Anda di halaman 1dari 67

1

Kata Pengantar

Puji syukur ke Hadirat Allah Swt, yang telah memberikan rachmat, hidayah, berkah dan
bimbingan-Nya, sehingga tulisan ini selesai dengan baik.

Buku yang disusun oleh penulis dengan judul “ Pengantar Supervisi Konstruksi “ sebagai
kelengkapan dari buku panduan Supervisi Pelaksanaan Proyek dalam program Project
Academy, sehingga diharapkan dapat digunakan untuk referensi dalam melakukan Supervisi
Konstruksi pelaksanaan Proyek Pembangunan Kelistrikan PT. PLN (Persero)

Beberapa aspek dalam mengelola Bisnis Konstruksi dituntut memiliki kinerja, kecermatan,
keekonomian, keterpaduan, kecepatan, ketepatan, ketelitian serta keamanan yang tinggi
dalam rangka memperoleh hasil akhir penyelesaian proyek sesuai dengan jadwal, kualitas dan
biaya yang direcanakan.

Sebagaimana diketahui dan sesuai pengalaman yang telah terjadi, dapat disimpulkan bahwa
melakukan Manajemen Supervisi Konstruksi pelaksanaan Proyek yang benar di lapangan
sangat berperan dalam pengendalian terhadap kualitas pekerjaan, karena apabila terjadi
kerusakan/cacat material / peralatan sebelum dipasang akan berpengaruh pada
keterlambatan proyek akibat perbaikan/penggantian peralatan yang rusak memerlukan waktu
fabrikasi di manufacturer.

Apabila terjadi keterlambatan proyek akan berpengaruh pada kerugian bagi PT. PLN (Persero)
karena kehilangan kesempatan bagi Perseroan dalam memenuhi kebutuhan listrik tepat
waktu.

Sebagian besar tulisan ini berdasarkan gagasan yang dipadu dengan beberapa pengalaman,
kajian pustaka serta contoh contoh yang ada dalam pelaksanaan pembangunan/konstruksi
selama ini.

2
Tulisan ini diharapkan pedoman ini dapat dimanfaatkan sebagai Pedoman bagi Enjinir/ yang
akan melaksanakan tugasnya dibidang Pembangunan/konstruksi disusun dalam rangka
pembekalan bagi Supervisor dan Manajer Proyek yang akan terlibat dlam pelaksanaan
Konstruksi .

Saran dan kritik dari pembaca diharapkan bagi penyempurnaak tulisan ini, agar isisnya dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, 10 Januari 2015

Sulistijono

DAFTAR ISI
3
I. PENDAHULUAN

II. PENGANTAR DASAR SUPERVISI KONSTRUKSI PEKERJAAN PEMBANGKIT


1. Pengertian Manajemen Proyek dan Manajemen Konstruksi
2. Proses Pembangunan konstruksi
3. Proses perijinan untuk pembangunan pekerjaan Pembangkit

4. Dasar Supervisi Konstruksi di Lapangan

5. Persiapan pelaksanaan supervisi konstruksi


5.1. Basic comunication proyek
5.2. Kickoff meeting
6. Pelaksanaan Supervisi Konstruksi
6.1. Construction method/procedure
6.2. Request For Inspection
6.3. Joint Inspection dan Punch List
6.4. Non Conformance Report
6.5. Quality assurance & quality control
7. Pelaporan Supervisi Konstruksi (Reporting System)
8. Laporan Proyek Selesai
9. Serah terima proyek
III. PENUTUP

4
I. PENDAHULUAN

Buku Pengantar Supervisi Konstruksi Pekerjaan Transmisi ini pegang peran penting dalam
pengendalian kualitas di lapangan

Pengawas wajib memahami dan mempelajari buku ini sebelum melaksanakan pekerjaan di
Lapangan

Pemahaman terhadap Manajemen Supervisi Konstruksi yang disusun dan ditulis dalam
buku ini harus dilakukan oleh seluruh personnel yang akan melakukan pengawasan Proyek
di lapangan.

Supervisi pekerjaan di Lapangan harus dilakukan sejak awal pelaksanaan Kontrak


pekerjaan, segera setelah dilakukan Kickoff Meeting.
Belum seluruh pedoman Manajemen Supervisi Konstruksi yang ditulis dalam buku ini,
namun dalam tahap ini yang berhasil disusun dalam buku Manajemen Supervisi Konstruksi
meliputi :
dan diuraikan sebagai berikut :

1. Proses Pembangunan Konstruksi


2. Pengantar manajemen supervisi konstruksi
3. Proses perijinan untuk pembangunan pekerjaan Pembangkit
4. Pengendalian Proyek
5. Persiapan pelaksanaan supervisi konstruksi
5.3. Basic comunication proyek
5.4. Kickoff meeting
6. Pelaksanaan Supervisi Konstruksi
6.6. Construction method/procedure
6.7. Request For Inspection
6.8. Joint Inspection dan Punch List
6.9. Non Conformance Report
6.10. Quality assurance & quality control
7. Pelaporan Supervisi Konstruksi (Reporting System)
8. Serah terima proyek

5
II. PENGANTAR MANAJEMEN SUPERVISI KONSTRUKSI

1. Pengertian Manajemen Proyek dan Manajemen Konstruksi

Manajemen Proyek dalam tata kelola pelaksanaan pembangunan di PLN dapat


diartikan :

“ Mengelola/mengatur pelaksanaan pembangunan termasuk sejak awal perencanaan,


proses perijinan sampai dengan pelaksanaan kontraktual pekerjaan yang dilakukan
oleh Kontraktor serta penyerahan pekerjaan dari Kontraktor maupun penyerahan
Asset kepada Institusi Lainnya sesuai regulasi yang berlaku ”

Manajemen Konstruksi di lapangan dapat diartikan :

“ Mengatur pelaksanaan pembangunan di lapangan agar hasil pelaksanaan pekerjaan


yang dilakukan oleh Kontrator secara kontraktual dipenuhi sesuai kontrak dengan
memperhatikan prinsip dasar konstruksi : Biaya, Mutu, Waktu dapat dicapai sesuai
yang direncanakan serta memuaskan para stakeholder “

6
7
8
9
2. PROSES PEMBANGUNAN KONSTRUKSI

1.1. Karakteristik dan Siklus Proyek


Proyek terjadi, dalam kurun waktu yang dibatasi, biasanya disertai dengan
kebutuhan yang harus dipenuhi, karena tuntutan pengembangan dan tingkat
pertumbuhan ekonomi dari masing masing Wilayah tersebar di seluruh
Indonesia.

Di PT. PLN (Persero) Proyek biasanya difasilitasi oleh Pemerintah dan juga
dilatarbelakangi oelh manfaat ekonomis, yang dilakukan oleh Perusahaan dalam
memperbaiki kinerjanya.

RUPTL , Rencana Umum Ketenaga Listrikan digunakan sebagai acuan dalam


merencanakan Proyek yang ditetapkan dalam kurun waktu 10 Tahunan, dan
disesuaikan setiap tahunnya berdasarkan kebutuhan , kondisi dan kemampuan
Perusahaan.
Proyek Konstruksi meliputi Pembangunan Pembangkit, Transmisi, gardu Induk
dan Distrubusi , kegiatan utamanya adalah :

– Studi Kelayakan
– Engineering/Detail design
– Pengadaan/Procurement
– Konstruksi.

Kompleksitas Proyek dapat ditunjukan berdasarkan skala Proyek, modal/nilai


Pembiayaan yang dikelola, sumber daya, tingkat keunikan,hubungan internal dan
eksternal yag mempengaruhi.
Keunikan Proyek memerlukan cara penanganan yang berbeda beda, seperti lokasi
Site, keadaan alam, tenaga kerja, penggunaan peralatan dari skala kecil dan besar,
teknologi, sehingga penanganan dan pengelolaannya akan berbeda walau jenis
konstruksinya sama.

1.2. Siklus Proyek

10
Tahapan kegiatan pada siklus Proyek menggambarkan urutan langkah sejak proses
awal hingga proses berakhirnya Proyek berdasarkan durasi waktu , serta kualitas
dan biaya yang harus dikeluarkan diawali dengan Study Kelayakan;
Engineering/Detail design ; Pengadaan; Procurement dan tahap
Implementasi/Konstruksi.
o Tahap Study Kelayakan : dengan tujuan mendapatkan keputusan tentang
kelanjutan investasi pada proyek ditinjau dari aspek keekonomian, Financial
dalam bentuk Kajian Kelayanan Financial (KKF), Kajian Kelayakan Operasional
(KKO) dan Kajian Resiko serta Kajian Lingkungan.
o Tahap Detail Design : terdiri dari pendalaman aspek Teknis, design engineering
dan pengembangan, penyusunan jadwal induk dan pembiayaan serta

11
merencanakan penyiapan perangkat/peralatan dan penentuan tender dokumen
dan spesifikasi .
o Tahap Pengadaan : adalah proses tender dalam melilih Kontraktor pelaksanan
dengan menyertakanDokumen tender, yang terdiri dari dokumen perencanaan,
persyaratan teknik dan administrasi, yang harus dipenuhi oleh peserta
penawaran sehingga dihasilkan penawaran yang kompetitif dengan tingkat
akuntabuilitas dan transparansi yang benar.
o Tahap Kontruksi/Implementasi : terdiri dari kegiatan Design review, persetujuan
detail spesifikasi, gambar konstruksi, pembelian peralatan dan material, fabrikasi
dan konstruksi di lapangan, inspeksi mutu, uji konstruksi dan uji unjuk kerja
peralatan, pengoperasian, demobilisasi dan laporan proyek selesai.
o Pada tahap konstruksi ini Kontraktor memiliki peran Dominan dengan sasaran
terakhir memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam kontrak. Peran Pemilik
Proyek pada tahapan ini sebagai konsultan pengawasdengan tujuan untuk
mengendalikan segala pelaksanaan proyek sesuai dengan ketentuan kontrak ,
serta menghindarkan segala macam penyimopangan serta melakukan tindakan
koreksi yang diperlukan.

1.3. Stakeholder Proyek :


Manajemen Konstruksi merupakan merupakan bagian dari pengelolaan Investasi
yang pegang peranan penting.
Success tidaknya pengelolaan Investasi/Proyek sangat tergantung pada baik
buruknya bagaimana mengelola pelaksanaan proyek di lapangan
Tim Proyek yang solid merupakan kunci success berhasil tidaknya proyek
diselesaikan tepat waktu, sesuai standard kualitas yang diinginkan serta dalam
batas perencanaan biaya yang ditentukan.
Komponen Penting dalam pengeloaan Proyek terdiri dari : Bank/Lender, Pemilik
Proyek (Owner) ; Kontraktor/Rekanan dan atau Konsultan Pelaksana Proyek.

