Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK DENGAN ATRESIA DUCTUS HEPATICUS

Diajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak


Oleh :
Kelompok 3 (III C/VI)

Ni Luh Anik Saraswati (16C11806)


Putu Ari Sasmita (16C11809)
Ni Made Ayu Armiyanti ( 16C11814)
Ni Komang Melayani (16C11839)
Ni Made Mudiani (16C11840)
Ida Ayu Kade Purnama Putri (16C11850)
Luh Made Sherly Hermawati W. (16C11855)
Ni Putu Sinta Anggreni (16C11856)
Ni Komang Tri Vira Ayurika (16C11868)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) BALI
TAHUN AJARAN 2018/2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi


Wasa/Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugrahanya penulis
dapat menyusun laporan pendahuluan dan asuhan keperwatan teoritis yang
berjudul “Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan
Atresua Ductus Hepaticu”. Asuhan keperawatan ini tidak mungkin dapat
terselesaikan tepat pada waktunya tanpa bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Ns. AA Istri Wulan Krisnandari, Skep, M.S Sebagai Koordinator Mata


Ajar Keperawatan Anak di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali.
2. Ns. Gst Kade adi Widyas Pranata, S.Kep., MS Sebagai Dosen
Pengampu Mata Ajar Keperawatan Anak di Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Bali serta pembimbing dalam pembuatan makalah ini.
3. Serta berbagai pihak lain yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu.

Mengingat banyak kekurangan yang penulis miliki, tentunya makalah ini


memiliki banyak kekurangan. Untuk itu penulis akan sangat berterima kasih jika
ada pendapat, saran, ataupun kritik yang membangun demi perbaikan makalah ini,
sehingga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Denpasar, 11 Maret 2019

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ................................................................................. i

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belaang .................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .............................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................... 2
D. Manfaat ............................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Tinjauan Konsep Dasar Teori Atresia Ductus Hepaticus


1. Pengertian .................................................................................... 4
2. Klasifikasi ................................................................................... 5
3. Etiologi ........................................................................................ 6
4. Patofisiologi ................................................................................ 6
5. Manifestasi klinis ........................................................................ 7
6. Pemeriksaan diagnostik ................................................................ 8
7. Komplikasi ................................................................................... 9
8. Penatalaksanaan ........................................................................... 9
B. Tinjauan Teori Askep Atresia Ductus Hepaticus
1. Pengkajian .................................................................................. 11
2. Diagnose keperawatan .............................................................. 14
3. Intervensi .................................................................................... 15
4. Implementasi .............................................................................. 20
5. Evaluasi ...................................................................................... 20

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ...................................................................................... 23
B. Saran ................................................................................................. 23

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Atresia bilier merupakan penyakit hati yang ditandai dengan obtruksi dan
fibro-obliterasi progresif saluran bilier extra hepatik. Sampai saat ini
penyebab atresia bilier belum diketahui. Hal ini dapat menyebabkan
kerusakan hati dan sirosis hati, yang jika tidak diobati bisa berakibat fatal atau
sampai terjadi kematian. Kejadian atresia bilier dilaporkan antara 1 : 8000
sampai 1 : 18.000 kelahiran hidup. Dalam 12 tahun terakhir (tahun 1998-
2009), pasien baru atresia bilier yang berobat ke departemen Ilmu Kesehatan
Anak RS Dr. Cipto Mangunkusumo (IKA RSCM) berjumlah 60 orang
tampak kecenderungan jumlah pasien yang semakin meningkat. Pada tahun
2006-2009 terjadi peningkatan pasien sebanyak 34 pasien yang mengalami
atresia bilier (Waiman & Oswari, 2010).
Deteksi dini dari kemungkinan adanya atresi bilier sangat penting sebab
efikasi pembedahan hepatic-pontoeterostomi (operasi kasai) akan menurun
bila dilakukan setelah dua bulan. Bagi penderita atresia bilier prosedur yang
baik adalah mengganti saluran empedu yang mengalirkan empedi ke usus.
Selain itu terdapat beberapa intervensi keperawatan yang penting bagi anak
yang menderita atresia bilier. Penyuluhan yang meliputi semua aspek rencana
penanganan dan dasar pemikiran bagi tindakan yang akan dilakukan harus
disampaikan kepada anggota keluarga pasien (Steven, 2009). Berdasarkan
uraian di atas penulis menyusun asuhan keperawatan pada anak dengan
atresia ductus hepaticus.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang dapat
penulis temukan adalah :
1. Bagaimana konsep dasar teori atresia ductus hepaticus ?

1
2. Bagaimana tinjauan teori asuhan keperawatatan pada anak dengan atresia
ductus hepaticus ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penyusunan
asuahan keperawatan teoritis, sebagai berikut:
1. Tujuan Umum.
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak dengan atresia ductus
hepaticus.
2. Tujuan Khusus.
a. Untuk mengetahui konsep dasar teori pada anak dengan atresia ductus
hepaticus.
b. Untuk mengetahui tinjauan teori asuhan keperawatan yang dapat
diberikan pada anak dengan atresia ductus hepaticus.

D. Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan asuhan
keperawatan teoritis, sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis.
a. Secara teoritis makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
ilmu pengetahuan para pembaca tentang masalah pada kantung
empedu pada anak.
b. Sebagai acuan dan pengembangan materi untuk penyusunan asuhan
keperawatan berikutnya khususnya mengenai asuhan keperawatan
pada anak dengan atresia ductus hepaticus.
2. Manfaat Praktis.
a. Masyarakat
Hasil makalah ini akan bermanfaat bagi masyarakat yaitu sebagai
sumber informasi untuk manambah pengetahuan penyakit yang sering
terjadi pada anak pada sisitem pencernaan salah satunya adalah atresia
ductus hepatikus.

2
c. Institusi Rumah Sakit
Menjadi bahan masukan untuk memberikan pelayanan asuhan
keperawatan pada anak dengan penyakit atresia ductus hepaticus.
d. Institusi Stikes Bali
Sebagai bahan masukan berupa literatur dan pengembangan materi
dalam pembelajaran tentang asuhan keperawatan khususnya pada anak
dengan penyakit atresia ductus hepatikus.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tinjauan Konsep Dasar Teori Atresia Ductus Hepaticus


1. Pengertian
Atresia bilier (atresia ductus hepaticus) adalah suatu penghambat
didalam saluran yang mebawa cairan empedu dari liver menuju kekantung
empedu (gallbladder). Atresia billier merupakan penyakit akibat proses
inflamasi progresif yang diikuti fibrosis dan obliterasi total saluran epedu
menyebabkan sirosis, hipertensi portal, gagal hati dan kematian pada 2
tahun pertama. Kondisi ini merupakan kondisi kongenital, yang berarti
terjadi saat kelahiran. Atresia bilier merupakan kelainan yang berkisar
dari hipoplasiasegmental atau generalisata saluran empedu dan atresia
sampai obliterasi lengkap duktur billiaris ekstra atau intra hepatic. Atresia
bilier merupakan kelainan kongenital yang berhubungan denga kolangeo
hepatic intra uter dimana saluran empedu mengalami fibrosis (Steven,
2009).
Fungsi dari system empedu adalah membuang limbah metabolic
dari hati dan mengangkut garam empedu yang diperlukan untuk mencerna
lemak didalam usus halus. Pada atresia bilier terjadi penyumbatan aliran
empedu d ari hati kekandung empedu. Hal ini bisa menyebabkan
kerusakan hati dan sirosis hati. Atresia biller pada bayi terjadi pada usia
tiga bulan pertama kehidupan. Pasien dengan atresia bilier dibagi menjadi
2 grup yaitu (steven, 2009):
a. Perinatal form (isolated biliary atresia)
65 – 90% bentuk ini ditemukan pada neonatal dan bayi berusia 2 –
8 minggu. Infalmasi atau peradangn yang progresif pada saluran
empedu ekstrahepatik timbul setelah lahir.
b. Fetal embrionik form
10 – 25% bentuk ini ditandai dengan cholestasis yang muncul
cepat dalam 2 miggu kehidupan pertama. Pada kondisi ini saluran

4
emedu tidak terbentuk pada saat lahir dan biasaanya disertai dengan
kelainan kongenital lainnya seperti situs inversus, polysplenia,
malrotasi.

2. Klasifikasi
Klasifikasi atresia billier sebagai berikut (Steven, 2009) :
a. Atresia billiari intra hepatik
Merupakan atresia yang dapat dikoreksi. Bentuk ini lebih jarang
dibandingkan ekstra hepatic yang hanya 10% dari penderita atresia.
Ditemukan saluran empedu proksimal yang terbuka lumennya. Tetapi
tidak berhubungan dengan duodenu. Atresia hanya melibatkan ductus
koleduktus distal.
b. Aresia billiari ekstra hepatik
Merupakan atresia yang tidak dapat dikoreksi. Bentuk ini sekitar
90% dari penderita atresia. Prognosis buruk menyababkan kematian.
Ditemukan bahwa system saluran empedu ekstra hepatik mengalami
obliterasi sirosis billier terjadi cepat. Gejala klinik dan patologi
bergantuk pada awal proses penyakitnya dan bergantung pada saat
penyakit terdiagnosis. Atresia ekstra hepatik terbagi menjadi dua
yaitu:
1) Embrional
1/3 penderita atresia ekstra hepatik terjadi pada masa embrional.
Awal prosesnya merusak saluran empedu mulai sejak massa intra
uterin hingga saat bayi lahir. Pada penderita tidak ditemukan
masa bebas ikterus setelah periode ikterus neunatorum fisiologis
(2 minggu pertama kelahiran)
2) 2/3 penderita atresia ekstra hepatik terjadi pada masa perinatal.
Awal prosesnya adalah gejala ikterus setelah periode ikterus
fisiologis menghilang. Kemudian diteruskan dengan ikterus yang
progresif.

