Anda di halaman 1dari 25

TUGAS AGAMA

PERBEDAAN NILAI MORAL,


AKHLAK DAN NORMA

Disusun Oleh (Kelompok 3) :

1. Achmad Dairobi (18173115093)


2. Anang Makruf (18173115014)
3. I’ik Asmaul Maulana (18173115003)
4. Kumala Jastra (18173115010)
5. Muhammad Irfanil Aslam (18173115060)
6. Wahyu Santoso (18173115064)
Dosen Pembimbing :

Bp. ACHMAD KHUMAIDI


MAHASISWA TEKNIK SIPIL
SEMESTER II TAHUN 2018/2019

INSTITUT TEKNOLOGI BUDI UTOMO


Jl. Raya Mawar Merah No. 23, Pondok Kopi , JAKARTA TIMUR 13460
Telp: (021) 86606633, Whatsapp/SMS: +6282111418463
Email: pmbitbu@gmail.coM
. KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr... Wb...


Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnyasehingga kami, kelompok 3 selaku penyusun telah menyelesaikan
pembuatan makalahyang berjudul “PERBEDAAN MORAL, NILAI, AKHLAK, DAN
NORMA”
Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas dari mata kuliah Agama yang
dibimbing oleh Bapak Achmad Khumaidi. Dan kami susun bertujuan
untuk memberikan pembahasan tentang pentingnya agama sebagai nilai moral akhlak
dan norma dalam kehidupan.
Dalam makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan,
“Bahwa tidak ada gading yang tak retak dan bukanlah gading kalau tidak retak” oleh
karena itu dengan segala kerendahan hati mohon kritik dan saran demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhirnya hanya kepada Allah SWT, kami berserah diri. Semoga makalah ini dapat
menambah wawasan dan memberi manfaat bagi semua. Amin, Ya Rabal ‘Alamiin.
Wassalamualaikum Wr... Wb...

Jakarta, April-2019

(Kelompok 3)

I
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR………..…………………….………...………….……………….
DAFTAR ISI..............………..…………………….….…….………….………………..

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.……...…………………………………..…….…………………..
1.2 Rumusan Masalah………...…………..…………….……………………………..
1.3 Tujuan Penulisan..……….....………………..…….………………………………

BAB II PEMBAHASAN
2.1 PERBEDAAN NILAI, MORAL, AKHLAK DAN NORMA DALAM
KEHIDUPAN…………………………...………..………………………………..
2.1.1 Pengertian Nilai………………………..……….,…………………………………
2.1.2 Pengertian Moral……………………………….,…………………………………
2.1.3 Pengertian akhlak………………..……….……….,………………………………
2.1.4 Pengertian Norma..……………………..………….,……………………………

2.2 AKHLAK MULIA DALAM KEHIDUPAN ……………………………………


2.2.1 Akhlak Mulia Kepada Tuhan…………..………..,………………………………
2.2.2 Akhlak Mulia Kepada Diri Sendiri……….….,…….……………………………
2.2.3 Akhlak Mulia Kepada Orang Tua…...………..,…………………………………
2.2.4 Akhlak Mulia Kepada Sesama Manusia…...………..,….………………………

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan…………………….………………………………………………….
3.2 Saran……. …………………………….………….……………………………….
3.3 Daftar Pustaka……. ………………….………….……………………………….

II
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sejarah Agama menunjukkan bahwa kebehagiaan yang ingin dicapai dengan
menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang
baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan,
ibadah yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya
merupakan peraturan yang tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan
jaminan untuk tercapainya kebahagiaan tersebut.

Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah


pangkalan yang menetukan corak hidup manusia. Akhlak, atau moral, atau susila
adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan
tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak,
sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah
menentang kesadaran itu.

Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana


manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan
buruk. Disitulah membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh
dilakukan, meskipun dia bisa melakukan. Itulah hal yang khusus manusiawi. Dalam
dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut, karena hanya
manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai subjek
menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatannya itu, sebelum, selama dan
sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai subjek yang mengalami
perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya itu.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut diatas, maka ada beberapa
permasalahan yang menarik . Adapun permasalahan tersebut dapat dirumuskan
antara lain :
1. Perbedaan nilai, moral, akhlak dan norma
2. Pentingnya agama sebagai nilai, moral, akhlak dan norma dalam kehidupan
3. Contoh Akhlak mulia dalam kehidupan kepada : Tuhan ,Diri sendiri , Orang tua,
Sesama manusia

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakakn di atas maka tujuan
penelitian ini adalah :
1. Mengetahui pengertian nilai, moral , akhlak dan norma
2. Mengetahui peranan agama sebagai nilai , moral , akhlak dan norma dalam
kehidupan
3. Mengetahui contoh akhlak mulia dalam kehidupan kepada : Tuhan , Diri sendiri,
Orang tua dan Sesama manusia
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERBEDAAN NILAI, MORAL, AKHLAK DAN NORMA DALAM


