Anda di halaman 1dari 25

Penempatan dan Perlindungan Buruh Migran

Diajukan Untuk Mememuhi Tugas Mata Kuliah Hubungan Industrial dan Hukum
Perburuhan yang diampu oleh Bapak Misbahudin Azzuhri, MM, CPHR, CSRS

Farah Abidah 155020200111067

Lita Era Prastiwi 155020201111001

JURUSAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018
Abstrak
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui perlindungan hukum yang
diberikan terhadap buruh migran. Tenaga Kerja Indonesia yang selanjutnya disebut
dengan TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk
bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan
menerima upah. Definisi tersebut berasal dari pasal 1 ayat (1) UU No.39 tahun 2004
tentang Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri. Namun pada
kenyataanya masih banyak terdapat kasus-kasus yang menimpa tenaga kerja
Indonesia di Luar Negeri.
Kasus penyiksaan yang dialami TKI dan TKW di luar negeri yang
kebanyakan berada di sektor rumah tangga sungguh sangat memprihatinkan.
Terjadinya kasus penyiksaan ini memberikan kesadaran bahwa regulasi yang
selama ini diberlakukan pemerintah kurang menjamin keselamatan para TKI dan
TKW yang berada di luar negeri sehingga diperlukan regulasi yang lebih mampu
memberikan keamanan kepada para pahlawan devisa negara ini. Sebagaimana
amanat Pancasila sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab, perlindungan TKI
atas penyiksaan merupakan pelaksanaan sebagian butir-butir dari sila kedua. Selain
dengan membuat regulasi yang kuat, penambahan lapangan pekerjaan di Indonesia
merupakan salah satu solusi untuk mengurangi TKI dan TKW ke luar negeri. Tidak
pantas dan tidak bijak jika hanya mengkritik pemerintah atas berbagai masalah yang
ada. Tentu peran aktif setiap warga negara indonesia.
Kata kunci : buruh migran, perlindungan, Tenaga Kerja Indonesia
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Tenaga kerja di Indonesia pada saat ini banyak yang menjadi buruh migran
di luar negeri. Mereka berusaha mencari pekerjaan dengan gaji yang besar untuk
dapat menghidupi keluarga dan dirinya dengan menjadi tenaga buruh dan pembantu
rumah tangga. Ketika mereka dihadapkan kepada suatu kesulitan dalam memenuhi
kebutuhan ekonomi, maka akan membulatkan tekadnya untuk bekerja di luar
negeri.
Kenyataannya, masih banyak terjadi penyimpangan bersifat prosedural
yang telah ditentukan pemerintah maupun akibat minimnya perlindungan terhadap
tenaga kerja Indonesia. Tidak jarang calon TKI tersebut pada umumnya
mendahulukan prospek hasil materi yang berlimpah dan mengesampingkan resiko
beratnya bekerja di negara asing yang berbeda demografis dan budayanya. Faktor
ekonomi biasanya menjadi alasan bagi mereka untuk berani mengambil resiko
tersebut. Di satu pihak prospek bekerja asing sangat menggiurkan, tetapi disisi lain
ada gambaran negatif yang sangat besar resikonya. Faktor pengetahuan yang
kurang serta kebutuhan ekonomi dari calon TKW tidak jarang justru dimanfaatkan
oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Bahkan hingga saat ini ada
pengiriman TKW ke luar negeri banyak yang melalui badan-badan illegal.
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri telah memberikan
dampak yang besar bagi negara Indonesia. Negara telah menerima pemasukan
devisa yang signitifkan sepanjang tahun 2010 dari penghasilan TKI. Berdasarkan
data Pusat Penelitian dan Informasi (Puslitfo) Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), pemasukan devisa dari TKI
sepanjang tahun 2010 telah mencapai 8,24 milyar dolar AS (Rp. 80,24 triliyun).
Jumlah ini merupakan kenaikan sampai 37,3% (dari Rp. 60 triliyun) dari tahun
2011, dan bila di bandingkan dengan tahun 2010 terdapat kenaikan 48,26% (dari
Rp.. 50,56 triliyun). Menurut data dari Badan Pengiriman TKI yang sebagian
besarnya adalah wanita, telah membawa devisa yang cukup besar untuk Indonesia.
Mereka merupakan pahlawan ekonomi bagi Negara. Program pengiriman ini secara
langsung menambah perolehan devisa Negara. Namun, di sisi lain berbagai
persoalan muncul ketika tenaga kerja Indonesia (TKI) khususnya wanita, dikirim
ke luar negeri. Pelecehan seksual, penyiksaan oleh majikan, agen penyalur ilegal,
belum ada kontrak kerja yang jelas antara pihak Indonesia dengan negara tujuan.
Begitu juga peran pemerintah dalam menangani masalah ini belum terlihat
maksimal. Secara umum, TKW memiliki permasalahan cukup pelik. Faktor
individu TKW sendiri seperti skill kurang memadai, dan kurangnya pemahaman
bahasa asing.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pentingnya perlindungan terhadap buruh migran?
2. Bagaimana cara melindungi buruh migran?
3. Bagaimana campur tangan pemerintah dalam perlindungan buruh migran?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui alasan pentingnya perlindungan buruh migran.
2. Mengetahui cara melindungi buruh migran.
3. Mengetahui campur tangan pemerintah dalam perlindungan buruh migran.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Penempatan TKI Hingga BNP2TKI


Pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia, migrasi tenaga kerja Indonesia
(TKI) ke luar negeri dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda melalui
penempatan buruh kontrak ke negara Suriname, Amerika Selatan, yang juga
merupakan wilayah koloni Belanda. Bahan yang diperoleh dari Direktorat
Sosialisasi dan Kelembagaan Penempatan Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan TKI (BNP2TKI) menyebutkan, sejak 1890 pemerintah Belanda mulai
mengirim sejumlah besar kuli kontrak asal Jawa bahkan Madura, Sunda, dan Batak
untuk dipekerjakan di perkebunan di Suriname. Tujuannya untuk mengganti tugas
para budak asal Afrika yang telah dibebaskan pada 1 Juli 1863 sebagai wujud
pelaksanaan politik penghapusan perbudakan sehingga para budak tersebut beralih
profesi serta bebas memilih lapangan kerja yang dikehendaki.
Dampak pembebasan para budak itu membuat perkebunan di Suriname
terlantar dan mengakibatkan perekonomian Suriname yang bergantung dari hasil
perkebunan turun drastis. Adapun dasar pemerintah Belanda memilih TKI asal
Jawa adalah rendahnya tingkat perekonomian penduduk pribumi (Jawa) akibat
meletusnya Gunung Merapi dan padatnya penduduk di Pulau Jawa. Gelombang
pertama pengiriman TKI oleh Belanda diberangkatkan dari Batavia (Jakarta) pada
21 Mei 1890 dengan Kapal SS Koningin Emma.
Pelayaran jarak jauh ini singgah di negeri Belanda dan tiba di Suriname
pada 9 Agustus 1890. Jumlah TKI gelombang pertama sebanyak 94 orang terdiri
61 pria dewasa, 31 wanita, dan 2 anak-anak. Kegiatan pengiriman TKI ke Suriname
yang sudah berjalan sejak 1890 sampai 1939 mencapai 32.986 orang, dengan
menggunakan 77 kapal laut.

2.1.1 Kementerian Perburuhan Era Kemerdekaan


Pada 3 Juli 1947 menjadi tanggal bersejarah bagi lembaga Kementerian
Perburuhan dalam era kemerdekaan Indonesia. Melalui Peraturan Pemerintah No
3/1947 dibentuk lembaga yang mengurus masalah perburuhan di Indonesia dengan
nama Kementerian Perburuhan. Pada masa awal Orde Baru Kementerian
Perburuhan diganti dengan Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi
sampai berakhirnya Kabinet Pembangunan III. Mulai Kabinet Pembangunan IV
berubah menjadi Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, sementara Koperasi
membentuk Kementeriannya sendiri. Selanjutnya dapat dikatakan, pada masa
kemerdekaan Indonesia hingga akhir 1960-an, penempatan Tenaga Kerja Indonesia
ke luar negeri belum melibatkan pemerintah, namun dilakukan secara orang
perorang, kekerabatan, dan bersifat tradisonal.
Negara tujuan utamanya adalah Malaysia dan Arab Saudi yang berdasarkan
hubungan agama (haji) serta lintas batas antarnegara. Untuk Arab Saudi, para
pekerja Indonesia pada umumnya dibawa oleh mereka yang mengurusi orang naik
haji/umroh atau oleh orang Indonesia yang sudah lama tinggal atau menetap di Arab
Saudi. Adapun warganegara Indonesia yang bekerja di Malaysia sebagian besar
datang begitu saja ke wilayah Malaysia tanpa membawa surat dokumen apa pun,
karena memang sejak dahulu telah terjadi lintas batas tradisional antara dua negara
tersebut. Hanya pada masa konfrontasi kedua negara di era Orde Lama kegiatan
pelintas batas asal Indonesia menurun, namun masih tetap ada.

