Anda di halaman 1dari 20

CSR dalam persepektif Hukum

Oleh : Padlah Riyadi., CA.

A. PENGERTIAN CSR DAN DASAR HUKUM


Terminologi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) bukanlah hal yang relative baru
dalam dunia usaha, evolusi konsepnya sendiri sudah berlangsung pada beberapa dekade.
Pada sisi lain istilah CSR sendiri juga mengalami perubahan sejalan dengan
perkembangan dunia usaha, politis dan pembangunan sosial serta hak asasi manusia
(HAM).
Selain itu terminologi CSR juga dipengaruhi oleh dampak globalisasi dan
perkembangan teknologi informasi, dan semua itu akan mencerminkan pemahaman
terhadap pengertian CSR dalam kontek lokal.
Corporate Social Responsibility dalam bahasa Indonesia dikenal dengan
tanggungjawab sosial perusahaan sedangkan di Amerika, konsep ini seringkali
disamakan dengan corporate citizenship. Pada intinya, keduanya dimaksudkan sebagai
upaya perusahaan untuk meningkatkan kepedulian terhadap masalah sosial dan
lingkungan dalam kegiatan usaha dan juga pada cara perusahaan berinteraksi dengan
stakeholder yang dilakukan secara sukarela. Selain itu, tanggungjawab sosial perusahaan
diartikan pula sebagai komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan
ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan
dan masyarakat setempat (lokal) dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.
Mulai pada saat terminologi CSR diperkenalkan tahun 1920 sampai saat ini
belum ada difinisi tunggal mengenai pengertian dari CSR. Berikut ini adalah definisi-
definisi dari CSR yang antara lain:
The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), yang
merupakan lembaga internasional yang berdiri tahun 1995 dan beranggotakan lebih dari
180 perusahaan multinasional yang berasal dari 35 negara memberikan definisi CSR
sebagai "continuing commitment by business to behave ethically and contribute to
economic development while improving the quality of life of the workforce and their
families as well as of the local community and society at large".
Apabila diterjemahkan secara bebas kurang lebih berarti komitmen dunia usaha
untuk terus-menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi
untuk peningkatan ekonomi,bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari
karyawan.
Definisi lain mengenai CSR juga dilontarkan oleh World Bank yang memandang
CSR sebagai "the commitment of business to contribute to sustainable economic
development working with amployees and their representatives the local community and
society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and
good for development".
Kalau diterjemahkan secara bebas kurang lebih berarti komitmen dunia usaha untuk
memberikan sumbangan guna menopang bekerjanya pembangunan ekonomi bersama
karyawan dan perwakilan-perwakilan mereka dalam komunitas setempat dan masyarakat
luas untuk meningkatkan taraf hidup, intinya CSR tersebut adalah baik bagi keduanya,
untuk dunia usaha dan pembangunan.
CSR forum juga memberikan definisi, "CSR mean open and transparent business
practise that are based on ethical values and respect for employees, communities and
environment". Apabila diterjemahkan secara bebas, CSR berarti keterbukaan dan
transparan dalam pelaksanaan usahanya yang dilandasi oleh nilai-nilai etika dan
penghargaan kepada karyawan-karyawan, masyarakat setempat, dan lingkungan hidup.

1
Sejumlah negara juga mempunyai definisi tersendiri mengenai CSR. Yaitu dari
European Union atau Uni Eropa (EU Green Paper on CSR) sebagai lembaga
perhimpunan Negara-negara di benua Eropa mengemukakan bahwa "CSR is a concept
where by companies integrate social and environmental concerns in their business
operations and in their interaction with their stakeholders on a voluntary basic". Apabila
diterjemahkan secara bebas, CSR adalah suatu konsep untuk integritas sosial perusahaan
dan memperhatikan masalah lingkungan dalam operasional usahanya dan melakukan
hubungan interaksi dengan stakeholders yang didasari kesukarelaan.
Howard R Bowen melalui karyanya yang diberi judul “Social Responsibilities of the
Bussinessmen”. Bowen merumuskan CSR sebagai berikut: ït refers to the obligations of
businessmen to pursue those policies, to make those decisions, or to follow those lines of
action which are desireable interms of the objectives and values of our society”
Yusuf Wibisono, CSR didifinisikan sebagai tanggung jawab perusahaan kepada para
pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif dan
memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan
(triple bottom line) dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Suhandari M. Putri, mendifinisikan CSR adalah komitmen perusahaan atau dunia
bisnis untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan
memperhatikan tanggung jawab sosial perusahaan dan menitikberatkan pada
keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial, dan lingkungan.
UUPT juga mengatur ketentuan mengenai CSR. Pengertian CSR diatur di dalam
Pasal 1 butir (3) UUPT, dalam hal ini CSR disebut sebagai tanggung jawab sosial dan
lingkungan (TJSL) yang berarti komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam
pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan
lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun
masyarakat pada umumnya.
Pelaksanaan CSR ini harus dimuat di dalam laporan tahunan perseroan yang
disampaikan oleh direksi dan ditelaah oleh dewan komisaris yang mengharuskan memuat
laporan pelaksanaan tangung jawab sosial dan lingkungan (Pasal 66 ayat (2) huruf c
UUPT). Dalam hal ini, UUPT mewajibkan bagi setiap perseroan yang menjalankan
kegiatan usaha di bidang dan/ atau berkaitan dengan sumber daya alam untuk
melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Hal ini ditegaskan juga dalam Pasal 74 ayat (1) UUPT yang menyatakan bahwa
perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/ atau berkaitan dengan
sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam
hal ini, tanggung jawab sosial dan lingkungan menipakan kewajiban perseroan yang
dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan
dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran (Pasal 74 ayat (2) UUPT). Selanjutnya,
dinyatakan bahwa perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 74 ayat (3) UUPT).
Tanggungjawab sosial perusahaan terkait dengan nilai dan standar yang dilakukan
berkenaan dengan beroperasinya sebuah perusahaan (corporate), maka CSR
didefinisikan sebagai komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara
legal, dan berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup dari karyawan dan
keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas.
Dalam berbagai wacana Corporate Social Responsibility dapat diartikan secara
luas dan universal seperti berikut:
1. World Business Council for Sustainable Development
Komitmen berkesinambungan dari kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan
memberi kontribusi bagi pembangunan ekonomi, seraya meningkatkan kualitas

2
kehidupan karyawan dan keluargnya, serta komunitas lokal dan masyarakat luas pada
umumnya.
2. International Finance Corporation
Komitmen dunia bisnis untuk memberi kontribusi terhadap pembangunan ekonomi
berkelanjutan melalui kerjasama dengan karyawan, keluarga mereka, komunitas lokal
dan masyarakat luas untuk meningkatkan kehidupan mereka melalui cara-cara yang
baik bagi bisnis maupun pembangunan.
3. European Commission
A concept whereby companies decide voluntarily to contribute to a better society and
a cleaner environment.
Kalau diterjemahkan secara bebas artinya adalah sebagai berikut:
Sebuah konsep dengan mana perusahaan mengintegrasikan perhatian terhadap sosial
dan lingkungan dalam operasi bisnis mereka dan dalam interaksinya dengan para
pemangku kepentingan (stakeholders) berdasarkan prinsip kesukarelaan.
4. CSR Asia
Komitmen perusahaan untuk beroperasi secara berkelanjutan berdasarkan prinsip
ekonomi, sosial dan lingkungan, seraya menyeimbangkan beragam kepentingan para
stakeholders.
5. . ISO 26000 mengenai Guidance on Social Responsibility
Tanggung jawab sebuah organisasi terhadap dampak-dampak dari keputusan-
keputusan dan kegiatan-kegiatannya pada masyarakat dan lingkungan yang
diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan
pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan
harapan pemangku kepentingan, sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-
norma perilaku internasional; serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh .

Tanggungjawab sosial merupakan Pasal yang tidak dapat dipisahkan dari good
corporate governance karena pelaksanaan Corporate Social Responsibility
merupakan Pasal dari salah satu prinsip yang berpengaruh dalam good corporate
governance. Sampai dengan sekarang belum ada kata sepakat tentang definisi dari
good corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik. Akan tetapi, pada
umumnya GCG dipahami sebagai suatu sistem, dan seperangkat peraturan yang
mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan terutama dalam arti
sempit hubungan antara pemegang saham dan dewan komisaris serta dewan direksi
demi tercapainya tujuan perusahaan, sedangkan dalam arti luas, GCG digunakan
untuk mengatur hubungan seluruh kepentingan stakeholders secara proporsional dan
mencegah terjadinya kesalahan-kesalahan signifikan dalam strategi perusahaan
sekaligus memastikan bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki
dengan segera.
Dalam keputusan Menteri Negara/ Kepala Badan Penanaman Modal dan
Pembinaan Badan Usaha Milik Negara No. Kep-23/MPM.PBUMN/2000, tanggal 31
Mei 2000, tentang pengembangan praktik Good Corporate Governance dalam
perusahaan persero, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan GCG adalah prinsip
perusahaan yang sehat dan diterapkan dalam pengelolaan perusahaan yang
dilaksanakan semata-mata demi menjaga kepentingan perusahaan dalam rangka
mencapai maksud dan tujuan perusahaan.
Menurut Komite Cadburry, GCG adalah prinsip yang mengarahkan dan
mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara kekuatan serta
kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya kepada para
shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Tentu saja hal ini

3
dimaksudkan pengaturan kewenangan direktur, manajer, pemegang saham, dan pihak
lain yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan di lingkungan tertentu.
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab
pada shareholder-nya. Para pengambil keputusan diperusahaan haruslah dapat
dipertanggungjawabkan, dan keputusan tersebut mampu memberikan nilai tambah
bagi shareholders lainnya. Oleh karena itu, fokus utama di sini terkait dengan proses
pengambilan keputusan dari perusahaan yang mengandung nilai-nilai transparency,
responsibility, accountability, dan tentu saja fairness.
Di Indonesia istilah GCG biasa diartikan sebagai tata kelola perusahaan yang
baik. Dalam hal ini, GCG kemudian didefinisikan sebagai suatu pola hubungan,
sistem, dan proses yang digunakan oleh organ perusahaan guna memberikan nilai
tambah kepada pemegang saham secara berkesinambungan dalam jangka panjang,
dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, dengan berlandaskan
peraturan perundang-undangan dan norma yang berlaku. Dari definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa GCG merupakan:
1) Suatu struktur yang mengatur pola hubungan harmonis tentang peran dewan
komisaris, direksi, pemegang saham dan para stakeholder lainnya.
2) Suatu sistem pengecekan dan perimbangan kewenangan atas pengendalian
perusahaan yang dapat membatasi munculnya dua peluang: pengelolaan yang
salah dan penyalahgunaan aset perusahaan.
3) Suatu proses yang transparan atas penentuan tujuan perusahaan, pencapaian,
berikut pengukuran kinerjanya.
Prinsip-prinsip yang terkandung dalam GCG antara lain:
1) Transparency (keterbukaan informasi)
Secara sederhana bisa diartikan sebagai keterbukaan informasi. Dalam
mewujudkan prinsip ini, perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang
cukup, akurat, tepat waktu kepada segenap stakeholdersnya.
2) Accountability (Akuntabilitas)
Akuntabilitas berarti adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem dan
pertanggungjawaban elemen perusahaan. Apabila prinsip ini diterapkan secara
efektif, maka akan ada kejelasan akan fungsi, hak, kewajiban, dan wewenang
serta tanggung jawab antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan
direksi.
3) Responsibility (Pertanggungjawaban)
Bentuk pertanggungjawaban perusahaan adalah kepatuhan perusahaan terhadap
peraturan yang berlaku, diantaranya termasuk masalah pajak, hubungan
industrial, kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup,
memelihara lingkungan bisnis yang kondusif bersama masyarakat dan
sebagainya. Dengan menerapkan prinsip ini diharapkan akan menyadarkan
perusahaan bahwa dalam kegiatan operasionalnya, perusahaan juga mempunyai
peran untuk bertanggungjawab selain kepada shareholder juga kepada
stakeholders lainnya.
4) Independency (kemandirian)
Prinsip ini mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional tanpa ada
benturan kepentingan dan tekanan atau intervensi dari pihak manapun yang tidak
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
5) Fairness (kesetaraan dan kewajaran)
Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil dalam memenuhi hak
stakeholders sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4
Prinsip yang berkaitan erat dengan CSR adalah Responsibilitas yang
merupakan aspek pertanggungjawaban dari setiap kegiatan perusahaan untuk
melaksanakan prinsip corporate social responsibility karena dalam berusaha,
sebuah perusahaan tidak akan lepas dari masyarakat sekitar, ditekankan juga pada
signifikasi filantrofik yang diberikan dunia usaha kepada kepentingan pihak-pihak
eksternal dimana perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholder
perusahaan, menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa, dan
memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Diluar itu, lewat
prinsip responsibility diharapkan membantu pemerintah dalam mengurangi
kesenjangan pendapatan dan kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang
belum mendapatkan manfaat dari mekanisme pasar.
Corporate Social Responsibility sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi
dihadapkan pada tanggungjawab yang berpijak pada single bottom line yaitu nilai
perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya
(financial saja) tetapi harus berpijak pada triple bottom lines, dimana bottom lines
selain financial juga sosial dan lingkungan. Aspek ekonomi diungkapkan dengan
Profit, asfek sosial diungkapkan dengan people, dan aspek lingkungan
diungkapkan dengan Planet. Kondisi keuangan saja tak cukup menjamin nilai
perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (sustainable). Menurut Archie B. Carrol
disebut dengan piramida CSR. Kemudian teori ini pada tahun 1997 dipopulerkan
oleh John Elkington melalui bukunya yang berjudul “ Cannibals with Forks, the
Triple Bottom Line of Twentieth Century Business”.
1. Profit. Perusahaan tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi
yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang.
2. People. Perusahaan harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan
manusia. Beberapa perusahaan mengembangkan program CSR seperti
pemberian beasiswa bagi pelajar sekitar perusahaan, pendirian sarana
pendidikan dan kesehatan, penguatan kapasitas ekonomi lokal, dan bahkan ada
perusahaan yang merancang berbagai skema perlindungan sosial bagi warga
setempat.
3. Plannet. Perusahaan peduli terhadap lingkungan hayati. Beberpa program
CSR yang berpijak pada prinsip ini biasanya berupa penghijauan lingkungan
hidup, penyediaan sarana pengembangan pariwisata (ekoturisme).

Triple “P”(Profit, People, Planet) merupakan tiga aspek yang tidak dapat
dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena merupakan satu kesatuan yang tak
terpisahkan. Apabila perusahaan dalam mengimplementasikannya, hanya
menekankan hanya pada salah satu aspek saja, maka perusahaan akan dihadapkan
pada berbagai macam resestensi baik yang bersifat internal maupun eksternal,
sehingga perusahaan akan sulit bahkan tidak akan mampu beraktivitas secara
berkelanjutan.
Berdasarkan standar dari Bank Dunia maka CSR meliputi beberapa komponen
utama yakni (1) perlindungan lingkungan (2) jaminan kerja (3) Hak Asasi Manusia
(4) interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat (5) standar usaha (6)
pasar (7) pengembangan ekonomi dan badan usaha (8) perlindungan kesehatan (9)
kepemimpinan dan pendidikan (10) bantuan bencana kemanusiaan. Bagi
perusahaan yang berupaya untuk membangun citra positif perusahaannya, maka
kesepuluh komponen tersebut harus diupayakan pemenuhannya.