12
Agar Tujuan Proyek dapat dicapai, keinginan dan kebutuhan masing masing
pihak yang terkait dapat direalisasikan dalam usaha bersama.
.
1) Tanggung jawab Banker/lender :
 Memberikan pendampingan dalam kegiatan pembuatan Rencana
Pengadaan (Procurement Planning)
 Memastikan bahwa proses pengadaan dan implementasi Konstruksi
berjalan sesuai dengan Loan Agreement serta memenuhi guide line bank
 Review Request for proposal, evaluasi laporan pelaksanaan kontrak,
verifikasi withdrawal application permohonan penarikan & pencairan dana
Loan serta amendment Kontrak

2) Tanggung Jawab Kontraktor/Rekanan :


 Mangajukan Penawaran
 Malaksanakan kontrak sesuai ketentuan dalam kontrak yang disepakati
bersama Owner.
 Mengirimkan barang/jasa sesuai dengan lingkup pekerjaan dan
memenuhi persyaratan kontrak.
Struktur Kontraktor biasanya berbentuk Kerja sama/Consortium antara lain
meliputi :
 Leader Consortium yang memiliki Project Management (EPC) Capability
 Konsultan Perencana/Designer atau Design Insttitute yang memiliki
Engineering capability
 Fabrikator dan atau Equipment Supplier
 Constructor/ Erector yang melaksanakan pemasangan/instalasi di
lapangan

3) Tanggung jawab Pemilik Proyek (Owner) :


 Membentuk Organisasi Proyek untuk melaksanakan proses bisnis
konstruksi dari Procurement sampai dengan pelaksanaan konstruksi di
lapangan.
 Melaksanakan kegiatan pengadaan barang dan Jasa, menyiapkan
dokumen Prakualifikasi, Pelelangan dan penandatangan kontrak sesuai
ketentuan Loan/Pemberi Dana.
 Melaksanakan kontrak sesuai dengan ketentuan kontrak dan persyaratan
Loan Agreement.
 Melaksanakan pengawasan/Manajemen Supervisi Konstruksi di lapangan.

13
Di lingkungan PT. PLN (Persero) organ Pemilik Proyek yang ada dapat
diuraikan sebagai berikut :
1) General Manager UIP : seseorang yang ditugaskan mnejalankan peran
sebagai Manajemen Proyek (Project Management) dan sebagai wakil oleh
pemilik proyek mengatur dan mengelola pelaksanaan proyek sesuai
dengan Kontrak yang telah ditandatangani bersama Kontraktor.
2) Manajer UPK / Tim Manajemen Supervisi Konstruksi : seseorang yang
ditugaskan oleh General Manager UIP untuk menjalankan peran sebagai
Manajemen Konstruksi (Construction Management) dalam melakukan
Supervisi kontruksi pekerjaan Kontraktor sesuai dengan Kontrak yang telah
ditandatangani bersama Kontraktor.
3) Project Team Leader Supervisi Engineering : seseorang yang ditugaskan
oleh General Manager Unit Bisnis dalam melakukan supervisi Enjiniring/
Desain Review pekerjaan Kontraktor sesuai dengan Kontrak yang telah
ditandatangani bersama Kontraktor.
4) Tim Supervisi Commissioning & Test : Institusi yang ditugaskan oleh
General Manager , dan bertanggung jawab dalam melaksanakan supervisi
commissioning yang dilakukan oleh Kontraktor dan institusi yang
berwenang menerbitkan sertifikat laik Operasi sebelum Instalasi/Peralatan
dioperasikan secara komersial.
5) Pemakai/User : Institusi yang ditunjuk oleh Manajemen Perusahaan untuk
mengelola Operasional secara commersial, setelah Sertifikat Laik Operasi
diterbitkan

Dalam proyek yang pengelolaannya lebih kompleks dan unik, peran


lingkungan internal dan ekternal, seperti organisasi LSM, Pemerintah daerah,
masyarakat sekitar lokasi proyek dapat ditambahkan sebagai pelengkap
Stakeholder.

Peran dan keterlibatan pihak tersebut dapat memberi keuntungan terhadap


proses dan hasil akhir proyek. Oleh karena itu perlu ada identifikasi secara
cermat dan langkah langkah antisipasi dengan memberdayakan dan

14
memaksimalkan keuntungan yang akan diperoleh bersamaan dengan
antisipasi kerugian yang akan timbul.

Sebagai contoh Hubungan antar Unit di PT. PLN (Persero) dalam


melaksanakan bisnis Konstruksi sbb :

Revisi Gambar di bawah ini sesuai dengan kondisi saat ini.

15
16
1.4. Kepastian Pelaksanaan Kontrak
Program Pelaksanaan Proyek harus melalui proses sebagai berikut :

17
1) RUPTL
2) Feasibility Study (studi kelayakan)
3) Perijinan
4) Pembebasan Tanah
– Sosialisasi dan musyawarah harga lahan
– Pembayaran ganti rugi
– Sertifikasi lahan
5) AMDAL/UKL-UPL
6) Pendanaan
– Pemerintah (APBN, loan, kredit eksport, hibah)
– Perusahaan (APLN, sindikasi bank, pinjaman B to B)
7) Perihal yang tidak diatur dalam Dokumen Kontrak
1. Perihal Non Teknis
– Koordinasi dengan pihak Pemda, Polri dll
– CSR (rumah ibadah, klinik, lapangan olah raga dll)
– Pembinaan sosial (keamanan)
2. Koordinasi dengan pihak-pihak
– PLN JMK
– PLN Wilayah/UIP/IP
– PLN Jaser
– PLN Pusat
8) Perihal penting dalam General Conditions pada Kontrak
– Lump-sum contract/Unit-price basis
– Escalated price contract
– Order to precedence
– Effective Date of Contract
– Commencement of Works
– Key Dates/Time Schedule
– Performance Bond
– Down Payment/Advance Payment
– Retention Money
– CIF Price/FOB Price
– Ex-factory price
– Inland Transport
– Installation/erection
– Import duty/import tax exempted
– Quality Assurance
– Liquidated Damaged
– Plant Performance Guarantee
– Test for commissioning/Reliability run
– TOC (BAST 1)/ FAC (BAST 2)
– Guarantee Period
– First Inspection prior to FAC.

9) Hal yang perlu diperhatikan oleh Supervisor :

18
a) Cermati dan perhatikan lingkup pekerjaan yang akan dilakukan
b) Pastikan bahwa organisasi proyek dan hubungan kerja antar unit terkait
telah sesuai dengan kebutuhan di lapangan
c) Cermati dan pelajari dokumen kontrak untuk memahami kewajiban para
pihak
d) Pastikan bahwa basic comunication untuk pelaksanaan konstruksi telah
sesuai dengan yang diperlukan
e) Cermati dan disepakati bagan alur proses bisnis
f) Lakukan koordinasi secara teratur dengan para pihak
g) Perhatikan pengertian tentang prosedur, tata cara, mekanisme, kriteria,
persyaratan dan ketentuan yang harus dipatuhi oleh para pihak

3. Proses perijinan untuk pembangunan pekerjaan pembangkit

Khususnya untuk Proses Perijinan Utama dalam pembangunan pekerjaan pembangkit


yang harus diselesaikan sebelum atau pada saat pelaksanaan Konstruksi meliputi :
Sebagai gambaran perijinan yang terkait dengan pembangunan Proyek Kelistrikan di
Indonesia meliputi :

1. Ijin Prinsip dan Amdal : Wajib seluruh proyek / mandatori


2. Ijin Lokasi : Wajib seluruh proyek / mandatori
3. Ijin Lingkungan :
a) Wajib untuk proyek baru / relokasi
b) Wajib untuk proyek pengembangan atau perubahan yang mengubah :
kapasitas dan perluasan lokasi
4. Ijin Gangguan : Wajib seluruh proyek / mandatori
5. Ijin Pemanfaatan Ruang : Wajib untuk lokasi proyek yang belum sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah yang ada.
6. Ijin Mendirikan Bangunan : Wajib seluruh proyek / mandatori
7. Ijin Penggunaan Tenaga Kerja Asing : Disesuaikan kebutuhan
8. Ijin Transportasi Pengangkutan Barang-barang Proyek : Disesuaikan
kebutuhan
9. Ijin Penggunaan Ruang Publik Jalan : Disesuaikan kebutuhan
10. Ijin Survey : Disesuaikan kebutuhan
11. Ijin melintasi Rel Kereta Api : Disesuaikan kebutuhan
12. Ijin melintasi Jalur Lalu lintas Air : Disesuaikan kebutuhan
13. Ijin penggunaan Air Permukaan : Disesuaikan kebutuhan
14. Ijin penggunaan Air Tanah : Disesuaikan kebutuhan

19
15. Ijin Keselamatan Bendungan Pembangunan Pusat Listrik Tenaga Air : Wajib
untuk Proyek PLTA/PLTM/PLTMH
16. Ijin Galian dan Pengurugan : Disesuaikan kebutuhan
17. Ijin Reklamasi : Disesuaikan kebutuhan
18. Ijin Lokasi Terminal Khusus : Disesuaikan kebutuhan apabila diperlukan
pembangunan dermaga dan/atau jetty
19. Ijin Pembangunan Terminal Khusus : Disesuaikan kebutuhan apabila diperlukan
pembangunan dermaga dan/atau jetty
20. Ijin KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan) : Disesuaikan
kebutuhan
21. Ijin Penggunaan Bahan peledak : Disesuaikan kebutuhan
22. Ijin Pembersihan Bahan Peledak dan Ranjau : Disesuaikan kebutuhan
23. Ijin Analisa Dampak Lalu Lintas : Disesuaikan kebutuhan
24. Ijin Pinjam Pakai Tanah Kawasan Hutan : Disesuaikan kebutuhan

Sedangkan Ijin khusus lainnya harus dipenuhi mengikuti peraturan Pemerintah


Daerah setempat

Dalam pembangunan Infra Struktur Proyek Kelistrikan di Indonesia , proses perijinan


yang harus dipenuhi dapat terdiri lebih dari 24 perijinan, namun untuk pembangunan
Pembangkit tidak seluruhnya wajib dilakukan .

