Anda di halaman 1dari 28

KEGIATAN BELAJAR 1

Uraian Materi:
A. Pendahuluan
Dalam banyak hal, pencatatan dan prosedur-prosedur akuntansi dalam perusahaan
dagang tidak berbeda dengan perusahaan jasa. Baik dalam perusahaan jasa maupun
perusahaan dagang, semua transaksi harus dicatat dalam jurnal dan kemudian secara periodik
dibukukan ke dalam akun-akun di buku besar, yang dalam akuntansi dikenal sebagai posting.
Pada akhir periode, saldo-saldo dari semua akun dihitung dan dicantumkan dalam neraca lajur
sebagai alat bantu untuk menyusun laporan-laporan keuangan. Jurnal penyesuaian dan jurnal
tertutup juga dibuat dalam perusahaan dagang, begitu pula halnya pembuatan neraca saldo
setelah tutup buku perlu dikerjakan sebagai tahap akhir dalam siklus akuntansi. Meskipun
akuntansi untuk perusahaan jasa dalam banyak hal tidak berbeda dengan akuntansi perusahaan
dagang, namun dalam perusahaan dagang diperlukan adanya akun dan metode tertentu untuk
pembelian dan penjualan barang dagangan. Dalam kegiatan belajar 1 ini, hanya akan dibahas
siklus akuntansi perusahaan dagang sampai tahapan penyusunan neraca saldo (sebelum
penyesuaian).

B. Akuntansi Untuk Pembelian Barang Dagangan


1. Pembelian Barang Dagangan
Apabila perusahaan menggunakan metode persediaan periodik, maka pembelian
barang-barang untuk dijual kembali (barang dagangan) dicatat dengan mendebet akun
pembelian. Akun pembelian merupakan sebuah akun yang digunakan untuk
mengumpulkan seluruh harga pokok barang yang dibeli selama periode. Sebagai contoh,
misalkan pada tanggal 3 Januari, sebuah perusahaan yang menggunakan metode periodik,
membeli barang dagangan seharga Rp450.000,00 secara kredit. Transaksi ini dicatat
dengan jurnal sebagai berikut:
Jan. 3 Pembelian………………………………… Rp450.000,00
Utang Dagang…………………… Rp450.000,00
(Untuk mencatat Pembelian barang dengan syarat 2/10, n/30)

1
Akun Pembelian hanya digunakan untuk mencatat pembelian barang dagangan
untuk dijual kembali. Apabila perusahaan membeli barang-barang untuk digunakan sendiri
dalam operasi perusahaan (bukan barang dagangan), seperti misalnya membeli peralatan
kantor atau mebel untuk digunakan sendiri, maka yang didebet adalah akun aset yang
bersangkutan, bukan akun pembelian.

2. Retur dan Potongan Pembelian


Dalam transaksi pembelian dapat juga terjadi retur pembelian. Apabila barang
dagangan yang dibeli dari pemasok ternyata rusak atau kondisinya tidak memuaskan, maka
biasanya pembeli mengembalikan barang tersebut dan utang kepada pemasok menjadi
berkurang. Kemungkinan lain ialah bahwa barang tersebut tidak dikembalikan oleh si
pembeli, tetapi ia mendapat pengurangan (potongan) harga dari si penjual yang disebut
potongan pembelian. Untuk mencatat transaksi retur pembelian dan penerimaan potongan
harga dalam transaksi pembelian biasanya digunakan sebuah akun khusus yang disebut
akun retur dan potongan pembelian. Sebagai contoh, misalkan Rp45.000,00 dari barang
yang dibeli pada tanggal 3 Januari di atas, dikembalikan kepada pemasok karena rusak
pada tanggal 9 Januari. Ayat jurnal untuk mencatat transaksi retur pembelian tersebut
adalah sebagai berikut:
Jan. 9 Utang Dagang……………………………… Rp45.000,00
Retur dan Potongan Pembelian…………… Rp45.000,00
(Untuk mencatat pengembalian barang)

Transaksi retur pembelian oleh perusahaan biasanya dicatat dalam akun Retur dan
Potongan Pembelian, karena dari akun ini akan dapat diketahui jumlah retur pembelian
yang terjadi selama periode. Informasi mengenai hal ini berguna bagi manajemen maupun
pihak lainnya, karena retur pembelian ini merupakan sesuatu yang harus dihindarkan.
Proses pengembalian barang biasanya memakan waktu dan biaya. Retur pembelian yang
berlebihan menunjukkan indikasi bahwa bagian pembelian tidak bekerja dengan baik, atau
pemasok yang bersangkutan tidak dapat dipercaya.

2
Akun Retur dan Potongan Pembelian merupakan rekekning lawan (pengurangan)
terhadap akun pembelian. Saldo akun Retur dan Potongan Pembelian harus dikurangkan
terhadap jumlah pembelian kotor, sehingga dapat diketahui jumlah pembelian bersihnya.

