Anda di halaman 1dari 10

MODUL PANDUAN PRAKTIKUM

KEPERAWATAN MATERNITAS

PENYUSUN:

1. Atikah Pustikasari, SKM, MKM


2. Ns. Helena Golang, M.Kep. Sp.Kep. An

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS MH THAMRIN
TAHUN 2014

KATA PENGANTAR

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 1


Puji syukur, penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-
Nyalah penulis mampu menyusun modul praktikum Keperawatan Maternitas. Modul
ini disusun sebagai salah satu media pembelajaran mata ajar keperawatan
Keperawatan Maternitas.

Penyusunan buku ajar ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu
pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada
semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan. Semoga segala
bantuan dan kebaikan, menjadi amal sholeh yang akan mendapat balasan yang
lebih baik dari Allah SWT.

Penulis juga menyadari buku ajar ini masih belum sempurna, dengan kerendahan
hati penulis sangat mengharapkan masukan, saran dan kritik yang membangun dari
berbagai fihak terutama dari Senior dan sejawat keperawatan demi perbaikan buku
ajar ini. Penulis berharap semoga modul ini dapat memberikan manfaat positif demi
perkembangan keperawatan. Akhir kata penulis memohon kepada Allah, SWT agar
selalu mendapatkan petunjuk dan ridoNya, serta selalu berada di jalanNya.

Jakarta, April 2014


Penulis

DAFTAR ISI

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 2


HAL

1. Kata Pengantar………………………………………………………………
2. Tujuan Pembelajaran……………………………………………………….
3. Pokok Bahasan……………………………………………………………..
4. Materi…………………………………………………………………………
5. Daftar Pustaka……………………………………………………………….

as
MANAJEMEN NYERI PERSALINAN KALA 1

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 3


A. TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan Umum: Mahasiswa mampu memberi asuhan keperawatan Melaksanakan
Tindakan Manajemen Nyeri Persalinan Kala 1
Tujuan Khusus: Mahasiswa mampu
1. menjelaskan pengertian pemeriksaan ante natal care.
2. memahami tujuan pemeriksaan ante natal care..
3. memahami tentang kebijakan pemeriksaan ante natal care..
4. memahami tentang pemeriksaan ante natal care..
5. mengetahui dampak ibu hamil tidak pemeriksaan ante natal care.
6. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi..

B. POKOK BAHASAN
1. Pengertian Pemeriksaan Ante Natal Care
2. Tujuan Ante Natal Care
3. Kebijakan Program
4. Kriteria Peraturan ANC
5. Pemeriksaan ANC
6. Dampak Ibu Hamil Tidak ANC
7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

C. MATERI

Pengertian

Tujuan

1.Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan


tumbuh kembang bayi.
2.Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu
dan bayi.
3.Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum,
kebidanan dan pembedahan.

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 4


4.Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu
maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5.Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
eksklusif.
6.Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi
agar dapat tumbuh kembang secara normal.

Kebijakam Program

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan (Saifudin,


2006), yaitu:
1. Satu kali trimester pertama
2. Satu kali trimester kedua
3. Dua kali trimester ketiga.

Kriteria Peraturan ANC

Pemeriksaan kehamilan di lakukan berulang-ulang dengan ketentuan sebagai


berikut :
1. Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya
terlambat satu bulan.
2. Periksa ulang 1 x sebelum sampai kehamilan 7 bulan.
3.Periksa ulang 2 x sebulan sampai kehamilan 9 bulan.
4. Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan
5. Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, ibu hamil secara


ideal melaksanakan perawatan kehamilan maksimal 13 sampai 15 kali. Dan
minimal 4 kali, yaitu l kali pada trimester 1, 1 kali pada trimester II dan 2 kali
pada trimister III. Namun jika terdapat kelainan dalam kehamilannya, maka
frekuensi pemeriksaan di sesuaikan menurut kebutuhan masing- masing.

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 5


Sehingga dapat disimpulkan bahwa dikatakan teratur jika ibu hamil melakukan
pemeriksaan kehamilan ≥4 kali kunjungan, kurang teratur : pemeriksaan
kehamilan 2-3 kali kunjungan dan tidak teratur jika ibu hamil hanya melakukan
pemeriksaan kehamilan < 2 kali kunjungan (WHO, 2006).

