.
Contoh penelitian evaluasi sumatif, penelitian hasil
dari suatu kebijakan, misalnya efektivitas program IDT.
Jaring Pengaman Sosial, Keluarga Berencana.
kebijakan mobil berpenumpang tiga, dll. 84
Penelitian Menurut Tingkat Ekplanasinya

• Tingkat ekplanasi menurut David Kline {level of


explanation) adalah tingkat penjelasan.
• Jadi penelitian menurut tingkat ekplanasi adalah
penelitian yang bcrmaksud menjelaskan
kedudukan variabel-vanabcl yang diteliti serta
hubungan antara satu variabel dengan variabel
yang lain.
• Berdasarkan hal ini, penelitian dapat
dikelompokkan menjadi, deskriptif, komparatif
dan asosiatif.

85
Goals Of Explanatory Research
• Determine the accuracy of a principle or theory.
• Find out which competing explanation is better.
• Advance knowledge about an underlying
process.
• Link different issues or topics under a common
general statement.
• Build and elaborate a theory so it becomes more
complete.
• Extend a theory or principle into new areas or
issues.
• Provide evidence to support or refute an
explanation. 86
Goals of Exploratory Research
• Become familiar with the facts, people, and
concerns involved.
• Develop a well-grounded mental picture of
what is occurring.
• Generate many ideas and develop tentative
theories and conjectures.
• Determine the feasibility of doing additional
research.
• Formulate questions and refine issues for
more systematic inquiry.
• Develop tenhniques and a sense of direction
for future research.
87
Penelitian Komparatif
• Penelitian komparatif, adalah suatu penelitian
yang bersifat membandingkan
• Di sini variabelnya masih sama dengan
penelitian variabel mandiri tetapi untuk sampel
yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang
berbeda
• Contoh: apakah perbedaan profil Presiden
Indonesia dari waktu-ke waktu, adakah
perbedaan keuntungan antara BUMN dengan
Perusahaan Swasta, adakah perbedaan
kemampuan kerja antara lulusan SMK dengan
SMU, adalah perbedaan efektivitas antara
Undang-undang Dasar yang lama dengan yang
baru.
88
Penelitian Asosiatif/Hubungan
• Penelitian asosiatif merupakan penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua
variabel atau lebih.
• Penelitian ini mempunyai tingkatan yang tertinggi bila
dibandingkan dengan penelitian deskriptif dan
komparatif
• Dengan penelitian ini maka akan dapat dibangun
suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan,
meramalkan dan mengontrol suatu gejala.
• Pada penelitian ini minimal terdapat dua variabel yang
dihubungkan Bentuk hubungan antara variabel ada
tiga yaitu : simetris, kausal dan interaktif resiprocal.
89
90
Penelitian Deskriptif
• Penelitian deskriptif adalah penelitian yang
dilakukan untuk mengetahui nilai variabel
mandiri, baik satu variabel atau lebih
(indepeden) tanpa membuat perbandingan, atau
menghubungkan antara variabel satu dengan
variabel yang Iain
• Suatu penelitian yang berusaha menjawab
pertanyaan seperti : bagaimanakah profil
Presiden di Indonesia, seberapa besar
produktivitas kerja Pegawai Negeri, seberapa
besar keuntungan BUMN dan BUMD tahun ini;
bagaimanakah etos kerja dan prestasi kerja
para karyawan di departemen X; bagaimanakah
kualitas SDM Indonesia.
91
Goals of Descriptive Research (Neuman)
1. Provide an accurate profile of a group.
2. Describe a process, mechanism, or
relationship.
3. Give a verbal or numerical picture (e.g.,
percentages).
4. Find information to stimulate new
explanations.
5. Present basic background information or a
context.
6. Create a set of categories or classify types.
7. Clarify a sequence, set of stages, or steps.
8. Document information that contradicts
prior beliefs about a subject.
92
Tujuan Riset Deskriptif (Neuman)
1. Menyediakan profil suatu kelompok secara
akurat.
2. Menggambarkan suatu proses, mekanisme,
atau hubungan
3. Memberikan gambar, angka atau kata-kata
(contoh: persentase)
4. Menemukan informasi untuk memancing kajian,
penjelasan-penjelasan baru
5. Memberikan basic background informasi atau
konteks
6. Menjelaskan urutan-urutan, tahapan, atau
langkah-langkah
7. Mendokumentasikan informasi yang
bertentangan dengan kepercayaan sebelumnya
terhadap suatu subyek. 93
Penelitian Post Modernism
• Karakteristik Riset Masyarakat Postmodern
• Penolakan thd segala ideologi dan sistem-sistem kepercayaan yang
telah terorganisir, termasuk semua teori sosial.
• Sangat menggantungkan keyakinannya pada intuisi, imaginasi,
pengalaman pribadi dan emosi.
• Rasa pesimis dan tak berarti, percaya bahwa dunia tak akan pernah
maju.
• Sangat subyektif sehingga tidak ada perbedaan antara mental dan
dunia luar.
• Bersikap sangat relatif sehingga interpretasinya tak tertabas, tidak
ada yang paling super diantara satu sama lain.
• Mendukung keaneka ragaman, kekacauan, dan kompleksitas yang
terus menerus berubah.
• Menolak mempelajari masa lalu dan tempat-tempat yang berbeda
karena hanya disini dan sekaranglah yang relevan.
• Statement yang tegas bahwa riset tidak akan pernah bisa mewakili
apa yang benar-benar terjadi dlm masyarakat. 94
Characteristics of Postmodern Social Research
• Rejection of all ideologies and organized belief systems,
including all social theory.
• Strong reliance on intuition, imagination, personal
experience, and emotion.
• Sense of meaninglessness and pessimism, belief that
the world will never improve.
• Extreme subjectivity in which there is no distinction
between the mental and the external world.
• Ardent relativism in which there are infinite
interpretations, none superior to another.
• Espousal of deversity, chaos, and complexity that is
constantly changing.
• Rejection of studying the past or different places since
only the here and now is relevant.
• Belief that causality cannot be studies because life is
too complex and raplidly changing.
• Assertion that research can never truly represent what
accurs in the social world. 95
Studi Kasus
Studi kasus merupakan penelitian yang lebih cocok:
• Jika pokok pertanyaan suatu penelitian berkaitan dengan
“how” atau “why”,
• Jika peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk
mengontrol peristiwa/fenomena yang akan diteliti,
• Jika fokus penelitiannya ada pada fenomena kontemporer
( masa kini ) dalam konteks kehidupan nyata.

Robert K. Yin. :
• Studi kasus adalah suatu inkuiri empiris yang meneliti
fenomena di dalam konteks kehidupan nyata, bilamana
batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak
dengan tegas dan di mana multi sumber data
dimanfaatkan.
96
1) eksplanatoris – kausal
Studi Kasus : 2) eksploratoris
3) deskriptif

• Studi kasus : studi longitudinal : berupaya meneliti


obyeknya dalam jangka waktu lama dan terus menerus,
• berbeda dengan studi cross sectional : meneliti pada
beberapa tahap ; pada tingkat perkembangan tertentu.

• Horton & Hunt : sebagai studi longitudinal dibedakan :


• Prospektif
• Retrospektif

• Teknik elaborasi X2
97
Bagan Proses Penelitian
Teori/Konsep

mengupas
membaca (menelaah)

menerangkan identifikasi klasifikasi


pengalaman
Star masalah Hipotesis variabel
t Prediksi Operasionalisasi
membuat menyusun
memilih
membaca mengupas
Rancangan
(menelaah) Alat Pengumpulan Penelitian
Hasil Data
Komunikasi Penemuan
disiminasi
menggambarkan
menyimpan Menerapkan

Sampel
Laporan Penelitian

menulis pengumpulan
penyajian
pengolahan/analisis
Penemuan diskusi Hasil data

interpretasi 98
Teori/Konsep

membaca mengupas
(menelaah)
menerangkan identifikasi
pengalaman klasifikasi
Start masalah Hipotesis variabel
Prediksi Operasionalisasi
membuat menyusun
memilih

mengupas
membaca /alat Pengumpulan Rancangan
(menelaah)
Data Penelitian
Hasil
Komunikasi Penemuan
disiminasi
menggambarkan
menyimpan Menerapkan

Sampel
Laporan Penelitian

menulis pengumpulan
penyajian
diskusi pengolahan/
Penemuan Hasil analisis data
interpretasi

99
Teori/Konsep

membaca mengupas
(menelaah)

menerangkan
identifikasi klasifikasi
pengalaman
masalah Hipotesis variabel
Prediksi Operasionalisasi

membuat
me
mengupas memilih
membaca
(menelaah)

/alat Pengumpulan
Hasil Data
Penemuan

Komunikasi
me
disiminasi Menerapkan
menyimpan

Sampel
Laporan Penelitian

pengumpulan
menulis

diskusi pengolahan/analisis 100


Penemuan Hasil data
interpretasi
METODE PENELITIAN
PENDEKATAN DAN
JENIS PENELITIAN
PENGUMPULAN DATA: JENIS DATA,
1. WAWANCARA SUMBER DATA DAN
2. DOKUMENTASI INSTRUMEN
3. OBSERVASI PENELITIAN
FOKUS PENELITIAN
PARTISIPASI 1. ALASAN MENEMPUH PENDIDIKAN
2. TUJUAN MENEMPUH PENDIDIKAN
3. FAKTOR PENYEBAB KEBERHASILAN
4. BENTUK AKSI INTERAKSI
5. WUJUD KEBERHASILAN PENDIDIKAN
6. MAKNA TINDAKAN MENEMPUH
PENDIDIKAN
METODE
ANALISIS DATA,
LOKASI DAN MODEL GROUNDED
LATAR PENELITIAN THEORY

KEABSAHAN DATA
1. KEPERCAYAAN (CREDIBILITY)
2. KETERAMPILAN (TRANSFERABILITY)
3. KETERGANTUNGAN (DEPENDABILITY)
4. KONFIRMABILITAS (CONFIRMABILITY)
101
Disadur dari materi Kuliah Prof. Agus Solahudin
101
No. METODE ILMIAH METODE ALAMIAH

1. Masalah penelitian dirumuskan Masalah penelitian diru-


secara jelas tentang substansi muskan ataupun tidak
dan ruang lingkupnya. dirumuskan secara jelas.

