Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Aparatur Sipil Negara (ASN) mempunyai peran yang amat penting
dalam rangka menciptakan masyarakat madani yang taat hukum, berperadaban
modern, demokratis, makmur, adil, dan bermoral tinggi yang
menyelenggarakan pelayanan secara adil dan merata, menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila dan Undang
Undang Dasar Tahun 1945. Disamping itu tujuan nasional seperti tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Untuk dapat melaksanakan tugas tersebut diperlukan Aparatur Sipil
Negara yang berkemampuan pelaksanakan tugas secara profesional dan
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan dan
pembangunan, serta bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Dengan pengelolaan ASN yang baik, akan dihasilkan Pegawai ASN
yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi
politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semua itu dilakukan
dalam rangka menjamin kelancaran penyelenggaraan kebijaksanaan
manajemen Aparatur Sipil Negara, sesuai dengan amanat UU No. 5 Tahun
2014 tentang ASN.
Untuk dapat menjalankan tugas pelayanan publik, tugas pemerintahan,
dan tugas pembangunan tertentu, Pegawai ASN harus memiliki profesi dan
Manajemen ASN yang berdasarkan pada Sistem Merit atau perbandingan
antara kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang dibutuhkan oleh jabatan
dengan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja yang dimiliki oleh calon dalam
rekrutmen, pengangkatan, penempatan, dan promosi pada jabatan yang
dilaksanakan secara terbuka dan kompetitif, sejalan dengan tata kelola
pemerintahan yang baik.
Dalam upaya menjaga netralitas ASN dari pengaruh partai politik dan
untuk menjamin keutuhan, kekompakan, dan persatuan ASN, serta dapat
memusatkan segala perhatian, pikiran, dan tenaga pada tugas yang dibebankan,
ASN dilarang menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik.Dalam rangka
menjamin efisiensi, efektivitas, dan akurasi pengambilan keputusan dalam
Manajemen ASN diperlukan Sistem Informasi ASN. Sistem Informasi ASN
merupakan rangkaian informasi dan data mengenai Pegawai ASN yang disusun
secara sistematis, menyeluruh, dan terintegrasi dengan berbasis teknologi yang
diselenggarakan secara nasional dan terintegrasi.
Untuk membentuk ASN yang mampu menyelenggarakan pelayanan
publik dan menjalankan peran sebagai perekat persatuan dan kesatuan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, pemerintah akhirnya mengganti Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-
Pokok Kepegawaian dengan Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara.
Jabatan ASN secara umum terbagi menjadi dua yakni jabatan
struktural dan jabatan fungsional. Salah satu jabatan fungsional yang dikenal
secara umum ada pada profesi guru dan dosen. Guru sebagai ujung tombak
pendidikan di Indonesia memegang peranan penting dalam meningkatkan
kualitas pendidikan, khususnya mulai dari pendidikan dasar sampai menengah.
Guru merupakan salah satu profesi dari tenaga kependidikan. Guru bertugas
untuk mengajar, dimana mengajar merupakan pelaksanaan proses
pembelajaran dan menjadi proses yang paling penting dalam penyelenggaraan
pendidikan. Pengabdian guru dalam dunia pendidikan yang sangat besar
tersebut sangat memberikan kontribusi yang tinggi dalam rangka mencapai
tujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai yang tertera pada
pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat dan UU No 14 Tahun

2
2005 tentang guru dan dosen. Namun dalam menjalankan tugas dan
kewajibannya, seorang guru tetap berpedoman pada sistem pendidikan
nasional.
Sebagai faktor penting penyokong kesejahteraan suatu negara,
pendidikan sudah seharusnya melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas
dan kompeten dalam bidangnya. Sehingga kondisi bangsa akan terus
mengalami perbaikan dengan adanya para penerus generasi bangsa yang
mumpuni dalam berbagai ilmu. Pendidikan adalah suatu hak dan kewajiban
yang harus dilaksanakan setiap manusia. Dari pendidikan seseorang akan
belajar menjadi seorang yang berkarakter dan mempunyai ilmu pendidikan dan
sosial yang tinggi.
Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini
dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks
Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari
peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala.
Faktanya, indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara
174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997),
ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC),
kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di
Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The
World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang
rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di
dunia.
Kemajuan teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan
kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di
tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas
membandingkan kehidupan dengan negara lain. Oleh karena itu, kita
seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak
kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

3
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah
masalah efektivitas, efisiensi dan standarisasi pengajaran. Hal tersebut masih
menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Selain kurang
kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang
sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram.
Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa
memperhatikan kebutuhan masyarakat. Pendidikan tidak mampu menghasilkan
lulusan yang kreatif. Kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan
kondisi di masyarakat bawah atau di daerah sampai daerah terpencil.
Sehingga para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak bisa
menciptakan lapangan kerja sendiri. Padahal lapangan pekerjaan terbatas.
Masalah mendasar pendidikan di Indonesia adalah ketidakseimbangan antara
belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif).
Belajar bukan hanya berpikir tapi melakukan berbagai macam kegiatan seperti
mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan
sebagainya.
Setidaknya ada beberapa permasalahan yang bisa teridentifikasi dalam
dunia pendidikan kita, yaitu: rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya
kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa,
rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan, rendahnya relevansi
pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.
Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari pendidikan di
Indonesia adalah sistem pendidikan di Indonesia itu sendiri yang menjadikan
siswa sebagai objek, sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah
manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya
bersikap kritis terhadap zamannya.
Sebagai seorang pendidik, salah satu cara meningkatkan kualitas
pendidikan adalah dengan cara mengoptimalkan penerapan model
pembelajaran. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola
yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas
atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat

4
pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum dan
sebagainya, sehingga pada akhirnya setiap model pembelajaran mengarah
kepada desain pembelajaran untuk membantu peserta didik sedemikian rupa
sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Salah satu model pembelajaran yang
cukup sering dipakai di pembelajaran adalah model GI atau Grup Investigasi.
Pembelajaran kooperatif model GI adalah salah satu tipe atau model
pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh
siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor
sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan diskusi yang dirancang dalam pembelajaran
kooperatif model GI memungkinkan siswa dapat belajar berinteraksi dan
menyampaikan pendapat, kerjasama dan keterlibatan belajar.
Model pembelajaran Grup Investigasi (GI) adalah salah satu tipe atau
model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas
seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, berbagi tugas dalam mencari
tugas yang diberikan.
Dalam model GI kelas terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang
beranggotakan 3 sampai dengan 5 siswa yang berbeda-beda tingkat
kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya, kemudian siswa akan
bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecilnya menemukan penyelesaian
tugas yang telah diberikan pendidik.
Selain dari masalah pembelajaran, kurangnya minat dan keterampilan
peserta didik mengenai wirausaha juga menjadi salahsatu masalah yang
dihadapi dalam dunia Pendidikan terkhususnya sekolah kejuruan yang
mempunyai motto siap kerja dan menciptakan lapangan pekerjaan.
Dengan alasan tersebut di atas maka penulis memutuskan untuk
menyusun Laporan Aktualisasi ini dengan judul “Laporan Aktualisasi
Pembelajaran Kooperatif dengan tujuan Meningkatkan Minat dan Jiwa
Wirausaha Peserta Didik Di SMKN 1 Kota Bangun”.

B. IDENTIFIKASI ISU

5
Pada Rancangan Aktualisasi sebelumnya, terdapat beberapa isu yang
diidentifikasi yaitu:
1. Perlunya tata kelola kebun praktek yang terintegrasi dengan jadwal mata
pelajaran yang berkaitan dengan kebun praktek.
Sesuainya jadwal mata pelajaran dengan kebun praktek dapat
membuat proses pembelajaran lebih efektif dan efisien, karena adanya
keterkaitan antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya.
2. Perlunya meningkatkan wawasan peserta didik mengenai ilmu perkebunan
yang kreatif dan inovativ agar pola pikir dapat lebih terbuka dan
pembelajaran lebih terarah.
Dengan penerapan model pembelajaran grup investigasi
diharapkan peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran,
pengetahuan lebih kaya dengan proses investigasi kelompok.
3. Tenaga pendidik belum memiliki buku kerja yang lengkap.
Dari hasil wawancara kecil-kecilan dengan beberapa pendidik di unit
kerja terkait, didapat bahwa banyak di antaranya yang belum memiliki
buku kerja dan perangkat pembelajaran secara lengkap. Padahal ini adalah
modal yang penting untuk melaksanakan proses KBM di dalam kelas.
Penyebabnya pun bermacam-macam, ada yang karena kekurang
pahamannya tentang itu, ada pula yang tidak sempat.
4. Perlunya melatih peserta didik cara mengeluarkan pendapat dimuka umum
dan saling tukar pendapat dengan teman
Beberapa waktu lalu warga kecamatan Bahau Hulu dengan dibantu dengan
organisasi perangkat sekolah berhasil membangun gedung darurat untuk
menampung siswa baru yang akan duduk di kelas X. Ini dilakukan karena
gedung yang lama hanya mampu menampung 4 kelas saja. Padahal
keseluruhan sekolah butuh setidaknya 6 kelas. Dan sekarang masalahnya
adalah tidak ada instalasi listrik di gedung tersebut sehingga beberapa guru
yang akan menggunakan proyektor merasa kesuitan.
5. Perlunya ilmu praktek berwirausaha peserta didik ilmu kejuruan dengan
kompetensi keahlian Agribsnis Tanaman Perkebunan

6
C. PERUMUSAN DAN PENETAPAN ISU

Dari beberapa isu yang sudah disebutkan di atas, kemudian dilakukan analisa
untuk menentukan Isu yang perlu diangkat dan ditemukan pemecahan
masalahnya. Isu-isu tersebut diolah dengan alat analisa USGR sebagai berikut:

Tabel 1.1 Analisis USG

TOTAL
NO ISU U S G
SKOR
Perlunya ilmu berwirausaha peserta didik
1. ilmu kejuruan dengan kompetensi keahlian 4 5 4 13
Agribsnis Tanaman Perkebunan
Perlunya meningkatkan wawasan peserta
2. didik mengenai ilmu perkebunan yang 3 4 4 11
kreatif dan inovatif
Perlunya tata kelola kebun praktek yang
3. terintegrasi dengan jadwal mata pelajaran 3 3 4 10
yang berkaitan dengan kebun praktek.
Perlunya melatih peserta didik cara
4. mengeluarkan pendapat dimuka umum dan 4 3 2 9
saling tukar pendapat dengan teman
5. 4 3 3 10

Keterangan : skala skor 1 – 5


skor 1 : Tidak
skor 2 : kurang
skor 3 : cukup
skor 4 : penting
skor 5 : sangat penting

7
Berdasarkan hasil analisis isu di atas, isu yang diangkat adalah isu
dengan skor paling tinggi yaitu perlunya meningkatkan kemampuan
berhitung dasar siswa agar berminat pada matematika dan siap mengikuti
pembelajaran di SMA.
Output dari kegiatan ini adalah berupa RPP, desain model pembelaja-
ran, dan angket pasca pembelajaran.

D. RENCANA KEGIATAN, TAHAPAN KEGIATAN DAN OUTPUT YANG


DIHARAPKAN

Dari rencana aktualisasi di atas, maka selanjutnya disusun kegiatan,


tahapan kegiatan dan output dari masing-masing kegiatan sebagai berikut:

Tabel 1.2. Tabel Rencana, Tahapan dan Output Kegiatan

No. Kegiatan Tahapan/Kegiatan Output/Hasil

1. Praktek pembelajaran 1. Pengarahan dan 1. Pembagian kelompok


kewirausahaan pemberian materi dasar 2. Membuat rancangan
kepada peserta didik usaha
3. Mempersiapkan
presentasi
1. Masukan dan saran
2. Presentasi rencana usaha dari audiens
2. Pembuatan produk
1. Dokumentasi
3. Pemasaran produk usaha pemasaran
2. Pelaporan hasil usaha