20
TEMPLATES PROSES PERIJINAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
KELISTRIKAN

TEMPLATES PROSES PERIJINAN PEMBANGUNAN


INFRASTRUKTUR KELISTRIKAN

21
TEMPLATES PROSES PERIJINAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
KELISTRIKAN

22
TEMPLATES PROSES PERIJINAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
KELISTRIKAN

23
Pembekalan proses Perijinan secara rinci dimasukkan dalam modul tersendiri dalam modul
pembekalan pada Project Academy proses perijinan yang dapat diikuti dalam sesi tersendiri
karena memerlukan waktu lebih kurang 3 – 4 hari.

4. Dasar Supervisi Konstruksi di Lapangan

Ada tiga factor penting dalam pengendalian pelaksanaan konstruksi proyek yang
mempengaruhi yaitu :
 Jadwal
 Biaya
 kualitas
Ketiga factor tersebut merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari
manajemen konstruksi yang menjadi dasar tugas pengawasan dalam Manajemen
Supervisi Konstruksi di lapangan.

1) Pengendalian Jadwal/ Construction schedule


a) Setiap Langkah sebelum melaksanakan tahapan Kegiatan biasakan mebuat
Action Plan dan monitor perkembangannya secara periodik ( Contoh Action
Plan).
b) Hal yang perlu mendapatkan perhatian :
– Rapat Koordinasi awal harus disepakati format monitoring Jadwal yang
digunakan (Promavera, Microsoft Project, Artemis dsb ).
– Kontraktor diminta untuk menyampaikan Overall Schedule dan detail
Schedule (Level1,2,3,4) untuk disetujui Pemberi Kerja.
– Dilakukan monitoring melalui laporan dan dibahas rutine setiap rapat
mingguan (level 4) dan bulanan (Level 1).

24
– Apabila ada masalah harus dicatat dalam risalah rapat dan dipastikan langkah
langkah yang akan dilakukan untuk memenuhi jadwal yang telah disetujui
bersama dengan target yang jelas .
– Setiap minggu kontraktor Wajib menyampaikan weekly Late & Ahead
schedule level 4 ( WLA Schedule)) dan Setiap bulan Kontraktor Wajib
menyampaikan Monthly Late & Ahead (MLA Schedule).
– Dalam rapat harus di evaluasi/teliti Critical Path Schedule dan yang terlambat
harus dibahas bersama jalan penyelesaiannya agar pekerjaan tetap kembali
sesuai rencana.
– Apabila diperlukan Kontraktor harus menyampaikan Revisi Overall Schedule
(indikasikan Schedule Rev 1,2,3) dengan Milestones Kontrak tidak berubah.
– Contoh Overall/ Network Planning , WLA, MLA, Rev. Schedule sebagaimana
terlampir
c) Sesuai kontrak kontraktor harus membuat master project schedule segera
setelah kontrak ditandatangani ( 1 bulan setelah tt)
d) Dalam master schedule harus juga ditampilkan milestones/key dated sesuai
kontrak, dan kegiatan utama tertuang minimal level 2
e) Format schedule biasanya ditetapkan menggunakan program seperti :
artemis, primavera, microsoft project.
f) Dalam program tersebut ditentukan level 1 sampai level 4, dimana level 1
untuk digunakan oleh manajemen, sedangkan level 4 digunakan oleh institusi
terkait di lapangan :owner, supervisor, kontraktor/vendor/sub kontraktor,
konsultan di lapangan
g) Dalam program yang digunakan harus dapat menampilkan informasi
– Milestones, merupakan target sesuai key dated kontrak
– Network chart, menampilkan activities, duration, total foating, kapan
pekerjaan dimulai dan selesai serta harus ditampilan kritikal /lintasan kritis
dimana pekerjaan tidak boleh terlambat.
– Barchart, menampilkan activities dan hubungan setiap activities ( fs,ss,ff) dan
lintasan kritis dan setelah diupdate harus dapat ditampilkan % progress fisik
dalam bentuk barchart yang biasanyan dipakai dalam system pelaporan.
– Updating harus dilakukan oleh kontraktor tepat waktu dan kontinyue selama
periode konstruksi, karena apabila entry data tidak dilakukan secara

25
konsistent, mengakobatkan updating data tidak akurat dan menyesatkan
dalam mengendalikan pekerjaan di lapangan.
h) Tips dalam mengendalian schedule proyek :
– Segera setelah kontrak di tandatangani, kontraktor diminta menyampaikan
schedule proyek sesuai yang ditetapkan dalam kontrak.
– Master schedule harus ditandatangani oleh kedua belah pihak, untuk acuan
bersama dalam pelaksanaan proyek
– Sebelum ditandatangani bersama harus dilakukan pembahasan agar tidak
menyimpang dengan jangka waktu pelaksanaan dan key dated yang
harus dipenuhi sesuai kontrak.
– Dalam kontrak ditetapkan bahwa kontraktor harus menyiapkan software
yang dapat digunakan kedua belah pihak dan selama periode konstruksi
harus tersedia competence schedule engineer yang permanent
melakukan updating di lapangan.
– Sesuai kontrak , kontraktor harus menyampaikan updating schedule 4 WLA
setiap minggu dan 3 MLA setiap bulan
– Updating harus dievaluasi bersama setiap rapat mingguan dan digunakan
sebagai dokumen yang sah di lapangan oleh kedua belah pihak.
– Apabila terjadi keterlambatan, owner melalui supervisor di lapangan harus
mampu memberikan teguran segera kepada kontraktor agar tidak terjadi
keterlambatan yang berpengaruh pada key dated dan completion of the
works
– Apabila keterlambatan disebabkan kewjiban owner tidak dapat dipenuhi,
segera dimabil langkah langkah untuk meminimalkan keterlambatan dan
tidak diinginkan keterlambatan terjadi pada aktifitas yang termasuk dalam
lintasan kritis dan key dated sesuai kontrak

2) Pengendalian Biaya :
– Pengawas Lapangan harus tahu nilai kontrak dan rinciannya serta realisasi
pembayaran setiap saat.
– Pengendalian Biaya harus dilakukan melalui Format Monitoring pengendalian
Biaya yang mencakup seluruh komponennya dan direcord rutine sehingga
setiap saat dapat dengan mudah dimonitor yang meliputi :
– Rincian Harga Kontrak
– Realisasi pembayaran

26
– Disbursement Schedule sesuai Termijn pembayaran
– Evaluasi pencapaian progress pembiayaan Proyek periode Konstruksi.
– Evaluasi paska Konstruksi tingkat keberhasilan dibandingkan dengan Kajian
Kelayakan pada saat Perencanaan.
– Format pengendalian biaya sebaiknya dilaporkan dalam laporan bulanan.
– Pengawas harus selalu mengkoordinasikan dengan Institusi terkait dengan
pembiayaan agar recording pembiayaan Proyek sesuai dan akurat nilainya.
– Contoh Format Pengendalian Biaya Figure No.6.

3) Pengendalian Kualitas
– Berhasil tidaknya Pengoperasian hasil Proyek sangat tergantung pada kualitas
Pekerjaan pada saat Kontruksi.
– Pengawas harus sangat memahami syarat syarat teknis/ Spesifikasi Kontrak
sebelum dilakukan supervisi di lapangan.
– Pengawas setiap saat harus selalu membandingkan Drawing Approval dengan
yang terlulis pada Kontrak.
– Di Lapangan apabila terjadi perbedaan dengan Drawing segera meminta
Kontraktor untuk mengoreksi dan mengikutinya
– Apabila terjadi penyimpangan dengan Spesifikasi, Pengawas harus segera
meminta kepada Kontraktor untuk mengoreksi dan menyimpang Spesifikasi
Kontrak.
– Apabila terjadi perbedaan dengan Kontraktor, segera melaporkan perbedaan
tersebut dengan Manajer Atasannya dan segera menyiapkan konsep
dokumen secara Tertulis (NCR) dan mengingatkan Owner untuk mengambil
langkah koordinasi dengan Desainer, Pengawas dan Kontraktor lebih lanjut.

5. Persiapan pelaksanaan supervisi konstruksi

5.5. Basic comunication proyek


Basic Comunication diperlukan sebagai alat/komunikasi bagi masing masing
institusi terkait yang termasuk dalam stake holder dalam menjalankan tugasnya,
menampilkan tingkat organisasi, hieraki personnel dan tanggung jawabnya serta
hubungan antar sesamanya. Peran Basic Comunication untuk mempermudah
personnel proyek dalam melaksanakan wewenang dan tanggung jawabnya.
Wewenang dan tanggung jawab dibagi dalam beberapa kategori sbb :

27
O : Original dokumen, yang menunjukkan personnel proyek bertanggung
Jawab
penuh, memberikan prengesahan, persetujuan/rekomendasi.
C : Copy Dokumen , yang menunjukkan personel proyek berperan untuk
membantu melaksanakan pengawasan/pengendalian proyek
Covering Letter : Yang menunjukan personnel proyek mengetahui dan Apabila
diperlukan memberikan petunjuk.

5.6. Kickoff meeting


1. Tujuan dilakukan Kickoff Meeting
– Kickoff meeting wajib dilakukan segera setelah kontrak ditandatangani
oleh kedua belah pihak.
– Dalam kickoff meeting dibahas bersama rencana pelaksanaan kontrak
yang harus dilakukan kedua belah pihak.
– Tidak diperkenankan merubah isi kontrak dan hanya mengatur teknis
pelaksanaan kontrak dan komunikasi kedua belah pihak dalam
pelaksanaan pekerjaan dilapangan.
– Kesepakatan kedua belah pihak dituangkan dalam risalah
rapat/minutes of meeting dan hasilnya harus segera ditindaklanjuti
sesuai ketentuan yang diatur dalam kontrak.