2. Temuan penelitian, jawaban Temuan tidak harus


terhadap masalah berdasarkan berdasarkan data.
data.
3. Proses awal penelitian, analisis Tidak mengikuti proses
data dan penyimpulan penelitian secara logis
dilakukan secara logis dan sistematis, meskipun ada
sistematis. kesimpulan.
4. Kesimpulan dapat diuji oleh Kesimpulan tidak harus
siapapun secara terbuka diuji pihak lain dan
(universal). terbatas.
5. Meneliti fenomena empiris yang Mengkaji fenomena apa
dapat diamati, diukur. saja yang empiris maupun
non empiris. 102
KARAKTERISTIK PENELITIAN DEDUKTIF-KUANTITATIF DAN INDUKTIF- KUALITATIF

No Keterangan Deduktif-Kuantitatif Induktif-Kualitatif

1 Pola Pikir Bertolak dari hal yang umum Bertolak dari hal yang khusus
(teori, hukum, dalil ) (kenyataan-kenyataan tertentu,
fenomena-fenomena tertentu )

2. Pendekatan dalam (cenderung) deduktif _ menguji (cenderung) induktif _ tidak


penelitian hipotesis, teori harus ada hipotesis
3. Jenis Penelitian Korelatif, eksplanatory, verifikatif Deskriptif,
histories/dokumentasi,
grounded research, studi
kekhususan (pada bidang ilmu
tertentu). Jadi tidak semua
penelitian kualitatif selalu
“GROUNDED RESEARCH”
4. Sampel Representatif terhadap Representative terhadap makna
populasinya random, stratifikasi, yang ada pada obyek (meaning)
cluster sampling dll. purposive sampling, theorical
sampling, snowball sampling,
saturated sampling.
5. Pengumpulan data Prioritas dengan kuesioner, Prioritas dengan interview,
ditunjang interview, observasi, observasi, ditunjang dengan
lebih cepat dalam pengumpulan kuesioner _ relatif lama
data 103
6. Analisis data Menggunakan statistika a).Tidak harus menggunakan statistika,
parametrik, non parametrik mendiskripsikan (proporsi, persentase,
rata-rata, dsb), b). analisis isi (content
analysis), c). sosiometri (misalnya
menganalisis hubungan social dalam
kelompok), d). program kualitan
(dengan computer) statistika deskriptif,
e). induksi analitik, f). comparatif
constant, g). paradigma grounded
research.

7. Dimensi yang Dimensi etik : berdasarkan Dimensi Emik : berdasarkan makna


digunakan gatra lahiriahnya, dibalik gatra lahiriahnya, pemahan dari
pemahaman sipeneliti _ yang diteliti dan peneliti _ kesimpulan
kesimpulan mengarah mengarah “mikro”
“makro”
8. Level abstraksi Menjawab “what” sampai Menjawab “why” sampai kepada
kepada “inference” dan “summary” dan “reduction”
“generalization”
9. Validitas Validitas eksternalnya lebih Validitas internalnya lebih kuat dari
kuat dari pada validitas pada validitas eksternalnya
internalnya
10 Penekanan gejala Lebih menentukan kepada Lebih menentukan kepada prosesnya
. yang diteliti produknya dari pada proses dari pada produknya 104
11. Proses analisis Proses analisis dimulai setelah Proses analisis dimulai semenjak
data terkumpul peneliti mengamati data

12. Keteerlibatan Well Known _ biasanya non Participant observer _ terlibat dan
peneliti participant observation ikut mewarnai kondisi _ Well
Known dapat
-Participant as observer _ tidak
memberitahu tujuan penelitian,
tetapi diketahui sebagai peneliti
-Unknown : tidak diketahui sebagai
peneliti (pengamat)

13. Disain - Spesifik, jelas, terinci. - Umum,fleksibel,berkembang


- ditentukan sejak awal secara - mungkin berubah dalam proses
mantap penelitian
- menjadi pegangan setiap
langkah
14. Hubungan dengan -ada jarak – sering tidak kontak -empati – akrab
responden langsung -kedudukan sejajar
-hub : antara peneliti – subyek -peneliti sebagai instrument
-kuesioner – interview sebagai -jangka waktu relative lama
instrument
-jangka waktu pendek.

15 Sifat Kesimpulan Apriori Aposteriori


105
Logika Penelitian

• Proses penalaran yang dilakukan


oleh seorang peneliti, dimana proses
itu sendiri terdiri dari beberapa
tahapan yang berurutan secara logis
dalam bentuk "rantai penalaran"
(chain of reasoning)

106
5 FASE LOGIKA PENELITIAN
Perumusan Permasalahan Penelitian
(dalam Irawan 2009 UT)

Perumusan Kerangka Teoritik

Penentuan Metodologi

Analisis Data

Penarikan Kesimpulan
107
• Perumusan Permasalahan Penelitian adalah :
Titik pijak dan menjadi alasan utama mengapa suatu penelitian
dilakukan.
• Perumusan Kerangka Teoritik adalah : Cara melihat satu
permasalahan dari perspektif ilmiah. Pada tahap kerangka
teoritik, peneliti mulai merenungkan dan mengkaji secara
mendalam apa sebenarnya esensi penelitian.
• Penentuan Metodologi adalah : Tahap mencari cara yang
paling tepat untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan
penelitian.
• Analisis Data adalah : Pada bagian analisis data peneliti
dituntut untuk mengerahkan kemampuan untuk menyajikan
temuan penelitian dalam bentuk obyektif, efektif dan efisien.
Bagian ini menguji kejujuran dan integritas peneliti.
• Penarikan Kesimpulan adalah : Akhir dari suatu penelitian.
Kesimpulan bukan rangkuman. Pada kesimpulan peneliti
menempati titik sentral amat penting. Kesimpulan adalah
kebenaran yang disodorkan oleh peneliti kepada orang lain.
Kebenaran ilmiah yang setiap saat diuji keabsahannya.
108
Logika penelitian selalu bersifat baku dan
selalu terdiri dari 5 (lima) aspek
khususnya secara logis. Tidak menjadi
soal apakah seorang peneliti menuliskan
logika penelitian di atas kertas dalam
bentuk proposal penelitian atau langsung
saja melakukan penelitian, logika
penelitian tidak pernah berubah.
Logika penelitian selalu terurut baku,
kendatipun terdapat variasi tetapi idenya
tetap selalu sama.
109
Permasalahan Penelitian
(Research Problem)
• Titik pijak dan menjadi alasan utama
mengapa suatu penelitian dilakukan.

• Tahap ini peneliti harus mulai bertanya :


1. Apa yang ingin saya ketahui ?
2. Mengapa penelitian perlu dilakukan ?
3. Dari banyak masalah yang akan diteliti,
apakah semua akan diteliti ?
4. Bgm memformulasikan permasalahan dalam
bentuk yang paling mudah ?
5. Apa manfaat penelitian jika telah
dilaksanakan ? 110
Kerangka Teoritik
• Adalah cara melihat satu permasalahan dari
perspektif ilmiah.
• Pada tahap kerangka teoritik, peneliti mulai
merenungkan dan mengkaji secara mendalam apa
sebenarnya esensi penelitian.
• Peneliti mengajukan pertanyaan yakni :
1. Apa makna variable yang akan diteliti
baik makna empiris praktis maupun
konseptual teoritis ?
2. Defenisi variable mana yang paling sesuai
untuk penelitian ?
3. Apakah masalah pernah diteliti orang lain ?
4. Bgm dan dalam bentuk apa permasalahan penelitian
di gambarkan ? 111
Metodologi Penelitian
• Tahap mencari cara yang paling tepat untuk
menemukan jawaban terhadap pertanyaan
penelitian.
• Beberapa pertanyaan penting dapat diajukan pada
tahap ini :
1. Metode apa yang paling sesuai untuk
penelitian ini ?
2. Dari mana data diperlukan dapat
diperoleh
3. Instrumen apa yang paling efektif untuk
pengumpulan data ?
4. Bgm caranya agar instrumen yang dipakai benar-
benar memiliki kualitas yang tinggi ?
5. Bgm data yang dikumpul diolah
6. Apa alat analisis yang tepat
112
7. Bgm standar kesimpulan dibuat
Kesimpulan
• Akhir dari suatu penelitian. Kesimpulan bukan
rangkuman. Pada kesimpulan peneliti menempati
titik sentral amat penting.
• Kesimpulan adalah kebenaran yang disodorkan
oleh peneliti kepada orang lain. Kebenaran ilmiah
yang setiap saat diuji keabsahannya
• beberapa pertanyaan :
1. Apa kesimpulan penelitian yg dibuat
2. Dgn standar dan asumsi apa ditarik
3. Adakah persamaan dan perbedaan dgn
kesimpulan penelitian sejenis
4. Apa implikasi baik bagi dunia praktis dan teoritis
113
Analisis Data
• Pada bagian analisis data peneliti dituntut untuk
mengerahkan kemampuan untuk menyajikan
temuan penelitian dalam bentuk obyektif, efektif
dan efisien. Bagian ini menguji kejujuran dan
integritas peneliti.
• Beberapa pertanyaan penting :
1. Data/informasi apa yang perlu dilapor
2. Bgm/standar apa analisis data dilakukan
3. Bgm/bentuk apa data/informasi disajikan
4. Bgm keterkaitan temuan dgn permasalahan
penelitian dan kerangka berpikir penelitian.
114
Rantai Pertama Logika Penelitian :
Perumusan Permasalahan Penelitian
terdiri dari langkah-langkah :

1.menjelaskan latar belakang


permasalahan penelitian.
2.merumuskan pokok permasalahan
3.memformulasikan permasalahan
4.menjelaskan tujuan penelitian
5.menguraikan manfaat penelitian
115
Rantai Ketiga Logika Penelitian :
Penentuan Metodologi terdiri dari
langkah-langkah :
9. menentukan metode penelitian
10. menentukan populasi dan sampel
11. membuat matrik pengembangan
instrumen
12. membuat rancangan pengembangan
instrumen
13. membuat instrumen
116
Rantai Kedua Logika Penelitian :
Perumusan Kerangka Teoritik terdiri
dari langkah-langkah :

6. mengkaji kepustakaan
7. mendefenisikan variable dan
indikator
8. menjelaskan kerangka teoritik

117
Rantai Keempat Logika Penelitian :
Penganalisisan data terdiri dari
langkah-langkah :

14. mengumpulkan data


15. mengolah data
16. membuat rencana analisis data
17. menganalisis data
18. menafsirkan data
118
Rantai Kelima Logika Penelitian :
Penarikan Kesimpulan terdiri dari
langkah-langkah :

19. menarik kesimpulan


20. menyusun laporan

119
20 Langkah Prosedur Penelitian
1. menjelaskan latar belakang
permasalahan penelitian.
2. merumuskan pokok permasalahan
3. memformulasikan permasalahan
4. menjelaskan tujuan penelitian
5. menguraikan manfaat penelitian
6. mengkaji kepustakaan
7. mendefenisikan variable dan
indikator
8. menjelaskan kerangka teoritik 120
9. menentukan metode penelitian
10. menentukan populasi dan sampel
11. membuat matrik pengembangan
instrumen
12. membuat rancangan pengembangan
instrumen
13. membuat instrumen
14. mengumpulkan data
15. mengolah data
16. membuat rencana analisis data
17. menganalisis data
18. menafsirkan data
19. menarik kesimpulan
20. menyusun laporan 121
Uraian langkah-langkah penelitian
berdasarkan "logika penelitian"
disebut dengan istilah "prosedur
penelitian" .

122
Prosedur penelitian bersifat
fleksibel, jumlahnya belum tentu
harus 20 dan urutan dapat berubah-
ubah bergantung kebutuhan. Jika
peneliti merasa tidak puas dengan
langkah sebelumnya maka dapat
kembali meskipun sudah pada tahap
akhir (kesimpulan)

123
Metodologi Ilmu Pemerintahan

• Ilmu (Pengetahuan) tentang berbagai


metode-metode terkait kajian (obyek
formal) bidang ilmu pemerintahan.
• Cara ilmiah yang digunakan untuk
mendapatkan data yang obyektif, valid
dan reliable, dengan tujuan dapat
menemukan, menguji dan
mengembangkan suatu pengetahuan
bidang ilmu pemerintahan, sehingga dapat
digunakan untuk memahami,
memecahkan, dan mengantisipasi
masalah dalam bidang pemerintahan.
124
Ilmu Pemerintahan
• Ontologi Ilmu Pemerintahan :
Obyek material adalah "negara"
Obyek formal adalah "hubungan antara
negara dengan rakyatnya dalam kaitan
kewenangan dan pelayanan"

• Aksiologi Ilmu Pemerintahan :


"hidup segan mati tidak mau".

