Anda di halaman 1dari 17

LEMBAR PENGESAHAN

No. Percobaan : 02/Lab.Sistem Transmisi Radio-2/LTK-01/TK-6B/2015


Judul Percobaan :
Tanggal Percobaan :
Tanggal Penyerahan : 15 Juli 2013
Nama Praktikan : Andriana Marisa L. Butar - Butar
NIM : 1205061004
Kelas : TK – 6B
Group : 1 (Satu)
Nama Partner : 1. Julprida Purba
2. Novelita Sari
3. Monika Gulo
4. Rumiris Tobing
5. Ruli Rahman
6. Sari Dewi
7. Wiwin Sijabat
8. Yenita Harahap

Nilai :

INSTRUKTUR INSTRUKTUR

(Ir. Elferida Hutajulu, MT) (Wiwinta Sutrisno, ST., MT)


DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. 1


DAFTAR ISI ..................................................................................................... 2
AMPLIFIER RF................................................................................................. 3
I.TUJUAN ........................................................................................................ 3
II.DASAR TEORI ............................................................................................... 3
III.PERALATAN DAN KOMPONEN .................................................................. 11
IV.PROSEDUR KERJA ..................................................................................... 11
V.HASIL PENGAMATAN ................................................................................. 14
BAB 6

AMPLIFIER RF

I. TUJUAN
1. Memahami prinsip dan tujuan dari konversi impedansi.
2. Memahami pengoperasian amplifier RF.
3. Mengukur respons frekuensi dari amplifier RF.
4. Melakukan simulasi Bandpass filter, Low noise amplifier, dan Amplifier RF dengan
menggunakan komputer.

II. DASAR TEORI


Dalam perancangan rangkaian frekuensi tinggi, banyak factor-faktor yang tadinya
diabaikan di rangkaian frekuensi rendah harus diperhatikan; sebagai contoh, pengaruh dari
induktansi dan kapasitansi dari kabel dan layout rangkaian.Pengaruh pengaruh ini biasanya
diabaikan dalam perancangan dan penggunaan rangkaian frekuensi rendah. Komponen-
komponen rangkaian yang umum seperti komponen aktif dan pasif dalam rangkaian
frekuensi tinggi akan membuat karakteristik berbeda yang berpengaruh pada
ketidakstabilannya.
Untuk meminimalisir kesulitan dalam merancang rangkaian frekuensi tinggi, cara
terbaiknya adalah dengan memilih komponen-komponen yang tepat untuk digunakan.
Sebagai contoh, jika kita menggunakan komponen-komponen surface-mounted device
(SMD) dalam rangkaian frekuensi tinggi, pengaruh dari kapasitansi dan induktansi dapat
jauh dikurangi. Sama seperti jika SMDs dengan Q tinggi digunakan, pengaruh dari induktansi
ekuivalen dan kapasitansi dapat dikurangi. Dalam tahap pembuatan layout rangkaian, jarak
antar komponen harus diusahakan sependek mungkin.
Disamping pengaruh-pengaruh yang telah disebutkan di atas, banyak faktor-faktor lain
seperti gain tegangan, kestabilan, matching impedansi, dan noise figure harus diperhatikan
dalam merancang. Faktor-faktor ini biasanya diabaikan dalam rangkaian frekuensi rendah.
Karena komponen-komponen rangkaian membuat karakteristik-karakteristik impedansi yang
berbeda tergantung pada frekuensi pengoperasian, karakteristik dari setiap komponen harus
diperhatikan dalam merancang rangkaian. Matching impedansi adalah faktor utama dari
transfer daya maksimum dan ketahanan terhadap noise. Noise figure adalah pengukuran
kemampuan dari ketahanan rangkaian frekuensi tinggi terhadap noise. Tiap-tiap tiga faktor
ini akan berpengaruh pada kerja keseluruhan rangkaian.

