Anda di halaman 1dari 21

PENGARUH CURRENT RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, TOTAL ASSET

TURNOVER DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PERTUMBUHAN


LABA PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE
YANG TERDAFTAR DI BEI

ARTIKEL ILMIAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Penyelesaian


Program Pendidikan Sarjana
Jurusan Akuntansi

Oleh:

ZERLINDA GITTA ANGGRAENI

2013310730

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS SURABAYA

SURABAYA

2017
i
PENGARUH CURRENT RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, TOTAL ASSET
TURNOVER DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP PERTUMBUHAN
LABA PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE
YANG TERDAFTAR DI BEI

Zerlinda Gitta Anggraeni


2013310730
STIE Perbanas Surabaya
Email : 2013310730@students.perbanas.ac.id

ABSTRACT

The increase in profit growth happened in food and beverage companies to make the
importance of this research. In 2016, Minister of Industry optimistic when the food and
beverage industry will experience significant economic improvement because the government
provides ease of licensing to invest. This research aims to determine the effect current ratio,
debt to equity ratio, total asset turnover and firm size on the profit growth of food and beverage
industry. Sixty four samples data of food and beverage industry listed in the Indonesia Stock
Exchange during 2011-2015 were obtained by using purposive sampling technique. Technique
of analyzing data that used multiple linear regression. The result of multiple linear regression
that current ratio and debt to equity ratio has significant effect on profit growth and total asset
turnover and firm size has not significant effect on profit growth of food and beverage industry.
Current ratio, debt to equity ratio, total asset turnover and firm size influence on profit growth
simultaneously on the profit growth of food and beverage industry.

Key words : Profit Growth, Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Total Asset Turnover, Firm
Size
PENDAHULUAN berinvestasi, hal itu menyebabkan banyaknya
Perekonomian industri yang mulai membaik investor asing khususnya investor dari Negeri
membuat investor dari dalam negeri dan luar negeri Sakura Jepang tertarik untuk melakukan investasi
mulai tertarik dengan kawasan industri di Indonesia bisnis food and beverage di Indonesia. Dirjen
untuk melakukan pengembangan bisnis. Umumnya Industri Argo Kementrian Perindustrian
suatu perusahaan harus mempertahankan berpendapat bahwa industri makanan dan minuman
eksistensinya seiring dengan perkembangan merupakan sektor yang terus tumbuh dan
ekonomi saat ini. Perusahaan harus memiliki daya berkontribusi besar terhadap perekonomian
saing yang tinggi karena perusahaan merupakan nasional. Sektor prioritas ini memiliki daya saing
organisasi yang memiliki tujuan utama mencari tinggi karena didukung dengan sumber daya alam
keuntungan guna untuk kesejahteraan dan yang cukup potensial seperti pertanian, kelautan,
kemakmuran perusahaan tersebut (Gitosudarmo, peternakan, perkebunan, dan kehutanan. Industri
2002:5). makanan dan minuman nasional dinilai terkuat
Menteri Perindustrian optimis apabila industri dalam menghadapi pertarungan pasar bebas
food and beverage akan mengalami peningkatan terutama pada Masyarakat Ekonomi ASEAN
ekonomi yang signifikan karena pemerintah (MEA), terbukti PT Indofood CBP Sukses Makmur
memberikan kemudahan perizinan untuk Tbk (ICBP) pada semester pertama tahun 2016
1
berhasil membukukan laba sebesar Rp 1,98 triliun. dimana terdapat ringkasan komponen-komponen
Angka tersebut naik sebesar 13,9 persen, yang tercermin atas kondisi keuangan dan hasil
dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yaitu operasional perusahaan. Para investor tentu saja
sebesar Rp 1,74 triliun. PT Indofood Sukses akan mengambil langkah penting dengan membaca
Makmur Tbk (INDF) juga mengalami pertumbuhan informasi mengenai tingginya kemampuan
laba pada semester pertama tahun 2016 sebesar Rp perusahaan dalam menghasilkan laba (earning
2,23 triliun, naik 28,9 persen dibandingkan periode power) melalui laporan keuangan. Ukuran yang
sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 1,73 triliun. sering digunakan dalam mengukur kinerja
Fenomena tersebut, menunjukkan apabila sektor perusahaan yang berhubungan dengan laba salah
industri food and beverage mempunyai peran yang satunya adalah dengan menggunakan analisis rasio
cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di keuangan. Rasio keuangan diartikan sebagai suatu
Indonesia. Pertumbuhan ekonomi yang bagus dapat hubungan antara suatu jumlah tertentu dengan
dilihat dari adanya pertumbuhan laba yang jumlah yang lain, dengan menggunakan alat analisa
meningkat setiap tahunnya. Hal ini sama dengan yang berupa rasio akan dapat menjelaskan atau
prinsip dasar akuntansi tentang keberlangsungan memberi gambaran pada penganalisa tentang baik
usaha (going concern). Keberlangsungan usaha dan buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu
yang sejahtera harus dengan adanya dasar, seperti perusahaan khususnya apabila angka rasio
pertumbuhan laba yang meningkat di setiap dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang
tahunnya yang membuat keberlangsungan usaha bersifat standart (Munawir, 2007:64). Rasio
tersebut berkelanjutanTeori yang digunakan adalah keuangan yang dipakai dalam penelitian ini adalah
teori signal, dimana pertumbuhan laba merupakan rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan rasio aktivitas.
salah satu hal yang ingin dipertahankan oleh suatu Rasio likuiditas diukur dari Current Ratio (CR),
perusahaan go public untuk memberikan signal rasio solvabilitas diukur dari Debt to Equity Ratio
tambahan tentang kinerja perusahaan yang baik (DER) dan rasio aktivitas diukur dati Total Asset
kepada pihak eksternal. Perusahaan harus Turnover (TATO). Rasio likuiditas adalah
memperhitungkan pertumbuhan laba yang terjadi di perbandingan antara total asset lancar dengan total
perusahaan tersebut sehingga dapat meningkatkan hutang lancar. Semakin tinggi perolehan Current
kinerja perusahaan. Informasi mengenai Ratio berarti semakin besar kemampuan perusahaan
pertumbuhan laba yang ada, pihak manajemen untuk memenuhi kewajiban financial jangka
menunjukkan laporan keuangan untuk mengukur pendek. Pada akhirnya perusahaan dapat melihat
kinerja di perusahaan. Pertumbuhan laba yang besarnya pertumbuhan laba yang terjadi pada
stabil, akan mempengaruhi keputusan investasi para periode yang akan datang. Current Ratio suatu
investor yang akan menanamkan modalnya ke perusahaan berguna untuk mengetahui
dalam perusahaan karena investor menginginkan kemungkinan pemberian pinjaman oleh kreditur,
dana yang diinvestasikan ke dalam perusahaan akan selain itu perusahaan akan semakin mudah
memperoleh tingkat pengembalian yang tinggi. menjalankan kegiatan operasional perusahaan
Karena dengan tingkat pengembalian yang tinggi tersebut untuk menghasilkan laba. Hal ini
dapat memperlancar kinerja perusahaan. Salah satu menunjukkan bahwa Current Ratio dapat
cara untuk melihat apakah suatu perusahaan mempengaruhi pertumbuhan laba yang terjadi.
memiliki kinerja yang baik adalah dengan Penelitian Heikal et al. (2014), mengatakan bahwa
menggunakan analisa laporan keuangan. Hal ini Current Ratio memiliki pengaruh signifikan
berguna bagi pihak internal perusahaan, namun terhadap pertumbuhan laba. Namun, berbeda
akan sangat berguna bagi para investor dalam dengan hasil penelitian Gunawan & Wahyuni
mengukur kemungkinan apa yang akan terjadi di (2013), Rachmawati & Handayani (2014) dan
masa yang akan datang pada suatu perusahaan. Sayekti & Saputra (2015) yang mengatakan bahwa
Laporan keuangan merupakan salah satu media tidak adanya pengaruh signifikan antara Current

