Anda di halaman 1dari 48

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Asuhan Kebidanan ini disusun oleh :


Nama : Mariana Sibala
NIM : P1337424818065
Kelas : Profesi Bidan Semarang
Judul : Laporan Pendahuluan Asuhan Kebidanan Kolaborasi Pada Kasus Persalinan
Patologis dan Komplikasi Di Wilayah Kerja Puskesmas Bangetayu Kota
Semarang.

Telah disahkan dan disetujui untuk memenuhi Laporan Pendahuluan Asuhan


Kebidanan Kolaborasi Pada Kasus Persalinan Patologis dan Komplikasi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Bangetayu Kota Semarang

Semarang, Maret 2019


Pembimbing Lahan Mahasiswa

Sri Setyowati, Amd. Keb Mariana Sibala


NIP 19731110 199301 2 005 NIM P1337424818065
Mengetahui
Pembimbing Institusi

Agustin Setianingsih, S.SiT, M.Kes


NIP 19790820 2002 12 2 003
TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Teori Medis


1. Pengertian Nifas
Masa perperium atau masa nifas dimulai setelah partus selesai dan
berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi seluruh alat genital baru pulih
kembali seperti sebelum kehamilan dalam waktu 3 bulan.(Sarwono
Prawirohadjo. 2014)
Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan
berakhir ketika alat-alat genital kembali seperti keadaan sebelum lahir.
(Sarwono Prawirohadjo. 2014).
Masa nifas (puerpurium) berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari,
merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat kandungan pada
keadaan yang normal (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
Masa nifas atau post partum disebut juga puerpurium yang berasal dari
bahasa latin yaitu dari kata “Puer” yang artinya bayi dan “Parous” berarti
melahirkan. Nifas yaitu darah yang keluar dari rahim karena sebab
melahirkan atau setelah melahirkan (Anggraini, 2010).
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta,
serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan
seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. Jadi masa nifas
adalah masa yang dimulai dari plasenta lahir sampai alat-alat kandungan
kembali seperti sebelum hamil, dan memerlukan waktu kira-kira 6 minggu.
2. Tahapan Masa Nifas
Menurut Anggraini (2010) menyatakan bahwa tahapan masa nifas di bagi
menjadi 3 yaitu :
a. Puerpurium dini
Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
Dalam agama islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40
hari.
b. Puerpurium intermedial
Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu.
c. Remote puerpurium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila
selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk
sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, tahunan.
3. Perubahan Fisiologis pada Masa Nifas
a. Sistem Reproduksi
1) Uterus
Perubahan pada uterus terjadi segera setelah persalinan karena
kadar estrogen dan progesteron yang menurun yang mengakibatkan
proteolisis pada dinding uterus. Dalam keadaan normal, uterus
mencapai ukuran besar pada masa sebelum hamil sampai dengan
kurang 4 minggu. Perubahan yang terjadi pada dinding uterus adalah
timbulnya trombosis, degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi
plasenta. Jaringan – jaringan di tempat implantasi plasenta akan
mengalami degenerasi dan kemudian terlepas. Tidak ada pembentukan
jaringan parut pada bekas tempat implantasi plasenta karena pelepasan
jaringan ini berlangsung lengkap. Uterus secara berangsur-angsur
menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum
hamil dengan berat 60 gram. (Anggraini, 2010).
Tabel. Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi
(Suherni, 2009)

Involusi Tinggi Fundus Uterus Berat Uterus

Bayi Lahir Setinggi pusat 1000 gram


Uri Lahir 2 jari dibawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tak teraba diatas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram

Proses itu dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi


otot-otot polos uterus.(Vivian Nanny.2010:55)
Proses Involusi Uterus adalah sebagai berikut :
a) Atrofi Jaringan
Atrofi jaringan yaitu jaringan yang berpoliferasi dengan
adanya penghentian produksi estrogen dalam jumlah besar
yang menyertai pelepasan plasenta. Selain perubahan atrofi
pada otot – otot uterus, lapisan desidua akan mengalami atrofi
dan terlepas dengan meninggalkan lapisan basal yang akan
beregenerasi menjadi endometrium yang baru.
Setelah kelahiran bayi dan plasenta, otot uterus
berkontraksi sehingga sirkulasi darah ke uterus terhenti yang
menyebabkan uterus kekurangan darah (lokal iskhemia).
Kekurangan darah ini bukan hanya karena kontraksi dan
retraksi yang cukup lama seperti tersebut diatas tetapi
disebabkan oleh pengurangan aliran darah ke uterus, karena
pada masa hamil uterus harus membesar menyesuaikan diri
dengan pertumbuhan janin. Untuk memenuhi kebutuhannya,
darah banyak dialirkan ke uterus mengadakan hipertropi dan
hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan lagi, maka
pengaliran darah berkurang, kembali seperti biasaDisebabkan
oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus
setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relatif anemia
dan menyebabkan serat otot atrofi.
b) Autolisis
Proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot
uterus. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen
dan progesteron.

c) Efek Oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi
otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang
menyebabkan berkurangnya suplai darah ke uterus.(Vivian
Nanny & Tri Sunarsih.2011:56)
Mekanisme terjadinya kontraksi pada uterus melalui 2 cara
yaitu :
(1) Kontraksi oleh ion kalsium
Sebagai pengganti troponin, sel-sel otot polos
mengandung sejumlah besar protein pengaturan yang lain
yang disebut kalmodulin. Terjadinya kontraksi diawali
dengan ion 22 kalsium berkaitan dengan calmodulin.
Kombinasi calmodulin ion kalsium kemudian bergabung
dengan sekaligus mengaktifkan myosin kinase yaitu enzim
yang melakukan fosforilase sebagai respon terhadap myosin
kinase.
Bila rantai ini tidak mengalami fosforilasi, siklus
perlekatan-pelepasan kepala myosin dengan filament aktin
tidak akan terjadi. Tetapi bila rantai pengaturan mengalami
fosforilasi, kepala memiliki kemampuan untuk berikatan
secara berulang dengan filamen aktin dan bekerja melalui
seluruh proses siklus tarikan berkala sehingga menghasilkan
kontraksi otot uterus.
(2) Kontraksi yang disebabkan oleh hormon
Ada beberapa hormon yang mempengaruhi adalah
epinefrin, norepinefrin, angiotensin, endhothelin, vasoperin,
oksitonin serotinin, dan histamine. Beberapa reseptor
hormon pada membran otot polos akan membuka kanal ion
kalsium dan natrium serta menimbulkan depolarisasi
membran. Kadang timbul potensial aksi yang telah terjadi.
Pada keadaan lain, terjadi depolarisasi tanpa disertai dengan
potensial aksi dan depolarisasi ini membuat ion kalsium
masuk kedalam sel sehingga terjadi kontraksi pada otot
uterus dengan demikian proses involusi terjadi sehingga
uterus kembali pada ukuran dan tempat semula. Adapun
kembalinya keadaan uterus tersebut secara gradual artinya,
tidak sekaligus tetapi setingkat. Sehari atau 24 jam setelah
persalinan, fundus uteri agak tinggi sedikit disebabkan oleh
adanya pelemasan uterus segmen atas dan uterus bagian
bawah terlalu lemah dalam meningkatkan tonusnya
kembali. Tetapi setelah tonus otot-otot kembali fundus
uterus akan turun sedikit demi sedikit.
2) Implantasi Tempat Plasenta
Setelah persalinan tempat plasenta merupakan tempat dengan
permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan.
Dengan cepat luka itu mengecil, pada akhir minggu ke 2 hanya
sebesar 3 sampai 4 cm dan pada akhir nifas bekas plasenta
mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh
trombus. Regenerasi terjadi selama 6 minggu.(Vivian Nanny & Tri
Sunarsih. 2011:57)
Implantasi plasenta dengan cepat mengecil, pada minggu ke 2
sebesar 6-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm (Anggraeni,
2010).
3) Lochea
Menurut Waryana (2010), lochea dibagi menjadi :
a) Lochea rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,
vornik kaseosa, lanugo dan meconium, selama 2 hari pasca
persalinan.
b) Lochea sanguilenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari 3-7 hari
persalinan.
c) Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 hari
pasca persalinan.
d) Lochea alba
Cairan putih setelah 2 minggu.
e) Lochea purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f) Lochea stasis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.
4) Serviks
Setelah persalinan bentuk serviks akan menganga seperti corong. Hal
ini disebabkan oleh korpus uteri yang berkontraksi sedangkan serviks
tidak berkontraksi. Warna serviks berubah menjadi merah kehitaman
karena mengandung banyak pembuluh darah dengan konsistensi lunak.
Perubahan pada serviks adalah menjadi sangat lembek, kendur dan
terkulai. Segera setelah janin dilahirkan, serviks masih dapat dilewati
oleh tangan pemeriksa. Setelah 2 jam persalinan serviks hanya dapat
dilewati oleh 2 – 3 jari dan setelah 1 minggu persalinan hanya dapat
dilewati oleh 1 jari. (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
5) Ligamen-ligamen
Ligamen, vasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
kehamilan dan persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur
menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh
kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum
menjadi kendur.

6) Vulva dan Vagina


Vagina dan lubang vagina pada permulaan puerperium merupakan
suatu saluran yang luas berdinding tipis. Beberapa hari pertama setelah
proses melahirkan bayi vagina masih dalam keadaan kendur. Setelah 3
minggu vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam
vagina secara berangsur – angsur akan muncul kembali tetapi ukuran
vagina jarang kembali seperti seorang nulipara. Seperti halnya dengan
vagina seberapa hari pertama sesudah proses melahirkan vulva tetap
dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva akan kembali kepada
keadaan tidak hamil dan labia menjadi menonjol.
7) Perineum
Terjadi robekan perinium hampir pada semua persalinan pertama.
Robekan umumnya terjadi di garis tengah dan bisa meluas, bisa karena
kepala janin lahir terlalu cepat. Sudut arkus pubis lebih kecil dari
masanya. Kepala janin melemah PBP dengan ukuran yang lebih besar
daripada sirkum forensia sub oksipito bregmatika (Suherni, dkk.
2009:79)
b. Perubahan payudara
Pada hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara
mulai bisa dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi
darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa sakit. Sel-sel acini
yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi mengisap
puting, refleks saraf merangsang lobus posterior pituitari untuk
mensekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang refleks let down
(mengalirkan) sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus
payudara ke duktus yang terdapat pada puting.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Zamzara, 2015) yang
mengatakan bahwa Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Pengeluaran
Kolostrum pada Ibu Post Partum di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi
Kepulauan Riau hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Wulandari and All, 2014) mengatakan bahwa oksitosin mempengaruhi
kecepatan pengeluaran kolostrum Ibu Post partum Sectio Caesar,
sehingga rumah sakit dapat mengaplikasikan SPO pijat oksitosin yang
sebaiknya dilakukan pada 12 jam pertama post partum.
c. Tanda – tanda Vital (TTV)
Menurut Ambarwati dan Wulandari (2010) terdapat perubahan tanda-
tanda vital (TTV)
1) Suhu Tubuh
Setelah proses persalinan, suhu tubuh dapat meningkat sekitar 0,5°
Celcius dari keadaan normal (36°C – 37,5°C) namun tidak lebih dari
38°C. Hal ini disebabkan karena meningkatnya metabolisme tubuh
pada saat proses persalinan. Setelah 12 jam post partum, suhu tubuh
yang meningkat tadi akan kembali seperti keadaan semula. Bila suhu
tubuh tidak kembali normal atau semakin meningkat, maka perlu
dicurigai terhadap terjadinya infeksi.
2) Nadi
Denyut nadi normal bekisar 60 – 80 kali/menit. Pada saat proses
persalinan denyut nadi akan mengalami peningkatan. Setelah proses
persalinan selesai frekwensi denyut nadi dapat sedikit lambat. Pada
masa nifas biasanya denyut nadi akan kembali normal.
3) Tekanan Darah
Tekanan darah untuk systole berkisar antara 110 – 140 mmHg dan
untuk diastole antara 60 – 80 mmHg. Setelah partus, tekanan darah
dapat sedikit lebih rendah dibandingkan pada saat hamil karena
terjadinya perdarahan pada proses persalinan. Bila tekanan darah
mengalami peningkatan lebih dari 30 mmHg pada systole atau lebih
dari 15 mmHg pada diastole perlu dicurigai timbulnya hipertensi atau
preeklamsi post partum.

