Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Proses globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan di dalam
perekonomian dunia, yang bersifat mendasar atau structural dan akan berlangsung
terus dalam laju yang semakin pesat, mengikuti kemajuan teknolog yang juga
prosesnya semakin cepat. Perkembangan ini telah meningkatkan kadar hubungan
saling ketergantungan dan juga mempertajam persaingan antar negara, tidak
hanya dalam perdagangan internasional tetapi juga dalam kegiatan investasi,
finansial dan produksi. Globalisasi ekonomi ditandai dengan semakin menipisnya
batas-batas kegiatan ekonomi atau pasar secara nasional atau regional, tetapi
semakin mengglobal menjadi “satu” proses yang melibatkan banyak negara.
Dalam tingkat globalisasi yang optimal arus produk dan faktor-faktor
produksi lintas negara atau regional akan selancar lintas kota di suatu negara atau
desa didalam suatu kecamatan. Semakin menipisnya batas-batas kegiatan ekonomi
secara nasional maupun regional disebabkan oleh banyak hal, diantaranya
menurut Halwani adalah komunikasi dan transportasi yang semakin canggih dan
murah, lalu lintas devisa yang semakin bebas, ekonomi negara yang semakin
terbuka, penggunaan secara penuh keunggulan komparatif dan keunggulan
kompetitif tiap-tiap negara, metode produksi dan perakitan dengan organisasi
manajemen yang semakin efisien, dan semakin pesatnya perkembangan
perusahaan multinasional di hampir seantero dunia. Selain itu, penyebab-
penyebab lainnya adalah semakin banyaknya industry yang bersifat footloose
akibat kemajuan teknologi (yang mengurangi pemakaian sumber daya alam),
semakin tingginya pendapatan rata-rata per kapita, semakin majunya tingkat
pendidikan mayarakat dunia, ilmu pengetahuan dan teknologi di semua bidang,
dan semakin banyaknya jumlah penduduk dunia.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Globalisasi?
2. Bagaimana Globalisasi yang terjadi di Bidang Ekonomi?
3. Apa dampak dari Globalisasi Ekonomi?
4. Apa saja Faktor-faktor Produksi?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Globalisasi
2. Untuk mengetahui Globalisasi yang terjadi di Bidang Ekonomi
3. Untuk mengetahui dampak dari Globalisasi Ekonomi
4. Untuk mengetahui Faktor-faktor Produksi

2
BAB II

GLOBALISASI EKONOMI DAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI

A. Pengertian Globalisasi
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan
peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia
diseluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan
bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan
internasionalisasi, dan istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering
menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran
negara atau batas-batas negara.
Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah
universal. Globalisasi belum memiliki devinisi yang mapan, kecuali sekedar
devinisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang
melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses
sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara
didunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru
atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi
dan budaya masyarakat.
Mitos yang hidup selama ini tentang globalisasi adalah bahwa proses
globalisasi akan membuat dunia seragam. Proses globalisasi akan menghapus
identitas dan jati diri. Kebudayaan lokal atau etnis akan ditelan oleh kekuatan
budaya besar atau kekuatan budaya global. Anggapan atau jalan pikiran diatas
tersebut tidak sepenuhnya benar. Kemajuan teknologi komunikasi memang telah
membuat batas-batas dan jarak menjadi hilang dan tak berguna. John Naisbitt
(1988), dalam bukunya yang berjudul Global Paradox ini memperlihatkan hal
yang justru bersifat paradoks dari fenomena globalisasi. Naisbitt (1988)
mengemukakan pokok-poko pikiran lain yang paradoks, yaitu semakin kita
menjadi universal, tindakan kita semakin kesukuan, dan berfikir lokal, bertindak
global. Hal ini dimaksudkan kita harus mengkonsentrasikan kepada hal-hal yang

3
bersifat etnis yang hanya dimiliki oleh kelompok atau masyarakat itu sendiri
sebagai modal pengembangan ke dunia internasional.
Disisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang
diusung oleh negara-negara adikuasai, sehingga bisa saja orang memiliki
pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi
tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negar-
negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan
negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab,
globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan
berpengaruh terhadap bidang lain seperti budaya dan agama.

Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya


fenomena globalisasi didunia. Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang
antar negara menunjukkan keterkaitan antarmanusia diseluruh dunia.

 Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang


seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa
komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui
pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan
banyak hal dari budaya yang berbeda.
 Pasar dan produksi ekonomi dinegara-negara yang berbeda menjadi saling
bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional,
peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi
semacam Word Trade Organization (WTO).
 Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa
(terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olahraga
internasional). Saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan
dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam
budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur dan makanan.
 Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup,
krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

4
B. Globalisasi Ekonomi
Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan
perdagangan, dimana Negara-negara diseluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar
yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas territorial Negara.
Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan
hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa. Globalisasi perekonomian di satu
pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar
internasional secara kompetititf. Sebaliknya juga akan membuka peluang
masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.

Menurut Tanri Abeng, perwujudan nyata dari globalisasi ekonomi antara lain
terjadi dalam bentuk berikut :

1. Globalisasi produksi, dimana perusahaan berproduksi diberbagai Negara,


dengan sasaran agar biaya produksi menjadi lebih rendah. Hal ini
dilakukan baik karena upah buruh yang rendah, tariff bea masuk yang
murah, infrastruktur yang memadai atau karena iklim usaha dan politik
yang kondusif.
2. Globalisasi tenaga kerja, perusahaan akan mampu memanfaatkan tenaga
kerja dari seluruh dunia sesuai dengan kelasnya, seperti penggunaan staff
professional diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman
internasional atau buruh kasar yang diperoleh dari Negara berkembang.
Dengan globalisasi maka hokum movement akan semakin mudah dan
bebas.
3. Globalisasi pembiayaan, perusahaan global mempunyai akses untuk
memperoleh pinjaman atau melakukan investasi di semua Negara di dunia.
Sebagai contoh, PT. Telkom dalam memperbanyak satuan sambungan
telepon, atau PT. Jasa Marga dalam memperluas jaringan jalan tol telah
memanfaatkan sistem pembiayaan dengan pola BOT (Build-Operate-
Transfer) bersama mitra usaha dari mancanegara.
4. Globalisasi jaringan informasi, masyarakat suatu Negara dengan mudah
dan cepat mendapatkan informasi dari Negara-negara di dunia karena

5
kemajuan teknologi. Dengan jaringan komunikasi yang semakin maju
telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia. Sebagai
contoh: adanya KFC, celana jeans merek Levi’s atau hamburger melanda
pasar dimana-mana, akibatnya selera masyarakat dunia baik yang
berdomisisli di desa ataupun di kota menuju pada era globalisasi.
5. Globalisasi perdagangan, hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan
penyeragaman tariff serta penghapusan berbagai hambatan non-tarif.
Dengan demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin
cepat, ketat dan fair.

C. Dampak Globalisasi Ekonomi


Globalisasi ekonomi tentunya dapat membawa dampak positif maupun
dampak negative bagi negara Indonesia.
Thompson mencatat dampak positif dari globalisasi ekonomi yaitu kaum
globalis mengklaim bahwa saat ini telah terjadi sebuah intensifikasi secara cepat
dalam investasi dan perdagangan internasional. Misalnya secara nyata
perekonomian nasional telah menjadi bagian dari perekonomian global yang
ditengarai dengan adanya kekuatan pasar dunia. Melalui spesialisasi dan
perdagangan faktor-faktor produksi dunia dapat digunakan dengan lebih efisisen,
output dunia bertambah dan masyarakat akan mendapatkan keuntungan dari
spresialisasi dan perdagngan dalam bentuk pendapatanyang meningkat, yang
selanjutnya dapat meningkatkan pembelanjaan dan tabungan.
Perdagangan yang lebih bebas memungkinkan masyarakat dari berbagai
Negara mengimpor lebih banyak barang dari luar negeri. Hal ini menyebabkan
konsumen mempunyai pilihan barang yang lebih banyak. Selain itu, konsumen
juga dapat menikmati barang yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah.
Perdagangan luar negeri yang lebih bebas memungkinkan setiap Negara
memperoleh pasar yang jauh lebih luas dari pasar dalam negeri.
Modal dapat diperoleh dari investasi asing dan terutama dinikmati oleh
Negara-negara berkembang karena masalah kekurangan modal dan tenaga ahli
serta tenaga terdidik yang berpengalaman kebanyakan dihadapi oleh Negara-

