Anda di halaman 1dari 12

Makalah Hukum Bisnis

“Konsiliasi”

Disusun oleh:
Abu Hurairah (5017020001)
Dinda Faradiba (5017020050)
Dhea Aqilanur (5016020078)
Fanny Izul Hak (5017020009)
Hasni Rossenili (5017020013)
Rifqy Muafa Fadilah (5017020082)
Syahrul Ramadhan (5017020022)

Politeknik Negeri Jakarta


Jurusan Teknik Grafika & Penerbitan
Program Studi Desain Grafis
Pengertian Konsiliasi Menurut Para Ahli

Pengertian konsiliasi adalah suatu metode penyelesaian sengketa dengan


menyerahkannya kepada konsiliator untuk menjelaskan dan menguraikan berbagai
fakta serta membuat suatu usulan keputusan penyelesaian, namun usulan keputuan
tersebut sifatnya tidak mengikat. (Huala Adolf : 2005)

Definisi konsiliasi adalah suatu cara penyelesaian sengketa yang bersifat


lebih formal daripada mediasi. Putusan yang ditetapkan lewat konsiliasi ini bersifat
tidak mengikat. (Peter Behrens : 1992)

Arti konsiliasi adalah : suatu proses untuk mencari perdamaian di luar


pengadilan, atau suatu tindakan untuk mencegah dilakukannya proses litigasi. (UU
no. 30 Th 1999)

Pengertian konsiliasi adalah suatu cara penyelesaian pertikaian yang


sifatnya intenasional dengan menggunakan komite atau bantuan negara lain yang
tidak memihak. (The Institue of International Law)

Dalam hubungan antar sesama manusia baik secara individu atau kelompok,
perselisihan atau konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindarkan.
Berbagai macam perbedaan dapat memicu timbulnya perselisihan, apakah
perbedaan pendapat, perbedaan kepentingan, perbedaan latar belakang, dan lain
sebagainya. Untuk itu yang kita perlukan adalah suatu cara atau mekanisme untuk
menyelesaikan perselisihan. Salah satunya adalah dengan cara konsilias.

Pengertian konsiliasi adalah upaya penyelesaian konflik dengan jalan damai


dengan cara mempertemukan pihak-pihak yang berselisih untuk mencari jalan
tengah penyelesaian konflik yang disepakati oleh pihak-pihak yang berselisih
tersebut. Seperti konsiliasi yang dilakukan untuk menyelesaikan sengketa daerah
kekuasaan antara Thailand dan Perancis. Dimana Thailand menuntut daerah Laos
dan Kamboja yang pada waktu itu masih termasuk daerah protektorat Perancis.
Dalam konsiliasi diperlukan seorang penengah atau yang disebut juga
konsiliator yang sifatnya tidak memihak. Konsiliator ini bisa seseorang, lembaga,
atau sebuah negara yang disetujui oleh semua pihak terkait.

Konsiliator yang ditunjuk berhak dan memiliki kewenangan untuk


menyampaikan pendapatnya mengenai perselisihan yang terjadi. Akan tetapi ia
tidak berhak mengambil keputusan akhir atas perselisihan yang terjadi. Karena
merupakan seorang penengah seorang konsiliator sangat diharapkan dapat memberi
masukan atau pendapat yang dapat membantu menyelesaikan perselisihan.

Proses konsiliasi memiliki beberapa tahapan. Pertama para pihak yang


berselisih menyerahkan perselisihan kepada pihak ketiga atau konsiliator yang
disepakati. Kemudian konsiliator akan mendengarkan keterangan lisan dari pihak-
pihak yang berselisih mengenai perselisihan yang terjadi. Berdasarkan keterangan-
keterangan tersebut konsiliator akan membuat laporan yang berisi kesimpulan dan
saran mengenai penyelesaian perselisihan. Laporan ini nantinya akan diserahkan
kepada pihak-pihak terkait.

Konsiliasi diupayakan sebelum sebuah permasalahan sampai ke pengadilan.