1. Hasil usaha
4. Presentasi hasil usaha
2. Dokumentasi

8
2. Tata kelola kebun 1. Diskusi dengan guru 1. Jadwal mata pelajaran
praktek yang mata pelajaran internal yang bertahap
terintegrasi dengan jurusan agribisnis 2. Optimalisasi jadwal
jadwal mata pelajaran tanaman perkebunan mata pelajaran yang
yang berkaitan dengan 2. Penetapan jadwal mata efektif dan efisien
kebun praktek. pelajaran sesuai dengan
tahapan kebun praktek
3. Melaksanakan proses 1. Mempersiapkan media Media pembelajaran
pembelajaran kooperatif pembelajaran Kegiatan pembelajaran
tipe Grup Investigasi 2. Membentuk kelompok Resume hasil kegiatan
dan pembagian topik
3. Perencanaan kelompok
4. Diskusi (Investigasi
masalah)
5. Mempersiapkan laporan
hasil investigasi
6. Mempresentasikan hasil
investigasi
perkelompok.
1. Persiapan media tanam
Pembuatan kebun 2. Pemilihan tanaman
4.
pekarangan kelas 3. Perawatan tanaman
perkelas

9
BAB II
GAMBARAN KEADAAN SEKARANG

A. GAMBARAN UMUM

1. Deskripsi Unit Kerja SMKN 1 Kota Bangun


SMKN 1 Kota Bangun adalah sebuah sekolah menengah yang
terletak di Desa Kota Bangun 1, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten
Kutai Kartanegara. Sekolah ini didirikan oleh Pemda pada 2008. Di awal
peresmiannya, sekolah ini belum punya gedung sama sekali, sehingga
harus menumpang di SMP 1 Bahau Hulu dengan memanfaatkan ruang
Aula yang sudah tidak terpakai. Setahun setelahnya, pemerintah daerah
mengucurkan dana untuk pembangunan gedung permanen dengan total 3
ruangan dan 1 toilet. Dari ketiga ruangan itu, dua dipakai untuk ruang
kelas dan satunya lagi untuk ruang guru.
Sebelum pertengahan Juli 2013, Kecamatan Bahau Hulu belum
memiliki satupun sekolah lanjutan atas termasuk SMA 10 Malinau,
sehingga para siswa dari sekolah lanjutan pertama mengalami kesulitan
melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.
Bagi yang memiliki kemampuan lebih, kesulitan ini masih bisa
diatasi walaupun harus pindah ke daerah lain seperti Malinau Kota,
Pujungan, atau Tanjung Selor, namun bagi yang mempunyai kemampuan
terbatas, maka para siswa harus puas mengecap pendidikan sampai tingkat
SLTP saja.
Setelah melalui perjuangan panjang melewati berbagai rintangan dan
tantangan, maka pada tanggal 10 Juli 2013, resmilah berdiri sebuah SMA
dengan masih menumpang di gedung SMPN 1 Bahau yang kelak di
kemudian hari dikenal dengan nama SMAN 10 Malinau.
Pada mulanya berdirinya, SMA ini hanya memiliki 8 orang siswa. Di
tahun pertama pendiriannya, tenaga pengajar diambil dari berbagai
elemen. Ada yang sarjana nya ekonomi mengajar sejarah. Ada yang

10
profesinya dokter mengajar mapel IPA. Ada juga Pak Camat yang diminta
mengajar IPS.
Setelah 1 tahun berjalan, SMAN 10 Malinau mendapat tambahan
guru PNS dari Kabupaten Malinau yakni guru fisika, matematika, dan
sosiologi. Tahun berikutnya 2015 mendapat tambahan guru lagi yakni
ekonomi, geografi, bahasa Inggris dan Biologi. Di tahun 2016 mendapat
tambahan GGD jurusan biologi. Pada tahun 2016 guru geografi dan
bahasa inggris mutasi. Tahun 2017 mendapat tambahan 4 guru yakni
Matematika, Bahasa Inggris, Komputer, dan Kimia. Sehingga total
pengajar yang ber status PNS di SMAN 10 saat ini adalah 11 orang. Selain
itu tenaga pengajar juga ditambah dari tenaga PTT sebanyak 8 orang
sehingga total guru semuanya beserta kepsek ada 20 orang.
Dalam usianya yang relatif muda, SMA 10 Malinau ini mampu
meluluskan jumlah siswa yang merata jumlahnya dan tidak pernah kosong
peminat setiap tahunnya.

Gambar 1.3 Logo SMKN 1 KOTA BANGUN

Penjelasan logo SMKN 1


- Warna dasar biru menggambarkan lokasi SMAN 10 yang berada di
Kabupaten Malinau dan Prov Kaltara

11
- Tanda bintang menggambarkan warga lingkungan SMAN 10 yang
religius dan engedepankan keimanan dan ketakwaaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap tindakan dan perilaku
- Warna kuning menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan
- Warna hijau menggambarkan suasana alam yang masih asri
- Gambar pegunungan menggambarkan lokasi SMAN 10 yang
dikelilingi oleh pegunungan tinggi
- Gambar obor menggambrkan semangat cuvutas akademika dalam
kegiatan pembelajaran
- Gambar sungai dibawah gunung menggabarkan sumber kehidupan
atau sumber air terdekat yang ada di sekitar sekolah.
- Gambar buku menggambarkan guru dan siswa agar senantiasa
tekun belajar dan membaca
- Gambar perisai merepresentasikan suku setempat yang didominasi
warga keturunan Suku Dayak, sekaligus penanda kebersatuan
elemen sekolah dalam menghadapi halangan dan rintangan baik
dari dalam maupun luar.
- Gambar bulu burung enggang menggambarkan cita-cita dan
harapan yang tinggi
- Tulisan “Salet Pekalai Jelema Ka Guru Ngan Toa Kam” di bawah
diartikan sebagai kedudukan guru yang sama dengan orang tua
agar siswa senantiasa hormat dan berlaku sopan.
Visi dan misi sekolah
VISI
Menciptakan generasi yang cerdas, beriman, unggul dalam mutu dan
berbudaya ramah lingkungan
MISI
1. Mengupayakan pembinaan disiplin bagi semua warga sekolah
2. Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana sekolah untuk
mendukung kegiatan proses belajar mengajar

12
3. Meningkatkan pembinaan pengamalan nilai-nilai keimanan dan
ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
4. Mengembangkan sarana dan prasarana yang mendukung dalam
rangka terselenggaranya kegiatan pembelajaran yang berhasil guna
dan berdaya guna
5. Menumbuh kembangkan kesadaran warga sekolah akan pentingnya
kelestarian alam
6. Menciptakan warga belajar yang kreatif, inovatif, dan berbudi
pekerti
7. Menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, aman, dan
nyaman
8. Melaksanakan pembinaan terhadap nilai-nilai Budaya Ramah
Lingkungan.