2
Ratio terhadap pertumbuhan laba. Rasio solvabilitas Faktor lain yang mempengaruhi adanya
yaitu rasio yang menggambarkan tentang pertumbuhan laba adalah menggunakan ukuran
kemampuan suatu perusahaan dalam membayar perusahaan. Ukuran perusahaan juga merupakan
hutang jangka panjangnya. Dalam penelitian ini suatu indikator untuk mengetahui keadaan suatu
variabel yang digunakan adalah Debt to Equity perusahaan. Total aset suatu perusahaan yang
Ratio. Debt to Equity Ratio merupakan digunakan untuk memperlancar kegiatan
perbandingan antara total hutang dengan total operasional perusahaan merupakan dari ukuran
ekuitas perusahaan. Variable ini menggambarkan perusahaan yang dapat memberikan gambaran
perbandingan antara total liabilitas dengan seluruh tentang kinerja perusahaan dimasa yang akan
ekuitas (Syamsudin, 2011:68). Apabila variabel datang. Baik tidaknya kinerja dari suatu perusahaan
Debt to Equity Ratio tinggi, menunjukkan tidak juga dapat dilihat dari ukuran perusahaan, apabila
adanya efisiensi dari perusahaan dalam ukuran perusahaan tersebut besar dianggap dapat
memanfaatkan modal sendiri untuk menjamin untuk terus meningkatkan kinerja perusahaannya
seluruh hutang perusahaan. Akibatnya perusahaan dengan berusaha untuk menumbuhkan labanya.
akan mempengaruhi pertumbuhan labanya, dimana Hasil tersebut sama dengam pendapat Lestari et al.
perusahaan harus membayar beban bunga yang (2015) yang menyatakan apabila terdapat pengaruh
ditimbulkan. Penelitian Rachmawati & Handayani signifikann antara ukuran perusahaan terhadap
(2014) mengatakan bahwa terdapat pengaruh pertumbuan laba., namun berbeda dengan pendapat
signifikan Debt to Equity Ratio terhadap Yohanes (2014) yang menyatakan apabila tidak
pertumbuhan laba. Hal ini didukung juga dengan terdapat pengaruh signifikan antara ukuran
penelitian Heikal et al. (2014), tetapi berbeda perusahaan terhadap pertumbuan laba.
pendapat dengan penelitian Yohanes (2014), Hasil penelitian terdahulu yakni penelitian
Gunawan & Wahyuni (2013) dan Sayekti & Saputra Sayekti & Saputra (2015) , Lestari et all. (2015),
(2015) yang mengatakan tidak terdapat pengaruh Rachmawati & Handayani (2014), Heikal et al.
signifikan antara Debt to Equity Ratio terhadap (2014), Yohanes (2014), Gunawan & Wahyunim
pertumbuhan laba. (2013) serta Adisetiawan (2012), menunjukkan
Rasio aktivitas diukur dengan Total Asset Turnover, bahwa terdapat perbedaan hasil yang tidak
rasio ini yang mengukur kemampuan perusahaan konsisten mengenai pengaruh masing-masing
menghasilkan penjualan berdasarkan aset yang variabel independen terhadap variabel dependen
dimiliki perusahaan. Total Asset Turnover sehingga terbentuk riset GAP. Oleh karena itu,
merupakan rasio yang menggambarkan aktivitas peneliti ingin meniliti kembali mengenai pengaruh
operasional yang dilakukan perusahaan dalam Current Ratio, Debt to Assets Ratio, Debt to Equity
kegiatan seperti, penjualan, pembelian, dan kegiatan Ratio, Total Asset Turnover dan Ukuran Perusahaan
lainnya (Harahap, 2004:308). Secara umum rasio terhadap pertumbuhan laba dan penelitian ini
yang rendah bisa menunjukkan tidak efisienya sangatlah penting sebagai salah satu faktor penentu
dalam menggunakan aktivanya untuk menghasilkan pengambilan keputusan investasi. Sampel yang
penjualan dan laba perusahaan. Penelitian digunakan diambil tahun 2011-2015 pada
Rachmawati & Handayani (2014) mengatakan perusahaan food and beverage yang terdaftar pada
bahwa terdapat pengaruh signifikan Total Asset Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini
Turnover terhadap pertumbuhan laba. Hal ini menggunakan variabel Current Ratio, Debt to
didukung juga dengan penelitian Heikal et al. Assets Ratio, Debt to Equity Ratio, Total Asset
(2014), tetapi berbeda pendapat dengan penelitian Turnover dan Ukuran Perusahaan sebagai salah
Gunawan & Wahyuni (2013) dan Sayekti & Saputra satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan laba.
(2015) yang mengatakan tidak terdapat pengaruh Dari uraian latar belakang penelitian ini
signifikan antara Total Asset Turnover terhadap membahas dan menganalis “PENGARUH
pertumbuhan laba. CURRENT RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO,

3
TOTAL ASSET TURNOVER DAN UKURAN pada saat harga sudah mengalami kenaikan, karena
PERUSAHAAN TERHADAP manfaat dari penjualan produk susu baru tersebut.
PERTUMBUHAN LABA PADA Bandingkan dengan manajemen yang tahu akan
PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE prospek masa depannya yang kurang
YANG TERDAFTAR DI BEI”. menguntungkan. Suatu perusahaan Z menerima
informasi apabila perusahaan pesaing memiliki
Tujuan Penelitian kemajuan baru dalam penggunaan teknologi
Berdasarkan rumusan masalah pada penelitian canggih untuk kegiatan operasionalnya, dimana
ini, maka penelitian bertujuan mengetahui pengaruh perusahaan Z harus meningkatkan fasilitasnya
Current Ratio, Debt To Equity Ra-Tio, Total Asset sendiri dengan biaya yang tinggi, hanya untuk
Turnover Dan Ukuran Perusahaan terhadap per- menjaga penjualannya. Akibatnya, pengembalian
tumbuhan laba terhadap perus-ahaan food and atas investasinya akan turun. Bagaimana cara
beverage yang terdaftar di BEI. perusahaan Z untuk mendapatkan modal yang
dibutuhkan. Situasi ini merupakan kebalikan dari
KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS kasus perusahaan A, yang tidak ingin menjual
LANDASAN TEORI sahamnya untuk menghindari keharusan berbagai
Signaling Theory (Teori Sinyal) manfaat untuk mendapatkan keuntungan yang lebih
Teori signal digunakan seorang manajemen besar (Brigham & Houston, 2011:184).
perusahaan untuk memberikan petunjuk atau sinyal Sinyal yang baik bagi suatu perusahaan
yang baik mengenai bagaimana cara pandang merupakan hal yang sangat penting untuk
manajemen terhadap prospek perusahaan yang mempengaruhi pengambilan keputusan manajemen
menguntungkan atau tidak menguntungkan maupun investor dalam membeli saham suatu
(Brigham & Houston, 2011:184). Contoh kasus, perusahaan. Pertumbuhan laba atau keuntungan
suatu perusahaan minuman A menemukan adanya yang terus meningkat di setiap periodenya salah satu
produk susu baru yang berkualitas tetapi belum cara memberikan sinyal yang baik kepada investor
diberi hak paten. Perusahaan A ini ingin menutupi maupun kreditur. Hal ini harus dilakukan
adanya produk ini selama mungkin, sampai pabrik manajemen dalam menyampaikan informasi yang
baru dibangun dengan tujuan perusahaan tersebut berupa laporan keuangan sehingga dapat
akan mendapat keuntungan yang besar ketika meningkatkan kredibilitas perusahaan demi
memasarkan produk baru tersebut, karena harga keberhasilan perusahaan tersebut dalam
saham perusahaan ini akan cenderung mengalami meningkatkan modal maupun menjalankan kegiatan
kenaikan, tetapi pembangunan pabrik ini operasionalnya (Suwardjono,2013:584). Informasi
membutuhkan modal yang cukup besar. Ada pilihan tersebut akan dipublikasikan sebagai suatu
cara yang dapat dilakukan perusahaan tersebut pengumuman untuk memberikan signal kepada
diantaranya adalah perusahaan harus menjual investor dalam pengambilan keputusan investasi,
sebagian sahamnya dengan harga dibawa harga sehingga para investor mengetahui akan kredibilitas
pasar dengan tujuan untuk mendapatkan investor perusahaan tersebut.
baru, tetapi hal tersebut akan mempengaruhi pada Teori signal menurut Morris (1987) dalam
laba yang didapat perusahaan tidak cukup besar, Meythi et al. (2011) menjelaskan masalah asimetris
karena keuntungan penjualan produk didapatkan informasi dalam pasar. Asimetri informasi dalam
sebelum harga saham perusahaan tersebut pasar modal dapat terjadi karena pihak eksternal
mengalami kenaikan akibat penjualan produk susu perusahaan. Suatu keadaan di mana seorang
baru yang sudah diberi hak paten. Pemegang saham manajemen mempunyai informasi yang lebih baik
saat itu juga akan mendapatkan keuntungan, tetapi mengenai prospek perusahaan daripada investor.
tidak sebanyak jika perusahaan menjual sahamnya Hal ini yang disebut dengan asimetri informasi dan
sangat penting pada struktur modal yang optimal.