4) Pernafasan
Frekuensi pernafasan normal berkisar antara 18 – 24 kali/menit. Pada
saat partus frekwensi pernafasan akan meningkat karena kebutuhan
oksigen yang tinggi untuk tenaga ibu meneran/mengejan dan
mempertahankan agar persediaan oksigen ke janin tetap terpenuhi.
Setelah proses persalinan, frekwensi pernafasan akan kembali normal.
Keadaan pernafasan biasanya berhubungan dengan suhu dan denyut
nadi.
d. Hormon
Sekitar 1 – 2 minggu sebelum partus dimulai, hormon estrogen dan
progesteron akan menurun dan terjadi peningkatan hormon prolaktin dan
prostaglandin. Hormon prolaktin akan merangsang pembentukan air susu
pada kelenjar mamae sedangkan hormon prostaglandin memicu sekresi
oksitosin yang menyebabkan timbulnya kontraksi uterus.
e. Sistem Peredaran Darah (Cardio Vascular)
Setelah janin dilahirkan, hubungan sirkulasi darah ibu dengan
sirkulasi darah janin akan terputus sehingga volume darah ibu relatif akan
meningkat. Keadaan ini terjadi secara cepat dan mengakibatkan beban
kerja jantung sedikit meningkat. Namun hal tersebut segera diatasi oleh
sistem homeostatis tubuh dengan mekanisme kompensasi berupa
timbulnya hemokonsentrasi sehingga volume darah akan kembali normal.
Biasnya ini terjadi sekitar 1 sampai 2 minggu setelah melahirkan.
Tonus otot polos pada dinding vena mulai membaik. Volume darah
mulai berkurang, iskositas darah kembali normal dan arah jantung serta
tekanan darah menurun sampai kadar sebelum hamil.
f. Sistem Pencernaan
Buang air besar biasanya mengalami perubahan pada 1 – 3 hari pertama
post partum. Hal ini disebabkan terjadinya penurunan tonus dan mobilitas
otot traktus digestifus selama proses persalinan sehingga dapat
menimbulkan konstipasi pada minggu pertama post partum, selain itu
adanya rasa takut untuk buang air besar, sehubungan dengan jahitan pada
perineum, dan takut akan rasa nyeri (Suherni, dkk. 2009:80).
g. Sistem Perkemihan
Pada pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama
kehamilan kembali normal pada akhir minggu keempat setelah
melahirkan. Adanya trauma akibat kelahiran, laserasi vagina/episiotomi,
rasa nyeri pada panggul akibat dorongan saat melahirkan dapat
menurunkan dan mengubah refleks berkemih. Adanya distensi kandung
kemih yang muncul segera setelah wanita melahirkan dapat
menyebabkan perdarahan berlebih karena keadaan ini bisa menghambat
uterus berkontraksi dengan baik.
h. Sistem Integumen.
Perubahan kulit selama kehamilan berupa hiperpigmentasi pada wajah
(cloasma gravidarum), leher, mammae, dinding perut dan beberapa
lipatan sendi karena pengaruh hormon akan menghilang selama masa
nifas.
i. Sistem Musculoskeletal
Setelah proses persalinan selesai, dinding perut akan menjadi longgar,
kendur dan melebar selama beberapa minggu atau bahkan sampai
beberapa bulan akibat peregangan yang begitu lama selama hamil.
Ambulasi dini dan senam nifas sangat dianjurkan untuk mengatasi hal
tersebut.
1) Diastasis
Sebagian besar wanita melakukan ambulansi antara 4 sampai 8 jam
post partum. Untuk menghindari komplikasi meningkatkan involusi
dan meningkatkan cara pandang emosional. Relaksasi dan
peningkatan mobilitas artikulasi pelviks terjadi pada 6 minggu post
partum. Mobilisasi dan tonus otot gastrointestinal kembali ke keadaan
semula dalam 2 minggu post partum. Konstipasi terjadi karena
penurunan tonus otot dan rasa tidak nyaman pada puerpenum.
Hemoroid terjadi karena tekanan panggul dan mengejan selama
persalinan.
2) Abdominalis dan Peritonium
Peritonium membentuk lipatan akibat peritonium berkontraksi dan
beretraksi pasca persalinan dan beberapa hari setelahnya. Ligamentum
rotundum lebih kendur dan butuh waktu lama untuk kembali normal.
Dinding abdomen tetap kendur karena konsekuensi dan putusnya serat
elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran
uterus selama hamil. Dinding perut menjadi longgar disebabkan
teregang begitu lama. Pulih dalam waktu 6 minggu.
4. Adaptasi Psikologi pada Masa Nifas
a. Fase Taking In (1-2 hari post partum)
Wanita menjadi pasif dan sangat tergantung serta berfokus pada diri dan
tubuhnya sendiri. Mengulang-ulang, menceritakan pengalaman proses
bersalin yang dialami. Wanita yang baru melahirkan ini perlu istirahat atau
tidur untuk mencegah gejala kurang tidur dengan gejala lelah, cepat
tersinggung, campur baur dengan proses pemulihan (Anggraeni, 2010).
b. Fase Hold Period (Taking Hold) (3-4 hari post partum)
Ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuan menerima tanggung jawab
sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat
sensitif sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk
mengatasi kritikan yang dialami ibu (Anggraeni, 2010).
c. Fase Letting Go
Pada fase ini pada umumnya ibu sudah pulang dari RS. Ibu mengambil
tanggung jawab untuk merawat bayinya, dia harus menyesuaikan diri
dengan ketergantungan bayi, begitu juga adanya grefing karena dirasakan
dapat mengurangi interaksi sosial tertentu. Depresi post partum sering
terjadi pada masa ini (Anggraeni, 2010).
5. Kebutuhan dasar ibu nifas
Kebutuhan dasar masa nifas antara lain sebagai berikut:
a. Gizi Ibu nifas dianjurkan untuk:
1) Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral.
2) Mengkomsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6
bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500kalori/hari dan tahun kedua
400 kalori. Jadi jumlah kalori tersebut adalah tambahan dari kalori per
harinya.
3) Mengkonsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A dalam
bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan
daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak.
(Suherni, 2009,p.101)
Tabel 2. Penambahan makanan pada wanita dewasa, hamil, dan menyusui
(Suherni, 2009, p.102)

