Anda di halaman 1dari 6

Riwayat Pengobatan TB Paru ....

(Herryanto, et al)

RIWAYAT PENGOBATAN PENDERITA TB PARU MENINGGAL


DI KABUPATEN BANDUNG

Treatment history of Tuberculosis mortality cases in Bandung District


Herryanto*, Dede Anwar Musadad* dan Freddy M Komalig*

Abstract. Tuberculosis is remains a health problem in the world including Indonesia. In Indonesia,
Tuberculosis is a main cause of death among other infectious diseases. In Bandung district during
January - December 2001 could be recorded 132 mortality cases caused by Tuberculosis. The data were
collected from hospitals and health centres. The patients were young in age, have low level of education,
and low income. Only 82.5 percent of them received specific treatment for Tuberculosis, 49.5 percent
started the therapy for the first time, and 90.1 percent did not finish the regimen. The major reasons they
stopped the treatment namely they did not feel a better health improvement and the disease turned
worse. Those are the same reason for the patients to seek other health facilities if they have not satisfied
about the treatment results.
Keywords : Tuberculosis, mortality, treatment history.

PENDAHULUAN berarti setiap tahun diantara 1000 penduduk


Indonesia 10 – 20 orang akan terinfeksi,
Penyakit tuberkulosis (TB paru) masih
walaupun tidak semuanya akan menjadi pen-
menjadi masalah kesehatan masyarakat
derita TB paru (hanya 10% orang terin-
dunia. Penyakit TB paru banyak menyerang
feksi akan menjadi penderita TB paru).
kelompok usia kerja produktif, kebanyakan
dari kelompok sosial ekonomi rendah dan Hasil Surkesnas tahun 2001 penyakit
berpendidikan rendah. Meningkatnya kasus saluran pernafasan merupakan penyebab
HIV/AIDS yang menurunkan daya tahan kematian nomor 3 setelah kardiovaskuler dan
tubuh juga menyebabkan meningkatnya kem- penyakit infeksi pada semua golongan umur,
bali penyakit TB (reemerging disease) di penyakit TB paru penyebab kematian nomor
negara-negara yang tadinya sudah berhasil 2 dari golongan penyakit infeksi (Depkes,
mengendalikan penyakit ini. 2002).
Penyakit TB paru yang tidak diobati
Banyaknya penderita yang tidak ber-
setelah 5 tahun, 50% akan meninggal, 25%
hasil disembuhkan, penderita dengan basil
sebagai kasus kronik yang tetap menular dan
tahan asam (BTA) positif berisiko menular-
25% akan sembuh sendiri karena daya tahan
kan penyakitnya pada orang lain. Tahun
tubuh tinggi (Depkes, 2000). Cara yang pa-
1993, WHO mencanangkan kedaruratan glo-
ling efektif memberantas penyakit TB paru
bal penyakit TB. Diperkirakan setiap tahun
adalah dengan menghentikan TB pada sum-
ada 9 juta penderita TB baru dengan kema-
bernya (stop at the source) yang dikenal
tian 3 juta orang (Depkes, 2000), 95%
dengan strategi DOTS (direct observed
penderita TB berada di negara-negara ber-
treatment, short course) (WHO, 2003).
kembang dan beban terbesar terutama adalah
di Asia Tenggara. Di negara-negara berkem- Tahun 1995 pemerintah Indonesia
bang kematian ini merupakan 25% dari melaksanakan program Pemberantasan Pe-
kematian penyakit yang sebenarnya dapat nyakit TB paru dengan strategi DOTS
diadakan pencegahan (Depkes, 2000). hingga tahun 1999 /2000 cakupannya baru
14% (Depkes, 2000). Diharapkan pengobatan
Di Indonesia pada tahun 1999, WHO
dengan strategi DOTS dapat memberikan
memperkirakan setiap tahun muncul 583.000
kesembuhan 85%. Namun dalam pelaksa-
kasus baru TB dengan kematian karena TB
naannya di lapangan, keberhasilan pengobat-
paru 140.000 (Depkes, 2000). Setiap 100.000
an dengan strategi DOTS ini mengalami
penduduk Indonesia terdapat 130 penderita
beberapa hambatan antara lain putus berobat
baru TB paru BTA positif. Risiko penularan
(termasuk pindah berobat) dan meninggal
setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis
sehingga tidak memberikan hasil yang
Infection = ARTI) bervariasi antara 1-2 %,
maksimal.
*
Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi Kesehatan, 1
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 3 No 1, April 2004 : 1- 6

