Anda di halaman 1dari 13

c 



 c  
Kata Ô  merupakan penggabungan kata Ô  dan . Kata
agri berasal dari kata Ô 
 (Pertanian, Indonesia). Pertanian dalam arti luas
adalah mata rantai proses pemanfaataan atau pemanenan energi surya melalui
kegiatan fotosintesis baik secara langsung atau tidak langsung untuk memenuhi
kebutuhan manusia secara berkelanjutan. Bisnis menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2007) berarti usaha komersial dalam dunia perdagangan. Bisnis dapat
diartikan sebagai aktivitas manusia yang bertujuan mencari keuntungan. Secara
lengkap, agribisnis dapat diartikan sebagai proses pemanenan energi surya melalui
kegiatan fotosintesis, secara langsung atau tidak langsung yang dimanfaatkan oleh
manusia untuk memenuhi kebutuhannya secara berkelanjutan dan bertujuan
mencari profit. Secara singkat agribisnis dapat diartikan aktivitas bisnis berbasis
pertanian yang berkelanjutan.
Saragih (1998) mengemukakan bahwa agribisnis adalah suatu sistem yang
terdiri dari empat sub-sistem yang terintegrasi secara fungsional. Sub-sistem
pertama adalah agribisnis hulu ( 
  Ô ) berupa ragam kegiatan
industri dan perdagangan sarana produksi pertanian. Kedua adalah pertanian
primer ( Ô  Ô ) yang menghasilkan komoditas pertanian primer
dengan menggunakan saprotan. Ketiga, agribisnis hilir ( 
Ô 
Ô ) berupa ragam kegiatan industri pengolahan hasil pertanian dan
perdagangan. Sub-sistem keempat adalah lembaga jasa. Satu dari sub-sistem
tersebut saling tergantung secara fungsional, sehingga keterbelakangan salah satu
sub-sistem akan menghambat perkembangan sub-sistem lainnya.
Menurut Downey dan Erickson (1992), agribisnis meliputi keseluruhan
kegiatan manajemen bisnis mulai dari perusahaan yang menghasilkan sarana
produksi bagi usaha tani, usaha proses produksi pertanian, serta perusahaan yang
menangani pengolahan, pengangkutan, penyebaran, penjualan secara borongan
maupun secara eceran kepada konsumen akhir.
Menurut Davis and Goldberg (1957), agribisnis merupakan seluruh
operasi yang terkait dengan manufaktur dan distribusi suplai pertanian, aktivitas
produksi di pertanian, penyimpanan, proses dan distribusi komodi pertanian serta
segala sesuatu yang terbuat darinya.
Menurut Beierlein and Woolverton (1991), agribisnis termasuk tidak
hanya usaha pertanian di lahan tetapi juga SDM dan usaha yang menyediakan
input (benih, kimia, kredit), proses hasil pertanian (susu, biji-bijian, daging) ,
manufaktur produk pangan (es krim, roti, serealia), dan transportasi serta
penjualan produk pangan ke konsumen (restoran dan supermarket).

c  
 
Agribisnis berbasis ekologi dapat kita simpulkan suatu kegiatan empat
sub-sistem yang terintegrasi secara fungsional dengan melihat pada sisi ekologi,
dengan kata lain agribisnis yang selaras, seimbang dengan lingkungan sekitar
tanpa mengurangi tata ruang lingkup yang sudah ada atau merusak lingkungan
serta dapat mewujudkan pembangunan pertanian berkelanjutan.
Setiap usaha-usaha serta program-program yang terkait didalamnya
menjadi bagian yang saling berhubungan satu sama lain dengan memperhatikan
aspek ekologi, ekologi yang berkelanjutan di satu sisi. Di sisi lain hasil dari
pembangunan pertanian tersebut adalah kesejahteraan bersama diantara semua
pihak yang terlibat didalamnya. Sejalan pada tiga prinsip pembangunan pertanian
(keadilan, demokrasi dan berkelanjutan), maka pertumbuhan ekonomi yang
idealnya dicita-citakan semua (individu, instansi, lembaga, dan pihal-pihak yang
terkait) di bidang pertanian, sejatinya harus diikuti dengan keberlanjutan ekologi
yang berkelanjutan.
Dalam kontek agribisnis berbasis ekologi strategi pembanguan ekonomi
nasional menurut Sitorus dkk (2001) maka orientasi pengembangan sistem
agribisnis adalah peningkatan keunggulan bersaing melalui pemberdayagunaan
keunggulan komparatif, sebagai wujud peningkatan kesejahteraan rakyat.
Dimaksudkan supaya keunggulan sumberdaya alam yang dimiliki oleh Indonesia
dapat dimanfaatkan sebaik mungkin tanpa mengurangi tata ruang ekologi atau
lingkungan untuk dapat memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan
masyarakat.