5
3. Etiologi
Atresia billiari penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti.
Atresia billiari terjadi antara lain karena proses inflamasi berkepanjangan
yang menyebabkan kerusakan progresif pada duktus bilier ekstra hepatik
sehingga menyebabkan hambatan aliran empedu. Selain itu faktor genetik
ikut berperan, yang dikaitkan dengan adanya kelainan kromosom trosomi
17, 18,21. Secara umum kelainan ini disebabkan oleh lesi kongenital atau
didapat, dan merupakan kelainan nekrosis infalmatorik yang
mengakibatkan kerusakan dan akhirnya obliterasi saluran empedu ekstra
hepatik. Penyebab utama yang pernah dilaporkan adalah proses
imunologi, infeksi virs teruama Revirus tipe 3, asam empedu yang toksik,
dan kelainan genetic. (Mawardi, Warouw, Salendu, 2011).

4. Patofisiologi
Atresia billier terjadi karena proses inflamasi berkepanjangan yang
menyebababkan kerusakan prog resif pada duktus billier ekstra hepatik
sehingga menyebabkan hambatan aliran empedu, dan tidak adanya atau
kecilnya lumen pada sebagian atau keseluruhan. Traktus billier ekstra
hepatic juga menyebabkan obstruksi aliran empedu. Obstuksi saluran
billier ektra hepatic akan menimbulkan hiperbiluribinemia terkonjugasi
yang diserta bilirubinuria. Obstruksi saluran billier hepatic dapat total
maupun parsial. Penyebab terserang obstruksi billier ekstra hepatic adalah
sumbatan batu empedu pada ujung bawah ductus koledokus, karsinoma
kaput pancreas, karsinoma ampula vateri, striktura pasca peradangan atau
operasi. Obstruksi pada saluran empedu ekstra hepatic menyebabkan
obstruksi aliran normal empedu dari hati kantong empedu dan usus.
Akhirnya terbentuk sumbatan dan menyebabkan cairan empedu balik ke
hati, ini akan menyebabkan peradangan, edema, degenerasi hati. Apabila
asam empedu tertumpuk itu akan dapat merusak hati bahkan hati menjadi
fibrosis dan cherrhosis kemudian terjadi pebesaran hati yang menekan
vena portal sehingga mengalami hipertensi portal yang akan

6
mengakibatkan gagal hati. Jika cairan empedu tersebar kedalam darah dan
kulit, akan menyebabkan rasa gatal. Bilirubin yang tertahan dalam hati
juga akan dikeluarkan kedalam aliran darah, yang dapat mewarnai kulit
dan bagian putih mata sehingga berwarna kuning. Degerasi secara gradual
pada hati menyebabkan jaundice, ikterik dan hepatomegali, karena tidak
ada aliran empedu dari hati kedalam usus, lemak dan vitmin larut lemak
tidak dapat diarbsorbsi, kekurang vitamin larut lemak yaitu vitamin A, D,
E, K dan gagal tumbuh. Vitamin A, D, E, K larut dalam lemak sehingga
memerlukan lemak agar dapat diserap oleh tubuh. Kelebihan vitamin-
vitamin tersebut akan disimpan dalam hati dan lemak didalam tubuh,
kemudian digunakan saat diperlukan (Steven, 2009).

5. Manifestasi Klinis
Bayi dengan atresia billier biasanya muncul sehat ketika mereka lahir.
Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam 2 minggu pertama setelah
lahir. Gejala-gejalanya yaitu (Steven, 2009):
a. Ikterus, kekuningan pada kulit dan mata karena tingkat bilirubin yang
sangat tinggi (pigmmen empedu) tertahan didalam hati dan akan
dikeluarkan dalam aliran darah. Jaudince disebabkan oleh hati yang
belum dewasa adalah umum pada bayi baru lahir. Ini biasanya hilang
dalam minggu pertama sampai 10 hari dari kehidupan. Seorang bayi
dengan atresia biasanya tampak normal saat lahir, tapi ikterus
berkembang pada 2 atau 3 minggu setelah lahir.
b. Urine gelap yang disebabkan oleh penumpukan bilirubin (produk
pemecahan dari hemoglobin) dalam darah. Bilirubin kemudian
disaring oleh ginjal dan dibuang dalam urine.
c. Tinja berwarna pucat, karena tidak ada empedu atau pewarnaan
bilirubin yang masuk kedalam usus untuk mewarnai feses. Juga perut
dapat menjadi bengkak akibat pembesaran hati.
d. Penurunan berat badan, berkembang ketika tingkat ikterus meningkat.
Degenerasi secara gradual pada liver menyebabkan jaundice, ikterus

7
dan hepatomegaly. Sehingga saluran intestine tidak bisa menyerap
lemak dan lemak yang larut dalam air sehingga menyebabkan kondisi
mal nutrisi.