• Epistemologi Ilmu Pemerintahan :


Berkaitan dengan metodologi ilmu
pemerintahan, berkaitan dengan ciri khas ilmu
pemerintahan
125
Pengertian Ilmu Pemerintahan
• Ilmu yang mempelajari gejala penentuan,
perintah yang terjadi pada masyarakat
dalam usaha memenuhi kepentingan dan
kebutuhannya.
Gejala tersebut memperlihatkan adanya
"pihak yang memerintah" (governor)
dan "pihak yang diperintah" (governed)
dengan berbagai hubungan yang disebut
"hubungan pemerintahan"
(government)
126
• Ilmu pengetahuan mengenai pemerintah;
mempelajari lembaga-lembaga dan
organisasi masyarakat, bentuk dan sistem
pemerintahan, kegiatan pemerintah dalam
mengamankan peraturan perundang-
undangan, menentukan kebijaksanaan
politik dan mempelajari masalah-masalah
pemerintahan.
• Mempelajari kebijaksanaan pemerintahan.
Gerak dan tingkah laku pemerintah dalam
rangka usaha mencapai tujuan pemerintah
127
Atas dasar konstruksi pemikiran
tersebut, hubungan timbal balik atau
interaksi yang terjadi antara anggota
rumah tangga, interaksi antara setiap
anggota kelompok masyarakat lainnya
(yang bersifat menyangkut kepentingan
secara menyeluruh) dapat diartikan
sebagai hal yang menimbulkan
pemerintahan (government)
128
Rakyat

Ilmu Pemerintahan
Negara

Pemerintahan

Ilmu Pemerintahan :
Ilmu yang mempelajari hubungan antara rakyat
dengan organisasi tertinggi negara (pemerintah) dalam
konteks Kewenangan dan pemberian pelayanan.
129
• Sebagai ajaran tentang perbuatan
pemerintah (Van Poleje)
• Mengajarkan bagaiman mengatur dan
memimpin sebaiknya dinas umum (Van
Poleje)
• Mempelajari gejala-gejala pemerintahan
• Ilmu pengetahuan yang mempelajari
Pemerintahan dalam pelaksanaan tugasnya
• Mempelajari, menganalisa dan
mengobservasi segala perbuatan
pemerintahan dalam penyelenggaraan
tugasnya
130
Ilmu Pemerintahan Bertujuan
• Untuk memahami dan memperbaiki
segala sesuatu yang berlangsung
dalam praktek-praktek pemerintahan,
menyoroti hal-hal yang belum
terselenggara namun dipandang
perlu diselenggarakan (Soemargono,
2008 :33)

131
Ruang Lingkup Ilmu Pemerintahan
(Soemargono, 2008 :46-47)

• Teori Pemerintahan
a. teori pemerintahan
b. sejarah ttg gagasan2 pemerintahan

• Lembaga-lembaga pemerintahan
a. konstitusi
b. pemerintahan nasional/pusat
c. pemerintahan di daerah (mencakup
pemerintahan umum dan pemerintahan
daerah)
d. kebijakan pemerintah
e. perbandingan pemerintah
132
• Hubungan antar pemerintahan
1. pemerintahan internasional
2. hubungan antara pemerintah pusat dan
pemerintahan daerah

• Cabang-Cabang Ilmu Pemerintahan


1. hukum tata pemerintahan
2. administrasi pemerintahan (termasuk
manajemen, organisasi, perencanaanya
3. sosiologi pemerintahan (termasuk
mental, legitimasi, partai politik, ormas)
4. ekonomi pemerintahan
5. sejarah pemerintahan
6. psikologi pemerintahan
7. ekologi pemerintahan
8. etika pemerintahan
9. antropologi pemerintahan
10. kebudayaan pemerintahan
11. filsafat pemerintahan 133
Penelitian Ilmu Pemerintahan
• Sebagai ilmu pengetahuan empiris, ilmu pemerintahan
melaksanakan kegiatannya dalam kerangka paradigma
dan postulat-postulat tertentu. Telaah yang berlandaskan
asas "causality" sebagai sasaran utama.
• Penelitian ilmu pemerintahan lazim berlangsung dalam
lingkup yang berisi himpunan dan deretan sebab akibat
yang berinteraksi secara rumit dan bersifat relatif karena
dapat diubah oleh manusia
• Penelitian ilmu pemerintahan harus mencari bahan
disemua arah pada alur sebab akibat
• Meneliti gejala pemerintahan bukan hanya bertujuan
untuk mengenal gejala tersebut secara persis tapi untuk
mendalami sampai arti dan maknanya dapat
dikemukakan (Soemargono, 2008 :33).
134
Memahami Arti dan Makna Gejala
PemerintahanTidak Bisa Lepas dari
Berbagai Segi
• Pada masalah pemerintahan dan
pemecahannya akan terdapat alternatif-
alternatif yang berbeda masing-masing
dengan pro's dan con's sesuai
pemahaman masing-masing akan kondisi
nyata yang mengandung permasalahan
tersebut atau melatarbelakanginya atau
segi-seginya (Soemargono, 2008 :33).
135
• Kemampuan menelaah dari berbagai
segi dimungkinkan karena ilmu
pemerintahan merupakan ilmu yang
berwatak interdisipliner, artinya
bahan-bahan yang mungkin meliputi
bagian-bagin yang penting dari ilmu
pemerintahan berkaitan dengan
disiplin ilmu yang lain.

136
Segi-segi yang mempengaruhi telaah
masalah pemerintahan
• segi historis dan tradisi
• segi manusia sebagai makluk kejiwaan
• segi administrasi
• segi politik
• segi ekonomi dan finansial
• segi sosial dan kultural
• segi ekologi
• segi hukum
• segi mode
• dan lain-lain (Soemargono, 2008 :33).
137
Gejala-Gejala Pemerintahan
(Sadu Wasistiono)

• Pemerintahan sebagai sebuah sistem


sosial dan Pemerintahan sebagai sistem
kekuasaan.
• Sebagai suatu sistem sosial, pemerintah
adalah gejala yang berkaitan dengan
suatu peran, status dan organisasi sosial.
Peran dan status merupakan unsur sistem
sosial yang paling kecil.
• Gejala pemerintahan sebagai suatu sistem
sosial dapat dilihat secara idiografis
maupun nomotetis.
138
• Analisis idiografis berkaitan dengan
kasus tunggal yg bersifat unik berkaitan
dengan kecemerlangan individual dan
metodologi penelitian kualitatif atau studi
kasus.
• Analisis nomotetis berkaitan dengan
karekteristik-karekteristik dimana kasus-
kasus berbeda memiliki persamaan.
Analisis nomotetis diabstraksikan dari
realitas sifat-sifat dari rangkaian kejadian-
kejadian
139
• Gejala Pemerintahan berkaitan dengan sistem
kekuasaan.
Kekuasaan terkait "kekuasaan yang sah atau
kewenangan (otoritas/authority).
• Ilmu pemerintahan tidak berbicara bagaimana
memperoleh kekuasaan, melainkan bagaimana
menjalankan kekuasaan yang sah. Dalam
menjalankan kekuasaan yang sah pemerintah
dibatasi oleh aturan hukum, norma-norma,
kepatutan dan etika. Hubungan antara pemerintah
dan masyarakat lebih didasarkan pada saling
pengertian dan pemahaman bersama. Aturan
hukum tertulis digunakan pada tahap akhir bila
kesepakatan saling pengertian dan pemahaman
tidak dapat dilaksanakan lagi. 140
1. Pemilihan Topik Penelitian.
• Topik penelitian diartikan sebagai kejadian atau
peristiwa (fenomena) yang akan dijadikan lapang
penelitian.
Menurut Sutrisno Hadi (1971), setidaknya
terdapat empat hal yang biasa dipakai sebagai
bahan pertimbangan pemilihan topik penelitian
itu,yakni:
1. Manageble topic: topik dapat dikelola, tidak
berada di luar jangkauan kemampuan peneliti ,
2. Obtainable data: data tentang topik mudah
diperoleh,
3. Significance of topic: topik cukup penting untuk
diteliti, bermakna.
4. Interested topic: topik menarik untuk diteliti.
141
NEUMAN (2000): 7 Hal Utk memilih Topik :
1. Personal Experience (pengalaman pribadi)
2. Curiosity based on something in the media
(keingintahuan yang didasarkan pada
sesuatu di media)
3. The state of knowledge in a field
(pengetahuan di lapangan)
4. Solving a problem (penyelesaian masalah)
5. Social premiums (hadiah sosial)
6. Personal value (nilai pribadi)
7. Everyday life (kehidupan sehari-hari)
142
JUDUL PENELITIAN
1. Judul penelitian pada wujudnya merupakan kalimat,
dan hanya satu kalimat pernyataan (dan bukan
kalimat pertanyaan ), yang terdiri dari kata-kata yang
jelas (tidak kabur), singkat (tidak bertele-tele), dan
deskriptif (dapat menggambakan obyek, runtut).
2. Meskipun demikian judul harus merupakan
pencerminan atau identitas dari seluruh isi karya
tulis, yang bernafas menjelaskan dan menarik.
3. Semua orang yang membacanya dapat dengan
segera menduga tentang materi dan permasalahan
serta kaitannya, selain itu dapat pula diketahui tentang
obyek, metode, maksud dan tujuan, serta kegunaan
penelitiannya (Atmadilaga, 1977).

143
Tipe Rekomendasi :
1. Perubahan incremental ( pelengkap ) : berskala kecil
dengan tarjet jangka pendek ( short – term solution )

2. Perubahan fundamental ( mendasar ) mengacu kepada


daya jangkau jauh ( more far – reaching), menawarkan
perspektif, asumsi, tujuan baru.

3. Perubahan Mixed Scanning : formulasi dari arah baru


yang fundamental yang dalam prakteknya dapat
dimodifikasi secara incremental dengan periodisasi
waktu
1. rinci dengan jadwal yang lengkap.
2. Rinci dengan jadwal yang bertahap.

144
LATAR BELAKANG MASALAH
Masalah timbul karena ada tantangan, ada kesangsian
atau kebingungan terhadap suatu realitas atau
fenomena, ada halangan atau rintangan dalam suatu
proses organisasi, ada kesenjangan antara yang
seharusnya dengan senyatanya (kesenjangan antara
das sollen–das sein).

1. Memuat penjelasan tentang apa yang akan menjadi


masalah penelitian.
2. Alasan mengapa masalah tersebut penting diteliti.
3. Embrio masalah tersebut didukung fakta empiris
4. Ditunjukkan posisi masalah yang akan diteliti dalam
konteks yang lebih luas.
5. Manfaat umum jika masalah itu diteliti.
145
1.2. Pemilihan masalah.
• Pemilihan masalah dilaksanakan pada
waktu melakukan identifikasi masalah dan
dijumpai lebih dari satu masalah yang
dianggap penting untuk diteliti. Oleh
karena itu perlu dipilih salah satu yang
paling layak dan sesuai untuk diteliti.

146
NEWMAN (2000) : 5 ciri masalah penelitian yang buruk :
• Not empirically testable: masalah penelitian bukan
masalah yang ilmiah, tidak bisa diuji secara empiris.

