Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah ekonomi jangka panjang.


Pertumbuhan ekonomi yang pesat merupakan fenomena penting yang dialami dunia
hanya semenjak dua abad belakangan ini. Dalam periode tersebut dunia telah
mengalami perubahan yang sangat nyata apabila dibandingkan dengan periode
sebelumnya. Pada masa sebelumnya kuda dan beberapa binatang peliharaan lain
merupakan tenaga penarik bagi alat pengangkut yang utama. Pada masa ini keadaan
sudah sangat berbeda. Kemampuan manusia untuk pergi kebulan dan mewujudkan
komputer canggih merupakan contoh yang nyata dari betapa jauhnya manusia telah
mengalami kemajuan sejak dua atau tiga abad yang lalu.
Ditinjau dari sudut ekonomi, perkembangan ekonomi dunia menimbulkan dua
efek penting yang sangat menggalakkan, yaitu (i) kemakmuran atau taraf hidup
masyarakat makin meningkat, dan (ii) ia dapat menciptakan kesempatan kerja yang
baru kepada penduduk yang terus bertambah jumlahnya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Bagaimana perkembangan Perekonomian Indonesia masa pemerintahan
Megawati Soekaeno Putri ?
2. Bagaimana perkembangan Perekonomian Indonesia masa pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono ?
3. Bagaimana perkembangan Perekonomian Indonesia masa pemerintahan
Jokowi Widodo ?

1
C. Tujuan
1. Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Perekonomian Indonesia
2. Sebagai media pembelajaran mengenai Kebijakan dalam Perekonomian
Indonesia
3. Sebagai bahan diskusi kelas pada perkuliahan Perekonomian Indonesia

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. MASA PEMERINTAHAN PRESIDEN MEGAWATI SOEKARNO PUTRI

Presiden Megawati Soekarno Putri mengawali tugasnya sebagai presiden


kelima Republik Indonesia dengan membentuk Kabinet Gotong Royong. Kabinet ini
memiliki lima agenda utama yakni membuktikan sikap tegas pemerintah dalam
menghapus KKN, menyusun langkah untuk menyelamatkan rakyat dari krisis yang
berkepanjangan, meneruskan pembangunan politik, mempertahankan supremasi
hukum dan menciptakan situasi sosial kultural yang kondusif untuk memajukan
kehidupan masyarakat sipil, menciptakan kesejahteraan dan rasa aman masyarakat
dengan meningkatkan keamanan dan hak asasi manusia.
Tugas Presiden Megawati di awal pemerintahannya terutama upaya untuk
memberantas KKN terbilang berat karena selain banyaknya kasus-kasus KKN masa
Orde Baru yang belum tuntas, kasus KKN pada masa pemerintahan Presiden
Abdurrahman Wahid menambah beban pemerintahan baru tersebut. Untuk
menyelesaikan berbagai kasus KKN, pemerintahan Presiden Megawati membentuk
Komisi Tindak Pidana Korupsi setelah keluarnya UU RI No. 28 tahun 1999 tentang
penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas KKN.
Pembentukan komisi ini menuai kritik karena pada masa pemerintahan
Presiden Abdurrahman Wahid telah dibentuk Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat
Negara (KPKPN). Dari sisi kemiripan tugas, keberadaan dua komisi tersebut tersebut
terkesan tumpang tindih. Dalam perjalanan pemerintahan Megawati, kedua komisi
tersebut tidak berjalan maksimal karena hingga akhir pemerintahan Presiden
Megawati, berbagai kasus KKN yang ada belum dapat diselesaikan.

3
1.1 REFORMASI BIDANG EKONOMI
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak 1998 belum dapat dilalui oleh dua
presiden sebelum Megawati sehingga pemerintahannya mewarisi berbagai persoalan
ekonomi yang harus dituntaskan. Masalah ekonomi yang kompleks dan saling
berkaitan menuntut perhatian pemerintah untuk memulihkan situasi ekonomi guna
memperbaiki kehidupan rakyat. Wakil Presiden Hamzah Haz menjelaskan bahwa
pemerintah merancang paket kebijakan pemulihan ekonomi menyeluruh yang dapat
menggerakkan sektor riil dan keuangan agar dapat menjadi stimulus pemulihan
ekonomi. Selain upaya pemerintah untuk memperbaiki sektor ekonomi, MPR berhasil
mengeluarkan keputusan yang menjadi pedoman bagi pelaksanaan pembangunan
ekonomi di masa reformasi yaitu Tap MPR RI No. IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis
Besar Haluan Negara 1999-2004. Sesuai dengan amanat GBHN 1999-2004, arah
kebijakan penyelenggaraan negara harus dituangkan dalam Program Pembangunan
Nasional (Propenas) lima tahun yang ditetapkan oleh presiden bersama DPR.