5
Dampak dari pendirian perusahaan oleh pemilik modal yang tergabung
dalam sebuah corporation salah satunya adalah muncul kesenjangan antara pihak
perusahaan (corporate) dengan masyarakat setempat yang dapat mempengaruhi
kestabilan negara, disisi lain pemerintah terkadang tidak bisa berbuat banyak dalam
memenuhi semua tuntutan masyarakat yang merasa hak-hak atas daerahnya
dilanggar termasuk hak asasi seperti terusiknya tempat tinggal dan berkurangnya
mata pencarian anggota masyarakat disekitar perusahaan. Dalam meminimalisir
akibat tersebut, peran dari program corporate social responsibility sangat besar. 60
Dengan dipenuhinya kewajiban-kewajiban ini maka perusahaan telah
melakukan kegiatannya secara berkelanjutan dan tidak merugikan kepentingan
para stakeholdernya. Perusahaan dalam mencari laba diperbolehkan, tetapi jangan
pula mengabaikan hak-hak yang terkandung dan dimiliki oleh konsumen, investor
dan masyarakat. Lebih dari itu ketika pembangunan perusahaan telah sesuai
dengan kawasan peruntukannya, maka pengusaha perlu melaksanakan berbagai
kewajiban untuk meminimalisir kerugian yang dialami konsumen, karyawan,
investor, maupun kerusakan kualitas lingkungan hidup antara lain :
a) Kewajiban terhadap konsumen
 Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan produk yang aman.
 Konsumen memiliki hak untuk mendapatkan informasi tentang spesifikasi
produk yang dijual perusahaan, antara lain dengan mencantumkan label
yang benar.
 Konsumen memiliki hak untuk didengarkan, perusahaan dapat membuka
kontak pelanggan melalui kotak pos atau nomor telepon.
 Konsumen memiliki hak untuk dapat dapat memilih barang yang mereka
beli.
 Kolusi dalam penetapan harga yang merugikan konsumen tidak dilakukan.
 Kampanye iklan tidak dilakukan secara berlebihan.
 Kampanye iklan diikuti oleh produksi dan distribusi produk sesuai dengan
pesan-pesan iklan.
 Kampanye iklan perlu memperhatikan faktor berikut ini: tidak
menayangkan materi iklan yang menonjolkan anak-anak sedang merokok,
mencantumkan kandungan kalori lemah kolesterol dalam makanan,
komponen vitamin, dan unsur-unsur minuman kesehatan, menayangkan
dengan gencar produk konsumsi yang tidak layak dan tidak halal untuk
dikonsumsi, memberikan iming iming hadiah jika membeli produk dengan
gencar, materi iklan dan film yang tidak baik untuk ditonton oleh anak-anak
dan bersifat pornografi.
b) Kewajiban terhadap karyawan
 Melakukan proses seleksi dan penempatan pegawai secara transparan
dengan mengajak para calon pegawai dari sekitar komunitas untuk
berpartisipasi.
 Memberikan posisi jabatan dan balas jasa gaji dan pengupahan, serta
promosi jabatan tanpa memandang agama, gender, suku bangsa, senioritas
dan asal negara.
 Mematuhi peraturan dan UU ketenagakerjaan yang dikeluarkan oleh
Pemerintah.
c) Kewajiban terhadap investor
 Meniadakan berbagai potensi kecurangan yang mungkin timbul di
perusahaan terhadap investor.

6
 Menghindari praktek pembuatan laporan keuangan yang disemir dan tidak
sesuai dengan standar pelaporan akuntansi yang berlaku.
 Tidak melakukan perbuatan ilegal seperti mengeluarkan cek kosong dan
proses pencucian uang (money laundry).
 Tidak melakukan proses “insider trading” dalam menjual surat berharga
perusahaan.
 Mematuhi ketentuan tentang GAAP (Generally Accepted Accounting
Practices), ketentuan pasar modal bagi para emiten dan pedoman GCG
yang diberlakukan perusahaan.

d) Kewajiban terhadap Masyarakat dan Lingkungan Hidup


 Menjalankan program community social responsibility, khususnya yang
berkaitan dengan pelestarian kualitas lingkungan hidup.
 Memperhitungkan dampak lintas sektor dalam proses produksi dengan
memanfaatkan bahan baku alam secara berkelanjutan.
 Menerapkan prinsip SIDEC, Sustainabilitas, Interdependence, Diversitas,
Equity, Cohesion dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan alam.
 Mengembangkan pola hidup “kekitaan” ketimbang “keakuan” (Emil
Salim).
 Menghasilkan proses produksi dengan mengoptimalkan upaya renewable
resources, daur ulang non-renewable resources, mengupayakan zero-waste
clean technology; dan pemanfaatan tataruang dan proses produksi dengan
sedikit limbah dan polusi.

Langkah yang tidak kalah pentingnya adalah membentuk departemen khusus


tersendiri yang bertugas menjalankan konsep CSR sehingga upaya ini dapat dilakukan
dengan fokus dan terarah, dan last but not least adanya prioritas di bidang kesehatan
juga merupakan hal yang tidak dapat dikesampingkan, sehingga CSR tidak hanya
sebatas konsep untuk mendapatkan kesan baik atau citra positif semata melainkan
benar-benar merupakan realisasi dari niat baik perusahaan sebagai parner dari
masyarakat

B. SEJARAH CSR
Perkembangan dunia dewasa ini menyebabkan masyarakat hidup bagai dalam
dimensi ruang yang tak bersekat. Berbagai bidang kehidupan dipengaruhi oleh proses
yang secara langsung telah membentuk tatanan baru dalam lingkup pergaulan dunia
dimana negara maju cenderung mendominasi diantara negara berkembang dan negara
miskin yang lazim dikenal sebagai globalisasi. Globalisasi tidak hanya mencakup bidang
eksternal seperti perdagangan tetapi juga merambah bidang-bidang privat negara yang
bersangkutan seperti regulasi dan kebijakan yang mana kadang berkesan “abu-abu”
karena tidak berkonsep dari masyarakat itu sendiri.
Indonesia sebagaimana negara berkembang cenderung meratifikasi kebijakan
global yang berembrio dari negara maju seperti berbagai produk peraturan di bidang
ekonomi yang terkesan ”dipaksakan” pembuatan dan pemberlakuannya demi memenuhi
prasyarat untuk ”boleh” berpartisispasi dalam perkembangan ekonomi dunia.
Ekonomi secara signifikan berkembang seiring dengan globalisasi mengarah pada
perubahan citra dalam dunia usaha dan industri. Berawal dari Earth Summit di Rio de
Jeneirio Brazilia tahun 1992 dan program ekonomi berkelanjutan di Yohannesburg tahun
2002, hubungan perusahaan dengan obyek diluar industri mulai mengalami pergeseran,
dimulai dengan Corporate Relation yang berkembang menjadi Community Development

7
dan Corporate Social Responsibility. Kegiatan atau program Corporate Social
Responsibility merupakan suatu bentuk solidaritas sosial perusahaan bagi masyarakat,
sekaligus bermanfaat dalam membentuk citra perusahaan melalui publikasi yang tepat
akan sangat membantu membangun menggalang kerjasama antara masyarakat dengan
perusahaan.
Misi untuk mencapai profitabilitas dan kesinambungan pertumbuhan dapat
ditempatkan sejalan dengan tanggung jawab sosial perusahaan sehingga ada keselarasan
antara kebutuhan masyarakat dan perusahaan untuk tumbuh bersama. Konsep seperti ini
lebih dikenal sebagai Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social
Responsibility.
Konsep CSR memberikan wajah baru bentuk kepedulian perusahaan terhadap
masyarakat dengan alasan bahwasanya kegiatan produksi langsung maupun tidak
membawa dampak for better or worse bagi kondisi lingkungan dan sosial ekonomi
disekitar perusahaan beroperasi. Selain itu, pemilik perusahaan sejatinya bukan hanya
shareholders (komponen yang terkait dengan internal perusahaan) yakni para pemegang
saham melainkan pula stakeholders, yaitu semua pihak diluar pada pemegang saham
yang terkait dan berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan.
Stakeholders dapat mencakup karyawan dan keluarganya, pelanggan, pemasok,
masyarakat disekitar perusahaan, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, media massa
dan pemerintah selaku regulator. Jenis dan prioritas stakeholders relatif berbeda antara
satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, tergantung pada core bisnis perusahaan
yang bersangkutan.
Sebagai contoh, PT Aneka Tambang, Tbk. dan Rio Tinto yang menempatkan
masyarakat dan lingkungan sekitar sebagai stakeholders dalam skala prioritasnya.
Sementara itu, stakeholders dalam skala prioritas bagi produsen produk konsumen
seperti Unilever atau Procter & Gamble adalah para customer-nya.
Pemberlakuan CSR notabene memperkuat posisi perusahaan di sebuah kawasan,
melalui jalinan kerjasama antara stakeholder yang difasilitasi oleh perusahaan melalui
penyusunan berbagai program pengembangan masyarakat sekitar, atau dalam pengertian,
kemampuan perusahaan beradaptasi dengan lingkungan, komunitas dan stakeholder yang
terkait dengan perusahaan, baik lokal, nasional maupun global, karena pengembangan
corporate social responsibility kedepan mengacu pada konsep pembangunan yang
berkelanjutan (sustainability development).
Dalam konteks global, istilah CSR mulai digunakan sejak tahun 1970 an dan
semakin populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals With Forks: The Triple
Bottom Line in 21st Century Business (1998), karya John Elkington. Mengembangkan
tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental,
protection, dan social equity, yang digagas oleh the World Commission on Environment
and Development (WCED) dalam Brundtland Report (1987), Elkington mengemas CSR
dalam fokus 3P, merupakan singkatan dari profit, planet dan people dimana perusahaan
yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi (profit) belaka melainkan memiliki
pula kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat
(people).
Pada saat industri berkembang setelah terjadinya revolusi industri, kebanyakan
perusahaan masih memfokuskan tujuan perusahaan hanya sekedar untuk mencari
keuntungan belaka. Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat kemudian menuntut
perusahaan untuk bertanggungjawab sosial. Hal ini dikarenakan selain terdapat
ketimpangan ekonomi antara pelaku usaha dengan masyarakat di sekitarnya, kegiatan
operasional perusahaan umumnya juga memberikan dampak negatif, misalnya
eksploitasi sumber daya alam dan rusaknya lingkungan di sekitar operasi perusahaan.