2.1.2 Penempatan TKI dengan Kebijakan Pemerintah


Penempatan TKI yang didasarkan pada kebijakan pemerintah Indonesia
baru terjadi pada 1970 yang dilaksanakan oleh Departemen Tenaga Kerja,
Transmigrasi, dan Koperasi dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No
4/1970 melalui Program Antarkerja Antardaerah (AKAD) dan Antarkerja
Antarnegara (AKAN), dan sejak itu pula penempatan TKI ke luar negeri melibatkan
pihak swasta (perusahaan pengerah jasa TKI atau pelaksana penempatan TKI
swasta). Program AKAN ditangani oleh pejabat kepala seksi setingkat eselon IV
dan bertanggung jawab langsung kepada Direktorat Jenderal Pembinaan dan
Penggunaan (Bina Guna). Program/Seksi AKAN membentuk Divisi atau Satuan
Tugas Timur Tengah dan Satuan Tugas Asia Pasifik.
Sementara itu pelayanan penempatan TKI ke luar negeri di daerah
dilaksanakan oleh Kantor Wilayah Depnakertranskop untuk tingkat provinsi dan
Kantor Depnakertranskop Tingkat II untuk Kabupaten. Kegiatan yang dinaungi
oleh Dirjen Bina Guna ini berlangsung hingga 1986. Selanjutnya pada 1986 terjadi
penggabungan dua Direktorat Jenderal yaitu Direktorat Jenderal Bina Guna dan
Direktorat Jenderal Pembinaan dan Perlindungan (Bina Lindung) menjadi
Direktorat Jenderal Pembinaan dan Penempatan (Binapenta).
Pada 1986 ini Seksi AKAN berubah menjadi "Pusat AKAN" yang berada
di bawah Sekretariat Jenderal Depnakertrans. Pusat AKAN dipimpin oleh pejabat
setingkat eselon II dan bertugas melaksanakan penempatan TKI ke luar negeri. Di
daerah pada tingkat provinsi/Kanwil, kegiatan penempatan TKI dilaksanakan oleh
"Balai AKAN."
Pada 1994 Pusat AKAN dibubarkan dan fungsinya diganti Direktorat
Ekspor Jasa TKI (eselon II) di bawah Direktorat Jenderal Binapenta. Namun pada
1999 Direktorat Ekspor Jasa TKI diubah menjadi Direktorat Penempatan Tenaga
Kerja Luar Negeri (PTKLN). Dalam upaya meningkatan kualitas penempatan dan
keamanan perlindungan TKI telah dibentuk pula Badan Koordinasi Penempatan
TKI (BKPTKI) pada 16 April 1999 melalui Keppres No 29/1999 yang
keanggotannya terdiri 9 instansi terkait lintas sektoral pelayanan TKI untuk
meningkatkan program penempatan dan perlindungan tenaga kerja luar negeri
sesuai lingkup tugas masing-masing.
Pada tahun 2001 Direktorat Jenderal Binapenta dibubarkan dan diganti
Direktorat Jenderal Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Negeri
(PPTKLN) sekaligus membubarkan Direktorat PTKLN. Direktorat Jenderal
PPTKLN pun membentuk struktur Direktorat Sosialisasi dan Penempatan untuk
pelayanan penempatan TKI ke luar negeri. Sejak kehadiran Direktorat Jenderal
PPTKLN, pelayanan penempatan TKI di tingkat provinsi/kanwil dijalankan oleh
BP2TKI (Balai Pelayanan dan Penempatan TKI).
Pada 2004 lahir Undang-undang No 39/2004 tentang Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, yang pada pasal 94 ayat (1)
dan (2) mengamanatkan pembentukan Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). Kemudian disusul dengan
lahirnya Peraturan Presiden (Perpres) No 81/2006 tentang Pembentukan BNP2TKI
yang struktur operasional kerjanya melibatkan unsur-unsur instansi pemerintah
pusat terkait pelayanan TKI, antara lain Kemenlu, Kemenhub, Kemenakertrans,
Kepolisian, Kemensos, Kemendiknas, Kemenkes, Imigrasi (Kemenhukam),
Sesneg, dan lain-lain. Pada 2006 pemerintah mulai melaksanakan penempatan TKI
program Government to Government (G to G) atau antarpemerintah ke Korea
Selatan melalui Direktorat Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar
Negeri (PPTKLN) di bawah Direktorat Jenderal PPTKLN Depnakertrans.
Pada 2007 awal ditunjuk Moh Jumhur hidayat sebagai Kepala BNP2TKI
melalui Keppres No 02/2007, yang kewenangannya berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada presiden. Tidak lama setelah Keppres pengangkatan itu
yang disusul pelantikan Moh Jumhur Hidayat selaku Kepala BNP2TKI,
dikeluarkan Peraturan Kepala BNP2TKI No 01/2007 tentang Struktur Organisasi
BNP2TKI yang meliputi unsur-unsur intansi pemerintah tingkat pusat terkait
pelayanan TKI. Dasar peraturan ini adalah Instruksi Presiden (Inpres) No 6/2006
tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia.
Dengan kehadiran BNP2TKI ini maka segala urusan kegiatan penempatan
dan perlindungan TKI berada dalam otoritas BNP2TKI, yang dikoordinasi Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi namun tanggung jawab tugasnya kepada presiden.
Akibat kehadiran BNP2TKI pula, keberadaan Direktorat Jenderal PPTKLN
otomatis bubar berikut Direktorat PPTKLN karena fungsinya telah beralih ke
BNP2TKI. Program penempatan TKI G to G ke Korea pun dilanjutkan oleh
BNP2TKI, bahkan program tersebut diperluas BNP2TKI bekerjasama pemerintah
Jepang untuk penempatan G to G TKI perawat pada 2008, baik untuk perawat
rumahsakit maupun perawat lanjut usia.

