Anda di halaman 1dari 19

Benjolan Lunak di Kepala pada Bayi Baru Lahir

D4
Chrissela Michelle Kainama (102014255), Giovani Nando Erico Diantama (102015078),
Novita Anggraeni Putri Irawan (102015105), Jessica Amara Wijaya (102016037),
Yohana Stefanie H.Samosir (102016110), Trias Adam (102016130), Sinaga, Olvani
Megawati (102016176)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat

Abstrak
Caput succedaneum adalah trauma lahir kepala yang sering ditemukan karena tekanan
saat bayi melewati cervix dan memasuki saluran vagina. Sebagai hasil tejadi akumulasi
cairan di luar periosteum yang dapat melewati garis sutura.1
Kata Kunci : Caput succedaneum, trauma lahir.

Abstract
Caput succedaneum is a birth trauma of the head that is often found due to pressure
when the baby passes through the cervix and enters the vaginal canal. As a result there is an
accumulation of fluid outside the periosteum that can pass through the suture line.1
Keywords: Caput succedaneum, birth trauma.

Pendahuluan
Trauma pada saat kelahiran banyak terjadi terutama ketika proses kelahiran dengan
menggunakan alat seperti forceps, ekstraksi vakum dan lainnya.
Salah satunya adalah caput succedaneum yang merupakan edema kulit kepala anak
yang terjadi karena tekanan dari jalan lahir kepada kepala anak. Atau pembengkakan difus,
kadang-kadang bersifat ekimotik atau edematosa, pada jaringan lunak kulit kepala, yang
mengenai bagian kepala terbawah, yang terjadi pada kelahiran verteks. Karena tekanan ini
vena tertutup, tekanan dalam vena kapiler meninggi hingga cairan masuk ke dalam jaringan
longgar dibawah lingkaran tekanan dan pada tempat yang terendah. Dan merupakan benjolan
yang difus kepala, dan melampaui sutura garis tengah.

1
Anamnesis2
 Identitas pasien : Nama pasien, Nama suami atau keluarga terdekat, Alamat, Agama,
Pendidikan terakhir, Suku bangsa.
 Keluhan utama :
 Mual muntah
 Nyeri punggung
 Nyeri dada,
 Mudah lelah
 Sakit kepala, dll.
 Keluhan tambahan
 Tentang haid
 Kapan hari pertama haid terakhir?
 Menarche umur berapa?
 Apakah haid teratur?
 Siklus haid
 Berapa lama (hari)
 Nyeri haid
 Perdarahan antara haid
 Tentang kehamilan
 Berapa kali hamil
 Adakah komplikasi pada kehamilan terdahulu
 Apakah pernah keguguran, berapa kali, umur kehamilan
 Tentang persalinan
 Berapa kali bersalin
 Bagaimana persalinan terdahulu, adakah komplikasi?
 Berapa berat badan bayi waktu lahir?
 Persalinan normal atau sectio caesarea? Kalau caesarea, apa alasannya?
 Riwayat perkawinan
 Berapa kali menikah
 Pernikahan sekarang sudah berapa lama?
 Adakah cairan yang keluar dari vagina? Warna? Cair atau kental? Banyak atau
sedikit? Berbau atau tidak?

2
 Apakah disertai dengan gatal pada vulva?
 Di daerah abdomen, apakah ada keluhan? Seperti mules-mules?
 Nafsu makannya bagaimana? Meningkat atau menurun?
 BAB dan BAK, apakah ada gangguan? (Seperti konstipasi, sering buang air kecil)
 Riwayat penyakit pasien
 Adakah penyakit berat yg pernah diderita pasien?
 Operasi di daerah perut dan alat kandungan
 Riwayat penyakit keluarga
 Adakah keturunan kembar?
 Riwayat sosial
 Apakah saat ini sedang menggunakan obat-obatan?
 Apakah merokok atau minum alkohol?

Pemeriksaan fisik
1. Kepala
Pada neonatus normal :
a. rambut kulit kepala teraba halus seperti sutera
b. bentuk kepala tergantung presentasi kepala/bokong
c. sutura kranialis teraba terbuka
d. fontanela anterior terbuka, lunak dan datar diameter kurang dari 3,5 cm sedangkan
fontanela posterior sering kali hanya seukuran ujung jari atau hanya sekadar teraba
terbuka
e. lesi traumatik biasanya terjadi berupa : kaput suksedaneum, perdarahan subgaleal,
sefalohematoma, luka tusuk, serta lesi lepuh dan hematoma sirkular.

