Anda di halaman 1dari 23

Sejarah Perkembangan Antropologi

Antropologi berasal dari kata anthropos yang berarti manusia, dan logos yang berarti
ilmu. Menurut Haviland (1994;7) antropogi adalah studi tentang umat manusia yang berusaha
menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan prilakunya, dan untuk
memperoleh pengertian yang lengkap mengenai keanekaragaman manusia. Dalam pengertian
studi yang mempelajari manusia, antropologi menurut Embaer (1985:2) dapat bersifat akurat
atau tidak akurat. Para ahli antropologi tertarik untuk mempelajari kapan, dimana, dan
bagaimana manusia pada mulanya muncul di bumi, selaian itu mereka juga mempelajari
beraneka ragam ciri-ciri fisik manusia. Para ahliantropolgi juga tertarik untuk mempelajari
bagaimana dan mengapa suatu masyarakat memilki pemikiran dan kebiasaan pada masa
lampau dan masa kini.

Ketidak akuratan pengertian sebagaimana pembagian diatas juga muncul karena


dengan pengertian tersebut antropolgi dapat digabungkan denngan disiplin ilmu manusia
lainnya seperti sosiologi, psikologi, ilmu politik, ekonomi, sejarah, biologi manusia, dan
bahkan dapat digabungkan dengan disiplin humanistic seperti filsafat dan sastra.

Banyaknya disiplin lain yang juga memiliki perhatian dengan permasalahan manusia,
tentu tidak akan merasa senang bila diterima sebagai sebagian atau cabang ilmu antropolgi.
Memang kebanyakan dari ilmu-ilmu tersebut sudah terpisahkan sebagai disiplin sendiri lebih
lama dari antropologi, dan masing-masing mempertimbangkan wilayah kajian mereka untuk
menjadi berbeda dari yang lain.

Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Ilmu Antropologi.


Sejarah perkembangan Antropologi menurut Koentjaraningrat (1996:1-3) terdiri dari
empat fase, yaitu:

a. Fase Pertama (Sebelum 1800)


Sejak akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, suku-suku bangsa di benua Asia, Afrika,
Amerika, dan Oseania mulai kedatangan orang-orang Eropa Barat selam kurang lebih 4
abad. Orang-orang eropa tersebut, yang antara lain terdiri dari para musafir, pelaut,
pendeta, kaum nasrani, maupun para pegawai pemerintahan jajahan, mulai menerbitkan
buku-buku kisah perjalanan, laporan dan lain-lain yang mendeskripsikan kondisi dari
bangsa-bangsa yang mereka kunjungi. Deskripsi tersebut berupa adat istiadat, susunan
masyarakat, bahasa, atau cirri-ciri fisik. Deskripsi tersebut kemudian disebut sebagai
"etnografi" (dari kata etnos berarti bahasa.

b. Fase kedua (kira-kira Pertengahan Abad ke-19)


Pada awal abad ke-19, ada usaha-usaha untuk mengintegrasikan secara serius beerapa
karangan-karangan yang membahas masyarakat dan kebudayaan di dunia pada berbagai
tingkat evolusi. Masyarakat dan kebudayaan di dunia tersebut mentangkut masyarakat
yang dianggap "primitiv" yang tingkat evolusinya sangat lambat, maupun masyarakat
yang tingkatannya sudah dianggap maju. Pada sekitar 1860, lahirlah antropologi setelah
terdapat bebarapa karangan yang mengklasifikasikan bahan-bahan mengenai berbagai
kebudayaan di dunia dalam berbagai tingkat evolusi.

c. Fase Ketiga ( Awal Abad ke-20)


Pada awal abad ke-20, sebagian besar Negara penjajah di Eropa berhasil
memantapkan kekuasaannya di daerah-daerah jajahan mereka. Dalam era colonial
tersebut, ilmu Antropologi menjadi semakin penting bagi kepentingan kolonialisme.

Pada fase ini dimulai ada anggapan bahwa mempelajari bangsa-bangsa non Eropa
ternyata makin penting karena masyarakat tersebut pada umumnya belum sekompleks
bangsa-bangsa Eropa. Dengan pemahaman mengenai masyarakat yang tidak kompleks,
maka hal itu akan menambah pemahaman tentang masyarakat yang kompleks.

d. Fase Keempat (Sesudah Kira-kira 1930)


Pada fase ini, antropologi berkembang pesat dan lebih berorientasi akademik.
Penembangannya meliputu ketelitian bahan pengetahuannya maupun metode-metode
ilmiahnya. Di lain pihak muncul pula sikap anti kolonialisme dan gejala makin
berkurangnya bangsa-bangsa primitive (yaitu bangsa-bangsa yang tidak memperoleh
pengaruh kebudayaan Eropa-Amerika) setelahPerang Dunia II.

Menyebabkan bahwa antropologi kemudian seolah-olah kehilangan lapangan. Oleh


karena itu sasaran dan objek penelitian para ahli antropologi sejak tahun 1930 telah
beralih dari suku-suku bangsa primitiv non Eropa kepada penduduk pedesaan, termasuk
daerah-daerah pedesaan Eropa dan Amerika. Secara akademik perkembangan antropologi
pada fase ini ditandai dengan symposium internasional pada tahun 1950-an, guna
membahas tujuan dan ruang lingkup antropologi oleh para ahli dari Amerika dan Eropa.
Pada fase keempat ini antropologi memiliki dua tujuan utama:

1. Tujuan Akademis, untuk mencapai pemahaman tentang manusia berdasarkan


bentuk fisiknya, masyarakatnya, maupun kebudayaannya.

2. Tujuan Praktis, untuk kepentingan pembangunan

Lahirnya Ilmu Antropologi


Antropologi adalah suatu ilmu sosial yang pemaparannya mengenai sejarah
pembentukan antropologi tetap penting dibicarakan. Kebanyakan antropolog sependapat
bahwa antropologi muncul sebagai suatu cabang keilmuan yang jelas batasannya pada sekitar
pertengahan abad kesembilan belas, tatkala perhatian orang pada evolusi manusia
berkembang. Setiap antropolog dan ahli sejarah memiliki alas an sendiri-sendiri untuk
menetukan kapan antropologi dimulai. Dari sudut pandang "sejarah gagasan", tulisan-tulisan
filsuf, dan peziarah Yunani, sejarawan Arab kuno, peziarah Eropa kuno, maupun masa
renaisans, dan filsuf, ahli hukum, ilmuwan berbagai bidang dari Eropa, semuanya bisa
dianggap pendorong bagi dibangunnya tradisi antropologi.

Sebagai contoh, Alan Bernand (2000) berpendapat bahwa kelahiran antropologi


adalah ketika konsep "kontrak sosial" lahir, dan persepsi mengenai hakikat manusia,
masyarakat dan keanekaragaman kebudayaan tumbuh dari konsep "kontrak sosial" tersebut.
Gagasan ini dalam beberapa hal adalah pelopor dalam teori evolusi.

