Anda di halaman 1dari 54

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah
profesi bagi pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. ASN sebagai
pelaksana profesi pegawai pemerintah Negara Kesatuan Republik
Indonesia, harus memiliki integritas, profesional, netral dan bebas dari
intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme serta
mampu menyelenggarakan pelayanan publik bagi masyarakat dan
mampu menjalankan peran sebagai perekat persatuan dan kesatuan
bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, demikian yang diamanahkan dalam
Undang-undang Nomor 5 tahun 2015 tentang Aparat Sipil Negara.
Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki tiga fungsi penting, yaitu
sebagai pelayan publik, pembuat dan pelaksana kebijakan, serta
perekat dan pemersatu bangsa. ASN juga memiliki peran yang amat
penting dalam rangka menciptakan masyarakat yang madani yang taat
hukum, berperadaban modern, demokratis, adil, makmur, dan bermoral
tinggi dalam menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat. Dalam
menjalankan peran dan tugasnya tersebut ASN di ikat oleh Asas,
prinsip, nilai dasar, serta kode etik dan kode perilaku.
Guna untuk mewujudkan Tujuan, tugas, fungsi dan tanggungjawab
ASN, sebagaimana di amanah oleh peraturan-perundangan, untuk
meningkatkan kualitas, profesionalisme dan loyalitas ASN, Penulis
bermaksud untuk mengidentifikasi, hambatan, masalah dan literasi
dalam pelaksanaan tugas, fungsi dan tanggungjawab sebagai profesi
ASN khususnya sebagai dokter umum di UPTD Puskesmas Kutawis,
Kabupaten Purbalingga, untuk mendapat perhatian serius guna
mencapai tujuan untuk membentuk ASN yang profesional dan dalam
rangka mewujudkan visi dan misi organisasi.
Kegiatan yang dimaksud melalui aktualisasi yang menerapkan
konsep nilai dasar akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen
mutu, dan anti korupsi (ANEKA) yang diharapkan dapat turut serta
memberikan kontribusi melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat solutif
dan inovatif khusus dalam rangka pelaksanaan tugas sebagai dokter
umum di UPTD Puskesmas Kutawis, Kabupaten Purbalingga.
Realisasi pelaksanaan kegiatan aktualisasi dalam rangka
penerapan nilai ASN, melalui pengamatan atau survey awal (hipotesa)
pada pelaksanaan kegiatan pelayanan publik di UPTD Puskesmas
Kutawis, Kabupaten Purbalingga, masih kurang terinternalisasi. Salah
satunya adalah Kurang Optimalnya Pelayanan Kesehatan Pasien
Lanjut Usia Pada Penyakit Tidak Menular (Hipertensi dan Diabetes
Melitus) di UPTD Puskesmas Kutawis, yang ditandai dengan kurang
efektif dan efisiennya pelaksanaan program PROLANIS serta masih
tingginya angka kesakitan hipertensi dan diabetes melitus di UPTD
Puskesmas Kutawis, Kabupaten Purbalingga.
Hipertensi dan Diabetes Melitus merupakan silent killer, tidak
langsung menyebabkan kematian tetapi komplikasi yang dihasilkan
dapat menurunkan kualitas hidup hingga berakhir dengan kematian.
Selama 3 tahun terakhir jenis penyakit tidak menular yang paling
banyak terjadi di Kabupaten Purbalingga adalah jumlah kasus
Hipertensi tahun 2017 yang ditemukan sebanyak 20.611 kasus
(14,26%) dari 144.539 orang yang dilakukan pengukuran tekanan
darah tinggi di puskesmas dan jaringannya.
Jumlah kasus Diabetes Melitus tahun 2017 yang ditemukan oleh
Puskesmas dan jaringannya sebanyak 779 kasus yang menjadi salah
satu keutamaan pada penyelenggaraan puskesmas. Mengingat
pentingnya pelayanan kesehatan pada penyakit tidak menular maka
pelaporan dan pelaksanaannya pun harus penuh dengan pengawasan,
efektif dan efisien. Berdasarkan identifikasi isu yang terdapat di
Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga penulis sebagai dokter
umum pertama mengangkat rancangan aktualisasi dengan judul

2
Optimalisasi Pelayanan Kesehatan Pasien Lanjut Usia pada Penyakit
Tidak Menular (Hipertensi dan Diabetes Melitus) di UPTD Puskesmas
Kutawis Kabupaten Purbalingga.
B. Identifikasi Isu, Dampak Jika Isu Tidak Diselesaikan, Dan Rumusan
Masalah
1. Identifikasi Isu, Dampak Jika Isu Tidak Diselesaikan
Rencana kegiatan aktualisasi yang akan dilaksanakan di
Puskesmas Kutawis, Kabupaten Purbalingga, sesuai dengan nilai-
nilai dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) yaitu ANEKA (Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi) dan
sesuai dengan peran dan kedudukan ASN dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Rancangan kegiatan aktualisasi dan habituasi
dibuat berdasarakan identifikasi isu dengan mempertimbangkan
keaktualan, problematik, kekhalayakan dan kelayakan isu tersebut
(metode APKL). Kemudian prioritas isu ditentukan dengan
mengukur tingkat urgensi (urgency), keseriusan masalah
(seriously), dan perkembangan masalah tersebut jika tidak
dipecahkan (growth) yang dikenal dengan metode USG. Prioritas
isu yang telah ditentukan kemudian di identifikasi berdasarkan
sumber isu, aktor yang terlibat, peran masing-masing aktor yang
terlibat dan keterkaitan dengan mata pelatihan, dan kegiatan-
kegiatan yang digagas untuk menyelesaikan permasalahan yang
ada di Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga.
Daftar isu yang diperoleh dalam lingkungan kerja penulis yang
dikatkan dengan agenda ketiga Pelatihan Dasar CPNS (Manajemen
ASN, Whole of Government (WOG), dan Pelayanan Publik) dapat
ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 1.1 Identifikasi Isu dikaitkan dengan Agenda Ketiga Pelatihan
Dasar CPNS CPNS (Manajemen ASN, Whole of
Government (WOG), dan Pelayanan Publik)
No Isu Sumber Isu Kondisi Saat Kondisi yang
Ini Diharapkan
1. Kurang Pelayanan Masih belum Terselengaranya
optimalnya Publik optimalnya pelayanan
pelayanan pelayanan kesehatan pada

3
kesehatan kesehatan penyakit tidak
pasien lanjut penyakit tidak menular
usia pada menular (hipertensi dan
Penyakit Tidak (hipertensi dan diabetes melitus)
Menular diabetes secara terpadu
(Hipertensi dan melitus) baik melalui
Diabetes pasien lanjut upaya promotif,
Melitus) di usia, terbukti preventif dan
UPTD dengan masih kuratif.
Puskesmas banyaknya
Kutawis pasien lanjut
kabupaten usia yang
Purbalingga datang ke
puskesmas
dengan
Hipertensi dan
Diabetes
Melitus.
2. Kurangnya Manajemen Masih banyak Setiap tenaga
kesadaran ASN tenaga medis medis di
tenaga medis yang belum puskesmas
akan menerapkan menerapkan
pentingnya cuci tangan perilaku cuci
cuci tangan sebelum dan tangan baik
sebelum dan sesudah sebelum dan
sesudah melakukan sesudah
tindakan di tindakan melakukan
UPTD medis tindakan medis
Puskesmas
Kutawis
kabupaten
Purbalingga
3. Kurangnya Pelayanan Masih Penemuan kasus
penemuan publik kurangnya Pneumonia
kasus penemuan sesuai target
Pneumonia di kasus
UPTD Pneumonia di
Puskesmas UPTD
Kutawis Puskesmas
kabupaten Kutawis
Purbalingga
4. Kurang Pelayanan Masih kurang Perbaikan
optimalnya Publik optimalnya pemberian obat
pemberian pemberian penyakit kulit
obat pada obat penyakit Dermatitis sesuai
penyakit kulit kulit Dermatitis diagnosis pasien
Dermatitis di di UPTD
UPTD

4
Puskesmas Puskesmas
Kutawis Kutawis
kabupaten
Purbalingga
5. Kurang Pelayanan Meningkatnya Berkurangnya
optimalnya Publik jumlah ODGJ jumlah ODGJ
pengelolaan di UPTD dan pelayanan
kesehatan Puskesmas yang optimal
pada ODGJ di Kutawis. pada pasien
UPTD dengan ODGJ.
Puskesmas
Kutawis
kabupaten
Purbalingga

Penetapan Isu dilakukan melalui analisis isu dengan


menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu. Analisis isu
ini bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan
prioritas isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan
kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. Analisis isu dilakukan
dengan menggunakan alat bantu APKL (Aktual, Problematik,
Kekhalayakan, Kelayakan) dan USG (Urgency, Seriousness, dan
Growth). Analisis APKL dan USG disajikan pada Tabel 1.2.