2. Wajah
a. Pada neonatus normal : wajahnya simetris
b. Abnormalitas : malformasi (mis. Bibir sumbing), paralisis fasial perifer, cedera
traumatik pada wajah (fraktur arkus zigomatikus saat persalinan), tanda eritematosa
atau memar yang ditemukan pada wajah akibat trauma forsep.

3. Mata
a. Pada neonatus yang normal : tidak ada kelainan berarti yang ditemukan pada mata.

3
b. Abnormalitas : ptosis kongenital, konjungtivitis (pada gonore), kekeruhan kornea
(pada glaukoma kongenital), kekeruhan lensa (pada katarak kongenital).
c. Fungsi penglihatan : bayi normal yang diam dan terjaga selama pemeriksaan biasanya
akan memfiksasikan pandangannya ke wajah pemeriksa dan mengikutinya, paling
tidak sampai jarak tertentu, seiring pemeriksa berpindah perlahan dari satu sisi ke sisi
lainnya. Jika tidak ada respon walaupun dilakukan pemeriksaan berulang, maka perlu
pemeriksaan lebih lanjut terhadap fungsi penglihatan.

4. Telinga
a. Pada neonatus usia cukup bulan : telinga luar sudah terbentuk dengan baik dan
mengandung cukup tulang rawan untuk mempertahankan bentuk dan mencegah
deformitas.
b. Abnormalitas : adakah lesi dan kelainan kongenital lain yang tampak pada telinga
luar? Lanjutkan dengan pemeriksaan otoskopi : adakah otitis media atau tidak;
c. Fungsi pendengaran : pada neonatus yang normal akan terjadi respon mengalih pada
suara manusia, bereaksi dan mengalih ke bel yang berdering, dan terkejut oleh suara
yang keras (di ruangan tanpa suara mengganggu).