2.2 Pentingnya Penempatan dan Perlindungan Buruh Migran


Undang-Undang Dasar 1945, pasal 27 ayat 2 menetapkan bahwa tiap-tiap
warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Berdasarkan pasal tersebut jelas dikehendaki bahwa supaya setiap warga negara
yang mampu bekerja memiliki hak untuk diberi pekerjaan. Dengan tujuan agar
mereka dapat memiliki hidup yang layak dan memiliki hak-hak yang dilindungi
oleh hukum.
Salah satu upaya yang dianggap efektif untuk mengatasi masalah penduduk
adalah melaksanakan pengiriman TKI ke laur negeri melalui antar kerja antar
negara. Pengiriman tersebut setidaknya telah memberikan manfaat yang besar
yaitu:
1. Mempererat hubungan antar negara (negara pengirim dan negara penerima).
2. Mendorong terjadinya pengalaman kerja dan alih teknologi.
3. Meningkatkan pembayaran di dalam neraca pembayaran (devisa).
Selain membawa dampak positif seperti yang dikemukakan diatas, ternyata
dalam praktik penyelenggaraanya timbul beberapa dampak negatif seperti adanya
tindakan-tindakan di luar batas perimanusiaan yang menimpa para tenaga kerja.
Terjadinya tindakan-tindakan di luar batas kemanusiaan itu jelas merugikan TKI
dan dapat merusak citra bangsa indonesia sehingga tidak mengherankan apabila
timbul pro dan kontra dalam pengiriman TKI ke luar negeri.
Adanya pihak kontra ini menjadikan pemerintah dihadapkan pada dua pilihan
kepentingan yang berbeda-beda dan masing-masing harus diperhatikan dan
dipertimbangkan. Di satu pihak, kebutuhan akan penyaluran tenaga kerja sudah
melimpah di dalam negeri. Di lain pihak muncul desakan yang membuat
pemerrintah harus berpikir dan menentukan mekanisme agar pengiriman tenaga
kerja ke luar negeri dapat menguntungkan berbagai pihak. Mekanisme tersebut
sebaiknya diatur dari tahapan sebelum keberangkatan sampai pada tahap
kepulangan TKI.
Pemilihan tenaga kerja sebaiknya selektif agar bisa mengirim tenaga kerja siap
pakai. TKI yang dikirim ke luar negeri sebaiknya memiliki keterampilan yang
memadai sehingga bisa mencegah risiko yang tidak diinginkan.
Sepanjang sejarah pengiriman TKI ke luar negeri hingga saat ini ada beberapa
peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Berikut
peraturan yang dikeluarkan:
1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 01/MEN/1986
2. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 03/MEN/1986
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/MEN/1988
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER-104 A/Men/2002
5. UU Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga
Kerja Indonesia di Luar Negeri
Pertimbangan pembentukan Undang-Undang
1. Pekerja mempunyai hak asasi manusia yang dijunjung tinggi, dihormati dan
dijamin penegakannya.
2. Setiap tenaga kerja mempunyai hak yang sama dan kesempatan yang sama
tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang
layak, baik di dalam maupun di luar negeri sesuai dengan keahlian,
keterampilan, bakat, minat dan kemampuan.
3. TKI di luar negeri sering dijadikan objek perbudakan, perdagangan
manusia, kerja paksa, korban kekerasan, kejahatan atas harkat martabat
manusia serta perlakuan yang melanggar hak asasi manusia
4. Negara wajib menjamin HAM warga negara yang bekerja, baik didalam
maupun di luar negeri berdasarkan prinsip persamaan hak, demokrasi,
keadilan sosial, kesetaraan gender, anti diskriminasi, dan anti perdagangan
manusia.
5. Penempatan tenaga kerja indonesia di luar negeri merupakan suatu upaya
untuk mewujudkan hak dan kesempatan yang sama bagi tenaga kerja untuk
memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak, yang pelaksanaannya
dilakukan dengan tetap memperhatikan harkat, martabat, hak asasi manusia,
dan perlindungan hukum serta pemerataan kesempatan kerja dan
penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
6. Penempatan TKI di luar negeri perlu dilakukan secara terpadu antara
instansi pemerintah baik pusat maupun daerah dan peran serta masyarakat
dalam suatu sistem hukum guna melindungi tenaga kerja indonesia yang
ditempatkan di luar negeri.
7. Peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan yang ada belum
mengatur secara memadai, tegas, dan terperinci mengenai penempatan dan
perlindungan TKI di luar negeri
8. Dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dinyatakan bahwa
penempatan TKI di luar negeri diatur dengan undang-undang.
Sejalan dengan UU. Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, yang
mengamanahkan agar penempatan tenaga kerja diatur dengan undang-undang maka
dibentuklah UU. Nomor 39 Tahun 2004 . Undang-Undang tersebut kemudian
dijabarkan dalam lebih lanjut dalam:
1. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER-
05/MEN/III/2005 tentang Ketentuan Sanksi Administratif dan Tata Cara
Penjatuhan Sanksi dalam Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.
2. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmig6rasi Nomor PER-
19/MEN/VI/2006 tentang Pelaksanaan Penempatan dan Perlindungan
Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.
Dalam Undang-Undang Nomor. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan
Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, dijelaskan pengertiannya sebagai berikut:
1. Penempatan TKI adlah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan TKI
sesuai bakat, minat, dan kemampuannya untuk dengan pemberi kerja di luar
negeri yang meliputi keseluruhan proses perekrutan, pengutusan dokumen,
pendidikan dan pelatihan, penampungan, persiapan pemberangkatan,
pemberangkatan sampai negara tujuan, dan pemulangan dari negara tujuan.
2. Perlindungan TKI adalah segala upaya untuk melindungi kepentingan calon
TKI dalam terjaminnya pemenuhan hak-haknya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan, baik sebelum, selama, maupun sesudah bekerja.
3. TKI adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk
bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu
dengan menerima upah.
Penempatan dan Perlindungan TKI/Calon TKI berasakan keterpaduan,
persamaan hak, demokrasi, keadilan sosial, kesetaraan dan keadilan gender serta
anti perdagangan manusia, dan bertujuan untuk:
1. Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan
manusiawi.
2. Menjamin dan melindungi calon TKI/TKI sejak di dalam negeri, di negara
tujuan sampai kembali ke Indonesia.
3. Meningkatkan kesejahteraan TKI dan keluarganya

2.3 Pihak-Pihak yang Terkait dalam Penempatan TKI ke Luar Negeri


Pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan penempatan TKI ke luar negeri
adalah calon TKI, pelaksana penempatan TKI, mitra usaha dan pengguna jasa.
Pengertian dari pihak tersebut, baik menurut UU. No. 39 Tahun 2004 maupun
peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER-19/MEN/VI/2006
adalah sebagai berikut:
1. Calon tenaga kerja Indonesia atau disebut TKI adalah warga negara
Indonesia yang memenuhi syarat sebagai pencari kerja yang akan bekerja di
luar negeri dan terdaftar di instansi pemerintah kabupaten/kota yang
bertanggungg jawab di bidang ketenagakerjaan.
2. Pelaksana penempatan TKI swasta adalah badan hukum swasta yang
memperoleh izin tertulis dari pemerintah untuk menyelenggarakan
pelayanan penempatan TKI di luar negeri.
3. Mitra usaha adalah instansi atau badan usaha yang berbentuk badan hukum
di negara tujuan yang di negara tujuan yang bertanggung jawab atas
penempatan TKI kepada pengguna.
4. Pengguna jasa adalah instansi pemerintah, badan hukum pemerintah, badan
hukum swasta, dan atau perorangan di negara tujuan yang memperkerjakan
TKI.