KEHIDUPAN

2.1.1 Pengertian Nilai


sebagaimana dikutip berikut ini, A value, says Webster (1984), is “ a principle,
standart, or quality regarded as worthwhile or desirable”, yakni nilai adalah prinsip,
standart atau kualitas yang dipandang bermanfaat dan sangat diperlukan. Nilai adalah
“suatu keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar bagi seseorang atau
sekolompok orang untuk memilih tindakannya, atau menilai suatu yang bermakna
bagi kehidupannya”.
Nilai adalah standart tingkah laku, keindahan, keadilan, dan efisiensi yang
mengikat manusia dan sepatutnya dijalankan serta dipertahankan. Nilai adalah bagian
dari potensi manusiawi seseorang, yang berada dalam dunia rohaniah (batiniah,
spiritual), tidak berwujud, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, dan sebagainya.
Namun sangat kuat pengaruhnya serta penting peranannya dalam setiap perbuatan
dan penampilan seseorang. Nilai adalah suatu pola normatif, yang menentukan
tingkah laku yang diinginkan bagi suatu system yang ada kaitannya dengan
lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi sekitar bagian-bagiannya. Nilai
tersebut lebih mengutamakan berfungsinya pemeliharaan pola dari system sosial.
Dari dua definisi tersebut dapat kita ketahui dan dirumuskan bahwasanya nilai
adalah suatu type kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup system
kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan,
atau mengenai suatu yang tidak pantas atau yang pantas dikerjakan, dimiliki dan
dipercayai. Jika nilai diterapkan dalam proses belajar mengajar dapat diartikan
sebagai pendidikan yang mana nilai dijadikan sebagai tolak ukur dari keberhasilan
yang akan dicapai dalam hal ini kita sebut dengan pendidikan nilai. Pendidikan nilai
adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Suatu nilai ini
menjadi pegangan bagi seseorang yang dalam hal ini adalah siswa atau peserta didik,
nilai ini nantinya akan diinternalisasikan, dipelihara dalam proses belajar mengajar
serta menjadi pegangan hidupnya. Memilih nilai secara bebas berarti bebas dari
tekanan apapun. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini bukanlah suatu nilai yang
penuh bagi seseorang. Situasi tempat, lingkungan, hukum dan peraturan dalam
sekolah, bisa memaksakan suatu nilai yang tertanam pada diri manusia yang pada
hakikatnya tidak disukainya-pada taraf ini semuanya itu bukan merupakan nilai
orang tersebut. Sehingga nilai dalam arti sepenuhnya adalah nilai yang kita pilih
secara bebas. Yang dalam hal ini adalah pengaktualisasian nilai-nilai Islam dalam
proses pembelajaran yang nantinya disajikan beberapa nilai-nilai yang akan
diterapkan dan dilaksanakan secara langsung dalam proses belajar mengajar oleh
guru. Sehingga dari situlah realisasi dari pada nilai itu terlaksana dengan baik.
Jadi nilai-nilai Islam pada hakikatnya adalah kumpulan dari prinsip-prinsip
hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia menjalankan
kehidupannya di dunia ini, yang satu prinsip dengan lainnya saling terkait
membentuk satu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisah-pisahkan.
Dalam KBBI nilai-nilai Islam merupakan bagian dari nilai material yang
terwujud dalam kenyataan pengalaman rohani dan jasmani. Nilai-nilai Islam
merupakan tingkatan integritas kepribadian yang mencapai tingkat budi (insan
kamil). Nilai-nilai Islam bersifat mutlak kebenarannya.
universal dan suci. Kebenaran dan kebaikan agama mengatasi rasio, perasaan,
keinginan, nafsu-nafsu manusiawi dan mampu melampaui subyektifitas golongan,
ras, bangsa, dan stratifikasi sosial. Nilai-nilai keislaman atau agama mempunyai dua
segi yaitu: “segi normatif” dan “segi operatif”.
Segi normativ menitik beratkan pada pertimbangan baik buruk, benar salah, hak
dan batil, diridhoi atau tidak. Sedangkan segi operatif mengandung lima kategori
yang menjadi prinsip standarisasi prilaku manusia, yaitu baik buruk, setengan baik,
netral, setengah buruk dan buruk.Yang kemudian dijelaskan sebagai berikut :
1. Wajib (baik)
Nilai yang baik yang dilakukan manusia, ketaatan akan memperoleh imbalan
jasa (pahala) dan kedurhakaan akan mendapat sanksi
2. Sunnah (setengah baik)
Nilai yang setengah baik dilakukan manusia, sebagai penyempurnaan
terhadap nilai yang baik atau wajib sehingga ketaatannya diberi imbalan jasa
dan kedurhakaannya tanpa mendapatkan sanksi
3. Mubah (netral)
Nilai yang bersifat netral, mengerjakan atau tidak, tidak akan berdampak
imbalan jasa atau sanksi
4. Makruh (Kurang baik)
Nilai yang sepatutnya untuk ditinggalkan. Disamping kurang baik, juga
memungkinkan untuk terjadinya kebiasaan yang buruk yang pada akhirnya
akan menimbulkan keharaman
5. Haram (buruk)
Nilai yang buruk dilakukan karena membawa kemudharatan dan merugikan
diri pribadi maupun ketenteraman pada umumnya, sehingga apabila subyek
yang melakukan akan mendapat sangsi, baik langsung (di dunia) atau tidak
langsung (di akhirat).

