Anda di halaman 1dari 32
K. Subroto
K. Subroto
K. Subroto

K. Subroto

K. Subroto

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

TUANKU IMAM BONJOL & GERAKAN PADRI

K. Subroto

Laporan Khusus

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Gambar cover diambil dari buku Christine Dobbin, “Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri,” halaman 187.

ABOUT US

Laporan ini merupakan sebuah publikasi dari Lembaga Kajian Syamina (LKS). LKS merupakan sebuah lembaga kajian independen yang bekerja dalam rangka membantu masyarakat untuk mencegah segala bentuk kezaliman. Publikasi ini didesain untuk dibaca oleh pengambil kebijakan dan dapat diakses oleh semua elemen masyarakat. Laporan yang terbit sejak tahun 2013 ini merupakan salah satu dari sekian banyak media yang mengajak segenap elemen umat untuk bekerja mencegah kezaliman. Media ini berusaha untuk menjadi corong kebenaran yang ditujukan kepada segenap lapisan dan tokoh masyarakat agar sadar realitas dan peduli terhadap hajat akan keadilan. Isinya mengemukakan

gagasan ilmiah dan menitikberatkan pada metode analisis dengan uraian yang lugas dan tujuan yang legal. Pandangan yang tertuang dalam laporan ini merupakan pendapat yang diekspresikan oleh masing-masing penulis.

Untuk komentar atau pertanyaan tentang publikasi kami,

kirimkan e-mail ke:

lk.syamina@gmail.com.

Seluruh laporan kami bisa didownload di website:

www.syamina.org

2

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Daftar Isi — 3 Executive Summary — 4

DAFTAR ISI

Tuanku Imam Bonjol Dan Gerakan Padri, Pahlawan Nasional, Jihadis, dan Transnasional — 6 Miliu Minangkabau — 8 Dari Mekah Ke Bukit Kamang, Sejarah munculnya Padri di Minangkabau — 10 Masyarakat Bukan Padri — 13 Perang Padri, Jihad Kaum Putih — 14 Periode I: Jihad Kaum Padri melawan Kaum Adat (1809 – 1821) — 14 Deklarasi Jihad Tuanku Nan Renceh — 14 Penerapan Hukum Islam dan Kemakmuran di Era Padri — 17 Sistem pemerintahan — 18 Wilayah Kekuasaan Padri — 18 Kekuatan Tentara Padri — 19 Periode II: Jihad Kaum Padri Melawan Belanda dan Kaum Adat (1821 – 1832) — 20 Periode III: Jihad Kaum Padri dan Kaum Adat melawan Penjajah Belanda (1832 – 1837) — 22 Kelemahan dan Faktor Penyebab Kekalahan Imam Bonjol — 30 Para Pemimpin Padri lainnya — 30 Penutup — 31

Daftar Pustaka — 32

3

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

EXECUTIVE SUMMARY

T uanku Imam Bondjol adalah pahlawan nasional

Indonesia abad kesembilan belas awal, yang

sering dianggap Wahhabi, pemimpin paling

terkenal Perang Padri. Dalam sejarahnya, Perang Padri bisa dianggap sebagai awal munculnya ancaman kelompok Islam di Asia Tenggara. Fenomena ini diawali dari kembalinya orang-orang yang pulang dari menunaikan ibadah haji di Mekah. Di bawah pengaruh pemikiran Wahabi, mereka mencoba untuk memurnikan penerapan ajaran Islam di Sumatra, yang berujung pada terjadinya konflik kekerasan dengan masyarakat lokal Muslim (kaum adat) dan penjajah Belanda pada tahun 1830-an.

Selama beberapa dekade nama Tuanku Imam Bonjol, ulama, Pejuang perang paderi hadir di ruang publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama

universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001. Tuanku Imam Bonjol (1722- 1864), diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November

1973.

Setelah peristiwa 11 September di AS, ada beberapa perdebatan seputar Padri dan Imam Bondjol yang memakai sorban dan berjenggot panjang. Ada yang menggugat kenapa Indonesia memasukkan teroris Islam sebagai pahlawan dan bahkan gambarnya dicetak dalam uang kertas lima ribu rupiah oleh Bank Indonesia. Namum secara umum para ahli sejarah Indonesia tidak mempermasahkan hal itu, karena proklamator Indonesia sendiri, Soekarno dan Muhammad Hatta menyebut Imam Bonjol Sebagai Pahlawan Indonesia.

Di Belanda pada tahun 1928, Mohammad Hatta menyampaikan pidato berbahasa Belanda dengan tema FreeIndonesia.” Dalam sambutannya, Hatta mengkritik kebijakan kolonial Belanda yang memaksa rakyatnya untuk mempelajari legenda heroik William Tell, Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, William orange, dan lain-lain dan pada saat yang sama meremehkan tindakan Indonesia yang menentang Penjajahan Eropa:

“So too must Indonesian youth parrot its masters and call its own heroes, like Dipo Negoro, Toeankoe Imam, Tengkoe Oemar and many others, rebels, insurgents, scoundrels, and so on”

“Pemuda Indonesia juga dipaksa menjuluki pahlawan sendiri, seperti Diponegoro, Toeankoe Imam, Tengku Oemar dan banyak lainnya, sebagai pemberontak, pengacau, penjahat, dan sebagainya”.

Menariknya dalam terjemahan buku Muhammad Hatta pada tahun 1972 kata scoundrels diterjemahkan dengan kata ‘teroris’, satu hal yang tidak mungkin digunakan untuk menerjemahkan kata itu hari ini.

Kondisi Minangkabau sendiri waktu itu penuh dengan kemerosotan moral di masyarakat. Hingga akhirnya terjadi upaya untuk melakukan perbaikan yang dipelopori para ulama Minangkabau yang baru pulang dari Mekah, yang kemudian disebut sebagai kaum Padri. Gerakan tersebut mendapatkan dukungan yang begitu besar dari masyarakat Minangkabau saat itu. Hal itu terjadi karena reformasi yang digulirkan berhasil meningkatkan kemakmuran rakyat Minangkabau. Disamping itu, rakyat sudah lama kecewa dengan kepemimpinan para penghulu serta kemunduran perdagangan dan ekonomi minangkabau. Christine Dobbin, seorang peneliti dari Australia dalam tulisannya, “Economic Change In Minangkabau As A Factor In The Rise Of The Padri Movement, 1784-1830” mengakui kemajuan yang berhasil dicapai atas reformasi (yang lebih tepatnya disebut revolusi karena menyangkut berbagai aspek kehidupan walaupun yang paling tampak adalah praktek beragama, ekonomi dan politik) yang dipelopori oleh para ulama Minang ini.

Dalam konsep adat Minangkabau sendiri terdapat sistem dua laras: Koto Piliang dan Bodi

4

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Caniago. Koto Piliang lebih bersifat hirarkis, sedangkan Bodi Caniago lebih didasarkan pada prinsip network yang lebih egaliter, di mana nagari dipegang oleh sekelompok penghulu yang merepresentasikan suku-suku yang terpandang. Tidak lama setelah terjadinya islamisasi pada abad ke-16, sistem pemerintahan di Minangkabau menganut tiga raja: Raja Alam (raja dunia), Raja Adat (raja hukum adat), dan Raja Ibadat (raja agama Islam). Ketiganya disebut sebagai Raja Tiga Selo. Dalam realitasnya kerajaan tidak pernah berfungsi sebagai institusi pemerintahan di daerah inti (luhak), yaitu; Agam, Tanah datar, dan Lima Puluh Kota. Jantung Minangkabau yang disebut darat ini tidak diperintah oleh raja, tetapi oleh penghulu (kepala adat) dengan pola organisasi sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip genealogis. Daerah inilah yang menjadi basis gerakan Padri. Mereka tidak pernah berada dalam kontrol raja. Keluarga kerajaan hanya memerintah daerah rantau, daerah pinggiran pantai, yang didasarkan pada perspektif teritorial.

Selain itu, Minangkabau juga merupakan etnis yang menganut konsep matrilineal terbesar di dunia Islam. Konsep ini bertentangan dengan Islam yang menggunakan konsep patrilineal. Kondisi ini, ditambah dengan berbagai kerusakan moral, mulai dari maraknya candu, perjudian, sabung ayam, perampokan, pembegalan, hingga penculikan memicu lahirnya gerakan pembaruan yang berusaha melakukan perbaikan di masyarakat.

Usaha perbaikan ini diawali oleh Tuanku Nan Tuo pada tahun 1784-1803 dengan menggunakan metode dakwah yang pada akhirnya terkadang tidak bisa dihindarkan dari benturan fisik. Usaha perbaikan ini kemudian memasuki babak baru yang diawali oleh kedatangan tiga orang haji dari Mekah, yaitu Haji Miskin, Haji Abdurrahman, dan Haji Muhammad Arif yang memilih pendekatan kekuatan dan kekuasaan dalam menerapkan Syariat Islam.Gerakan mereka ini kemudian dikenal sebagai Gerakan Padri.

Haji Miskin memandang bahwa perubahan secara menyeluruh pada masyarakat Minangkabau menuju masyarakat yang Islami bisa dicapai secara sah (syar’i) melalui penggunaan kekuatan. Merasa tidak puas dengan pola akomodatif yang dilakukan oleh Tuanku Nan Tuo, Haji Miskin menemukan partner yang tepat dalam diri Tuanku Nan Renceh,

yang memiliki pandangan yang sama bahwa perubahan bisa dilakukan dengan penggunaan kekuatan. Bukit Kamang, kampung Tuanku Nan Renceh, menjadi daerah basis bagi gerakan Padri untuk melakukan reformasi di masyarakat. Secara bertahap, Tuanku Nan Renceh mampu membangun aliansi yang kuat dengan tujuh ulama lainnya di Agam.

Jihad pun mulai dilakukan. Dalam proses jihad periode pertama, yang ditandai dengan perlawanan antara kaum Padri dan kaum Adat terjadi beberapa tindakan yang dianggap berlebihan. Namun mereka berhasil mendirikan daerah basis di Bonjol yang menjadi basis pemerintahan yang menjalankan Syariat dan membawa kemakmuran di Minangkabau. Dalam periode kedua, merupakan kenyataan sejarah bahwa kaum Adat yang beragama Islam justru meminta bantuan kepada Belanda yang kafir, sesuatu yang sangat terlarang dalam Islam dan di kemudian hari akhirnya mereka sesali saat melihat kekejaman Belanda. Pada periode ketiga, kaum Adat akhirnya bersekutu dengan kaum Padri untuk melawan penjajahan Belanda. Menghadapi persatuan dari rakyat Minangkabau, penjajah Belanda mengerahkan pasukan dari koalisi internasional yang didatangkan dari Jawa, Batavia, Bugis, Madura, Sepoy, Eropa, dan Afrika. Pada akhirnya, kaum Padri bersama kaum adat kalah dari pasukan koalisi pimpinan Belanda. Tuanku Imam Bonjol diasingkan, namun beberapa pengikut Imam Bonjol meneruskan gerilya di beberapa nagari di Minangkabau, meskipun pada akhirnya mereka dapat ditaklukkan Belanda. Tuanku Imam Bonjol, dengan jalan jihad yang ditempuhnya dalam perjuangan melawan penjajah Belanda, pada akhirnya diangkat menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

TUANKU IMAM BONJOL DAN GERAKAN PADRI Pahlawan Nasional, Jihadis, dan Transnasional

“Pemuda Indonesia dipaksa memanggil pahlawan sendiri, seperti Diponegoro,

Toeankoe Imam, Tengku Oemar dan banyak lainnya, sebagai pemberontak, pengacau, penjahat, dan sebagainya”.

(Muhammad Hatta, Proklamator RI. Dikutip dari The Journal of Asian Studies Vol. 67, No. 3, August 2008)

The Journal of Asian Studies Vol. 67, No. 3, August 2008) Gb.1. Gambar Tuanku Imam Bonjol

Gb.1. Gambar Tuanku Imam Bonjol (oleh Hubert de Stuers sekitar 1820) 1

Gelar yang diberikan kepadanya adalah “Tuanku Imam Bondjol”. Nama kecilnya Muhamad Sahab dan kemudian setelah dewasa mempunyai nama Peto Syarif. Ia lahir di Minangkabau Sumatera Barat sekitar tahun 1772 dan meninggal di Sulawesi Utara pada tahun 1864. “Tuanku” adalah gelar yang diberikan kepada ulama terkemuka di Sumatera Barat yang diakui keilmuannya dalam bidang tauhid,

1

http://id.wikipedia.org/wiki/Tuanku_Imam_Bonjol

fikih, dan tasawuf. “Imam” menandakan bahwa ia adalah seorang pemimpin agama, meskipun nama kedua ini biasanya mengacu kepada beberapa karakteristik individu seorang alim. “Bondjol” adalah ejaan lama dari kota Bonjol, di mana dia membangun benteng pada tahun 1833-1837 dan memimpin perang melawan aneksasi Belanda di dataran tinggi Minangkabau. 2

Tuanku Imam Bondjol adalah pahlawan nasional Indonesia abad kesembilan belas awal, yang sering dianggap Wahhabi, pemimpin paling terkenal Perang Padri, yang sering disebut sebagai jihad pertama melawan Muslim lainnya di Asia Tenggara. Michael Laffan menunjuk gerakan Padri sebagai “yang paling mencolok” di Asia Tenggara meskipun diragukan bahwa gerakan ini benar-benar gerakan Wahabi.

Pada tahun 2005, Azyumardi Azra, rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, saat memberikan kuliah umum tentang militansi Islam di Indonesia, ia menyatakan, “Pada kenyataannya, radikalisme di kalangan umat Islam Indonesia bukanlah hal baru. sejarah Islam di wilayah tersebut menunjukkan bahwa radikalisme di kalangan umat Islam, telah ada selama setidaknya dua abad, ketika gerakan Wahabi seperti Padri, di Sumatera Barat pada akhir 18 dan awal 19 memegang kekuasaan yang memaksa Muslim lainnya untuk menerima pemahaman literal mereka tentang Islam. Gerakan kekerasan yang bertujuan menyebarkan Islam yang murni seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad

2 Jeffrey Hadler, A Historiography of Violence and the Secular State in xIndonesia: Tuanku Imam Bondjol and the Uses of History, The Journal of Asian Studies Vol. 67, No. 3 (August) 2008: 971–1010. Hlm. 971-972

6

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

dan para sahabatnya (salaf).” Dan pada bulan September 2004, Merle Ricklefs memberi kuliah umum tentang Islam dan politik di Indonesia pada peringatan dua ratus tahun Perang Padri, yang ia sebut sebagai peringatan dua abad kekerasan berdarah gerakan reformasi Islam di Indonesia. 3

Selama beberapa dekade nama Tuanku Imam Bonjol, ulama, Pejuang perang paderi hadir di ruang publik bangsa: sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia 6 November 2001. Tuanku Imam Bonjol (1722-1864), diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkam SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973. 4

SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, 6 November 1973. 4 Gb.2. Gambar Tuanku Imam Bonjol Tercetak

Gb.2. Gambar Tuanku Imam Bonjol Tercetak di uang pecahan 5 ribu rupiah

Setelah peristiwa 11 September di AS, ada beberapa perdebatan seputar Padri dan Imam Bondjol yang memakai sorban dan berjenggot panjang. Ada yang menggugat kenapa Indonesia memasukkan teroris Islam sebagai pahlawan dan bahkan gambarnya dicetak dalam uang kertas lima ribu rupiyah oleh Bank Indonesia. Namum secara umum para ahli sejarah Indonesia tidak mempermasahkan hal itu, karena proklamator Indonesia sendiri, Soekarno dan Muhammad Hatta menyebut Imam Bonjol Sebagai Pahlawan Indonesia.

Di Belanda pada tahun 1928, Mohammad Hatta menyampaikan pidato berbahasa Belanda dengan tema “FreeIndonesia. “Dalam sambutannya, Hatta mengkritik kebijakan kolonial Belanda yang memaksa rakyatnya untuk mempelajari legenda heroik William Tell, Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, William orange, dan lain-lain dan pada

3 Ibid hlm.972

4 LihatTempo, Oktober 2007 dalam Suradi. Imam Bonjol, Pemimpin Utama Perang Padri. http://www.tokohindonesia.com/biografi/

article/295-pahlawan/1368-pemimpin-utama-perang-paderi

saat yang sama meremehkan tindakan Indonesia yang menentang Penjajahan Eropa:

“So too must Indonesian youth parrot its masters and call its own heroes, like Dipo Negoro, Toeankoe Imam, Tengkoe Oemar and many others, rebels, insurgents, scoundrels, and so on”

“Pemuda Indonesia juga dipaksa menjuluki pahlawan sendiri, seperti Diponegoro, Toeankoe Imam, Tengku Oemar dan banyak lainnya, sebagai pemberontak, pengacau, penjahat, dan sebagainya”.