5
6

Tabel 1.2. Analisis APKL dan USG


Kriteria APKL Kriteria USG
No. Sumber Isu Isu Peringkat
A P K L Keterangan U S G ∑
Pelayanan Kurang optimalnya pelayanan
Publik kesehatan pasien lanjut usia pada
penyakit tidak menular (hipertensi
1. + + + + Memenuhi Syarat 5 5 5 15 1
dan diabetes mellitus) di UPTD
Puskesmas Kutawis kabupaten
Purbalingga
Manajemen Kurangnya kesadaran tenaga
ASN medis akan pentingnya cuci
Tidak Memenuhi
2. tangan sebelum dan sesudah + + + - 3 4 4 11 3
Syarat
tindakan di UPTD Puskesmas
Kutawis kabupaten Purbalingga
Pelayanan Kurangnya penemuan kasus
3. Publik pneumonia di UPTD Puskesmas + + + + Memenuhi Syarat 5 5 4 14 2
Kutawis kabupaten Purbalingga
Pelayanan Kurang optimalnya pemberian
Publik obat penyakit kulit Dermatitis di
4. + + + + Memenuhi Syarat 4 4 4 12 4
UPTD Puskesmas Kutawis
kabupaten Purbalingga
Pelayanan Kurang optimalnya pengelolaan
Publik kesehatan pada ODGJ di UPTD Tidak Memenuhi
5. + + + - 3 3 3 9 5
Puskesmas Kutawis kabupaten Syarat
Purbalingga
KETERANGAN : SKALA LINKERT :
1. A = Aktual 5. U = Urgency 8. MS = Memenuhi Syarat 1 = Tidak U/S/G
2. P = Problematik 6. S = Seriousness 9. TMS = Tidak Memenuhi Syarat 2 = Kurang U/S/G
3. K = Khalayak 7. G = Growth 3 = Cukup U/S/G
4. L = Layak 4 = U/S/G
5=SangatU/S/G
Dari hasil analisis APKL didapatkan isu yang dinyatakan
memenuhi kriteria, yang kemudian isu-isu tersebut dianalisis lebih
lanjut dengan menggunakan analisis USG. Analisis USG merupakan
alat analisis yang dilakukan untuk menentukan prioritas isu melalui
tingkat kegawatan, keseriusan, dan tingkat pertumbuhan suatu isu
atau masalah. Analisis USG dilakukan dengan memberikan nilai
dengan rentang antara 1 sampai 5 dengan ketentuan nilai 1 berarti
sangat kecil, nilai 2 berarti kecil, nilai 3 berarti sedang, nilai 4 berarti
besar, dan nilai 5 berarti sangat besar. Isu dengan total skor tertinggi
merupakan isu prioritas yang akan ditetapkan untuk diselesaikan
dengan kegiatan-kegiatan yang diusulkan.
B e r d a s a r k a n hasil analisis A P K L d a n USG, ditetapkan
isu yang menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti ialah kurang
optimalnya pelayanan kesehatan pasien lanjut usia pada penyakit
tidak menular (hipertensi dan diabetes mellitus) di UPTD
Puskesmas Kutawis
2. Dampak Jika Isu Tidak Diselesaikan
Dampak isu terpilih yang telah dianalisis menggunakan metode
USG jika tidak diselesaikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.3 Dampak jika Isu Tidak Diselesaikan
No Sumber Identifikasi Isu Dampak
Isu
1 Pelayanan Kurang optimalnya Penyakit tidak menular
Publik pelayanan terutama Hipertensi dan
kesehatan pasien Diabetes Melitus merupakan
lanjut usia pada penyakit kronis yang memiliki
Penyakit Tidak dampak luas apabila tidak
Menular (Hipertensi ditangani secara
dan Diabetes komprehensif. Komplikasi
Melitus) di UPTD yang ditimbulkan dapat
Puskesmas Kutawis menyerang beberapa organ
kabupaten diantaranya jantung, ginjal,
Purbalingga otak, pembuluh darah kecil
dan saraf tepi. Selain itu juga
dapat mengganggu aktifitas
dan kenyamanan hidup.
Pelayanan kesehatan
terhadap penyakit tidak

7
menular terutama hipertensi
dan diabetes melitus sangat
diperlukan, karena dapat
mengurangi usia harapan
hidup seseorang dan
menurunkan derajat
kesehatan.
Bagi organisasi, pelayanan
kesehatan yang tidak optimal
akan mengakibatkan
ketidakpercayaan
masyarakat terhadap
kapabilitas organisasi dalam
menangani penyakit tidak
menular, terutama hipertensi
dan diabetes melitus.

3. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi isu dan penetapan isu di atas, rumusan
masalah dalam rancangan aktualisasi ini adalah :
a. Bagaimana upaya optimalisasi pelayanan kesehatan pasien
lanjut usia pada penyakit tidak menular (hipertensi dan diabetes
mellitus) di UPTD Puskesmas Kutawis?
b. Bagaimana keterkaitkan antara kegiatan yang di usulkan dengan
nilai-nilai dasar ASN (ANEKA) yang mendasari kegiatan baik
langsung maupun tidak langsung?
c. Bagaimana kontribusi antara visi, misi, dan penguatan nilai
organisasi dengan hasil kegiatan dari isu yang diangkat

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan rancangan
aktualisasi nilai-nilai dasar PNS ini adalah sebagai berikut;
1. Untuk optimalisasi pelayanan kesehatan pasien lanjut usia pada
penyakit tidak menular (hipertensi dan diabetes melitus) di UPTD
Puskesmas Kutawis.
2. Untuk mengetahui keterkaitan antara kegiatan yang di usulkan
dengan nilai-nilai dasar ASN (ANEKA) yang mendasari kegiatan
baik secara langsung maupun tidak langsung

8
3. Untuk mengetahui kontribusi antara visi ,misi, dan penguatan nilai
organisasi dengan hasil kegiatan dari isu yang diangkat.

D. Manfaat
Manfaat rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar PNS ini adalah
sebagai berikut:
1. Bagi Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III
a. Mampu memahami, menginternalisasi dan mengaktualisasikan
nilai-nilai dasar PNS yang meliputi Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi.
b. Menjadi dokter yang mampu menjalankan fungsi sebagai
pelaksana kebijakan, pelayan publik dan perekat dan pemersatu
bangsa yang memiliki integritas dan profesional di lingkungan
UPTD Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga.
2. Bagi Instansi (Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga)
a. Rancangan aktualisasi ini dapat meningkatkan efektivitas,
efisiensi, dan inovasi serta mutu pelayanan kesehatan di UPTD
Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga.
b. Terwujudnya visi dan misi UPTD Puskesmas Kutawis Kabupaten
Purbalingga.
3. Bagi Stakeholder
Mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan
kebutuhan dan harapannya dalam bidang kesehatan.

9
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Sikap Perilaku Bela Negara


1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur,
pada hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa
dan bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku PNS harus sesuai
dengan kepribadian bangsa dan selalu mengkaitkan dirinya dengan
cita-cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia (sesuai amanah yang ada
dalam Pembukaan UUD 1945) melalui:
a. Menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan negara
Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang
mendiami banyak pulau yang membentang dari Sabang sampai
Merauke, dengan beragam bahasa dan adat istiadat
kebudayaan yang berbeda-beda. Kemajemukan itu diikat dalam
konsep wawasan nusantara yang merupakan cara pandang
bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
b. Menumbuhkan rasa memiliki jiwa besar dan patriotisme untuk
menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan
perilaku yang patriotik dimulai dari hal-hal yang sederhana yaitu
dengan saling tolong menolong, menciptakan kerukunan
beragama dan toleransi dalam menjalankan ibadah sesuai
agama masing-masing, saling menghormati dengan sesama
dan menjaga keamanan lingkungan.
c. Memiliki kesadaran atas tanggungjawab sebagai warga negara
Indonesia yang menghormati lambang-lambang negara dan
mentaati peraturan perundang-undangan.
Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran
berbangsa dan bernegara perlu mendapat perhatian dan tanggung

10
jawab bersama. Sehingga amanat pada UUD 1945 untuk menjaga
dan memelihara Negara Kesatuan wilayah Republik Indonesia serta
kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan. Hal yang dapat mengganggu
kesadaran berbangsa dan bernegara. Bagi PNS yang perlu di cermati
secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan kepekaan
sosial, padahal banyak persoalan-persoalan masyarakat yang
membutuhkan peranan PNS dalam setiap pelaksanaan tugas
jabatannya untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari
himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik, karena
dengan terbantunya masyarakat dari semua lapisan keluar dari
himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya menjadi bangsa yang
kuat dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun, karena
masyarakat itu sendiri yang harus disejahterakan dan jangan sampai
mengalami penderitaan. Di situ PNS telah melakukan langkah konkrit
dalam melakukan bela negara.
Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk
mempertahankan negara kita dari ancaman yang dapat
mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan
atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat
menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam diri
masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar juga
merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang
dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan
rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta
terhadap tanah air kita.
Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya
dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:
a. Cinta Tanah Air.
Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita
cintai. Kesadaran bela negara yang ada pada setiap masyarakat
didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air kita. Kita dapat

11
mewujudkan itu semua dengan cara kita mengetahui sejarah
negara kita sendiri, melestarikan budaya-budaya yang ada,
menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama baik
negara kita.
b. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara.
Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita
yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang selalu
dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita
dapat mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian
antar perorangan atau antar kelompok dan menjadi anak bangsa
yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
c. Pancasila.
Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan
sungguh luar biasa, pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan
normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu keberagaman
yang ada di Indonesia yang memiliki beragam budaya, agama,
etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat
mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan.
d. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara.
Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela
berkorban untuk bangsa dan negara. Contoh nyatanya seperti
sekarang ini yaitu perhelatan seagames. Para atlet bekerja keras
untuk bisa mengharumkan nama negaranya walaupun mereka
harus merelakan untuk mengorbankan waktunya untuk bekerja
sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan hanya menjadi
seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain.
Begitupun supporter yang rela berlama-lama menghabiskan
waktunya antri hanya untuk mendapatkan tiket demi mendukung
langsung para atlet yang berlaga demi mengharumkan nama
bangsa.
e. Memiliki Kemampuan Bela Negara.