Perdebatan pada abad ke 18 mengenai asal usul bahasa dan mengenai hubungan
antara manusia dengan apa yang kita sebut primate yang lebih tinggi juga relevan, seperti
halnya perdeatan pada abad ke 19 antara poligenis (keyakinan bahwa setiap 'ras' mempunyai
asal usul terpisah) dan monogenis (keyakinan bahwa manusia memiliki asal usul keturunan
yang sama, dari adam atau dari makhluk yang disebut dengan kera). Gagasan demikian itu
tidak hanya penting sebagai fakta sejarah, tetapi juga karena gagasan itu membentuk persepsi
antropologi modern mengenai dirinya sendiri.

Antropologi di Eropa pada abad ke 18 ditandai oleh tiga pertanyaan penting yang
diajukan untuk pertama kali dalam bentuk modern selama masa pencerahan di Eropa.
Pertanyaan itu adalah:

a. Siapa yang mendefenisikan manusia dalam bentuk abstrak?

b. Apa yang membedakan manusia dari binatang?


c. Dan apa kondisi alamiah dari manusia itu?
Dari pertanyaan itu maka munculah ilmuwan dan tokoh-tokoh dalam pengembangan
kehidupan manusia, sehingga disebut dengan ilmu antropologi yang kita kenal sampai
sekarang.

Antropologi pada abad ke 19 dan abad ke 20, berkembang dalam arah yang lebih
sistematik dan menggunakan peralatan metedologi ilmiah. Persoalan paradigma menjadi
semakin penting karena masih mempertanyakan pertanyaan–pertanyaan diatas. Dan samapi
saat sekarang ini para ilmuwan dan tokoh-tokoh masih mengembangkan pemikiran mereka
dalam dunia ilmu antropologi ini.

Berkembangnya Ilmu Antropologi


Dalam arti tertentu, praktik antropologi dimulai begitu manusia mulai berfikir tentang
masyarakat dan keyakinan-keyakinan mereka, dan secara sadar memutuskan untuk
membandingan diri mereka sendiri dengan masyarakat-masyarakat lain yang melakukan
kontak dengan mereka.

Ahli sejarah Yunani, Herodotus (484-425 SM) menghabiskan bertahun-tahun untuk


melakukan perjalanan di Asia, Mesir dan Yunani, dan menuliskan gambaran terperinci
tentang pakaian, panen, etiket dan ritual dari orang-orang yang ia jumpai. Ibn Khaldun
(13326-1406) adalah seorang ahli politik dan sejarah yang tinggal beberapa tahun. Ia
menghasilkan karya ilmiah yang menakjubkan, karena mengelompokkan orang-orang yang
diamatinya menjadi dua kelompok masyarakat, yaitu suku Bedouin yang dianggap liar,
nomaden serta agresif, dan masyarakt kota yang menetap, berpendidikan dan kadang-kadang
korup, yang menggantungkan hidup mereka pada pertanian lokal.

Antropologi mengemuka setelah melewati serangkaian perkembangan yang


kompleks, dan saat ini mencakup minat-minat dan bidang-bidang ilmu yang sangat beragam.
Kita akan meninjau beberapa diantaranya untuk memahami bagaimana antropologi sampai
saat pada perkembangannya saat ini.

Setidaknya sejak abad kelima belas, dengan dilengkapinya pe;ayaran-pelayaran besar


untuk menemukan dan menaklukan wilayah baru, muncul berbagai perdebatan tentang sifat
dan adat istiadat orang-orang biadab yang digambarkan oleh orang pelaut dan pedagang. Di
akhir abad keenam belas sastrawan Perancis, Michael De Montaigne (1533-1529),
memadukan pengetahuannya tentang karya-karya penulis klasik seperti Xenophon, Lucretius
dan virgil dengan penjelajahan-penjelajahan dunia baru.
Selama zaman pertengahan, makhluk didunia dikelompokkan kedalam beberapa ordo
yang statis, diciptakan oleh tuhan yang disebut rantai kehidupan (chain of being). Pada abad
ketujuh belas dan delapan belas 'Rantai' tersebut kerat teramati dalam kondisi-kondisi yang
lebih dinamis. Dengan demikian, kebudayaan dapat dianggap sebagai kemajuan, dengan
masyarakat eropa sebagai titik puncak perkembangan, baik secara moral maupun cultural.

Antropologi menjadi sebuah subjek akademis yang berdiri sendiri pada abad
kesembilan belas, sebagian besar memusatkan perhatian pada penelitian sifat-sifat fisik,
bahasa dan budaya masyarakat yang belum beradab. Sir Edward Tylor menjadi dosen
antropologi di Oxford pada tahun 1884, maka mulai disinilah antropologi dikembangkan
diberbagai Negara. Hampir disepanjang abad kesembilan belas, status pasti antropologi
mencakup segala hal, mulai dari mengukur bentuk dan ukuran kepala sampai mengumpulkan
artefak untuk mengisi museum-museum dikota-kota yang kaitannya dengan sains, terutama
zoology dan biologi.

Goerge Stocking, seorang ahli antropologi sejarah dari Amerika membedakan


perilaku banyak warga Inggris Victoria dengan masyarakat non Eropa, secara jelas gambaran
yang dimunculkan adalah gambaran seorang yang bukan saja terasing secara geografis, tapi
juga kebalikan dari gambaran ideal dari seorang pria Victoria; berkulit putih, menarik bersih
(sifat ini bisa dikatakan mendekati sifat saleh). Gagasan itu jelas menggambarkan evolusi
budaya, sebuah gagasan yang berhasil menjadi sebuah teori dominan di abad kesembilan
belas.

Gagasan ini didukung oleh hasil penelitian beberapa disiplin ilmu, bukti-bukti geologi
menunjukan bahwa bumi lebih tua daripada yang diungkapkan oleh injil, sementara
penemuan-penemuan arkeologi seperti peralatan yang ditemukan di tanah berlumpur
Denmark dianggap mendukung teori yang menyatakan bahwa umat manusia telah melewati
berturut-turut, zaman-zaman batu, perunggu, dan besi. Para ilmuwan mulai mencari
penjelasan-penjelasan ilmiah dan bukan lagi penjelasan teologi untuk memahami perbedaan
perkambangan antara Negara-negara dengan peradaban barat dengan masyrakat yang secara
teknologi dan budaya dianggap lebih primitif.

Pada tahun 1896 ahli antropologi Franz Boas (1858-1942) menerbitkan sebuah
makalah yang berjudul The Limitations Of The Comparative Method Of Anthropology. Dua
kalimat terakhir dalam tulisannya mengatakan "sampai saat ini kita masih terlalu senang
tingkah laku aneh yang cerdik. Kerja nyata masih didepan kita", yang ia maksud dengan
kesenangan adalah kesenangan dari banyak ahli evolusi, yang menurut Boas, riset mereka
pada hikikatnya rasis dan hanya ditunjang oleh sedikit bukti saja.