Gambar 2.4 Stuktur Organisasi Sman 10 Malinau

Lenggan Inggi, S.Pd

Kepala Sekolah Komite Sekolah

Irene Rehulina G, S.Pd Nurwito, S.Pd

Keuangan Tata Ushaa

Waka Kurikulum Waka Sarpras Waka Kesiswaan Waka Humas

Nansy Luden P, S.Pd Lilik Budi S, S.Pd Arman Saputra, S.Pd Ramadhan Rema, S.Pd

Wali Kelas X IPA Wali Kelas X IPS Wali Kelas XI IPA Wali Kelas XI IPS Wali Kelas XII IPA Wali Kelas XII IPS

Tabel 2.2 Jumlah Pegawai Di Sman 10 Malinau

No Nama Status Pendidikan

1 Lenggan Inggi, S.Pd PNS / Kepala Sekolah Ekonomi

13
2 Nansy Luden Pagiling, S.Pd PNS Matematika

3 Arman Saputra, S.Pd PNS Fisika

4 Ramadhan Rema, S.Pd PNS Sosiologi

5 Irene Rehulina Ginting, S.Pd PNS Ekonomi

6 Senita Lusiana Mangnga, S.Pd PNS Biologi

7 Sri Minarti, S.Pd PNS Biologi

8 Lilik Budi Suryani, S.Pd CPNS Kimia

9 Nurwito, S.Pd CPNS Komputer

10 Ariefuddin Thalib, S.Pd CPNS Bahasa Inggris

11 Rosadi, S.Pd CPNS Matematika

12 Baya, S.E GTT Sejarah

13 Bambang Apui, S.Pd GTT Bahasa Indonesia

14 Tanyang Apui, S.Pd.K GTT Agama Kristen

15 Wina Suarti, S.Pd GTT PPKn

16 Frensida Ului, S.Pd GTT Seni Budaya

17 Daud Lawing, S.Pd GTT Penjas

18 Novelyanto Lie GTT Bahasa Inggris

19 Marjoni Laing PTT SMA

20 Sumiati PTT SMA

B. GAMBARAN KHUSUS

1. Program dan Kegiatan Saat Ini

Beberapa program yang sudah berjalan selama ini


diantaranya :

a) Program RT bersih (program pemda Malinau)

14
Program ini sudah berjalan selama setahun terakhir dengan
bersinergi pada masyarakat sekitar agar senantiasa melakukan
pembersihan di sekitar lingkungan sekolah dan tempat tinggal
sepekan sekali.
b) Program kerja Bakti bulanan (program Desa)
Program ini dilakukan setiap senin pagi atau jumat siang setiap
bulannya. Daerah yang dijadikan sasaran pelaksanaan kerja
bakti biasanya seperti drainase, lapangan bola, gedung BPU, dan
sekolah-sekolah. Kegiatannya pun bermacam-macam, seperti
membersihkan selokan, menata taman bunga di tepi jalan,
memangkas rumput di lapangan bola, sampai dengan
memperbaiki / merenovasi gedung BPU dan lain-lain.
c) PPDB offline
Program ini dilaksanakan setiap awal tahun ajaran baru. Pada
pelaksanaannya, PPDB masih dilaksanakan secara offline
(manual) yakni dengan mendaftarkan siswanya ke rumah panitia
dengan membawa berkas-berkas yang diperlukan. Hal ini
dilakukan karena sarana internet belum memadai dan lokasi
sekolah yang jauh dari pemukiman.
d) Pembangunan gedung darurat swadaya masyarakat
Bulan Mei lalu dilaksanakan pembangunan gedung darurat
secara swadaya dengan dibantu oleh masyarakat sekitar.
Pembangunan ini ditujukan untuk memfasilitasi siswa baru yang
akan duduk di kelas X. Perubahan kurikulum yang
mensyaratkan siswa kelas X harus dua jurusan membuat sekolah
harus menambah 1 ruang kelas.

2. Role Model

Pelaksanaan dari kegiatan selama proses habituasi tentu tidak lepas dari
peran pihak-pihak yang menjadi panutan bagi penulis. Pihak-pihak tersebut ialah:

a) Lenggan Inggi, S.Pd

15
Sebagai mentor penulis di unit kerja, Beliau
sangat banyak memberikan motivasi dan
masukan kepada penulis, baik urusan personal
maupun berkaitan dengan pekerjaan. Berbgai
saran yang beliau berikan untuk pelaksanaan
program habituasi, semuanya bersifat
membangun dan memacu penulis untuk menjadi
pribadi yang lebih baik.

Beberapa hal yang bisa dijadikan teladan dari


beliau adalah :

- Selalu datang pagi dan mengucapkan salam kepada rekan guru


- Bertanggung jawab penuh atas segala tindakan dan kebijakan
sekolah
- Menegur dengan nada bicara yang mendidik dan santun
- Berjiwa sosial tinggi, baik ke dalam maupun ke luar
- Selalu punya ide-ide baru untuk memajukan sekolah
b)Nansy Luden Pagiling, S.Pd

Sebagai rekan kerja penulis


di unit kerja, beliau ini adalah
juga sesama guru matematika.
Beliau guru yang tekun dan
disukai oleh siswa. Beliau punya
banyak ide dalam pembelajaran,
yang bisa dijadikan referensi
ketika akan membuat model.
Banyak hal yang patut dijadikan
teladan dari beliau, secara garis
besar bisa dikatakan beliau

16
adalah guru senior yang menjadi saksi hidup pembangunan dan
perkembangan SMAN 10 Malinau. Sehingga banyak pengalaman yang
bisa dijadikan pelajaran dari beliau.

c) Arman Saputra, S.Pd


Sebagai guru fisika, beliau termasuk dalam deretan guru yang tegas dan
disegani oleh siswa. Akan tetapi ketegasan beliau tidak pernah berujung
pada kegiatan fisik, hanya saja beliau bertekad untuk mengajari anak-anak
untuk memiliki mental baja dalam menghadapi tantangan dan rintangan
serta selalu oprtimis menghadapi masa depan. Hal inilah yang penulis
jadikan panutan dari beliau, meskipun di saat sekarang ini hampir tidak
ada jarak pembatas antara siswa dan guru tetapi beliau bisa menjadi teman
sekaligus guru yang baik di sekolah.