12
Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan
dengan tetap menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam
menjalani profesi masing-masing.
Kesadaran bela negara dapat diwujudkan dengan cara ikut
dalam mengamankan lingkungan sekitar seperti menjadi bagian dari
Siskamling, membantu korban bencana sebagaimana kita ketahui
bahwa Indonesia sering sekali mengalami bencana alam, menjaga
kebersihan minimal kebersihan tempat tinggal kita sendiri, mencegah
bahaya narkoba yang merupakan musuh besar bagi generasi
penerus bangsa, mencegah perkelahian antar perorangan atau antar
kelompok karena di Indonesia sering sekali terjadi perkelahian yang
justru dilakukan oleh para pemuda, cinta produksi dalam negeri agar
Indonesia tidak terus menerus mengimpor barang dari luar negeri,
melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa
yang berprestasi baik pada tingkat nasional maupun internasional.
2. Analisis Isu Kontemporer
Saat ini konsep negara,bangsa dan nasionalisme dalam konteks
Indonesia sedang berhadapan dengan dilema antara globalisasi dan
etnik nasionalisme yang harus disadari sebagai perubahan
lingkungan strategis. Termasuk di dalamnya terjadi pergeseran
pengertian tentang nasionalisme yang berorientasi kepada pasar
atau ekonomi global. Dengan menggunakanan logika sederhana,
“pada tahun 2020, diperkirakan jumlah penduduk dunia akan
mencapai 10 milyar dan akan terus bertambah, sementara sumber
daya alam dan tempat tinggal tetap, maka manusia di dunia akan
semakin keras berebut untuk hidup, agar mereka dapat terus
melanjutkan hidup”. Pada perubahan ini perlu disadari bahwa
globalisasi dengan pasar bebasnya sebenarnya adalah sesuatu
yang tidak terhindarkan dan bentuk dari konsekuensi logis dari
interaksi peradaban dan bangsa.
Berdasarkan penjelasan di atas, perlu disadari bahwa PNS
sebagai aparatur Negara dihadapkan pada pengaruh yang datang

13
dari eksternal juga internal yang kian lama kian menggerus
kehidupan berbangsa dan bernegara: Pancasila, UUD 1945, NKRI
dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai konsensus dasar berbangsa dan
bernegara. Fenomena tersebut menjadikan pentingnya setiap PNS
mengenal dan memahami secara kritis terkait isu-isu strategis
kontemporer diantaranya; korupsi, narkoba, paham radikalisme/
terorisme, money laundry, proxy war, dan kejahatan komunikasi
masal seperti cybercrime, Hate Speech, dan Hoax, dan lain
sebagainya.
3. Kesiapsiagaan Bela Negara
Untuk melatih kesiapsiagaan bela negara bagi CPNS ada beberapa
hal yang dapat dilakukan, salah satunya adalah tanggap dan mau tahu
terkait dengan kejadian-kejadian permasalahan yang dihadapi bangsa
negara Indonesia, tidak mudah terprovokasi, tidak mudah percaya
dengan barita gosip yang belum jelas asal usulnya, tidak terpengaruh
dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan permasalahan
bangsa lainnya, dan yang lebih penting lagi ada mempersiapkan jasmani
dan mental untuk turut bela negara.
Pasal 27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945 mengamanatkan
kepada semua komponen bangsa berhak dan wajib ikut serta dalam
upaya pembelaan negara dan syarat-syarat tentang pembelaan negara.
Dalam hal ini setiap CPNS sebagai bagian dari warga masyarakat tentu
memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk melakukan bela Negara
sebagaimana diamanatkan dalam UUD Negara RI 1945 tersebut.
Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada
negara dan kesediaan berkorban membela negara. Cakupan bela
negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras.
Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama
menangkal ancaman nyata musuh bersenjata. Tercakup di dalamnya
adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Setidaknya unsur Bela Negara antara lain :
a. Cinta tanah air

14
b. Kesadaran berbangsa dan bernegara
c. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara
d. Rela berkorban untuk bangsa dan negara; dan
e. Memiliki kemampuan awal bela negara.
Terkait dengan Pelatihan Dasar bagi CPNS, sudah barang tentu
kegiatan bela negara bukan memanggul senjata sebagai wajib militer
atau kegiatan semacam militerisasi, namun lebih bagaimana
menanamkan jiwa kedisiplinan, mencintai tanah air (dengan menjaga
kelestarian hayati), menjaga aset bangsa, menggunakan produksi dalam
negeri, dan tentu ada beberapa kegiatan yang bersifat fisik dalam rangka
menunjang kesiapsiagaan dan meningkatkan kebugaran sifik saja.
Oleh sebab itu maka dalam pelaksanaan latihan dasar bagi
CPNS akan dibekali dengan latihan-latihan seperti :
a. Kegiatan Olah Raga dan Kesehatan Fisik;
b. Kesiapsiagaan dan kecerdasan Mental;
c. Kegiatan Baris-berbaris, Apel, dan Tata Upacara;
d. Keprotokolan;
e. Fungsi-fungsi Intelijen dan Badan Pengumpul Keterangan;
f. Kegiatan Ketangkasan dan Permainan.
B. Nilai Dasar Pegawai Negeri Sipil
Nilai-nilai dasar adalah nilai yang sangat dibutuhkan dalam tugas
jabatan PNS secara profesional sebagai pelayan masyarakat. Nilai-nilai
dasar tersebut meliputi: Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi. Kelima nilai-nilai dasar ini
diakronimkan menjadi “ANEKA” yang dijabarkan sebagai berikut:
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah Kewajiban untuk memberikan pertanggung
jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan
tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi
kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta
keterangan atau pertanggungjawaban.

15
Akuntabilitas adalah suatu kewajiban pertanggungjawaban yang
harus dicapai. Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu,
kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang
menjadi amanahnya. Dengan demikian kepercayaan masyarakat
(public trust) kepada birokrasi akan semakin menguat karena
aparaturnya mampu berperan sebagai kontrol demokrasi, mencegah
korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta meningkatkan
efisiensi dan efektivitas.
a. Indikator dari nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus
diperhatikan, yaitu :
1) Kepemimpinan : Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas
ke bawah dimana pimpinan memainkan peranan yang penting
dalam menciptakan lingkungannya.
2) Transparansi : Keterbukaan atas semua tindakan dan
kebijakan yang dilakukan oleh individu maupun
kelompok/instansi.
3) Integritas : konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan
dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
4) Tanggung Jawab : kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di
sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajiban.
5) Keadilan : kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai
sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.
6) Kepercayaan : Rasa keadilan akan membawa pada sebuah
kepercayaan. Kepercayaan ini yang akan melahirkan
akuntabilitas.
7) Keseimbangan : Untuk mencapai akuntabilitas dalam
lingkungan kerja, maka diperlukan keseimbangan antara
akuntabilitas dan kewenangan, serta harapan dan kapasitas.

