Anda di halaman 1dari 37

PROPOSAL KEGIATAN

ROLE PLAY PENERIMAAN TIMBANG TERIMA


PRAKTEK PROFESI MANAJEMEN KEPERAWATAN
DI RUANG PANDAN WANGI RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA
Periode 5 November – 1 Desember 2018

Oleh:

Galih Adhi Wicaksono.,S.kep 131723143053


Arum Rakhmawati.,S.kep 131723143069
Amalia Azmi.,S.kep 131723143071
Wiwin Nur Indah C.,S.kep 131723143072
Ramona Irfan Kadji.,S.kep 131723143074
Yoga Hadi Narendra.,S.kep 131723143075
Bayu Triantoro.,S.kep 131723143076
Clara Agustina.,S.kep 131723143077
Yhunika Nur M.,S.kep 131723143078
Antonia Andasari.,S.kep 131723143079
Yhunika Nur M.,S.kep 131723143080
Syntia Paula Soriton .,S.kep 131723143043

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS FAKULTAS KEPERAWATAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
KATAPENGANTAR

i
Puji syukur atas kehadirat TuhanYang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-
Nya sehingga laporan timbang terima pada praktek profesi manajemen keperawatan
diruang Pandan Wangi RSUD Dr.Soetomo Surabaya telah selesai. Proposal ini dibuat
untuk merencanakan kegiatan dalam pemenuhan kompetensi manajemen keperawatan
dalam penerapan model asuhan keperawatan profesional pada profesi manajemen.
Kami selaku tim penulis menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna,
begitu pula laporan yang kami buat, baik dari isi maupun penulisan. Kritik dan saran
dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan laporan kami selanjutnya.
Kami juga berterimakasih pada pembimbing klinik Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga, pembimbing klinik di RSUD Dr.Soetomo, pasien dan keluarga
serta teman-teman kelompok yang telah membantu dalam proses penyelesaian laporan
timbang terima. Penyusun berharap agar laporan ini dapat memberikan pengetahuan dan
bermanfaat bagi semua calon perawat dan masyarakat pada umumnya.

Surabaya, 8 November 2018

Tim Praktik Manajemen Keperawatan


Ruang Pandan Wangi RSUD Dr.Soetomo, Surabaya

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................................................i
Daftar Isi................................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................................................1
1.1 Rumusan Masalah.....................................................................................................2
1.2 Tujuan.......................................................................................................................3
1.3.1.Tujuan umum.....................................................................................................3
1.3.2.Tujuan khusus....................................................................................................3
1.3 Manfaat.....................................................................................................................3
1.4.1.Bagi klien...........................................................................................................3
1.4.2.Bagi Mahasiswa.................................................................................................3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PengertianTimbang Terima.......................................................................................4
2.2 Tujuan timbang terima..............................................................................................4
2.3 Manfaat timbang terima............................................................................................5
2.4 Prinsip timbang terima..............................................................................................6
2.5 Jenis timbang terima.................................................................................................8
2.6 Langkah Pelaksanaan timbang terima.......................................................................9
2.7 Hambatan timbang terima........................................................................................15
BAB 3 RENCANA KEGIATAN
3.1 Rencana Pelaksanaan...............................................................................................17
3.1 Struktur Pengorganisasian.......................................................................................17
3.2 Metode.....................................................................................................................17
3.3 Media.......................................................................................................................17
3.4 Mekanisme Kegiatan...............................................................................................19
3.5 Evaluasi....................................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................21

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Timbang terima pasien adalah komunikasi perawat dalam melaksanakan asuhan
keperawatan pada pasien. Rushton (2010) mengatakan timbang terima pasien dirancang
sebagai salah satu metode komunikasi yang relevan pada tim perawat setiap pergantian
shift, sebagai petunjuk praktik memberikan informasi mengenai kondisi terkini pasien,
tujuan pengobatan, rencana perawatan serta menentukan prioritas pelayanan
Sedangkan Friesen (2008) menyebutkan timbang terima adalah transfer tentang
informasi (termasuk tanggung jawab dan tanggung gugat) selama perpindahan perawatan
yang berkelanjutan yang mencakup peluang tentang pertanyaan, klarifikasi dan
konfirmasi tentang pasien. Timbang terima akan berjalan dengan lancar jika perawat
dapat berkomunikasi secara efektif.
Komunikasi efektif saat timbang terima yang dilaksanakan dengan baik dapat
membantu mengidentifikasi kesalahan serta memfasilitasi kesinambungan perawatan
pasien. Prinsip komunikasi efektif dalam timbang terima menurut Cahyono (2008) adalah
komunikasi interaktif yang memungkinkan pemberi informasi dan penerima informasi
memperoleh kesempatan untuk saling bertanya, pesan yang disampaikan bersifat terkini
(update) yang berisi tentang perawatan pasien, pengobatan, pelayanan, kondisi serta
perubahan-perubahan yang baru saja dialami dan perlu diantisipasi, terjadi proses
verifikasi informasi yang diterima dengan cara mengulang kembali (read back) setepat
mungkin, ada kesempatan bagi penerima informasi untuk melakukan peninjauan kembali
data historis pasien yang meliputi data keperawatan dan terapi sebelumnya, dan interupsi
harus diminimalkan agar pesan dapat dilakukan seoptimal mungkin tanpa menimbulkan
kesalahan.
Hasil pengumpulan data melalui validasi dan observasi yang dilakukan tanggal 5-6
November 2018 kepada perawat Ruang Pandan Wangi yaitu timbang terima dilaksanakan
3 kali sehari yaitu pada pergantian shift malam ke shift pagi (pukul 07.00), shift pagi ke
shift sore, dan shift sore ke shift malam, akan tetapi pada saat validasi hanya dilakukan
pada hari kerja saja. Timbang terima dilakukan di ruang timbang terima, dihadiri oleh
seluruh perawat yang bertugas. Semua perawat menyatakan telah mengetahui hal-hal
yang harus disampaikan saat timbang terima. Seluruh perawat menyatakan sudah terdapat
buku khusus untuk mencatat hasil laporan timbang terima dan mengetahui yang harus

1
dipersiapkan dalam pelaksanaan timbang terima. Serta mengetahui teknik pelaporan
timbang terima ketika di depan pasien. Perawat juga telah telah mengetahui yang harus
disampaikan saat timbang terima. Sebagian besar perawat mengetahui waktu yang
diperlukan saat validasi ke pasien pada waktu timbang terima, yaitu selama 5-10 menit.
Keseluruhan perawat telah mengetahui cara penyampaian dan persiapan untuk timbang
terima dimulai dengan pembukaan dan pembacaan do’a yang di pimpin oleh wakil kepala
ruangan Pandan Wangi yang kemudian dilanjutkan dengan melaporkan kondisi pasien
pada perawat yang bertugas pada shift berikutnya.
Joint Commission International Patient Safety Goal 2 tahun 2015 menyatakan
perlunya peningkatan komunikasi yang efektif antara petugas kesehatan (JCI 2015). JCI
membutuhkan organisasi kesehatan untuk menerapkan pendekatan standar untuk
komunikasi timbang terima dengan maksud memperkuat komunikasi antara penyedia
layanan kesehatan selama proses timbang terima (Petersen dkk 2013). Peningkatan
komunikasi keperawatan dapat mengurangi kesalahan medis dan membuat perbedaan
positif pada outcomes pasien misalnya kematian yang lebih rendah, kepuasan yang lebih
tinggi, dan readmisi yang lebih rendah. Pelaksanaan alat komunikasi standar yaitu SBAR
sebagai panduan untuk mengkomunikasikan perubahan status pasien (Dingley 2008).
Mengingat pentingnya komunikasi efektif maka kegiatan timbang terima patutlah
untuk dipelajari sebagai kompetensi wajib bagi peserta didik keperawatan. Mahasiswa
perlu untuk mempelajari konsep hand over sekaligus mempraktikanya dalam bentuk role
play keperawatan di ruang perawatan. Berdasarkan hal itu kami mahasiswa praktik
profesi keperawatan manajemen di Ruang Pandan Wangi menyelenggarakan role play
keperawatan timbang terima.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa definisi timbang terima?
1.2.2. Apa tujuan timbang terima?
1.2.3. Apa langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam timbang terima?
1.2.4. Bagaimana prosedur timbang terima?
1.2.5. Bagaimana alur timbang terima?
1.2.6. Apa kriteria evaluasi dalam proses timbang terima?
1.2.7. Bagaimana contoh nyata pelaksanaan proses timbang terima dalam bentuk role
play?
1.3. Tujuan

