Anda di halaman 1dari 21

Soal FTS Steril S1 Farmasi VI C

NOTE : untuk materi soal berurutan, dari soal no 1-12 merupakan materi 1-12, sedangkan untuk
soal no 13 kembali lagi ke materi soal no 1 dan seterusnya.
1. Seorang mahasiswa sedang melakukan penelitian di lab. Farmasi mahasiswa itu melakukan
sterilisasi dengan suhu 121 derajat selama 15 menit, metode yg digunakan adalah. . . .
a. Dimasak dalam air
b. Uap bertekanan
c. Pendidihan
d. Pemijaran
e. Oven
Jawaban; b. Uap Bertekanan
Dibuat oleh : Achmad risky wahyudi
Referensi ppt 4. Metode sterilisasi slide 2-5
2. Seorang TTK ingin melakukan penyimpanan terhadap sediaan steril di gudang farmasi
puskesmas X, dia ingin melakukan penggolongan terhadap sediaan steril, dibawah ini yang
termaksud dalam golongan sediaan steril adalah....
a. Sediaan obat tetes mata dan sediaan obat suntik
b. Sediaan emusli dan suspensi
c. Sediaan pil kontrasepsi
d. Sediaan sirup kering
e. Sediaan suppositoria

Jawaban : a. Sediaan obat tetes mata dan sediaan obat suntik


Dibuat oleh : Afifah
Sumber : Modul Teknologi Sediaan Steril Universitas Muhammadiyah Banjarmasin,
disusun oleh Aris Purwanto, M.Farm., Apt
3. “Kertas dicelupkan ke dalam larutan sampel dan hasil warna yang terbentuk dibandingkan
terhadap warna standar”. Kutipan di atas termasuk dalam pemeriksaan pH (untuk sediaan
Infus, Antikoagulant, Injeksi dalam Ampul, Injeksi dalam Vial dan Tetes Mata) yang di
uji dengan...
a. pH meter
b. Kertas indikator pH
c. pHionics STs pH sensor
d. HOBO Bluetooth Low Energy pH and Temperature
e. Etp110
Jawaban : b. Kertas indikator pH
Dibuat oleh : Alfaidah (sumber : panduan preparasi sediaan steril UMB semester 6)
4. Seorang apoteker membuat sediaan steril dimana zat aktif yang di gunakan yaitu pilokarpin
nitrat 1 %, larutan di buat isotonis dengan Nacl dan aquadest ad 100 ml. Dikatahui Harga
E pilokarpin nitrat yaitu 0,23. Untuk membuat larutan tersebut isotonis, berapa jumlah
Nacl yang harus di tambahkan ?
a. 0,57
b. 0,67
c. 0,77
d. 0,87
e. 0,9

Jawaban ; b. 0,67
Perhitungan :
 Gram pilokarpin nitrat 1% x 100 ml = 1 gram
 E Pilokarpin Nitrat = 0,23 gram Nacl
 Jadi jumlah Nacl yang diperlukan 1 gram x 0,23 = 0,23 gram
 Larutan 100 memerlukan NaCl 0,9% x 100 ml = 0,9 gram
 Kekurangan NaCl 0,9 gram – 0,23 gram = 0,67
Dibuat oleh : Ali Mustofa
Referensi : https://id.cribd.commidiatrik–farmakologi
5. Seorang apoteker akan membuat sediaan infus. Dimana infus adalah sediaan steril. Untuk
pembuatan infus ada beberapa hal yang diperhatikan salah satunya adalah perhitungan
tonisitas dan osmolaritas sediaan. Pada perhitungan tonisitas, dari formula berikut untuk
mengetahui NaCl yang ditambahkan agar menjadi istonis adalah . . . . gr/100 ml
R/ NaCl 0.6 (BM 58,5)
KCl 0.03 (BM 74,5)
CaCl2.2H2O 0.01 (BM 219)
Aqua p.i. ad 100 ml

(Diket : NaCl, KCl dan CaCl2.2H2O merupakan Basa dan asam lemah dengan 1 derajat
disosiasi 1,5)

a. 0,283 gr/100 ml
b. 0.284 gr/100 ml
c. 0.342 gr/100 ml
d. 0.345 gr/100 ml
e. 0.346 gr/100 ml
Jawaban : a. 0,283

Konsentrasi zat dirubah dalam gram/liter terlebih dahulu, baru dimasukkan dalam rumus
NaCl 0,6 = 0,6%= 0,6 gr/100 ml =6 gr/L
KCI 0,03= 0,03%= 0,03 gr/100ml =0,3gr/L
CaCl2.2H2O 00,01= 0,01%= 0,01gr/100ml =0,1 gr/L
Aqua ad 100ml