17
BAB III

REALISASI AKTUALISASI

A. REALISASI KEGIATAN DAN OUTPUT


Berikut merupakan realisasi kegiatan dan output yang sudah dilakukan
dalam mencapai setiap tahapan kegiatan.
1. Mencari sumber bacaan yang berkaitan dengan metode berhitung
yang cepat, akurat, dan menyenangkan
Gambar 3.1 Screenshot hasil browsing mengenai bahan bacaan metode berhitung

Gambar 3.2 Screenshoot video contoh pembelajaran TGT

18
Mencari bahan bacaan dan tontonan dari internet mengenai games-
games matematika beserta metode berhitung yang menyenangkan.

Tahap berikutnya ialah berkonsultasi dengan atasan mengenai


penerapan metode yang didapat tersebut kepada atasan selaku mentor,
kemudian mendiskusikannya bersanm-sama dengan sesama guru
matematika mengenai penerapannya pada program pembelajaran.

19
2. Mendesain model permainan matematika
Setelah didapat inspirasi dan pengetahuan dari sumber bacaan,
dipilih beberapa bentuk games yang akan di desain dan disesuaikan
dengan pembelajaran. diantaranya :
- Ular tangga matematika
- TTS matematika
- Domino aljabar
- Puzzle geometri
Gambar 3.3 Desain TTS matematika

Gambar 3.4 Desain Ular Tangga Matematika

20
Gambar 3.5 Desain Puzzle Geometri

3. Mencetak desain games alat peraga


Setelah desain selesai, langkah berikutnya adalah yaitu mencetak alat
peraga pembelajaran. Bahan yang diperlukan secara umum adalah :
- Kertas karton
- Kertas cover
- Lem kertas
- Printer untuk mencetak
- Kertas sticky notes
- Spidol
Gambar 3.6 Print Out Puzzle Aljabar

21
Gambar 3.7 Print Out TTS Matematika

Gambar 3.8 Print Out Ular Tangga Matematika

-
-

4. Melaksanakan proses pembelajaran (termasuk persiapan,


pelaksanaan, dan kesimpulan)
Setelah semua proses pencetakan selesai maka langkah berikutnya
adalah mengintegrasikan games tersebut ke dalam pembelajaran.
langkah awal adalah menyusun RPP yang memuat alat peraga
tersebut lengkap dengan langkah-langkah pembelajarannya.
Selanjutnya melakukan kegiatan pembelajaran di dalam kelas

22
Gambar 3.9 pelaksanaan kegiatan pembelajaran

23
Terakhir adalah menimpukan bersama siswa mengenai materi yang
dipelajari dan manfaat alat peraga dalam proses pembelajaran.

5. Mengevaluasi hasil dari pelaksanaan kegiatan


Setelah pembelajaran selesai, dibuat resume mengenai kekurangan
dan keberhasilan program.
Selanjutnya diberikan angket kepada siswa mengenai ekspektasi dan
minat terhadap matematika setelah menggunakan games sebagai alat
peraga.

24
6. Menyusun laporan hasil pelaksanaan kegiatan
Laporan sementara yang sudah di susun dikonsultasikan kepada kepala
sekolah mengenai kekurangan dan hambatan yang ditemui selama
pelaksanaan program.

25
B. FAKTOR PENDUKUNG REALISASI AKTUALISASI
Berikut merupakan faktor-faktor pendukung realisasi aktualisasi
selama proses habituasi ialah:
1. Ketersediaan bahan dan alat untuk mendesain games
Lokasi kerja yang sangat jauh dari perkotaan merupakan masalah
utama pelaksanaan program ini. Ketika membawa alat-alat dan
perlengkapan games melalui jalur transportasi air ada semacam

26
kewaspadaan kalau terkena hujan atau cipratan air karena material
yang dipakai sebagian besar terbuat dari kertas. Tetapi bersykur
karena semua terbawa dengan aman sampai di lokasi kerja sehingga
semua bisa di desain dan dicetak dengan lengkap.
2. Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran
Pembelajaran yang nampak tidak biasa membuat siswa menggali
rasa ingin tahunya terhadap materi pembelajaran. sehingga guru dan
siswa sama-sama semangat dalam mengaplikasikan games dalam
kelas.
3. Dukungan guru-guru
Banyak guru yang mendapat keluhan dari siswa mengenai materi
matematika di bangku SMA yang begitu rumit. Dengan adanya games
ini diharapkan persepsi siswa terhadap matematika bisa berubah,
sehingga guru-guru sangat mendukung program ini terutama di kelas-
kelas dimana mereka berlaku sebagai Wali Kelas.

C. FAKTOR PENGHAMBAT REALISASI AKTUALISASI


Berikut merupakan factor-faktor penghambat realisasi aktualisasi
selama proses habituasi ialah:
1. Jalur transportasi yang sulit menuju lokasi kerja
Sulitnya jalur transportasi yang harus ditempuh ke lokasi kerja
merupakan hambatan tersendiri yang harus dihadapi penulis. Tidak
adanya jaminan akan keselamatan barang bawaan sampai di lokasi
kerja membuat penulis waspada. Seperti yang diketahui untuk
menempuh lokasi kerja harus menempuh perjalanan selama 3 hari
untuk sampai dengan menaiki sebuah perahu besar tanpa atap
sehingga ancaman hujan dan cipratan air sungai menjadi kewaspadaan
tersendiri.
2. Masih adanya beberapa siswa yang pasif dalam pembelajaran
Beberapa siswa nampak pasif dan tidak begitu peduli dengan
pembelajaran sehingga terkadang merepotkan timnya. Contoh ketika

27
ada tugas yang harus diselesaikan per kelompok, ada salah satu
anggota yang enggan untuk mengemban tugas tersebut dan ketika
dipaksa ia melakukannya dengan nampak setengah hati sehingga
menghambat kelancaran proses pembelajaran. selain itu kemampuan
berhitung yang masih kurang terkadang membuat proses penyelesaian
soal matematika menjadi lebih lama. Bahkan pernah penulis
menghabiskan waktu 4 jam pelajaran untuk 1 buah games.
3. Waktu yang dirasa kurang mencukupi
Proses pelaksanaan pembelajaran setidaknya mencakup 3 hal
utama yakni perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Waktu yang
agak kurang membuat proses penilaian jadi kurang optimal karena
tidak semua kelas yang diajar bisa dinilai pasca pembelajaran.
Sehingga, analisis dan evaluasi untuk menilai sejauh mana daya serap
siswa setelah pembelajaran tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya.

