Anda di halaman 1dari 13

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

Nama Sekolah : SMKN 1Mandau


Mata Pelajaran : Produktif Gambar Bangunan
Kelas/Semester : XII GB / 1
Pertemuan ke :5-6
Alokasi Waktu : 4 x 45 menit
Standar Kompetensi : 14. Menerapkan desain interior bangunan
Kompetensi Dasar : 14.3. Menentukan komposisi bentuk interior bangunan.

Indikator : Memahami komposisi bentuk interior bangunan.

I. Tujuan Pembelajaran :
A. Nilai Akademik
1. Siswa dapat menjelaskan pengertian Komposisi bentuk interior bangunan
2. Siswa dapat menjelaskan Macam-macam bentuk
3. Siswa dapat menjelaskan Macam – macam bentuk Komposisi

B. Nilai Karakter
1. Menanamkan nilai religius
2. Menanamkan nilai kreatif
3. Menanamkan nilai rasa ingin tahu
4. Menanamkan nilai disiplin
5. Menanamkan nilai tanggung jawab

II. Materi Pembelajaran


KEGIATAN BELAJAR III

PERINSIP DESAIN SEBAGAI ELEMEN KOMPOSISI BENTUK

A. PENGERTIAN BENTUK

Menurut vitivirus, tidak ada istilah bentuk. Bentuk bagi vitivurus, bila mau di
kaitkan dengan fungsi/utilitas, bentuk merupakan gabungan antara firmitas
( thecnic ) dengan venustas ( beauty/delight )( saliya”99).

Obyek dalam persepsi kita memiliki wujud/ujud (sha ) ( abecrombie, 1984 : 37


Wujud merupakan hasil konfigurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi bentuk (
ching, 1979 : 50 )

1. Ciri-ciri visual bentuk

Ciri-ciri pokok bentuk, dipengaruhi oleh keadaan bagaiman cara kita


memandangnnya.Bentuk dapat dikenali karena ia memiliki ciri-ciri visual yaitu ( ching,
1979):

a. Wujud , adalah hasil konfugurasi tertentu dari permukaan-permukaan dan sisi-


sisi bentuk.
b. Dimensi , dimensi suatu bentuk adalah panjang, lebar, tinggi. Demensi-demensi
ini menentukan proporsinya. Adapun skalanya di tentukan oleh perbandingan
ukuran relatifnya terhadap bentuk-bentuk lain di sekelilingnya.
c. Warna, Warna adalah atribut yang paling mencolok yang membedakan suatu
bentuk terhadap lingkunganya. Warna juga mempengaruhi bobot visual pada
bentuk.
d. Tekstur, adalah karakter permukaan suatu bentuk. Tekstur mempengaruhi
perasaan kita pada waktu menyentuh, juga pada saat kualitas pemantulan
cahaya menimpa permukaan benda tersebut.
e. Posisi, adalah letak relatif suatu bentuk terhadap suatu lingkungan atau medan
visual.
f. Orientasi, adalah posisi relatif suatu bentuk terhadap bidang dasat, arah mata
angin atau terhadap pandangan seseotang yang melihatnya.
g. inersia visual, adalah derajad konsentrasi dan stabilitas suatu bentuk. Inersia
suatu bentuk tergantung pada geometri dan orientasi relatifnya terhadap bidang
dasar dan garis pandangan kita.

Dengan penghayatan terhadap wujud kita bisa mendapatkan kepuasan.


Wujud dapat menawan perhatian kita, mengundang keingintahuan memberikan
sensasi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dalam berbagai cara. Ada
wujud yang memuat pesan khusus, ada yang membuat kita langsung mengerti
bahkan ada yang tidak sama sekali dengan atau tanpa penjelasan wujud tidak dapat
di pertentangkan. ( Abrecombie 1984 ).

Sebagai contoh dengan dimensi dan ukurannya, piramid adalah suatu wujud
yang mempunyai suatu kekuatan. Tentunya efektifitasnya di perkaya oleh
pengulangan sejarah dan oleh kekayaan akan asosiasi-asosiasinya yang
terakumulasi ( terkumpul ). Bagi masyarakat mesir, yang mengenalnya sebagai
transfotmasi ideal dan agung dari gundukan makam biasa, yang mempercayai
sebagai jaminan keabadian pharaoh dan yang melihat lapisan atapnya yang bekilat
memantulkan cahaya langsung yang pertama dari matahari terbit, sebagai imaji
kedewaan dan ketuhanan bagi mereka jelas, piramid memiliki arti yang tidak bisa
kita dapatkan lagi saat ini.