2
1.3.1. Tujuan umum
Setelah dilakukan timbang terima, maka mahasiswa praktik profesi manajemen dan
perawat Pandan Wangi mampu mengkomunikasikan hasil pelaksanaan asuhan
keperawatan klien dengan baik, sehingga kesinambungan informasi mengenai
keadaan klien dapat dipertahankan.
1.3.2. Tujuan khusus
1.3.2.1. Mengetahui definisi timbang terima pasien.
1.3.2.2. Mengetahui tujuan dilaksanakan timbang terima pasien
1.3.2.3. Mengetahui manfaat dilakasanakan timbang terima pasien
1.3.2.4. Mengetahui prosedur timbang terima
1.3.2.5. Mengetahui alur timbang terima pasien
1.3.2.6. Mengetahui peran perawat dalam timbang terima pasien
1.3.2.7. Mengetahui kriteria evaluasi dalam proses timbang terima pasien
1.3.2.8. Mengetahui simulasi pelaksanaan proses timbang terima dalam bentuk
role play
1.4. Manfaat
1.4.1. Bagi Perawat
1.4.1.1. Meningkatkan kemampuan komunikasi antara perawat.
1.4.1.2. Menjalin hubungan kerjasama dan meningkatkan rasa tanggung jawab
antar perawat. Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap klien yang
berkelanjutan.
1.4.1.3. Perawat dapat mengikuti perkembangan klien secara menyeluruh
1.4.1.4. Tidak terjadi kekeliruan dalam pemberian tindakan keperawatan

1.4.2. Bagi Klien


1.4.2.1. Klien dapat menyampaikan keluhan secara langsung bila ada yang belum
disampaikan sebelumnya
1.4.2.2. Klien mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal.
1.4.2.3. Klien merasa aman karena meningkatna kepercayaan terhadap kinerja
perawat.
1.4.3. Bagi Rumah Sakit
1.4.3.1. Meningkatkan pelayanan keperawatan kepada klien secara menyeluruh.
1.4.3.2. Meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit.
BAB 2
TINJAUAN TEORI

3
2.1. Penerapan Timbang Terima Pasien
2.1.1. Pengertian Timbang Terima
Menurut Nursalam (2011) definisi timbang terima adalah suatu cara dalam
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan keadaan
klien. Timbang terima merupakan kegiatan yang harus dilakukan sebelum pergantian
dinas. Selain laporan antar dinas, dapat disampaikan juga informasi yang berkaitan
dengan rencana kegiatan yang telah atau belum dilaksanakan.
Timbang terima merupakan sistem kompleks yang didasarkan pada
perkembangan sosio-teknologi dan nilai-nilai yang dimiliki perawat dalam
berkomunikasi. Timbang terima dinas berperan penting dalam menjaga
kesinambungan layanan keperawatan selama 24 jam (Kerr, 2002). Menurut
Australian Medical Association/AMA (2006), timbang terima merupakan pengalihan
tanggung jawab profesional dan akuntabilitas untuk beberapa atau semua aspek
perawatan pasien, atau kelompok pasien, kepada orang lain atau kelompok
profesional secara sementara atau permanen.
Timbang terima merupakan komunikasi yang terjadi pada saat perawat
melakukan pergantian dinas, dan memiliki tujuan yang spesifik yaitu
mengomunikasikan informasi tentang keadaan pasien pada asuhan keperawatan
sebelumnya.
2.1.2. Tujuan Timbang Terima
Tujuan utama komunikasi timbang terima adalah untuk memberikan
informasi yang akurat mengenai keperawatan, pengobatan, pelayanan, kondisi
terkini pasien, perubahan yang sedang terjadi, dan perubahan yang dapat
diantisipasi. Informasi harus dijamin akurat agar tidak terjadi kesalahan dalam
proses pemberian pelayanan bagi pasien (Cahyono 2008). Nursalam (2015)
membagi tujuan timbang terima menjadi :
a. Tujuan umum:
Mengkomunikasikan kepada pasien dan menyampaikan informasi yang penting.
b. Tujuan khusus:
1. Menyampaikan kondisi dan keadaan pasien (data fokus).
2. Menyampaikan hal yang sudah atau belum dilakukan dalam asuhan
keperawatan kepada pasien.
3. Menyampaikan hal penting yang harus ditindaklanjuti oleh perawat dinas
berikutnya.
4. Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.
Timbang terima yang terjadi dalam tatanan pelayanan kesehatan termasuk
keperawatan bertujuan untuk mengakurasi informasi, reliabilitas komunikasi dalam
perpindahan informasi yang relevan tentang tugas dan tanggung jawab yang

4
digunakan untuk kesinambungan dalam keselamatan dan keefektifan bekerja,
kondisi terkini pasien, perubahan yang sedang terjadi dan perubahan yang dapat
diantisipasi. Timbang terima yang dilakukan oleh perawat memungkinkan terjadinya
suatu forum diskusi untuk bertukar pendapat dan mengekspresikan perasaan
perawat. (Angood 2007, Lardner 1996, Payne 2008).

2.1.3. Manfaat Timbang Terima


Manfaat timbang terima menurut AHHA (2009) adalah:
1. Peningkatan kualitas asuhan keperawatan yang berkelanjutan. Misalnya,
penyediaan informasi yang tidak akurat atau adanya kesalahan yang dapat
membahayakan kondisi pasien.
2. Selain mentransfer informasi pasien, timbang terima juga merupakan sebuah
kebudayaan atau kebiasaan yang dilakukan oleh perawat. Timbang terima
mengandung unsur-unsur kebudayaan, tradisi, dan kebiasaan. Selain itu,
timbang terima juga sebagai dukungan terhadap teman sejawat dalam
melakukan tindakan asuhan keperawatan selanjutnya.
3. Timbang terima juga memberikan “manfaat katarsis” (upaya untuk melepaskan
beban emosional yang terpendam), karena perawat yang mengalami kelelahan
emosional akibat asuhan keperawatan yang dilakukan bisa diberikan kepada
perawat berikutnya pada pergantian dinasdan tidak dibawa pulang. Dengan kata
lain, proses timbang terima dapat mengurangi kecemasan yang terjadi pada
perawat.
4. Timbang terima memiliki dampak yang positif bagi perawat, yaitu memberikan
motivasi, menggunakan pengalaman dan informasi untuk membantu
perencanaan pada tahap asuhan keperawatan selanjutnya (pelaksanaan asuhan
keperawatan terhadap pasien yang berkesinambungan), meningkatkan
kemampuan komunikasi antar perawat, menjalin suatu hubungan kerja sama dan
bertanggung jawab antar perawat, serta perawat dapat mengikuti perkembangan
pasien secara komprehensif.
5. Selain itu, timbang terima memiliki manfaat bagi pasien diantaranya, pasien
mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal, dan dapat menyampaikan
masalah secara langsung bila ada yang belum terungkap. Bagi rumah sakit,
timbang terima dapat meningkatkan pelayanan keperawatan kepada pasien
secara komprehensif.
Menurut Nursalam (2011) timbang terima memberikan manfaat bagi perawat
dan bagi pasien. Bagi perawat manfaat timbang terima adalah meningkatkan

