Anda di halaman 1dari 10

TEORI AKUNTANSI

KONSEP LABA

OLEH KELOMPOK 1 :

1. NI WAYAN SRI EKAYANTI (10)


2. NI PUTU RIKA DAMAYANTI (15)
3. LUH PUTRI WARDANI (20)
4. NI WAYAN SRI ARINI (30)
5. MADE AYU YUNI MEDIANTARI (31)
6. DESAK PUTU AYU MELBI SUARI (41)

UNIVERSITAS MAHASARASWATI
TAHUN PELAJARAN
2019/2020
13.1 Karakteristik Laba

Karakteristik laba berkaitan dengan identifikasi sifat dari laba sehingga


memungkinkan untuk menganalisis transaksi/peristiwa yang dapat mempengaruhi laba.
Karakteristik laba dapat diidentifikasi dengan caera memahami dasar pengertian laba.

A. Pengertian Laba
Pengetian laba yang dianut oleh struktur akuntansi sekarang ini adalah laba
akuntansi yang merupakan selisih pengukuran pendapatan dan biaya. Besar kecilnya
laba sebagai pengukur kenaikan aktiva sangat tergantung pada ketepatan pengukuran
pendapata dan biaya. Jadi dalam hal ini laba hanya merupakan angka artikulasi dan
tidak didefinisikan tersendiri secara ekonomik seperti halnya aktiva atau hutang.
Namun demikian, IAI memiliki pengertian sendiri mengenai income. IAI
justru tidak menterjemahkan income dengan istilah laba, tetapi dengan istilah
penghasilan. Dalam konsep dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan, (IAI
1994 ) mengartikan income (pengasilan ) sebagai berikut :
Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansu dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan
kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi
penanam modal. (paragrap 70)

Selanjutnya dalam paragrap 74 disebutkan bahwa :


Definisi penghasila meliputi baik pendapatan (revenue) maupun keuntungan (gains).

Tidak adanya perasamaan pendapat dalam mendefinisikan laba secara tepat


disebabkan oleh perbedaan perspektif dalam melihat konsep laba. Para pemakai
laporan keuangan mempunyai konsep laba sendiri yang dianggap paling cocok untuk
mengambil keputusan mereka. Fiser (1912) dan bedford (1965) menyatakan bahwa
pada dasarnya ada 3 konsep laba yang umum dibicarakan dan digunakan dalam
ekonomi. Konsep laba tersebut adalah:
1. Fsychic income, yang menunjukkan konsumsi barang atau jasa yang dapat
memenuhi kepuasan dan keinginan individu.
2. Real income, yang menunjukkan kenaikan dalam kemakmuran ekonomi yang
ditunjukkan leh kenaikan cost of living.
3. Money income , yang menunjukkan kenaikan nilai moneter sumber-sumber
ekonomi yang digunakan untuk konsumsi sesuai dengan biaya hidup (cost of
living)
Ketiga konsep tersebut semuanya penting,meskipun pengukuran terhadap
Psychic income sulit untuk dilakukan. Hal ini disebabkan psychic adalah konsep
psikologi yang tidak dapat diukur secara langsung, namun dapat ditaksir dengan
menggunakan real income. Keinginan manusia tersebut hanya dapat dipenuhi pada
berbagai tingkatan, sebagaimana seseorang memperoleh real income. Dilain pihak,
money income meskipun mudah diukur, tetapi tidak mempertimbangkan perubahan
nilai suatu unti moneter. Atas dasar alasan ini, para ekonom memutuskan
perhatiannya pada penetuan real income. Fisher (1912) juga berpendapat bahwa real
income adalah konsep income yang praktis bagi akuntan.
Karena cara pengukuran dan pendefinisian laba seperti diatas, laba akuntansi
sering tidak konsesiten dengan pengertian laba ekonomi. Menurut mitchel (dikutip
bedford, 1965) perbedaan antara laba ekonomi dan laba akuntansi disebabkan oleh
perbedaan kosep yang melandasinya. Ekonom mendefinisikan laba dari sudut
pandang orang, sekelompok orang/masyarakat keseluruhan. Laba ekonomi dipandang
sebagai tambahan kemakmuran yang ditimbulkan oleh kegiatan ekonomi dan
perusahaan sebagai wadah yang akan dinikmati oleh seluruh pihak yang ada dalam
unit kegiatan ekonomi tersebut. Sementara itu hick (1946) secara spesifik
menyebutkan bahwa laba ekonomi (economic income) adalah jumlah maksimum yang
dapat konsumsi selama 1 minggu tanpa harus mengurangi jumlah kemakmuran pada
awal periode.
Disisi lain, akuntan mendefinisikan laba dari sudut pandang perusahaan
sebagai satu kesalahan. Laba akuntansi (accounting income)secara operasional
didefinisikan sebagai perbedaan antara pendapatan yang direalisasi dari transaksi yang
terjadi selama satu periode dengan biaya yang berkaitan dengan pensapatan tersebut
Belkaoni (1993)menyebutkan bahwa laba akuntansi memiliki lima karakteristik
sebagai berikut:
a. Laba akuntansi didasarkan pada transaksi aktual terutama yang berasal dari
penjualan barang atau jasa.
b. Laba akuntansi didasarkan pada postulat periodisasi dan mengacu pada kinerja
perusahaan selama satu periode tertentu.
c. Laba akuntansi didasarkan pada prinsip pendapatan yang memerlukan
pemahaman khusus tentang definisi, pengukuran dan pngakuan pendapatan.
d. Laba akuntansi memerlukan pengukuran tentang biaya (expenses) dalam bentuk
cost historis.
e. Laba akuntansi menghendaki adanya penandingan (matching) antara pendapatan
dengan biaya yang relevan dan berkaitan dengan pendapatan tersebut.