Minimnya kontroversi selama masa pemerintahan Megawati berdampak positif


pada sektor ekonomi. Hal ini membuat pemerintahan Megawati mencatat beberapa
pencapaian di bidang ekonomi dan dianggap berhasil membangun kembali
perekonomian bangsa yang sempat terpuruk sejak beralihnya pemerintahan dari
pemerintahan Orde Baru ke pemerintahan pada era reformasi. Salah satu indikator
keberhasilan pemerintahan Presiden Megawati adalah rendahnya tingkat inflasi dan
stabilnya cadangan devisa negara. Nilai tukar rupiah relatif membaik dan berdampak
pada stabilnya harga-harga barang. Kondisi ini juga meningkatkan kepercayaan
investor terhadap perekonomian Indonesia yang dianggap menunjukkan
perkembangan positif.
Kenaikan inflasi pada bulan Januari 2002 akibat kenaikan harga dan suku bunga
serta berbagai bencana lainnya juga berhasil ditekan pada bulan Maret dan April 2002.
Namun berbagai pencapaian di bidang ekonomi pemerintahan Presiden Megawati
mulai menunjukkan penurunan pada paruh kedua pemerintahannya. Pada pertengahan

4
tahun 2002-2003 nilai tukar rupiah yang sempat menguat hingga Rp. 8.500,- per dolar
kemudian melemah seiring menurunnya kinerja pemerintah. Di sisi lain, berbagai
pencapaian tersebut juga tidak berbanding lurus dengan jumlah penduduk yang
ternyata masih banyak berada di bawah garis kemiskinan.
Popularitas pemerintah juga menurun akibat berbagai kebijakan yang tidak populis
dan meningkatkaninflasi. Meningkatnya inflasi berdampak buruk terhadap tingkat
inflasi riil. Diantara kebijakan tersebut adalah kebijakan pemerintah yang menaikkan
harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik (TDL) serta pajak pendapatan
negara. (Sarwanto, 2004: 50). Selain itu, persoalan hutang luar negeri juga menjadi
persoalan pada masa pemerintahan Presiden Megawati karena pembayaran hutang luar
negeri mengambil porsi APBN yang paling besar yakni mencapai 52% dari total
penerimaan pajak yang dibayarkan oleh rakyat sebesar 219,4 triliun rupiah. Hal ini
mengakibatkan pemerintah mengalami defisit anggaran dan kebutuhan pinjaman baru

1.2 KEBIJAKAN PADA BIDANG EKONOMI

• Memutuskan hubungan kerja dengan IMF.


• Melakukan restrukturisasi dan reformasi sektor keuangan dengan
melakukan pembaruan ketentuan perundang-undangan.
• Meningkatkan pendapatan melalui pajak, cukai, dan kepabeanan.
• Menciptakan situasi kondusif bagi investor.
• Meningkatkan kegiatan ekspor.
• Mendorong kemajuan usaha kecil dan menengah
• Kerjasama ekonomi dan politik juga dilakukan diluar blok AS dan
sekutunya, seperti kerja sama pembelian pesawat Sukhoi dengan Rusia dan
kerjasama perdagangan dengan China.

5
1.3 KEBIJAKAN BIDANG POLITIK

 Memelihara dan memantapkan stabilitas nasional.


 Menjaga keutuhan NKRI.
 Membangun tatanan politik baru.
 Usaha ini dilakukan dengan mengeluarkan UU baru yakni :
 UU No. 12 Tahun 2003 tentang pemilu.
 UU No. 22 Tahun 2003 tentang susunan dan kedudukan DPR/MPR
 UU No. 23 Tahun 2003 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden:
Mendukung dana, tenaga, dan sumber daya lain untuk suksesnya penerapan
UU tersebut. Segi yang lain, PNS dan TNI diharuskan netral dari politik.
2. Melanjutkan amandemen UUD 1945.
3. Meluruskan otonomi daerah.

B. Masa Pemerintahan Presiden SBY bersama Wakil Presiden Boediono


Pemerintahan SBY-Boediono berlangsung dari tahun 2009 sampai sekarang.
Dalam pemerintahan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama wakilnya,
Boediono mencetuskan visi dan misi sebagai berikut:
Visi: Terwujudnya Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur. 1)
Melanjutkan pembangunan menuju Indonesia yang sejahtera. 2) Memperkuat pilar-
pilar demokrasi. 3) Memperkuat dimensi keadilan di semua bidang.
Misi: Mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera, aman, dan damai, seta
meletakkan fondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan dekratis. 1)
Melanjutkan pembangunan ekonomi Indonesia untuk mencapai kesejahteraan bagi
seluruh rakyat Indonesia. 2) Melanjutkan upaya menciptakan Good Government dan
Good Corporate Governance.
3) Demokratisasi pembangunan dengan memberikan ruang yang cukup untuk
partisipasi dan kreativitas segenap komponen bangsa. 4) Melanjutkan penegakan