5. Hidung
Kebanyakan bayi baru lahir bernapas melalui hidung. Periksa : lesi obstruktif/benda
asing bisa berupa mukus, darah dan mekonium (normalnya, bayi akan bersin sebagai
refleks untuk membersihkan hidungnya), serta adakah dislokasi bagian tulang rawan
septum nasi (biasanya akibat trauma persalinan).
6. Mulut
Periksa dengan cara inspeksi dan palpasi : celah dan lengkung palatum; ukuran lidah,
warna sekresi dari mulut, dan lesi. Pada neonatus normal biasanya sudah mempunyai
gigi natal.
7. Leher
Ukurannya lebih pendek dari anak yang lebih tua, namun rentang geraknya sudah
sempurna; amati : gerakan leher yang terbatas, massa, cedera.
8. Dada
Pada neonatus normal, dada berbentuk seperti tong dan prosesus xifoideus menonjol.
Amati pula : fraktur klavikula, jarak antar puting dan ukuran kuncup payudara.
9. Paru
4
Frekuensi pernapasan normal adalah 35-60 kali per menit dan bernafas dengan
menggunakan diafragmanya. Pada respirasi normal, dinding dada dan perut bergerak
bersama-sama. Dinding dada normalnya simetris saat bernapas jika dilihat dari lateral.
Retraksi, bunyi mendengkur saat ekspirasi, pengembangan cuping hidung, dan takipneu
pada beberapa menit pertama setelah lahir masih dikatakan norma dan akan segera
menghilang. Jika terus bertahan selama beberapa waktu kemudian, maka dikatakan
abnormal dan kemungkinan ada kelainan pada parunya.
10. Kardiovaskular
Kecepatan, irama, titik impuls tertinggi (point of maximum impulse, PMI), murmur
(intensitas dan lokasi), denyut (brakial dan femoral), pengisian kembali kapiler (capillary
refill), warna kulit dan membran mukosa.
11. Abdomen
Bentuk, tali pusat (jumlah pembuluh darah), ukuran hepar/ginjal/limpa, massa, bising
usus, otot dan defek dinding abdomen.
12. Genitourinaria
Genitalia, abnormalitas penis, testis, ukuran labia/klitoris, posisi dan kepatenan anus,
cara BAK dan BAB, lesi.
13. Tulang belakang/neurologis
Cekungan, lesi, massa, dan refleks (mengisap, gag, Moro dan menggenggam).
14. Muskuloskeletal
Rentang pergerakan sendi, jari, tonus, posisi saat istirahat/menangis, massa, dan manuver
pinggul Ortolani dan Barlow.
15. Kulit : warna, tekstur, lesi, transparansi dan tanda lahir.
Pemeriksaan penunjang
Caput succedaneum sering di diagnosis pada pemeriksaan fisik tanpa diperlukan
pemeriksaan penunjang tambahan. Dalam beberapa kasus, caput succedaneum terjadi ketika
ketuban pecah terlalu cepat, bahkan pada usia kehamilan 31 minggu. Ultrasonografi biasanya
dapat mendeteksi kapan ketuban pecah. Ketika ketuban pecah saat masih dalam kandungan,
kulit kepala mungkin mulai membengkak karena tidak ada bantalan untuk kepala bayi.3
Differential diagnosis
Cephal hematoma
Cephalohematoma adalah kumpulan darah dibawah kulit kepala. Selama proses
kelahiran, pembuluh darah kecil dari kepala janin rusak akibat trauma ringan. Pada
cephalohematoma pembuluh darah kecil yang melintasi periosteum pecah dan
5
mengakibatkan cairan seroanguinosus atau cairan yang bercampur darah terkumpul antara
tengkorak dan periosteum. Periosteum merupakan membrane yang menutupi permukaan luar
dari semua tulang. Perdarahan terjadi bertahap, oleh karena itu cephalhematoma bisa tidak
terlihat setelah lahir.
Cephalhematoma dapat muncul berjam-jam atau berhari-hari setelah kelahiran.
Karena cairan yang terkumpul atara periosteum dan tulang tengkorak, batas cephalhematoma
berdasarkan tulang yang mendasarinya. Dengan kata lain, cephalhematoma terbatas pada area
di atas salah satu tulang tengkorak dan tidak melewati garis tengah atau sutura. Karena
pengumpulan darah berada di atas tengkorak dan bukan di bawahnya, tidak terjadi tekanan
pada otak.
Penyebab terjadinya cephalhematoma adalah pecahnya pembuluh darah yang
melintasi periosteum karena tekanan pada kepala janin selama kelahiran. Selama proses
kelahiran, tekanan pada tengkorak atau pengunaan forcep atau ekstraksi vakum menyebabkan
rupturnya pembuluh darah yang menghasilkan cairan serosanguineus atau darah.
Factor yang dapat meningkatkan tekanan pada kepala janin dan resiko terjadinya
cephalhematoma termasuk persalinan yang lama, persalinan kala II yang Panjang,
makrosomia, kontraksi uterus yang tidak efektif atau lemah, presentasi janin yang abnormal,
penggunaan instumen saat persalinan yaitu ekstraksi vakum dan forceps.
Cephalhematoma adalah trauma ringan yang terjadi selama proses kelahiran. Tekanan
pada kepala janin menyebabkan pembuluh darah kecil rupture saat kepala janin mengalami
kompresi terhadap panggul ibu selama persalinan atau penggunaan forceps dan ekstraksi
vakum. 3
Subgaleal hematoma
Subgaleal hemorragik adalah akumulasi darah dalam jaringan ikat longgar di ruang
subgaleal. Kekuatan traksi dan rotasi dengan penggunaan ekstraksi vakum dapat
menyebabkan pecah pembuluh darah dan perdarahan ke berbagai lapisan kulit kepala.
Disebabkan oleh pecahnya antara sinus dural dan vena kulit kepala.
Factor resiko terjadinya suggaleal hematoma adalah kelahiran menggunakan vakum,
setiap kelahiran dengan percobaan ekstraksi vakum (termasuk penggunaan vakum yang gagal
dan dilanjutkan dengan cesar), penggunaan forceps.
Hal yang dapat dilihat segera dan setelah beberapa jam kelahiran adalah
pembengkakan kepala yang difus dan fluktuasi yang melewati sutura, dapat bergeser ketika
kepala bayi digerakkan dan mudah dipalpasi, dapat meningkatkan lingkar kepala, terjadi
hypovolemia (lesu, pucat, perfusi buruk, takikardia, peningkatan laju pernapasan, penurunan
6
urin output, hypotonia), perdarahan berkepanjangan (tanda yang terlambat terlihat), kejang
(biasanya tidak sampai menyebabkan pendarahan lanjut).
Diagnosis subgaleal hematoma besifat klinis. Kulit kepala terasa seperti balon yang
berisi air, cairan berfluktuasi dengan batas yang tidak jelas, bisa terjadi krepitus dan dapat
bergeser tergantung posisi kepala bayi.3
Working diagnosis
Caput succedaneum adalah kumpulan cairan serosanguinous di subkutan,
ekstraperiosteal dengan batas yang tidak jelas. Disebabkan oleh tekanan terhadap dilatasi
servix. Caput succedaneum memanjang melintasi garis tengah atau sutura dan berkaitan
dengan molding.
Konjungtivitis hemorrhagic occuli dextra biasanya terjadi setelah kelahiran,
merupakan hal umum namun umumnya ringan kecil dan tidak bermakna. Terapi tidak
diperlukan. Terjadi karena peningkatan kongesti vena dan tekanan selama persalinan. 3
Apgar score
Apgar score adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk menilai keadaan
umum bayi sesaat setelah kelahiran. Apgar merupakan suatu system scoring cepat
berdasarkan respons fisiologis terhadap proses kelahiran, merupakan metode yang baik untuk
menentukan keperluan resusitasi bayi baru lahir. Pada interval 1 menit dan 5 menit setelah
lahir, masing-masing parameter diobservasi atau dinilai oleh seorang pemeriksa yang
kompeten.3-4