5
kemampuan komunikasi antar perawat, menjalin hubungan kerjasama dan
bertanggung jawab antar perawat, pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap
pasien yang berkesinambungan, perawat dapat mengikuti perkembangan pasien
secara paripurna. Sedangkan bagi pasien, saat timbang terima pasien dapat
menyampaikan masalah secara langsung bila ada yang belum terungkap.
2.1.4. Prinsip Timbang Terima
Friesen, White dan Byers (2009) memperkenalkan enam standar prinsip
timbang terima pasien, yaitu :
1. Kepemimpinan dalam timbang terima pasien
Semakin luas proses timbang terima (lebih banyak peserta dalam
kegiatan timbang terima), peran pemimpin menjadi sangat penting untuk
mengelola timbang terima pasien di klinis. Pemimpin harus memiliki
pemahaman yang komprehensif dari proses timbang terima pasien dan
perannya sebagai pemimpin. Tindakan segera harus dilakukan oleh pemimpin
pada eskalasi pasien yang memburuk.
2. Pemahaman tentang timbang terima pasien
Mengatur sedemikian rupa agar timbul suatu pemahaman bahwa
timbang terima pasien harus dilaksanakan dan merupakan bagian penting dari
pekerjaan sehari-hari dari perawat dalam merawat pasien. Memastikan bahwa
staf bersedia untuk menghadiri timbang terima pasien yang relevan untuk
mereka. Meninjau jadwal dinas staf klinis untuk memastikan mereka hadir dan
mendukung kegiatan timbang terima pasien. Membuat solusi-solusi inovatif
yang diperlukan untuk memperkuat pentingnya kehadiran staf pada saat
timbang terima pasien.
3. Peserta yang mengikuti timbang terima pasien
Mengidentifikasi dan mengorientasikan peserta, melibatkan mereka
dalam tinjauan berkala tentang proses timbang terima pasien. Mengidentifikasi
staf yang harus hadir, jika memungkinkan pasien dan keluarga harus dilibatkan
dan dimasukkan sebagai peserta dalam kegiatan timbang terima pasien. Dalam
timmultidisiplin, timbang terima pasien harus terstruktur dan memungkinkan
anggota multiprofesi hadir untuk pasiennya yang relevan.
4. Waktu timbang terima pasien
Mengatur waktu yang disepakati, durasi dan frekuensi untuk timbang
terima pasien. Hal ini sangat direkomendasikan, dimana strategi ini
memungkinkan untuk dapat memperkuat ketepatan waktu. Timbang terima
pasien tidak hanya pada pergantian jadwal kerja, tapi setiap kali terjadi
perubahan tanggung jawab misalnya ketika pasien diantar dari bangsal ke

6
tempat lain untuk suatu pemeriksaan. Ketepatan waktu timbang terima sangat
penting untuk memastikan proses perawatan yang berkelanjutan, aman dan
efektif.
5. Tempat timbang terima pasien
Sebaiknya, timbang terima pasien terjadi secara tatap muka dan di sisi
tempat tidur pasien. Jika tidak dapat dilakukan, maka pilihan lain harus
dipertimbangkan untuk memastikan timbang terima pasien berlangsung efektif
dan aman. Untuk komunikasi yang efektif, pastikan bahwa tempat timbang
terima pasien bebas dari gangguan misalnya kebisingan di bangsal secara
umum atau bunyi alat telekomunikasi.
6. Proses timbang terima pasien
a. Standar protokol
Standar protokol harus jelas mengidentifikasi pasien dan peran peserta,
kondisi klinis dari pasien, daftar pengamatan/pencatatan terakhir yang
paling penting, latar belakang yang relevan tentang situasi klinis pasien,
penilaian dan tindakan yang perlu dilakukan.
b. Kondisi pasien memburuk
Pada kondisi pasien memburuk, meningkatkan pengelolaan pasien
secara cepat dan tepat pada penurunan kondisi yang terdeteksi.
c. Informasi kritis lainnya
Prioritaskan informasi penting lainnya, misalnya: tindakan yang luar
biasa, rencana pemindahan pasien, kesehatan kerja dan risiko keselamatan
kerja atau tekanan yang dialami oleh staf.
2.1.5. Jenis Timbang Terima
Menurut Hughes (2008) beberapa jenis timbang terima pasien yang
berhubungan dengan perawat, antara lain:
1. Timbang terima pasien antar dinas
Metode timbang terima pasien antar dinas dapat dilakukan dengan
menggunakan berbagai metode, antara lain secara lisan, catatan tulisan tangan,
dilakukan di samping tempat tidur pasien, melalui telepon atau rekaman,
nonverbal, dapat menggunakan laporan elektronik, cetakan computer atau
memori.
2. Timbang terima pasien antar unit keperawatan
Pasien mungkin akan sering ditransfer antar unit keperawatan selama mereka
tinggal di rumah sakit.
3. Timbang terima pasien antara unit perawatan dengan unit pemeriksaan
diagnostik.

7
Pasien sering dikirim dari unit keperawatan untuk pemeriksaan diagnostik
selama rawat inap. Pengiriman unit keperawatan ke tempat pemeriksaan
diagnostik telah dianggap sebagai kontributor untuk terjadinya kesalahan.
4. Timbang terima pasien antar fasilitas kesehatan
Pengiriman pasien dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas yang lain sering
terjadi antara pengaturan layanan yang berbeda. Pengiriman berlangsung antar
rumah sakit ketika pasien memerlukan tingkat perawatan yang berbeda.
5. Timbang terima pasien dan obat-obatan
Kesalahan pengobatan dianggap peristiwa yang dapat dicegah, masalah tentang
obat-obatan sering terjadi, misalnya saat mentransfer pasien, pergantian dinas,
dan cara pemberitahuan minum obat sebagai faktor yang berkontribusi terhadap
kesalahan pengobatan dalam organisasi perawatan kesehatan.
2.1.6. Macam-macam Timbang Terima
Secara umum terdapat empat jenis timbang terima diantaranya:
1. Timbang terima secara verbal
Scovell (2010) mencatat bahwa perawat lebih cenderung untuk membahas
aspek psikososial keperawatan selama laporan lisan.
2. Rekaman timbang terima
Hopkinson (2002) mengungkapan bahwa rekaman timbang terima dapat
merusak pentingnya dukungan emosional. Hal ini diungkapkan pula oleh Kerr
(2002) bahwa rekaman timbang terima membuat rendahnya tingkat fungsi
pendukung.
3. Bedside timbang terima
Menurut Rush (2012) tahapan bedside timbang terima diantaranya adalah:
a. Persiapan (pasien dan informasi)
b. Timbang terima berupa pelaporan, pengenalan staf masuk, pengamatan, dan
penjelasan kepada pasien.
c. Setelah timbang terima selesai maka tulis di buku catatan pasien.
4. Menurut Caldwell (2012) yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan bedside
timbang terima adalah:
a. Menghindari informasi yang hilang dan memungkinkan staf yang tidak hadir
pada timbang terima untuk mengakses informasi.
b. Perawat mengetahui tentang situasi pasien dan apa saja yang perlu
disampaikan, bagaimana melibatkan pasien, peran penjaga dan anggota
keluarga, bagaimana untuk berbagi informasi sensitif, apa yang tidak dibahas
di depan pasien, dan bagaimana melindungi privasi pasien.
5. Timbang terima secara tertulis
Scovell (2010) timbang terima tertulis diperkirakan dapat mendorong
pendekatan yang lebih formal. Namun, seperti rekaman timbang terima, ada
potensi akan kurangnya kesempatan untuk mengklarifikasi pertanyaan tertentu.
2.1.7. Langkah-langkah Pelaksanaan Timbang Terima

8
Menurut Nursalam (2011) langkah-langkah dalam pelaksanaan timbang terima
adalah:
1. Kedua kelompok dinas dalam keadaan sudah siap.
2. Dinas yang akan menyerahkan dan mengoperkan perlu mempersiapkan hal-hal
apa yang akan disampaikan.
3. Perawat primer menyampaikan kepada penanggung jawab dinas yang selanjutnya
meliputi:
a. Kondisi atau keadaan pasien secara umum.
b. Tindak lanjut untuk dinas yang menerima timbang terima.
c. Rencana kerja untuk dinas yang menerima timbang terima.
d. Penyampaian timbang terima harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-
buru.
e. Perawat primer dan anggota kedua dinas bersama-sama secara langsung
melihat keadaan pasien.
2.1.8. Pelaksanaan Timbang Terima yang Baik dan Benar
Menurut AMA (2006) pelaksanaan timbang terima yang baik dan benar diantaranya:
1. Timbang terima dilakukan pada setiap pergantian dinas dengan waktu yang
cukup panjang agar tidak terburu-buru.
2. Pelaksanaan timbang terima harus dihadiri semua perawat, kecuali dalam keadaan
darurat yang mengancam kehidupan pasien.
3. Perawat yang terlibat dalam pergantian dinas harus diberitahukan untuk
mengetahui informasi dari dinas selanjutnya.
4. Timbang terima umumnya dilakukan di pagi hari, namun timbang terima juga
perlu dilakukan pada setiap pergantian dinas.
5. Timbang terima pada dinas pagi memungkinkan tim untuk membahas penerimaan
pasien rawat inap dan merencanakan apa yang akan dikerjakan.
6. Timbang terima antar dinas, harus dilakukan secara menyeluruh, agar peralihan
ini menjamin perawatan pasien sehingga dapat dipertahankan jika perawat absen
untuk waktu yang lama, misalnya selama akhir pekan atau saat mereka pergi
berlibur.
2.1.9. Pemilihan Tempat untuk Pelaksanaan Timbang Terima
AMA (2006) menyatakan bahwa tempat yang tepat pada saat akan dilakukan
pelaksanaan timbang terima adalah:
1. Idealnya dilakukan di ruang perawat atau nurse station.
2. Tempatnya luas dan besar sehingga memberikan kenyamanan dan
memungkinkan semua staf menghadiri dalam pelaksanaan timbang terima.
3. Bebas dari gangguan sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesulitan
untuk mendengar laporan dan dapat mengakibatkan penerimaan informasi
yang tidak tepat.
4. Terdapat hasil lab, X-ray, informasi klinis lainnya.
2.1.10. Prosedur Timbang Terima