8
Hal itulah yang kemudian melatarbelakangi munculnya konsep CSR yang paling
primitif, dalam hal ini adalah kedermawanan yang bersifat karitatif.
Gema CSR semakin terasa pada tahun 1950-an. Hal ini dikarenakan persoalan-
persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang semula tidak mendapat perhatian, mulai
mendapatkan perhatian lebih luas dari berbagai kalangan. Dengan diterbitkannya buku
yang bertajuk "social responsibilities of the businessman" karya Howard R Bowen tahun
1953 yang merupakan litertur awal, maka menjadikan tahun tersebut sebagai tonggak
sejarah modern CSR. Di samping itu, pada dekade ini juga diramaikan oleh buku
legendaris yang berjudul "silent spring" yang ditulis oleh Rachel Carson, seorang ibu
rumah tangga biasa yang mengingatkan kepada masyarakat dunia akan bahaya yang
mematikan dari pestisida terhadap lingkungan dan kehidupan. Melalui buku Rachel
Carson ingin menyadarkan bahwa tingkah laku perusahaan mesti dicermati sebelum
berdampak pada kehancuran.
Pada dasawarsa 1970-an, terbitlah "the limits to Growth" yang merupakan hasil
pemikiran para cendekiawan dunia yang tergabung dalam Club of Rome. Dalam hal ini,
buku ini ingin mengingatkan kepada masyarakat dunia bahwa bumi yang kita pijak
mempunyai keterbatasan daya dukung. Oleh karena itu, eksploitasi alam mesti dilakukan
secara hati-hati supaya pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Pada
dasawarsa ini, kegiatan kedermawanan perusahaan terus berkembang dalam kemasan
philantropy dan community development serta pada masa ini terjadi perpindahan
penekanan dari fasilitas dan dukungan pada sektor-sektor produktif ke arah sektor-sektor
sosial.
Pada era 1980-an makin banyak perusahaan yang menggeser konsep
philantropisnya ke arah community development. Intinya kegiatan kedermawanan yang
sebelumnya kental dengan kedermawanan ala Robin Hood makin berkembang kearah
pemberdayaan masyarakat, misalnya pengembangan kerja sama, memberikan
keterampilan, pembukaan akses pasar, hubungan inti plasma, dan sebagainya.
Dasawarsa 1990-an adalah dasawarsa yang diwarnai dengan beragam pendekatan
seperti integral, pendekatan stakeholder maupun pendekatan civil society. Di Indonesia,
istilah CSR semakin populer digunakan sejak awal tahun 1990-an. Beberapa perusahaan
sebenarnya telah melakukan CSA (Corporate Social Activity) atau “aktivitas sosial
perusahaan”. Walaupun berbeda secara gramatikal, secara faktual aksinya mendekati
konsep CSR yang merepresentasikan bentuk “peran serta” dan “kepedulian” perusahaan
terhadap aspek sosial dan lingkungan. Melalui konsep investasi sosial perusahaan “seat
belt”, sejak tahun 2003 Departemen Sosial tercatat sebagai lembaga pemerintah yang
aktif dalam mengembangkan konsep CSR dan melakukan advokasi kepada berbagai
perusahaan nasional. Tuntutan sosial yang muncul sejak abad ke 19 ini, berkembang
hingga kini melalui beberapa tahapan seperti berikut:
1. Entrepeneurial Era
 Dunia bisnis pada abad ke 19 ditandai dengan bangkitnya semangat kewirausahaan
yang berfilosofi pada mekanisme pasar bebas (dipelopori oleh Rockefeller, Morgan
dan Vanderbilt).
 Banyak terjadi pelanggaran hak-hak pekerja dan cara berbisnis yang baik sebagai
aplikasi dari filosofi pasar bebas.
 Beberapa negara mulai membuat peraturan (Undang-Undang) untuk membatasi
praktek kecurangan dalam bisnis.
2. The Great Depression
 Tahun 1930 banyak pihak menduga kegagalan pasar didorong oleh faktor
ketamakan perusahaan dalam mengejar keuntungan/laba.

9
 Mulai timbul kesadaran akan perlunya suatu Undang-Undang yang mengatur
perlindungan terhadap pekerja, konsumen, dan masyarakat.
3. The Era of Social Activism
 Dimulai tahun 1960-1970 dimana kalangan bisnis dicurigai berkolaborasi dengan
pemerintah dengan memanfaatkan berbagai kesempatan bisnis untuk merugikan
masyarakat. Sebagai contoh adalah produksi rokok.
 Masyarakat menuntut adanya UU tentang pembatasan merokok dan UU tentang
perlindungan lingkungan.
4. Contemporary Social Consciousness
 Sejak tahun 1990 mulai berkembang kesadaran dari berbagai pihak bahwa dunia
bisnis perlu memberikan perhatian pada aspek sosial, yang didorong oleh
perkembangan globalisasi dan kerusakan lingkungan.
 Mulai diperkenalkannya konsep CSR dan berbagai peraturan tentang lingkungan
hidup kepada khalayak. Pada tataran global, tahun 1992 diselenggarakan KTT
Bumi (Earth Summit). KTT yang diadakan di Rio de Jenairo Brazil ini menegaskan
konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang didasarkan
atas perlindungan lingkungan hidup, pembangunan ekonomi dan sosial sebagai hal
yang mesti dilakukan. Terobosan besar dalam kontek CSR ini dilakukan oleh John
Elkington melalui konsep "3P" (Profit, people, and planet) yang dituangkan dalam
bukunya "Cannibals with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century
Business" yang dirilis pada tahun 1997. la berpendapat bahwa jika perusahaan
ingin sustain, maka ia perlu memperhatikan 3P, yakni bukan cuma profit yang
diburu. Namun, juga harus memberikan kontribusi positif kepada masyarakat
(people), dan ikut aktif dalam menjaga lingkungan (planet).

Selanjutnya, gaung CSR kian bergema setelah diselenggarakannya World


Summit on Sustainable Development (WSSD) tahun 2002 di Johannesburg Afrika
Selatan. Sejak saat inilah, definisi CSR mulai berkembang.

C. PRINSIP-PRINSIP CSR
Salah seorang pakar tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yaitu Alyson
Warhurst dari University Of Bath Inggris, pada tahun 1998 menjelaskan ada 16 (enam
belas) prinsip tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Adapun prinsip-prinsip itu
adalah sebagai berikut:
1. Prioritas korporat. Mengakui tanggung jawab sosial sebagai prioritas tertinggi
korporat dan penentu utama pembangunan berkelanjutan, dengan begitu korporat
bisa membuat kebijakan, program, dan praktek dalam menjalankan operasi bisnisnya
dengan cara yang bertanggung jawab secara sosial.
2. Manajemen terpadu. Mengintegrasikan kebijakan, program dan praktek ke dalam
setiap kegiatan bisnis sebagai satu unsur manajemen dalam semua fungsi
manajemen.
3. Proses perbaikan. Secara bersinambungan memperbaiki kebijakan, program dan
kinerja sosial korporat, berdasar temuan riset mutakhir dan memahami kebutuhan
sosial serta menerapkan kriteria sosial tersebut secara internasional.
4. Pendidikan karyawan. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan serta memotivasi
karyawan.
5. Pengkajian. Melakukan kajian dampak sosial sebelum memulai kegiatan atau proyek
baru dan sebelum menutup satu fasilitas atau meninggalkan lokasi pabrik.
6. Produk dan jasa. Mengembangkan produk dan jasa yang tak berdampak negatif
secara sosial.

