Anda di halaman 1dari 13

BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini, penulis akan menganalisa antara asuhan kebidanan


yang diberikan pada Ny. L umur 26 tahun P1A0 post SC nifas hari ke – 7, nifas hari
ke – 15 dn nifas hari ke – 22 yang dilakukan secara berkelanjutan, pada nifas
fisiologis dengan teori yang ada. Bab ini penulis akan membahas mengenai
kesesuaian penatalaksanaan berdasarkan evidence based yang ditemukan oleh
penulis berdasarkan analisa yang ditegakkan.

Kunjungan pertama tanggal 18 Juni 2019 di Ruang KIA Puskesmas


Mangkang, penatalaksanaan yang diberikan adalah :

1. Memberitahu pada ibu hasil pemeriksaan bahwa kondisi ibu saat ini dalam
keadaan baik, tanda-tanda vital ibu dalam batas normal dan tidak ada gejala
tanda bahaya masa nifas yang ibu alami.
Hasil : Ibu tampak senang mendengar hasil pemeriksaan
Pembahasan :
Adalah hak dan kewajiban pasien untuk mengetahui apapun hasil pemeriksaan
dan diagnosa yang ditemukan pada dirinya.
2. Menganjurkan ibu melakukan relaksasi nafas dalam apabila ibu merasakan
adanya rasa nyeri pada luka bekas operasi.
Hasil : Ibu mengerti dan bersedia mengikuti anjuran yang diberikan
Pembahasan :
Relaksasi nafas dalam dipercaya dapat mengurangi intensitas nyeri yang ibu
rasakan. Dibawah ini merupakan patofisiologi metode relaksasi nafas dalam
terhadap penutunan nyeri (Prasetyo, 2010) :
Metode Hormon
Relaksasi Nyeri Adrenalin
Nafas Dalam