Zat Wanita dewasa Wanita hamil Wanita


Makanan tidak hamil 20 minggu menyusui
(BB 47kg) terakhir

Kalori 2000 kalori 3000 kalori 800 kalori

Protein 47 gram 20 gram 40 gram

Kalsium 0,6 gram 0,6 gram 0,6 gram

Ferrum 12 mg 5 mg 5 mg

Vitamin A 400 iu 100 iu 200 iu

Thamin 0,7 mg 0,2 mg 0,5 mg

Riboflavin 1,1 mg 0,2 mg 0,5 mg

Niacin 12,2 mg 2 mg 5 mg

Vitamin C 60 mg 30 mg 30 Mg

Ada beberapa makanan yang dapat di konsumsi oleh ibu nifas untuk
memperbanyak produksi ASI berdasarkan beberapa penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya yaitu diantaranya :
a) Daun Katuk
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Endang Suwanti, 2015b)
yang berjudul ” Pengaruh Konsumsi Ekstrak Daun Katuk Terhadap
Kecukupan Asi Pada Ibu Menyusui Di Klaten” yang menyatakan
bahwa Ada pengaruh yang signifikan konsumsi ekstrak daun katuk
terhadap kecukupan ASI ( p = 0,000) karena dau katuk mengandung
hampir 7% protein dan 19% serat kasar, vitamin |K, pro-vitamin A
( beta karotin Vitmin B dan C. Mineral yang dikandung adalah
Kalsium (2,8%) zat besi, kalium, fisfor dan magnesium. Sehingga
disarankan kepada ibu menyusui dapat mengkonsumsi daun katuk
sebagai variasi menu makanan untuk meningkatkan kecukupan ASI
dan bagi bidan dapat memberikan KIE tentang daun katku sebagai
menu makanan sehari-hari untuk meningkatkan produksi ASI.
Penelitian tersebut sejaan dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Semuel Layuk, 2016) yang berjudul “ Menu Luhu (Katuk Saorophus
Androginus) Sebagai Kearifan Lokal Dalam Meningkatkan Produksi
Asi Frekuensi Dan Durasi Menyusui di Kabupaten Kepulauan Sangihe
“ yang mengatakan bahwa konsumsi menu luhu (katuk saorophus
androginus dapat meningkatkan produksi ASI sekaligus dapat
menambah berat badan bayi karena mengandung nilai gizi yang tinggi.
b) Daun Kelor
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Sormin, 2018) yang
berjudul “Hubungan Konsumsi Daun Kelor Dengan Pemberian Asi
Eksklusif Pada Ibu Menyusui Suku Timor Di Kelurahan Kolhua
Kecamatan Maulafa Kupang “ mengatakan bahwa untuk menjaga agar
ASI tetap lancar dan cukup untuk bayi, responden ibu-ibu Suku Timor
di Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kupang mempunyai
kebiasaan mengkonsumsi makanan berupa kacang- kacangan dan
daun-daunan seperti daun katuk dan daun kelor yang diyakini
berkhasiat meningkatkan atau melancarkan produksi ASI,
disamping merawat payudara dan lebih sering menyusui bayi. Manfaat
daun kelor telah diketahui oleh 90% responden ibu-ibu Suku Timor di
Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kupang dapat meningkatkan
produksi ASI.
c) Daun Kentang Manis
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Endang Suwanti,
2015a) yang berjudul ” Hubungan Konsumsi Ekstrak Daun Kentang
Manis Dengan Produksi Asi Di Laktasi Ibu Di Kabupaten Klaten “
yang mengatakan bahwa ada adalah hubungan yang signifikan antara
konsumsi daun ubi jalar untuk meningkatkan produksi ASI karena
Daun ini adalah sumber protein, kalsium, besi dan niacin. Kentang
manis daun juga mengandung serat tinggi, pro vitamin A, vitamin C,
riboflamin, vitamin B6, folat, mg fosfor, kalium dan mangan. Hal ini
meningkatkan ASI karena daun ini mengandung lagtagagum.
d) Daun Kacang Panjang
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Djama, 2018) yang
berjudul” Pengaruh Konsumsi Daun Kacang Panjang Terhadap
Peningkatan Produksi Asi Pada Ibu Menyusui” mengatakan bahwa
pemberian sayur daun kacang panjang dapat peningkatan produksi
ASI ibu menyusui di Wilayah Kerja Puskesmas Jambula karena daun
kacang panjang mengandung saponin dan polifenol yang dapat
meningkatkan kadar prolaktin. Berbagai substansi dalam laktagogum
memiliki potensi dalam menstimulasi hormon oksitosin dan
prolaktin seperti Alkaloid, polifenol, steroid, flavonoid dan substansi
lainnya memerlukan kajian mendalam untuk menilai substansi apa
yang paling efektif dalam meningkatkan dan memperlancar produksi
ASI. Peningkatan produksi ASI pada menyusui baik sebelum
maupun setelah diberikan daun kacang panjang adalah dilihat dari
pertumbuhan berat badan anak diukur dengan cara menghitung BB
bayi pada hari ke 10 dikurangi berat badan ke 0 dan berat badan pada
hari ke 17 dikurangi berat badan hari ke 10. Peningkatan produksi
ASI bukan dinilai dengan mengukur volume ASI.
e) Daun Pepaya
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Turlina and Wijayanti,
2015) yang berjudul ” Pengaruh pemberian serbuk daun pepaya
terhadap kelancaran asi pada ibu nifas di bpm ny. hanik dasiyem,
amd.keb di kedungpring kabupaten lamongan” yang mengatakan
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dalam pemberian minuman
daun pepaya terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas dengan nilai p =
0,004 (p<0,05). Sehingga dianjurkan pada ibu nifas untuk sering
mengkonsumsi minuman daun pepaya untuk membantu memperlancar
pengeluaran ASI pada ibu post partum. Khasiat daun pepaya dalam
meningkatkan produksi ASI ditunjukan oleh kandung vitamin A 1850
SI; vitamin BI 0,15 mg; vitamin C 140 mg; kalori 79 kalori; protein
8,0 gram; lemak 2 gram; hidrat arang 11,9 gram; kalsium 353 mg;
fosfor 63 mg; besi 0,8 mg; air 75,4 gram; carposide; papayotin; karpai;
kausyuk; karposit; dan vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan
bayi dan kesehatan ibu, sehingga dapat menjadi sumber gizi yang
sangat potensial. Kandungan protein tinggi, lemak tinggi, vitamin,
kalsium (Ca), dan zat besi (Fe) dalam daun pepaya berfungsi untuk
pembentukan hemoglobin dalam darah meningkat, diharapkan O2
dalam darah meningkat, metabolisme juga meningkat sehingga sel
otak berfungsi dengan baik dan kecerdasan meningkat. Selain itu,
daun Pepaya juga mengandung Enzim Papain dan kalium, fungsi
enzim berguna untuk memecah protein yang dimakan sedangkan
kalium berguna untuk memenuhi kebutuhan kalium dimasa
menyusui.karena jika kekurangan kalium maka badan akan terasa
lelah, dan kekurangan kalium juga menyebabkan perubahan suasana
hati menjadi depresi, sementara saat menyusui ibu harus berfikir
positif dan bahagia.
f) Daun Bangun- Bangun
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh (Sari,
2017) yang berjudul “Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Bangun-
Bangun (Coleus Amboinicus Lour) Pada Berbagai Tingkat Petikan
Daun Dengan Metode Dpph “ mengatakan bahwa manfaat daun
bangun-bangun adalah untuk meningkatkan produksi ASI. Daun
bangun-bangun merupakan bahan pangan nabati yang potensial
sebagai sumber antioksidan karena kaya akan flavonoid dan
polifenol, sehingga daun bangun-bangun sering disebut sebagai
laktogogum.. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh (Hidayat, 2014) dengan judul “Pemanfaatan Daun
Bangun-Bangun dalam Pengembangan Produk Makanan Tambahan
Fungsional untuk Ibu Menyusui” yang mengatakan bahwa Daun
tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) termasuk salah
satu tanaman pangan yang memiliki fungsi sebagai laktagogum,
yaitu dapat meningkatkan sekresi dan produksi air susu ibu. Oleh
karena itu, daun bangun-bangun sangat potensial untuk dimanfaatkan
sebagai salah satu bahan dalam pengembangan produk makanan
tambahan fungsional bagi ibu menyusui.
b. Ambulasi
Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada
kontraindikasi. Ambulasi ini akan meningkatkan sirkulasi dan mencegah
risiko tromboflebitis, meningkatkan fungsi kerja peristaltik dan kandung
kemih, sehingga mencegah distensi abdominal dan konstipasi. Bidan
harus menjelaskan kepada ibu tentang tujuan dan manfaat ambulasi dini.
Ambulasi ini dilakukan secara bertahap sesuai kekuatan ibu. Terkadang
ibu nifas enggan untuk banyak bergerak karena merasa letih dan sakit.
Jika keadaan tersebut tidak segera diatasi, ibu akan terancam mengalami
trombosis vena. Untuk mencegah terjadinya trombosis vena, perlu
dilakukan ambulasi dini oleh ibu nifas.
Pada persalinan normal dan keadaan ibu normal, biasanya ibu
diperbolehkan untuk mandi dan ke WC dengan bantuan orang lain, yaitu
pada 1 atau 2 jam setelah persalinan. Sebelum waktu ini, ibu harus
diminta untuk melakukan latihan menarik napas dalam serta latihan
tungkai yang sederhana Dan harus duduk serta mengayunkan tungkainya
di tepi tempat tidur.
Sebaiknya, ibu nifas turun dan tempat tidur sediri mungkin setelah
persalinan. Ambulasi dini dapat mengurangi kejadian komplikasi
kandung kemih, konstipasi, trombosis vena puerperalis, dan emboli
perinorthi. Di samping itu, ibu merasa lebih sehat dan kuat serta dapat
segera merawat bayinya. Ibu harus didorong untuk berjalan dan tidak
hanya duduk di tempat tidur. Pada ambulasi pertama, sebaiknya ibu
dibantu karena pada saat ini biasanya ibu merasa pusing ketika pertama
kali bangun setelah melahirkan. (Bahiyatun, 2009, pp.76-77).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Prihatini, 2014 “Pengaruh
Mobilisasi Dini terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Nifas
di Paviliun Melati RSUD Jombang” menunjukkan bahwa mobilisasi dini
dapat mempercepat penurunan TFU pada ibu nifas (Prihartini, 2014)
c. Higiene Personal
Ibu Sering membersihkan area perineum akan meningkatkan
kenyamanan dan mencegah infeksi. Tindakan ini paling sering
menggunakan air hangat yang dialirkan (dapat ditambah larutan
antiseptik) ke atas vulva perineum setelah berkemih atau defekasi,
hindari penyemprotan langsung. Ajarkan ibu untuk membersihkan
sendiri.
Pasien yang harus istirahat di tempat tidur (misal : hipertensi, post-
seksio sesaria) harus dibantu mandi setiap hari dan mencuci daerah
perineum dua kali sehari dan setiap selesai eliminasi. Setelah ibu mampu
mandi sendiri (dua kali sehari), biasanya daerah perineum dicuci sendiri.
Penggantian pembalut hendaknya sering dilakukan, setidaknya setelah
membersihkan perineum atau setelah berkemih atau defekasi.
Luka pada perineum akibat episiotomi, ruptura, atau laserasi
merupakan daerah yang tidak mudah untuk dijaga agar tetap bersih dan
kering. Tindakan membersihkan vulva dapat memberi kesempatan untuk
melakukan inspeksi secara seksama daerah perineum.
Payudara juga harus diperhatikan kebersihannya. Jika puting
terbenam, lakukan masase payudara secara perlahan dan tarik keluar
secara hati - hati. Pada masa postpartum, seorang ibu akan rentan
terhadap infeksi. Untuk itu, menjaga kebersihan sangat penting untuk
mencegah infeksi. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuh,
pakaian, tempat tidur, dan lingkungannya. Ajari ibu cara membersibkan
daerah genitalnya dengan sabun dan air bersih setiap kali setelah
berkemih dan defekasi. Sebelum dan sesudah membersihkan genitalia, ia
harus mencuci tangan sampai bersih. Pada waktu mencuci luka
(epistotomi), ia harus mencucinya dan arah depan ke belakang dan
mencuci daerah anusnya yang 20 terakhir. Ibu harus mengganti pembalut
sedikitnya dua kali sehari. Jika ia menyusui bayinya, anjurkan untuk
menjaga kebersihan payudaranya.
Alat kelamin wanita ada dua, yaitu alat kelamin luar dan dalam. Vulva
adalah alat kelamin luar wanita yang terdiri dan berbagai bagian, yaitu
komrnissura anterior, komrnissura interior, labia mayora, labia rninora,
klitoris, prepusium klitonis, orifisium uretra, orifisium vagina, perineum
anterior, dan perineum posterior.
Robekan perineum terjadi pada semua persalinan, dan biasanya
robekan tenjadi di garis tengah dan dapat meluas apabila kepala janin
lahir terlalu cepat. Perineum yang dilalui bayi biasanya mengalami
peregangan, lebam, dan trauma. Rasa sakit pada perineum semakin parah
jika perineum robek atau disayat pisau bedah. Seperti semua luka baru,
area episiotomi atau luka sayatan membutuhkan waktu untuk sembuh,
yaitu 7 hingga 10 hari Infeksi dapat terjadi, tetapi sangat kecil
kemungkinanya jika luka perineum dirawat dengan baik. Selama di
rumah sakit, dokter akan memeriksa perineum setidaknya sekali sehari
untuk memastikan tidak terjadi peradangan atau tanda infeksi lainnya.
Dokter juga akan memberi instruksi cara menjaga kebersihan perineum
pascapersalinan untuk mencegah infeksi.
Perawatan perineum 10 hari :
1) Ganti pembalut wanita yang bersih setiap 4 - 5 jam. Posisikan
pembalut dengan baik sehingga tidak bergeser.
2) Lepaskan pembalut dari arah depan ke belakang untuk
menghindani penyebaran bakteri dan anus ke vagina.
3) Alirkan atau bilas dengan air hangat atau cairan antiseptic pada area
perineum setelah defekasi. Keringkan dengan kain pembalut atau
handuk dengan cara ditepuk – tepuk dari arah depan ke belakang.
4) Jangan dipegang sampai area tersebut pulih.
5) Rasa gatal pada area sekitar jahitan adalah normal dan merupakan
tanda penyembuhan. Namun, untuk meredakan rasa tidak enak,
atasi dengan mandi berendam air hangat atau kompres dingin
dengan kain pembalut yang telah didinginkan.
6) Berbaring miring, hindari berdiri atau duduk lama untuk
mengurangi tekanan pada daerah tersebut.
7) Lakukan latihan Kegel sesering mungkin guna merangsang
peredaran darah di sekitar perineum. Dengan demikian, akan
mempercepat penyembuhan dan memperbaiki fungsi otot - otot.
Tidak perlu terkejut bila tidak merasakan apapun saat pertama kali
berlatih karena area tersebut akan kebal setelah persalinan dan
pulih secara bertahap dalam beberapa minggu. (Bahiyatun, 2009,
pp.77-78).
Menurut Martini, 2015 “Efektifitas Latihan Kegel Terhadap