Jika para pihak menemui kesepakatan dalam konsiliasi maka permasalahan tersebut
biasanya tidak akan berlanjut ke jalur hukum sehingga lebih menghemat waktu dan
biaya. Meskipun demikian hasil konsiliasi sifatnya tidak mengikat seperti putusan
pengadilan sehingga bisa saja pihak-pihak yang berselisih kembali berkonflik dan
saling menggugat. Apakah kedua belah pihak akan berkonflik lagi mengenai
masalah yang sama di kemudian hari, hal ini sepenuhnya tergantung pada pihak-
pihak terkait.

Pengertian konsiliasi dalam sosiologi adalah mengendalikan suatu konflik


yang terjadi di dalam masyarakat dengan menggunakan lembaga tertentu. Lembaga
yang digunakan harus disetujui oleh kedua belah pihak yang sedang bertikai.
Contohnya Pak Kades A dan Pak Kades B terlibat cekcok dan saling menyalahkan
mengenai masalah banjir yang terus menerus terjadi di wilayahnya sehingga para
petani banyak yang gagal panen. Untuk meredakan masalah ini mereka setuju untuk
diselesaikan lewat LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa).
Konsiliasi: Metode Penyelesaian Sengketa

Pengertian Konsiliasi dinyatakan sebagai berikut.[1]

“A method for the settlement of international disputes of any nature according to


which a Commission set up by the Parties, either on a permanent basis or an ad
hoc basis to deal with a dispute, proceeds to the impartial examination of the
dispute and attempts to define the terms of a settlement susceptible of being
accepted by them or of affording the Parties, with a view to its settlement, such aid
as they may have requested.”

Dari pengertian tersebut, dapat dilihat bahwa konsiliasi merupakan sebuah


metode yang digunakan dalam suatu komisi yang dibentuk oleh para pihak, baik
sifatnya permanen maupun sementara untuk menyelesaikan sengketa internasional.
Metode ini juga merupakan suatu upaya untuk menentukan secara tepat syarat
penyelesaian yang dapat diterima oleh mereka atau memberikan suatu usulan
penyelesaian sengketa kepada para pihak jika hal tersebut dimintakan.

Komisi konsiliasi tidak hanya bertugas mempelajari fakta-fakta melainkan


juga harus mempelajari sengketa dari semua segi agar dapat merumuskan suatu
penyelesaian.

Ciri-ciri Konsiliasi

Berikut ini ciri-ciri mengenai konsiliasi yang dikutip dari Boer


Mauna, Hukum Internasional: Pengertian, Peranan dan Fungsi dalam Dinamika
Global.

1. Konsiliasi adalah suatu prosedur yang diatur oleh konvensi. Negara-negara


pihak suatu konvensi berjanji untuk mengajukan sengketa mereka kepada
komisi-komisi konsiliasi. Jadi ini adalah konsiliasi wajib, yang berarti bahwa
komisi dapat melaksanakan tugasnya bila salah satu negara peserta konvensi
memintanya. Dalam hal ini tidak perlu lagi persetujuan dari pihak lain karena
persetujuan tersebut telah diberikan sebelumnya dan secara umum dalam
konvensi.

2. Mengenai wewenang, komisi dapat mempelajari suatu persoalan dari semua


aspek dan mengajukan usul-usul untuk penyelesaian. Namun perlu diingat
bahwa prosedur konsiliasi ini adalah prosedur politik karena solusi yang
diajukan tidak mengikat negara-negara yang bersengketa. Di samping itu dalam
kebanyakan konvensi konsiliasi juga terdapat ketentuan-ketentuan bahwa jika
laporan dan usul-usul komisi ditolak, maka para pihak yang bersengketa harus
meneruskan penyelesaian sengketanya melalui prosedur yurisdiksional.

3. Komisi-komisi konsiliasi adalah komisi-komisi tetap yang segera dibentuk


setelah berlakunya konvensi dan pembentukan tersebut harus sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam konvensi. Biasanya komis terdiri dari
5 anggota, yaitu 2 dari masing-masing negara yang bersengketa dan satu wakil
dari negara lain.