6
negara berkembang. Pembangunan sector industri dan berbagai sector lainya
bukan saja dikembangkan oleh perusahaan asing, tetapi terutamanya melalui
investasi yang dilakukakn oleh perusahaan swasta domestik. Perusahaan domestic
ini seringkali memerlukan modal dari bank atau pasar saham. Dana dari luar
negeri terutama dari Negara-negara maju yang memasuki pasar uang dan pasar
modal di dalam negeri dapat membantu menyediakan modal yang dibutuhkan
tersebut.
Selain dampak positif, tentunya ada dampak negative dari globalisasi
ekonomi untuk Indonesia. Salah satu efek dari globalisasi adalah perkembangan
system perdagangan luar negeri yang lebih bebas perkembangan ini menyebabkan
Negara-negara berkembang tidak dapat lagi menggunakan tariff yang tinggi
untuk memberikan proteksi terhadap industri baru yang berkembang (infant
industry). Dengan demikian perdagangan luar negeri yang lebih bebas
menimbulkan hambatan kepada Negara berkembang untuk memajukan sector
industri domestik yang lebih cepat. Selain itu ketergantungan kepada indsutri-
industri yang dimiliki perusahaan multinasional semakin meningkat.
Globalisasi cenderung menaikan barang-barang impor. Sebaliknya apabila
suatu Negara tidak mampu bersaing maka ekspor tidak berkembang. Keadaan ini
dapat memperburuk kondisi neraca pembayaran. Efek buruk lain dari globalisasi
terhadap neraca pembayaran adalah pembayaran neto pendapatan faktor produksi
dari luar negeri cenderung mengalami defisist. Investasi asing yang bertambah
banyak menyebabkan aliran pembayaran keuntungan (pendapatan) investasi
keluar negeri semakin meningkat. Tidak berkembangnya ekspor dapat berakibat
buruk terhadap neraca pembayaran.
Salah satu efek penting dari globalisasi adalah pengaliran investasi
(modal) portofolio yang semakin besar investasi ini terutama meliputi partisipasi
dana luar negeri ke pasar saham. Ketika pasar saham sedangf meningkat, dana ini
akan mengalir masuk, neraca pembayaran bertambah baik dan nilai uang akan
bertambah baik. Sebaliknya, kalau harga-harga di pasar saham menurun, dana
dalam negeri akan mengalir ke luar negeri, neraca pembayaran cenderung menjadi
bertambah buruk dan nilai mata uang domestic merosot. Ketidakstabilan di sector

7
keuangan ini dapat menimbukan efek buruk kepada kestabilan kegiatan ekonomi
secara keseluruhan.
Apabila hal-hal yang dinyatakan yang dinyatakan diatas berlaku dalam
suatu Negara, maka dalam jangka pendek pertumbuhan ekonominya menjadi
tidak stabil. Dalam jangka panjang pertumbuhan yang seperti ini akan mengurangi
lajunya pertumbuhan ekonomi. Pendapatan nasional dan kesempatan kerja akan
semakin lambat pertumbuhanya dan masalah pengangguran tidak dapat diatasi
atau malah semakin memburuk. Pada akhirnya, apabila globalisasi menimbulkan
efek buruk kepada prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang suatu Negara,
distribusi pendapatan menjadi semakin tidak adil dan masalah sosial-ekonomi
masyarakat semakin bertambah buruk.

D. Faktor-Faktor Produksi
faktor produksi (factors of production) adalah input yang digunakan untuk
menghasilakan barang dan jasa. Dua faktor produksi yang paling penting adalah
modal dan tenga kerja. Modal adalah seperangkat sarana yang dipergunakan oleh
para pengerja: deret para pekerja bagunan, kulkulator akuntan, dan komputer vc.
Tenaga kerja adalah waktu yang dihabiskan orang untuk bekerja. Kita gunakan
simbol K untuk menunjukkan jumlah modal simbol L untuk menunjukkan tenaga
jumlah kerja.
Dengan kata lain, kita mengasumsikan bahwa perekonomian memiliki
sejumlah modal tetap dan sejumlah tenaga kerja tetap
𝐾=𝐾
𝐿=𝐿
Garis datar diatas menunjukkan bahwa setiap variabel adalah tetap. Kita
asumsikan bahwa faktor-faktor produksi digunakan sepenuhnya yaitu, tidak ada
sumber daya yang terbuang
Penawaran Barang dan Jasa
Kini kita bisa melihat bahwa faktor-faktor produksi dan fungsi produksi
bersama-sama menentukan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan, yang sama