Kelima nilai yang tersebut diatas cakupannya menyangkut seluruh bidang


yaitu menyangkut nilai ilahiyah ubudiyah, ilahiyah muamalah, dan nilai etik insani
yang terdiri dari nilai sosial, rasional, individual, biofisik, ekonomi, politikdan
estetik. Dan sudah barang tentu bahwa nilai-nilai yang jelek tidak dikembangkan
dan ditinggalkan. Namun demikian sama-sama satu nilai kewajiban masih dapat
didudukkan mana kewajiban yang lebih tinggi dibandingkan kewajiban yang
lainnya yang lebih rendah hierarkinya. Hal ini dapat dikembalikan pada hierarki
nilai menurut Noeng Muhadjir, con kewajiban melakukan tugas politik, ekonomi,
dan sebagainya. Disamping itu masing-masing bidang nilai masih dapat dirinci
mana yang esensial dan mana yang instrumental. Misalnya: pakaian jilbab bagi
kaum wanita, ini menyangkut dua nilai tersebut, yaitu nilai esensial, dalam hal ini
ibadah menutup aurat, sedangkan nilai insaninya (instrumental) adalah nilai estetik,
sehingga bentuk, model,warna, cara memakai dan sebagainya dapat bervareasi
sepanjang dapat menutup aurat.

Karena nilai bersifat ideal dan tersembunyi dalam setiap kalbu manusia, maka
pelaksanaan nilai tersebut harus disertai dengan niat. Niat merupakan I’tikad
seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran. Dalam hal ini I’tikad
tersebut diwujudkan dalam aktualisasi nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran
pendidikan agama Islam. Dalam proses aktualisasi nilai-nilai Islam dalam
pembelajaran tersebut, diwujudkan dalam proses sosialisasi di dalam kelas dan
diluar kelas. Pada hakikatnya nilai tersebut tidak selalu disadari oleh manusia.
Karena nilai merupakan landasan dan dasar bagi perubahan.Nilai-nilai merupakan
suatu daya pendorong dalam hidup seseorang pribadi atau kelompok. Oleh karena
itu nilai mempunyai peran penting dalam proses perubahan sosial.
Al-Qur’an sebagai sumber pedoman bagi umat Islam, karena di dalamnya
mengandung dan membawakan nilai-nilai yang membudayakan manusia, hampir
dua pertiga dari ayat-ayat al- Qur’an mengandung motivasi kependidikan bagi umat
manusia. Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada
tingkat kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia
berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentukya manusia ideal (insan kamil)
yang berkepribadian muslim dan berakhlak terpuji. Surat al-ma’un termasuk ayat
al-Qur’an yang membahas tentang kepedualian sosial dan banyak memberi pesan
nilai-nilai pendidikan Islam yang sangat bermanfaat dan dapat diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari. Namun kenyataannya saat ini banyak dijumpai dikalangan
masyarakat Islam yang mampu dari segi finansial misalnya, namun mereka enggan
menolong sesama. Mereka lebih suka menghambur-hamburkan harta mereka
dengan hura-hura. Padahal harta tersebut jauh lebih bermanfaat jika dishodaqahkan
untuk menolong sesama yang membutuhkan, seharusnya hal-hal semacam ini harus
dijauhi karena bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan Islam khususnya nilai
sosial atau kemasarakatan. Adapun tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan Islam yang terdapat dalam surat al-Ma’un.
Dengandemikian, dapat digunakan sebagai pedoman dalam bersikap dan berprilaku.
Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk penelitian kepustakaan (library
research), karena data yang diteliti berupa naskah-naskah, buku-buku, jurnal yang
bersumber dari khazanah kepustakaan dengan menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif. Data-data diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi yang
diambil dari al-Qur’an, as-sunnah, buku-buku, jurnal. Kitab tafsir yang menjadi
sumber rujukan utama kepada penulis untuk memahami suatu ayat. Sedangkan
untuk analisisnya, penulis menggunakan metode conten analysis. Pemahaman dan
analisis tersebut dilakukan melalui kegiatan membaca, menganalisis dan
mengklasifikasikan data. Hasil dari penelitian yang dilakukan penulis dapat
disampaikan disini bahwasanya nilai-nilai pendidikan Islam yang terdapat dalam
surat al-Ma’un meliputi (1) Nilai pendidikan tauhid yaitu orang yang tidak percaya
kepada hari kiamat. (2) Nilai pendidikan ibadah yaitu orang yang melalaikan shalat.
(3) Akhlak, meliputi; larangan berbuat riya’ (pamer) dan orang-orang yang
contohnya: kewajiban untuk beribadah haruslah lebih tinggi dibandingkan dengan e
nggan menolong dengan barang-barang yang berguna (tolong menolong). (4)
Sosial, meliputi; menyantuni anak yatim dan anjuran memberi makan fakir miskin.
Nilai-nilai Yang Dituntut Islam

Dalam filsafat, nilai dibedakan dalam tiga macam, yaitu:

a. Nilai logika adalah nilai benar salah.

b. Nilai estetika adalah nilai indah tidak indah.

c. Nilai etika/moral adalah nilai baik buruk.