10
7. Informasi publik. Memberi informasi dan (bila diperlukan) mendidik pelanggan,
distributor, dan publik tentang penggunaan yang aman, transportasi, penyimpanan
dan pembuangan produk, dan begitu pula dengan jasa.
8. Fasilitas dan operasi. Mengembangkan, merancang dan mengoperasikan fasilitas
serta menjalankan kegiatan yang mempertimbangkan temuan kajian dampak sosial.
9. Penelitian. Melakukan atau mendukung penelitian dampak sosial bahan baku,
produk, proses, emisi dan limbah yang terkait dengan kegiatan usaha dan penelitian
yang menjadi sarana untuk mengurangi dampak negatif.
10. Prinsip pencegahan. Memodifikasi manufaktur, pemasaran atau penggunaan produk
atau jasa, sejalan dengan penelitian mutakhir, untuk mencegah dampak sosial yang
bersifat negatif.
11. Kontraktor dan pemasok. Mendorong penggunaan prinsip-prinsip tanggung jawab
sosial korporat yaang dijalankan kalangan kontraktor dan pemasok, disamping itu
bila diperlukan mensyaratkan perbaikan dalam praktik bisnis yang dilakukan
kontraktor dan pemasok.
12. Siaga menghadapi darurat. Menyusun dan merumuskan rencana mennghadapi
keadaan darurat, dan bila terjadi keadaan berbahaya bekerja sama dengan layanan
gawat darurat, instansi berwenang dan komunitas lokal. Sekaligus mengenali potensi
bahaya yang muncul.
13. Transfer best practice. Berkontribusi pada pengembangan dan transfer praktik bisnis
yang bertanggung jawab secara sosial pada semua industri dan sektor publik.
14. Memberi sumbangan. Sumbangan untuk usaha bersama, pengembangan kebijakan
publik dan bisnis, lembaga pemerintah dan lintas departemen pemerintah serta
lembaga pendidikan yang akan meningkatkan kesadaran tentang tanggung jawab
sosial.
15. Keterbukaan. Menumbuhkembangkan keterbukaan dan dialog dengan pekerja dan
publik, mengantisipasi dan memberi respons terhadap potencial hazard, dan dampak
operasi, produk, limbah atau jasa.
16. Pencapaian dan pelaporan. Mengevaluasi kinerja sosial, melaksanakan audit sosial
secara berkala dan mengkaji pencapaian berdasarkan kriteria korporat dan peraturan
perundang-undangan dan menyampaikan informasi tersebut pada dewan direksi,
pemegang saham, pekerja dan publik.

Pada sisi lain, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
pada saat pertemuan para menteri anggota OECD di Prancis tahun 2000 juga
menyepakati pedoman bagi perusahaan multinasional. Pedoman tersebut berisikan
kebijakan umum yang meliputi:
1. Memberi kontribusi untuk kemajuan ekonomi, sosial, dan lingkungan berdasarkan
pandangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
2. Menghormati hak-hak asasi manusia yang dipengaruhi oleh kegiatan yang
dijalankan perusahaan tersebut, sejalan dengan kewajiban dan komitmen pemerintah
di negara tempat perusahaan beroperasi.
3. Mendorong pembangunan kapasitas lokal melalui kerja sama yang erat dengan
komunitas lokal. Termasuk kepentingan bisnis. Selain mengembangkan kegiatan
perusahaan di pasar dalam dan luar negeri sejalan dengan kebutuhan praktek
perdagangan.
4. Mendorong pembentukan human capital, khususnya melalui penciptaan kesempatan
kerja dan memfasilitasi pelatihan bagi karyawan.

11
5. Menahan diri untuk tidak mencari atau pembebasan di luar yang dibenarkan secara
hukum yang terkait dengan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja,
perburuhan, perpajakan, insentif finansial dan isu-isu lainnya.
6. Mendorong dan memegang teguh prinsip-prinsip Good Corporate Governance
(GCG) serta mengembangkan dan menerapkan praktek-praktek tata kelola
perusahaan yang baik.
7. Mengembangkan dan menerapkan praktek-praktek sistem manajemen yang
mengatur diri sendiri (self-regulation) secara efektif guna menumbuh kembangkan
relasi saling percaya diantara perüsahaan dan masyarakat setempat di mana
perusahaan beroperasi.
8. Mendorong kesadaran pekerja yang sejalan dengan kebijakan perusahaan melalui
penyebarluasan informasi tentang kebijakan-kebijakan itu pada pekerja termasuk
melalui program-program pelatihan.
9. Menahan diri untuk tidak melakukan tindakan tebang pilih (discrimination) dan
indisipliner.
10. Mengembangkan mitra bisnis, termasuk para pemasok dan sub-kontraktor, untuk
menerapkan aturan perusahaan yang sejalan dengan pedoman tersebut.
11. Bersikap abstain terhadap semua keterlibatan yang tak sepatutnya dalam kegiatan-
kegiatan politik lokal.

Pada era global ini, prinsip-prinsip tersebut seharusnya juga menjadi prinsip-
prinsip yang harus dipatuhi oleh semua perusahaan (perseroan terbatas) dalam
mengimplentasikan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

D. CSR Dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2007)


Di beberapa Negara kegiatan CSR sudah lazim dilakukan oleh suatu perusahaan,
hal ini bukan karena diatur oleh pemerintah, melainkan untuk menjaga hubungan baik
dengan stakeholders. Berbeda dengan di Indonesia dalam sistem perekonomiannya
menganut ekonomi berasaskan kekeluargaan dan berdasarkan demokrasi ekonomi, serta
pelaksanaan pengaturan CSR sebenarnya tidak terlepas dari makna Pancasila itu sendiri
yang merupakan landasan filosofi. Dalam konstitusi , prinsip CSR ini berkaitan dengan
maksud dan tujuan bangsa dan bernegara sebagaimana yang termaktub dalam preambul
UUD 1945 yang menegaskan bahwa
”...........Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,......”.
Selain dalam pembukaan UUD 1945 juga terdapat dalam Pasal 33 ayat (1) dan
(4) yang berbunyi :
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan;
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan
prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi
nasional.
Oleh karena itu sifat CSR yang ada di Indonesia yang pada mulanya bersifat
sukarela menjadi wajib bagi perusahaan-perusahaan untuk menjalankan program CSR.
Dan tidak ada alasan bagi perusahaan untuk tidak melaksanakan prinsip CSR dalam
aktivitas usahanya. Sehinga agar kewajiban ini bersifat imperatif maka harus disertai
dengan adanya regulasi sehingga pada tanggal 20 Juli 2007 DPR mengetuk palu tanda
disetujuinya RUUPT menjadi UUPT maka muncullah UU No. 40 Tahun 2007 tentang

12
Perseroan Terbatas yang memasukkan klausul CSR dalam Pasal 74 UU PT, meskipun
sebelumnya telah dimasukkan dalam Undang-Undang Penanaman Modal.
Ketentuan mengenai CSR dalam UUPT di atur pada pasal 74 yang berbunyi
sebagai berikut:
(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan
sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
(2) Tanggung jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya
Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan
kewajaran.
(3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur
dengan Peraturan Pemerintah.

Dengan dicantumkannya CSR dalam UU PT yang baru ini, ada beberapa


pendapat yang tidak setuju tentang pengaturan CSR dalam UUPT tersebut, dengan
berbagai alasan, antara lain:
1. CSR adalah kegiatan yang bersifat sukarela (voluntary) bukan bersifat kewajiban
(mandatory). Jika diatur, selain bertentangan dengan prinsip kerelaan, CSR juga
akan member beban baru kepada dunia usaha, karena menggerus keuangan suatu
perusahaan.
2. CSR adalah kegiatan di luar kewajiban perusahaan yang umum dan sudah
diterapkan dalam perundang-undangan formal, seperti ketertiban usaha, pajam atas
keuntungan dan standar lingkungan hidup.
3. CSR di Negara Negara Eropa yang secara institusional jauh lebih matang dari
Indonesia, proses regulasi yang menyangkut kewajiban perusahaan berjalan lama
dan hati-hati. Bahkan European Union sebagai kumpulan Negara yang paling
menaruh perhatian terhadap CSR telah menyatakan sikapnya bahwa CSR bukan
sesuatu yang akan diatur.
4. Lingkup dan pengertian CSR yang dimaksud dalam Pasal 74 UUPT berbeda dengan
pengertian CSR dalam pustaka maupun difinisi resmi, baik yang dikeluarkan oleh
Word Bank maupun International Organization for Standardization (ISO) 26000
Guidance on Social Responsibility .
5. Pasal 74 telah mengabaikan sejumlah prasyarat yang memungkinkan terwujudnya
makna dasar CSR, yakni sebagai pilihan sadar, adanya kebebasan, dan kemauan
bertindak.