8
dengan output perekonomian. Untuk menunjukkan hal ini secara matematiskita
tulis
̅ , 𝐿̅)
𝑌 = 𝐹(𝐾
= 𝑌̅
Kita mengasumsikan bahwa penawaran modal serta tenaga kerja dan
teknologi adalah tetap, maka output juga tetap.
Pendistribusian pendapatan nasional ke faktor-faktor produksi
Output total dari suatu perekonomian sama dengan pedapatan totalnya.
Karena sama-sama menentukan pendapatan nasional.diagram aliran sirkuler
menunjukkan bahwa, pendapatan nasional ini mengalir dari perusahaan ke rumah
tangga melalui pasar faktor-faktor produksi.
Dalam hal ini, kita akan terus mengembangkan model perekonomian kita
dengan membahas bagaimana faktor tersebut bekerja. Para ekonom sudah lama
mempelajari pasar faktor untuk memahami distribusi pendapatan. Misalnya, karl
marx, ekonom ke 19, menghabiskan waktunya untuk menjelaskan pendapatan dari
modal dan tenaga kerja. Falsafah politik komunisme sebagian didasarkan pada
teori Marx yang telah didiskreditkan ini.
Pendapatan nasional dibagi di antara faktor-faktor produksi. Teori ii
didasarkan pada pemikiran klasik (abad ke-18) harga disesuaikan untuk
menyeimbangkan penawaran dan permintaah, yang disini diterapkan pada pasar
faktor produksi, bersama dengan pemikiran yang lebih baru (abad ke-19) bahwa
permintaan atas setiap faktor produksi tergantung pada produktivitas marjinal
faktor produksi tersebut.
Harga Faktor Produksi
Distribusi pendapatan nasional ditentukan oleh harga-harga faktor, harga
faktor produksi (faktor price) adalah jumlah yang dibayar ke faktor-faktor
produksi. Pada suatu perekonomian dimana dua faktor produksi adalah modal dan
tenaga kerja, sementara dua harga faktor produksi adalah upah (wage) yang
diterima para pekerja dan sewa (rent) yang dikumpulkan oleh para pemilik modal.
Harga yang diterima setiap faktor produksi untuk jasa-jasanya ditentukan
oleh penawaran dan permintaan terhadap faktor tersebut. Karena kita

9
mengasumsikan bahwa faktor-faktor produksi perekonomian adalah tetap, kurva
penawaran faktor berbentuk tegak lurus. Dengan mengabaikan harga faktor
produksi, jumlah faktor produksi yang ditawarkan kepasar adalah sama.
Perpotongan kurva permintaan faktor yang berbentuk miring ke bawah dan kurva
penawaran vertikal menentukan ekuilibrium harga faktor.
Dari Produk Marginal Tenaga Kerja ke Permintaan Tenaga Kerja
Ketika sedang memutuskan apakah akan menggunakan satu unit tenaga
kerja tambahan atau tidak, perusahaan kompetitif yang memaksimalkan laba
mempertimbangkan agaimana keputusan itu akan mempengaruhi laba. Karena itu,
perusahaan membandingkan penerimaan ekstra dari kenaikan produksi yang
dihasilkan oleh tenaga kerja tambahan terhadap biaya tambahan dalam bentuk
upah yang lebih banyak Peningkatan penerimaan dari satu unit tenaga kerja
tambahan bergantung pada dua variabel : produk marjinal tenaga kerja dan harga
output. Krena tenaga kerja tambahan memproduksi unit output MPL dan setiap
unit output dijual seharga P dollar, penerimaan upah tambahan adalah P × MPL.
Biaya ekstra karena menggunakan lebih anyak tenaga kerja adalah upah w Jadi
perubahan dalam laba karena menggunakan lebih banyak tenaga kerja adalah
∆Laba = ∆Penerimaan - ∆Biaya
= (P × MPL) – W
Simbol ∆ (disebut delta) menyatakan perubahan sebuah variabel.
Sekarang kita bisa menjawab pertanyaan yang diajukan di awal bagian ini
: Berapa banyak tenaga kerja yang digunakan oleh perusahaan? Manajer
perusahaan mengtahui bahwa jika penerimaan tambahan P × MPL melebihi upah
W, unit tenaga kerja tambahan akan meningkatkan laba. Karena itu manajer terus
menambah tenaga kerja sampai unit berikutnya tidak lagi menguntungkan yauti,
sampai MPL berada pada titik dimana penerimaan tambahan sama dengan upah.
Permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja ditentukan dengan
P × MPL = W
Kita juga dapat menulisnya dengan
MPL = W/P