Gambar 6-1 Blok diagram dari Amplifier RF

Sebuah modul RF terdiri dari Amplifier RF, mixer, osilator local, modulator, dan
demodulator. Performansi dari modul RF adalah faktor penting sebagai penentu kualitas dari
transceiver.
Gambar 6-1 menunjukkan diagram blok dari amplifier RF yang terdiri dari dua
bandpass-filter dan sebuah amplifer. Bandpass filter pertama menghilangkan frekuensi yang
tidak diinginkan dari sinyal yang diterima antenna. Amplifier digunakan untuk menguatkan
sinyal output dari bandpass-filter. Bandpass-filter kedua digunakan untuk menghilangkan
sinyal yang tidak diinginkan juga. Perbedaan diantara kedua filter ini adalah bandwidth dari
filter pertama lebih lebar daripada filter kedua. Dengan kata lain, nilai Q dari filter pertama
lebih kecil dari filter kedua. Desain ini untuk menghindari atenuasi berlebih ketika sinyal
melewati filter.Jadi, bandpass-filter tidak hanya bekerja untuk menyaring tetapi juga
melakukan matching impedansi.
Amplifier RF bekerja pada frekuensi tertinggi dari receiver. Sensitivitas receiver
bergantung pada kemampuan bekerja amplifier RF. Sebagai tambahan, banyak karakteristik-
karakteristik seperti bandwidth, matching impedansi, gain, dan noise figure (NF) harus
diperhatikan dalam merancang amplifier RF.
Seperti disebutkan di atas, tujuan utama dari matching impedansi adalah untuk transfer
daya maksimum. Dalam rangkaian DC, jika resistansi beban sama dengan sumber resistansi,
daya maksimum akan diantarkan ke beban. Dalam rangkaian AC, daya maksimum akan
diantarkan jika impedansi beban sama dengan sumber impedansi. Karena proses perhitungan
dari matching impedansi rumit, pertama kita menyederhanakan network yang rumit menjadi
rangkaian ekuivalen yang lebih sederhana dengan proses transformasi. Saat ini kita
membahas prinsip dari konversi impedansi ke komponen-komponen pasif.
Dalam rangkain resonansi LC, hubungan terhadap Q sering ditemukan.Kualitas faktor
Q dari komponen reaktif (inductor dan kapasitor) adalah pengukuran kemampuan
menyimpan energy. Q dari sebuah komponen atau rangkaian adalah parameter penting dan
didefinisikan dengan:
Q = energi yang disimpan/ Energi disipasi = daya inductive/daya resistive (6-1)

