Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEPERAWATAN PERKEMIHAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HYDRONEPHROSIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok 1A

Pada Mata Kuliah Sistem Reproduksi Semester Enam A

Yang diampu oleh Ns. Sri Widodo., S.Kep., M.Sc

Disusun Oleh :

1. Nabila Puspa N (G2A016001)


2. Hilmalana Saparudin (G2A016002)
3. Hadi Zulkarnain (G2A016003)
4. Widya Tri Ikrarta (G2A016004)
5. Ira Dwi Patmawati (G2A016005)
6. Muhammad Reza (G2A016006)
7. Devi Novianasari (G2A016007)
8. Titis Wahyu S (G2A016008)
9. Dew Retno S (G2A016009)

PROGAM SARJANA ILMU KEPERAWARTAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

TAHUN PELAJARAN 2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat-Nya maka
penyusun dapat menyelesaikan penyusunan tugas seminar yang berjudul “ASUHAN
KEPERAWATAN HYDRONEPHROSIS”.

Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata pelajaran Sistem Perkemihan di Universitas Muhammadiyah
Semarang.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tak
terhingga kepada :

1. Ns. Sri Widodo., S.Kep., M.Sc selaku dosen pengampu pada mata kuliah Blok PKPI.

2. Keluarga yang selalu mendukung penyusun.


3. Semua pihak yang ikut membantu penyusunan “MAKALAH”, yang tidak dapat
penyusun sebutkan satu persatu.

Kami merasa masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik
dan saran dari semua pihak sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah
ini.

Semarang, 15 April 2019

Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Judul....................................................................................................................... i
Kata Pengantar...................................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................................ iii
BAB I Pendahuluan.............................................................................................................. 1
1. 1 Latar Belakang........................................................................................................... 1
1. 2 Tujuan........................................................................................................................ 2
BAB II Tinjauan Pustaka.......................................................................................................... 3
2.1 Definisi hidronefrosis................................................................................................ 3
2.2 Klasifikasi hidronefrosis............................................................................................ 3
2.3 Etiologi hidronefrosis................................................................................................ 4
2.4 Patofisiologi hidronefrosis......................................................................................... 5
2.5 Manifestasi Klinis hidronefrosis................................................................................ 6
2.6 Penatalaksanaan hidronefrosis.................................................................................... 7
2.7 Penatalaksanaan hidronefrosis................................................................................... 8
2.8 Komplikasi hidronefrosis........................................................................................... 9
BAB III Asuhan Keperawatan.............................................................................................. 11
3.1 Asuhan Keperawatan Umum.................................................................................... 12
3.2 Asuhan Keperawatan Kasus..................................................................................... 17
Daftar Pustaka
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hidronefrosis adalah Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik, sehingga
tekanan diginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih, tekanan balik akan mempengaruhi
kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi disalah satu ureter akibat adanya batu atau kekakuan, maka hanya satu
ginjal saja yang rusak. (Smeltzer & Bare, 2002).
Penyebab umum Hydronephrosis termasuk ureteroceles, katup uretra posterior dan batu
ginjal. Jika USG bayi Anda menunjukkan tanda-tanda masalah ini, Anda akan diberikan
informasi tentang kondisi dan bagaimana hal itu dapat diobati.
Penyakit ginjal masih merupakan penyakit yang sering ditemui di Indonesia. Menurut
PERNEFRI Perhimpunan Nefrologi Indonesia), penduduk Indonesia yang menderita Penyakit
Ginjal Kronik (PGK) adalah sebanyak 8,6%. Penyakit ginjal sendiri bermanifestasi dalam 2
bentuk yaitu Penyakit Ginjal Kronik dan Gangguan Ginjal Akut atau Acute Kidney Injury
(AKI).
Prognosis dari Hydronephrosis sangat bervariasi, dan tergantung dari kondisi yang
mengawali terjadinya Hydronephrosis, unilateral atau bilateral dari ginjal yang
terserang Hydronephrosis, fungsi ginjal yang tersisa, durasi terjadinya Hydronephrosis, dan
apakah Hydronephrosis terjadi pada ginjal yang sedang masih dalam masa pertumbuhan pada
bayi atau pada ginjal yang sudah matang. Kasus bilateral Prenatal Hydronephrosis pada prenatal
atau bayi yang ginjalnya masih berkembang dapat menghasilkan prognosis buruk jangka
panjang, yang berakibat pada kerusakan ginjal permanen meskipun obstruksinya sembuh pada
saat postnatal (Onen, 2007).