Dibuat oleh : Annisa fauzaiah

Sumber : https://www.academia.edu/29604259/TONISITAS

6. Seorang mahasiswa farmasi melakukan pembinasaan/inaktivasi terhadap mikroba dengan


menggunakan oven. Oven termasuk sterilisasi ...
A. Panas basah
B. Panas kering
C. Panas lembab
D. Kering lembab
E. Lembab basah
Jawaban : b. Panas kering
Dibuat oleh : Annisa husa
Referensi : ppt bahan kuliah 2 (metode sterilisasi)
7. Dalam pembuatan sediaan injeksi intravena dengan volume >5 ml dalam ampul, formulator
menambahkan natrium klorida 0,9% agar sediaan injeksi tersebut isotonis. Apakah fungsi
dari penambahan bahan tersebut?
a. Preservative
b. Dapar
c. Solvent
d. Tonisitas modifier
e. Kosolven
Jawaban : d. Tonisitas Modifier
Dibuat oleh : Aulia Adzan
Alasan: karena NaCl 0,9% memiliki tekanan osmolaritas yang sama dengan tekanan
osmolaritas dari larutan tubuh yaitu 0,28
Referensi dari mata kuliah FTS Steril, jurnal yang berjudul Formulation and Evaluation of
an Injectable Solution As A Dosage Form

8. Seorang mahasiswa melakukan suatu percobaan dengan percobaan pembuatan sediaan


steril. Pada saat praktikum sterililasi para praktikum harus mengetahui sifat-sifat pirogen ,
terkecuali …
a. Larut dalam air. Sehingga tidak bisa memakai penyaring bakteri.
b. Dipengaruhi oleh bakterisida yang biasa.
c. Tidak menguap, destilasi biasa ada yang ikut bersama percikan air.
d. Berat molekul (BM) antara 15.000 – 4.000.000.
e. Ukuran umumnya 1 – 50µm.

Jawaban:
B. Dipengaruhi oleh bakterisida yang biasa.
Dibuat oleh : Aulia Nadhila Mahfuza(Anonim, 1979. Farmakope Indonesia edisi III,
Jakarta: Departemen Kesehatan RI)
9. Seorang Apoteker yang bekerja pada bagian produksi industri farmasi akan
mengembangkan wadah gelas untuk sediaan parenteral yang bersifat asam. Bahan yang
digunakan berupa sulfida sehingga dapat menetralisasi permukaan alkalinoksida.
Termasuk tipe berapa wadah gelas tersebut?
A. Tipe I
B. Tipe II
C. Tipe III
D. Tipe IV
E. Tipe NP

JAWAB :
b. Tipe II (Referensi : Purwanto, Aris. 2019. Modul Teknologi Sediaan Steril. Banjarmasin
: Universitas Muhammadiyah Banjarmasin – halaman 39)
Dibuat oleh : Bella Amalia Rahma Sari
“Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk
menetralisasi permukaan alkalinoksida. Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH
di bawah 7,0 sebaik sediaan asam dan netral.”
10. Seorang praktikan melakukan praktikum untuk membuat sediaan obat steril, untuk
pengemasan, apa saja pemeriksaan yang perlu diperhatikan praktikan tersebut agar wadah
yang digunakan dikatakan steril...
a. Pemeriksaan kebocoran, pemeriksaan pirogen, pemeriksaan hasil
b. Pemeriksaan kebocoran, pemeriksaan etiket, pemeriksaan alat
c. Pemeriksaan pirogen, pemeriksaan hasil, pemeriksaan etiket
d. Pemeriksaan identitas, pemeriksaan hasil, pemeriksaan etiket
e. Pemeriksaan etiket, pemeriksaan alat, pemeriksaan sterilitas
jawaban B
Dibuat oleh : Dwi Yanti Norlaila Sari
Referensi : modul teknologi sediaan steril UMB halaman 25

11. Sebuah industri farmasi dapat memproduksi sediaan tetes mata tetrahidrozolin HCL
berdasarkan persyaratan CPOB proses produksi dilakukan pada kelas tertentu. Apakah
kelas tertentu yang dimaksud diatas?
a. Kelas A
b. Kelas B
c. Kelas C
d. Kelas D
e. Kelas E

Jawaban : C
Dibuat oleh : Eka Rahayu
Pembahasan :
Kelas A : zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, missal zona pengisian, wadah tutup
karet, ampul dan vial terbuka, penyambungan secara aseptis. Umumnya kondisi ini dicapai
dengan memasang unit aliran udara laminar (laminar air flow) di tempat kerja. System
udara laminar hendaklah mengalirkan udara dengan kecepatan merata berkisar 0,36 – 0,54
m/detik (nilai acuan) pada posisi kerja dalam ruang bersih terbuka.
Keadaan laminar yang selalu terjaga hendaklah dibuktikan dan divalidasi. Aliran udara
searah berkecepatan lebih rendah dapat digunakan pada isolator tertutup dan kotak
bersarung tangan.
Kelas B : untuk pembuatan dan pengisian secara aseptis, kelas ini adalah lingkungan latar
belakang untuk zona kelas A.
Kelas C : area pembuatan untuk dan pengisian salep, krim, suspense dan emulsi umumnya
harus dilakukan diruangan kelas C.
Kelas D : area bersih untuk melakukan tahap proses pembuatan yang mengandung risiko
lebih rendah.

(Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta : Global Pustaka Utama)


12. Seorang pharmacist yang bekerja di industri farmasi sedang melakukan proses penerimaan
, karantina , pengambilan sampel dan distribusi , dalam melakukan tindakan tersebut
hendaknya dilakukan sesuai …
a. Prosedur dan intruksi tertulis
b. Ketentuan izin dan izin edar
c. Aturan personil pihak yang berwenang
d. Staf yang mempunyai pengetahuan khusus dan menyeluruh
e. Persetujuan yang memenuhi spesifikasi yang relevan

Jawaban : A . Prosedur dan instruksi

Dibuat oleh :Fitri Oktaviana


Referensi , permenkes BPOM No 13 Tahun 2013

13. Hal apa yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Klasifikasi Dan Pemantauan udara
bersih di ruang steril,
a. klasifikasi hendaklah dipakai alat penghitung partikel portabel dengan selang pendek
untuk pengambilan sampel.
b. Klasifikasi ruangan adalah bagian dari kualifikasi awal fasilitas dan biasanya juga
dilakukan saat rekualifikasi rutin.
c. diklasifikasikan sesuai dengan EN ISO 14644-1
d. Klasifikasi harus dibedakan dengan jelas dari pemantauan lingkungan pada saat
operasional.
e. Produk di-sterilkan dalam wadah akhir (Sterilisasi Akhir – post sterilization)
Jawaban : b. Klasifikasi ruangan adalah bagian dari kualifikasi awal fasilitas dan biasanya
juga dilakukan saat rekualifikasi rutin.
Di buat oleh : Fitriariani
Referensi : Blog di WordPress.com. Media Untuk Belajar dan Berbagi
Mengenai Manajemen Farmasi Industri Bambang Priyambodo

14. Seorang wanita (Rani 35th) dilarikan kerumah sakit dengan keluhan kejang, apoteker
rumah sakit menyarankan pemberian injeksi phenytoin terhadap pasien tersebut,
berdasarkan FI ed.IV obat yang diberikan termasuk dalam penggolongan sediaan steril
untuk parenteral.Adapun keuntungan atau kelebihan dari jenis sediaan tersebut,kecuali....
a. Dapat dicapai efek fisiologi segera,untuk kondisi penyakit teretentu.
b. Baik untuk penderita yang tidak memungkinkan mengkonsumsi oral
c. Dapat diberikan untuk sediaan yang tidak efektif diberikan secara oral atau obat rusak
oleh sekresi asam lambung.
d. Dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan elektrolit
e. Dapat diberikan untuk sediaan yang efektif diberikan secara oral atau obat yang tidak
dapat dirusak oleh sekresi asam lambung.

(Jawaban E/ sumber : Syamsuni.2007 hal 228)

Dibuat oleh : Halidah


15. seorang mahasiswa farmasi melakukan pemeriksaan hasil produksi setelah pembuatan
sedian steril. Dalam pemeriksaan kebocoran, ada beberapa cara yang dapat dilakukan salah
satunya dengan dimasukkan kedalan larutan berwarna. Larutan warna yang digunakan
adalah...
A. Metilen biru 3 %
B. Metilen biru 2 %
C. Metilen biru 0.1 %
D. Safranin
E. Kristalviolet

Jawaban = C. Metilen biru 0.1 %


Dibuat oleh : Hamdanah
Referensi = Modul Steril Farmasi
Alasan. Sesuai dengan dalam literatur modul steril farmasi dan dalam literatur yang lain
menyebutkan konsentrasi larutan metilen biru yang bisa digunakan yaitu 0.1 - 0.5. Jika ada
wadah-wadah yang bocor maka larutan metilena akan masuk ke dalamnya karena
perbedaan tekanan di luar dan di dalam wadah tersebut.
16. Seorang mahasiswa ingin membuat formulasi dengan resep
R/ Acid.boric. 0,15 harga (E = 0,50)
Kal.khlorid. 0,1 (E = 0,76)
Natr.chlorid q.s.
ad gtt.ophth.isot.20 ml

Berapa jumlah NaCl yang perlu di tambahkan agar larutan isotonis ?


a. 25
b. 26
c. 27
d. 28
e. 29
Jawaban : A
Dibuat oleh :Hamidah

Referensi : https://www.coursehero.com/file/p2dpkpr/R-Atropini-sulfat-01-ptb-0074-
Difenhidramin-HCl-02-ptb-0161-Na-tiosulfat-qs-E/

17. Seorang Tenaga Teknis Kefarmasian di industry farmasi melakukan pembuatan injeksi
solutio anticoagulant, yang mana dengan formula sebagai berikut.