Gambar 6-2 Rangkaian Ekuivalen dari komponen penyimpan energy

Gambar 6-2(a) menunjukkan rangkaian seri RL dan gambar 6-2(b) menunjukkan


sebuah rangkaian RL pararel. Komponen penyimpan energy Xs dan Xp bisa berupa inductor
ataupun kapasitor. Dari defenisi, nilai Q dari komponen diberikan dalam bentuk
Qs= Is2Xs/Is2Rs = Xs/Rs (6-2)
Qp= (Vp2/Xp)/Vp2/Rp = Rp/Xp (6-3)
Nilai Q adalah parameter penting dalam desain rangkaian. Untuk mengkonversi
rangkaian seri dari gambar 6-2(a) ke rangkaian ekuivalen pararel dari gambar 6-2(b), vice
versus, impedansi dari kedua rangkaian adalahsama. Kita dapat menulis dengan persamaan
Rs + jXs = Rp (jXp)/(Rp+jXp) (6-4)
Atau
Rs + jXs = RpXp2/(Rp2+Xp2) + j(Rp2Xp)/(Rp2+Xp2) (6-5)
Jika rangkaian seri ekivalen dengan rangkaian pararel (konversi pararel ke seri),
komponen resistif dari impedansi seri harus sama dengan komponen resistif dari impedansi
pararel. Begitu juga dengan komponen reaktif harus sama keduanya. dari persamaan
komponen resistif kita dapatkan
Rs = RpXp2/(Rp2+Xp2) = Rp/(1+(Rp/Xp)2) (6-6)
Dari persamaan komponen reaktif, didapatkan
Xs = Rp2Xp/(Rp2+Xp2) = Xp/(1+(Xp/Rp)2) (6-7)
Jika kita anggap Rp/Xp = Qp, maka
Rs = Rp/ 1+Qp2 (6-8)
Xs= Xp/(1+1/Qp2) (6-9)
Jika Qp ≥ 10, maka Xp=Xs. Dari persamaan di atas, kita menyimpulkan bahwa Xp dan
Xs sama ketika Qs ≥ 10 dan Qp ≥ 10 baik pada konversi rangkaian seri ke pararel maupun
pararel ke seri, sebaliknya bagian resistif menjadi lebih lebar dalam konversi seri ke pararel.
Lebih jauh lagi kita dapat memodelkan komponen pasif dengan menggunakan prinsip
dari konversi impedansi. Untuk membangun sebuah model komponen pasif dari inductor
ataupun kapasitor pada frekuensi tinggi, kita dapat menggunakan network analyzer untuk
mengukur frekuensi resonansi dari network, dan menemukan induktansi ekuivalen,
kapasitansi, dan resistansi dari frekuensi resonansi seri untuk kapasitor. Begitu juga halnya,
kita dapat menemukan induktansi ekuivalen, kapasitansi, dan resistansi dari frekuensi
resonansi pararel untuk inductor. Cara lain untuk membuat modeling komponen adalah
dengan mengukur impedansi menggunakan LCR meter. Model bangunan dapat digunakan
untuk mempelajari karakteristik dari komponen rangkaian atau untuk mencatat parameter
yang didapatkan dari model ke sebuah program seperti Pspice, Compact, atau HP EEsof
untuk simulasi komputer.
Secara ringkas, rangkaian-rangkaian tuned pada amplifier RF adalah filter filter
bandpass. Dua faktor penting, matching impedansi dan filter Q, harus diperhatikan dalam
mendesaian rangkaian. Karena impedansi sumber sinyal dan ouput impedansi dari amplifier
RF cukup kecil (biasanya 50Ω), filter Q akan dikurangi oleh mismatch dari impedansi dari
bagian ke bagian (sumber ke filter pertama ke amplifier ke filter kedua). Q yang lebih rendah
menambahkan bandwidth dari filter dan mengurangi kemampuan menyaring receiver. Untuk
mengatasi masalah ini, impedansi yang lebih rendah harus ditambahkan dengan
menggunakan metode konversi impedansi.

Gambar 6-3 Rangkaian tuned Tapped-C


Gambar 6-3 menunjukkan sebuah rangkaian tunedtapped-capasitor dan rangkaian
ekuivalennya. Rangkaian ini menyediakan nilai yang lebih tinggi dari impedansi ekuivalen
untuk Q rangkaian lebih tinggi. Menurut prinsip konversi impedansi, sumber resistansi Rs
dari gambar 6-3(a) ditambahkan dengan resistansi ekuivalen Rin dari gambar 6-3(b), maka
didapatkan Q yang lebih tinggi. Disamping rangkaian tuned tapped-C, rangkaian tuned lain
dengan tapped-induktor (tapped-L) juga bekerja dengan tujuan yang sama.
Rangkaian tuned adalah bandpass filter pada umumnya. Dalam desain rangkain praktis,
sangat sulit mendesain sebuah rangkaian single-tuned dengan respons datar dan roll-off yang
tajam. Dalam kasus seperti itu, rangkaian double-tuned dengan coupling yang sesuai dapat
digunakan untuk meningkatkan performansi dari rangkaian tuned. Rangkaian tuned
pasangan dapat diklasifikasikan dalam tipe-tipe berikut: pasangan kapasitif, pasangan
induktif, pasangan transformer, dan pasangan aktif. Dengan rangkaian pasangan transformer,
sinyal dari coil utama dipasangkan dengan coil kedua.Rangkaian pasangan aktif juga disebut
rangkaian pasangan transistor karena rankaian ini sering didapatkan dengan transistor.
Karena konfigurasi rangkaian dari pasangan kapasitif atau induktif adalah sederhana, kedua
tipe coupling ini biasanya digunakan dalam desain rangkaian dari rangkaian tuned.

Gambar 6-4 Rangkaian double-tuned dengan pasangan induktif

Gambar 6-4 menunjukkan sebuah rangkaian double-tuned dengan pasangan induktif.


