Anda di halaman 1dari 20

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih
merupakan masalah kesehatan yang menonjol, terutama pada anak. Penyakit ini
pada anak merupakan penyebab kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas)
yang tinggi. Angka kematian ISPA di negara maju berkisar antara 10 -15 %,
sedangkan di negara berkembang lebih besar lagi. Di Indonesia angka kematian
ISPA diperkirakan mencapai 20 %. Hingga saat ini salah satu penyakit yang
banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA. (Infeksi Saluran Pernapasan
Akut). ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena
menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4
kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3 - 6 episode ISPA
setiap tahunnya. 40 % - 60 % dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit
ISPA (Anonim, 2009).
Menurut riset kesehatan dasar (Riskesdas), tahun 2007-2011 sekitar 18
Juta penduduk dilaporkan memiliki prevalensi penyakit ini. ISPA dapat menimpa
semua kelompok umur karena faktor polusi udara dalam ruangan, polusi
luarruangan, peningkatan suhu bumi dan kelembaban. Penyakit ini ditandai
dengan batuk-batuk, kesulitan bernapas yang berujung pada kematian.Menurut
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan,HM. Subuh
saat acara diskusi di Jakarta mengatakan bahwa “ ISPA berbahaya apalagi jika
sudah pneumonia akan sangat sulit ditolong. Namun, penyakit ini tidak dianggap
serius dan cenderung diabaikan oleh masyarakat ” (Kompas.com, 2012).

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa saja konsep dasar penyakit ISPA?
2) Apa konsep dasar Asuhan Keperawatan pada penyakit ISPA?

1
1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui konsep dasar penyakit ISPA yang berhubungan dengan
definisi, etiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, patofiilogi, WOC,
pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan.
2) Untuk mengetahui konsep dasar Asuhan Keperawatan penyakit ISPA

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Penyakit


2.1.1 Definisi
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan
Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran
pernapasan bagian bawah ISPA adalah infeksi saluran pernapasan
yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran
pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru
(alveoli), beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang
telinga tengah dan selaput paru. Sebagian besar dari infeksi saluran
pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk, pilek dan tidak
memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak
akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan
antibiotik dapat mengakibat kematian.
ISPA merupakan kepanjangan dari Infeksi Saluran
Pernafasan Akut dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah
dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas, Jawa Barat,
Istilah ini merupakan padanan istilah bahasa inggris yakni Acute
Respiratory Infections (ARI). ISPA adalah penyakit yang menyerang
salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung
(saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk adneksanya,
seperti sinus, rongga, telinga tengah dan pleura (Aminudin, 2010).
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses
infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikro
organisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari
saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli
(saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga
telinga tenga dan pleura (Anonim, 2008)

3
Penderita ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok
umur 1-4 tahun, frekuensi serangan berulang 2 kali atau lebih.
Derajat ISPA lebih banyak ditemukan dari pada pneumonia. Balita
adalah anak dengan usia dibawa 5 tahun dengan karakteristik
pertubuhan yakni pertumbuhan cepat pada usia 0-1 tahun dimana
umur 5 bulan BB naik 2x BB lahir dan 3x BB lahir pada umur 1
tahun dan menjadi 4x pada umur 2 tahun. Pertumbuhan mulai lambat
pada masa pra sekolah kenaikan BB kurang lebih 2kg/tahun,
kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir (Soetjiningsih, 2011).
Penyebab ISPA terdiri dari 300 jenis bakteri, virus dan
rikcetsia.Penularannya melalui kontak langsung dengan penderita
atau melaluiudara pernapasan. Gejala umumnya adalah batuk,
kesulitan bernafas, sakittenggorokan, pilek, sakit telinga, dan demam
(Depkes RI, 2006). Salah satu faktor yang mempengaruhi ISPA
adalah defisiensi Vitamin A.
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) yang beradaptasi
dari bahas inggris acute respiratory infection (ARI) mempunyai
pengertian sebagai berikut
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme
kedalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimblkan
gejala penyakit
2. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung
hingga alveoli beserta organ secara anatomis mencakup pernfasan
bagian atas.
Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari.
Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun
untuk beberapa penyakit yang digolongkan ISPA. Proses ini bisa
berlangsung dari 14 hari, infeksi saluran nafas adalah penuruanan
kemampuan pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi
organisme asing.