Rasa Tenang
Oksigen Dalam
Konsentrasi Darah

Detak Jantung

Mempermudah
Pernafasan
Tekanan
Nyeri Menurun Darah

3. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai gizi pada ibu nifas yaitu dengan
makan makanan yang beraneka ragam yang mengandung karbohidrat (nasi,
jagung, umbi umbian), protein hewani (daging sai, daging ayam, ikan, telur),
protein nabati (tempe, tahu) , sayur sayuran, buah dan minum 10 – 14 gelas
perhari. Pada ibu nifas post SC dianjurkan untung mengkonsumsi makannan
yang mengandung protein hewani seperti ikan gabus dan telur ayam rebus
karena sangat bagus untuk membantu proses pemulihan luka pasca operasi.
Serta menganjurkan ibu untuk tidak berpantang selama masa nifas.
Hasil : ibu memahami dan bersedia mengikuti anjran yang diberikan
Pembahasan :
Kebutuhan nutrisi pada masa post partum dan menyusui meningkat 25%,
karena berguna untuk proses penyembuhan setelah melahirkan dan untuk
produksi ASI untuk pemenuhan kebutuhan bayi. Kebutuhan nutrisi akan
meningkan tiga kali dari kebutuhan biasa menjadi sekitar 3000 – 3800 kalori.
Nutrisi yang dikonsumsi berguna untuk melakukan aktifitas, metabolisme,
cadangan dalam tubuh, proses memproduksi ASI yang diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan bayi. Ibu nifas dan menyusui memerlukan
makan makanan yang beranekaragam yang mengandung karbohidrat, protein
hewani, protein nabati, sayur, dan buah – buahan. Menu makanan seimbang
yang harus dikonsumsi adalah porsi cukup dan teratur, tidak terlalu asin, pedas
atau berlemak, tidak mengandung alkohol, nikotin serta bahan pengawet atau
pewarna. Sedangkan kebutuhan cairan ibu menyusui sedikitnya minum 3-4
liter setiap hari (anjurkan ibu minum setiap kali selesai menyusui). Kebutuhan
air minum pada ibu menyusui pada 6 bulan pertama minimal adalah 14 gelas
(setara 3-4 liter) perhari, dan pada 6 bulan kedua adalah minimal 12 gelas
(setara 3 liter) (Wahyuni, 2018).
Agar proses pemulihan pada ibu nifas tidak terhambat maka kebutuhan
dasar berupa gizi harus tercukupi yaitu dengan cara makan makanan yang
mengandung cukup karbohidrat, protein, sayuran dan buah-buahan dengan
asupan cairan 3 liter/hari, 2 liter didapat dari air minum dan satu liter didapat
dari cairan yang ada pada kuah sayur (Suherni,2009).
Ada beberapa makanan yang dapat dikonsumsi oleh ibu nifas Post SC
agar dapat mempercepat penyembuhan luka operasi, diantaranya adalah:
a) Telur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Madiyant, 2018) yang berjudul
“Hubungan Asupan Protein Denganpenyembuhan Luka Pada Pasien Post
Operas Sectio Caesarea (Sc) Dirumah Sakit Umum Daerah Pringsewu
Lampung Tahun 2016” yang mengatakan bahwa terdapat hubungan antara
asupan protein dengan penyembuhan luka Post Op SC Di RSUD Pringsewu
Tahun 2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan asupan protein dengan penyembuhan luka Post OpSC
sehingga Penelitian ini merekomendasikan agar responden dapat
meningkatkan asupan protein untuk mempercepat penyembuhan luka.
b) Ikan Gabus
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Nugraheni, 2016) yang
berjudul “ Perbedaan efektivitas ekstrak ikan gabus dan daun Binahong
terhadap lama penyembuhan luka operasi sectio caesarea pada ibu nifas”
yang mengatakan bahwa : Ada perbedaan efektivitas ekstrak ikan gabus dan
daun binahong terhadap lama penyembuhan luka operasi sectio caesarea
pada ibu nifas dimana Rata-rata lama proses penyembuhan luka operasi
sectio caesarea pada ibu nifas yang mengkonsumsi ekstrak ikan gabus
adalah 8 hari, ekstrak daun binahong adalah 12 hari sedangkan pada
kelompok kontrol tanpa perlakuan adalah 16 hari. Sehingga Penelitian ini
merekomendasikan agar responden dapat meningkatkan asupan ikan gabus
untuk mempercepat penyembuhan luka post Sc.
4. Mengajarkan kepada keluarga ibu mengenai cara memperlancar ASI dengan
melakukan pijat oksitosin yaitu pemijatan pada daerah tulang belakang leher,
punggung atau sepanjang daerah tulang belakang (vertebrate) sampai tulang
costae kelima sampai keenam. Pijatan ini berfungsi untuk meningkatkan
hormone oksitosin yang dapat meningkatkan produksi ASI. Menganjurkan
keluarga untuk rutin melakukan pijat oksitosin 1 kali sehari.
Hasil : Keluarga ibu dapat melakukan pijat oksitosin dan berjanji akan
mengikuti anjuran yang diberikan
Pembahasan :
Berdasarkankan penelitian (Isnaini & Diyanti, 2015) diketahui dari 15
responden yang dilakukan pijat oksitosin sebanyak 9 ibu nifas (60%) yang