2.1.2 Pengertian Moral


Kata Moral berasal dari Bahasa Latin Moralitas, adalah istilah manusia
menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai
positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak
bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral
adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral itu sifat dasar yang
diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin
dihormati oleh sesamanya.

Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan
yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.

Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah


istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia
dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.

Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan dan atau prinsip-prinsip


yang benar, baik terpuji dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan
terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.

Dengan demikian, dapat disimpulakan bahwa Moral merupakan suatu


keyakinan tentang benar salah, baik buruk yang sesuai dengan kesepakatan sosial
yang mendasari tindakan atau pemikiran atau bisa dikatakan bahwa moral
merupakan suatu keharusan perilaku yang dibawakan oleh nilai.

Keterkaitan pada norma-norma religius akan membentuk sikap tertentu dalam


menyikapi segala persoalan. Moral yang dikembangkan atas pijakan agama, maka
pertimbangan-pertimbangan moralnya akan lebih berorientasi pada kewajiban
beragama. Sedangkan sumber-sumbermoral lainnya hanya dibenarkan manakala
dianggap sesuai dengan ajaran agama. Segala tindakan moral yang didasari
ketentuan agama muncul karena rasa tanggung jawab kepada Tuhan. Segala
tindakan yang akan diambil dirasakan sebagai keharusan Rabbani

2.1.3 Pengertian Akhlak


Secara bahasa kata akhlak berasal dari bahasa Arab al-akhlak, yang
merupakan bentuk jamak dari kata khuluq atau al-khaliq yang berarti :

1. tabiat, budi pekerti,

2. kebiasaan atau adat,

3. keperwiraan, kesatriaan, kejantanan

Sedangkan pengertian secara istilah, akhlak adalah suatu keadaan yang


melekat pada jiwa manusia, yang melahirkan perbuatan-perbuatan yang mudah,
tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian. Jika keadaan (hal)
tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan
hukum Islam, disebut akhlak yang baik. Jika perbuatan-perbuatan yang timbul itu
tidak baik, dinamakanakhlak yang buruk.

Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat di dalam jiwa, maka
perbuatan baru disebut akhlak kalau terpenuhi beberapa syarat,yaitu:

1. Perbuatan ini dilakukan berulang-ulang. Kalau perbuatan itu hanya


dilakukan sesekali saja, maka tidak dapat disebut akhlak. Misalnya, pada
suatu saat, orang yang jarang berderma tiba-tiba memberikan uang kepada
orang lain karena alasan tertentu. Tindakan seperti ini tidak bias disebut
murah hati berakhlak dermawan karena hal itu tidak melekat didalam
jiwanya
2. Perbuatan itu timbul mudah tanpa dipikirkan atau diteliti terlebih dahulu
sehingga benar-benar merupakan suatu kebiasaan. Jika perbuatan itu timbul
karena terpaksa atau setelah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang
idak disebut akhlak.

Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam, sehingga setiap
aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan
akhlak yang mulia, yang disebut al-akhlak al-karimah. Hal ini tercantum antara lain
dalam sabda Rasulullah saw;

‫اانما بعثت الءتمم مكارم االخالق‬

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk


menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Al-Hakim)

Akhlak merupakan dimensi ketiga dari ajaran islam setelah aqidah dan
syariah. Akhlak menyangkut masalah-masalah kehidupan yang berkaitan dengan
ketentuan-ketentuan dan ukuran-ukuran baik buruknya suatu perbuatan. Perbuatan
itu dapat berupa perbuatan lahir maupun perbuatan batin yang hanya menyangkut
diri pribadi ataupun orang lain atau dengan alam. Akhlak juga berkaitan dengan
ajaran bagaimana seseoarang bertindak sehingga ia dapat mengukur dan diukur
moralitasnya. Dengan ajaran akhlak, manusia baik sebagai individu maupun
kelompok dibersihkan jiwannya, ditingkatkan derajat moral kemanusiaannya, dan
dijauhkan dari kecenderungan untuk melakukan tindakan yang mungkin dapat
merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Faktor-Faktor Pembentuk Akhlak

Akhlak terbentuk oleh empat faktor, yaitu :

1. Faktor genetik.

Sebagai contoh seseorang yang berasal dari daerah yang panas cenderung
berbicara “keras”.

2. Faktor psikologis.

Faktor ini berasal dari nilai-nilai keluarga (misal bapak dan ibu) tempat
seseorang berkembang sejak lahir.

3. Faktor sosial.

Faktor lingkungan tempat seseorang tinggal akan berpengaruh juga terhadap


pembentukan akhlak seseorang.
4. Faktor nilai islami.

Akhlak islami adalah seperangkat tindakan / gaya hidup yang terpuji yang
merupakan refleksi nilai-nilai islam yang diyakinidengan motifasisemmata-
mata mencari keridhoan Allah SWT.