2.3.1 Calon TKI


Berikut adalah persyaratan bagi calon TKI:
1. Berusia minimal 18 tahun, kecuali bagi TKI yang bekerja pada pihak
perorangan minimal berusia 21 tahun.
2. Sehat jasmani dan rohani
3. Tidak dalam keadaan hamil bagi TKW
4. Pendidikan minimal SMP/sederajat
Bagi warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan dapat mencari kartu
kuning (kartu pertanda pencari pekerjaan) yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga
Kerja setiap kota/kabupaten. Untuk itu setiap calon TKI mempunyai hak dan
kesempatan yang sama untuk:
1. Bekerja di luar negeri.
2. Memperoleh informasi yang benar mengenai pasar kerja luar negeri dan
prosedur penempatan TKI di luar negeri.
3. Memperoleh pelayanan dan penempatan yang sama dalam penempatan di
luar negeri.
4. Memperoleh kebebasan menganut agama dan keyakinannya serta
kesempatan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan
yang dianutnya.
5. Memperoleh upah sesuai dengan standar upah yang berlaku di negara
tujuan.
6. Memperoleh hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama yang diperoleh
tenaga kerja asing lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan di
negara tujuan.
7. Memperoleh jaminan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan
atas tindakan yang dapat merendahkan harkat dan martabatnya serta
pelanggaran atas hak-hak yang ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan selama penempatan di luar negeri.
8. Memperoleh jaminan perlindungan keselamatan dan keamanan kepulangan
TKI ke tempat asal.
9. Memperoleh naskah perjanjian kerja yang asli (Pasal 8 UU. No. 39 Tahun
2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI)
Sedangkan kewajiban TKI adalah:
1. Menaati peraturan perundang-undangan baik di dalam negeri maupun di
negara tujuan.
2. Menaati dan melaksanakan pekerjaanya sesuai dengan perjanjian kerja.
3. Membayar biaya pelayanan penempatan TKI di luar negeri sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
4. Memberitahukan dan melaporkan kedatangan, keberadaan, dan kepulangan
TKI kepada perwakilan Republik Indonesia di negara tujuan.

2.3.2 Pelaksana Penempatan TKI Swasta


Penempatan TKI adalah kegiatan pelayanan untuk mempertemukan TKI
dengan pengguna jasa sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan TKI sehingga
diperlukan lembaga penempatan yang dapat menyelenggarakan penempatan TKI
sesuai dengan persyaratan yang ditentukan oleh Undang-Undang.
Perusahaan yang dapat menjadi pelaksana penempatan TKI swasta wajib
memiliki izin tertulis dari menteri yang berupa Surat Izin Pelaksana Penempatan
Tenaga Kerja Indonesia (SIPPTKI). Untuk mendapat SIPPTKI, ada beberapa syarat
yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Berbentuk badan hukum perseroan terbatas (PT) yang didirikan sesuai
dengan ketentuan UU No. 1 Tahun 1995.
2. Memiliki modal yang disetor yang tercantum dalam Akta Pendirian
Perusahaan, dengan ketentuan minimal, Rp. 3.000.000.000,-
3. Memiliki rencana penempatan dan perlindungan TKI minimal dalam jangka
waktu tiga tahun.
4. Memiliki unit pelatihan kerja.
5. Memiliki sarana dan prasarana pelayanan dan penempatan TKI.
Masa berlaku SIPPTKI adalah lima tahun dan bisa diperpanjang. Perpanjangan
izin diatas dapat diberikan pada Pelaksana Penempatan TKI Swasta dengan syarat:
1. Telah melaksanakan kewajibannya kepada Menteri Tenaga Kerja secara
periodik.
2. Telah melaksanakan penempatan minimal 75% dari rencana awal
penempatan.
3. Masih memiliki sarana dan prasarana yang sesuai dengan standar yang
ditetapkan.
4. Memiliki rencana keuangan selama dua tahun terakhir tidak mengalami
kerugian yang diaudit akuntan publik.
5. Tidak dalam masa skorsing
Menteri Tenaga Kerja akan mencabut perizinan apabila:
1. Tidak memenuhi syarat perpanjangan masa berlaku.
2. Tidak melaksanakan kewajiban atau tanggung jawabnya dan atau
melanggar larangan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri.
Untuk memenuhi kepentinganya, pelaksana penempatan TKI swasta dapat
mempunyai lembaga perwakilan di negara tempat TKI bekerja. Lembaga
perwakilan sebaiknya berbadan hukum dan sesuai menurut hukum yang berlaku di
negara setempat. Selain itu Pelaksana Penempatan TKI swasta dapat membuka
kantor cabang di luar daeras domisilinya, dan kepada kantor cabang tersebut
pelaksana penempatan TKI swasta hanya dapat memberi wewenang :
1. Melakukan pendataan calon TKI.
2. Melakukan pendaftaran dan seleksi calon TKI
3. Menyeleksi kasus calon TKI pada pra penempatan.
4. Menandatangani perjanjian penempatan calon TKI atas nama pelaksana
penempatan TKI Swasta.
Selain pelaksana penempatan TKI swasta. Berdasar UU. No. 39 Tahun 2004,
perusahaan dapat menempatkan TKI ke luar negeri untuk kepentingannya sendiri.
Dengan izin tertulis dari menteri. Penempatan TKI ke luar negeri untuk kepentingan
perusahaan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Perusahaan yang bersangkutan harus berbadan hukum.
2. TKI yang ditempatkan merupakan tenaga kerja dari perusahaan itu sendiri.
3. Perusahaan memiliki bukti hubungan kepemilikan atau perjanjian pekerjaan
yang diketahui oleh perwakilan Republik Indonesia.
4. TKI telah memiliki perjanjian kerja,
5. TKI telah mendapatkan hak Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
6. TKI yang akan ditempatkan wajib memiliki Kartu Tenaga Kerja Luar
Negeri.

