Anda di halaman 1dari 8

8 Salah Kaprah dalam Pramuka

Penulis Alam Endah Diterbitkan 1/03/2016 11:36:00 PM


TAGS
PENGETAHUAN KEPRAMUKAAN

Di dalam pramuka dan kepramukaan ternyata sering kali terdapat 'salah kaprah'. Kaprah
sendiri memiliki arti lazim, sehingga salah kaprah adalah kesalahan yang saking umum
(sering) dilakukan sehingga dianggap lazim, bahkan dianggap tidak salah. Karena itu, salah
kaprah dalam kepramukaan ini adalah segala hal yang seharusnya salah namun biasa
dilakukan dan dianggap lumrah (bahkan dianggap benar).

Apa saja salah kaprah dalam pramuka itu? Blog Pramukaria mencatat sedikitnya delapan
salah kaprah yang sering ditemukan di dalam kepramukaan dan Gerakan Pramuka. salah
kaprah ini bisa saja dilakukan oleh orang-orang di luar kepramukaan, bahkan oleh anggota
Gerakan Pramuka sendiri.

1. Hari Ulang Tahun Pramuka

Di berbagai kesempatan masih saja sering kita mendengar orang mengatakan 'Hari Ulang
Tahun Pramuka' untuk menyebut peringatan yang dirayakan pada tanggal 14 Agustus.

Ini sebenarnya salah kaprah! Dalam Gerakan Pramuka tidak dikenal istilah peringatan Hari
Ulang Tahun. Yang ada adalah Hari Pramuka yang diperingati setiap tanggal 14
Agustus. Di mana sejak tahun 1960-an berbagai pihak (termasuk pemerintah) berusaha
untuk menyatukan gerakan kepanduan di Indonesia. Puncaknya pada tanggal 20 Mei 1961
terbitlah Keputusan Presiden R.I Nomor 238 Tahun 1961 yang menetapkan Gerakan
Pramuka sebagai satu-satunya organisasi yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan
kepanduan di Indonesia. Tindak lanjutnya, pada tanggal 14 Agustus 1961 dilakukan
pelantikan Mapinas (Majelis Pimpinan Nasional), Kwartir Nasional, dan Kwarnari oleh
Presiden RI, Ir. Soekarno, dilanjutkan dengan penganugerahan panji-panji kepramukaan.
Tanggal 14 Agustus inilah yang kemudian diperingati sebagai Hari Pramuka setiap
tahunnya.
Tentang penggunaan istilah Hari Pramuka, jelas tertuang dalam Anggaran Dasar (Bab I
Pasal 1 Ayat (6)). Tentang ini dapat pula membaca sejarah kepramukaan di Indonesia.

2. Kacu Leher Tidak Boleh Menyentuh Tanah

Salah kaprah kedua dan yang masih terus terjadi adalah adanya larangan kacu leher
menyentuh tanah. Kacu leher dianggap sebagai perlambang bendera Merah Putih yang
harus dihormati layaknya bendera merah putih.

Mitos ini kerap diturunkan dari pembina pramuka ke adik didiknya maupun dari senior
kepada yuniornya. Jika ada yang pramuka yang setangan lehernya sampai menyentuh
tanah atau kotor, maka siap-siap menerima sanksi berat. Karena membiarkan kacu leher
menyentuh tanah sama halnya dengan membiarkan bendera merah putih menyentuh
tanah. Dan itu pelecehan besar terhadap negara dan bangsa!

Padahal kacu leher atau setangan leher pramuka, bukanlah bendera merah putih.
Pengertian, bentuk, penggunaan, dan aturan tentang bendera merah putih dimuat
dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang
Negara, serta Lagu Kebangsaan. Dalam peraturan tersebut jelas, kacu leher pramuka
bukanlah bendera merah putih.
Seorang pramuka melakukan kegiatan dengan tetap menggunakan kacu lehernya

Berbagai peraturan dalam Gerakan Pramuka (mulai dari UU Nomor 12 Tahun 2010; SK
Kwarnas; maupun Surat Edaran) tidak ditemukan satupun yang melarang setangan leher
pramuka menyentuh tanah. Selengkapnya bisa dibaca: Bolehkan Setangan leher
Menyentuh Tanah?

Jadi kacu leher pramuka tidak boleh menyentuh tanah adalah sebuah salah kaprah
(bahkan mitos) yang berlaku turun menurun tanpa dasar! Padahal seharusnya kacu leher
pramuka adalah salah satu bagian dari tanda pengenal pramuka (layaknya Tanda WOSM,
TKU; Tanda Regu) juga salah satu bagian dari seragam pramuka. Baik sebagai tanda
pengenal maupun seragam pramuka, sudah seharusnya kita jaga, rawat, dan hormati tetapi
jangan berlebihan.