Ketepatan dan kecepatan mendapatkan pe- TB03), BP4, Klinik PPTI, catatan medik
ngobatan juga mempengaruhi hasil pengo- Rumah Sakit untuk kemudian dicatat nama,
batan. Seringkali penderita datang berobat alamat dan tahun meninggal. Selanjutnya
sudah dalam keadaan yang terlambat dan dilakukan kunjungan rumah untuk mengum-
banyak komplikasi sehingga penderita tidak pulkan data penyebab kematian dan riwayat
sabar dan ingin cepat merasakan hasilnya, pengobatannya dengan melakukan verbal
namun penderita seringkali kecewa dan autopsy kepada keluarga almarhum/almar-
putus asa karena apa yang diharapkan humah. Sebagai responden adalah isteri/
penderita tidak sesuai dengan kenyataan suami almarhum/almarhumah atau anggota
perjalanan pengobatan. keluarga dewasa yang dianggap dekat atau
mengetahui tentang penyakit dan kematian
Tulisan ini merupakan bagian dari
almarhum/almarhumah, serta riwayat pengo-
hasil penelitian Pengembangan Surveilans
batannya. Untuk menghindari bias yang
Kematian TB paru di Kabupaten Bandung
disebabkan oleh daya ingat responden (recall
Tahun 2002, yang menyajikan perilaku
bias), kasus kematian penderita TB paru
pengobatan penderita TB paru yang mening-
yang diambil hanya data tahun 2001.
gal, meliputi tempat meninggal, riwayat
pengobatan, dan riwayat pindah berobat.
Diharapkan dari hasil ini dapat dipergunakan HASIL PENELITIAN
sebagai dasar kebijakan untuk program
penanggulangan penyakit TB paru, khusus- a. Karakteristik penderita
nya di Kabupaten Bandung.
Data kematian penderita TB paru di
Kabupaten Bandung selama tahun 2001 yang
BAHAN DAN CARA berhasil dikumpulkan sebesar 132 kasus
kematian tersebar hampir di seluruh keca-
Penelitian ini merupakan penelitian
matan yang ada di Kabupaten Bandung.
deskriptif dengan desain cross sectional,
Berdasarkan data tersebut kemudian dilaku-
penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung
kan penelusuran ke alamat rumah almar-
Jawa Barat
hum/almarhumah dengan melakukan wawan-
Populasi dari penelitian adalah selu- cara kepada orang yang dianggap dekat dan
ruh penderita TB paru yang meninggal dan mengetahui riwayat penyakit dan kematian
bertempat tinggal di daerah penelitian (Kabu- almarhum/almarhumah. Sebagai responden
paten Bandung). Sedangkan sebagai sampel dari verbal autopsy ini adalah sebagian besar
adalah seluruh penderita TB paru yang masih anggota keluarganya sendiri seperti
meninggal selama kurun waktu tahun 2001 suami/isteri, orangtua dan kakak/adik almar-
dan tercatat sebagai penderita TB yang hum.
meninggal dalam form TB01-TB03 puskes-
Karakteristik kasus kematian penderita
mas, Balai Pengobatan Penyakit paru-paru
TB paru hampir tersebar pada semua
(BP4), Perkumpulan Penyakit Tuberkulosis
kelompok umur, paling banyak pada kelom-
Indonesia (PPTI) atau dalam catatan medik
pok usia 20-49 tahun (58,3%) yang meru-
unit pelayanan kesehatan Rumah Sakit
pakan usia produktif dan usia angkatan kerja.
(pemerintah dan swasta) yang terletak di
Proporsi menurut jenis kelamin, laki-laki
Kabupaten dan Kota Bandung.
(54,5%) dan perempuan (45,5%). Sebagian
Kriteria inklusi dari kasus kematian TB paru
besar tidak bekerja (34,9%) dan berpendi-
adalah 1) Penderita TB yang meninggal dan
dikan rendah (tidak sekolah, tidak tamat SD,
tercatat dalam form TB01-TB03 atau catatan
dan tamat SD) sebesar 62,9% .
medik unit pelayanan kesehatan, 2) Mening-
gal dalam kurun waktu 1 Januari 2001 s/d 31
b. Tempat meninggal
Desember 2001, 3) Bertempat tinggal di
Menurut tempat meninggal, diketahui
wilayah penelitian (Kabupaten Bandung).
sebagian besar penderita ( 66,7%) meninggal
Data kematian penderita TB paru di Rumah Sakit dan di rumah (31,8%).
diambil dari kohort puskesmas (TB01 s/d