2.3.3 Mitra Usaha


Mitra usaha adalah badan usaha yang sudah berbadan hukum di negara
tujuan yang bertanggung jawab pada menempatkan TKI, pada pengguna jasa TKI.
Mitra usaha ini wajib memiliki perjanjian dengan penempatan TKI swasta. Dalam
perjanjian tersebut harus mencantumkan:
1. Jumlah TKI yang dibutuhkan
2. Jenis kelamin TKI
3. Tempat TKI akan dipekerjakan.
Perjanjian ini dinamkan perjanjian kerjasama penempatan yang dibuat dan
disepakati oleh pelaksana penempatan TKI swasta dengan mitra usaha. Dalam
perjanjian ini memuat hak dan kewajiban masing-masing pihak dalam rangka
penempatan dan perlindungan TKI di negara tujuan. Perwakilan Republik
Indonesia melakukan penilaian terhadap mitra usaha. Hasil penilaian tersebut akan
dijadikan pertimbangan dalam penempatan TKI.

2.3.4 Pengguna Jasa


Pengguna jasa TKI adalah instansi pemerintah, badan usaha, hukum
pemerintah, badan hukum swasta, dan atau perorangan di negara tujuan yang
memperkerjakan TKI. Dengan demikian pengguna jasa ini merupakan tempat TKI
diperkerjakan. Pengguna jasa diwajibkan untuk membuat perjanjian. Namun
pengguna jasa sebagai pihak yang terikat dengan perjanjian kerjasama penempatan.

2.3 Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia yang Bekerja di Luar Negeri


Disahkannya Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Perlindungan
dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, memperjelas kewenangan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam mengatur penempatan TKI. Salah
satu pasal dalam UU tersebut menyebutkan pemerintah pusat berwenang dalam
mengatur, membina, melaksanakan, mengawasi penempatan, serta melindungi TKI
di luar negeri.
Penempatan TKI keluar negeri juga mempunyai efek negatif dengan adanya
kasus-kasus yang menimpa TKI baik sebelum, selama, maupun pada saat pulang
ke daerah asal. Oleh karena itu, negara perlu melakukan penanganan secara terpadu
terhadap kasus-kasus yang menimpa TKI (Sutedi, 2009).
Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan
Perlindungan TKI di Luar Negeri yang diundangkan tanggal 18 Oktober 2004,
menentukan ada 3 (tiga) jenis perlindungan bagi TKI, yaitu sebagai berikut
(Asyhadie, 2007):

1) Perlindungan TKI Pra-Penempatan


Perlindungan TKI pra-penempatan meliputi beberapa hal berikut:
a. Pemberian informasi kepada calon TKI yang dilakukan oleh pelaksana
penempatan TKI swasta dan sebelumnya wajib mendapatkan
persetujuan dari instansi yang bertanggung jawab di bidang
ketenagakerjaan. Informasi tersebut meliputi:
1. Tata cara perekrutan;
2. Dokumen yang diperlukan;
3. Hak dan kewajiban TKI;
4. Situasi, kondisi, dan risiko di negara tujuan; serta
5. Tata cara perlindungan TKI.
b. Kepada calon TKI yang belum memiliki sertifikasi dan kompetensi
kerja, pelaksana penempatan TKI swasta wajib melakukan pendidikan
dan pelatihan sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan.
c. Calon TKI harus mengerti dan memahami isi perjanjian kerja yang telah
ditandatangani sebelum TKI diberangkatkan ke luar negeri di hadapan
pejabat instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.
d. Pelaksana penempatan TKI swasta wajib mengikutsertakan TKI yang
diberangkatkan ke luar negeri dalam program asuransi.
e. Pelaksana penempatan TKI swasta wajib mengikutsertakan TKI yang
diberangkatkan ke luar negeri dalam pembekalan akhir penempatan.
f. Pelaksana penempatan TKI swasta menampung calon TKI sebelum
pemberangkatan.

2) Perlindungan TKI Selama Penempatan


Selama TKI bekerja di luar negeri tetap mendapat perlindungan,
khususnya dari pelaksana penempatan TKI swasta maupun pemerintah.
Perlindungan TKI selama penempatan meliputi hal-hal berikut:
a. Pelaksana penempatan TKI swasta dilarang menempatkan TKI di
tempat kerja yang tidak sesuai dengan pekerjaan sebagaimana dimaksud
dalam perjanjian kerja yang disepakati dan ditandatangani oleh TKI
yang bersangkutan.
b. Perwakilan Republik Indonesia memberikan perlindungan TKI di luar
negeri dengan menetapkan jabatan Atase Ketenagakerjaan (Atnaker)
pada Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri. (UU No. 39 Tahun
2004 Pasal 78 ayat (2)
c. Dalam memberikan perlindungan selama penempatan di luar negeri,
perwakilan Republik Indonesia melakukan pembinaan dan pengawasan
terhadap perwakilan pelaksana penempatan TKI swasta dan TKI yang
ditenpatkan di luar negeri. (UU No. 39 Tahun 2004 Pasal 79)
d. Perlindungan TKI selama penempatan di luar negeri dilakukan dengan
memberikan bantuan hukum sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di negara tujuan serta hukum dan kebiasaan
internasional.
e. Pembelaan atas pemenuhan hak sesuai dengan perjanjian kerja dan/atau
peraturan perundang-undangan di negara di mana TKI ditempatkan.

