Anda di halaman 1dari 11

EKONOMI MAKRO

“Kemiskinan dan Pengangguran”

Disusun Oleh :

Firmansyah Abdul Hakim 1810091510698

Dibimbing Oleh :

Litra Diantara, SE, MM

Prodi Akuntansi
STIE BANGKINANG
2018/2019

1|Page
KATA PEGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga penyusun
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya
penyusun tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta
salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW
yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik
itu berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas kelompok dari mata kuliah “Ekonomi Makro” dengan
judul “Kemiskinan dan Pengangguran”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi
makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah
ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya kepada Dosen
Ekonomi Makro Bapak Litra Diantara, SE, MM yang telah membimbing penyusun dalam
menulis makalah ini. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Bangkinang, 15 Mei 2019

Penyusun

2|Page
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... 1


DAFTAR ISI ......................................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah .................................................................................................... 3
C. Tujuan ...................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kemiskinan dan Pengangguran ............................................................. 4
B. Penyebab Terjadinya Kemiskinan dan Pengangguran ............................................. 5
C. Perbandingan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran Beberapa Masa
Kepresidenan ........................................................................................................... 7
1. Masa Kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono ......................................... 8
 Syarat Garis Miskin dan Pengangguran ............................................ 9
 Dampak Kemiskinan dan Pengangguran Bagi Kesehatan dan
Keamanan Masyarakat ...................................................................... 9
 Nilai Tukar Rupiah ........................................................................... 10
2. Masa Kepresidenan Jokowi ........................................................................... 11
 Syarat Garis Miskin dan Pengangguran ............................................ 11
 Dampak Kemiskinan dan Pengangguran Bagi Kesehatan dan
Keamanan Masyarakat ...................................................................... 12
 Nilai Tukar Rupiah ........................................................................... 12
KESIMPULAN ..................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 14

3|Page
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan akhir dari pembangunan nasional adalah “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia”. Karena ini merupakan sila terakhir pancasila, maka kita selalu menekankan
bahwa setiap upaya pembangunan harus selalu merupakan upaya pengamalan pancasila.
Mengamalkan pancasila sebagai idiologi bangsa berarti bahwa setiap sila harus kita amalkan
yaitu: sila pertama dan kedua sebagai landasan moralnya, sila ketiga dan keempat sebagai
cara atau metode kerjanya, dan sila kelima sebagai tujuan akhir dari pengamalannya.

Penilaian atas keberhasilan pembangunan nasional kita dapat dilakukan dengan


mengadakan penilaian atas keberhasilan plaksanaan Trilogo Pembangunan yaitu peerataan,
pertumbuhan, dan stabilitas ekonomi nasional. Namun pada kenyataannya masalah masalah
seperti kemiskinan dan pengangguran masih belum teratasi dengan baik oleh pemerintah.

Pertumbuhan ekonomi nasional saat ini pada kuartal III tahun 2010 hanya mencapai
5,17%. Jika dibandingkan Pada tahun 1970 pertumbuhan ekonomi nasional tembus hingga
10,92%. Meskipun demikian, dari masa ke masa kemiskinan dan pengangguran tetap saja
tidak dapat teratasi dengan baik oleh pemerintahan. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik
(BPS) sejak 1970 hingga 2018, tren angka kemiskinan cenderung menurun meski sempat naik
di tahun 1996, 1998, 2002, 2005, 2006, 2013, 2015, dan 2017.

Kemiskinan dan Pengangguran merupakan hal yang kompleks karena menyangkut


berbagai macam aspek seperti hak untuk terpenuhinya pangan, kesehatan, pendidikan,
pekerjaan, dan sebagainya. Agar kemiskinan dan pengangguran di Indonesia dapat menurun
diperlukan dukungan dan kerja sama dari pihak masyarakat dan keseriusan pemerintah dalam
menangani masalah ini. Terkait hal diatas sudah banyak yang dilakukan pemerintah upaya
menurunkan tingkat kemiskinan dan pengangguran. Namun penulis disini tidak mengkaji
bagaimana mengatasi pengangguran dan kemiskinan di Indonesia melain membandingkan
tingkat kemiskinan dan pengangguran antara beberapa kepemimpinan di Indonesia.

B. Rumusan Masalah

 Apa itu Kemiskinan dan Pengangguran?