7
Ballard score
Ballard score adalah metode untuk memperkirakan usia kehamilan klinis (gestasional
age) pada bayi baru lahir melalui penilaian neuromuscular dan fisik. Pemeriksaan
neomuskular meliputi postur, square window, arm recoil, sudut popliteal, scarf sign dan heal
to ear maneuver. Pemeriksaan fisik yang diamati adalah kulit, lanugo, permukaan plantar,
payudara, mata/telinga dan genitalia.5
1. Penilaian maturitas neuromuscular
a. Postur
untuk mengamati postur, bayi ditempatkan terlentang dan pemeriksa
menunggu sampai bayi menjadi tenang pada posisi nyamannya. Jika bayi
ditemukan terlentang, dapat dilakukan manipulasi ringan dari ekstremitas dengan
memfleksikan jika ekstensi atau sebaliknya. Hal ini akan memungkinkan bayi
menemukan posisi dasar kenyamanannya. Fleksi panggul tanpa abduksi
memberikan gambaran seperti posisi kaki kodok.

b. Square window
Fleksibilitas pergelangan tangan dan atau tahanan terhadap peregangan ekstensor
memberikan hasil sudut fleksi pada pergelangan tangan. Pemeriksa meluruskan

8
jari- jari bayi dan menekan punggung tangan dekat dengan jari-jari dengan
lembut.

c. Arm recoil
Manuver ini berfokus pada fleksor pasif dari tonus otot biseps dengan mengukur
sudut mundur singkat setelah sendi siku difleksi dan ekstensikan. Arm recoil
dilakukan dengan cara evaluasi saat bayi terlentang. Pegang kedua tangan bayi,
fleksikan lengan bagian bawah sejauh mungkin dalam 5 detik, lalu rentangkan
kedua lengan dan lepaskan.Amati reaksi bayi saat lengan dilepaskan.

d. Popliteal angle
Manuver ini menilai pematangan tonus fleksor pasif sendi lutut dengan menguji
resistensi ekstremitas bawah terhadap ekstensi. Dengan bayi berbaring telentang,
dan tanpa popok, paha ditempatkan lembut di perut bayi dengan lutut tertekuk
penuh. Setelah bayi rileks dalam posisi ini, pemeriksa memegang kaki satu sisi

9
dengan lembut dengan satu tangan sementara mendukung sisi paha dengan tangan
yang lain. Kaki diekstensikan sampai terdapat resistensi pasti terhadap ekstensi.
Ukur sudut yang terbentuk antara paha dan betis di daerah popliteal. Perlu diingat
bahwa pemeriksa harus menunggu sampai bayi berhenti menendang secara aktif
sebelum melakukan ekstensi kaki.