6
hukum tanpa pandang bulu dan memberantas korupsi. 5) Belajar dari pengalaman yang
lalu dan dari negara-negara lain, maka pembangunan masyarakat Indonesia adalah
pembangunan yang inklusif bagi segenap komponen bangsa.
Pada pemilu 2009, SBY kembali menjadi calon presiden bersama pasangan
barunya yaitu Boediono dan kembali terpilih sebagai presiden Indonesia. Pada periode
kepemimpinannya yang kedua, SBY membentukKabinet Indonesia Bersatu II yang
merupakan kabinet pemerintahan Indonesia pimpinan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono bersama Wakil Presiden Boediono. Susunan kabinet ini berasal dari usulan
partai politik pengusul pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009 yang mendapatkan
kursi di DPR (Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB) ditambah Partai Golkar
yang bergabung setelahnya, tim sukses pasangan SBY-Boediono pada Pilpres 2009,
serta kalangan profesional.
Susunan Kabinet Indonesia Bersatu II diumumkan oleh Presiden SBY pada
21 Oktober 2009 dan dilantik sehari setelahnya. Pada 19 Mei 2010, Presiden SBY
mengumumkan pergantian Menteri Keuangan. Pada tanggal 18 Oktober 2011, Presiden
SBY mengumumkan perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II, beberapa wajah baru
masuk ke dalam kabinet dan beberapa menteri lainnya bergeser jabatan di dalam
kabinet.

3.PERKEMBANGAN EKONOMI DI PEMERINTAHAN INDONESIA


JOKOWI-JK (SEKARANG)

Tantangan yang dihadapi Presiden terpilih Joko Widodo alias Jokowi di bidang
ekonomi tidak mudah. Jika pemerintahan Jokowi mau memenuhi janjinya kepada
rakyat Indonesia yang telah menaruh kepercayaan besar pada dirinya, maka dia harus
membuat terobosan penting. Sejumlah agenda reformasi di bidang ekonomi sudah
menuggu. Yang ditunggu oleh publik bukan sekedar apa daftar niat baik yang mau
dilakukan pemerintah Jokowi, tetapi bagaimana dia akan melakukannya. Dengan kata
lain, bukan soal “what” tetapi “how”. Demikian salah satu rangkuman diskusi tentang

7
Ekonomi Indonesia di Era yang diselenggarakan oleh Freedom Institute bersama
Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit pada Senin, 1 September 2014. Dua
ekonom muda tampil sebagai pembicara dalam diskusi ini. Yang pertama, Dr. Ari A
Perdana dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan Dr.
I Kadek Dian Sutisna Artha dari LPEM UI.Diskusi dimoderatori oleh Ulil Abshar
Abdalla. Perdana menyebut sejumlah tantangan krusial yang dihadapi pemerintahan
Jokowi, misalnya mengurangi subsidi BBM agar tersedia ruang fiskal yang cukup bagi
pemerintahan mendatang untuk membiayai sejumlah rencana besar yang diniatkan
Jokowi. Tapi Perdana mengatakan bahwa tak cukup hanya mengurangi BBM, tetapi
pemerintahan Jokowi harus melakukan reformasi yang komprehensif di bidang energi
dan mengenai agenda yang kurang terpikirkan dengan serius di
era pemerintahan SBY.

Perdana juga menyebut tentang pentingnya perhatian pemerintah mendatang di


bidang pembangunan infrastruktur. Saat ini, belanja negara di sektor infrastruktur
sekitar 2% dari GDP (bandingkan dengan Indonesia di tahun 1995 yang
membelanjakan 9,5% di sektor infrastrukur; China dan India sekitar 10%). Kondisi
ekonomi Indonesia di era SBY 2004-2014 tidak jelek dibandingkan dengan keadaan
ekonomi di kawasan Asia atau dunia pada umumnya. Indonesia mencapai pertumbuhan
ekonomi yang tinggi selama sepuluh tahun berturut-turut. Tetapi, kata Perdana, banyak
tantangan yang dihadapi ke depan, apalagi dengan situasi ekonomi dunia yang
mengalami pelambatan. Sementara Dr. I Kadek Dian Sutisna Artha mengemukakan
asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 2018. Berdasarkan data dari
Kementerian Keuangan, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia berkisar antara
5,3% pada 2014 hingga 7,4% pada 2018. Sementara itu, lifting minyak cenderung
mengalami penurunan hingga 2018 pada angka700-800 ribu barrel/hari, turun dari 804
ribu barrel/hari saat ini. Tentu saja, ini makin menciptakan beban fiskal yang besar jika
tidak ada upaya untuk mengurangi subsidi minyak dan reformasi sektor energi secara

8
komprehensif. Apalagi jika dilihat bahwa konsumsi minyak terus meningkat dari tahun
ke tahun.