3. Potongan Tunai Pembelian


Apabila barang dagangan dibeli secara kredit, maka syarat pembayarannya ditulis
pada faktur pembelian. Pemasok biasanya memberikan potongan kepada para pembeli
yang membayar dalam waktu yang telah ditetapkan. Seperti telah dijelaskan di atas, jika
penjual memberi potongan tunai, maka potongan tersebut oleh penjual dinamakan
potongan tunai penjualan. Sebaliknya, jika pembeli mendapat potongan tunai, maka
potongan tersebut oleh pembeli dinamakan potongan tunai pembelian.
Untuk menjelaskan penerapan potongan tunai, marilah kita lanjutkan contoh yang
lalu. Pada tanggal 3 Januari, perusahaan membeli barang dagangan secara kredit seharga
Rp150.000,00, dengan syarat 2/10, n/30. Pada tanggal 9 Januari, barang dagangan yang
dibeli tanggal 3 Januari tersebut seharga Rp15.000,00, dikembalikan karena cacat.
Seandainya saldo sebesar Rp135.000,00 (Rp150.000,00 – Rp15.000,00) dibayar pada
tanggal 11 Januari (belum melewati 10 hari sejak tanggal faktur), maka transaksi
pembayaran tersebut dicatat dengan jurnal sebagai berikut:
Jan. 11 Utang Dagang…………………………… Rp135.000,00
Potongan Tunai Pembelian……… Rp2.700,00
Kas………………………………. Rp132.300,00
(Untuk mencatat pembayaran atas Pembelian barang tanggal 3 Januari
dikurangi potongan 2%)
Potongan hanya dikenakan pada jumlah yang masih terutang kepada pemasok
setelah jumlah retur pembelian dikurangkan dari harga faktur bruto. Pemberian potongan
biasanya dirancang sedemikian rupa sehingga pembeli memanfaatkannya dan membayar
pada periode potongan. Dalam contoh ini diberikan syarat 2/10, n/30. Syarat ini cukup
menarik bagi pembeli, bahkan jika pembeli pada saat itu tidak memiliki uang, mungkin ia
akan mencari pinjaman dari bank agar dapat memanfaatkan potongan yang ditawarkan
penjual. Syarat 2/10, n/30 menawarkan potongan 2% apabila pembayaran dilakukan 20
hari lebih awal dari batas waktu kredit.

3
Saldo akun Potongan Tunai Pembelian menunjukkan jumlah yang akan
mengurangi harga pokok barang yang dibeli selama periode karena pembayaran dilakukan
pada periode potongan yang ditawarkan penjual. Akun Potongan Tunai Pembelian
merupakan akun lawan (pengurang) yang saldonya akan digunakan utnuk menetapkan
harga pokok pembelian bersih pada periode yang bersangkutan.

4. Potongan Rabat
Perusahaan penghasil barang atau grosir biasanya menerbitkan daftar atau katalog
yang berisi harga barang-barang yang dihasilkan atau dijualnya. Pembeli-pembeli tertentu,
seperti dealer, atau pembeli yang melakukan pembelian dalam jumlah yang besar, biasanya
mendapat potongan khusus dari harga resmi yang tercantum dalam daftar harga. Potongan
semacam ini disebut rabat. Perlu diingat bahwa rabat tidak sama dengan potongan tunai.
Seperti telah dijelaskan di atas, ptoongan tunai atau dalam hal ini disebut juga potongan
tunai pembelian adalah potongan yang diterima karena perusahaan membayar dalam waktu
yang telah ditentukan dalam syarat pembelian, sedangkan rabat adalah potongan yang
diterima berupa pengurangan harga dari daftar harga yang resmi. Rabat diberikan oleh
penjual dengan tujuan sebagai berikut:
a. Untuk menghindarkan biaya pembuatan dan pengedaran katalog karena adanya
perubahan harga. Dengan adanya kebijakan rabat, maka perubahan harga dapat
dilakukan dengan mengubah kebijakan rabat, tanpa harus membuat dan mengedarkan
katalog yang baru.
b. Untuk memberikan pengurangan harga bagi konsumen yang melakukan pembelian
dalam jumlah besar.
c. Untuk memberikan harga yang berbeda bagi golongan konsumen yang berbeda. Sebagai
contoh pabrik penghasil suatu barang bisa memberikan harga yang berbeda untuk
golongan pengecer, dealer, dan grosir.

Rabat bisa ditetapkan dalam bentuk suatu tarif tunggal atau tarif berganda. Bila
ditetapkan dalam bentuk tarif berganda, maka harga resmi dikurangi lebih dari sekali secara
berurutan. Sebagai contoh, misalkan barang dengan harga menurut daftar sebesar

4
Rp300.000,00 dijual dengan rabat 30%. Harga jual sesungguhnya menjadi Rp210.000,00,
dengan perhitungan sebagai berikut:

Harga menurut daftar……………………………………………. Rp300.000,00


Dikurangi: Rabat 30% x Rp300.00,00………………………….. 90.000,00

Harga Jual………………………………………………………… Rp210.000,00

Untuk konsumen tertentu, kadang-kadang penjual memberikan rabat berganda,


misalnya 30% dan 10%. Setiap potongan dikenakan pada harga bersih setelah dikurangi
potongan sebelumnya. Dalam keadaaan seperti ini, maka pembeli hanya akan dikenakan
harga sebesar Rp189.000,00, dengan perhitungan sebagai berikut:

Harga menurut daftar………………………………………… Rp300.000,00


Dikurangi: Rabat pertama 30% x Rp300.000,00……………. 90.000,00

Tersisa setelah dikurangi rabat pertama………………………. Rp210.000,00


Dikurangi: Rabat kedua 10% x Rp210.000,00………………… 21.000,00

Harga jual……………………………………………………… Rp189.000,00

Rabat tidak dicatat dalam pembukuan, baik dalam pembukuan pembeli maupun
penjual. Potongan ini hanya digunakan untuk menetapkan harga jual barang dagangan yang
sesungguhnya. Dalam contoh kedua di atas, harga jual sesungguhnya adalah
Rp189.000,00. Angka ini digunakan untuk mencatat transaksi, baik dalam pembukuan
pembeli maupun pembukuan penjual. Seandainya dalam transaksi ini ditawarkan potongan
tunai, maka potongan tersebut dikenakan pada harga Rp189.000,00.
5. Biaya Angkut Pembelian
Apabila terjadi suatu transaksi pembelian, biasanya timbul biaya untuk mengangkut
barang dari tempat penjual ke tempat pembeli. Biaya angkut barang ini kadang-kadang
menjadi beban penjual, atau mungkin juga dibebankan kepada pembeli, tergantung pada