9
Organisasi perawatan pasien, kontinuitas, konsistensi dan keselamatan adalah
fungsi penting dalam bidang praktik keperawatan klinis (Athanasakis 2013). JCI
memperkirakan 80% kematian karena kesalahan medis melibatkan unsur
miskomunikasi (Neese 2015). Jci membutuhkan organisasi kesehatan untuk
menerapkan pendekatan standar untuk komunikasi timbang terima dengan maksud
memperkuat komunikasi antara penyedia layanan kesehatan selama proses timbang
terima (Petersen dkk 2013). Teknik timbang terima yang bisa diterapkan yaitu:
1.1 ISBAR
ISBAR merupakan pendekatan standar untuk komunikasi yang dapat
digunakan dalam situasi apapun. Ini adalah singkatan dari Introduction
(Pendahuluan), Situation (Situasi), Background (Latar Belakang), Assessment
(Pengkajian) dan Recomendation (Rekomendasi).
SBAR berasal dari Angkatan Laut Amerika Serikat untuk digunakan
dalam kapal selam nuklir. Ini juga telah digunakan dalam industri penerbangan.
Karena membantu transfer informasi penting dalam waktu yang terbatas, SBAR
telah diadopsi oleh banyak organisasi kesehatan di seluruh dunia. Seperti
beberapa pengguna lain dari kerangka HNEHealth menambahkan "I" untuk
berdiri untuk pengenalan untuk memastikan bahwa: orang berbicara
mengidentifikasi diri mereka; orang berbicara menegaskan identitas orang yang
mereka ajak bicara; dan orang memulai percakapan menegaskan bahwa mereka
memiliki perhatian terhadap orang yang mereka ajak bicara.
Karena berfokus pada masalah yang dihadapi, itu berarti bahwa orang-
orang dari disiplin yang berbeda dan senioritas akan berbicara bahasa yang
sama. Hal ini memungkinkan komunikasi yang lebih efektif. ISBAR
menciptakan model mental bersama untuk transfer yang relevan, faktual,
informasi ringkas antara tim kesehatan. Ini merupakan dasar hirarki dan
menghilangkan perbedaan kekuatan yang dapat menghambat arus informasi,
yaitu:
1. Dokter ke dokter,
2. Perawat ke perawat,
3. Perawat ke dokter,
4. Untuk dan antara staf, rumah tangga dan administrasi staf
Keuntungan menggunakan ISBAR:
1. Memastikan kelengkapan informasi dan mengurangi kemungkinan
kehilangan data;
2. Cara mudah dan difokuskan untuk menetapkan tujuan untuk apa yang akan
dikomunikasikan;

10
3. Memastikan rekomendasi yang jelas dan profesional
4. Memberikan kepercayaan dalam komunikasi
5. Tidak berfokus pada orang-orang yang berkomunikasi tetapi pada masalah
itu sendiri.
Tools ISBAR untuk tim kesehatan profesional
Introduction:
1. Diri sendiri dengan nama dan jabatan
2. Lokasi anda
3. Dengan siapa anda berbicara
Identifikasi:
I
a. Nama pasien dan konsultan
b. Tanggal masuk rumah sakit
c. Umur
d. Jenis kelamin
e. Lokasi (jika berbeda dengan kamu)
Situation:
Menjelaskan tujuan anda.
S "Tujuan saya adalah ...."
Jika mendesak katakan demikian dan alasan mengapa, misal tekanan darah
rendah
Background:
Menceritakan kronologi:
B Riwayat masalah sekarang
Riwayat masa lalu yang relevan, pemeriksaan yang relevan, hasil tes yang
relevan, pernyataan singkat pengobatan sesuai dengan tanggal
Assessment:
Keluhan utama:
A Tanda-tanda vital terbaru: BP ----- nadi ----- ----- Pernapasan Suhu ----- Urine
Tingkat CNS (AVPU) ----- MEWS ----- bagaimana saturasi O²? ----
Lainnya: Nyeri ----- muskuloskeletal (deformitas / kelemahan) ----- Luka
Recommendation:
Jika diperlukan segera mengatakannya dan alasan mengapa
Kondisi apa yang akan harapkan
Mengajukan pertanyaan:
Apakah ada tes yang diperlukan? Misalnya. CXR, EKG dll
R
Apakah ada obat apapun/cairan yang diperlukan?
Apa perubahan dalam rencana pengobatan yang dibutuhkan?
Seberapa sering Anda mengobservasi tanda-tanda vital?
Apakah titik pemicu untuk MEWS skor perlu disesuaikan untuk pasien?
Jika pasien tidak membaik apakah ada penanganan lagi?

11
1.1.1 iSoBAR
Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat Timbang terima sesuai dengan
iSoBAR, yaitu :

Tabel ISBAR.1 Tabel iSoBAR

(WA Health Clinical Timbang terima Policy, 2013)


1. Perawat yang melakukan timbang terima saat melakukan klarifikasi, tanya jawab
dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas.
2. Penyampaian pada saat timbang terima secara singkat dan jelas.
3. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada
kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci. Pelaporan
untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan oleh
perawat.
4. Penyampaian operan di atas (point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak
terburu-buru.
5. Perawat penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara
langsung melihat keadaan klien.
1.1.2 SBAR
Komunikasi Situasion Background Assessment Recommendation (SBAR)
dalam dunia kesehatan dikembangkan oleh pakar Pasien Safety dari Kaiser
Permanente Oakland California untuk membantu komunikasi antara dokter dan
perawat. Meskipun komunikasi SBAR di desain untuk komunikasi dalam situasi
beresiko tinggi antara perawat dan dokter, teknik oleh pimpinan unit kerja, mengirim
pesan via email atau voice mail serta bagian IT untuk mengatasi masalah (JCI 2010).
Metode SBAR sama dengan SOAP yaitu Situation, Background, Assessment,
Recommendation. Komunikasi efektif SBAR dapat diterapkan oleh semua tenaga
kesehatan dan tidak terpecah sendiri-sendiri, sehingga dokumentasi catatan
perkembangan pasien dapat terintegrasi dengan baik. Dengan demikian semua tenaga
kesehatan yang terlibat dapat mengetahui perkembangan pasien dengan baik.

12
1. Situation : Bagaimana situasi yang akan dibicarakan/ dilaporkan?
a) Mengidentifikasi nama diri petugas dan pasien;
b) Diagnosa medis
c) Apa yang terjadi dengan pasien.
2. Background : Apa latar belakang informasi klinis yang berhubungan dengan
situasi?
a) Obat saat ini dan alergi;
b) Tanda-tanda vital terbaru;
c) Hasil laboratorium : tanggal dan waktu tes dilakukan dan hasil tes sebelumnya
untuk perbandingan.
d) Riwayat medis
e) Temuan klinis terbaru.
3. Assessment : Berbagai hasil penilaian klinis perawat
a) Apa temuan klinis?
b) Apa analisis dan pertimbangan perawat?
c) Apakah masalah ini parah atau mengancam kehidupan?
4. Recommendation : apa yang perawat inginkan terjadi dan kapan?
a) Apa tindakan / rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki masalah?;
b) Apa solusi yang bisa perawat tawarkan kepada dokter?;
c) Apa yang perawat butuhkan dari dokter untuk memperbaiki kondisi pasien?;
d) Kapan waktu yang perawat harapkan tindakan ini terjadi.