Dari berbagai argumentasi yang menolak CSR sebagai suatu kewajiban hanya
melihat CSR pada tataran kewajibannya saja. Para pelaku usaha tidak mengindahkan
dasar filosofisnya dan dampak dari pembangunan yang berlangsung selama ini. Jika
dilihat dari law making process-nya, konsep mengenai CSR dalam UUPT yang baru
disahkan ini tidak terlepas dari aksi dan tuntutan masyarakat dan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM). Pada saat sekarang dapat dirasakan semakin deras dinamika sosial
masyarakat, serta semakin turun peran pemerintah dan semakin vitalnya peran swasta
dalam pembangunan. Fakta menunjukkan semakin berkurangnya tanggung jawab dari
perusahaan baik nasional maupun multinasional yang beroperasi di Indonesia dalam
mengelola lingkungan.
Fakta yang lain menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang hanya
melakukan kegiatan operasionalnya tetapi kurang sekali memberikan perhatian terhadap

13
kepentingan sosial dan ekonomi masyarakat disekitarnya, seperti kasus buyat atau yang
paling terbaru adalah lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, telah membuka mata para
pebisnis dan pejabat pemerintah tentang pentingnya CSR. Selama seminar nasional
tentang CSR yang dilaksanakan oleh IBL tahun 2006 para peserta memastikan jika CSR
akan meningkat, tingkat kepentingan pada bisnis dalam kurun waktu 5 tahun berikutnya,
juga terdapat indikasi kuat bahwa investasi pada CSR dengan kegiatan yang berkaitan
telah meningkat pada tahun 2006.
Furthermore, the incidents such as the Buyat case (Newmont Minahasa), the Papua
case (Freeport) or most recently the Sidoarjo “hot-mud” case (Lapindo Brantas) opened
the eyes of business leaders and the general public about the importance of CSR. During
the course of a national conference on CSR hosted by IBL in 2006, the participants
confirmed that CSR would become increasingly important to business over the next five
years. There is also strong indication that investment into CSR related activities has
increased in 2006. Theare a of business ethics and corporate governance is likely to see
an increase

Atas dasar argumentasi tersebut, CSR yang semula adalah tanggung jawab
non hukum (responsibility) diubah menjadi tanggung jawab hukum (liability). Untuk itu,
CSR harus dimaknai sebagai instrument untuk mengurangi praktek bisnis yang tidak etis.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009,
CSR diatur dalam sistem perundang-undangan di bidang hukum perusahaan. Hal ini
dilakukan sebagai upaya mewujudkan tujuan pembangunan perekonomian yang
berlandaskan pada prinsip kebersamaan, efesiensi, berkeadilan, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan, kemandirian, serta menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Atas
pertimbangan tersebut, maka UUPT merumuskan CSR sebagai bagian dari kewajiban
perusahaan dalam melakukan aktivitas kegiatannya di Indonesia. Kemudian dalam
penjelasan UUPT ditegaskan bahwa ketentuan mengenai CSR ini dimaksudkan untuk
mendukung terjalinnya hubungan perusahaan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan
lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat.
Dalam Pasal 74 ayat (1) UUPT 2007, menegaskan bahwa perseroan yang
bergerak dalam bidang sumber daya alam wajib melaksanakan tanggungjawab social dan
lingkungan. Substansi pasal ini menegaskan dan kewajiban hanya kepada perusahaan
yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan dalam bidang usaha sumber daya alam saja
berkewajiban untuk mempunyai tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Substansi pasal 74 ayat (1) UU No.40 Tahun 2007 sangat sempit, yaitu hanya
perseroan yang bergerak dalam bidang usaha (mengolah) sumber daya alam yang
berkewajiban untuk mempunyai tanggungjawab sosial dan lingkungan. Seharusnya
kewajiban tanggungjawab sosial dan lingkungan, bukan hanya untuk perseroan dalam
bidang usaha sumber daya alam saja, tetapi juga untuk semua perseroan, dan sempit
dalam pengertian tanggungjawab sosial yang dikaitkan dengan lingkungan saja.
Tanggungjawab sosial mempunyai makna atau pengertian yang luas tidak hanya terhadap
lingkungan saja, tetapi juga berkaitan dengan aspek kehidupan masyarakat di sekitarnya,
apakah kehadiran sebuah perseroan di suatu tempat dapat memberikan dampak positif
kepada masyarakat, misalnya dapat menaikkan taraf hidup masyarakat di sekitarnya atau
malah menghancurkannya.
Dalam ayat (2) UUPT, bahwa tanggungjawab sosial merupakan kewajiban
perseroan yang wajib dianggarkan dalam anggaran (keuangan) perseroan. Dengan
kewajiban seperti ini, tanggungjawab sosial bagi setiap perusahaan wajib menghitung

14
dengan cermat setiap pengeluaran perseroan sehingga keuntungan yang diperoleh
merupakan keuntungan bersih (netto) yang tidak perlu dikurangi kewajiban lainnya.
Ketentuan dalam Pasal 74 ayat (2) UUPT ini perlu penyebaran lebih lanjut,
terutama berkaitan dengan makna “kewajiban perseroan yang dianggarkan” dan
“diperhitungkan sebagai biaya Perseroan”. Berdasarkan ketentuan ini, setiap Perseroan
harus merancang kegiatan CSR sejak awal suatu perusahaan beroperasi. Secara teoritis
aturan ini sudah pasti memberatkan perusahaan, karena sejak awal perusahaan sudah
mengeluarkan biaya untuk kegiatan CSR, padahal belum diketahui apakah perusahaan
itu akan “profit” atau “lost out” dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Oleh karena
itu harus jelas makna kewajiban perseroan yang dianggarkan tersebut. Apakah
dianggarkan sejak perusahaan beroperasi atau setelah beberapa waktu perusahaan itu
beroperasi.

Ketentuan mengenai dana yang dianggarkan untuk kegiatan CSR ini berkaitan
dengan ketentuan Pasal 63 UUPT yang menegaskan:

a. Direksi menyusun rencana kerja tahunan sebelum dimulainya tahun buku yang akan
datang.
b. Rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat juga anggaran tahunan
Perseroan untuk tahun buku yang akan datang.
CSR merupakan bagian dari rencana tahunan yang dianggarkan dari biaya
perusahaan, maka dengan sendirinya CSR tersebut akan menjadi bagian dari laporan
tahunan suatu perseroan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) poin c UUPT.
Berkaitan dengan hal tersebut maka sudah barang tentu kegiatan CSR yang dianggarkan
mempunyai implikasi tertentu, baik dari segi pendapatan Negara maupun kelembagaan.
Implikasi tersebut antara lain berkaitan dengan:
a. Biaya CSR merupakan bagian dari pengeluaran suatu perusahaan dan tidak
merupakan bagian dari persentase keuntungan. Oleh karena itu pemerintah harus
memberikan kompensasi tertentu kepada perusahaan, kompensasi ini dapat diberikan
dalam bentuk insentif dalam bidang perpajakan, apakah dalam bentuk pajak
penghasilan, atau pajak pertambahan nilai, atau yang lain.
b. Apabila pemerintah tidak memberikan insentif dalam bentuk tertentu, maka dengan
penerapan CSR ini yang timbul adalah penambahan biaya produksi (cost product).
Tingginya cost product, maka yang menanggung adalah konsumen, sehingga
konsumen dalam membeli produk barang tertentu yang di bayar bukanlah biaya riil,
tetapi berdasarkan harga cost produc. Maka biaya yang dikeluarkan produsen untuk
CSR justru dibebani kepada konsumen. Kalau hal ini terjadi maka hilanglah makna
esensial CSR itu, sehingga CSR hanyalah sebagai slogan bagi perusahaan untuk
strategi bisnisnya.
c. CSR sebagai kegiatan yang dianggarkan dan bagian dari biaya perusahaan. Persoalan
yang timbul adalah bagaimana jika perusahaan yang bersangkutan mengalami
kerugian? Apakah perusahaan tersebut tetap melaksanakan kegiatan CSR-nya pada
tahun yang bersangkutan atau menunda sampai perusahaan tersebut memperoleh
keuntungan. Kemudian bagaimana terhadap kewajiban pajak yang harus dibayar oleh
perusahaan tersebut?, apakah perusahaan tersebut tetap mendapat insentif? Kalau
regulasinya tidak jelas insentif yang diberikan justru akan jadi alasan bagi perusahaan
nakal untuk menghindari dari kewajiban membayar pajak.