   
c  
Pembangunan sistem agribisnis dikonsepsikan sebagai suatu proses
pengembangan dengan tiga tahap:
1.p Agribisnis berbasis sumber daya. Tahap ini pembangunan agribisnis
digerakkan oleh kelimpahan factor produksi yaitu sumber daya alam dan
sumber daya manusia berupa tenaga kerja tak terdidik. Tahapan ini tampil
berupa estensifikasi agribisnis dengan dominasi komoditi primer sebagai
produksi akhirnya. Pembangunan sistem agribisnis pada tahap ini masih
identik dengan pembangunan pertanian, sehingga perekonomian nasional
juga masih tergolong sebagai ¶perekonomian berbasis pertanian¶
2.p Agribisnis berbasis investasi. Tahap ini pembangunan agribisnis
digerakkan oleh kekuatan investasi melalui percepatan pembanguanan dan
pendalaman industri pengolahan dan industri hulu serta peningkatan
kemampuan sumber daya manusia. Produk agribisnis pada tahap ini
didominasi oleh komoditi yang bersifat padat modal dan tenaga terdidik,
serta memiliki nilai tambah lebih dan segmen pasar yang lebih luas.
Perekonomian nasional pada tahap ini telah bergerak dari perekonomian
berbasis sumber daya ke perekonomian berbasis industri agribisnis.
3.p Agribisnis berbasis inovasi. Tahap ini pembangunan agribisnis digerakkan
oleh ¶temuan baru¶ atau inovasi melalui peningkatan kemajuan teknologi
pada setiap sub-sistem agribisnis, serta peningkatan kemampuan sumber
daya manusia pada saat bersamaan. Produk agribisnis pada tahap ini
didominasi komoditi yang bersifat pada ilmu pengetahuan dan tenaga
kerja terdidik, serta memiliki nilai tambah lebih besar dari perekonomian
berbasis investasi ke perekonomian berbasisi teknologi.
Dari masing-masing tahapan agribisnis tersebut terkait dengan hubungan
agribisnis dan ekologi. Dimana masing-masing tahapan harus mempertahan
ekologi untuk menciptakan pembangunan pertanian berkelanjutan khususnya,
serta menciptakan kesimbangan pada lingkungan sekitarnya. Maka dalam
pemanfaatan dan mengelola sumber daya alam/agraria dalam kegiatan agribisnis
harus mewujudkan sejahtera secara ekonomi dalam mengelola dan memanfaatkan
ekologi tanpa gangguan ekologi, sehingga pertanian maju, masyarakat sejahtera
dengan pertumbuhan yang berkelanjutan serta ekologi yang berkelanjutan.