4
2.1.2 Etiologi
Menurut Vietha ( 2009 ), etiologi ISPA adalah lebih dari 200
jenis bakteri, virus dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain genus
streptococus, Stafilococus, hemafilus, bordetella, hokinebacterium.
Virus penyebabnya antara lain golongan mikrovirus, adnovirus, dan
virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA di influensa yang di
udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan
bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri dan virus
tersebut menyerang anak – anak di bawah usia 2 tahun yang
kecepatan tubuhnya lemah atau belum sempurna. Peralihan musim
kemarau ke musim hujan juga menumbulkan resiko serangan ISPA.
Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontrubusi terhadap
kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan,
status gizi kurang, dan buruknya senetasi lingkungan.
1. ISPA atas : Rinovirus, coronavirus, adenovirus, enterovirus, (
virus utama ).
2. ISPA bawah : Parainfluenza, 123 coronavirus, adenovirus ( Virus
Utama ).
3. Bakteri utama : Steptococus, pneumonia, hemapholus, influenza,
staphylococus aureus.
4. Pada neonotus dan bayi muda : Chalmedia tachomatis.
5. Pada anak usia sekolah : Mycoplasma pneumonia.

Infeksi saluran perafasan akut merupakan kelompok penyakit


yang komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai
etiologi. Kebanyakan infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh
virus dan mikroplasma, untuk golongan virus penyebab ISPA antara
lain golongan miksovirus ( termasuk di dalamnya virus para
influenza ) merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan,
bronkiokitis, dan penyakit demam saluran nafas bagian atas, untuk

5
virus influenza bukan penyebab terbesar terjadinya sindroma saluran
pernafasan kecuali hanya epidemi – epidemi saja. Pada bayi dan
anak, virus – virus merupakan terjadinya lebih banyak penyakit
saluran nafas bagian atas dari pada saluran nafas bagian bawah. (
Fuad & Ahmad, 2008 ).

2.1.3 Klasifikasi
Menurut Depkes ( 2002 ), klasifikasi dari ISPA adalah :
1) Ringan ( buka pneumonia )
Batuk tanpa pernafasan cepat / kurang dari 40 kali /
menit, hidung tersumbat / berair, tenggorokan merah, telingan
berair.
2) Sedang ( pneumonia )
Batuk dan nafas cepat tanpa stridor, gendang telinga
merah, dari telinga keluar cairan kurang dari 2 minggu.
Faringitis purulen dengan pembesaran kelenjar limfe yang
nyeri tekan ( adentis servikal ).
3) Berat ( pneumonia )
Batuk dengan nafas berat, cepat dan stridor, membran
keabuan di taring, kejang, apnea, dehidrasi berat / tidur terus,
tidak ada sianosis.
4) Sangat Berat
Batuk dengan nafas berat, cepat, stridor, dan sianosis
serta tidak minum.

6
2.1.4 Manifestasi Klinis
Menurut Vietha ( 2009 ), tanda dan gejala dari ISPA adalah :
1) Pilek biasa.
2) Keluar sekret cair dan jernih dari hidung.
3) Kadang bersi – bersin.
4) Sakit tenggorokan.
5) Batuk.
6) Sakit kepala.
7) Sekret menjadi kental.
8) Demam.
9) Neusea.
10) Muntah.
11) Anoreksia.

Sebagian besar anak dengan infeksi saluran pernafasan


bagian atas memberikan gejala yang sangat penting yaitu batuk.
Infeksi saluran nafas bagian bawah memberikan beberapa tanda
lainnya seperti nafas yang cepat dan retratesi dada. Selain batuk
gejala ISPA pada anak juga dapat dikenali yaitu flu, demam, dan
suhu tubuh anak meningkat lebih dari 38,5 ○C dan disetai sesak
nafas.
Menurut derajat keparahannya, ISPA dapat dibagi menjadi 3
golongan yaitu : ISPA ringan ( bukan pneumonia ), ISPA sedang (
pneumonia ) dan ISPA berat ( pneumonia berat ). Kusus untuk bayi
di bawah 2 bulan, hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan ( tidak
ada ISPA sedang ). Batasan ISPA berat untuk bayi kurang dari 2
bulan adalah bik frekuensi nafasnya sepat ( 60 kali / menit ) atau
adanya tarikan dinding dada yang kuat. Pada dasarnya ISPA ringan
dapat berkembang menjadi ISPA sedang / ISPA berat jika keadaan
memungkinkan misalnya pasien kurang mendapat perawatan / daya

7
tahan tubuh pasien sangat kurang. Gejala ISPA ringan dapat dengan
mudah diketahui orang awam sedangkan ISPA sedang dan berat
memerlukan beberapa pengamatan sederhana ( Yasir, 2009 ).