3. Ikatan Pangkal

Penyebutan "pangkal" (dan juga "jangkar") sebagai sebuah ikatan adalah salah kaprah
selanjutnya. Menyebut sebagai 'Ikatan pangkal' dan 'Ikatan Jangkar' bisa jadi didasari atas
pemahaman atas ikatan yang diartikan sekedar sebagai "ikatan adalah pertautan
antara tali dengan benda lain (semisal kayu)".

Definisi tersebut terlalu sederhana dan menimbulkan kerancuan. Dengan berdasar


pengertian tersebut, bisa jadi saat kita melingkarkan tali di tongkat, maka langsung disebut
ikatan. Contoh lain:

 Ketika kita membuat sebuah simpul tiang untuk menali leher binatang, maka
namanya pun berubah menjadi ikatan tiang
 Ketika membuat simpul perusik (anyam berganda) dan menautkannya di benda lain,
maka namanya berubah menjadi ikatan perusik
 Simpul tambat dan simpul tangga pun berubah menjadi ikatan tambat dan ikatan
tangga karena keduanya pasti ditautkan di benda lain
 Simpul tarik yang harus ditautkan di benda lain sehingga bisa digunakan untuk naik
atau turun (semisal menuruni tebing) pun namanya berubah menjadi ikatan tarik.
Seharusnya pengertian dari ikatan tidak sekedar 'pertautan antara tali dengan benda
lain (semisal kayu)". Akan tetapi dengan ""rangkaian tali dengan susunan tertentu
yang digunakan untuk menautkan (menyatukan) dua atau lebih benda lain".
Sehingga yang menjadi inti dari ikatan adalah kegunaannya yaitu "menautkan dua / lebih
benda lain" bukan sekedar "menaut di benda lain".

Dengan pengertian yang komplit tersebut simpul pangkal dan simpul jangkar akan tetap
menjadi simpul. Ulasan lebih lengkap baca : Simpul Pangkal ataukah Ikatan Pangkal?

4. Tanda Pelantikan

Tidak sedikit yang menganggap tanda pelantikan adalah tanda yang dipasang di lengan
baju sebelah kiri (pada pramuka Siaga dan Penggalang) atau di lidah baju (Pramuka
Penegak dan Pandega). Padahal tanda tersebut seharusnya adalah Tanda Kecakapan
Umum, salah satu bagian dari Tanda Kecakapan dalam Gerakan Pramuka.

Lalu yang manakah Tanda Pelantikan itu? Tanda Pelantikan adalah tanda berbentuk belah
ketupat yang pada pakaian seragam pramuka di pasang di saku sebelah kiri (pada anggota
putra) atau dada sebelah kiri (Siaga Putra). Sedang pada pramuka putri berbentuk
lingkaran yang dipasang di kerah baju sebelah kiri.

Disebut tanda pelantikan karena tanda ini hanya boleh digunakan setelah orang tersebut
resmi dilantik menjadi anggota Gerakan Pramuka. Bukan dilantik karena lulus SKU.
Tanda Pelantikan Pramuka

5. Ketua Regu

Pernah mendengar orang menyebut ketua barung, ketua regu, ketua sangga, wakil ketua
regu dan sejenisnya? Penyebutan ketua regu adalah salah kaprah.

Dalam satuan kelompok terkecil tersebut, tidak menggunakan istilah ketua, namun
pemimpin. Di dalam berbagai peraturan tentang kepramukaan pun tidak satupun yang
menyebutnya sebagai 'ketua regu'.

Antara pemimpin dengan ketua memiliki makna yang berbeda. Dalam barung, regu, dan
sangga, pada hakekatnya masing-masing memiliki derajat yang sama. Tidak ada ketua dan
anak buah. Yang ada adalah salah satu diantaranya dipercaya untuk memimpin teman-
temannya yang lain untuk sama-sama belajar dan berlatih. Kedudukan sebagai pemimpin
ini pun harusnya dijabat secara bergantian agar masing-masing anggota memiliki
pengalaman dalam memimpin.

6. Dewan Kerja Ambalan


Di Kwartir Nasional terdapat Dewan Kerja Nasional (DKN), di daerah terdapat Dewan Kerja
Daerah (DKD), di cabang terdapat Dewan Kerja Cabang (DKD), dan di ranting terdapat
Dewan Kerja Ranting (DKR). Mungkin lantaran itu lah kemudian ada yang latah membuat
Dewan Kerja Ambalan (DKA) di tingkat ambalan penegak. Kok tidak dibuat Dewan Kerja
Gugusdepan (DKG) sekalian?

Dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor: 214 Tahun 2007 tentang
Petunjuk Penyelenggaraan Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega
disebutkan bahwa Dewan Kerja adalah wadah pembinaan dan pengembangan kaderisasi
kepemimpinan di tingkat Kwartir yang beranggotakan Pramuka Penegak dan Pramuka
Pandega Puteri Putera.