è
  c  
Ada beragam fakta yang membuktikan peranan agribisnis dalam
pembangunan Indonesia. Data perjalanan sejarah Indonesia memperlihatkan
bahwa agribisnis telah dilakukan pada zaman nenek moyang dan menjadi
penggerak ekonomi kerajaan-kerajaan dahulu. Banyak pelabuhan-pelabuhan besar
berdiri dan menjadi makmur berkat keunggulan hasil bumi Indonesia.
Seiring dengan pertumbuhan populasi penduduk, pangsa pasar produk
agribisnis juga tumbuh dengan berkembangnya kebutuhan manusia akan produk-
produk agribisnis yang alami dan ramah lingkungan. Kebutuhan dan kesadaran
manusia akan bioenergi, biofarmaka, makanan organik, bio produk lainnya akan
membuat permintaan akan produk-produk agribisnis semakin meningkat tetapi
disisi lain volume sumberdaya alam (SDA) tetap bahkan ada kecenderungan
menurunnya kualitas sumberdaya alam sehingga produktifitasnya juga menurun.
Adanya peningkatan produk agribisnis tetapi disisi lain produktifitas sumberdaya
alam menurun memerlukan pendekatan agribisnis untuk mengoptimalkan
sumberdaya yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia. 
Agribisnis melibatkan multi sektor kehidupan manusia, berbagai hasil
pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, berperan dalam
memenuhi kebutuhan manusia. Agribisnis terkait dengan pengelolaan
keanekaragaman hayati dan kekayaan biodiversity Indonesia, berperan dalam
degradasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan sekaligus berperan dalam upaya
menjaga ketahanan Sumber Daya Alam Indonesia.
Agribisnis terlibat dalam pemenuhan berbagai kebutuhan manusia baik
fisik dan non fisik, menjadi pembuka lapangan kerja dan penghidupan bagi
masyarakat. Agribisnis terlibat dengan pemanfaatan dan pengembangan IPTEK
dalam rentang yang lebar mulai dari yang sederhana, tepat guna, madya hingga
teknologi tinggi. Agribisnis berperan dalam pengembangan pasar berbagai jenis,
tipe dan fungsi untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan konsumen dan
memuaskan produsen.
Adanya pasar agribisnis juga mengembangkan aliran distribusi barang,
jasa maupun uang. Peran lain agribisnis adalah mendorong pengembangan sektor
industri keuangan dan sektor pendukungnya. Agribisnis juga berperan dalam
pengembangan organisasi usaha, organisasi penunjang usaha termasuk organisasi
kemasyarakatan. Singkatnya agribisnis berperan dalam manajemen SDA, SDM,
IPTEK, Pasar, Finansial, Organisasi.
Peran diatas merupakan keterlibatan agribisnis bagi swasta dan
masyarakat, bagi pemerintah agribisnis berperan dalam pengembangan dan
implementasi undang-undang, peraturan-peraturan, hukum dan legalitas. Pada
peta persaingan usaha, pemerintah berperan dalam mengkondisikan peluang dan
tantangan dunia usaha agar kondusif bagi pengembangan agribisnis. Agribisnis
juga mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi mikro pemerintah
dengan tujuan mencegah atau menangani kegagalan pasar. Beberapa kebijakan
pemerintah dalam mengintervensi pasar diantaranya :
3p Mengontrol harga dengan penetapan harga dasar, harga maksimum dan
kuota produksi.
3p Menaikkan atau menurunkan pajak dan subsidi.
3p Membatasi impor dengan penentuan tarif pajak dan kuota impor.
Peran agribisnis bagi ekonomi makro dapat dilihat dari pencantuman
pertanian pada posisi teratas laporan Produk Domestik Bruto sehingga bila
kebijakan ekonomi makro pemerintah adalah untuk menjaga kestabilan
pertumbuhan PDB, tentunya akan mempengaruhi atau dipengaruhi oleh
agribisnis.
Ekonomi internasional memperlihatkan keunggulan komparatif dan
keunggulan kompetitif sehingga pengembangan agribisnis akan mengembangkan
keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif bangsa Indonesia. Untuk
mengembangkan dan mempertahankan keunggulan-keunggulan tersebut,
beberapa kebijakan perdagangan internasional ditempuh oleh suatu negara.
Kebijakan perdagangan internasional dibagi menjadi kebijakan ekspor dan
kebijakan impor. Kebijakan ekspor terdiri dari kebijakan ekspor dalam negeri dan
kebijakan ekspor luar negeri. Sementara kebijakan impor terdiri dari tarif
penghalang (tariff barrier), kebijakan non tarif dan kebijakan perdagangan antar
negara (dumping dan international cartel).
Pasar produk agribisnis yang mendunia membuat agribisnis dipengaruhi
oleh sistem moneter internasional dengan bursa valasnya, sumber dana dan
pembiayaan internasional, pemahaman sistem pembayaran internasional,
perkembangan arus modal internasional sampai pada bisnis internasional dengan
bentuk multinational corporation. Hal ini membuat perekonomian suatu negara
menjadi perekonomian terbuka. Hal-hal diatas memperlihatkan keterlibatan dan
peran agribisnis dengan berbagai sektor sehingga layaklah bila agribisnis
dipelajari untuk lebih dipahami. Pemahaman yang akan menimbulkan kesadaran
dan keberpihakan semua pemangku kepentingan dalam pengembangan agribisnis
untuk mempertahankan keunggulan komparatif dan meraih keunggulan kompetitif
agribisnis negara kita.