Menariknya dalam terjemahan buku Muhammad Hatta pada tahun 1972 kata scoundrels diterjemahkan dengan kata ‘teroris’, satu hal yang tidak mungkin digunakan untuk menerjemahkan kata itu hari ini. 5

Setelah Hatta, sejak tahun 1945 Sukarno menyebut Tuanku Imam Bondjol sebagai yang pertama dari Pahlawan Tiga-sekawan yang telah berjuang melawan ekspansi kolonial Belanda:

Tuanku Imam Bondjol Minangkabau Sumatera Barat, Diponegoro dari Jawa Tengah, dan Teuku Oemar dari Aceh. 6

PengikutTuankuImamBonjoltidakmenganggap beliau sebagai dewa yang harus diagung-agungkan. Hukum Allah dan Rasulullah adalah yang tertinggi dalam pemerintahannya. Ini terbukti apabila dalam rapat pimpinan Padri sepakat untuk mengutus putra terbaik mereka ke Makkah untuk mendalami ilmu agama disana. Hal ini juga menandakan bahwa kekuasaan Tuanku Imam Bonjol bukanlah kekuasaan mutlak seperti raja-raja kuno. Ini juga berarti dia menerapkan asas musyawarahdan mufakat dalam kebijakan-kebijakan penting dengan petinggi Padri. 7

Gerakan reformasi yang dipelopori para ulama Minangkabau yang baru pulang dari Makah (yang kemudian disebut sebagai kaum Padri) mendapatkan dukungan yang begitu besar dari masyarakat

5 Hatta 1972, 210, dalam Jeffrey Hadler, Op.Cit. Hlm. 973

6 Soekarno 1950; lihat juga Reid1979 dalam Jeffrey Hadler, Op. Cit.

hlm.973

7 Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi, Model Kepimpinan Ulama dalam Pemerintahan Negara Islam Era Padri di Sumatera. Jabatan Pengajian Arab dan Tamadun Islam, Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor. ISBN 978-983- 9368-57-4 (2011), http://www.ukm.my/nun/prosiding%20atas%20 talian.htm hlm.127

7

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Minangkabau saat itu. Hal itu terjadi karena reformasi yang digulirkan berhasil meningkatkan kemakmuran rakyat minangkabau. Disamping itu, rakyat sudah lama kecewa dengan kepemimpinan para penghulu serta kemunduran perdagangan dan ekonomi minangkabau. Christine Dobbin, seorang peneliti dari Australia dalam tulisannya, “Economic Change In Minangkabau As A Factor In The Rise Of The Padri Movement, 1784-1830” mengakui kemajuan yang berhasil dicapai atas reformasi (yang lebih tepatnya disebut revolusi karena menyangkut berbagai aspek kehidupan walaupun yang paling tampak adalah praktek beragama, ekonomi dan politik) yang dipelopori oleh para ulama minang ini.

“Towards the end of the eighteenth century the heartland of the Minangkabau people of West Sumatra experienced a large-scale commercial revival, bringing not only new prosperity to the area but also markedly altering its previous pattern of trade”. 8

Menjelang akhir abad kedelapan belas wilayah Minangkabau di Sumatera Barat mengalami kebangkitan perdagangan skala besar, tidak hanya membawa kemakmuran baru pada daerah, tetapi juga mengubah pola perdagangan sebelumnya.

Bumi Minangkabau yang sejak abad ke-11 dikenal sebagai penghasil emas (land of gold) semakin menarik orang dari luar untuk ikut bermain di sana. Emas menjadi komoditas ekspor andalan secara turun-temurun yang menjadi pemasok penghasilan utama para pemimpin adat Minangkabau.

Kepimpinan trio ulama, Tuanku Imam Bonjol

di Minangkabau,Tuanku Tabusei di Riau dan

Tuanku Rao di Rao dan Mandailing, pada era Padri

di Sumatera adalah sebuah rangkaian jaringan

kepimpinan yang profesional, mengingat susahnya transportasi dan alat komunikasi ketika itu. Sepak terjang mereka telah menjadi catatan sejarah yang amat penting bagi penulis-penulis orientalis.

Keberadaan mereka sangat menyusahkan penjajah,

8 Christine Dobbin, Economic Change In Minangkabau As A Factor In The Rise Of The Padri Movement, 1784-1830. Indonesia JournalVolume 23, Publication Date: April 1977 Cornell Modern Indonesia Project 1977. Cornell University's Southeast Asia Program. http://cip.cornell.edu/seap.indo/1107118715 hlm.1

8

mereka juga meninggalkan kesan yang mendalam terhadap Islamisasi sumatera.

Kepimpinan mereka behasil mengIslamkan penduduk pribumi. Kalau kitaberjalan di Sumatera saat ini, tidak akan kita temukan lagi bangunan kuil dan candi Hindu Budha. Lain halnya dengan pola perjuangan wali songo di Jawa, sehingga sampai saat ini masih kita temukan peninggalan kuil-kuil lama dan ajaran Islam yang terkontaminasi dengan ajaran bukan Islam. Gerakan Padri bukan hanya sekedar perang melawan penjajah, tetapi sebuah kepimpinan ulama dalam sebuah pemerintahan yang sah disaat tidak ada satu pun pemerintahan atau kerajaan yang berdaulat di wilayah tersebut waktu itu danIndonesia belum menjadi sebuah Negara yang berdaulat. 9

Prioritas pertama reformasi ini adalah reformasi dalam bidang praktek keagamaan yang banyak mengalami penyimpangan dari ajaran Nabi Muhammad. Para ulama menilai praktek keagamaan masyarakat Minang saat itu harus dilakukan pemurnian dari segala bid’ah, khurafat, takhayul dan kesyirikan. Gerakan Padri awalnya ditentang dengan keras oleh para penghulu sebagai simbol pemimpin adat di minang saat itu. Kaum adat takut status dan pengaruh mereka sebagai pemimpin adat akan hilang.

Miliu Minangkabau

Wilayah Minangkabau terapit oleh dua gunung, sebuah wilayah yang sangat subur dan sudah padat penduduk sejak sekitar tahun 1800 M. Penurunan perdagangan emas -produk ekspor tradisional pada abad kedelapan belas- sangat merugikan raja-raja Minangkabau karena sebagian besar pendapatan mereka dari ekspor emas. Hal ini sangat menghambat kemampuan pemerintah pusat untuk membatasi kewenangan kepala desa. 10 Akibatnya terjadi banyak perpecahan politik. Perdagangan kopi dan kasia, pengganti kayu manis, yang terus meningkat membuat daerah itu semakin makmur. Namun demikian, seringnya terjadi perang antar suku dan desa menyebabkan masalah bagi para pedagang. Tidak hanya karena kurangnya keamanan

9 Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi, Op.Cit. hlm.124

10 Dobbin, Islamic Revivalism, 60-67 dalam Kappelhof, The Dutch and radical Islam in nineteenth-century Sumatra The Padri War (1821-1837), the Aceh War (1873-1903) and their aftermaths. Huygens Institute for the History of the Netherlands. November 2011. Hlm. 6

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

tetapi juga karena sistem hukum tidak sesuai dengan kebutuhan mereka, karena hukum didasarkan pada hukum adat. 11

Minangkabau terdiri dari tiga wilayah; yaitu Agam, Tanah Datar dan Kota Limapuluh, yang merupakan jantung dari Minangkabau, yang disebut

secara kolektif Luhak nan Tigo (Tiga Daerah). Daerah ini yang terletak di dataran tinggi Bukit Barisan, dikenal sebagai tanah pedalaman sedangkan daerah

di luar itu termasuk pantai disebut perbatasan.

Dalam konsep adat Minangkabau terdapat sistem dua laras: Koto Piliang dan Bodi Caniago. Koto Piliang lebih bersifat hirarkis, sedangkan Bodi Caniago lebih didasarkan pada prinsip network yang lebih egaliter, di mana nagari dipegang oleh sekelompok penghulu yang merepresentasikan suku-suku yang terpandang. 12

Tidak lama setelah terjadinya islamisasi pada abad ke-16, sistem pemerintahan di Minangkabau menganut tiga raja: Raja Alam (raja dunia), Raja Adat (raja hukum adat), dan Raja Ibadat (raja agama Islam). Ketiganya disebut sebagai Raja Tiga Selo. Dalam realitasnya kerajaan tidak pernah berfungsi

sebagai institusi pemerintahan di daerah inti (luhak), yaitu; Agam, Tanah datar, dan Lima Puluh Kota. Jantung Minangkabau yang disebut darat ini tidak diperintah oleh raja, tetapi oleh penghulu (kepala adat) dengan pola organisasi sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip genealogis. Daerah inilah yang menjadi basis gerakan Padri. Mereka tidak pernah berada dalam kontrol raja. Keluarga kerajaan hanya memerintah daerah rantau, daerah pinggiran pantai, yang didasarkan pada perspektif teritorial. Sejarawan terkemuka Minangkabau mencatat, pada masa Perang Padri, Raja Dunia di Pagaruyung tidak memiliki wewenang untuk menyelesaikan sengketa

di masyarakat dan bahkan tidak bisa menolak setiap

keputusan yang dibuat oleh otoritas desa (nagari). 13 Singkatnya, pada akhir abad kedelapan belas tidak ada otoritas terpusat di Minangkabau.

Dengan tidak adanya otoritas kerajaan, kekuasaan masyarakat Minangkabau yang

11 Kraus, Zwischen Rebellion und Reform, 14 and Dobbin, ‘Padri’ dalam Kappelhof, Op.Cit. hlm.7

12 Taufik Abdullah, “Adat dan Islam: An Examination of Conflict in Minangkabau” dalam Jurnal Indonesia 2 (Oktober 1966), 6-7

13 Abd A’la, Genealogi Radikalisme Muslim Nusantara, Akar Dan Karakteristik Pemikiran Dan Gerakan Kaum Padri Dalam Perspektif Hubungan Agama Dan Politik Kekuasaan. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya 2008

9

sebenarnya ada di unit sosial-politik yang dikenal sebagai nagari (desa). Ukuran desa bervariasi dalam jumlah penduduk serta tingkat geografis. Setiap desa memiliki masjid sendiri, tempat pemandian umum, jalur perdagangan dan ruang dewan untuk pemimpin. Kepala setiap desa, dikenal sebagai Penghulu, bersama dengan dewan kepala urusan desa. Ada juga adat organisasi sosial Minangkabau bahwa sejumlah desa akan membentuk aliansi, yang dikenal sebagai laras (perkumpulan desa). 14

Akhir abad kedelapan belas perdagangan Minangkabau mengalami perubahan drastis:

emas yang telah menjadi komoditas eksport utama ditambah komoditi ekspor baru yaitu kopi. Sementara pada saat yang sama terjadi persaingan mitra perdagangan sebagai pelanggan, yaitu antara Belanda, Inggris dan Amerika. 15 Perubahan ini langsung ataupun tidak mempengaruhi kondisi sosial politik di Minagkabau saat itu. Dimana ada fihak yang diuntungkan dan ada fihak yang merasa terancam posisi sosialnya di masyarakat. Dan ada juga fihak yang merasa terancam kepentingan ekonominya.

Emas telah ditemukan di pedalaman Minangkabau pada abad kesebelas dan membuatnya diperhitungkan di dunia luar sebagai mitra dagang. Awalnya India Selatan adalah mitra perdagangan terbesar; pada abad kelima belas mereka bergabung dengan Gujarat juga ingin mendapatkan keuntungan dari dua rute ekspor. Pada abad berikutnya Portugis di Malaka berhasrat pada emas Minangkabau untuk membayar lada Malabar, dan Aceh. Portugis secara bertahap menempati pelabuhan pantai Minangkabau dalam rangka memperoleh emas untuk perdagangan mereka di India dan China.

Namum Abad berikutnya, abad tujuh belas Belanda telah mengambil alih peran di Minangkabau dengan VOC sebagai garda terdepannya. VOC sangat berhasrat pada emas minagkabau untuk membayar rempah-rempah yang mereka butuhkan. Belanda, yang pada awalnya tiba di pantai barat Sumatera untuk mencari lada, mulai tahu akan keberadaan perdagangan emas, dan mereka mulai mengikuti pedagang lama dalam upaya untuk

14 Hafiz Zakariya dan Mohd Afandi Salleh, From Makkah to Bukit Kamang?: The Moderate versus Radical Reforms in West Sumatra (ca. 1784-1819), International Journal of Humanities and Social Science Vol. 1 No. 14; October 2011. Centre for Promoting Ideas, USA www.ijhssnet.com hlm. 195

15 Christine Dobbin, Op.Cit. hlm.2

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

mendapatkan emas Minangkabau di barat dan pantai timur Sumatera. Seperti pesaing mereka, Inggris keberhasilan pertama mereka dengan emas di pelabuhan pantai barat Tiku dan Pariaman. Emas pertama kali diperoleh secara resmi atas nama VOC di Pariaman pada 1651, namun desakan Aceh yang mempertahankan monopoli di pelabuhan ini mendorong Belanda menjauh ke selatan yaitu Padang. pada tahun 1663 di Padang didirikan pabrik dengan tujuan memupuk rute emas yang sudah ada dari dataran tingg. 16

Dari Mekah Ke Bukit Kamang, Sejarah munculnya Padri di Minangkabau

Sebutan Padri merujuk padamereka yang taat dalam menjalankan ajaranagamanya. Ada yang berpendapat bahwa panggilan ini diciptakanoleh Belanda yang merujuk kepada Padri Kristen. Dari bahasa Portugis “Padre” yang berarti “bapak”, gelar yang biasa diberikan pada pendeta. 17 Sementara Christine Dobbin mengatakan nama itu berasal dari man of Pedir (Pidi) sebuah pelabuhan Aceh yang harus dilewati oleh setiap orang Sumatera yang akan berlayar menunaikan Haji ke Makah. 18

Di Minangkabau sendiri pada awal abad ke- 19 kata Paderi atau Padri tidak dikenal. Yang ada hanyalah “golongan hitam” dan “golongan putih”. Golongan putih inilah yang kemudian disebut oleh para penulis sejarah sebagai kaum paderi. Penamaan golongan ini mengacu pada pakaian yang dipakai masing-masing golongan. 19

Kaum Padri adalah Pribumi Melayu yang merupakan penduduk asli diSumatera. Perubahan besar terjadi pada golongan masyarakat ini karena adanya ulama yang pulang dari Makah yang membawa ajaran pemurnian (tajdid-islah). Mereka menjalankan ajaran Islam secara kaffah. Dalam beberapa kasus mereka lebih memilih mati ditembak Belanda daripada meninggalkan solat lima waktu. Apabila waktu solat tiba, maka semua aktivitas mereka tinggalkan termasuk kerja paksa pada masa penjajahan Belanda.

16 Ibid. hlm.3-4

17 MD. Mansoer, Amrin Imran dkk, Sedjarah Minangkabau, Bhratara Djakarta 1970. Hlm.147

18 Crhistine Dobin (1983) Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy. London: Curzon Press, h. 128. Dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.124

19 Mansoer, Amrin Imran dkk, Ibid.

Pakaian orang Padri sopan, mereka malu berpakaian pendek, celananya sampai ke mata kaki, bagian atas ditutup dengan kain, kepala mereka ditutup dengan sorban putih, jenggot dibiarkan panjang. Wanita-wanita Padri memakai niqab yang memiliki lobang untuk mata. Seluruh badan ditutup dengan kain hitam. Orang Padri beristri seorang saja kecuali pemimpin mereka. -Ini berbeda dengan budaya lokal yang suka poligami-. Tasbih tidakpernah dilupakan oleh kaum Padri begitu juga sholat. 20 Orang Padri dilarang keras menghisap ganja atau opium, berjudi, mengadu ayam dan perbuatan dosa lainnya. Masjid-masjid baru didirikan. Masih belum jelas apakah Padri benar-benar berfaham Wahhabi atau hanya terinspirasi oleh mereka. 21 Rezim baru ini cocok bagi kebutuhan banyak orang Minangkabau karena menguntungkan perdagangan dan industri. 22

karena menguntungkan perdagangan dan industri. 2 2 Gambar 3. Pakaian Wanita Padri dan Non Padri Pada

Gambar 3. Pakaian Wanita Padri dan Non Padri

Pada akhir abad 18, di wilayah sekitar Kota Tua, Pusat Syattariyah di Agam, mengalami lonjakan ekonomi. Perubahan ini disebabkan perdagangan akasia di desa-desa pegunungan dekat Agam. Orang-orang kaya yang berhasil dalam perdangan banyak yang menunaikan ibadah haji ke makah. Semakin lama makin banyak yang menuaikan haji dari wilayah kecil ini. Sekembalinya dari haji banyak dari mereka yang merasa mendapat pencerahan dari interaksi mereka dengan umat islam lain di Makah. Perekonomian bertambah maju dengan adanya tambahan keuntungan dari perdagangan kopi.

20 J. C Boelhouwer (2009) Kenang-kenangan Di Sumatera Barat Selama Tahun-tahun 1831-1834 (Ridder Van de Militaire Willems Orde Kelas IV) Terj. Sutan Sjahrial. Padang: Lembaga Kajian Padri (1803- 1838), h 33-34. Dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit.

hlm.124

21 Paulus Encyclopaedie Nederlandsch-Indië, vol. 4, 661 dalam Kappelhof, Op.Cit. hlm.7

22 Teitler, Einde Padrie-oorlog, 11-12. Dalam Kappelhof, Op.Cit. hlm.7

10

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Sekitar tahun 1784, ada seorang syekh ternama yang menjadi pemimpin suarau Syattariyah di Kota Tua. Dialah Tuanku Nan Tuo, seorang ulama kharismatik yang menarik ribuan santri ke kota Tua dan Surau-suarau sekitarnya. Beliau seorang pemimpin Tariqat Syatariyah. Tuanku Nan Tuo dan para santrinya berbaur dengan damai bersama masyarakat sekitar yang agraris. Selain itu juga terlibat secara aktif dalam perdagangan di daerah itu.