 Apa penyebab terjadi Kemiskinan dan Pengangguran?
 Bagaimana perbandingan tingkat Kemiskinan dan Pengangguran antara kepemimpinan
Susilo Bambang Yudhoyono periode 2009-2014, dan Joko Widodo periode 2014-2019?
 Bagaimana dampak Kesehatan dan Keamanan masyarakat terhadap kemiskinan dan
pengangguran dari kedua periode presiden tersebut? Dan bagaimana nilai tukar rupiah di
kedua periode?

C. Tujuan

 Mengetahui pengertian dan penyebab terjadinya Kemiskinan dan Pengangguran.


 Mengetahui perbandingan tingkat Kemiskinan dan Pengangguran antara kepemimpinan
SBY periode 2009-2014, dan Jokowi periode 2014-2019.
 Mengetahui dampak Kesehatan dan Keamanan masyarakat terhadap kemiskinan dan
pengangguran dari kedua periode presiden tersebut dan nilai tukar rupiah di kedua
periode.

4|Page
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kemiskinan dan Pengangguran

Dalam kamus ilmiah populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang
ada tidak mencukupi kebutuhan) atau bokek. Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang
yang sangat miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat
dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula sejak masa neo-klasik di mana kemiskinan hanya
dilihat dari interaksi negatif (ketidakseimbangan) antara pekerja dan upah yang diperoleh.

Kemiskinan juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tersebut tidak
dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau bisa dikatakan dengan suatu kondisi serba
kekurangan dalam arti minimnya materi yang dimana mereka ini tidak dapat menikmati
fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia
pada jaman modern.

Menurut wikipedia Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang
biasa untuk dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini
berhubungan erat dengan kualitas hidup . Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses
terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan
mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah
global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang
lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari
sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara berkembang" biasanya digunakan untuk
merujuk kepada negara-negara yang "miskin".

Kesenjangan ekonomi atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan antara kelompok


masyarakat berpendapatan tinggi dan kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta
tingkat kemiskinan atau jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan (poverty line)
merupakan dua masalah besar di banyak negara-negara berkembang (LDCs), tidak terkecuali
di Indonesia.

Tiap negara dapat memberikan definisi yang berbeda mengenai definisi pengangguran.
Nanga ( 2005 : 249 ) mendefinisikan pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang
yang tergolong dalam kategori angkatan kerja tidak memiliki pekerjaan dan secara aktif tidak
sedang mencari pekerjaan. Dalam sensus penduduk 2001 mendefinisikan pengangguran
sebagai orang yang tidak bekerja sama sekali atau bekerja kurang dari dua hari selama
seminggu sebelum pencacahan dan berusaha memperoleh pekerjaan ( BPS, 2001 : 8 ).

Menurut Sudono Sukirno pengangguran adalah jumlah tenaga kerja dalam perekonomian
yang secara aktif mencari pekerjaan tetapi belum memperolehnya. Selanjutnya International
Labor Organization (ILO) memberikan definisi pengangguran yaitu :
Pengangguran terbuka adalah seseorang yang termasuk kelompok penduduk usia kerja
yang selama periode tertentu tidak bekerja, dan bersedia menerima pekerjaan, serta sedang
mencari pekerjaan.

Setengah pengangguran terpaksa adalah seseorang yang bekerja sebagai buruh karyawan
dan pekerja mandiri ( berusaha sendiri ) yang selama periode tertentu secara terpaksa bekerja
kurang dari jam kerja normal, yang masih mencari pekerjaan lain atau masih bersedia mencari
pekerjaan lain / tambahan ( BPS, 2001: 4 ).Definisi pengangguran secara teknis adalah semua
orang dalam referensi waktu tertentu, yaitu pada usia angkatan kerja yang tidak bekerja, baik
dalam arti mendapatkan upah atau bekerja mandiri, kemudian mencari pekerjaan, dalam arti
mempunyai kegiatan aktif dalam mencari kerja tersebut. Selain definisi di atas masih banyak
istilah arti definisi pengangguran diantaranya:

5|Page
Definisi pengangguran berdasarkan istilah umum dari pusat dan latihan tenaga kerja
Pengangguran adalah orang yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan
uang meskipun dapat dan mampu melakukan kerja. Definisi pengangguran menurut
Menakertrans Pengangguran adalah orang yang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan,
mempersiapkan suatu usaha baru, dan tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin
mendapatkan pekerjaan.

Pengangguran atau tuna karya adalah istilah untuk orang yang tidak bekerja sama sekali,
sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang
sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pengangguran umumnya disebabkan
karena jumlah angkatan kerja atau para pencari kerja tidak sebanding dengan jumlah lapangan
kerja yang ada yang mampu menyerapnya. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam
perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan
masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-
masalah sosial lainnya.