15
d. Apabila CSR telah menjadi bagian dari rencana kerja dan laporan tahunan suatu
perusahaan, maka harus ada lembaga yang pasti yang berhak melakukan pengawasan
dan atau sertifikasi.
E. TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA
Dengan disahkannya UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
dapat menjadi landasan bagi konsumen dan lembaga perlindungan konsumen untuk
memberdayakan dan melindungi kepentingan konsumen, serta membuat pelaku usaha
lebih bertanggung jawab.
Hal ini dikarenakan konsumen berada pada posisi yang lemah. Konsumen
menjadi obyek aktifitas bisnis untuk mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Perlu upaya
pemberdayaan konsumen melalui pembentukan Undang-Undang yang dapat melindungi
kepentingan konsumen secara integratif dan komprehensif serta dapat diterapkan secara
efektif.
Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini mengacu pada filosofi
pembangunan nasional, bahwa pembangunan nasional termasuk pembangunan hukum
yang memberikan perlindungan terhadap konsumen adalah dalam rangka membangun
manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah kenegaraan Republik
Indonesia yaitu dasar negara Pancasila dan konstitusi negara Undang-undang Dasar 1945.
Penyusunan UU No 8 Tahun 1999 dilatarbelakangi oleh pemikiran untuk
meningkatkan harkat dan martabat konsumen dengan meningkatkan kesadaran,
pengetahuan, kepedulian, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi
dirinya serta menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab.
Berdasarkan pemikiran tersebut diperlukan perangkat peraturan perundang-undangan
untuk mewujudkan keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha
sehingga tercipta perekonomian yang sehat.
Berdasarkan pasal 1365 KUHPer : “Tiap perbuatan melanggar hukum, yang
menimbulkan kerugian bagi orang lain mewajibkan orang yang karena kesalahannya
mengakibatkan kerugian itu, mengganti kerugian.” Pasal ini memberi perlindungan kepada
seseorang terhadap perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) orang lain. Unsur
penting dalam pasal ini ialah perbuatan melawan hukum yang pada zaman dulu ditafsirkan
secara sempit, yaitu perbuatan yang bertentangan dengan UU atau Peraturan Perundangan.
Tetapi kemudian H.R. memberikan tafsiran lebih luas yakni perbuatan yang bertentangan
dengan atau melanggar :
a. Hukum atau Peraturan Perundangan.
b. Hak orang lain.
c. Wajib hukumnya sendiri (si pembuat).
d. Keadilan dan kesusilaan
e. Kepatutan yang layak diindahkan dalam pergaulan masyarakat, terhadap orang atau
barang.

Berdasarkan KUHPer tersebut kedudukan konsumen sangat lemah dibanding


produsen. Salah satu usaha untuk melindungi dan meningkatkan kedudukan konsumen
adalah dengan menerapkan prinsip tanggung jawab mutlak dalam hukum tentang
tanggung jawab produsen. Dengan diberlakukannya prinsip tanggung jawab mutlak
diharapkan pula para produsen menyadari betapa pentingnya menjaga kualitas produk
yang dihasilkan, para produsen akan lebih berhati-hati dalam memproduksi barang.
Demikian juga bila kesadaran para produsen terhadap hukum tentang tanggung
jawab produsen tidak ada, dikhawatirkan akan berakibat tidak baik terhadap
perkembangan dunia industri nasional maupun terhadap daya saing produk nasional di luar
negeri. Namun demikian, dengan memberlakukan prinsip tanggung jawab mutlak dalam

16
hukum tentang product liability tidak berarti pihak produsen tidak mendapat perlindungan,
pihak produsen masih diberi kesempatan untuk membebaskan dari tanggung jawabnya
dalam halhal tertentu yang dinyatakan dalam undang-undang.
Dengan penerapan tanggung jawab mutlak produk ini, pelaku usaha pembuat
produk atau yang dipersamakan dengannya, dianggap bersalah atas terjadinya kerugian
pada konsumen pemakai produk itu, kecuali apabila ia dapat membuktikan keadaan
sebaiknya, yaitu bahwa kerugian yang terjadi tidak dapat dipersalahkan kepadanya.
Tanggung jawab produk, tanpa kesalahan, merupakan doktrin hukum yang masih baru dan
merupakan perluasan dari tanggung jawab perbuatan melawan hukum. Kriteria perbuatan
melawan hukum adalah :
1. Pelanggaran hak-hak. Hukum mengakui hak-hak tertentu baik mengenai hak-hak
pribadi maupun hak-hak kebendaan dan akan melindunginya dengan memaksa pihak
yang melanggar itu supaya membayar ganti rugi kepada pihak yang dilanggar haknya.
2. Unsur kesalahan. Pertanggungjawaban pada kesalahan perdata memerlukan unsur
kesalahan atau kesengajaan pada pihak yang melakukan pelanggaran.
3. Kerugian yang diderita oleh penggugat. Suatu unsur yang esensial dari kebanyakan
kesalahan perdata adalah bahwa penggugat harus sudah menderita kerugian fisik atau
finansial sebagai akibat dari perbuatan tergugat.

Sesuai dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia, seorang konsumen bila
dirugikan dalam mengkonsumsi barang atau jasa, dapat menggugat pihak yang
menimbulkan kerugian itu. Dengan kualifikasi gugatan wanprestasi atau perbuatan
melawan hukum. Karena kerugian yang dialami konsumen, tidak lain karena tidak
dilaksanakannya prestasi oleh pengusaha.
Penuntutan karena wanprestasi dan karena onrechtmatige daad (perbuatan
melawan hukum) pelaksanaannya berbeda yakni :
1. Dalam aksi karena onrechtmatige daad maka si penuntut harus membuktikan semua
unsur-unsur yakni antara lain bahwa ia harus membuktikan adanya kesalahan pada si
pelaku. Dalam aksi karena wanpresptasi maka si penuntut umum menunjukkan
adanya wanprestasi, sedang pembuktian bahwa tentang tidak adanya wanprestasi
dibebankan pada si pelaku.
2. Tuntutan pengembalian pada keadaan semula hanyalah dapat dilakukan bilamana
terjadi tuntutan karena onrechtmatige daad, sedang dalam tuntutan wanprestasi tidak
dapat dituntut pengembalian pada keadaansemula.
3. Bilamana terdapat beberapa debitur yang bertanggung gugat, maka dalam hal terjadi
tuntutan ganti kerugian karena onrechtmatige daad, masingmasing debitur tersebut
bertanggung gugat untuk keseluruhan ganti kerugian tersebut. Kalau tuntutannya
didasarkan pada wanprestasi maka penghukuman masing-masing untuk
keseluruhannya hanyalah mungkin bilamana sifat tanggung rentengnya dicantumkan
dalam kontraknya atau bilamana prestasinya tidak dapat dibagi-bagi.

Dengan kualifikasi gugatan ini, konsumen sebagai penggugat harus membuktikan


unsur-unsur :
a) Adanya perbuatan melawan hukum. Perbuatan barulah merupakan perbuatan
melawan hukum apabila : bertentangan dengan hak orang lain, bertentangan dengan
kewajiban hukumnya sendiri, bertentangan dengan kesusilaan yang baik, bertentangan
dengan keharusan yang harus di indahkan dalam pergaulan masyarakat mengenai
orang lain atau barang.
b) Adanya kesalahan/ kelalaian pengusaha/ perusahaan. Dikatakan ada kelalaian apabila
timbulnya kerugian bagi seseorang atau barang milik orang lain disebabkan karena