5
kesepakatan di antara mereka. Apabila biaya pengangkutan barang menjadi beban pembeli,
maka biaya ini akan menambah harga pokok barang yang dibeli dan oleh karenanya dapat
didebet langsung ke dalam akun pembelian. Akan tetapi banyak perusahaan lebih
menyukai untuk mencatat biaya angkut atas barang yang dibeli dalam suatu akun khusus
yang disebut akun Biaya Angkut Pembelian. Pemakaian akun khusus ini memungkinkan
kita untuk mendapat informasi tentang biaya angkut pembelian yang sering diperlukan
manajemen untuk memonitor dan mengawasinya.
Seandainya perusahaan melakukan pembelian sejumlah barang, dan untuk itu harus
membayar biaya angkut sebesar Rp22.500,00, maka jurnal yang harus dibuat untuk
mencatat transaksi pembayaran biaya pengangkutan pada tanggal 15 Januari adalah
sebagai berikut:
Jan. 15 Biaya Angkut Pembelian…………………………. Rp22.5000,00
Kas………………………………………… Rp22.500,00
(Untuk mencatat pembayaran biaya pengangkutan atas pembelian barang
dagangan)
Akun Biaya Angkut Pembelian dilaporkan dalam laporan Laba Rugi pada bagian
harga pokok penjualan, sebagai penambah atas pembelian bersih sehingga dapat ditentukan
harga pokok pembelian.

C. Harga Pokok Barang yang Tersedia Untuk Dijual


Harga pokok pembelian dari sleuruh barang yang dibeli selama periode, ditambah
dengan harga pokok persediaan yang ada pada awal periode (persediaan awal), merupakan
jumlah harga pokok dari seluruh barang dagangan yang tersedia untuk dijual selama periode.
Jumlah ini disebut harga pokok barang yang tersedia dijual. Misalkan harga pokok barang
yang tersedia dijual berjumlah Rp2.760.000,00. Angka ini berasal dari harga pokok persediaan
barang pada awal periode senilai Rp360.000,00 ditambah dengan harga pokok persediaan
barang yang dibeli pada periode yang bersangkutan sebesar Rp2.400.000,00.

D. Persediaan Akhir
Pada akhir periode akuntansi, perusahaan yang menggunakan metode periodik harus
melakukan perhitungan atas jumlah fisik persediaan yang belum terjual. Jumlah fisik

6
persediaan ini kemudian dikalikan dengan harga pokok yang sesuai, sehingga dapat
ditentukan harga pokok persediaan akhir periode. Misalkan harga pokok barang yang belum
terjual pada akhir periode (persediaan barang dagangan akhir) sebesar Rp420.000,00. Dengan
mengurangkan angka ini dari harga pokok barang yang tersedia untuk dijual Rp2.760.000,00,
maka kita dapat menentukan Harga Pokok Penjualan (HPP) adalah sebesar Rp2.340.000,00.

E. Harga Pokok Penjualan


Persediaan awal ditambah dengan harga pokok barang yang dibeli sama dengan harga
pokok barang yang tersedia dijual, dan harga pokok barang yang tersedia dijual dikurangi
persediaan akhir sama dengan harga pokok penjualan. Seperti terlihat dalam laporan Laba
Rugi, hubungan ini dapat diringkas sebagai berikut:

Harga Pokok Barang yang tersedia dijual = Persediaan Awal +


Pembelian Bersih + Biaya Angkut
Pembelian

HPP = Harga Pokok Barang yang Tersedia Dijual - Harga Pokok Persediaan Akhir

(HPP = Harga Pokok Penjualan)

Laba Kotor Penjualan = Penjualan Bersih – Harga Pokok Penjualan

Akun-akun yang diperlukan untuk mengumpulkan harga pokok (cost) barang


dagangan dalam perusahaan yang menggunakan metode persediaan periodik adalah
Pembelian, Retur dan Potongan Pembelian, Potongan Tunai Pembelian, dan Biaya Angkut
Pembelian.

7
F. Akuntansi Untuk Penjualan Barang Dagangan
1. Penjualan Barang Dagangan
Agar suatu perusahaan dapat beroperasi dengan menguntungkan, maka harga jual
barang harus lebih tinggi dari harga belinya.

Harga jual yang menguntungkan harus meliputi tiga hal, yaitu:

a. Harga pokok barang yang dijual.


b. Biaya operasi perusahaan, seperti biaya sewa, gaji pegawai, biaya asuransi, dan
sebagainya.
c. Laba bersih yang diinginkan perusahaan.

Penjualan barang dagangan dapat dilakukan secara tunai atau dapat pula secara
kredit. Penjualan tunai maupun penjualan kredit yang terjadi dalam suatu periode
merupakan pendapatan untuk periode yang bersangkutan. Jurnal untuk mencatat suatu
transaksi penjualan terdiri atas pendebetan atas akun aktiva dan pengkreditan atas akun
pendapatan seperti dilukiskan dalam contoh berikut:

1) Penjualan Tunai:
Kas…………………………………………………. Rp36.000,00
Penjualan……………………………………….. Rp36.000,00
(untuk mencatat penjualan tunai barang dagangan)
2) Penjualan Kredit:
Apabila penjualan dilakukan secara kredit, yaitu bilamana pembayarannya baru
diterima beberapa waktu kemudian, maka jurnalnya adalah sebagai berikut:

Piutang Dagang………………………………………… Rp36.000,00


Penjualan……………………………………………. Rp36.000,00
(untuk mencatat penjualan kredit barang dagangan)

8
Akun Penjualan hanya digunakan untuk mencatat penjualan barang dagangan. Apabila
sebuah perusahaan dagang menjual peralatan kantornya (bukan barang dagangan),
maka yang dikredit adalah akun Peralatan Kantor, bukan akun Penjualan.