13
2.1.11. Tahapan dan Bentuk Pelaksanaan Timbang Terima
Lardner (1996) proses timbang terima memiliki 3 tahapan yaitu:
1. Persiapan yang dilakukan oleh perawat yang akan melimpahkan tanggung
jawab meliputi faktor informasi yang akan disampaikan oleh perawat jaga
sebelumnya.
2. Pertukaran dinas jaga, dimana antara perawat yang akan pulang dan datang
melakukan pertukaran informasi. Waktu terjadinya timbang terima itu
sendiri yang berupa pertukaran informasi yang memungkinkan adanya
komunikasi dua arah antara perawat yang dinas sebelumnya kepada perawat
yang datang.
3. Pengecekan ulang informasi oleh perawat yang datang tentang tanggung
jawab dan tugas yang dilimpahkan merupakan aktivitas dari perawat yang
menerima timbang terima untuk melakukan pengecekan dan informasi pada
medical record dan pada pasien langsung.
2.1.12. Hambatan dalam Pelaksanaan Timbang Terima
Engesmo dan Tjora (2006); Scovell (2010) dan Sexton, et al., (2004)
menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat dalam
pelaksanaan timbang terima, diantaranya adalah:
1. Perawat tidak hadir pada saat timbang terima
2. Perawat tidak peduli dengan timbang terima, misalnya perawat yang keluar
masuk pada saat pelaksanaan timbang terima
3. Perawat yang tidak mengikuti timbang terima maka mereka tidak dapat
memenuhi kebutuhan pasien mereka saat ini
2.1.13. Efek Timbang Terima
Timbang terima memiliki efek-efek yang sangat mempengaruhi diri
seorang perawat sebagai pemberi layanan kepada pasien. Efek-efek dari
timbang terima menurut Yasir (2009) adalah sebagai berikut:
1. Efek Fisiologis
Kualitas tidur termasuk tidur siang tidak seefektif tidur malam, banyak
gangguan dan biasanya diperlukan waktu istirahat untuk menebus kurang
tidur selama kerja malam. Menurutnya kapasitas fisik kerja akibat
timbulnya perasaan mengantuk dan lelah menurunnya nafsu makan dan
gangguan pencernaan.
2. Efek Psikososial
Efek ini berpengaruh adanya gangguan kehidupan keluarga, efek
fisiologis hilangnya waktu luang, kecil kesempatan untuk berinteraksi
dengan teman, dan mengganggu aktivitas kelompok dalam masyarakat.
3. Efek Kinerja

14
Kinerja menurun selama kerja dinas malam yang diakibatkan oleh efek
fisiologis dan efek psikososial. Menurunnya kinerja dapat mengakibatkan
kemampuan mental menurun yang berpengaruh terhadap perilaku
kewaspadaan pekerjaan seperti kualitas rendah dan pemantauan.
4. Efek Terhadap Kesehatan
Dinas kerja menyebabkan gangguan gastro intestinal, masalah ini
cenderung terjadi pada usia 40-50 tahun, dinas kerja juga dapat menjadi
masalah terhadap keseimbangan kadar gula dalam darah bagi penderita
diabetes.
5. Efek Terhadap Keselamatan Kerja
Survei pengaruh dinas kerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja
yang dilakukan Smith et al dalam Wardana (1989), melaporkan bahwa
frekuensi kecelakaan paling tinggi terjadi pada akhir rotasi dinas kerja
(malam) dengan rata- rata jumlah kecelakaan 0,69 % per tenaga kerja.
Tetapi tidak semua penelitian menyebutkan bahwa kenaikan tingkat
kecelakaan industri terjadi pada dinas malam. Terdapat suatu kenyataan
bahwa kecelakaan cenderung banyak terjadi selama dinas pagi dan lebih
banyak terjadi pada dinas malam.

BAB 3
PERENCANAAN ROLE PLAY
1.2 Rencana Pelaksanaan Timbang Terima
Hari/tanggal : Senin, 19 November 2018
Waktu : 07.00 WIB
Pelaksana : Kepala Ruangan, Perawat Primer, Perawat Associate
Tempat : Ruang Pandan Wangi RSUD Dr. Soetomo, Surabaya

15
1.3 Struktur Pengorganisasian
Penanggung jawab : Arum Rakhmawati, S.Kep
Kepala Ruangan : Ramona Irfan K, S.Kep
PP1 (shift pagi) : Antonia Andasari, S.Kep
PA1(shift pagi) : Amalia Azmi, S.Kep
PP2 (shift pagi) : Clara Agustina , S.Kep
PA2 (shift pagi) : Yhunika Nur, S.Kep
PP1 (shift siang) : Arum Rakhmawati, S.Kep
PA1 (shift siang) : Synthia Paula, S.Kep
PA2 (shift siang) : Wiwin Nur Indah C, S.Kep
Narator : Galih Adhi W.,S.Kep
Pembimbing Pendidikan : 1. Dr. Ninuk DK, S.Kep.,Ns.,M.ANP
2. Dr. Mira Trihatini,S.Kp.,M.Kep
Pembimbing Klinik : 1. Lilik Mudiyatin, S.Kep., Ns.
1. Muzida, S. Kep., Ns
2. Endang Pantjarwati,S.Kep.,Ns
1.4 Metode
Pelaksanaan timbang terima menggunakan metode simulasi/praktik langsung
oleh mahasiswa.
1.5 Media
Media yang digunakan dalam timbang terima pasien yaitu :
1. File dokumentasi pasien (rekam medis)
2. Kertas
3. Pena

16
1.6 Alur timbang terima

Situation

Data Demografi Diagnosis Medis Diagnosa Keperawatan (Data)

Background

Riwayat Keperawatan

Assesment:
KU; TTV; GCS; Skala Nyeri; Skala
Resiko Jatuh; dan ROS (poin yang
penting)

Recomendation
1. Tindakan yang sudah
2. Dilanjutkan
3. Dihentikan
4. Dimodifikasi

Gambar 3.1 Alur Timbang Terima (Nursalam, 2015)

17
1.7 Prosedur Timbang Terima (Nursalam, 2015)

Tahap Kegiatan Waktu Tempat Pelaksana


Persiapan 1. Dilaksanakan setiap 5 menit Nurse PP dan PA
pergantian shift/operan Station
2. Prinsip timbang terima,
semua pasien baru masuk
dan pasien yang dilakukan
timbang terima khususnya
pasien yang memiliki
permasalahan yang
belum/dapat teratasi serta
yang membutuhkan
observasi lebih lanjut.
3. PA/PP menyampaikan
timbang terima kepada PP
(yang menerima
pendelegasian) berikutnya,
hal yang baru disampaikan
dalam timbang terima:
a. Aspek umum yang
meliputi: M1-M5;
b. Situation: identitas pasien,
dokter yang merawat,
diagnosa medis dan
masalah keperawatan,
lama hari perawatan dan
keluhan utama.
c. Background:
perkembangan saat ini,
riwyat alergi, riwayat
pembedahan, alat invasive
yang terpasang dan
program cairan
d. Assesment: penjelasan
secara lengkap hasil
pengkajian pasien terkini
(TTV, tingkat kesadaran,
pain score, resiko jatuh,
status nutrisi, kemampuan
eliminasi serta
menjelaskan tentang
informasi klinik lain yang
mendukung).
e. Recommendation:
rekomendasi intervensi
keperawatan yang perlu
dilanjutkan termasuk
discharge planning dan

18
Tahap Kegiatan Waktu Tempat Pelaksana
edukasi pasien serta
keluarga.
f. BOR
4. Kedua kelompok dinas sudah
siap (shift jaga).
5. Kelompok yang akan
bertugas menyiapkan catatan
operan.
Pelaksanaan 1. Kepala ruangan membuka 20 Nurse PJ Unit
acara timbang terima menit Station PP
2. Penyampaian yang jelas, PA
singkat dan padat oleh (penanggun
perawat jaga (NIC). g jawab
3. Perawat jaga shift shift)
selanjutnya dapat melakukan Bed
klarifikasi, tanya jawab dan
pasien
melakukan validasi terhadap
hal-hal yang telah
ditimbangterimakan dan
berhak menanyakan
mengenai hal-hal yang
kurang jelas.
4. Kepala ruang menyampaikan
salam dan PP menanyakan
kebutuhan dasar pasien.
5. Perawat jaga selanjutnya
mengkaji secara penuh
terhadap masalah
keperawatan, kebutuhan dan
tindakan yang telah/ belum
dilaksanakan, serta hal-hal
penting lainnya selama masa
perawata.
6. Hal-hal yang sifatnya khusus
dan memerlukan perincian
yang matang sebaiknya
dicatat secara khusus untuk
kemudian diserahterimakan
kepada petugas berikutnya.
Post timbang 1. Diskusi. 10 Nurse PJ Unit
terima 2. Pelaporan untuk timbang menit Station PP
terima dituliskan secara PA
langsung pada format (penanggun
timbang terima yang g jawab
ditandatangani oleh PP yang shift)
jaga saat itu dan PP yang
jaga berikutnya diketahui
oleh PJ Unit.
3. Ditutup oleh PJ Unit

19
1.8 Kriteria Evaluasi
1.8.1 Evaluasi Struktur
1. Penanggung jawab timbang terima telah ditentukan
2. Teknik timbang terima disusun bersama-sama dengan staf keperawatan
3. Materi timbang terima ditentukan dengan jelas
4. Status pasien disiapkan sebelum timbang terima dimulai
5. Buku laporan dan buku pesanan khusus telah disiapkan.