1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Hidronefrosis
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan perifer ginjal pada satu atau kedua ginjal
akibatadanya obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik sehingga
tekanan di ginjal meningkat. Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap
kandung kemih dapatmengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks ginjal dan
ureter yang dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal.Apabila obstruksi ini
terjadi di ureter atau kandung kemih, tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal tetapi jika
obstruksi terjadi disalah satu ureter akibat adanya batu atau kekakuan maka hanya satu ginjal
yang rusak.
Hidronefrosis merupakan suatu keadaan pelebaran dari pelvis ginjal dan kalises. Adanya
hidronefrosis harus dianggap sebagai respons fisiologis terhadap gangguan aliran urine.
Meskipun hal ini sering disebabkan oleh proses obstruktif, tetapi dalam beberapa kasus, seperti
megaureter sekunder untuk refluks pralahir, sistem pengumpulan mungkin membesar karena
tidak adanya obstruksi (Arif Muttaqin dan Kumala Sari, 2012).
Hidronefrosis adalah dilatasi pelvis ureter yang dihasilkan oleh obstruksi aliran keluar urin
oleh batu atau kelainan letak arteria yang menekan ureter sehingga pelvis membesar dan terdapat
destruksi progresif jaringan ginjal (Gibson, 20013).

2.2 Etiologi Hidronefrosis


Menurut Kimberly (2011) penyebab dari hidronefrosis adalah sebagai berikut:
1) Hiperplasia Prostat Benigna (BPH)
2) Striktur uretra
3) Batu ginjal
4) Striktur atau stenosis ureter atau saluran keluar kandung kemih
5) Abnormalitas kongenital
6) Tumor kandung kemih, ureter, atau pelvis
7) Bekuan darah
8) Kandung kemih neurogenik
9) Ureterokel
10) Tuberkulosis

3
2.3 Patofisiologis Hidronefrosis
Obstruksi ureter akut oleh batu, bekuan darah, atau kerak papila renalis akan menyebabkan
kolik ureter akibat peningkatan peristalsis ureter. Kolik ureter merupakan nyeri intermitten yang
sering kali sangat berat pada sudut ginjal posterior dan menjalar disekitar pinggang (flank)
menuju daerah pubis. obstruksi unilateral kronis biasanya asimtomatik bahkan pada obstruksi
total dan umumnya berlanjut dengan kerusakan ginjal permanen sebelum terdeteksi. Obstruksi
parsial bilateral kronis memberikan gambaran gagal ginjal kronis progresif, meliputi hipertensi,
kegagalan fungsi tubulus (poliuria, asidosis tubulus renalis, dan hiponatremia), dan timbulnya
batu saluran kemih atau pielonefritis akut. Penanganan pasien tersebut dapat mengembalikan
fungsi tubulus menjadi normal bila dilakukan secara dini. Obstruksi bilateral total meneyebabkan
gagal ginjal akut tipe pascaginjal dan selanjutnya dengan cepat menuju ekmatian bila tidak
segera dikoreksi. Oleh karena itu, keadaan ini termasuk kegawatdaruratan medis(Kimberly,
2011).
Sedangkan menurut Vinay Kumar, dkk (2007) Obstruksi bilateral total menyebabkan
anoria, yang menyebabkan pasien segera berobat. Apabila obstruksi terletak dibawah kandung
kemih, gejala dominant adalah keluhan peregangan kandung kemih. Secara paradoks, obstruksi
bilateral inkomplit menyebabkan poliuria bukan oliguria, akibat terganggunya kemampuan
tubulus memekatkan urin dan hal ini dapat menyamarkan sifat asli kelainan ginjal. Sayangnya,
hidronefrosis unilateral dapat tetap asintomatik dalam jangka lama, kecuali apabila ginjal yang
lain tidak berfungsi karena suatu sebab.

4
Ginjal yang membesar sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemerksaan fisik rutin.
Kadang-kadang penyebab dasar hidronefrosis, seperti kalkulus ginjal atau tumor obstruktif,
menimbulkan gejala yang secara tidak langsung menimbulkan perhatian ke hifronefrosis.
Dihilangkanya obstruksi dalam beberapa minggu biasanya memungkinkan pemulihan total
fungsi, namun seiring dengan waktu perubahan menjadi ireversibel.