Saat itu situasi di Agam Selatan sangat menyulitkan perdagangan untuk berkembang dengan baik. Hal itu terjadi karena merajalelanya para perampok yang menghadang para pedagang dan merampas barangnya. Bahkan ada desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai perampok secara turun-menurun.

Pertentangan antar pedagang di pasar juga menimbulkan masalah tersendiri. Menurut adat minangkabau mereka harus menyelesaikan sendiri perselisihan tersebut karena mereka berasal dari desa yang berbeda sehingga berada di luar yuridiksi dewan penghulu desa. Dengan semakin berkembangnya perdagangan dan bertambahnya jumlah pedagang di pasar, cara-cara dewan penghulu desa menyelesaikan sengketa kurang memadai. Dalam kasus yang yang serius seperti pembunuhan, penyuapan bisa membuat dewan menunda keputusan sampai waktu yang sangat lama dalam bermusyawarah.

Tidak adanya keadilan bagi pedagang dari desa lain bisa menyebabkan keributan antar desa dan bahkan berlanjut ke peperangan. hukum yang dipakai untuk memutuskan perkara tidak tertulis dan ucapan adat bisa ditafsirkan bermacam-macam. Hal ini enyebabkan terjadinya diskusi yang berlarut- larut di balai sidang dewan penghulu adat.

Dengan kebuntuan ini Surau tampil memberikan peran di masyarakat untuk memberikan solusi permasahan yang berlarut-larut. Surau bisa menjadi alternatif untuk menangani kasus-kasus perdagangan yang membutuhkan penyelesaian secara adil. Hal itu di dukung dengan ajaran Islam yang sangat memberi perhatian pada masalah perdagangan.

Sejak tahun 1784 hukum islam menjadi salah satu bidang kajian penting di suarau-suarau

Thariqat daerah ini dengan semboyan “kembali ke syariat”. Di samping tariqah Syatariyah ada Thariqat Naqsabandiyah yang lebih menonjol dalam mempelajari hukum Islam.

Sementara Suarau Syatariyah di Kota Tuo mulai memusatkan perhatian untuk mempelajari hukum islam, Tuanku Nan Tuo melakukan misi dakwah khusus. Ia mengajak desa-desa di sekitarnya untuk menerima hukum Islam dalam perdagangan dan berhubungan dagang dengan para saudagar. Tuanku Nan Tuo berdakwak fardiyah terhadap pribadi- bribadi desa-desa sekitarnya agar menjalankan lima rukun Islam dan hidup sebagai seorang muslim yang baik. Untuk membantu dakwahnya Tuanku Nantuo mengirim delegasi dakwah untuk mendakwahi desa- desa sekitarnya, terutama ke desa-desa perampok, yang dirasa paling membutuhkan bimbingan.

Dalam menjalankan dakwahnya seringkali tidak bisa dihindarkan dari benturan kekuatan fisik. Hal itu sudah diantisipasi, karena salah satu yang diajarkan di surau-surau adalah silat melayu di samping mempelajari ilmu agama. Tuanku Nan Tuo kemudian berhasil membebaskan para tawanan yang diculik, ditawan dan akan dijual sebagai budak oleh para perampok. Para perampok kemudian dihukum dan desa-desanya ditaklukkan. Strategi ini berhasil dengan baik, sehingga keamanan para pedagang dan daerah Empat Angkat meningkat. Dampaknya perdagangan meningkat pesat dan Tuanku Nan Tuo dikenal sebagai “pelindung para pedagang”.

Salah seorang murid terbaik Tuanku Nan Tuo bernama Jalaludin kemudian bertekat melanjutkan usaha ini. Ia berusaha menertibkan berdagangan di luar daerah Empat angkat dengan mendirikan sebuah surau di Kota Lawas, sebuah desa agraris di lereng gunung Merapi. Kota lawas merupakan sebuah desa yang mahu karena perdagangan akasia dan kopi. Jalaludin berhasil membentuk masyarakat Islam di Kota Lawas dan mengatur berbagai aspek kehidupan termasuk perdagangan dengan aturan hukum Islam. Masyarakat menyambut dengan antusias karena mereka selama ini mereka telah lama merindukan ketertiban dan keamanan yang berhasil diwujudkan Jalaludin dan murid-muridnya. 23

23 Christine Dobbin. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847. Komunitas Bambu Depok. 2008. Hlm. 185-198

11

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Gerakan Padri adalah kelanjutan dari gerakan Tuanku Nan Tuo dan muridnya, Jalaludin untuk memurnikan ajaran Islam yang bercampur dengan segala macam bidah, khurafat, tahayul, kekufuran, kemunafikan, dan kefasikan lainnya serta memulihkan ketertiban di masyarakat dengan aturan Islam. Tuanku nan Tuo adalah Individu yang paling berpengaruh di zamannya, tidak ada kekuasaan raja dan negara yang berada di atasnya.

Dalam menyiarkan pemurnian ajaran Islam itu tidak disenangi oleh sebagian masyarakat terutama yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruk yang bertentangandenganajaranIslam.Kampunggerakan Padri dibakar dan pembesar mereka ditangkap. Peristiwa ini membawa kepada diperanginya daerah sekitar yang tidak mau tunduk dengan ajaran Islam. satu persatu daerah itu ditundukkan dengan membayar tanda menyerah dan tunduk. 24 Sekitar tahun1770 sampai 1803 kaum reformis mampu menerapkan hukum Islam, sehingga negara lebih aman daripada sebelumnya. 25

Sebuah semangat baru datang dari tiga Ulama yang baru kembali dari Mekkah. Ketiga ulama tersebut bertemu dan bekerjasama dengan para pemimpin politik dan mendirikan sebuah sistem baru menggunakan unsur-unsur reformasi gelombang pertama. Gerakan baru ini kemudian dikenal dengan sebutan Paderi atau Padri.

Tiga ulama itu adalah Haji Miskin dari Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang bermukim di Mekah Saudi Arabia dan pada tahun 1802 kembali ke Sumatera Barat. Sesampainya di Sumatera Barat, mereka berpendapat bahwa umat Islam di Minangkabau baru memeluk Islam namanya saja, belum benar-benar mengamalkan ajaran Islam yang sejati. Berdasarkan penilaian semacam itu, maka mereka mencoba berdakwah di daerahnya masing- masing. 26

Haji Muhammad Arifin di Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa pindah ke Lintau. Haji Miskin mendapat perlawanan hebat pula di daerahnya dan terpaksa harus pindah

24 Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.128 dari Naskah Tuanku Imam Bonjol. Op.cit.

25 Kraus, Zwischen Rebellion und Reform,14 and Dobbin, ‘Padri’ dalam Kappelhof, Op.Cit. hlm.7

26 Abdul Qadir Djaelani, Op.Cit. hlm. 29

12

ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di Piabang yang tidak banyak mendapat halangan dan tantangan.

Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat membawa angin baru, karena di sini ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia; diantaranya yaitu Tuanku Nan Renceh di Kamang, Tuanku di Kubu Sanang; Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, Tuanku di Lubuk Aur. Itulah tujuh orang yang berbai’at (berjanji sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang berbai’at ini menjadi delapan orang, yang kemudian terkenal dengan sebutan ‘Harimau Nan Salapan’. Mereka lalu menjadikan Bukit Kamang sebagai basis gerakan.

Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan ini akan lebih berhasil bilamana mendapat sokongan daripada ulama yang lebih tua dan lebih berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh sebab itu Tuanku Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah telah berkali-kali menjumpai Tuanku Nan Tuo untuk meminta agar ia bersedia menjadi ‘imam’ atau pemimpin gerakaa ini. Tetapi setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo menolak tawaran itu. Sebab pendirian Harimau Nan Salapan hendak dengan segera menjalankan syari’at Islam di setiap nagari yang telah ditaklukkannya. Kalau perlu dengan kekuatan dan kekuasaan.

Tetapi Tuanku Nan Tuo mempunyai pendapat Yang berbeda; ia berpendapat apabila telah ada orang beriman di satu nagari walaupun baru seorang, tidaklah boleh nagari itu diserang. Maka yang penting menurut pandangannya ialah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam- khatib mantri dan dubalang.

Pendapat yang berbeda dan bahkan bertolak belakang antara Tuanku Nan Tuo dengan Harimau Nan Salapan sulit untuk dipertemukan, sehingga tidak mungkin Tuanku Nan Tuo dapat diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan ini. Untuk mengatasi masalah ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak Tuanku di Mansiangan, yaitu

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

putera dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo, yakni guru dari Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat.

Rupanya Tuanku yang muda di Mansiangan ini bersedia diangkat menjadi imam atau pemimpin gerakan Harimau Nan Salapan, dengan gelar Tuanku Nan Tuo. Karena yang diangkat menjadi imam itu adalah anak dari gurunya sendiri, sulit bagi Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat itu untuk menentang gerakan ini. Kaum Harimau Nan Salapan senantiasa memakai pakaian putih-putih sebagai lambang kesucian dan kebersihan, dan kemudian gerakan ini terkenal dengan nama ‘Gerakan Padri’. 27

Sekitar tahun 1820 M kaum Padri berkuasa di sebagian besar Minangkabau. Mereka melakukan reorganisasi pemerintahan dengan mengankat di setiap kampung seorang toewankoe imam untuk urusan agama dan toewankoe khalif atau Katib untuk keamanan, ketertiban dan keadilan. 28

Masyarakat Bukan Padri

Belanda memanggil mereka dengan istilah orang Melayu yang merujuk kepada bukan Padri. Keadaan masyarakat pribumi melayu lebih kurang seperti masyarakat Arab Jahiliyah. Budaya fanatik kesukuan sangat tinggi, antar suku sering terjadi peperangan, perselisihan, dan konflik lainnya. Salah satu strategi untuk menaklukkan suatu masyarakat harus dengan menaklukkan kepala suku atau menghancurkan kampung mereka. Perempuan melayu pribumi rajin bekerja sementara lelakinya tidak bekerja. Kebiasaan lelaki Melayu adalah mengadu ayam, berjudi, madat, minum arak. Kalau menang berjudi mereka akan membeli madat dan tidak pulang sampai pagi karena mabuk. 29

Kebiasaan buruk orang melayu itu menyebabkan mereka menjadi pencuri dan pembunuh. mereka digambarkan sebagai orang yang malas, matanya kuning, badannya lemah, suka tidur, melakukan zina dengan istri dan anak gadis orang dan sebagainya. 30

Orang yang bukan paderi inilah golongan hitam yang sering disebut sebagai kaum adat. Menurut MD Mansoer dkk. Dalam buku “Sedjarah Minangkabau”,

27 Ibid. hlm.29-30

28 Lange, Westkust Sumatra, vol. 1, 10-21 dalam Kappelhof, Op.Cit.

hlm.8

29 J. C Boelhouwer, ibid. h 46. Dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.124

30 J. C Boelhouwer, ibid. h 33. Dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.124

13

kaum adat umumnya penganut Syiah dan kaum Padri adalah Ahlus Sunnah dengan mahzhab Hambali. Namun pendapat ini dibantah oleh Hamka dalam bukunya, Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao. Dalam Sejarah Minangkabau yang ditulis oleh MD. Mansur, dkk, menyebutkan bahwa Minangkabau pernah dihuni oleh Syi’ah, juga dipimpin oleh orang Syi’ah, rentang waktunya antara tahun 1000-1350. 31 Namun pernyataan itu dibantah oleh Hamka dalam bukunya, Antara Fakta dan Khayal Tuanku Rao.

Kaum Padri mendapat dukungan yang luas dari masyarakat karena ketidak puasan terhadap kesewenang-wenangan kebanyakan pemimpin adat waktu itu. Pertikaian awalnya hanya perbedaan pendapat dalam agama, namum kemudian berkembang ke politik. 32

Naskah Tuanku Imam Bonjol memberikan gambaran bagaimana keadaan sebenarnya saat itu. Tidak adanya kepemimpinan pemerintah pusat yang berpengaruh danberkuasa menyebabkan antara satu daerah sering memerangi daerah lain. Peperangan bertujuan untuk merebut kekuasaan satu daerah ataupun untuk membalas kekalahan dalam peperangan yang terdahulu. Takluknya satu daerah disebabkan oleh hancurnya suatu tempat dengan membakar atau mendapatkan harta rampasan perang dan ditegakkannya bendera putih. Strategi perang yang digunakan adalah dengan cara membunuh kepada suku mereka yang akan membuat anak buahnya datang menyerahkan diri dengan mudah. Adakalanya pasukan yang kuat memerangi yang lemah untuk meluaskan kekuasaannya dan adakalanya juga mereka datang karena diundang untuk membantu melawan pasukan daerah lain yang menaklukkan daerah mereka. 33

Naskah Tuanku Imam Bonjol merupakan sumber Primer dari kalangan pribumi yang sangat langka dan berharga. Hal ini karena berasal dari orang minang sendiri yang terlibat langsung dalam perang tersebut dimana sebagian besar tulisan mengenai Padri mengutip dari sumber-sumber Belanda. Lebih jauh lagi, kita bisa melihat perbedaan persepsi dan sudut pandang antara orang Minang

31 MD. Mansoer, Amrin Imran dkk, Sedjarah Minangkabau, Bhratara Djakarta 1970. Hlm.147

32 MD. Masoer dkk. Ibid

33 Naskah Tuanku Imam Bonjol, (2009) ditulis ulang dari naskah tulisan Arab Melayu ke Bahasa Indonesia oleh Sjafnir Aboe Nain. Padang:

Lembaga Kajian Padri (1803-1838)h. 24-25. Dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.125

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

sendiri dan orang Belanda melihat peristiwa Perang Padri. Naskah ini kurang populer di kalangan penulis Barat. Sayangnya dikabarkan Naskah Tuanku Imam Bonjol ini telah hilang sejak tahun 1991. 34

Peperangan diperlukan untuk menyatukan umatIslam dalam satu kepimpinan imam atau khilafah. Maka jadilah Tuanku Imam Bonjol menjadipemimpin tertinggi yang memiliki panglima perang bernama Tuanku Nan Barampek. 35 Gelar Tuanku Imam berarti yang bersangkutan bertugas mengurus semua urusan yang berkaitan dengan dunia dan akhirat, seperti status khalifah dalam pemerintah Islam. Tuanku Imam Bonjol ialah seorang pemimpin perang, pemimpin pemerintahan dan pemimpin agama.

Perang Padri, Jihad Kaum Putih

Perang Padri di daerah Sumatera Barat pada abad ke-19 dapat digolongkan menjadi tiga priode, 36 yaitu:

(a) Periode I: Jihad Kaum Padri melawan Kaum Adat (1809 – 1821)

Periode ini adalah periode pembersihan yang dilakukan kaum Padri terhadap golongan penghulu adat yang dianggap menyimpang dan bertentangan dengan syari’at Islam. Dalam masa ini terjadi pertempuran antara kaum Padri melawan golongan penghulu adat.

Deklarasi Jihad Tuanku Nan Renceh

Tindakan sepotong-sepotong di beberapa desa yang berlarut-larut membuat kesal Tuanku Nan Renceh. Ia kemudian memutuskan untuk segera membentuk masyarakat Islam di setiap desa dan diterapkan aturan-aturan Islam di sana. Tuanku Nan Renceh Juga mengumumkan Jihad pada setiap desa yang menolak untuk tunduk pada aturan Islam. Menurutnya usaha jihad dengan hati dan lisan yang

34 Lihat Kompas, 22 November 2005 dalam tulisan Suryadi (Dosen dan peneliti pada Dept. of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania Leiden University, Belanda) dalam artikelnya Siapakah Kini yang Menyimpan Naskah Asli Tuanku Imam Bonjol?http://oman.

uinjkt.ac.id/2007/02/siapakah-kini-yang-menyimpan-naskah.html

35 Naskah Tuanku Imam Bonjol, ibid, h. 29 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.125

36 Abdul Qadir Djaelani, PERANG SABIL versus PERANG SALIB Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda. Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah Jakarta 1420 H / 1999 M. hlm.28

selama ini dilakukan telah gagal sehingga harus dilakukan jihad dengan pedang. 37

Setelah berhasil mengangkat Tuanku di Mansiangan menjadi imam gerakan Padri, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol dari Harimau Nan Salapan mencanangkan perjuangan padri dan memusatkan gerakannya di daerah Kameng. Untuk dapat melaksanakan syari’at Islam secara utuh dan murni, tidak ada alternatif lain kecuali memperoleh kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik itu berada di tangan para penghulu. Oleh karena itu untuk memperoleh kekuasaan politik itu, tidak ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu. Karena Kamang menjadi pusat perjuangan Padri, maka kekuasaan penghulu Kamang harus diambil alih oleh kaum Padri, dan itu berhasil dengan baik.

Sementara itu para penghulu di luar Kamang yang telah mendengar adanya gerakan Padri ini, ingin membuktikan sampai sejauh mana kemampuan para alim-ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari’at Islam secara utuh dan murni. Bertempat di Bukit Batabuah dengan Sungai Puar di lereng Gunung Merapi, para penghulu dengan sengaja dan mencolok mengadakan sabung ayam, judi dan minum-minuman keras yang diramaikan dengan bermacam-macam pertunjukan. Para penghulu itu dengan para pengikutnya seolah- olah memancing apakah para alim-ulama mampu merealisasikan ikrarnya untuk betul-betul melaksanakan syari’at Islam secara konsekuen.