4
Signaling Theory menunjukkan bagaimana Setiap perusahaan berusaha untuk memperoleh
asimetris ini dapat dikurangi dengan memberikan laba yang maksimal. Laba yang diperoleh
lebih banyak signal informasi kepada pihak lain. perusahaan sangat berpengaruh terhadap
Godfrey et al. (2006) dalam Meythi et al. (2011) operasional perusahaan tersebut. Pengertian laba itu
mengatakan teori signal berbicara mengenai sendiri adalah kelebihan penghasilan diatas biaya
manajer yang menggunakan komponen-komponen selama satu periode akuntansi (Harahap 2013:113).
dalam laporan keuangan untuk memberikan tanda Ikatan Akuntansi Indonesia (2012:12) “Penghasilan
atau signal mengenai tujuan masa depan. Menurut bersih (laba) sering digunakan sebagai ukuran
teori ini, jika manajer mengharapkan suatu tingkat kinerja atau dasar bagi ukuran yang lain seperti
pertumbuhan perusahaan yang tinggi dimasa depan, imbal hasil investasi (Return On Investment) atau
perusahaan akan berusaha memberikan signal itu laba per saham (Earning Per Share)”. Kinerja
kepada investor melalui akun-akun yang terdapat perusahaan merupakan hasil dari serangkaian proses
dilaporan keuangan, seperti aset lancar, hutang dengan mengorbankan berbagai sumber daya. Salah
lancar, kewajiban jangka pendek, penjualan dan satu parameter penilaian kinerja perusahaan tersebut
lain-lain. Perusahaan yang memiliki kinerja yang adalah pertumbuhan laba.
baik maka manajer perusahaan akan memiliki Pada umumnya kinerja manajer perusahaan
sebuah ide untuk melaporkan berita yang positif diukur berdasarkan laba yang diperolehnya.
agar mereka tidak dianggap memiliki kinerja yang Pertumbuhan laba yang terjadi dipengaruhi oleh
buruk. Salah satu faktor penting untuk pengambilan beberapa perubahan komponen dalam laporan
keputusan investor adalah pentingnya memprediksi keuangan, misalnya perubahan penjualan,
pertumbuhan laba perusahaan. perubahan harga pokok penjualan, perubahan beban
Berdasarkan pembahasan teori signal tersebut dapat operasi, perubahan beban bunga, perubahan pajak
disimpulkan apabila pihak internal perusahaan akan penghasilan, adanya perubahan pada pos-pos luar
membuat dan mempublikasikan laporan keuangan biasa dan lain-lain. Perhitungan pertumbuhan laba
dengan laba yang baik, tujuannya adalah dapat dihitung dengan cara mengurangi laba tahun
memberikan signal kepada investor mengenai ini dengan laba tahun lalu dibagi laba tahun lalu.
kinerja perusahaan. Pemberian signal mengenai
kinerja berguna agar dapat menarik investor untuk Pengaruh Current Ratio terhadap Pertumbuhan
berinvestasi pada perusahaan dengan melihat laba Laba
pada laporan keuangan sebagai pertimbangan para Current Ratio menunjukkan tingkat keamanan
investor. Para investor akan melakukan analasis kreditor jangka pendek, atau kemampuan
rasio keuangan terlebih dahulu untuk mengetahui perusahaan untuk membayar hutang-hutang
seberapa besar aset-aset di perusahaan tersebut tersebut. Perusahaan menghasilkan laba, laba
dapat menutupi kewajiban perusahaan, untuk perusahaan yang dibagikan dinamakan deviden, dan
mengetahui perputaran modal dalam membayar yang tidak dibagikan yaitu laba ditahan. Laba
kewajiban perusahaan kepada kreditur hingga ditahan masuk di aktiva lancar. Semakin besar
mengetahui seberapa besar pemanfaatan aset untuk aktiva lancar semakin mudah perusahaan itu
meningkatkan penjualan perusahaan tersebut. membayar hutang. Dan semakin tinggi Current
Sehingga, dapat disimpulkan menganalisis Ratio menunjukkan pertumbuhan laba yang tinggi
pertumbuhan laba menggunakan rasio keuangan (Kuswadi 2005:79). Hal ini didukung penelitian
dengan besarnya aset sebagai ukuran perusahaan sebelumnya oleh Heikal et al. (2014) yang
sangatlah membantu pihak manajemen dalam menyimpulkan bahwa Current Ratio
mengambil keputusan bisnisnya. mempengaruhi pertumbuhan laba.

Pertumbuhan Laba Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap


Pertumbuhan Laba
Perusahaan dengan Debt to Equity Ratio yang
5
tinggi bukan sesuatu hal jelek jika perusahaan melakukan kegiatan penjualan. Hal tersebut akan
tersebut dapat menggunakan hutangnya seefektif berpengaruh pada tingkat pertumbuhan laba
mungkin sehingga memberikan keuntungan kepada perusahaan
pemiliknya dan dimanfaatkan dengan sebaik
mungkin serta laba yang didapat cukup untuk Gambar 1
membayar beban bunga secara periodik. Debt to Kerangka Pemikiran
Equity Ratio yang tinggi akan berdampak pada
perusahaan untuk menanggung resiko kerugian Hipotesis Penelitian
yang tinggi, tetapi perusahaan tersebut Hipotesis merupakan jawaban sementara
berkesempatan untuk memperoleh laba yang terhadap rumusan masalah penelitian, di mana
meningkat. Debt to Equity Ratio yang tinggi rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam
berdampak pada peningkatan pertumbuhan laba bentuk pertanyaan (Sugiyono, 2009:96).
karena apabila hutang digunakan secara efektif
mungkin maka penjualan akan meningkat yang
nantinya akan meningkatkan laba perusahaan dan
memberikan efek keuntungan bagi perusahaan
(Kuswadi 2005:90). Hal ini didukung penelitian
sebelumnya oleh Heikal et al. (2014) yang
menyimpulkan bahwa, Debt to Equity Ratio
mempengaruhi pertumbuhan laba.

Pengaruh Total Asset Turn Over terhadap


Pertumbuhan Laba
Tingkat penjualan yang tinggi dapat
menyebabkan semakin tinggi tingkat penjualan
dimasa yang akan datang sehingga pertumbuhan
laba semakin tinggi pula. Penjualan yang semakin
tinggi berarti perusahaan efisien dan efektif dalam
menjalankan operasinya dan juga memanfaatkan Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat
asset yang perusahaan miliki, semakin tinggi Total dirumuskan hipotesis yaitu:
Assets Turn Over semakin tinggi pertumbuhan H1 : Current Ratio berpengaruh terhadap
labanya. Hal ini didukung penelitian sebelumnya pertumbuhan laba pada perusahaan food and
oleh Susanti & Fuadati (2014) yang menyimpulkan beverage yang terdaftar di BEI.
bahwa Total Asset Turn Over (TATO) H2 : Debt to Equity Ratio berpengaruh terhadap
mempengaruhi pertumbuhan laba. pertumbuhan laba pada perusahaan food and
beverage yang terdaftar di BEI.
Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap H3 : Total Asset Turn Over berpengaruh terhadap
Kebijakan Hutang pertumbuhan laba pada perusahaan food and
Ukuran perusahaan merupakan proksi bagi beverage yang terdaftar di BEI.
informasi asimetri antara perusahaan dengan pasar H4 : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap
(Sugiarto, 2009:121).Ukuran Perusahaan yang pertumbuhan laba pada perusahaan food and
dinilai dari besar kecilnya total aset yang dimiliki beverage yang terdaftar di BEI.
suatu perusahaan sangat berpengaruh pada
pertumbuhan laba karena tingkat penjualan akan METODE PENELITIAN
diprediksi naik ketika fasilitas aset perusahaan Rancangan Penelitian
mendukung operasional perusahaan tersebut dalam Desain dari penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Dalam
6
Sugiyono (2008) menyatakan metode kuantitatif periode lalu. Sehingga kita mengetahui
merupakan analisis yang menggunakan statistik pertumbuhan laba yang terjadi.
melalui pendekatan ilmiah yang melihat dari suatu Pada penelitian ini pertumbuhan laba
realitas, sehingga dapat diklasifikasikan, diamati, menggunakan rumus :
secara lengkap serta dapat diukur antara variabel Pertumbuhan Laba = Laba Bersih Tahunt – Laba
yang bersifat sebab akibat yang data penelitiannya
berasal dari angka-angka yang nantinya akan diolah Bersih Tahunt-1
atau diuji. x 100%
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
data sekunder. Sugiyono (2013:62), ini merupakan Variabel Independen Laba Bersih Tahunt-1
cara untuk memperoleh data secara tidak langsung Current Ratio (X1)
dengan memberikan data kepada peneliti, misalnya Rasio lancar atau mana lain dari Current Ratio
penelitian harus melalui orang lain atau mencari merupakan rasio yang sering digunakan dalam
melalui dokumen. Pada penelitian ini, teknik pengukuran kemampuan perusahaan untuk
pengambilan data dilakukan dengan menggunakan menyelesaikan liabilitas jangka pendek yang
studi literatur yang dilakukan terhadap banyak buku memiliki jatuh tempo dalam waktu satu tahun.
dan diperoleh berdasarkan catatan-catatan yang Rasio ini dapat dihitung dengan rumus :
berhubungan dengan penelitian, serta melalui media (Harahap, 2013:301)
internet yang mana dengan cara mendownload data
dan laporan keuangan tersebut di situs resmi Current Ratio = Aktiva Lancar
www.idx.co.id yang merupakan web dari Bursa Utang Lancar
Efek Indonesia.
Debt to Equity Ratio (X2)
Batasan Penelitian Rasio yang merupakan bagian dari rasio
Penelitian ini dibatasi oleh sampel dan waktu Solvabilitas ini menunjukkan perbandingan antara
penelitian. Dalam penelitian ini hanya utang dengan ekuitas uang yang dimiliki oleh suatu
menggunakan sampel penelitian berupa satu sektor perusahaan atau menggambarkan hubungan antara
perusahaan saja yaitu Perusahaan Food And utang perusahaan pada asset maupun modal.
Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Rasio ini dapat dihitung dengan rumus :
serta adanya batasan waktu penelitian ini adalah (Harahap, 2013:303)
lima tahun yaitu dari tahun 2011, 2012, 2013, 2014
dan 2015. Batasan penelitian ini juga terdapat pada Debt to Equity Ratio = Total Liabilitas
variable yang diteliti yaitu antara lain : Current
Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Total Total Modal
Assets Turn Over (TATO) serta Ukuran Perusahaan
(SIZE).
Total Asset Turn Over (X3)
Definisi Operasional Variabel Penggambaran pada aktivitas yang dilakukan
Variabel Dependen oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan
Pertumbuhan Laba (Y) operasi sepeti, penjualan, pembelian ataupun
Pertumbuhan laba terjadi apabila laba pada tahun kegiatan lain merupakan definisi rinci atas Total
ini dibandingkan dengan laba tahun kemarin Assets Turn Over. Jadi, semakin besar rasio Total
mengalami peningkatan, sehingga dapat Assets Turn Over berarti semakin efisien
disimpulkan untuk mengetahui pertumbuhan laba penggunaan keseluruh aktiva di dalam
penelitian ini menggunakan rumus laba periode menghasilkan penjualan.
sekarang dikurangi laba periode lalu di bagi laba Rasio ini dapat dihitung dengan rumus :

7
(Harahap, 2013:309) Sumber: Data diolah,2016.