pengeluaran asinya cepat, 5 ibu nifas (33 % ) yang pengeluaran asinya normal
dan ibu yang mengalami pengeluaran asinya lambat sebesar 1 ibu nifas (7 % )
dan kelompok yang tidak dilakukan pijat oksitosin 15 responden sebanyak 12
ibu nifas (80%) yang pengeluaran asinya lambat, 3 ibu nifas (20 % ) yang
pengluaran asinya normal dan tidak ada ibu yang mengalami pengeluaran
asinya cepat, perhitungan menggunakan SPSS ditemukan p value 0,000 <p α
0,05 atau (5%). artinya adanya hubungan pijat oksitosin pada ibu nifas dengan
pengeluaran ASI.
5. Memberikan pendidikan tentang ASI ekslusif yaitu pemberian ASI tanpa
makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur 0-6 bulan. Bahkan
air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. ASI Eksklusif adalah
bayi hanya di beri ASI saja, tanpa tambahan cairan seperti susu formula, jeruk,
air teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan seperti pisang, papaya, bubur
susu, biskuit dan tim. ASI diberikan sesuai keinginan bayi (on demand) atau
diberikan 2 jam sekali.
Hasil : Ibu mengatakan memahami dan bersedia memberikan ASI secara
ekslusif.
Pembahasan :
Menurut Aprillia dan Farida (2014) mengemukakan bahwa semakin
sering bayi mengisap payudara dengan benar, ASI semakin sering diproduksi.
Diharapkan bagi ibu menyusui tetap mempertahankan untuk menyusui bayinya
dengan cara menyusui yang benar untuk meningkatkan produksi ASI. Dari 17
responden hampir seluruhnya (94.1%), isapan bayi benar. Hal ini disebabkan
hampir seluruhnya ibu menyusui bayinya dengan tepat pada saat menyusui,
seperti cara menempatkan posisi mulut pada payudara, sehingga isapan bayi
seluruhnya benar. Jika isapan bayi benar maka akan menstimulasi hipotalamus
yang akan merangsang kelenjar hipofise anterior menghasilkan hormon
prolaktin dan hipofise posterior menghasilkan hormon oksitosin. Isapan bayi
benar adalah : Mulut bayi terbuka lebar, bayi tampak menghisap kuat, puting
susu ibu tidak terasa nyeri (Soetjiningsih, 2004). Pipi membulat, lebih banyak
areola diatas mulut, menghisap pelan, dalam dan diselingi istirahat, dapat
mendengar suara saat bayi menelan (Agustina, 2012). Ibu tidak memegang atau
menyangga payudara, lidah bayi berada dibawah puting susu, terlihat gerakan
sendi rahang bayi yang aktif dalam menyusu (Suherni, 2009). Faktor yang
mempengaruhi isapan bayi adalah bayi berat lahir rendah, bayi dengan lidah
pendek dan masa gestasi saat melahirkan (Kristiyanasari, 2009).
Salah satu usaha untuk memperbanyak ASI adalah dengan menyusui
anak secara teratur. Semakin sering anak menghisap puting susu ibu, maka
akan terjadi peningkatan produksi ASI. Dan sebaliknya jika anak berhenti
menyusu maka terjadi penurunan ASI. Saat bayi mulai menghisap ASI, akan
terjadi dua reflek yang akan menyebabkan ASI keluar pada saat yang tepat
pula, yaitu reflek pembentukan /produksi ASI atau reflek prolaktin yang
dirangsang oleh hormon prolaktin dan refleks pengaliran/pelepasan ASI (let
down reflex). Bila bayi mengisap puting payudara, maka akan diproduksi suatu
hormon yang disebut prolaktin, yang mengatur sel dalam alveoli agar
memproduksi air susu. Air susu tersebut dikumpulkan ke dalam saluran air
susu. Kedua, reflek mengeluarkan (let down reflex). Isapan bayi juga akan
merangsang produksi hormon lain yaitu oksitosin, yang membuat sel otot
disekitar alveoli berkontraksi, sehingga air susu didorong menuju puting
payudara. Jadi semakin bayi mengisap, maka semakin banyak air susu yang
dihasilkan (Perinasia, 2008).
6. Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda bahaya pada masa nifas
diantaranya perdarahan pada jalan lahir, keluar cairan berbau dari jalan lahir,
bengkak pada wajah, tangan dan kaki atau sakit kepala dan kejang kejang,
demam lebih dari 2 hari, payudara bengkak merah, disertai rasa sakit, dan ibu
terliat murung dan menangis tanpa sebab (depresi). Bila ibu menemui hal
tersebut segera periksakan ke tenaga kesehatan terdekat.
Hasil : Ibu memahami dan bersedia datang ke tenaga kesehatan bila menemui
tanda bahaya pada masa nifas
7. Menganjurkan ibu untuk minum obat atau vitamin yang telah diberikan
Hasil : Ibu memahami dan bersedia meminum obat sesuai anjuran
8. Mengatur janji temu untuk dilakukan kunjungan rumah dengan ibu dan
keluarga.
Hasil : Ibu memberikan nomer hp dan bersedia untuk dikunjungi ke rumah
9. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan
Hasil : hasil pemeriksaan telah didokumentasikan