10
W/P adalah upah riil (real wage) pembayaran kepada tenaga kerja yang
diukur dalam unit output, bikan dalam mata uang. Untuk memaksimalkan laba,
perusahaan terus menarik tenaga kerja sampai pada titik dimana produk marginal
tenaga kerja sama dengan upah riil.
Sebagai contoh perhatikanlah pabrik roti ini. Anggaplah harga roti P
adalah $2 per buah, dan seorang pekerja menerima upah w sebesar $20 per jam .
Upah riil W/P adalah 10 roti per jam . Dalam contoh ini, perusahaan terus
menerima tenaga kerja selama tenaga kerja tambahan itu dapat memproduksi
sedikitnya 10 roti per jam . Ketika MPL menjadi 10 roti atau lebih sedikit,
menerima pekerja tambahan tidak lagi menguntungkan
Produk Marjinal Modal dan Permintaan Modal
Perusahaan memutuskan berapa banyak modal yang akan digunakan
dengan cara yang sama seperti memutuskan berapa banyak tenaga kerja yang akan
dipekerjakan. Produk Marjinal Modal ( marginal product of capital, MPK)
adalah jumlah output tambahan yang diperoleh perusahaan dari unit modal
tambahan , dengan mempertahankan jumlah tenaga kerja tetap konstan.
MPK = F(K + 1, L) – F(K, L)
Jadi produk marjinal modal adalah perbedaan antara jumlah output yang
diproduksi dengan K + 1 unit modal dan yang diproduksi hanya dengan K unit
modal.
Seperti tenaga kerja, moda adaah subjek dari produk marjinal yang
semakin menurun. Sekali lagi mari pertimbangkan produksi roti di pabrik roti.
Beberap oven pertama yang dipasang di dapur akan sangat produksi. Namun
demikian, jika pabrik roti terus menambah jumlah oven sementara jumlah pekerja
tetap, maka pabrik akan berisi lebih banyak oven daripada pegawai yang dapat
bekerja dengan efektif. Dengan demikian, produk marjinal dari beberapa oven
terakhir lebih rendah daripada bebrapa oven pertama .
Kenaikan laba dari menyewa mesin tambahan adalah penerimaan
tambahan dari menjual output mesin tersebut dikurangi harga sewa mesin:
∆Laba = ∆Penerimaan - ∆Biaya
= (P × MPK) – R

11
Untuk memaksimalkan laba, perusahaan akan terus menggunakan lebih
banyak modal hingga MPK turun sama dengan harga sewa riil
MPK = R/P
Harga sewa modal riil (real rental price of capital) adaah harga sewa
yang di ukur dalam unit barang, bukan dalam mata uang.
Untuk menyimpulkannya, perusahaan kompetitif ang memaksimalkan laba
mengkuti kaidah sederhana tentang berapa banyak tenaaga kerja dan modal yang
perlu digunakan. Perusahaan meminta setiap faktor produksi sampai produk
marjinal faktor tersbut sama dengan harga faktor riilnya.
Pembagian Pendapatan Nasional
Setelah menganalisis bagaimana perusahaan jumlah faktor yang akan
digunakan, kita bisa menjelaskan bagaimana faktor-faktor produksi itu
mendistriusikan pendapatan total perekonomian. Jika seluruh perusahaan dalam
perekonomian adalah kompetitif dan memaksiimalkan laba, maka setiap faktor
produksi dibayar brdasarkan kontribusi marjinalnya pada proses produksi. Upah
riil yang dibayar pada setiap pekerja sama dengan MPL dan harga sewa riil yang
dibayar kepada setiap pemilik modal sama dengan MPK. Karena itu, upah riil
total yang dibayar kepada tenaga kerja adalah MPL × L, dan pengembalian
riiltotal yang dibayarkan ke pemilik modal adalah MPK × K
Pendapatan yang tersisa setelah perusahaan membayar faktor-faktor
produksi adalah Laba Ekonomis (economiic profit) dari para pemilik perusahaan.
Laba ekonomis riil adalah
Laba Ekonomis = Y – (MPL × L) – (MPK × K)
Karena kita ingin menghitung distribusi pendapatan nasional, kita ubah
persamaan diatas menjadi
Y = (MPL × L) + (MPK × K) + Laba Ekonomis
Pendapatan total dibagi diantara pengembalian kepada tnaga kerja ,
pengembalian kepada modal, dan laba ekonomis
Berapakah bsarnya laba ekonomis? Jawabannya mengejutkan: jika fungsi
produksi memiliki sifat skala hasil konstan, yang kerap terjadi , maka laba
ekonomis harus sama dengan nol. Yaitu tidak ada yang tersisa setelah faktor-