Total Assets Turn Over = Penjualan ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN


Total Aset Statistik Deskriptif
Tabel 2
Ukuran Perusahaan (X4) Hasil Uji Statistik Deskriptif
Ukuran perusahaan adalah besar kecilnya Descriptive Statistics
perusahaan yang dapat dilihat dari total aset dan Std.
N Min Max Mean
penjualan. Penelitian sekarang menggunakan total Dev
aset. Ukuran perusahaan dihitung dengan CR 64 ,51 6,42 1,9998 1,20249
menggunakan log natural (LN) total aset. Total aset DER 64 ,21 3,14 1,0455 ,51219
dipilih dalam penelitian ini dikarenakan total aset TATO 64 ,11 3,40 1,4039 ,70110
lebih stabil dalam menunjukkan ukuran perusahaan Keterangan Jumlah
dibandingkan kapitalisasi pasar dan penjalan yang
sangat di pengaruhi oleh demand dan supply. Jumlah perusahaan food and beverage 70
Variabel ini sebagai variabel independen yang mana yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
fungsinya untuk mengetahui apakah variabel ini (BEI) periode 2011-2015.
dapat berpengaruh terhadap variabel dependen. Kriteria pemilihan sampel :
Ukuran perusahaan ini dihitung menggunakan 1. Perusahaan food and beverage
rumus: yang terdaftar di Bursa Efek -
Indonesia yang tidak
Ukuran Perusahaan = Ln Total Asset melaporkan laporan keuangan
secara berturut-turut mulai
periode 2011 sampai dengan -
Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan 2015.
Sampel 2. Laporan keuangan yang tidak
Pengumpulan data pada penelitian ini diterbitkan secara lengkap dan
menggunakan studi atau metode dokumentasi. Jenis sudah diaudit setiap tahun,
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah mulai tahun 2011 sampai
data sekunder yang meliputi data keuangan dengan 2015 pada perusahaan -
perusahaan-perusahaan food and beverage yang food and beverage yang
terdaftar dalam BEI. Pada penelitian ini metode terdaftar di Bursa Efek
pengumpulan data dilakukakan dengan cara Indonesia.
menganalisis informasi dalam bentuk tulisan studi 3. Laporan keuangan yang tidak
pustaka. menampilkan data perusahaan
Pengumpulan data juga dilakukan dengan cara yang mendukung kinerja
membaca serta memahami isi dari buku-buku dan keuangan terhadap
pengkajian data yang berkaitan dengan pembahasan pertumbuhan laba periode 2011
dalam penelitian ini. Kemudian melakukan sampai dengan 2015.
pengumpulan dari data-data yang diperoleh laporan
tahunan yang sudah diaudit dan harga saham per Jumlah data pengamatan selama 70
tahun dari situs resmi www.idx.co.id. empat tahun
Berikut ini data perolehan sampel melalui seleksi Outlier data (6)
berdasarkan kriteria yang telah ditentukan yaitu:
Tabel 1 Total data diolah 64
Pemilihan Sampel Penelitian

8
202078 Bintang Indonesia Tbk tahun 2014. Standart deviasi
9183152 9250719,
SIZE 64 696,17 18,4698 sebesar 0.51219 lebih kecil dari rata-rata (mean),
6,00 8955
1 sehingga dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata Debt
GROWTH 64 -1,84 1,75 ,2020 ,53960 to Equity Ratio memiiki nilai yang rendah, hal ini
Valid N menunjukkan tingkat variasi datanya cenderung
64
(listwise) rendah. Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata
Sumber : data olahan SPSS,2016. Debt to Equity Ratio memiliki nilai sebaran data
Tabel 2 hasil uji statistik deskriptif yang baik.
memperlihatkan nilai seluruh variabel sesudah Rata-rata nilai rasio Total Assets Turn Over
outlier. Data penelitian yang awal digunakan sebesar 1.4039 yang diperoleh selama periode
berjumlah 70 data, namun sesudah dioutlier penelitian 2011-2015 artinya bahwa rata-rata
berkurang 6 data menjadi 64 data. dapat diketahui perusahaan food and beverage yang memanfaatkan
bahwa rata-rata rasio Current Ratio perusahaan assetnya untuk memperoleh penghasilan cenderung
1.9998 yang diperoleh selama kurun waktu 2011- baik terbukti dari nilai rata-ratanya menunjukkan
2015, artinya adalah tingkat kemampuan angka yang positif. Nilai minimum yang
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka menunjukkan efektivitas perusahaan dalam
pendeknya cenderung baik, karena nilai rata-rata menggunakan asetnya untuk menciptakan
keseluruhan menunjukkan angka yang positif, pendapatan paling kecil yaitu 0.11 yang di miliki
walaupun angka rata-rata tersebut cenderung rendah oleh PT. Nippon Indosari Corpindo Tbk pada tahun
dari nilai maksimumnya tetapi nilai tersebut sudah 2011. Nilai maksimum yang menunjukkan tingkat
cukup baik untuk menggambarkan rata-rata Current efektivitas dalam menggunakan asetnya untuk
Ratio perusahaan food and beverage. Nilai menciptakan pendapatan paling besar sebesar 3.40
minimum yang paling kecil yaitu sebesar 0.51 yang yang dimiliki oleh PT. Sekar Bumi Tbk pada tahun
dimiliki oleh PT. Multi Bintang Indonesia Tbk pada 2011. Standart deviasi sebesar 0.70110 lebih kecil
tahun 2014. Sedangkan nilai maximum pada Tabel dari rata-rata (Mean), sehingga dapat dikatakan
2 paling besar yaitu 6.42 yang dimiliki oleh PT. bahwa nilai rata-rata Total Assets Turn Over
Delta Djakarta Tbk pada tahun 2015 Standart memiliki sebaran data yang baik.
deviasi sebesar 1.20249 lebih kecil dari rata-rata Ukuran perusahaan dalam penelitian ini tanpa
(mean), sehingga dapat dikatakan bahwa nilai rata- menggunakan log natural (ln) total aset perusahaan
rata Current Ratio memiliki nilai sebaran data yang (dalam ribuan), dikarenakan pada analisis deskriptif
baik. ini harus menampilkan angka sebenarnya sehingga
Diketahui nilai rata-rata dari Debt to Equty Ratio menghasilkan mengambarkan yang sebenarnya.
adalah 1.0455 selama periode penelitian 2011-2015, Hasil uji statistik deskriptif menunjukkan rata-rata
artinya bahwa kemampuan perusahaan dalam ukuran perusahaan yaitu sebesar 9250719.8955
membayar kewajiban jangka panjangnya cenderung selama periode penelitian tahun 2011-2015. Nilai
rendah, karena total hutangnya lebih tinggi dari pada minimum ukuran perusahaan yaitu sebesar 696.17
total ekuitasnya. Ketika mayoritas perusahaan food yang dimiliki PT. Delta Djakarta Tbk pada tahun
and beverage ini tidak mampu melakukan efisiensi 2011. Sedangkan nilai maksimum ukuran
kinerja untuk mengoptimalkan kinerjanya dalam perusahaan aset yaitu 91831526,00 oleh PT.
memperoleh keuntungan, maka perusahaan akan Indofood Sukses Makmur Tbk pada tahun 2015.
beresiko tinggi mengalami kerugian, karena timbul Standart deviasi sebesar 20207818,46981 lebih
adanya beban bunga dan pembayaran angsuran tinggi dari rata-rata (Mean), sehingga dapat
secara periodik. Nilai minimum rasio Debt to Equity dikatakan bahwa nilai rata-rata ukuran perusahaan
Ratio sebesar 0.21 yang dimiliki oleh PT. Delta memiliki tingkat penyimpangan yang tinggi, artinya
Djakarta Tbk pada tahun 2015. semakin tingi tingkat penyimpangan maka semakin
Sedangkan nilai maksimum rasio Debt to Equity besar pula variasi datanya, sehingga dapat dikatakan
Ratio sebesar 3.14 yang dimiliki oleh PT. Multi
9
bahwa nilai rata-rata ukuran perusahaan memiliki baik apabila tidak ada korelasi. Nilai Durbin-
sebaran data yang beragam. Watson menunjukkan sebesar 1.855, serta nilai dU
Pertumbuhan laba dalam penelitian ini dan dL sebesar 1.7303 dan 1.4659. Sehingga dapat
menggunakan rumus laba tahun sekarang dikurangi disimpulkan, jika dU (1.7303) < d (1.855) < 4-dU
laba tahun kemarin dibagi laba tahun kemarin. Hasil (2.2697), maka keputusan H0 diterima dengan
uji statistik deskriptif menunjukkan rata-rata menyatakan tidak adanya autokorelasi posifit
pertumbuhan laba sebesar 0.1178 selama periode ataupun negatif. Hal ini menunjukkan bahwa
penelitian 2011-2015, artinya bahwa banyak persamaan regresi dan data yang digunakan dalam
perusahaan food and beverage pada periode tersebut penelitian ini cukup random sehingga datanya tidak
yang mengalami banyak pertumbuhan laba terdapat masalah autokorelasi pada data yang diuji.
sehingga besarnya rata-rata pada tabel menunjukkan Uji Heterokedastisitas
angka positif. Nilai minimum pertumbuhan laba Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk
yaitu sebesar negatif 1.84 yang dimiliki oleh PT. Tri mengetahui apakah model regresi penelitian ini
Banyan Tirta Tbk pada tahun 2014. Nilai maximum terdapat ketidaksamaan varian dari variabel
dari pertumbuhan laba adalah sebesar 1.75 yang independen ke variabel dependen. Apabila hasil
dimiliki oleh PT. Ultrajaya Milk Tbk pada tahun signifikansi sama dengan atau kurang dari 0,05 yang
2012. Standart deviasi sebesar 0.53960 angka berarti adanya pengaruh variabel independen
tersebut lebih besar dari nilai rata-rata (Mean) terhadap dependen maka terjadi heteroskedastisitas.
pertumbuhan laba, sehingga dapat dikatakan bahwa Berdasarkan hasil pengujian menunjukkan nilai
nilai rata-rata pertumbuhan laba memiliki memiliki probabilitas signifikansinya variabel independen
tingkat penyimpangan yang cukup tinggi, artinya diperoleh Current Ratio sebesar 0.712, Debt To
semakin tinggi tingkat penyimpangan maka Equity Ratio sebesar 0.783, Total Asset Turnover
semakin banyak pula variasi datanya, sehingga sebesar 0.732 dan Ukuran Perusahaan 0.984 dan
dapat dikatakan bahwa nilai rata-rata ukuran semua variabel independen tersebut menunjukkan
perusahaan memiliki sebaran data yang beragam. lebih dari 5% yang berarti tidak terdapat
heterokedatisitas.
Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas Uji Multikoloniearitas
Uji normalitas merupakan pengujian model Pengujian multikolonieritas bertujuan untuk
regresi digunakan untuk mengetahui nilai suatu apakah dimodel regresi terdapat korelasi antar
variabel telah terdistribusi normal atau tidak. Nilai variabel independen atau bebas (Imam, 2012:105).
Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 0.956 dengan nilai Dikatakan hubungan antar variabel baik apabila
signifikansi 0.320. Nilai tersebut menunjukkan nilai tidak ada korelasi antar variabel bebas dengan nilai
signifikansi diatas 5% (0.05) untuk semua variabel. korelasi. Hasil uji multikolinieritas pada bagian
Kesimpulannya bahwa data pada penelitian ini tolerance tidak ada nilai yang kurang dari 0,10.
berdistribusi normal. Penyebab dari adanya data Model regresi dapat dikatakan baik karena tidak ada
yang harus di outlier adalah data tersebut memiliki korelasi di antara variable independen. Terbukti
nilai ekstrim yang menyebabkan data tersebut tidak dengan nilai tolerance lebih dari 0,10 nilai Variance
berdistribusi normal sehingga harus Inflaction Factor (VIF) pada Tabel tersebut lebih
dihilangkan/dihapus dari data awal. besar dari 10,00, maka data tersebut berarti tidak
terjadi multikolinieritas.
Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan mengetahui apakah Analisis Regresi Berganda
model regresi terdapat korelasi pengganggu antara Analisis regresi linier berganda untuk mengetahui
periode saat ini dengan periode sebelumnya pada pengaruh variabel independen terhadap variabel
runtutan waktu. Penelitian model regresi dianggap dependen. Cara mengahasilkan nilai regresi dengan