Kunjungan kedua tanggal 26 Juni 2019 di lakukan kunjungan rumah ke


rumah keluarga Ny L, penatalaksanaan yang diberikan adalah :
1. Memberitahu pada ibu hasil pemeriksaan bahwa kondisi ibu saat ini dalam
keadaan baik, tanda-tanda vital ibu dalam batas normal dan tidak ada gejala
tanda bahaya masa nifas yang ibu alami.
Hasil : Ibu tampak senang mendengar hasil pemeriksaan
2. Memberikan pujian pada ibu dan suami karena telah mengikuti anjuran yang
diberikan
Hasil : Ibu merasa senang
3. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi daun-daunan hijau seperti daun
katuk, daun kelor, kentang manis, kacang panjang, daun pepaya dan daun
bangun bangun untuk meningkatkan produksi ASI.
Hasil : Ibu memahami penjelasan yang diberikan dan bersedia mengkonsumsi
makanan yang dianjurkan
Pembahasan :
a) Daun Katuk
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Endang Suwanti, 2015b)
yang berjudul ” Pengaruh Konsumsi Ekstrak Daun Katuk Terhadap
Kecukupan Asi Pada Ibu Menyusui Di Klaten” yang menyatakan bahwa
Ada pengaruh yang signifikan konsumsi ekstrak daun katuk terhadap
kecukupan ASI ( p = 0,000) karena dau katuk mengandung hampir 7%
protein dan 19% serat kasar, vitamin |K, pro-vitamin A ( beta karotin
Vitmin B dan C. Mineral yang dikandung adalah Kalsium (2,8%) zat
besi, kalium, fisfor dan magnesium. Sehingga disarankan kepada ibu
menyusui dapat mengkonsumsi daun katuk sebagai variasi menu
makanan untuk meningkatkan kecukupan ASI dan bagi bidan dapat
memberikan KIE tentang daun katku sebagai menu makanan sehari-hari
untuk meningkatkan produksi ASI. Penelitian tersebut sejaan dengan
penelitian yang dilakukan oleh (Semuel Layuk, 2016) yang berjudul “
Menu Luhu (Katuk Saorophus Androginus) Sebagai Kearifan Lokal
Dalam Meningkatkan Produksi Asi Frekuensi Dan Durasi Menyusui di
Kabupaten Kepulauan Sangihe “ yang mengatakan bahwa konsumsi
menu luhu (katuk saorophus androginus dapat meningkatkan produksi
ASI sekaligus dapat menambah berat badan bayi karena mengandung
nilai gizi yang tinggi.
b) Daun Kelor
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Sormin, 2018) yang
berjudul “Hubungan Konsumsi Daun Kelor Dengan Pemberian Asi
Eksklusif Pada Ibu Menyusui Suku Timor Di Kelurahan Kolhua
Kecamatan Maulafa Kupang “ mengatakan bahwa untuk menjaga agar
ASI tetap lancar dan cukup untuk bayi, responden ibu-ibu Suku Timor di
Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kupang mempunyai kebiasaan
mengkonsumsi makanan berupa kacang- kacangan dan daun-daunan
seperti daun katuk dan daun kelor yang diyakini berkhasiat
meningkatkan atau melancarkan produksi ASI,
disamping merawat payudara dan lebih sering menyusui bayi. Manfaat
daun kelor telah diketahui oleh 90% responden ibu-ibu Suku Timor di
Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kupang dapat meningkatkan
produksi ASI.
c) Daun Kentang Manis
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Endang Suwanti, 2015a)
yang berjudul ” Hubungan Konsumsi Ekstrak Daun Kentang Manis
Dengan Produksi Asi Di Laktasi Ibu Di Kabupaten Klaten “ yang
mengatakan bahwa ada adalah hubungan yang signifikan antara
konsumsi daun ubi jalar untuk meningkatkan produksi ASI karena Daun
ini adalah sumber protein, kalsium, besi dan niacin. Kentang manis daun
juga mengandung serat tinggi, pro vitamin A, vitamin C, riboflamin,
vitamin B6, folat, mg fosfor, kalium dan mangan. Hal ini meningkatkan
ASI karena daun ini mengandung lagtogogum.