Tentu saja tantangan ini menimbulkan kemarahan dari pihak kaum Padri. Dengan segala persenjataan yang ada pada mereka, seperti setengger (senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh untuk membubarkan pesta ‘maksiat’ yang diselenggarakan oleh golongan penghulu. Saat pasukan kaum Padri sampai di Bukit Batabuh disambut dengan pertempuran oleh golongan penghulu. Dengan sikap mental perang sabil dan mati syahid, pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya dimenangkan oleh pasukan kaum Padri. Peristiwa Bukit Batabuh, menjadi permulaan perang Padri.

37 Christine Dobbin. Op.Cit. h.209

14

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Kemenangan pertama yang gemilang bagi kaum Padri, mendorong Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan untuk memperkuat dan melengkapi persenjataan pasukan Padri. Tindakan ofensif terhadap daerah-daerah yang menentang kaum Padri segera dilakukan. Daerah Kamang Hilir ditaklukkan, kemudian menyusul daerah Tilatang.

Dengan demikian seluruh Kamang telah berada

di tangan kaum Padri. Dari Kamang operasi pasukan

Padri ditujukan ke luar yaitu Padang Rarab dan Guguk jatuh ketangan kaum Padri. Lalu daerah Candung, Matur dan bahkan pada tahun 1804 seluruh daerah Luhak Agam telah berada di dalam kekuasaan kaum Padri.

Keberhasilan kaum Padri menguasai daerah Luhak Agam, selain kesungguhan yang keras, juga karena kondisi masyarakatnya yang sangat memungkinkan untuk cepat berhasil. Sebab daerah Luhak Agam terkenal sebagai tempat bermukimnya ulama-ulama besar seperti Tuanku Pamansiangan dan Tuanku Nan Tuo, sedangkan pengaruh para

penghulu sangat tipis. Wibawa para penghulu berada

di bawah pengaruh para ulama.

Operasi pasukan Padri ke daerah Luhak Lima Puluh Kota berjalan dengan damai. Sebab penghulu daerah ini bersedia menyatakan taat dan patuh kepada kaum Padri serta siap membantu setiap saat untuk kemenangan kaum Padri.

Dengan berkuasanya kaum Padri; maka daerah- daerah yang berada di dalam kekuasaannya diadakan perubahan struktur pemerintahan yaitu pada setiap nagari diangkat seorang ‘Imam dan seorang Kadhi’. Imam bertugas memimpin peribadahan seperti shalat berjamaah lima waktu, puasa, dan lain- lain yang berhubungan dengan masalah-masalah ibadah. Kadhi bertugas untuk menjaga kelancaran dijalankannya syari’at Islam dalam arti kata lebih luas dan menjaga ketertiban Umum.

Di daerah Luhak Tanah Datar, pasukan Padri tidak semudah di daerah Luhak Agam dan Lima Puluh Kota untuk memperoleh kekuasaannya. Di sini pasukan Padri mendapat perlawanan sengit dari golongan penghulu dan pemangku adat. Sebab Luhak Tanah Datar merupakan pusat kekuasaan adat Minangkabau. Kekuasaan itu berpusat di Pagaruyung yang dipimpin oleh Yang Dipertuan

Minangkabau. Waktu itu Yang Dipertuan atau Raja Minangkabau adalah Sultan Arifin Muning Syah.

Pertempuran sengit di daerah Luhak Tanah Datar antara pasukan Padri dengan pasukan Raja berjalan sangat alot. Perebutan daerah Tanjung Barulak, salah satu jalan untuk masuk ke pusat kekuasaan Minangkabau dari Luhak Agam, sering berpindah tangan, terkadang dikuasai pasukan Padri, terkadang dapat direbut kembali oleh pasukan raja.

Walaupun begitu, pasukan Padri makin hari makin maju, sehingga daerah kekuasaan para penghulu makin lama makin kecil. Untuk mencegah hal-halyanglebihburukbagiparapenghulu,akhirnya atas persetujuan Yang Dipertuan di Pagaruyung, Basa Empat Balai mengadakan perundingan dengan kaum Padri.

Perundingan itu dilaksanakan di nagari Koto Tangah pada tahun 1808, sesudah enam tahun gerakan kaum Padri melancarkan aksinya. Kaum Padri dalam perundingan itu dipimpin oleh Tuanku Lintau yang datang dengan seluruh pasukannya, sedangkan para penghulu dipimpin oleh Raja Minangkabau sendiri. Seluruh staf raja dan sanak keluarganya hadir dalam pertemuan tersebut, tanpa menaruh curiga sedikitpun, karena gencatan senjata telah disepakati sebelumnya.

Tetapi sekonyong-konyong keadaan menjadi kacau sebelum perundingan dimulai. Karena kesalah-pahaman antara bawahan Tuanku Lintau yang bernama Tuanku Belo dengan para staf raja, yang berakibat menjadi perkelahian dan pertumpahan darah. Raja dan hampir sebagian terbesar staf dan keluarganya mati terbunuh dalam perkelahian itu, hanya ada beberapa orang dari para penghulu dan seorang cucu raja yang dapat selamat meloloskan diri sampai ke Kuantan.

Mendengar peristiwa berdarah ini, Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri sangat marah terhadap Tuanku Lintau dan pasukannya, karena dianggap melanggar gencatan senjata yang telah disepakati dan berarti menggagalkan usaha perdamaian. Dengan peristiwa ini, maka praktis seluruh Luhak Tanah Datar menyerah kepada kaum Padri tanpa perlawanan, karena takut melihat pengalaman di Koto Tangah.

Untuk mengokohkan gerakan kaum Padri, Tuanku Nan Renceh telah memerintahkan salah

15

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

seorang muridnya yang bernama Malin Basa atau Peto Syarif atau Muhammad Syahab, untuk membuat sebuah benteng yang kuat sebagai markas gerakan kaum Padri. Pemilihan Malin Basa, yang kemudian bergelar Tuanku Mudo untuk membuat benteng besar, karena Malin Basa (Tuanku Mudo) seorang murid yang pandai, alim dan berani.

Perintah Tuanku Nan Renceh sebagai pimpinan tertinggi gerakan Padri dan guru dari Tuanku Mudo, dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan keberanian dan berhasil memilih tempat di sebelah timur Alahan Panjang, di kaki bukit yang bernama Bukit Tajadi. Dengan bantuan seluruh umat Islam yang tinggal di sekitar Alahan Panjang, dimana setiap hari bekerja tidak kurang dari 5000 orang, akhirnya ‘Benteng Bonjol’ yang terletak di bukit Tajadi itu menjelma menjadi kenyataan dengan ukuran panjang kelilingnya kira-kira 800 meter dengan areal seluas kira-kira 90 hektar, tinggi tembok empat meter dengan tebalnya tiga meter. Di sekelilingnya ditanami pagar berduri yang sangat rapat.

Di tengah-tengah benteng Bonjol berdiri dengan megahnya sebuah masjid yang lengkap dengan perkampungan pasukan Padri dan rakyat yang setiap saat mereka dapat mengerjakan sawah ladangnya untuk keperluan hidup sehari-hari. Sesuai dengan fungsinya, maka benteng Bonjol juga diperlengkapi dengan persenjataan perang, guna setiap saat siap menghadapi pertempuran. Benteng Bonjol itu dipimpin langsung oleh Tuanku Mudo yang bertindak sebagai ‘imam’ dari masyarakat benteng Bonjol, yang sesuai dengan struktur pemerintahan kaum Padri. Oleh sebab itu, Tanku Mudo digelari dengan ‘Imam Bonjol’.

Setelah benteng Bonjol selesai dan struktur pemerintahan lengkap berdiri, Imam Bonjol memulai gerakan Padrinya ke daerah-daerah sekitar Alahan Panjang dan berhasil dengan sangat memuaskan. Keberbasilan Imam Bonjol dengan pasukannya menimbulkan kecemasan para penghulu di Alahan Panjang seperti antara lain Datuk Sati. Kecemasan ini melahirkan satu gerakan para penghulu di Alahan Panjang untuk menyerang pasukan Imam Bonjol dan merebut benteng sekaligus. Pada tahun 1812 Datuk Sati dengan pasukannya menyerbu benteng Bonjol, tetapi sia-sia dan kekalahan diderita olehnya. Untuk mencegah hal-hal yang lebih buruk, maka Datuk

Sati mengajak diadakannya perdamaian antara para penghulu dengan Imam Bonjol.

Keberhasilan Imam Bonjol menguasai seluruh daerah Alahan Panjang, ia kemudian diangkat menjadi pemimpin Padri untuk daerah Pasaman. Untuk meluaskan kekuasaan kaum Padri, Imam Bonjol mengarahkan pasukannya ke daerah Tapanuli Selatan. Mulai Lubuk Sikaping sampai Rao

diserbu oleh pasukan Imam Bonjol. Dari sana terus

ke Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku dan seluruh pantai

barat Minangkabau sebelah utara.

Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk

memperkuat basis pertahanan untuk penyerangan

ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di Dalu-

Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minangkabau. Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao, sedangkan benteng Dalu-Dalu dikepalai oleh

Tuanku Tambusi. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.

Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi sebagai pimpinan kaum Padri di Tapanuli Selatan, gerakan Padri berjalan dengan sangat berhasil, tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Daerah-daerah di sini begitu setia untuk menjalankan syari’at Islam secara penuh, sesuai dengan misi yang diemban oleh gerakan Padri.

Sementara kaum Padri bergerak menguasai Tapanuli Selatan dan daerah pesisir barat

Minangkabau, Belanda muncul kembali di Padang. Tuanku Pamansiangan salah seorang pemimpin

di Luhak Agam mengusulkan kepada Imam Bonjol

untuk menarik pasukan Padri dari Tapanuli Selatan dan menggempur kedudukan Belanda di Padang yang belum begitu kuat. Karena baru saja serah terima kekuasaan dari Inggris (1819). Tetapi perwira- perwira Padri seperti Tuanku Rao, Tuanku Tambusi dan Tuanku Lelo dari Tapanuli Selatan berkebaratan untuk melaksakan usul itu, oleh karena itu Imam Bonjol hanya dapat memantau kegiatan dan gerakan pasukan Belanda melalui kurirkurir yang sengaja dikirim ke sana. 38

38 Abdul Qadir. Op.cit.hlm.30-34

16

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Penerapan Hukum Islam dan Kemakmuran di Era Padri

Padri bertujuan menegakkan pemerintahan Negara yang dipimpin oleh ulama. Ini sesuai dengan peranan ulama sebagai pewaris para Nabi, menjaga perpaduan dan menjaga agama Islam agar terjaga dalam setiap sendi kehidupan. Fakih Shagir menggambarkan kelakuan orang Agam sebelum Pemerintahan Padri; “semuanya mengerjakan perbuatan zalim dan aniaya, merampok, melukai, mencuri, menyabung ayam dan berjudi, minum minuman keras, memakan haram, berkelahi, berbantahan dan saling berperang.

Semasa pemerintahan Padri orang yang mencuri dihukum, harta yang dirampok dikembalikan pada pemiliknya. Bagi yang melawan negerinya akan diperangi. Maka orang takut melakukan kejahatan. anak-anak dan perempuan masuk kampung aman tidak diganggu. Para pedagang tidak dirampok, orang menunaikan solat, orang miskin bebas berjalan tanpa dihina, baldatun thayibatun warabbun ghafur. 39

Seorang pengamat perdagangan Belanda pada tahun 1844 menyatakan keadaan wilayah Limapuluh Kota, salah satu wilayah yang dikuasai Padri; “seperti semua orang tahu, di sini ada lebih banyak kekayaan, lebih banyak kemakmuran, dan lebih banyak perdagangan. Setiap tahun daerah ini menghasilkan 10.000 sampai 20.000 pikul kopi. Selain itu juga menanam padi, sehingga daerah ini tidak hanya mencukupi penduduknya sendiri saja yang berjumlah sekitar 600.00 sampai 700.000 jiwa, tetapi juga bisa mengekspor ke daerah Agam dan daerah lainnya hampir setiap tahun.” 40

Seorang Belanda yang mengunjungi pasar payakumbuh tahun 1833, yang dikontrol Padri waktu itu juga mengungkapkan kekagumannya; “Ketertiban yang terdapat di sini dan di mana- mana di Tanah Padri memang mencolok. Di Pasar tidak lagi terdengar pertengkaran. Masing-masing menanyakan harga dan membayarnya kalau sesuai keinginan mereka, tanpa tawar-menawar.” 41

Pada tahun 1823, desa-desa di Lembah Alahan Panjang (daerah Padri di Utara disamping Rao) dikelilingi sawah-sawah yang indah, semuanya membuktikan kemakmuran dan kesuburan yang tak

39 Naskah Fakih Shagir (1857) Tulisan arab melayu yang di alih tulis oleh Sjafnir Aboe Nain. Padang: Lembaga Kajian Padri (1803-1838) h. 27 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. h.129

40 Christine Dobbin. Op.Cit. h.216

41 Ibid. h.217

tertandingi. Ternak, ikan, dan pohon buah-buahan melimpah di sana. Daerah ini juga menjadi salah satu pengahsil kopi sehingga digambarkan sebagai daerah yang tertutup pohon-pohon kopi. 42

Kemakmuran di masa pemerintahan Padri juga diakui oleh seorang tentara Belanda melalui catatan pribadinya; Pusat pemerintahan Padri di Bonjol sangat indah, aman, damai, makmur dan sejahtera. 43

Di Setiap desa yang sebelumnya secara mencolok terdapat gelanggang adu jago, perjudian, minuman keras dan candu, kemudian dilarang. Setiap muslim diharuskan memakai pakaian putih, para wanita harus mnutup auratnya termasuk wajahnya. Para pria membiarkan jenggotnya tumbuh dan tidak boleh memakai emas dan sutra. Sholat lima waktu harus dilaksanakan. Dan yang melanggar aturan ini akan dikenakan denda. Kaum padri tidak mengusik praktek madzhab syafi’i yang telah ada di minangkabau. Ajaran sufi dan tariqat juga dibiarkan selama tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Di Setiap desa diangkat seorang Qadhi untuk

memutuskan hukum Islam bagi yang berselisih dengan mendasarkan keputusannya berdasarkan

Al Qur’an. Seorang imam juga diangkat di setiap

desa yang bertugas memimpin ibadah sekaligus komandan perang dan mengajarkan islam pada penduduk desa. Disamping itu ada semacam polisi yang tugasnya mengawasi orang-orang yang tidak hadir dalam shalat jamaah dan yang tidak menutup auratnya. 44

Diantara ciri desa yang sudah ditaklukkan Padri adalah dibangunnya Masjid yang megah dan Indah menggantikan masjid yang kecil atau yang

belum ada. Masjid terbuat dari kayu yang kuat dan

di sekelilingnya dibangun kolam ikan yang indah

sehingga perahu kecil bisa hilir mudik di sekitar masjid.

Ciri penting lainnya setiap desa Padri dikelilingi benteng yang kokoh yang menyulitkan musuh untum menerobosnya. Setiap penduduk laki-lakinya selalu siaga perang di dalam benteng. Lapisan benteng paling luar terdiri dari pagar berduri (aur- aur) yang tebal dan sulit ditembus. Setelah pagar berduri ada parit yang digenangi air dan paling

42 Ibid. h. 257

43 Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. h.129

44 Christine Dobbin. Op.Cit. h.209-210

17

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

dalam terdapat dinding dari batu yang kokoh. Di dalam benteng terdapat perkampungan, Masjid dan lahan perkebunan atau pertanian. Hanya ada satu jalan yang bisa dilewati yatu pintu gerbang yang selalu dijaga ketat. Inilah salah satu strategi Padri menghadapi perang panjang, mereka tetap bisa bercocok tanam di dalam benteng dalam kondisi perang sekalipun. 45

Gerakan Padri dari tahun 1803 hingga 1838, sementara Belanda secara resminya menguasaisebagiankecilSumateraBaratadalahpada 19 Februari 1821. Ditaklukkan, berkuasa,menang dan dikalahkan silih berganti dalamsepanjang masa ini.

Sistem pemerintahan

Padri tidak bekerja untuk Raja, Penghulu atau sebagainya di Sumatera. Pemimpin tertinggi Padri di di pegang oleh Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai. Penguasatertinggi dalam pemerintahan Padri adalah Syariah Islam. Gerakan Padri tidak memberontak pada kekuasaan yang berdaulat. Mereka tidak merebut tanah, negara dan kekuasaan dari negara dan penguasa manapun. Kepimpinan ulama dalam negara Padri juga tidak seperti konflik sengketa antara uskup dengan kaisar dalam agama Kristen dahulu yang menimbulkan kekuasaan mutlak Uskup. 46

Di Minangkabau terjadi kekosongan kepemimpinan dalam skala besar saat itu. Huru-hara, perampokan, pencurian, bajak laut dan sebagainya merajalela. Tidak ada pemerintahan yang berdaulat selain Padri dan Belanda. Beberapa raja yanglemah dibunuh oleh Padri seperti yang terjadi di Sumatera Barat dan Tanah Batak.