2.1.5 Patofisiologi
Masuknya kuman atau virus ke dalam tubuh melalui sistem
pernafasan mengakibatkan terjadinya reaksi antigen dan antibody pada
salah satu tempat tertentu di saluran nafas bagian atas. Reaksi tersebut
berupa reaksi radang, sehingga banyak sekali dihasilkannya mukus
seteret, dari reaksi radang tersebut akan merangsang interleukin 1 yang
berupa pengeluaran mediator kima berupa prostaglandin, hal tersebut
akan menggeser sel point pada hipotalamus posterior yang
mengakibatkan tubuh menggigil dan demam. Reaksi tersebut disebut
dengan comoon cold. Respon batuk akan muncul seiring dengan
terangsangnya villi – villi saluran pernafasan akibat adanya mucus.(
Khaidirmuhaj, 2008 )

Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi menjadi 3 tahap yaitu :


1) Tahap prepatogenisis : penyebab ada, tetapi belum menunjukan
reaksi apa- apa.
2) Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa
tubuh menjadi lemah apabila kedaan gizi dan daya tahan
sebelumnya rendah.
3) Tahap dini penyakit : Mulai dari munculnya gejala penyakit dibagi
menjadi 4 yaitu dapat tumbuh sempurna, sembuh dengan
atelektatis, menjadi teronis dengan meninggal akibat pneumonia (
Vietha, 2009 ).

8
2.1.6 Pathway/WOC

9
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan kultur/ biakan kuman (swab); hasil yang didapatkan
adalah biakan kuman (+) sesuai dengan jenis kuman.
2) Pemeriksaan hitung darah (deferential count); laju endap darah
meningkat disertai dengan adanya leukositosis dan bisa juga
disertai dengan adanya thrombositopenia.
3) Pemeriksaan foto thoraks jika diperlukan (Benny, 2010).

2.1.8 Komplikasi
ISPA ( saluran pernafasan akut sebenarnya merupakan self
limited disease yang sembuh sendiri dalam 5 – 6 hari jika tidak terjadi
invasi kuman lain, tetapi penyakit ISPA yang tidak mendapatkan
pengobatan dan perawatan yang baik dapat menimbulkan penyakit
seperti : semusitis paranosal, penutuban tuba eustachii, lanyingitis,
tracheitis, bronchtis, dan brhonco pneumonia dan berlanjut pada
kematian karena danya sepsis yang meluas ( Whaley and Wong, 2000
).

2.1.9 Penatalaksanaan
Menurut Semltzer ( 2001 ), penatalaksanaan dari ISPA adalah :
1) Medis.
a. Diet cair dan lunak selama tahap akut.
b. Untuk mengontrol infeksi, memulihkan kondisi mukos yang
antiboitik, misal amoxilin, ampixilin.
c. Antistetik topikal sepertilidokain, orabase atau diklorin
memberikan tindakan peredaan nyeri oral.
2) Keperawatan.
a. Penyuluhan pada pasien tentang cara memutus infeksi.
b. Meningkatkan masukan cairan.
c. Menginstruksikan pada pasien untuk meningkatkan drainase
seperti antalasi uap.

10
2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
Menurut Whaley and Wong ( 2000 ), fokus pengkajian dari ISPA
sebagai berikut :
1) Keluhan utama
Biasanya yang dikeluhkan pertama klien adalah mengeluh demam.
2) Riwayat penyakit sekarang
Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit
kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun,
batuk, pilek dan sakit tenggorokan.
3) Riwayat penyakit dahulu
apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya
sekarang.
4) Riwayat penyakit keluarga
adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti
penyakit klien
5) Riwayat social
lingkungan tempat tinggal klien

Pengkajian dalam ISPA meliputi :

B1 (Breath)

1) Inspeksi
a. Membran mukosa hidung – faring tampak kemerahan
b. Tansil tampak kemerahan dan edema
c. Tampak baluk tidak produktif.
d. Tidak ada jaringan parat pada leher.
e. Tidak tampak penggunaan otot-otot pernapasan tambahan
f. Pernapasan cuping hidung

11
2) Palpasi
a. Adanya demam
b. Teraba adanya pembesaran kelenjarlimfe pada daerah leher /
nyeri tekan pada nodus limfe servikalis.
c. Tidak teraba adanya pembesaran ke;enjar limfoid.
3) Perkusi
Suara paru normal ( resonansi ).