R/ Acidum Cltricum 1 HazO 6,2


Na Citrat Tribacium 5,5 Ha2O 16
Glukosa p.i anhydrous 26
Aqua p.i ad 1000 ml
Tentukan jenis tonisitas formula tersebut adalah …
a. Hipertonis, penambahan glukosa 1,4 9/L
b. Hipotonis, penambahan glukosa 1,4 9/L
c. Hipertonis, penambahan glukosa 2,4 9/L
d. Hipotonis, penambahan glukosa 2,4 9/L
e. Semua jawaban salah
Jawaban : b. Hipotonis, penambahan glukosa 1,4 9/L
Dibuat oleh : Herliana
Perhitungan
Dik:
FA = 1,5 MA = 210,40 a = 6,2
FB = 1,8 MB = 294,40 b = 16
FC = 1 MC = 198,17 c = 26

= ( FA/MA x a) + (FB x MB x b) + ( FC/MC x c)


= (1,5/210,40 x 6,2) + (1,8 x 294,40 x 6) + (1/198,17 x 26).
= 0,0442 + 0,0978 + 0,1312
= 0,2732 < 0,28 (hipotonis)
Maka perlu penambahan zat agar isotonis (glukosa) adalah.
H = Mh/Fn [ 0,28 – (FA/MA x a ) + (FB/MB x c)]
= 198,17/1 x [0,28 – 0,273]
= 198,17 x 0,0007
= 1,3872
= 1,4 9/L
Referensi :Buku Petunjuk Praktikum Teknologi Sediaan Liquuid dan Semi solid
18. Bido akan melaksanakan praktikum pembuatan salep mata. Bahan yang telah disiapkan
antara lain : Chloramphenicol, Vaselin Flavum dan Paraffin liquid kemudian dibuatlah
sediaan salep mata steril.
Pertanyaan : Cara sterilisasi apakah yang cocok untuk pembuatan salep mata tersebut :
a. Sterilisasi Panas Basah
b. Sterilisasi Panas Kering
c. Sterilisasi Filtrasi
d. Sterilisasi Radiasi Ion
e. Sterilisasi Sinar UV

Jawaban : B (FI III Hal 143)


Dibuat oleh : Izmy Permata Hayati
19. Dr. Sugianto ingin memberikan sediaan injeksi kepada pasien berupa vaksin yang
disuntikkan pada lapisan superfisial kulit, obat yang disuntikkan dengan volume yang lebih
kecil hanya 0,1 ml untuk sekali pakai.
Pertanyaan :
Berdasarkan pengembangan rute pemberian, termasuk kedalam rute pemberian apakah
sediaan injeksi tersebut ?
a. Rute intradermal (i.d/i.c)
b. Rute Subkutan (s.c)
c. Rute Intramuskular (i.m)
d. Rute intravena (iv)
e. Rute intraarteri (i.a)

Dibuat oleh : Lifia Amanda

Jawaban :
a. Rute intradermal (i.d/i.c)
obat disuntikkan pada lapisan superfisial kulit, obat yang disuntikkan dengan volume
yang lebih kecil hanya 0,1 ml untuk sekali pakai. Cara ini dicadangkan untuk pengujian
diagnostika dan dlm jumlah terbatas untuk vaksin. Absorpsi melalui rute yg lambat
Referensi : Power Point Materi Bakul 3 “Sediaan Parenteral”
20. Seorang farmasis melakukan pengujian tentang cara melakukan pembebasan pirogen, dan
di ketahui pirogen memiliki sifat tahan tehadap panas pendidihan dan stabil terhadap panas
penyaringan.
Pertanyaan
Jadi pada suhu berapa panas pendidihan dan stabil terhadap panas penyaringan pada cara
pembebasan pirogen dilakukan ?
a. 140°C
b. 150°C
c. 160°C
d. 170°C
e. 180°C
Jawabannya : e. 180°C
Dibuat oleh : Lisa Almulianty
Lucas, s . 2006 Formulasi Steril. Yogyakarta : Penerbit Andi
21. Aldi akan melaksanakan praktikum pembuatan Sediaan injeksi yang merupakan sediaan
steril berupa larutan, suspense, ataupun serbuk yang harus di suspensikan terlebih dahulu
sebelum digunakan. Di meja praktikum terdapat 2 penutup untuk digunakan pada
praktikum tsb yang dipilih aldi sebagai penutup sediaanya adalah penutup elastomeric atau
karet.
Pertanyaan
Sifat sifat tutup elastomeric yang baik adalah, kecuali…
a. permukaan harus licin dan tidak berlubang
b. kekerasan dan elastisitanya harus mencukupi
c. mudah di tembus oleh jarum
d. mudah di tembus oleh cahaya untuk mempermudah melihat kehomogenannya
e. impermeable terhadap udara dan lembab

jawaban D
Dibuat oleh : Mariatul Mahdaniah
22. Seorang mahasiswa farmasi melakukan uji evaluasi sediaan steril. Dibawah ini yang
termasuk uji evaluasi sediaan steril, kecuali ...
a. Uji ph
b. Uji kejernihan
c. Uji waktu hancur
d. Uji kebocoran
e. Uji sterilitas
Ans : c. Uji waktu hancur
Dibuat oleh :Maulidya Annisa
Referensi : buku farmakope indonesia edisi III
23. Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) bertujuan untuk…
a. Menjamin obat di buat secara konsisten dan memenuhi persyaratan yang di tetapkan
dan sesuai dengan penggunaannya
b. Mengurangi biaya produksi
c. Memudahkan produksi dan distribusi
d. Mengurangi biaya maintance peralatan yang di gunakan dalam proses produksi\
e. Memudahkan untuk membuat sediaan farmasi yang aman, berkhasiat dan terjamin
mutunya