Padri adalah sebuah pemerintahan yang berdaulat dan diakui olehpribumi dan penjajah. Pusat pemerintahan Padripada awalnya adalah Bonjol, Rao dan Tambusai Riau. Akan tetapi setelah Padri ditaklukan pusat kepimpinan Padri berpindah- pindah seperti di hutan untuk mengatur strategi perang dalam mengahadapi Belanda. Perlawanan Padri menyebabkan pasukan Belanda di Rao, Bonjol

45 Ibid. h. 222

46 G.H. Sabine (1954) Teori-Teori Politik (terj). Djakarta: Binatjipta, h. 227 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.125

sampai Mangopoh berhasil dikalahkan yang diikuti daerah lainnya. 47

Belanda tidak pernah menjajah semua daerahsecara serentak, Padri berhasil ditaklukkan setelah mereka berhasil menaklukkan Pangeran Diponegoro kemudian membawa sisa-sisa tentara Diponegoro yang menyerah untuk melawan Padri di Sumatera. Kalau perang terjadi sekaligus di semua tempat maka penjajah tidak akan mampu melawannya. Sumber pendapatan negara Padri adalah harta rampasan perang, pertanian, perdagangan, zakat, infaq, shadagah dan lainnya.

Tuanku Imam Bonjol juga dipilih oleh para penghulu untuk menjadi pemimpin yang direstui oleh pemimpin lainnya. Beliau Didaulat oleh para pembesar. Tuanku imam Bonjol adalah pemimpin, imam, khalifah yang berkuasa. Untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu Tuanku Imam Bonjol menyerahkan kekuasaan pada para pembesar, tetapi mereka menyerahkannya kembali. 48

Pada masa Imam Bonjol sangat menjunjung tinggi hukum Islam. Ini terbukti dengan diperbaikinya berbagai kesalahan dan kekhilafan masa lalu seperti membebaskan kembali tawanan perang umat Islam, mengembalikan harta rampasan mereka, menghukum panglima perang yang salah membunuh ulama dan memperbaiki hal-hal yang berkaitan dengan agama. Sebelum membuat kebijakan penting seperti perang Tuanku Imam Bonjol bermusyawarat terlebih dulu dengan para pembesarnya. Diplomasi denganjalan berunding dengan Belanda sering dikhianati oleh penjajah. Bisa dikatakan masa itu adalah masa Jahiliyah dimana Batak dengan kejahatannya sampai memakan manusia, orang Melayu Pribumi dengan kejahatannya tersendiri dan di alam dunia kejahatan itu datanglah kepemimpinan Tuanku Imam Bonjol yang terkadang memerlukan kekuatan untuk melawan kejahatan yang ada. 49

Wilayah Kekuasaan Padri

Sebelum kedatangan Belanda, Padri menguasai dan memerintah sebagian besar dari Minangkabau. Akan tetapi setelah kedatangan Belanda terdapat

47 J. C Boelhouwer, op.cit. h. 109, dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.125

48 Naskah Tuanku Imam Bonjol,h. 47 dan 72 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.126

49 Naskah Tuanku Imam Bonjol, ibid, h. 52 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.126

18

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

dua kepemimpinan yaitu; Belanda yang diikuti orang Belanda, Jawa, Madura, kaum adat dan masyarakat pribumi yang tidak setuju dengan Padri. Dan kepimpinan Padri yang diikuti oleh masyarakat Islam, masyarakat adat dan orang-orang yang mendukungnya. Belanda dikuti dengan jalan paksa, bujuk rayu, upah dan janji-janji manis. Sementara pemerintah Padri diikuti dengan cara suka rela dan iklhas.

Pada tahun 1821 Padri telah mengusai Seluruh daerah Pegunungan Agam, termasuk daerah Kota Lawas-Pandai Sikat di lereng gunung Merapi dan Singgalang, juga daerah Bukit Pau di ujung utara lembah Agam. Kemudian berkembang ke seluruh wilayah Danau Maninjau dan Matur sampai sebelah barat Agam.

Bonjol adalah ibukota Negara Islam Padri yang dihuni oleh para pembesar negara. Sementara masyarakat awam tinggal dikampung yang berdekatan dengannya. Pimpinan tertinggi adalah Tuanku Imam Bonjol atau nama sebenarnya Peto Syarif. 50 Daerah kekuasaan Padri lebih luas darinegara Malaysia, Singapura, Brunei dan Philipina saat ini, yaitu Sumatera Tengah, Riau, sampai sibolga tanah batak. 51

Kekuatan Tentara Padri

Padriakan menempatkan sebanyak 500 prajurit pilihan untuk menjaga negeri yangditaklukan. Kekuatan Padri Pernah mengepungbenteng Belanda di Natal dengan kekuatan 10.000 tentara Padri dan ditempat lain terdapat 5000 tentara.Pasukan yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai saja sebanyak 7000 orang. Terdapat 500.000 orang pengikut Padri yang bekerja untuk membangun kota Bonjol yang didatangkan dari berbagai daerah. Bandingkan jumlah tentaraIslam dalam perang Badar seramai 313 orang,perang Uhud 1000 orang, perang Khandaq 2000 orang, perang Khaibar 1600 orang, perang Mutah 3000 orang, perang Hunain sebanyak 12.000 orang tentara Muslim.

Perang antara Belanda dengan Padri terjadi bertahun-tahun lamanya. Adakalanya Padri menangdan adakalanya terpaksa bersembunyi dalam hutandisaat kalah dan adakalanya Tuanku

50 Hamka (1967) Ajahku. Jakarta: Djajamurni, h. 29 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.126

51 Naskah Tuanku Imam Bonjol, op.cit, h. 82. 29 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.127

Imam BonjolBerhasil merebut kembali bonjol setelah ditaklukkan Belanda, setelah sebelumnya beliau memerintah dari hutan. Mereka berperang siang malam dengan gagah berani dan pantang menyerah, walaupun dengan peralatan perang yang sederhana.

Tentera Belanda Kruger mengakui lebih menderita melawan Padri daripada melawan pasukan Napoleon di Rusia. Hanya 41 tentara tersisa dari 112 tentara yang berangkat. Hanya seorang yang sampai ke Mangopoh. Perjuangan Tuanku Rao bersama kaum Padrilainnya yang sangat heroik, sangat jelas ketika merebut Benteng Amerongen (sampai sekarang sisa benteng tersebut masih terlihat dengan jelas).

Benteng Amerongen didirikan Oleh Inggris dan diambil alih oleh Belanda. Diceritakan, ketika tentara Belanda yang menduduki Bonjol, Lubuk Sikaping, Lundar, Tambangan dan daerah lainnya yang sebelumnya diduduki oleh kaum Padri. Namun benteng pertahanan tersebut, masih bertahan dan inilah satu-satunya basis pertahanan Belanda yang mereka miliki. Namun, dengan sikap heroik yang kuat akhirnya bulan November 1833 benteng tersebut dapat direbut oleh kaum Padri dan berhasil memukul mundur pasukan Belanda dan pergi ke Natal. 52

Pemerintahan Padri menerapkan sistem kepimpinan Ulama, setiap pemimpin besar dalam Padri adalah berstatus ulama yang dilahirkan dari konsep syura dan mufakat para pemimpin yang terdiri dari ulama juga. Ismael Hasan dewan penasehat MUI pusat mengatakan bahwa kepimpinan Padri adalah terdiri dari mereka yang faqihun wa al-hakimun serta pejuang strategis. 53 Model ini mencontoh model kepemimpinan Nabi Muhammad dan khulafaur Rasyidin sesudah beliau dimana kepala pemerintahan sekaligus sebagai pemimpin agama (ulama) dan panglima perang.

Nabi adalah sumber Hukum Islam, Para Khalifah adalah mereka yang paling memahami ajaran Islam dan mereka menjadi pemimpin. Salah satu kriteria imam atau Khilafah ialah memahami hukum yang membuatnya mampu berijtihad, ini dimiliki oleh Ulama. Syarat Adil, Sehat Jasmani dan Rohani,

52 Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.126-127

53 Ibid. hlm 127

19

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

berwawasan luas dan berani, nampaknya dimiliki oleh Pimpinan Padri.

(b) Periode II: Jihad Kaum Padri Melawan Belanda dan Kaum Adat (1821 – 1832)

Pada priode ini terjadi pertempuran antara kaum Padri dengan Belanda-Kristen yang dibantu sepenuhnya oleh golongan penghulu adat. Dalam masa ini sifat pertempuran telah berubah antara penguasa kolonial Belanda-Kristen yang mau menjajah Sumatera Barat yang dibantu oleh para penguasa bangsa sendiri yang berkolaborasi untuk mempertahankan eksistensinya sebagai penguasa yang ditentang secara gigih oleh kaum Padri.

Ketika Belanda muncul dan mulai terlibat secara langsung di jantung Minangkabau, kekuatan Tuanku Imam Bonjol berada dalam posisi yang kuat secara militer. Kavaleri dan pengetahuan tentang dataran dataran tinggi dan pegunungan yang tak tertandingi, dan pasukannya telah membuktikan diri mampu mengalahkan pasukan Belanda. Pengendalian persediaan makanan, sawah dan lahan pertanian, serta tambang emas, dijamin oleh prajuritnya. 54

Belanda yang tahu bahwa daerah pesisir seperti Pariaman, Tiku, Air Bangis adalah daerah strategis yang telah dikuasai kaum Padri, maka Belanda telah membagi pasukan untuk merebut daerah-daerah tersebut. Dalam menghadapi serangan Belanda ini, maka terpaksa kaum Padri yang berada di Tapanuli Selatan di bawah pimpinan Tuanku Rao dan Tuanku Tambusi dikirim untuk menghadapinya. Pertempuran sengit terjadi dan pada tahun 1821 Tuanku Rao gugur sebagai syuhada di Air Bangis. Perlawanan pasukan Padri melawan pasukan Belanda diteruskan dengan pimpinan Tuanku Tambusi.

Kemenangan yang diperoleh Belanda dalam medan pertempuran menghadapi pasukan Padri, menumbuhkan semangat bagi golongan penghulu, yang selama ini kekuasaannya telah lepas. Dengan secara diam-diam para penghulu Minangkabau mengadakan perjanjian kerjasama dengan Belanda untuk memerangi kaum Padri. Para penghulu yang mengatasnamakan yang Dipertuan Minangkabau langsung mengikat perjanjian kerjasama dengan Residen Belanda di Padang yang bernama Du Puy.

54 Jeffrey Hadler, Op.Cit. h. 983

20

Dengan terjalinnya kerjasama antara para penghulu dengan Belanda, maka berarti kaum Padri akan menghadapi bahaya besar. Dalam kondisi demikian, Tuanku Nan Renceh, Yang menjadi pimpinan tertinggi kaum Padri yang gemilang pada tahun 1820 wafat karena ditembak Belanda. Atas persetujuan para perwira pasukan Padri, Imam Bonjol langsung memimpin gerakan Padri untuk menghadapi pasukan gabungan Belanda-Penghulu.

Pada tahun 1821 pertahanan Belanda di Semawang diserang oleh pasukan Padri; sedangkan pasukan Belanda yang mencoba memasuki Lintau dicerai-beraikan. Untuk menguasai medan, pasukan Belanda membuat benteng di Batusangkar dengan nama ‘Benteng atau Fort van der Capellen’. Berulang kali pasukan Belanda-Penghulu menyerang kedudukan pasukan Padri di Lintau, tetapi selalu mendapati kegagalan, bahkan pernah pasukan Belanda-Penghulu terjebak.

Perlawanan yang sengit dari pasukan Padri, mendorong Belanda untuk memperkuat pasukannya di Padang. Pada akhir tahun 1821 Belanda mengirimkan pasukannya dari Batavia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff. Dengan bantuan militer yang lengkap persenjataannya, pasukan Belanda melakukan ofensif terhadap kedudukan pasukan Padri.

Operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda-Penghulu ditujukan ke daerah yang dianggap strategis yaitu Luhak Tanah Datar. Dengan menaklukkan Luhak Tanah Datar, yang berpusat di Pagaruyung, menurut dugaan Belanda perlawanan pasukan Padri akan mudah ditumpas. Oleh karena itu pada tahun 1822 pasukan Belanda-Penghulu di bawah pimpinan Letnan Kolonel Raaff menyerang Pagaruyung.

Pertempuran sengit terjadi, korban dari kedua pihak banyak yang berjatuhan. Karena kekuatan yang tidak seimbang, akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri ke daerah Lintau setelah meninggalkan korban di pihak Belanda yang cukup besar. Usaha pengejaran dilakukan terus oleh pasukan Belanda dengan jalan mendatangkan bantuan dari Batusangkar. Tetapi pasukan Belanda sesampainya di Lintau seluruhnya dapat dipukul mundur dan terpaksa kembali ke pangkalan mereka di Batusangkar.

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Setelah Belanda memperkuat diri, ofensif dilakukan kembali dengan jalan memblokade daerah Lintau, sehingga terputus hubungannya dengan Luhak Lima Puluh Kota dan Luhak Agam. Walaupun nagari Tanjung Alam dapat direbut oleh pasukan Belanda, tetapi usahanya untuk merebut Lintau dapat dipatahkan, karena pasukan Padri di Luhak Agam di bawah pimpinan Tuanku Pamansiangan memberikan perlawanan yang sengit.

Kemudian Letnan Kolonel Raaff menyusun kembali pasukannya untuk merebut Luhak Agam, Koto Lawas, Pandai Sikat dan Gunung; dan kali ini berhasil, setelah melalui pertempuran dahsyat, di mana Tuanku Pamansiangan dapat tertangkap, yang kemudian dihukum gantung oleh Belanda.

Pada akhir tahun 1822 pasukan Padri di bawah pimpinan Imam Bonjol melakukan serangan balasan terhadap pasukan Belanda di berbagai daerah yang pernah didudukinya. Pertama-tama Air Bangis mendapat serangan pasukan Padri. Operasi ke Air Bangis ini langsung dipimpin oleh Imam Bonjol dibantu oleh perwira-perwira pasukan Padri dari Tapanuli Selatan. Hanya dengan pertahanan yang luar biasa dan dibantu dengan tembakan-tembakan meriam laut, Air Bangis dapat selamat dari serangan pasukan Padri. Pasukan Padri kemudian mencoba merebut kembali daerah Luhak Agam. Serangan pasukan Padri ke daerah ini berhasil merebut kembali daerah Sungai Puar, Gunung, Sigandang dan beberapa daerah lainnya.

Awal tahun 1823 Kolonel Raaff mendapatkan tambahan pasukan militer dari Batavia. Dengan kekuatan baru, pasukan Belanda mengadakan operasi militer besar-besaran untuk merebut seluruh Luhak Tanah Datar. Tetapi di bukit Marapalam terjadi pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri selama tiga hari tiga malam, sehingga Belanda terpaksa harus mundur. Operasi militer Belanda kemudian diarahkan ke Luhak Agam seperti daerah Biaro dan Gunung Singgalang.

Pertempuran sengit terjadi antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri, tetapi karena kekuatan pasukan Belanda jauh lebih besar, akhirnya daerah-daerah itu dapat direbutnya. Kemenangan pasukan Belanda diikuti dengan tindakan biadab dengan jalan melakukan pembunuhan massal terhadap penduduk, besar-kecil, laki-laki maupun perempuan.

Pengalaman pertempuran selama tahun 1823, membuat Belanda berhitung dua kali. Sebab banyak daerah yang telah direbutnya, ternyata dapat kembali diambil oleh pasukan Padri. Operasi militer besar- besaran dengan tambahan pasukan dari Batavia terbukti tidak dapat menumpas pasukan Padri. Oleh karena itu, untuk kepentingan konsolidasi, Belanda berusaha untuk mengadakan perjanjian gencatan senjata. Usaha ini berhasil, sehingga pada tanggal 22 Januari 1824 perjanjian gencatan senjata di Masang ditanda-tangani oleh Belanda dan kaum Padri.

Perjanjian Masang hanya dapat bertahan kira- kira satu bulan lebih sedikit. Sebab Belanda dengan tiba-tiba mengadakan gerakan militer ke daerah Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam. Melalui pertempuran dahsyat, pusat Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam dapat sepenuhnya dikuasai pasukan Belanda, dan mereka mendirikan benteng dengan nama Fort de Kock di sana. Dengan kekalahan pasukan Padri di Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam, maka Imam Bonjol memusatkan kekuatan kaum Padri di benteng Bonjol dan sekitarnya sambil sekaligus melakukan konsolidasi pasukan yang telah jenuh berperang selama lebih dari dua puluh tahun lamanya.

Sementara itu pada tahun 1825 di Jawa telah pecah perang Jawa. Dengan timbulnya perang Jawa ini, kekuatan pasukan Belanda menjadi terpecah dua: sebagian untuk menghadapi perang Padri yang tak kunjung selesai, dan yang sebagian lagi harus menghadapi Perang Jawa yang baru muncul. Karena perang Jawa dianggap oleh Belanda lebih strategis dan dapat mengancam eksistensi Belanda di Batavia, pusat pemerintahan kolonial Belanda (Hindia Belanda), maka mau tidak mau semua kekuatau militer harus dipusatkan untuk menghadapi perang Jawa.

Untuk itu perlu ditempuh satu kebijaksanaan guna mengadakan perdamaian kembali dengan kaum Padri di Sumatera Barat. Pada tahun 1825 usaha perdamaian dan gencatan senjata dengan kaum Padri berhasil dicapai, dengan jalan mengakui kedaulatan kaum Padri di beberapa daerah Minangkabau yang memang masih secara penuh dikuasai Padri.

Perjanjian damai dan gencatan senjata dipergunakan oleh Belanda untuk menarik pasukannya dari Sumatera Barat sebanyak 4300

21

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

orang, dan mensisakan hanya 700 orang saja. Pasukan sisa sebanyak 700 orang serdadu itu, digunakan hanya untuk menjaga benteng dan pusat- pusat pertahanan Belanda di Sumatera Barat.