• General topic, not research questions: masalah terlalu


umum, kurang spesifik, sehingga sulit diteliti.

• Set of Variable, not questions: Masalah penelitian berupa


sekumpulan variabel,bukan masalah yang dapat dikaji di
lapangan.

• Too vague, ambiguous: Masalah tidak jelas, samar,


sehingga belum fokus.

• Need to be still more spesific: Masalah penelitian masih


dapat dirinci lebih spesifik.

147
1. Frankel dan Wallen (1990) : Masalah penelitian
yang baik :
1. Feasibel : dapat ditemukan jawabannya
dengan sumber yang jelas.
2. Faktual : semua orang memberikan persepsi
yang sama terhadap fakta tersebut.
3. Signifikan : jawaban/temuan dapat
memberikan kontribusi terhadap
pengembangan ilmu dan pemecahan
masalah kehidupan manusia.
4. Bersifat Etis : tidak menyimpang dari hal
etika, moral dan agama.
148
• Identifikasi masalah : tahap permulaan dari penguasaan
masalah dimana suatu obyek dalam situasi dapat dikenali
sebagai suatu masalah.

• Pembatasan masalah : upaya untuk menetapkan batas


permasalahan dengan jelas – faktor mana saja yang masuk
lingkup masalah, dan faktor mana yang tidak.

• Perumusan masalah : upaya untuk menyatakan secara


tersurat pertanyaan dan masalah apa yang ingin dicarikan
jawabannya.

• Perumusan masalah yang baik bukan saja membantu


memusatkan pikiran, namun sekaligus mengerahkan cara
berpikir kita sebagai peneliti.
149
1.3. Perumusan masalah.
• Perumusan masalah merupakan langkah yang
sangat penting dalam penelitian, karena hasilnya
akan menjadi penuntun dan patokan untuk
langkah-langkah selanjutnya. Ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam merumuskan
masalah antara lain :

(a) masalah yang dirumuskan dalam bentuk


kalimat pertanyaan,

(b) rumusannya harus dalam bentuk kalimat yang


lengkap dan jelas serta padat, tidak
menimbulkan tafsiran ganda,
150
(c) rumusan mencakup ruang lingkup
masalah yang tidak terlalu luas dan
tidak terlalu sempit,

(d) rumusan dapat memberi petunjuk


bagaimana mengumpulkan data
tentang masalah tersebut,

(e) dihindari menggunakan rumusan


masalah dengan kalimat yang
bombastis.
151
JENIS-JENIS RUMUSAN MASALAH

1. RUMUSAN MASALAH DESKRIPTIF: rumusan masalah yang terdiri atas satu


variabel atau satu fenomena yang dideskripsikan kondisi dan
karakteristiknya, tanpa memerlukan pengujian hipotesis.
• Contoh: Bagaimanakah perilaku politik masyarakat Kabupaten Malang pada
pemilihan Kepala Daerah tahun 2010?

2. RUMUSAN MASALAH KOMPARATIF: rumusan masalah yang terdiri atas satu


variabel atau satu fenomena yang dibandingkan karakteristiknya satu
kelompok dengan yang lain, dengan hipotesis atau tanpa hipotesis.
• Contoh: Bagaimanakah implementasi kebijakan tentang pembinaan
Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Malang tahun 2009 dibanding dengan
tahun 2010.

3. RUMUSAN MASALAH ASOSIATIF: rumusan masalah yang terdiri atas


minimal dua variabel yang akan dianalisis korelasi, pengaruh variabel satu
terhadap variabel yang lain dengan uji hipotesis.
• Contoh: Apakah faktor sosial ekonomi berpengaruh terhadap perilaku politik
masyarakat Kota Malang pada PILKADA tahun 2010?
152
3. (Maksud) Tujuan Penelitian.
• Dalam pasal ini diuraikan tentang maksud atau
hal-hal yang ingin dicapai. Serta sasaran-sasaran
yang dituju oleh penelitian ini. Apa yang dimaksud
dan apa yang dituju harus dirumuskan secara
spesifik dengan urutan yang sesuai dengan
kepentingannya.

• Hal ini merupakan tindak lanjut terhadap masalah


yang telah dirumuskan, oleh karena itu harus
terdapat konsistensi antara masalah yang
dirumuskan dengan sikap atau perlakuan yang
akan diambil, dengan urut-urutan seperti yang
telah tersusun dalam rumusan masalahnya.
153
4. Kegunaan Penelitian.

• Uraiannya merupakan suatu harapan bahwa hasil


penelitian ini akan mempunyai kegunaan teoritis
maupun praktis. Sebenarnya hal inipun telah
diuraikan secara garis besar di dalam latar
belakang penelitian.

• Di dalam pasal ini diuraikan atau dirumuskan lagi


secara lebih jelas, sampai seberapa jauh hasil
penelitian bermanfaat bagi kegunaan pr bagi
pengembangan suatu ilmu sebagai landasan
dasar pengembangan selanjutnya dan kegunaan
praktis dalam aplikasi lapangan.
154
4.Tinjauan Kepustakaan.

Dalam Penelitian Kuantitatif/Deduktif sbb:


1.Konsepsi Dasar/ Kerangka Pemikiran/ Landasan Teori/
Dasar-Dasar Teori.
• Suatu penelitian (dengan pendekatan
deduktif/kuantitatif) yang akan dilakukan perlu dilandasi
teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi yang
diperoleh melalui penelaahan kepustakaan yang
disusun dalam Kerangka Pemikiran.

• Landasan ini sangat penting agar penelitian memiliki


dasar-dasar konsep, asumsi, teori yang kokoh, kuat dan
tidak dilakukan secara coba-coba saja (trial and error)
untuk menghasilkan hipotesis penelitian.
155
Jenis-jenis Sumber Pustaka
1. Media Cetak.
1. Buku acuan (general references)
• a. Buku acuan yang memberikan informasi langsung :
kamus, ensiklopedi, direktori, statistik.
• b. Buku acuan yang memberikan petunjuk mengenai
sumber informasi : bibliografi, buku indeks, abstrak.

2. Sumber Pustaka Primer.


• Pustaka yang merupakan penjelasan langsung mengenai
kegiatan penelitian yang dilakukan
• beberapa artikel, laporan penelitian, biasanya dimuat
dalam jurnal ilmiah
• laporan penel,yang tidak diterbitkan dalam jurnal, tesis,
disertasi.
• Buku teks : hasil penelitian, A. Maslow, Hezberg.
156
3. Sumber Pustaka Skunder.

1. Publikasi yang disusun penulis yang


bukan pengamat langsung atau
partisipan dalam kegiatan yang
digambarkan dalam pustaka tersebut.

2. Media Non Cetak.


Jaringan elektronik – komputer - internet.

157
Tujuan Khusus :
1. Membatasi masalah dan ruang penelitian
2. Menemukan Variabel, fenomena, kategori data
yang penting dan hubungan – relasi satu dengan
yang lainnya.
3. Mengetahui apa yang pernah dilakukan dalam
penelitian sebelumnya dan menentukan apa yang
perlu dilakukan sekarang.
4. Menghindari pendekatan yang steril (tidak
menghasilkan temuan yang berarti).
5. merangkum pengetahuan yang berkaitan dengan
topik penelitian.
6. Menemukan penjelasan yang dapat membantu
dalam menafsirkan data penelitian
158
CIRI-CIRI TINJAUAN PUSTAKA YG BAIK:

1.Seluruh informasi yang diuraikan konsisten


dan relevan dengan pokok masalah
penelitian
2.Topik yang dibahas terlihat dengan jelas dan
jernih.
3.Antara uraian satu dengan uraian berikutnya
tersambung secara sistematis, logis dan
mudah dimengerti.
4.Informasi yang disajikan seimbang, antara
yang pro terhadap ide peneliti dengan yang
kontra dengan ide peneliti.
159
• 5. Pembahasan Penelitian yang Relevan
1. Meninjau kepustakaan tentang apa yang telah
diteliti pihak lain dimasa lalu yang relevan
dengan topik kita.

2. Membaca publikasi yang ada relevansinya


dengan masalah yang dianalisis, disamping
untuk mempertajam wawasan peneliti juga
untuk mencegah duplikasi yang tidak perlu.

3. Tinjauan kepustakaan sering memberikan


jalan tentang langkah apa yang harus
dilakukan dalam mendekati masalah
penelitian, mendapatkan ide yang berguna,
instrument keilmuan (yang baru) dalam
mendekati masalah yang dikaji. 160
• 5. Konsepsi Dasar/Kerangka Pemikiran/Landasan
Teori.

• Pasal ini lazimnya digunakan untuk penelitian dengan


pendekatan deduktif kuantitatif, diuraikan tentang
pengaliran jalan pikiran menurut kerangka yang logis
atau menurut “logical construct”.

• Ini berarti mendudukperkarakan masalah yang telah


dirumuskan di dalam kerangka teoretis yang relevan,
yang mampu menangkap, menerangkan, dan
menunjukkan perspektif terhadap masalah tersebut.
• Upayanya ditujukan untuk dapat menjawab atau
menerangkan masalah yang telah dirumuskan.

161
3 TAHAP Menyusun KONSEPSI DASAR
(CONCEPTUAL FRAMEWORK) :

1.Tahap “conception” yaitu tahap menyusun


konsepsi-konsepsi.
Seperti telah diketahui bahwa masalah itu
adalah fakta, meskipun tidak semua fakta
dapat merupakan masalah.

• Sebagai fakta di dalamnya terkandung


konsep-konsep, baik sebagai “determinant
factor” maupun sebagai “result factor”
umumnya mempunyai variasi sifat tertentu,
biasanya disebut variabel. 162
• Determinant Factor disebut
“independent variable” (variabel
bebas), dan Result Factor disebut
“dependent variable” (variabel terikat).

• Susunan konsep-konsep atau


variabel-variabel dari masalah
penelitian tersebut sebagai “conceptual
frame work”.

163
2. Tahap “judgement” yaitu tahap menyusun ketentuan-
ketentuan:

• Ketentuan apa yang disusun itu, tidak lain ialah teori-


teori atau dalil-dalil,hukum-hukum atau kaidah-kaidah
yang dapat dipakai sebagai dasar-dasar deduksi bagi
masalah yang akan dijawab itu.

• Ketentuan-ketentuan itu biasanya diperoleh dari hasil


penekunan kepustakaan.

• Dasar-dasar deduksi ini dipakai sebagai landasan


berpikir. Dalam ilmu logika disebut premis mayor,
sedangkan masalah yang diteliti sebagai premis
minornya.

164
3. Tahap “reasoning” adalah tahap membaca pertimbangan-
pertimbangan atau membuat argumentasi-argumentasi.

• Apa yang dipertimbangkan atau diberi argumentasi itu, tidak lain


adalah dua perkara dari premis minor di dalam premis majornya.
• Apakah benar bahwa jika benda padat dipanasi maka akan
memuai? Apakah besi termasuk benda padat? Jika benar besi
termasuk benda padat, bagaimana kesimpulannya?

• Si Polan sebagai anggota suatu organisasi? Bagaimana


keterlibatan Si Polan dalam pengambilan keputusan organisasi?
Bagaimana pertimbangannya atau apa argumentasinya?

• Apabila telah dapat menyatakan pertimbangan secara mantap


atau argumentasi yang kuat, maka tinggal menarik konsekuensi
atau kesimpulan yang mengarah kepada PERUMUSAN
HIPOTESIS. 165
JENIS HIPOTESIS BERDASARKAN RUANG LINGKUP.