B. Keunggulan dan Kelemahan Laba Akuntansi


Kelima karakteristik laba akuntansi tersebut memungkinkan untuk
menganalisis keunggulan dan kelemahan laba akuntansi. Keunggulan laba akuntansi
dapat dirumuskan sebagai berikut belkaoni (1993):
Pertama, laba akuntansi teruji dalam sejarah dimana pemakai pemakai laporan
keuangan masih bermanfaat untuk membantu pengambilan keputusan ekonomi.
Mauzt (1973) berpendapat bahwa apabila selama ini pihak pembuat keputusan
manajemen dan investasi tidak menemukan manfaat dari laporan keuangan berbasis
cost historis, sudah pasti perubahan perubahan akuntansi telah dilakukan beberapa
tahun yang lalu.
Kedua, laba akuntansi diukur dan dilaporkan secara obyektif dapat diuji
kebenarannya karena didasarkan pada transaksi/fakta aktual,yang didukung bukti
obyektif.pada dasarnya akuntansi digunakan untuk melaporkan “fakta” bukan
melaporkan nilai (value). Hal ini didukung oleh Kohler ( 1963) yang mengatakan
akuntansi bukanlah media untuk “ mengukur nilai terkini (corrent value)”, “perubahan
kata” atau nilai dari aktiva/ kelompok aktiva.
Ketiga, atas dasar prinsip realisasi dalam mengakui pendapatan, laba akuntansi
memenuhi kriteria konservatisme. Artinya akuntansi tidak mengakui perubahan nilai
tetapi hanya mengakui untung yang direalisasi (realized gains).
Keempat, laba akuntansi dipandang bermanfaat untuk tujuan pengendalian
utama pertanggungajawaban manajemen. Bukti obyektif yang melandasi cost historis
merupakan saran untuk mendukung pertanggungjawaban tersebut.
Sementara itu, kelemahan mendasar dari laba akuntansi terletak pada
relevansinya dalam proses pengamblan keputusan. Kelemahan laba akuntansi dapat
dirumuskan sebagai berikut belkaoni (1993):
Pertama, laba akuntansi gagal mengakui kenaikan nilai aktivayang dulu
direalisasi dalam satu periode karena prinsip cost historis dan prinsip realisasi. Hal ini
menghalangi penyajian informasi bermanfaat yang harus diungkapkan dan
memungkinkan pengungkapan untung (gains ) gabungan yang bersifat heterogen dari
periode sebelumnya dan periode berjalan.
Kedua, laba akuntansi yang didasarkan pada cost historis mempersulit
perbandingan laporan keuangan karena adanya perbedaan metode perhitungan cost
dan metode alokasi. Alokasi cost menjadi biaya cenderung besifat arbitrer dan tidak
dapat diuji secara empiris (thomas, 1969 : 1974).
Ketiga, laba akuntansi yang disebarkan prinsip realisasi, cost historis,
konservatisme dapat menghasilkan data yang menyesatkan dan tidak relevan.