Setelah Perang Jawa selesai dan kemenangan diperoleh oleh penguasa kolonial Belanda, maka kekuatan militer Belanda di Jawa sebagian terbesar dibawa ke Sumatera Barat untuk menghadapi Perang Padri. Dengan kekuatan militer yang besar Belanda melakukan serangan ke daerah pertahanan pasukan Padri. Pada akhir tahun 1831, Katiagan kota pelabuhan yang menjadi pusat perdagangan kaum Padri direbut oleh pasukan Belanda. Kemudian berturut-turut Marapalam jatuh pada akhir 1831, Kapau, Kamang dan Lintau jatuh pada tahun 1832, dan Matur serta Masang dikuasai Belanda pada tahun 1834.

Kejatuhan daerah-daerah pelabuhan ke tangan Belanda mendorong kaum Padri, yang memusatkan kekuatannya di benteng Bonjol, mencari jalan jalur perdagangan melalui sungai Rokan, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, di mana sebuah anak sungai Kampar kanan dapat dilayari sampai dekat Bonjol. Hubungan Bonjol ke timur melalui anak sungai tersebut sampai ke Pelalawan, dan dari sana bisa terus ke Penang dan Singapura, dapat dikuasai. Tetapi jalur pelayaran ini, pada akhir tahun 1834 dapat direbut oleh Belanda. Dengan demikian posisi pasukan Padri yang berpusat di benteng Bonjol mendapat kesulitan, terutama dalam memperoleh suplai bahan makanan dan persenjataan. 55

Periode III: Jihad Kaum Padri dan Kaum Adat melawan Penjajah Belanda (1832 – 1837)

Priode ini adalah merupakan perjuangan seluruh rakyat Sumatera Barat, dimana kaum Padri dan golongan penghulu adat telah barsatu melawan penguasa kolonial Belanda-Kristen. Dalam masa ini rakyat Sumatera Barat dengan dipelopori dan dipimpin oleh para ulama yang tergabung dalam kaum Padri bahu-membahu di medan pertempuran untuk mengusir penguasa kolonial Belanda-Kristen dari Sumatera Barat.

(c)

Kemenangan yang gilang-gemilang diperoleh pasukan Belanda menimbulkan kecemasan para golongan penghulu, yang selama ini telah membantunya. Kekuasaan yang diharapkan para

55 Abdul Qadir. Op.Cit. hlm 34-36

22

penghulu dapat dipegangnya kembali, ternyata setelah kemenangan Belanda menjadi buyar.

Sikap sombong dan moral yang bejat yang dipertontonkan oleh pasukan Belanda-Kristen, seperti menjadikan masjid sebagai tempat asrama militer dan tempat minum-minuman keras, mengusir rakyat kecil dari rumah-rumah mereka, pembantaian massal, pemerkosaan terhadap wanita-wanita, memanjakan orang-orang Cina dengan memberi kesempatan menguasai perekonomian rakyat, akhirnya menimbulkan rasa benci dan tak puas dari golongan penghulu kepada Belanda.

Kebencian dan kemarahan para penghulu menumbuhkan rasa harga diri untuk mengusir Belanda dari daerah Minangkabau untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda secara sendirian tidak mampu, karenanya perlu adanya kerjasama dengan kaum Padri.

Uluran tangan golongan penghulu disambut baik oleh kaum Padri. Perjanjian kerjasama dan ikrar antara golongan penghulu dengan kaum Padri untuk mengusir Belanda, dari tanah Minangkabau dilaksanakan pada akhir tahun 1832 bertempat di lereng gunung Tandikat. Gerakan perlawanan rakyat Sumatera Barat terhadap Belanda dipimpin langsung oleh Imam Bonjol.

Dalam perjanjian dan ikrar rahasia di lereng gunung Tandikat itu, telah ditetapkan bahwa tanggal 11 Januari 1833, kaum Padri dan golongan penghulu beserta rakyat Sumatera Barat secara serentak melakukan serangan kepada pasukan Belanda. Awal serangan rakyat Minangkabau ini terhadap pasukan Belanda banyak mengalami kemenangan, terutama di daerah sekitar benteng Bonjol, di mana pasukan Belanda ditempatkan untuk melakukan blokade. Pasukan Belanda yang langsung dipimpin oleh Letnan Kolonel Vermeulen Krieger, pimpinan tertinggi militer di Sumatera Barat, di daerah Sipisang diporak-porandakan oleh pasukan Padri, sehingga, banyak sekali serdadu Belanda yang mati terbunuh. Hanya Letnan Kolonel Vermeulen Krieger dan beberapa orang anak buahnya yang dapat menyelamatkan diri.

terpaksa

anak

Letnan

buahnya yang tinggal beberapa orang itu menempuh

Karena

semua

jalan

terputus

Krieger

maka

Kolonel

Vermeulen

dengan

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

ke

Bukittinggi.

Di Alahan Panjang, serangan secara serentak dapat dilakukan oleh rakyat Minangkabau dan berhasil memukul mundur pasukan Belanda, tetapi di Luhak Tanah Datar dan Luhak Agam, serangan itu tidak dapat dilaksanakan. Faktor penyebabnya ialah banyak daerah-daerah di sini belum menerima informasi dari hasil Ikrar Tandikat; disamping banyak daerah-daerah strategis yang dikuasai Belanda. Bahkan ada juga informasi ikrar ini jatuh ke tangan Belanda, sehingga orang-orang yang dicurigai segera ditangkap. Di samping itu memang masih banyak para penghulu atau kepala adat yang tetap setia kepada Belanda.

Timbulnya perlawanan serentak dari seluruh rakyat Minangkabau, sebagai realisasi ikrar Tandikat, memaksa Gubernur Jenderal Van den Bosch pergi ke Padang pada tanggal 23 Agustus 1833, untuk melihat dari dekat jalannya operasi militer yang dilakukan oleh pasukan Belanda. Sesampainya di Padang, ia melakukan perundingan dengan Jenderal Riesz dan Letnan Kolonel Elout untuk segera menaklukkan benteng Bonjol, yang dijadikan pusat meriam besar pasukan Padri, Riesz dan Elout berpendapat belum saatnya untuk mengadakan serangan umum terhadap benteng Bonjol, karena kesetiaan penduduk Agam masih disangsikan, dan mereka sangat mungkin kelak menyerang pasukan Belanda dari belakang. Tetapi Jenderal Van den Bosch bersikeras untuk segera menaklukkan benteng Bonjol, dan paling lambat tanggal 10 september 1833 Bonjol harus jatuh. Kedua opsir tersebut meminta tangguh enam hari lagi, sehingga jatuhnya Bonjol diharapkan pada tanggal 16 September 1833.

Meskipun demikian, kedua opsir tersebut belum yakin dapat melaksanakan rencana yang telah diputuskannya, sebab besar sekali kesulitan- kesulitan yang harus dihadapinya. Pertama, karena mereka harus rnengerahkan tiga kolone: satu kolonne harus menyerang Bonjol dengan melalui Suliki dan Puar Datar di Luhak Lima Puluh Kota, dan satu kolonne dari Padang Hilir melalui Manggopoh dan Luhak Ambalau, dan kolonne ketiga dari Ram melalui Lubuk Sikaping. Dan disamping itu harus disiapkan pula satu kolonne yang pura-pura menyerang Padri di daerah Matur, supaya pasukan Padri mengerahkan pasukannya ke sana. Sebelum

jalan

hutan

belantara

untuk

bisa

kembali

23

pasukan menyerbu ke Bonjol, kolonne-kolonne itu harus mampu menundukkan dan menaklukkan daerah-daerah di sekelilingnya, dan merusakkan semua pertahanan rakyat di Luhak Agam.

Rakyat Padang Datar umumnya marah betul kepada tentara Belanda, karena melihat kekejaman dan kesadisannya di Guguk Sigadang; dan rasa benci kepada kaki-tangan Belanda yang bersifat sewenang- wenang serta mencurigai dan menangkap rakyat awam.

Sementara itu, Mayor de Quay mengutus Tuanku Muda Halaban untuk membujuk Imam Bonjol supaya berunding dan berdamai dengan Belanda. Imam Bonjol menyatakan kepada Tuanku Muda Halaban, bahwa ia bersedia berunding di suatu tempat yang telah ditetapkan. Akhirnya perundingan itu dapat dilaksanakan.

Dalam kesempatan perundingan ini, tenggang waktu yang tersedia itu digunakan dengan sebaik-baiknya oleh Belanda untuk menyiapkan pasukannya, di samping diharapkan pasukan Padri menjadi lengah. Untuk memudahkan mencapai Bonjol, maka Mayor de Quay mengerahkan pasukannya yang dibantu oleh 1500 penduduk dari Lima Puluh Kota untuk membuat jalan melalui hutan-hutan lebat, yang membatasi Luhak Lima Puluh Kota dengan Lembah Alahan Panjang.

Pasukan Padri ternyata tidak lengah untuk terus mengamat-amati semua persiapan tentara Belanda itu, sehingga semua jalan masuk ke Lambah Alahan Panjang ditutupnya dengan berbagai rintangan, di kiri kanan jalan dipersiapkan kubu-kubu pertahanan.

Di satu bukit, di tepi jalan ke Tujuh Kota, di dekat Batu Pelupuh, di puncaknya yang kerap kali ditutupi kabut dan awan, dibuat oleh pasukan Padri sebuah kubu pertahanan. Dari sini dapat diperhatikan segala gerak-gerik pasukan Belanda dari jarak jauh. Kubu pertahanan pasukan Padri yang strategis ini diketahui oleh Belanda. Karenanya pada tanggal 10 September 1833, Jenderal Riesz mengerahkan rakyat Agam yang setia kepada Belanda untuk menaklukkan kubu tersebut. Usaha penaklukan kubu ini gagal total, dimana sebagian besar pasukan rakyat Agam mati dan luka-luka, dan memaksa mereka kembali ke Bukittinggi.

Besok paginya, yakni tanggal 11 September 1833, Belanda mengerahkan 200 orang tentaranya

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

yang dilengkapi dengan meriam dan diperkuat oleh pasukan golongan adat dari Batipuh dan Agam. Pada

Jam 05.00 pagi pasukan Belanda telah dapat mendaki bukit pertahanan pasukan Padri. Tetapi kira-kira

150 langkah mendekati kubu pertahanan, dengan

sekonyong-konyong pasukan Padri mendahului menyerang pasukan Belanda. Pertempuran sengit terjadi, diantara kedua belah pihak banyak korban berjatuhan. Tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri turun ke desa Batu Pelupuh dan bertahan di belakang pematang-pematang sawah. Belanda mengerahkan pasukannya untuk mengejarnya, dengan sangat cerdik pasukan Padri bersembunyi ke hutan-hutan lebat yang sulit untuk dikejar oleh pasukan Belanda. Desa Batu Pelupuh dan tujuh desa lainnya yang ditinggalkan pasukan Padri habis dirampok dan dibumi-hanguskan oleh pasukan Belanda. Walaupun pasukan Padri kalah, tetapi di pihak Belanda pun banyak sekali yang mati dan luka- luka; dan dengan susah payah mereka dapat kembali ke Bukittinggi.

Setelah kubu pertahanan di bukit dekat Alahan Panjang dapat direbut pasukan Belanda, maka Jenderal Riesz memusatkan serangan tipuan ke Matur. Sebagian pasukannya diharuskan menduduki daerah Pantar, sebuah desa yang letaknya di seberang jurang dekat kubu pertahanan pasukan

Padri. Pasukan Belanda ini dibantu oleh pasukan

600

orang dari Batipuh, 400 orang dari Banuhampu,

300

orang dari Sungai Puar, 340 orang dari Empat

Kota, 604 orang dari Ampat Angkat, dan 240 orang dari Tambangan; seluruhnya berjumlah 2400 orang. Tetapi sebelum tentara Belanda datang di Pantar, pada pagi-pagi sekali tanggal 12 September 1833, desa tersebut telah dibumi-hanguskan oleh pasukan Padri. Di selatan Pantar yang telah menjadi lautan api, Belanda membuat kubu pertahanan untuk menahan serangan-serangan pasukan Padri. Tetapi pasukan Padri pun mengerti bahwa serangan pasukan Belanda ini hanya merupakan pancingan, karenanya mereka tetap bertahan di kubu-kubu pertahanan mereka masing-masing.

Sementara itu pasukan Padri memperkuat Kota Lalang guna menahan tentara Belanda yang datang dari arah Suliki yang dipimpin oleh Mayor de Quay. Pada tanggal 13 September 1833 pasukan Belanda telah dihadang oleh pasukan

24

rakyat dari Tanah Datar, sehingga perjalanannya terhambat. Dan baru pada tanggal 14 September 1833 tentara Belanda melanjutkan serangannya ke Kota Lalang, yang dipertahankan dengan gigih oleh pasukan Padri. Tentara Belanda banyak yang mati dan luka-luka. Pertempuran berlangsung siang-malam dengan dahsyatnya, yang masing- masing pihak mengerahkan semua kekuatannya. Karena kekuatan pasukan Padri yang jauh lebih kecil dan lebih sederhana persenjataannya, akhirnya mengundurkan diri ke hutan.

Kota Lalang yang ditinggalkan pasukan Padri dijaga oleh pasukan Jawa dan Adat; dan tentara Belanda yang dibantu oleh ratusan pasukan adat dari Batipuh dan Lima Puluh Kota meneruskan penyerbuannya menuju Bonjol. Dalam perjalanan yang sulit ini pasukan Belanda senantiasa terjebak dengan serangan pasukan Padri dari belakang yang bersembunyi di hutan lebat.

Serangan gerilya pasukan Padri dengan taktik “serang dengan tiba-tiba dan lenyapsecaratiba-tiba”, menimbulkan kerugian yang besar bagi pasukan Belanda; dan karenanya menimbulkan rasa takut bagi pasukan-pasukan adat yang membantunya. Dengan diam-diam pasukan adat meninggalkan pasukan Belanda, sehingga menyulitkan pasukannya untuk melanjutkan penyerbuan. Hujan yang turun terus-menerus menambah kesulitan bagi pasukan Belanda, selain pasukan yang basah kuyup hampir mati kedinginan, juga pasukan pembawa makanan dan perlengkapan perang yang terdiri dari pribumi, banyak yang tak tahan dan akhirnya melarikan diri.

Dengan sisa-sisa kekuatan, pasukan Belanda sampai memasuki lembah Air Papa. Di lembah ini, yang sisi-sisi tebingnya cukup curam, digunakan oleh pasukan Padri sebagai kubu pertahanan dengan mudah menembak pasukan Belanda yang berada di bawah lembah. Dalam posisi yang demikian, terpaksa pasukan Belanda memusatkan pasukannya di lembah yang agak gersang, yang jauh dari jangkauan pasukan Padri.

Daerah terbuka yang digunakan pasukan Belanda memudahkan serangan bagi Pasukan Padri. Kelemahan ini benar-benar digunakan oleh pasukan Padri. Serangan yang datang dengan tiba-tiba, menyebabkan timbulnya kepanikan di kalangan pasukan Belanda, akhirnya tidak ada jalan lain kecuali melarikan diri dan membatalkan rencana

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

penyerbuan selanjutnya. Diam-diam pasukan Belanda pada malam hari meninggalkan medan pertempuran kembali ke Payakumbuh, dengan meninggalkan korban yang mati maupun yang luka- luka banyak sekali.

Dari front barat, pasukan Padri telah mengetahuinya bahwa tentara Belanda akan menyerang dari Manggopoh. Rakyat yang tinggal di sekitar Manggopoh seperti Bukit Maninjau dan Lubuk Ambalau diyakinkan dan diancam oleh pasukan Padri untuk tidak membantu pasukan Belanda.

Kolonne Belanda yang menyerang dari arah Manggopoh itu dipimpin oleh Letnan Kolonel Elout. Mereka berangkat ke Tapian Kandi tanggal 11 September 1835. Didaerah ini saja pasukan Belanda telah mendapat perlawanan pasukan Padri yang cukup sengit, karena tembakan meriam yang bertubi-tubi pasukan Padri terpaksa mundur ke daerah Pangkalan. Pasukan Belanda terus mendesak pasukan Padri di Pangkalan; pertempuran sengit terjadi hampir tiap langkah dari perjalanan pasukan Belanda. Dengan pengorbanan yang besar pasukan Padri dapat dipukul mundur dan pasukan Belanda dapat sampai di Kota Gedang.

Dari dataran tinggi Kota Gedang ada dua jalan; yaitu ke utara menuju Bonjol melalui Tarantang Tunggang, dan ke timur menuju XII Kota. Letnan Kolonel Elout pergi ke Tanjung untuk bertemu dengan Tuanku nan Tinggi dari Sungai Puar guna mendapat petunjuk jalan yang terbaik untuk mencapai Bonjol. Tuanku dari Sungai Puar memberi petunjuk jangan pergi ke Bonjol melalui XII Kota, karena rakyat di sana pasti akan menghambatnya. Karenanya ia kembali ke Kota Gedang, tetapi gudang perbekalan pasukan Belanda yang dikawal tidak begitu kuat disaat ditinggalkan telah habis dibakar oleh rakyat. Dalam kondisi seperti ini, Letnan Kolonel Elout sebagai komandan pasukan Belanda dari sektor barat memutuskan untuk mengundurkan diri ke Kota Merapak.

