Anda di halaman 1dari 2

Para Tokoh Teori Belajar Kognitif

Beberapa tokoh teori belajar Kognitif yang teorinya banyak diterapkan dalam pendidikan antara lain:

1. Max Wertheimer (1880-1943), Kurt Koffka (1886-1941), Wolfgang Kohler (1887-


1967),

Mereka bertiga merupakan pelopor teori Gestalt. Mereka berpendapat bahwa keseluruhan lehih bermakna
daripada bagian-bagian bagi kognisi manusia. Sehingga proses pembelajaran baiknya dimulai dari keseluruhan
(Gestalt) lalu menganalisir unsur-unsurnya atau bagian-bagiannya.

2. Kurt Levin (1890-1947)

Kurt Levin merupakan pengembang teori motivasi disekitar medan. Inti teorinya dalam kaitannya dengan
pembelajaran ialah bahwa semakin peserta didik dekat dengan medan belajar, motivasi belajar semakin kuat
dibanding dengan peserta didik yang lebih jauh dari medan belajar. Medan yang dimaksud ialah medan
psikologis arena belajar peserta didik.

3. Jean Piaget

Jean Piaget mempunyai kontribusi besar dalam pemahaman terhadap perkembangan intelektual anak. Dengan
teori “perkembangan berpikir”nya Ia mengemukakan tahap perkembangan kognitif anak, yaitu teori sensori-
motor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal.

4. David Ausubel

Inti dari teori belajar Ausubel adalah belajar bermakna. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang
dikaitkan dengan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan yang
menghubungkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari
akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.

5. Jerome Bruner

Jarome Bruner mengusulkan teori yang disebutnya free discovery learning atau belajar penemuan. Inti dari
teorinya memandang bahwa manusia adalah sebagai pemproses, pemikir, dan pencipta informasi. Oleh
karenanya, dalam belajar yang terpenting adalah cara-cara bagaimana seseorang secara aktif memilih,
mempertahankan dan mentransformasikan informasi yang diterimanya.

6. Albert Bandura

Bandura menghasilkan sebuah teori dari turunan teori belajar kognitif yang disebut “Belajar Sosial”. Bermula
dari pendapatnya tentang teori kognitif sosial yang merupakan faktor kognitif, sosial dan juga perilaku
mempunyai peran penting dalam pembelajaran. Ini berarti bahwa faktor kognitif merupakan ekspektasi peserta
didik untuk meraih keberhasilan sedangkan faktor sosial mencakup pengamatan dan pengalaman pembelajar
terhadap perilaku orang-orang disekitar lingkungannya.

7. Robert Gagne (1977)


Berlandasarkan teori belajar kognitif, maka Gagne menghasilkan suatu model pembelajaran yang disebut
“Peristiwa Pembelajaran”. Dalam model peritiwa pembelajaran tidak memperhatikan apakah proses belajar
terjadi melalui proses penemuan (Discovery) atau proses penerimaan (Reception) sebagaimana yang
dikenalkan oleh Bruner dan Ausubel, menurutnya yang terpenting adalah kualitas penetapan (daya simpan)
dan kegunaan belajar.

Penerapan Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran


Dalam penerapan Teori Belajar Kognitif secara khususnya akan ada model belajar Bruner, Ausubel, Gagne,
dan model perkembangan intelektual Piaget. Adapun secara umum penerapan teori belajar kognitif dalam
pembelajaran adalah sebagai berikut :

1. Belajar tidak harus berpusat pada guru tetapi peserta didik harus lebih aktif. Oleh karenanya peserta
didik harus dibimbing agar aktif menemukan sesuatu yang dipelajarinya. Konsekwensinya materi
yang dipelajari harus menarik minat belajar peserta didik dan menantangnya sehingga mereka asyik
dan terlibat dalam proses pembelajaran.
2. Bahan pembelajaran dan metode pembelajaran harus menjadi perhatian utama. Peserta didik akan sulit
memahami bahan pelajaran Jika frekuensi belajar hitung loncat-loncat. Bagi anak SD pengoperasian
suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda terutama di kelas-kelas awal karena tahap
perkembangan berpikir mereka baru mencapai tahap operasi konkret.
3. Dalam proses pembelajaran guru harus memperhatikan tahapan perkembangan kognitif peserta didik.
Materi dirancang sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif itu dan harus merangsang
kemampuan berpikir mereka.
4. Belajar harus berpusat pada peserta didik karena peserta didik melihat sesuatu berdasarkan dirinya
sendiri. Untuk terjadinya proses belajar harus tidak ada proses paksaan agar sifat egosentrisnya tidak
terbunuh.