2.4 Manifestasi Klinis


Obstruksi akut dapat menimbulkan rasa sakit dipanggul dan pinggang. Jika terdapat infeksi
akan terjadi disuria,menggigil,demam dan nyeri tekan serta piuria akan terjadi. Hematuri dan
piuriamungkin juga ada. Jika kedua ginjal kena maka tanda dan gejala gagal ginjal kronik akan
muncul, seperti:
1. Hipertensi (akibat retensi cairan dan natrium).
2. Gagal jantung kongestif.
3. Perikarditis (akibat iritasi oleh toksik uremi).
4. Pruritis (gatal kulit).
5. Butiran uremik (kristal urea pada kulit).
6. Anoreksia, mual, muntah, cegukan.
7 Penurunan konsentrasi, kedutan otot dan kejang

Manifestasi klinis yang sering muncul pada hidronefrosis unilateral, diantaranya (smeltzer
dan Bare,2002):
1. Aliran urin berkurang
2. Jika infeksi, gejala yang muncul yaitu disuria, menggigil dan nyeri tekan serta pyuria
3. Nyeri kolik pada sisi ginjal yang terkena
4. Mual, muntah, abdomen terasa penuh
5. Nyeri hebat ginjal atau nyeri samar dibagian dipanggu dan pinggang
6. Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis renalis
7. Air kemih dari 10% penderita mengandung darah

5
2.5 Penatalaksanaan Medis
a. Hidronefrosis akut

1) Jika fungsi ginjal telah menurun, infeksi menetap atau nyeri yang hebat, maka air kemih
yang terkumpul diatas penyumbatan segera dikeluarkan(biasanya melalui sebuah jarum yang
dimasukkan melalui kulit).

2) Jika terjadi penyumbatan total, infeksi yang serius atau terdapat batu, maka bisa dipasang
kateter pada pelvis renalis untuk sementara waktu

b. Hidronefrosis kronik

Hidronefrosis kronis diatasi dengan mengobati penyebab dan mengurangi penyumbatan air
kemih. Ureter yang menyempit atau abnormal bisa diangkat melalui pembedahan dan ujung-
ujungnya disambungkan kembali.

Adapun penanganan medis yang diberikan kepada klien hidronefrosis, diantaranya :

1) Nefrotomi

Hal ini dilakukan jika hidronefrosis yang disebabkan karena adanya obstruksi saluran
urin bagian atas yang tidak memungkinkan ginjal mengalirkan urin ke system urinaria bagian
bawah dikarenakan adanya batu, infeksi, tumor, atau kelainan anatomi. Hidronefrosis yang
terjadi pada transplantasi ginjal. Tindakan ini dilakukan dengan memasukkan sebuah kateter
melalui kulit bagian belakang (panggul) ke dalam ginjal. Tujuan dari tindakan ini untuk
mengatasi penumpukan atau pengumpulan urin pada ginjal yang terjadi karena obstruksi yang
menghalangi keluarnya urin.

2) Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)

Merupakan suatu tindakan medis yang menangani renal kalkuli yang menghancurkan
batu ginjal menggunakan getaran dari luar tubuh ke area ginjal. ESWL bekerja melalui
gelombang kejut yang dihantarkan melalui tubuh ke ginjal. Gelombang ini akan memecahkan
batu ginjal menjadi ukuran lebih kecil untuk selanjutnya dikeluarkan sendiri melalui air kemih.
Gelombnag yang dipakai berupa gelombang ultrasonic, elektrohidrolik atau sinar laser.

3) Nefrolitotomi

Perkutanaous Nephrolithotomi merupakan salah satu tindakan minimal invasive dibidang


urologi yang bertujuan mengangkat batu ginjal dengan menggunakan akses perkutan untuk
mencapai system pelviokalises yang memberikan angka bebas batu yang tinggi.

6
4) Stent Ureter

Tindakan ini merupakan alat berbentuk pipa yang dirancang agar dapat ditempatkan di
ureter untuk mempertahankan aliran urin pada penderita obstruksi ureter, memulihakan fungsi
ginjal yang terganggu, dan memperthankan caliber atau patensi ureter sesudah pembedahan.
Stent ini terbuat dari silicon yang bersifat lunak dan lentur.