1. HIPOTESIS MAYOR (besar)


Induk hipotesis yang dapat diurai menjadi beberapa hipotesis minor;

Contoh: Jika kondisi sosial ekonomi masyarakat rendah, maka kriminalitas meningkat.

2. HIPOTESIS MINOR (kecil)


Anak hipotesis yang berasal dari bagian yang lebih kecil dari hipotesis mayor.

Kondisi sosial ekonomi dapat diurai menjadi: Tingkat penghasilan, pendidikan, kesehatan
dll;

Kriminalitas dapat diurai menjadi: pencurian, perampokan, perjudian, perkelahian,


pertengkaran dll.

Contoh:
1. Jika penghasilan masyarakat rendah, maka pencurian meningkat.
2. Jika tingkat pendidikan masyarakat rendah, maka tingkat perjudian tinggi.
 Jika tingkat kesehatan masyarakat baik, maka tingkat perkelahian menurun.

 Hasil pengujian terhadap salah satu hipotesis minor berarti juga menguji sebagian dari
hipotesis mayor.
166
• Apabila suatu hipotesis tidak diterima pada uji statistik (ditolak)
maka peneliti harus dapat menjelaskan mengapa hal itu terjadi.
• Sumber-sumber penyebab tidak diterima (ditolak) suatu
hipotesis penelitian dapat dicari melalui antara lain:

1. Landasan teori kurang tepat, kedaluwarsa (out of date).


2. Sampel tidak representatif.
3. Alat pengumpul data tidak valid dan tidak reliabel.
4. Rancangan penelitian kurang tepat.
5. Perhitungan-perhitungan yang salah.
6. Data di lapangan telah berubah karena situasi yang berbeda
7. Pengaruh variabel luaran (extraneous variable) terhadap data besar
sekali.

• Ditolaknya hipotesis penelitian tidak berarti penelitian itu gagal.


Yang penting ialah peneliti memberikan keterangan dan alasasn
yang jelas dan kuat mengenai tidak diterimanya hipotesis tersebut
menurut sumber-sumber penyebabnya. 168
• Tidak semua jenis penelitian membutuhkan hipotesis.

• Penelitian dengan Pendekatan Kualitatif : eksploratif


(pengumpulan data) deskriptif (menggambarkan situasi)
tidak membutuhkan hipotesis.

• Penelitian eksploratif dan penelitian deskriptif tidak


bertujuan untuk menguji hipotesis namun bertujuan
mendeskripsikan hasil penelitian (data yang dikumpulkan).

• Penelitian dengan pendekatan Kuantitatif: eksplanatory


(menerangkan) cenderung menginterpretasikan data yang
dikumpulkan sehingga memerlukan hipotesis.

169
• 7.1. Identifikasi variabel

• Suatu Variabel mempunyai hubungan yang


erat dengan landasan teori yang disusunnya.

• Variabel dapat dibedakan menjadi variabel


diskrit (discrete) dan variabel bersambung
(continous).

• Variabel deskrit menunjuk pada hasil


penggolongan atau kategori, sedangkan
variabel bersambung menunjuk pada hasil
pengukuran.
170
Istilah variabel (variable) dapat diartikan
bermacam-macam antara lain:
1. sesuatu yang dapat bervariasi, berbeda, berubah
besaran dan ukurannya,

2. Walaupun bervariasi dapat diamati, dapat diukur,

3. sebagai sesuatu yang menjadi inti pengamatan


penelitian,

4. sebagai faktor-faktor yang penting dalam


peristiwa atau gejala yang akan diteliti.
171
MACAM-MACAM DATA PENELITIAN (Sugiono 2008 : 14)

172
• Analisis Data
– Proses mengorganisasikan dan mensistematiskan
data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar,
sehingga dapat ditemukan tema dan dapat
dirumuskan kesimpulan seperti yang disarankan oleh
data.

– Pekerjaan analisis memerlukan ketekunan, ketelitian


dan perhatian khusus dan kemampuan peneliti,
kesimpulan diajukan peneliti sendiri yang
melakukannya.

– Jika memerlukan bantuan tenaga untuk


membantu mencarikan – mengedit – mentabulasikan
data –> selanjutnya peneliti yang menganalissis dan
mengambil keputusan serta menginterpretasikan data
untuk menemukan butir-butir kesimpulan 
kepekaan peneliti.
173
173
Fenomena  natural world reason
• 2 realitas (Kant)
Noumena  non empiris

Terkait dengan hukum alam


• Fenomena  Selain manusia

Manusia

Merupakan kemauan bebas - ada jiwa,


spirit, kesadaran.
• Noumena  Selain Manusia

Pendekatan obyektif : P. Struktural & Behavioralistik -


2 Perspektif Deduktif  dari luar
Tentang
Manusia
Pendekatan subyektif : P. Fenomenologi –
Induktif  dari dalam (setting)

Nomothetic - etic
Penelitian Kualitatif
Ideographic - emic

174
174
1. a set of assumptions, and

• Paradigm  a mental window

2. beliefs concerning

• Discipline inquiry paradigm  suatu pemahaman mendasar yang digunakan untuk mencari
kebenaran realitas menjadi disiplin ilmu tertentu.

• 3 Dimensi utama dalam Paradigma Ilmu :

1. Ontologis : -Apa hakikat sesuatu yang dapat diketahui (knowable)


- Apa hakikat suatu realitas (reality)

What is the nature of reality ?

2. Epistemologis : Apa hubungan antara pencari ilmu (inquirer) dengan obyek yang ditemukan
(known-knowable). Bagaimana metode, teknik, prosedur yang digunakan.

3. Axiologi : Apa peran nilai-nilai yang dilakukan dihasilkan dari suatu


Penelitian.

• Retorik : Bahasa yang digunakan


• Metodologis : Teknik yang digunakan
175
175
Penggunaan Kode (coding) dalam proses analisis.

Suatu hal yang sering ditemukan dalam proses


analisis penelitian kualitatif ialah data berbentuk
kata-kata atau narasi.
Kumpulan data dapat menumpuk dalam ratusan
halaman dengan berbagai ungkapan yang bervariasi.

Bagaimana peneliti mengolah dan mengendalikan


data yang demikian banyak? maka harus ada cara
yang praktis untuk dapat memperoleh deskripsi
dari data yang demikian banyak dan mudah
memperoleh kembali kepada data yang diperlukan
untuk proses analisis. 176
176
Jenis-jenis Kode.

1. Kode Deskriptif: ialah kode yang berkaitan langsung dengan konsep-


konsep yang digunakan di lapangan. Misalnya dalam laporan data dari
lapangan menggunakan konsep “partisipasi”, maka bagian tersebut
diberi kode ”PAR”. Jika ada bagian data lapangan yang berkaitan
dengan ”jenis partisipasi (rendah-tinggi)”, maka dapat diberi kode
”JEN-PAR”. Kode yang demikian ini sebagai kode sederhana karena
langsung berkaitan dengan materi dari lapangan penelitian.

2. Kode Inferens: ialah yang lebih kompleks, yaitu berkaitan dengan


interpretasi, tafsiran, pemahaman peneliti yang tidak dinyatakan dalam
teks laporan lapangan penelitian. Misalnya jika ditemukan perbedaan
antara partisipasi yang dikonsepkan dengan realitas di lapangan. Kode
yang dapat diberikan misalnya ”POL-PAR-CET” (Pola-Partisipasi-
Macet).

Prinsipnya peneliti harus kreatif menemukan secara konsisten


kode apa yang akan digunakan sehingga dapat mempermudah
proses analisis data lapangan yang demikian banyaknya. 177
177
Teknik Memberi Kode
1. Disiapkan sebelum masuk lapangan
Apabila fokus penelitian sudah diketahui sebelum pelaksanaan penelitian,
maka kode-kode yang akan digunakan dapat disusun terlebih dahulu
sebelum memasuki lapangan.

Berdasarkan kode-kode yang disiapkan tersebut, maka dapat disusun


sekian kode yang dicatat dalam satu daftar kode sebagai pedoman
pengkodean pada saat menemukan data di lapangan. Setiap kode dibagi
dalam indikator atau kategori utama penelitian, misalnya ada tujuh kategori.
Setiap kategori diberi kode tertentu dan setiap kategori dapat dibagi lagi
menjadi sub-sub kategori. Setiap sub kategori diberi kode individual yang
dimulai dengan kategori utamanya.

Penyusunan kode yang demikian jelas strukturnya sangat membantu dalam


mengatur data lapangan. Walaupun demikian ada kemungkinan antara
persiapan kode kurang sesuai dengan keperluan di lapangan, maka kode
yang sudah disiapkan dapat disesuaikan dengan keperluan di lapangan.
178
178
2. Disiapkan setelah masuk lapangan

Pemberian kode bersifat induktif, empiris dan


grounded. Kode tidak diberikan berdasarkan
sistematika tertentu, tetapi diberikan setelah masuk
lapangan berdasarkan data hasil di lapangan sesuai
perkembangan yang terjadi.

Kemungkinan bisa terjadi di lapangan, karena


demikian banyaknya data pada aspek-aspek yang
sama pada saat dan lokasi yang berlainan diberi kode
yang berbeda, maka perlu diedit lagi secara
keseluruhan agar tidak membingungkan.
179
179
• Bogdan dan Bicklen (1982) menganjurkan kategori
antara lain :
(1) keadaan pisik, konteks
(2) definisi situasi menurut pemahaman responden
(3) perspektif, cara orang berpikir atau orientasi
(4) pemahaman tentang manusia, obyek lain yang
lebih rinci
dari yang lain
(5) proses, perubahan, perkembangan
(6) kegiatan yang berulang-ulang
(7) peristiwa yang bersifat khusus
(8) strategi melakukan sesuatu
(9) interaksi dan struktur sosial
(10) metode yang berkaitan dengan penelitian.
180
180
• Adapun Lofland (1971) membedakan kode atas dasar
kategori umum:
(1) tindakan atau perbuatan
(2) proses aktifitas
(3) makna
(4) partisipasi,
(5) hubungan,
(6) keadaan atau kondisi.

• Setiap kategori dapat dibagi menjadi beberapa sub kategori.


Pemberian kode hendaknya menunjukkan sistem, sehingga
dapat diketahui adanya keterkaitan antar kategori dan
menjadi pola atau tema data lapangan.
• Jumlah kode hendaknya dibatasi jumlahnya, sehingga tidak
mengembang terlalu banyak sehingga sulit dipahami. Setiap
kode diberi definisi operasional secara jelas.
181
181
1. Kode merupakan salah satu cara untuk mengolah dan
mengendalikan data yang diperoleh dari lapangan, bahan
dokumentasi, dan informasi lainnya.

2. Melalui kode, maka data yang banyak tersebut direduksi


menjadi unit-unit yang dapat diiidentifikasi.

3. Kode merupakan lambang atau simbol khusus untuk


berbagai aspek data lapangan. Lambang atau simbol
antara lain berkaitan dengan pertanyaan, konsep, tema,
pola, kategori.