28
BAB IV

ANALISA

A. Realisasi Kegiatan dan Keterkaitan dengan Substansi Mata Pelatihan

Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) diselenggarakan


bertujuan untuk membentuk PNS professional yang berkarakter, dengan
mengubah pola perilaku dan mindset peserta diklat agar mampu menjadi pelayan
publik yang professional ketika mereka kembali ke OPD masing-masing.
Pelatihan Dasar CPNS diatur dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil
Negara, Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN) No. 21 Tahun
2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon PNS Golongan
III, dan mengalami perubahan terakhir dengan Peraturan Kepala LAN Nomor 25
Tahun 2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Dasar Calon Pegawai
Negeri Sipil Golongan III.

Selama masa pelatihan dasar pada saat on campus, penulis mendapatkan


materi nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh seorang PNS yaitu ANEKA
(Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi)
dan juga materi mengenai Kedudukan dan Peran PNS (Manajemen ASN, Whole
of Government, dan Pelayanan Publik). Adapun deskripsi singkat dari ANEKA
dan Kedudukan dan Peran PNS adalah :

1. Akuntabilitas
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau
institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.
Amanah seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik.
Nilai-nilai publik tersebut adalah mampu mengambil pilihan yang tepat dan
benar ketika terjadi konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan
kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi; memiliki pemahaman dan
kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik

29
praktis; memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik; menunjukan sikap
dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai penyelenggara
pemerintahan.
2. Nasionalisme
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai PNS. Bahkan
tidak sekedar wawasan saja tetapi kemampuan mengaktualisasikan
nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya merupakan hal yang
lebih penting. Adapun fungsi PNS adalah sebagai Pelayan Publik, Pelaksana
Kebijakan Publik, dan sebagai Perekat Pemersatu Bangsa. Diharapkan
dengan nasionalisme yang kuat, maka setiap pegawai PNS memiliki
orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara.
Pegawai PNS akan berpikir tidak lagi sektoral dangan mental blocknya,
tetapi akan senantiasa mementingkan kepentingan yang lebih besar yakni
bangsa dan negara.
3. Etika Publik
Etika Publik memfasilitasi pembentukan nilai-nilai dasar etika publik pada
peserta diklat melalui pembelajaran kode etik dan perilaku pejabat publik,
bentuk-bentuk kode etik dan implikasinya, aktualisasi kode etik PNS. Kode
Etik berbeda dengan Etika. Etika lebih dipahami sebagai refleksi atas baik/
buruk, benar/salah yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan yang
baik atau benar, sedangkan moral mengacu pada kewajiban untuk
melakukan yang baik atau apa yang seharusnya dilakukan sedangkan Kode
Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip
dalam bentuk ketentuan-ketentuan tertulis. Adapun Kode Etik Profesi
dimaksudkan untuk mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok khusus
dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan
dapat dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu.

30
4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu pada esensinya memiliki keterkaitan yang mendalam
dengan kinerja pegawai negeri sipil. Bidang apa pun yang menjadi tanggung
jawab Pegawai Negeri Sipil mesti dilaksanakan secara optimal agar dapat
memberi kepuasan kepada stakeholders. Aspek utama yang menjadi target
stakeholders adalah layanan yang komitmen pada mutu, melalui
penyelenggaraan tugas secara efektif, efisien, dan inovatif.
5. Anti Korupsi
Anti Korupsi adalah mata diklat yang bertujuan untuk menciptakan PNS
yang bebas dari sifat koruptif. Adapun Korupsi adalah perbuatan yang tidak
baik, tercela, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari
kesucian, melanggar norma-norma agama, material, mental dan umum.
Menurut UU No. 31/1999 jo UU No. 20/2001, terdapat 7 kelompok tindak
pidana korupsi yang terdiri dari : (1) Kerugian keuangan negara, (2) Suap-
menyuap, (3) Pemerasan, (4) Perbuatan Curang, (5) Penggelapan dalam
Jabatan, (6) Benturan Kepentingan dalam Pengadaan, (7) Gratifikasi.
Melalui mata diklat ini, peserta diharapkan mampu membentuk sikap dan
perilaku yang amanah, jujur, dan mampu mencegah terjadinya korupsi di
lingkungannya.

Kegiatan yang telah direalisasikan pada masa habituasi di tempat kerja


dikaitkan dengan mata pembelajaran Nilai – Nilai Dasar ASN yang didalamnya
terdapat Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti
Korupsi yang telah didapatkan pada masa on campus. Dalam kegiatan aktualisasi
ini, penulis mengaitkan realisasi kegiatan dengan mata pembelajaran tersebut.
Keterkaitan dengan substansi mata pelatihan dapat dilihat pada tabel 4.1.

31
Tabel 4.1 Realisasi Kegiatan dan Keterkaitan dengan Substansi Mata
Pelatihan

Analisis Dampak Jika


Keterkaitan dengan
No. Realisasi Kegiatan Nilai-Nilai Dasar tidak
Substansi Mata Pelatihan
Dilaksanakan
1 Mencari sumber Akuntabilitas Jika nilai dasar tidak
bacaan yang Tidak menunda waktu dan dilaksanakan maka proses
berkaitan dengan hasil referensi dapat pencarian data akan
metode berhitung dipertanggungjawabkan berlangsung berlarut-larut
yang cepat, akurat, Komitmen Mutu dan bisa saja bersifat fiktif.
dan menyenangkan Mencari games matematika Selain itu juga dikuatirkan
yang bermutu dan inspiratif sumber bacaan tidak
Nasionalisme berkualitas dan tidak
Mengembangkan rasa cinta representatif terhadap
tanah air melalui media tujuan pelaksanaan
pembelajaran program.
2 Mendesain jenis- Nasionalisme Jika nilai dasar tidak
jenis perma-inan Penerapan nilai nilai sila diterapkan maka tidak
matematika yang keempat yakni akan adanya musyawarah
dibutuh-kan, seperti : mengedepankan dengan sesama guru
- Ular tangga musyawarah dalam sebelum mendesain games
matematika pelaksanaan kegiatan tersebut, karena
- TTS Komitmen mutu bagaimanapun juga semua
matematika Berusaha membuat sekreatif tidak lepas dari masukan
- Domino aljabar mungkin games matematika dan saran dari rekan kerja.
- Puzzle geometri Anti korupsi
Mengintegrasikan nilai nilai
anti korupsi dalam
permainan