Sumber dan Model Akhlak

A. Sumber Akhlak Islami, yaitu :


1) Al-Quran yang merupakan firman Allah SWT yang kebenarannya tidak
diragukan dan diperbantah lagi.
2) As-Sunah yang tertuang dalam hadis-hadis sebagai keterangan dan
penjabaran serta petunjuk dari apa yang dimaksud dalam Al-Quran.
3) Perundang-undangan , selama hal itu baik bagi kehidupan manusia.
4) Adat istiadat masyarakat.

B. Sumber Akhlak Islami,


Nabi Muhamad SAW adalah model akhlak dalam melaksanakan akhlak
islami yaitu:
1) Akhlak Qurani
2) Akhlak manusia terbaik
“Sesungguhnya engkau (wahai Muhamad) memiliki akhlak (moral) yang
tinggi “ (QS Al Qalam[68] : 4) 4)

Sifat – Sifat Seorang Muslim dalam Berakhlak

1. Menjauhi perkara-perkara yang su’bat (samar) “Seorang hamba (manusia)


tidak mencapai derajat orang-orang yang bertaqwa kecuali apabila kamu
meninggalakan sesuatu yang tidak bermasalah (tidak berbahaya) agar
terhindar dari perkara yang bermasalah (bahaya).
2. Menjaga pandangan, yaitu menjaga pandangan sehingga tidak melihat
perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah SWT
3. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘hendaklah mereka menahan
pandangannya....” (QS. An-Nur :30)
4. Menjaga ucapan, yaitu menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak
bermanfaat dan kotor seperti ghibah atau menggunjing.
5. “Bukankah banyak dari manusia yang tersungkur di dalam neraka hanya
karena akibat dari ulah lidahnya”.(HR. Tirmidzi)
6. Malu, yaitu senantiasa memiliki rasa malu dalam setiap kondisi, tetapi tidak
menghalangi keberanian untuk menyatakan kebenaran.
7. Lapang Dada dan Sabar, alangkah indahnya kehidupan seorang muslim
ketika ia mendapat nikmat bersyukur dan ketika mendapat cobaan bersabar.
8. Jujur, Seorang muslim harus selalu berkata benar tanpa merasa takut
terhadap ancaman orang lain, selama itu tulus dilakukan untuk Allah SWT.
9. Rendah hati (tawadhu)
10. “Tidak akan masuk syurga, orang yang pada hatinya tersimpan kesombongan
walaupun hanya sebesar dzarrah,” (HR. Muslim)
11. Menghindarkan prasangka buruk, ghibah, dan tidak mencari-cari kesalahan
(QS. Al-Huzurat : 12)
12. Murah hati dan Dermawan, seorang muslim harus murah hati, dermawan,
dan mau mengorbankan diri dan hartanya dijalan Allah SWT (QS. Al-
Baqarah : 3)
13. Menjadi teladan yang baik bagi orang lain.
14. Sebagai contoh seseorang

Cara Memperbaiki Akhlak Yang Buruk

1. Kiat Pertama

Akhlak yang baik bisa didapatkan lewat pergaulan dengan orang-orang yang
baik. Sebab tabiat itu bisa diibaratkan pencuri, yang bisa mencuri kebaikan
dan keburukan. Hal ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah Saw., “Seseorang
itu berada pada agama teman karibnya. Maka hendaklah salah seorang di
antara kalian melihat siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Daud,
Tirmidzi, dan Ahmad).
2. Kiat Kedua

Memperhatikan sebab-sebab yang mendatangkan keutamaan berpengaruh


terhadap jiwa serta dalam merubah tabiatnya, sebagaimana bermalas-
malasan yang kemudian menjadi kebiasaan, hingga tidak ada kebaikan yang
didapatkan.

3. Kiat Ketiga

Terkadang akhlak yang baik itu terwujud karena mencari, yang dilakukan
dengan latihan, yaitu dengan membawa jiwa kepada amal-amal yang bisa
mendatangkan sifat yang dimaksudkan. Siapa yang ingin memiliki sifat
dermawan dan murah hati, maka dia harus memaksa dirinya untuk
berkorban, agar dia terbiasa dengannya. Siapa yang ingin memiliki sifat
tawadhu, maka dia harus memaksa dirinya bersikap seperti orang yang
tawadhu. Begitu pula halnya dengan sifat-sifat terpuji lainnya. Kebiasaan
untuk itu akan membawa pengaruh yang sangat besar, sebagaimana orang
yang ingin menjadi penulis, maka dia harus melatih dirinya dalam tulis-
menulis. Jika ingin menjadi ahli fiqih, harus rajin berbuat seperti yang
diperbuat para ahli fiqih, hingga di dalam hatinya tertanam sifat orang yang
mendalami dan memahami ilmu. Tapi harus diingat, dia tidak bisa
mendapatkan pengaruh dari latihan itu dalam tempo sehari dua hari.
Pengaruhnya akan tampak setelah sekian lama, sebagaimana tinggi badan
yang tidak bisa diperoleh hanya dengan latihan dalam tempo sehari dua hari.
Tetapi latihan secara kontinu akan membawa pengaruh yang besar.

