Anda di halaman 1dari 1

Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan kawasan hutan tropis penting

dunia dan berhasil dipertahankan. TNKS terletak di rangkaian pegunungan bukit


barisan selatan bagian tengah. Kawasan hutan TNKS menjadi habitat sejumlah
populasi hewan langka seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Badak
Sumatera, Kijang Sumatera dan lebih dari 372 jenis burung termasuk 16 jenis
burung endemik. Sejak tahun 2000, puluhan ribu hektar kawasan hutan (kawasan
konservasi dan hutan produksi) dialih fungsikan menjadi lahan pertanian. Kaki
Gunung Kerinci merupakan buffer zone yang digunakan untuk kegiatan
perladangan. Hal ini menyebabkan adanya perambahan di mana masyarakat
memindahkan patoknya agar lahan yang digunakan lebih luas.

Berdasarkan tfcasumatera.org, perambahan ini terjadi setelah masa


berlakunya izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) selesai atau jatuh tempo. Tidak
adanya pengelola pada kawasan ini menjadikan kawasan ini mudah untuk
dirambah. Hal ini terjadi akibat kurangnya kontrol dan pemantauan dari instansi
yang berwenang. Pemerintah daerah lebih tertarik pada investasi perusahaan besar
yang dianggap dapat menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa
mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan terhadap sumber daya hayati. Jika
hal ini terus berlarut, maka akan mengancam kawasan serta dapat mendorong
masyarakat untuk berpindah pemukiman di kawasan tersebut. Berdasarkan jurnal
penelitian Perlaku Masyarakat Pinggiran Hutan terhadap TNKS di Kecamatan
Gunung Tujuh oleh Agel dan Nurul (2018), perilaku negatif masyarakat yang
melakukan perambahan pada buffer zone dikarenakan masyarakat dengan mata
pencaharian sebagai petani menganggap bahwa masyarakat mengelola lahan
tersebut jauh sebelum TNKS ada dan masyarakat merasa bahwa TNKS merebut
lahan pekerjaan mereka dengan adanya klaim ladang masuk dalam kawasan
TNKS.