Tingkat pengangguran dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah pengangguran


dengan jumlah angkatan kerja yang dinyatakan dalam persen. Ketiadaan pendapatan
menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan
menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan
juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya.
Tingkat pengangguran yang terlalu tinggi juga dapat menyebabkan kekacauan politik
keamanan dan sosial sehingga mengganggu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Akibat
jangka panjang adalah menurunnya GNP dan pendapatan per kapita suatu negara. Di negara-
negara berkembang seperti Indonesia, dikenal istilah “pengangguran terselubung” di mana
pekerjaan yang semestinya bisa dilakukan dengan tenaga kerja sedikit, dilakukan oleh lebih
banyak orang.

Dari definisi-definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengangguran adalah


penduduk yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan atau menyiapkan suatu usaha
baru.

B. Penyebab Terjadinya Kemiskinan dan Pengangguran

Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yaitu kemiskinan alami dan
kemiskinan buatan. Kemiskinan alami terjadi akibat sumber daya alam (SDA) yang terbatas,
penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan buatan diakibatkan oleh
imbas dari para birokrat kurang berkompeten dalam penguasaan ekonomi dan berbagai
fasilitas yang tersedia, sehingga mengakibatkan susahnya untuk keluar dari kemelut
kemiskinan tersebut. Dampaknya, para ekonom selalu gencar mengkritik kebijakan
pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ketimbang dari pemerataan. Di bawah ini
beberapa penyebab kemiskinan menurut pendapat Karimah Kuraiyyim, yang antara lain
adalah:

1. Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global


Yang penting digaris bawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita
bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau
produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu
pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita
akan turun beriringan. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kemerosotan
standar perkembangan pendapatan per-kapita :
a. Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
b. Politik ekonomi yang tidak sehat.
c. Faktor-faktor luar negeri, diantaranya:
 Rusaknya syarat-syarat perdagangan
 Beban hutang
 Kurangnya bantuan luar negeri, dan
 Perang

6|Page
2. Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat
Terlihat jelas faktor ini sangat urgent dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan.
Oleh karena itu, untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus
didukung dengan SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan
yang bisa dipertanggungjawabkan dengan maksimal

3. Biaya kehidupan yang tinggi


Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari
tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan
adalah konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena
kurangnya tenaga kerja ahli, lemahnya peranan wanita di depan publik dan
banyaknya pengangguran.

4. Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.


Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan
keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber
pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak
negara.

Selain itu, ada juga penyebab utama lain dari timbulnya kemiskinan ini, diantaranya :
 Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan
 Terbatasnya akses serta rendahnya mutu layanan kesehatan, pendidikan, dan
sempitnya lapangan pekerjaan
 Kurangnya pengawasan serta perlindungan terhadap asset usaha
 Kurangnya penyesuaian terhadap gaji upah yang tidak sesuai dengan pekerjaan
yang dilakukan seseorang
 Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam
 Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan
keluarga.
 Tata kelola pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan
inefektivitas dalam pelayanan publik, meluasnya korupsi dan rendahnya jaminan
sosial terhadap masyarakat.

Pengangguran dapat terjadi karena beberapa sebab diantara nya:

1. Perubahan struktural
Seperti disebutkan Reynold, masters dan Moser jenis pengangguran ini terjadi
karena tidak sepadan/ketidak cocokan antara kulifikasi pekerja yang membutuhkan
pekerjaan dengan persyaratan yang diinginkan. Hal ini biasanya terjadi karena adanya
perubahan struktur ekonomi. Struktur ekonomi dapat diamati dari dominasi
konstribusi sektoral terhadap produksi nasional (regional). Bila sektor industri
memberikan konstribusi paling besar terhadap PDB dibanding dengan sektor lainnya,
maka struktur perekonomian tersebut adalah industri, atau sebaliknya (Sadono
Sukirno) katakanlah dalam suatu negara atau daerah terjadi pergeseran struktur
ekonomi dari pertanian ke sektor industri. Dampak selanjutnya, adalah dibutuhkannya
kualifikasi pekerjaan yang cocok disektor industri. Ketika persyaratan ini tidak
terpenuhi, maka tenaga kerja yang ada menjadi tidak terpakai, kecuali terjadi
penyesuaian kualifikasi seperti yang dibutuhkan.

