Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KASUS EPISTAKSIS POSTERIOR EC

HIPERTENSI

BAB I
ILUSTRASI KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
 Nama : Tn. Samsudin
 Umur : 53 th (20/01-1960)
 Pekerjaan : PNS
 Alamat : STAIN
 MRS : 06/08-2014, jam 21.00 WIT

B. ANAMNESIS
 Keluhan utama : Keluar darah dari kedua hidung
 Anamnesis terpimpin :
Os masuk rumah sakit dengan keluhan keluar darah dari kedua hidung ± 2 jam yang lalu. Darah
yang keluar ± 2 liter, berwarna merah segar, encer dan lama kelamaan mulai bercampur sedikit
gumpalan. Keluhan ini terjadi tiba-tiba tanpa sebab apapun sebelumnya. Os mengatakan biasanya
darah hanya keluar dari hidung, tidak menetes ke tenggorokannya, namun bisa jadi darah mengali
ke tenggorokanya jika hidungnya mulai tersumbat gumpalan darah. Darah yang keluar dari
hidungnya biasanya sulit berhenti sendiri walaupun sudah sudah dipencet hidungnya dalam jangka
waktu lama. Darah hanya akan berhenti jika sudah dipasang tampon hidung. Nyeri kepala (-), leher
tegang (+), pusing (+), trauma (-). Keluhan ini sudah sering dialami pasien sehingga membuatnya
beberapa kali MRS.

 Riwayat penyakit dahulu :


Os pernah dirawat pada Maret 2012 dan Desember 2013 dengan keluhan yang sama dan os juga
punya riwayat Hipertensi tak terkontrol.

 Riwayat kebiasaan :-

 Riwayat keluarga :
Orang tua pasien menderita Hipertensi dan Gangguan Jantung.

 Riwayat pengobatan :
Os perna ke dokter Sp.PD dan diberi obat Amlodipin 5 mg, captopril 25 mg, nifedipin, tapi tidak
diminum teratur.
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda vital (waktu di UGD)
TD : 260/140 mmHg
N : 98 x/mnt
S : 36,80 C
P : 28 x/m
2. Pemeriksaan Telinga
a. Inspeksi telinga : Normal
b. Otoskopi Kanan Kiri
- Daun telinga : NT (-), NTT (-) NT (-), NTT (-)
- Liang telinga : Lapang, serumen (-) Lapang, serumen (-)
- Membrane timpani : Intak, RC (+) Intak, RC (+)
c. Pemerikaan Pendengaran Kanan Kiri
- Rinne : (+) (+)
- Webber : Lateralisasi (-) Lateralisasi (-)
- Swabach : Sama dgn pemeriksa Sama dgn pemeriksa
3. Pemeriksaan Hidung
a. Rhinoskopi anterior Kanan Kiri
- Cavum : Lapang, bekuan darah (+) Lapang
- Chonca : Edema/hiperemis (-) Edema/hiperemis (-)
- Septum : Deviasi (-)
b. Rhinoskopi posterior : Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pemeriksaan Tenggorokan
Inspeksi
- Tonsil : T1/T1, Hiperemis (-)
- Dinding faring post. : Hiperemis (-), granule (-), bercak darah (+)
- Uvula : Deviasi (-)
5. Pemeriksaan Leher
- Kelenjar limfe : Pembesaran (-)
- Kelenjar tiroid : Pembesaran (-)
- Nodul : (-)