16
8) Kejelasan : Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab
harus memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang
menjadi tujuan dan hasil yang diharapkan.
9) Konsistensi : adalah sebuah usaha untuk terus dan terus
melakukan sesuatu sampai pada tercapai tujuan akhir.
b. Jenis-jenis Akuntabilitas
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:
1) Akuntabilitas vertikal (vertical accountability), akuntabilitas
yang pertanggungjawaban atas pengelolaan dananya kepada
otoritas yang lebih tinggi.
2) Akuntabilitas horizontal (horizontal accountability),
akuntabilitas yang pertanggungjawabannya kepada
masyarakat luas.
c. Tingkatan Akuntabilitas
Tingkatan akuntabilitas terdiri dari lima (5) tingkatan yaitu:
1) Akuntabilitas Personal
2) Akuntabilitas Individu
3) Akuntabilitas Kelompok
4) Akuntabilitas Organisasi
5) Akuntabilitas Stakeholder
d. Aspek Akuntabilitas
Terdapat beberapa aspek dalam akuntabilitas, antara lain :
1) Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (accountability is a
relationship)
2) Akuntabilitas berorientasi pada hasil (accountability is results
oriented)
3) Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (accountability
requires reporting)
4) Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (accountability is
meaningless without consequences)
5) Akuntabilitas memperbaiki kinerja (accountability improves
performance)

17
2. Nasionalisme
Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai
bangsa dan negara sendiri; sifat nasional; kesadaran keanggotaan
dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-
sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas,
integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat
kebangsaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Nasionalisme merupakan sikap yang meninggikan bangsanya
sendiri dan pandangan tentang rasa cinta terhadap bangsa dan
negara. Dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap PNS memiliki
orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa, dan
negara. Nasionalisme merupakan pandangan atau paham kecintaan
manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang
didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. PNS dapat mempelajari
bagaimana aktualisasi sila demi sila dalam Pancasila agar memiliki
karakter yang kuat dengan nasionalisme dan wawasan
kebangsaannya.
Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar nasionalisme yang
harus diperhatikan, yaitu :
a. Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan
ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya
masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan
bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut
kepercayaan yang berbedabeda terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.
4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama
dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

18
5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia
dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing.
7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain
b. Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradap
1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan
harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha
Esa.
2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan
kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan
suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang
lain.
6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari
seluruh umat manusia.
10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan
bekerjasama dengan bangsa lain.
c. Sila Ketiga : Persatuan Indonesia
1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta
kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.

19
2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan.
3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan
bertanah air Indonesia.
5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka
Tunggal Ika.
7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan
bangsa.
d. Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap
manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan
kewajiban yang sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan
untuk kepentingan bersama.
4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai sebagai hasil musyawarah.
6) Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan
melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan.
8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai
dengan hati nurani yang luhur.
9) Keputusan yang diambil harus dapat
dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang
Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,

20
nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan
dan kesatuan demi kepentingan bersama.
10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang
dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.
e. Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh Indonesia
1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan
sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4) Menghormati hak orang lain.
5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat
berdiri sendiri.
6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang
bersifat pemerasan terhadap orang lain.
7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan
atau merugikan kepentingan umum.
9) Suka bekerja keras.
10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi
kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan
kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
3. Etika Publik
Etika dipahami sebagai refleksi atas baik/buruk, benar/salah
yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan yang baik atau
benar, sedangkan moral mengacu pada kewajiban untuk melakukan
yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan. Dalam kaitannya
dengan pelayanan publik, etika publik adalah refleksi tentang
standar/ norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku,
tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam
rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.

21
Etika dapat dipahami sebagai sistem penilaian perilaku serta
keyakinan untuk menentukan perbuatan yang pantas, guna
menjamin adanya perlindungan hak-hak individu, mencakup cara-
cara pengambilan keputusan untuk membantu membedakan hal-hal
yang baik dan buruk serta mengarahkan apa yang seharusnya
dilakukan sesuai nila-nilai yang dianut :
a. Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik yakni:
1) Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
2) Sisi dimensi reflektif, etika publik berfungsi sebagai bantuan
dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat
evaluasi.
3) Modalitas etika, menjembatani antara norma moral dan
tindakan faktual.
b. Pada prinsipnya ada 3 (tiga) dimensi etika publik yaitu :
1. Dimensi Kualitas Pelayanan Publik
2. Dimensi Modalitas
3. Dimensi Tindakan Integritas Publik
c. Indikator nilai-nilai dasar etika publik, yaitu :
1) Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.
2) Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara
Kesatuan Republik Indonesia 1945.
3) Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.
4) Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.
5) Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.
6) Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.
7) Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada
publik.
8) Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan
program pemerintah.
9) Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap,
cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.
10) Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.

22
11) Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.
12) Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja
pegawai.
13) Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.
14) Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang
demokratis sebagai perangkat sistem karir.
4. Komitmen Mutu
Komitmen adalah janji pada diri sendiri atau pada pihak lain
kemudian ada upaya yang tercermin dalam tindakan. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia komitmen adalah perjanjian
(keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Sedangkan mutu menurut
Goetsch dan Davis merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan
dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan.
Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada
orang lain yang tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu
kinerja pegawai. Komitmen mutu merupakan pelaksanaan
pelayanan publik dengan berorientasi pada kualitas hasil,
dipersepsikan oleh individu terhadap produk/ jasa berupa ukran baik/
buruk. Bidang apapun yang menjadi tanggungjawab pegawai negeri
sipil semua mesti dilaksanakan secara optimal agar dapat memberi
kepuasan kepada stakeholder.
a. Nilai-nilai Komitmen Mutu:
1) Efektivitas: dapat diartikan dengan berhasil guna, dapat
mencapai hasil sesuai dengan target. Sedangkan efektivitas
menunjukkan tingkat ketercapaian target yang telah
direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun mutu hasil
kerja. Efektivitas organisasi tidak hanya diukur dari
performans untuk mencapai target (rencana) mutu,
kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber daya,
melainkan juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya
kebutuhan pelanggan.

23
2) Efisiensi: dapat dihitung sebagai jumlah sumberdaya yang
digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa. Tingkat
efisiensi diukur dari penghematan biaya, waktu, tenaga, dan
pikiran dalam melaksanakan kegiatan. Efisiensi organisasi
ditentukan oleh berapa banyak bahan baku, uang dan
manusia yang dibutuhkan untuk menghasilkan jumlah
keluaran tertentu.
3) Inovasi: dapat muncul karena ada dorongan dari dalam
(internal) untuk melakukan perubahan, atau bisa juga karena
ada desakan kebutuhan dari pihak eksternal misalnya
permintaan pasar. Inovasi dalam layanan publik harus
mencerminkan hasil pemikiran baru yang konstruktif,
sehingga akan memotivasi setiap individu untuk
membangun karakter dan mindset baru sebagai aparatur
penyelenggara pemerintahan, yang diwujudkan dalam
bentuk profesionalisme layanan publik yang berbeda dengan
sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau
menggugurkan tugas rutin.
4) Orientasi mutu: mutu merupakan salah satu standar yang
menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil kerja. Mutu
menjadi salah satu alat vital untuk mempertahankan
keberlanjutan organisasi dan menjaga kredibilitas institusi.
Orientasi mutu berkomitmen untuk senantiasa melakukan
pekerjaan dengan arah dan tujuan untuk kualitas pelayanan
sehingga pelanggan menjadi puas dalam pelayanan.
b. Ada lima dimensi karakteristik yang digunakan dalam
mengevaluasi kualitas pelayanan, yaitu:
1) Tangibles (bukti langsung), yaitu : meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi;
2) Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan dalam
memberikan pelayanan dengan segera dan memuaskan serta
sesuai dengan yang telah dijanjikan;

24
3) Responsiveness (daya tangkap), yaitu keinginan untuk
memberikan pelayanan dengan tanggap;
4) Assurance (jaminan), yaitu mencakup kemampuan,
kesopanan, dan sifat dapat dipercaya;
5) Empathy, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, dan perhatian dengan tulus terhadap
kebutuhan pelanggan.
Tanggung jawab mutu ada pada setiap level organisasi. Pada
level puncak (corporate level) bertanggung jawab atas mutu
layanan institusi secara keseluruhan untuk membangun citra
kelembagaan dan keunggulan bersaing. Pada level strategic
business unit level tanggung jawab mutu berkaitan dengan
penetapan diversifikasi mutu pada setiap unit kerja sesuai dengan
target masing-masing. Pada level fungsional bertanggung jawab
atas mutu hasil setiap layanan yang diberikan di unit-unit
pendukung. Sedangkan pada level unit dasar tanggung jawab mutu
berkaitan dengan aktivitas/ rencana aksi yang dilaksanakan di
masing-masing unit kerja.
5. Anti Korupsi
Korupsi berasal dari bahasa latin “corruption” (Fockema
Andrea: 1951) atau “corruptus” (Webster Student Dictionary: 1960).
Selanjutnya dikatakan bahwa “corruption” berasal dari kata
“corrumpere”, suatu bahasa latin yang lebih tua. Dari bahasa latin
tersebut kemudian dikenal istilah “coruption, corrupt” (Inggris),
“corruption” (Perancis) dan “corruptive/korruptie” (Belanda).
Korupsi secara harafiah adalah kebusukan, keburukan, kebejatan,
ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari
kesucian.
Korupsi sering disebut dengan kejahatan luar biasa karena
dampaknya dapat menyebabkan kerusakan yang luar biasa baik
dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan
yang lebih luas. Kerusakan tersebut tidak hanya terjadi dalam kurun