1.8.2 Evaluasi Proses


1. Timbang terima dilaksanakan bersama dengan kepala ruangan, perawat primer
dan perawat pelaksana pada pergantian shift.
2. Timbang terima dipimpin oleh Perawat Primer sebagai penanggung jawab shift
3. Timbang terima diikuti oleh perawat yang berdinas dan perawat yang akan
memulai berdinas
4. Timbang terima dilaksanakan di nurse station paling lama 30 menit dan 3 menit
di setiap pasien dengan keadaan istimewa

1.8.3 Evaluasi Hasil


1. Perawat mampu menyelesaikan dokumentasi secara lengkap yang berisi
(identitas, diagnosis medis, masalah keperawatan, intervensi yang sudah dan
belum dilaksanakan, intervensi kolaboratif, rencana umum pasien).
2. Perawat mengikuti perkembangan pasien secara paripurna.
3. Peningkatan kemampuan komunikasi antar perawat.
4. Terjalin hubungan kerja sama yang bertanggung jawab antarperawat.
5. Pelaksanaan asuhan keperawatan dapat berjalan berkesinambungan.

20
Lampiran 1
ROLE PLAY TIMBANG TERIMA PASIEN
DI RUANG PANDAN WANGI RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Penanggung jawab : Arum Rakhmawati, S.Kep


Kepala Ruangan : Ramona Irfan K, S.Kep
PP1 (shift pagi) : Antonia Andasari, S.Kep
PA1(shift pagi) : Amalia Azmi, S.Kep
PP2 (shift pagi) : Clara Agustina , S.Kep
PA2 (shift pagi) : Yhunika Nur, S.Kep
PP1 (shift siang) : Arum Rakhmawati, S.Kep
PA1 (shift siang) : Synthia Paula, S.Kep
PA2 (shift siang) : Wiwin Nur Indah C, S.Kep
Narator : Galih Adhi W.,S.Kep

Session I di Nurse Station


Session I di Nurse Station
Pada hari Kamis (22 November 2018) pukul 14.00 WIB seluruh perawat (PP dan PA)
shift pagi dan siang serta kepala ruangan berkumpul di nurse station.
(On Thursday (November 22th, 2018) at 14.00 am all nurses (PN and AN) morning and noon
shifts and Nurse Unit Manager (NUM) gathered at the nurse station.)

NUM (Mona) : Selamat siang semuanya (Duduk di nurse station)


(Good afternoon everyone (Sit at the nurse station))
Seluruh perawat shift pagi dan siang memasuki nurse station
(All morning and noon shift nurses enter the nurse station)
Ners : Selamat siang bu! (Good afternoon ms!)
NUM (Mona) : Apakah rekan-rekan yang dinas siang sudah berkumpul?
(Have everyone gathered?)
Ners : Sudah bu (yes ms)
NUM (Mona) : Assalamualaikum wr. wb.
Untuk PP1 pagi ini ners Anda didampingi PA1 ners Amalia bertanggung jawab atas kamar
1.1-1.5, PP2 oleh ners Clara didampingi PA2 ners Yhunika bertanggung jawab atas kamar
2.1-2.8.
(This morning, Nurse Anda as PN1 accompanied by AN Nurse Amalia whom is responsible
for room 1.1-1.5. PN2 is Nurse Clara will be accompanied by AN Nurse yhunika, responsible
for room 2.1-2.8)

1
Sebelum memulai Timbang terima pada siang hari ini, marilah kita mulai dengan berdoa
bersama-sama. Berdoa dimulai (doa). Berdoa selesai. Silahkan PP dinas pagi untuk
menyampaikan keadaan dan perkembangan pasien selama bertugas kepada PP/PA yang akan
berdinas saat ini (siang). Mohon disampaikan M1-M5 oleh ners Anda.

Before we begin the afternoon handover, let’s pray together. We can start to pray right now
(start to pray). Ok enough (Stop praying). (After the praying time, NUM invite AN morning
shift nurse to report the condition). Please PN morning shift give report of patient condition
and patient progress to the noon shift PN/AN. Nurse Anda please report M12-M5.)

PP1 shift pagi (Anda) : Selamat siang semuanya, terima kasih atas kesempatannya.
Sebelum kami menyampaikan keadaan pasien, saya akan
menyampaikan M1-M5 terlebih dahulu.
(Good morning, before we reporting the patient progress, i am
going to inform you the M1-M5.)
M1 (Ketenagaan): jumlah perawat yang shift pagi sejumlah 4
orang, saya selaku PP 1 didampingi Ners Amalia dan Ners
Clara selaku PP2 didampingi ners yhunika PA2. Perawat
ruangan 4 orang, mahasiswa profesi 4 orang, TPP 2 orang.
Tidak ada yang izin, masuk semua. Semua sudah menjalankan
tugas masing-masing dengan baik. Jumlah pasien 11 dengan
ketergantungan parsial 9, minimal 1, total care 2 Jumlah BOR
84,61 %.
(The amount of morning shift nurse was 4 nurses, i am as PN1, Ners Amalia as AN1, Ners
Clara as PN2, and Ners Yhunika as AN2. There are 4 nurses in charge, 4 professional
students, and 2 Nurse Aide Team (NAT). Everyone was present and have carried out their
duties well. There are 11 patients with partial care 9, 1 minimal care patient, and 2 total care
patient. Total BOR 84,61%)
M2 (Sarana dan Prasarana): jumlah bed 13, tiang infus 13,
O2 sentral sejumlah 13 terdapat di Bed , tidak terdapat tabung
O2 di ruang, , dan Syring pump 2, infus pump tidak ada,
tensimeter 2, termometer 2, Saturasi oksigen 1, bak instrumen
2, baki 2, perlak 2, keadaan baik.

2
(There are 13 beds and filled entirely, 13 infusion pole, 13 central O2 are in Bed. There are no
O2 tube in room and There is no infusion pump and there are 2 syringe pump. The amount of
tensimeter is 2 There are 2 thermometer, 1 oxygen saturation, 2 instrument tray, 2 trays, and 2
pads, all in good condition)
M3 (Metode Asuhan Keperawatan): MAKP yang digunakan
adalah MAKP primer
(MAKP which is used is primary MAKP)
M4 (Biaya): Pasien Umum : tidak ada
Pasien BPJS : Semua pasien BPJS non PBI
M5 (Mutu): jumlah pasien dengan flebitis 0, 0 pasien dengan
dekubitus. Pasien dengan risiko jatuh 4 orang sudah terpasang
gelang risiko jatuh. Selanjutnya saya akan melanjutkan dengan
laporan pasien bed 1.1-1.5.
(There is no patients with phlebitis, no patient with decubitus.
There are 4 patient with fall risk, both of them have been
marked by a fall risk bracelet. I continue to report patient in
bed 1.1-1.5.