Banyak karya-karya Boas yang diterima oleh pakar antropologi lainnya, sehingga
mereka melihat tanda-tanda awal perpecahan minat antara para ahli antropolgi Amerika dan
Inggris. Pengikut Boas di Amerika, seperti ilmuwan A.L. Kroeber (1876-1960) dan R. Lowie
(1883-1957) meneruskan dengan melakukan penelitian sejarah, sekaligus memusatkan
perhatian pada analisis budaya.
Tokoh-Tokoh Antropologi
Para tokoh antropologi dalam fase pertama dari perkembangannya sudah tentu belum
ada, Karena pada waktu itu belum ada ilmu antropologi. Namun ada penjelasan tentang
manusia dan kebudayaan suku-suku bangsa yang tinggal diluar benua Eropa. Parapengarang
etnografi kuno ada dari berbagai golongan antara lain:

1. Golongan musafir adalah A. Bastian, seorang dokter kapal berbangsa jerman yang telah
keliling ke berbagai benua pada permulaan abad ke-19. diantara catatan-catatan
perjalanannya mengenai berbagai daerah tertentu di Afrika Barat, India. Cina, Australia,
Kepulauan Osenia, Meksiko, dan Amerika latin. Ia pernah menulis tiga jilid etnografi
mengenai kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia.

2. Golongan penyiar agama Nasrani sangat banyak jumlahnya, cukup disebut seorang saja
sebagai contoh, ialah J.F. Lafitau, seorang pendeta agama Katolik bangsa perancis yang
pernah berkerja di daerah sungai St. Lawrance (Amerika Utara dan Kanada Timur),
sebagai penyiar agama dan menulis sebuah etnografi yang klasik (1724) tentang
kebudayaan suku-suku bangsa India yang hidup didaerah sungai tersebut.

3. Golongan Eksplorasi adalah N.N. Miklukho-Maklai, seorang bangsa Rusia yang banyak
mengenbara di daerah Oseania di Lautan Teduh, dan yang pernah mengunjungi Papua
Nugini dan Irian Jaya.

4. Golongan pemerintah-pemerintah jajahan adalah T.S. Raffles, yang pernah menjabat


sebagai Letnan Gubernur Jendral di Indonesia antara tahun 1811 dan 1815.

5. Tokoh dari sarjana antropologi pada abad ke-19 adalah L.H Morgan, seorang serjana
hokum bangsa Amerika yang berkerja sebagai pengacara.

6. P.W. Schmidt, seorang serjana antropologi berbangsa Austria.


7. Tokoh sarjana antropologi dalam fase perkembangannya yang ketiga adalah B.
Malinowski, yang telah menulis banyak buku antropologi.

8. Tokoh sarjana antropologi dalam fase perkembangannya yang keempat adalah F. Boas
yang mula-mula adalah ahli geografi bangsa jerman, kemudian menjadi warga Negara
Amerika, yang dianggap sebagai tokoh pendekar antropologi pada masa kejayaannya.

9. Ruth Benedict, Margaret Mead dan R. Linton adalah tokoh antropologi wanita yang lebih
mengarah tentang antropologi psikologi.
10. A.R Radcliffe-Brown adalh tokoh antropologi yang mengembangkan teori-teori
antropologi sinkronik yang kemudian menjadi sub ilmu antropologi social.
11. R. frith adalah tokoh yang menggunakan metode-metode antropologi dalam hal analisis,
yang bisa disebut antropologi terapan.

Banyak sekali tokoh-tokoh yang berperan penting dalam dunia perkembangan ilmu
antropologi, karena antropologi tidak hanya berkembang di Negara-negara Eropa saja, akan
tetapi ilmu ini berkembang ke Negara-negara Asia, Afrika, Amerika dan lain sebagainya.
Sehingga dengan berkembangnya ilmu ini di Negara-negara tersebut banyak tokoh-tokoh
yang ikut campur dengan pemikiran-pemikiran mereka sehingga ilmu antropologi semakin
lama semakin luas kajiannya.

Cabang-Cabang Antropologi
Dalam buku "Anntropology", William A. Haviland (1985:12) membahas antropologi
yang secara garis besar terdiri empat cabang yaitu:

1. Antropologi Fisik

2. Antropogi Budaya (Arkeologi, Linguistik, dan Etnologi).

Dari keempat bagian tersebut Haviland kemudian menjabarkannya ke dalam berbagai


bagian yang meliputi; Evolusi Biologi Umat Manusia, Evolusi Kultural Uma Manusia, serta
Kebudayaan dengan segala macam aspeknya seperti komunikasi, pengasuhan anak, poa
pengidupan, sistem perekonomian, perkawinan dan keluarga, kekerabatan dan keturunan,
organisasi politik dan pengendalian social, agama, kesenian, dan perubahan kebudayaan.

Antropologi Fisik
Antropologi fisik (antropologi ragawi) adalah bagian dari antropologi yang
memusatkan perhatiannya kepada manusia sebagai organisme biologis yang berkembang dan
hendak ditentukan bagaimana dan apa sebabnya bangsa-bangsa berbeda menurut keadaan
fisiknya. Salah satu yang menjadi perhatian antropologi fisik adalah evolusi manusia
(Haviland, 1985:12 dan Ihromi, 1994:5). Dua pertanyaan yang menyolok dari cabang
antropolohgi fisik adalah:
a. Tentang munculnya manusia, dan perkembangannya kemudian (paleontology manusia)
b. Mengenai bagaimana dan apa sebabnya manusia masa kini secara biologis berbeda (variasi
manusia)

Antropologi Buday
Antropologi budaya meliputi etnologi, linguistic, dan arkeologi. Yang ketiganya
berhubungan langsung dengan kebudayaan manusia. Berikut kan di bahas satu persatu:

a. Etnologi
Atau dikenal dengan ilmu bangsa-bangsa. Etnologi menurut Haviland (1985:17) adalah
cabang dari antropologi budaya yang memusatkan perhatian terhadap kebudayaan-
kebudayaan zaman sekarang. Sub disiplin ini lebih mengkhususkan diri kepada prilaku
manusia sebagaimana yang dapat disaksikan, dialami, dan didiskusikannya dengan orang-
orang yang kebudayaannnya hendak dipahami. Sementara itu, menurut Ihromi (1994:10)
berpendapat bahwa seorang ahli etnologi berusaha memahami bagaimana perbedaan dari cara
berpikir dan cara berlaku yang sudah membaku pada orang-orang masa sekarang dan masa
lalu, serta memahami sebab-sebab dari perbedaan itu. Dengan kata lain etnologi mempelajari
pola-pola kelakuan seperti adat istiadat perkawinan, struktur kekerabatan, sistem politik dan
ekonomi, agama, cerita-cerita rakyat, kesenian dan musik.

Serta bagaimana perbedaan diantara pola-pla itu dalam berbagai masyarakat masa kini.
Selain itu etnologi juga mempelajari dinamika kebudayaan tersebut dan kebudayaan lain
saling mempengaruhi termasuk juga interaksi antara berbagai kepercayaan dan cara-cara
melaksanakannya di dalam suatu kebudayaan dan pengaruhnya terhadap kepribadian
seseorang.

b. Linguistik
Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa-bahasa. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu
tentang bahasa ini agak lebih tua dibandingkan dengan antropologi. Kedua disiplin tersebut
menjadi amat erat hubungannya, karena ketika para ahli antropologi melakukan penelitian
lapangan, mereka meminta bantuan tenaga-tenaga ahli bahasa untuk mempelajari bahasa-
bahasa primitive. Terdapat perbedaan antara ahli linguistic dengan ahli-ahli bahasa yang
lain. Ahli linguistic lebih tertarik pada sejarah dan struktur bahasa-bahasa yang tidak
tertulis. Pusat perhatian demikian memerlukan tekhnik analisa dan penelitian yang lebih las
jenisnya dibandingkan dengan yang digunakan oleh para ahli bahasa yang lain.