JAWABAN : e. Memudahkan untuk membuat sediaan farmasi yang aman,


berkhasiat dan terjamin mutunya

Dibuat oleh : Muhammad Ihsan Firdaus

Referensi : Scribd, Farmasi industri Pdf fix


24. Seorang TTK Farmasi sedang melakukan verifikasi pada sediaan steril agar mutunya
terjamin dan dapat digunakan dengan baik. Dalam pengawasan mutu CPOB, metode yang
boleh digunakan untuk pengujian mutu, kecuali....
a. Formularium Nasional
b. Farmakope Indonesia
c. USP
d. BP
e. EP
Jawaban : a. Formularium Nasional
Dibuat oleh : Muhammad Iman Rizqiaawan

Referensi : KUMPULAN PERTANYAAN DAN JAWABAN CPOB.pdf (www.pom.go.id


> faq > faq_CPOB)
25. Bahan pembawa, zat aktif dan alat untuk pembuatan infus harus bebas pirogen. Keberadaan
pirogen pada alat atau bahan diatas disebabkan karena..............
a. Sering berkaitan dengan sifat pirogen yang thermostabil dan non-volatile
b. Pirogen merupakan hasil produksi bakteri
c. Ukurannya yang sangat kecil yaitu 60 – 100 um
d. Mudah menguap
e. Tidak larut dalam air
Dibuat oleh : Muhammad Ramadeo Hermawan
Jawaban paling tepat adalah (A) karena berhubungan dengan sifat – sifat
pirogen, yaitu :
 Thermostabil, sehingga hanya dapat dihilangkan dengan pemanasan pada suhu
650℃ selama 1 menit, 250℃ selama 15 menit dan 180℃ selama 4 jam
 Larut dalam air, sehingga tidak bisa memakai penyaring bakteri
 Tidak dipengaruhi oleh bakterisida yang biasa
 Tidak menguap
 BM antara 15.000 – 4.000.000
 Ukuran umumnya 1 – 50 um
(Sumber : Anonim, 1979. Farmakope Indonesia ed III, Jakarta : Depkes RI)
26. Seorang wanita mengalami kecelakaan lalu pingsan dan tidak sadarkan diri.Kemudian
diberikan sediaan steril berupa larutan, emulsi, atau suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan
cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Sediaan ini
termasuk dari penggolongan sediaan steril …
a. Infus
b. Tetes mata
c. Salep mata
d. Injeksi
e. sirup
ANS : D
Dibuat oleh : Nadya Aulia
Referensi buku Farmakope Indonesia Edisi III
27. seorang mahasiswa melakukan formulasi steril sediaan steril. Mahasiswa tersebut
melakukan uji pada sediaan yang di buat, salah satu uji yang dilakukan adalah bakteri
dengan media. Salah satu syarat media yang digunakan untuk uji sterilisasi adalah ?
A. Inkubasi selama 14 hari
B. Memenuhi fertilitas aerob
C. Merangsang pertumbuhan mikroba
D. Memenuhi fertilitas anaerob
E. semua benar
Dibuat oleh : Noor Lisya Agusti

Jawaban : E. Semua benar ( panduan preparasi sediaan steril UMB semester 6 )


28. Suatu larutan mengandung 1,0 gram efedrin sulfat dalam 100 ml. Berapa banyak NaCl
yang ditambahkan agar larutan isotononis ? Jika diketahui E efedrin sulfat 0,23.
a. 0,67 gram
b. 0,75 gram
c. 0,83 gram
d. 0,92 gram
e. 1 gram

Dibuat oleh : Norhasanah


Jawab :
a. 0,67 gram
Penyelesaian :
 Kesetaraan efedrin sulfad dengan NaCl = 1,0 g x 0,23 = 0,23 gram
 Untuk memperoleh larutan isotonis diperlukan 0,9 gram NaCl
Jadi, masih diperlukan tambahan NaCl sebanyak (0,9 - 0,23 = 0,67 gram)
29. Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin melakukan praktikum yang
membuat injeksi solutio anticoagulant, yang mana dengan Formula sebagai berikut .
Tentukan Jenis Tonisitas Formula tersebut
R/ Acidium Citricum 1 Ha2O 4,7
Na Citrat Tribacicum 5,5 Ha2O 16
Glukosa p.i anhydrous 25
Aqua p.i ad 1000ml
Tentukan Jenis Tonisitas Formula tersebut adalah
a. Hipertonis , penambahan glukosa 0,283 g/L
b. Hipotonis, penambahan glukosa 4,36 g/L
c. Hipotonis, penambahan glukosa 3,46 g/L
d. Hipertonis
e. Hipertonis , penambahan glukosa 2,83 g/L

Dibuat oleh : Normi Hayati


Jawaban : b. Hipotonis, penambahan glukosa 4,36 g/L
Perhitungan
Dik :
fA = 1,5 MA =210,40 a= 4,7
fB = 1,8 MB = 294,40 b= 16
fC = 1 MC = 198,17 c= 25
(fA/MA x a) +(fB/MB x b) + (fC/MC x c)