· 
c  
Karakteristik agribisnis, yang menerangkan ciri-ciri agribisnis yaitu
sebagai berikut:
1)p Pemanenan energi surya
2)p Proses fotosintesis
3)p Pemenuhan kebutuhan manusia
4)p Bersifat berkelanjutan
5)p Bertujuan mencari profit

^    c   


Berdasarkan sistem agribisnis hulu-hilir, fungsi dan ruang lingkup agribisnis
terbagi menjadi :
3p Agribisnis hulu : merupakan agribisnis yang menangani faktor produksi
dan sarana untuk usaha tani. Dikenal juga dengan agribisnis input
3p Agribisnis usaha tani : merupakan agribisnis yang melakukan usaha
pemanenan energi surya melalui proses fotosintesis. Dikenal juga dengan
agribisnis produksi.
3p Agribisnis hilir : merupakan agribisnis yang mengolah output/hasil
produksi agribisnis. Dikenal juga dengan agribisnis proses dan
manufaktur.
3p Agribisnis penunjang : seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi
agribisnis. Dikenal dengan agribisnis jasa.

Îc  


Klasifikasi agribisnis ada bermacam ragam, hal yang penting diketahui adalah
tujuan dalam melakukan klasifikasi tersebut. Agribisnis dapat diklasifikasikan
berdasarkan sistem hulu ± hilir, agribisnis dapat diklasifikasikan berdasarkan
pembagian sektor pangan ± non pangan, dapat pula diklasifikasikan berdasarkan
jenis pengelolaan SDA, berdasarkan dampak ekologi, berdasarkan jumlah SDM,
berdasarkan tingkat teknologi yang digunakan, berdasarkan besarnya pasar yang
dikuasai, berdasarkan jumlah omset, berdasarkan besarnya investasi dan modal
kerja, bahkan berdasarkan jenis organisasinya.
Klasifikasi berdasarkan sistem agribisnis hulu ± hilir :
1.p Agribisnis Hulu
2.p Agribisnis Usaha Tani
3.p Agribisnis Hilir
4.p Agribisnis Penunjang
Klasifikasi berdasarkan sistem agribisnis pangan ± non pangan :
1.p Agribisnis Pangan
2.p Agribisnis Non Pangan
Klasifikasi berdasarkan tingkatan kebutuhan:
1.p Agribisnis Primer
2.p Agribisnis Sekunder
3.p Agribisnis Tersier
4.p Agribisnis Barang Mewah
Klasifikasi berdasarkan dampak ekologi
1.p Agribisnis Hijau
2.p Agribisnis Ramah Lingkungan
3.p Agribisnis Dampak Negatif
4.p Agribisnis Dampak Positif
Klasifikasi berdasarkan sifat fisiknya:
1.p Agribisnis untuk pemenuhan kebutuhan fisik
2.p Agribisnis untuk pemenuhan kebutuhan nonfisik/rohani/mental
Klasifikasi berdasarkan komoditinya:
1.p Agribisnis holtikultura
2.p Agribisnis tanaman semusim
3.p Agribisnis tanaman tahunan
4.p Agribisnis tanaman campuran
Klasifikasi berdasarkan ketersediaan lahan:
1.p Agribisnis lahan terbatas
2.p Agribisnis lahan luas
Klasifikasi berdasarkan pelakunya:
1.p Agribisnis individu
2.p Agribisnis kolektif
Klasifikasi berdasarkan IPTEK:
1.p Agribisnis berbasis IPTEK tepat guna
2.p Agribisnis berbasis IPTEK sederhana
3.p Agribisnis berbasis IPTEK madya
4.p Agribisnis berbasis IPTEK tinggi
Klasifikasi berdasarkan pemasaran:
1.p Agribisnis berbasis pasar konsumen, pasar bisnis dan pasar faktor produksi
2.p Agribisnis berbasis pemasaran langsung, pemasaran tidak langsung dan
pemasaran berjenjang
Klasifikasi berdasarkan industri finansial:
1.p Agribisnis berbasis modal sendiri atau modal pinjaman
2.p Agribisnis berbasis pembayaran cash atau kredit
3.p Agribisnis berbasis finansial jangka pendek atau jangka panjang
Klasifikasi berdasarkan organisasi:
1.p Agribisnis berbasis organisasi hubungan kerja : formal dan informal
2.p Agribisnis berbasis bentuk organisasi : organisasi lini, organisasi lini &
staf, organisasi fungsi dan organisasi panitia
3.p Agribisnis berbasis tipe organisasi : mendatar, piramida atau pirimida
terbalik.