17
kurang hati-hatinya melakukan suatu perbuatan, atau mengurus sesuatu sebagaimana
dikehendaki oleh hukum. Untuk berhasilnya suatu gugatan berdasarkan kelalaian,
penggugat harus membuktikan tiga unsur penting yaitu : pertama, bahwa tergugat
dibebankan kewajiban berhati-hati dalam melakukan kewajiban hukumnya, kedua,
kewajiban hukum itu dilanggar, ketiga, bahwa akibat pelanggaran itu timbul kerugian.
c) Adanya kerugian yang dialami konsumen. Penggugat harus membuktikan bahwa ia
menderita kerugian sebagai akibat dari pelanggaran kewajiban berhati-hati oleh
tergugat. Dalam kerugian itu dapat termasuk kerugian terhadap harta benda, kerugian
pribadi dan dalam beberapa hal kerugian uang.
d) Adanya hubungan kausal antara perbuatan melawan hukum dengan kerugian yang
dialami konsumen. Apabila tanggung jawab dalam kesalahan perdata tergantung pada
kerugian, penggugat harus membuktikan bahwa kerugiannya secara sah disebabkan
oleh perbuatan tergugat.
Jadi, konsumen dihadapkan pada beban pembuktian berat, karena harus
membuktikan keempat unsur tersebut. Hal ini dirasakan tidak adil bagi konsumen.
Berdasarkan penjelasan UUPK pasal 45 ayat (2) penyelesaian sengketa konsumen
sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak menutup kemungkinan penyelesaian damai
oleh para pihak yang bersengketa. Pada setia tahap diusahakan untuk menggunakan
penyelesaian damai oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Yaitu penyelesaian yang
dilakukan oleh kedua belah pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa
melalui pengadilan atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen dan tidak bertentangan
dengan UU ini. Berdasarkan ketentuan pasal 45 ayat (2) UUPK dihubungkan dengan
penjelasannya, maka penyelesaian sengketa konsumen dapat dilakukan melalui cara-cara
sebagai berikut :
a) Penyelesaian damai oleh para pihak yang bersengketa tanpa melibatkan pengadilan
atau pihak ketiga yang netral.
b) Penyelesaian melalui pengadilan.
c) Penyelesaian di luar pengadilan melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.

Pada prinsipnya setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha
melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku
usaha atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum. Apabila telah
dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan, maka gugatan melalui
pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh
salah satu pihak atau oleh pihak yang bersengketa.
Karakter dasar product liability pada dasarnya adalah perbuatan pelawan hukum,
maka unsur-unsur yang dibuktikan konsumen, yaitu:
a. Unsur perbuatan melawan hukum yang dilakukan pengusaha/ perusahaan.
b. Unsur kerugian yang dialami konsumen atau ahli warisnya.
c. Unsur adanya hubungan kausal antara unsur perbuatan melawan hukum dengan unsur
kerugian tersebut.

Unsur kelalaian/ kesalahan tidak menjadi kewajiban konsumen untuk


membuktikannya. Sebaliknya hal ini menjadi kewajiban pengusaha untuk membuktikan
ada tidaknya kelalaian/ kesalahan padanya. Menurut doktrin product liability, tergugat
dianggap telah bersalah, kecuali jika ia mampu membuktikan ketidaklalaiannya, maka ia
harus memikul resiko kerugian yang dialami pihak lain karena mengkonsumsi/
menggunakan produknya.

18
Penggunaan instrumen hukum acara perdata setelah berlakunya UUPK
mengetengahkan sistem beban pembuktian terbalik. pasal 28 UUPK berbunyi sebagai
berikut:
“Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam pasal 19, pasal 22 dan pasal 23 merupakan beban
dan tanggung jawab pelaku usaha.“

Konsekuensinya, jika pelaku usaha gagal membuktikan tidak adanya unsur


kesalahan, maka gugatan ganti rugi penggugat akan dikabulkan dalam hal memiliki alasan
yang sah menurut hukum.
Dalam hal yang demikian, selama pelaku usaha tidak dapat membuktikan bahwa
kesalahan tersebut bukan merupakan kesalahan yang terletak pada pihaknya, maka demi
hukum pelaku usaha bertanggung jawab dan wajib mengganti kerugian yang diderita
tersebut.
Jika pelaku usaha menolak dan/ atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak
memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen maka menurut pasal 23 UUPK dapat digugat
melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen.
Pasal 19 ayat (1) UUPK menentukan :
“Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemarandan/ atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/ atau
jasa yang dihasilkan atau diperdagangkannya.”

Bentuk ganti rugi tersebut dapat berupa :


1. Pengembalian uang atau penggantian barang dan/ atau jasa yang sejenis atau setara
nilainya atau perawatan; dan/ atau
2. Pemberian santunan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(Pasal 19 ayat (2) UUPK).

Kata dapat di situ menunjukkan masih ada bentuk-bentuk ganti rugi lain yang
dapat diajukan konsumen kepada pelaku usaha. Seperti keuntungan yang akan diperoleh
bila tidak terjadi kecelakaan, kehilangan pekerjaan atau penghasilan untuk sementara atau
seumur hidup akibat kerugian fisik yang diderita, dan sebagainya.
Instrumen hukum acara pidana dalam UUPK mengedepankan suatu system beban
pembuktian terbalik. Pasal 22 UUPK berbunyi sebagai berikut :
“Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidana
sebagaimana dimaksud pasal 19 ayat (4), pasal 20 dan pasal 21 merupakan beban
dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk
melakukan pembuktian.”

Sistem pembuktian terbalik pada pasal 22 UUPK itu terbatas pada kasus pidana.
Ada dua hal yang perlu dicermati pada pasal 22 UUPK tersebut. Pertama, dikatakan kasus
pidana apabila unsur-unsur sistem peradilan pidana menjalankan wewenang penyidikan,
penuntutan dan/ atau peradilan suatu tindak pidana di bidang perlindungan konsumen.
Kedua, kasus pidana yang dimaksud pasal 22 UUPK itu terkait dengan ketentuan-
ketentuan pasal 19 ayat (4), pasal 20 dan pasal 21 UUPK. Pasal 19 ayat (4) UUPK
menegaskan bahwa : “pemberian ganti rugi oleh pelaku usaha atas kerusakan, pencemaran
dan/ atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/ atau jasa tidaklah
mengharuskan kemungkinan tuntutan pidana berdasarkan asas pembuktian terbalik ada
tidaknya unsur kesalahan”. Sedangkan pasal 20 dan pasal 21 UUPK masing-masing
memberikan penekanan sebagai berikut :

19
1. Tanggung jawab subyek tersangka/ terdakwa, yaitu; importir, jika importasi produk
barang tidak dilakukan agen atau perwakilan produsen barang tersebut di luar negeri.
2. Tangung jawab subyek tersangka/ terdakwa, yaitu : importir bertanggung jawab atas
jasa yang diimpor, jika penyediaan jasa tidak dilakukan agen atau perwakilan jasa
asing
Dalam proses berbisnis selain memperhatikan prinsip kejujuran, keterbukaan,
keramahtamahan, keadilan dan kesukarelaan. Para pelaku bisnis juga perlu memperhatikan
aspek usaha yang terus menerus bila tahapan tersebut sudah ditempuh maka
keberhasilannya adalah keberhasilan yang diiringi dengan rasa syukur, sebaliknya
kegagalannya merupakan kegagalan yang tak perlu diratapi tetapi justru disikapi dengan
penuh kesabaran.
Untuk menciptakan masyarakat bisnis yang kredible, maka masyarakat bisnis
yang bertanggung jawab kepada konsumen adalah masyarakat yang menumbuhkan saling
kepercayaan, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan keadilan sebagai ciri utama
masyarakat yang beradab.
Sebagai konsekuensi hokum yang diberikan oleh UUPK dan sifat perdata dari
hubungan hukum antara pelaku usaha dan konsumen, maka setiap pelanggaran yang
dilakukan pelaku usaha yang merugikan konsumen memberi hak kepada konsumen untuk
meminta pertanggungjawaban dari pelaku usaha, serta menuntut ganti kerugian yang
diderita konsumen.
Berdasarkan hal-hal di atas maka ruang lingkup tanggung jawab pelaku usaha
adalah memberikan ganti rugi kepada pihak yang dirugikan berkaitan dengan gugatan
konsumen, selama pelaku usaha tidak dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut bukan
merupakan kesalahannya. Dalam Islam prinsip-prinsip umum dalam aktivitas bisnis
adalah prinsip kejujuran, kesetimbangan dan keadilan, kebenaran, keterbukaan, kerelaan di
antara pihak yang berkepentingan, larangan memakan harta orang lain secara batil,
larangan berbuat zalim, larangan eksploitasi dan saling merugikan yang membuat orang
lain teraniaya.
Dengan demikian tanggung jawab pelaku usaha sebagaimana dimaksud dalam
pasal 19 UUPK adalah tidak bertentangan dengan nilai-nilai bisnis Islam karena dalam
mencapai keuntungan menghindari kerugian seminimal mungkin.

20