( 1,5/ 210,40 x 4,7 ) + ( 1,8/294,40 x 16) + (1/198,17 x 25)


= 0.0335 + 0,0978 + 0,1261
= 0,2574
0,258 < 0,28 ( Hipotonis)

Maka perlu penambahan zat agar isotonis (glukosa) adalah


h= Mh / fh [ 0,28 – ((fA/MA x a) +(fB/MB x b) + (fC/MC x c)]
= 198,17/1 x ( 0,28 – 0,258)
= 198,17 x 0,022
=4,3597
=4,36 g/L

Referensi : Buku petunjuk praktikum sediaan formulasi dan teknologi sediaan steril
30. Suatu industri farmasi akan memproduksi sediaan injeksi Diphenhydramine HCL 1%.
Karateristik bahan baku tidak tahan panas lebih dari 100°C serta mudah teroksidasi.
Metode sterilisasi apa yang sesuai dengan sediaan injeksi tersebut ?
a. Filtrasi membran
b. Gas etilen dioksidasi
c. Radio gamma
d. Sterilisasi basah
e. Sterilisasi kering
Dibuat oleh : Nurbaity Basrani F

Jawab : a. Filtrasi membran


Filtrasi membran merupakan teknik sterilisasi secara mekanis bekerja dengan cara
menahan mikroba hingga mikroba yang dikandung dapat dipisahkan secara fisika. Teknik
sterilisasi filtrasi membran ini digunakan untuk material atau bahan yang sensitif terhadap
panas.
31. Seorang apoteker di instalasi farmasi rumah sakit menerima vaksin polio . dan apoteker
diminta untuk menyimpan vaksin terrsebut pada suhu beku. Suhu berapakah yang
dimaksud ?
a. -25 s.d -15°C
b. 2 s.d 8 °C
c. 8 s.d 15 °C
d. 15 s.d 30 °C
e. 30 s.d 40 °C
Dibuat oleh : Puteri Stanaul Khairiyah

Jawaban : a. -25 s.d -15°C


Referensi : Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1059/Menkes/Sk/Ix/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi Menteri
Kesehatan Republik Indonesia
Sumber : Anonim, 1995. Farmakope Indonesia Ed IV. Depkes RI
32. Seorang warga di Tegal, Jawa Tengah tewas diduga akibat mal praktek saat dirawat di
rumah sakit. Korban diberi cairan infus yang sudah kadaluarsa saat menjalani perawatan
di Rumah Sakit Mitra Siaga Tegal sehingga kondisinya terus memburuk dan akhirnya
tewas. Sementara itu pihak Rumah Sakit Mitra Siaga mengatakan, pemberian infus
kadaluarsa tersebut bukan merupakan kesengajaan karena hasil otopsi pasien gagal ginjal.
Tanggung jawab dari dokter, perawat ataupun farmasis adalah dalam hal pemberian dan
pemasangan infus yang telah kadaluarsa dalam pengecekan sediaan steril farmasis
bertanggung jawab dalam hal pengecekan sediaan, analisis kematian yang dapat
dipertanggung jawabkan adalah?
a. Tanggal kadaluarsa obat (expiration date) adalah tanggal yang menunjukkan efektivitas
dan keamanan obat untuk dipergunakan. Pada sediaan infus yang telah kadaluarsa,
kemungkinan telah tumbuh mikroorganisme sehingga sediaan tersebut tidak steril yang
dapat membahayakan tubuh pemakai.
b. Apabila infus tidak steril, bakteri maupun virus (pirogen) dapat langsung berada di
pembuluh darah dan menyerang organ tubuh tanpa didahului mekanisme penyaringan
terlebih dahulu.
c. Pyrogen brbahaya bila diinjeksikan dalam jumlah besar secara intravena dan akan
memberikan efek cepat yaitu peningkatan suhu badan yang berakibat fatal
d. Pada seorang penderita gagal ginjal, obat akan sulit untuk diekskresikan. Apabila
diberikan infus yang telah kadaluarsa, obat yang mengandung mikroorganisme akan
beredar cepat melalui pembuluh darah dan terjadi akumulasi, sehingga terjadi reaksi
pirogenik yang akan berakibat fatal.
e. Sebelum memasang infus, seharusnya dokter ataupun perawat mengecek keadaan infus
yang diberikan. Tanggung jawab seorang farmasis rumah sakit adalah dalam hal
pengawasan obat di Rumah Sakit. Kelalaian dalam penyelenggaraan pemantauan atau
pemantauan yang tidak mengikuti standar (kurang tepat) oleh farmasis klinik dapat
dikatagorikan dalam kegiatan malpraktek kefarmasian.
Jawaban : D
Dibuat oleh : Rahnat Hariyadi