 !  


 
   
 
" 
# 
Di Indonesia terdapat sekitar 100 jenis kelapa, diantaranya terdapat satu jenis
yang berdaging buah lunak dan tidak melekat secara sempurna pada
tempurungnya, rasanya enak dan harganya mahal. Jenis ini dikenal dengan nama
kelapa kopyor. Produktivitas buah kopyor per pohon setiap tahun sangat rendah
yaitu antara 2,1-17,5 persen dari jumlah produksi kelapa. Telah banyak usaha
untuk me-ningkatkan produksi kopyor antara lain dengan pembuahan sendiri dan
persilangan antar varietas, namun hanya berhasil meningkatkan produksi men-jadi
21,6 persen.
Cara lain untuk meningkatkan produksi buah kopyor adalah menggunaan teknik
kultur embrio. Penelitian perakitan pohon kelapa kopyor dengan kultur embrio
sudah dimulai sejak tahun 1982. Saat ini kelapa kopyor hasil kultur embrio
tersebut telah ditanam di Kebun Percobaan Ciomas sebanyak 80 pohon, empat di-
antaranya berumur delapan tahun lebih dan sudah menghasilkan buah dengan
persentase kopyor mencapai 92 persen. Hasil perakitan ini di-patenkan di
Direktorat Jenderal Hak Cipta Paten dan Merek, Departemen Kehakiman dengan
judul ³Teknologi Perakitan Bibit Kelapa Kopyor dengan Kultur Embrio´. (Paten
No.0001 957 tertanggal 1 September 1997).

 $  


  

  
Salah satu produk hasil penelitian bioteknologi adalah   Ô  Ô
  Ô
.  Ô
merupakan inokulan mikroba berbahan aktif
Ô   Ô  dan  Ô 
Ô
Ô dengan kemampuan
menambat N bebas dari udara dan melarutkan senyawa P dan K sukar larut dalam
tanah. Produk ini digunakan sebagai pendorong terbentuknya bintil akar pada
tanaman kacang-kacangan, sehingga pupuk N tidak di-perlukan dan dosis pupuk P
dan K dapat dikurangi sebanyak masing-masing 50 persen. Hasil pengujian di
rumah kaca menunjukkan bahwa produk ini sangat efektif dalam men-jamin
pertumbuhan tanaman penutup tanah kacang di lapangan. Pemasyarakatan produk
ini telah di-lakukan melalui PTP Nusantara VIII. Produk ini juga berpotensi untuk
tanaman kedelai dan pemasyarakatan oleh Swasta (PT. Kharisma-Jakarta) di
Lampung (150 Ha) berhasil me-ningkatkan hasil sebanyak 600 kg/Ha/musim.
Saat ini, pemasyarakatan yang lebih luas sedang dilaksanakan oleh PT. Hati Prima
Corp. di lima kabupaten Jawa Timur.