12
faktor produksi di bayar. Kesimpulan itu mengiuti hasil matematis terkenal ang
disebut Teorema Euler, yang mengatakan bahwa jka fungsi produksi memiliki
skala asil konstan maka
F(K, L) = (MPK × K) + (MPL × L)
Jika setiap faktor produksi dibayar pada podujk marjinalnya, maka jumlah
pembayaran faktor ini sama dengan output total. Dengan kata lain, skala hasil
konstan, maksimasi laba, dan persaingan sama-sama mengimplikasikan bahwa
laba ekonomis adalah nol
Jika laba ekonomis adalah nol, bagaimana kita menjelaskan keberadaan
“laba” dalam perekonomian? Jawabannya adalah istilah “laba” yang biasa di
gunakan biasanya berbeda dengan laba ekonomis. Kita telah mengansumsikan
bahwa ada tiga jenis pelaku ekonomi: pekerja, pemilik modal, dan pemilik
perusahaan. Pendapatan total dibagi di antara upah, pengembalian modal dan laba
ekonomis. Namun demikian dalam dunia nyata, sebagian besar perusahaan
memiliki modal sendiri dan bukan menyewa modal yang mereka gunakan.
Karena pemiliki perusahaan dan pemilik modal adalah orang yang sama, laba
ekonomis dan pengambilan modal (return to capital) seringkali disatukan. Jika
kita menyebut definisi alternatif ini sebagai laba akuntansi (accaunting profit),
maka:
Laba Akuntansi = Laba Ekonomis + (MPK × K)
Menurut asumsi kita skala hasil konstan, maksimisasi laba, dan persaingan
laba ekonomis adalah nol. Jika asumsi ini mendekati gambardunia nyata maka
laba dalam pos pendapatan nasional seharusnya menjadi pengembalian modal.

E. Contoh Kasus
Perdagangan Bebas Indonesia-Australia
Pemerintah Indonesia dan Australia resmi menandatangani IA-CEPA pada
Senin (04/03) di Jakarta, sembilan tahun sejak pertama kali perjanjian itu
dirumuskan. Perjanjian ini akan diratifikasi oleh kedua negara dan ditargetkan
akan berlaku di akhir tahun ini.

13
Perjanjian, yang ditandatangani Menteri Perdagangan Indonesia H.E.
Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata dan Investasi Australia,
Simon Birmingham, di antaranya mengatur tarif dagang antara ke dua negara.
Melalui IA-CEPA, Indonesia akan mendapatkan fasilitas 100% bebas bea
masuk ke Australia. Sementara, secara bertahap, Australia mendapatkan bebas bea
masuk ke Indonesia sebesar 94 persen.
Industri yang akan terdampak dari perjanjian ini antara lain pangan,
pertanian, otomotif, tekstil, dan furnitur.
Sejauh ini, Indonesia bergantung pada Australia dalam hal pengadaan
daging sapi dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada
tahun 2017 Indonesia mengimpor daging sapi sekitar 160.000 ton. Sebesar 53%
daging sapi impor tersebut berasal dari Australia.
Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina,
Tatok Djoko Sudiarto, mengatakan perjanjian ini dapat menyebabkan mayoritas
stok daging Indonesia berasal dari Australia. Hal itu, ujarnya, akan berimplikasi
pada harga daging impor yang lebih murah dibanding harga lokal.
Keadaan itu, kata Tatok, akan menekan peternak lokal dan menghambat
swasembada peternakan.
“Kalau kanal impor peternakannya dibuka lumayan kencang, policy untuk
pengembangan peternakan dalam negeri akan lebih hancur karena grand
designpeternakan dalam negerinya kan nggak jelas, Dengan guyuran produksi
sapi luar negeri, maka insentif untuk pengembangan sapi dalam negeri kan
rendah. Kalau insentif rendah, kita kan lebih baik impor," Kata Tatok
Secara nasional, katanya, Indonesia akan semakin tergantung pada
Australia dalam hal penyediaan daging sapi.

14
DAFTAR PUSTAKA

Apridar. (2009). Ekonomi Internasional. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Mankiw, N. G. (2007). Makro Ekonomi. PT. Gelora Aksara Pratama.

Wijaya, C. (2019, Maret 5). Perdagangan bebas Indonesia-Australia, akankah


mengancam peternakan lokal. Retrieved Mei 23, 2019, from
www.bbc.com: https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-47438671

15