D. ANJURAN PEMERIKSAAN :-

E. RESUME :
Pasien masuk rumah sakit dengan keluhan keluar darah dari kedua hidung ± 2 jam yang lalu. Darah
yang keluar ± 500 cc, berwarna merah segar, encer dan lama kelamaan mulai bercampur sedikit
gumpalan. Keluhan ini terjadi tiba-tiba tanpa sebab apapun sebelumnya. Os mengatakan biasanya
darah hanya keluar dari hidung, tidak menetes ke tenggorokannya, namun bisa jadi darah mengali
ke tenggorokanya jika hidungnya mulai tersumbat gumpalan darah. Darah yang keluar dari
hidungnya biasanya sulit berhenti sendiri walaupun sudah sudah dipencet hidungnya dalam jangka
waktu lama. Darah hanya akan berhenti jika sudah dipasang tampon hidung. Leher tegang (+),
pusing (+). Keluhan ini sudah sering dialami pasien sehingga membuatnya beberapa kali MRS.
RPD: Os pernah dirawat pada Maret 2012 dan Desmber 2013 dengan keluhan yang sama dan os
juga punya riwayat Hipertensi tak terkontrol. RPK: Orang tua pasien menderita Hipertensi dan
Gangguan Jantung. RP: Os perna ke dokter Sp.PD dan diberi obat Amlodipin 5 mg, captopril 25 mg,
nifedipin, tapi tidak diminum teratur. Pada pemeriksaan tanda vital ditemukan TD 260/140 mmHg,
Nadi 98 x/m, Pernapasan 28x/m. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bekuan darah pada hidung
kanan dan bercak darah pada dinding faring posterior.

F. DIAGNOSIS : Epistaksis Posterior ec Hipertensi

G. DIAGNOSIS BANDING :
- Hemoptisis
- Varises esofagus

H. TERAPI :
- Pasang tampon hidung
- IVFD NaCl 12 tpm
- Ceftriaxon 1 gr/12 jam/iv
- Transamin 500 mg/8 jam/iv
- Nifedipine 10 mg tablet/12 jam

I. ANJURAN : Kontrol selalu tekanan darah

FOLLOW UP:
Tanggal S O A P
08/08-2014 S : Keluar darah dari hidung (-), nyeri kepala (-)
O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos mentis
TTV:
TD: 130/90 mmHg R: 20x/m
N: 98x/m S: 36,50C
A : Epistaksis posterior ec hipertensi
P:
- Tampon hidung terpasang
- IVFD NaCl 12 tpm
- Ceftriaxon 1 gr/12 jam/iv
- Transamin 500 mg/8 jam/iv
- Nifedipine 10 mg tablet/12 jam
09/08-2014 S : Keluar darah dari hidung (-), nyeri kepala (-)
O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos mentis
TTV:
TD: 130/80 mmHg R: 20x/m
N: 94x/m S: 36,50C
A : Epistaksis posterior ec hipertensi
P:
- Tampon hidung terpasang
- IVFD NaCl 12 tpm
- Ceftriaxon 1 gr/12 jam/iv
- Transamin 500 mg/8 jam/iv
- Nifedipine 10 mg tablet/12 jam
11/08-2014 S : Keluar darah dari hidung (-), nyeri kepala (-)
O:
KU: Baik
Kesadaran: Compos mentis
TTV:
TD: 130/80 mmHg R: 18x/m
N: 86x/m S: 36,50C

A : Epistaksis posterior ec hipertensi


P:
- Lepas tampon hidung
- Aff Infus
- Transamin 500 mg tablet/8 jam
- Nifedipine 10 mg tablet/12 jam
- Boleh pulang jika dalam 24 jam tidak epistaksis
- Kontrol ke dr. Sp.PD

BAB II
PEMBAHASAN

DEFINISI
Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung, rongga hidung atau
nasofaring. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala dari suatu kelainan yang hampir
90 % dapat berhenti sendiri.(1,3)Perdarahan dari hidung dapat merupakan gejala yang
sangat mengganggu dan dapat mengancam nyawa.
Pada kasus, jelas terjadi epistaksis, dimana darah keluar dari hidung secara tiba-tiba dalam
jumlah yang cukup banyak sehingga sangat mengganggu pasien ditambah lagi dengan
perdarahannya tidak bisa berhenti sendiri.