Sehingga (lihat yang bergaris bawah), Dewan Kerja hanya dibentuk di tingkat Kwartir saja.
Tidak sampai ke tingkat Gugusdepan apalagi Ambalan.

Di gugusdepan adanya adalah Dewan Kehormatan Gugusdepan yang beranggotakan dari


unsur Majelis Pembimbing, Ketua Gudep, Pembina Satuan, dan Dewan Penegak/Pandega
(jika diperlukan). Tugasnya adalah memutuskan pemberian anugerah, penghargaan, dan
sanksi bagi anggota gugusdepan tersebut.

Organisasi yang terdapat di tingkat Ambalan adalah Dewan Kehormatan Penegak dan
Dewan Ambalan Penegak atau disingkat Dewan Penegak. Dewan Kehormatan Penegak
bertugas menentukan pelantikan, pemberian penghargaan, rehabilitasi anggota, dan
memutuskan peristiwa terkait kehormatan Pramuka Penegak. Dewan Ambalan Penegak
(Dewan Penegak) memiliki tugas membantu pembina pramuka dalam merancang,
melaksanakan, mengevaluasi program kegiatan serta merekrut anggota baru.

Dalam golongan pramuka yang lain juga terdapat Dewan Kehormatan seperti Dewan
Kehormatan Penggalang, Dewan Kehormatan Pandega. Juga terdapat Dewan Perindukan
Siaga, Dewan Pasukan Penggalang dan Dewan Racana Penegak.
Biasanya yang sering kali dianggap sebagai Dewan Kerja Ambalan adalah Dewan Ambalan
Penegak atau Dewan Penegak. Baca : Jangan Mau Menjadi Dewan Kerja Ambalan.

7. Pelatih Pramuka

Salah kaprah selanjutnya adalah penyebutan pembina pramuka sebagai pelatih pembina.
Keduanya sebenarnya berbeda.

Pembina pramuka adalah anggota dewasa Gerakan Pramuka yang melakukan proses
pembinaan dan pendidikan kepramukaan bagi anggota muda. Pembina pramuka terdiri
atas pembina siaga, pembina penggalang, pembina penegak, dan pembina pandega.
Seorang pembina pramuka harus telah menyelesaikan Kursus Pembina Pramuka Mahir
Lanjutan (KML).

Sedang pelatih pramuka adalah anggota dewasa Gerakan Pramuka yang bertugas di Pusat
Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) untuk melakukan pembinaan dan pendidikan kepada
pembina pramuka. Seorang pelatih pembina pramuka setidaknya telah lulus Kursus Pelatih
Pembina Dasar (KPD).

Singkatnya, pembina pramuka adalah orang yang membina peserta didik (siaga,
penggalang, penegak, dan pandega), sedang pelatih pembina membina pembina pramuka.

8. Jenjang Anggota Pramuka

Jenjang keanggotan pramuka (peserta didik) atau penggolongan anggota muda pramuka
kerap dikaitkan dengan jenjang sekolahnya. Di SD (Sekolah Dasar) tingkatannya adalah
Siaga dan Penggalang, di SMP adalah Penggalang, di SMA adalah Penegak, dan di
Perguruan Tinggi adalah Pandega.
Setiap pramuka yang telah masuk SMA adalah pramuka penegak. Pun setiap pramuka
yang masuk perguruan tinggi adalah pandega.

Padahal penggolongan peserta didik pramuka tidak didasarkan pada tingkat pendidikannya
melainkan pada usianya.
 Pramuka Siaga (berusia antara 7-10 tahun)
 Pramuka Penggalang (berusia antara 11-15 tahun)
 Pramuka Penegak (berusia antara 16-20 tahun)
 Pramuka Pandega (berusia antara 21-25 tahun)
Berdasarkan batasan usia tersebut jika ada anggota pramuka yang belum berusia 16 tahun
harusnya tetap menjadi seorang Pramuka Penggalang meskipun telah bersekolah di SMA.
Tetapi yang kerap terjadi (hingga jadi salah kaprah), meskipun belum 16 tahun seorang
siswa SMA langsung dijadikan pramuka penegak dan menjadi anggota ambalan di SMA
tersebut.

Pun pada perguruan tinggi. Jarang sekali ada ambalan penegak di Perguruan Tinggi.
Padahal sangat banyak pramuka berusia di bawah 21 tahun yang telah berstatus
mahasiswa. Jika mengikuti kegiatan kepramukan di Perguruan Tinggi tersebut, berapapun
usianya, mereka langsung menjadi Pandega dan menjadi anggota Racana.

Delapan salah kaprah dalam kepramukaan ini yang sempat pramukaria daftar. Mungkin
kakak-kakak pembina maupun anggota pramuka lainnya dapat menambahkan salah-
kaprah-salah-kaprah lainnya yang sering terjadi