Anda di halaman 1dari 5

Pro Kontra Larangan Impor Produk Hortikultura

Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Bisnis Internasional
Yang Dibina Oleh Bapak Taufiq Ismail, SE, SS, MM.

Oleh
Farah Abidah 155020200111067

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
Pembatasan Impor Hortikultura Tetap Jalan
Sumber : Website Resmi Kementrian Perindustrian
(http://www.kemenperin.go.id/artikel/3509/Pembatasan-Impor-Hortikultura-
Tetap-Jalan)
Pemerintah tetap akan menjalankan kebijakan pembatasan pintu masuk
impor hortikultura yang berlaku mulai 19 Juni mendatang.
Protes dari berbagai negara termasuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) tidak
menyurutkan rencana itu. Hal tersebut ditegaskan Menteri Pertanian Suswono dan
Menteri Perindustrian MS Hidayat pada kesempatan yang berbeda, kemarin.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 dan 16 Tahun 2012,
mulai 19 Juni 2012, hortikultura impor hanya boleh masuk melalui empat pintu.
Keempat pintu meliputi Bandara Soekarno Hatta, Pelabuhan Tanjung Perak
Surabaya, Pelabuhan Belawan Medan, dan Pelabuhan Makassar.
Meski demikian, tiga pelabuhan di kawasan perdagangan bebas (FTZ),
yakni Bintan, Batam, dan Karimun, masih diperbolehkan menjadi pintu masuk. Hal
itu dengan syarat hortikultura impor yang masuk tidak merembes ke luar wilayah
FTZ tersebut.
Suswono mengakui beberapa negara, khususnya Amerika Serikat, masih
meminta agar pemerintah membatalkan kebijakan itu, tetapi pemerintah bergeming.
"Pembatasan impor horti (hortikultura) tetap diberlakukan pada 19 Juni, tidak ada
pengecualian walaupun Amerika Serikat meminta terus agar diperbolehkan masuk
melalui Pelabuhan Tanjung Priok," tutur Suswono seusai rapat kerja dengan Komisi
IVDPR,kemarin,diJakarta.
Adapun Hidayat menyatakan setiap negara berhak melindungi
perekonomian masing-masing. Apalagi pembatasan pintu impor hortikultura itu
dinilai pemerintahtidakmelanggar aturanWTO.
Pembatasan pintu masuk hortikultura ditujukan untuk memperketat
pemeriksaan oleh Badan Karantina Pertanian demi menghindari masuknya buah
dan sayuran yang mengandung bahan bahan berbahaya bagi kesehatan. Pada
gilirannya pembatasan itu akan meredam lonjakan impor hortikultura.
Namun, masalah lonjakan impor hortikultura bukan satu-satunya yang
tengah dibenahi Kementerian Pertanian (Kementan). Masalah lainnya ialah upaya
mencapai swasembada pangan. Dalam upaya itu, Kementan kemarin mengajukan
tambahan anggaran Rp3,98 triliun dari rencana pagu 2013 Rp19,33 triliun.

Pembahasan
Menurut KBBI, hortikultura adalah seluk-beluk kegiatan atau seni bercocok
tanam sayur-sayuran, buah-buahan, atau tanaman hias. Salah satu risiko bagi negara
mengekspor produk hortikultura berkaitan dengan bea impor Bea impor di
Indonesia bisa mencapai 200 %, sehingga produsen memerlukan strategi tertentu
untuk mendapatkan efisiensi biaya saat mengirim barang ke Indonesia.
Partisipan politik dari pihak ketiga yang berasal dari WTO (World Trade
Organization) memiliki pengaruh terhadap kebijakan ini. WTO sebenarnya telah
mengeluarkan kebijakan mengenai hal ini, Indonesia dinyatakan tidak melanggar
ketetapan WTO, namun negara lain menganggap Indonesia melanggar ketetapan
WTO.