ETIOLOGI
Perdarahan hidung diawali oleh pecahnya pembuluh darah di dalam selaput mukosa hidung.
Delapan puluh persen perdarahan berasal dari pembuluh darah Pleksus Kiesselbach (area Little).
Pleksus Kiesselbach terletak di septum nasi bagian anterior, di belakang persambungan
mukokutaneus tempat pembuluh darah yang kaya anastomosis.(4) Epistaksis dapat ditimbulkan
oleh sebab-sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik.(3-6)
1) Lokal
a. Trauma
b. Infeksi lokal
c. Neoplasma
d. Kelainan kongenital
e. Pengaruh lingkungan
6. Deviasi septum
2) Sistemik
a. Kelainan darah
b. Penyakit kardiovaskuler (Hipertensi, aterosklerosis, DM, sirosis hepatis)
c. Infeksi akut terutama DBD
3) Gangguan hormonal (peingkatan estrogen dan progresteron) terutama saat hamil
4) Alkoholisme

Pada kasus diperkirakan etiologi dari epistaksisnya adalah gangguan sistemik dalam hal ini
hipertensi. Pasien sudah lama memiliki riwayat hipertensi dan sudah beberapa kali dirawat
dengan epistaksis sebelumnya yang terjadi saat tekanan darah pasien dalam keadaan
tinggi. Pemeriksaan tanda vital saat di UGD ditemukan TD 260/140 mmHg, Nadi 98 x/m,
Pernapasan 28x/m.

PATOFISIOLOGI
Menentukan sumber perdarahan amat penting, meskipun kadang-kadang sukar
ditanggulangi. Pada umumnya terdapat dua sumber perdarahan, yaitu dari bagian anterior dan
posterior.(6)
1) Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach, merupakan sumber perdarahan paling
sering dijumpai anak-anak. Dapat juga berasal dari arteri ethmoid anterior. Perdarahan dapat
berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.(3,5,6)
Gambar. Epistaksis anterior(6)

2) Epistaksis posterior, berasal dari arteri sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior. Perdarahan
cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat menyebabkan anemia,
hipovolemi dan syok. Sering ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.(3,5,6)

Gambar. Epistaksis posterior(6)


Pada kasus, sumber perdarahan berasal dai bagian posterior. Walaupun perdaran dari hidung
dan tidak jatuh ke tenggorokan, namun dari usia dan penyebab serta waktu kejadian jelas
merupakan epistaksis posterior. Pada kasus pasien berumur 53 tahun dimana epistaksis posterior
lebih banyak terjadi, dan penyebabnya paling umum karena hipertensi (penyakit kardiovascular)
cocok dengan pasien yang sudah lama menderita hipertensi dengan pengobatan yang tidak teratur.
Gejalanya juga timbul secara tiba-tiba atau spontan, keluar darah dlaam jumlah yang cukup banyak
dan sulit berhenti sendiri walaupun sudah sudah dipencet hidungnya dalam jangka waktu lama.
Perdarahan berhenti setelah dipasang tampon hidung.

GAMBARAN KLINIS DAN PEMERIKSAAN


Pasien sering menyatakan bahwa perdarahan berasal dari bagian depan dan belakang hidung.
Perhatian ditujukan pada bagian hidung tempat awal terjadinya perdarahan atau pada bagian
hidung yang terbanyak mengeluarkan darah.(5)
Kebanyakan kasus epistaksis timbul sekunder trauma yang disebabkan oleh mengorek
hidung menahun atau mengorek krusta yang telah terbentuk akibat pengeringan mukosa hidung
berlebihan. Penting mendapatkan riwayat trauma terperinci. Riwayat pengobatan atau
penyalahgunaan alkohol terperinci harus dicari. Banyak pasien minum aspirin secara teratur
untuk banyak alasan. Aspirin merupakan penghambat fungsi trombosit dan dapat menyebabkan
pemanjangan atau perdarahan. Penting mengenal bahwa efek ini berlangsung beberapa waktu
dan bahwa aspirin ditemukan sebagai komponen dalam sangat banyak produk. Alkohol
merupakan senyawa lain yang banyak digunakan, yang mengubah fungsi pembekuan secara
bermakna.(6)
Pasien yang mengalami perdarahan berulang atau sekret berdarah dari hidung yang bersifat
kronik memerlukan fokus diagnostik yang berbeda dengan pasien dengan perdarahan hidung
aktif yang prioritas utamanya adalah menghentikan perdarahan. Pemeriksaan yang diperlukan
berupa: (5,6)
a) Rinoskopi anterior

Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior ke posterior. Vestibulum, mukosa
hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan konkha inferior harus diperiksa dengan cermat.