2. Retur dan Potongan Penjualan


Untuk memberikan pelayanan yang baik kepada para konsumen, perusahaan
dagang biasanya memberikan jaminan-jaminan tertentu. Salah satu bentuk jaminan yang
lazim diberikan perusahaan dagang adalah pemberian kesempatan untuk mengembalikan
barang jika barang tidak memuaskan. Pengembalian barang bisa dilakukan oleh konsumen
karena barang tersebut cacat, atau rusak dalam pengiriman, atau sebab lain sehingga
pembeli tidak puas. Jika barang dikembalikan oleh konsumen, maka konsumen akan
menerima pengembalian uang atau mendapat pengkreditan (pengurangan) atas akunnya.
Kemungkinan lain adalah barang tidak dikembalikan, tetapi pembeli mendapat potongan
harga yang disebut potongan penjualan.
Retur penjualan pada hakikatnya merupakan pembatalan atas penjualan yang telah
dilakukan perusahaan (baik sebagian ataupun seluruhnya), oleh karena itu pembatalan ini
sebenarnya dapat dicatat dengan jurnal berikut (dimisalkan barang seharga Rp7.500,00
dikembalikan konsumen):

Penjualan…………………………………………. Rp7.500,00

Piutang Dagang…………………………... Rp7.500,00

(untuk mencatat pengembalian barang dari seorang pembeli)

Walaupun ayat jurnal di atas tidak keliru, namun banyak perusahaan lebih
menyenangi untuk menggunakan sebuah akun khusus yang disebut akun Retur dan
Potongan Penjualan. Akun ini merupakan akun lawan atau pengurang atas akun penjualan.
Penggunaan akun Retur dan Potongan Penjualan sangat dianjurkan karena catatan
akuntansi akan dapat menunjukkan jumlah penjualan yang telah terjadi dan pengembalian
atau pembatalan atas penjualan. Dengan adanya informasi ini, maka manajer atau pihak
lain akan dapat memonitor jumlah dan perkembangan retur penjualan, dan

9
membandingkannya dengan penjualan pada periode yang bersangkutan. Angka
perbandingan ini menunjukkan tingkat ketidakpuasan konsumen atas barang yang dijual
perusahaan.
Ayat jurnal untuk mencatat retur penjualan seharga Rp7.500,00 di atas sebaiknya
dicatat dengan cara sebagai berikut:

Retur dan Potongan Penjualan………………….. Rp7.500,00


Piutang Dagang…………………………. Rp7.500,00
(Untuk mencatat pengembalian barang dari seorang pembeli)

Akun Retur Penjualan selalu didebet bila terjadi pengembalian barang oleh
konsumen. Akun yang harus dikredit untuk mencatat transaksi retur penjualan, tergantung
apakah konsumen mendapat pengembalian uang atau mendapat pengkreditan
(pengurangan) akunnya. Dalam contoh di atas, dimisalkan bahwa konsumen mendapat
pengkreditan akunnya, sehingga jurnal dilakukan dengan mendebet akun Retur dan
Potongan Penjualan dan mengkredit Piutang Dagang. Seandainya perusahaan memberikan
pengembalian uang kepada konsumen, maka jurnal yang harus dibuat adalah sebagai
berikut:

Retur dan Potongan Penjualan………………….. Rp7.500,00


Kas………………………………………. Rp7.500,00
(Untuk mencatat pengembalian barang dari seorang pembeli)

3. Potongan Tunai Penjualan


Apabila penjualan dilakukan secara kredit, maka syarat pembayaran di waktu yang
akan datang harus ditetapkan dengan jelas, sehingga kedua pihak mengerti berapa jumlah
yang harus dibayar dan kapan pembayaran harus dilakukan. Syarat penjualan biasanya
dicantumkan dalam faktur penjualan dan merupakan bagian dari perjanjian penjualan. Pada
cabang-cabang perusahaan tertentu, kadang-kadang diinginkan agar pembeli membayar

10
secepat mungkin. Syarat penjualan semacam itu misalnya dinyatakan dengan simbol n/30
(net adalah singkatan dari netto), yang artinya harga faktur netto atau keseluruhan harga
faktur harus dibayar dalam waktu 30 hari sesudah tanggal faktur, cara lain untuk
menyatakan syarat penjualan, misalnya n,10/EOM (EOM adalah singkatan dari end of
month atau akhir bulan). Ini berarti bahwa faktur harus dibayar dalam waktu 10 hari
sesudah akhir bulan, dihitung dari bulan yang tertulis pada faktur.
Apabila jangka waktu kredit yang diberikan cukup panjang, perusahaan biasanya
menawarkan potongan tunai untuk merangsang agar pembeli mau membayar secepatnya.
Potongan tunai yang ditawarkan dicantumkan dalam faktur dengan berbagai cara, misalnya
2/10, n/30 atau 2/EOM, n/60. Syarat 2/10, n/30 berarti bahwa pembeli dimungkinkan untuk
(1) mendapat potongan 2% dari harga faktur bruto, jika pembayaran dilakukan dalam
waktu 10 hari sesudah tanggal faktur, atau (2) menunda dan membayar penuh seluruh harga
faktur bruto pada setiap waktu yang dikehendaki sesudah lewat 10 hari, tetapi tidak
melewati 30 hari sejak tanggal faktur.

Syarat 2/EOM, n/60 berarti bahwa pembeli dimungkinkan untuk (1) mendapat potongan
2% dari harga faktur bruto, jika ia membayar tidak melewati akhir bulan, atau (2) menunda
dan membayar penuh seluruh harga faktur bruto pada setiap waktu yang dikehendaki
setelah lewat akhir bulan, akan tetapi tidak lebih dari 60 hari sejak tanggal faktur.
Pada saat transaksi penjualan terjadi, penjual belum mengetahui apakah pembeli
akan memanfaatkan kesempatan mendapat potongan atau tidak, oleh karena itu biasanya
perusahaan mencatat penjualan sebesar harga faktur bruto, dan pencatatan potongan (jika
ada) ditunda sampai pembeli melakukan pembayaran. Misalkan pada tanggal 10 Oktober
UD MENTARI menjual barang dagangan kepada seorang pembeli seharga Rp30.000,00
secara kredit, dengan syarat 2/10, n/30. Jurnal untuk mencatat transaksi penjualan ini
adalah sebagai berikut:

Okt. 10 Piutang Dagang……………………………… Rp30.000,00


Penjualan…………………………….. Rp30.000,00
(Untuk mencatat penjualan barang dagangan dengan syarat 2/10, n/30)

11
Syarat penjualan di atas mengandung arti bahwa pembeli akan mendapat potongan
2% apabila ia melakukan pembayaran tidak melewati tanggal 20 Oktober, atau pembeli
harus membayar penuh jika pembayaran dilakukan melewati tanggal 20 Oktober tetapi
tidak melewati tanggal 9 November. Seandainya pembeli melakukan pembayaran pada
tanggal 19 Oktober (masih dalam periode potongan), maka jurnal untuk mencatat transaksi
penerimaan piutang adalah sebagai berikut:

Okt. 19 Kas………………………………………….. Rp29.400,00


Potongan Tunai Penjualan…………………… Rp600,00
Piutang Dagang……………………… Rp30.000,00
(Untuk mencatat penerimaan piutang dikurangi potongan 2%)

Seandainya pembeli melakukan pengembalian barang (retur) sebelum pembayaran


dilakukan, maka potongan hanya dikenakan pada harga barang yang jadi dijual (tidak
dikembalikan). Sebagai contoh, seandainya konsumen yang melakukan pembelian pada
tanggal 10 Oktober seharga Rp30.000,00 dengan syarat 2/10, n/30, pada tanggal 15
Oktober mengembalikan barang yang rusak seharga Rp6.000,00, maka harga faktur bruto
atas barang yang dibelinya adalah Rp24.000,00 (Rp30.000,00 dikurangi Rp6.000,00).
Dengan demikian potongan tunai harus dihitung atas dasar harga Rp24.000,00. Misalkan
pembeli melakukan pembayaran pada tanggal 19 Oktober, maka ia akan mendapat
potongan sebesar Rp480,00 (2% x Rp24.000,00 = Rp480,00). Jurnal untuk mencatat
transaksi penerimaan piutang ini adalah sebagai berikut:

Okt. 19 Kas………………………………………….. Rp23.520,00


Potongan Tunai Penjualan…………………… 480,00
Piutang Dagang……………………… Rp24.000,00
(Untuk mencatat penerimaan piutang dikurangi potongan 2%)
Seandainya pembeli tidak memanfaatkan kesempatan untuk mendapat potongan
yang ditawarkan, maka ia harus membayar penuh sebesar harga faktur bruto. Sebagai
contoh pembeli melakukan pembayaran pada tanggal 31 Oktober (21 hari sesudah tanggal
faktur, atau 11 hari sesudah tanggal akhir periode potongan), maka jurnal yang harus
dibuat untuk mencatat penerimaan piutang ini adalah sebagai berikut:

12
Okt. 31 Kas………………………………………….. Rp30.000,00
Piutang Dagang…………………….. Rp30.000,00
(Untuk mencatat Penerimaan piutang dagang)

Seperti telah disebutkan di atas, potongan penjualan ditawarkan kepada pembeli


dengan maksud agar pembeli membayar secepatnya, walaupun harus mendapat beberapa
manfaat, sebagai berikut:
a. Kas akan segera diterima, sehingga bisa segera digunakan kembali, tanpa harus
menunggu sampai akhir periode kredit.
b. Jumlah rupiah yang tertanam dalam piutang akan menurun.
c. Resiko kerugian karena piutang tidak dapat ditagih dapat dikurangi.

Akun Potongan Tunai Penjualan menghimpun jumlah potongan tunai yang diambil
oleh para pembeli dalam satu periode. Seperti halnya akun Retur dan Potongan Penjualan,
akun Potongan Tunai Penjualan juga merupakan akun lawan (akun pengurang) atas akun
pendapatan, dan oleh karenanya mempunyai saldo debet. Baik akun Retur dan Potongan
Penjualan, maupun akun Potongan Tunai Penjualan,

dalam laporan Laba Rugi keduanya harus dikurangkan terhadap penjualan kotor, sehingga
dapat diketahui jumlah penjualan bersih untuk periode yang bersangkutan. Contoh
penyajian akun-akun tersebut dalam laporan Laba Rugi adalah sebagai berikut:
UD MENTARI
Laporan Laba Rugi
Periode berakhir……….
Penjualan……………………………………………………… Rp42.060.000,00
Dikurangi: Retur dan Potongan Penjualan…Rp390.000,00
Potongan Tunai Penjualan……..Rp720.000,00 +
1.110.000,00 -

Penjualan Bersih…………………………………Rp40.950.000,00

13
G. Harga Pokok Penjualan
Seperti telah disebutkan di atas, kegiatan utama perusahaan dagang adalah membeli
barang jadi dan menjualnya kembali kepada para konsumen. Sesuai dengan prinsip
penandingan (matching principle), laba bersih suatu perusahaan dagang dihitung dengan cara
mengurangkan biaya untuk memperoleh pendapatan dari hasil penjualan pada periode yang
bersangkutan. Biaya-biaya tersebut meliputi harga pokok (cost) barang yang terjual dan biaya-
biaya operasi yang terjadi selama periode yang bersangkutan. Harga pokok barang yang telah
laku dijual biasa disebut harga pokok penjualan (HPP). Dalam suatu toko pakaian, yang
disebut harga pokok penjualan meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk membeli kemeja,
celana, rok, blouse, sweaters, T-shirts, dan barang dagangan lain yang telah laku dijual dalam
suatu periode. Biaya operasi suatu toko pakaian meliputi semua biaya yang berhubungan
dengan kegiatan penjualan dan administrasi toko, seperti biaya sewa, gaji pegawai, biaya
advertensi, biaya listrik, dan biaya telepon.