Induktor coupling L12 memasangkan input dan output rangkaian resonansi. Nilai optimum
dari inductor coupling ditentukan dengan persamaan
L12= Q1L
Dimana L merupakan nilai induktansi dari setiap rangkaian resonansi, dan Q1 adlah
nilai Q beban. Kedua rangkaian resonansi ini harus diisolasi secara lengkap, yaitu, jarak yang
cukup antara dua coils atau cover pelindung.
Gambar 6-5 Rangkaian filter Bandpass Praktis

Rangkaian dari gambar 6-5 adalah filter bandpass praktis. Rangkaian tuned tapped-C
menambahkan impedansi ekuivalen dan rangkaian Q. tujuan utama dari bandpass filter
adalah menyaring sinyal yang tidak diinginkan pada antenna dan melewatkan frekuensi yang
diinginkan dari 144 MHz ke 146 MHz. karena stage immediate-frequency dari receiver
termasuk sebuah filter Q tinggi, bandpass filter didesain untuk melewatkan bandwidth yang
lebih lebar. Untuk menentukan nilai kapasitor dan inductor, kita anggap fo= 145 MHz dan
BW= 20 MHz, nilai filter Q dapat dihitung dengan
Q= fo/BW = 145/20 = 7,25 (6-14)
Jika impedansi ekuivalen input Rin= 1KΩ, C1=C3, C2=C4 dan L1=L2, nilai
kapasitansi dan induktansi dihitung dengan persamaan di bawah:
C1= 1/2ΠRinBW = 1/2Πx1Kx20x106 = 8 pF (6-15)
L1=1/Ѡo2C = 1/(2Πxfo)2xC1 = 1/ (2Πx145x106)2xC1 = 150,7 nH (6-16)
50Ω
Qp = √(𝑄 2 + 1) (1𝐾Ω) − 1 = 1.3 = ѠoC2R (6-17)

Maka
C2= Qp/ (2Πx145x106)x50Ω = 28,4 pF (6-18)
Untuk filter kedua, nilai induktansi dan kapasitansi dapat ditentukan seperti sikap.
Frekuensi tengah dari kedua filter adalah sama. Nilai Q dari filter kedua lebih besar daripada
filter pertama. Dengan kata lain, filter kedua didesain untuk beroperasi pada bandwidth yang
lebih sempit daripada filter pertama.

Gambar 6-6 Networks Dual-port


Konfigurasi-konfigurasi rangkaian dari amplifier transistor pada umumnya
diklasifikasikan dalam bentuk berikut: Common emitter (CE), common base (CB), dan
common collector (CC). Hal ini dapat dilihat pada gambar 6-6. Biasanya, amplifier CE
berfungsi sebagai penguat tegangan, sebuah amplifier CB adalah buffer arus, dan sebuah
amplifier CC adalah sebuah buffer tegangan. Dalam mendesain sebuah amplifier, faktor-
faktor dari matching impedansi, noise figure, dan kestabilan harus diperthatikan. Selain itu,
hal tersebut merupakan yang paling penting dalam membuat model dari komponen aktif
dalam mempelajari rangkaian frekuensi tinggi. Pemodelan sangat berguna untuk
meningkatkan matching impedansi dan kestabilan. Ini adalah tiga langkah dalam membuat
model dari komponen aktif. Pertama adalah menemukan parameter dc dengan manggambar
kurva karakteristik I-V. Yang kedua adalah mengukur parameter S pada frekuensi tinggi
menggunakan network analyzer. Langkah ketiga adalah mensimulasi dan memodifikasi
parameter yang diukur dengan simulasi komputer.