2
Riwayat Pengobatan TB Paru ....(Herryanto, et al)

Tabel 1. Karakteristik penderita TB paru meninggal di Kabupaten Bandung tahun 2001


No. Karakteristik Jumlah %
( n= 132 )
1 Jenis kelamin
a. Laki-laki 72 54,5
b. Perempuan 60 45,5
2. Umur
a. < 20 tahun 10 7,6
b. 20-29 tahun 39 29,5
c. 30-39 tahun 21 15,9
d. 40-49 tahun 17 12,9
e. > 49 tahun 45 34,1
3. Pekerjaan
a. Bekerja 86 65,1
b. Tidak bekerja 46 34,9
4. Pendidikan
a. Tidak sekolah 8 6,1
b. Tidak tamat SD 23 17,4
c. Tamat SD 52 39,4
d. Tamat SLTP 30 22,7
e. Tamat SLTA 19 14,4

Tabel 2. Tempat meninggal penderita TB paru di Kabupaten Bandung tahun 2001


Jumlah
Tempat meninggal %
(n= 132 )
Puskesmas 2 1,5
Rumah Sakit 88 66,7
Rumah 42 31,8

Tabel 3 Riwayat pengobatan sebelum meninggal penderita TB paru


di Kabupaten Bandung tahun 2001
Jumlah
NO. Karakteristik Kasus %
(n=109)
1. Tingkat pengobatan
a. Pertama kali 54 49,5
b. Sebelumnya pernah dan kambuh 36 33,0
c. Sebelumnya pernah dan putus 19 17,5
2. Obat yang digunakan
a. Paket 60 56,6
b. Bukan paket 49 43,4
3. Tempat berobat terakhir
a. Puskesmas 58 53,2
b. Rumah Sakit 27 24,8
c. Lain-lain 24 22,0
4. Pengobatan dinyatakan :
a. selesai 8 9,9
b. belum selesai 101 90,1

*
Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi Kesehatan, 3
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 3 No 1, April 2004 : 1- 6

c. Riwayat pengobatan bahkan sakitnya bertambah parah (21,8%),


Dari 132 penderita TB paru yang me- serta 7,8% meninggal saat dalam masa
ninggal, 109 kasus (82,5%) diantaranya di- pengobatan. Sebagian besar penderita
nyatakan pernah mendapat pengobatan TB (50,4%) menerima pengobatan selama 3- 5
paru. bulan sebelum terjadinya putus berobat .
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa
penderita TB paru meninggal dan mempero- d. Riwayat pindah berobat
leh pengobatan untuk pertama kalinya
Dalam masa pengobatannya, penderita
cukup besar (49,5%). Sedangkan 33,0%
TB paru karena berbagai alasan juga mem-
menyatakan pernah mendapatkan pengobatan
punyai kebiasaan pindah berobat. Alasan
kemudian kambuh dan 17,5% pernah men-
yang paling sering dikemukakan adalah
dapat pengobatan lalu putus berobat.
tidak ada perubahan (sembuh ) dan sakitnya
Umumnya pengobatan yang dijalani pende-
bertambah parah (Tabel 6). Yang
rita tidak sampai selesai 90,1% (101 orang)
menyatakan pernah pindah berobat
hanya 9,9% yang menyelesaikan pengo-
sebanyak 72,4%, 78,9% diantaranya mem-
batan.
berikan alasan tidak ada perubahan (sembuh)
Alasan penderita tidak menyelesaikan
dan 13,2 % menyatakan sakitnya bertambah
pengobatan yang terbanyak adalah tidak
parah.
merasakan adanya perubahan menjadi lebih
baik setelah minum obat (38,6%) dan

Tabel 4 Alasan pengobatan tidak selesai penderita TB paru meninggal


di Kabupaten Bandung tahun 2001

Alasan tidak selesai berobat Jumlah


%
(n=101)
a. Jauh ke pelayanan kesehatan 6 5,9
b. Tak ada perubahan sembuh 39 38,6
c. Sakitnya tambah parah 22 21,8
d. Bosan/jenuh 6 5,9
e. Meninggal dlm masa pengobatan 28 27,8

Tabel 5 Lama pengobatan penderita TB paru meninggal di Kabupaten Bandung tahun 2001