Gerakan mundur pasukan Belanda diketahui oleh pasukan Padri, kesempatan dan peluang ini digunakan sebaik-baiknya untuk melakukan pengejaran, dengan taktik gerilya. Serangan gerilya yang dilakukan pasukan Padri berhasil dengan gemilang, ratusan tentara Belanda dan pasukan adat mati terbunuh, juga hampir semua perlengkapan

perang seperti meriam dan perbekalan semuanya dapat dirampas. Pasukan Belanda hanya dapat membawa senjata dan pakaian yang melekat di tangan dan badannya.

Kolonne ketiga pasukan Belanda yang datang dari arah utara melalui Rao dipimpin oleb Mayor Eilers. Pasukan Eilers yang memang tidak begitu kuat, diberikan kelonggaran, jika pasukannya tidak mampu melawan pasukan Padri di sebelah utara Alahan Panjang, ia boleh maju hanya sampai Lubuk Sikaping saja. Di sini pasukannya harus bertahan sambil menunggu informasi kolonne yang lain, yang menyerang dari timur dan barat daerah Bonjol. Sambil menunggu berita dari kolonne-kolonne yang lain, Mayor Eilers menghimpun pasukan dari kepala-kepala adat dari Tuanku Yang Dipertuan di Rao dan Mandailing untuk memperkuat pasukannya yang hanya terdiri atas 80 orang serdadu. Usahanya berhasil dengan 1000 orang Rao, 400 orang Mandailing dan 500 orang Batak lainnya. Dengan kekuatan sekitar 2000 orang; Mayor Eilers maju menuju Bonjol. Sepanjang perjalanan pasukan Belanda mendapat perlawanan sengit dari pasukan Padri, baik dalam bentuk serangan gerilya maupun pertempuran frontal dari benteng ke benteng.

Pada tanggal 18 September 1833 pasukan Belanda telah sampai di Alai, kira-kira dua kilometer dari benteng Bonjol. Di sini pasukan Belanda telah mendapat perlawanan yang luar biasa oleh pasukan Padri, pertempuran sudah sampai satu lawan satu.

Akibatnya korban di pihak pasukan Belanda banyak sekali baik yang mati maupun lukaluka. Untuk menghindari korban yang lebih banyak, akhirnya pasukan Belanda mengundurkan diri ke Bonjol Hitam. Pengunduran diri pasukan Belanda ini diikuti terus dengan serangan-serangan pasukan Padri, baik siang maupun malam hari.

Karena terancam oleh kehancuran total, disamping ternyata dua kolonne dari timur maupun barat telah mundur, maka Mayor Eilers, pada tanggal 19 September 1833 memutuskan untuk mengundurkan diri, kembali ke pangkalan. Agar selamat dari sergapan pasukan Padri di tengah jalan, pengunduran diri harus dilakukan tengah malam.

Pada saat maghrib tiba, disaat tentara Belanda sedang sibuk berkemas-kemas untuk melarikan diri, tiba-tiba menjadi panik, karena pasukan Padri

25

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

menyerbu dengan cepat dan keras. Pasukan Rao dan Mandahiling berhamburan keluar mencari selamat dengan meninggalkan segala persenjataan dan perlengkapannya. Tentara Belanda juga tak mampu menguasai keadaan dan bahkan turut lari tanpa menghiraukan teriakan komandannya Mayor Eilers. Keadaan panik dan kacau, menyebabkan pasukan Belanda meninggalkan begitu saja meriam dan granat-granat serta senjata-senjata lainnya. Bahkan pasukan yang luka parah sebanyak 50 orang ditinggalkan begitu saja sampai mati terbunuh semuanya. Hanya dengan susah payah, sisa-sisa pasukan Belanda pada tanggal 20 September 1833, baru dapat selamat ke pangkalan.

Pengunduran diri pasukan Belanda adalah atas persetujuan Jenderal Van den Bosch; karenanya ia datang sendiri ke Guguk Sigandang untuk menerima pasukan-pasukan yang kalah itu. Dihadapan pasukannya, Jenderal Van den Bosch berucap: “Bila keadaan memang tidak mengizinkan, dan kesulitan begitu besar, sehingga sulit diatasi, pasukan boleh ditarik mundur; menunggu waktu yang tepat. Tetapi bagaimanapun Bonjol harus ditaklukkan”.

Pada tanggal 21 september 1833, Jenderal Van den Bosch memberi laporan ke Batavia bahwa penyerangan ke Bonjol gagal dan sedang diusahakan untuk konsolidasi guna penyerangan selanjutnya.

Selama tahun 1834 tidak ada usaha yang sungguh-sungguh yang dilakukan oleh pasukan Belanda untuk menaklukkan Bonjol, markas besar pasukan Padri, kecuali pertempuran kecil-kecilan untuk membersihkan daerah-daerah yang dekat dengan pusat pertahanan dan benteng Belanda. Selain itu pembuatan jalan dan jembatan, yang mengarah ke jurusan Bonjol terus dilakukan dengan giat, dengan mengerahkan ribuan tenaga kerja paksa. Pembuatan jalan dan jembatan itu dipersiapkan untuk memudahkan mobilitas pasukan Belanda dalam gerakannya menghancurkan Bonjol.

Baru pada tanggal 16 April 1835, pasukan Belanda memutuskan untuk mengadakan serangan besar-besaran untuk menaklukkan Bonjol dan sekitarnya. Operasi militer dimulai pada tanggal 21 April 1835, dimana dua kelompok pasukan Belanda yang berkumpul di Matur dan Bamban, bergerak menuju Masang. Meskipun sungai itu banjir, mereka menyeberangi juga dan terus masuk menyelusup ke dalam hutan rimba; mendaki gunung dan menuruni

lembah; guna meghindarkan dari kubu-kubu pertahanan Padri yang dipasang disekitar tepi jalan.

Pada tanggal 23 April 1835 pasukan Belanda telah sampai di tepi sungai Batang Ganting, terus menyeberang dan kemudian berkumpul di Batu Sari. Dari sini hanya ada satu jalan sempit menuju Sipisang, daerah yang dikuasai oleh pasukan Padri. Jalan sepanjang menuju Sipisang dipertahankan oleh pasukan Padri dengan pimpinan Datuk Baginda Kali. Serangan-serangan pasukan Padri untuk menghambat laju pasukan Belanda memang cukup merepotkan dan melelahkan, tetapi tidak berhasil menahan secara total.

Sesampainya di Sipisang, pertempuran sengit antara pasukan Belanda dengan pasukan Padri berjalan sangat dasyat, tiga hari tiga malam pertempuran berlangsung tanpa henti, sampai korban di kedua belah pihak banyak yang jatuh. Karena kekuatan yang tak sebanding, pasukan Padri terpaksa mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba dan menyeberangi kali. Jatuhnya daerah Sipisang, dijadikan oleh pasukan Belanda untuk kubu pertahanannya, sambil menunggu pembuatan jembatan menuju Bonjol.

Selain itu, satu kolonne pasukan Belanda pada tanggal 24 April 1835 berangkat menuju daerah Simawang Gedang, yaitu daerah yang dikuasai pasukan Padri. Dengan kekuatan hanya 500 orang pasukan Padri mencoba menahan tentara Belanda yang jumlah dan kekuatannya jauh lebih besar. Pertempuran dahsyat tak terhindari lagi, berjalan alot; walau akhirnya pasukan Padri mengundurkan diri.

Satu kompi pasukan tentara Bugis yang dibantu oleh pasukan adat dari Batipuh dan Tanah Datar bertugas untuk mengusir pasukan Padri yang berada di luar daerah Simawang Gadang. Bahkan pasukan Bugis bersama-sama pasukan adat Batipuh dan Tanah Datar berhasil mendesak pasukan Padri sampai ke Batang Kumpulan. Tetapi disini telah menunggu 1200 orang pasukan Padri untuk menghadang gerakan maju pasukan Belanda. Usaha ofensif pasukan Belanda yang terdiri dari pasukan Bugis, Batipuh dan Tanah Datar diporak-porandakan oleh pasukan Padri, hampir-hampir sebagian besar mati terbunuh.

26

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Seandainya tidak segera datang bala bantuan pasukan Belanda dengan cepat dan dalam jumlah besar, dapat diduga bahwa pasukan Belanda yang terdepan itu akan musnah seluruhnya. Datangnya bala bantuan pasukan Belanda tidak hanya menyelamatkan sisa-sisa pasukannya yang telah cerai-berai; tetapi juga mampu mendesak pasukan Padri, sehingga daerah Kampung Melayu yang menjadi ajang pertempuran dapat dikuasai oleh Belanda.

Kampung Melayu terletak di tepi sebatang sungai kecil, Air Taras. Tidak berapa jauh ke hilir sungai itu bertemu dengan sungai Batang Alahan Panjang. Kampung Melayu tersembunyi di dalam sebuah lembah yang dilingkari oleh bukit-bukit tinggi yang terjal.

Pasukan Padri yang mengundurkan diri dari daerah Kampung Melayu, bersembunyi dibukit- bukit terjal dengan kubu-kubu pertahanan yang tersembunyi, untuk menjepit pasukan Belanda yang ada di Air Taras. Pada tanggal 27 April 1835, pasukan Belanda mencoba menyerang pasukan Padri yang berada di bukit-bukit terjal itu; tetapi hasilnya nihil, bahkan puluhan tentaranya yang mati dan luka-luka.

Selama tiga hari pasukan Belanda melakukan konsolidasi dengan menambah pasukannya. Baru pada tanggal 3 Mei 1835 operasi militer dapat dilanjutkan. Tetapi, baru saja dimulai, Letnan Kolonel Bauer komandan pasukan Belanda telah terluka kena ranjau. Di saat pasukan Belanda menyeberangi sungai Air Taras diserang oleh pasukan Padri, sehingga banyak pasukannya yang tenggelam dan mati, karena senjata yang digunakan macet terendam air. Pertempuran kemudian berkembang menjadi perang tanding, yang tentunya menguntungkan pasukan Padri. Tetapi karena pasukan Belanda jauh lebih besar, akhirnya pasukan Padri terdesak dan meninggalkan kubu-kubu pertahanan yang ada di bukit-bukit terjal itu. Kemajuan yang diperoleh pasukan Belanda di daerah ini tidak langgeng karena tidak berapa lama pasukan Padri datang menyerang dengan kekuatan sekitar 500 orang.

Karena merasa daerah ini kurang aman, maka pasukan Belanda sebelum meninggalkannya telah melakukan perampokan dan pembakaran rumah- rumah penduduk dan ladang-ladang, sehingga menjadi daerah yang hangus terbakar. Laju pasukan Belanda menuju Bonjol sangat lamban, hampir

sebulan waktu yang diperlukan untuk bisa mendekati daerah Alahan Panjang. Front terdepan dari Alahan Panjang adalah Padang Lawas, yang secara penuh dikuasai oleh Pasukan Padri. Pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda yang mencoba maju ke front Padang Lawas dihambat dengan pertempuran sengit oleh pasukan Padri. Hanya dengan pasukan yang besar dan kuat persenjataannya dapat memukul mundur pasukan Padri, dan menguasai front Padang Lawas.

Pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda menuju sebelah timur sungai Alahan Panjang, sedangkan pasukan Padri berada di seberangnya pasukan musuh yang bersembunyi di benteng- benteng partahanannya senantiasa mendapat serangan gerilya dari pasukan Padri, sehingga selama lima hari-lima malam, pasukan musuh tidak dapat maju dan bahkan kehilangan 7 orang serdadunya mati dan 84 orang luka-luka.

Kampung Bonjol kira-kira 1200 hasta panjangnya dan 400 sampai 700 hasta lebarnya, sebab bagian selatan dari dinding barat mundur kira-kira 200 hasta ke belakang. Letak kampung ini antara 1000 atau 1200 hasta dari tepi timur sungai Batang Alahan Panjang. Di timur dan tenggaranya terdapat tebing terjal dan sebuah bukit yang hampir tegak lurus keatas, yang dengan Bonjol dipisahkan oleh

sebatang anak sungai kecil. Bukit ini bernama Tajadi.

Di atas bukit ini pasukan Padri membuat beberapa

kubu pertahanan yang kuat dan baik letaknya, dan dari sana mereka menembakkan meriam yang bermacam kaliber kepada musuh diseberang barat Alahan Panjang.

Di kampung itu banyak rumah yang terbuat dari kayu, yang sebagian besar dinaungi oleh hutan bambu, pohon-pohon kelapa dan pohon buah- buahan. Di sebelah barat dan utara kampung Bonjol terbentang sawah luas. Di sebelah timur Bonjol membujur bukit barisan tinggi membujur, yang diselimuti oleh hutan lebat. Di balik timur bukit

barisan itulah terletak tanah Lima Puluh Kota. Tanah

di sebelah selatan dan tenggara Lembah Alahan

Panjang ini bergunung-gunung dan berbukit batu. Keadaan alam ini dipergunakan oleh pasukan Padri sebagai benteng pertahanan yang paling besar dan menjadi markas besar Imam Bonjol.

Pada umumnya, semak, belukar dan hutan yang sangat tebal di sekitar Bonjol ini, sehingga kubu-

27

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

kubu pertahanan pasukan Padri tidak mudah dilihat dari luar. Di tengah lembah mengalir dan berliku-liku sungai Batang Alahan Panjang dari utara ke selatan.

Pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835 pasukan Belanda membuat kubu pertahanan yang kira-kira

hanya250langkahdariBonjol.Denganmenggunakan

houwitser, mortar dan meriam besar, menembaki benteng Bonjol, yang dibalas kontan oleh meriam- meriam pasukan Padri yang berada di bukit Tajadi. Karena posisi yang kurang menguntungkan pasukan musuh maka banyak pasukannya yang mati dan terluka, karena itu Letnan Kolonel Bauer meminta kepada Residen Francis untuk memberikan bala bantuan sebanyak 2000 orang lagi. Dan pada tanggal 17 Juni 1835 bala bantuan itu datang. Pada tanggal 21 Juni 1835, dengan kekuatan yang besar pasukan Belanda memulai gerakan maju menuju sasaran akhir yaitu Bonjol. Sebelum pasukan musuh sampai pada sasaran terakhir, di kampung Jambak dan Kota mendapat perlawanan yang sengit dari pasukan rakyat dan Padri.

Di Bonjol yang merupakan markas besar pasukan Padri telah berkumpul komandan-komandan pasukan Padri yang datang dari daerah-daerah yang telah ditaklukkan pasukan Belanda, yaitu dari Tanah Datar, Lintau, Bua, Lima Puluh Kuta, Agam, Raodan Padang Hilir. Semua bertekad bulat untuk mempertahankan markas besar Bonjol sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid.

Melihat kokohnya benteng Bonjol, disamping banyak tentaranya yang mati dan luka-luka, pasukan Belanda tidak melakukan gerakan ofensif menyerang Bonjol tetapi melakukan blokade terhadap Bonjol, dengan tujuan untuk melumpuhkan suplai bahan makanan dan senjata pasukan Padri. Blokade yang dilakukan Belanda, ternyata tidak efektif, karena justru benteng-benteng pertahanan pasukan musuh dan bahan perbekalannya yang banyak diserang oleh pasukan gerilya Padri yang memang berada di belakang pasukan musuh.

Usaha untuk melakukan serangan ofensif terhadap Bonjol masih menunggu bala bantuan tentara, walau di sekitar Bonjol pasukan Belanda telah berkumpul, pada awal Agustus 1835, sekitar 14.000 orang. Baru setelah datang bala bantuan tentara Belanda yang terdiri dari pasukan Bugis; pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan dilakukan terhadap kubu-kubu pertahanan pasukan

Padri yang berada di bukit Tajadi. Satu persatu kubu- kubu pertahanan strategis pasukan Padri ini jatuh ke tangan pasukan musuh.

Pada tanggal 5 September 1835 pasukan Bonjol menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu- kubu pertahahan musuh yang dibuat sekitar benteng. Dengan keberanian yang luar biasa pasukan Padri menyerang benteng-benteng Belanda, yang banyak menelan korban di kedua belah pihak. Setelah serangan dilakukan, pasukan Padri segera masuk kembali ke dalam benteng.

Sementara itu pasukan Belanda yang berada di Puar Datar diperintahkan oleh Letnan Kolonel Bauer maju menuju Bonjol. Dalam perjalanannya pasukan Belanda ini harus melalui desa Talang. Sesampainya di sini pasukan Padri yang dibantu oleh rakyat melakukan perlawanan yang sengit, sehingga memaksa pasukan musuh kembali ke Air Papa dan terus ke Puar Datar. Usaha mendatangkan bantuan untuk menyerang Bonjol dari arah Luhak Lima Puluh Kota gagal.

Kegagalan menyerang Bonjol dari jurusan Luhak Lima puluh Kota, pada tanggal 9 September 1835, maka serangan ditempuh melalui Padang Bubus. Hasilnya sama, gagal, bahkan pasukan Belanda banyak yang mati dan luka-luka. Dan Letnan Kolonel Bauer yang menderita sakit, terpaksa dikirim ke Bukittinggi dan digantikan oleh Mayor Prager.