4. Kode membantu mempermudah mencari data yang


diperlukan sesuai dengan kepentingan analisis data dari
lapangan sehingga terlihat tema, pola, keterkaitan antar
kategori dari keseluruhan data lapangan. 182
182
• 1. ANALISIS DOMAIN dari SPRADLEY

Spradley memformulasikan analisis domain dalam 6 (enam) langkah


umum untuk membentuk analisis data kualitatif:
1. Membaca kembali data yang lengkap dari catatan yang rinci

2. Secara konseptual menyusun lagi dengan rinci kedalam pemahaman


yang tertata deskripsi, tatanan data dari lapangan.

3. Menyusun konsep-konsep baru dari catatan lapangan, dalam makna


peneliti atau dari pengorganisasian ide peneliti butir-butir temuan
lapangan.

4. Mencari hubungan antar konsep-konsep dan menyusunnya secara


logis proposisi tentatif

5. Menyusun konsep-konsep dalam kelompok lebih besar dengan


membandingkan dan mengkaitkan antar konsep proposisi.

6. Menyususn kembali dan menghubungkan kelompok-kelompok konsep


secara bersama dengan tema besar yang lebih luasgeneral design.

183
183
Proses pembentukan dari catatan spesifik
menjadi hubungan yang logis:

1. Jenis-beda
2. Ruang
3. Sebab-akibat
4. Rasionalitas
5. Lokasi kegiatan
6. Cara ke tujuan
7. Fungsi
8. Urutan
9. Atribut
184
184
• 1. DOMAIN ANALYSIS

• Spradley,s domain analisys formalizes six steps common to


forms of qualitative data analysis. A researcher

(1) Rereads data notes full of details,


(2) Mentally “repackages” details into organizing ideas,
(3) Constructs new ideas from notes on the subjective
meanings or from the researcher,s organizing ideas,
(4) Looks for relationships among ideas and puts them
into sets on the basis of logical similarity,
(5) Organizes them into larger groups by comparing
and contrasting the sets of ideas, and
(6) Reorganizes and links the groups together with
broader integrating themes.

• The process builds up from specifics in the notes to an overall


set of logical relationships.
185
185
2. Model Interaktif MILES & HUBERMAN (1984)
– Terdiri atas empat tahap/kegiatan yaitu :
• Pengumpulan data
• Reduksi data
• Penyajian data
• Penarikan kesimpulan/verifikasi.
1. Pengumpulan data : kegiatan yang dilakukan untuk mengumpulkan
data di obyek penelitian yang ada relevansinya dengan perumusan
masalah dan tujuan penelitian.
2. Reduksi data : berkaitan dengan proses pemilihan penyederhanaan,
mengabstraksikan, mentransformasikan data “awal” yang muncul
dari catatan lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus
selama penelitian dilakukan pengumpulan data.
• Peneliti mengedit data dengan cara memilih bagian data mana yang
dikode, data mana yang tidak dipakai, data mana yang diringkas,
data mana yang dimasukkan dalam suatu kategori dan
sebagainya.

186
186
3.Penyajian data : Sekumpulan data yang diorganisasikan sehingga dapat
memberi deskripsi menuju proses penarikan kesimpulan. Penyajian
data harus mempunyai relevansi yang kuat dengan perumusan
masalah secara keseluruan dan disajikan secara sistimatis.
• Penyajian data dapat berbentuk teks naratif, matrik, grafik, poto, bagan
dll yang satu dengan yang lain terkait sebagai data hasil penelitian dari
obyek penelitian.

4. Menarik kesimpulan/verifikassi
– Proses penarikan kesimpulan merupakan bagian penting dari
kegiatan penelitian. Kesimpulan tentativ diverifikasi selama
penelitian berlangsung. Kesimpulan awal ini diverifikasi sampai
terjadi kejenuhan data.
– Proses penarikan kesimpulan dimaksudkan untuk menganalisis,
mencari makna (meaning) dari data yang ada sehingga dapat
ditemukan tema,pola hubungan, ataupun proposisi-proposisi.

187
187
Komponen Analisis Data: Model Interaktif

Pengumpulan Penyajian
Data Data

Reduksi
Data

Kesimpulan-kesimpulan:
Penarikan/Verifikasi

188
188
3. Analisis data kualitatif menurut EARL BABBIE (1979):
1. Analisis data lapangan dilakukan secara jalin-menjalin dengan proses
pengamatan.
2. Berusaha menemukan persamaan dan perbedaan berkenaan dengan
fenomena yang diamati yaitu menemukan pola-pola perilaku atau norma-
norma sosial yang berlaku pada masyarakat yang diteliti dan menemukan
penyimpangan terhadap pola perilaku atau norma sosial tersebut.
3. Membentuk taksonomi perilaku berkenaan dengan fenomena sosial yang
diamati.
4. Menyusun secara tentatif proposisi teoretis berkenaan dengan hubungan
antara kategori yang dikembangkan atau dihasilkan dari penyusunan
taksonomi tersebut.
5. Melaksanakan pengamatan lebih lanjut terhadap perilaku yang berkaitan
dengan proposisi tentatif.
6. Mengevaluasi proposisi-proposisi tentatif untuk menghasilkan kesimpulan.
• Untuk mencegah kesimpulan yang subyektif :
• Melengkapi pengamatan terhadap fenomena dengan data skunder.
• Mengembangkan intersubyektivitas melalui diskusi dengan pihak yang
relevan (orang lain)
• Menjaga kepekaan sosial dan kesadaran sebagai peneliti

189
189
4. FRAMERWORK‟ AS A METHOD OF QUALITATIVE DATA ANALYSIS
(BRYMAN & BURGERS)

1. Defining concepts: understanding internal structures;


2. Mapping the range, nature and dunamics of phenomena;
3. Creating typologies: categorizing different types of attitudes, behaviors,
motivations, etc.;
4. Finding associations: between experiences and attitudes, between
attitudes and behaviour, between circumstances and motivations, etc.;
5. Seeking explanations: explicit or implicit;
6. Developing new ideas, theories or strategies.

The five key stages to qualitative data analysis involved in „Framework‟ are :
1. familiarization,
2. identifying a thematic framework,
3. indexing,
4. charting,
5. mapping and interpretation (this being the stage at which the key
objectives of qualitative analysis are addressed).

190
190
5.MODEL BRYMAN & BURGERS
Framework sebagai suatu Metode Analisa Data Kualitatif

1. Mendefinisikan konsep-konsep: memahami stuktur internal


2. Memetakan kondisi alamiah dan dinamika pada fenomena
3. Menciptakan tipologi: mengkategorikan sikap, perilaku, dan motivasi yang
berbeda
4. Menemukan kesamaan: antara pengalaman dan sikap, sikap dan perilaku,
lingkungan dan motivasi, dan lain-lain
5. Mencari penjelasan: secara implisit maupun eksplisit
6. Mengembangkan ide-ide, teori atau strategi baru.

Lima kunci tahapan pada analisa data kualitatif meliputi:


• Familiarisasi
• Pengidentifikasian tema kerangka kerja
• Membuat indeks
• Membuat skema situasi
• Membuat peta dan interpretasi data (ini bisa menjadi tahapan dimana kunci
tujuan analisa kualitatif diarahkan).
191
191
• 6. REFLEXIVE METHOD (Alvesson dan Skolberg, 2000)

• Pengembangan teori dengan menggunakan pendekatan


ini sepenuhnya didasarkan atas data di lapangan dalam
perspektif emik.
• Sehingga ditemukan teori yang bertolak dari penafsiran
atau pemahaman tingkat pertama (The first order
understanding ) menurut perspektif pelaku yang menjadi
subyek penelitian itu sendiri.

• Selanjutnya dengan menggunakan prinsip hermeneutika


ganda dari Anthony Giddens, dilakukan penafsiran tingkat
kedua (the second order understanding) dengan
menggunakan bahan baku dari penafsiran tingkat
pertama.

• Secara diagramatik kerangka analisis penelitian dapat


digambarkan sebagai berikut.
192
192
REFLECTIVE METHOD, Alvesson & Skolberg, 2000)
BELAJAR DARI PERILAKU

PERSPEKTIF PENELITIAN
EMIK GROUNDED

THE FIRST ORDER UNDERSTANDING


OF LAY ACTORS

HERMENEUTIKA
GANDA
( A. GIDDENS )

THE SECOND ORDER UNDERSTANDING


OF SOCIAL SCIENTIST

193
193
7. MODEL ANALISIS IAN DEY

• Inti dari analisis kualitatif terletak pada proses


deskripsi phenomena yang saling terkait ,
mengklasifikasikannya, dan melihat bagaimana
konsep saling terkait.

• DESKRIPSI

• Mendeskripsikan adalah „menggambarkan


dengan kata-kata‟ atau „menyebutkan
karakteristik‟ seseorang, obyek atau peristiwa.
194
194
• Menurut Ian Dey ( 1993 ) inti analisis data kuantitatif
terletak pada tiga proses yang berkaitan yaitu :
(1)mendiskripsikan fenomena;
(2) mengklasifikasikannya;
(3) dan melihat bagaimana konsep-konsep yang muncul itu
satu dengan yang lainnya berkaitan.

• Langkah-langkah analisis data kualitatif meliputi :


Mengembangkan deskripsi yang komprehensif dan teliti
dari hasil penelitian atau ada yang menyebutnya sebagai “
uraian tebal ”.
• Menjadi uraian tebal karena memasukkan informasi
tentang kontek suatu tindakan, intensitas dan maknanya
yang mengorganisasikannya dan perkembangannya
secara evolusi
195
195
• Melakukan klasifikasi
• Klasifikasi ini dilakukan agar peneliti memahami apa yang dianalisis
dan membuat perbandingan yang bermakna antara setiap bagian dari
data.

• Menemukan fokus
• Untuk memberikan arah dalam upaya menemukan fokus kita dapat
menggunakan pertanyaan seperti jenis data:
1. apakah yang akan dianalisis,
2. bagaimana dapat kita memberikan ciri pada data itu,
3. apa yang menjadi tujuan analisis,
4. mengapa memilih data itu,
5. bagaimana data itu mewakili,
6. siapa yang ingin mengetahui data itu.
7. Selain itu, kita dapat memanfaatkan sumber-sumber lain seperti
pengalaman pribadi, budaya umum, dan kepustakaan untuk
menentukan fokus
196
196
Mengelola data
Alalisis yang baik memerlukan pengelolaan data yang
dilakukan secara efisien, oleh karena itu kita harus mencatat
data dengan format yang memudahkan analisisnya.

Membaca dan menganotasi


Bagaimana kita membaca dengan baik akan menentukan
bagaimana kita menganalisisnya karena membaca data
bertujuan untuk mempersiapkan landasan untuk analisis.

Menciptakan kategori
Pada prakteknya kegiatan ini memasukkan upaya
mentransfer bagian-bagian data dari suatu konteks (data
asli) kepada yang lain (data yang dimasukkan dalam
kategori)
197
197
• Spitting dan slicing
• Sesudah menciptakan dan menyusun kategori
maka analisis harus mempertimbangkan cara-
cara untuk memperhalus dan lebih memfokuskan
analisis, misal dangan memilah kedalam sub
kategori.
• Pemotongan (Slicing ) adalah proses
pengidentifikasikan kaitan secara formal diantara
kategori-kategori.
• Mengkait-kaitkan data
• Dalam memilah data kita akan kehilangan
informasi tentang kaitan antara beberapa bagian
data.
• Oleh karena itu kita harus mengkaitkan data
maupun kategori.
198
198
Membuat hubungan
Dalam hal ini kita menggunakan hubungan untuk membangun hubungan
substantif antara dua bagian data. Hubungan ini bisa atas dasar asosiasi
dan menghubungkan dengan data terkait.