è!   %


Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) adalah satu limbah padat organik dalam
produksi minyak sawit. Selama ini bahan ini dibakar dalam Ô
 dan
abunya dimanfaatkan sebagai sumber pupuk kalium. Pembakaran akan
menimbulkan polusi udara dan mencemarkan lingkungan, sehingga hal ini
bertentangan dengan program langit biru yang sudah dicanangkan oleh
pemerintah. Untuk mengatasi masalah ini telah dilakukan penelitian sejak tahun
1997 dan berhasil diproduksi aktivator pengomposan yang berbahan aktif
  Ô   dan 
 Ô Ô   yang dirakit secara khusus.
Produk ini dinamakan OrgaDec singkatan dari  Ô!  (Pendaftaran
Paten # S-980045). Hasil pengujian di lapang menunjukkan bahwa penggunaan
OrgaDec secara ekonomis mampu mem-percepat produksi kompos TKKS
menjadi hanya 14 hari; sisa pangkasan teh 30 hari; dan kulit buah kakao 14 hari.
Mutu kompos yang dihasilkan cukup memadai sebagai pupuk organik. Aplikasi
kompos bioaktif ini selama tiga tahun akan mampu meningkatkan daya dukung
tanah sehingga dosis pupuk konvensional dapat dihemat hingga 50 persen.
Penyebarluasan produk ini telah dilakukan ke PTP Nusantara III, VI, VIII, XII
dan XIII.

·

 
#‘  
 & c  '(&c )
Bahan kimia yang banyak digunakan dalam bidang pertanian dapat
membahayakan kesehatan manusia maupun lingkungannya. Kesadaran
masyarakat untuk mengkonsumsi bahan makanan yang bergizi tinggi dan tidak
tercemar bahan kimia juga semakin tinggi. Untuk dapat memenuhi tuntutan
tersebut penggunaan bahan kimia terutama pestisida harus ditekan serendah
mungkin. Pengembangan produk biofungisida   Ô sebagai salah satu
alternatif yang men-janjikan telah berhasil dilaksanakan. Setelah melakukan
penelitian kurang lebih 4 tahun, telah dapat diproduksi Greemi-G. Greemi-G
adalah kependekan dari "  "Ô , produk biofungisida berbahan
aktif   Ô ÔÔ . Fungisida hayati ini telah teruji efektivitas baik di
laboratorium maupun di lapang dalam kaitannya dengan pengendalian penyakit
busuk pangkal batang akibat serangan "Ô Ô. Selain itu Greemi-G terbukti
efektif untuk pengendalian penyakit jamur akar putih pada karet dan busuk buah
pada kakao. Pemasyarakatan produk ini telah dilaksanakan melalui PTP
Nusantara I, III, dan VIII.

^
*
 $
  c+$ ! ' 
Pupuk kimia merupakan ke-butuhan utama dalam produksi pertanian, namun
aplikasinya menimbul-kan masalah polusi lingkungan dan mahalnya biaya
pemupukan. Untuk mengatasi masalah tersebut telah di-lakukan penelitian sejak
tahun 1994 dan telah berhasil dirakit sebuah produk yang dinamakan ³Emas´.
Emas yang merupakan kependekan dari G Ô  #Ô  
$
 

%  (Patent ID 0 000 2065 tanggal 25 Februari 1998) adalah 
  yang
ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan melalui penurunan dosis
pupuk konvensional yang dikombinasikan dengan 
 . Produk ini ber-
bahan aktif bakteri penambat N tanpa bersimbiosis, mikroba pelarut fosfat, dan
mikroba pemantap agregat yang diformulasikan dalam bahan pembawa secara
khusus berbentuk granul. Hasil pengujian di rumah kaca dan di lapang-an
menunjukkan bahwa produk ini dapat menurunkan dosis pupuk kon-vensional
sampai tingkat 50-25 persen dari dosis anjuran baku dengan tingkat keuntungan
ekonomis berupa peng-hematan biaya pupuk sekitar 20-40 persen. Kegiatan
produksi skala pilot telah dilaksanakan sejak tahun 1996 bersama-sama dengan
PTP Nusantara I, III, IV, VII, VIII, dan XIV. Tahun 2000 pengembangan
produksi komersial dilaksanakan melalui lisensi PT BioIndustri Nusantara
(Persero). Pabrik berkapasitas 8.000 ± 10.000 ton/tahun sedang dalam tahap
kontruksi.
Î  
 ,,$