25
waktu yang pendek, namun dapat berdampak secara jangka
panjang. Korupsi menurut UU No. 20 Tahun 2001 didefinisikan
sebagai tindakan melawan hukum dengan maksud memperkaya
diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang berakibat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara. menurut UU No.
31/1999 jo No. UU 20/2001, terdapat 7 kelompok tindak pidana
korupsi yang terdiri dari: (1) kerugian keuangan negara, (2) suap-
menyuap, (3) pemerasan, (4) perbuatan curang, (5) penggelapan
dalam jabatan, (6) benturan kepentingan dalam pengadaan, dan (7)
gratifikasi. Semua jenis tersebut merupakan delik-delik yang
diadopsi dari KUHP (pasal 1 ayat 1 sub c UU no.3/71)
a. Nilai-Nilai Anti Korupsi
Adapun Nilai-nilai dasar anti korupsi adalah meliputi:
1) Kejujuran
Jujur dapat didefinisikan sebagai lurus hati, tidak
berbohong, dan tidak curang. Jujur adalah salah satu sifat
yang sangat penting dalam kehidupan pegawai, tanpa sifat
jujur pegawai tidak akan dipercaya dalam kehidupan
sosialnya.
2) Kepedulian
Peduli adalah mengindahkan, memperhatikan dan
menghiraukan. Nilai kepedulian sangat penting bagi
seorang pegawai dalam kehidupan di tempat kerja dan di
masyarakat.
3) Kemandirian
Kondisi mandiri dapat diartikan sebagai proses
mendewasakan diri yaitu dengan tidak bergantung pada
orang lain untuk mengerjakan tugas dan tanggung
jawabnya
4) Kedisiplinan
Disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan
5) Tanggung Jawab

26
Tanggung jawab adalah menerima segala sesuatu
perbuatan yang salah baik itu disengaja maupun tidak
disengaja. Tanggung jawab tersebut berupa perwujudan
dan kesadaran akan kewajiban menerima dan
menyelesaikan semua masalah yang telah dilakukan.
6) Kerja Keras
Bekerja keras didasari dengan adanya kemauan,
dimana kemauan menimbulkan asosiasi dengan
ketekadan, ketekunan, daya tahan, tujuan jelas, daya kerja,
pendirian, pengendalian diri, keberanian, ketabahan,
keteguhan, tenaga, kekuatan dan pantang mundur.
7) Sederhana
Gaya hidup sederhana dibiasakan untuk tidak hidup
boros, hidup sesuai dengan kemampuannya dan dapat
memenuhi semua kebutuhannya. Prinsip hidup sederhara
merupakan parameter penting dalam menjalin hubungan
antara sesama karena prinsip ini akan mengatasi
permasalahan kesenjangan sosial, iri, dengki, tamak, egosi
dan juga menghindari dari keinginan yang berlebihan.
8) Keberanian
Nilai keberanian dapat dikembangkan dan diwujudkan
dalam bentuk berani mengatakan dan membela
kebenaran, berani mengakui kesalahan, berani
bertanggungjawab dan lain sebagainya.
9) Keadilan
Adil berarti adalah sama berat, tidak berat sebelah,
tidak memihak.

C. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


Kedudukan ASN dalam NKRI yaitu
1. Pegawai ASN berkedudukan sebagai Aparatur Negara.

27
2. Pegawai ASN melaksanakan Kebijakan yang ditetapkan oleh
Pimpinan Instansi Pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan
Intervensi semua Golongan dan Parpol.
3. Pegawai ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai
politik.
4. Kedudukan ASN berada di Pusat, Daerah dan Luar Negeri, namun
demikian Pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
Bagian Ketiga Peran Pasal 12 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara,
pegawai ASN berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas
pemerintahan dan penyelenggaraan pembangunan tugas umum
nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang
profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik
korupsi, kolusi, dan nepotisme. Setiap kegiatan yang dilakukan PNS
pasti terdapat konsekuensi baik berupa penghargaan maupun
sanksi,semestinya sebagai PNS kita tidak boleh melalaikan kewajiban
kita di kantor. Dengan adanya Peraturan Pemerintah nomor 53 tahun
2010 tentang Disiplin PNS dalam pasal 3 dijelaskan tentang kewajiban
selaku PNS sebagai berikut:
1. Setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan
Republik Indonesia, dan Pemerintah;
2. Menaati segala ketentuan peraturan perundang-undangan;
3. Melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada PNS
dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab;
4. Menjunjung tinggi kehormatan negara, Pemerintah, dan martabat
PNS;
5. Mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan sendiri,
seseorang, dan/atau golongan;
6. Memegang rahasia jabatan yang menurut sifatnya atau menurut
perintah harus dirahasiakan;

28
7. Bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk
kepentingan negara;
8. Melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui
ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau
Pemerintah terutama di bidang keamanan, keuangan, dan materiil;
9. Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja;
10. Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan;
11. Menggunakan dan memelihara barang-barang milik negara dengan
sebaik-baiknya;
12. Memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat;
13. Membimbing bawahan dalam melaksanakan tugas;
14. Memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengembangkan
karier; dan
15. Menaati peraturan kedinasan yang ditetapkan oleh pejabat yang
berwenang.
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan
kebijakan yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN
harus mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya tersebut. Harus mengutamakan
pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik
1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan
pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi,
bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek korupsi, kolusi dan
nepotisme. Manajemen ASN lebih menekankan kepada pengaturan
profesi pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber
daya ASN yang kedudukan atau status jabatan PNS dalam sistem
birokrasi selama ini belum sempurna untuk menciptakan birokrasi
yang profesional (Fatimah & Irawati, 2016).
Manajemen ASN diselenggarakan berdasarkan Sistem Merit.
Manajemen ASN meliputi Manajemen PNS dan Manajemen PPPK.

29
Manajemen ASN meliputi penyusunan dan penetapan kebutuhan;
pengadaan; pangkat dan jabatan; pengembangan karier; pola karier;
promosi; mutasi; penilaian kinerja; penggajian dan tunjangan;
penghargaan; disiplin; pemberhentian; jaminan pensiun dan jaminan
hari tua; dan perlindungan (LAN, Manajemen Aparatur Sipil Negara,
2014).
2. Whole of Government (WoG)
Whole of Goverment (WoG) merupakan suatu pendekatan
penyelenggaraan pemerintah yang menyatukan upaya-upaya
kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang
lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan
pembangunan kebijakan, manajemen program, dan pelayanan
publik. Oleh karena itu WoG dikenal sebagai pendekatan
interagency, yaitu pendekatan dengan menunjuk sejumlah
kelembagaan yang terkait urusan-urusan yang relevan (Suwarno &
Sejati, 2016).
WoG dipandang sebagai metode suatu instansi pelayanan
publik bekerja lintas batas atau lintas sektor guna mencapai tujuan
bersama dan sebagai respon terpadu pemerintah terhadap isu-isu
tertentu (Shergold & lain-lain, 2004).
Alasan penerapan WoG dalam sistem aparatur sipil Indonesia
adalah:
a. Adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam
mewujudkan integrasi kebijakan, program pembangunan dan
pelayanan agar tercipta penyelenggaraan pemerintahan lebih
baik, selain itu perkembangan teknologi informasi, situasi dan
dinamika kebijakan yang lebih kompleks juga mendorong
pentingnya WoG.
b. Faktor-faktor internal dengan adanya fenomena ketimpangan
kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa kompetisi
antar sektor dalam pembangunan.

30
c. Keberagaman latar belakang nilai, budaya, adat istiadat, serta
bentuk latar belakang lainnya mendorong adanya potensi
disintegrtasi bangsa.
3. Pelayanan Publik
LAN (1998), mengartikan pelayanan publik sebagai segala
bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh Instansi
Pemerintahan di Pusat dan Daerah, dan di lingkungan BUMN/BUMD
dalam bentuk barang dan /atau jasa, baik dalam pemenuhan
kebutuhan masyarakat. Dalam UU No. 25 tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik, Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan Peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif
yang disediakan oleh penyelenggara Pelayanan Publik.
Barang/jasa publik adalah barang/jasa yang memiliki rivalry
(rivalitas) dan excludability (ekskludabilitas) yang rendah.
Barang/jasa publik yang murni yang memiliki ciri-ciri: tidak dapat
diproduksi oleh sektor swasta karena adanya free rider problem, non-
rivalry, dan non-excludable, serta cara mengkonsumsinya dapat
dilakukan secara kolektif. Perkembangan paradigma pelayanan: Old
Public Administration (OPA), New Public Management (NPM) dan
seterusnya menjadi New Public Service (NPS).
Sembilan prinsip pelayanan publik yang baik untuk
mewujudkan pelayanan prima adalah: partisipatif, transparan,
responsif, non diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien,
aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan. Fundamen Pelayanan Publik
yaitu:
a. Pelayanan publik merupakan hak warga negara sebagai amanat
konstitusi.
b. Pelayanan publik diselenggarakan dengan pajak warga negara.