2. Pengaruh Musim
Perubahan musim terjadi bukan hanya disektor pertanian saja. Tetapi sektor
terjadi juga pada sektor lain. Pada liburan dan tahun baru, misalnya suasana sektor
jasa tansportasi dan pariwisata menjadi sangat sibuk dibanding dengan hari-hari
biasa. Begitu pula hari menjelang, sedang dan bulan suci Ramadhan, nampak
permintaan antara barang dan jasa meningkat dan selanjutnya akan membawa
dampak otomatis terhadap permintaan tenaga kerja disektor yang bersangkutan.

7|Page
3. Adanya hambatan (ketidak lancaran) bertemunya pencari kerja dan lowongan kerja
Jenis pengangguran ini biasanya terjadi karena hambatan teknis (misalnya waktu
dan tempat). Sering terjadi pencari kerja tidak mendapat informasi yang lengkap
tentang lowongan kerja. Sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mendapat
lowongan pekerjaan tersebut. Pilihannya adalah tidak bekerja. Karena kondisi sudah
tidak kondusif lagi.

4. Rendahnya Aliran Investasi


Investasi merupakan komponen aggregate demand yang mempunyai daya ungkit
terhadap perluasan tenaga kerja. Perubahan investasi membawa dampak output
(pendapatan). Secara otomatis meningkatnya output akan membutuhkan sumberdaya
untuk proses produksi (modal, tenaga kerja, dan input lainnya). Dengan demikian
permintaan tenaga kerja akan meningkat dengan adanya peningkatan dan pengeluaran
otonom tadi.

5. Rendahnya Tingkat Keahlian


Keahlian dan produktifitas sangan erat. Orang yang memiliki keahlian akan
memiliki produktifitas tinggi karena ia mampu memanfaatkan dirinya pada aktivitas
ekonomi produktif. Untuk meningkatkan keahlian dapat dilakukan dengan cara
diantaranya adalah melalui pendidikan, atihan, magang, pendidikan formal,
membangkitkan kecerdasan tenaga kerja lewat pembinaan motifasi kerja.

6. Diskriminasi
Diskriminasi bukan hanya pada warna kulis saja, tetapi pada tingkat pendidikan,
ekonomi, hukum, agama dan lainnya. Misalnya bila pendidikan dan pengembangan
SDM tidak diberikan seluas-luasnya kepada publik, dampak selanjutnya adalah
terpuruknya sumber SDM. Dan dalam jangka panjang kesempatan akan sulit diraih
oleh tenaga kerja.

7. Laju Pertumbuhan Penduduk


Hal-hal yang tidak diinginkan dari persoalan penduduk diantaranya adalah
apabila pertumbuhan penduduk bersamaan dengan munculnya karakteristik berikut:
a. Tidak diimbangi dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai,
b. Rendahnya anggaran pendidikan,
c. Rendahnya tingkat kesehatan,
d. Tidak seimbang dengan laju pertumbuhan tenaga kerja,
e. Rendahnya pembentukan modal,
f. Rendahnya kualitas tenaga pendidikan,
g. Rendahnya balas jasa disektor pendidikan,
h. Rendahnya daya beli masyarakat,
i. Minimnya sumber daya ekonomi yang bisa di eksploitasi,

Bila kendala-kendala diatas bisa dieleminir atau bahkan dapat ditemukan pemecahannya,
maka persoalan pertumbuhan penduduk tidak akan terlalu jadi masalah. Bahkan boleh jadi
bisa menjadi pendorong pembangunan.

C. Perbandingan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran Beberapa Masa


Kepresidenan

1. Masa Kepresidenan Susilo Bamabang Yudhoyono (SBY)


 Syarat garis kemiskinan
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, batas garis kemiskinan per maret
2011 yaitu pengeluaran masyarakat sebesar Rp. 233.740 per kapita per bulan. Data ini
menunjukan ada nya kenaikan batas garis kemiskinan dari tahun sebelumnya yaitu
Rp. 211.726 atau 10,39%. Tingkat garis kemiskinan naik mengikuti harga barang dan
jasa yang yang dikonsumsi oleh orang miskin. Selain itu untuk kategori dikatakan
pengagguran dari masa ke masa tetap sama yauitu dikatakan pengangguran apabila
seseorang yang tidak bekerja atau sedang mencari kerja.

8|Page
SBY merupakan presiden ke-6 yang menjabat sebagai presiden 2 periode berturut
turut. Selama masa jabatan kepresidenan SBY memeng tidaklah membawa perubahan
tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran secara signifikan. Tapi masyarakat
mengakui kinerja dan dapat merasakan penurunan tingkat kemiskinan dan tingkat
pengangguran pada masa SBY. Berdasarkan data yang didapat penulis dari
kumparan.com bahwa pada akhir jabatan Kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono
dapat menekan tingkat kemiskinan dari ± 16.7% menjadi ± 10.96% artinya pada masa
SBY mengalami penurunan tingkat kemiskinan sebesar ± 5.7%. sedangkan tingkat
pengangguran turun dari ± 9.86% menjadi ± 5.98% artinya mengalami penurunan ±
3.88% pada masa kepresidenan SBY selama 10 tahun menjabat.