Pada saat usia bayi mencapai 2-3 bulan akan timbul gejala berikut:
a. Gangguan pertumbuhan yang mengakibatkan gagal tumbuh dan
malnutrisi.
b. Gatal-gatal, karena asam empedu yang menunpuk dan menyebar
kedalam aliran darah yang menyebabkan kulit merasa gatal.
c. Rewel
d. Splenomegali menunjukan sirosis yang progresif dengan hipertensi
portal atau tekanan darah tinggi pada vena portal (pembuluh darah
yang mengangkut darah dari lambung, usus, dan limpa ke hati).

6. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksan diagnostik yang dapat dilakukan pada anak dengan artresia
ductus hepaticus, antara lain (Mawardi, dkk, 2011):
a. Pemeriksaan USG abdomen
b. Biopsi hati merpakan pemeriksaan yang penting dilakukan untuk
membedakan dengan kolestasis intra hepatik.
c. ERCP (Endoscopic Retograde Cholangio Pacreaticography)
merupakan upaya diagnostik dini yang berguna untuk membedakan
antara atresia billier dengan kolestasis intrahepatik.
d. Laboratorium
1) Bilirubin direk dalam serum meninggi.
2) Nilai normal bilirubin total < 12 mg/dl.
3) Bilirubin indirek serum meninggi karena kerusakan parenkim hati
akibat bendungan empedu yang luas.
4) Tidak ada urobilinogen dalam urine.

8
5) Pada bay yang sakit berat terdapat peningkatan transaminase
alkalifosfatase (5-20 kali lipat nilai normal) serta traksi-traksi
lipid (kolesterol fosfolipid trigiliserol).

7. Komplikasi
Menurut Steven (2009) komplikasi yang dapat terjadi pada atresia
billier, yaitu:
a. Kolangitis
Komplikasi langsung dari saluran empedu intra hepatik ke usus,
dengan aliran empedu yang tidak baik, dapat menyebabkan ascending
cholangitis. Hal ini terjadi terutama dalam minggu-minggu pertama
atau bulan setelah prosedur kasai sebanyak 30-60% kasus. Ada tanda-
tanda sepsis (demam, hipotermia, status hemodinamik terganggu),
ikterus yang berulang, faces acholic dan mungkin timbul sakit perut.
b. Hipertensi portal
Portal hipertensi terjadi setidaknya pada 2/3 dari anak-anak setelah
portoenterostomy. Hal yang paling umum terjadi adalah varises
esophagus.
c. Hepatopulmonary syndrome dan hipertensi pulmonal
d. Seperti pada pasien dengan penyebab lain secara spontan (sirosis atau
pre hepatic hipertensi portal) atau diperoleh (bedah). Portosystemic
shunts, shunts pada arteri venosus pulmo mungkin terjadi. Biasanya,
hal ini menyebabkan hipoksia, sianosis, dan dyspnea. Selain itu,
hipertensi pulmonal dapat terjadi pada anak-anak dengan sirosis yang
menjadi penyabab kelesuan dan bahkan kematian mendadak.

8. Penatalaksanaan
Tindakan yang dapat dilakukan pada masalah ISPA, sebagai berikut
(Steven, 2009):

9
a. Terapi medika menthosa
Memperbaiki aliran bahan-bahan yang dihasilkan oleh hati terutama
asam empedu (asam hitokolat) dengan memberikan:
1) Venobarbital, akan merangsang enzim glukoronil transferase
(untuk mengubah bilirubin indirik menjadi bilirubin direk; enim
sitokrom P-450 (untuk oksigenasi toksin), enzim Na+ K+ ATPase
(menginduksi aliran empedu).
2) Asam ursodeoksikolat, mempunyai daya ikat kompetitif terhadap
asam litokolat yang hepatotoksik. Asam ursodeoksikolat
melindungi hati dari zat toksik.
b. Terapi nutrisi
Terapi yang bertujuan untuk memungkinkan anak tumbuh dan
berkembang seoptimal mungkin, yaitu :
1) Pemberian makanan yang mengandung medium chaintriglycerides
(MCT) untuk mengatasi malabsorpsi lemak dan mempercepat
metabolisme. Disamping itu metabolism yang dipercepat akan
secara efesien segera dikonversi menjadi energi untuk secepatnya
dipakai oleh organ dan otot, ketimbang digunkaan sebagai lemak
dalam tubuh. Makanan yang mengandung MCT antara lain :
mentega, dan minyak kelapa.
2) Penatalaksanaan defisiensi vitamin yang larut dalam lemak A, D,
E, K.
c. Terapi bedah
1) Kasai prosedur
Prosedur yang terbaik adalah mengganti saluran empedu yang
mengalirkan empedu ke usus. Tetapi prosedur ini hanya mungkin
dilakukan pada 5-10% penderita. Untuk melompati atresia bilier
dan langsung menghubungkan hati dengan usus halus, dilakukan
pembedahan yang disebut prosedur kasai. Biasanya pembedahan
ini hanya merupakan pengobatan sementara dan pada akhirnya
perlu dilakukan pencangkokan hati.

