Anda di halaman 1dari 3

Result and Discussion

Penulis mengawali pemrosesan data dengan melakukan pemisahan anomali residual dan regional
menggunakan teknik yang disebut multiscale gravity anomaly. Teknik ini diterapkan menggunakan konsep
transformasi wavelet (MAWT) yang dijabarkan oleh Spector dan Grant (2015). Hasil pemisahan anomali
tergambarkan dalam grafik power spectrum pada Gambar…. Semakin landai trend utama grafiknya,
anomali gravitasi dari kedalaman dangkal semakin tercerminkan. Sebaliknya, grafik akan menunjukkan
anomali dari zona yang lebih dalam apabila memiliki gradien lebih curam. Dengan teknik multiscale gravity
anomaly, peneliti membuat model anomali untuk kedalaman 1 km (Gambar 4a), 3 km (Gambar 4b), 8 km
(Gambar 4c), 15 km (Gambar 4d), dan 26 km (Gambar 4e). Gambar 4a menunjukkan adanya frekuensi
tinggi pada anomali gravitasi yang banyak dikontrol oleh litologi permukaan, seperti singkapan batuan
beku dan lapisan-lapisan berumur muda. Gambar 4b dan 4c menggambarkan anomali yang bersumber
dari upper crust. Keberadaan granit pembawa mineral, ditunjukkan dengan pola anomali rendah di kedua
gambar ini. Anomali ini dapat menjadi salah satu indikator untuk mendelineasi granit yang terkubur di
bawah permukaan. Namun, perlu diperhatikan bahwa anomali rendah dapat juga berasosiasi dengan
strata sedimen lokal yang berusia Mesozoikum – Kenozoikum, sehingga diperlukan adanya perlakuan
khusus sebelum melakukan delineasi litologi granit. Sementara itu, intrusi granit yang lebih dalam, tampak
pada anomali residual berkedalaman 15 km, dengan arah NE-SW. Sumber intrusi granit ternyata
bersumber dari lower crust, tergambarkan pada pola anomali berkedalaman 26 km (Gambar 4e). Pola
anomali ini menggambarkan dimensi granit yang cukup besar. Sementara itu, Gambar 4f menunjukkan
superposisi dari semua anomali gravitasi, baik anomali residual maupun regional. Gambar ini dapat
menjadi dasar bagi estimasi kedalaman lapisan moho di area penelitian.

Teknik kedua yang dilakukan oleh penulis adalah Multiscale Edge System (Gambar 6). Dalam metode ini,
penulis menerapkan metode directional gradient yang dikombinasikan dari hasil multiscale gravity
anomaly. Penulis melakukan delineasi pada kelurusan anomali yang tampak dari hasil multiscale gravity
anomaly pada gambar 4a-4e. Secara umum terlihat bahwa anomali gravitasi dari kedalaman 3 km hingga
26 km menampakkan pola berarah tenggara (NE) dan baratdaya (NW). Pola ini berhubungan dengan
fracture serta zona lemah akibat subduksi lempeng samudera Pasifik berarah NW, dan kolisi antara
Lempeng Tibet dan Lempeng Yunan (berarah NE) di wilayah Nanling Range. Semakin dangkal, distribusi
fracture akan terlihat semakin padat dan bentuknya makin terfragmentasi. Akibat kondisi tektonik
regional tersebut, kelurusan singkapan granit pun mengikuti arah lineasi zona lemah, yaitu NE dan NW.
Karenanya, keberadaan endapan mineral di Nanling Range pun umumnya terletak pada orientasi yang
sama. Dari hasil multiscale edge system, terlihat bahwa sebagian besar endapan mineral terletak pada
kelurusan-kelurusan anomali gravitasi. Kluster endapan mineral umumnya terdapat di area perpotongan
lineamen, sehingga wilayah tersebut sebaiknya diperhatikan dalam proses eksploitasi mineral. Penulis
menginterpretasi lineamen fracture dan patahan pada area dalam (15-26 km) berfungsi sebagai jalur
magma dan fluida magmatik menuju upper crust. Adapun lineamen fracture pada area dangkal (3-8 km)
merupakan lokasi terendapkannya mineral ekonomis.

Keberadaan mineral W-Sn umumnya berasosiasi dengan granit yang bersifat asam di Distrik Nanling.
Karena itulah, sebagai upaya tambahan untuk mengeksplorasi keberadaan source mineral, penulis
mencoba mengeksplor keberadaan intrusi granit yang terkubur dan tidak tampak di permukaan. Untuk
tujuan ini, penulis menganalisis batas dari granit terkubur tersebut baik melalui model 2D dan model 3D.
Analisis 2D diimplementasikan menggunakan teknik analisis singularitas (Chen et. al., 2015), dengan
maksud memperoleh gambaran beresolusi tinggi untuk menginterpretasi keberadaan granit terkubur
(Gambar 8). Pada analisis singularitas, daerah dengan densitas rendah ditunjukkan oleh nilai α >2. Melalui
konsep tersebut, peneliti mengeplot klosur kontur bernilai 2 untuk mengestimasi keberadaan granit
terkubur (Gambar 8b). Setelah meng-overlay hasil kontur tersebut dengan peta geologi dan koordinat
persebaran mineral, diketahui bahwa ternyata endapan mineral W-Sn lebih banyak terdapat di area granit
terkubur, dan kluster mineral W-Sn lebih banyak ditemukan pada singkapan granit berukuran kecil
(Sebagai contohnya, area XQQ/ Xianghualin, Qitianling, dan Qianlishang). Akan tetapi, temuan ini masih
perlu divalidasi dengan metode geofisika lain seperti metode MT atau seismik.