32
3 Mencetak desain Komitmen mutu Jika nilai dasat tidak
games alat peraga Melakukan kreasi dan dilaksanakan maka proses
inovasi dalam pembelajaran tidak akan
melaksanakan kegiatan menghasilkan niai lebih di
sehingga menghasilkan dalam kelas. Selain itu
pembelajaran yang bermutu kedisiplinan dalam waktu
Anti korupsi penyelesaian juga menjadi
Mencatat semua penentu keberhasilan
pengeluaran biaya jujur apa pencetakan games.
adanya
Akuntabilitas
Disiplin dan tepat waktu
dalam pengerjaan
4 Melaksanakan Nasionalisme Jika nilai dasar tidak
proses pembelajaran Mendidik dan mengajar dilaksanakan maka alat
(termasuk persiapan, dengan kasih sayang tanpa peraga yang dibuat tidak
pelaksanaan, dan diskriminasi kepada siswa akan bisa diterapkan
kesimpulan) dengan alasan apapun secara optimal. Selain itu
Etika publik juga, sebagai ASN kalau
Senyum dan sapa kepada tidak ada kasih sayang
siswa dalam pembelajaran kepada publik (siswa)
agar tidak tegang dan siswa maka pembelajaran akan
rileks belajar berjalan dengan kaku
Akuntabiliatas
Disiplin dan tepat waktu
agar pembelajaran berjalan
secara optimal

5 Mengevaluasi hasil Nasionalisme Jika nilia dasar tidak


dari pelaksanaan Penerapan nilai nilai sila dilaksanakan maka bisa

33
kegiatan keempat yakni saja hasil pelaksanaan
mengedepankan kegiatan tidak bisa
musyawarah dalam dipertanggungjawabkan
pelaksanaan kegiatan kepada mentor
Akuntabilitas
Jujur dan bertanggung
jawab atas hasil kegiatan
Etika publik
Meminta siswa menuliskan
pendapatnya dalam bahasa
yang sopan
6 Menyusun laporan Akuntabilitas Jika nilai dasar tidak
hasil pelaksanaan Melaporkan hasil kegiatan dilaksanakan maka laporan
kegiatan apa adanya, tidak yang dibuat akan tidak
memanipulasi data representatif dengan tujuan
Etika publik di awal rancangan
Menyampaikan hasil aktualisasi
kegiatan dengan bahasa
yang sopan
Komitmen mutu
Membuat laporan yang
bermutu dan representatif

Setelah habituasi dilakukan, penulis memperoleh banyak manfaat dalam


mengaplikasikan nilai-nilai dasar ASN dalam kegiatan pembeajaran di lingkungan
SMAN 10 Malinau. Bagaimana sebuah proses yang panjang dalam membuat
majalah tidak hanya akan berdampak pada diri sendiri tapi juga untuk orang lain.
Akuntabilitas sebagai nilai pertama menjadi sangat penting untuk dicapai
dikarenakan dalam setiap proses membuat games membutuhkan ketelitian dan

34
pertimbangan yang matang agar ilmu yang ingin disampaikan ke siswa bisa
diserap secara optimal.
Nasionalisme menjadi hal penting dikarenakan setiap kata baik yang terucap
maupun yang tergambar dari tindakan harus mencerminkan nilai-nilai
kebangsaan. Anak-anak harus cinta kepada bangsa dan negaranya sejak dini
dengan cara ditanamkan pada proses demi proses pembelajaran.
Etika publik menjadi hal yang tidak dapat dilupakan dikarenakan sebagai
guru hal pertama yang harus dijaga adalah etika, seperti peribahasa “guru kencing
berdiri, murid kencing belari”.
Komitmen mutu dimunculkan dalam setiap kegiatan karena setiap proses
yang dilakukan, harapannya selalu berkualitas dan membawa dampak positif bagi
unit kerja khususnya bagi siswa sebagai objek pembelajaran.
Anti korupsi yang ditumbuhkan dengan terus mengajarkan nilai-nilai
kejujuran kepada siswa dari hal-hal yang sederhana dan kecil sehingga diharapkan
anak-anak akan terbiasa jujur sampai mereka tumbuh dewasa. Jika ini berlangsung
terus maka secara refleks dan spontan akan menghindarkan diri mereka dari
tindakan-tindakan yang menuju pada perbuatan korupsi.
Analisa potensi dari aktualisasi ini tentunya dapat menjadi nilai tambah
dikarenakan hal ini merupakan inovasi baru di SMAN 10 dan diharapkan dapat
terus dikembangkan secara rutin. Tantangan dan hambatan tentunya datang dari
internal sekolah dimana begitu banyaknya kegiatan di sekolah yang bisa membuat
tugas pembuatan games ini agak terhambat. Namun hal ini tentunya harus bisa
diatasi dengan saling mengingatkan, membuat timeline yang baik dan koordinasi
dalam tim agar dapat melaksanakan setiap tugasnya dengan baik.