2. Agenda Kickoff Meeting


– Sebelum mengagendakan Kickoff Meeting , Pelajari Dokumen Kontrak
terutama kewajiban kedua belah pihak.
Refer clausul – clausul kontrak dalam Agenda
– Buat Basic Communication untuk dibahas dan disampaikan kepada
Kontraktor.
– Buat Organisasi Proyek/ Tim Manajemen Supervisi Konstruksi , untuk
diinformasikan dan dijelaskan kepada Kontraktor dalam Rapat.
– Contoh Agenda Kickoff Meeting :
MATTERS TO BE DISCUSSED DURING KICK OFF MEETING
 Site Management Organization
The Contractor shall submit detail proposal of the Site management
organization.
Refer to clause 3.19 , 2.13 , 2.14
 Labour :
The contractor shall recruit the local labour resources as indicated in the
Environmental Document (AMDAL PLTU 1 Banten) submitted in the
meeting.
Refer to clause : 2.31, 2.22

 Use of Local materials and services :

28
The Contractor shall use local materials and services as much as
possible as indicated in Ijin Lokasi issued by Local Government Walikota
Cilegon as submitted in this meeting.
Refer to Clause : 1.31

 Security Procedure :
The Contractor shall make coordination with the Tripika to arrange the
security on site and fulfill all the arrangengement at Site including the
coordination with the existing PLTU Suralaya and the condition as stated
in the Amdal .
Refer to Clause 3.3, 3.14.2 , 3.15 , 2.16
 Site Office
The contractors shall also to provide the temporary owner supervision
staff office for about …. M2 equal with the Contractors standard office
within site boundary in location to be determined by the Owner.
(Refer to Clause 3.20)
 Obtaining the permits for Construction :
The Contractor shall obtain and pay of all Indonesian Licences and
permits required for the Works as indicated but not limited in accordance
with Ijin Lokasi issued by Local Government as submitted in the meeting.
(Refer to Clause 3.8 , 3.5)
 Expatriate Contractor personnel :
The Contractor shall obtaining the approval from the institution involved
related with the permit of the expatriate personnel working in the Project.
(Refer to Clause 3.11)
 Basic Communication :
The Contractor shall follow the basic Communication as submitted in the
meeting.
(Refer to Clause 2.55, 2.66, 2.65, 3.17, 2.1.16)
 Contractor Communication and Services Facilities :
The Contractor shall provide the communication facilities and inform
to the owner before selected the system .
The Contractor shall furnish all the services needed for Construction
Facilities.
(Refer to Clause 3.14.3, 3.14.4)
 Contractor’s Insurance :
The Contractor to explain the preparation of Insurance to be fulfill before
the Works execute at Site.
The proposed Insurance Company and Insurance Policy to be subject to

29
approval by the Owner.
( Refer to Clause 2.20 and Part 3 clause 3.18)
 Subletting :
The Contractor shall submit vendors or sublet part of the works as
indicated in the Contract to the Owner for approval. The Contractor to be
submit the complete document neccessary for approval.
(Refer to Clause 2.5)
 Down Payment :
The Contractor shall submit the invoice of Down Payment to the Owner
attached with the Bank Guarantee accepted by the Owner.
The Contractor shall submit the draft of Bank Guarantee prior to submit
the invoice.
Refer to Clause 3.2.2

6. Pelaksanaan Supervisi Konstruksi


6.1. Construction method/procedure
Tim Manajemen Supervisi Konstruksi harus memahami prosedure baku
pelaksanaan Poryek yang harus diikuti selama pelaksanaan Manajemen
Supervisi Konstruksi dilakukan di lapangan.
1) Prosedur baku yang harus dilakukan di lapangan :
– Construction Method / Procedure diajukan oleh Kontraktor dan disetujui
oleh PLN sebagai pemberi kerja sebelum pekerjaan dilakukan.
– Kontraktor tidak dapat bekerja sebelum Construction Method dan
Approved Drawing telah disetujui dan berada di lapangan .
– Peralatan yang dikirim di Site harus dibuat MRR (Material Receiving
Report) terlebih dahulu.
– Sebelum pekerjaan dimulai Kontraktor harus mendapatkan persetujuan
RFI.
– Apabila terdapat penyimpangan pekerjaan di lapangan harus diterbitkan
dokumen NCR untuk perbaikan dan langkah lebih lanjut oleh Kontraktor
agar dipenuhi syarat dalam pelaksanaan.
– Sebelum dimulai pekerjaan, kontraktor wajib menyampaikan prosedure
kerja setiap bagian kegiatan yang akan dilakukan.
2) Content construction method/procedure :
– Bagan alur proses pekerjaan
– Peralatan yang akan digunakan
– Alat ukur yang akan digunakan

30
– Inspection /test items yang akan dilakukan
– Standard yang akan digunakan
3) Langkah yang harus diperhatikan
– Pastikan apakah drawing sudah disetujui
– Periksa peralatan yang akan digunakan sudah memadai/cukup
– Pastikan standard yang digunakan sesuai kontrak
– Pastikan alat ukur yang digunakan telah dikalibrasi dan sesuai standard
akurasinya
– Lakukan pengawasan di lapangan
– Sebelum dilakukan pekerjaan pastikan sudah ada rfi (request for
inspection dari kontraktor dan lakukan inspection sesuai prosedure
– Setelah selesai pekerjaan, pastikan sudah ada rfi dan lakukan joint
inspection
– Berikan catatan pada lembar inspection disetujui dan apabila ada minor
items yang belum dipenuhi diberikan komentar untuk ditindaklanjuti
– Terhadap yang terdapat ketidaksesuaianya harus ditindaklanjuti dengan
surat teguran dan dimonitor koreksinya

6.2. Request For Inspection


Request for inspection wajib dilakukan oleh kontraktor sebelum bagian pekerjaan
dilakukan dan setelah pekerjaan selesai dilakukan.

Owner melalui supervisor di lapangan melakukan joint inspection dan hasilnya


dituangkan dalam list hasil joint inspection yang ditandatangani oleh kedua belah
pihak.

Pekerjaan tidak dapat dilakukan apabila kontraktor belum siap sesuai dengan
procedure dalama construction method dan dapat memulai pekerjaan apabila
telah disetujui oleh owner.

Dalam joint inspection setelah selesai bagian pekerjaan dilakukan, supervisor


harus mencantumkan disetujui atau ditolak hasil kerja kontraktor dalam list hasil
joint inspection.

Punch list yang merupakan catatan hasil kerja yang belum memenuhi syarat
sesuai kontrak dicatat sebagai lampiran joint inspection dan kontraktor harus

31
menyelesaikan /memperbaiki sebelum toc dandimonitor oleh supervisor yang
mewakili omner di lapangan.

6.3. Joint Inspection dan Punch List


Disarankan agar pengawas membuat Action Plan / Check List untuk pekerjaan
yang akan dilakukan sebelum pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Sebelum dilakukan Joint Inspection, Kontraktor harus mengisi format RFI kepada
KTSK terlebih dahulu.
Joint inspection dimaksudkan untuk melalukan pemeriksaan bersama antara
Kontraktor, Vendor, QA/QC Inspector, Pengawas dari JMK dan Konsultan (bila
ada) dengan tujuuan untuk :
 Mengetahui apakah peralatan yang telah dipasang dalam kondisi baik dan
tidak cacat
 Mengetahui apakah peralatan sesuai spesifikasi
 Mengecheck peralatan yang dipasang sudah sesuai dengan gambar kerja
 Menyaksikan pada saat setting parameter turbin dilakukan dan bersama
mencatat hasilnya.
 Seluruh kegiatan inspeksi dan testing harus mengacu pada Inspection & test
Plan (ITP) serta Prosedure yang telah disetujui.
 QA/QC Inspector harus menentukan jadual dan mengundang PLN /
Pengawas untuk menyaksikan dan memberikan pengesahan atas hasil
pelaksanaan inspeksi pada saat itu juga. Hasil joint inspection dituangkan
dalam suatu Berita Acara Hasil Pemeriksaan dan ditandatangani oleh para
pihak yaitu kontraktor, vendor, pengawas lapangan, konsultan (bila ada) dan
QA/QC engineer / inspector.

Joint Inspection di Lapangan harus dilakukan sebelum dan sesudah tahapan


pekerjaan dilakukan oleh Kontraktor. Request For Inspection disampaikan oleh
Kontraktor dan harus disetujui Pengawas.
Langkah yang harus diperhatikan sebagai beirikut :
a) Set Up Format Joint Inspection setiap pekerjaan harus dibahas bersama
Kontraktor , setidaknya memuat :
 items pekerjaan yang akan diinspeksi
 memenuhi Technical Specification kontrak
 memenuhi gambar yang telah disetujui

32
 ada catatan hasil inspection, diterima/ditolak/dikoreksi yang harus
ditandatangai oleh Pengawas dan Kontraktor, serta disetujui oleh
Ketua Tim Manajemen Supervisi Konstruksi / UPK.
Disarankan agar pengawas membuat Action Plan / Check List untuk
pekerjaan yang akan dilakukan sebelum pelaksanaan pekerjaan di
lapangan.
b) Sebelum dilakukan Joint Inspection, Kontraktor harus mengisi format RFI
kepada KTSK terlebih dahulu.
Pengawas harus “Take Care” bahwa Joint Inspection tidak boleh ditunda
tunda dan segera dilaksanakan , karena akan mempengaruhi jadwal
penyelesaian proyek. Komunikasi dengan Kontraktor harus dilakukan
Effektif dan Effisien agar permasalahan di lapangan dapat diketahui setiap
saat selama Konstruksi.
c) Hasil joint Measurement harus diteliti akurasinya dan ditandatangani
bersama Kontraktor dan Pengawas Lapangan.
d) Apabila terdapat ketidak sesuaian dengan yang disyaratkan, Pengawas
harus mencatat didalam Record Lapangan yang ditandatangani bersama
Kontraktor dan memonitor langkah tindak lanjutnya sampai selesai.
e) Apabila terdapat perbedaan pendapat di lapangan, Pengawas harus
melaporkan kepada Ketua Tim dan segera mengatur rapat pertemuan
khusus dalam rangka mencari Solusi yang dihadapi di lapangan.
f) Apabila terdapat deviasi di Lapangan yang tidak dapat diselesaikan dala
rapat , melalui Ketua Tim segera menerbitkan surat kepadaKontrator dan
mendokumentasikan dalam NCR (Non Conformance Report).
g) Flow chart Proses Bisnis Konstruksi
Terdapat beberapa gambaran flowchart yang dapat dipakai sebagai
referensi dalam pelaksanaan Supervisi pekerjaan di lapangan.
 Flowchart Document/drawing for approval
 Flowchart Sub Vendor approval
 Flowchart Site Instruction
 Flowchart of Commisioning
.

33
34
35
36
6.4. Non Conformance Report

37
Non Conformance Report adalah dokumen yang diterbitkan oleh PLN (Pemberi
Kerja) karena terdapat ketidaksesuaian pelaksanaan kontrak di lapangan.

Non Conformance Report harus diterbitkan apabila terdapat ketidaksesuaian


sesuai kontrak.