3) Perlindungan TKI Purna Penempatan


Perlindungan TKI purna penempatan meliputi hak-hak berikut:
a. Kepulangan TKI dapat terjadi karena berakhirnya perjanjian kerja,
pemutusan hubungan kerja, terjadinya perang, wabah penyakit di negara
tujuan, mengalami kecelakaan kerja sehingga tidak bisa menjalankan
pekerjaan lagi, meninggal dunia di negara tujuan, cuti atau dideportasi
oleh pemerintah setempat.
b. Dalam hal TKI meninggal dunia di negara tujuan, pelaksana
penempatan TKI berkewajiban:
1. Memberitahukan tentang kematian TKI kepada keluarganya paling
lambat 3 x 24 jam sejak diketahuinya kematian tersebut.
2. Mencari informasi tentang sebab-sebab kematian dan
memberitahukannya kepada pejabat perwakilan Republik Indonesia
dan anggota keluarga TKI yang bersangkutan.
3. Memulangkan jenazah ke tampat asal dengan cara yang layak serta
menanggung semua biaya yang diperlukan, termasuk biaya
penguburan sesuai dengan tata cara agama TKI yang bersangkutan.
4. Mengurus pemakamam di negara tujuan penempatan TKI atas
persetujuan pihak keluarga TKI atau sesuai dengan ketentuan yang
berlaku di negara yang bersangkutan.
5. Memberikan perlindungan terhadap seluruh harta milik TKI untuk
kepentingan keluarganya.
6. Mengurus pemenuhan terhadap semua hak yang seharusnya
diterima TKI.
c. Dalam hal terjadi perang, bencana alam, wabah penyakit, dan deportasi,
perwakilan Republik Indonesia, Badan Nasional Penempatan dan
Perlindungan TKI, pemerintah pusat dan daerah bekerja sama mengurus
kepulangan TKI.
d. Kepulangan TKI dari negara tujuan sampai tiba di daerah asal menjadi
tanggung jawab pelaksana penempatan TKI.
e. Pengurusan kepulangan TKI meliputi:
1. Kemudahan atau fasilitas kepulangan TKI;
2. Pemberian fasilitas kesehatan bagi TKI yang sakit dalam
kepulangan;
3. Pemberian upaya perlindungan terhadap TKI dari kemungkinan
adanya tindakan pihak lain yang tidak bertanggung jawab dan dapat
merugikan TKI dalam kepulangan.

Selain itu, dalam UU No. 39 Tahun 2004 diatur juga tentang kegiatan
pembinaan terhadap segala kegiatan penempatan dan perlindungan TKI di luar
negeri, yang harus dilakukan oleh pemerintah berupa:

a) Memberikan bimbingan dan advokasi bagi TKI mulai dari pra


penempatan, selama penempatan, dan purna penempatan;
b) Memfasilitasi penyelesaian atau sengketa calon TKI/TKI dengan
pengguna jasa atau pelaksana penempatan TKI;
c) Menyusun dan mengumumkan daftar jumlah mitra usaha dan pengguna
bermasalah secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
d) Melakukan kerjasama internasional dalam rangka perlindungan TKI
sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Pemerintah juga bertanggung jawab untuk meningkatkan upaya


perlindungan TKI di luar negeri, karena itu pemerintah berkewajiban:
1. Menjamin terpenuhinya hak-hak calon TKI/TKI baik yang berangkat
melalui pelaksana penempatan TKI, maupun yang berangkat secara
mandiri;
2. Mengawasi pelaksanaan penempatan calon TKI;
3. Membentuk dan mengembangkan sistem informasi penempatan calon
TKI di luar negeri;
4. Melakukan upaya diplomatik untuk menjamin pemenuhan hak dan
perlindungan TKI secara optimal di negara tujuan;
5. Memberikan perlindungan kepada TKI selama pra penempatan, selama
penempatan, dan purna penempatan.

Untuk menjamin dan mempercepat terwujudnya tujuan penempatan dan


perlindungan TKI di luar negeri, diperlukan pelayanan dan tanggung jawab secara
terpadu. Untuk itu, dibentuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI
yang berfungsi merumuskan kebijakan di bidang penempatan dan perlindungan
TKI di luar negeri secara terkoordinasi dan terintegrasi. Untuk melaksanakan fungsi
ini badan tersebut bertugas:

a. Melakukan penempatan atas dasar perjanjian tertulis antara pemerintah


dengan pemerintah negara pengguna TKI atau pengguna berbadan
hukum di negara tujuan penempatan;
b. Memberikan pelayanan, mengoordinasikan, dan melakukan
pengawasan mengenai:
(1) dokumen;
(2) pembekalan akhir pemberangkatan;
(3) penyelesaian masalah;
(4) sumber-sumber pembiyaan;
(5) pemberangkatan sampai pemulangan;
(6) peningkatan kualitas TKI;
(7) informasi;
(8) kualitas pelaksana penempatan TKI; dan
(9) peningkatan kesejahteraan TKI dan keluarganya.
Keanggotaan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI terdiri
dari wakil-wakil instansi terkait, dan untuk kelancaran pelaksanaan tugasnya dapat
melibatkan tenaga-tenaga profesional, dan untuk melaksanakan tugasnya di setiap
provinsi akan dibentuk balai pelayanan penempatan dan perlindungan TKI yang
bertugas memberikan kemudahan pelayanan, pemrosesan seluruh dokumen
penempatan TKI.

2.4 Ketentuan Sanksi Administratif dalam Penempatan TKI di Luar


Negeri
Pejabat yang berwenang menjatuhkan sanksi administratif adalah Menteri
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan
Tenaga Kerja Luar Negeri. Sanksi-sanksi administratif itu terdiri dari:

a. Peringatan tertulis;
b. Penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan usaha penempatan
TKI (skorsing);
c. Pencabutan izin;
d. Pembatalan keberangkatan calon TKI;
e. Pemulangan TKI dari luar negeri dengan biaya sendiri.