Lama pengobatan terakhir Jumlah


%
(n=109)
a. ≤2 bulan 26 23,8
b. 3 -5 bulan 55 50,4
c. ≥ 6 bulan 28 25,8

Tabel 6 Riwayat pindah berobat sebelum pengobatan terakhir


penderita TB paru di Kabupaten Bandung tahun 2001
Jumlah
NO. Riwayat Pindah berobat %
(n=109)
1. Pindah berobat :
a. Pernah 76 72,4
b. Tidak pernah 33 27,6
2. Alasan pindah berobat (n=76 )
a. Tidak ada perubahan sembuh 60 78,9
b. Sakitnya bertambah parah 10 13,2
c. Lain-lain 6 7,9

4
Riwayat Pengobatan TB Paru ....(Herryanto, et al)

PEMBAHASAN belum mampu untuk membiayai sendiri


pengobatannya karena umumnya tidak be-
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan
kerja dan keadaan ekonominya rendah.
Rumah Tangga Tahun 2001, TB paru masih
merupakan penyebab utama kematian Dalam hal pengobatan, penderita
untuk golongan penyakit infeksi. Di sebagian besar (56,6%) memperoleh pengo-
Kabupaten Bandung, dari data kematian TB batan dalam bentuk paket. Secara nasional
paru yang dikum-pulkan selama kurun program DOTS yang tersedia baru mampu
waktu 1 januari 2001 – 31 Desember 2001 melayani 14% penderita, sehingga dengan
ada 132 penderita yang meninggal dalam kemampuan yang terbatas ini dapat diupaya-
usia produktif, laki-laki dan perempuan kan agar DOTS dimanfaatkan seefektif dan
hampir berimbang, berpen-didikan rendah, seefisien mungkin dengan cara mencegah
dan tidak bekerja. putus berobat karena alasan apapun, terma-
suk meninggal karena menderita TB paru.
Hal ini hampir sama dengan hasil
penelitian Sukasediati (1997) di DKI Jakarta Yang perlu dicatat dalam temuan ini
dimana sebagian besar (33,3%) penderita TB penderita yang memperoleh pengobatan un-
paru di DKI Jakarta berusia muda, demikian tuk pertama kalinya dan yang masih dalam
juga penelitian tahun 2002 di DKI Jakarta pengobatan sampai meninggalnya cukup
usia penderita TB paru yang putus berobat besar. Hal ini berarti bahwa ada keterlam-
sebesar 27,9% berusia muda (Herryanto, batan pengobatan, penderita mungkin datang
2002). berobat pertama kalinya sudah dalam kon-
disi fisik yang parah dengan berbagai faktor
Penyakit TB paru dapat menyerang
penyulit seperti kurang gizi, berkurangnya
semua kelompok usia, yang paling banyak
fungsi paru, batuk berdarah. Hal ini didu-
adalah kelompok usia produktif dan dari
kung juga dengan kenyataan banyaknya
kelompok ekonomi lemah serta berpendi-
penderita yang tidak menyelesaikan pengo-
dikan rendah (Depkes, 2000). Diperkirakan
batannya. Berbagai alasan yang dikemukakan
usia penderita TB paru yang meninggal akan
antara lain tidak ada perubahan (sembuh) dan
mengikuti segmen usia penderita yang pa-
sakitnya bertambah parah. Alasan tersebut
ling banyak yaitu usia produktif. Rendah-
melengkapi kenyataan yang telah disebutkan
nya tingkat pendidikan, pengetahuan, dan
di atas, keterlambatan dimulainya program
kurangnya kemampuan ekonomi mempenga-
pengobatan dan faktor penyulit ikut berperan
ruhi kemauan/kemampuan penderita dan
sebagai penyebab pengobatan tidak selesai.
keluarganya dalam upaya pengobatan.
Berbeda dengan alasan penderita putus
Penderita TB paru yang meninggal di berobat (tidak menyelesaikan pengobatan-
Rumah Sakit mempunyai persentase terbesar nya) dimana penderita tidak meninggal,
(66,7%). Hal ini wajar saja mengingat data sebagian besar menyatakan putus berobat
penderita meninggal yang dikumpulkan ter- karena sudah merasa sembuh (Herryanto,
banyak dari Rumah Sakit. Faktor lain adalah 2002).
sebelum meninggal umumnya penderita
Sama halnya dengan pengobatan
dibawa ke Rumah Sakit dengan alasan umumnya, dalam pengobatan TB paru
tertentu antara lain sesak nafas karena me-
pindah berobat juga terjadi. Alasan pindah
nurunnya fungsi paru dan batuk darah. berobat penderita TB paru meninggal ini
Dari penderita TB paru yang mening- hampir sama dengan alasan penderita tidak
gal berdasarkan verbal autopsi, 82,5% yang menyelesaikan pengobatannya yaitu tidak
pernah mendapat pengobatan TB paru, ada perubahan (sembuh) dan sakitnya ber-
sisanya 17,5% meninggal tanpa pernah tambah parah. Dengan demikian, alasan tidak
mempunyai riwayat pengobatan TB paru. ada perubahan (sembuh) menjadi alasan yang
Hal ini mungkin dapat dijelaskan dari paling besar bagi penderita untuk pindah
kenyataan bahwa pemerintah memang belum berobat. Sedangkan di DKI Jakarta pada
mampu menjangkau pengobatan untuk penderita putus berobat tidak meninggal
semua penderita TB paru. Penderita juga alasan pindah berobat karena tidak ada
perubahan sembuh hanya 20,8%.