31
c. Pelayanan publik diselenggarakan dengan tujuan untuk
mencapai hal-hal strategis untuk memajukan bangsa di masa
yang akan datang.
d. Pelayanan publik tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan warga negara tetapi juga untuk proteksi.

32
BAB III
PROFIL UNIT KERJA DAN TUGAS PESERTA

A. Profil Organisasi
1. Dasar Hukum Pembentukan Organisasi

Gambar 3.1 UPTD Puskesmas Kutawis


Puskesmas Kutawis menempati lokasi di Desa Kutawis,
Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, yang beralamat di
Jalan Raya Bukateja - Kutawis, Km. 5, RT. 001/ RW. 001, Desa
Kutawis, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. Sejak awal
berdirinya sampai sekarang, Puskesmas Kutawis telah mengalami
beberapa peningkatan baik mengenai fisik bangunan, sarana dan

33
prasarana Puskesmas hingga peningkatan jumlah sumber daya
manusianya.
Puskesmas Kutawis yang letaknya berada pada jarak + 18 Km
dari Kabupaten Purbalingga dan + 5 km dari Kecamatan Bukateja
dan dengan batas-batas wilayah kerja :
Sebelah Timur : Kabupaten Banjarnegara;
Sebelah selatan : Kabupaten Banjarnegara;
Sebelah Barat : Desa Kedungjati Kecamatan Bukateja,
Kabupaten Purbalingga;
Sebelah Utara : Sungai Pekacangan Kecamatan Kejobong,
Kabupaten Purbalingga.
Puskesmas Kutawis merupakan wilayah kerja dengan medan
yang mudah dan datar sehingga bisa dijangkau dengan semua
jenis kendaraan baik kendaraan roda 2 (dua) maupun kendaraan
roda 4 (empat) maupun roda 6 (enam). Semua fasilitas jalan desa
sudah diaspal bahkan sudah menjangkau jalan ditingkat Kadus
Didukung dengan penerangan listrik PLN serta alat komunikasi juga
media informasi / Komunikasi liannya juga cukup lancar.
Semula Puskesmas Kutawis, merupakan Puskesmas Pembantu
dari Puskesmas Bukateja, yang hanya memberikan pelayanan
dasar, kemudian dikembangkan menjadi Puskesmas induk, secara
berkelanjutan dilakukan diversifikasi pelayanan kesehatan berupa
pelayanan dalam rawat jalan (Balai Pengobatan Umum, BP Gigi,
KIA), laboratorium, konseling gizi, kesehatan lingkungan dan
kegiatan promotif lainnya.
Puskesmas Kutawis sebagai salah satu unit pelaksana teknis
Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian
wilayah kecamatan. Sebagai unit pelaksana teknis, puskesmas
melaksanakan sebagian tugas Dinas Kesehatan Kabupaten
Purbalingga. Puskesmas berdasarkan kebijakan dasar pusat
kesehatan masyarakat (Keputusan Menteri Kesehatan nomor 128

34
tahun 2004) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam
sistem kesehatan nasional dan sistem kesehatan kabupaten.
Prinsip penyelenggaraan Puskesmas yaitu Paradigma Sehat;
Pertanggungjawaban Wilayah; Kemandirian masyarakat;
Pemerataan; Teknologi tepat guna; dan Keterpaduan dan
kesinambungan
Dasar Hukum Pusat Kesehatan Masyarakat, yaitu:
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran;
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan;
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan;
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269
Tahun 2008 tentang Rekam Medis
e. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat;
f. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46
Tahun 2015 tentang Akreditasi Puskesmas, Kinik Pratama
Tempat Praktek Mandiri Dokter dan Tempat Praktek mandiri
Dokter Gigi;
g. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44
Tahun 2016 tentang pedoman Manajemen Puskesmas.
2. VISI, MISI, TUJUAN, FUNGSI DAN SASARAN
a. Visi
Mewujudkan kepedulian akan kesehatan dan mutu pelayanan
agar tercapai mayarakat sehat mandiri.
b. Misi
1) Memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik
2) Meningkatkan profesionalisme kerja
3) Meningkatkan kerjasama lintas sektoral dan partisipasi
masyarakat

35
4) Meningkatkan masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.
c. Tujuan strategis
1) Terselenggaranya pelayanan kesehatan dasar
2) Penyelenggaraan dan pengelolaan keuangan puskesmas
3) Optimalkan sumber daya dengan kemampuan fasilitas yang
ada
4) Pengembangan standar pelayanan kesehatan yang berkualitas
untuk kepuasan pelanggan.
3. Struktur Organisasi dan Job Deskripsi
a. Struktur Organisasi UPTD Puskesmas Kutawis
Struktur organisasi UPTD Puskesmas Kutawis terdapat pada
Gambar 3.2.

Gambar 3.2 Struktur Organisasi UPTD Puskesmas Kutawis


b. Job Deskripsi
Struktur Organisasi Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga
berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 128 Tahun 2004
Tentang Puskesmas dengan pengembangan, terdiri dari:
1) Kepala Puskesmas

36
Memimpin Puskesmas dalam menjalankan Fungsi Puskesmas
sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas dan
melaksanakan sebagian kegiatan teknis Dinas.
2) Unit Tata Usaha yang bertanggungjawab membantu Kepala
Puskesmas dalam pengelolaan:
a) Data dan Informasi
b) Perencanaan dan Penilaian
c) Keuangan
d) Umum dan Kepegawaian
3) Unit Pelaksana Teknis Fungsional;
a) Upaya Kesehatan Masyarakat, termasuk pembinaan
terhadap UKBM
b) Upaya Kesehatan Perorangan
4) Jaringan Pelayanan Puskesmas
a) Unit puskesmas pembantu
b) Unit puskesmas keliling
c) Unit bidan di desa/komunitas

B. TUGAS JABATAN PESERTA DIKLAT


Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Apratur Negara Nomor:
139/KEP/M.PAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter dan
Angka Kreditnya diterangkan bahwa dokter adalah Pegawai Negeri
Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab dan hak secara penuh oleh
pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat pada sarana pelayanan kesehatan.
Tugas pokok dokter adalah memberikan pelayanan kesehatan pada
sarana pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,
serta membina peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di
bidang kesehatan kepada masyarakat.

37
Rincian kegiatan penulis sebagai calon Dokter Pertama yang
tercantum dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor: 139/KEP/M.PAN/11/2003 yaitu:
1. Melakukan pelayanan medik umum rawat jalan tingkat pertama;
2. Melakukan pelayanan spesialistik rawat jalan tingkat pertama;
3. Melakukan tindakan khusus tingkat sederhana oleh dokter umum;
4. Melakukan tindakan khusus tingkat sedang oleh dokter umum;
5. Melakukan tindakan spesialistik tingkat sederhana;
6. Melakukan tindakan spesialistik tingkat sedang;
7. Melakukan tindakan darurat medik/pertolongan pertama pada
kecelakaan (P3K) tingkat sederhana;
8. Melakukan kunjungan (visite) pada pasien rawat inap;
9. Melakukan pemulihan mental tingkat sederhana;
10. Melakukan pemulihan mental kompleks tingkat I;
11. Melakukan pemulihan fisik tingkat sederhana;
12. Melakukan pemulihan fisik kompleks tingkat I;
13. Melakukan pemeliharaan kesehatan Ibu;
14. Melakukan pemeliharaan kesehatan bayi dan balita;
15. Melakukan pemeliharaan kesehatan anak;
16. Melakukan pelayanan keluarga berencana;
17. Melakukan pelayanan imunisasi;
18. Melakukan pelayanan gizi;
19. Mengumpulkan data dalam rangka pengamatan epidemiologi
penyakit;
20. Melakukan penyuluhan medik;
21. Membuat catatan medik rawat jalan;
22. Membuat catatan medik rawat inap;
23. Melayani atau menerima konsultasi dari luar atau keluar;
24. Melayani atau menerima konsultasi dari dalam;
25. Menguji kesehatan individu;
26. Menjadi Tim Penguji Kesehatan;
27. Melakukan visum et repertum tingkat sederhana;

38
28. Melakukan visum et repertum kompleks tingkat 1;
29. Menjadi saksi ahli;
30. Melakukan tugas jaga panggilan/ on calls;
31. Melakukan tugas jaga di tempat
32. Melakukan tugas jaga di tempat sepi pasien;Melakukan kaderisasi
masyarakat dalam bidang kesehatan tingkat sederhana.