Percepatan Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Nifas Di
Puskesmas Kalitengah Lamongan” bahwa latihan kegel dapat
dimanfaatkan sebagai salah satu bentuk latihan yang di anjurkan
bagi ibu nifas untuk mempercepat penyembuhan luka perineum
(Martini, 2015).
d. Istirahat dan tidur
Anjurkan ibu untuk :
1) Istirahat yang cukup untuk mengurangi kelelahan.
2) Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
3) Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan. Mengatur
kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan waktu untuk istirahat
pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam.
Kurang istirahat pada ibu nifas dapat berakibat:
1) Mengurangi jumlah ASI.
2) Memperlambat involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan.
3) Depresi.
(Suherni, 2009, pp.104-105).
e. Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami perubahan
fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang senggama,
dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan kepada keadaan normal
dan menjaga kesehatan agar tetap prima, senam nifas sangat baik
dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu tidak perlu takut untuk
banyak bergerak, karena dengan ambulasi secara dini dapat membantu
rahim untuk kembali kebentuk semula.
Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama
melahirkan setiap hari sampai hari yang kesepuluh, terdiri dari sederetan
gerakan tubuh yang dilakukan untuk mempercepat pemulihan ibu.
(Suherni, 2009, p.105). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh (Tianastia Rullyni and Evareny, 2014) yang berjudul “Pengaruh
Senam Nifas terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Post
Partum di RSUP DR. M. Djamil Padang” yang mengatakan bahwa salah
satu asuhan untuk memaksimalkan kontraksi uterus pada masa nifas
adalah dengan melaksanakan senam nifas, guna mempercepat proses
involusi uteri. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Andriyani, Nurlaila, 2013) yang berjudul “Pengaruh Senam Nifas
Terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada Ibu Post Partum” yang
mengatakan bahwa Senam nifas sangat penting dilakukan pada masa
nifas, karena dapat mempercepat proses involusi uteri dan pemulihan alat
kandungan pada ibu post partum sehingga di sarankan agar petugas
kesehatan dapat memberikan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan
kepada ibu-ibu nifas tentang manfaat senam nifas untuk mencegah
berbagai macam komplikasi pada masa nifas.
f. Seksualitas masa nifas
Kebutuhan seksual sering menjadi perhatian ibu dan keluarga.
Diskusikan hal ini sejak mulai hamil dan diulang pada postpartum
berdasarkan budaya dan kepercayaan ibu dan keluarga. Seksualitas ibu
dipengaruhi oleh derajat ruptur perineum dan penurunan hormon steroid
setelah persalinan. Keinginan seksual ibu menurun karena kadar hormon
rendah, adaptasi peran baru, keletihan (kurang istirahat dan tidur).
Penggunaan kontrasepsi (ovulasi terjadi pada kurang lebih 6 minggu)
diperlukan karena kembalinya masa subur yang tidak dapat diprediksi.
Menstruasi ibu terjadi pada kurang lebih 9 minggu pada ibu tidak
menyusui dan kurang Iebih 30 - 36 minggu atau 4 - 18 bulan pada ibu
yang menyusui.
Hal-hal yang mempengaruhi seksual pada masa nifas, yaitu:
1) Intensitas respons seksual berkurang karena perubahan faal tubuh.
Tubuh menjadi tidak atau belum sensitif seperti semula.
2) Rasa lelah akibat mengurus bayi mengalahkan minat untuk
bermesraan.
3) Bounding dengan bayi menguras semua cinta kasih, sehingga
waktu tidak tersisa untuk pasangan.
4) Kehadiran bayi di kamar yang sama membuat ibu secara psikologis
tidak nyaman berhubungan intim.
5) Pada minggu pertama setelah persalinan, hormon estrogen menurun
yang mempengaruhi sel - sel penyekresi cairan pelumas vagina
alamiah yang berkurang. Hal ini menimbulkan rasa sakit bila
berhubungan seksual. Untuk itu, diperlukan pelumas atau rubrikan.
6) Ibu mengalami let down ASI, sehingga respons terhadap orgasme
yang dirasakan sebagai rangsangan seksual pada saat menyusui.
Respons fisiologis ini dapat menekan ibu, kecuali mereka
memahami bahwa hal tersebut adalah normal.
g. Keluarga Berencana
Keluarga berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai
kesejahteraan dengan jalan memberi nasihat perkawinan, pengobatan
kemandulan, dan penjarangan kehamilan. KB merupakan salah satu
usaha membantu 26 keluarga / individu merencanakan kehidupan
berkeluarganya dengan baik, sehingga dapat mencapai keluarga
berkualitas.
Manfaat keluarga berencana (KB) :
1) Untuk Ibu
a) Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya
kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu
pendek.
b) Adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak, untuk
istirahat, dan menikmati waktu luang, serta melakukan kegiatan
- kegiatan lain.
2) Untuk anak yang dilahirkan
a) Dapat tumbuh secara wajar karena ibu yang mengandungnya
berada dalam keadaan sehat.
b) Sesudah lahir anak tersebut akan memperoleh perhatian,
pemeliharaan, dan makanan yang cukup. Hal ini disebabkan
oleh kehadiran anak tersebut yang memang diinginkan dan
diharapkan.
3) Untuk anak yang lain
a) Memberi kesempatan perkembangan fisiknya lebih baik karena
memperoleh makanan yang cukup dan sumber yang tersedia
dalam keluarga.
b) Perkembangan mental dan sosial lebih sempurna karena
pemeliharaan yang lebih baik dan lebih banyak waktu yang
diberikan oleh ibu untuk anak.
c) Perencanaan kesempatan pendidikan yang lebih baik karena
sumber pendapatan keluarga tidak habis untuk mempertahankan
hidup semata - mata.
4) Untuk ayah
a) Memperbaiki kesehatan fisiknya
b) Memperbaiki kesehatan mental dan sosial karena kecemasan
berkurang serta lebih banyak waktu luang untuk keluarganya.
Evaluasi yang perlu dilakukan bidan dalam memberi asuhan
kepada ibu nifas dan rencana ber-KB, antara lain :
1) Ibu mengetahui pengertian KB dan manfaatnya.
2) Ibu dapat menyebutkan macam - macam metode kontrasepsi
untuk ibu menyusui.
3) Ibu dapat menyebutkan beberapa keuntungan pemakaian alat
kontrasepsi.
4) Ibu dapat memilih / menentukan metode kontrasepsi yang
dirasa cocok bagi dirinya.
h. Eliminasi : BAB dan BAK
1) Buang air kecil (BAK)
a) Dalam 6 jam ibu sudah harus bisa BAK spontan,
kebanyakan ibu dapat berkemih spontan dalam waktu 8 jam.
b) Urin dalam jumlah yang banyak akan diproduksi dalam
waktu 12-36 jam setelah melahirkan.
c) Ureter yang berdilatasi akan kembali dalam waktu 6
minggu.
2) Buang air besar (BAB)
a) BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena enema
persalinan, diit cairan, obat-obatan analgetik, dan perineum
yang sangat sakit.
b) Bila lebih dari 3 hari belum BAB bisa diberikan obat
laksantia.
c) Ambulasi secara dini dan teratur akan membantu dalam
regulasi BAB. 37
d) Asupan cairan yang adekuat dan diit tinggi serat sangat
dianjurkan.
(Suherni, 2009, p.117)
i. Pemberian ASI/ Laktasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan kepada pasien:
1) Menyusui bayinya setelah lahir minimal 30 menit bayi telah
disusukan.
2) Ajarkan cara menyusui yang benar.
3) Memberikan ASI secara penuh 6 bulan tanpa makanan lain.
4) Menyusui tanpa dijadwal, sesuka bayi.
5) Diluar menyusui jangan memberikan dot/kempeng pada bayi,
tapi berikan ASI dengan sendok.
6) Penyapihan bertahap meningkatkan frekuensi makanan dan
menurunkan frekuensi pemberian ASI. (Suherni, 2009, pp.117-
118)
j. Kebiasaan yang Tidak Bermanfaat bahkan Membahayakan
1) Menghindari makanan berprotein seperti telur, ikan karena
menyusui membutuhkan tambahan protein
2) Penggunaan beban perut setelah melahirkan.
3) Penggunaan kantong es atau pasir untuk menjaga uterus tetap
berkontraksi.
4) Misahkan ibu dan bayi dalam waktu yang dalam satu jam
postpartum. (Suherni, 2009, p.118)
6. Perawatan Ibu pada Masa Nifas
Perawatan pasca melahirkan (masa nifas) merupakan perawatan selama
enam minggu atau 40 hari. Pada masa ini, ibu mengalami perubahan fisik dan
alat-alat reproduksi yang kembali ke keadaan sebelum hamil, masa laktasi
(menyusui), maupun perubahan psikologis menghadapi keluarga baru.
Perawatan pasca melahirkan dapat dilakukan sendiri dan sesegera mungkin.
(Anggraeni, 2010)
Beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dalam perawatan pasca
melahirkan antara lain:
a. Payudara
Perawatan payudara yang dapat dilakukan semasa nifas adalah dengan
menggunakan Bra yang tidak menekan payudara atau sempit dan breast
care. Tujuan dari perawatan payudara adalah untuk melancarkan
pengeluaran ASI sehingga tidak terjadi pembengkakan payudara, apabila
pembengkakan terjadi, pijat ringan bagian payudara yang menggumpal
dengan menggunakan air hangat dan baby oil. Kemudian sesegera
mungkin menyusui bayi. Pembengkakan yang berkelanjutan dapat
menimbulkan demam pada ibu. Bila hal ini terjadi, lakukan pengeluaran
ASI baik dengan cara menyusui maupun dipompa keluar (Ambarwati dan
Wulandari, 2010)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Mutika, 2018) dengan
judul “Efek breast care ibu nifas terhadap berat badan bayi dan hormon
prolaktin” mengatakan bahwa Teknik produksi ASI melalui perawatan
breast care bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah
saluran produksi ASI tersumbat. Perawatan payudara sebaiknya
dilakukan saat kehamilan. Perawatan yang benar memperlancar ASI dan
merangsang hipofisis agar mengeluarkan hormon progesteron, estrogen,
oksitosin lebih banyak. Hormon oksitosin memicu kontraksi sel-sel lain
sekitar alveoli sehingga air susu mengalir turun . Penelitian ini bertujuan
untuk menilai efektivitas breast care pada ibu nifas terhadap berat bayi
lahir dan hormon prolaktin.
Selain itu perawatan payudara dapat menghindari bendungan ASI
seperti penelitian yang dilakukan oleh (Rosita, 2017) yang berjudul
“Hubungan Perawatan Payudara Pada Ibu Nifas Dengan Bendungan Asi
” menyatakan bahwa ibu nifas yang melakukan perawatan payudara
selama menyusui berdampak baik selama menyusui yaitu tidak terjadinya
bendungan ASI. Hal ini dikarenakan gerakan pada perawatan payudara
akan melancarkan reflek pengeluaran ASI, serta dapat mencegah dan
mendeteksi dini kemungkinan adanya bendungan ASI dapat berjalan
lancar.
b. Rahim.
Involusi uterus dapat diketahui dengan meraba bagian bulat agak
keras di bawah pusat. Pada hari ke-10 sampai 14, rahim tidak teraba lagi.
Involusi uterus dibantu oleh oksitosin, yaitu hormon yang
mengontraksikan otot-otot rahim yang keluar saat menyusui. Involusi
uterus ini terjadi karena lancarnya pengeluaran cairan vagina (lochea).
Involusi uterus yang tidak normal terjadi akibat infeksi lapisan rahim
yang rentan infeksi akibat lepasnya plasenta dan kurang mobilisasi.
Tanda-tandanya antara lain sedikit demam, agak sakit pada perut bagian
bawah, dan kadang vagina berbau kurang sedap karena keluarnya lochea
tidak lancar.
c. Aktivitas
Aktivitas sangat bervariasi, tergantung pada komplikasi persalinan,
nifas dan sembuhnya luka (jika ada). Jika tidak ada kelainan, lakukan
mobilisasi sedini mungkin, 2 jam setelah persalinan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan (Widia, Lidia, 2017) terdapat
hubungan yang sangat erat dengan Hubungan Antara Mobilisasi Dini
dengan Proses Penyembuhan Luka Ruptur Perineum pada fase proliferasi
di RSIA Paradise Simpang Empat Kabupaten Tanah bumbu.
d. Eliminasi.
Buang air kecil (BAK) akan meningkat pada 2-4 hari setelah
persalinan. Ini terjadi karena volume darah ekstra yang dibutuhkan
selama hamil tidak diperlukan lagi. Sebaiknya ibu tidak menahan BAK
ketika ada rasa sakit pada jahitan. Sulit buang air besar (BAB) dapat
terjadi karena ketakutan yang berlebihan akan jahitan terbuka, atau wasir.
Untuk itu, konsumsi makanan tinggi serat, dan cukup minum.
e. Hubungan seksual.
Pada banyak pasangan, perubahan karena kehamilan dapat
mengganggu keseimbangan dalam hubungan seksual, begitu juga setelah
persalinan. Beberapa agama melarang untuk melakukan hubungan
seksual selama masa nifas. Setelah itu, pada prinsipnya adalah tidak
bermasalah. Hanya saja, terkadang istri kurang percaya diri untuk
melakukan hal tersebut. Untuk itu diperlukan pengertian dan pemahaman
suami atas kondisi psikologi istri. (Ambarwati dan Wulandari, 2010).
f. Perawatan luka perineum
Jalan lahir memiliki batas maksimal keelastisannya, jika besar bayi
melebihi batas elastisitas kemungkinan besar akan terjadi robekan
perineum (rupture perineum), tetapi sebelum terjadi rupture perineum
bidan seharusnya sudah melakukan episiotomi pada perineum. Perineum
yang rupture tentunya akan dijahit dan membutuhkan proses
penyembuhan. Proses penyembuhan itu membutuhkan perawatan yang
benar. Menurut APN (2010) perawatan luka yang disarankan adalah
bersih kering.
Berdasarkan penelitian (Hidayah, 2017) yang berjudul Hubungan
Antara Vulva Hygiene Dengan Lama Penyembuhan Luka Perineum Di
BPS Ny S Desa Grobog Wetan Kecamatan Pangkah Kabupaten Tegal
Tahun 2015 yang hasilnya menunjukan bahwa ada Hubungan antara vuva
hygiene pada ibu post partum dengan tingkat penyembuhan luka
perineum Di BPS Ny S Desa Grobog Wetan Kecamatan Pangkah
Kabupaten Tegal Tahun 2015 dengan responden yang melakukan vuva
hygiene dengan teratur sebagian besar mengalami tingkat penyembuhan
luka perineum dengan kategori cepat. Selain itu hal ini juga sejalan
dengan penelitian (Tulas, 2017) yaitu ada hubungan antara perawatan