*
Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Ekologi Kesehatan, 5
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol 3 No 1, April 2004 : 1- 6

KESIMPULAN Senewe, F P., 2002, `Faktor -faktor yang


mempengaruhi kepatuhan berobat penderita
Dari uraian di atas dapat dinyatakan Tuberkulosis Paru di Puskesmas Depok`,
bahwa penderita TB paru meninggal di Buletin Penelitian Kesehatan Badan Litbang
Depkes 2002, vol.30 No 1: hal 32- 39.
Rumah Sakit merupakan proporsi yang ter-
Sukana, Bambang., 2002, `Pengobatan penderita
banyak dan dari kelompok usia muda, Tuberkulosis paru dengan memberdayakan
berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan anggota keluarga di Kabupaten Tangerang`,
laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Majalah Kesehatan Perkotaan, Vol 9No.1-
Hanya 82,5% penderita TB paru meninggal 2002.hal 16-24.
Sukasediani, Nani., 1997, ’Pola Resistensi Kuman
mempunyai riwayat pengobatan TB paru dan Mycobacterium tuberculosis dan Keefektifan
hampir separuhnya (49,5%) merupakan pe- Panduan OAT pada Penderita TB Paru di 10
ngobatan yang pertama kalinya. Sebagian Puskesmas DKI Jakarta’, Buletin Penelitian
besar penderita (90,1%) menghentikan pe- Kesehatan Badan Litbang Depkes 1999/
2000, vol 27 no 3 & 4: hal.304-315.
ngobatan sebelum waktunya, alasan ter-
Word Health Organization., 2003, Direct Observed
banyak adalah tidak ada perubahan (sembuh) Treatment, Short Course. http:// www.who.
dan sakitnya bertambah parah. Sebagian int. Accessed on 2/19/2004
besar penderita pernah berobat dengan tidak
ada perubahan (sembuh) dan sakitnya ber-
tambah parah.

SARAN
Untuk mencegah penderita datang
berobat untuk pertamakalinya dalam keadaan
terlambat dan dengan banyak faktor penyulit,
maka perlu ditingkatkan upaya penyuluhan
agar case finding dapat menjaring penderita
TB paru sedini mungkin untuk diberi
pengobatan DOTS .

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terima kasih kami tujukan
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten
Bandung beserta staf yang telah memberikan
bantuan sehingga terlaksananya penelitian
ini.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI.2000. Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis. Cetakan ke-
5. Jakarta: hal 2.
Departemen Kesehatan RI. 2002. Laporan studi
mortalitas 2001. Pola Penyakit Penyebab
Kematian di Indonesia.Laporan penelitian
tidak diterbitkan. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan. Jakarta:hal 19.
Herryanto.2002. Pengkajian Pengembangan Produk
TBC di Propinsi DKI Jakarta. Laporan
penelitian tidak diterbitkan: hal 17-26.
Kisworo, Bambang., 1994, `Hasil Pengobatan
Tuberkulosis Paru dengan paduan Obat
Jangka Pendek 1HRE/5H2R2 di Puskesmas
Laclubar, Kabupaten Manatuto, Timor
Timur`, Majalah Kedokteran Indonesia,Vol
44 no.5 –1994. hal: 325-328.