Berikut data kemiskinan dan pengangguran masa SBY periode ke-2 (2009-2014)
Tabel 1.0

 Dampak Kemiskinan dan Pengangguran Bagi Kesehatan dan Keamanan


Masyarakat
 Nilai Tukar Rupiah

2. Masa Kepresidenan Jokowi


Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) genap berusia 4 tahun
pada 20 Oktober 2018. Selama kepemimpinan Jokowi-JK jumlah penduduk miskin
berkurang 1,78 juta jiwa menjadi 25,95 juta jiwa pada Maret 2018 dibanding 27,73 juta
jiwa pada akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Turunnya jumlah
penduduk miskin tersebut membuat angka penduduk miskin juga turun 1,14% menjadi
9,82% dari 10.96% pada September 2014. Persentase penduduk miskin satu digit ini
merupakan yang pertama kali pasca terjadinya krisis moneter 1998.

Selama empat tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla (JK) mampu mengurangi jumlah pengangguran. Data Badan Pusat
Statistik mencatat bahwa jumlah pengangguran terbuka pada akhir Februari 2018
mencapai 6,87 juta jiwa turun dari posisi Agustus 2014 sebanyak 7,24 juta jiwa. Alhasil,
angka pengangguran juga turun menjadi ± 5,13% dari sebelumnya ± 5,94%.

9|Page
KESIMPULAN

Pengangguran di Indonesia kondisinya saat ini sangat memprihatnkan, banyak sekali


terdapat pengangguran di mana-mana. Penyebab pengangguran di ndonesia ialah terdapat
pada masalah sumber daya manusia itu sendiri dan tentunya keterbatasan lapangan pekerjaan.
Indonesia menempati urutan ke 133 dalam hal tingkat pengangguran di dunia, semakin rendah
peringkatnya maka semakin banyak pulah jumlah pengangguran yang terdapat di Negara
tersebut. Untuk mengatasi masalah pengangguran ini pemerintah telah membuat suatu
program untuk menampung para pengangguran. Selain mengharapkan bantuan dari
pemerintah sebaiknya kita secara pribadi juga harus berusaha memperbaiki kualitas sumber
daya kita agar tidak menjadi seornag pengangguran dan menjadi beban pemerintah.

Dengan besarnya tingkat pengangguran tersebut maka semakin besar pula tigkat
kemiskinan di Indonesia. Indonesia yang sekarang tentu saja sangat berbeda dari Indonesia
satu dekade yang lalu. Maka bukan hal yang mengejutkan apabila strategi-strategi
pengentasan kemiskinan telah berubah seiring dengan perubahan yang telah dialami oleh
Indonesia oleh karena itu dibuatlah makalah yang berjudul “Pengentasan Kemiskinan” dan
penulis sangat berharap bahwa kajian kemiskinan ini dapat menjadi sumbangan berarti dalam
menghadapi berbagai tantangan.

10 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

 Badan Pusat Statisti (BPS), 2018, Penghitungan dan Analisis Kemiskinan Makro Indonesia
Tahun 2018, Jakarta : Badan Pusat Statistik
 https://setkab.go.id/pengangguran-dan-kemiskinan-turun-menkeu-pertumbuhan-ekonomi-
2018-capai-515-persen/
 http://www.neraca.co.id/article/94321/kemiskinan-dan-pengangguran
 https://ekonomi.kompas.com/jeo/jejak-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-dari-masa-ke-masa
 https://www.bps.go.id/pressrelease/2018/11/05/1485/agustus-2018--tingkat-pengangguran-
terbuka--tpt--sebesar-5-34-persen.html
 http://inayah2710.blogspot.com/2017/01/makalah-pengangguran-dan-kesmiskinan-di.html
 https://www.bps.go.id/statictable/2014/01/30/1494/jumlah-penduduk-miskin-persentase-
penduduk-miskin-dan-garis-kemiskinan-1970-2017.html
 https://kumparan.com/@kumparannews/menguji-klaim-sby-soal-pencapaian-ekonomi-saat-
dirinya-jadi-presiden-1537265987790251067
 https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/10/20/4-tahun-pemerintahan-jokowi-jk-
pengangguran-turun-menjadi-513

11 | P a g e