Lebih jauh ahli linguistic juga tertarik untuk mempelajari timbulnya bahasa selama
masa yang lalu dan juga pada variasi bahasa pada masa kini, sehingga dapat dikatakan
bahwa ahli antropologi linguistic mempelajari timbulnya bahasa dan bagaimana terjadinya
variasi dalam bahasa-bahasa selama dalam jangka waktu berabad-abad. Ketika antropologi
linguistic tertarik mengenai bagaimana terjadinya perbedaan bahasa-bahasa sekarang,
khusunya sehubungan dengan konstruksi dan cara penggunaannya, maka kemudian
berkembang cabang ilmu bahasa deskriptif. Secara rinci, ilmu mengenai konstruksi bahasa
disebut ilmu bahasa struktual, dan ilmu yang mempelajari bagaimana bahasa dipergunakan
dalam logat sehari-hari disebut sosialinguistik atau etnolinguistik.

c. Arkeologi
Arkeologi menurut Havilland (1985:14) adalah cabang antropologi budaya yang
mempelajari benda-benda dengan maksud untuk menggambarkan dan menerangkan perilaku
manusia. Sebagian besar perhatian dipusatkan kepada masa lampau, karena apa yang
tertinggal di masa lampau seringkali hanya berupa benda dan bukan gagasan. Ahli arkeologi
mempelajari alat-alat, tembikar, dan peninggalan lain yang tahan lama, yang masih ada
sebagai warisan dari kebudayaan yang telah punah. Atau dengan kata lain menurut Ihromi
(1994:7) berusaha mengkonstruksikan dan menyusun kembali cara hidup sehari-hari dan adat
istiadat dari bangsa-bangsa masa prasejarah, serta menelusuri perubahan kebudayaan dan
mengajukan keterengan tentang kemungkinan sebab dari perubahan kebudayaan itu.

Pokok perhatiannya sama dengan ahli sejarah, hanya saja ahli arkeologi menelusuri
masa lalu yang lebih jauh, karena para ahli sejarah hanya mempelajari kebudayaan yang
mempunyai catatan-catatan tertulis dan hanya membatasi diri pada 5.000 tahun terakhir ini.

DAFTAR PUSTAKA
Coleman, Simon dan Helen Watson, Pengantar Antropologi (Jakarta: Nuansa, 2005)

Fedyani, Achmad Saifudin, Ph.D, Antropologi Kontemporer (Jakarta: Kencana, 2006)

Koentjaraningrat, Pengantar ilmu Antropologi (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990)

Boas, F, Primitive art (New York: Dover, 1927)

Nash, M, Primitive and PeasentEconomic System (San Fransisco: Chandler Publishing


Company, 1966
http://www.psychologymania.net/2010/04/sejarah-perkembangan-antropologi.html

Pengertian Antropologi dan


Sejarah Singkat antropologi
1.Pengertian antropologi
 Antropologi berasal dari bahasa Yunani ‘Antropos’ dan ‘Logos’, berdasarkan epistemologis
atau asal katanya antropologi dibagi menjadi 2 pengertian diantaranya “Antropos” yang
berarti makhluk manusia dan “Logos” yang berarti pikir, pengetahuan yang terorganisir atau
Ilmu. Jadi pengetahuan yang tidak terorganisir tidak tersistematisir, bukan ilmu tetapi hanya
melihat pada gejala.

 Definisi Antropologi menurut para ahli

 William A. Havilland : Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha


menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk
memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
 David Hunter : Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak
terbatas tentang umat manusia.
 Koentjaraningrat : Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada
umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang
dihasilkan.
2. Objek kajian Antropologi

Objek dari antropologi adalah manusia di dalam masyarakat suku bangsa,


kebudayaan dan prilakunya. Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari
tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman dan lain
sebagainya, objek kajian Antropologi adalah manusia didalam masyarakat suku
bangsa kebudayaan dan perilakunya.
3. Ciri-ciri dan Hakikat Antropologi sebagai berikut :

 Ciri-ciri antropologi sebagai ilmu pengetahuan adalah:


 empiris artinya ilmu pengetahuan tersebut didasarkan pada observasi terhadap
kenyataan dan akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif
 teoritis artinya suatu ilmu pengetahuan yang selalu berusaha untuk menyusun
abstraksi dari hasil pengamatan
 kumulatif artinya disusun atas dasar teori-teori yang sudah ada atau
memperbaiki, memperluas serta memperkuat teori-teori yang lama
 non etis artinya pembahasan suatu masalah tidak mempersoalkan baik atau
buruk masalah tersebut tetapi lebih bertujuan untuk menjelaskan masalah tersebut
secara mendalam.
 hakikat antropologi sebagai ilmu pengetahuan adalah :
 a.merupakan ilmu sosial
 b.bersifat normatif
 c.tergolong ke dalam ilmu murni dan juga ilmu terapan
 d. imu pengetahuan yang abstrak
 e.bertujuan menghasilkan pengertian dan pola umum manusia dan
masyarakatnya
 f.merupakan ilmu pengetahuan umum

4. Adapun tujuan Antropologi dibagi menjadi 2, yaitu Akademis dan Praktis


 Tujuan akademisnya berusaha memberi pengertian tentang manusia sebagai
masyarakat, suku bangsa, perilaku dan kebudayaannya.
 Tujuan praktis adalah mempelajari manusia, perilaku, dan kebudayaanya guna
membangun masyarakat suku bangsa itu sendiri.

5. Ruang Lingkup Antropologi meliputi :


Ruang lingkup dan kajian Antropologi memfokuskan kepada lima (5) masalah,
antara lain :

1. Masalah sejarah asal dan perkembangan manusia dilihat dari ciri-ciri


tubuhnya secara evolusi yang dipandang dari segi biologi.
2. Masalah sejarah terjadinya berbagai ragam manusia dari segi ciri-ciri fisiknya.
3. Masalah perkembangan,penyebaran,dan terjadinya beragam kebudayaan di
dunia.
4. Masalah sejarah asal, perkembangan, serta penyebaran berbagai macam
bahasa di seluruh dunia.
5. Masalah mengenai asas-asas kebudayaan manusia dalam kehidupan
masyarakat-masarakat suku bangsa di dunia.

6.Manfaat Antropologi
Ilmu pengetahuan antropologi memiliki tujuan manfaat untuk mempelajari manusia
dalam bermasyarakat suku bangsa, berperilaku dan berkebudayaan untuk
membangun masyarakat itu sendiri.
7.Sejarah Singkat Antropologi

FASE PERTAMA (SEBELUM TAHUN 1800-AN)


Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk
menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam
penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak
menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan
penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan.
Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing
tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari
suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut
kemudian dikenal dengan bahan etnogragfi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa.
Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada
permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi
suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul
usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.