Partisipan politik dan Sistem hukum yang terlibat dalam impor hortikultura
1. Pemerintah
Tujuan pemerintah melarang impor produk hortikultura adalah
untuk melindungi petani lokal. Menurut saya, sebagai negara agraris tidak
seharusnya indonesia melakukan impor produk hortikultura. Selain itu
program swasembada pangan bisa terhambat dengan adanya impor produk
hortikultura.
2. AFTA (ASEAN Free Trade Area)
Adanya AFTA memungkinkan semakin gencarnya impor produk
hortikultura yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Kemungkinan
pembatasan impor sangat kecil karena adanya AFTA.
Tipe risiko negara yang dihasilkan oleh sistem politik
Apabila Indonesia tetap melakukan impor produk hortikultura, berikut
resiko yang harus dihadapi oleh negara pengirim produk hortikultura.
1. Pemerintah memgambil alih aset Perusahaan dengan melakukan penyitaan.
Ketika produk hortilkultura terlalu banyak di impor, maka bisa saja bea
cukai melakukan penyitaan. Dalam beberapa kasus bea cukai pernah
melakukan pemusnahan dengan dibakar pada sejumlah produk impor.
2. Pengambilalihan, mengacu pada perampasan aset perusahaan dengan
kompensasi dengan memberikan kompensasi, hal ini dilakukan agar negara
pengirim tidak mengalami kerugian. Selain itu produk lokal tetap bisa
terlindungi.

Sikap Intervensi Pemerintah


1. Kebijakan tarif, pembebanan biaya atas barang yang melewati wilayah
pabean. Hal ini dapat dilakukan untuk melindungi produk lokal. Pada
produk hortikultura, tarif bea masuk dapat ditingkatkan karena indonesia
adalah negara agraris, sehingga Indonesia tidak perlu banyak mengimpor
produk hortikultura. Selain itu beberapa produk hasil impor kultura
diidentifikasi dapat membahayakan kesehatan konsumen. Sehingga
beberapa produk sebaiknya tidak dibatasi tapi dilarang.
2. Kebijakan non tarif, misalnya kuota, regulasi terkait prosedur dan
administrasi, pemerintah dapat membatasi jumlah produk ini. Solusi ini
lebih baik daripada solusi peningkatan tarif bea masuk. Tarif bea masuk
dapat memberatkan negara pengirim, sedangkan dengan regulasi
pembatasan kuota maka produsen tetap dapat mengirim produknya ke
Indonesia tanpa harus merasa keberatan dengan tarif bea masuk.
Manfaat Intervensi Pemerintah
1. Menambah pemasukan negara karena adanya tarif bea impor.
2. Melindungi konsumen, produk hasil impor produk hortikultura belum tentu
aman dan sesuai dengan selera konsumen Indonesia. Contohnya 19 jenis
organisme penggangu tanaman pada tahun 2011. Organisme pengganggu
tanaman itu terbawa oleh produk-produk holtikultura dari luar negeri,
seperti dari jeruk, apel dan sayuran,
3. Melayani dan mewadahi kepentingan para pelaku bisnis melalui kebijakan
dan regulasi. Dengan adanya pembatasan impor, maka pelaku bisnis akan
lebih memilih mencari supplier dari produk lokal karena ketersediaannya
yang lebih banyak.

Alasan Pemerintah Melakukan Intervensi


1. Perlindungan terhadap ekonomi nasional, terutama pada sektor
pertanian dan beberapa pelaku bisnis yang menggunakan bahan baku
yang berasal dari produk hortikultura.
2. Mendorong pelaku bisnis baru untuk terus berinovasi dan berkembang
tanpa khawatir adanya pesaing asing yang lebih inovatif.
3. Budaya atau identitas negara indonesia yang dikenal sebagai negara
agraris sudah seharusnya membatasi impor produk hortikultura atau
justru akan lebih baik jika melarang produk hortikultura.
4. Mendorong kepentingan nasional untuk pemanfaatan sumber daya alam
semaksimal mungkin.