4. Kiat Keempat

Yang sangat diperlukan orang yang melatih jiwanya sendiri adalah kekuatan
hasrat. Selagi dia maju mundur, tentu dia tidak akan berhasil. Selagi merasa
hasratnya melemah, maka dia harus bersabar. Jika hasratnya semakin
merosot, maka dia harus menghukumnya agar tidak terulang, seperti kata
seseorang kepada dirinya sendiri, “Mengapa engkau mengatakan sesuatu
yang tidak perlu? Akan kuhukum jiwamu dengan puasa.”
5. Kiat Kelima

Suatu penyakit yang membuat badan kesakitan, harus diobati dengan


kebalikannya. Jika badan terasa panas, maka harus diobati dengan yang
dingin. Jika badan kedinginan harus diobati dengan yang panas. Bagitu
akhlak-akhlak yang hina, yang termasuk penyakit hati, harus diobati dengan
kebalikannya. Penyakit kebodohan harus diobati dengan ilmu, penyakit kikir
harus diobati dengan kedermawanan, penyakit takabur harus diobati dengan
tawadhu, penyakit rakus harus diobati dengan menghentikan hal-hal yang
menggugah nafsunya. Yang perlu dicatat, seseorang harus bisa menahan diri
merasakan pahitnya obat dan bersabar menahan diri dari hal-hal yang
diinginkannya, demi pemulihan badannya yang sedang sakit. Begitu pula
kesabaran dalam berusaha mengobari penyakit hati, yang justru inilah yang
lebih penting. Sebab penyakit badan bisa lepas karena kematian, tetapi
penyakit hati bisa berlanjut dengan siksa yang abadi setelah kematian.

6. Kiat Keenam

Jalan pertengahan dalam akhlak merupakan tanda kesehatan jiwa. Beralih


dari jalan pertengahan ini merupakan tanda penyakit. Perumpamaan
pengobatan jiwa itu seperti pengobatan badan. Sebagaimana badan yang
tidak diciptakan dalam keadaan sempurna, yang bisa dibuat sempurna
dengan latihan dan makanan, begitu pula jiwa yang diciptakan dalam
keadaan kurang, namun bisa dibuat sempurna, yaitu dengan pensucian dan
membimbing akhlak serta menyuapinya dengan ilmu.

2.1.4 Pengertian Norma


Secara etimologi, kata norma berasal dari bahasa Belanda, yaitu “norm” yang
artinya patokan, pokok kaidah, atau pedoman. Namun beberapa orang mengatakan
bahwa istilah norma berasal dari bahasa latin, “mos” yang artinya kebiasaan, tata
kelakuan, atau adat istiadat.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) norma/nor·ma/ merupakan


aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai
sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan berterima.
Setiap warga masyarakat harus menaati yang berlaku, aturan, ukuran, atau kaidah
yang dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai atau memperbandingkan sesuatu.

Macam-macam norma dalam kehidupan

1. Norma Hukum
Norma hukum adalah peraturan hidup yang dibuat oleh lembaga
kekuasaan negara yang bertujuan mewujudkan ketertiban dan kedamaian dalam
masyarakat untuk menciptakan keadilan dan kepastian hukum sehingga bisa
melindungi kepentingan orang lain misalnya berkaitan dengan jiwa,
badan,kehormatan dan kekayaan harta benda.
Macam macam norma ini hadir karena memilik mamfaat dan kegunanan.
Dengan adanya norma hukum akan tercipta tatanan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara yang tertib, aman, rukun, dan damai. Masyarakat
yang taat norma bisa menciptakan kehidupan yang adil. Bagi para pelaku yang
melanggar akan dikenai sanksi berupa kurungan penjara atau denda yang
dipaksakan oleh pemerintah yang berwenang. Contohnya kewajiban harus
membayar pajak atau menanti dalam berlalu lintas serta banyak norma hukum
lainnya.

2. Norma Susila/Kesusilaan
peraturan hidup yang bersumber dari hati nurani manusia. Norma ini
menentukan mana yang baik dan mana yang buruk sesuai kabaikan yang ada
dalam diri masing masing orang. Dengan adanya norma susila ini akan
mendorong manusia untuk berbuat baik serta mencegah manusia untuk
melakukan perbuatan yang buruk.
Macam macam norma dibuat untuk tujuan yang baik. Salah satunya
norma susila yang menata tindakan manusia dalam pergaulan sosial sehari-hari,
seperti pergaulan antara pria dan wanita. Hal ini dilakukan untuk
mengendalikan tutur kata sikap dan perilaku setiap individu melalui teguran hati
nuraninya sendiri. Contoh norma susila seperti mempunyai sikap jujur dan adil
dalam masyarakat, tidak menfitnah orang lain atau selalu menolong orang lain.
3. Norma Kesopanan
kesopanan yang biasa disebut dengan norma sopan santun, tata krama,
atau adat istiadat. Norma kesopanan yang khas dan aktual akan berbeda antara
masyarakat satu dengan yang lainnya kerana Indonesia memilki beragam suku
budaya masing-masing.