4. Mengidentifikasi permasalahan dan memahami fakta dan keadaan.


5. Mendiskusikan masalah.
6. Memahami kebutuhan para pihak.
7. Mencapai kesepakatan yang dapat diterima satu sama lain.
8. Terdapat konsiliator.
9. Lebih formal dari mediasi.
10. Putusan tidak bersifat mengikat.

Konsiliasi memiliki perbedaan dan persamaan dengan mediasi. Mediasi


merupakan perluasan dari negosiasi, sedangkan konsiliasi memberikan peran bagi
pihak ketiga yang setaraf dengan inquiry atau arbitrasi. Selain itu, dalam hal
pencarian fakta, konsilasi bukanlah hal yang mutlak harus ada. Sedangkan bagi
penyelesaian yang diajukan tidak memiliki kekuatan memaksa yang kemudian
menunjukan kemiripannya dengan mediasi. Atau dengan kata lain, para pihak dapat
menolak ataupun menerima usul tersebut. Tidak mengikatnya usul itu membedakan
konsiliasi dengan arbitrasi.
Proses atau Tahapan Konsiliasi
A. Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

Jenis Perselisihan yang dapat diselesaikan melalui konsiliasi antara lain:


untuk perselisihan kepentingan, perselisihan PHK atau perselisihan antar serikat
pekerja / serikat buruh dalam satu perusahaan (Pasal 18 ayat (1) UU No. 2 Tahun
2004). Konsiliasi hanya dapat dilakukan oleh konsiliator yang wilayah kerjanya
meliputi tempat pekerja/buruh bekerja. Penyelesaian konsiliasi dilakukan melalui
seorang atau beberapa orang atau badan yang disebut sebagai konsiliator, yang
menengahi pihak yang berselisih untuk menyelesaikan perselisihannya secara
damai, serta aktif memberikan solusi penyelesaian masalah (Pasal 1 angka 14 UU
No. 2 Tahun 2004). Konsiliasi berjalan dengan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Konsiliator menjalankan tugasnya setelah para pihak mengajukan


permintaan secara tertulis kepada konsiliator yang ditunjuk dan disepakati
oleh para pihak yang berselisih (Pasal 18 ayat (2)
2. Dalam jangka waktu paling lambat 7 hari setelah menerima permintaan
penyelesaian perselisihan secara tertulis, konsiliator harus mengadakan
penelitian tentang duduknya perkara dan selambat-lambatnya pada hari
kedelapan harus sudah dilakukan sidang konsiliasi pertama (Pasal 20).
3. Konsiliator dapat memanggil saksi guna didengarkan keterangannya (Pasal
21 ayat (1))
4. Apabila Para Pihak mencapai kesepakatan, maka dibuatlah perjanjian
bersama yang disaksikan oleh Konsiliator lalu didaftarkan di Pengadilan
Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah hukum pihak-pihak
mengadakan perjanjian bersama (Pasal 23 ayat (1)). Pendaftaran untuk
mendapatkan akta bukti pendaftaran. Bukti pendaftaran tersebut dapat
digunakan untuk mengajukan permohonan eksekusi melalui Pengadilan
Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri di wilayah perjanjian bersama
didaftarkan untuk mendapatkan penetapan eksekusi (Pasal 23 ayat 3 huruf
b)
5. Apabila tidak terjadi kesepakatan penyelesaian melalui konsiliasi (Pasal 23
ayat 2), maka:
a. Konsiliasi mengeluarkan anjuran tertulis;
b. Anjuran tertulis tersebut selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari sejak
menerima anjuran tersebut sudah harus memberikan jawaban
kepada konsiliator yang isinya menyetujui atau menolak anjuran
yang dibuatnya konsiliator.
c. Jika para pihak tidak memberikan pendapatnya, mereka dianggap
menolak anjuran yang dibuat konsiliator.
d. Jika anjuran tertulis disetujui, dalam waktu selambat-lambatnya 3
(tiga) hari sejak anjuran disetujui, konsiliator harus sudah selesai
membantu para pihak membuat perjanjian bersama untuk kemudian
didaftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan
Negeri di wilayah hukum pihak-pihak mengadakan perjanjian
bersama untuk mendapatkan bukti pendaftaran.
e. Jika anjuran tertulis yang dibuat oleh konsiliator ditolak oleh salah
satu pihak atau para pihak, maka salah satu pihak atau para pihak
dapat melanjutkan penyelesaian perselisihan ke Pengadilan Negeri
setempat (Pasal 24).
f. Konsiliator harus menyelesaikan tugasnya selambat-lambatnya 30
(tiga puluh) hari kerja terhitung sejak menerima permintaan
penyelesaian perselisihan (Pasal 25).