10
2) Pencangkokan atau tranplantasi hati
Tindakan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi untuk atresia
bilier dan kemampuan hidup setelah operasi meningkat secara
dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Karena hati adalah yang
bisa bergenerasi secara alami tanpa perlu obat dan fungsinya akan
kembali normal dalam waktu 2 bulan. Kemajuan dalam operasi
tranplantasi telah juga meningkatkan kemungkinan untuk
dilakukannya tranplantasi pada anak-anak dengan atresia bilier.
Baru-baru ini telah dikembangkan untuk menggunakan bagian hati
dari orang dewasa yang disebut “reduced sais” atau “split liver”
tranplantasi, untuk tranplantasi pada anak dengan atresia bilier.
d. Paliative and supportive treatment
1) Dilakukan home care untuk meningkatkan drainase empedu
dengan mempertahankan fungsi hati dan mencegah komplikasi
kegagalan hati.
2) Perlindungan kulit bayi secara teratur akibat dari akumulasi toksik
yang menyebar ke dalam darah dan kulit yang mengakibatkan
gatal (pruiritis) pada kulit.
3) Pemeberian health education dan emosional support, keluarga juga
turut membantu dalam memberikan stimulasi perkembangan da
pertumbuhan klien.

B. Tinjauan Teori Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang mana
dilakukan pengumpulan data, pengelompokan data, serta analisa data
yang menghasilkan suatu masalah keperawatan yang dikumpulkan
melalui wawancara, pengumpulan riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laboratorium dan diagnostik, dan review catatan
sebelumnya. Adapun tahap – tahap dalam melakukan pengkajian antara
lain (Swari, 2017):

11
a. Identitas Pasien
Identitas Pasien (nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, alamat terdekat,
no.telepon, no.register, tanggal MRS, penanggung).
b. Keluhan Utama
Terdapat keluhan yaitu jaundice dalam 2 minggu sampai 2 bulan.
c. Riwayat penyakit sekarang
Anak dengan atresia billiary intra hepatik setelah usia 6 tahun
terjadi gangguan neuromuskuler seperti tidak ada reflek-reflek
tendo dalam, kelemahan memandang ke atas, ketidakmampuan
berjalan akibat parosis kedua tungkai bawah serta kehilangan rasa
getar.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat kesehatan lalu meliputi riwayat penyakit yang pernah
diderita, riwayat operasi, riwayat alergi, riwayat imunisasi.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Untuk mengetahui apakah dalam keluarga ada yang menderita
penyakit yang sama dengan klien, keturunan dan lainnya.
Menentukan apakah ada penyebab herediter atau tidak.
f. Pola fungsi kesehatan
1) Aktivitas istirahat
Gejala : Letargi atau kelemahan
Tanda : Gelisah atau rewel
2) Sirkulasi
Tanda : Takikardia, berkeringat, ikterik pada sklera kulit dan
membran mukosa.
3) Eliminasi
Tanda :Distensi abdomen, asites
Urine :Warna gelap, pekat
Feses :Warna dempul, steatorea, diare/konstipasi dapat terjadi

12
4) Integritas Ego
Gejala : Menyangkal, tidak percaya, sedih, marah.
Tanda : Takut, cemas, gelisah , menari diri
5) Makanan/ Cairan
Gejala : Anoreksia, tidak mau makan, mual/muntah tidak toleran
terhadap lemak dan makanan pembentuk gas, regurgitasi berulang
6) Higyene
Tanda : Sangat etergantungan dalam melakukan aktivitas sehari-
hari.
7) Nyeri/kenyamanan
Gejala : Otot tegang atau kaku bila kuadran kanan atas ditekan.
8) Pernapasan
Gejala : Peningkatan frekuensi pernafasan
9) Keamanan
Tanda : Ikterik, kulit berkeringat dan gatal(pruritus),
kecenderungan perdarahan (kekurangan vitamin K), oedem
perifer, jaundice, kerusakan kulit.
g. Pemeriksaan Fisik
1) BI (Breathing)
Sesak nafas, RR meningkat
2) B2 (Blood)
Takikardi, berkeringat, kecenderungan perdarahan (kekurangan
vitamin K).
3) B3 (Brain)
Anak dengan atresia billier atau atresia ductus hepaticuc biasanya
gelisah atau rewal, mengalami penurunan kesadaran bahkan
sampai coma.
4) B4 (Bladder)
Urine warna gelap dan pekat