luka perineum dengan perilaku personal hygiene ibu post partum di
Rumah sakit Pancaran Kasih GMIM Manado. Dengan demikian
penelitian ini dapat dijadikan bahan motivasi kepada ibu post partum
untuk bisa lebih meningkatkan perawatan luka perineum untuk bisa
mempercepat proses dari penyembuhan luka perineum. Selain itu,
menurut (Supiati, 2015) yang berjudul “Upaya Mempercepat
Penyembuhan Luka Perineum Melalui Penggunaan Air Rebusan Sirih
Hijau”, yaitu penggunaan sirih hijau dapat mempercepat penyembuhan
luka perimium pada ibu post partum.
7. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Arti ‘inisiasi menyusu dini (Early initiation) adalah permulaan kegiatan
menyusu dalam satu jam pertama setelah bayi lahir. Inisiasi dini juga bisa
diartikan sebagai cara bayi menyusu satu jam pertama setelah lahir dengan
usaha sendiri dengan kata lain menyusu bukan disusui. Cara bayi melakukan
inisiasi menyusu dini ini dinamakan The Breast Crawl atau merangkak
mencari payudara (Roesli Utami, 2008).
Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah perilaku pencarian puting payudara
ibu sesaat setelah bayi lahir (Prasetyono, 2009). Dari hasil penelitian Cynthia
Puspariny, Triani Yuliastanti, Anggun Suhastina dengan judul Korelasi
pemberian ASI Eksklusif dengan tingkat IQ pada anak Prasekolah di TK
Aisyah Kecamatan Pringsewu Kabupaten Pringsewu Tahun 2014. Mendapat
hasil bahwa anak prasekolah yang mendapatkan ASI Eksklusif memiliki
tinggkat IQ di atas rata-rata sebesar 21(61,8%). Dan suksesnya ASI eklusif
dimulai dari IMD.
a. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini
1) Mencegah hipotermia karena dada ibu menghangatkan bayi dengan
tepat selama bayi merangkak mencari payudara.
2) Bayi dan ibu menjadi lebih tenang, tidak stres, pernapasan dan detak
jantung lebih stabil, dikarenakan oleh kontak antara kulit ibu dan bayi.
3) Mengecap dan menjilati permukaan kulit ibu sebelum mulai mengisap
puting adalah cara alami bayi mengumpulkan bakteri-bakteri baik
yang ia perlukan untuk membangun sistem kekebalan tubuhnya.
4) Mempererat hubungan ikatan ibu dan anak (Bonding Atthacment)
karena 1 – 2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu,
biasanya bayi tidur dalam waktu yang lama.Makanan non-ASI
mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari susu manusia,
misalnya dari susu hewan. Hal ini dapat mengganggu pertumbuhsn
fungsi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.Bayi yang diberi
kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusui ekslusif dan akan
lebih lama disusui.Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan
bayi diputing susu dan sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting
ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin.
5) Bayi mendapatkan ASI kolostrum-ASI yang pertama kali keluar.
Cairan emas ini kadang juga dinamakan the gift of life. Bayi yang
diberi kesempatan inisiasi menyusu dini lebih dulu mendapatkan
kolostrum daripada yang tidak diberi kesempatan. Kolostrum, ASI
istimewa yang kaya akan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan
terhadap infeksi , penting untuk pertumbuhan usus, bahkan
kelangsungan hidup bayi,. Kolostrum akan membuat lapisan yang
melindungi dinding usus bayi yang masih belum matang sekaligus
mematangkan dinding usus ini.
6) Ibu dan ayah akan sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk
pertama kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapat
kesempatan mengazankan anaknya di dada ibunya. Suatu pengalaman
batin bagi ketiganya yang amat indah. (Roesli Utami, 2008:13-14).
7) Meningkatkan angka keselamatan hidup bayi di usia 28 hari pertama
kehidupannya (Ghana, 2004).
8) Perkembangan psikomotorik lebih cepat.
9) Menunjang perkembangan koknitif
10) Mencegah perdarahan pada ibu
11) Mengurangi risiko terkena kanker payudara dan ovarium. (Dewi
Cendika & Indarwati, 2010)
8. Deteksi Dini Komplikasi Masa Nifas
Menurut (Runjati, dkk, 2017) deteksi dini komplikasi masa nifas meliputi :
1) Perdarahan pasca persalinan
Perdarahan pasca salin atau perdarahan post partum adalah perdarahan
yang terjadi setelah bayi lahir dengan jumlah perdarahan 250 ml atau
jumlah perdarahan yang melebiii dari normal berpotensi mempengaruhi
perubahan tanda-tanda vital (sistolik < 90 mmHg, nadi > 100 denyut
/menit), pasien lemah, kesadaran menurun, berkeringat dingin, menggil,
hiperkapnia dan kadar Hb < 8 gr%. Perdarahan post partum dibagi 2 yaitu
perdarahan primer yang terjadi dalam 24 jam post partum dan perdarahan
sekunder yang terjadi setelah 24 jam post partum (saifuddin, 2009).
2) Infeksi masa nifas
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genetalia yang terjadi
setelah persalinan ditandai dengan adanya kenaikan suhu sampai 38°C
atau lebih yang terjadi antara hari kedua sampai hari kesepuluh post
partum, suhu diukur peroral sedikitnya 4x sehari (Saifuddin, 2009).
3) Keadaan abnormal pada payudara
Pada masa nifas dpat terjadi keadaan abnormal pada payudara oleh karena
beberapa sebab yaitu : puting susu lecet atau luka, payudara bengkak atau
puting susu datar atau terbenam.
4) Eklampsia dan preeklampsia
Eklampsia merupaka keadaan serangan kejang tiba-tiba pada wanita hamil,
bersalin, atau masa nifas yang telah menunjukkan gejala preeklampsi
sebelumnya. Eklampsia dibedakan menjadi 3 berdasarkan timbulnya
serangan yaitu eklampsia gravidarum (antepartum), eklampsia
partuirentum (intrapartum), eklampsia purperale (post partum). Eklampsia
post partum adalah serangan kejang tiba-tiba pada post partum. Lima
puluh persen sernagan ini terjadi pada hari kedua post partum dan dpat
tmbul setelah 6 minggu post partum.
5) Disfungsi simfisis pubis atau disfungsi otot panggul
Disfungsi simfisis pubis otot dasar panggul adalah kelainan yang
mengenai dasar panggu mulai dari simfisis ossis pubis menuju ke os
coccygeus yang merupakan jaringan kompleks yang terdiri dari jaringan
ikat dan jaringan otot. Kehamilan dan persalinan menyebabkan ototo dasar
panggul melemah atau rusak sehingga menurunkan otot dasar panggul
(barber, 2002).
6) Diastasis rekti diastasis rectus abdominal
Diastasis rekti diastasis rectus abdominal adalah pemisahan otot rectus
abdominalis lebih dari 2,5 cm pada tepat setinggi umbilikus sebagai akibat
pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenganggan mekanis
dinding abdomen. Kasus ini sering terjad pada muli-paritas, babyi besar,
polihidramnion, kelemahan otot abnomen dan postur yang salah.
7) Nyeri perineum
Setiap ibu yang telah menjalani proses persalinan denga mendapatkan luka
perineum akan merasakan nyeri. Nyeri yang dirasakan setiap ibu dengan
luka perineum menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan seperti
kesakitan dan rasa takut untuk bergerak sehingga banyak ibu dengan luka
perineum jarang mau bergerak setelah pasca bersalin sehingga dapat
menyebabkan banyak maslah seperti subinvolusi uteru, pengeluaran lochea
yang tidak lancar, perdarahan pascapartum.
Timbulnya nyeri berkaitan erat dengan reseptoor dan adanya rangsangan,
reseptor nyeri yang dimaksud adalah nociceptor. Reseptor nyeri dpat
memberi respon akibat adanay rangsangan. Rangsangan tersebut dapat
berupa kimiawi, termal atau mekanis. Stimulasi oleh zat kimia misalnya
histamin dan prostagladin atau stiimilasi yang dilepaskan apabila terdpat
kesurakan pada jaringan.
Nyari akibat luka perimeun yang dirasakan oleh setiap ibu nifas berbeda
apalgi dalam 2 jam post partum, itu merupakan beban yang dialami oleh
ibu. Oleh sebab itu sebagai tenaga kesehatan kita dapat membedakan atau
mengklarifikasi tiap nyeri yang dirasakan oleh ibu sehingga mempermudah
dalam meberikan asuhan yang tepat pada ibu nifas (potter, 2005).
Penangana nyeri perinineum dapat dilakukan secara farmakologi maupun
non-farmakologi (Olivierra sonia, 2012). Penanganan nyeri secara
farmakologi yaitu dengan memberika analgesik oral (paracetamol 500 mg
diberikan setiap 4 jam atau jika perluh)
8) Inkontinensia urine
Inkontinesia urine oleh international continence society (ICS) didefinisikan
sebagai keluarnya urine yang tidak dapat dikendalikan atau
dikontrol,secara objektif dapat diperhatikan dan merupkan suatu masalah
sosial atau higienis.
9) Nyeri punggung
Nyeri punggung (varney, 2004; Agustina, 2014) merupaka gejala post
partum jangka panjang yang sering terjadi. Hal ini disebabkan karena
adanya ketengangan postural pada sistem muskuloskeletala kibat posisi
pada saat persalinan. (Runjati, 2017)
9. Kebijakan program nasional masa nifas
Menurut (kemenkes RI, 2013) kebijakan program nasional masa nifas adalah
sebagai berikut :
1) Kunjungan 1 (6-8 jam post partum)
a) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan; rujuk jika
perdarahan berlanjut
c) Pemberian ASI awal
d) Mengajarkan cara mempererat hibungan anatara ibu dan bayi yang
baru lahir.
e) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hypotermia
f) Jika petugas kesehatan menolong persalinan ia harus tinggal dengan
ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama setelah
melahirkan atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.
2) Kinjungan II (6 Hari setelah persalinan)
a) Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi,
fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal.
b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnormal
c) Memastikan ibu mendapatkan istrihata yang cukup
d) Memastika ibu mendapatkan cukup makanan bergizi daan cukup
cairan.
e) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar, serta tidak ada
ada tanda-tanda kesulitan menyusui. Ibu perluh diberikan
pendidikan kesehatan tentang cara menyusu yang baik dan benar.
Menurut (Angkuso, Supadmi dan Sumiyarsi, 2009) semakin
tinggi tingkat pengetahuan tentag cara menyusui maka semakin
baik perilaku menyusui bayinya. Untuk memperlancar ASI, ibu
dapat diberi tindakan pijat oksitosin. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh (Isnaini, Nurul dan Diyanti, Rama. 2015) dengan
judul “hubungan pijat oksitosin pada ibu nifas terhadap
pengeluaran ASI di wilayah Puskesmas Raja Basa Indah Bandar
Lampung tahun 2015” yang menyatakan bahwa ada hubungan
pijat oksitosin terhadap pengluaran ASI pada ibu post partum di
wilayah kerja puskesmas rajabasa indah bandar lampung dengan
nilai uji statistic melalui chi square dengan nilai p <0.05. Dimana
pijat oksitosin adalah pemijatan tulang belakang pada costa
(tulang rusuk) ke 5-6 sampai ke scapula (tulang belikat) yang
akan mempercepat kerja saraf parasimpatis, saraf yang
berpangkal pada medulla oblongata dan pada daerah daerah
sacrum dari medulla spinalis, merangsang hipofise posterior
untuk mengeluarkan oksitosin, oksitosin menstimulasi kontraksi
sel-sel otot polos yang melingkari duktus laktiferus kelenjar
mamae menyebabkan kontraktilitas mioepitel payudara sehingga
dapat meningkatkan pemancaran ASI dari kelenjar mammae.
Selain itu pijat oksitosin berfungsi untuk memberikan
kenyamanan pada ibu nifas, mengurangi bengkak pada payudara
dan mengurangi sumbatan ASI. (Isnaini and Diyanti, 2015)
f) Memberika konseling tentang perawatan bayi baru lahir
3) Kunjungan III (2 minggu setelah persalinan)
Kunjungan III sama seperti pada unjgan II.
4) Kunjungan IV (6 minggu setelah persalinan)
a) Menanyaka pada ibu tentang kesulitan-kesulitan yang dialami ibu
selama masa nifas.
b) Memberikan konseling KB secara dini
Sedangkan menurut (Runjati, dkk, 2017) pelayanan kesehatan pada nifas
dilakukan minimal 3 kali :
1) Kunjungan I
Kunjungan I yaitu satu kali pada periode 6 jam sampai 3 hari pasca
persalinan.
2) Kunjungan II
Kunjungan II yaitu satu kali pada peiode 4 hari sampai dengan 28 hari pasca
persalinan.
3) Kunjungan III
Kunjungan III yaitu satu kali pada periode 29 hari sampai dengan 42 hari
pasca persalinan.
B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan
1. Nifas 6 Jam
a. Data Subjektif
1) Keluhan Utama
Pada masa nifas, ibu dapat mengeluh mulas pada perut bagian
bawah. Rasa mulas disebabkan oleh kontraksi dan relaksasi uterus
yang terus menerus (After Birth Pains) (Handayani dan Pujiastuti,
2016; h. 72). Kontraksi ini menekan pembuluh darah yang
mengakibatkan suplai darah ke uterus berkurang, sehingga terjadi
iskemia pada miometrium yang menyebabkan uterus mengalami
pengerutan (Marmi, 2015; h. 85).
2) Riwayat Persalinan
Menurut Marmi (2015; h. 180) riwayat persalinan dikaji untuk
mengetahui jenis persalinan, pada ibu nifas normal klien melahirkan
normal, ada komplikasi atau tidak dalam persalinan, plasenta lahir
spontan atau tidak, tali pusat normal atau tidak, perineum ada robekan
atau tidak, perdarahan untuk mengetahui jumlah perdarahan, serta
proses persalinan yang dikaji adalah tanggal lahir, BB, PB, apgar
score, cacat bawaandan air ketuban.
3) Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
a) Nutrisi
Konsumsi kalori pada ibu nifas 6 bulan pertama adalah
2900 kalori dan 60mg protein. Marmi (2015; h. 135-6),
Handayani dan Pujiastuti (2016; h.63-4) menyatakan ibu yang
menyusui membutuhkan konsumsi 60-70% karbohidrat, 10-20%
protein, 20-30% lemak, 85mg vitamin C, 850mg vitamin A,
200mg iodium, 29 mg serat, dan minum sedikitnya 3 liter setiap
hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui). Sementara
itu, pil zat besi diminum untuk menambah zat gizi setidaknya
selama 40 hari pasca bersalin, dan minum vitamin A (200.000
unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui
ASInya. Vitamin A dikonsumsi kapsul pertama pada 24 jam
pertama dan kapsul kedua setelah 24 jam dan maksimal 6 minggu
pascapersalinan (Sandjaja dan Ridwan, 2010). Pemberian kapsul
pertama diharapkan dapat mencukupi kebutuhan selama 60 hari
dan kapsul kedua untuk 6 bulan (Akbarani dan Hidayati, 2015).
b) Eliminasi
(1) BAB
Pengeluaran cairan lebih banyak terjadi pada waktu persalinan
sehingga dapat mempengaruhi terjadinya konstipasi, bila
penderita tidak BAB sampai 2 hari sesudah persalinan, akan
diber gliserin/obat-obatan (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 73).
Marmi (2015; h. 148) menyatakan bahwa ibu diharapkan dapat
BAB 3-4 hari postpartum. Konstipasi dapat terjadi dalam
beberapa hari pertama karena efek hormon progesteron yang
menyebabkan relaksasi dinding abdomen, sehingga
meningkatkan risiko konstipasi dan dinding abdomen menjadi
tegang karena berisi gas. Ibu akan menghindari rasa nyeri
karena luka perinium dengan menahan BAB (Handayani dan
Pujiastuti, 2016; h. 11-2).
(2) BAK
Kesulitan BAK dapat terjadi, namun dalam 6 jam pertama post
partum pasien harus dapat buang air kecil. Hal tersebut
dikarenakan selama hamil ibu mengalami peningkatan
kapasitas kandung kemih dan penurunan tonus otot. Selama
persalinan uretra, kandung kemih, dan jaringan di sekitar uretra
menjadi edema dan mengalami trauma karena penekanan
kepala janin, sehingga hal tersebut menyebabkan sensifitas
terhadap cairan menurun walaupun kandung kemih sudah
penuh. Retensio urin dan over distensi kandung kemih dapat
mengakibatkan bakteri berkembang biak, serta jika kandung
kemih penuh akan menghambat kontraksi uterus dan
menyebabkan perdarahan masa nifas (Marmi, 2015; h. 148,
Sulistyawati, 2015; h. 101, Rukiyah, 2010; h. 100, dan
Handayani dan Pujiastuti, 2016; h. 12).
c) Istirahat dan Tidur
Menurut Sulistyawati (2015; h. 103), ibu postpartum
membutuhkan istirahat yang berkualitas untuk memulihkan
kembali keadaan fisiknya. Kurang istirahat dapat mengakibatkan
mengurangi jumlah produksi ASI, memperlambat proses involusi,
memperbanyak perdarahan, dan menyebabkan depresi, serta
ketidaknyamanan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
Marmi (2015; h. 145) menyatakan kesulitan tidur dapat
terjadi karena rasa tidak nyaman di kandung kemih dan perinium,
serta gangguan bayi. Oksitosin adalah hormon yang berperan
penting untuk memacu kontraksi otot polos di sekitar duktus dan
sinus untuk memeras ASI menuju ke puting (Marmi, 2015; h. 21).
d) Personal Hygiene
Ibu nifas sebaiknya diajarkan membersihkan kelamin dengan
membilas daerah kelamin dari depan ke belakang, mengganti
pembalut setiap kali darah penuh atau minimal 2 kali sehari,
mencuci tangan setiap sebelum dan selesai membersihkan
kemaluan, dan memberitahu jika mempunyai luka episiotomy
hindari untuk menyentuh daerah luka (Sulistyawati, 2015; h. 102,
Handayani dan Pujiastuti 2016; h. 67).
e) Hubungan Seksual
Ibu dapat melakukan hubungan seksual setelah darah berhenti
keluar dan ibu tidak merasa nyeri bila satu atau dua jari
dimasukkan ke dalam vagina. Ibu juga harus mengingat bahwa
ovulasi dapat terjadi setiap saat, sehingga dibutuhkan
perlindungan dari alat kontrasepsi sebelum ibu melakukan
hubungan seksual agar tidak terjadi kehamilan dalam waktu yang
terlalu dekat (Handayani dan Pujiastuti, 2016; h. 65-6).
f) Aktivitas
Maritalia (2012; h. 48-9) menjelaskan bahwa mobilisasi
hendaknya dilakukan secara bertahap. Mobilisasi yang dilakukan
terlalu cepat dapat menyebabkan ibu terjatuh, sebaliknya
mobilisasi yang terlambat juga bisa menyebabkan gangguan
fungsi organ tubuh, aliran darah tersumbat, dan terganggunya
fungsi otot.
Ambulasi akan memulihkan kekuatan otot dan panggul,
memperlancar aliran lochea dan urin, ambulasi dilakukan
maksimal 6 jam postpartum untuk mengurangi oedem pada luka
jahitan perinium. Senam kegel dapat membantu penyembuhan
luka pada daerah perinium karena sirkulasi darah meningkat
(Handayani dan Pujiastuti, 2016; h. 66, 75).
4) Adat istiadat
Sulistyawati (2015; h. 121 dan 2009; h. 174) menjelaskan adat pada masa
nifas, misalnya ibu nifas harus pantang makan yang berasal dari daging,
ikan, telur dan goreng- gorengan karena dipercaya akan menghambat
penyembuhan luka persalinan dan makanan ini akan membuat ASI
menjadi amis. Adat ini akan membuat pemulihan kesehatan ibu terhambat
dan produksi ASI berkurang (karena volume ASI dipengaruhi oleh
kualitas dan kuantitas nutrisi).
5) Data Psikososial Spiritual
Menurut Maritalia (2012; h. 31) perubahan peran dari wanita menjadi
seorang ibu memerlukan adaptasi sehingga ibu dapat melakukan perannya
dengan baik, serta perubahan hormonal yang sangat cepat setelah proses
melahirkan juga dapat mempengaruhi keadaan emosi dan proses adaptasi
ibu pada masa nifas. Marmi (2015; h. 109) menambahkan bahwa
perhatian ibu pada fase ini yaitu fase taking in, perhatian ibu terhadap
kebutuhan dirinya berlangsung 1-2 hari. Dalam fase ini yang diperlukan
ibu adalah informasi tentang bayinya, bukan cara merawat bayi.
6) Data Pengetahuan
Dikaji untuk mengetahui tentang keadaanya dan perjalanan
perawatannya. Hal ini dimaksudkan agar pasien dapat kooperatif dalam
menjalankan program perawatan (Sulistyawati, 2015; h. 121).
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan Fisik
(a) Keadaan Umum
Menurut Sulistyawati (2009; h. 174-5), keadaan umum pasien normal
adalah baik.
(b) Kesadaran
Menurut Sulistyawati (2009; h. 175), kesadaran pasien normalnya
komposmentis (kesadaran maksimal).
(c) Tekanan Darah
Marmi (2015; h. 104) menyatakan bahwa tekanan darah normal adalah
sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Handayani
dan Pujiastuti (2016; h. 20) menyatakan bahwa tekanan darah tinggi
pada masa nifas merupakan tanda pre eklampsia postpartum.
(d) Nadi
Sulistyawati (2015; h. 81) menyebutkan pasca melahirkan denyut nadi
dapat menjadi lebih cepat namun tidak melebihi 100x/menit.
Handayani dan Pujiastuti (2016; h. 20) mengungkapkan bahwa nadi
melebihi 100x/menit harus diwaspadai adanya infeksi atau perdarahan
postpartum.
(e) Suhu
Marmi (2015; h. 104) menyebutkan pasca melahirkan, suhu tubuh
dapat naik kurang lebih 0,5˚C dari keadaan normal akibat kerja keras
sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Handayani
dan Pujiastuti (2016; h. 19-20) menyebutkan apabila suhu lebih dari
380C, waspada terhadap infeksi postpartum.
(f) Pernapasan
Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16 -
24 kali per menit. Pada ibu post partum umumnya pernafasan lambat
atau normal, hal ini dikarenakan ibu dalam proses pemulihan atau
dalam kondisi istirahat (Marmi, 2015; h. 104).
Bila pernapasan pada masa postpartum menjadi lebih cepat,
kemungkinan ada tanda-tanda syok dan embolus paru (Handayani dan
Pujiastuti, 2016; h. 20).
(g) Berat badan
Pada masa nifas akan terjadi pengurangan berat badan ibu dan janin,
plasenta, cairan ketuban, kehilangan darah, selama persalinan sekitar
4,5-5,8 kg. Setelah proses diuresis, ibu akan kehilangan berat badan
2,3-2,6 kg dan 0,9-1,4 kg karena proses involusi uteri (Blackburn,
2007 dalam Handayani dan Pujiastuti, 2016; h. 19).
2) Status Present
a) Perut
Menurut Marmi (2015; h. 181) perlu dikaji bekas luka operasi (apakah
pernah SC atau operasi lain), konsistensi keras atau ada benjolan atau
tidak, dan pembesaran liver ada atau tidak.
b) Genetalia
Sulistyawati (2015; h. 124) menyatakan kebersihan, pengeluaran
vagina, keadaan luka jahitan jika ada perlu dikaji.
3) Status Obstetri
a) Mamae
Normalnya bentuk simetris, puting susu menonjol, dan ada/tidak ada
pengeluaran colostrum (Marmi, 2015; h. 181). Menurut Varney (2008;
h. 960) pengkajian payudara pada awal pascapartum meliputi
penampilan dan integritas puting susu, memar atau iritasi, adanya
kolostrum, adanya sumbatan ductus.
b) Abdomen
Marmi (2015; h. 182) menyatakan perlu dikaji uterus untuk
mengetahui TFU, bagaimana kontraksi uterus, konsistensi uterus,
posisi uterus. Pada ibu nifas normal 6 jam TFU 2 jari di bawah pusat
kontraksinya baik, konsistensi keras dan posisi uterus di tengah.
c) Vulva
Menurut Marmi (2015; h. 90) pengeluaran pervaginam pada hari 1-3
pasca persalinan keluar lochea rubra yang berkarakteristik berwarna
merah kehitaman terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut
lanugo, sisa mekonium dan sisa darah. Pengeluaran pervaginam pada
hari ke 3-7 pasca persalinan mengeluarkan lochea sanguilenta
berwarna putih bercampur merah yang mengandung sisa darah
bercampur lender. Pada hari ke 7-14 lokhea serosa berwarna kuning
atau coklat yang mengandung lebih sedikit darah dan lebih banyak
serum juga terdiri dari leokosit dan robekan laserasi plasenta. Pada
hari lebih dari 14 hari mengeluarkan lokhea alba berwarna putih
mengandung leokosit, selaput lender servik, dan serabut jaringan yang
mati.
c. Analisa
1) Diagnosa Kebidanan
Ny.T, usia 20-35 tahun, P≤4A0, masa nifas 6 jam.
2) Masalah: kesulitan BAK.
3) Diagnosa Potensial: tidak ada.
4) Antisipasi Tindakan Segera: tidak ada
d. Penatalaksanaan
Tanggal:……….. Jam:……………..
1) Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan untuk memulihkan
tenaganya.
2) Menjelaskan pada ibu akibat kurang istirahat akan mengurangi produksi
ASI dan memperbanyak perdarahan yang dapat menyebabkan depresi dan
ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
3) Menganjurkan ibu untuk mobilisasi bertahap.
4) Memberikan penjelasan tentang manfaat ASI yang mengandung bahan
yang diperlukan oleh bayi, mudah dicerna, memberikan perlindungan
terhadap infeksi, selalu segar, bersih, siap minum dan hemat biaya.
5) Memberikan konseling tentang perawatan payudara yaitu menjaga
payudara tetap bersih dan kering terutama puting susu, menggunakan BH
yang menyokong payudara, apabila puting susu lecet oleskan colostrum
atau ASI yang di sekitar puting setiap selesai menyusui.
6) Memberitahu ibu untuk makan yang banyak dan bergizi meliputi:
a) Karbohidrat untuk pembakaran tubuh dan pembentukan jaringan baru
yang dapat diperoleh dari beras, sagu, jagung, ubi.
b) Lemak untuk pembakaran tubuh dan pembentukan jaringan baru yang
dapat diperoleh dari mentega, keju, minyak kelapa, minyak sayur.
c) Protein untuk pertumbuhan dan untuk mengganti sel yang rusak,
diperoleh dari ikan, udang, kerang, ayam, hati, telur, susu, keju, kacang-
kacangan tahu, tempe.
d) Zat besi untuk meningkatkan sirkulasi darah dan sel, serta menambah
sel darah merah agar sirkulasi oksigen baik. Zat besi diperoleh dari
kuning telur, hati, keju, daging, kerang, ikan, sayuran hijau, kacang-
kacangan.
e) Iodium untuk mencegah kelemahan mental dan kekerdilan, diperoleh
dari garam beryodium, ikan laut, minyak ikan.
f) Vitamin A untuk pertumbuhan sel, jaringan, gigi, tulang, perkembangan
syaraf, dan daya tahan tubuh. Vitamin A diperoleh dari hati, kuning
telur, sayuran hijau, buah berwarna kuning, suplemen vitamin A.
g) Vitamin C untuk pembentukan jaringan ikat, pertumbuhan tulang, gigi,
dan gusi, daya tahan tubuh, menguatkan pembuluh darah. Vitamin C
diperoleh dari sayuran hijau dan buah berwarna kuning.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 98-102).
7) Memberikan ibu terapi tablet tambah darah, pencegahan perdarahan dan
lancar ASI.
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia. Anemia saat kehamilan
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya anemia pada masa
nifas dari pascapersalinan hingga minggu ke 6 (WHO, 2016; p. vi).
Sehingga, pada masa nifas dibutuhkan suplemen zat besi 60 mg selama
40 hari pascapersalinan (Bahiyatun, 2009; h. 109 dan Handayani dan
Pujiastuti, 2016; h. 68).(Marmi, 2015; h. 184)
8) Memberikan konseling perawatan luka perineum.
Cara merawat perineum: mengusahakan luka dalam keadaan kering,
menghindari menyentuh perineum dengan tangan, membersihkan daerah
kewanitaan dari depan ke belakang, menjaga kebersihan dengan
mengganti pembalut minimal 3 kali sehari (Sulistyawati, 2015; h. 136).
Menurut WHO (2011; p. 2-3), pemberian suplemen vitamin A pada masa
nifas dapat mengurangi mortalitas dan morbiditas maternal dan neonatal.
Vitamin A diberikan kepada bayi melalui ASI karena vitamin A memiliki
peran dalam pengelihatan, pertumbuhan dan perkembangan fisik, serta
kekebalan. Pemberian vitamin A pada ibu sekurang-kurangnya 200.000
IU. Sedangkan menurut Kemenkes RI (2013; h.51), vitamin A dikonsumsi
segera setelah persalinan (1 kapsul 200.000 IU) dan 24 jam setelah kapsul
pertama (1 kapsul 200.000 IU).
9) Memberikan konseling tanda bahaya masa nifas
Perdarahan pervagina (hingga ganti pembalut 2 kali dalam 2 jam);
pengeluaran pervagina berbau menusuk; bengkak di wajah dan atau
tangan, demam/ sakit saat BAK; payudara merah, panas, dan sakit; rasa
sakit dan kemerahan di kaki (Sulistyawati, 2015; h.137).
10) Memberikan konseling cara mengatasi gangguan BAK.
Cara mengatasi gangguan BAK: memberitahu ibu bahwa buang air
dengan jongkok tidak merusak jahitan perinium, menganjurkan untuk
BAK sedini mungkin, menganjurkan ibu banyak minum air putih,
merangsang BAK dengan menyiram genetalia dengan air hangat
(Sulistyawati, 2015; h. 132-3).
e. Evaluasi
Ibu dapat melakukan mobilisasi dini, PPV: lochea rubra, TFU 2 jari di bawah
pusat, kontraksi uterus baik (Marmi, 2015; h. 185).
2. Nifas 6 hari
Tanggal:……….. Jam:……………..