Gambar. Rhinoskopi Anterior(7)


b) Rinoskopi posterior
Pemeriksaan nasofaring dengan rinoskopi posterior penting pada pasien dengan epistaksis
berulang dan sekret hidung kronik untuk menyingkirkan neoplasma.(7)
c) Pengukuran tekanan darah
Tekanan darah perlu diukur untuk menyingkirkan diagnosis hipertensi, karena hipertensi dapat
menyebabkan epistaksis yang hebat dan sering berulang.(7)
d) Rontgen sinus dan CT-Scan atau MRI
Rontgen sinus dan CT-Scan atau MRI penting mengenali neoplasma atau infeksi.(4,5)
e) Endoskopi hidung

Untuk melihat atau menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya.(5)

Gambar. Tampilan endoskopi epistaksis posterior(5)

f) Skrining terhadap koagulopati


Tes-tes yang tepat termasuk waktu protrombin serum, waktu tromboplastin parsial, jumlah
platelet dan waktu perdarahan. (6)
g) Riwayat penyakit
Riwayat penyakit yang teliti dapat mengungkapkan setiap masalah kesehatan yang mendasari
epistaksis.(6)
Pada kasus, darah keluar dari kedua hidung dalam jumlah yang relative sama. Riwayat trauma
karena mengorek hidung (-), riwayat pengobatan dengan aspirin (-), riwayat penyalagunaan alcohol
(-). Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan bekuan darah pada hidung kanan dan pada
inspeksi tenggorokan tampak bercak darah pada dinding faring posterior. Rinoskopi posterior tidak
dilakukan karena pasien menolak pemeriksaan dan kurang kooperatif. Rontgen sinus, CT-Scan,
MRI, endoskopi hidung, screening terhadap koagulopati tidak dilakukan. Dari pengukuran tekanan
darah diketahui pasien mengalami hipertensi dengan TD 260/140 mmHg. Pasien memiliki riwayat
hipertensi sudah lama dan sudah beberapa kali mengalami epistaksis tiap kali hipertensi
PENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan epistaksis adalah untuk menghentikan perdarahan. Hal-hal yang
penting dicari tahu adalah: (1,5-10)
1. Riwayat perdarahan sebelumnya.
2. Lokasi perdarahan.
3. Apakah darah terutama mengalir ke tenggorokan (ke posterior) atau keluar dari hidung depan
(anterior) bila pasien duduk tegak.
4. Lamanya perdarahan dan frekuensinya
5. Riwayat gangguan perdarahan dalam keluarga
6. Hipertensi
7. Diabetes melitus
8. Penyakit hati
9. Gangguan koagulasi
10. Trauma hidung yang belum lama
11. Obat-obatan, misalnya aspirin, fenil butazon

Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu: menghentikan perdarahan,


mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis. Kalau ada syok, perbaiki dulu
kedaan umum pasien.(6) Tindakan yang dapat dilakukan antara lain: (3,6-9)
a) Perbaiki keadaan umum penderita, penderita diperiksa dalam posisi duduk kecuali bila penderita
sangat lemah atau keadaaan syok.
b) Pada anak yang sering mengalami epistaksis ringan, perdarahan dapat dihentikan dengan cara
duduk dengan kepala ditegakkan, kemudian cuping hidung ditekan ke arah septum selama
beberapa menit (metode Trotter).(7)

Gambar. Metode Trotter(7)


c) Tentukan sumber perdarahan dengan memasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan
adrenalin dan pantokain/ lidokain, serta bantuan alat penghisap untuk membersihkan bekuan
darah. (3,4,6)
d) Pada epistaksis anterior, jika sumber perdarahan dapat dilihat dengan jelas, dilakukan kaustik
dengan larutan nitras argenti 20%-30%, asam trikloroasetat 10% atau dengan elektrokauter.
Sebelum kaustik diberikan analgesia topikal terlebih dahulu.(4,5,7)
e) Bila dengan kaustik perdarahan anterior masih terus berlangsung, diperlukan pemasangan tampon
anterior dengan kapas atau kain kasa yang diberi vaselin yang dicampur betadin atau zat antibiotika.
Dapat juga dipakai tampon rol yang dibuat dari kasa sehingga menyerupai pita dengan lebar kurang
½ cm, diletakkan berlapis-lapis mulai dari dasar sampai ke puncak rongga hidung. Tampon yang
dipasang harus menekan tempat asal perdarahan dan dapat dipertahankan selama 1-2 hari. (5,7,8)