e. Scarf sign

Manuver ini menguji tonus pasif fleksor gelang bahu. Dengan bayi berbaring
telentang, pemeriksa mengarahkan kepala bayi ke garis tengah tubuh dan
mendorong tangan bayi melalui dada bagian atas dengan satu tangan dan ibu jari
dari tangan sisi lain pemeriksa diletakkan pada siku bayi. penuh pada tingkat leher
(-1); garis aksila kontralateral (0); kontralateral baris puting (1); prosesus xyphoid
(2); garis puting ipsilateral (3); dan garis aksila ipsilateral (4)

10
f. Heel to ear
Manuver ini menilai tonus pasif otot fleksor pada gelang panggul dengan
memberikan fleksi pasif atau tahanan terhadap otot-otot posterior fleksor pinggul.
Dengan posisi bayi terlentang lalu pegang kaki bayi dengan ibu jari dan telunjuk,
tarik sedekat mungkin dengan kepala tanpa memaksa, pertahankan panggul pada
permukaan meja periksa dan amati jarak antara kaki dan kepala serta tingkat
ekstensi lutut ( bandingkan dengan angka pada lembar kerja). hasil dicatat sebagai
resistensi tumit ketika berada pada atau dekat: telinga (-1); hidung (0); dagu (1);
puting baris (2); daerah pusar (3); dan lipatan femoralis (4)

2. Penilaian maturitas fisik


a. Kulit
pematangan kulit janin melibatkan pengembangan struktur intrinsiknya bersamaan
dengan hilangnya secara bertahap dari lapisan pelindung, yaitu vernix caseosa.
Oleh karena itu kulit menebal, mengering dan menjadi keriput dan / atau
mengelupas dan dapat timbul ruam selama pematangan janin.
b. Lanugo
Lanugo adalah rambut halus yang menutupi tubuh fetus. Pada extreme
prematurity kulit janin sedikit sekali terdapat lanugo. Lanugo mulai tumbuh pada

11
usia gestasi 24 hingga 25 minggu dan biasanya sangat banyak, terutama di bahu
dan punggung atas ketika memasuki minggu ke 28. Pada melakukan skoring
pemeriksa hendaknya menilai pada daerah yang mewakili jumlah relatif lanugo
bayi yakni pada daerah atas dan bawah dari punggung bayi.

c. Permukaan plantar

Bayi very premature dan extremely immature tidak mempunyai garis pada telapak
kaki. Untuk membantu menilai maturitas fisik bayi tersebut berdasarkan
permukaan plantar maka dipakai ukuran panjang dari ujung jari hingga tumit.
Untuk jarak kurang dari 40 mm diberikan skor -2, untuk jarak antara 40 hingga 50
mm diberikan skor -1.

d. Payudara
Areola mammae terdiri atas jaringan mammae yang tumbuh akibat stimulasi
esterogen ibu dan jaringan lemak yang tergantung dari nutrisi yang diterima janin.
Pemeriksa menilai ukuran areola dan menilai ada atau tidaknya bintik-bintik
akibat pertumbuhan papila Montgomery. Kemudian dilakukan palpasi jaringan

12
mammae di bawah areola dengan ibu jari dan telunjuk untuk mengukur
diameternya dalam milimeter.

e. Mata dan telinga

Daun telinga pada fetus mengalami penambahan kartilago seiring


perkembangannya menuju matur. Pemeriksaan yang dilakukan terdiri atas palpasi
ketebalan kartilago kemudian pemeriksa melipat daun telinga ke arah wajah
kemudian lepaskan dan pemeriksa mengamati kecepatan kembalinya daun telinga
ketika dilepaskan ke posisi semulanya.

Pada bayi prematur daun telinga biasanya akan tetap terlipat ketika dilepaskan.
Pemeriksaan mata pada intinya menilai kematangan berdasarkan perkembangan
palpebra. Pemeriksa berusaha membuka dan memisahkan palpebra superior dan
inferior dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari. Pada bayi extremely
premature palpebara akan menempel erat satu sama lain.

13
f. Genital (pria)

Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang lebih
pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada
sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis
bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan
itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae.

g. Genital (wanita)

Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonatus harus diposisikan


telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis horisontal. Abduksi
yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih
menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora.