Olblesik adalah salah satu bentuk yang memiliki daya tarik. Oblesik hampir
selalu menarik perhatian. Tidak dapat di pungkiri lagi bahwa oblesik
melambangkan’ lingga’. Tetapi akan berarti asosiasi ini dilihat sebagai sumber daya
teriknya.

2. Ekspresi Bentuk

Ekspresi bentuk adalah apa yang kita lihat menurut pengaruh atau pengalaman
sebelumnya ( smithies, 1984 ). Oleh karena itu setiap orang memiliki latar belakang dan
pengalaman yang berbeda-beda, maka tanggapan terhadap ekspresi yang dimunculkan oleh
subyek juga akan berbeda-beda. Setiap kerangka arsitektural senantiasa mengandung
ekspresi sebagai sebuah prinsip.

Ekpresi dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek yakni Fungsi. Fungsi dapat
melahirkan bentuk yang ekspresif misalnya kita membuat sebuah lumbung padi dengan
menitik beratkan pada pemenuhan fungsi, maka akan muncul bentuk lumbung padi yang
dapat menghindari terjadinya pembusukan padi, menghindari gangguan tikus dan
sebagainya.

Penonjolan struktur sebagai elemen estetis pada sebuah bangunan dapat melahirkan
bentuk yang ekspresif pula. Budaya juga mempengaruhi ekspresi Misalnya pada bangunan
tradisional. Ekspresi yang di munculkan merupakan hasil tampilan budaya.

3. Teori Gestalt tentang Ekspresi

Para psikologi Gestalt menduga bahwa terdapat sebuah pengalaman langsung dari
kualitas ekspresi dalam persepsi terhadap garis-garis, bidang-bidang, volume ataupun
massa. Mereka merumuskan bahwa pengalaman-pengalaman ini bukan hasil dari asosiasi
intelektual melainkan hasil dari sebuah gaung antara proses neurologis (syaraf) dan pola-
pola lingkungan. Jadi bangunan di katakan hidup, tenang, atau berat bukan karena asosiasi
antara pola-pola yang ada sekarang dengan rujukan tetapi karena proses biologis dalam
otak kita – konsep Isomorphism Gestalt (Lang, 1987).

Menurut interpretasi psikologi dari Teor Gestalt tentang proses persepsi visual,
menyatakan bahwa ’garis’(line) dan ’bentuk’(form) dari bangunan mengkomunikasikan
makna-makna secara langsung melalui garis itu sendiri atau bidang (Lang, 1987). Contoh-
contoh dari penerapan teori ini ada pada Crisler Building, ekspresi: menjulang tinggi
(soaring), Sydney Opera house, ekspresi: gelembung (billowing), menunjukan ekspresi:
statis. Ketiganya merupakan kualitas ekspresif dari konfigurasi-konfigurasi spesifik.
Interpretasi alternatif dari teori Gestalt adalah bahwa ekspresi-ekspresi ini adalah hasil dari
asosiasi-asosiasi yang di pelajari (Lang, 1987).

B. BENTUK SESUAI TEMA DESAIN SEBAGAI ELEMEN KOMPOSISI

Berikut ini diurakan mengenai bentuk yang sesuai dengan tema desain sebagai elemen
komposisi betuk yang meliputi : Keseimbangan, Irama, tekanan, skala, proporsi, urut-
urutan, unity atau kesatuan.

1. Keseimbangan
Perinsip utama dalam segala macam komposisi adalah keseimbangan,
Keseimbangan merupakan suatu kualitas nyata dari setiap obyek dimana perhatian
visual dari 2 bagian pada 2 sisi dari pusat keseimbangan (pusat perhatian) adalah
sama.

Kenyamanan estetika yang dihasilkan oleh keseimbangan nampaknnya


memiliki sesuatu yang berhubungan dengan kualitas gerakan mata sewaktu
bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain menemukan daya tarik yang sama pada
separuh bagian kiri dan separuh bagian kanan seperti bandul lonceng yang
berayun, kemudian akhirnya berhenti dengan puas pada titik pertengahan antara
kedua ujung yang eksterm dihasilkan suatu peerasaan nyaman dan tenang yang
sepontan

Keseimbangan akan menunjukan rasa adanya berat atau bobot yang


dihasilkan suatu obyek yang dilihat oleh mata, secara visual berat suatu objek
ditentukan yang dilihat oleh mata. Secara visual dihasilkan obyek tersebut.
Misalnya batu alam atau batu bata dalam jumlah besar akan nampak berat dan
menguasai seluruh perhatian, dengan demikian berat visual akan mempengaruhi
keseimbangan komposisi. Selain itu komposisi juga akan dipengaruhi oleh cahaya
dan warna,