Ketidaksesuaian sesuai kontrak biasanya dikelompokkan dalam beberapa


kategori :
 Pekerjaan tidak dilakukan sesuai gambar yang disetujui
 Pekerjaan dilakukan sesuai Gambar tetapi tidak dilakukan sesuai spesifikasi
kontrak
 Pekerjaan dilakukan tidak sesuai dengan gambar, berdampak pada kualitas
yang dipersyaratkan sesuai kontrak

1) Hal yang perlu diperhatikan oleh supervisor

 Supervisor wajib segera menerbitkan NCR apabila terdapat ketidaksesuaian


sesuai kontrak
 Supervisor wajib merecord daftar NCR untuk keperluan pengedalian dan
dimonitor tindak lanjutnya yang harus dilakukan Kontraktor
 Apabila belum ada tindak lanjut/feed back dari Kontraktor , NCR tetap dalam
posisi open NCR
 Sebelum pekerjaan diserah terimakan , harus dipastikan NCR seluruhnya
telah diselesaikan.
 Apabila pada saat harus diserahterimakan pekerjaan belum juga
ditindaklanjuti, Supervisor harus dapat memastikan dituangkan dalam
Outstanding Items sebagai lampiran TOC, sepanjang dianggap minor, tidak
berpengaruh pada safely operation of the Unit.

2) Langkah penyelesaian NCR sebelum TOC

 NCR dibahas bersama Kontraktor dan Institusi terkait : Owner, Konsultan


Engineering, Konsultan Supervisi.
 Langkah yang dilakukan :
 Apabila telah diselesaikan oleh Kontraktor, dilakukan Joint Inspection
ditandatangani oleh kedua belah pihak
 Apabila dapat diterima tidak berpengaruh dengan kualitas sesuai
kontrak , diminta Konsultan Engineering menerbitkan Justifikasi Teknik

38
 Apabila tidak berpengaruh pada kualitas sesuai kontrak , tetapi
mengurangin lingkup /kuantitas sesuai kontrak, dilakukan pengurangan
harga didukung Justifikasi Teknis dan Amandemen kontrak.

6.5. Quality Assurance & Quality control

1) Pemahaman terhadap program QA/QC :

39
Quality assurance & quality control dilakukan untuk mengendalikan dan
memastikan pada saat pelaksanaan kontrak kualitas pekerjaan sesuai dengan
spesifikasi kontrak.
Pada awal pelaksanaan Kontraktor wajib menyampaikan proposal QA/QC
yang akan dilaksanakan sesuai kontrak yang berlaku
Kualitas pekerjaan yang dilaksanakan di lapangan dapat diukur dengan
program QA/QC dalam bentuk Inspection Test plan (ITP)
Sesuai kontrak kontraktor wajib menyampaikan inspection test plan untuk
disepakati bersama sebelum pelaksanaan pekerjaan
Inspection test plan dibuat untuk memastikan tanggung jawab masing masing
fabrikan,kontraktor/sub kontraktor, konsultan, owner
Selama periode konstruksi pelaksanaan pekerjaan di lapangan harus
mengikuti ketentuan yang telah disepakati sesuai ITP.

Program QA/QC adalah alat untuk mengukur dan menjamin pengendalian


kualitas pekerjaan sesuai yang direncanakan sesuai Kontrak.

a) Perbedaan antara Jaminan Mutu, Kendali Mutu dan Pengujian :

- Jaminan Mutu (Quality Assurance, QA):


suatu atau sejumlah prosedur yang ditujukan untuk memastikan bahwa
produk atau jasa yang akan dikembangkan, dibuat, dilakukan
(sebelum pekerjaan selesai, dan tidak sesudahnya) memenuhi
persyaratan yang ditetapkan.

- Kendali Mutu (Quality Control, QC):


prosedur atau sejumlah prosedur yang ditujukan untuk memastikan
bahwa produk manufaktur atau jasa yang dilaksanakan seturut atau
sesuai dengan sejumlah kriteria mutu yang ditetapkan atau memenuhi
persyaratan klien atau pelanggan.
- Pengujian (Testing):
Proses pelaksanaan suatu sistem dengan maksud untuk menemukan
cacat. (Catat bahwa "proses pelaksanaan suatu sistem" mencakup
perancangan uji sebelum dilaksanakannya uji kasus.)

b) Esensi Jaminan Mutu, Kendali Mutu dan Pengujian

40
- Penerapan kegiatan QA maupun QC sangat diperlukan bagi
berhasilnya dan dicapainya tujuan pelaksanaan pekerjaan proyek.
- QA lebih sering disebut bersama-sama dengan QC sebagai satu
ungkapan tunggal yakni Jaminan dan Kendali Mutu (quality assurance
and control, QA/QC).Kegiatan-kegiatan QA memastikan bahwa
prosesnya sudah tertentu dan memadai. Pembuatan metodologi dan
standar adalah merupakan contoh kegiatan QA.
- Suatu tinjauan QA akan terpusat pada unsur-unsur proses suatu
proyek – yakni, apakah syarat-syarat akan ditetapkan pada tataran
terinci yang tepat.
- Sebaliknya, kegiatan-kegiatan QC terpusat pada penemuan cacat-
cacat pada barang kiriman tertentu – yakni, apakah syarat-syarat yang
ditetapkan adalah persyaratan yang tepat.
- Pengujian adalah merupakan bagian kegiatan QC, di samping lain-
lainnya termasuk inspeksi.

c) Pentingnya Kendali Mutu :

Program QC harus dijalankan konsisten guna memastikan upaya-upaya


perbaikan, jika perlu, demi dicapainya hasil yang memuaskan serta
mampu segera mendeteksi terjadinya masalah atau terulang kejadiannya.

d) Agar pelaksanaan program QC efektif

- Ditetapkan standar-standar spesifik apa atau mana yang dipakai dan


harus dipenuhi oleh produk atau jasa yang dipesan.
- Ditentukan kegiatan-kegiatan QC (misalnya, berapa persen
produk/jasa dari setiap lot yang akan diuji).
- Dikumpulkan data temuan (misalnya, prosentase produk/jasa yang
cacat atau gagal) dan hasilnya dilaporkan kepada manajemen.
- Diputuskan kegiatan korektif dan dilaksanakan (misalnya, produk
cacat/rusak harus diperbaiki atau ditolak dan jasa yang buruk harus
diulang tanpa biaya tambah sampai pelanggan puas).
- Jika produk/jasa gagal/buruk terlalu banyak atau terlalu sering terjadi,
perlu dilakukan penyempurnaan program proses produksi.

Didalam Kontrak ditetapkan bahwa Kontraktor wajib melakukan


pengendalian kualitas sejak dilakukan fabrikasi di Manufacturer maupun di
lapangan. Kontraktor wajib menunjuk Independent Institusi yang

41
ditugaskan melakukan program QA/QC yang diminta oleh Pemberi
Kerja/Owner (PLN)

Dalam melakukan program QA/QC , Owner juga harus membentuk Tim


yang tugasnya mereview dan menyetujui usulan pelaksanaan QA/QC dari
Kontraktor sesuai ketentuan yang ditetapkan dalam kontrak.
Kualitas pekerjaan yang dilaksanakan di lapangan dapat diukur dengan
program QA/QC dalam bentuk Inspection Test Plan (ITP)

Sesuai kontrak kontraktor wajib menyampaikan inspection test plan untuk


disepakati bersama sebelum pelaksanaan pekerjaan

Inspection test plan dibuat untuk memastikan tanggung jawab masing


masing Fabrikan, Kontraktor/Sub Kontraktor, Konsultan, Owner.
Selama periode konstruksi pelaksanaan pekerjaan di lapangan harus
mengikuti ketentuan yang telah disepakati sesuai ITP.

Tanggung jawab masing masing Institusi ditentukan dalam bentuk :

 H : Hold point,no work sequence can be proceed without inspection


- W : Witness of inspection, vendor may proceed if owner not
apperance at
the pointed Time witness point shall given by notification, if
manufacturer doesn’t inform the supervision party which have
the right
to require a witness again.
 Sw: Spot witness, inspection or test by manufacturer
 Ri : Partial or Random Inspection
 P : Prepare document or work
 R : Review of report or documentation

Dalam Format ITP yang biasa digunakan mencakup antara lain :

42
 Description, uraian kegiatan yang harus dibuat rinci setiap langkah
pekerjaan dari pembelian raw material sampai pengujian dilakukan di
lapangan
 Reference document diisi ketentuan /pasal dalam technical
specification,drawing, procedure
 Verifying document diisi referensi seperti test report yang digunakan
atau certificate atau record yang lain untuk memastikan qualitas
yang harus dipenuhi sesuai kontrak
 Inspection activities yang dilakukan oleh masing masing institusi
terkait : Vendor, Kontraktor, PLN, Konsultan, yang bertanggung jawab
terhadap kegiatan yang dilakukan sesuai ITP .

2) Hal yang perlu diperhatikan sesuai dengan kondisi kontrak

a) Pasal Penting (Referensi Kontrak Proyek PLTU 10.000 MW


/Suralaya) yang perlu dimengerti bagi Supervisor/Pengawas :
General Condition GC .2.1 . INSPECTION AND TEST :
- Mensyaratkan bahwa Notification of shop Test yang harus
diwitnesed BY Owner, disampaikan 14 hari (untuk expatriate) dan
10 hari (untuk ex works) sebelum tanggal Test.
- Mensyaratkan juga harus memenuhi persyaratan Part 4, Caluse
4.3A.7.8 tentang
QA/QC

b) Technical Spesification : TS 4.3A.7.3 Standard Quality


Assurance/Qualitry Control
Level 1 :

- Harus memenuhi BS 5750 atau equivalent


- Harus menunjuk 3rd party international reputable Quality
Inspection Agency kantor pusat diluar Negara contractor
- Harus disampaikan List of Quality Control Procedure, Special
Process Procedur, Quality Control Documentation (pada saat
Tender)
- Harus menyampaikan detailed Quality Control Procedures
selambat lambatnya 6 minggu setelah kontrak ditandatangani.
- Harus membuat Instruction untuk tempat penyimpanan dan
perawatannya sebelum peralatan dipasang.