FASE KEDUA (TAHUN 1800-AN)

Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-
karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat
dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang
lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa
primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi
kebudayaannya
Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan
kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang
tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.

FASE KETIGA (AWAL ABAD KE-20)


Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua
lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-
koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli,
pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta
hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara
Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya.
Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku
bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk
kepentingan pemerintah kolonial.

Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku


bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh
kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang
ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian
besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu
menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak
berujung.
Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang
dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa
tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam
dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-
tahun.
Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak
lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku
bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.
http://kebutave.blogspot.co.id/2014/08/pengertian-antropologi-dan-sejarah.html

Hubungan Antropologi dan Ilmu Hukum


BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Antropologi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani. Kata Anthropos berarti mansia dan logos
berarti ilmu pengetahuan. Jadi, antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia. Oleh karena itu
antropologi didasarkan pada kemajuan yang telah dicapai ilmu pengetahuna sebelumnya.

Dalam membandingkan kebudayaan-kebudayaan manusia, maka salah satu hal yang menarik perhatian
untuk dipahami secara mendalam dalam konteks yang universal adalah norma-norma yang selalu terumus
dalam setiap bentuk kehidupan bersama dari manusia sebagai pedoman, yang diajarkan kepada warganya
supaya diperhatikan dalam berperilaku. Hukum lahir dari kebudayaan. Melihat hal tersebut di atas tentunya
menyadarkan kepada kita akan peran Antropologi Budaya sebagai sebuah perspektif untuk melihat berbagai
macam corak hukum yang lahir dan berkembang pula dari berbagai corak dan ragam kebudayaan.

Gambar 1. Cabang-cabang Antropologi menurut Kontjaraningrat


Dalam gambar 1 kita dapat mempelajari Antropologi Budaya berarti kita melihat sebuah realitas,
kenyataan atas kehidupan budaya yang sesungguhnya berjalan di masyarakat yang didalamnya terdapat
aturan hukum baik berasal dari hukum tertulis maupun tidak tertulis. Satu hal yang dapat kita ambil dari
antropologi budaya, adalah diharapkan dapat memunculkan kesadaran atas kenyataan adanya keberagaman
hukum karena beragamnya budaya. Beragamnya hukum tersebut jangan dimaknakan sebagai pertentangan
hukum (conflict of laws), tetapi patut dianggap sebagai kekayaan hukum yang akan mampu memperkuat serta
memperbaharui hukum nasional. Di sisi lain akibatnya adalah memunculkan sikap toleransi untuk menghargai
umat manusia yang beragam pola fikir, karakter, pemahaman, dan tentunya juga beragam hukum. Dalam
makalah ini merupakan pemaparan peran budaya hukum dalam proses pembangunan hukum, terutama di
negara berkembang khususnya di indonesia. Tujuannya adalah untuk menggarisbawahi pentingnya budaya
hukum dalam masyarakat yang menginginkan terjadinya reformasi hukum. Ini hanyalah sebatas sebuah
konsep, makalah ini disertai dengan beberapa contoh reformasi hukum di Indonesia sekitar tahun 1990-an.

BAB II

PERMASALAHAN

Harus disadari bahwa hukum lahir dan berkembang dari sebuah kebudayaan, sehingga akan menjadi
logis bahwa tidak ada hukum yang seragam, karena tidak ada kebudayaan yang bersifat seragam. Hukum yang
berlaku bagi masyarakat Batak tentu saja akan berbeda dengan hukum yang berlaku pada masyarakat Minang,
dan tentu saja akan berbeda dengan hukum yang berlaku pada masyarakat Jawa dan Sunda, atau bahkan
hukum yang berlaku pada masyarakat Eskimo berbeda dengan hukum yang berlaku bagi masyarakat Indian di
Amerika. Untuk negara sebesar dan seluas Indonesia tentunya memberlakukan hukum secara seragam
terhadap masyarakat yang memiliki berbagai ragam kebudayaan di Indonesia akan menjadi tidak adil.

Dari uraian di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan pada makalah ini adalah:

1. Seperti apa hukum itu sendiri jika dilihat dari perspektif antropologi?

2. Sejauh mana peranan antropologi kebudayaan itu sendiri dalam perkembangan ilmu hukum?

3. Apakah dengan kenyataan adanya keberagaman budaya tidak akan menimbulkan pertentangan hukum?

BAB III

PEMBAHASAN

A. Hukum dan Pembangunan


Hukum dan gerakan pembangunan pada tahun 1960-an sampai dengan 1970-an berkaitan dengan
hubungan antara hukum dan pembangunan, terutama negara-negara berkembang. Kaum ortodoks dan
mayoritas melihat bahwa reformasi di bidang hukum , terutama pengenalan ide dan lembaga hukum modern
negara barat kepada negara berkembang, memegang peran penting dalam pembangunan ekonomi dan politik.
Kaum minoritas melihat hukum terikat dengan budaya dan tidak dapat dipindahkan atau dipinjam dari satu
masyarakat ke masyarakat lainnya seperti halnya meminjam kunci Inggris untuk menutup lekuk yang bocor.
Pandangan ini berasal dari Montesquieu dan sarjana asal Jerman, Friedrich Carl von Savigny. Sagviny percaya
bahwa negara mempunyai kesatuan oganik dari individu dan bahwa hukum negara berkembang melalui
pembentukan norma-norma sosial dalam suatu masyarakat secara periodik.

Pada tahun 1990-an, hukum dan pembangunan kembali menjadi topik yang hangat. Hal ini tidak
mengejutkan sebab pada tahun ini ada dukungan pembaharuan dari negara maju terhadap ferormasi hukum
pada negara berkembang.

B. Budaya Hukum

Suatu perspektif antropologi menurut minat luas apra antropolog adalah minat mengenai masyarakat
(sebagai satuan sosial) atau kebudayaan (sebagai perangkat gagasan, aturan-aturan, keyakinan-keyakinan yang
dimiliki bersama). Freidman, seorang sosiolog hukum dari Universitas Stanfords, menyatakan bahwa sistem
hukum terdiri atas tiga komponen, struktur hukum, hukum substantif, dan budaya hukum. Struktur mengacu
pada lembaga dan proses dalam sistem hukum; struktur hukum merupakan badan, kerangka kerja, dan sistem
yang tahan lama. Sistem ini meliputi sistem pengadilan, legislatif, perbankan, dan sistem koporat. Hukum
substansi mengacu pada hukum peratutan prosedur dan substansi dan norma yang digunakan dalam sebuah
lembaga dan mengikat hukum struktur secara bersama. para pengacara dan sarjana hukum cenderung
membatasi analisis mereka terhadap struktur dan substansi sistem hukum yang sedang mereka pelajari.
Budaya hukum mengacu pada sikap, nilai, dan opini dalam masyarakat dengan penekanan pada hukum, sistem
hukum serta beberapa bagian hukum.