Gambar. Tampon anterior(6)

f) Perdarahan posterior diatasi dengan pemasangan tampon posterior atau tampon Bellocq, dibuat
dari kasa dengan ukuran lebih kurang 3x2x2 cm dan mempunyai 3 buah benang, 2 buah pada satu
sisi dan sebuah lagi pada sisi yang lainnya. Tampon harus menutup koana (nares posterior). Setiap
pasien dengan tampon Bellocq harus dirawat.(6,7,9-11)
Gambar. Tampon Bellocque(7)
a) Sebagai pengganti tampon Bellocq dapat dipakai kateter Foley dengan balon. Balon diletakkan di
nasofaring dan dikembangkan dengan air. (7)

Gambar. Tampon posterior dengan Kateter Foley(7)

b) Di samping pemasangan tampon, dapat juga diberi obat-obat hemostatik. Akan tetapi ada yang
berpendapat obat-obat ini sedikit sekali manfaatnya.(7,11,12)
c) Ligasi arteri dilakukan pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan
pemasangan tampon posterior. Untuk itu pasien harus dirujuk ke rumah sakit.(7,12)

Pada kasus, keadaan umum pasien segera diperbaiki dengan rehidrasi cairan melalui infus
NaCl untuk menghindari pasien jatuh dalam keadaan syok akibat perdarahan yang
banyak. Pasien disuruh memencet cuping hidung (metode Trotter) untuk mencoba
menghentikan darah tapi tidak berhasil. Perdarahan berhenti ketika pasien dipasang tampon
anterior. Walaupun sumber perdarahan berasal dari posterior, namun tanpa terpasang tampon
posterior (tampon Bellocq) atau kateter foley, perdarahan hidung pada pasien dapat berhenti. Hal
ini mungkin karena hipertensi yang menjadi penyebab dasarnya, telah teratasi (pemberian
Nifedipin 10 mg) dan akibat efek obat hemostatic (asam traneksamat 500 mg) sehingga cukup
dengan pemasangan tampon anterior gejala teratasi. Pasien juga diberi terapi antibiotic
profilaksis (ceftriaxone 1 gr) sebagai profilaksis terjadinya infeksi yang mungkin dapat
disebabkan karena turunya kondisi pasien dan pemasangan tampon beberapa hari.

KOMPLIKASI
Dapat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha
penanggulangannya. Akibat pemasangan tampon anterior dapat timbul sinusitis (karena ostium
sinus tersumbat), air mata yang berdarah (bloody tears) karena darah mengalir secara retrograd
melalui duktus nasolakrimalis dan septikemia. Akibat pemasangan tampon posterior dapat
timbul otitis media, haemotympanum, serta laserasi palatum mole dan sudut bibit bila benang
yang dikeluarkan melalui mulut terlalu kencang ditarik.(1-3,6,10)
Sebagai akibat perdarahan hebat dapat terjadi syok dan anemia. Tekanan darah yang turun
mendadak dapat menimbulkan iskemia otak, insufisiensi koroner dan infark miokard dan
akhirnya kematian. Harus segera dilakukan pemberian infus atau transfusi darah.(11-13)

DIAGNOSIS BANDING
Termasuk perdarahan yang bukan berasal dari hidung tetapi darah mengalir keluar dari
hidung seperti hemoptisis, varises oesofagus yang berdarah, perdarahan di basis cranii yang
kemudian darah mengalir melalui sinus sphenoid ataupun tuba eustachius.(2,3,11)