Namun, dalam macam macam norma yang ada, norma kesopanan adalah
ketentuan hidup yang bersumber dari pergaulan masyarakat. Norma ini didasari
oleh beberapa hal di antaranya, yaitu kebiasaan, kepatutan, kepantasan yang
berlaku dalam masyarakat. Norma inilah yang mengatur pergaulan dengan
orang lain. Beberapa contoh peraturan tak tertulis tersebut antara lain memakai
pakaian yang sopan saat menghadiri acara formal atau sekolah, tidak boleh
meludah di depan orang lain dan sebagainya..

4. Norma Kebiasaan/ Adat istiadat

Norma kebiasaan adalah aturan aturan yang berjalan sesuai dengan tradisi
yang berlaku atau kebiasaan yang sudah terjadi puluhan tahun atau ratusan tahun
ditengah dimasyarakat. Jika kita langgar kita tidak merugikan pihak manapun
tetapi akan merugi untuk diri sendiri sehingga diperlukan peran orang tua dalam
mendidik anak mengarahkan ke aturan yang sesuai.

Ciri-ciri norma kebiasaan

1. Berlaku setiap hari secara terus menerus


2. Dilakukan sesuai dengan tradisi yang sebelumnya sudah ada
3. Dilakukan dengan inisiatif tanpa paksaan orang lain
4. Tujuan yang dicapai jelas dan beralasan
5. Bersifat mengikat yang tidak resmi karfena masih banyak orang orang
yang tidak melakukannya

5. Norma Agama

Sila pertama yang tertulis dalam Pancasila berbunyi “Ketuhanan yang Maha
Esa” yang berarti setiap warga negara Indonesia bebas menganut agama dan
menjalankan ibadah yang sesuai dengan ajaran agamanya, bertoleransi serta
menghormati satu sama lain.
Macam macam norma yang harus dipatuhi oleh masyarakat ada norma agama
yang harus ditaati bagi penganutnya sesuai kepercayaan masing-masing. Norma
agama merupakan peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah-
perintah larangan-larangan dan ajaran-ajaran yang berasal dari Tuhan yang Maha
Asa. Norma ini bersifat dogmatis, tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambah.

Macam macam norma ini memiliki sanksi bagi pelanggarnya. Dalam norma
agama memiliki sanksi atau hukuman. Sanksi dalam norma agama tidak langsung
diberikan saat itu juga, namun sanksi atau hukaman dalam norma agama didapati
setelah manusia meninggal dunia yaitu berupa siksa neraka.

Ciri-ciri Norma Agama

1. Bersumber langsung dari Tuhan Yang Maha Esa.


2. Bersifat universal atau abadi.
3. Jika dilaksanakan mendapat pahala tapi jika dilanggar maka akan
mendapat dosa.
4. Bersifat luas dan berlaku untuk seluruh umat manusia.

Tujuan Norma Agama

Tujuan dari norma agama adalah untuk menyempurnakan


manusia dan menjadikan manusia, menjadi seseorang yang baik yang
bisa menjauhi hal-hal yang buruk. Norma agama ini berbeda dengan
norma lainnya, karena norma agama lebih mengarah kepada bati seorang
manusia. Serta lebih mengutamakan tanggung jawab diri sendiri, pada
Tuhan Yang Maha Esa.
Orang-orang yang menaati norma agama dengan baik dan sesuai
dengan agamanya masing-masing, biasanya memiliki perilaku yang baik.
Orang itu pun akan memiliki dan menjalani hidup dengan tenang. Norma
agama yang bersumber dari Tuhan ini, sudah dimuat di dalam kitab suci
masing-masing agama. Di dalam norma agama ini, terdapat perintah
untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keimanan.
Norma agama ini juga sangat berperan penting dalam
terwujudnya masyarakat yang berakhlak mulia. Akhlak ini berkaitan
dengan perilaku yang baik atau buruk pada seorang manusia dan juga
dalam hubungannya dengan sesama manusia serta juga hubungannya
dengan Tuhan. Agar kita memiliki akhlak yang baik, maka kita harus
selalu berpegang pada norma agama.

Contoh Norma Agama

1. Rajin beribadah atau dalam agama islam selalu mengerjakan Sholat.


2. Membaca kitab suci dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.
3. Selalu mendoakan orang lain.
4. Tidak berbohong baik secara perkataan maupun dalam sikap.
5. Tidak mencuri sesuatu yang bukan milik kita.
6. Berbakti kepada kedua orang tua.
7. Tidak boleh membunuh sesama manusia.
8. Tidak boleh merampok harta milik orang lain.
9. Tidak boleh berbuat cabul yang akan sangat merugikan orang lain.
10. Memaafkan kesalahan orang lain yang sudah meminta maaf sekalipun
hukuman tetap berlaku.
11. Harus menghormati kedua orang tua.
12. Menyayangi saudara kakak dan adik.
13. Melaksanakan semua hal yang sudah diperintahkan oleh Tuhan.
14. Tidak melakukan perbuatan tercela dalam hal apapun.
15. Selalu berbuat baik kepada sesama manusia.
16. Mencintai alam dan seluruh makhluk ciptaan Tuhan, seperti pada binatang
dan tumbuhan.