Bed SBAR
1.1 Situation : Mrs.Marti, 66 th, hospitalized for 5 days diagnosed with ulkus pedis
cruris sinistra+sepsis+melena+anemia+acute kidney
injury+hipoalbumin+metabolic asidosis+DM type 2
Background : General condition of the patient is weak, patient mostly lying o bed
with vital sign
BP:144/73 mmHg RR: 18 SAO2:99%
0
HR:84 BT:37 C
EWS: 0
IV line on the left hand since 20 November 201. The patient said she felt weak and
assisted when doing the activity daily living.
Therapy for the patient:
Fluid therapy:Normal saline 1000cc/day 14 drop per minute
Injection ceftriaxone 1 gr on 100 cc normal saline every 12 hours.
Metoclopramide 100 mg injection every 8 hours
Omeprazole 40 mg injection every 8 hours
Insuline sub cutaneous injection 4 unit novorapid every 8 hours before meals and
Levemir 10 unit every night.
Assessment : Intolerance activity
Recommendation :
Help the patient to do the activity daily living
3
Bed SBAR
Motivate patient to mobilize according to her ability
Monitor the vital sign according to her EWS score
Give the medication ac prescribed.
Situation : Mrs. Maria Goreti, 40 th.Had been hospitalized foe 10 days, and
diagnosed for 10 days, and diagnosed with acute pancreatitis+obstructive
icterus+hypoalbuminemia+hypokalemia+suspect urinary tract infection
Background : The general condition of the patient is good with GCS E4V5M6.
Patient able to mobile. The latest vital sign of the patient:
BP: 120/80 mmHg RR: 20 SAO2: 99 %
HR:88 BT: 366 0C
The patient had infusion line on the right hand since 19 november 2018. No sign
of phlebitis occurs, the fluid therapy of patient are RL, D5%, and tutofusin with
1:2:1
Medication for the patient are:
Injection of ceftriaxone 1 g every 24 hours
Ranitidine 50 mg every 12 hours
Vit K 10 mg every 8 hours and give tramadol drips on NS 100 cc when the pain
1.2
occurs.
For the oral therapy patient get : Paracetamol 500 mg and Lactulosa syrup 50 mg 3
times a day after meal.
The patient said that the pain still exist on the stomach, like being stabbed, with
the scale of pain 3 for 0-10 scale. I have taught the patient to do the deep breath
technique.
Assessment : Acute pain on the stomach, upper right regio
Recommendation : to the reduce the pain
- Suggest the patient to do the non pharmacological technique to reduce pain by
take deep breathing for relaxation.
- Give the best position for the patient semi fowler
- Give the medication as prescribed
- Re evaluate the effectivenessof the deep breath
- Monitor the vital sign

PP1 shift pagi (Anda) :Sekian dari saya, apakah ada yang ingin ditanyakan?
(That’s the report from me, any question or clarification from
noon shift nurse?)
PP 1 Shift sore (Arum) : Apakah sore hari ini ada pasien rencana untuk tranfusi PRC
atau TC?
(In this afternoon there is a patient plan to transfuse PRC or
TC?)
PA 1 Shift pagi ( Amalia) : Ny. Nurul rencana transfuse 1 kolf, kemarin sudah dikirimkan
sampel dan blangko permintaad darah 2 kolf PRC. Nnati bias
ditelfon lagi ke bank darah kesediaan stoknya.
(Ny.Nurul plans to transfuse PRC, yesterday the sample and
blank request for blood was 2 colf PRC. Later we can call the
bank to the blood supply)

PP1 Shift pagi( Anda) : Baik selanjutnya ada yang diklarifikasi?


4
(Well, any else to be clarified?)
Semua : Tidak ners
(No ners anda)
PP1 Shift pagi (Anda) :Baiklah, selanjutnya saya serahkan kepada Ners Clara.
(Well, next to ners clara report the patient)

PP2 (shift pagi) (Clara) : selanjutnya saya laporkan pasien bed 2.1-2.8
(i will continue to report patient in bed 2.1-2.8)
Bed SBAR
Situation : Mrs. Cholifah 64 th with iskemia anterior+HT st II has been
hospitalized since last night so today is her first day
Background : General condition of the patient is good GCS E4V5M6
BP:109/77 mmHg RR:18 BT: 37
HR:69 SAO2:98 EWS:1
Patient had the IV line at left hand
1.4
Assessment : Activity in tolerance
Recommendation :
Help the patient for ADL and mobility
Give the medication according to the therapy
Monitor vital sign every for 4 hours

Situation : Mrs. Sri Murti/40 th with paraparesis spondylitis TB+neuropati


diabetic has been hospitalized since for a month
Background : General condition of the patient is good GCS E4V5M6
BP:112/69 mmHg BT:37 EWS:1
HR: 107 RR:20 SA02:97%
Pain level 2
Patient had the IV line on the right hand
1.3
Assessment : Impaired physical mobility
Recommendation :
Give the patient pasif range of motion
Help the patient achieve mobility
Help the patient for ADL
Vital sign monitoring

2.8 Situation: Mrs. Nurul 59 th with urosepsis asidosis metabolic+Blader track


infection+anemia. Has been hospitalized for 5 days
Background: General condition is good GCS E4V5M6
BP : 134/77 mmHg RR:23 EWS:2
HR:88 BT:37
Patient had IV line in right hand
Patient felt dispneu
Assesment:Inefective breathing pattern
Reasessment:
Maintanance the position of the patient semi fowler
Monitoor the flow of oxygen
Monitir vital sign

5
Bed SBAR

PP2 (Shift pagi) (Clara) : Baik selanjutnya ada yang perlu diklarifikasi?
Well, any else need to be clarified?
PA 1 (shif sore)(Shyntia) : Untuk pasien 1.5 apakah masih dilanjutkan terapi nabicnya?
Whether the nabic of patient 1.5 is still continued?
PA 2 (Shif pagi) (Yhunika) : Sekarang pasien masih diberikan terapi nabic ke 2 pukul 09.00
per 12 jam. Untuk pemberian nabic ke 3 per 24 jam.
The second nabic of patient 1.5 is still running since 09 am. It should be run out at 12 pm.
The 3rd nabic will be given every 24 hours.
PP1 shift pagi (Anda) :Demikian laporan dari kami selaku shift pagi.
(That's the report of morning shift.)
NUM (Mona) :Terima kasih untuk perawat dinas pagi yang telah
menyampaikan kondisi dari semua pasien saat ini. Selanjutnya
PP1 shift siang dan PP/PA pagi mari kita validasi ke pasien.
(Thank you for the morning team who have report the condition
of all patients very well. Let's meet the patient one by one.)
NUM (Mona) :Mari kita langsung ke pasien, nanti apabila ada hal rahasia
yang ingin dibicarakan kita bisa mendiskusikannya kembali di
nurse station.
(Let's go to the patient, if we have something to talk about, we
can talk about it later in nurse station.

Session II Di Ruang Perawatan/Bed Pasien


Perawat pagi dan siang memvalidasi kembali ke pasien, perawat pagi memperkenalkan
perawat yang dinas siang.
(Morning and noon shift nurses make validation to the patientand the morning shift nurse
introducing the noon nurses in charge)
Memasuki Ruang Pasein
PP 1 Shif pagi (Anda) :Selamat pagi bu, saya selaku perawat primer pagi hari ini,
nama saya Anda, dan ini ners Arum yang bertugas pada siang
hari ini. Jika ada keluhan silahkan menghubungi ners Arum.
PP1 (shift siang) (Arum) :selamat pagi bu? Apa ibu masih mengeluhkan badan ibu
lemas?
Pasien : iya ners Arum. Badan saya masih terasa lemas
PP1 (shift siang) (Arum) : makannya tadi pagi apa dihabiskan bu?
Pasien : tidak ners, saya tidak ada nafsu makan.

6
PP1 pagi (Arum) : ibu harus berusaha menghabiskan makannya, karna itu sumber
energi ibu, jika tidak makan badan ibu akan lemas. Makan
sedikit tapi sering ya bu.
Pasien : baik ners Arum
PP1 Shift pagi (Anda) : Baik, mari ke pasien lain. Silahkan ibu beristirahat kembali.
Semua :Permisi bu.
Pasien :Iya
Narator
Setelah selesai Karu dan perawat kembali ners station untuk mengklarifikasi kembali apakah
ada yang perlu dibahas kembali
Sesudah berbalik menjauhi pasien
(After turning away from patient)
NUM (Mona) :Baiklah mari kembali ke Nurse Station
Well, let’s go back to Nurse Station
Semua :Baik bu
Yes Nurse.
NUM (Mona) :Teman-teman dinas pagi apakah masih ada yang
perlu diklarifikasi ?
is there any question or something to be clarified from morning shift
nurse?
Semua :Tidak ada ners Mona
No Nurse Mona
NUM (Mona) :Apabila tidak ada silahkan PP siang untuk menandatangani format
timbang terima dan PP pagi menyerahkan status pasien. Saya ucapkan
terimakasih pada dinas pagi dan selamat bertugas pada perawat shift
siang. Teman-teman yang dinas pagi semoga selamat sampai rumah,
dan yang dinas siang tetap semangat dan selalu berhati-hati selama
tindakan.. Saya akhiri, Wassalamualaikum, Wr.Wb.
Well, if there is no something to be clafiried, please the noon shift PN
sign this handover-form, and for morning shift PN please give the
patient status to the noon shift nurse in charge. Thank you for the
morning shift Nurse and go home safely. For the noon shift nurse in
charge, do your best and always be careful while doing your duty. I’ll
end this handover, Wassalamualaikum wr.wb.