d) Daun Kacang Panjang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Djama, 2018) yang
berjudul” Pengaruh Konsumsi Daun Kacang Panjang Terhadap
Peningkatan Produksi Asi Pada Ibu Menyusui” mengatakan bahwa
pemberian sayur daun kacang panjang dapat peningkatan produksi ASI
ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Jambula karena daun kacang
panjang mengandung saponin dan polifenol yang dapat meningkatkan
kadar prolaktin. Berbagai substansi dalam laktagogum memiliki potensi
dalam menstimulasi hormon oksitosin dan prolaktin seperti
Alkaloid,polifenol,steroid, flavonoid dan substansi lainnya memerlukan
kajian mendalam untuk menilai substansi apa yang paling efektif dalam
meningkatkan dan memperlancar produksi ASI. Peningkatan produksi
ASI pada menyusui baik sebelum maupun setelah diberikan daun kacang
panjang adalah dilihat dari pertumbuhan berat badan anak diukur dengan
cara menghitung BB bayi pada hari ke 10 dikurangi berat badan ke 0 dan
berat badan pada hari ke 17 dikurangi berat badan hari ke 10. Peningkatan
produksi ASI bukan dinilai dengan mengukur volume ASI.
e) Daun Pepaya
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Turlina and Wijayanti,
2015) yang berjudul ” Pengaruh pemberian serbuk daun pepaya terhadap
kelancaran asi pada ibu nifas di bpm ny. hanik dasiyem, amd.keb di
kedungpring kabupaten lamongan” yang mengatakan bahwa terdapat
pengaruh yang signifikan dalam pemberian minuman daun pepaya
terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas dengan nilai p = 0,004 (p<0,05).
Sehingga dianjurkan pada ibu nifas untuk sering mengkonsumsi
minuman daun pepaya untuk membantu memperlancar pengeluaran ASI
pada ibu post partum. Khasiat daun pepaya dalam meningkatkan
produksi ASI ditunjukan oleh kandung vitamin A 1850 SI; vitamin BI
0,15 mg; vitamin C 140 mg; kalori 79 kalori; protein 8,0 gram; lemak 2
gram; hidrat arang 11,9 gram; kalsium 353 mg; fosfor 63 mg; besi 0,8
mg; air 75,4 gram; carposide; papayotin; karpai; kausyuk; karposit; dan
vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bayi dan kesehatan ibu,
sehingga dapat menjadi sumber gizi yang sangat potensial. Kandungan
protein tinggi, lemak tinggi, vitamin, kalsium (Ca), dan zat besi (Fe)
dalam daun pepaya berfungsi untuk pembentukan hemoglobin dalam
darah meningkat, diharapkan O2 dalam darah meningkat, metabolisme
juga meningkat sehingga sel otak berfungsi dengan baik dan kecerdasan
meningkat. Selain itu, daun Pepaya juga mengandung Enzim Papain dan
kalium, fungsi enzim berguna untuk memecah protein yang dimakan
sedangkan kalium berguna untuk memenuhi kebutuhan kalium dimasa
menyusui.karena jika kekurangan kalium maka badan akan terasa lelah,
dan kekurangan kalium juga menyebabkan perubahan suasana hati
menjadi depresi, sementara saat menyusui ibu harus berfikir positif dan
bahagia.
f) Daun Bangun - Bangun
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh (Sari,
2017) yang berjudul “Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Bangun-
Bangun (Coleus Amboinicus Lour) Pada Berbagai Tingkat Petikan Daun
Dengan Metode Dpph “ mengatakan bahwa manfaat daun bangun-
bangun adalah untuk meningkatkan produksi ASI. Daun bangun-bangun
merupakan bahan pangan nabati yang potensial sebagai sumber
antioksidan karena kaya akan flavonoid dan polifenol, sehingga daun
bangun-bangun sering disebut sebagai laktogogum.. Penelitian tersebut
sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh (Hidayat, 2014)