B. Proses Penyelesaian Sengketa Melalui Konsiliasi

Prosedur konsiliasi sangat bermanfaat dan sangat penting, karena dalam


pelaksanaan penyelesaian sengketa melalui konsiliasi ada beberapa tahap yang
harus dilalui, yaitu:

1. Penyerahan sengketa yang diuraikan kepada komisi konsiliasi,


2. Kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan para pihak
3. Dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan
tersebut komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak
disertai dengan kesimpulan dan usulan penyelesaian sengketa.
Dalam menyelesaikan perselisihan, Konsiliator berhak meminta para pihak
untuk menyerahkan pernyataan tertulis perihal dasar persengketaan masing-
masing. Salinan dari masing-masing pihak diberikan kepada satu sama lain.
Konsiliator juga berhak untuk meminta para pihak menyerahkan pernyataan
tambahan ditambah dengan dokumen-dokumen atau fakta pendukung lainnya yang
terkait. Salinan dari masing-masing pihak diberikan kepada satu sama lain. Dalam
waktu kapanpun, konsiliator berhak meminta para pihak menyerahkan berbagai
informasi yang berkaitan, jika konsiliator merasa membutuhkan. Konsiliator juga
berhak menyampaikan pendapat secara terbuka tanpa memihak siapa pun. Selain
itu, konsiliator tidak berhak untuk membuat keputusan dalam sengketa untuk dan
atas nama para pihak sehingga keputusan akhir merupakan proses konsiliasi yang
diambil sepenuhnya oleh para pihak dalam sengketa yang dituangkan dalam bentuk
kesepakatan di antar mereka. Konsiliator bisa mengeluarkan anjuran tertulis jika
tidak tercapai perdamaian diantara kedua belah pihak. Sebaliknya, jika perdamaian
tercapai, maka konsiliator bersama dengan para pihak dapat menandatangani
perjanjian bersama yang kemudian didaftarkan ke komisi konsiliasi.

C. Proses konsiliasi memiliki beberapa tahapan.

1. Pertama para pihak yang berselisih menyerahkan perselisihan kepada pihak


ketiga atau konsiliator yang disepakati.
2. Kemudian konsiliator akan mendengarkan keterangan lisan dari pihak-
pihak yang berselisih mengenai perselisihan yang terjadi.
3. Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut konsiliator akan membuat
laporan yang berisi kesimpulan dan saran mengenai penyelesaian
perselisihan. Laporan ini nantinya akan diserahkan kepada pihak-pihak
terkait.

Konsiliasi diupayakan sebelum sebuah permasalahan sampai ke pengadilan.


Jika para pihak menemui kesepakatan dalam konsiliasi maka permasalahan tersebut
biasanya tidak akan berlanjut ke jalur hukum sehingga lebih menghemat waktu dan
biaya. Meskipun demikian hasil konsiliasi sifatnya tidak mengikat seperti putusan
pengadilan sehingga bisa saja pihak-pihak yang berselisih kembali berkonflik dan
saling menggugat. Apakah kedua belah pihak akan berkonflik lagi mengenai
masalah yang sama di kemudian hari, hal ini sepenuhnya tergantung pada pihak-
pihak terkait.