4) Auskaltasi
Suara napas vasikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi
paru.

B2 (Blood) : kardiovaskuler Hipertermi


B3 (Brain) : penginderaan Pupil isokhor, biasanya keluar cairan
pada telinga, terjadi gangguan penciuman.
B4 (Bladder) : perkemihan Tidak ada kelainan
B5 (Bowel) : pencernaan Nafsu makan menurun, porsi makan tidak
habis Minum sedikit, nyeri telan pada tenggorokan
B6 (Bone) : Warna kulit kemerahan (Benny, 2010)

2.2.2 Diagnosa
1) Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme yang
mengakibatkan terjadinya infeksi pada hidung dan tenggorokan
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna
makanan tubuh berdasarkan anoreksia.
3) Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil.

12
2.2.3 Intervensi Keperawatan
(NANDA, 2007 : 180-182 )

Asuhan
No Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Hipertermi b.d Tujuan : Suhu tubuh 1. Observasi tanda – 1. pemantauan tanda
proses infeksi normal berkisar tanda vital. vital yang teratur
(hidung, dan antara 36 ○C – 37 ○C dapat menentukan
tenggorokan ) Kriteria hasil : Suhu perkembangan
tubuh dalam rentang perawatan
normal, selanjutnya.
1. nadi ( 70 – 110 x 2. Anjurkan pada 2. Dg memberikan
/ menit ) klien ( keluarga kompres maka
2. RR ( 15 – 30 x / untuk melakuakan akan terjadi proses
menit ) dalam kompres dingin air kondisi /
rentan normal biasa / air keran perpindahan panas
3. tidak ada pada kepala / axial. dengan bahan
perubahan warna perantara.
kulit 3. Anjurkan pd klien 3. proses hilangnya
4. tidak ada pusing utk menggunakan panas akan
serta merasa pakaian yg tipis & terhilangi untuk
nyaman. yg dapat menyerap pakaian yang tebal
keringat seperti dan tidak akan
terbuat dari katun. menyerap keringat.
4. Atur sirkulasi 4. penyediaan udara
udara. bersih.
5. Anjurkan klien 5. kebutuhan cairan
untuk minum meningkat karena
banyak ± 2000 – penguapan tubuh
2500 ml/ hari. meningkat.
6. Anjurkan klien 6. tirah baring untuk

13
untuk istirahat di mengurangi
tempat tidur metaboloisme dan
selama fase febris panas.
penyakit.
7. Kolaborasi dg. 7. untuk mengontrol
dokter dlm infeksi pernafasan,
memberikan penurunan panas.
therapy obat
antinicrobial
antipiresika.
8. Monitor input dan 8. keseimbangan
output. antara input dan
output.
9. Monitor IWL. 9. mengetahui jumlah
cairan yang hilang.
10. Monitor penurunan 10. mengetahui tingkat
kesadaran. kesadaran klien.

2 Ketidakseimba Tujuan : tidak terjadi 1. Kaji kebiasaan 1. berguna untuk


ngan nutrisi ketidakseimbangan diet, input – output menentukan
kurang dari nutrisi kurang dari dan timbang BB kebutuhan kalori,
kebutuhan kebutuhan tiap hari. menyusun
tubuh b.d Kriteria hasil : kebutuhan BB dan
anoreksia. 1. Klien dapat evaluasi
mencapai BB yg keadekuatan
direncanakan rencana nutrisi.
mengarah kepada 2. Berikan makan 2. untuk menjamin

14
BB normal. porsi kecil tapi nutrisi adekuat /
2. klien dapat sering dan dalam meningkatkan
mentoleransi diet keadaan hangat. kalori total.
yang dianjurkan. 3. Tingkat tirah 3. untuk mengurangi
tidak menunjukan baring. kebutuhan
tanda malnutrisi. metabolic.
4. Kolaborasi 4. : metode makan
konsultasi ahli gizi dan kebutuhan
untuk memberikan kalori didasarkan
diet sesuai pada situasi /
kebutuhan klien. kebutuhan individu
untuk memberikan
nutrisi maksimal.
5. memenuhi
5. Anjurkan klien utk kebutuhan nutrient
meningkatkan pada klien.
protein dan vit C. 6. memotivasi
6. Motivasi klien kliennya agar mau
untuk makan demi makan.
kesembuhan dan
penyakitnya. 7. memenuhi
7. Anjurkan pada kebutuhan zat besi
klien untuk pada klien.
meningkatkan
intake Fe. 8. mengetahhui
8. Monitor jumlah jumlah nutrisi yang
nutrisi dan dikonsumsi oleh
kandungan kalori. klien.
9. memberikan rasa

15
9. Menganjurkan nyaman pada klien
mnjga kebersihan dan mengurangi
mulut ( dengan bau mulut.
gosok gigi ).