1. Data Subjektif 1) Keluhan Utama


Sulistyawati (2015; h. 111) menyatakan
bahwa keluhan utama dikaji untuk mengetahui
alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan
kesehatan. Menurut Anggraini (2010; h. 135)
keluhan utama perlu dikaji untuk mengetahui
masalah yang dihadapi berkaitan dengan masa nifas,
misalnya pasien merasa mules, sakit pada jalan lahir
karena adanya jahitan pada perineum.

2) Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari


Untuk pemenuhan nutrisi, eliminasi, istirahat dan
tidur, personal hygiene sama dengan nifas 6 jam.
a)Aktivitas
Ambulasi akan memulihkan kekuatan otot
dan panggul, memperlancar aliran lochea dan
urin, mengurangi oedem pada luka jahitan
perineum. Latihan tertentu seperti senam Kegel
dapat memperkuat otot vagina (Handayani dan
Pujiastuti, 2016; h. 66).
b) Seksual
Banyak budaya dan agama yang melarang
untuk melakukan hubungan seksual sampai waktu
tertentu. Keputusan bergantung pada pasangan
yang bersangkutan (Sulistyawati, 2015; h. 103).
Ibu harus mengingat bahwa ovulasi dapat terjadi
setiap saat setelah persalinan sehingga hubungan
seksual boleh dilakukan dengan syarat sudah
terlindungi dengan salah satu metode (Handayani
dan Pujiastuti, 2016; h. 65)
3) Data Psikososial Spiritual
Marmi (2015; h. 109) menyatakan bahwa
pada fase ini yaitu fase taking hold, yaitu ibu
berusaha mandiri dan berinisiatif. Ibu mulai
perhatian dengan fungsi tubuhnya, misalnya
kelancaran BAB dan peran transisi.
2. Data Objektif 1) Pemeriksaan Fisik
a)Keadaan Umum
Dikaji mental dan penampilan meliputi
sikap, kecemasan, air muka untuk identifikasi post
partum blues atau depresi post partum (Anggraini,
2010; h. 123).
Menurut Sulistyawati (2009; h. 174-5),
keadaan umum pasien normal adalah baik.
b) Kesadaran
Menurut Sulistyawati (2009; h. 175),
normalnya komposmentis (kesadaran maksimal).
2) Status Present
a) Mata
Dikaji keadaan konjungtiva merah muda,
sklera putih, dan tidak ada bengkak pada kelopak
mata (Marmi, 2011; h. 181).
b) Ekstremitas
Tidak terdapat nyeri pada tungkai, hangat
terlokalisasi, nyeri tekan, inflamasi pada sisi
tersebut, teraba pembuluh darah. Apabila
dijumpai hal tersebut, maka menunjukkan adanya
tromboflebitis (Varney, 2008; h. 1008).
c) Tekanan Darah
Marmi (2015; h. 104) menyatakan bahwa
tekanan darah normal adalah sistolik antara 90-
120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg.
d) Nadi
Menurut Sulistyawati (2015; h. 81)
normalnya tidak melebihi 100x/menit.
e) Suhu
Marmi (2015; h. 104) menyebutkan pasca
melahirkan, suhu tubuh dapat naik kurang lebih
0,5˚C dari keadaan normal akibat kerja keras
sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun
kelelahan. Handayani dan Pujiastuti (2016; h. 19-
20) menyebutkan bahwa pada hari ke 4
postpartum suhu badan akan meningkat
dikarenakan pembentukan ASI dan kemungkinan
payudara membengkak, maupun infeksi pada
endometrium, mastitis. Apabila suhu lebih dari
380C, waspada terhadap infeksi postpartum.
f) Pernapasan
Frekuensi pernafasan normal pada orang
dewasa adalah 16- 24 kali per menit. Pada ibu
post partum umumnya pernafasan lambat atau
normal, hal ini dikarenakan ibu dalam proses
pemulihan atau dalam kondisi istirahat (Marmi,
2015; h. 104).
g) Berat badan
Setelah proses diuresis, ibu akan
kehilangan berat badan 2,3-2,6 kg dan 0,9-1,4 kg
karena proses involusi uteri (Blackburn, 2007
dalam Handayani dan Pujiastuti, 2016; h. 19).
3) Status Obstetri
a) Mamae
Simetris, puting susu menonjol, tidak nyeri
dan lecet pada puting, tidak ada pembengkakan
(Anggraini, 2010; h. 139).
b) Abdomen
Memastikan kontraksi baik, kandung
kemih kosong (Bahiyatun, 2009; h.123).
Menurut Marmi (2015; h. 86), pada minggu
pertama atau 7 hari postpartum TFU di
pertengahan pusat dan simfisis.
c) Vulva
Pada hari ke 3 sampai hari ke 7 post
partum, lochea yang dikeluarkan berwarna putih
bercampur merah yang berupa sisa darah yang
bercampur lendir (lochea sanguinolenta)
(Marmi, 2015; h. 90).
4) Pemeriksaan penunjang
Menurut Milman (2015), pemeriksaan Hb
pada masa nifas diperlukan karena selama
persalinan ibu kehilangan banyak darah. Kadar Hb
pada 1 minggu postpartum tidak boleh <11gr/dL.
3. Analisa 1) Diagnosa Kebidanan
Ny.X, usia 20-35 tahun, P4A0, masa nifas 6 hari.
2) Masalah: kesulitan tidur, kesulitan BAB/konstipasi.
3) Diagnosa Potensial: tidak ada.
4) Antisipasi Tindakan Segera: tidak ada.
4. Penatalaksanaan Penatalaksanaan yang dilakukan pada 6 hari
setelah persalinan:
a) Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus
kokoh, berkontraksi dengan baik, tidak berada di
atas ketinggian fundal saat masa nifas segera,
fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan
abnormal dimana lochea berwarna merah terang,
mengeluarkan darah beku, perdarahan berat
(memerlukan penggantian pembalut setiap 2 jam),
dan tidak ada bau (Ambarwati dan Wulandari, 2010;
h. 140).
b) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,
cairan, dan istirahat.
1) Pendidikan kesehatan tentang istirahat
Ibu dianjurkan untuk istirahat cukup untuk
mencegah kelelahan yang berlebihan. Menyarankan
ibu untuk kembali melakukan kegiatan rumah
secara bertahap, tidur siang atau segera istirahat
ketika bayi tidur (Bahiyatun, 2009; h. 110).
2) Pendidikan kesehatan tentang nutrisi ibu
menyusui
Mengonsumsi tambahan kalori, 500 kalori
tiap hari, makan dengan diet seimbang, meliputi
karbohidrat yang diperoleh dari gandum, beras,
singkong, ubi jalar, dan kentang; protein dari
daging, susu, telur, tempe, dan kacang-kacangan;
lemak dari minyak jagung dan ikan; vitamin A dari
hati, sayuran hijau tua dan kuning; vitamin C dari
buah-buahan; iodium dari garam beryodium; serat
dari sayur dan buah; vitamin A dari sayur dan buah
berwarna jingga, susu, hati, dan minyak ikan; serta
minum sedikitnya 3 liter setiap hari (Bahiyatun,
2009; h. 109).
c) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
menjaga payudara tetap bersih dan kering terutama
pada puting susu, menggunakan bra yang menopang
payudara, membersihkan payudara dengan sabun
dengan pH ringan untuk mencegah infeksi akibat
penumpukan susu, dan mengajarkan teknik laktasi
(Marmi, 2011; h. 184, Handayani dan Pujiastuti,
2016; h.67).
d) Memberikan konseling mengenai asuhan BBL, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi
sehari-hari (Sulistyowati, 2015; h. 138). (Saifuddin,
2010; h. N-24)
e) Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri
terutama daerah perineum (Marmi, 2011; h. 184).
f) Memberitahu cara mengatasi kesulitan tidur, yaitu:
(1) Pergi ke tempat tidur dan bangun di saat yang
sama setiap hari.
(2) Menghindari makan makanan berat 3 jam
sebelum tidur.
(3) Menghindari minum teh, kopi, kola, alkohol,
dan merokok.
(4) Membuat ruangan menjadi tenang, redup, dan
sejuk.
(5) Membaca buku bila 30 menit belum dapat
tertidur.
(6) Melakukan relaksasi (Marmi, 2015; h. 146).
f) Memberitahu cara mengatasi kesulitan
BAB/konstipasi, yaitu:
(1) Memberitahu ibu bahwa buang air dengan
jongkok tidak merusak jahitan perineum.
(2) Menganjurkan ibu banyak minum air putih.
(3) Menganjurkan ibu mengonsumsi makanan
berserat (Sulistyawati, 2015; h. 132-3).
5. Evaluasi a. Lochea sanguinolenta.
b. TFU pertengahan pusat dan sinfisis.
c. Pengeluaran ASI normal.
d. Keadaan psikologi normal.
(Marmi, 2015; h. 185, Saifuddin, 2010; h.N-24)
3. Nifas 2 Minggu
Tanggal:……….. Jam:……………..