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c


dikenakan kepada PPTKIS , sedangkan sanksi adminsitratif sebagai dimaksud
dalam huruf d dan e dikenakan kepada calon TKI.

Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri dapat


menjatuhkan sanksi administratif yang berupa peringatan tertulis kepada PPTKIS,
dalam hal:

1) Tidak menambah biaya keperluan penyelesaian perselisihan apabila


deposito yang diwajibkan tidak lagi mencukupi;
2) Tidak membentuk perwakilan luar negeri;
3) Tidak meminta persetujuan dari instansi yang bertanggung jawab di
bidang ketenagakerjaan tentang informasi perekrutan;
4) Tidak melaporkan setiap perjanjian penempatan TKI kepada instansi
yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan kabupaten/kota;
5) Tidak mengurus persetujuan perpanjangan perjanjian kerja kepada
Perwakilan Republik Indonesia di negara penempatan TKI;
6) Tidak melaporkan setiap keberangkatan calon TKI kepada Perwakilan
Republik Indonesia;
7) Tidak melaporkan kedatangan calon TKI yang akan bekerja pada
pengguna perseorangan kepada Perwakilan Republik Indonesia; dan,
8) Tidak melaporkan kepulangan TKI yang bekerja kepada pengguna
perseorangan kepada Perwakilan Republik Indonesia.

Peringatan tertulis dilakukan dalam tiga (3) tahap atau tiga kali dalam hal
PPTKIS tidak memerhatikan peringatan tertulis sebelumnya dalam jangka waktu
empat belas hari. Jika peringatan tertulis ketiga juga tidak diperhatikan maka
Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri dapat
menjatuhkan sanksi skorsing.

Sanksi skorsing juga dapat dijatuhkan kepada PPTKIS oleh Direktur


Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri, dalam hal PPTKIS :

a. Mengalihkan atau memindahtangankan SIP kepada pihak lain;


b. Tidak mengikutsertakan calon TKI dalam Pembekalan Akhir
Pemberangkatan (PAP);
c. Menempatkan TKI tidak sesuai dengan perjanjian kerja;
d. Tidak mengurus TKI yang meninggal dunia di negara penempatan;
e. Tidak memberikan perlindungan sesuai dengan perjanjian penempatan.

Selama PPTKIS yang terkena sanksi skorsing tidak diperbolehkan untuk


merekrut calon TKI, namun tetap berkewajiban untuk dan bertanggung jawab atas
pemberangkatan TKI yang sudah dilaksanakan. Dalam hal PPTKIS tersebut tidak
melaksanakan kewajibannya Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga
Kerja Luar Negeri dapat mencabut SIPPTKI yang bersangkutan.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dapat menjatuhkan sanksi


pencabutan SIPPTKI, dalam hal PPTKIS:

a. Tidak lagi memnuhi persyaratan untuk menjadi PPTKIS;


b. Menetapkan calon TKI pada jabatan dan pekerjaan yang bertentangan
dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kesusilaan serta peraturan
perundangan-undangan baik di Indonesia maupun di negara tujuan;
c. Melakukan perekrutan tanpa memiliki SIP;
d. Tidak memberangkatkan TKI ke luar negeri yang telah dilengkapi
dokumen yang sah sesuai dengan perjanjian penempatan;
e. Menarik biaya penempatan pada TKI melebihi komponen biaya yang
ditetapkan dalam UU No. 39 Tahun 2004;
f. Memberangkatkan calon TKI/TKI yang tidak mengkuti program
pembinaan dan perlindungan calon TKI/TKI.

Dalam hal SIPPTKI telah dicabut, Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja


Indonesia Swasta tetap berkewajiban untuk:

(1) Mengembalikan seluruh biaya yang telah diterima dari calon TKI yang
belum ditempatkan sesuai dengan perjanjian penempatan;
(2) Memberangkatkan calon TKI yang telah memenuhi syarat dan memiliki
dokumen lengkap dan visa kerja;
(3) Menyelesaikan permasalahan yang dialami TKI di negara tujuan
penempatan sampai dengan berakhirnya perjanjian kerja TKI untuk
jangka waktu dua tahun;
(4) Mengembalikan SIPPTKI kepada Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi.

Kepada calon TKI dapat diberikan sanksi pembatalan pemberangkatan, dalam hal
TKI:

a. Tidak bersedia menandatangani perjanjian kerja;


b. Tidak mengikuti program pembinaan dan perlindungan TKI;
c. Tidak memiliki dokumen dan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN).
BAB III

Kesimpulan

Simpulan:

Penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke Negara tujuan


yang pemerintahnya telah membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah RI atau
ke negara tujuan yang mempunyai Peraturan Perundang-undangan yang
melindungi tenaga asing. Atas pertimbangan keamanan, Pemerintah menetapkan
negara-negara tertentu tertutup bagi penempatan TKI. Pemerintah telah
mengeluarkan perundang-undangan untuk menjamin perlindungan TKI seperti UU
No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang lantas mendorong pemberlakukan
UU No. 39 tahun 2004 tentang Penempatan Dan Perlindungan TKI di Luar Negeri
(UU PPTKILN) sudah berusaha untuk memfasilitasi "kepentingan" TKI pada
umumnya.

Saran:
Banyaknya pelanggaran atau maladministrasi yang dilakukan pihak
perekrut, maka penulis menyarankan untuk memperkuat hukum di Indonesia atau
penegakan hukum. Dengan tidak adanya anggaran perlindungan khusus untuk
buruh migran maka penulis menyarankan anggaran membentuk asuransi yang
pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah atau BNP2TKI/BP3TKI.
Referensi :

Asyhadie, Z. (2007). Hukum Kerja: Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan


Kerja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Sutedi, A. (2009). Hukum Perburuhan. Jakarta: Sinar Grafika.