Pelayanan ANC
a.Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi
setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan
pemantauan selama kehamilannya (Saifudin, 2006).
b. Pemeriksa harus dapat mengenali perubahan yang mungkin terjadi,
sehingga kelainan yang ada dapat dikenali lebih dini. Ibu diberi tahu tentang
kehamilannya, perencanaan tempat bersalin, juga perawatan bayi dan
menyusui.
c. Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-
komponen (Saifudin, 2006) sebagai berikut:
1. Informasi yang dapat diberikan
a) Kegiatan fisik dapat dilakukan dalam batas normal.
b) Kebersihan pribadi khususnya daerah genitalia harus lebih dijaga
karena selama kehamilan terjadi peningkatan sekret vagina.
c) Pemilihan makanan sebaiknya yang bergizi dan tinggi serat.
d) Pemakian obat harus dikonsultasikan dahulu dengan dokter atau
tenaga medis lainnya.
e) Wanita perokok atau peminum alkohol harus menghentikan
kebiasaannya. Suami perlu diberi pengertian tentang keadaan istrinya
yang sedang hamil.

2. Anamnesis
a) Pada wanita dengan haid terlambat dan diduga hamil. Ditanyakan hari

pertama haid terakhir (HPHT). Taksiran partus dapat ditentukan


bila HPHT diketahui dan siklus haidnya teratur + 28 hari dengan
menggunakan rumus Naegele.

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 6


b) Bila ibu lupa HPHT, tanyakan tentang hal lain seperti gerakan janin. Untuk
primigravida gerakan janin terasa pada kehamilan 18 minggu, sedangkan
multigravida 16 minggu. Nausea biasanya hilang pada kehamilannya 12-
14 mingggu.
c) Tanyakan riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya serta
berat bayi yang pernah dilahirkan. Demikian pula riwayat penyakit yang
pernah diderita seperti penyakit jantung, paru, ginjal, diabetes melitus.
Selain itu ditanyakan riwayat menstruasi, kesehatan, keluarga, sosial,
obstetri, kontrasepsi, dan faktor risiko yang mungkin ada pada ibu.

3. Pemeriksaan umum
Pada ibu hamil yang datang pertama kali lakukan penilaian keadaan
umum, status gizi dan tanda vital. Pada mata dinilai ada tidaknya
konjungtiva pucat, sklera ikterik, edema kelopak mata, dan kloasma
gravidarum. Periksa gigi untuk melihat adanya infeksi lokal. Periksa pula
jantung, paru, mammae, abdomen, anggota gerak secara lengkap.
4.Pemeriksaan Obstetri
Terdiri dari pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam. Sebelum
pemeriksaan kosongkan kandung kemih. Kemudian ibu diminta berbaring
terlentang dan pemeriksaan dilakukan di sisi kanan ibu.

5. Pemeriksaan luar
a) Lihat apakah uterus berkontraksi atau tidak. Bila berkontraksi, harus
ditunggu sampai dinding perut lemas agar dapat diperiksa dengan teliti.
Agar tidak terjadi kontraksi dinding perut akibat perbedaan suhu dengan
tangan pemeriksa, sebelum palpasi kedua tangan pemeriksa digosokkan
dahulu.
b) Cara pemeriksaan yang umum digunakan cara Leopold yang dibagi
dalam 4 tahap. Pada pemeriksaan Leopold I, II, dan III pemeriksa
menghadap ke arah muka ibu, sedangkan pada Leopold IV ke arah kaki.
Pemeriksaan Leopold I untuk menentukan tinggi fundus uteri, sehingga
usia kehamilan dapat diketahui. Selain secara anatomi, tinggi fundus uteri
dapat ditentukan dengan pita pengukur. Bandingkan usia kehamilan yang
didapat dengan hari pertama haid terakhir. Selain itu, tentukan pula
bagian janin pada fundus uteri: Kepala teraba sebagai benda keras dan
bulat, sedangkan bokong lunak dan tidak bulat.
c) Dengan pemeriksaan Leopold II ditentukan batas samping uterus dan
posisi punggung pada bayi letak memanjang. Pada letak lintang
ditentukan kepala. Pemeriksaan Leopold III menentukan bagian janin
yang berada di bawah.
d) Leopold IV selain menentukan bagian janin yang berada di bawah, juga
bagian kepala yang telah masuk pintu atas panggul (PAP). Bila kepala
belum masuk PAP teraba balotemen kepala.
e) Dengarkan DJJ pada daerah punggung janin dengan stetoskop
monoaural atau doppler. Dengan stetoskop monoaural BJJ terdengar