( DONGOES, 2000 : 205 )

3 Nyeri akut b.d Tujuan : nyeri 1. Kaji keluhan nyeri, 1. identifikasi


inflamasi pada brkurang/ terkontrol. catat intensitasnya karakteristik nyeri
membran mukosa Kriteria hasil : ( adanya skala 0 – dan faktor yang
faring dan tonsil. 1. mampu 10 ) faktor berhubungan
mengontrol nyeri pemburuk atau merupakan suatu
2. melaporkan meredakan hal yang sangat
bahwa nyeri lokasinya, lamanya penting untuk
berkurang memilih intervensi
3. klien mampu yang cocok dan
mengenali nyeri, mengevaluasi
klien merasa keefektifan terapi
nyaman. yang diberikan.
2. Anjurkan pasien 2. mengurangi
untuk menghindari bertambah
allergen / iritasi beratnya penyakit.
terhadap debu,
bahan kimia, asap,
rokok, dan
meminimalkan
berbicara bila
suara serak.
3. Anjurkan untuk 3. meningkatkan
kumur air garam. sikulasi pd daerah

16
tenggorokan serta
mengurangi nyeri
tenggorokan.
4. Kolaborasi dalam 4. kortikosikoid
memberikan obat digunakan untuk
susuai indikasi ( mencegah reaksi
steroid oral, IV dan allergen /
inhalasi ). menghambat
pengeluaran
vitamin dalam
inflamasi
pernafasan.
5. Gunakan teknik 5. dengan komunikasi
komunikasi terapiutik maka
terapiutik maka klien akan
klien akan menceritakan
menceritakan penglaman
pengalaman tenntang nyeri.
tentang nyeri.
6. Observasi reaksi 6. agar mengetahui
nonverbal dan tingkat
ketidakmampuan. ketidaknyamanan
klien.
7. Evaluasi 7. untuk
pengalaman nyeri membedakan
masa lalu. pengalaman klien
tentang nyeri.
8. Evaluasi 8. agar klien merasa
pengalaman nyeri nyaman dan rilexs

17
masa lalu. serta mengurangi
rasa nyeri.
9. Tingkatkan 9. menghilangkan
istirahat. rasa nyeri.

18
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi
akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikro organisme
dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai
dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk
jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tenga dan pleura
(Anonim, 2008).
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang
masih merupakan masalah kesehatan yang menonjol, terutama pada anak.
Penyakit ini pada anak merupakan penyebab kesakitan (morbiditas) dan
kematian (mortalitas) yang tinggi.
Beberapa tanda dan gejala dari ISPA adalah :
1) Pilek biasa.
2) Keluar sekret cair dan jernih dari hidung.
3) Kadang bersi – bersin.
4) Sakit tenggorokan.
5) Batuk.
6) Sakit kepala.
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi menjadi 3 tahap yaitu :
1) Tahap prepatogenisis
2) Tahap inkubasi
3) Tahap dini penyakit

3.2 Saran
Semoga makalah sederhana ini dapat menjadi ilmu yang bermanfaat
bagi pembaca. Makalah ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca
terutama perawat dalam membuat asuhan keperawatan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Indonesia Health Profile 2008. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta.
Depkes, 2002. Pedoman Pemberatasan Penyakit ISPA untuk Penanggulangan
Pneumonia Pada Balita. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Dongoes, (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Nanda,(2007-2008). Diagnosa Nanda (NIC dan NOC) disertai dengan Discharge
Planning. Jakarta
Whaley & Wong, (2000). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Edisi 2, Jakarta : EGC
Suzanne, C. Smeltzer. (2001). Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Jakarta : EGC
Vietha, (2009). Pengertian ISPA dan ASKEP. (online) viethanurse.wordpress.com :
diakses 16 desember 2017.

20