H. Persediaan Barang Dagangan


Persediaan pada perusahaan dagang disebut persediaan barang dagangan atau kadang-
kadang disingkat persediaan, yang terdiri atas barang-barang yang disediakan

untuk dijual kepada para konsumen selama periode normal kegiatan perusahaan. Persediaan
yang dimiliki perusahaan pada awal (hari pertama) suatu periode akuntansi, disebut
persediaan awal. Persediaan yang dimiliki perusahaan pada hari terakhir dari suatu periode
akuntansi disebut persediaan akhir. Sudah barang tentu persediaan akhir suatu periode akan
menjadi persediaan awal untuk periode akuntansi berikutnya. Persediaan akhir dilaporkan
dalam neraca sebagai aktiva lancar.
Penentuan kuantitas dan harga pokok barang yang ada dalam persediaan akhir periode
(persediaan akhir), dan harga pokok barang yang sudah dijual selama periode (harga pokok
penjualan) merupakan masalah yang cukup pelik dalam pelaporan keuangan. Hal ini menjadi
masalah yang sulit karena angka persediaan akhir di satu pihak akan dicantumkan dalam
neraca sebagai persediaan, dan di lain pihak akan dicantumkan dalam laporan Laba Rugi
sebagai salah satu elemen yang akan berpengaruh pada penentuan laba bersih perusahaan.

14
Dalam pencatatan persediaan, ada dua metode akuntansi yang digunakan, yaitu
metode periodik dan metode perpetual. Dari kedua metode ini, metode persediaan periodik
lebih sederhana dan lebih mudah penyelenggaraannya bila dibandingkan dengan metode
perpetual. Namun ditinjau dari segi ketepatan dan kecepatan informasi yang dihasilkan,
metode perpetual jauh lebih unggul. Penentuan persediaan dan harga pokok penjualan yang
akan diuraikan dalam bab ini akan didasarkan pada metode periodik, sedangkan metode
persediaan perpetual akan dibahas dalam Kegiatan Belajar 3.

1. Metode Pencatatan Persediaan-Periodik


Metode pencatatan persediaan periodik pada umumnya digunakan pada
perusahaan-perusahaan yang menjual barang yang harganya relatif murah, tetapi frekuensi
penjualannya sangat sering. Pada perusahaan semacam itu pemakaian metode perpetual
dianggap terlalu mahal dan merepotkan.
Apabila perusahaan menggunakan metode persediaan perpetual, maka akun
persediaan tidak didebet untuk mencatat pembelian, dan tidak dikredit apabila terjadi
penjualan. Dalam metode ini, pembelian dicatat dengan mendebet akun pembelian (dan
dikredit akun Kas atau Utang Dagang), sedangkan jika terjadi penjualan maka yang didebet
adalah akun Kas atau Piutang Dagang dan dikredit akun penjualan (seperti telah
diterangkan di atas). Jadi dalam metode persediaan periodik, akun persediaan tidak
digunakan untuk mencatat untuk mencatat pertambahan persediaan karena adanya
transaksi pembelian, dan tidak digunakan untuk mencatat pengurangan
persediaan karena adanya transaksi penjualan. Informasi mengenai persediaan yang ada
pada suatu saat tertentu, tidak dapat diperoleh dari akun persediaan, demikian pula harga
pokok barang yang dijual tidak dapat diketahui untuk setiap transaksi penjualan yang
terjadi. Metode persediaan periodik menjawab kedua hal tersebut melalui perhitungan fisik
atas persediaan yang ada di gudang. Perhitungan fisik biasanya dilakukan pada saat
perusahaan akan menyusun laporan keuangan. Dalam metode ini perhitungan fisik
persediaan memegan peranan yang sangat penting, karena tanpa perhitungan fisik laporan
keuangan tidak dapat disusun. Oleh karena itulah, metode ini disebut juga metode fisik.
Apabila jumlah (kuantitas) fisik persediaan telah dihitung, maka harga pokok
persediaan yang ada dapat ditentukan. Selanjutnya data persediaan akhir ini dapat

15
digunakan untuk menentukan harga pokok penjualan, dengan cara mengurangkan
persediaan akhir dari harga pokok persediaan yang tersedia dijual. Hal-hal yang
berpengaruh pada penentuan harga pokok penjualan terdiri atas:
a. Harga pokok barang yang ada pada awal periode (persediaan awal)
b. Harga pokok barang yang dibeli selama periode (harga pokok pembelian)
c. Harga pokok barang yang belum terjual dan ada dalam persediaan pada akhir periode
(persediaan akhir)

Contoh perhitungan harga pokok penjualan adalah sebagai berikut (dimisalkan


persediaan awal periode Rp360.000,00, harga pokok pembelian selama periode
Rp2.400.000,00, dan persediaan akhir periode Rp420.000,00):

Persediaan awal……………………………………………………. Rp 360.000,00


Tambah: Harga pokok pembelian selama periode ………………… Rp2.400.000,00

Harga Pokok barang yang tersedia untuk dijual…………………… Rp2.760.000,00


Kurang: Persediaan akhir…………………………………………… Rp 420.000,00

Harga Pokok Penjualan……………………………………………... Rp2.340.000,00

Jumlah persediaan awal sebesar Rp360.000,00 (diperoleh dari hasil perhitungan


fisik periode yang lalu) ditambah dengan jumlah harga pokok pembelian selama periode ini,
merupakan harga pokok barang yang tersedia untuk dijual pada periode ini (Rp360.000,00
+ Rp2.400.000,00 = Rp2.760.000,00). Apabila kita

mengetahui jumlah barang yang belum terjual pada periode ini (persediaan akhir), maka kita
akan dapat mengetahui jumlah barang yang telah laku dijual atau harga pokok penjualan,
yaitu Rp2.760.000,00 – Rp420.000,00 = Rp2.340.000,00.

I. Harga Pokok Pembelian


Apabila perusahaan menggunakan metode persediaan periodik, maka pada akhir
periode harus dihitung pula jumlah harga pokok pembelian selama tahun yang bersangkutan.