13
5) B5 (Bowel)
Distensi abdomen, kaku pada kuadran kanan, asites, feses
warna pucat, anoreksia, mual, muntah, regurgitasi berulang,
berat badan menurun, lingkar perut 52 cm.
6) B6 (Bone)
Otot lemah, kesulitan berjalan, kulit berwarna kuning, kulit
berkeringat, gatal (pruritus), dan oedem perifer.
h. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan USG abdomen
2) Biopsi hati merpakan pemeriksaan yang penting dilakukan untuk
membedakan dengan kolestasis intra hepatik.
3) ERCP (Endoscopic Retograde Cholangio Pacreaticography)
merupakan upaya diagnostik dini yang berguna untuk membedakan
antara atresia billier dengan kolestasis intrahepatik.
4) Laboratorium
a) Bilirubin direk dalam serum meninggi
b) Nilai normal bilirubin total < 12 mg/dl
c) Bilirubin indirek serum meninggi karena kerusakan parenkim
hati akibat bendungan empedu yang luas.
d) Tidak ada urobilinogen dalam urine
e) Pada bayi yang sakit berat terdapat peningkatan transaminase
alkalifosfatase (5-20 kali lipat nilai normal) serta traksi-traksi
lipid (kolesterol fosfolipid trigiliserol).

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon manusia
terhadap gangguan kesehatan atau proses kehidupan, atau kerentanan
terhadap respon tersebut dari seorang individu, keluarga, kelompok atau
komunitas. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dengan ISPA
pada anak menurut NANDA (2015&2018):
a) Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit.

14
b) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses peradangan
pada hati, hepatomegali, distensi abdomen, menekan diafragma.
c) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien.
d) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan
mekanisme regulasi.
e) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi.
f) Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.

3. Intervensi Keperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit.
1) Tujuan:
Suhu tubuh anak menurun
2) Kriteria hasil:
a) Suhu tubuh anak dalam rentang normal (36,5-37,50C)
b) Nadi dalam rentang normal:
(1) Bayi baru lahir (0-1 bulan): 129-160 x/menit
(2) 1 bulan – 1 tahun: 100-160 x/menit
(3) 1-3 tahun: 90-150 x/menit
(4) 4-5 tahun: 80-140 x/menit
(5) 5-12 tahun: 70-12 x/menit
(6) 12-18 tahun: 60-100x/menit
c) Respirasi dalam rentang normal
(1) Bayi baru lahir (0-1 bulan): 40-60 x/menit
(2) 1 bulan – 1 tahun: 30-60 x/menit
(3) 1-3 tahun: 24-40 x/menit
(4) 4-5 tahun: 22-34 x/menit
(5) 5-12 tahun: 18-30 x/menit
(6) 12-18 tahun: 12-16 x/menit
3) Intervensi:
a) Monitor TTV terutama suhu tubuh setiap 4 jam sekali.

15
Rasional: Untuk mengetahui perkembangan TTV anak.
b) Kompres anak dengan teknik kompres tepid sponge (teknik
kompres hangat yang menggabungkan teknik kompres blok
pada pembuluh darah supervisial dengan teknik seka.
Rasional: Adanya seka tubuh pada teknik tersebut akan
mempercepat vasodilatasi pembuluh darah perifer di sekujur
tubuh sehingga evaporasi panas dari kulit ke lingkungan
sekitar akan lebih cepat.
c) Anjurkan anak untuk sering minum air.
Rasional: Untuk mencegah dehidrasi
d) Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik
Rasional: Antipiretik bekerja sebagai pengatur kembali pusat
pengaturan panas.

b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan proses peradangan


pada hati, hepatomegali, distensi abdomen, menekan diafragma.
1) Tujuan:
Pola napas pasien efektif
2) Kriteria hasil:
a) Respirasi dalam rentang normal
(1) Bayi baru lahir (0-1 bulan): 40-60 x/menit
(2) 1 bulan – 1 tahun: 30-60 x/menit
(3) 1-3 tahun: 24-40 x/menit
(4) 4-5 tahun: 22-34 x/menit
(5) 5-12 tahun: 18-30 x/menit
(6) 12-18 tahun: 12-16 x/menit
b) Tidak ada sesak.
c) Penggunaanotot bantu napas berkurang.
d) Tidak ada pernapasan cuping hidung.
3) Intervensi:
a) Monitor TTV (TD, Suhu, Respirasi dan Nadi)

16
Rasional: Untuk mengetahui kondisi umum anak
b) Monitor pola napas anak.
Rasional: Untuk mengetahui adanya suara tambahan.
c) Kolaborasi pemberian oksigen masker atau nasal kanul.
Rasional: Untuk membantu pernapasan anak.
d) Mengstur posisi bantal saat anak hendak tidur yaitu dengan
cara meninggikan posisi bantal (posisi semi fowler).
Rasional: Untuk membantu pengembangan paru-paru dan
mengurangi tekanan dari abdomen pada diafragma.

c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrien.
a) Tujuan:
Kebutuhan nutrisi anak terpenuhi.
b) Kriteria hasil:
1) Tidak terjadi penurunan berat badan.
2) Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan.
c) Intervensi:
1) Kaji adanya alergi makanan.
Rasional: untuk mengetahui makanan apa saja yang boleh
dimakan oleh anak.
2) Ukur berat badan anak.
Rasional: untuk mengawasi penurunan berat badan.
3) Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan
dengan teknik sedikit tapi sering.
Rasional: mempermudah anak untuk menelan makanannya.
4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
dan nutrisi yang dibutuhkan anak.
Rasional: untuk mengetahui makanan apa saja yang dianjurkan
dan makanan apa saja yang dikonsumsi.