Kelebihan dan Kekurangan konsiliasi


UU No. 30 Tahun 1999 tidak memberikan suatu rumusan yang eksplisit atas
pengertian atau definisi dari konsiliasi. Bahhkan tidak dapat ditemui satu ketentuan
pun dalam UU No. 30 Tahun 1999 ini mengatur mengenai konsiliasi. Perkataan
konsiliasi sebagai salah satu lembaga alternatif penyelesaian sengketa dapat
ditemukan dalam ketentuan Pasal 1 angka 10 dan Alenia ke-9 Penjelasan Umum
Undang-undang No. 30 Tahun 1999 tersebut.
Konsiliasi memiliki kesamaan dengan mediasi. Kedua cara ini adalah
melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketa secara damai. Konsiliasi
dan mediasi sulit dibedakan. Namun menurut Behrens, ada perbedaan antara kedua
istilah ini, yaitu konsiliasi lebih formal dari pada mediasi. Konsiliasi bisa juga
diselesaikan oleh seorang individu atau suatu badan yang disebut dengan badan atau
komisi konsiliasi. Persidangan suatu komisi konsiliasi biasanya terdiri dari dua
tahap, yaitu tahap tertulis dan tahap lisan. Dalam tahap pertama, (sengketa yang
diuraikan secara tertulis) diserahkan kepada badan konsiliasi. Kemudian badan ini
akan mendengarkan keterangan lisan dari para pihak. Para pihak dapat hadir pada
tahap pendengaran, tetapi bisa juga diwakili oleh kuasanya. Kelebihan dari
alternatif penyelesaian sengketa melalui konsiliasi ini hampir sama dengan mediasi
yakni: cepat, murah, dan dapat diperoleh hasil yang efektif. Sedangkan yang
menjadi kelemahan alternatif penyelesaian sengketa melalui konsiliasi ini adalah
bahwa putusan dari lembaga konsiliasi ini tidak mengikat, sehingga sangat
tergantung sepenuhnya pada para pihak yang bersengketa.
Contoh kasus konsiliasi
1. Kasus antara Thailand dan Perancis

Contoh dari metode konsiliasi ini ialah sengketa antara Thailand dan
Perancis dengan pembentukan Komisi Konsiliasi antara kedua Negara. Thailand
berdasarkan pertimbangan ekonomi, politik, etnis selalu menuntut sebagian dari
wilayah Laos dan Kamboja yang terletak di bagian Timur tapal batasnya.
Berhubung waktu itu Laos dan Kamboja adalah protektorat Perancis, maka
sengketa ini juga ada kaitannya dengan Thailand dan Perancis.

Sebenarnya tuntutan Thailand telah dinyatakan milik Laos dan Kamboja,


tetapi Thailand selalu menuntut. Di waktu Perang Dunia II, Thailand menjadi
sekutu Jepang. Negara tersebut memaksa Pemerintahan Vichy (Perancis)
menandatangani Konvensi Tokyo dan memperoleh wilayah yang dituntutnya.
Selesai perang, Perancis membatalkan Konvensi Tokyo tersebut dengan alasan
karena dibuat di bawah ancaman dan keadaan kembali seperti semula. Selanjutnya,
atas desakan Amerika Serikat dan berdasarkan Pasal 21 Perjanjian Perancis-
Thailand 1937, dibentuk Komisi Konsiliasi kedua negara yang prosedurnya
disesuaikan dengan Ketentuan Umum Arbitrasi 1928. Komisi, tanggal 27 Juni
1947, dalam laporannya tidak membenarkan tuntutan Thailand dan sekaligus
mengakhiri tugasnya.

2. Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial pada PT.