7
BAB 4
PELAKSANAAN KEGIATAN
a. Persiapan
Persiapan yang dilakukan untuk timbang terima adalah melengkapi rekam medis

pasien.
b. Pelaksanaan
Kegiatan timbang terima dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 22 November

2018 jam 12.30 WIB. Kegiatan timbang terima ini dilaksanakan pada semua pasien

kelolaan mahasiswa praktik profesi manajemen keperawatan di ruang Pandanwangi

RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Kepala ruangan diperankan oleh Ramona Irfan

Kadji,S.Kep, PP1 (shift pagi) diperankan oleh Antonia Andasari.S.Kep, PA1 (shift pagi)

diperankan oleh Amalia Azmi,S.Kep, PP2 (Shift pagi) diperankan oleh Clara Agustina,

PA2 (Shift pagi) diperankan oleh Yhunika Nur M,S.Kep, Sedangkan PP1 (shift sore)

diperankan oleh Arum Rakhmawati,S.Kep, PA1 (shift sore) diperankan oleh Synthia

Paula S,S.Kep, dan PA2 (shift sore) diperankan oleh Wiwin Nur I,S.Kep.
c. Hambatan Dan Dukungan
1. Hambatan
Tabel 4.1 Hambatan pelaksanaan roleplay : Timbang terima

Masalah Penyebab Rekomendasi


Mekanisme

Timbang Terima sudah Timbang Terima sudah Timbang Terima sudah


tepat dan sesuai dengan tepat dan sesuai dengan tepat dan sesuai dengan
8
Alur Timbang Terima Alur Timbang Terima Alur Timbang Terima

Isi
Masalah keperawatan Terbatasnya waktu Perlunya manajemen
kurang disampaikan saat timbang terima sehingga waktu yang baik dalam
timbang terima di bed mempersingkat isi proses timbang terima
pasien timbang terima sehingga waktu bisa
diprioritaskan untuk
membahas kebutuhan
dasar pasien dan kondisi
medis secara menyeluruh
Peran
PA,PP dan Karu sudah PA,PP dan Karu sudah PA,PP dan Karu sudah
sesuai tugas masing- sesuai tugas masing- sesuai tugas masing-
masing di Timbang masing di Timbang masing di Timbang
Terima Terima Terima

Kepala ruangan kurang Kepala ruangan kurang Perlunya kepala ruangan


punya kendali waktu saat memahami tugas dan untuk menjelaskan
proses timbang terima wewenangnya dalam kontrak waktu dan secara
mengendalikan waktu tegas mengingatkan jika
timbang terima
melampaui target waktu
Kurang terlihat peran PA Penyampaian timbang yang ditentukan
jaga pagi terima saat ke pasien Sebaiknya disesuaikan
hanya dilakukan oleh PP lagi dengan tugas masing
pagi dan PA pagi tidak masing perawat. PA tetap
ikut masuk ke dalam mendampingi dan
kamar pasien mendengarkan PP saat
timbang terima di kamar
pasien sehingga jika ada
yang kurang langsung
bisa menjelaskan.

2. Dukungan
Perawat ruangan serta pembimbing klinik memberikan kepercayaan

sepenuhnya pada mahasiswa untuk melakukan timbang terima seluruh pasien yang

9
menjadi kelolaan mahasiswa profesi stase manajemen di ruang Pandanwangi RSUD

Dr. Soetomo dengan sebelumnya memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang

mekanisme timbang terima yang benar dan teknik penyampaian timbang terima, serta

hal-hal yang harus disampaiakan saat timbang terima.

DAFTAR PUSTAKA

Angood. 2007. Why the joint comission cares about handoffs strategy. Forum :Reducing Risk
During Handoffs, 25 (1), 5 – 7.
Athanasakis, E. 2013. Synthesizing Knowledge about Nursing Shift Timbang terimas:
Overview and Reflections from Evidence-Based Literature. International Journal of
Caring Sciences September. December 2013 Vol 6 Issue 3
Cahyono. 2008. Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam Praktek Kedokteran.
Yogyakarta: Kanisius
Clinical Governance Hunter New England Health. 2009. ISBAR revisited: Identifying and
Solving BARriers to effective clinical Timbang terima. Hunter New England: NSW
Health.
Dewi, Mursidah. 2011. Tesis Pengaruh Pelatihan Timbang terima Pasien terhadap
Pelaksanaan Timbang terima dan PEnerapan Keselamatan Pasien oleh Perawat
Pelaksana di Rumah Sakit Husada. Jakarta Universitas Indonesia.
10
Dingley et al. 2008. Improving Patient Safety through Provider Communication Strategy
Enhancement. Advances in Patient Safety: New Directions and Alternative
Approaches (Vol. 3: Performance and Tools). Rockville (MD): Agency for Healthcare
Research and Quality (US); 2008 Aug.
Elmiyasna, Mayasari. 2011. Gambaran Keefektifan Timbang terima (Operan) di Ruang
Kelas I IRNA non Bedah (Penyakit Dalam) RSUP dr. M. Djamil Padang.
JCI. 2010. Understanding Health Care Fasility Safety, Joint Commision International
Organization.
Lardner, R. 1996. Effective shift Timbang terima: a literature review.
http://www.hse.gov.uk/research/otopdf/1996/oto96003.pdf .
Neese, B. 2015. Effective Communication in Nursing: Theory and Best Practices.
http://online.seu.edu/effective-communication-in-nursing/
Nursalam. 2013. Managemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. 2015. Managemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta: Salemba Medika.
Peterson et al. 2013. Risk Management: What makes Timbang terima communication
effective? Nursing Management, 44(1), 15-18.
Patterson et al. Patient Handoffs: Standardized and Reliable Measurement Tools Remain
Elusive. The Joint Commission Journal on Quality and Patient Safety. February 2010
Volume 36 Number 2
Rushton. H. C. 2010. Ethics of Nursing Shift Report. AACN: Advanced Critical
Care: Ethics in Critical Care, 21(4) : 380 – 384.
Lilleyman, Sir John. 2004. Guidance on clinical Timbang terima for clinicians and managers
Safe Timbang terima: safe patients
Wes Coast District Health Board. ISBAR Communication Tool For Health Professionals.

11
BAB 5
EVALUASI KEGIATAN
5.1 Evaluasi Struktur
Pelaksanaan evaluasi timbang terima dilaksanakan pada hari kamis di ruang

Pandanwangi RSUD Dr. Soetomo, sebelumnya kelompok telah melakukan beberapa

persiapan selama 3 hari sebelum pelaksanaan yaitu pembuatan proposal role play timbang

terima, persiapan laporan timbang terima menggunakan status pasien (SOAPI) dilaporkan

dengan SBAR, pembagian peran sebagai Karu, PP Shift pagi, PP shift siang, PA Shift Pagi

dan siang, mekanisme alur timbang terima serta form evaluasi.


5.2 Evaluasi Proses
Evaluasi proses pada saat roleplay timbang terima yang dilaksanakan pada hari kamis, 22

November pukul 13.00 WIB yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 5.1 Evaluasi proses timbang terima di Ruang Pandan 1 RSUD Dr.Soetomo Surabaya
Waktu Kegiatan
12.30-13.00 Pelaksanaan roleplay Timbang
Terima
13.00-11.30 Mubarokah Isnaeni, S.Kep., Ns
Roleplay sangat bagus, Alur
timbang terima sudah tepat, pada
saat timbang terima di bed pasien
PP seharusnya menjelaskan
kembali masalah keperawatan
pasien kepada PP dan PA sore.
Dr.Mira Triharini,S.Kp.M.Kep
Roleplay sudah bagus, Alur
Timbang terima sudah tepat,
untuk manajemen waktu mohon
diperhatikan agar tidak terlalu
lama. Pada saat timbang terima di
bed pasien seharusnya PA pagi
ikut masuk ke dalam kamar
pasien agar dapat menjelaskan
atau menambahkan kondisi atau
masalah keperawatan klien.

5.3 Evaluasi Hasil

12
1. Kegiatan dihadiri oleh pembimbing akademik : Dr. Mira Triharini S.Kp., M.Kep dan 1
orang pembimbing klinik Mubarokah Isnaeni, S,Kep., Ns, serta 11 orang mahasiswa
profesi Manajemen.
2. Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar
3. Selama kegiatan mahasiswa bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing
4. Acara dimulai sesuai jadwal yaitu pukul 12.30
5. Kegiatan berjalan lancar dan mahasiswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan

13
14