dengan judul “Pemanfaatan Daun Bangun-Bangun dalam
Pengembangan Produk Makanan Tambahan Fungsional untuk Ibu
Menyusui” yang mengatakan bahwa Daun tanaman bangun-bangun
(Coleus amboinicus Lour) termasuk salah satu tanaman pangan yang
memiliki fungsi sebagai laktogogum, yaitu dapat meningkatkan sekresi
dan produksi air susu ibu. Oleh karena itu, daun bangun-bangun sangat
potensial untuk dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam
pengembangan produk makanan tambahan fungsional bagi ibu
menyusui.
4. Mengajari ibu cara perawatan payudara yaitu dengan rutin membersihkan
payudara, mengoleskan ASI pada putting sebelum dan setelah ibu menyusui
serta segera menyusui bayinya bila payudara terasa penuh dan apabila bayi
sudah kenyang ibu dapat memompa ASI untuk mencegah terjadinya
bendungan ASI dan pembengkakan pada payudara, juga melakukan perawatan
dengan cara memijat payudara. Selain itu menganjurkan ibu untuk menyusui
secara bergantian pada payudara kiri dan kanan.
Hasil : Ibu bersedia melakukan perawatan payudara secara teratur dan
mengikuti anjuran yang telah diberikan.
Pembahasan :
Menurut penelitian Wulan dan Rahmad (2012) tentang “Pengaruh
Perawatan Payudara (Breast Care) Terhadap Volume ASI Pada Ibu Post
Partum ( Nifas ) di RSUD Deli Serdang Sumut Tahun 2012” mengemukakan
bahwa volume ASI sebelum perawatan payudara yaitu 4,50, dan volume ASI
sesudah perawatan payudara yaitu 6,44. Hal tersebut menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh yang positif antara sebelum dan sesudah perawatan
payudara. Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitaian yang dilakukan oleh
Amalia (2006) menunjukkan bahwa perawatan payudara membawa dampak
positif dalam meningkatkan volume ASI, 75% ibu yang mendapat perawatan
payudara mendapat peningkatan volume ASI dan 25% ibu yang tidak
mendapat perawatan payudara yang dikarenakan oleh adanya fakktor lainnya.
Menurut teori Tujuan Perawatan Payudara yaitu meningkatkan produksi ASI
dengan merangsang kelenjar-kelenjar air susu melalui pemijatan, mencegah
bendungan ASI/ pembengkakan payudara, melenturkan dan menguatkan
putting, mengetahui secara dini kelainan puting susu dan melakukan usaha
untuk mengatasi. Pada penelitian ini Perawatan payudara dilakukan 3 kali
selama satu minggu yaitu dengan cara merangsang atau memijat payudara ibu,
dan membersihkan putting susu ibu serta mengompres payudara ibu dengan
air hangat dan air dingin secara bergantian selama 2 menit, yang dapat
mempengaruhi hipopises untuk mengeluarkan hormone progesterone dan
estrogen sehingga mengasilkan hormone oksitosin. Dari hasil penelitian Hal
tersebut dapat meningkatkan produksi ASI sehingga kebutuhan bayi akan ASI
dapat tercukupi dengan baik. dan bayi tanpak tenang serta tidak rewel
5. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri termasuk daerah kewanitaan
dengan ganti pakaian dalam atau pembalut sesering mungkin bila sudah terasa
tidak nyaman. Serta menjaga kebersihan payudara saat menyusui bayinya.
Hasil : Ibu bersedia mengikuti anjuran yang diberikan
6. Mengatur janji temu dengan ibu dan keluarga bahwa akan dilaksanakan lagi
kunjungan nifas ke rumah ibu jika ibu bersedia untuk mengevaluasi asuhan
yang selama ini telah diberikan serta memantau kondisi kesehatan ibu selama
masa nifas dan menyusui.
Hasil : ibu bersedia untuk dikunjungi kembali
7. Melakukan pendokumentasian
Hasil : segala hasil pemeriksaan dan tindakan yang diberikan telah
didokumentasikan