17
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan
mekanisme regulasi.
1) Tujuan:
Kebutuhan cairan anak dapat terpenuhi.
2) Kriteria hasil:
a) Mempertahankan urine output sesuai usia dan BB.
b) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
c) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik,
membrane mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang
berlebihan.
3) Intervensi:
a) Monitor vital sign
Rasional: penurunan sirkulasi darah dapat terjadi akibat dari
peningkatan kehilangan cairan mengakibatkan hipotensi dan
takikardia.
b) Monitor masukan makanan atau masukan cairan dan hitung
intake kalori
Rasional: untuk mengumpulkan data dan menganalisis data
pasien untuk mengatur keseimbangan cairan
c) Monitor hidrasi (kelembapan, membrane mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah ortostatik), jika diperlukan.
Rasional: untuk mengetahui seberapa berat kurangnya pasien
terhadap cairan
d) Timbang popok/pembalut jika diperlukan
Rasional: untuk menghitung intake keluar

e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi.


1) Tujuan:
Tidak terjadi kerusakan integritas kulit pada anak.
2) Kriteria hasil:
a) Tidak adanya luka atau lesi pada kulit

18
b) Mampu mempertahankan integritas kulit yang baik (sensasi,
elastisitas, temperature, hidrasi, dan pigmentasi)
3) Intervensi:
a) Monitor kulit akan adanya kemerahan.
Rasional: untuk mengetahui karakteristik dari luka.
b) Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar.
Rasional: agar tidak terjadi penekanan yang menyebabkan luka
pada kulit.
c) Berikan edukasi pada orang tua anak untuk selalu menjaga
kebersihan kulit.
Rasional: agar orang tua memahami kebersihan kulut anak,dan
hal hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kebersihan kulit
anak.

f. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.


1) Tujuan:
Anak tidak merasa cemas
2) Kriteria hasil:
a) Klien mampu mengidentifkasi dan mengungkapkan gejala
cemas.
b) Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat
aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan.
3) Intervensi:
a) Bimbingan antisipasif.
Rasional : Untuk mengidentifikasi kemungkinan
perkembangan situasi krisis yang akan terjadi dan efek dari
krisis yang bisa berdampak pada oratng tua dan anknya.
b) Peningkatan koping.
Rasional : Untuk mengelola stressor yang dirsakan.
c) Temani orang tuanya untuk pengurangan kecemasan.
Rasional : Agar orang tua merasa lebih aman dan nyaman.

19
d) Ajarkan Teknik relaksasi.
Rasional : Untuk dapat mengontrol kecemansannya.
e) Ajarkan Teknik pengalihan.
Rasional : untuk mengalihkan kecemasan anak.

4. Implementasi
Implementasi merupakan tahap keempat dari proses keperawatan
yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan.
Implementasi keperawatan adalah serangkaia kegiatan yang dilakukan
oleh perawatat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang
dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil
yang diharapkan. Selama tahap pelaksanaan, perawat terus melakukan
pengumpulan data dan memilih tindakan keperawatan yang sesuai dengan
kebutuhan klien. Semua tindakan keperawatan dicatat dalam format yang
telah ditetapkan oleh institusi (Aziz, 2017).

5. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang
merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana antara hasil akhir
yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan. Evaluasi terbagi atas dua jenis, yaitu evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif. Evaluasi formatif berfokus pada aktivitas proses
keperawatan dan hasil tindakan keperawatan. Evaluasi formatif ini
dilakukan segera setelah perawat mengimplementasikan rencana
keperawatan guna menilai ke efektifan tindakan keperawatan yang telah
dilaksanakan. Perumusan evaluasi formatif ini meliputi empat komponen
yang dikenal dengan istilah SOAP, yakni subjektif (data berupa keluhan
pasien), objektif (data hasil pemeriksaan), analisi data dan perencanaa
(Aziz, 2017)

20
WOC Atresia Ductus Hepaticus

Perinatal form (isolated biliary atresia): Lemak dan vitamin larut lemak
Fetal embryonic form:
1. Infeksi virus/bakteri tidak dapat diarbsorbsi
kelainan kongenital
2. Masalah dengan sistem kekebalan
tubuh
Saluran empendu Kekurangan vitamin larut
3. Komponen yang abnormal empedu
tidak terbentuk lemak (A, D, E, dan K)