14
3. Interpretasi hasil

Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neomuskular maupun fisik disesuaikan


dengan skor dalam table dan dijumlahkan hasilnya. Interpretasi hasil dapat dilihat
pada tabel skor.

Curva luschencko

Kurva Lubchenco sampai saat sekarang ini masih digunakan oleh setiap praktisi
dalam merawat bayi baru lahir. Kurva Lubchenco adalah kurva pertumbuhan yang disajikan
dalam bentuk table. . Definisi tentang bayi prematur adalah setiap bayi baru lahir dengan
berat lahir <2500 g. Definisi ini direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics dan
World Health Assembly. Dokter ahli pediatrics dihadapkan pada masalah hubungan antara

15
usia kehamilan dan pertumbuhan janin. Dengan Kurva Lubchenco diharapkan dapat
menunjukkan hubungan pertumbuhan janin dan usia kehamilan.

Dari Kurva Lubchenco dimungkinkan definisi yang lebih tepat lahir prematur dan
adopsi luas dari istilah "kecil untuk usia kehamilan", "besar untuk usia kehamilan",
"kelambatan pertumbuhan intrauterine," dan “janin dysmaturity”. Hal ini juga membentuk
dasar untuk memeriksa bayi dengan berat badan lahir lebih besar dari nilai persentil lebih
90% atau berat badan lahir kurang dari persentil kurang dari 10, sehingga dapat diprediksi
masalah medis yang mungkin terjadi.

Klasifikasi menurut umur kehamilan : Bayi Kurang Bulan (BKB) < 37 minggu, Bayi
Cukup Bulan (BCB) 37-42 minggu, Bayi Lebih Bulan (BLB) >42 minggu. Bayi Kecil untuk
Masa Kehamilan (KMK) berat lahir <10 persentil, Bayi Besar untuk Masa Kehamilan
(BMK) berat lahir >90 persentil, Bayi Sesuai Masa Kehamilan (SMK) berat lahir 10-90
persentil.

Definisi
Caput succedaneum adalah pembengkakan atau oedema pada atau dibawah kulit
kepala janin. Pembengkakan edematosa lunak pada kulit kepala ini sering terjadi pada bagian
terendah janin. Tekanan dari uterus atau jalan lahir dapat mencetuskan penumpukan serum
atau darah diatas periosteum. Caput succedaneum menyebar melewati garis tengah dan sutura
serta berhubungan dengan moulding tulang kepala.