35
B. REALISASI AKTUALISASI DENGAN KONTRIBUSI TERHADAP
VISI MISI ORGANISASI
Kegiatan aktualisasi diharapkan dapat memberikan kontribusi
terhadap Visi-Misi Organisasi sehingga membuat organisasi itu menjadi
lebih baik lagi. Visi-Misi SMAN 10 Malinau dapat dilihat di profil unit
kerja.
Keterkaitan antara Realisasi Aktualisasi dengan Visi-Misi Organisasi
dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2 Keterkaitan Realisasi Aktualisasi dengan Visi Misi Organisasi

Kontribusi Terhadap Visi Misi


No. Realisasi Kegiatan
Organisasi
1 Mencari sumber bacaan yang Mendukung Menciptakan generasi
berkaitan dengan metode ber- yang cerdas, beriman, unggul dalam
hitung yang cepat, akurat, dan mutu dan berbudaya ramah
menyenangkan lingkungan
2 Mendesain jenis-jenis perma-inan Mendukung Menciptakan generasi
matematika yang dibutuh-kan, yang cerdas, beriman, unggul dalam
seperti : mutu dan berbudaya ramah
- Ular tangga matematika lingkungan
- TTS matematika
- Domino aljabar
- Puzzle geometri
3 Mencetak desain games alat Mendukung Menciptakan generasi
peraga yang cerdas, beriman, unggul dalam
mutu dan berbudaya ramah
lingkungan
4 Melaksanakan proses pembe- Mendukung Menciptakan generasi
lajaran (termasuk persiapan, yang cerdas, beriman, unggul dalam
pelaksanaan, dan kesimpulan) mutu dan berbudaya ramah
lingkungan

36
5 Mengevaluasi hasil dari pelak- Mendukung Menciptakan generasi
sanaan kegiatan yang cerdas, beriman, unggul dalam
mutu dan berbudaya ramah
lingkungan
6 Menyusun laporan hasil pelak- Mendukung Menciptakan generasi
sanaan kegiatan yang cerdas, beriman, unggul dalam
mutu dan berbudaya ramah
lingkungan

Dengan sekian banyaknya dampak aktualisasi terhadap kontribusi visi misi


organisasi, diharapkan aktualisasi ini dapat terus dilanjutkan dan membuat karya
yang lebih baik setiap tiga bulan di SMAN 10 Malinau.

C. REALISASI AKTUALISASI DENGAN PENGUATAN NILAI-NILAI


ORGANISASI
Kegiatan aktualisasi dengan penerapan nilai-nilai dasar ASN diharapkan
dapat meningkatkan nilai organisasi. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi dari
realisasi kegiatan aktualisasi dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Keterkaitan Realisasi Aktualisasi dengan Penguatan Nilai-Nilai


Organisasi

No. Realisasi Kegiatan Penguatan Nilai-Nilai Organisasi


1 Mencari sumber bacaan yang Transparan dalam memilah referensi
berkaitan dengan metode ber- sehingga tujuan ke-giatan dapat ter-
hitung yang cepat, akurat, dan capai
menyenangkan
2 Mendesain jenis-jenis perma-inan Sikap kepedulian dan integritas
matematika yang dibutuh-kan, dalam pelaksanaan kegi-atan
seperti : aktualisasi pa-da arahan dari Men-tor
- Ular tangga matematika

37
- TTS matematika
- Domino aljabar
- Puzzle geometri
3 Mencetak desain games alat Mengumpulkan data, arahan dan
peraga pendapat dari mentor dan rekan kerja
yang dapat menimbulkan rasa
solidaritas yang tinggi untuk kema-
juan rancangan ke-giatan tersebut.
4 Melaksanakan proses pembe- Meningkatkan ke-kompakan dan ke-
lajaran (termasuk persiapan, keluargaan antara guru dan murid
pelaksanaan, dan kesimpulan) da-lam pembelajaran
5 Mengevaluasi hasil dari pelak- Integritas yaitu memiliki kemampuan
sanaan kegiatan dalam mengevaluasi hasil kegiatan
6 Menyusun laporan hasil pelak- Berkompeten yaitu memiliki
sanaan kegiatan kemampuan dalam penyusunan
laporan kegiatan

Dengan sekian banyak kontribusi aktualisasi terhadap nilai-nilai organisasi,


diharapkan penulis dapat terus berkomitmen meningkatkan kualitas pembelajaran
menggunakan games, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi siswa di
lingkungan SMAN 10 Malinau.

38
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN yaitu ANEKA, Whole
of Government, Manajemen ASN dan Pelayanan Publik sebagai laporan
pertanggungjawaban dalam rangka melaksanakan Latihan Dasar CPNS Golongan
VIII Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara Tahun 2018 dan salah satu syarat
kelulusan , maka kesimpulan yang dapat diambil sebagai berikut :

1. Penggunaan games dan alat peraga dalam pelajaran matematika


merupakan suatu yang perlu dilakukan dan dibiasakan karena berdampak
positif terhadap minat siswa akan pelajaran matematika.
2. Topik aktualisasi yang dipilih penulis berupa penggunaan games dalam
model pembelajaran merupakan topik yang tepat sehingga penulis bisa
mengaktualisasikan diri sebagai seorang pendidik yang baik dan
profesional
3. Nilai-nilai organisasi dan ANEKA mutlk dibutuhkan dalam
pengembangan model pembelajaran ini kedepannya, sehingga hasil akhir
dari pelaksanaan pembelajaran tidak hanya diharapkan positif dalam hal
akademis saja melainkan juga positif dalam pengenalan dan penanaman
nilai-nilai dasar ANEKA sejak dini dalam diri siswa

B. SARAN
Berdasarkan kegiatan aktualisasi, maka penulis perlu mengemukakan saran-saran
sebagai berikut :

1. Perlunya diberikan jam tambahan di luar jam sekolah untuk siswa siswi
SMAN 10 khususnya untuk mata pelajaran eksakta, hal ini dilakukan
karena mengingat jam di kelas yang terbatas sedangkan ada banyak teori
dasar yang sudah harus dipahami oleh siswa.

39
2. Perlunya meningkatkan keilmuan bagi penulis baik itu secara akademis
maupun skill mengajar. Ha ini dilakukan agar kedepannya bisa menyikapi
kondisi siswa yang beragam dengan bijak.

40
DAFTAR PUSTAKA

https://student.cnnindonesia.com/edukasi/20180103112420-445-266335/ada-apa-
dengan-pendidikan-di-indonesia/
http://masesigit.blogspot.com/2011/04/metode-team-games-tournament-tgt.html
https://ekocin.wordpress.com/2011/06/17/model-pembelajaran-teams-games-
tournaments-tgt-2/
https://updateinfoptk.blogspot.com/2015/11/mengenal-tentang-asn-pengertian-
asas.html
https://diklatbkdsidoarjo.wordpress.com/2016/08/11/tugas-kewajiban-dan-nilai-
nilai-dasar-aparatur-sipil-negara/
https://ilmu-pendidikan.net/profesi-kependidikan/guru/hak-dan-kewajiban-
profesi-seorang-guru
http://magisterolahragaunlam.blogspot.com/2016/03/pentingnya-model-
pembelajaran.html

41