Hendrikson (1989) menyebutkan beberapa kelemahan laba akuntansi yang


diukur dengan kerangka akuntansi konvensional sebagai berikut :
1. Konsep laba akuntansi belum dirumuskan secara jelas.
2. Belum ada dasar pengukuran dan penyajian yang secara teoritis mantap.
3. Praktik akuntansi yang diterima umum memungkinkan timbulnya
ketidakkonsistenan dalam pengukuran laba periodik dari perusahaan yang
berbeda atau periode akuntansi yang sama.
4. Perubahan tingkat harga (day beli uang ) belum tercermin dalam laba
akuntansi yang dihtung atas dasar nilai nominal uang.
5. Informasi lain mungkin terbukti lebih bermanfaat bagi investor dan
pemegang saham dalam pengambilan keputusan.

C. Tujuan Pelaporan Laba


Salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah memberikan informasi keuangan
yang dapat menunjukkan prestasi perusahaan dalam menghasilkan laba (earning per
share). Meskipun konsep laba yang digunakan diharapkan mampu memenuhi
kebutuhan para pemakai, namun adanya berbagai konsep dan tujuan laba,
mengakibatkan konsep laba tunggal tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pihak
pemakai laporan. Atas dasar kenyataan ini ada dua alternatif yang dapat digunakan
yaitu meformulasikan konsep laba tunggal untuk memenuhi berbagai tujuan secara
umum atau menggunakan berbagai konsep laba dan menyajikan secara jelas konsep
laba tersebut secara khusus.
Tanpa memperhatikan masalah yang muncul, informasi laba sebenarnya dapat
digunakan untuk memenuhi berbagai tujuan. Tujuan pelaporan laba adalah untuk
menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan. Informasi
tentang laba perusahaan dapat digunakan:
a. Sebagai indikator efisiensi penggunaan data yang tertanam dalam
perusahaan yang diwujudkan dalam tingkat kembalian (rate of return on
invested capital)
b. Sebagai pengukur prestasi manajemen
c. Sebagai dasar penentuan besarnya pengenaan pajak
d. Sebagai alat pengendalian alokasi sumber daya ekonomi suatu negara
e. Sebagai dasar kompensasi dan pembagian bonus
f. Sebagai alat motivasi manajemen dalam pengendalian perusahaan
g. Sebagai dasar untuk kenaikan kemakmuran
h. Sebagai dasar pembagian deviden

13.2. Pengukuran dan Pengakuan Laba

Pengukuran terhadap laba merupakan penetuan jumlah rupiah laba yang dicatat dan
disajikan dalam laporan keuangan. Pengukuran besarnya laba sangat tergantung pada
besarnya pendapatan dan biaya. Karena laba adalah bagian dari pendapatan, maka konsep
penghimpunan dan realisasi pendapatan juga berlaku untuk laba. Dengan demikian perlakuan
akuntansi terhadap laba tidak akan menyimpang dari perlakuan akuntansi terhadap
pendapatan.

Oleh karena laba merupakan selisih antara pendapatan dan biaya, secara umum laba
diakui sejalan dengan pengakuan pendapatan dan biaya. Dalam konsep dasar penyusunan dan
penyajian laporan keuangan, IAI (1994) menyatakan bahwa:

Penghasilan (income) akan diakui apabila kenaikan manfaat ekonomi dimasa


mendatang yang berkaitan dengan peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi
dan jumlahnya dapat diukur dengan andal. (paragraf 92).

Secara konseptual ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur laba
yaitu:

A. Pendekatan Transaksi
Pendekatan transaksi menganggap bahwa perubahan aktiva/hutang (laba)
terjadi hanya karena adanya transaksi, baik internal maupun eksternal. Transaksi
eksternal timbul karena adanya transaksi yang melibatkan perubahan aktiva/hutang
dengan pihak luar perusahaan. Transaksi internal timbul dari pemakaian atau konversi
aktiva dalam perusahaan. Pada saat transaksi eksternal terjadi, nilai pasar dapat
dijadikan dasar untuk mengakui pendapatan. Transaksi internal berasal dari
pemakaian atau konversi aktiva. Apabila konversi telah terjadi, maka nilai aktiva lama
akan dirubah menjadi aktiva baru. Konsep / pendekatan ini sama dengan konsep
realisasi pendapatan. Pendekatan ini memiliki beberapa kebaikan yaitu :
a. Komponen laba dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara, misalnya : atas
dasar profuk/konsumen.
b. Laba operasi dapat dipisahkan dari laba non operasi
c. Dapat dijadikan dasar dalam penentuan tipe dan kuantitas aktiva dan
hutang yang ada pada akhir periode.
d. Efisiensi usaha memerlukan pencatatan transaksi external untuk berbagai
tujuan
e. Berbagai laporan dapat dibuat dan dikaitkan antara laporan yang satu
dengan yang lainnya.