Pembuatan peta dan matriks


Hubungan-hubungan diantara kategori-kategori dari data sering menjadi
rumit atau kompleks, untuk mengatasi hal itu dapat digunakan diagram
atau matriks dan peta.

Kejadian Koroborasi ( Corroborrating evidence )


Bukti kejadian koroborasi adalah prosedur dimana secara kritis kita berfikir
tentang kualitas dari data.

Menghasilkan suatu yang dicari


Teknik menghasilkan yang dicari dilakukan dengan jalan membuat
diagram, mentabulasi dengan tabel data dan menuliskan teks dan sebagai
hasil akhir akan menyajikan kerangka menyeluruh dari analisis yang telah
kita lakukan.
199
199
Figure : Qualitative analysis as a circular process
200
200
Connections between chronological or narrative sequences
201
201
• KONTEKS
• Pentingnya memperhatikan konteks adalah karena
sering muncul dalam analisis kualitatif. Konteks
sangat penting sebagai alat untuk memahami
perbuatan, dan alat mendapatkan masukan
histories dan social yang lebih luas.
• Dengan demikian dapat diperoleh deskripsi yang
detail mengenai setting social dimana perbuatan
itu terjadi; konteks relevan mungkin berupa
kelompok, organisasi, instansi, kebudayaan atau
masyarakat; waktu ketika perbuatan itu terjadi,
konteks spatial; jaringan relasi social dan
sebagainya.

202
202
203
203
• PROSES
• Karena makna dapat dinegosiasikan, maka makna juga
beruba sepanjang waktu. Orientasi pada proses
merupakan karakteristik ketiga dari deskripsi kualitatif.

• Penelitioan kualitatif sering menjelaskan bagaimana


individu berinteraksi untuk melanjutkan atau merubah
situasi social.

• Data kualitatif kadang-kadang diperoleh melalui metide


snapshot (pemotretan), seperti survey, tapi biasanya data
tersebut merupakan hasil pengumpulan data selama
satu periode, seperti materi yang dihasilkan dari
observasi peserta atau interview berturut-turut

204
204
Formal connections between concepts

205
205
206
Derivation of nominal variables with exclusive and exhaustive values 206
• Informasi mengenai perilaku dan pemikiran peneliti dalam
bentuk catatan harian, memo, catatan lapangan, dapat
menjadi sumber data penting untuk di analisa.
• Makna tergantung konteks
• Makna selalu dapat dinegosiasikan antara pengamat yang
berbeda.
• Dalam ilmu social kita dapat bertanya pada subyek
mengenai apa yang mereka maksudkan.
• Niat subyek tidak selalu dapat dipakai untuk membuat
intepretasi
• Proses yang melibatkan analisa dapat berubah sepanjang
waktu
• Perubahan dapat dianalisa melalui fase, kejadian kunci
atau saling mempengaruhi antar factor yang kompleks
• Faktor materi dan social mempengaruhi perubahan.

207
207
208
208
• Apabila kita menggunakan tipe kedua, kita harus menganalisa
hubungan substantifnya seperti hubungan kausalitas. Langkah-
langkahnya adalah :

• Klasifikasi meliputi memecah data dan mengumpulkannya lagi

• Klasifikasi data merupakan peletakan dasar konseptual bagi analisa

• Klasifikasi merupakan proses yang umum

• Kategori dan penyelamatan data merupakan dasar perbandingan

• Mempertegas kategori akan memperkuat konseptualisasi

• Klasifikasi harus berlandaskan tujuan penelitian

209
209
210
210
• Grafik merupakan metode yang tepat dalam analisis kualitatif karena memberikan
penjelasan yang efektif untuk menunjukkan hubungan yang kompleks.

• Hal yang penting untuk diperhatikan adalah :

• Dalam membuat kalsifikasi kita membuat hubungan logis antar berbagai kategori

• Setelah kategorisasi kita kemudian mencari pola dalam data

• Statistik dapat membantu mengidentifikasi keragaman dan perbedaan

• Keseragaman dapat dipertimbangkan tapi bukan bukti akhir suatu hubungan.

• Untuk menentukan hubungan membutuhkananalisis kualitatif terhadap kapabilitas dan


liabilitas.

• Kapabilitas dapat dianalisa dalam konteks struktur social

• Penggunaan grafik sangat bermanfaat untuk menganalisa konsep dan hubungan


konsep-konsep tersebut

• Teori dapat memberikan jalan dan tatanan untuk analisis.

211
211
Qualitative analysis as a single sequential process

212
212
Qualitative analysis as an iterative spiral 213
213
8. MODEL STRAUSS & CORBIN

• PROSEDUR CODING
• A. OPEN CODING

• 1. Open Coding : proses pengamatan di


lapangan yang merinci ( membeberkan ),
memeriksa, membandingkan,
mengkonseptualisasi, dan
mengkategorikan data berdasarkan
property dan dimensinya yang relevan
dengan topic penelitian;

214
214
• B. AXIAL CODING

• Axial Coding : Seperangkat prosedur yang


menggunakan data yang ada dengan
menggunakan “model paradigma grounded
theory” yang dikembangkan sewaktu penelitian
berlangsung,

• Model paradigma tersebut dengan alur pemikiran


sebagai berikut : (A) kondisi-kondisi kausal (B)
Fenomena (C) Konteks  (D) Kondisi-
kondisi intervening (E) Strategi-strategi aksi-
interaksi (pelaku yang diamati) (F)
Konsekuensi.

215
215
C. Selective coding : Setelah memeriksa
data, maka langkah selanjutnya ialah
proses memeriksa adanya inti kategori
(core category) yang secara sistematis
berkaitan denga kategori-kategori lainnya.

216
216
9. ANALISIS SINTESIS TERFOKUS:
• Dikembangkan oleh Burton (dalam Danim,1997:176) yang
telah melakukan studi terhadap lembaga pembangunan
internasional (Agency for International Development = AID)
atau Studi for AID tentang masalah penyediaan air di
pedesaan di Negara-negara berkembang.

• Analisis data penelitian dilakukan dengan cara:


a. Mengkaji sumber-sumber pustaka mutakhir yang tersedia dan
relevan dengan pokok masalah atau focus penelitian.
b. Menuangkan pengalamannya di lapangan selama lima tahun
terakhir di Afrika dan Amerika Latin
c. Mengadakan diskusi-diskusi dengan individu-individu di obyek
penelitian.

217
217
• Dengan demikian sintesis terfokus mengaitkan tiga hal pokok, yaitu:
• sumber pustaka mutakhir yang relevan,
• pengalaman penelitian,
• dan hasil diskusi.

• Pola kerja analisis sintesis terfokus dapat digambarkan sebagai berikut :

• Gambar 3.1 Pola Kerja Analisis Sintesis TerfokusTelaah


PustakaPenelitiDiskusi dengan subyek yang kompetenPengalaman
PenelitiRekomendasi

• Analisis sintesis terfokus memberi titik tekan pada upaya mendiskusikan


informasi yang diperoleh dengan variasi sumber (nara sumber), disamping
artikel yang telah dipublikasikan, pengalaman masa lampau peneliti,
dokumen-dokumen yang tidak dipublikasikan, memorandum staf dan materi
lain yang dipublikasikan.
• Sintesis terfokus dimaksudkan untuk membuat penjelasan umum dari
sumber-sumber itu,
• Sumber-sumber informasi hanya digunakan pada tingkat dimana informasi
itu secara langsung menyumbang kepada sintesis secara menyeluruh.

218
218
ANALISIS SINTESIS TERFOKUS

Telaah
Pustaka

Diskusi dengan
subyek yang Rekomendasi
kompeten

Pengalama
n Peneliti

Peneliti

219
219
Pengetahuan Ditata dalam Metoda-metoda
tak terkatakan kualitatif

Purposive
sampling

Desain Diputar hingga Analisis data


sementara jenuh kualitatif

“Grounded
theory”
Dikaitkan dengan
Hasil yang
disepakatkan
Mengarah ke

Laporan kasus

Yang keduanya
Dapat ditafsirkan secara idiographik
Dapat diterapkan sencara tentatif

220
220
10. LINCOLN & GUBA

Analisa data dilakukan dengan analisa Induktif menurut LINCOLN


& GUBA : Paradigma Naturalistik yaitu data dari lapangan
dikategorisasi melalui langkah-langkah sebagai berikut :
Interaksi empat unsur penelitian naturalistik dimana sampel
Purposive di tata dalam interaksi lewat empat unsur yaitu disusun
sampel, analisis kualitatif, grounded theory, dan design sementara
dengan cara :
Menyusun sampel, dari sampel purposive yang sifatnya
sementara, diadakan seleksi yang berkelanjutan sesuai
dengan informasi.
Analisis data kualitatif, menggunakan modus induktif yang
menganalisis data spesifik dari lapangan menjadi unit-unit
dilanjutkan dengan kategorisasi.
Grounded theory, Pada penelitian paradikma naturalis ini teori
disusun dilapangan sifatnya open dan dapat diperluas.
Desain sementara, dalam penelitian naturalis yang akan
diubah dan diperkembangkan sesuai konteknya.
221
221
Hasil yang disepakatkan / dinegosiasikan
Dalam penelitian ini selalu memperhatikan pada cara berpikir
responden, Maksud dari peneliti harus diuji lebih dulu dengan
responden sebelum tertuang sebagai penafsiran peneliti.

Tindakan ini dilakukan dalam rangka memperoleh hasil yang


telah disepakatkan / dinegosiasikan dengan responden. Itu
semua dilakukan untuk memperoleh keterandaian penelitian
yaitu untuk memperoleh kepastian, dimana realitas itu ganda
dalam arti mempunyai berbagai perspektif.

Memproses data secara naturalistik.


Data dipandang sebagai konstruksi hasil interaksi peneliti
dengan sumber data, sedangkan analisis data merupakan
konstruksi.
222
222
Menurut Guba untuk memproses data secara naturalistik
dengan strategi sebagai berikut :

Pertama, menyatukan dalam unit-unit informasi yang


menjadi basis dengan merumuskan kategori-kategori, dan
berpegang pada dua prinsip : heuristik yang dapat
ditafsirkan tanpa informasi tambahan, melalui hasil
observasi, wawancara, dokumentasi, rekaman, ringkasan,
komentar peneliti dangan dilanjutkan membuat indeks
yang diberi kode untuk dapat memberi informasi yang
komprehensif.
Kedua, kategorisasi ini dilakukan dengan cara
menyatukan lembar data informasi yang sama satu
kategori. Langkah tersebut terus dilakukan sampai pada
saat peneliti ragu terhadap data baru dimasukkan kategori
mana ; Rekonstruksi ini dilakukan berkelanjutan sampai
dengan tuntasnya sumber data. 223
223
11. Constant Comparative Method menurut Glaser

Analisis ini diawali dengan mengidentifikasi suatu fenomena


khusus, misalnya maraknya demontrasi masa dalam
interaksi sosial. Peneliti mempelajari perilaku masa dalam
demontrasi antara pendemo dengan aparat keamanan dalam
berbagai lokasi dan situasi, di antara pendemo siapa saja
yang aktif dan apa yang didemokan, dengan cara bagaimana
mereka mendemokan kepentingannya.