2.6 Komplikasi Hidronefrosis


Menurut Kimberly (2011) penyakit hidronefrosis dapat menyebabkan komplikasi sebagai
berikut:

1) Batu ginjal
2) Sepsis
3) Hipertensi renovaskuler
4) Nefropati obstruktif
5) Infeksi
6) Pielonefritis
7) Ileus paralitik
7
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
1) Pemeriksaan Laboratorium
Urinalisis Pyura menunjukkan adanya infeksi. Hematuria mikroskopik dapat menunjukkan
adanya batu atau tumor. Hitung jumlah sel darah lengkap: leukositosis mungkin menunjukkan
infeksi akut. Kimia serum: hidronefrosis bilateral dan hidroureter dapat mengakibatkan
peningkatan kadar BUN dan kreatinin. Selain itu, hiperkalemia dapat menjadi kondisi yang
mengancam kehidupan.
2) CT SCAN
3) Pyelography Intravena (IVP)
Pyelography intravena berguna untuk mengidentifikasi keberadaan dan penyebab hidronefrosis
dan hidroureter. Intraluminal merupakan penyebab paling mudah yang dapat diidentifikasi
berdasarkan temuan IVP

8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Asuhan Keperawatan Umum
3.1.1 Pengkajian
A. Anamnesa
1. Identitas Klien
2. Keluhan Utama
Keluhan yang dirasakan px biasanya nyeri pada daerah perut bagian bawah tembus pinggang
3 Riwayat kesehatan :
a. Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat pasien terdahulu mungkin pernah mengalami penyakit batu ginjal, tumor,
pembesaran prostat, ataupun kelainan kongenital.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang ialah status kesehatan klien saat ini seperti klien berkemih
sedikit tergantung periode penyakit, nyeri saat berkemih, nyeri panggul.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga pasien ada yang menderita penyakit polikistik ginjal herediter, diabetes
mellitus, serta penyakit ginjal yang lain.
B. Pemeriksaan Fisik
C. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
1) Urinalisis : Pyura menunjukkan adanya infeksi. Hematuria mikroskopik dapat menunjukkan
adanya batu atau tumor, Volumenya <400 ml/ hari dalam 24-28jam setelah ginjal rusak, Warna
urin Kotor, terdapat sedimen kecoklatan yang menunjukkan adanya darah, mioglobin, dan
porfirin.
b. Radiodiagnostik
1) USG abdomen
Berfungsi sebagai tes skrining pilihan untuk menetapkan diagnosis dan hidronefrosis.
2) IVP
Pyelography intravena berguna untuk mengidentifikasi keberadaan dan penyebab hidronefrosis
dan hidroureter. Intraluminal merupakan penyebab paling mudah yang dapat diidentifikasi
berdasarkan temuan IVP
3.1.2 Analisis Data
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
DO : Obstuksi Aliran Urin Nyeri Akut
Klien tampak meringis
Pernafasan klien cepat ↓
Tamnpak gelisah Tekanan saluran Kemih
1 Skala nyeri klien 8 ↓
DS : Kolik renalis/nyeri pinggang
Klien mengatakan ↓
nyeri di bagian Nyeri Akut
pinggang
DO : Hidronefrosis Gangguan Eliminasi Urin
Urin klien kurang dari ↓
400 ml/ hari dalam 24- Refluks urin ke ginjal
28jam ↓
Warna urin klien kotor Retensi urin
2
(coklat) ↓
DS : Gangguan pola eliminasi
Klien mengatakan urin
urinnya yang keluar
sedikit
3 DO : Obstruksi aliran urin Ketidakseimbangan nutrisi
Nafas klien berbau ↓ kurang dari kebutuhan
ammonia Kerusakan ginjal tubuh
Klien hanya ↓
menghabiskan makan Kegagalan ginjal membuang
¼ porsi limbah metabolic
BB klien menurun ↓
dari 69 menjadi 50 Pe ureum dalam darah
DS : ↓
Klien mengatakan Di sis. Pencernaan
tidak mau makan ↓
Klien merasa mual Anoreksia, mual, muntah
dan muntah
DO : Hidronefrosis unilateral
Suhu Badan klien ↓
0
37,9 C Terdapat obstruksi
Hasil pemeriksaan lab ↓
darah : peningkatan Refluk urin ke ginjal
leukosit, keratin ↓
4 menurun Peningkatan jumlah urin di
Diagnose ginjal
Hidronefrosis ↓
DS: Kontaminasi kuman
Klien merasa demam ↓
Klien merasa lemas Risiko Infeksi
dan lemah

3.1.3 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri Akut berhubungan dengan peningkatan jumlah volume urin pada ginjal

2. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan perubahan jumlah urin

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual,
muntah

4. Resiko infeksi berhubungan dengan depresi pertahanan imunologi sekunder terhadap uremia

3.1.4 Intervensi Keperawatan


Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Nyeri akut b/d Peningkatan NOC : NIC :
jumlah volume urin pada
a. Pain level a) Lakukan pengkajian nyeri
ginjal b. Pain control secara komprehensif
KH : termasuk lokasi,
Mampu mengontrol nyeri karakteristik, durasi,
Melaporkan bahwa nyeri frekuensi, kulitas, dan
berkurang dgn factor presipitasi
menggunakan manajemen
b) Observasi reaksi
nyeri nonverbal
Mampu mengenali nyeri c) Kaji kultur yang
Menyatakan rasa mempengaruhi nyeri
nyamansetelah nyeri
d) Evaluasi pengalaman nyeri
berkurang masa lampau
e) Control lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
f) Kaji tipe dan sumber nyeri
g) Berikan analgetik
h) Lakuakn pengobatan non
farmakologik
Gangguan pola eliminasi urin NOC NIC:
b/d perubahan jumlah urin a) urinary elimination (a) Memenatau asupan dan
b) urinary continuece keluaran
kriteria hasil: (b) Memntau tingkat distensi
intake cairan dalam kandung kemih dengan
rentang normal palpasi dan
kantung kemih secara perkusimeransang reflex
penuh kandung kemih
tdak ada residu urine (c)
> Masukan kateter kemih
100-200cc (d) Menyediakan penghapusan
balance cairan seimbang privasi
Intoleransi aktifitas b/d NOC NIC
penurunan aktivitas a. alergiy conservation Energy management
b. self care:ADL (a) Obserpasi adanya batasan
Kriteria hasil: klien dalam beraktivitas
Berpartisipasi dalam
(b) kaji adnya faktor yang
aktivitas fisik tanpa disertai menyebabbkan kelelahan
peningkatan tekanan darah
(c) monitor nutrisi dan sumber
nadi dan pernafasan energi yang adekuat
mampu melakukan
(d) monitor akan adanya
aktivitas sehari-hari kelelahan fisik dan emosi
secara berlebih
Activity terapy
(a) bantu klien untuk
mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
(b) bantu untuk memilih
aktivitas konsisiten yang
sesuai dengan kemamuan
fisik dan psikologis
(c) Bantu untuk mendapatkan
alat bantuan aktivitas
(d) Kolaborasi dengan tenaga
rehabilitasi medic dalam
merencanakan program
terapi yang tepat
Ketidakseimbangan nutrisi NIC NIC
kurang dari kebutuhan tubuh
a) Nutritional status: food Nutrition management
b/d anoreksia, mual, muntah and fluid intake (a) kaji adanya alergi
makanan
KH: (b) kaji kemampuan pasien
adanya peningkatan berat untuk mendapatkan nutrisi
badan sesuai dengan tujuan yang dibutuhkan
mampu mengidentifikasi (c) yakinkan diet yang
kebutuhan nutrisi dimakan mengandung
adanya keinginan untuk tinggi serat
makan (d) monitor jumlah nutrisi dan
yakinkan diet yang kandungan kalori
dimakan klien Nutrition monitring
mengandung tinggi serat (a) berikan informasi tentang
untuk mencegah konstipasi kebutuhan nutrisi
(b) kalaborosi dengan ahli gizi
untuk menentukan jumlah
kalori dan nutrisi yang
dibutuhkan pasien
(c) BB pasien dalam batas
normal
(d) monitor adanya penurunan
berat badan
(e) onitor lingkungan selama
makan
(f) monitor mual dan muntah
(g) Monitor kalori dan intake
nutrisi
Resiko infeksi berhubungan NOC NIC
dengan depresi pertahanan
a. Risk control Knowledge Infection Control
imunologi sekunder terhadap Kriteria Hasil : (a) Pertahankan teknik
uremia Identifikasi risiko infeksi aseptik’
Menjaga kebersihan
(b) Cuxi tangan setiap
lingkungan sebelum dan sesudah
Menggunakan universal tindakan keperawatan
precaution dalam
(c) Gunakan baju, sarung
melakukan tindakan tangan sebagai alat
keperawatan perlindung
Melakukan strategi
(d) Gunakan kateter intermiten
control infeksi untuk menurunkan infeksi
kandung kemih
(e) Tingkatkan intake nutrisi
(f) Kolaborasi : Berikan terapi
antibiotik
DAFTAR PUSTAKA

De Jong, Sjamsuhidayat. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. 3. Jakarta: EGC

Doenges,Marilyn E,dkk.2010.Nursing Care Plans.Ed.8.USA : Davis Plus Mitchell.2006.Buku


Saku Patologis Penyakit Ed.7.Trans:Andry Hartono.Jakarta:EGC

Kumar, Vinay, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins, Vol. 2, ed. 7. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika.

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Ed. 8. Jakarta: EGC