10
memasukkan variabel ke fungsi regresi. independen yang lain dianggap konstan.

Tabel 3 Koefisien Determinasi R2


Hasil Analisis Regresi Berganda Koefisien determinasi bertujuan pengukuran
yang menjelaskan kemampuan variabel independen
Model Unstandardized Sig. dalam mempengaruhi variabel dependen. Penelitian
Coefficients ini menggunakan koefisien determinasi untuk suatu
B Std. Error pengukuran yang menjelaskan kemampuan variabel
independen dalam mempengaruhi variable
(Const 1.073 1.128 .345
dependen. Koefisien determinasi memiliki nilai
ant)
antara nol dan satu (0 ≤ R2 ≤ 1). Ketika R2 kecil atau
CR -.154 .072 .038 (mendekati 0) maka variabel dependen dijelaskan
DER -.424 .146 .005 dengan kemampuan variabel independen sangat
TATO .056 .108 .604 terbatas.
Berikut tabel hasil output SPSS pada penelitian ini
SIZE -.007 .034 .834 yaitu:
Sumber : Data olahan SPSS,2016. Tabel 4
Berdasarkan Tabel 3 hasil regresi linier berganda Hasil Uji Koefisien Determinasi
menghasilkan nilai persamaan pada penelitian ini
sebagai berikut: Model Summaryb
GROWTH = 1.073 – 0.154 CR – 0.424 DER + e Model R R Adjusted Std. Error
Dari persamaan regresi tersebut dapat diuraikan Square R Square of the
sebagai berikut:
Estimate
a. Persamaan regresi berganda di atas
diketahui mempunyai konstantai sebesar 1 .381a .145 .087 .51551
1.073 yang berarti jika Current Ratio, Debt a. Predictors: (Constant), SIZE, DER, TATO, CR
to Equity Ratio , Total Asset Turnover dan b. Dependent Variable: GROWTH
Ukuran Perusahaan dianggap konstan atau Sumber: data olah SPSS, 2016.
sama dengan nol, maka nilai pertumbuhan Berdasarkan Tabel 4 tersebut dijelaskan apabila
laba adalah 1.073. besarnya pengaruh variabel independen yaitu
b. Koefisien variabel Current Ratio sebesar Current Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset
negatif 0.154, hal ini menunjukkan bahwa Turnover dan Ukuran Perusahaan terhadap variabel
adanya hubungan negatif antara variabel dependen yaitu pertumbuhan laba sebesar 0.087
independen dan variabel dependen serta atau 8.7% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh
setiap terjadi kenaikan nilai Current Ratio variabel lain.
sebesar satu satuan maka pertumbuhan laba
akan menurun sebesar negatif 0.154, dengan Uji F
asumsi variabel independen yang lain Uji F bertujuan mengetahui model regresi yang
dianggap konstan. menggunakan fit atau tidaknya variabel mengenai
c. Koefisien variabel Debt to Equity Ratio pengaruh variabel independen terhadap variabel
sebesar negatif 0.424, hal ini menunjukkan dependen. Uji statistik F pada dasarnya
bahwa adanya hubungan negatif antara menunjukkan apakah semua variabel independen
variabel independen dan variabel dependen yang dimasukkan dalam model membuat model
serta setiap terjadi kenaikan nilai Debt to tersebut dapat diketahui fit ataupun tidak.
Equity Ratio sebesar satu satuan maka
pertumbuhan laba akan menurun sebesar Tabel 5
negatif 0.424, dengan asumsi variabel
11
Hasil Analisis Uji F Ukuran Tidak
Model F Sig. -.007 -.211 .834
Perusahaan Signifikan
Regression 2.506 ,048b
1 Residual Constant 1.073 .951 .345 -
Total
Sumber: data diolah, 2016.
a. Dependent Variable: Hasil pengujian hipotesis pada Tabel 6
GROWTH menunjukkan variabel Current Ratio dan Debt to
b. Predictors: (Constant), Equity Ratio signifikan terhadap pertumbuhan laba.
SIZE, DER, TATO, CR Dapat disimpulkan, hipotesis diterima. Sedangkan
Sumber: data olahan SPSS,2016. Total Asset Turnover dan Ukuran Perusahaan tidak
Dari tabel 5 diperoleh nilai F sebesar 2.506 dan signifikan terhadap pertumbuhan laba. Dapat
nilai signifikasi sebesar 0.48. karena nilai disimpulkan, hipotesis ditolak.
signifikansi kurang dari 5% atau 0.05 maka model
pada penelitian ini dapat dikatakan fit, sehingga Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap
dapat dilanjutkan serta menyatakan apabila Current Pertumbuhan Laba
Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover Current Ratio (CR) merupakan salah satu rasio
dan Ukuran Perusahaan mempengaruhi variabel keuangan yang sangat sering digunakan. Tingkat
Pertumbuhan laba. Current Ratio dapat ditentukan dengan jalan
Uji t membandingkan antara current asset dengan
Uji statistik t digunakan untuk mengetahui current liabilities. Current Ratio ini menunjukkan
apakah secara parsial variabel independen (Current tingkat keamanan kreditor jangka pendek, atau
Ratio, Debt To Equity Ratio, Total Asset Turnover kemampuan perusahaan untuk membayar hutang
dan Ukuran Perusahaan) berpengaruh terhadap jangka pendeknya yang akan jatuh tempo dalam
variabel dependen (Pertumbuhan laba). Jika waktu satu tahun tersebut. Tidak ada ketentuan yang
signifikansi ≤ 0,05 maka variabel independen secara mutlak tentang berapa tingkat Current Ratio yang
parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. dianggap baik atau yang harus dipertahankan oleh
Sebaliknya jika signifikansi > 0.05 maka variabel suatu perusahaan karena biasanya tingkat Current
independen secara parsial tidak mempengaruhi Ratio ini juga sangat tergantung kepada jenis usaha
variabel dependen. dari masing-masing perusahaan. Current Ratio yang
Hasil dari pengujian ini dapat diketahui di tabel tinggi menunjukkan adanya kelebihan aktiva lancar
cofficient pada kolom sig. sebagai berikut: yang dapat menutupi kewajiban lancar perusahaan
sehingga perusahaan memiliki resiko kecil untuk
Tabel 6 tidak membayar hutang jangka pendeknya, yang
Hasil Pengujian Uji t mana itu akan berdampak pada semakin mudahnya
Variabel (β) T Sig. Ket kreditur memberikan pinjaman dananya.
Current - Berdasarkan teori signal, manajemen perusahaan
-.154 .038 Signifikan untuk memberikan petunjuk atau sinyal yang baik
Ratio 2.122 mengenai bagaimana cara pandang manajemen
Debt to terhadap prospek perusahaan yang menguntungkan
- atau tidak menguntungkan (Brigham & Houston,
Equity -.424 .005 Signifikan 2011:184). Dengan demikian tingginya rasio
.2915
Ratio Current Ratio yang ada disuatu perusahaan,
merupakan signal yang baik bagi investor guna
Total Asset Tidak menanamkan modalnya karena perusahaan tersebut
.056 .521 .604
Turnover Signifikan dalam menjalankan usahanya, dinilai mampu
melunasi hutang jangka pendeknya, hal tersebut
12
penting diketahui oleh investor karena merupakan Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang
salah satu faktor pengambilan keputusan bisnis. menunjukkan perbandingan antara total kewajiban
Hasil uji t menunjukkan bahwa Current Ratio dengan total ekuitas dalam pendanaan perusahaan.
memiliki nilai signifikansi sebesar 0.038 < 0.05 Semakin tinggi Debt to Equity Ratio perusahaan
yang artinya Current Ratio berpengaruh signifikan maka pertumbuhan laba yang diperoleh perusahaan
terhadap pertumbuhan laba karena nilai signifikansi semakin rendah. Hal ini disebabkan oleh Debt to
yang diperoleh kurang dari 0.05. Koefisien regresi Equity Ratio yang tinggi menunjukkan proporsi
variabel sebesar -0.154, koefisien nilainya negatif modal yang yang dimiliki lebih kecil dari pada
artinya terjadi hubungan negatif antara Current kewajiban perusahaan atau adaya ketergantungan
Ratio dengan pertumbuhan laba. Dibuktikan oleh yang tinggi dengan pihak luar. Perusahaan dengan
analisis deskriptif menunjukkan apabila hubungan kewajiban yang terlampau banyak akan mengalami
yang negatif atau berkebalikan antara Current Ratio kesulitan untuk mendapatkan tambahan dana dari
dengan pertumbuhan laba. Pada tahun 2011 ke 2012 pihak luar. Pada dasarnya hutang membawa resiko,
Current Ratio mengalami penurunan, sedangkan karena setiap hutang pada umumnya akan
pertumbuhan laba meningkat. Tahun 2013 ke 2014 menimbulkan keterikatan yang tetap bagi
Current Ratio mengalami kenaikan sedangkan perusahaan, berupa kewajiban untuk membayar
pertumbuhan mengalami penurunan dan ditahun beban bunga dan cicilan kewajiban pokoknya secara
2014 ke 2015 pertumbuhan laba mengalami periodik. Kewajiban atau hutang bukan sesuatu
peningkatan sedangkan Current Ratio stabil. yang jelek apabila perusahaan tersebut mampu
Diketahui bahwa rata-rata rasio Current Ratio menggunakan hutang tersebut secara efektif dan
perusahaan 1.9998 yang diperoleh selama kurun seefisien mungkin karena hal tersebut akan mampu
waktu 2011-2015. Nilai minimum yang paling kecil memberikan keuntungan kepada pemiliknya dalam
yaitu sebesar 0.51 dan nilai maximum sebesar 6.4 hal ini adalah perusahaan tersebut.
serta memiiki standart deviasi sebesar 1.20249 lebih Teori signal mengatakan bahwa manajemen
kecil dari rata-rata (mean). perusahaan dalam memberikan petunjuk atau signal
Hasil ini sama dengan hasil penelitian dari Heikal yang baik mengenai bagaimana cara pandang
et al. (2014) yang menggunakan sampel perusahaan manajemen terhadap prospek perusahaan yang
otomotif dimana dinyatakan adanya pengaruh yang menguntungkan atau tidak menguntungkan
signifikan antara Current Ratio terhadap (Brigham & Houston, 2011:184). Hal tersebut dapat
pertumbuhan laba, namun hal ini berbeda dengan dihubungkan dengan besarnya Debt to Equity Ratio,
hasil penelitian Agustina & Rice (2016), D. karena semakin rendah rasio tersebut merupakan
Permatasari (2015), Sayekti & Saputra (2015), signal yang menguntungkan bagi investor karena
Rachmawati & Handayani (2014) dan Gunawan & hal ini dapat membuktikan apabila perusahaan
Wahyuni (2013) yang mana disini sampel yang tersebut dalam memperoleh pendanaannya lebih
digunakan dalam penelitian mereka merupakan memanfaatkan modal dari pada berhutang, karena
manufaktur dan industri rokok, dimana dinyatakan dalam melunasi hutang akan timbul biaya bunga,
tidak ada pengaruh signifikan antara Current Ratio sehingga akan mengurangi laba perusahaan. Hal ini
terhadap pertumbuhan laba. Maka peneliti dapat dapat menarik investor guna untuk menjalankan
menyimpulkan bahwa ada kesesuaian antara hasil usahanya, karena hal tersebut salah satu faktor
penelitian dengan teori serta penelitian terdahulu pengambilan keputusan dalam penanaman modal.
yakni Current Ratio berpengaruh signifikan Hasil uji t menunjukkan bahwa Debt to Equity
terhadap pertumbuhan laba. Ratio memiliki nilai signifikansi sebesar 0.005 <
0.05 yang artinya Debt to Equity Ratio berpengaruh
signifikan terhadap pertumbuhan laba karena nilai
Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap signifikansi yang diperoleh kurang dari 0.05.
Pertumbuhan Laba Koefisien regresi sebesar -0.424 yang memiliki nilai