43
- Harus menyampaikan Site Quality Control Program untuk Site
Quality Control surveillance, hold point dan in progress Inspection
- Dalam 3 bulan setelah kontrak atau 4 bulan sebelum dimulai
fabrikasi, harus menyampaikan Inspection Point Program.
- Tiga copies dokumentasi terkait QA/QC sesuai dengan spesifikasi
, codes dan standard harus disampaikan sebelum atau pada saat
pengapalan.
- Invoice untuk peralatan yang diterima di Site tidak dapat dibayar
sampai documentation diterima dan memenuhi spesifikasi
kontrak.

c) Quality Assurance/Quality Control : Technical Spesification , TS


4.3A.7.3. Overall Inspection Point Program
- 6 minggu setelah kontrak atau 4 minggu sebelum dimulai
fabrikasi, harus disampaikan Overall Inspection Point Program
- 4 minggu sebelum dilakukan factory Test, harus diberitahukan
kepada Owner, dan 7 hari Owner diberikan waktu untuk
menyaksikan pengujian pabrik.

d) Technical Spesification , TS. 4.3A.7.8 Shop Inspection and Test Plan:


- 2 bulan setelah kontrak, Contractor harus menyam[paikan
detailed Shop Inspection Test Plan (ITP) level 1,2,3 termasuk
Raw material, Steel plate dari Mill Certificated, memuat :
- Uraian
- Individual Inspection/Test Item
- Reference Document
- Virifying Document
- Siapa yang Witness (Bidder,Subvendor, Owner dsb)
- Lokasi Test
- Perkiraan tanggal Test
- Test Record submission
- Catatan
- Shop Inspection Schedule diupdate secara regular apabila
terdapat perubahan jadwal
- Shop Inspection Procedure harus disampaikan untuk
mendapatkan persetujuan.
- Shop Inspection Notification minimum harus memuat :
- Peralatan yang akan diinspeksi
- Lokasi Test

44
- Contact Person di Fabrikan
- Tanggal Inspeksi
- Inspection procedure document
- Approves design drawing

e) Technical Spesification , TS. 4.3A.7.8. Document Approval Status

- Sesuai Part 4 section 4.3A.2.2, Fabrikasi dapat dilakukan apabila


sudah sesuai gambar yang disetujui. Inspection dilakukan
berdasarkan gambar final yang disetujui . Kontraktor tidak
diijinkan melakukan Inspection atau mengirim material atau
peralatan sebelum diterima persetujuan.

3) Set Up Awal yang perlu dilakukan :

Memastikan bahwa semua dokumentasi harus dipenuhi :

- Quality Assurance Program dan Quality Control Manual telah direview


dan disetujui oleh Owner
- Telah menunjuk 3rd party International reputable quality inspection
agency
- Quality program harus dibuat terintrgasi dan comprehensive dari
inspection material, proses inspection dan pengendalian fabrikasi,
memeriksa dimensi dan non destructive test telah dilakukan
- Test Procedure sesuai persyaratan kontrak telah disampaikan dan
disetujui oleh Owner

4) Langkah yang perlu dilakukan Owner

1) Mengingatkan Kontraktor untuk mmenunjuk 3 rd party QA/QC Agency


untuk persetujuan.
2) Deatiled Quality Control Procedure termasuk dalam dokumen ITP
disampaikan kepada Owner untuk disetujui.
3) Dokumen Instruction penyimpanan peralatan sebelum dipasang harus
disampaikan untuk dimonitor implementasinya.
4) Site Quality Control Program termasuk Hold point dan Inspection
progress pekerjaan telah dimasukkan dalam dokumen ITP dan
dimonitor implementasinya

45
5) Meminta Dokumentasi terkait denga QA/QC yang dibuat dan di
inspeksi oleh 3 rd party Agency disampaikan sebelum pengapalan.
6) Meneliti dokumen QA/QC sesuai spesifikasi, codes dan standar yang
ditetapkan dalam kontrak
7) Pada saat Invoice untuk peralatan tiba di lapangan diajukan, harus
dapat dipastikan bahwa dokumentasi yang diminta sesuai ITP dan
Quality Control Procedure telah disampaikan, baru dapat diproses
pembayarannya.

5) Overall Inspection Point Program

- Sebelum melakukan Inspection di Manufacturer, harus dipastikan


bahwa Overall Inspection Point Program telah disampaikan dan
disetujui Owner.
- Memastikan bahwa Shop Inspection Test Procedure telah
disampaikan sebelum dilakukan Factory Test.
- Menunjuk QA/QC Konsultan untuk menyaksikan Test
- Bersama sama Owner mewakili menyaksikan Factory Inpection
/Acceptance Test/FAT

6) Shop Inspection and Test Plan

- Meneliti Shop Inspection Test Plan (ITP) level 1,2,3


- Memastikan siapa yang akan : R (Review Document), W (Witness), R
(Review report & Document), H ( Hold sebelum dilakukan Inspection),
P (Prepare Document), SW (Spot witness), M ( 100 % Inspection
oleh Fabrikan), RI (Partion random Inspection) dalam dokumen ITP
yang harus disetujui Owner.
- Memastikan Reference Document telah sesuai dengan spesifikasi
kontrak
- Mengusulkan Owner untuk menyetujui dokumen ITP
- Meminitor Updating Inspection Schedule
- Memastuikan Notification Shop Inspection telah sesuai dengan yang
ditentukan dalam kontrak
- Memastikan bahwa approval Drawing telah diterbitkan oleh Owner
- Memastikan bahwa Fabrikasi Peralatan hanya dapat dilakukan
apabila sudah terbit gambar final yang disetujui Owner

46
- Memastikan bahwa material peralatan yang difabrikasi telah sesuai
dengan mill certificate material dari supplier dan sesuai spesifikasi
kontrak.
7) Document Approval Status

- Memastikan bahwa fabrikasi Peralatan dilakukan setelah gambar


Final disetujui Owner.
- Memastikan bahwa pengiriman material/peralatan dilakukan setelah
gambar final disetujui Owner
- Invoice tidak dapat diproses apabila Kontraktor belum memenuhi
persyaratan yang dutetapkan dan dokumentasi terkait ITP dipenuhi
oleh Kontraktor

8) Langkah yang harus ditempuh sebelum QA/QC Konsultan


melakukan pekerjaan di Manufacturer

1) Diusulkan QA/QC Enjinir ditempatkan di manufacturer diambil dari


konsultan QA/QC melalui SLA JMK yang dapat bekerja Independen
secara professional, untuk mengamankan posisi PLN dari sisi Legal ,
apabila terjadi masalah kontraktual , PLN tidak dikaitkan secara
langsung sehingga terhindar dari masalah kegagalan konstruksi
akibat ulah Kontraktor yang mungkin terjadi dalam implementasi
proyek.
2) Dalam pelaksanaan Inspection di Manufacturer Enjinir PLN
bertanggung jawab meneliti dokumen QA/QC dan hasil Test telah
dilakukan sesuai kontrak pada saat menyaksikan pelaksanaan
Inspection di Manufacturer, sedangkan yang harus memeriksa dan
menyetujui hasil Test dilakukan oleh QA/QC Enjinir yang ditunjuk
mengawasi day to day di manufacturer.
3) Tugas konsultan QA/QC di manufacturer sehari hari diberikan
wewenang melakukan pengawasan langsung berkoordinasi bersama
Kontraktor/Fabrikan.
4) Disetup mekanisme dengan ditentukan basic Communication dan
Flowchart tugas dan tanggung jawabnya.

9) Tugas QA/QC Konsultan :

 Langkah yang harus ditempuh sebelum QA/QC Konsultan melakukan


pekerjaan di Manufacturer

47
 Diusulkan QA/QC Enjinir ditempatkan di manufacturer diambil dari
konsultan QA/QC melalui SLA JMK yang dapat bekerja Independen
secara professional, untuk mengamankan posisi PLN dari sisi Legal ,
apabila terjadi masalah kontraktual , PLN tidak dikaitkan secara
langsung sehingga terhindar dari masalah kegagalan konstruksi
akibat ulah Kontraktor yang mungkin terjadi dalam implementasi
proyek
 Dalam pelaksanaan Inspection di Manufacturer Enjinir PLN
bertanggung jawab meneliti dokumen QA/QC dan hasil Test telah
dilakukan sesuai kontrak pada saat menyaksikan pelaksanaan
Inspection di Manufacturer, sedangkan yang harus memeriksa dan
menyetujui hasil Test dilakukan oleh QA/QC Enjinir yang ditunjuk
mengawasi day to day di manufacturer
 Tugas konsultan QA/QC di manufacturer sehari hari diberikan
wewenang melakukan pengawasan langsung berkoordinasi
bersama Kontraktor/Fabrikan
 Disetup mekanisme dengan ditentukan basic Communication dan
Flowchart tugas dan tanggung jawabnya

10) Term of Reference QA/QC Konsultan :

– Membantu Owner dalam menyetujui dokumen ITP dan Inspection


Procedure.
– Menerbitkan dokumen seperti Inspection Quality Certificate dan
laporan pelaksanaan QA/QC kepada PLN untuk memastikan
bahwa kualitas peralatan sesuai dengan spesifikasi kontrak.
– Melakukan pemeriksaan kualitas material yang digunakan
sebelum Fabrikasi peralatan dilakukan.
– Memeriksa kualitas peralatan pada saat di Fabrikasi
– Memeriksa dokumen QA/QC yang harus disampaikan oleh
Kontraktor sesuai ketentuan untuk disetujui Owner.
– Memastikan bahwa pelaksanaan Fabrikasi sesuai jadwal yang
disepakati bersama.
– Melakukan Inspection dan atau Factory Acceptance Test seluruh
peralatan sesuai kontrak baik yang disaksikan/witness atau tidak
disaksikan oleh PLN .
– Menandatangani /memeriksa hasil Inspection / test telah sesuai
dengan ketentuan kontrak.

48
– Menerbitkan dokumen Inspection Quality Certificate untuk
disampaikan kepada Owner.
– Memastikan peralatan yang akan dikapalkan telah memenuhi
persyaratan kontrak dan menyetujui /realease for shipment sesuai
jadwal yang disepakati bersama.
– Memastikan bahwa Instruction manual penyimpanan disampaikan
dan disetujui .