B. Pendekatan Kegiatan
Laba dianggap timbul bila kegiatan tertentu telah dilaksanakan. Jadi, laba bisa
timbul pada tahap erencanaan, pembelian, produksi, penjualan dan pengumpulan kas.
Dalam penerapannya, pendekatan ini merupakan perluasan dan pendekatan transaksi.
Sementara pendekatan kegiatan didasarkan pada peristiwa/kegiatan dalam arti luas,
tidak dibatasi pada kegiatan dengan pihak luar. Meskipun demikian, keduanya gagal
menunjukkan pengukuran laba dalam dunia nyata. Hal ini disebabkan 2 pendekatan
tersebut didasarkan pada hubungan struktural yang sama yang tidak ada dalam dunia
nyata. Kebaikan pendekatan kegiatan adalah:
1. Laba berasal dari produksi dan penjualan barang memerlukan jenis
evaluasi dan produksi yang berbeda dibandingkan laba yang berasal dari
pembelian dan penjualan surat berharga yang ditujukan pada usaha
memperoleh data capital gain.
2. Efisiensi manajemen dapat diukur dengan lebih baik laba diklarifikasikan
menurut jenis kegiatan yang menjad tanggungjawab manajemen.
3. Memungkinkan prediksi yang lebih baik karena adanya perbedaan pola
perilaku dari jenis kegiatan yang berbeda.
C. Pendekatan Mempertahankan Kemakmuran (Capital Maintenance Concept)
Dalam konsep disini dimaksudkan sebagai kapital dalam arti kekayaan bersih
dalam arti yang luas dan dalam berbagai bentuknya. Jadi kapital diartikan sebagai
sekelompok kekayaan tanpat memperhatikan siapa yang memiliki kekayaan tersebut.
Kam (1990) mendefinisikan laba sebagai berikut :
Laba (income) adalah perubhan dalam kapital perusahaan diantara dua titik
waktu yang berbeda (awal dan akhir), diluar perubahan karena investasi oleh pemilik
distribusi kepada pemilik, dimana kapital dinyatakan dalam bentuk nilai (value) dan
didasarkan pada skala pengukuran tertentu (p. 194).
Sementara itu hendrkson (199 ) mengartikan kapital dan laba sebagai berikut:
laba adalah aliran jasa sepanjang periode waktu. Kapital adalah persediaan
kemakmuran (the embodyment of future services), dan laba merupakan aliran
kemakmura yang dapat dinikmati selama periode tertentu (p.142)

Dari pengertian diatas, dapat dirumuskan bahwa atas dasar konsep kapital sebagai
tingkat kemakmuran, maka laba merupakan aliran kemakmuran yang dapat
dikonsumikan (dinikmati) selama 1 periode, tanpa mengurangi tingkat kemakmuran.
Dengan demikian laba dapat diukur dari selisih antara tingkat kemakmuran pada akhir
periode dengan tingkat kemakmuran pada awal periode {laba = total aktiva neto
(akhir periode) – kapital yang diinvestasikan (awal periode)}. Kapital yang digunakan
dalam konsep ini adalah kapital neto (net-worth) atau aktiva neto.

1. Nilai (Unit Pengukur)


Nilai menunjukkan preferensi seseorang terhadap barang tertentu karena
adanya manfaat yang diharapkan dari barang tersebut. Oleh karena nilai bersifat
subyektif dan sulit diukur, maka harga pasar dianggap sebagai nilai yang paling
obyektif untuk mengukur suatu barang (obyek) tersebut.
2. Jenis Kapital
Dalam akuntansi, kapital secara umum diartikan sebagai aktiva neto, yaitu
selisih antara jumlah aktiva dan jumlah hutang. Laba tidak akan dioeroleh bila
jumlah kapital awal tidak dapat dipertahankan.
a. Kapital finansial
Lebih memusatkan perhatian pada nilai moneter dari aktiva dibanding nilai
hutang. Oleh karena itu, kapital ini menunjukkan kontribusi pemilik ke dalam
perusahaan yang menandai aktiva tersebut.
b. Kapital fisik
Kapital fisik memusatkan perhatian pada kemampuan (sumber-sumber
ekonomi) yang dimiliki perusahaan untuk menghasilkan laba melalui kegiatan
produksi barang/jasa. Karena kapasitas produksi ditunjukkan oleh aktiva yang
dimiliki pada periode berjalan, maka nilai (unit pengukur) yang relevan
adalah current cost atau replacement cost. Kapasitas produksi tersebut dapat
berupa :
- Aktiva nonmoneter dimiliki perusahaan
- Volume produksi
- Volume penjualan