Dari ketiga komponen di atas, budaya hukum merupakan komponen yang paling penting. Budaya
hukum menentukan kapan, mengapa dan di mana orang menggunakan hukum, lembaga hukum atau proses
hukum atau kapan mereka menggunakan lembaga lain atau tanpa melakukan upaya hukum. Dengan kata lain,
faktor budaya merupakan ramuan penting untuk mengubah struktur statis dan koleksi norma ststis menjadi
badan hukum yang hidup. Menambahkan budaya hukum ke dalam gambar ibarat memutar jam atau
menyalakan mesin. Budaya hukum membuat segalanya bergerak. Namun demikian, konsep Friedman
bukannya tanpa kritik. Roger Cotterrell, seorang sarjana Inggris, mengatakan bahwa konsep Friedman tidak
mempunyai kekerasan dan secara teoritis tidak padu. Friedman menanggapi kritik tersebut dengan
menjelaskan bahwa tidak adanya presisi dalam istilah budaya hukum tidak membuat konsep itu tidak padu.
Sebenarnya, konsep ini juga mempunyai kesamaan dalam hal kekurangan presisi sama halnya dengan hukum
struktur, sistem hukum, dan opini publik.

Menurut Friedman, arti pentingya budaya hukum adalah bahwa konsep ini merupakan variabel
penting dalam proses menghasilkan hukum statis dan perubahan hukum. Cotterrell menggarisbawahi
kesulitan dalam menggunakan konsep budaya hukum. Dia salah dalam menarik kesimpulan bahwa konsep
tidak padu karena tidak adanya hal yang khusus. Alasannya adalah bahwa konsep sekompleks µbudaya
hukum cenderung sulit dipahami. Hal ini membuktikan kemampuan konsep budaya hukum menembus
masyarakat dan bukan tanda-tanda kelemehan. Di sisi lain, Cotterrell sendiri mengakui bahwa
konsep Friedman µmerupakan usaha yang paling dapat menjelaskan konsep budaya hukum dalam sosiologi
hukum komparatif dan mempertahankan dan mengembangkan secara teoritis penggunaan konsep tersebut.

Di negara berkembang, konsep budaya hukum menempati posisi penting karena negara berkembang
sering mendatangkan peraturan, hukum bahkan keseluruhan sistem hukum dari negara barat dalam usahanya
untuk melakukan modernisasi kerangka kerja hukum mereka. Masalah muncul jika cangkok hukum
mengabaikan budaya hukum setempat. Jika budaya hukum lokal tidak diakomodasi dalam hukum struktur dan
substantif asing, konsep ini tidak akan dapat diterapkan dengan baik. Dikaitkan dengan kasus yang terjadi di
Indonesia, konsep ini telah disampaikankan oleh komentator luar negeri pada awal tahun 1972. Jika kita
melihat Antropologi pada tahap awal perkembangannya dalam abad ke 19 sudah menyadari bahwa hukum
atau sistem normatif merupakan aspek kebudayaan atau dapat dikatakan hukum merupakan salah satu aspek
kebudayaan.

Pada tahun 1982 mantan menteri hukum dan peradilan, Mochtar Kusumaatmaja juga menyampaikan
hal yang sama. Namun setelah beberapa tahun, konsep ini telah dilupakan para reformis hukum dan baru
sekarang diingat kembali oleh reformasi hukum di Indonesia.

Keberhasilan reformasi hukum Indonesia bergantung bukan hanya lembaga pengambil suara, tetapi
juga sikap mental yang tepat dan perilaku mereka yang bekerja, mengawasi dan menggunakan lembaga ini.
Dengan demikian, reformasi pada lembaga hukum tanpa lembaga budaya tidak akan efektif. Ketika melihat
hukum di Indonesia, perhatian dititikberatkan pada masalah structural, seperti sistem dewan dua pintu dan
ketetapan hukum perusahaan yang dikeluarkan pada tahun 1995 dan membandingkannya dengan produk
hukum lainnya.

C. Hubungan Ilmu Antropologi Dengan Ilmu Hukum


Dalam perspektif antropologi hukum, hukum lahir dari kebudayaan. Melihat hal tersebut di atas
tentunya menyadarkan kepada kita akan peran Antropologi Hukum sebagai sebuah perspektif untuk melihat
berbagai macam corak hukum yang lahir dan berkembang pula dari berbagai corak dan ragam kebudayaan.
Mempelajari Antropologi Hukum berarti kita melihat sebuah realitas, kenyataan atas kehidupan hukum yang
sesungguhnya yang berjalan di masyarakat.

Hal ini karena para ahli antropologi mempelajari hukum bukan semata-semata sebagai produk dari
hasil abstraksi logika sekelompok orang yang diformulasikan dalam bentuk peraturan perundang-undangan
semata, tetapi lebih mempelajari hukum sebagai perilaku dan proses sosial yang berlangsung dalam kehidupan
masyarakat.Hukum dalam perspektif antropologi dipelajari sebagai bagian yang integral dari kebudayaan
secara keseluruhan, dan karena itu hukum dipelajari sebagai produk dari interaksi sosial yang dipengaruhi oleh
aspek-aspek kebudayaan yang lain, seperti politik, ekonomi, ideologi, religi,struktur sosial, dll.

Satu hal yang dapat kita ambil dari antropologi hukum, adalah diharapkan dapat memunculkan
kesadaran atas kenyataan adanya keberagaman hukum karena beragamnya budaya. Beragamnya hukum
tersebut jangan dimaknakan sebagai pertentangan hukum (conflict of laws), tetapi patut dianggap sebagai
khazanah kekayaan hukum yang akan mampu memperkuat serta memperbaharui hukum nasional. Di sisi lain
akibatnya adalah memunculkan sikap toleransi untuk menghargai umat manusia yang beragam pola fikir,
karakter, pemahaman, dan tentunya juga beragam hukum.

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Dari uraian-uraian diatas, maka yang menjadi kesimpulan dalam makalah ini adalah:

Budaya hukum merupakan komponen yang paling penting Budaya hukum menentukan kapan, mengapa dan di
mana orang menggunakan hukum, lembaga hukum atau proses hukum atau kapan mereka menggunakan
lembaga lain atau tanpa melakukan upaya hukum.

Hukum lahir dari kebudayaan, berarti menyadarkan kepada kita akan peran Antropologi Budaya sebagai
sebuah perspektif untuk melihat berbagai macam corak hukum yang lahir dan berkembang pula dari berbagai
corak dan ragam kebudayaan dan Mempelajari Antropologi Budaya berarti kita melihat sebuah realitas,
kenyataan atas kehidupan budaya yang sesungguhnya berjalan di masyarakat yang didalamnya terdapat
aturan hukum baik berasal dari hukum tertulis maupun tidak tertulis.
Hukum dan gerakan pembangunan pada tahun 1960-an sampai dengan 1970-an. Kaum ortodoks dan
mayoritas melihat bahwa reformasi di bidang hukum , terutama pengenalan ide dan lembaga hukum modern
negara barat kepada negara berkembang, memegang peran penting dalam pembangunan ekonomi dan politik.
Sedangkan Kaum minoritas melihat hukum terikat dengan budaya dan tidak dapat dipindahkan atau dipinjam
dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya seperti halnya meminjam kunci Inggris untuk menutup lekuk yang
bocor.