C. ROLE MODEL

Gambar 3.3 Kepala Puskesmas UPTD Kutawis


Sosok yang saya jadikan role model Kepala Puskesmas Kutawis,
Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Bapak dr. Indiyanto
Tjandra. Beliau sosok pemimpin yang patut dicontoh dari sikap dan
perilakunya, beliau memiliki jiwa kepemimpinan ( Akuntabilitas) yang
selalu disiplin (Anti korupsi), tegas dan memiliki wibawa yang disegani
banyak orang dan selalu mengedepankan Integritas, Kejujuran,
Disiplin, serta Tanggungjawab tinggi (Akuntabilitas). Beliau juga selalu
memberi contoh kepada pegawainya untuk selalu melayani sesuai
Standar Pelayanan (Etika Publik) dan memberikan pelayanan yang

39
prima (Komitmen Mutu) terhadap masyarakat demi tercapainya
kepuasan masyarakat dalam pelayanan di Puskesmas Kutawis. Beliau
juga orang sangat mengutamakan kepentingan masyarakat di banding
kepentingan pribadi.
Penulis berharap dapat mencontoh teladan yang di berikan oleh
Kepala Puskesmas Kutawis tersebut dan menerapkan hal-hal yang
beliau lakukan sesuai dengan kapasitas dan peranan di lingkungan
kerja Penulis.

40
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan Nilai


ANEKA
Unit Kerja : UPTD Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga.
Isu yang : Kurang optimalnya pelayanan pasien lanjut usia
diambil pada Penyakit Tidak Menular (Hipertensi dan
Diabetes Melitus) di UPTD Puskesmas Kutawis
kabupaten Purbalingga
Gagasan : 1. Pembuatan rekam medis khusus peserta
penyelesaian Prolanis
isu 2. Penyuluhan kesehatan pasien lanjut usia
tentang penyakit tidak menular
3. Pemeriksaan status gizi, status generalisata dan
laboratorium
4. Layanan konsultasi gizi. Gerakan masyarakat
sadar asupan gizi harian
5. Gerakan Senam Kebugaran Lansia

41
Tabel 4.1. Rancangan Kegiatan dengan Keterkaitan ANEKA
KETERKAITAN KONSTRIBUSI PENGUATAN
TAHAPAN OUTPUT/HASIL SUBSTANSI MATA TERHADAP VISI MISI NILAI-NILAI
NO KEGIATAN KEGIATAN KEGIATAN PELATIHAN (ANEKA) ORGANISASI ORGANISASI

1 2 3 4 5 6 7

1. Pengelompokan 1. Berkonsultasi 1. Terlaksananya Etika publik Kegiatan ini berkontribusi Kegiatan ini
Rekam Medis dengan Kepala konsultasi dengan (sopan dan santun) dalam mewujudkan visi memberikan
khusus Peserta puskesmas tentang sopan dan santun Puskesmas Kutawis yaitu penguatan nilai
Kegiatan PROLANIS pengelompokan untuk mendapatkan Akuntabilitas “Mewujudkan kepedulian organisasi Puskesmas
Kartu Rekam Medis persetujuan/ izin (kejelasan dan akan kesehatan dan Kutawis “CERIA
Sumber kegiatan : peserta. mengenai tanggung jawab) mutu pelayanan agar Cepat, Efektif,
Inovasi pembuatan rekam tercapai mayarakat sehat Ramah, Inovatif,
medis. Komitmen mutu mandiri”. Amanah
(berorientasi mutu). Misi
2. Mencetak Rekam 2. Terlaksananya 1. Memberikan
Medis khusus pencetakan rekam pelayanan kesehatan
peserta kegiatan. medis khusus yang terbaik
peserta yang jelas 2. Meningkatkan
dan bertanggung profesionalisme kerja
jawab untuk 3. Meningkatkan
meningkatkan kerjasama lintas
mutu pelayanan sektoral dan
partisipasi masyarakat
3. Sosialisasi kepada 3. Terlaksananya 4. Meningkatkan
tenaga medis sosialisasi dengan masyarakat
(Bidan, Perawat, ramah dan berperilaku hidup
Petugas berorientasi mutu bersih dan sehat.
Laboratorium)
tentang tata cara
pengisian rekam
medis peserta
kegiatan.

42
2. Penyuluhan 1. Berkonsultasi 1. Berkonsultasi Etika publik Kegiatan ini berkontribusi Kegiatan ini
Kesehatan pasien dengan kepala dengan sopan dan (sopan dan santun) dalam mewujudkan visi memberikan
lanjut usia tentang puskesmas tentang santun untuk Puskesmas Kutawis yaitu penguatan nilai
Penyakit Tidak kegiatan mendapatkan Komitmen mutu “Mewujudkan kepedulian organisasi Puskesmas
Menular penyuluhan. persetujuan/ izin (Efektif dan efisien) akan kesehatan dan agar Kutawis “CERIA
(Hipertensi dan mengenai kegiatan tercapai mayarakat Cepat, Efektif,
Diabetes Melitus) penyuluhan Akuntabilitas sehat mandiri”. Ramah, Inovatif,
(kejelasan) Misi Amanah
1. Memberikan
Sumber kegiatan : 2. Menentuan topik 2. Terpilihnya topik pelayanan kesehatan
Inovasi bahasan dan materi bahasan dan materi yang terbaik
penyuluhan. penyuluhan 2. Meningkatkan
dengan cepat dan profesionalisme kerja
inovatif 3. Meningkatkan
kerjasama lintas
sektoral dan
3. Membuat dan 3. Tersedianya leaflet partisipasi masyarakat
membagikan leaflet penyakit tidak 4. Meningkatkan
penyakit tidak menular agar masyarakat
menular. tercapai berperilaku hidup
masyarakat sehat bersih dan sehat.
mandiri

4. Menyampaikan 4. Tersampaikannya
materi penyuluhan materi penyuluhan
kepada peserta. secara efektif dan
efisien

5. Tanya jawab 5. Terlaksananya


peserta dengan tanya jawab secara
narasumber. jelas

43
3. Pemeriksaan Status 1. Melakukan 1. Terlaksananya Komitmen mutu Kegiatan ini berkontribusi Kegiatan ini
Gizi, Status Pemeriksaan BB, pemeriksaan BB, (Efektif dan efisien) dalam mewujudkan visi memberikan
Generalisata dan TB,Lingkar perut TB,lingkar perut Puskesmas Kutawis yaitu penguatan nilai
Laboratorium secara efektif dan Akuntabilitas “Mewujudkan kepedulian organisasi Puskesmas
efisien (Transparansi dan akan kesehatan dan Kutawis “CERIA
Sumber 2. Melakukan 2. Terlaksananya kejelasan) mutu pelayanan agar Cepat, Efektif,
kegiatan : SKP dan Penghitungan BMI penghitungan BMI tercapai mayarakat sehat Ramah, Inovatif,
Inovasi (Body Mass Index) secara Anti korupsi mandiri”. Amanah
transparansi dan (Kejujuran) Misi
kejelasan 1. Memberikan
3. Melakukan 3. Terlaksananya pelayanan kesehatan
Pemeriksaan TD, pemeriksaan TD, yang terbaik
Nadi, Laju napas, nadi, laju napas, 2. Meningkatkan
Suhu. suhu dengan profesionalisme
transparansi dan kerja
kejelasan 3. Meningkatkan
4. Melakukan 4. Terlaksananya kerjasama lintas
Pemeriksaan Fisik pemeriksaan fisik sektoral dan
lengkap dengan ramah. partisipasi masyarakat
5. Melakukan 5. Terlaksananya 4. Meningkatkan
Pemeriksaan pemeriksaan masyarakat
Laboratorium (Gula laboratorium yang berperilaku hidup
Darah Puasa, professional bersih dan sehat.
Kolesterol)
6. Melakukan 6. Terlaksananya
pengisian hasil pengisian hasil
pemeriksaan pada pemeriksaan
kartu rekam medis. secara jujur
7. Melakukan 7. Terlaksananya
peresepan obat. peresepan obat
yang bermutu

44
4. Layanan konsultasi 1. Berkonsultasi 1. Terlaksananya Etika publik Kegiatan ini berkontribusi Kegiatan ini
gizi. Gerakan dengan kepala konsultasi dengan (sopan dan santun) dalam mewujudkan visi memberikan
Masyarakat Sadar puskesmas sopan dan Puskesmas Kutawis yaitu penguatan nilai
Asupan Gizi Harian tentang kegiatan santun Akuntabilitas “Mewujudkan kepedulian organisasi Puskesmas
layanan konsultasi (konsisten dan akan kesehatan dan Kutawis “CERIA
gizi. 2. Terlaksananya kejelasan) mutu pelayanan agar Cepat, Efektif,
jadwal layanan tercapai mayarakat sehat Ramah, Inovatif,
Sumber kegiatan : 2. Membuat jadwal konsultasi gizi mandiri”. Amanah
Inovasi layanan konsultasi secara konsisten Misi
gizi 1. Memberikan
pelayanan kesehatan
3. Terlaksananya yang terbaik
3. Menghitung jumlah penghitungan 2. Meningkatkan
kalori perhari jumlah kalori profesionalisme kerja
masing-masing perhari yang jelas 3. Meningkatkan
peserta kerjasama lintas
4. Terlaksananya sektoral dan
4. Mencatat hasil pencatatan hasil partisipasi masyarakat
perhitungan kalori perhitungan kalori 4. Meningkatkan
perhari pada yang jelas masyarakat
rekam medis berperilaku hidup
bersih dan sehat.
5. Terlaksananya
5. Konseling gizi: konseling gizi yang
memberikan ramah
contoh menu
harian yang
dikonsumsi
masing-masing
peserta 6. Terlaksananya
pemantauan gizi
6. Pemantauan gizi yang bermutu