Ada 3 jenis keseimbangan dalma komposisi, yaitu :

a. Keseimbangan Formal (simetri) atau bisimetri

Simetri memiliki karakter formal. Pengaturannya adalah seimbang terhadap


garis tengah sumbu, axis. Tiap elemen diulang sepasng-sepasang masing-masinng
dikiri dan kanan garis tengah sumbu tadi.Keseimbangan simetri banyak terlihat
pada arsitektur tradisional karena sangat disukai pada jamannya.

Namun kelemahan dalam komposisi simetri adalah adanya kecenderungan pada


keterbatasan serta tidak imajinatif dalam pelaksanaan. Terlalu banyak pasangan
yang sama dalam suatu komposisi dapat menjadikan komposisi itu statis dan
monoton. Simetri itu dapat dibuat menjadi imajinatif dan kompleks bila simetri itu
dinamis.

b. Keseimbangan informal atau asimetri


Sering disebut juga dengan keseimbangan aktif, keseimbangan ini lebih bebas
daripada keseimbangan simetri, karena pengaturannya adalah sembarang dan tidak
kaku. Disini tidak ada garis tengah yang membagi komposisi dalam 3 bagian yang
sama. Karena komponen desain berbeda, baik dalam bentuk dan warna, tetapi
nampaknya sama berat.

Keseimbangan ini sangat menarik karena dituntut imajinasi lebih banyak dan
lebih sukar untuk dicapai. Karena itu keseimbangan ini lebih banyak dalam
arsitektur modern atau kontemporer. Seperti pada permainan papan keseimbangan
(jungkat-jungkit) , obyek yang lebih berat harus lebih dekat dengan pusat
keseimbangan daripada obyek yang lebih ringan. Atau dalam komposisi warna,
sedikit warna cerah dapat seimbang dengan sejumlah besar warna suram. Tidak ada
rumus tertentu untuk mendapatkan keseimbangan informal, selain bahwa
keseimbangan informal memasukkan unsur kekuatan (energi), spirit dan irama.

c. Keseimbangan radial

Adalah simetri yang mengelilingi suatu titik pusat, Semua elemen didesain
mengelilingi titik pusat. Type keseimbangan ini jarang digunakan dalam ruang
ataupun bentuk tetapi dapat sangat efektif dan menarik dalam banyak bentuk,
misalnya, fixure lampu, meja bulat, pola-pola tekstil dsb. Dalam ruang biasannya
digunakan untuk mencapai ruang yang bertujuan untuk pembijaraan intim

2. Irama

Irama dalam arsitektur merupakan elemen desain yang dapat menggugah


emosi/perasaan yang terdalam. Kesanggupan kita untuk menanggapi irama
tampaknya merupakan pembawaan sejak lahir, contohnya bayi yanng baru lahir
beberapa bulan dapat bereaksi terhadap tepukan tangan, Dalam kenyataan, irama
merupakan proses hidup .

Tujuan adanya irama dalam bangunan adalah untuk mendapatkan kesan


yang lebih menarik serta mengurangi kesan yang membosankan. Tanpa adanya
irama dalam suatu bangunan maka dapat menimbulkan rasa kurang menarik
bangunan tersebut. Demikianlah irama merupakan suatu unsur penting dalam dunia
arsitektur karena merupakan suatu tangggapan emosi yang ingin disampaikan oleh
arsitek dalam bangunan.
Dalam seni Arsitektur Irama dapat diperoleh dengan :

1. Pengulangan

a. Garis

b. Bentuk.

Misalnya: jendela, kolom, dinding dsb

c. Tekstur

Misalnya: Kasar, Halus, Kayu, Batu dsb

d. Warna

2. Gradasi / bertahap

a. Dimensi

Yaitu perubahan dimensi secara bertahap

b. Warna

Perubahan dari warna gelap ke terang atau sebaliknya

c. Bentuk

Perubahan bentuk secara bertahap.

3. Oposisi

Adalah pertemuan garis pada sudut siku-siku, misalnya dalam daun pintu,
lemari, dinding dst.

4. Transisi

Transisi adalah merupakan perubahan pada garis-garis lengkung.