13
negatif artinya terjadi hubungan negatif antara Debt diharapkan perolehan laba perusahaan semakin
to Equity Ratio dengan pertumbuhan laba. banyak sehingga meningkatkan pertumbuhan laba
Dibuktikan oleh analisis deskriptif menunjukkan yang signifikan. Diasumsikan perusahaan yang
apabila hubungan yang negatif atau berkebalikan memiliki Total Asset Turn Over yang tinggi dalam
antara Debt to Equity Ratio dengan pertumbuhan memanfaatkan aset akan dapat menarik minat
laba. Pada tahun 2011 ke 2012 Debt to Equity Ratio investor untuk memiliki saham perusahaan tersebut.
stabil, sedangkan pertumbuhan laba meningkat. Kinerja perusahaan yang semakin baik
Tahun 2013 ke 2014 Debt to Equity Ratio mencerminkan dampak pada pertumbuhan laba
mengalami kenaikan sedangkan pertumbuhan perusahaan tersebut karena semakin tinggi Total
mengalami penurunan dan ditahun 2014 ke 2015 Asset Turn Over yang dimiliki perusahaan, hal itu
pertumbuhan laba mengalami peningkatan menunjukkan bahwa perusahaan tersebut dapat
sedangkan Debt to Equity Ratio penurunan. mengoptimalkan penggunaan assetnya untuk
Diketahui nilai rata-rata dari Debt to Equty Ratio melakukan penjualan sehingga pertumbuhan laba
adalah 1.0455 selama periode penelitian 2011-2015, yang terjadi pada perusahaan tersebut cenderung
Nilai minimum rasio Debt to Equity Ratio sebesar meningkat.
0.21 sedangkan nilai maksimum rasio Debt to Rasio Total Asset Turn Over suatu perusahaan
Equity Ratio sebesar 3.14 dan standart deviasi dapat memberikan signal yang baik bagi investor
sebesar 0.51219 lebih kecil dari rata-rata (mean). karena merupakan salah satu faktor pengambilan
Hasil ini sama dengan hasil penelitian dari Heikal et keputusan bisnis. Suatu perusahaan tersebut dapat
al. (2014) yang menggunakan sampel perusahaan pengoptimalkan penggunaan assetnya dalam
otomotif dimana dinyatakan adanya pengaruh yang meningkatkan penjualannya, sehingga semakin
signifikan antara Debt to Equity Ratio terhadap banyak penjualan yang terjadi akan meningkatkan
pertumbuhan laba, namun hal ini berbeda dengan laba perusahaan tersebut. Teori signal berpendapat
hasil penelitian D. Permatasari (2015), Sayekti & bahwa manajemen perusahaan dalam memberikan
Saputra (2015) dan Gunawan & Wahyuni (2013) petunjuk atau signal yang baik mengenai kondisi
yang mana disini sampel yang digunakan dalam perusahaannya dan bagaimana cara pandang
penelitian mereka merupakan manufaktur dan manajemen terhadap prospek perusahaan yang
industri rokok, dimana dinyatakan tidak ada menguntungkan atau tidak menguntungkan sebagai
pengaruh signifikan antara Debt to Equity Ratio salah satu faktor pengambilan keputusan bisnis oleh
terhadap Pertumbuhan laba. Maka peneliti dapat investor (Brigham & Houston, 2011:184).
menyimpulkan bahwa ada kesesuaian antara hasil Hasil uji t menunjukkan bahwa Total Asset Turn
penelitian dengan teori serta penelitian terdahulu Over memiliki nilai signifikansi sebesar 0.604 >
yakni Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan 0.05 dan dihasilkan koefisien regresi variabel
terhadap pertumbuhan laba. sebesar 0.056 yang artinya ukuran perusahaan tidak
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba
Pengaruh Total Asset Turn Over (TATO) karena nilai signifikansinya lebih dari 0.05 yang
terhadap Pertumbuhan Laba artinya Total Asset Turn Over tidak berpengaruh
Total Asset Turn Over merupakan bagian dari signifikan terhadap pertumbuhan laba. Sehingga
salah satu rasio aktivitas yang menunjukkan berbeda dengan hipotesis yang ada apabila Total
seberapa efektif perusahaan menggunakan aset yang Asset Turn Over yang tinggi akan mempengaruhi
dimiliki untuk menciptakan pendapatan. Total Asset terjadinya partumbuhan laba. Namun, pada sampel
Turn Over menunjukkan bagaimana efektivitasnya perusahaan food and beverage ini dibuktikan oleh
perusahaan menggunakan seluruh aset untuk analisis deskriptif menunjukkan apabila Total Asset
menghasilkan penjualan dalam kaitan hal ini adalah Turn Over yang tinggi tidak mempengaruhi
laba. Jika efektivitas perusahaan menggunakan aset terjadinya partumbuhan laba. Pada tahun 2011 ke
untuk memperoleh tingkat penjualan yang tinggi, 2012 Total Asset Turn Over menurun, sedangkan