45
5. Gerakan senam 1. Berkonsultasi 1. Terlaksananya Etika publik Kegiatan ini berkontribusi Kegiatan ini
kebugaran Lansia dengan Kepala konsultasi dengan (sopan dan santun) dalam mewujudkan visi memberikan
Puskesmas sopan dan Puskesmas Kutawis yaitu penguatan nilai
Sumber kegiatan: tenatang kegiatan santun “Mewujudkan kepedulian organisasi Puskesmas
Perintah Atasan senam kebugaran akan kesehatan dan Kutawis “CERIA
dan Inovasi Lansia mutu pelayanan agar Cepat, Efektif,
tercapai mayarakat sehat Ramah, Inovatif,
2. Menyiapkan 2. Tersedianya mandiri”. Amanah
materi senam materi senam Misi
yang inovatif 1. Memberikan
pelayanan kesehatan
3. Menyiapkan 3. Tersedianya yang terbaik
instruktur senam instruktur senam 2. Meningkatkan
yang profesional profesionalisme
kerja
4. Melaksanakan 4. Terlaksananya 3. Meningkatkan
senam kebugaran senam kebugaran kerjasama lintas
yang sektoral dan
meningkatkan partisipasi masyarakat
masyarakat 4. Meningkatkan
berperilaku masyarakat
hidup sehat berperilaku hidup
bersih dan sehat.

46
B. Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi

Kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Kutawis. Kegiatan-kegiatan aktualisasi akan di
jabarkan dalam timeline kegiatan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi
Habituasi Hari ke-

Juni-Juli Portofolio/ Bukti


No Kegiatan
Kegiatan
2 2 2 2 2 2 2 22 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
0 1 2 3 4 5 6 78 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
1. Pembuatan Kartu
Rekam Medis/ video
Rekam Medis
testimoni
Peserta Kegiatan
PROLANIS.
2. Penyuluhan
Kesehatan
Foto/video/ daftar
Penyakit Tidak
hadir/materi penyuluhan/
Menular
leaflet/ kuesioner
(Hipertensi dan
Diabetes Melitus)
3. Pemeriksaan
Daftar hadir/Foto/video
Status gizi, Status
testimoni/ kartu rekam
generalisata dan
medis
Laboratorium
4. Layanan
konsultasi gizi Daftar hadir Foto/video
harian testimoni/

47
Habituasi Hari ke-

Juni-Juli Portofolio/ Bukti


No Kegiatan
Kegiatan
2 2 2 2 2 2 2 22 2 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
0 1 2 3 4 5 6 78 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
5. Gerakan
masyarakat senam Daftar hadir Foto/video
kebugaran (testimoni)/ kartu
Keterangan :
: Pelaksanaan Kegiatan

48
B. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala
Kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN akan dilaksanakan
pada tanggal 20 Junil sampai dengan 19 Juli 2019 pada institusi tempat
kerja. Dalam pelaksanaannya dimungkinkan terjadinya kendala-
kendala yang berisiko menghambat kegiatan yang telah direncanakan
menjadi kurang optimal. Oleh karena itu diperlukan antisipasi untuk
menghadapi kendala-kendala tersebut, sehingga dampak yang
menghambat kegiatan tersebut dapat diminimalisir. Antisipasi dalam
menghadapi kendala-kendala selama aktualisasi dapat dijelaskan lebih
lanjut pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.3 Antisipasi menghadapi kendala-kendala aktualisasi
Strategi Menghadapi
No. Kegiatan Kendala
Kendala
1. Pembuatan Kartu Kesulitan dalam Meminta bantuan ahli IT
Rekam Medis pembuatan dalam mendesain kartu.
Peserta Kegiatan desain kartu
PROLANIS. rekam medis.
2. Penyuluhan Masyarakat tidak Menggunakan bahasa
Kesehatan memahami materi yang mudah dipahami dan
Penyakit Tidak penyuluhan yang mengemas penyuluhan
Menular disampaikan. supaya menarik (dengan
(Hipertensi dan memberikan games dan
Diabetes Melitus) doorprize)
3. Pemeriksaan Kurang Berkoordinasi dengan
Status gizi, Status kooperatifnya kader untuk memberitahu
generalisata, dan masyarakat saat terlebih dahulu kepada
Laboratorium dilakukan masyarakat tentang
pemeriksaan. prosedur pemeriksaan.

4. Layanan konsulasiMasyarakat Menggunakan bahasa


gizi. Gerakankurang yang mudah dipahami dan
masyarakat sadar memahami memberikan ilustrasi.
asupan gizi harian
penjelasan
tentang gizi dan
menerapkan
dalam pola makan
5. Gerakan Kurangnya Menggunakan gerakan
masyarakat senam partisipasi senam yang mudah diikuti
kebugaran masyarakat masyarakat
mengikuti
kegiatan senam
BAB V
PENUTUP

49
A. KESIMPULAN
Rancangan aktualisasi melalui habituasi di unit kerja merupakan
rancangan kegiatan utuk menyelesaikan isu dengan identifikasi isu
yang telah dirumuskan melaui analisa APKL dan analisa USG.
Identifikasi isu yang ada dapat berasal dari individu, unit kerja
maupun dari organisasi, dari sana beberapa isu telah dapat
diidentifikasi. Dari beberapa isu tersebut kemudian dilakukan
identifikasi dengan metode USG. Isu yang diangkat yaitu
Optimalisasi Pelayanan Kesehatan Pasien Lanjut Usia Pada
Penyakit Tidak Menular (Hipertensi dan Diabetes Melitus) di UPTD
Puskesmas Kutawis Kabupaten Purbalingga. Dari isu tersebut
muncul gagasan pemecahan isu yang tertuang dalam 5 kegiatan.
Adapun kegiatan tersebut sebagai berikut:
1. Pembuatan kartu rekam medis peserta kegiatan PROLANIS;
2. Penyuluhan kesehatan pasien lanjut usia tentang penyakit tidak
menular (hipertensi dan diabetes Melitus)
3. Pemeriksaan status gizi, Status generalisata, dan Laboratorium;
4. Layanan konsulasi gizi. Gerakan masyarakat sadar asupan gizi
harian;
5. Gerakan senam kebugaran lansia.
B. SARAN
Pelayanan kesehatan penyakit tidak menular harus di optimalkan
supaya usia harapan hidup di Indonesia meningkat dan kualitas hidup
masyarakat menjadi lebih baik. Bagi organisasi dengan pelayanan
kesehatan yang optimal berarti melaksanakan visi dan misi dengan
berkesinambungan dan mendukung program pemerintah. Demikian
Rancangan Aktualisasi ini kami buat, besar harapan kami dapat
bermanfaat untuk orang banyak. Karena keterbatasan pengetahuan
dan referensi, penulis menyadari laporan ini jauh dari kata

50
sempurna,oleh karena itu saran dan kritik membangun sangat
diharapkan agar laporan ini dapat di susun dan dikembangkan
menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

51
DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Menteri Pendayagunaan Apratur Negara Nomor:


139/KEP/M.PAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter
dan Angka Kreditnya.

Lembaga Administrasi Negara. 2014. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi


Pegawai Negeri Sipil. Modul Penyelenggaraan Perdana
Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil
Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2014.Akuntabilitas. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2014.Nasionalisme. Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2014.Etika Publik. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri
Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2014.Komitmen Mutu.Modul


Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon
Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta:
Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2014.Anti Korupsi. Modul Penyelenggaraan


Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri
Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang


Aparatur Sipil Negara

52
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

a. Identitas Diri
1. Nama Lengkap dr. Nila Januar
2.` Formasi Jabatan Dokter Umum
3. NIP 198501152019032007
Tempat dan Tanggal
4. Purbalingga, 15 Januari 1985
Lahir
Jl. Brigjend. Suwondo Rt. 001 / RW. 005,
5. Alamat Rumah
Bobotsari Purbalingga
6. Nomor HP 087736309696
Jl Raya Bukateja – Kutawis KM 5
7. Alamat Kantor
Purbalingga
8. Alamat e-mail nila.nilajanuar@yahoo.com

b. Riwayat Pendidikan

Nama Sekolah Tahun Lulus Jurusan


SD Negeri 1 Bobotsari 1996 -

SMP Negeri 1 Bobotsari 1999 -

SMA Negeri 1 Bobotsari 2002 IPA


Universitas Muhammadiyah S1 Kedokteran
2006
Yogyakarta Umum
Universitas Muhammadiyah
2009 Profesi Dokter
Yogyakarta

53
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini
adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila
di kemudian hari ternyata dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan,
saya sanggup menerima sanksi.

Purbalingga, 15 Juni 2019


Penyusun,

Nila Januar
NIP.198501152019032007

54