D. Holding Gains atau Capital Maintance Adjusment?


Perbedaan utama kapital fisik dan financial terletak perlakuan terhadap
perubahan nilai aktiva hutang dalam penentuan laba. Menurut konsep kapital
finansial perubahan nilai aktiva dan hutang merupakan bagian dari laba.
13.3 Elemen Laba

Laba dapat dijadikan ukuran untuk menilai keberhasilan perusahaan. Pengukuran


terhadap laba tidak akan memberikan informasi yang bermanfaat bila tidak menggambarkan
sebab-sebab timbulnya laba.

A. Konsep laba periode (Earnings)


Konsep ini dimaksudkan untuk mengukur efisiensi suatu perusahaan. Efisiensi
ini berhubungan dengan sumber-sumber ekonomis perusahaan untuk memperoleh
laba. Ukuran efisiensi umumnya dilakukan dengan membandingkan laba periode
berjalan dengan laba periode sebelumnya atau dengan laba perusahaan lain pada
industri yang sama.
Konsep laba periode memusatkan perhatiannya pada operasi periode berjalan
yang berasal dari kegiatan normal perusahaan. Oleh karena itu, yang termasuk elemen
laba adalah peristiwa atau perubahan nilai yang dapat dikendalikan manajemen yang
berasal dari keputusan-keputusan periode berjalan.

B. Laba Komprehensif (Comprehensive Income)


FASB dalam SFAC No.3 dan 6 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
laba komprehensif adalah total perubahan aktiva bersih (eekuitas) perusahaan selama
satu periode, yang berasal dari semua transaksi dan kegiatan lain dari sumber yang
berasal dari pemilik. Atau dengan kata lain, laba komprehensif terdiri atas seluruh
perubahan aktiva bersih yang berasal dari transaksi operasi.

13.4 Elemen Non-Operasional

Elemen laba non-operasional dala laporan laba-rugi mulai berkembang sejak


dikeluarkannya APB Opinion No.4 “Reprting the Result of Operating” pada tahun 1996.
Kemampuan untuk membedakan elemen opersional (yang berasal dari kegiatan normal dan
berlangsung terus-menerus) dengan elemen non-operasional merupakan upaya penting yang
diperlukan dalam mengevaluasi hasil kegiatan tahun berjalan dan periode masa lalu dan untu
memprediksi hasil kegiatan di masa yang akan datang. Elemen non-operasional adalah pos
luar biasa (extraodinary item), kegiatan yang dihentikan (discontinued operation), dan
perubahan akuntansi (accounting canges) .

A. Extraodinary items
Extraodinary items adalah peristiwa atau transaksi yang memiliki pengaruh material,
dan diharapkan jarang terjadi serta tidak berasal dari faktor yang sifatnya berulang-
ulang daam kegiatan usaha normal perusahaan (APB Opinion No. 30 “Reprting the
Result of Operating” pada tahun 1973 yang menyebutkan bahwa elemen laporan
keuangan dikatakan sebagai extraodinary items jika memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Tidak umum (unusual), artinya peristiwa atau transaksi yang mendasari elemen
tersebut harus memiliki tingkat abnormal yang tinggi dan tidak berkaitan dengan
kegiatan normal perusahaan yang berlangsung terus menerus, sesuai dengan
kondisi lingkungan tempat perusahaan menjalankan kegiatannya.
b. Jarang terjadi (infrequency of ocurrence), artinya peristiwa atau transaksi yang
mendasari elemen tersebut merupakan tipe transaksi yang diharapkan jarang
terjadi dimasa mendatang sesuai dengan kondisi lingkungan tempat perusahaan
menjalankan kegiatannya.