Beragamnya hukum tersebut jangan dimaknakan sebagai pertentangan hukum (conflict of laws), tetapi
patut dianggap sebagai khazanah kekayaan hukum yang akan mampu memperkuat serta memperbaharui
hukum nasional

DAFTAR PUSTAKA

Kontjarningrat, 1984. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta, Gramedia

Ahmad fedyani saifuddin, Antropologi Kontemporer: suatu pengantar kritis mengenai paradigma, Jakarta:
Kencana, 2006. Hlm. 23.

T.O Ihromi/E.K.M. Masinambow, Hukum dan Kemajemukan Budaya, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003.
Hlm.

http://dauztech.blogspot.co.id/2013/12/hubungan-antropologi-dan-ilmu-hukum.html

Antropologi
Antropologi berasal dari bahasa Yunani : anthropos, yang berarti manusia atau orang, dan logos yang
berarti wacana (dalam pengertian bernalar, dan berakal). Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk
biologis sekaligus makhluk sosial.
Antropologi sering disamakan dengan sosiologi, perbedaan dari sosiologi dan antropologi adalah
sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya. Sedangkan antropologi lebih
memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat
yang tinggal di daerah yang sama. Atau lebih singkatnya, sosiologi itu modern, sedangkan antropologi
tradisional.

Definisi antropologi menurut para ahli :


David Hunter, antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
William A. Havilland, antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang
bermanfaaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang
keanekaragaman manusia.
Koetjaraningrat, antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari
aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Antropologi memiliki cabang-cabang ilmu yang terdiri dari :

1. Antropologi Fisik

Mempelajari manusia sebagai organisme biologis yang melacak perkembangan manusia menurut evolusinya
dan menyelidiki variasi biologisnya dalam berbagai jenis.

1. Antropologi Budaya

– Etnologi : bangsa.

– Linguistik : bahasa.

– Arkeologi : benda-benda bersejarah.

Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Yunani : psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Secara
harafiah psikologi diartikan sebagai ilmu jiwa. Istilah psyche atau jiwa masih sulit didefinisikan karena jiwa itu
bersifat abstrak. Agar lebih mengerti maksud dari psikologi, lebih baik lihat definisinya dari beberapa ahli.
Pengertian psikologi dari beberapa ahli :
Dakir (1993), psikologi membahas tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya.
Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup
pada manusia baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku
terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan, dan
sebagainya. Sedangkan tingkah laku tertutup adalah meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan, dan lain
sebagainya.
Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan
binatang baik yang dapat dilihat secara langsung maupun yang tidak langsung.
Wilhelm Wundt, psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul
dalam diri manusia, seperti perasaan, panca indera, fikiran, merasa (feeling), dan kehendak.
Hubungan Kedua Ilmu Diatas
Hubungan ini tampak karena dalam psikologi pada hakikatnya mempelajari perilaku manusia dan proses-
proses mentalnya. Dengan demikian, psikologi membahas faktor-faktor penyebab perilaku manusia secara
internal, seperti minat, motivasi, sikap, konsep diri, dan lain-lain. Sedangkan dalam antropologi, khususnya
antropologi budaya lebih bersifat factor eksternal, yaitu lingkungan fisik, lingkungan keluarga, dan lingkungan
sosial dalam arti luas.

Jadi menurut saya, hal yang berkaitan serta berhubungan dengan psikologi dan antropologi adalah
manusia dan tingkah lakunya. Antropologi mengamati manusia dan lingkungan (pendekatan eksternal) dan
psikologi mengamati serta mempelajari tingkah laku manusia (pendekatan internal).

Baru saya ketahui juga ada mata kuliah yang menggabungkan antropologi dengan psikologi, yaitu
Antropologi Psikologi dan Antropologi Psikiatri. Fokus perhatian antropologi psikologi mencakup lima hal, yaitu :

1. Sifat dan teori pembawaan manusia.


2. Kepribadian khas kolektif tertentu (kepribadian tipikal).
3. Kepribadian individual.
4. Metode penelitian.
5. Kasus-kasus.
Bagian kedua yaitu Antropologi Psikiatri (Etnopsikiatri atau Psikiatri Budaya) memusatkan perhatiannya pada
hubungan timbal balik antara kebudayaan dengan gangguan jiwa dan kesehatan jiwa. Pokok bahasannya antara
lain :

1. Faktor-faktor sosial-budaya yang mempengaruhi bentuk, etiologi, gejala, struktur, epidemiologi/frekuensi,


dan aspek-aspek lain dari gangguan jiwa,
2. Psikiatri lintas budaya,
3. Stres budaya,
4. Sindroma yang terkait dengan kebudayaan (culture bound syndrome),
5. Faktor-faktor sosial-budaya yang mempengaruhi kesehatan jiwa,
6. Metode diagnosa dan terapi/pengobatan tradisional dalam beberapa kebudayaan..
Dengan adanya mata kuliah tersebut, sudah sangat jelas hubungan antropologi dengan psikologi. Seperti
yang saya jelaskan diatas bahwa antropologi berhubungan dengan manusia dan lingkungan, sedangkan
psikologi berhubungan dengan jiwa, perilaku, dan tingkah laku manusia

https://audirayatiputri.wordpress.com/2013/01/09/hubungan-antropologi-dengan-
psikologi/lmu Antropologi dengan Ilmu Psikologi

Sebagaimana yang diketahui antropologi mempelajari tentang manusia dan psikologi


menyelidiki pengalaman dan tingkah laku manusia. Adanya hubungan yaitu dengan
menggunakan analisa psikologi,
maka ilmu antropologi dapat menganalisa secara mendalam apa saja yang terjadi di
masa lalu. Bantuan psikologi terhadap antropologi sangatlah besar,sehingga dalam
perkembangannya yang terakhir ,lahir suatu sub ilmu atau spesialisasi dari antropologi yaitu
etnopsikologi atau antropologi psikologikal atau juga kebudayaan dan kepribadian.Selain itu
hubungan psikologi dengan antropologi menghasilkan suatu cabang antropologi yang lain
yaitun anthropology in mental health.Antropologi psikologis adalah antropologi yang
bersifat interdisipliner dan mengkaji interaksikebudayaan dan proses mental. Cabang ini
terutama memperhatikan cara perkembanganmanusia dan enkulturasi dalam kelompok
budaya tertentu-dengan sejarah, bahasa, praktik, dan kategori konseptualnya sendiri-
membentuk proses perolehan kognisi, emosi,persepsi, motivasi, dan kesehatan mental. Juga
memeriksa tentang bagaimana pemahaman kognisi, emosi, motivasi, dan proses psikologis
sejenis membentuk model proses budaya dan sosial. Setiap aliran dalam antropologi
psikologis memiliki pendekatannya sendiri-sendiri.
Beberapa aliran dalam antropologi psikologis:
1. Antropologi psikoanalitis
2. Kebudayaan dan Kepribadian
3. Etnopsikologi
4. Antropologi kognitif
5. Antropologi psikiatris
Antropologi dan psikologi saling berhubungan dalam penyelidikannya.Sejak setengah
abad lalu, di Amerika dan Inggris telah berkembang berbagai penelitian antropologi yang
alam analisisnya menggunakan banyak konsep psikologi. Tiga masalah yang menjadi fokus
perhatian antropologi:
1. ‘kepribadian bangsa’
2. Peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat
3. Nilai universal dalam
4. Persoalan ‘kepribadian bangsa’ à sesudah perang Dunia ke-1 à hubungan antar
bangsa kian intensif, perhatian penjajah terhadap kepribadian bangsa jajahan.Fokus studi
antropologi awal tahun 1920-an : Ahli antropologi tertarik pada lingkungan dan kebudayaan
dari bayi dan anak-anak, masa itu dianggap penting bagi pembentukan kepribadiandewasa
yang khas dalam suatu masyarakat.Hampir semua penelitian yang mendalami “kepribadian
bangsa” menyimpulkan bahwa ciri-ciri kepribadian yang tampak berbeda pada bangsa-
bangsa di dunia ini bersumber pada cara pengasuhan pada masa kanak-kanak.
Misalnya: orang jepang yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya, karena
ketatnya latihan mengenai cara membuang air pada masa kanak-kanak