Gambar 6-7 Mensimulasi rangkaian untuk amplifier low noise


Gambar 6-7 menunjukkan amplifier noise rendah. Dalam sebuah amplifier, level noise
yang kecil dapat menambah sensitivitas receiver. Noise yang amplifier tambahkan ke sinyal
output disebut noise faktor (F). Ketika noise faktor diubah dalam bentuk desibels, maka ia
disebut dengan noise figure (NF) dan ini adalah sebuah perhitungan yang membandingkan
input rasio signal terhadap noise terhadap rasio daya dari signal terhadap noise. Noise figure
dapat dinyatakan dengan:
NF = 10 log [(Si/Ni)/So/No]
= 10 log Si/Ni – 10 logSo/No (6-19)
Dimana Si merupakan daya sinyal input, Ni adalah daya noise input, So adalah daya
sinyal output, dan No adalah daya noise output. Rasio (Si/Ni)/(So/No) disebut noise faktor F
dari amplifier. Dalam sistem aliran, keseluruhan faktor dari noise bisa didapatkan dengan:
Ftotal = F1 + (F2-1)/G1 + (F3-1)/G1G2 + … + Fn-1/G1G2…Gn (6-20)
Dimana G adalah gain-gain daya dan F adalah faktor noise.Ketika gain-gain daya
sangat besar, keseluruhan faktor dari noise nyaris semua dapat ditentukan dari faktor noise
amplifier pertama sebab persaman (6-20) cukup kecil untuk diabaikan.Inilah alasan mengapa
amplifier RF harus menjadi sebuah amplifier noise rendah. Dalam rangkaian gambar 6-7,
inductor L, sebuah radio frequency chock (RFC), digunakan untuk menyediakan gain
tegangan yang besar. Untuk mengatasi masalah matching input dan output dari amplifier,
network analyzer dibutuhkan untuk mengukur parameter S dan kemudian nilai-nilai
impedansi dapat dicari dengan Smith Chart. Berdasarkan nilai-nilai impedansi, kita dapat
melengkapi desain dari rangkaian matching impedansi.

Gambar 6-8 Pensimulasian rangkaian ke Amplifier RF

Gambar 6-8 menunjukkan sebuah rangkaian amplifier RF. Filter bandpass pertama
dibentuk dari kapasitor C1,C2,C3, dan C4, dan inductor L1 dan L2. Transistor dan Resistor
R1 dan R2 membentuk sebuah amplifier aktif. Kapasitor C5, C6, C7, C8, dan inductor L3
dan L4 membentuk sebuah filter bandpass kedua.Induktor L5 dan L6 digunakan sebagai
matching impedansi input dan output berturut-turut. Kedua filter ini memiliki frekuensi yang
sama pada resonansi, tapi nilai Q nya berbeda.
III. PERALATAN DAN KOMPONEN
1. Module KL-93051
2. Module KL-93052
3. Spectrum Analyzer
4. Probe Frekuensi tinggi
5. Generator sinyal RF atau Sistem Test Komunikasi Radio

IV. PROSEDUR KERJA


Percobaan 6-3 Simulasi Bandpass Filter
1. Buka Design Center 6.x for windows dan buka Schematics window
2. Menggunakan perintah-perintah menu Draw, lengkapi rangkaian bandpass filter dari
gambar 6-10
3. Pilih Analysis/Setup/AC Sweep untuk melengkapi setting berikut: AC Sweep Type
= Octave, Start Freq. = 100 MEG, End Freq = 1000 MEG, dan Pts/octave = 101.
Jika sudah, tutup kotak dialog setup.
4. Pilih Analysis/ Simulate/Probe untuk memulai pensimulasian computer. Dari Trace/
Add Traces menu, ketik V(5) / V(1) di Trace Command, dan klik OK.

Gambar 6-10 Pensimulasian rangkaian bandpass filter.

5. Dari Plot / menu x Axis Settings, ganti Data Range ke User Defined, dan atur Start
Freq = 100 MHz dan End Freq = 1 GHz. Respons frekuensi dari filter bandpass akan
tampak pada layar.
6. Dari menu Tools, geser kursor ke the peak point dan tandai frekuensi dan amplitudo
dari puncak dengan menggunakan Tools/ Label/ Marker function. Frekuensi tengah
adalah sekitar 145.00 MHz dan amplitudo mendekati 0.5 V. tandai frekuensi 3 dB
(amplitudo sekitar 0.35 V)
7. Tandai grafik pada gambar 6-15 atau print dengan printer.
Gambar 6-11 Mensimulasi rangkaian Low Noise Amplifier