14
pertumbuhan laba meningkat. Tahun 2013 ke 2014 kontrak keuangan hingga banyaknya ikatan jarigan
Total Asset Turn Over mengalami kenaikan perusahaan perusahaan yang ada akan lebih mudah
sedangkan pertumbuhan mengalami penurunan dan pada perusahaan besar dibanding perusahaan kecil.
ditahun 2014 ke 2015 pertumbuhan laba mengalami Semakin besar suatu perusahaan tersebut maka akan
peningkatan sedangkan Total Asset Turn Over semakin besar total aset yang dimiliki perusahaan,
penurunan. Diketahui rata-rata nilai rasio Total hal ini berdampak pada laba yang yang diperoleh
Assets Turn Over sebesar 1.4039 yang diperoleh semakin besar. Hal ini membuat para investor
selama periode penelitian 2011-2015 artinya Nilai cenderung untuk memilih perusahaan besar
minimum yaitu 0.11 sedangkan nilai maksimum dibanding perusahaan kecil dikarenakan
sebesar 3.40 dan standart deviasi sebesar 0.70110 mempunyai risiko tidak besar.
lebih kecil dari rata-rata (mean). Semakin besar total aset juga dapat dijadikan
Hasil ini sama dengan hasil penelitian dari D. sumber yang diharapkan agar dapat bermanfaat bagi
Permatasari (2015), Rachmawati & Handayani perusahaan di masa depan, contohnya membuat
(2014) dan Adisetiawan (2012) yang mana disini para investor tertarik dalam menanam modalnya
sampel yang digunakan dalam penelitian mereka dan para kreditur dengan mudah memberikan
merupakan manufaktur dan LQ45, dimana dananya. Hasil yang tidak signifikan ini diduga
dinyatakan tidak ada pengaruh signifikan antara karena ukuran perusahaan besar atau kecil tidak
Total Asset Turn Over terhadap pertumbuhan laba dapat menjamin perusahaan dapat mengelola
dan berbeda dengan penelitian Susanti & Fuadati asetnya dengan baik untuk menghasilkan laba.
(2014) dan Gunawan & Wahyuni (2013) yang mana Dapat dibuktikan apabila perusahaan kecilpun
disini sampel yang digunakan dalam penelitian didukung dengan kinerja dan operasional yang baik
mereka merupakan manufaktur dan industri rokok, dapat menghasilkan laba yang lebih menjanjikan,
dimana dinyatakan ada pengaruh signifikan antara yakni PT. Ultrajaya Milk Tbk ditahun 2015 yang
Total Asset Turn Over terhadap pertumbuhan laba. memiliki peringkat pertama dalam menciptakan
Sedangkan penelitian ini menggunakan perusahaan pertumbuhan laba meskipun ukuran perusahaannya
sektor food and beverage, dapat disimpulkan pula tidak terlalu besar.
apabila Total Asset Turn Over yang tinggi dapat Berdasarkan teori signal yang digunakan seorang
menyebabkan pertumbuhan yang tinggi pula. Maka manajemen perusahaan untuk memberikan petunjuk
peneliti dapat menyimpulkan bahwa tidak sesuainya atau sinyal yang baik mengenai bagaimana cara
antara hasil penelitian dengan teori serta penelitian pandang manajemen terhadap prospek perusahaan
terdahulu yakni Total Asset Turn Over tidak yang menguntungkan atau tidak menguntungkan
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan laba. (Brigham & Houston, 2011:184). Dengan demikian
besarnya ukuran perusahaan dapat memberikan
Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap signal yang menguntungkan bagi investor sehingga
Pertumbuhan Laba menarik investor guna untuk menjalankan bisnis,
Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya hal tersebut penting bagi investor untuk
suatu perusahaan. Ukuran perusahaan dapat pengambilan keputusan investasi, karena semakin
menentukan baik tidaknya kinerja sebuah besar total asset yang dimiliki perusahaan, akan
perusahaan dalam mengelola kekayaannya untuk cenderung lebih menguntungkan investor dalam
menghasilkan laba (Yohanes, 2014). Hal ini dapat besarnya pertumbuhan laba yang dialami oleh
dilihat salah satunya dengan total aset yang dimiliki perusahaan tersebut.
perusahaan. Tingginya total asset mencerminkan Hasil uji t menunjukkan bahwa ukuran
perusahaan besar dan rendahnya total asset perusahaan memiliki nilai signifikansi sebesar
mencerminkan perusahaan tersebut kecil. Tingkat 0.834 > 0.05 dan dihasilkan koefisien regresi
kemudahan dalam perusahaan untuk memperoleh variabel sebesar -0.007 yang artinya ukuran
dana dari investor, tawar menawar dalam hal perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap

15
pertumbuhan laba karena nilai signifikansinya lebih Bursa Efek Indonesia. Dalam penelitian ini
dari 0.05. Sehingga berbeda dengan hipotesis yang digunakan jenis data kuantitatif yang diperoleh
ada apabila ukuran perusahaan yang besar akan dengan mengakses www.idx.co.id serta website
mempengaruhi terjadinya partumbuhan laba. resmi dimasing-masing perusahaan. Jenis data yang
Namun, pada sampel perusahaan food and beverage digunakan dalam penelitian ini adalah data
ini dibuktikan oleh analisis deskriptif menunjukkan sekunder. Alat uji yang digunakan dalam penelitian
apabila ukuran perusahaan yang besar tidak ini yaitu Uji statistic deskriptif, Uji asumsi klasik
mempengaruhi terjadinya partumbuhan laba. Pada dan Uji statistic analisis regresi berganda dengan
tahun 2012 ke 2013 ukuran perusahaan mengalami menggunakan aplikasi SPSS. Setelah dilakukan
peningkatan, sedangkan pertumbuhan laba analisis maka didapatkan kesimpulan, keterbatasan,
mengalami penurunan. Tahun 2013 ke 2014 ukuran implikasi serta saran bagi peneliti selanjutnya
perusahaan mengalami kenaikan sedangkan apabila meneliti dengan topik yang sama.
pertumbuhan mengalami penurunan dan ditahun Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian
2014 ke 2015 pertumbuhan laba mengalami hipotesis yang telah dilakukan maka dapat diambil
peningkatan sedangkan ukuran perusahaan kesimpulan sebagai berikut:
penurunan. Diketahui hasil uji statistik deskriptif 1. Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap
menunjukkan rata-rata log natural (LN) total aset pertumbuhan laba pada perusahaan yang
yaitu sebesar 27.8705 selama periode penelitian bergerak dalam bidang food and beverage dan
tahun 2011-2015. Nilai minimum log natural (LN) memiliki hubungan negatif antara Current
total aset yaitu sebesar 20.36 sedangkan nilai Ratio dengan pertumbuhan laba. Artinya,
maksimum log natural (LN) total aset yaitu 32.15 apabila Current Ratio mengalami kenaikan
dan standart deviasi sebesar 2.63854 lebih kecil dari maka pertumbuhan laba akan mengalami
rata-rata (mean). penurunan. Hasil ini sama dengan hasil
Hasil ini sama dengan hasil penelitian dari penelitian dari Heikal et al. (2014) yang
Agustina & Rice (2016) dan D. Permatasari (2015) menyatakan ada pengaruh yang signifikan
yang mana disini sampel yang digunakan dalam antara Current Ratio terhadap pertumbuhan
penelitian mereka merupakan manufaktur, yang laba, namun hal ini berbeda dengan hasil
menyatakan tidak ada pengaruh signifikan antara penelitian Agustina & Rice (2016), D.
ukuran perusahaan terhadap pertumbuhan laba. Dari Permatasari (2015), Sayekti & Saputra (2015),
hasil tersebut, ukuran perusahaan tidak berpengaruh Rachmawati & Handayani (2014) dan
terhadap penyebab pertumbuhan laba, beberapa Gunawan & Wahyuni (2013) yang menyatakan
perusahaaan tidak dipicu oleh besarnya perusahaan, tidak ada pengaruh signifikan antara Current
namun dipicu oleh tujuan perusahaan yang lebih Ratio terhadap Pertumbuhan laba.
bersifat untuk mendapatkan investasi yang lebih 2. Debt to Equity Ratio berpengaruh signifikan
besar. Maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan
tidak sesuainya antara hasil penelitian dengan teori yang bergerak dalam bidang food and beverage
serta penelitian terdahulu yakni ukuran perusahaan dan memiliki hubungan negatif antara Debt to
tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan Equity Ratio dengan pertumbuhan laba. Hasil
laba. ini sama dengan hasil penelitian dari Heikal et
al. (2014) yang menyatakan ada pengaruh yang
KESIMPULAN, KETERBATASAN, DAN signifikan antara Debt to Equity Ratio terhadap
SARAN pertumbuhan laba, namun hal ini berbeda
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti dengan hasil penelitian Sayekti & Saputra
empiris mengenai pengaruh kinerja keuangan serta (2015), Yohanas (2014) dan Gunawan &
ukuran perusahaan terhadap pertumbuhan laba pada Wahyuni (2013) yang menyatakan tidak ada
perusahaan food and beverage yang terdaftar di pengaruh signifikan antara Debt to Equity Ratio