B. Penghentian Segmen Bisnis


Segemen bisnis merupakan komponen dari entitas yang egiatannya
menunjukkan lini bisnis yang terpisah atau berdasarkan kelas konsumen. Kegiatan
yang membedakan segmen adalah kegiatan yang secara fisik dan operasional dapat
dipisahka dari aktiva lain, hasil usaha dari kegiatan lain dari kegiatan entitas pelapor.
Penghentian segmen bisnis berarti kegiatan operasional tersebut dihentikan atau
dijual. Apabila penhentian segmen bisnis ini dilakukan maka harus ada pengakuan
untung atau rugi penghentian tersebut pada tanggal pengukuran. Tanggal pengukuran
adalah tanggal saat manajemen memiliki komitmen resmi untuk menghentikan
segmen bisis. Untung atau rugi yang akan diakui termasuk dua faktor berikut ini :
1. Laba atau rugi kegiatan segen mulai tanggal pengukuran sampai tanggal
penghentian,
2. Untung atau rugi penghentian segmen.

C. Perubahan Akuntansi
Perubahan akuntansi yang dilakukan perusahaan kemungkinan dapat
mempengaruhi laporan keuangan baik tahun berjalan maupun trend yang terdapat
dalam laporan keuangan komparatif. Perubahan akuntansi dikelompokkan ke dalam 3
jenis yaitu :
1. Perubahan prinsip akuntansi, yaitu perubahan yang terjadi dimana
perusahaan memilih metode akuntansi yang berbeda dengan metode yang
digunakan sebelumnya.
2. Perubahan estimasi akuntansi, yaitu perubahan taksiran jumlah tertentu
atas jumlah yang telah ditentukan pada periode sebelumnya.
3. Perubahan entitas pelapor, yaitu perubahan yang berkaitan dengan status
entitas pelapor sebagi akibat konsolidasi, perubahan anak perusahaan
tertentu atau perubahan jumlah perusahaan yang dikonsolidasikan.

D. Penyesuaian periode sebelumnya


Perlakuan akuntansi untuk penyesuaian periode sebelumnya sangat
sederhana. Jumlah penyesuaian sebelumnya dibebankan atau dikredit kesaldo
laba ditahan awal periode. Jumlah tersebut adalah jumlah neto setelah
diperhitungkan aspek pajak sehingga jumlah tersebut tidak diperhitungkan
dalam penentuan laba bersih berjalan.
Berkaitan dengan perubahan prinsip akuntansi, penyesuaian periode
sebelumnya tetap diperlukan dengan nama rekening “pengaruh kumulatif
perubahan prinsip akuntansi” khusus untuk kasus berikut ini :
1. Perubahan metode penilaian persediaan dari LIFO ke metode
lainnya.
2. Perubahan metode akuntansi kontrak kontruksi jangka panjang
3. Perubahan ke atau dari metode full cost untuk akuntansi minyak
dan gas
4. Perubahan dari akuntansi penghentian, penggantian, perbaikan ke
akuntansi depresiasi dalam akuntansi untuk rel kereta api.
5. Perubahan dari metode cost ke equity untuk investasi saham.

13.5 Income Smoothing

Salah satu fenomena menarik dalam akuntansi yang beraitan dengan laba adalah
kejadian yang berkaitan dengan perataan laba (income smoothing). Ada beberapa pendapat
mencoba menguji secara empiris kebenaran praktk income smoothing yang dilakukan oleh
manajer.

Perataan laba adalah normalisasi laba yang dilakukan secara sengaja untuk mencapai trend
atau level laba tertentu (Belkaouni, 1993). Berikut defisini yang dikemukakan oleh
Beidelman (1973)tentang perataan laba, yaitu perataan laba yang dilaporkan dapat
didefiisikan sebagi usaha yang sengaja untuk meratakan atau memfluktuasikan tingkat laba
sehingga pada saat sekarang dipandang normal bagi suatu perusahaan. Dalam hal ini,
perataan laba menunjukkan suatu usaha manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi
abnormal laba dalam batas-batas yang diijinkan dalam praktik akuntansi dan prinsip
manajemen yang wajar (sound).

Ada beberapa alasan yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa manajer
melakukan perataan laba. Heyworth (1953) menyatak bahwa motivasi mendorong
dilakukannya perataan laba adalah untuk memperabaiki hubungan dengan kreditor, investor
dan karyawan, seerta meratakan siklus bisnis melalui proses psikologis.