Percobaan 6-4 Simulasi Amplifier Noise Rendah


1. Buka Design Center 6.x for windows dan buka Schematics window
2. Dengan menggunakan perintah menu Draw, lengkapi rangkaian sesuai gambar 6-11.
Atur V2 = DC3V, dan V1= VSIN dengan amplitudo VAMPL=1 mV, tegangan
offset VOFF = 0, dan frekuensi Freq = 145 MEG
3. Pilih Analysis/Setup/AC Sweep untuk melengkapi setting berikut: AC Sweep Type
= Octave, Start Freq. = 1 MEG, End Freq. = 1000 MEG, Pts/octave = 101, Noise
Analysis = Noise Enable, Output Voltage=V(7), I/V Source= V1, Interval=30.
Kemudian tutup dialog box.
4. Pilih Analysis / Simulate / Probe untuk memulai analisis AC. Dari Trace / menu Add
Traces, ketik V(7)/ V(1) pada Trace Command dan klik OK. Respons frekuensi dari
amplifier noise rendah akan tampil pada layar.
5. Tandai hasil di gambar 6-16 atau print dengan printer.
6. Pilih Window / New untuk membuka window baru. Dari Trace / menu Add Traces,
ketik VdB (INOISE) dan VdB (ONoise) kemudian klik OK. Input dan output daya
noise dari amplifier noise rendah akan tampil pada layar.
7. Tandai hasil di gambar 6-17 atau print dengan printer.
8. Dari menu Plot, ganti AC analysis ke Transient analysis. Dari Trace / menu Add
Traces, ketik V(7) / V(1) in Trace Command untuk mensimulasi respons transient
dari sinyal input dan output.
9. Dari Plot / menu x Axis Settings, ganti Processing Options ke Fourier Data Range
menjadi User Defined, Start Freq = 100 MHz, dan End Freq. = 400 MHz. spectrum
frekuensi dari amplifier noise rendah akan muncul pada layar.
10. Tandai hasil pada gambar 6-18 atau print dengan printer.
V. HASIL PENGAMATAN

Frekuensi yang
diterima (MHz) 130 135 140 145 150 155 160 165 170 174.9

RP1 (dBm) -101 - - - -47,5 -50,8 -51,6 -54,5 -57,0 -59,6


101,8 102,5 103,4
RP2 (dBm) -84,4 -84,3 -87,2 -94,4 -37,9 -43,7 -39,3 -42,7 -45,9 -49,1
RP3 (dBm) -90,6 -95,9 -99,2 - -59,6 -51,2 -45,5 -51,1 -54,6 -58,1
106,6
RF Gain (dB) -40,6 -46,9 -49,2 -56,6 -21,6 -13,2 -7,5 -13,1 -16,6 -20,1
Tabel 6.1 Pengukuran Respon Frekuensi Linear untuk Penguat RF (RF- Level = - 40 dBm)

Catatan : RF Gain = Output Level pada RP3 – Input Level (-40 dBm)

Gambar 1 pada RP1 frekuensi 145 MHz Gambar 2 pada RP2 frekuensi 145 MHz

Gambar 3 pada RP3 frekuensi 145 MHz


Tabel 6.2 Pengukuran Respon Frekuensi Nonlinear untuk Penguat RF (RF Level = -10 dBm)

Frekuensi yang
diterima (MHz) 130 135 140 145 150 155 160 165 170 174.9

RP1 (dBm) -27,9 -28,6 -29,4 -29,6


RP2 (dBm) -25,2 -26,6 -28,4
RP3 (dBm) -34,9 37,8 41,6
RF Gain (dB) -11,9 14,8 -18,6

Catatan : RF Gain = Output Level pada RP3 – Input Level (-10 dBm)

Gambar 1 pada RP1 frekuensi 145 MHz Gambar 2 pada RP2 frekuensi 145 MHz

Gambar 3 pada RP3 frekuensi 145 MHz


Gambar rangkaian Bandpass Filter

Gambar sinyal hasil dari simulasi


Gambar rangkaian untuk amplifier low noise

Gambar sinyal hasil dari simulasi