1. Data Subjektif 1) Keluhan Utama


Dikaji untuk mengetahui masalah yang
dihadapi berkaitan dengan masa nifas (Anggraini,
2010: h.135).
2) Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
Untuk pemenuhan nutrisi, eliminasi, istirahat
dan tidur, personal hygiene, serta aktivitas sama
dengan nifas 6 hari.
3) Data Psikososial Spiritual
Ibu mengalami fase letting go setelah hari ke
10 postpartum. Pada fase ini, ibu sudah mulai
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya,
serta meningkatnya keinginan untuk merawat diri dan
bayinya (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 89).
2. Data Objektif 1) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum
b) Kesadaran
c) Tekanan Darah
d) Nadi
e) Suhu
f) Pernapasan
g) Berat badan
2) Status Present
a) Mata
b) Ekstremitas
Tidak terdapat nyeri pada tungkai, hangat
terlokalisasi, nyeri tekan, inflamasi pada sisi
tersebut, teraba pembuluh darah. Apabila
dijumpai hal tersebut, maka menunjukkan adanya
tromboflebitis (Varney, 2008; h. 1008).
3) Status Obstetri
a) Mamae
a) Abdomen
Menurut Marmi (2015; h. 86), pada
pemeriksaan abdomen masa nifas 2 minggu tinggi
fundus uteri sudah tidak teraba dengan berat uterus
350 gram.
b) Vulva
Menurut Marmi (2015; h. 90), pada
pemeriksaan genitalia masa nifas hari ke-7 sampai
hari ke-14 (2 minggu) lochea yang keluar adalah
lochea serosa, lochea ini berwarna kekuningan
atau kecoklatan, yang terdiri dari leukosit, robekan
laserasi plasenta, lebih sedikit darah dan lebih
banyak serum.
3. Analisa 1) Diagnosa Kebidanan
Ny.X, usia 20-35 tahun, P4A0, masa nifas 2
minggu.
2) Masalah: tidak ada.
3) Diagnosa Potensial: tidak ada.
4) Antisipasi Tindakan Segera: tidak ada.
4. Penatalaksanaan Pelaksanaan yang dilakukan pada ibu 2
minggu pasca bersalin menurut Saifuddin (2010; h.
N-24) antara lain :
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal
Menurut Marmi (2015; h. 86), pada 2 minggu
postpartum TFU (tinggi fumdus uteri) sudah tidak
teraba, dengan lochea serosa dan tidak berbau busuk.
2) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi, atau
perdarahan abnormal.
3) Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan,
cairan, dan istirahat.
4) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak ada
tanda penyulit.
5) Memberikan konseling mengenai asuhan BBL, tali
pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi
sehari-hari.
6) Memberikan konseling kepada ibu tentang KB
pascapersalinan. macam-macam KB pascapersalinan
yaitu:
a) MAL/Metode Amenorrhea Laktasi
Menurut Marmi (2016; h. 145), efektifitas
MAL sangat tinggi sekitar 98% apabila digunakan
secara benar dan digunakan selama 6 bulan pertama
pasca melahirkan, belum haid pasca melahirkan
serta menyusui secara eksklusif.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar
efektivitas MAL optimal yaitu ibu menyusui secara
penuh, belum haid, bayi menyusu secara langsung,
menyusui secara on demand (menyusui setiap bayi
membutuhkan) pada kedua payudara, menghindari
jarak anatar menyusui lebih dari 4 jam (Kemenkes
RI, 2013; h.256).
b) Implant
Implant adalah alat kontrasepsi yang
disusukkan di bawah kulit lengan atas bagian
dalam. Cara kerja: mencegah ovulasi, mengganggu
penebalan endometrium agar tidak terjadi
implantasi, menghambat pergerakan sperma dengan
mengubah peristaltik tuba, mengentalkan lendir
serviks. Kontrasepsi ini tidak mengganggu produksi
ASI dan efektivitasnya 99%. Dapat digunakan 6
minggu sampai 6 bulan postpartum (ibu menyusui
dan belum haid) atau segera dilakukan pemasangan
bila ibu sudah haid (Marmi, 2016; h. 235-242).
c) Pil/suntik progestin
Cara kerja: mencegah ovulasi, mengganggu
penebalan endometrium agar tidak terjadi
implantasi, menghambat pergerakan sperma dengan
mengubah peristaltik tuba, mengentalkan lendir
serviks. Pil diminum setiap hari di waktu yang sama
1 tablet. Bila ibu lupa minum, segera minum pil
yang terlupa dan menggunakan barrier selama 48
jam. Suntik dilakukan setiap 2 atau 3 bulan.
Efektivitas pil 98,5%, efektivitas suntik 99,7%.
Kontrasepsi ini dapat diberikan setelah 6 bulan
untuk ibu yang menyusui secara eksklusif dan
setelah 6 minggu pada ibu yang tidak menyusui
(Marmi, 2016; h. 207-218 dan Kemenkes RI, 2013;
h.256).
d) Pil/suntik kombinasi
Cara kerja: mencegah ovulasi, mengganggu
penebalan endometrium agar tidak terjadi
implantasi, menghambat pergerakan sperma dengan
mengubah peristaltik tuba, mengentalkan lendir
serviks. Pil diminum setiap hari di waktu yang sama
1 tablet. Bila ibu lupa minum, segera minum pil
yang terlupa dan menggunakan barrier selama 48
jam. Suntik dilakukan setiap 1 bulan. Efektivitas pil
mencapai 99%, efektivitas suntik 99,9%.
Kontrasepsi ini tidak dapat diberikan pada ibu
menyusui karena dapat mengganggu produksi ASI
(Marmi, 2016; h. 194-203; 206; 224-230 dan
Kemenkes RI, 2013; h.256). Menurut Affandi dkk
(2010; h. MK-32), kontrasepsi ini dapat digunakan
setelah 6 bulan untuk ibu menyusui dan setelah 3
bulan untuk ibu yang tidak menyusui.
e) AKDR
AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
dapat dipasang 10 menit setelah melahirkan atau 4
minggu pascapersalinan, biaya efektif dan
terjangkau, tidak perlu khawatir terjadi kehamilan,
tidak mempengaruhi produksi ASI, mengurangi
angka ketidakpatuhan pasien (Drop Out)
(Kemenkes RI, 2013; h.256).
f)Kontap (kontrasepsi mantap)
Kontrasepsi mantap atau sterilisasi
digunakan untuk yang tidak menginginkan anak
lagi, yaitu tubektomi (mengikat dan memotong atau
memasang cincin pada tuba fallopi untuk
menghalangi bertemunya sperma dan ovum) dan
vasektomi (oklusi/ penutupan vas deferens sehingga
transport sperma terhambat dab tidak terjadi
fertilisasi) (Kemenkes RI, 2013; h.250-1). Menurut
Affandi dkk (2010; h. MK-96), kontrasepsi
tubektomi efektif hingga 99,5% dan vasektomi
efektif hingga 96%.
g) Kondom
Cara kerja: menghalangi masuknya sperma
ke dalam saluran genetalia interna wanita dan
mematikan spermatozoa oleh spermisid. Tidak
mrngganggu produksi ASI. Efektivitas kondom 88-
98%. Namun penggunaannya perlu diwaspadai
adanya reaksi alergi (Marmi, 2016; h. 158-163)
h) Diafragma/cap serviks
Cara kerja: menghalangi masuknya sperma
ke dalam saluran genetalia interna wanita dan
mematikan spermatozoa oleh spermisid. Tidak
mrngganggu produksi ASI. Efektivitas diafragma
84-94%, cap serviks 73-92%. Kontrasepsi ini dapat
digunakan 6-12 minggu postpartum (Marmi, 2016;
h. 166-170).
5. Evaluasi a. TFU tidak teraba.
b. Pengeluaran ASI normal.
c. Keadaan psikologi normal.
d. Klien sudah menentukan KB apa yang akan
dipakai,
(Marmi, 2015; h. 185, Saifuddin, 2010; h.N-24)
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati dan Wulandari. (2010). Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra


Cendekia Press.
Anggraini, Yeti. 2010. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta : Pustaka Rihama

Bahiyatun. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta : EGC.

Cynthia puspariny, triani yuliastanti, anggun suhastina.2014. Korelasi Pemberian Asi


Eksklusif Dengan Tingkat Iq Pada Anak Tk Di Tk Aisyah Kecamatan
Pringsewu Kabupaten Pringsewu Tahun 2014.

Dewi Cendika dkk. 2010. Panduan Pintar Hamil & Melahirkan, Jakarta :
WahyuMedia

Handayani dan Pujiastuti. (2016). Asuhan Holistik Masa Nifas dan Menyusui.
Yogyakarta: Transmedika.

Marmi. (2015). Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas "Puerperium Care".


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Martini, D. E. (2007). EFEKTIFITAS LATIHAN KEGEL TERHADAP PERCEPATAN


PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS DI PUSKESMAS
KALITENGAH LAMONGAN. SURYA, 7(3).
Widia Lidia, 2017. Hubungan Antara Mobilisasi Dini Dengan Proses Penyembuhan
Luka Perineum Pada Fase Profilerasi Ibu Post Partum. Jurnal Darul Azhar
Vol 3 No.1
Prasetyono, Dwi Sunar. 2009. Buku Pintar ASI Eksklusif. Jakarta : Diva Press

Prawirohardjo, Sarwono. (2014). Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.

Andriyani, Nurlaila, R. P. (2013) ‘Pengaruh senam nifas terhadap penurunan tinggi


fundus uteri pada ibu post partum’, Jurnal Keperawatan, IX(2), pp. 180–185.
Djama, N. T. (2018) ‘PENGARUH KONSUMSI DAUN KACANG PANJANG
TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI’,
Jurnal Riset Kesehatan, 14(1), pp. 5–10.
Endang Suwanti, K. (2015a) ‘HUBUNGAN KONSUMSI EKSTRAK DAUN
KENTANG MANIS DENGAN PRODUKSI ASI DI LAKTASI IBU DI
KABUPATEN KLATEN Endang Suwanti, Kuswati’, Kebidanan Dan Kesehatan
Tradisional, 1(2), pp. 2014–2017.
Endang Suwanti, K. (2015b) ‘PENGARUH KONSUMSI EKSTRAK DAUN KATUK
TERHADAP KECUKUPAN ASI PADA IBU MENYUSUI DI KLATEN’,
Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan, 5(2), pp. 132–135.
Hidayah, S. N. (2017) ‘HUBUNGAN ANTARA VULVA HYGIENE DENGAN
LAMA PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DI BPS NY S DESA GROBOG
WETAN KECAMATAN PANGKAH KABUPATEN TEGAL TAHUN 2015’,
Siklus, 6(1), pp. 188–194.
Hidayat, et al (2014) ‘Pemanfaatan Daun Bangun-Bangun dalam Pengembangan
Produk Makanan Tambahan Fungsional untuk Ibu Menyusui ( Utilizationand
Product Development of Bangun-bangun Leaves as Supplement and Functional
Food for Lactating Mother )’, Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), 19(April),
pp. 38-42-4217.
Isnaini, N. and Diyanti, R. (2015) ‘Hubungan Pijat Oksotosin Pada Ibu Nifas Terhadap
Pengeluaran ASI Di Wilayah Kerja Puskesmas Raja Basa INdah Bandar
Lampung Tahun 2015’, Jurnal Kebidanan, 1(2), pp. 91–97.
Martini, D. E. (2015) ‘EFEKTIFITAS LATIHAN KEGEL TERHADAP
PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM PADA IBU NIFAS DI
PUSKESMAS KALITENGAH LAMONGAN’, SURYA, 7(3).
Mutika, W. T. (2018) ‘Efek breast care ibu nifas terhadap berat badan bayi dan hormon
prolaktin’, Berita Kedokteran Masyarakat ( BKM Journal of Community
Medicine and Public Health ) Volume, 34(4), pp. 175–178.
Prihartini, S. D. (2014) ‘PENGARUH MOBILISASI DINI TERHADAP
PENURUNAN TINGGI FUNDUS UTERI PADA IBU NIFAS DI PAVILIUN
MELATI RSUD JOMBANG’, EDU HEALTH, 4(2), pp. 63–67.
Rosita, E. (2017) ‘HUBUNGAN PERAWATAN PAYUDARA PADA IBU NIFAS
DENGAN BENDUNGAN ASI’, Midwifery Journal Of STIKes Insan Cendekia
Medika Jombang Volume, 13(6), pp. 1–7.
Runjati (2017) Kebidanan: Teori dan Asuhan. Jakarta: EGC.
Sari, N. (2017) ‘Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Bangun-Bangun ( Coleus Metode
DPPH)’, jurnal rekayasa pangan dan pertanian, 5(2), pp. 325–332.
Semuel Layuk, dkk (2016) ‘MENU LUHU (Katuk Saorophus Androginus) SEBAGAI
KEARIFAN LOKAL DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI ASI
FREKUENSI DAN DURASI MENYUSUIDI KABUPATEN KEPULAUAN
SANGIHE’, GIZIDO, 8(1).
Sormin, R. E. M. (2018) ‘HUBUNGAN KONSUMSI DAUN KELOR DENGAN
PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU MENYUSUI SUKU TIMOR DI
KELURAHAN KOLHUA KECAMATAN MAULAFA KUPANG’, CHMK
NURSING SCIENTIFIC JOURNAL, 2(2), pp. 59–63.
Suherni, dkk (2009) Perawatan Masa Nifas. Jakarta: Fitramaya.
Supiati, S. Y. (2015) ‘PENGARUH KONSUMSI TELUR REBUS TERHADAP
PERCEPATAN PENYEMBUHAN LUKA PERINEUM DAN PENINGKATAN
KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU NIFAS’, Jurnal Terpadu Ilmu Kesehatan,
4(2), pp. 141–146.
Tianastia Rullyni, N. E. and Evareny, L. (2014) ‘Pengaruh Senam Nifas terhadap
Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Post Partum di RSUP DR. M. Djamil
Padang’, Jurnal Kesehatan Andalas, 3(3), pp. 318–326.
Tulas, V. D. P. (2017) ‘HUBUNGAN PERAWATAN LUKA PERINEUM DENGAN
PERILAKU PERSONAL HYGIENE IBU POST PARTUM DI RUMAH SAKIT
PANCARAN KASIH GMIM MANADO’, e-Journal Keperawatan, 5(1), pp. 1–9.
Turlina, L. and Wijayanti, R. (2015) ‘PENGARUH PEMBERIAN SERBUK DAUN
PEPAYA TERHADAP KELANCARAN ASI PADA IBU NIFAS DI BPM NY.
HANIK DASIYEM, Amd.Keb DI KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN’,
7(1).
Wulandari, F. T. and All, E. (2014) ‘Pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran
kolostrum pada ibu post partum di rumah sakit umum daerah provinsi kepulauan
riau’, kesehatan, 2, pp. 173–178.
Zamzara, et all (2015) ‘PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP WAKTU
PENGELUARAN KOLOSTRUM IBU POST PARTUM SECTIO CAESARIA’,
Ilmiah Kesehatan, 8(1), pp. 229–241.
Roesli Utami.2008. Inisiasi Menyusu Dini Plus ASI Eksklusif. Pustaka Bunda. Jakarta
Rukiyah, Ai Yeyeh, Yulianti, Lia, Maemunah dan Susilawati, Lilik. (2010). Asuhan
Kebidanan Kehamilan. Jakarta : Trans Info Media.
Sabrina.2014.Pengaruh Mobilisasi Dini Terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri Pada
Ibu Nifas Di Paviliun Melati Rsud Jombang.

Suherni. 2009. Perawatan Masa Nifas.Yogyakarta:Fitramaya.

Sulistyawati. (2015). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta: ANDI.

Varney H, Kriebs JM, Gegor CL. Buku ajar asuhan kebidanan volume 2. Jakarta: EGC;
2008.
Vivian Nanny. 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta : Salemba Medika