49
50
Lembar Pengendalian Pelaksanaan Program QA/QC
EPC Contract

51
1. CONTRACTOR RESPONSIBILITY :

Target Date
DURATION
No ACTIVITIES issued REMARK
(Refer to the Contract)
1 Detailed Quality Control 6 weeks after Contract
Procedures (ITP) Signed or 4 weeks before
start of fabrication
2 Overall Inspection Point 3 (three) month after
Program. Contract signed or 4
(four)months before
fabrication
3 Notification of shop Test to be 14 days before Inspection
witness by Owner
4 Notification of the date and 14 day prior the date of
place Plant ready for Testing testing
5 Owner advised may proceed 7 (seven) days pror
with the test thedate of testing
6 Format for the factory Test 2(two) months after
Procedure/Plan contract signed

7 Detailed inspection schedule 6 (six) Months prior the


/shop inspection procedure estimated inspection date
8 Notification when packing will 10 (ten) day prior to ex
carried out works despacth for
shipment
9 Field radiographs report 7 days after completion of
submitted to Owner radiography

52
1. OWNER RESPOSIBILITY :
(Necessary approval by the Owner)

No Institution in Charge Standard Date issued Remarks


Maximum
Duration
(Days)
1 Document submission by the
0
Contractor
2 Enjiniring PLN E/PLN JE check and
submit comment to the Owner 5
Representative/UIP (if any)
3 QA/QC Consultant Review the
2
Document

4 QA/QC Consultant submit to JMK


3
Head Office

5 JMK Head Office Team Check and


prepared Recommendation Letter 3
for General Manager signing

6 General Manager JMK Signed


Letter and send to the
2
Owner/Representative for
approval

7 Owner check for issuance of


approval ( if needed to be 5
discussed with PLN JE/PLN E)

8 Final Draft Letter ready for General


2
Manager UIP signing

9 General Manager UIP/Owner


Representative issued Aprroval 2
Letter

Total Duration 19

53
1. OWNER RESPOSIBILITY :
(Direct Approval by QA/QC Consultant at Manufacturer)

No Institution in Charge Standard Dated issued Remarks


Maximum
Duration
(Days)
1 The Correct Document 0
submission by the Contractor
2 QA/QC Consultant review and 2
check the submittal Document
3 QA/QC Signed and stamp 1
realesed for Manufacturing or
packing or shipment
4 QA/QC reported and submitted 2
the Document had signed and
stamp to the Owner
Total Duration 5

7. PELAPORAN SUPERVISI KONSTRUKSI (REPORTING SYSTEM)

Laporan diperlukan untuk mengendalikan pelaksanaan Proyek sehingga dapat


dipastikan pelaksanaannya memenuhi ketentuan kontraktual dan meminimalkan
terjadinya penyimpangan baik terhadap jadwal, kualitas maupun biaya Proyek yang
direncanakan
Laporan Kontraktor harus dapat disampaikan tepat waktu
Laporan yang harus dibuat oleh Kontraktor meliputi :
1) Laporan/ Record Harian
2) Laporan Mingguan
3) Laporan Bulanan
4) Laporan Disbursement 4 (empat) bulanan
5) Laporan Tenaga kerja Asing (RPTKA)
6) Laporan RPL/RKL
7) Laporan Kandungan Lokal
8) Laporan lain yang diperlukan sesuai GOI Regulation

54
1) Laporan Harian, Mingguan
– Pengawas Lapangan harus meneliti kebenaran atas laporan yang
disampaikan Kontraktor.
– Record lapangan harus ditandatangani oleh Pengawas di lapangan
– Hasil joint Measurement harus diteliti akurasinya dan ditandatangani
bersama Kontraktor dan Pengawas Lapangan.
– Apabila terdapat ketidak sesuaian dengan yang disyaratkan, Pengawas
harus mencatat didalam Record Lapangan yang ditandatangani bersama
Kontraktor dan memonitor langkah tindak lanjutnya sampai selesai.
– Apabila terdapat perbedaan pendapat di lapangan, Pengawas harus
melaporkan kepada Ketua Tim dan segera mengatur rapat pertemuan khusus
dalam rangka mencari Solusi yang dihadapi di lapangan.
– Apabila terdapat deviasi di Lapangan yang tidak dapat diselesaikan dala
rapat melalui Ketua Tim segera menerbitkan surat kepadaKontrator dan
mendokumentasikan dalam NCR (Non Conforming Report).

2) Laporan bulanan
– Kontraktor wajib menyampaikan laporan bulanan kepada “owner”
– Content laporan bulanan minimal mencakup :
a) Profile proyek/contract yang mencakup no dan tanggal kontrak
b) ditandatangani,kontraktor /member of consortium resposibility
c) Summary report
d) Rincian realisasi pekerjaan yang dilakukan dalam bulan laporan
e) Chronological event selama bulan laporan
f) Milestones dan realisasinya
g) Status drawing yang telah disampaikan, disetujui, ditolak (status“A,B,C”)
h) Status of Quality Assurance-QA/QC
i) Shipment schedule dan realisasinya
j) Status of vendor/supplier komulatif sampai dengan bulan laporan
k) Realisasi penggunaan resources : peralatan, material, tenaga kerja
l) Kendala yang dihadapi dalam bulan laporan
m) Daftar tenaga kerja asing sesuai rptka form
n) Rincian realisasi pembayaran ( dibandingkan dengan harga kontrak
o) Progress fisik sesuai format yang disepakati dirinci masing masing bagian
pekerjaan
p) S – curve dibandingkan original schedule, revised/catchup scheduleyang
telah disepakati kedua belah pihak.
q) Daftar korespondensi
3) Laporan Penggunaan Tenaga Asing
– Sesuai GOI Regulation Kontraktor wajib menyampaikan RPTKA secara

55
rutine setiap bulan kepada Pemberi Kerja.
– Pemberi Kerja wajib melaporkan Kepada Depnaker, Kantor Imigrasi dan
Kepolisian Setempat
– RPTKA antara lain meliputi :
 Job Tenaga Asing
 Record masa berlaku Pasport
 Masa berlaku Ijin Kerja
 Masa berlaku Ijin lapor diri dari Kepolisian Setempat
– Job Tenaga asing pada dasarnya tidak diijinkan sebagai Labour/Unskill Labour ,
namun harus dipekerjakan sebagai Supervisor, manajer, Job lain yang dapat
dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia.
– Pengawas harus memonitor status TKA dan apabila Dokumen telah tidak
berlaku, wajib mengingatkan melalui surat dan apabila perlu tidak
mengijinkan bekerja di Lapangan sebelum memperbaharui dokumen yang
dimilikinya.

3. Laporan RPL/RKL
– Kontraktor yang melaksanakan kegiatan di lapangan wajib memenuhi ketentuan
Lingkungan Hidup dalam Dokumen Amdal.
– Kontraktor wajib membuat laporan RPL/RKL kepada Pemberi Kerja.
– Kontraktor wajib menunjuk Tim RPL/RKL yang memiliki pengalaman
Pelaksanaan RPL/RKL .
– Monitoring /pengukuran di lapangan wajib dilakukan setidaknya 1 bulan sekali.
– Pengukuran di lapangan harus konsisten dan sesuai dengan titik titik
pengukuran yang telah dilakukan pada saat Amdal agar dapat dibandingkan
nilai baku mutunya.
– Pengawas Lapangan harus memonitor dan melakukan pendampingan dalam
setiap dilakukan kegiatan monitoring/pengukuran di lapangan yang dilakukan
oleh Kontraktor.
– Laporan RPL/RKL yang disampaikan ke Bapedalda harus atas nama
Pemrakarsa (PLN) sehingga laporan RPL/RKL oleh Kontraktor harus diteliti
dan dibahas terlebih dahulu kebenarannya bersama Pengawas di lapangan,
sebelum disampaikan kepada Bapedalda oleh Pemberi Kerja.
– Laporan RPL/RKL kepada Pemberi Kerja dilakukan Bulanan, dan Laporan
kepada Bapedalda disampaikan setiap 3 bulanan.
– RPL/RKL wajib dilakukan oleh pelaksana Proyek dalam setiap melakukan
kegiatannya di Lapangan.

56
– RPL/RKL sepenuhnya harus mengacu pada Dokumen Amdal yang telah
disetujui oleh Gubernur/Instansi Pemda yang terkait.
– Laporan RPL/RKL setiap triwulan wajib dilaporkan kepada Bapedalda Setempat.

4. Community Development / Comdev


– Tim Supervisi wajib mempelajari persyaratan yang harus dilaksanakan oleh
pemrakarsa dalam pelaksanaan proyek di lapangan.
– Pemrakarsa harus melaksanakan RPL/RKL selama periode Konstruksi. Sesuai
kontrak Kontraktor harus melaksanakannya karena setiap Institusi yang
melaksanakan kegiatan di lapangan wajib memenuhi ketentuan dalam
dokumen Amdal. Oleh karen itu segera menset Up Konsultan yang akan
melakasanakan monitoring RKL/RPL sesuai dokumen Amdal.
– Tim Comdev sebaiknya sibentuk oleh dalam format Tim bersama Kontraktor
yang melibatkan aparat setempat dan tokoh masyarakat yang diprakarsai oleh
Tim Manajemen Supervisi Konstruksi JMK untuk mengantisipasi /fasilitasi
keinginan lingkungan
– Owner harus “Take care “ terhadap komplain/keinginan lingkungan dalam
partisipasi menjaga lingkungan selama periode Konstruksi. Apabila terjadi
permasalahan lingkungan sehubungan kegiatan Proyek, harus segera disikapi
dan dikomunikasikan dengan Tim Comdev yang didalamnya termasuk aparat
dan Tokoh masyarakat setempat.

5. Prosedure Tetap (Protap) Pengamanan Proyek


– Pada awal periode Konstruksi, Ketua Tim harus segea melakukan Set UP dan
menerbitkan Protap yang ditandatangani Ketua Tim Manajemen Supervisi
Konstruksi atau wakil Owner.
– Protap harus dipatuhi oleh Kontraktor, Owner, Sub Vendor/Supplier ang berada
di Site
– Tim Pengamanan Proyek harus dibentuk yang terdiri dari unsur Owner,
Kontraktor, Aparat Setempat yang ditunjuk untuk pengamanan Proyek
– Sistem pengaman harus terpadu dengan satu Komando/ Koordinator yang
ditetapkan dalam Surat Keputusan Owner.

57
– Contoh prosedure apabila terjadi insiden sebagai berikut :

58
6. Laporan Proyek Selesai
Laporan Proyek Selesai harus dilakukan segera setelah proyek secara keseluruhan
diselesaikan oleh Kontraktor di lapangan.
Project Completion Report dibuat oleh Konsultan Pengawas atau PLN JMK yang
melaksanakan supervisi Pekerjaan di lapangan.
Project Completion hanya dapat disusun apabila seluruh dokumen yang digunakan
untuk pelaksanaan pekerjaan di lapangan dari kontraktor dan dokumen pengawasan
lengkap dimiliki oleh para pengawas di lapangan.
Oleh karena itu Sejak awal Konstruksi , seluruh dokumen yang digunakan untuk dasar
pengawasan harus dimiliki dan disimpan dengan baik selama masa konstruksi , agar
Project Completion Report/Laporan Proyek Selesai dapat dibuat dengan baik dan
sempurna.

Hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam pnyusunan Poject Completion Report :
1. Sejak awal Konstruksi, sudah harus tersedia dan didokumentasikan dengan baik
antara lain :
 Dokumen Pemilihan Lokasi,
 KKO & KKF,
 Dokumen tanah ,
 Dokumen Pre FS/FS,
 Amdal,
 Copy Perijinan,
 Realisasi Pembayaran & Realisasi Fisik di lapangan
 Evedence proses Pengadaan untuk mengetahui schedule pengadaan dan
permsalahannya
 Gambar approval
 Hasil Uji Lapangan dan dokumen hasil uji Kommisioning
 Dokumen Serah Terima Pekerjaan termasuk yang masih pending

59
2. Dokumen Pengawasan sebaiknya disetup dan telah disiapkan format laprannya
melalui laporan bulanan.
Kontraktor, sehingga pada saat penyusunan Draft/ konsep Laporan Proyek Selesai
disusun sudah dapat dirangkum dan digunakan sebagai lampiran dalam
Laporan Proyek Selesai.
3. Narasi laporan akan mudah dibuat apabila Pengawas telah memiliki dokumen
pengawasan lengkap pada saat penyusunan laporan.
Apabila dikompile menjelang laporan akan disusun , Pengawas akan mengalami
kesulitan penulisan dalam penyusunan laporan.
Contoh Daftar Isi Project Completion Report
VOLUME I:
I. GENERAL
1. Project history
2. Project background
3. Scope of project
4. Contract and contractors
5. Specification of the project
6. Construction schedule
7. Manpower utilization
8. Construction cost
9. Services provided by PLN jasa penunjang
VOLUME II:
1. FIELD SURVEY (Bathymetry, Topography, Soil Investigation )
2. DESIGN
 Site Layout
 Site Condition
 Design Concept
 Power Plant Equipment
 Building and Structures
 I & C Control Equipment
3. PROCUREMENT
Procurement Schedule
4. MANUFACTURING
 Manufacturer of Power Plant Equipment
 Sources of Civil Materials
 Factory Inspection and Expediting (BVI)
VOLUME III:
1. CONSTRUCTION
 Scope of Contract
 Contract Schedule
 Contract Execution
• Chronologies Event

60
• Civil Work
• Main Mechanical Plant
• Electrical, Control and Instrumentation Works
• Miscellaneous Services
 Outstanding Items
 Commissioning and Testing
 Spareparts, tools and consumables

ATTACHMENTS

Figure 1-1 : Rencana Umum Pengembangan Tenaga Listrik


(RUPTL) 2006–2012
Figure 1-2 : Alternative Site Selection
Figure 1-3 : Financial Analysis Report for Suralaya of Coal Fired Steam
Power Plant Unit 8
Figure 1-4 : List of Sub Contractors and Sub Vendors
Figure 1-5 : Summary of the Latest Plans and Actual Project Master
Schedule
Figure 1-6 : List of Expatriate Personnel Employed
Figure 1-7 : Manpower Utilization Graphic
Figure 1-8 : Summary of Payment Status of EPC Contract
Figure 1-9 : Construction Project Cost of PLTU 1 Banten, Suralaya Unit 8
Figure 1-10 : Summary of Comparison of Estimated Cost Versus Actual
Cost of the Project
Figure 1-11 : Record of Approved Drawing Number
Figure 1-12 : Manmonths Usage & Direct Cost of PT. PLN
(Persero) Pusenlis
Figure 1-13 : Manmonths Usage & Direct Cost of PT. PLN (Persero)
Jasa Manajemen Konstruksi
Figure 1-14 : Manmonths Usage & Direct Cost of PT. PLN (Persero)
Jasa Sertifikasi
Figure 1-15 : List of Permit Issued by Local Government
Figure 1-16 : Chronology Event During Construction Period
Figure 1-17 : List of Outstanding Items and Missing Equipment to
be Settled by Contractor

Figure 1-18 : List of Non Conforming Record (NCR) to be Settled


by Contractor
Figure 1-19 : Test and Commissioning Sequence Schedule
Figure 1-20 : “Laik Operasi” Certificate Issued by PT. PLN
(Persero) Jasa Sertifikasi
Figure 1-21 : Record of Progress During
Construction

Attachment II-1 : List of Main Equipment Level 1

61
Attachment II-2 : Report of Inspection Test at
Manufacture by Black & Veatch
Consultant
Attachment II-3 : List of Manufacturer’s Trainees for
Operation & Maintenance
Attachment II-4 : List of On Site Trainees for Operation &
Maintenance
Attachment II-5 : List of Spareparts, Maintenance Tools, and
Test Equipments
Attachment II-6 : List of Consumables Parts
Attachment III : Photo Documentation
Attachment IV : Field Survey Document
Attachment V : List of As Built Drawings
Attachment VI : “AMDAL” Document

7. SERAH TERIMA PEKERJAAN


Dalam proses bisnis Konstruksi dikenal beberapa proses serah terima pekerjaan
meliputi :
Sesuai Kontrak terdapat 2 (dua) jenis Serah Terima Pekerjaan meliputi :
 Serah Terima Pekerjaan Pekerjaan tahap 1 (TOC)
 Serah Terima Pekerjaan tahap 2 (FAC)
Secara Internal Institusi PLN , penyerahan pekerjaan kepada Institusi PLN terkait dapat
dilakukan beberapa kali, seperti antara lain :
 Serah terima sebagian pekerjaan dari Tim Supervisi Konstruksi kepada Tim
Commissioning yang bertanggug jawab melakukan supervisi Commisioning yang
harus mengacu sesuai kontrak pekerjaan dengan pihak ketiga
 Serah Terima Pengoperasian dari yang mewakili Owner (Pemilik Proyek - UIP)
kepada Institusi yang akan bertanggung jawab melakukan Operasi
(Pemilik/pengolaan Asset – PLN Regional/Anak Perusahaan)
 Serah Terima Proyek dari Manajemen PLN kepada Pengelola Asset

a) Serah Terima Pekerjaan Pekerjaan tahap 1 (TOC)


Sesuai Kontrak Pekerjaan dengan pihak ketiga (Kontraktor) , diatur bahwa Serah
Terima Pekerjaan tahap 1 (Taking Over Certificate) dapat dilakukan apabila
pekerjaan telah diselesaikan dan telah dilakukan Pengujian/Commissioning.

62
Apabila Perfomance Test telah berhasil dilakukan sesuai Kontrak dan telah disetujui
hasilnya oleh Tim Commissioning , Kontraktor berhak meminta diterbitkan Taking
Over Certificate (TOC).

b) Serah Terima Pekerjan tahap 2 (FAC)


Final Acceptance Certificate dapat diterbitkan oleh Pemberi Kerja kepada
Kontraktor, apabila telah dilakukan Final Inspection/First Year Inpection telah
dilakukan dan memenuhi persyaratan memuaskan Satisfied sesuai kontrak dan
seluruh pending, outstanding , NCR, Defect during warranty period telah
diselesaikan seluruhnya oleh Kontraktor.
FAC hanya dapat diterbitkan apabila seluruh kewajiban sesuai kontrak dipenuhi
oleh Kontraktor. Hal ini perlu menjadi perhatian bagi Supervisor bahwa Kontrak
masih akan berlaku/Valid apabila FAC belum diterbitkan.
Pembekalan Kontraktuan secara rinci dapat diikuti pada modul pembekalan
tersendiri.

c) Serah Terima sebagian pekerjaan dari Tim Supervisi Konstruksi kepada Tim
Commissioning (Taking Over Packages - TOP)

Serah Terima sebagian pekerjaan dari Tim Supervisi Konstruksi kepada Tim
Commissioning (TOP) dilakukan apabila pemasangan peralatan/pekerjaan telah
dilakukan Joint Inspection/Individual Test bersama Kontraktor dengan baik sesuai
kontrak.
SerahTerima sebagian pekerjaan (TOP) dapat dilakukan beberapa kali, sesuai
progress pekerjaan di lapangan.
Maksud TOP diterbitkan untuk memastikan bahwa peralatan sudah siap dilakukan
Commissioning, sehingga tanggung jawab pelaksanaan Commissioning dialihkan
kepada Tim Commissioning.
Sebagai gambaran Hubungan antar Unit dan Flow chart Commissioning sebagai
berikut :

63
64
d) Serah Terima Pengoperasian
Serah Terima Operasi Proyek (STOP) dilakukan segera setelah Pembangkit/Unit
dinyatakan sudah Commercial Operation Date (COD), karena tanggung jawab
pengoperasian harus diambil alih oleh PLN . Sejak tanggal COD tersebut dimulai
65
masa garansi sesuai kontrak . Tanggung jawab Pemilik Proyek/yang ditunjuk
mewakili Proyek (Owner – UIP) hanya defect during warantee Period dan pending
kontraktual yang harus diselesaikan sesuai kontrak.
e) Serah Terima Proyek dari Manajemen PLN kepada Pengelola Asset
Serah Terima Proyek (STP) dilakukan dari Manajemen PLN kepada pengelola
Asset setelah seluruh kewajiban secara kontraktual dan perhitungan nilai asset
telah ditetapkan oleh Manajemen PLN. Dalam kenyataannya Srah Terima Proyek
(STP) dilakukan segera setelah FAC diterbitkan .
Pengelola Asset selanjutnya bertanggung jawab sepenuhnya dalam mengeloa
Asset yang diserahkan dan pembiayaan Operation dan Maintenance (O&M)
direncanakan dan direalisasikan .

8. Penutup :

Kami yakin , apabila pelaksanaan Manajemen Supervisi Konstruksi di Lapangan


dilaksanakan dengan baik, maka pelaksanaan Proyek akan berjalan success dan
diharapkan “ BMW” dapat dibawa pulang.

Pengawas di Lapangan tidak boleh segan segan dan wajib secara proffesional berani
menerbitkan teguran baik lisan atau tertulis kepada Kontraktor, apabila Pelaksanaan
Pekerjaan menyimpang spesifikasi dan atau Garmbar yang telah disetujui sesuai
kontrak, karena hal ini merupakan dasar pegangan Tim Supervisi secara Legal di
kemudian hari.

Spirit : Harus mengorangkan orang di lingkungan kerja merupakan modal dasar


kelancaran pelaksanaan Proyek.

Setiap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar proyek harus ada tindak lanjut
korektifnya , walaupun tidak langsung tuntas akan tetapi dengan koordinasi dengan
stakesholder terkait secara bertahap dapat dipastikan permasalahan dapat diselesaikan

Memperhatikan serta dengan melibatkan lingkungan sepanjang memenuhi kaedah


regulasi yang berlaku diperlukan karena secara tidak langsung akan mempenguhi
kelancaran proyek

66
Untuk menghadapi pelaksanaan proyek FTP 2 (35.000 MW) kedepan, langkah korektif
dan perbaikan perbaikan perlu dilakukan agar pelaksanaan proyek kedepan dapat
berjalan lebih baik .

Semoga pembekalan melalui materi yang disusun tersbut dapat bermanfaat bagi kita
semua, yang terkait dengan pelaksanaan Konstruksi di lapangan

67