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 7


pada kehamilan 18-20 minggu, sedangkan dengan Doppler terdengar
pada kehamilan 12 minggu.
f) Dari pemeriksaan luar diperoleh data berupa usia kehamilan, letak janin,
persentase janin, kondisi janin, serta taksiran berat janin.
g) Taksiran berat janin ditentukan berdasarkan rumus Johnson Toshack.
Perhitungan penting sebagai pertimbangan memutuskan rencana
persalinan pervaginam secara spontan. Rumus tersebut:
h) Taksiran Berat Janin (TBJ) = (Tinggi fundus uteri (dalam cm) – N) X 155.
N = 13 bila kepala belum melewati PAP
N = 12 bila kepala masih berada di atas spina iskiadika
N = 11 bila kepala masih berada di bawah spina iskiadika.

6. Pemeriksaan dalam
a) Siapkan ibu dalam posisi-litotomi lalu bersihkan daerah vulva dan
perineum dengan larutan antiseptik. Inspeksi vulva dan vagina apakah
terdapat luka, varises, radang, atau tumor. Selanjutnya lakukan
pemeriksaan inspekulo. Lihat ukuran dan warna porsio, dinding, dan
sekret vagina. Lakukan pemeriksaan colok vagina dengan memasukan
telunjuk dan jari tengah. Raba adanya tumor atau pembesaran kelenjar
di liang vagina. Periksa adanya massa di adneksa dan parametrium.
Perhatikan letak, bentuk, dan ukuran uterus serta periksa konsistensi,
arah, panjang, porsio, dan pembukaan servik. Pemeriksaan dalam ini
harus dilakukan dengan cara palpasi bimanual.
b) Ukuran uterus wanita yang tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam.
Pada kehamilan 8 minggu sebesar telur bebek, 12 minggu sebesar telur
angsa, dan 16 minggu sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa.

7. Pemeriksaan panggul
Lakukan penilaian akomodasi panggul bila usia kehamilan 36 minggu
karena jaringan dalam rongga panggul lebih lunak, sehingga tidak
menimbulkan rasa sakit. Masukkan telunjuk dan jari tengah ke dalam liang
vagina. Arahkan ujung kedua jari ke promontorium, coba untuk
merabanya. Bila teraba, tentukan panjang konjugata diagonalis. Dengan
ujung jari menelusuri linea inominata kiri dan kanan sejauh mungkin,
tentukan bagian yang teraba. Raba lengkung sakrum dan tentukan
apakah spina iskiadika kiri dan kanan menonjol ke dalam. Raba dinding
pelvik, apakah luruh atau konvergen ke bawah dan tentukan panjang
distansia interspinarum. Arahkan bagian palmar jari-jari tangan ke dalam
simfisis dan tentukan besar sudut yang dibentuk antara os pubis kiri dan
kanan.

8. Pemeriksaan laboratorium
Pada kunjungan pertama diperiksa kadar hemoglobin darah,
hematokrit, dan hitung leukosit. Dari urin diperiksa beta-hCG, protein, dan
glukosa.

Dampak Ibu Hamil Tidak ANC

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 8


1. Meningkatnya angka mortalitas dan morbilitas ibu
2. Tidak terdeteksinya kelainan-kelainan kehamilan
3. Kelainan fisik yang terjadi pada saat persalinan tidak dapat dideteksi
secara dini.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

1.Faktor internal
a. Paritas
Ibu yang pernah melahirkan mempunyai pengalaman tentang
ANC, sehingga dari pengalaman yang terdahulu kembali dilakukan
untuk menjaga kesehatan kehamilannya.
b. Usia
Semakin cukup umur, tingkat kematangan seseorang akan lebih
di percaya daripada orang yang belum cukup tinggi kedewasaanya,
jika kematangan usia seseorang cukup tinggi maka pola berfikir
seseorang akan lebih dewasa. Ibu yang mempunyai usia produktif
akan lebih berpikir secara rasional dan matang tentang pentingnya
melakukan pemeriksaan kehamilan.

2. Faktor eksternal
a. Pengetahuan
b. Sikap
c. Ekonomi
d. Sosial Budaya
e. Geografis
f. Informasi
g. Dukungan

D. DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2008. Panduan Pelayanan Antenatal. Jakarta : Depkes RI

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 9


Saifudin. 2005. Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Yogyakarta : Yayasan Bina Pustaka Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

WHO. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal. Jakarta : Media


Aesclapius Press

Modul Pratikum Keperawatan Maternitas Prodi D III Keperawatan UMHTPage 10