Akumulasi monosit,
makrofag, sel T-helper dan Saluran empendu Ketidak seimbangan
fibroblast tidak terbentuk nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh
Pelepasan pirogen dan
endogen (sitokinin) Obstruksi aliran dari
hati ke dalam usus
Pembesaran hepar
Interleuikin-1 (hepatomegali)
Interleukin-6 Atresia Billier

Distensi abdomen
Sinyal mencapai
sistem saraf pusat Cairan asam empedu
balik ke hati Perut tearasa penuh

Pembentukan
Proses peradangan Mual dan muntah
prostaglandin di otak
sel hati

21
Merangsang Gangguan suplay darah Kekurangan
hipotalamus pada sel hepar volume cairan
Hipertermi meningkatkan titik
patokan suhu (set point)
Kerusakan sel parenkin, sel
hati, dan duktus empedu Menekan diafragma
ekstrahepatik
Perubahan status
kesahatan pada anak Retensi bilirubin Pola nafas tidak
Tersebar
efektif
Orang tua cemas kedalam darah
Kersusakan sel ekskresi
dan khawatir dan kulit

Pruiritis (gatal) Regurgitas pada duktuli


Anisietas pada kulit empedu intrahepatik

Bilirubin direc meningkat

Kerusakan
integritas kulit Bilirubin yang tertahan
didalam hati

Mewarnai kulit dan bagian Dikeluarkan kedalam


Ikterik putih mata sehingga aliran darah
berwarna kuning

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
g) Atresia bilier (atresia ductus hepaticus) adalah suatu penghambat
didalam saluran yang mebawa cairan empedu dari liver menuju
kekantung empedu (gallbladder). Atresia billier merupakan penyakit
akibat proses inflamasi progresif yang diikuti fibrosis dan obliterasi
total saluran epedu menyebabkan sirosis, hipertensi portal, gagal hati
dan kematian pada 2 tahun pertama.. Pengkajian yang dapat
dilakuakan pada anak dengan atresia bilier (atresia ductus hepaticus)
dengan cara observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik. Pengkajian
yang dilakukan difokuskan terhadap pengkajian yang terdapat pada
tinjauan teori yaitu meliputi: riwayat kesehatan anak dan pemeriksaan
fisik dengan B6. Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan di
dapatkan diagnosa hipertermia, ketidakefektifan pola nafas,
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, kekurangan
volume cairan, kerusakan integritas kulit, dan ansietas, yang mana
dalam perencanaan tindakan yang diberikan sesuai dengan teori dan
disesuaikan dengan kondisi dari anak tersebut. Dalam melaksnakan
tindakan keperawatan perawat mengacu kepada rencana tindakan yang
telah disusun dan tahap akhir dalam asuhan keperawatan adalah
evaluasi.

B. Saran
1) Pasien dan keluarga
Keluarga dapat memeriksakan anaknya secara rutin ke pelayanan
kesehatan. Sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya atresia ductus
hepaticus.

23
2) Perawat
Perawat harus memberikan pengarahan kepada keluarga tentang
penyakit atresia ductus hepaticus yang terjadi pada anaknya dan
memberikan motivasi cara menangani penyakit tersebut sehingga keluarga
mampu menjaga kesehatan anaknya dengan optimal.

24
DAFTAR PUSTAKA

Aziz, AH. 2017. Bab II Tinjaun Pustaka Dokumentasi Keperawatan. Diakses


tanggal 11 Maret 2019, dari
http://repository.ump.ac.id/3810/3/Ahmad%20H%20Aziz%20BAB%20
II.pdf

Mawardi, M., Warouw, SM., Salendu, PM. 2011. Kolestasis Ektrahepatik Et


Causa Atresia Bilier Pada Seorang Bayi. Diakses pada tanggal 11
Maret 2019, dari
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/biomedik/article/view/868/686

Nanda, N.N. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA NIC-


NOC. (Nurarif, A.H. & Kusuma, H, Ed). Yogyakarta: Medication.

Steven. M. 2009. Billiary Atresia. Diakses tanggal 11 Maret 2019, dari


http://emidicine.medscape.com/article/927029-overview

Swari, G. 2017. Makalah Atresia Billier. Diakses tanggal 11 Maret 2019, dari
https://kupdf.net/download/makalah_atresia_billier/5a0b3883e2b6f506
23c59941.pdf

Waiman, E., Oswari, H. 2010. Peran Operasi Kasai Pada Pasien Atresia Bilier
Yang Datang Terlambat. Diakses pada tanggal 11 Maret 2019, dari
https://www.researchgate.net/publication/312260437_Peran_Operasi_K
asai_Pada_Pasien_Atresia_Bilier_yang_Datang_Terlambat/download

25