Sementara itu, inversi 3D dilakukan dengan memfokuskan target penelitian di area XQQ. Inversi
dilaksanakan dengan terlebih dahulu mereduksi efek regional akibat diskontinuitas Moho, dengan sel
mesh berukuran 2.5 x 2.5 x 2.5 km. Berdasarkan statistik densitas batuan pada subbab sebelumnya,
penulis memilih rentang nilai kontras densitas constrain antara -0.1 g/cm3 hingga 0.1 g/cm3. Hasil lateral
dari proses inversi ini tergambarkan pada Gambar 10b, dengan model awal pada Gambar 10c, dan Gambar
10d sebagai anomali residual antara 10c dan 10d. Adapun hasil inversi 3D dari penelitian ini dapat diamati
slice-view-nya pada Gambar 10e, dengan visualisasi pluton granit area XQQ yang dapat dilihat dari Gambar
10f. Model 3D pada Gambar 10e menunjukkan bahwa singkapan granit di bawah permukaan XQQ ditandai
oleh kontras densitas negatif. Terdapat pula fitur berkontras densitas positif yang mencirikan adanya
strata sedimen Palaeozoikum (host rock). Keberadaan kontras densitas negatif mengindikasikan bahwa
pluton XQQ meluas hingga kedalaman >15 km. Dari hasil visualisasi 3D, terlihat bahwa pluton granitik
berkemungkinan saling menyambung pada kedalaman middle crust hingga lower crust. Granit Qitianling
meluas hingga kedalaman >30 km (kedalaman Moho), dan telah dibuktikan keberadaannya oleh Li et.al
(2014) melalui survei seismik. Zhao et.al. (2012) telah menjelaskan proses pembentukan granit di bawah
area Qitianling melalui serangkaian studi geokimia isotop.

Selain mengestimasi sebaran granit, penulis juga mencoba menganalisis hubungan granit di Nanling Range
dengan zona diskontinuitas moho. Kedalaman permukaan lapisan Moho di Nanling Range berkisar sekitar
39 km. Variasi moho dikalkulasi menggunakan metode Parker-Oldenburg. Anomali gravitasi regional yang
menggambarkan trend dari diskontinuitas Moho ini diperoleh menggunakan metode MAWT, dengan
memisahkan anomali berfrekuensi rendah (residual). Berdasarkan peta topografi Moho (Gambar 11),
dapat disimpulkan bahwa sebagian besar singkapan granit terdapat di area depresi Moho, sementara
beberapa pluton granitic terdistribusi di wilayah pengangkatan Moho. Kesimpulan menarik dari analisis
lapisan moho terhadap sebaran granit ini yaitu: 1). Daerah pengangkatan Moho (Hengyang, Jian,
Ganzhou), kurang berasosiasi dengan endapan mineral polimetalik W-Sn disebabkan hanya terdapat
sedikit granit di area ini; 2). Area depresi mantel (daerah pegunungan Yuechengling, Zhuguangshan)
menunjukkan sedikit keberadaan endapan W-Sn di bagian tepi, namun endapan tersebut jarang
ditemukan di bagian tengah; 3). Keberadaan endapan W-Sn tampak jelas di zona variasi Moho menengah
(kedalaman 35 km), seperti di Patahan CCL. Zona variasi menengah ini merupakan wilayah yang
memfasilitasi berkembangnya patahan dan fracture, sehingga magma dan fluida pembawa mineral bijih
tambang dapat mengintrusi menuju permukaan kerak, untuk membentuk granit atau endapan mineral
W-Sn.

Conclusion

Survei gravitasi dapat menjadi sarana yang baik untuk menginvestigasi struktur geologi yang berhubungan
dengan endapan polimetalik W-Sn di Nanling Range. Metode pemrosesan lanjut data gravitasi (MAWT,
analisis singularitas, inversi 3D) dapat membantu menganalisis fitur geologi, seperti multiscale edge
system, model 2D dan 3D dari granit terkubur, serta kondisi topografis lapisan Moho. Mineralisasi
polimetalik W-Sn di Nanling Range dikontrol oleh lineamen patahan atau fracture bawah permukaan,
keberadaan granit terkubur, serta zona variasi Moho.