PENCEGAHAN
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya epistaksis antara
lain: (3,6,11-14)
a. Gunakan semprotan hidung atau tetes larutan garam, yang keduanya dapat dibeli, pada kedua
lubang hidung dua sampai tiga kali sehari. Untuk membuat tetes larutan ini dapat mencampur 1
sendok the garam ke dalam secangkir gelas, didihkan selama 20 menit lalu biarkan sampai
hangat kuku.
b. Gunakan alat untuk melembabkan udara di rumah.
c. Gunakan gel hidung larut air di hidung, oleskan dengan cotton bud. Jangan masukkan cotton
bud melebihi 0,5 – 0,6 cm ke dalam hidung.
d. Hindari meniup melalui hidung terlalu keras.
e. Bersin melalui mulut.
f. Hindari memasukkan benda keras ke dalam hidung, termasuk jari.
g. Batasi penggunaan obat – obatan yang dapat meningkatkan perdarahan seperti aspirin atau
ibuprofen.
h. Konsultasi ke dokter bila alergi tidak lagi bisa ditangani dengan obat alergi biasa.
i. Berhentilah merokok. Merokok menyebabkan hidung menjadi kering dan menyebabkan iritasi.

Pada kasus, terutama pasien diberi peringatan untuk mengontrol tekanan darahnya karena
hipertensi yang sudah lama dialaminya dan ketidakteraturan minum obat antihipertensi. Pasien di
konsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam untuk menangani hal ini.

PROGNOSIS
Sembilan puluh persen kasus epistaksis anterior dapat berhenti sendiri. Pada pasien
hipertensi dengan/tanpa arteriosklerosis, biasanya perdarahan hebat, sering kambuh dan
prognosisnya buruk.(6)
Pada kasus, epistaksis terjadi karena hipertensi, akan sering timbul jika hipertensinya tak
terkontrol. Pasien memiliki riwayat 3 kali masuk rumah sakit sebelumnya dengan keluhan yang
sama akibat hipertensi. Jadi, prognosis pasien ini, baik atau buruknya tergantung control tekanan
darah.

KESIMPULAN
Epistaksis (perdarahan dari hidung) adalah suatu gejala dan bukan suatu penyakit, yang
disebabkan oleh adanya suatu kondisi kelainan atau keadaan tertentu. Epistaksis bisa bersifat
ringan sampai berat yang dapat berakibat fatal. Epistaksis disebabkan oleh banyak hal, namun
dibagi dalam dua kelompok besar yaitu sebab lokal dan sebab sistemik. Pada kasus,
penyebabnya adalah hipertensi (sebab sistemik). Epistaksis dibedakan menjadi dua berdasarkan
lokasinya yaitu epistaksis anterior dan epistaksis posterior. Pada kasus, termasuk dalam
epistaksis posterior. Dalam memeriksa pasien dengan epistaksis harus dengan alat yang tepat dan
dalam posisi yang memungkinkan pasien untuk tidak menelan darahnya sendiri.
Prinsip penanganan epistaksis adalah menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi dan
mencegah berulangnya epistaksis. Pada kasus, keadaan umum pasien segera diperbaiki dengan
rehidrasi cairan denganinfus NaCl, menghentikan perdarahan dengan tampon anterior serta obat
hemostatic (asam traneksamat), dan pencegahan infeksi dengan antibiotic (ceftiakson 1 gr).
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk memeriksa pasien dengan epistaksis antara lain dengan
rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan tekanan darah, foto rontgen sinus atau dengan CT-
Scan atau MRI, endoskopi, skrining koagulopati dan mencari tahu riwayat penyakit pasien. Pada
kasus dilakukan pemeriksaan rinoskopi anterior dan pemeriksaan tekanan darah. Tindakan-
tindakan yang dilakukan pada epistaksis adalah memencet hidung, pemasangan tampon anterior
dan posterior, kauterisasi dan ligasi (pengikatan pembuluh darah).
Epsitaksis dapat dicegah dengan antara lain tidak memasukkan benda keras ke dalam hidung
seperti jari, tidak meniup melalui hidung dengan keras, bersin melalui mulut, menghindari obat-
obatan yang dapat meningkatkan perdarahan, dan terutam berhenti merokok. Pada kasus
terutama control tekanan darah agar tidak terjadi hipertensi yang menjadi penyebab utama
perdarahnya.

Anda mungkin juga menyukai