Dengan mendeskripsikan, mengklasifikasikan,


mengkategorikan dan membandingkan berbagai realita
tersebut, maka peneliti dapat menemukan berbagai jenis
perilaku interaksi dan dapat mengabstraksikan berbagai
fenomena tersebut sampai kepada ditemukannya konsep-
konsep untuk membangun teori.
224
224
• Langkah-langkah constant comparative method menurut Glaser
(Bogdan, 1982) ialah :

1. Mulailah dengan mengumpulkan data

2. Temukan isu, peristiwa atau kejadian yang berulang-ulang yang dapat


dijadikan kategori.

3. Kumpulkan data yang memberikan banyak contoh kategori yang dijadikan


fenomena itu untuk mengetahui berbagai dimensi kategori.

4. Uraikan secara jelas tentang kategori yang diteliti untuk mendeskripsikan dan
memahami berbagai aspek yang ada pada data dan terus mencari realita baru
untuk memperkaya data.

5. Data diolah untuk menemukan proses dan hubungan antar kategori untuk
menemukan tema atau model.

• Lakukan pengkodean dan deskripsi analitik dengan menganalisis pada


kategori-kategori inti.

225
225
Peneliti membandingkan suatu konsep atau kategori tertentu
dengan konsep atau kategori lainnya secara sistematis dengan
berusaha memetakan berbagai kategori sehingga dapat diketahui
tema atau pola yang ada dengan visualisasi bagan.
Dengan demikian tema atau pola yang ditemukan semakin mantap
yang terus masih diuji berdasarkan data baru yang dikumpulkan.
Teori substantif yang ditemukan terus diperluas lokasi dan
situasinya.
Semakin banyak lokasi dan situasi yang terlibat dalam analisis
tersebut semakin baik temuannya, sampai dengan adanya informasi
yang tidak dapat diungkapkan lagi atau kejenuhan informasi. Jika
kondisi point of theoretical saturation ini terjadi, maka penelitian
tidak perlu dilanjutkan lagi.
Selanjutnya peneliti tidak perlu membatasi pada satu teori substantif
tertentu, tetapi lebih baik membuka analisis dari berbagai substansi
atau perspektif lainnya. Peneliti memanfaatkan data yang ada untuk
dapat diabstraksikan secara induktif untuk menemukan teori
substantif baru. 226
226
JULIA BRANNEN
Perpaduan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Logika “triangulasi”
1.Temuan-temuan dari satu jenis studi dapat dicek pada
temuan-temuan yang diperoleh dari jenis study yang lain.
Misalnya hasil-hasil penelitian kulaitatif dapat dicek pada
studi kuantitatif. Tujuannya secara umum adalah untuk
memperkuat kesahihan temuan-temuan.
2.Penelitian kualitatif membantu penelitian kuantitatif
• Penelitian kualitatf dapat membantu memberikan
informasi dasar tentang konteks dan subyek, berlaku
sebagai sumber hipotesis, dan membantu kontruksi skala.
3. Penelitian kuantitatif membantu penelitian kualitatif
• Biasanya, ini berarti penelitian kuantitatif membantu
dalam hal pemilihan subyek bagi penelitian kualitatif. 227
227
4.Penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif digabungkan
untuk memberikan gambaran umum
• Penelitian kuantitatif dapat digunakan untuk mengisi
kesenjangan-kessenjanganyang muncul dalam studi
kualitatif. Karena, misalnya, peneliti tidak bias berada
pada lebih dari satu tempat disaat yang bersamaan. Jika
tidak mungkin tidak mseluruh masalah dapat diterima
semata bagi penelitian kuantitatif atau semata bagi
penelitian kualitatif.
5. Struktur dan Proses
• Penelitian kuantitatif terutama efisien pada penelusuran
cirri-ciri “structural” kehidupan social, sementara studi-
studi kualitatif biasanya lebih kuat dalam asspek-asspek
operasional. Karena ini dapat dihadirkan bersama-sama
dalam satu studi.
228
228
6. Perspektif peneliti dan perspektif Subyek
• Peneliti kuantitatif biasanya dikemudikan oleh perhatian peneliti,
sementara penelitian kualitatif mengambil perspektif subyek sebagai
titik tolak. Penekan-penekanan ini dapat dihadirkan bersama-sama
dalam satu studi.
7. Masalah Kegeneralisasian
• Kelebihan beberapa fakta kuantitatif dapat membantu
menyederhanakan fakta ketika sering kali tidak ada kemungkinan
menggeneralisasi (dalam arti statistik) temuan-temuan yang diperoleh
dari penelitian kualitatif.
8. Penelitioan kualitatif dapat membantu interpretasi hubungan antara
ubahan-ubahan
• Penelitian kuantitatif dengan mudah memberi jalan bagi peneliti untuk
menentukan hubungan antara ubahan-ubahan, tetapi seringkali lemah
ketika ia hadir untuk mengungkap alas an-alasan bagi hubungan-
hubungan itu. Studi kualitatif dapat digunakan untuk membantu
menjelaskan factor-faktor yang mendasari hubungan yang terbangun.
229
229
9. Hubungan antara tingkat „makro‟ dan „mikro‟
• Penggunaan penelitian kuantitatif dan kualitatif dapat memberikan
sarana untuk menyembatani kesenjangan makro mikro. Penelitian
kuantitatif sering dapat mengungkap cirri-ciri structural khidupan
social skala besar. Sementara penelitian kualitatif cenderung
menyentuh aspek-aspek behavioral skala kecil. Ketika penelitian
berupaya mengungkap kedua tingkat itu, maka pemaduan penelitian
kuantitatif dan kualitatif bias menjadi keharusan.

10. Tahap-tahap dalam proses penelitian


• Penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif bias menjadi selaras
untuk tahapan-tahapan yang berebeda dari studi longitudinal.

11. Cangkokan
• Contoh utama cenderung terjadi apabila penelitian kualitatif
dilakukan dalam desain penelitian uasi – eksperimental (yakni
kuantitatif).
230
230
• STRATEGI PENGEMBANGAN TEORI :

1. Strategi klasik : dari teori ke lapangan


2. Strategi the bottom up : Grounded R –
Kualitatif
3. Strategi komprehensif : gabungan keduanya.

Strategi komprehensif beranggapan bahwa tidaklah


mungkin bagi pengembang teori bisa membangun teori
tanpa memahami kenyataan di sekitar fenomena yang
dihadapi (94).

• Proposisi : suatu statemen yang menunjukkan adanya


realitas dengan menyatakan hubungan antara dua
konsep atau lebih (114)

• Teori terdiri dari asumsi, konsep, definisi dan


sekumpulan proposisi. 231
231
• TEKNIK MENGEMBANGKAN TEORI SOSIAL (136) :

1. Elaborasi : pengembangan teori yang sudah ada-hampir sama dengan


yang lama persamaan : fokus, fenomena, struktur teori dan
prediksinya.
2. Perluasan : hampir sama struktur & fokus, tetapi mekanisme kerja,
teori I dikembangkan dan dipadukan dengan ide lain sehingga
menjadi teori II.
3. Adopsi : mengadopsi teori yang sudah ada pada bidang lain. Sehingga
struktur teori bisa sama antara teori lama dan teori baru, tetapi fokus
dan penjelasan prediksi bisa berbeda. Misal : teori perkembangan
biologis diterapkan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat.
4. Integrasi : menggabungkan teori yang sudah ada menjadi satu teori
baru. Teori baru akan memiliki struktur baru yang mencakup struktur
teori lama. Penjelasan dan fokus teori baru memiliki prediksi yang
tidak sama dengan prediksi teori lama mengandung cara elaborasi,
dan cara perluasan banyak digunakan dengan strategi klasik.
5. Kausal proses : menyusun teori melalui jalur analisis.

232
232
LIMA CARA MENGEMBANGKANTEORI (HAGE,
1972;42-61) :

1. Sintesa dari beberapa teori menjadi teori baru.

2. Mengurangi banyak statemen menjadi statemen yang


bersifat umum.

3. Kombinasi beberapa teori untuk teori baru.

4. Perbandingan dari berbagai kasus yang bertolak


belakang.

5. Menggunakan analisis jalur.

233
233
FUNGSI TEORI : GLASER DAN STRAUSS
(1967) :

1. Untuk menerangkan dan meramalkan


perilaku
2. Bermanfaat dalam menemukan teori baru
3. Digunakan dalam aplikasi praktis
4. Memberikan perspektif bagi perilaku yaitu
pandangan yang dijaring dari data
5. Membimbing dan menyajikan gaya bagi
penelitian dalam beberapa bidang perilaku

234
234
LEVEL TEORI :

1. Teori Substantif : Teori yang dikembangkan untuk keperluan


substantif atau empiris, yang membantu pembentukan teori
formal. Lebih banyak di penelitian naturalistik: kenakalan
remaja, interaksi pria-wanita.
2. Teori formal : Teori untuk keperluan formal atau yang disusun
secara konseptual dalam penelitian ilmu pengetahuan.
3. Grand teori : Teori induk, T Konflik , T Struktural Fungsional,
interaksi simbolik.

Monisme multifaset : empiri, kebenaran, dan juga realitas itu


tunggal (monistik), menjadi beragam hanya karena tampilannya,
kadang nampak dominan yang sensual, yang etik, dst
tergantung pada obyeknya.

VALUE FREE-VALUE BOUND :


• Ilmu harus obyektif dan teknologi tidak boleh memihak.
• Positivistik: menolak nilai, karena menganggap tidak obyektif.
• Fenomenologi: memasukkan nilai dalam desain penelitian.
235
235
• Prinsip pengembangan teori : maximum parsimory padat-
mudah dipahami.

Turner (1986) : 2 cara untuk mengembangkan teori :


1. Skema proposisi :
a. aksiomatik format
b. formal format

2. Skema modelling :
a. gambar / persamaan
b. diagram
• Skema model : a. causal model : lebih konkrit-empirik. b. model
analitik : lebih abstrak-komplek

• Teori : suatu pernyataan sistematis yang berkaitan dengan


seperangkat proposisi yang berasal dari data dan diuji kembali
secara empiris (8).
236
236
CONTOH JUDUL
• Dinamika Interaksi Anggota Legislatif (DPRD)
Dalam Pembahasan Kebijakan Sebagai
Perwujudan dan Akuntabilitas Publik (Suatu
Kajian Interaksi Simbolik di DPRD Kota Malang).
• Makna Nasionalisme Komunitas Lokal (Kajian
Tentang Nilai-Nilai Lokal Pada Masyarakat Desa
Paniwen Kecamatan Kromengan Kabupaten
Malang).
• Dinamika Kegiatan Kiai Dalam Partai Politik
• (Studi Kasus di Pondok Pesantren Langitan
Widang Tuban).
237
• Peran Komisi Pemilihan Umum Daerah Terhadap
Partisipasi Masyarakat Dalam Pemilihan Kepala Daerah
Kota Blitar.
• Relasi Kiai Dan Pejabat Pemerintah Kota Kediri, Potret
Klasifikasi Kiai
• Pemahaman Pemilihan Kepala Daerah Dalam
Komunitas Lokal Pada Masyarakat Kec. Ngrogot Kab.
Nganjuk.
• Pelayanan Perijinan Terpadu (Studi Implementasi
Pelayanan Surat Ijin Usaha Perdagangan Dan Tanda
Daftar Perusahan Di Kantor Pelayanan Perijinan
Terpadu Kabupaten Minahasa Berdasarkan Peraturan
Daerah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan
Tata Kerja Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu).
238
SEKIAN

239