16
terhadap Pertumbuhan laba. sekarang dikurangi penjualan tahun
3. Total Asset Turn Over tidak berpengaruh sebelumnya dibagi dengan penjualan tahun
signifikan terhadap pertumbuhan laba pada sebelumnya.
perusahaan yang bergerak dalam bidang food 3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat
and beverage. Hasil ini sama dengan hasil menambahkan variabel independen atau
penelitian dari D. Permatasari (2015), rasio keuangan yang berbeda, yang belum
Rachmawati & Handayani (2014) dan digunakan dalam penelitian ini karena masih
Adisetiawan (2012) dan yang menyatakan banyak rasio keuangan yang mungkin dapat
tidak ada pengaruh signifikan antara Total berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
Asset Turn Over terhadap ertumbuhan laba dan Misalnya peneliti selanjutnya dapat
berbeda dengan penelitian Susanti & Fuadati menambahkan variabel Loan to Asset Ratio,
(2014) dan Gunawan & Wahyuni (2013) yang Return On Asset dan rasio kecukupan modal.
menyatakan ada pengaruh signifikan antara 4. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat
Total Asset Turn Over terhadap pertumbuhan memperbanyak sampel misalnya perusahaan
laba. manufaktur. Serta menambah periode
4. Ukuran perusahaan tidak terdapat pengaruh terbaru dalam pengamatan yang akan
yang signifikan terhadap pertumbuhan laba digunakan dalam penelitian agar diperoleh
pada perusahaan yang bergerak dalam bidang hasil yang lebih update dan akurat.
food and beverage. Berbeda pendapat dengan DAFTAR RUJUKAN
Lestari et al. (2015) yang menyatakan apabila Adisetiawan, R. 2013. Analisis Pengaruh Kinerja
ukuran perusahaan berpengaruh terhadap Keuangan dalam Memprediksi
pertumbuhan laba. Hasil ini sama dengan hasil Pertumbuhan Laba. Jurnal Aplikasi
penelitian dari Yohanas (2014) yang Manajemen, 10(3), 669-681.
menyatakan tidak ada pengaruh signifikan
antara ukuran perusahaan terhadap Agus Susanto. 2015. Kawasan Industri Mulai
Pertumbuhan laba. Memikat Investor.
Adapun keterbatasan yang terjadi pada penelitian (http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/1
ini adalah tidak mempertimbangkan faktor-faktor 0/21/131300926/Kawasan.Industri.Mulai.M
ekonomi seperti suku bunga, inflasi dan lain emikat.Investor, diakses 06 Agustus 2016).
sebagainya, sehingga hal ini mungkin
mempengaruhi hasil penelitian. Anis Chariri dan Imam Gozali, 2012. Teori
Saran-saran yang dapat diberikan untuk Akuntansi: International Financial
penelitian selanjutnya agar mendapatkan hasil yang Reporting System (IFRS). Badan Penerbit
lebih baik adalah sebagai berikut: Universitas Diponegoro, Semarang.
1. Bagi perusahaan yang diteliti hendaknya
dilakukan evaluasi secara berkala untuk Brigham, Eugene F and Joel F.Houston, 2011.
mengevaluasi kinerja perusahaan, sehingga Dasar-Dasar Manajemen
dapat diketahui hal apa yang menyebabkan Keuangan, alih bahasa Ali Akbar Yulianto, Buku
kinerja tersebut baik dan tidak agar nantinya dua, Edisi Sepuluh, PT.
dapat menentukan kebijakan yang tepat Salemba Empat, Jakarta.
guna untuk mencapai keuntungan yang
maksimal di masa depan. Gareta, Sella Panduarsa. 2015. Menperin optimis
2. Penelitian selanjutnya diharapan tidak industri makanan minuman meningkat.
menggunakan ln total asset untuk (http://www.antaranews.com/berita/489708/me
menghitung ukuran perusahaan, bisa nperin-optimistis-industri-makanan-
menggunakan rumus penjualan tahun minuman-meningkat, diakses 06 Agustus

17
2016).
. 2005. Teori Akuntansi,
. 2015. Sektor makanan PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
dan minuman andalan pertumbuhan industri
2016. Ikatan Akuntansi Indonesia. 2012. Standar
(http://www.antaranews.com/berita/535901/sekt Akuntansi Keuangan. Jakarta: IAI.
or-makanan-dan-minuman-andalan-
pertumbuhan-industri-2016, diakses 06 Kuswandi. 2005. Meningkatkan Laba Melalui
Agustus 2016). Pendekatan Akuntansi Keuangan dan
Akuntansi Biaya. Jakarta: PT Elex Media
. 2016. Industri makanan Komputindo.
minuman Nasional kuat bersaing di MEA.
(http://www.antaranews.com/berita/578439/ind Lestari, Titik, Rita Andini, and Kharis Raharjo
ustri-makanan-minuman-nasional-kuat- (2015). "Dampak Rasio CAR, NPL, NPM,
bersaing-di-mea, diakses 01 November ROA, LDR, IRR dan Ukuran Perusahaan
2016) Dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba
Pada Perusahaan Sektor Perbankan Yang
Ghozali, I. 2012. Aplikasi Analisis Multivariate Go Publik Di BEI Periode Tahun 2009-
dengan Program IBM SPSS 20. Semarang. 2013." Journal Of Accounting 1.1 (2015). 1-
22.
Gitosudarmo, Indriyo. 2002. Manajemen
Keuangan. Yogyakarta: BPFE. Munawir, S. 2007. Analisis Laporan Keuangan.
Edisi ke Empat. Yogyakarta: Liberty.
Godfrey, J., A. Hodgson, S. Holmes, dan A. Tarca.
2006. Accounting Theory. 6th Edition. Muhammad Yusuf dan Soraya. 2004. Faktor-faktor
Australia: John Wiley & Sons Australia Ltd. yang mempengaruhi praktik perataan laba
pada perusahaan asing dan non asing di
Gunawan, A & Wahyuni, S. F. 2014. Pengaruh Indonesia. Studi Kasus pada Perusahaan
rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba disektor manufaktur yang terdaftar sebagai
pada perusahaan perdagangan di penanaman modal asing dan perusahaan
Indonesia. Jurnal Ilmiah Manajemen & yang terdaftar sebagai penanaman modal
Bisnis, 13(1), 63-83. dalam negeri. Jurnal Akuntansi dan
Auditing Indonesia. Volume 8 no 1, Juni
Heikal, M., Khaddafi, M., & Ummah, A. 2014. 2004. 99-125.
Influence Analysis of Return on Assets
(ROA), Return on Equity (ROE), Net Profit Meythi, T. K. E., & Rusli, L. 2011. Pengaruh
Margin (NPM), Debt To Equity Ratio Likuiditas dan Profitabilitas terhadap
(DER), and current ratio (CR), Against Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang
Corporate Profit Growth In Automotive In Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal
Indonesia Stock Exchange. International Bisnis Management dan Ekonomi, 10(2),
Journal of Academic Research in Business 2671-2684.
and Social Sciences, 4(12), 101-114.
Morris, R. D. 1987. Signalling, Agency Theory, and
Harahap, Sofyan Syafri. 2013. Analisis Kritis Atas Accounting Policy Choice. Accounting and
Laporan Keuangan, Cetakan Kesebelas, Business Research. Vol. 18. No. 69: 47-56.
Penerbit Rajawali Pers, Jakarta

18
Rachmawati, A. A. 2015. Pengaruh Rasio Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta.
Keuangan Dan Kebijakan Dividen
Terhadap Pertumbuhan Laba Pada . 2005. Metode Penelitian Administrasi.
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bandung: Alfabeta.
BEI. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, 3(3), 1-
15. Syamsuddin, Lukman. 2011. Manajemen Keuangan
Perusahaan. Rajawali Pers. Jakarta.
Saputra, S. S. D. 2015. Analisis Pengaruh Rasio
Keuangan Terhadap Pertumbuhan Laba Rachmawati, A. A. 2015. Pengaruh Rasio
Pada Industri Rokok Yang Terdaftar Di Keuangan Dan Kebijakan Dividen
Bursa Efek Indonesia. Ekonomi Dan Terhadap Pertumbuhan Laba Pada
Kewirausahaan,15, 115-121. Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di
BEI. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, 3(3), 1-
Susanti, N. H. 2015. Analisis Rasio Keuangan 15.
Untuk Memprediksi Pertumbuhan Laba
Perusahaan Otomotif Di BEI. Jurnal Ilmu & Yohanas, Wendi. "Pengaruh Ukuran Perusahaan,
Riset Manajemen, 3(5), 1-16. Solvabilitas, Dan Profitabilitas Terhadap
Pertumbuhan Laba (Studi Empiris Pada
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Bisnis Perusahaan Manufaktur di BEI Tahun 2008-
(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan 2011)." Jurnal Akuntansi 2.3 (2014). 1-19.
R&D). Bandung: Alfabeta.
Zubi Mahrofi. 2016. Laba bersih Indofood CBP
Sugiarto. 2009. Struktur Modal, Struktur tumbuh 13,9 persen.
Kepemilikan Perusahaan, Permasalahan (http://www.antaranews.com/berita/579664/lab
Keagenan dan Informasi Asimetri. Edisi a-bersih-indofood-cbp-tumbuh-139-persen,
Permata .Yogyakarta: Graha Ilmu diakses 01 November 2016).

Suwardjono. 2005. Teori Akuntansi: Perekayasaan . 2016. Laba bersih Indofood semester
Pelaporan Keuangan, Edisi Ketiga. pertama Rp 2,23 triliun.
Yogyakarta: BPFE. (http://www.antaranews.com/berita/579645/lab
a-bersih-indofood-semester-pertama-
. 2008. Metode Penelitian Kunatitatif rp223-triliun, diakses 01 November 2016).

19

Minat Terkait