16
Angka-angka untuk menghitungnya dapat diperoleh dari buku besar. Harga pokok pembelian
ditentukan oleh:
1. Harga pokok barang-barang yang dibeli (angkanya dapat diperoleh dari akun
pembelian)
2. Dikurangi penyesuaian karena adanya retur dan potongan pembelian (angka
mengenai transaksi ini dicatat dalam akun khusus yang terpisah dari akun
pembelian)
3. Dikurangi penyesuaian karena adanya potongan tunai pembelian (angka mengenai
transaksi ini juga dicatat dalam akun khusus yang terpisah dari akun pembelian)
4. Ditambah penyesuaian karena adanya biaya pengangkutan untuk mengangkut
barang sampai di gudang perusahaan (angka mengenai transaksi ini juga dicatat
dalam akun yang terpisah dari akun pembelian).

Harga Pokok Pembelian = Pembelian Bersih + Biaya Angkut Pembelian

Pembelian Bersih adalah Pembelian dikurangi Potongan dan Retur Pembelian

Keempat hal yang membentuk harga pokok pembelian di atas dicatat di buku besar
dalam empat buah akun yang terpisah yang akan diuraikan sebagai berikut:

17
UD Merapi
Laporan Laba Rugi
Untuk Bulan yang Berakhir 30 September 2015

Penjualan Bersih…………………………………………………………….Rp2.850.000,00
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan, 1 September 2015…………………………………Rp360.000,00
Pembelian…………………….................. Rp2.355.000,00
Retur dan Pot.Pembelian….Rp15.000,00
Potongan Tunai Pembelian..Rp45.000,00 +
60.000,00 -
Pembelian Bersih……………………………Rp2.295.000,00
Biaya Angkut Pembelian……………. 105.000,00 +

Harga Pokok Pembelian………………………………… Rp2..400.000,00 +

Harga Pokok Barang yang Tersedia untuk Dijual .…………Rp2.760.000,00


Persediaan, 30 September 2015 …………………………………..420.000,00
_______________-
Harga Pokok Penjualan……………………………………………… Rp2.340.000,00
Laba Kotor Penjualan……………………………………………………….. Rp510.000,00

Berikut adalah ilustrasi transaksi yang terjadi di UD Merapi, yang diawali dengan data
mengenai Neraca Saldo setelah tutup buku UD Merapi per 30 September 2015 adalah sebagai
berikut:

18
“UD Merapi”
Neraca Saldo Setelah Tutup Buku
30 September 2015

Kas………………………………………………… Rp 114.000,00
Piutang Dagang…………………………………… 56.000,00
Persediaan Barang Dagangan……………………… 200.000,00
Asuransi Dibayar di Muka………………………… 36.000,00
Tanah………………………………………………. 3.000.000,00
Gedung……………………………………………. 6.000.000,00
Akumulasi Depresiasi Gedung……………………. 2.000.000,00
Utang Dagang……………………………………… 40.000,00
Modal, Andi…………………………… 7.366.000,00

Rp 9.406.000,00 9.406.000,00
Transaksi-transaksi yang terjadi selama bulan Oktober 2015 adalah sebagai berikut:

Okt. 1 Dibayar biaya pemasangan advertensi bulan Oktober 2015 Rp 16.000,00.


2 Dijual barang dagangan secara tunai kepada UD. Rajawali seharga
Rp 575.000,00
4 Dibeli barang dagangan dari PT Mulia Yogyakarta seharga Rp 275.000,00
Dengan Syarat 2/10, n/30.
6 Dibayar biaya pengangkutan barang dagangan yang dibeli dari PT Mulia
sebesar Rp 25.000,00.
10 Dibeli barang dagangan seharga Rp 50.000,00 secara tunai.
12 Dari barang dagangan yang dibeli pada tanggal 4 Oktober 2015, sebagian di
antaranya dikembalikan kepada penjual karena rusak. Harga barang-barang
dagangan yang dikembalikan tersebut adalah Rp 30.000,00
14 Dibayar utang kepada PT Mulia yang timbul dari transaksi tanggal 4 Oktober.
15 Dibayar gaji pegawai untuk 2 minggu pertama bulan Oktober sebesar
Rp 90.000,00.
19
17 Dijual barang dagangan secara kredit kepada CV Rahayu Surabaya seharga
Rp 350.000,00
19 Dibayar sewa kantor bulan Oktober 2015 sebesar Rp 20.000,00.
21 Diterima kembali sebagian dari barang dagangan yang dijual pada tanggal 17
Oktober karena rusak. Harga barang tersebut adalah Rp 40.000,00.
27 Diterima pembayaran dari CV Rahayu Surabaya, yaitu sebagai pelunasan atas
transaksi penjualan tanggal 17 Oktober.
30 Dibayar gaji pegawai untuk 2 minggu terakhir bulan Oktober sebesar
Rp 90.000,00.
30 Andi (pemilik perusahaan) mengambil uang dari perusahaan sebesar
Rp 10.000,00 untuk keperluan pribadi.
31 Dibayar utang kepada CV Abadi sebesar Rp 25.000,00. Utang ini timbul dari
transaksi pembelian bulan yang lalu, tanpa syarat potongan.

Jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi selama bulan Oktober 2015 adalah sebagai
berikut:
JURNAL
Jumlah
Tanggal Keterangan Nomor
Rek D K

2015 1 Biaya administrasi Rp 16.000,00


Okt. Kas Rp 16.000,00
(Pembayaran biaya
advertensi bulan Oktober
2015)
2 Kas 575.000,00
Penjualan 575.000,00
(Penjualan barang dagangan
pada UD Rajawali)
4 Pembelian 275.000,00
Utang Dagang 275.000,00

20
(Pembelian barang
dagangan dari PT Mulia –
Yogya, syarat 2/10,n/30)
6 Biaya Angkut Pembelian 25.000,00
Kas 25.000,00
(Pembayaran biaya
pengangkutan barang dari
PT Mulia)
10 Pembelian 50.000,00
Kas 50.000,00
(Pembelian tunai barang-
barang dagangan)
12 Utang Dagang 30.000,00
Retur & Pot. Pembelian 30.000,00
(Pengembalian barang
dagangan pada PT Mulia –
Yogyakarta)
15 Gaji Pegawai 90.000,00
Kas 90.000,00
(Pembayaran gaji pegawai
untuk 2 minggu pertama
bulan Oktober 2015)
17 Piutang Dagang 350.000,00
Penjualan 350.000,00
(Penjualan barang kepada
CV Rahayu – Surabaya,
syarat 2/10, n/30)
19 Biaya Sewa 20.000,00
Kas 20.000,00
(Pembayaran biaya sewa
bulan Oktober 2015)

21
21 Kas 40.000,00
Piutang Dagang 40.000,00
(Retur penjualan dari CV
Rahayu- Surabaya)
27 Kas 303.800,00
Pot.Tunai Penjualan 6.200.00
Piutang Dagang 310.000,00
(Penerimaan piutang dari
CV Rahayu, dikurangi
potongan)
30 Gaji Pegawai 90.000,00
Kas 90.000,00
(Pembayaran gaji pegawai
untuk 2 minggu terakhir
bulan Oktober 2015)
30 Prive, Andi 10.000,00
Kas 10.000,00
(Pengambilan prive hak
milik)
31 Utang Dagang 25.000,00
Kas 25.000,00
(Pembayaran utang kepada
CV Abadi)

Setelah jurnal-jurnal di atas dibukukan ke rekekning-akun yang bersangkutan di


buku besar, maka buku besar UD Merapi akan nampak sebagai berikut:

22
BUKU BESAR

Kas

Okt, 1 Saldo 114.000 Okt, 1 16.000


2 575.000 6 25.000
27 303.800 10 50.000
14 240.100
15 90.000
19 20.000
30 90.000
30 10.000
31 25.000

Piutang Dagang

Okt,1 Saldo 58.000 Okt,21 40.000


17 350.000 27 310.000

Persediaan Barang Dagang

Okt,1 Saldo 200.000

Asuransi Dibayar di Muka

Okt,1 Saldo 36.000

23
Tanah

Okt,1 Saldo 3.000.000

Gedung

Okt,1 Saldo 6.000.000

Akumulasi Depresiasi Gedung

Okt,1 Saldo 2.000.000

Utang Dagang

Okt,12 30.000 Okt,1 Saldo 40.000


14 245.000 4 275.000
31 25.000

Modal, Andi

Okt,1 Saldo 7.366.000

24
Prive, Andi

Okt,30 10.000

Penjualan

Okt,2 575.000
17 350.000

Retur dan Potongan Penjualan

Okt,21 40.000

Potongan Tunai Penjualan

Okt,27 6.200

Pembelian

Okt,4 275.000
10 50.000

Biaya Angkut Pembelian

Okt,6 25.000

25
Retur dan Potongan Pembelian

Okt,12 30.000

Potongan Tunai Pembelian

Okt,14 4.900

Biaya Advertensi

Okt,1 Saldo 16.000

Gaji Pegawai

Okt,15 90.000
Okt,30 90.000

Biaya Sewa

Okt,19 20.000

Apabila dari buku besar UD Merapi di atas disusun Neraca Saldo per 31 Oktober 2015,
maka neraca saldo tersebut akan nampak sebagai berikut:

26
UD Merapi
Neraca Saldo
31 Oktober 2015
AKUN DEBIT KREDIT
Kas Rp 426.700,00
Piutang Dagang 56.000,00
Persediaan Barang Dagangan 200.000,00
Asuransi Dibayar di Muka 36.000,00
Tanah 3.000.000,00 Rp 2.000.000,00
Gedung 6.000.000,00 15.000,00
Akumulasi Depresiasi Gedung 7.366.000,00
Utang Dagang
Modal, Andi 925.000,00
Prive, Andi 10.000,00
Penjualan
Retur dan Potongan Penjualan 40.000,00
Potongan Tunai Penjualan 6.200,00
Pembelian 325.000,00 30.000,00
Biaya Angkut Pembelian 25.000,00 4.900,00
Retur dan Potongan Pembelian
Potongan Tunai Pembelian
Biaya Advertensi 16.000,00
Gaji Pegawai 180.000,00
Biaya Sewa 20.000,00
JUMLAH Rp 10.340.900,00 Rp 10.340.900,00

Rangkuman
1. Aktivitas utama Perusahaan dagang adalah membeli barang dagangan dan menjual kembali
tanpa mengubah esensi barang dagangan tersebut.

27
2. Barang dagangan yang tidak terjual selama periode waktu tertentu akan dicatat sebagai
asset lancar pada akhir periode yang bersangkutan.
3. Persediaan awal ditambah dengan harga pokok barang yang dibeli sama dengan harga
pokok barang yang tersedia dijual, dan harga pokok barang yang tersedia dijual dikurangi
persediaan akhir sama dengan harga pokok penjualan.
4. Penjualan barang dagangan secara tunai maupun kredit akan dicatat dengan mengkredit
akun Penjualan.
5. Pembelian barang dagang secara tunai maupun kredit, dengan metode pencatatan
persediaan periodic, akan dicatat dengan mendebit akun Pembelian.
6. Ketika syarat jual beli disepakati menggunakan FOB shipping point, maka pembeli akan
menanggung biaya angkut, dan pembeli akan mendebit biaya angkut pembelian (metode
pencatatan persediaan periodik).
Sebaliknya jika syarat jual beli disepakati menggunakan FOB destination, maka penjual
akan menanggung biaya angkut, dan penjual akan mendebit biaya angkut penjualan
(metode pencatatan persediaan periodik).

28