Jarsindo Karya Utama di Kabupaten Siak
Kabupaten Siak banyak menyerap tenaga kerja dan konsekwensinya juga
banyak terjadi permasalahan ketenagakerjaan atau yang sering disebut dengan
perselisihan hubungan industrial. Salah satu yang terjadi di Kabupaten Siak adalah
kasus perselisihan pemutusan hubungan kerja secara sepihak yang dialami seorang
karyawan yaitu Poster Sijintak. Permasalahannya, Poster Sijintak dipecat sebagai
pengawas lapangan pengangkutan kayu oleh PT. Jarsindo Karya Utama, karena
pekerja dinilai oleh pengusaha tidak mampu menunjukkan kinerja/prestasi yang
baik, disamping itu atas pertimbangan Perusahaan tidak secara kontinu
mendapatkan/order kerja pengangkutan kayu dari pengusaha pemberi/penyedia
kerja PT.IKKP Perawang. Penyelesaian kasus tersebut di tempauh melalui jalur
konsilidasi. Tujuan penulisan skripsi ini untuk mengetahui penyelesaian
perselisihan tenaga kerja melalui konsiliasi Pada PT. Jarsindo Karya Utama di
Kabupaten Siak dan untuk mengetahui hambatan yang dihadapi dalam penyelesaian
perselisihan tenaga kerja melalui konsiliasi pada PT. Jarsindo Karya Utama di
Kabupaten Siak. Jenis penelitian ini adalah yuridis sosiologis karena dalam
penelitian ini penulis langsung mengadakan penelitian pada lokasi atau tempat yang
diteliti guna memperoleh gambaran secara lengkap tentang masalah yang diteliti.
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Siak, tepatnya pada Kantor Dinas Sosial dan
Tenaga Kerja Kabupaten Siak. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pihak
yang terkait dengan penyelesaian tenaga kerja melalui konsiliasi pada PT. Jarsindo
Karya Utama di Kabupaten Siak, yakni konsiliator, serta pekerja dan para
pengusaha yang menyelesaikan perselisihan hubungan industrial melalui
perantaraan Konsiliator di Kabupaten Siak dengan teknik penarikan sampel secara
sensus. Sumber data yang digunakan data primer, data sekunder, dan data tersier
teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, penyelesaian Perselisihan Tenaga Kerja
Melalui Konsiliasi Pada PT. Jarsindo Karya Utama di Kabupaten Siak telah
dilaksanakan dengan baik sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004
Tentang Tentang Penyelesaian dan sudah diterapkan secara baik oleh konsiliator.
Hambatan yang dihadapi dalam penyelesaian perselisihan tenaga kerja melalui
konsiliasi pada PT. Jarsindo Karya Utama di Kabupaten Siak yaitu belum
ditetapkannya keputusan menteri mengenai besarnya biaya transportasi dan
akomodasi saksi-saksi, belum adanya petugas khusus untuk mengirimkan surat
panggilan kepada para pihak, belum ditetapkannya keputusan direktur jenderal
mengenai bentuk dan isi risalah, laporan, serta tata cara pelaporan, sarana prasarana
tidak memadai dan pihak yang berselisih kurang responsif yaitu tidak menghadiri
panggilan sidang konsiliasi
Daftar Pustaka
- Pengertian

http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-konsiliasi-dan-contohnya/

- Ciri-ciri

https://libertysites.wordpress.com/2018/05/24/konsiliasi/

- Prosesnya atau tahapan yang harus dilakukan

https://www.coursehero.com/file/p6joasn/B-Proses-Penyelesaian-Sengketa-
Melalui-Konsiliasi-Prosedur-konsiliasi-sangat/

- Kelebihan dan kekurangan konsiliasi

https://www.academia.edu/6362402/MODEL_ALTERNATIF_PENYELESAIAN
_SENGKETA_DAN_BERBAGAI_KELEMAHAN_DALAM

- Contoh Kasus konsiliasi

http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-konsiliasi-dan-contohnya/

https://www.neliti.com/id/publications/186982/penyelesaian-perselisihan-tenaga-
kerja-melalui-konsiliasi-berdasarkan-undang-und