33. Kasus
Pada pengemasan perlu memperhatikan sediaan yang dikemas, misalnya untuk
pengemasan ampul, diantara ampul yang satu dengan ampul yang lain harus diberikan
perlakuan khusus untuk mencegah kontak langsung antara wadah yang dapat menyebabkan
sediaan rusak pada saat distribusi.
PertanyaanPerlakuan khusus yang dilakukan pada saat pengemasan ampul untuk di
distribusikan yaitu
a. diberikan karton pembatas untuk mencegah kontak langsung antara wadah
b. diberikan kaca pembatas untuk mencegah kontak langsung antara wadah
c. diberikan bungkus plastik tiap ampul untuk mencegah kontak langsung antara wadah
d. dikasih jarak antar ampul untuk mencegah kontak langsung antara wadah
e. diberikan kain pembatas untuk mencegah kontak langsung antara wadah

Jawaban : A
Dibuat oleh : Ramadhani

Referensi : MODUL TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


Disusun oleh: Aris Purwanto, M.Farm., Apt
34. Suatu kelompok mahasiswa melakukan evaluasi sediaan steril dari sebuah penelitian
sediaan yang mereka lakukan, salah satunya yaitu untuk memastikan sediaan tersebut
bebas dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun yang tidak, baik dalam bentuk
vegetatif maupun dalam bentuk tidak vegetatif. Termasuk dalam evaluasi sediaan steril
apakah uji tersebut... (FI IV hal.855)
a. Uji sterilitas
b. Uji kejernihan
c. Uji kebocoran
d. Uji pH
e. Uji viskositas
Jawaban : a. uji sterilitas
Dibuat oleh : Risqa Nur Aina

35. Sebuah industri farmasi, bangunan dan fasilitas industri pun harus sesuai dengan CPOB,
salah satunya melaksanakan Pest Control. Adapun Pest Control dibagi menjadi beberapa
bagian, kecuali :
a. Fogging
b. Insect killer
c. Spraying
d. Chemical bait
e. Memasang kawat kasa

Dibuat oleh : Riza Rizkya Amalia


Jawaban : E
REFERENSI : Badan Pengawas Obat dan Makanan RI.Petunjuk Operasional
Penerapan CPOB. Jakarta : Badan POM RI. 2009.
36. Sebuah industry farmasi memproduksi sediaan steril tetes mata tetrahidrozolin HCL,
berdasarkan persyaratan CPOB produksi di lakukan pada kelas tertentu.
Apakah kelas tersebut yang di maksud….
a. Kelas a
b. Kelas b
c. Kelas c
d. Kelas d
e. Kelas e

Jawaban : d. kelas d
Dibuat oleh : Risqi Ridhayani

Pembahasan : CPOB 2006 : proses pembuatan dan pengisian sediaan salep/krim untuk
mata di kelas D (Bambang priyambodo)
37. Seorang pasien mengalami kejang sehingga susah menelan obat sediaan tablet maupun
sediaan oral lainnya sehingga dokter memberikan obat dengan cara diinjeksikan Adapun
beberapa alasan dibuat sediaan parenteral, kecuali….
a. Kadar obat sampai ke target
b. Parameter farmakologi
c. Parameter farmakoterapi
d. Alternative rute, jika tidak bisa lewat oral
e. Cairan badan dan elektrolit

Jawaban : c. Parameter farmakoterapi

Dibuat oleh : Rosita


Referensi : modul teknologi sedian steril => hal 9

38. Seorang TTK akan melakukan penyimpanan terhadap sediaan steril digudang farmasi
rumah sakit S, agar bebas dari suatu mikroorganisme baik dalam bentuk vegetatif maupun
bentuk spora, sehingga dia akan melakukan penggolongan terhadap sediaan steril.
Manakah dibawah ini yang termasuk sediaan obat yang dibuat dalam bentuk steril . . . . . .
.
a. Obat Bebas Terbatas
b. Obat Narkotika
c. Obat Tetes Mata dan Salep Mata
d. Obat Psikotropika
e. Obat Wajib Apotek
Jawaban : C. Obat Tetes Mata dan Salep Mata
Dibuat oleh : Siti Sulaibah
Referensi : Modul Teknologi Sediaan Steril Universitas Muhammadiyah Banjarmasin,
disusun oleh Aris Purwanto, M.Farm., Apt
39. Seorang tenaga teknis kefarmasian (TTK) melakukan pembuatan formulasi sediaan steril.
Dibawah ini yang bukan merupakan syarat-syarat pemeriksaan untuk sediaan steril adalah.
a. Pemeriksaan kebocoran
b. Pemeriksaan sterilitas
c. Pemeriksaan kejernihan dan warna
d. Pemeriksaan industri
e. Pemeriksaan volume dan berat
JAWABAN
d. pemesrsiksaan industry
Dibuat oleh : Sri Widianty Elliyen
REFERENSI
Modul Teknologi Sediaan Steril Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, disusun oleh
Aris Purwanto, M.Farm., Apt -halaman 25