Ilmu Antropologi dengan Ilmu Sosiologi

Sosiologi membantu ilmu antropologi dalam mempelajari susunan kemasyarakatan,


latar belakang, serta kebudayaan manusia dan pola kehidupan manusia. Sehingga dengan
adanya sosiologi dapat mempermudah sarjana dalam mengkaji ilmu antropologi. Objek
kajian sosiologi adalah masyarakat manusia terutama dari sudut hubungan antar manusia dan
proses yang timbul dari hubungan manusia dalam masyarakat. Keduanya adalah cabang ilmu
sosial yg mempelajari tentang manusia,tingkah laku dan interaksi antar manusia yg satu
dgn manusia yg lain.bedanya adalah antropologi mengkhususkan pada budaya manusia di
dalam suatu masyarakat tertentu, sedangkan sosiologi lebih ke arah mempelajari kehidupan
sosial dalam masyarakat secara umum.

Sumber:
1.diunduh pada 02 Maret 2014: http://wulansetiawan.blogspot.com/2012/08/hubungan-antropologi-
dengan.html, Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit PT. Rineka
Cipta
2.Roger.M.Kessing. Samuel Gunawan. Antropologi Budata: Suatu Perspektif Kontemporer. Edisi
Kedua Jilid 2. Jakarta: Erlangga
http://sinonimkematian.blogspot.co.id/2014/03/test.html

Terkadang ekologi dibandingkan dengan antropologi, sebab keduanya menggunakan banyak


metode untuk mempelajari satu hal yang kita tak bisa tinggal tanpa itu. Antropologi ialah tentang
bagaimana tubuh dan pikiran kita dipengaruhilingkungan kita, ekologi ialah tentang bagaimana
lingkungan kita dipengaruhi tubuh dan pikiran kita.

Beberapa orang berpikir mereka hanya seorang ilmuwan, namun paradigma mekanistik
bersikeras meletakkan subyek manusia dalam kontrol objek ekologi — masalah subyek-obyek.
Namun dalam psikologi evolusioner atau psikoneuroimunologi misalnya jelas jika
kemampuan manusia dan tantangan ekonomi berkembang bersama. Dengan baik ditetapkan
Antoine de Saint-Exupery: "Bumi mengajarkan kita lebih banyak tentang diri kita daripada
seluruh buku. Karena itu menolak kita. Manusia menemukan dirinya sendiri saat ia
membandingkan dirinya terhadap hambatan."
https://id.wikipedia.org/wiki/Ekologi
1. Hubungan Antropologi dengan Biologi Ilmu Alam

Antropologi Biologi atau juga disebut Antropologi Fisik merupakan cabang ilmu
antropologi yang memelajari manusia dan primata bukan manusia (non-human primates)
dalam arti biologis, evolusi, dan demografi. Antropologi Biologi/Fisik memfokuskan pada
faktor biologis dan sosial yang memengaruhi (atau yang menentukan) evolusi manusia dan
primata lainnya, yang menghasilkan, mempertahankan, atau merubah variasi genetik dan
fisiologisnya pada saat ini.
Antropologi Biologi dibagi lagi menjadi beberapa cabang ilmu, diantaranya yaitu:
 Paleoantropologi adalah ilmu yang memelajari asal usul manusia dan evolusi manusia
melalui bukti fosil-fosil.
 Somatologi adalah ilmu yang memelajari keberagaman ras manusia dengan mengamati ciri-
ciri fisik.
 Bioarkeologi adalah ilmu tentang kebudayaan manusia yang lampau dengan melalui analisis
sisa-sisa (tulang) manusia yang biasa ditemukan dalam situs-situs arkeologi.
 Ekologi Manusia adalah studi tentang perilaku adaptasi manusia pada lingkungannya
(mengumpulkan makanan, reproduksi, ontogeni) dengan perspektif ekologis dan evolusi.
Studi ekologi manusia juga disebut dengan studi adaptasi manusia, atau studi tentang respon
adaptif manusia (perkembangan fisik, fisiologi, dan genetik) pada tekanan lingkungan dan
variasinya.
 Paleopatologi adalah studi penyakit pada masa purba (kuno). Studi ini tidak hanya berfokus
pada kondisi patogen yang diamati pada tulang atau sisa-sisa jaringan (misalnya pada mumi),
tetapi juga pada gangguan gizi, variasi morfologi tulang, atau juga bukti-bukti stres pada
fisik.
 Antropometri adalah ilmu yang memelajari dan mengukur variasi fisik manusia.
Antropometri pada awalnya digunakan sebagai alat analisis untuk mengidentifikasi sisa-sisa
fosil kerangka manusia purba atau hominid dalam rangka memahami variasi fisik manusia.
Pada saat ini, antropometri berperan penting dalam desain industri, desain pakaian, desain
industrial ergonomis, dan arsitektur di mana data statistik tentang distribusi dimensi tubuh
dalam populasi digunakan untuk mengoptimalkan produk yang akan digunakan konsumen.
 Osteologi/osteometri adalah ilmu tentang tulang yang memelajari struktur tulang, elemen-
elemen pada kerangka, gigi, morfologi mikrotulang, fungsi, penyakit, patologi, dsb.
Osteologi digunakan dalam menganalisis dan mengidentifikasi sisa-sisa tulang (baik
kerangka utuh mau pun yang telah menjadi serpihan) untuk menentukan jenis kelamin, umur,
pertumbuhan dan perkembangannya, sebab kematian, dan lain sebagainya dalam konteks
biokultural.
 Primatologi adalah ilmu tentang primata bukan manusia (non-human primates). Primatologi
mengkaji perilaku, morfologi, dan genetik primata yang berpusat pada homologi dan analogi
dalam mengambil kesimpulan kenapa dan bagaimana ciri-ciri manusia berkembang dalam
primata.