2.2 AKHLAK MULIA DALAM KEHIDUPAN

2.2.1 Akhlak Mulia Kepada Tuhan


A) Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk
menyembahNya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim beribadah
membuktikan ketundukkan terhadap perintah Allah.
B) Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai situasi dan
kondisi,baik diucapkan dengan mulut maupun dalam hati. Berzikir kepada
Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman hati.
C) Berdo’a kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Do’a
merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan keterbatasan
dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan akan kemahakuasaan
Allah terhadap segala sesuatu

D) Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan
menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu keadaan.

E) Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah. Mengakui bahwa
dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu
tidak layak kalau hidup dengan angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan
orang lain, dan pamrih dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

2.2.2 Akhlak Mulia Kepada Diri Sendiri


A) Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil
daripengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang
menimpanya.Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah, menjauhi
larangan dan ketika ditimpa musibah.
B) Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah yang tidak
bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam bentuk ucapan dan
perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah memuji Allah dengan bacaan
alhamdulillah, sedangkan syukur dengan perbuatan dilakukan dengan
menggunakan dan memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.

C) Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang dihadapinya,
orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk melahirkan ketenangan
jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki yang menyiksa diri sendiri dan
tidak menyenangkan orang lain.

2.2.3 Akhlak Mulia Kepada Orang Tua


Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkann kasih sayang di antara
anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Akhlak kepada ibu
bapak adalah berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan perbuatan.
Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk perbuatan
antara lain :

A) Menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih


dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut
B) Mentaati perintah
C) Meringankan beban, serta
D) Menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha.

2.2.4 Akhlak Mulia Kepada Sesama Manusia


1. Husnuzan
Berasal dari lafal husnun (baik) dan Adhamu (Prasangka).
Husnuzan berarti prasangka, perkiraan, dugaan baik. Lawan kata
husnuzan adalah suuzan yakni berprasangka buruk terhadap seseorang .
Hukum kepada Allah dan rasul nya wajib, wujud husnuzan kepada Allah
dan Rasul-Nya antara lain:
- Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah dan Rasul
Nya Adalah untuk kebaikan manusia.
- Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan agama pasti
berakibat buruk.
Hukum husnuzan kepada manusia mubah atau jaiz (boleh
dilakukan). Husnuzan kepada sesama manusia berarti menaruh
kepercayaan bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan. Husnuzan
berdampak positif berdampak positif baik bagi pelakunya sendiri maupun
orang lain.
2. Tawaduk
Tawaduk berarti rendah hati. Orang yang tawaduk berarti orang yang
merendahkan diri dalam pergaulan. Lawan kata tawaduk adalah takabur.
3. Tasamu
Artinya sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling menghargai
sesama manusia.
4. Ta’awun
Ta’awun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu
dengan sesama manusia..
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Nilai adalah standart tingkah laku, keindahan, keadilan, dan efisiensi yang
mengikat manusia dan sepatutnya dijalankan serta dipertahankan. Nilai adalah
bagian dari potensi manusiawi seseorang, yang berada dalam dunia rohaniah
(batiniah, spiritual), tidak berwujud, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, dan
sebagainya. Dan Moral adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan
batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara
layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.

Akhlak dalam kebahasaan berarti budi pekerti, perangai atau disebut juga
sikap hidup adalah ajaran yang berbicara tentang baik dan buruk yang yang
ukurannya adalah wahyu tuhan Dari satu segi akhlak adalah buah dari tasawuf
(proses pendekatan diri kepada Tuhan), dan istiqamah dalam hati pun bagian dari
bahasan ilmu tasawuf.” Indikator manusia berakhlak (husn al-khulug ) adalah
tertanamnya iman dalam hati dan teraplikasikannya takwa dalam perilaku.

Aktualisasi akhlak adalah bagaimana seseorang dapat mengimplementasikan


iman yang dimilikinya dan mengaplikasikan seluruh ajaran islam dalam setiap
tingkah laku sehari- hari. Seperti akhlak kepada tuhan, diri sendiri, dan sesama
manusia. Serta Norma yang merupakan aturan atau ketentuan yang mengikat warga
kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali
tingkah laku.

Dari nilai,moral ,akhlak serta norma memiliki hubungan yang erat antara satu
sama lain untuk mengatur sikap seseorang dan hubungannya dengan orang lain.

3.2 Saran
Kami sangat mengharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik
pembaca maupun penyusun dapat menerapkan baik nilai, moral ,akhlak , maupun
norma yang baik dan sesuai dengan ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Daftar Pustaka

https://www.academia.edu/9238928/PENGERTIAN_DAN_KONSEP_NILAI_DALAM
_ISLAM
https://www.academia.edu/37515137/Makalah_Agama_Sebagai_Sumber_Moral_Dan_
Etika_Akhlaq
http://digilib.uinsby.ac.id/19433/4/Bab%201.pdf
https://www.liputan6.com/citizen6/read/3869196/macam-macam-norma-di-masyarakat-
yang-wajib-kamu-tahu