Kebijaksanaan Mayor Prager tidak melakukan serangan ofensif ke Bonjol sampai datangnya bala bantuan baru dari markas besarnya di Bukittinggi. Dalam kesempatan yang terluang ini, pasukan Padri melakukan serangan gerilya terhadap kubu-kubu pertahanan Belanda, memusnahkan gudang-gudang perbekalan dan gudang mesiu bukan saja daerah di sekitar Bonjol, tetapi sampai jauh menyelinap ke Kumpulan, Sirnawang Gadang dan Puar Datar.

Blokade yang berlarut-larut, menimbulkan keberanian rakyat untuk memberontak terhadap pasukan Belanda, sehingga pada tanggal ll Desember 1835 rakyat desa Alahan Mati dan Simpang mengangkat senjata kembali. Tentara Belanda tak mampu mengatasi pemberontakan rakyat desa-desa ini, sehingga mendatangkan pasukan bantuan dari serdadu-serdadu Madura. Dengan bantuan pasukan Madura, Belanda dapat memadamkan perlawanan

28

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

ini. Di desa Kumpulan juga terjadi peristiwa yang sama, yaitu perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Gerakan maju pasukan Belanda menyerbu benteng Bonjol yang tinggal beberapa ratus kilometer, dalam tiga bulan ini, hampir-hampir tidak mengalami kemajuan yang berarti, malah sebaliknya daerah-daerah yang telah ditaklukkan kembali memberontak; dan tidak sedikit menimbulkan korban bagi pasukan musuh. Sambil menunggu bala bantuan dari Batavia, Belanda mencoba melakukan perundingan dengan pasukan Padri.

Perundingan, yang sebenarnya hanya untuk mengulur-ulur waktu saja, ternyata ditolak oleh Imam Bonjol. Peluang waktu ini dipergunakan oleh Imam Bonjol untuk membangkitkan rakyat yang tinggal di garis belakang pasukan musuh untuk berontak.

Setelah kegagalan perundingan ini, dan tambahan pasukan dari Batavia telah tiba, maka pada tanggal 3 Desember 1836, pasukan Belanda melakukan serangan besar-besaran terhadap benteng Bonjol, sebagai pukulan terakhir penaklukkan Bonjol. Serangan dahsyat mampu menjebolsebagianbentengBonjol,sehinggapasukan Belanda masuk menyerbu dan berhasil membunuh putera serta keluarga Imam Bonjol. Tetapi serangan balik pasukan Bonjol (Padri) mampu memporak- porandakan musuh sehingga terusir keluar benteng dengan meninggalkan banyak sekali korban.

Kegagalan penaklukkan benteng Bonjol sekarang ini benar-benar memukul Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Oleh karena itu Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengirimkan panglima tertingginya Mayor Jenderal Coclius ke Bukittinggi untuk memimpin langsung serangan ke benteng Bonjol untuk kesekian kalinya. Dengan mengunakan pasukan artileri yang bersenjatakan meriam-meriam besar untuk memboboIkan benteng; diperkuat dengan pasukan infantri dan kavaleri, pasukan Belanda memulai lagi serangannya ke benteng Bonjol.

Serangan yang bertubi-tubi dan dahsyat dengan hujan peluru meriam, masih memerlukan waktu yang cukup lama, kira-kira 8 bulan lamanya. Setelah bukit Tajadi jatuh pada tanggal 15 Agustus 1837, maka pada tanggal 16 Agustus 1837 benteng Bonjol yang anggun dapat ditaklukkan. Tetapi

tak berhasil menangkap Imam Bonjol, karena sempat mengundurkan diri keluar benteng dengan pasukan Padri yang mendampinginya dan terus menuju daerah Marapak. Imam Bonjol mencoba mengadakan konsolidasi terhadap pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, karena telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda. Hanya sedikit saja lagi pasukan yang masih siap bertempur.

Melihat kenyataan semacam ini, Imam Bonjol menyerukan kepada pasukannya yang terserak di mana-mana untuk kembali ke kampung halamannya masing-masing, untuk memulai hidup baru sebagai rakyat biasa. Dan yang memang benar-benar tak ada lagi semangat berjuang, dibiarkan untuk menyerah kepada Belanda.

Dalam pelarian dan persembunyiannya Imam Bonjol dengan pengawalnya dari hutan kehutan, lembah dan ngarai, memang sangat melelahkan, penderitaan kurang makan, kurang tidur, sakit dan lelah mengakibatkan para pengawalnya hampir- hampir mati semuanya. Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak Imam Bonjol berunding.

Setelah dirundingkan bersama antara Imam Bonjol dan para stafnya, tawaran perundingan dari Residen Francis di terima. Daerah perundingan dipilih Pelupuh, dimana Imam Bonjol akan bertemu langsung dengan Residen Francis. Pada tanggal 28 Oktober 1837 Imam Bonjol dengan stafnya keluar dari Bukit Gadang menuju Pelupuh.

SesampainyadiPelupuh,bukannyaperundingan yang terjadi, tetapi pasukan Belanda telah siap menangkap Imam Bonjol dengan stafnya. Karena Imam Bonjol dan stafnya tidak membawa senjata, sesuai dengan syarat-syarat perundingan akhirnya dengan mudah pasukan Belanda menangkap Imam Bonjol dan stafnya. Dari Pelupuh Imam Bonjol dibawa ke Bukittinggi dan terus ke Padang. Pada tanggal 23 Januari 1838 dipindahkan ke Cianjur, dan pada akhir tahun 1838 Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon. Baru tanggal 19 Januari 1839 Imam Bonjol dipindahkan ke Manado sampai wafat pada tanggal 8 Nopember 1864, setelah menjalani masa pembuangan selama 27 tahun lamanya. 56

56 Abdul Qadir. Op.Cit. hlm.36-43

29

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Kelemahan dan Faktor Penyebab Kekalahan Imam Bonjol

Di saat Tuanku Imam Bonjol sudah tua dan lemah tidak memilih kader yang akan menggantikannya. Kelemahan dalam menentukan kader dianggap sebagai kelemahan disatu sisi akan tetapi disisi lain ianya dianggap sebagai sikap beliau yang tidak mau jabatan itu diwarisi keturunannya. 57

Kebijakan penting dalam Negara dimusyawaratkan dan diputuskan secara bersama. Disaat Tuanku Imam Bonjol mengikuti kehendak sebagian penghulu agar menyerah dan kemudian ternyata para Penghulu menyesal atas pilihannya karena kejamnya Belanda. Tuanku Imam Bonjol bukan seorang yang diktator sehingga selalu bermusyawarah dalam hal yang penting. Terlalu percaya pada Belanda dan terlalu menurut suara pembesar lainnya disaat genting menyebabkan jatuhnya pemerintahan beliau. 58

Salah satu sebab kekalahan rakyat Minang adalah banyaknya pengkhianat dari kalangan adat, yang akhirnya kaum adat menyesal karena berkhianat dengan Tuanku Imam Bonjol karena ternyata Belanda jauh lebih kejam dari kaum Padri. Kebencian penduduk pribumi pada Belanda ditandai dengan tidak mau memberi dan menjual air kelapa pada orang Eropa. 59

Padri tidak mampu memilah orang yang bersalah dengan yang tidak. Ini disebabkan budaya kesukuan yang tinggi di sebuah nagari. Untuk menaklukkan sebuah nagari maka pilihannya adalah membunuh kepala suku, menghancurkan kampung walaupun terdapat orang baik dan beriman. Padahal Padri hanya perlu menghukum orang-orang yang bersalah saja. Pilihan menghukum secara kolektif juga mungkin disebabkan oleh keadaan yang masih terhambat dari segi komunikasi karena dalam suasana perang yang sulit membedakan kawan dengan pengkhianat. 60

57 Naskah Tuanku Imam Bonjol, op.cit, h. 95

58 Naskah Tuanku Imam Bonjol, ibid, h. 90

59 J. C Boelhouwer, op.cit, h. 30

60 Naskah Fakih Shagir (1857) op.cit, h. 57 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit.

30

Para Pemimpin Padri lainnya

1. Tuanku Rao

Tuanku Rao lahir di Padang Mentinggi sekitar 2 km dari desa Rao. Ayahnya seorang pedagang kerbau bernama Ibrahim berasal dari Sei Ronyah, Rao. Ibunya bernama Siti Aminah berasal dari Air Bangis. Gelar Tuanku Rao menurut Naskah Tuanku Imam Bonjol ialah Fakih Saleh, Fakih Saleh bukanlah nama, tetapi gelar kesarjanaan kepada seseorang yang ahli dibidang agama Islam. Fakih (Pokiah) berarti ahli fiqh dan Saleh adalah orang yang soleh.

Gelar Tuanku adalah gelar tertinggi dalam masyarakat Rao dan sekitarnya. Karena ia menjadi pemimpin dan panutan masyarakat, baik dalam masalah dunia maupun masalah agama mereka. Pendidikan awal Tuanku Rao diperoleh di Rao sendiri sebagai pusatnya ilmu pengetahuan. Selanjutnya Tuanku Rao melanjutkan pendidikannya ke Aceh dan menurut Hamka ada kemungkinan beliau memperdalam ilmu ke-Islamannya ke Makah.

Kesan keberadaan dan perjuangan Tuanku Rao umpamanya dapat dilihat dari dua peran besar yang beliau mainkan yaitu; Fase Pertama: Perjuangan dakwah Islamiyah kepada masyarakat Rao dan daerah sekitarnya mulai 1800 sampai 1823 dan Fase Kedua: Perjuangan melawan Penjajahan Belanda mulai 1822 hingga 1833. Sampai saat ini daerah- daerah disekitar Rao umat Islamnya masih mengaji menggunakan bahasa Rao. Hal itu dapat dilihat dalam masyarakat Tapanuli, Batak, minangkabau, Riau daratan, dan pesisir pantai. 61 Inilah salah satu peninggalan perjuangan Padri.

Rao pernah menjadi pusat penyebaran ilmu keIslaman yang dikunjungi oleh para ulama di Sumatera. 62 Tuanku Rao adalah seorang Ulama dan reformis Islam yang ingin melihat Islam secara kaffah. Bersama teman seperjuangannya mereka berusaha menghilangkan ajaran animisme, khurafat, tahayul dan bid`ah yang menjadi peninggalan budaya agama budha dan hindu sebelumnya.

Tuanku Rao adalah seorang ulama yang memiliki perananyangbesardalammengislamkanmasyarakat

di

Rao

dan

sekitarnya.

Termasuk

masyarakat

61 Afriadi Sanusi & Bharuddin Che Pa; (2009) Ketokohan Tuanku Rao Sebagai Seorang Ulama dan Pejuang Melayu. Makalah dalam seminar antarabangsa di Pengajian Islam UM.

62 Naskah Fakih Shagir (1857) Tulisan arab melayu yang di alih tulis oleh Sjafnir Aboe Nain. Padang: Lembaga Kajian Padri (1803-1838), h.25 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit.

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Tapanuli, Batak, sebagian minangkabau, Riau daratan dan pesisiran pantai.

Hamka menyatakan bahwa kematianTuanku Rao sebagai syahid karena melawan penjajah Belanda yang ditembak peluru penjajah secara bertubi-tubi di Air Bangis, tepatnya 29 Januari 1833. Diakhir hayatnya beliau masih memegang sebilah keris sebagai simbol perlawanan dan pantang menyerah. 63

2. Tuanku Tambusai

Ulama dan pahlawan ini telah menyemaikan benih anti penjajah di Nusantara. Beliau ikut dalam peperangan Imam Bonjol di Sumatera Barat. Akhirnya terpaksa hijrah ke Negeri Sembilan dan meninggal dunia di sana. Ketika Muhammad Shalih (nama kecil Tuanku Tambusai) dewasa beliau belajar ke Rao yang lokasinya berdekatan dengan Tambusai. Setelah mendapat pendidikan Islam di Rao dan Bonjol beliau lebih dikenali dengan nama “Faqih Shalih”. Tuanku Tambusai menjadikan pusat perjuangan, pentadbiran dan pertahanan di Dalu- Dalu sekarang di daerah Riau Daratan.

Sejarah mencatat bahwa Tuanku Rao adalah kakak seperguruan Tuanku Tambusai semasa belajar agama di Rao yang sama-sama mendapat gelaran Fakih. Beliau juga yang menasehati agar Tuanku Tambusai melanjutkan pelajarannya ke Makah setelah menamatkan pelajaran dengan Tuanku Rao dan Tuanku Imam Bonjol. Dakwah Islamiyah dan perjuangan Padri sampai pada suku-suku di Sumatera seperti Rao, Minangkabau, Tapanuli, Batak dan Melayu Riau. Tuanku Tambusai terkenal dengan keberaniannya dan ditakuti oleh tentara Belanda dan tentara bayaran. Setelah Tuanku Tambusai kembali dari menuntut ilmu di Makah beliau menyarankan kepada Tuanku Imam Bonjol untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dan kelemahan perjuangan selama ini. 64

63 Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.127

64 Naskah Tuanku Imam Bonjol, op.cit, h. 46 dalam Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi. Op.Cit. hlm.127

31

Penutup

Kembalinya tiga haji dari Mekah menjadi titik tolak proses pembaruan Islam di Minangkabau yang bersifat transnasional. Setelah mendapatkan dukungan dari para pemuka agama mereka mendirikan sebuah gerakan yang dikenal dengan Gerakan Padri. Mereka menjadikan Bukit Kamang sebagai basis awal gerakan. Di tempat inilah mereka mendeklarasikan jihad melawan kaum adat yang tidak mau tunduk pada Syariat.

Dalam proses jihad periode pertama, terjadi beberapa tindakan yang dianggap berlebihan. Namun mereka berhasil mendirikan daerah basis di Bonjol yang menjadi basis pemerintahan yang menjalankan Syariat dan membawa kemakmuran di Minangkabau. Dalam periode kedua, merupakan kenyataan sejarah bahwa kaum adat yang beragama Islam justru meminta bantuan kepada Belanda yang kafir, sesuatu yang sangat terlarang dalam Islam dan di kemudian hari akhirnya mereka sesali saat melihat kekejaman Belanda. Pada periode ketiga, kaum adat akhirnya bersekutu dengan kaum Padri untuk melawan penjajahan Belanda. Menghadapi persatuan dari rakyat Minangkabau, penjajah Belanda mengerahkan pasukan dari koalisi internasional yang didatangkan dari Jawa, Batavia, Bugis, Madura, Sepoy, Eropa, dan Afrika. Pada akhirnya, kaum Padri bersama kaum adat kalah dari pasukan koalisi pimpinan Belanda. Tuanku Imam Bonjol diasingkan, namun beberapa pengikut Imam Bonjol meneruskan gerilya di beberapa nagari di Minangkabau, meskipun pada akhirnya mereka dapat ditaklukkan Belanda. Tuanku Imam Bonjol, dengan jalan jihad yang ditempuhnya dalam perjuangan melawan penjajah Belanda, pada akhirnya diangkat menjadi pahlawan nasional oleh pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Laporan Khusus

SYAMINA

Edisi XVIII / Maret-April 2015

Daftar Pustaka

Abd A’la, Genealogi Radikalisme Muslim Nusantara, Akar Dan Karakteristik Pemikiran Dan Gerakan Kaum Padri Dalam Perspektif Hubungan Agama Dan Politik Kekuasaan. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya 2008

Abdul Qadir Djaelani. PERANG SABIL versus PERANG SALIB Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda. Yayasan Pengkajian Islam Madinah Al-Munawwarah Jakarta 1420 H / 1999 M

Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi, Model Kepimpinan Ulama dalam Pemerintahan Negara Islam Era Padri di Sumatera. Jabatan Pengajian Arab dan Tamadun Islam, Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor. ISBN 978-983-9368-57-4 (2011), http://www.ukm.

my/nun/prosiding%20atas%20talian.htm

ChristineDobbin,EconomicChangeInMinangkabau As A Factor In The Rise Of The Padri Movement, 1784- 1830. Indonesia JournalVolume 23, Publication Date:

April 1977 Cornell Modern Indonesia Project 1977. Cornell University’s Southeast Asia Program.http://

cip.cornell.edu/seap.indo/1107118715

Christine Dobbin. Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri Minangkabau 1784-1847. Komunitas Bambu Depok. 2008.

Hafiz Zakariya & Mohd Afandi Salleh, From Makkah to Bukit Kamang?: The Moderate versus Radical Reforms in West Sumatra (ca. 1784-1819), International Journal of Humanities and Social Science Vol. 1 No. 14; October 2011. Centre for Promoting Ideas, USA www.ijhssnet.com

Jeffrey Hadler, A Historiography of Violence and the Secular State in xIndonesia: Tuanku Imam Bondjol and the Uses of History, The Journal of Asian Studies Vol. 67, No. 3 (August) 2008

Kappelhof, The Dutch and radical Islam in nineteenth-century SumatraThe Padri War (1821- 1837), the Aceh War (1873-1903) and their aftermaths. Huygens Institute for the History of the Netherlands. November 2011

MD. Mansoer, Amrin Imran dkk, Sedjarah Minangkabau, Bhratara Djakarta 1970

Suryadi (Dosen dan peneliti pada Dept. of Languages and Cultures of Southeast Asia and

32

Oceania Leiden University, Belanda) Siapakah Kini yang Menyimpan Naskah Asli Tuanku Imam Bonjol?

http://oman.uinjkt.ac.id/2007/02/siapakah-kini-

yang-menyimpan-naskah.html

Suryadi. Imam Bonjol, Pemimpin Utama Perang

Padri. http://www.tokohindonesia.com/biografi/

article/295-pahlawan/1368-pemimpin-utama-

perang-paderi