5. Radial

Radial adalah irama yang beradiasi pada sentral (axis)

3. Tekanan
Tekanan atau fokal point atau pusat perhatian dalam sebuah komposisi/bangunan
yaitu berupa area yang pertama kali ditangkap oleh pandangan mata, titik tekanan ini
snagat dominan, bagian-bagian (kelompok) lain dari komposisi atau bangunan berkaitan
padanya. Tekanan dapat mencapai melalui perbedaaan yang kontras dalam : Ukuran,
Warna, Tekstur, Keadaan Cahaya, Bentuk, Lokasi Ornamen Arah garis.

Dalam penataan ruang dalam atau interior tekanan dapat berupa penempatan bata
diantara dinding panil. Dinding yang bergambar . Lukisan yang menyolok atau permadani,
dan segala obyek yang menarik perhatian.
. Metode Pembelajaran : Ceramah dan tanya jawab

IV. Kegiatan Pembelajaran


A. Kegiatan awal
o Guru memberi salam, apersepsi dengan mengabsen kehadiran siswa dan motivasi
belajar
o Guru menginformasikan kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran dan materi
ajar
o Guru menjelaskan mengenai pembahasan yang akan dibahas bersamaan
B. Kegiatan inti
o Guru menjelaskan :
Pengertian Bentuk
Pengertian Komposisi
o Guru menjelaskan :
Macam – macam Bentuk
Macam – macam Komposisi
o Guru memberikan pernyataan umpan
o Guru memberikan kesempatan tanya jawab kepada siswa
C. Kegiatan akhir
o Guru bersama siswa membuat kesimpulan hasil belajar
o Guru memberikan pertanyaan secara tertulis kepada siswa untuk mengetahui tingkat
pemahaman siswa.

V. Alat, Bahan dan Sumber Belajar


A. Menata Interior Rumah
B. Ragam Inspirasi Interior dan Eksterior Rumah
C. Modul Gambar Bangunan
D. Majalah / Tabloid Desain Rumah
VI. Penilaian :
A. Teknik : Tes tertulis
B. Bentuk : Subyektif
C. Soal / Instrument :
1. Sebutkan dan Jelaskan 3 (tiga) ciri visual bentuk !
2. Jelaskan definisi fungsi atau utilitas bentuk menurut vitivurus !
3. Sedangkan yang dimaksud dengan ekspresi bentuk adalah

4 Jelaskan apa yang dimaksud dengan Fungsi mempengaruhi Ekspresi bentuk !

5. Sebutkan elemen-elemen dalam komposisi bentuk !

D. Penskoran :
No Kunci Jawaban Skor
1.
a. Wujud , adalah hasil konfugurasi tertentu dari permukaan- 20
permukaan dan sisi-sisi bentuk.
b. Dimensi , dimensi suatu bentuk adalah panjang, lebar, tinggi.
Demensi-demensi ini menentukan proporsinya. Adapun skalanya
di tentukan oleh perbandingan ukuran relatifnya terhadap bentuk-
bentuk lain di sekelilingnya.
c. Warna, Warna adalah atribut yang paling mencolok yang
membedakan suatu bentuk terhadap lingkunganya. Warna juga
mempengaruhi bobot visual pada bentuk.

2. Bentuk mneurut vitivurus, bila mau di kaitkan dengan fungsi/utilitas, 20


bentuk merupakan gabungan antara teknik dengan keindahan.

3. Ekspresi bentuk adalah apa yang kita lihat menurut pengaruh atau
20
pengalaman sebelumnya

4. Fungsi suatu bangunan dapat berpengaruh terhadap bentuk bangunan / 20


ekspresi bentuk bangunan tersebut, sebagai contohnya lumbung padi
yang berfungsi untuk menyimpan padi maka akan memiliki bentuk
yang sedemikian rupa sehingga padi bisa bertahan lama dan terjauh dari
hama.
5. Keseimbangan, Irama, tekanan, skala, proporsi, urut-urutan, unity 20
atau kesatuan.

.
JUMLAH 100

PENILAIAN SIKAP KARAKTER


TABEL PENSKORAN SIKAP KARAKTER

Nilai Karakter
Religius Kreatif Rasa Disiplin Tanggung Jumlah
No Nama Siswa
Ingin Jawab Skor
Tahu
1
2
3
4
5

Pedoman Penskoran :
Skor 1 : kurang
Skor 2 : cukup baik
Skor 3 : baik
Skor 4 : baik sekali
Rumus Nilai Sikap Karakter : Jumlah Skor X 5

Duri , Januari 2015


Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran

ZULFIKAR, S. Pd. MM. ENDRI SUJOKO.ST


NIP 19740828 200212 1 002