 ,, -  $

  "



  !
( )
Penggerek pangkal batang (!
  , nama umum Boktor) merupakan
hama penting pada tanaman tebu. Kerugian produksi yang diakibatkan dapat
mencapai 50 %, sedangkan cara pengendalian yang efektif belum ditemukan.
Meskipun hama ini baru ditemukan di Subang, apabila tidak segera ditanggulangi
akan dapat menyebar ke lokasi lain sehingga dapat melumpuhkan industri gula di
Indonesia. Pengendalian hama secara hayati dengan bioinsektisida mempunyai
potensi untuk berhasil. UPBP Bogor telah mengembangkan bioinsektisida meteor
(No. Pendaftar-an Paten sederhana S20000106) dengan bahan aktif jamur
#
Ô   Ô Ô dengan 2 formulasi yaitu tepung dan butiran. Produk
bioinsektisida tersebut tahan dalam penyimpanan selama minimum 8 bulan dan
terbukti efektif untuk mengendalikan hama Boktor pada skala laboratorium dan
semi lapang, serta pada pengamatan pendahuluan percobaan lapang. Di
laboratorium meteor dapat mematikan 100 % Boktor dalam waktu 3 ± 15 hari.
Larva terserang dapat mati lemas, kulit memar dan mengeras yang diikuti dengan
munculnya misellium jamur dipermukaan kulit. Dari bantalan, misellium dapat
tumbuh berjuta-juta spora yang menyerupai beludru yang berwatna hijau keabu-
abuan. Spora yang dapat diproduksi mudah terlepas dan menular keboktor yang
sehat. Pada percobaan semi lapang dengan meng-gunakan tebu yang ditanam di
pot dapat dibuktikan bahwa meteor yang diaplikasikan disekitar tanaman di dalam
tanah mampu bertahan dan tetap efektif lebih dari 6 bulan. Percobaan di lapang
yang mencakup luasan 12 ha pertanaman tebu sedang dilakukan di pabrik gula
Subang Jabar. Pada pengamatan pertama di-lakukan 2 bulan setelah penanaman,
jumlah larva, kokon dan imago yang ditemukan pada seluruh perlakuan rata-rata
0,2 ekor/m2. Jumlah ini jauh lebih kecil dari hasil pengamatan pendahuluan
sebelum aplikasi bioinsektisida yaitu 4,3 ekor/m2 atau kurang dari 5 % dari
populasi awal. Keberhasilan penelitian di labora-torium dan uji coba di lapang
aplikasi bioinsektisida meteor untuk pengendalian hama Boktor pada tebu
menimbulkan optimisme bahwa bioinsektisida ini dapat diaplikasikan dalam skala
besar di lapangan.
. 
!
  
   !   $  
Telah diuji coba beberapa varietas sorgum manis impor di lahan kering Jawa
Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Tiga varietas
introduksi telah dicoba yakni Rio, Wray, dan Keller.
Paket budidaya sorgum manis yang telah diteliti adalah waktu tanam, cara
penanaman, pemupukan, pengairan, dan pemanenan. Hasil bobot sorgum manis
ketiga varietas tersebut adalah 25,4 ton per ha, 38,3 ton per ha dan 33,9 ton per ha.
Dengan hasil nira mentah berturut-turut 13,2 ton per ha, 17,2 ton per ha dan 16,9
ton per ha. Umur sorgum manis ketiga varietas tersebut antara 4 - 4,5 bulan.
Pemerahan sorgum manis untuk diambil niranya sama dengan tebu. Upaya untuk
mendapatkan nira yang bisa dikristalisasi adalah dengan penguapan pada dapur
wajan terbuka dengan suhu masak tertentu, lalu hasil koagulasinya disaring
dengan saringan kasa lima puluh mikron. Sirup kental hasil pemasakan telah
berkadar amilum < 100 ppm dan dapat dicetak menjadi gula merah.


/
http://diansaputra.wordpress.com/
http://taman-agribisnis.blogspot.com/
http://www.ipard.com/penelitian/