Kunjungan ketiga tanggal 2 Juli 2019 di lakukan kunjungan rumah ke rumah


keluarga Ny L, penatalaksanaan yang diberikan adalah :

1. Memberitahu pada ibu hasil pemeriksaan bahwa kondisi ibu saat ini dalam
keadaan baik, tanda-tanda vital ibu dalam batas normal dan tidak ada gejala
tanda bahaya masa nifas yang ibu alami.
Hasil : Ibu tampak senang mendengar hasil pemeriksaan
2. Memberikan pujian pada ibu dan keluarga karena telah mengikuti anjuran yang
diberikan.
Hasil : Ibu merasa senang
3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang kontrasepsi atau KB yang dapat ibu
gunakan selama menyusui untuk mengatur jarak kehamilan serta menganjurkan
ibu dan keluarga untuk mendiskusikan bersama KB apa yang ingin digunakan.
Hasil : Ibu memahami penjelasan yang diberikan dan akan membicarakan
terlebih dahulu dengan suaminya
Pembahasan :
Keluarga berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai kesejahteraan
dengan jalan memberi nasihat perkawinan, pengobatan kemandulan, dan
penjarangan kehamilan. Selain itu penggunaan KB diharapkan dapat mengatur
jarak kehamilan dan jumlah kehamilan untuk menghindari resiko tinggi
kehamilan.
4. Menjelaskan tentang cara penyimpanan ASI yang sudah dipompa dengan benar
yaitu ditempatkan di wadah atau tempat yang steril. Disimpan di suhu ruang
ASI dapat bertahan 6 – 8 jam, di lemari Es bertahan 5 hari, dan di freezer 6 –
12 bulan. Bila akan di berikan pada bayi sebaiknya dihangatkan di wadah yang
berisi air hangat dan jangan langsung di panaskan diatas kompor.
Hasil : Ibu memahami dan bersedia melakukan sesuai anjuran yang diberikan
5. Memberikan pujian kepada ibu karena sudah memberikan ASI saja kepada
bayinya dan menganjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI saja slama 6 bulan
pertama karena ASI merupakan makanan terbaik yang dibutuhkan bayinya saat
ini.
Hasil : Ibu merasa senang dan bertekad memberikan ASI saja kepada bayinya
sampai berusia 6 bulan
6. Meminta ibu untuk lebih sering membaca dan mempelajari buku KIA yang ibu
miliki karena di dalamnya terkandung banyak ilmu yang dapat ibu dan keluarga
pelajari bersama tentang masa nifas dan menyusui serta tentang perawatan bayi.
Serta menganjurkan ibu untuk membawa bayinya imunisasi ke Puskesmas
sesuai dengan jadwal yang tertera di buku KIA.
Hasil : ibu bersedia mempelajari buku KIA dan membawa bayinya untuk
imunisasi
7. Melakukan pendokumentasian
Hasil : Segala tindakan dan hasil pemeriksaan telah didokumentasikan