16
Ekstraksi vakum juga dapat menyebabkan caput, caput dapat bervariasi dari area yang
kecil hingga kepala menjadi sangat Panjang. Pembengkakan dapat melintasi garis sutura.
Tidak ada pengobatan yang diindikasikan, caput succedaneum biasanya hilang dengan
sendirinya dalam 12 jam atau 1-2 hari setelah lahir.1
Etiologi
Pada kebanyakan kasus, caput succedaneum timbul saat persalinan yang sulit dan
lama, biasanya setelah membrane ketuban pecah, kantung ketuban sudah tidak lagi menopang
kepala dari bayi. Pengunaan ekstraksi vakum atau forceps selama proses persalinan dapat
meningkatkan peluang untuk terjadinya succedaneum.3
Faktor resiko yang dapat meningkatkan terjadinya caput succedaneum adalah
persalinan yang lama atau sulit, ketuban pecah dini, cairan ketuban yang sedikit di dalam
Rahim, melahirkan bayi untuk pertama kali, kontraksi Braxton – Hicks, posisi janin tertentu,
seperti kepala di bawah, presentasi muka, kelahiran yang membutuhkan alat-alat seperti
forceps atau vacum, disproporsi sefalopelvic, makrosomia, distosia.
Prevalensi yang dilaporkan adalah antara 1,8% dan 33,6% dari semua kelahiran
pervagina.3
Patofisiologi
Caput succedaneum terjadi karena tekanan keras pada kepala ketika memasuki jalan
lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh
ke ekstravaskuler, benjolan pada caput berisi cairan serum dan sedikit bercampur dengan
darah, benjolan tersebut dapat terjadi sebagai akibat tumpang tindihnya (molage) tulang
kepala di daerah sutura pada saat proses kelahiran sebagai upaya bayi untuk mengecilkan
lingkaran kepala agar dapat melewati jalan lahir, pada umumnya molase ini ditemukan pada
sutura sagitalis dan terlihat setelah bayi lahir dan akan menghilang dengan sendirinya dalam
waktu 1-2 hari. Kelainan ini biasanya terjadi pada presentasi kepala, pada bagian tersebut
terjadi oedema sebagai akibat pengeluaran serum dari pembuluh darah, kelainan ini
disebabkan oleh tekanan bagian terbawah janin saat melawan dilatasi cervix.
Proses perjalanan penyakit caput succedaneum adalah sebagi berikut : Pembengkakan
yang terjadi pada kasus caput succadeneum merupakan pembengkakan difus jaringan otak,
yang dapat melampaui sutura garis tengah. Adanya edema dikepala terjadi akibat
pembendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh. Benjolan
biasanya ditemukan didaerah presentasi lahir dan terletak periosteum hingga dapat
melampaui sutura. Pembengkakan pada caput succedaneum dapat meluas menyeberangi garis
tengah atau garis sutura. Dan edema akan menghilang sendiri dalam beberapa hari.
17
Pembengkakan dan perubahan warna yang analog dan distorsi wajah dapat terlihat
pada kelahiran dengan presentasi wajah. Dan tidak diperlukan pengobatan yang spesifik,
tetapi bila terdapat ekimosis yang ektensif mungkin ada indikasi melakukan fisioterapi dini
untuk hiperbilirubinemia. Moulase kepala dan tulang parietal yang tumpang tindih sering
berhubungan dengan adanya caput succedaneum dan semakin menjadi nyata setelah caput
mulai mereda, kadang-kadang caput hemoragik dapat mengakibatkan syok dan diperlukan
transfusi darah.6
Tanda dan gejala
Tanda dan gejala oada bayi baru lahir dengan caput succedaneum yaitu odema di
kepala, odema melampaui tulang tengkorak, terasa lembut dan lunak pada perabaan, benjolan
berisi serum dan kadang bercampur dengan darah, batasnya tidak jelas.6
Tatalaksana
Tatalaksana untuk bayi baru lahir dengan caput succedaneum antara lain : 6
 Pengawasan keadaan umum bayi
 Tahan angkat, agar benjolan tidak meluas karena tekanan meningkat dan
serebrospinalis meningkat keluar
 Berikan ruangan yang ada ventilasinya dan mendapatkan sinar matahari yang cukup
 Berikan ASI yang adekuat
 Pencegahan infeksi untuk menghindari infeksi pada benjolan
 Berikan konseling pada orangtua bayi tentang :
1. Keadaan yang dialami oleh bayi
2. Menjelaskan bahwa benjolan akan menghilang dengan sendirinya setelah 1-4 hari
tanpa pengobatan
3. Perawatan bayi sehari-hari
4. Manfaat dan teknik pemberian ASI.
Prognosis
Caput succedaneum biasanya tidak menyebabkan komplikasi dan bisa sembuh dalam
beberapa hari atau bahkan minggu. Managemen hanya dilakukan observasi pada bayi.3

Kesimpulan
Caput succedaneum adalah trauma lahir yang dapat di diagnosis dengan melakukan
pemeriksaan fisik saja tanpa pemeriksaan penunjang. Dapat disebabkan karena berbagai

18
macam hal salah satunya penggunaan instrument atau alat seperti forceps dan ekstraksi
vakum.
Komplikasi jarang ditemukan pada kasus ini dan penyembuhan dapat terjadi beberapa hari.

Daftar pustaka
1. Science direct : caput succedaneum. Diunduh :
https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/caput-succedaneum
2. Prawirohardjo S., Ilmu kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2014.
3. Marcdante KJ, Kliegman RM, Jenson HB, et all. Nelson Ilmu Kesehatan Anak
Esensial. Ed 6. 2018.
4. Rudolph. Buku ajar pediatri Rudolph. Edisi ke-XX. Volume 1. Jakarta: EGC; 2009. h.
275-80.
5. Maryati. Ballard Score. Diunduh dari
http://unpad.ac.id/maryati/files/2011/01/Ballard-Score.pdf, 5 Juni 2019.
6. Dewi, Nanny, Vivian. Asuhan neonatus bayi dan anak balita. Jakarta: Salemba
Medika, 2010.

19