40. Berapa banyak NaCl yang diperlukan agar 100 ml larutan apomorfin HCl 1% isotonis
dengan serum darah ? Jika diketahui PTB apomorfin 0,08ᵒ, PTB 1% NaCl 0,58ᵒ
a. 0,72 gram
b. 0,73 gram
c. 0,74 gram
d. 0,75 gram
e. 0,76 gram
Jawab
E. 0,76 gram
Dibuat oleh : Sumiati
Penyelesaian :
0,52ᵒ - 0,08ᵒ = 0,44ᵒ
Untuk mendapatkan PTB 0,44 di perlukan NaCl sebanyak
1% 0,58ᵒ
= 0,44ᵒ : 𝑥 = 0,76% atau 0,76 gram
𝑥

41. Seorang TTK membuat sediaan steril diamana dengan memformulasikan


R/ Acidium citricum 5,5
Na Citrat Tribacicum 20
Glukosa p.i anhydrous 50
Aqua p.i ad 100 ml

Dari formulasi tersebut seorang TTK ingin membuat larutan tersebuut agar isotonis. Maka
berapakan peneambahan zat (glukosa) pada formulka tersebut agar larutan isotonis?

a. 0,7651 g/L
b. 0,8001 g/L
c. 0,8341 g/L
d. 0,8521 g/L
e. 0,9 g/L
Jawaban : d. 0,8521 g/L

Dibuat oleh : Surya Arthakusuma Safutra


Perhitungan:

Diketahui:

Fa= 1 Ma= 320,2 a= 5

FB= 2 MB= 200,6 b=10

Fc=2 Mc=250 c=20

(Fa/Ma x a) + (fB/MB x b ) + ( fc/Mc x c)

= (1/320,2 x 5) + (2/200,6 x 10) + ( 2/250 x 20)

=0,0156 + 0,0997 + 0,16

=0,2757

h= Mh /fh ( 0,28 - ((Fa/Ma x a) + ( Fb/ MB x b) + (fc/Mc x c))

= 198,17/ 1 x ( 0,28 – 0,2757 )

= 198,17 x 0,0043

=0,8521 g/L

42. Seorang TTK di Industri Farmasi ingin melakukan proses sterilisasi. Namun ia sadar bahwa
metode ini hanya untuk zat-zat yang tahan penguraian pada suhu diatas kira-kira 140ᵒC.
Metode sterilisasi apakah yang akan digunakan oleh TTK tersebut ….
a. Sterilisasi panas kering
b. Sterilisasi uap panas
c. Sterilisasi gas
d. Sterilisasi dengan penyaringan
e. Sterilisasi radiasi
Dibuat oleh : Yuliana Hajar Agusten
Jawab :
a. Sterilisasi panas kering
Referensi : (Lachman, L, et all. Teori dan Praktek Industri Farmasi Third Edition.
Philadelphia : Lea and Febiger, 1986. Hal : 1263 )
Alasan : Hanya untuk zat-zat yang tahan penguraian pada suhu diatas kira-kira 140ᵒC
merupakan kekurangn dari metoe sterilisasi panas kering. Suhu tinggi ini diperlukan
agar efektif membunuh mikroba (spora dan bentuk vegetatifnya dari semua
mikroorganisme) , selain dengan suhu yang tinggi diperlukan juga waktu yang lebih
panjang.
43. Seorang wanita datang ke dokter setiap 3 bulan sekali untuk melakukan suntik hormon
Medroxyprogesterone dengan dosis 300 mg/2 ml. Lokasi pemberian hormon tersebut
diberikan pada otot deltoid (segitiga) pada lengan bagian atas. Rute pemberian yang
dimaksud untuk pemberian obat tersebut adalah ….
a. intradermal (i.d/i.c)
b. Subkutan (s.c)
c. Intramuskular (i.m)
d. Intravena (i.v)
e. Intraarteri (i.a)

Jawaban : c. Intramuskular (i.m)


Dibuat oleh : Yunita Lestari
Injeksi pada pemberian obat secara intramuskular dapat disuntikkan masuk otot daging,
lokasi yang biasa diberikan pada otot deltoid (segitiga) pada lengan bagian atas, yang
disuntikkan sebanyak 2 ml larutan obat dan volume lebih besar max 5 ml. Absorpsi im
lebih cepat dibandingkan rute s.c, dapat ditunda atau dipercepat dengan cara pemberian
obat dalam bentuk steril baik pembawa air atau minyak.
Referensi : Power Point Bakul 3 “Sediaan Parenteral”
44. Seorang apoteker ingin melakukan uji bebas pirogen pada hewan kelinci, sebab kelinci
sangat sensitif terhadap pirogen. Alat suntik, jarum dan alat gelas dipanaskan pada
temperatur 250°C selama tidak kurang dari 30 menit , lalu produk yang akan diuji
disuntikkan pada vena telinga kelinci sebanyak berapa ml?
a. 20 ml per kg berat badan
b. 10 ml per kg berat badan
c. 30 ml per kg berat badan
d. 15 ml per kg berat badan
jawabannya B. 10 ml per kg berat badan
Dibuat oleh : Handyta Okta Ningrum

Turco, Salvatore dan Robert E. 1974. “Sterile dosage Forms”. Published in Great Britain
by Henry Kimpton Publishers : London

Anda mungkin juga menyukai