3.1 Kebijakan Ekonomi Jokowi

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah menyetujui enam poin paket


kebijakan ekonomi yang diajukan oleh beberapa menteri dalam Kabinet Kerjanya.
Jumlah tersebut bertambah setelah terahir pemerintah telah memangkas paket
kebijakannya menjadi empat poin saja.

Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Sofyan Djalil mengungkapkan, enam


paket kebijakan tersebut telah disetujui oleh Jokowi. Paket kebijakan ekonomi itu akan
diwujudkan dalam Peraturan Pemerintah untuk selanjutnya langsung ditandatangani
oleh Presiden.

"Jadi setelah ini seminggu ke depan akan diproses PP nya. Untuk kemudian akan
berlaku setelah satu bulan ditandatangani," kata Sofyan di Istana Kepresidenan, Senin
(16/3/2015).

Adapun enam paket kebijakan tersebut adalah :

1. Tax allowance, untuk perusahaan yang mampu melakukan reinvestasi dengan


hasil dividen. Perusahaan yang mampu ciptakan lapangan kerja dan perusahaan
yang berorientasi dan perusahaan yang investasi di research and development.
Kemudian setelah itu juga pemerintah berlakukan insentif PPn untuk industri
galangan kapal.
2. Kebijakan tentang Bea masuk anti dumping sementara dan bea masuk tindak
pengamanan sementara thd produk impor yang unfair trade. Poin ini dalam
rangka melindungi industri dalam negeri.

9
3. Pemerintah memberikan bebas visa kunjungan singkat kepada wisatawan.
Pemerintah putuskan bebas visa kepada 30 negara baru. Setelah Perpres jalan
yang diperkirakan bulan depan, akan menjadi 45 negara ke RI untuk turis tanpa
visa.
4. Kewajiban penggunaan biofuel sampai 15 persen dengan tujuan mengurangi
impor solar cukup besar.
5. Penerapan LC (Letter of Credit) untuk produk SDA, seperti produk tambang,
batubara, migas dan cpo. Intinya dengan ini pemerintah ingin tidak ada distorsi.
6. Restrukturisasi perusahaan reasuransi domestik. Pemerintah sudah mulai
dengan perkenalan reasuransi BUMN. Jadi dari 2 perusahaan, menjadi 1
perusahaan nasional.

3.2 Pemerintah Jokowi luncurkan 3 paket kebijakan ekonomi

Ada pula 3 kebijakan ekonomi yang di luncurkan jokowi dan pemerintahannya

1. Mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi dan debirokrasi.


“Ada 89 peraturan yang diubah dari 154,” kata Jokowi. “Sehingga ini bisa
menghilangkan duplikasi, bisa memperkuat, dan memangkas peraturan yang
tidak relevan, atau menghambat industri nasional.”
2. Mempercepat proyek strategis nasional, termasuk penyediaan lahan dan
penyederhanaan izin, serta pembangunan infrastruktur.
3. Meningkatkan investasi di bidang properti dengan mendorong pembangunan
rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Diharapkan kebijakan ini akan
membuka peluang investasi yang lebih besar di sektor properti.

10
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan berpengaruh besar


terhadap ketahanan politik nasional Indonesia. Kebijakan ekonomi suatu negara juga
tidak bisa dilepaskan dari paham atau sistem ekonomi yang dipegang oleh
pemerintahan suatu negara, seperti sistem ekonomi Kapitalisme, Sosialisme,
Campuran, maupun sistem ekonomi . Tentu saja pemerintah, sebagai pengendali
perekonomian suatu negara, menganut salah satu sistem ekonomi sebagai dasar dalam
pengambilan kebijakan ekonomi. Apapun sistem ekonomi yang dipegang oleh suatu
pemerintahan, sistem ekonomi itulah yang diyakini sebagai sistem ekonomi terbaik
bagi perekonomian negara yang dipimpin oleh suatu pemerintahan.

2. Saran

Berbagai kasus anarkistis yang mengikuti kebijakan yang dilakukan berdasarkan


kesimpulan diatas, dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:

1. Perlunya masukan, kritik dan saran dari segala lapisan masyarakat pada
pemerintah agar pembangunan Indnesia lebih baik lagi.
2. Seharusnya ada kerjasama dari segala pihak untuk menyukseskan
pembangunan Indonesia.
3. Kita harus mendukung kinerja pemerintah agar dapat menjalankan tugasnya
dengan baik.

11
DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, Yahya. 1991. Bisnis dan Politik, Kebijaksanaan Ekonomi Indonesia 1950-
1980. Jakarta: LP3ES.

Aryojati Ardipandanto. 2015. Satu Tahun Pemeintahan Jokowi – JK [online] tersedia


dalam: http://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-VII-
20-II-P3DIOktober-2015-81.pdf diakses pada 3 Desember 2016.

12